Dalam rangka melengkapi tugas perkuliahan mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam
Dosen
Dr. H. Dindin Jamaluddin, M.Ag.
Dr. H. Ujang Dedih, M.Pd.
Disusun oleh kelompok 2
1152020101 Irfi Nur Syamsiah
1152020108 Kristin Wiranata
1152020115 Lina Marlina
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017
KATA PENGANTAR
﷽
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji hanya milik Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dan hanya kepada-Nyalah kita berhak bersyukur dan tiada yang lain selain Allah, karena sesungguhnya Allah-lah yang mampu memberikan kita kekuatan untuk mengerjakan segala sesuatu yang kita lakukan.
Shalawat serta salam semoga tercurahlimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang telah menuntun kita kepada jalan yang benar. Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam. Kami berharap makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang mengarahkan kepada hal yang baik, dan mampu menjadi petunjuk untuk pembahasan yang kami bahas. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bandung, 18 September 2017
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
BAB I PENDAHULUAN ii
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 2
BAB II PEMBAHASAN 3
Sumber Ilmu Pendidikan Islam 3
Dasar Ilmu Pendidikan Islam 6
Tujuan Mempelajari Ilmu Pendidikan Islam 11
Urgensi Ilmu Pendidikan Islam 11
Fungsi Ilmu Pendidikan Islam 12
BAB III PENUTUP 14
Daftar Pustaka 15
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Dewasa ini di dalam dunia pendidikan, terdapat dua kelompok teori pendidikan yang sangat berpengaruh, yakni teori pendidikan barat dan teori pendidikan Islam. Jika umat Islam (Indonesia) sadar akan pentingnya pendidikan dalam upaya memajukan bangsa, maka umat Islam hendaknya merujuk dan kembali kepada dua pusaka yang agung, yakni Al-Quran dan Al-Hadis.
Seringkali, umat Islam (di bangsa ini) ‘tertinggal’ dan ‘tidak terlibat’ di dalam gerakan pembaharuan ilmu dan pengetahuan. Coba sesekali tengoklah bangsa Barat, yang mana mereka begitu cerdik mengambil saripati ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam dua pusaka umat Islam. Lalu, mengapa umat Islam bisa tertinggal dan tidak sadar bahwa kunci kebahagiaan dunia akhirat itu sudah tertuang di dalam Al-Quran dan Al-Hadis?. Mungkin, selama ini kita masih disibukkan dengan perbedaan/ikhtilafiyyah, atau mungkin juga ada yang perlu dibenahi dalam pola pemikiran umat Islam. Contohnya, seperti apa yang dikatakan oleh Ahmad Tafsir yakni banyak orang Islam (di bangsa ini) yang ingin memajukan kesejahteraan hidupnya/memajukan bangsanya, namun pendidikan yang menjadi kunci kemajuan itu sendiri tidak diperhatikan mutunya. Jika diperhatikan dan diambil kesimpulan secara rata, sebab rendahnya mutu pendidikan islami ialah karena kekurangan dana, kurang profesionalnya tenaga pendidik, pengelolaan pendidikan yang kurang baik.
Berbagai permasalahan di dalam dunia pendidikan islami tersebut dapat dibenahi dengan cara mengaplikasikan ilmu pendidikan Islami, yang mana didalamnya mencakupi teori-teori pendidikan yang bersumber dari Al-Quran, al-Hadis, dan Ijtihad. Diharapkan kelak, umat Islam akan memiliki kekuatan dari segala sisi, baik intelektualnya, emosionalnya, dan sudah barang tentu spiritualnya.
Untuk lebih mengenal ilmu pendidikan Islam secara lebih dekat kami menyusun makalah yang berjudul “Dasar dan Tujuan Ilmu Pendidikan Islam”. Yang mana harapan kami adalah ilmu pendidikan Islam dapat dipahami dasar-dasarnya dan tujuan dari ilmu pendidikan Islam itu sendiri, agar kelak ilmu pendidikan Islam dapat diaplikasikan oleh para calon pendidik secara nyata di dalam dunia pendidikan Islam yang sebenarnya.
Rumusan Masalah
Agar dapat memudahkan kami di dalam penyusunan makalah ini, kami membatasi dan menyusun rumusan masalah sebagai berikut.
Darimana sumber Ilmu Pendidikan Islam berasal?
Apa dasar-dasar Ilmu Pendidikan Islam?
Apa tujuan dari mempelajari Ilmu Pendidikan Islam?
Apa fungsi Ilmu Pendidikan Islam?
Bagaimana urgensi Ilmu Pendidikan Islam?
BAB II
PEMBAHASAN
Sumber Ilmu Pendidikan Islam
Ahmad Tafsir mendefinisikan Ilmu Pendidikan Islami sebagai ilmu pendidikan yang berdasarkan Islam, yang mana isi dari Ilmu Pendidikan Islami mencakup berbagai teori mengenai pendidikan berdasarkan ajaran Islam. Pertanyaannya: mengapa harus berdasarkan Islam? Jawaban yang paling penting dan mendasar terhadap pertanyaan ini adalah: karena keyakinan. Jika dasarnya keyakinan, maka sebenarnya persoalan itu tidak dapat diperdebatkan lagi. Akan tetapi, sekalipun tidak dapat diperdebatkan lagi, konsep tersebut dapat dijelaskan. Muslim meyakini bahwa kehidupan tidak dapat diserahkan seluruhnya kepada kemampuan akal, atau kepada kemauan manusia, baik manusia secara pribadi ataupun manusia dalam arti keseluruhan manusia. Dalam hal ini, pandangan muslim itu bertolak belakang dengan humanisme yang mengajarkan bahwa akal manusia telah mencukupi untuk mengatur dunia dan kehidupan manusia, dan karena itu agama tidak diperlukan. Pandangan muslim itu tidak juga dapat dikatakan seratus persen hanya berdasarkan keyakinan. Dasar akliahnya ada juga ada, sekalipun tidak begitu kuat.
Karena pendidikan menduduki posisi terpenting dalam kehidupan manusia, maka wajarlah muslim meletakkan al-Quran, hadis dan akal sebagai dasar bagi teori-teori pendidikannya. Itulah sebabnya Ilmu Pendidikan Islami memilih al-Quran dan hadis sebagai dasarnya. Kata “akal” tidak perlu disebutkan secara formal karena telah diketahui secara umum bahwa al-Quran dan hadis menyeluruh menggunakan akal. Jadi, mengapa muslim meletakkan al-Quran dan hadis menjadi dasar pendidikannya, jawabnya adalah karena kedua sumber itu dijamin kebenarannya.
Al-Quran sebagai sumber utama
Sumber utama ilmu pendidikan Islam adalah Al-Quran. Al-Quran sebagai sumber dan dasar nilai serta norma dalam Islam. Dengan demikian, sumber dan dasar nilai ilmu pendidikan Islam pun adalah Al-Quran. Oleh karena itu, bukan ilmu pendidikan Islam apabila sumber inspirasinya bukan Al-Quran.
Di dalam Al-Quran banyak dijelaskan ajaran-ajaran yang berkenaan dengan kegiatan atau usaha pendidikan ini. Sebagai contoh dapat dibaca kisah Luqman mengajari anaknya dalam surat Al-Luqman ayat 12 sampai dengan ayat 19. Dalam ayat tersebut terdapat 5 azas pendidikan yaitu yang berkenaan dengan :
Azas pendidikan tauhid
Azas pendidikan akhlak kepada orang tua dan masyarakat
Azas pendidikan amar ma’ruf nahi munkar
Azas pendidikan kesabaran dan ketabahan
Azas pendidikan sosial kemasyarakatan (tidak boleh sombong)
Pendidikan, karena termasuk ke dalam usaha atau tindakan untuk membentuk manusia, termasuk ke dalam ruang lingkup muamalah. Pendidikan ikut menentukan corak dan bentuk amal dan kehidupan manusia, baik pribadi maupun masyarakat. Didalam Al-Quran terdapat banyak ajaran yang berisi prinsip-prinsip berkenaan dengan kegiatan atau usaha pendidikan itu sendiri.
Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa ilmu pendidikan Islam harus mengunakan Al-Quran sebagai sumber utama dalam merumuskan beberapa teori tentang pendidikan Islam. Atau dengan kata lain, ilmu pendidikan Islam harus berdasarkan ayat-ayat Al-Quran yang penafsirannya dapat dilakukan berdasarkan ijtihad disesuaikan dengan perkembangan zaman.
As-Sunnah dan hadis sebagai sumber kedua
Al-Hadits adalah sumber kedua agama dan ajaran Islam. Apa yang disebutkan dalam Al-Quran dijelaskan atau dirinci lebih lanjut oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan sunah beliau. Karena itu, sunah Rasul yang kini terdapat dalam Al-Hadits merupakan penafsiran serta penjelasan otentik (sah, dapat dipercaya sepenuhnya) terhadap Al-Quran. Di dalam As-Sunnah juga berisi ajaran tentang aqidah dan akhlak seperti Al-Quran yang berkaitan dengan masalah pendidikan. As-Sunnah berisi petunjuk (tuntunan) untuk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspeknya, untuk membina umat manusia seutuhnya. Dan yang lebih penting lagi dalam As-Sunnah bahwa dalamnya terdapat cerminan tingkah laku dan kepribadian Rasulullah shallallahu alaihi wasasallam yang merupakan tauladan dan edukatif bagi manusia. Oleh karena itu As-Sunnah dan hadits merupakan landasan kedua bagi cara pembinaan pribadi manusia muslim. As-Sunnah selalu membuka kemungkinan penafsiran berkembang. Itulah sebabnya, mengapa ijtihad perlu ditingkatkan dalam memahaminya termasuk As-Sunnah dan hadits yang berkaitan dengan pendidikan.
Ijtihad sebagai sumber ketiga
Ijtihad adalah istilah para fuqaha, yaitu berfikir dengan menggunakan seluruh ilmu yang dimiliki oleh ahli syari’at Islam untuk menetapkan atau menentukan suatu hukum Islam dalam hal-hal yang belum ditegaskan hukumnya oleh Al-Quran dan Sunnah. Ijtihad dalam hal ini dapat saja meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan, tetapi tetap berpedoman kepada Al-Quran dan Sunnah.
Ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber dari al-Quran dan as-Sunah/al-Hadis yang diolah akal yang sehat dari para ahli pendidikan Islam. Ijtihad tersebut haruslah dalam hal-hal yang berhubungan langsung dengan kebutuhan hidup di suatu tempat pada kondisi dan situasi tertentu. Teori-teori pendidikan baru hasil ijtihad harus dikaitkan dengan ajaran islam dan kebutuhan hidup.
Ijtihad dibidang pendidikan ternyata semakin perlu sebab ajaran islam yang terdapat dalam al-Quran dan sunah adalah bersifat pokok-pokok dan prinsip-prinsipnya saja. Bila ternyata terdapat hal yang terperinci di dalamnya, maka perincian itu adalah sekedar contoh dalam menerapkan yang prinsip itu. Sejak diturunkan sampai Nabi Muhammad shallalahu alaihi wasallam wafat, ajaran Islam telah tumbuh dan berkembang melalui ijtihad yang dituntut oleh perubahan situasi dan kondisi sosial yang tumbuh dan berkembang pula. Sebaliknya ajaran Islam sendiri telah berperan mengubah kehidupan manusia menjadi kehidupan muslim.
Dasar Ilmu Pendidikan Islam
Dasar-dasar dalam uraian ini adalah landasan atau pijakan yang dijadikan tempat berjalannya ilmu pendidikan Islam. Pada prinsipnya, ilmu pendidikan Islam berfungsi mengembangkan pendidikan Islam itu sendiri. oleh karena itu, harus diaplikasikan pada hal-hal berikut:
Pendidikan Islam harus diorientasikan pada upaya mengejawantahkan nilai-nilai ilaihiah dalam pribadi setiap peserta didik.
Pendidikan Islam adalah upaya manusia untuk menginternalisasikan sifat-sifat Allah yang ada pada dirinya.
Pendidikan Islam sesungguhnya diorientasikan umat Islam pada upaya mengenal Allah, mendekati-Nya, dan menyerahkan diri kepada-Nya.
Kemutlakan Allah dalam segala dimensi-Nya harus tampak dalam seluruh komponen pendidikan Islam, baik dalam tujuan, materi, dan komponen pendidikan lainnya.
Dimensi kebenaran Allah mengisyarakan bahsa hanyalah Dia Sumber Kebenaran, melahirkan cara pandang epistemologis tentang apa yang disebut dengan pengetahuan; tidak ada pengetahuan yang dianggap benar jika tidak bersumber dan tidak merujuk tanda-tanda Allah, baik qauniyah maupun qauliyah. Hal itu berlaku juga dalam ilmu pendidikan Islam.
Agar lebih sistematis, dasar-dasar ilmu pendidikan Islam adalah sebagai berikut.
Ayat-ayat al-Quran tentang ilmu pendidikan Islam
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan; Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah; Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah; Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam; Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al-‘Alaq: 1-5)
Menurut al-Maraghi, ayat al-Quran tersebut menjadi dalil bagi keutamaan membaca, menulis dan ilmu. Ketiganya merupakan komponen-komponen pokok dalam setiap kegiatan belajar. Kewajiban belajar menjadi semakin urgen manakala dikaitkan dengan eksistensi manusia sebagai makhluk yang mengemban amanat mulia untuk membangun kehidupan dan peradaban dimuka bumi. Dengan kesempurnaan akal yang telah Allah anugerahkan kepada manusia maka hendaknya manusia termotivasi untuk senantiasa membaca dan menemukan berbagai ilmu pengetahuan. Sebab kata iqra didalam surat ini memiliki makna yang lebih luas dari sekedar membaca, yakni menghimpun, meneliti, menelaah dan sebagainya. Sehingga dengan berbagai kegiatan tersebut lahirlah berbagai ilmu dan pengetahuan yang belum diketahui sebelumnya.
أَلَمۡ تَرَوۡاْ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَأَسۡبَغَ عَلَيۡكُمۡ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةٗ وَبَاطِنَةٗۗ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُجَٰدِلُ فِي ٱللَّهِ بِغَيۡرِ عِلۡمٖ وَلَا هُدٗى وَلَا كِتَٰبٖ مُّنِيرٖ ٢٠
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Q.S. Luqman: 20)
Manusia mengemban amanah sebagai khalifah/pemimpin dimuka bumi ini. Dengan demikian, tauhid mendorong manusia untuk menguasai dan memanfaatkan alam karena sudah ditundukkan oleh Allah. Perintah mengesakan Tuhan dibarengi dengan larangan mempersekutukan Tuhan (syirik). Jika manusia mempersekutukan Tuhan, berarti ia dikuasai oleh alam, padahal, manusialah yang harus menguasai bumi karena bumi telah ditundukkan Allah. Konsekuensi dari tauhid adalah bahwa manusia harus menguasai alam dan haram untuk tunduk pada alam. Menguasai alam berarti menguasai hukum alam; dan dari hukum alam ini, ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan.
Pandangan ini menjelaskan kepada kita bahwa dasar ilmu pendidikan Islam adalah Al-Quran dengan ayat-ayat yang berbicara mengenai ilmu pengetahuan alam dan ilmu kemanusiaan serta ilmu ketuhanan. Yang mana semua ayat tersebut merupakan pondasi bagi bergeraknya ilmu pendidikan Islam. Dengan dasar al-Quran, ilmu pendidikan Islam dikembangkan agar manusia bertauhid, artinya senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah, sebaliknya menundukkan alam semesta ini sebagai sumber manfaat bagi manusia. Manusia tidak dibenarkan tunduk pada alam. Kehidupan yang ditundukkan oleh alam berarti kehidupan yang hampir identik dengan kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Dengan demikian, sumbangan Islam dalam kehidupan manusia adalah terbentuknya suatu komunitas yang dapat memelihara dan mengembangkan kehidupan melalui pengembangan ilmu atau sains. Penguasaan dan pengembangan sains yang didasari dengan keimanan bukan saja termasuk amal saleh, melainkan juga bagian dari komitmen keimanan kepada Allah.
Atang Abdul Hakim dan Jaih Mubarok mengutip pendapat Nurcholish Madjid, menjelaskan hubungan organik antara iman dan ilmu dalam Islam. Menurutnya, ilmu adalah hasil pelaksanaan perintah Tuhan untuk memperhatikan dan memahami alam raya ciptaan-Nya, sebagai manifestasi atau penyingkapan tabir akan rahasia-Nya. Garis argumen ini dijelaskan oleh Ibnu Rusyd, antara iman dan ilmu tidak terpisahkan meskipun dapat dibedakan. Dikatakan tidak terpisahakan karena iman tidak saja mendorong, bahkan menghasilkan ilmu, tetapi juga membimbing ilmu dalam bentuk pertimbangan moral dan etis dalam penggunaannya.
Sebagaimana yang sudah diketahui ruang lingkup ilmu pendidikan Islam meliputi: pendidik, anak didik, materi pendidikan, perbuatan mendidik, metode pendidikan, evaluasi pendidikan, tujuan pendidikan, alat-alat pendidikan, lingkungan pendidikan. Jika merujuk kepada al-Qur’an maka terdapat ayat-ayat global yang dapat menjadi pijakan dalam membahas ilmu pendidikan Islam tersebut. Seperti: 1. pendidik yang ideal (penuh kasih sayang, Q.S. Ar-Rahman: 1-4; rabbani –bijaksana, cerdas dan santun-, Q.S. Ali-Imran: 79; energik dan berwawasan luas, Q.S. An-Najm: 5-6), 2. hakikat anak didik (penciptaan manusia, Q.S. al-Mu’minun: 12-16; manusia sebagai pemimpin di muka bumi, Q.S. Al-Baqarah: 30; manusia sebagai hamba Allah, Q.S. Adz-Dzariyat: 56; potensi anak didik, Q.S. Al-A’raf: 179), 3. tujuan pendidikan (cerdas spiritual, cerdas intelektual, cerdas emosional, Q.S. Ali Imran: 190-191, sehingga anak didik dapat hidup mandiri dan dapat memakmurkan bumi guna mencukupi kebutuhannya dan melestarikan bumi dengan cara melakukan perbaikan).
Selain ilmu pendidikan, beberapa ilmu pengetahuan lainnya juga dapat ditarik dari al-Quran, sebagaimana telah dikembangkan oleh ilmuwan muslim terdahulu adalah ilmu matematika, ilmu astronomi, ilmu kimia, ilmu biologi, ilmu optik, dan ilmu kedokteran. Dan bahkan hingga saat ini semakin banyak dan berkembang berbagai ilmu pengetahuan yang ditarik dari Al-Quran. Dengan adanya bukti bahwa ulama terdahulu telah menjadi pelopor keilmuan Islam yang modern, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dasar-dasar ilmu pendidikan Islam yang pertama adalah al-Quran dengan ratusan ayat-ayatnya yang dapat dijadikan ide dasar ilmu pendidikan Islam yang Universal.
Hadis tentang ilmu pendidikan Islam
Banyak hadis yang menyinggung tentang ilmu pendidikan Islam secara global, dari kewajiban menuntut ilmu, motivasi menuntut ilmu, pengembangan fitrah/potensi manusia, sosok pendidik yang ideal, metode pendidikan yang tepat, dan sebagainya.
Contoh hadis mengenai metode pendidikan dengan menggunakan metode permisalan:
dari Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Wahai Rasulullah, isteriku telah melahirkan anak yang berkulit hitam." Beliau bertanya: "Apakah kamu memiliki beberapa ekor Unta?" laki-laki itu menjawab, "Ya." Beliau melanjutkan bertanya: "Lalu apa saja warna kulitnya?" Ia menjawab, "Merah." Beliau bertanya lagi: "Apakah di antara Unta itu ada yang berkulit keabu-abuan?" laki-laki itu menjawab, "Ya." Beliau bertanya: "Kenapa bisa seperti itu?" laki-laki itu menjawab, "Mungkin itu berasal karena faktor keturunan." Beliau bersabda: "Mungkin juga anakmu seperti itu (karena factor keturunan)." (HR. bukhari No.4893)
Mengenai retorika seorang guru yang ideal:
Seorang syaikh dalam masjid berkata, "Aku mendengar Jabir bin Abdullah mengatakan; "bahwa ucapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tartil (jelas)." (HR. Abu Daud No.4198)
Penyampaian materi yang tepat sasaran:
Dan Ali berkata, "Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka, apakah kalian ingin jika Allah dan rasul-Nya didustakan?" Telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin Musa dari Ma 'ruf bin Kharrabudz dari Abu Ath Thufail dari 'Ali seperti itu." (HR. Bukhari, No.124)
Dan masih banyak hadis lainnya mengenai ilmu pendidikan Islam, yang tidak dapat kami jelaskan satu-persatu. Walaupun teks hadis tersebut bermakna global, namun dapat ditarik kedalam suatu ilmu yang khusus dengan menyesuaikan kebutuhan, kondisi dan situasi. Sungguh, dalam diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terdapat suri teladan bagi seluruh manusia, maka merugilah jika kita selaku umatnya, tidak memegang teguh dua pusaka Al-Quran dan Al-Hadis di dalam kehidupan kita.
Tujuan Mempelajari Ilmu Pendidikan Islam
Tujuan mempelajari ilmu pendidikan islam antara lain:
Untuk mengetahui problem-problem dan isu-isu baru komponen pendidikan Islam.
Dengan mengetahui komponen ilmu pendidikan Islam dan problemnya maka dapat menkontruksikan sistem pendidikannya dengan paradigma baru yang sesuai dengan ajaran Islam, sehingga dapat memahami dan menghayati kebijaksanaan Allah sebagai Robbul’alamin dalam membimbing hamba-Nya.
Untuk merefleksikan pertautan nilai-nilai trasendentallahi dengan realitas kependidikan.
Mencerahkan situasi ilmu pendidikan Islam, sehingga hubungan antara unsur-unsur dasarnya menjadi jelas, dan orang yang mempelajarinya pun akan memperoleh pegangan yang berguna untuk praktek pendidikan. Unsur-unsur dasarnya adalah peserta didik, pendidik, tujuan pendidikan, kurikulum, metode pembelajaran serta manajemennya.
Urgensi Ilmu Pendidikan Islam
Ilmu pendidikan Islam merupakan kajian mengenai kependidikan yang mempunyai peran penting untuk dipelajari setiap muslim, yang berkeinginan agar pendidikan dapat berlanggsung secara lancar dan mencapai tujuan.
Urgensi mempelajari ilmu pendidikan islam antara lain :
Ilmu pendidikan Islam sebagai usaha membentuk pribadi manusia harus melalui proses yang panjang dengan hasil yang tidak dapat diketahui dengan segera, berbeda dengan membentuk benda mati yang dapat dilakukan sesuai dengan keinginan pembuatnya.
Ilmu pendidikan Islam khususnya yang bersumberkan nilai-nilai agama islam di samping menanamkan dan membentuk sikap hidup yang dijiwai nilai-nilai tersebut, juga mengembangkan kemampuan berilmu pengetahuan sejalan dengan nilai-nilai Islam yang melandasinya adalah merupakan proses ikhtiar yang secara paedagogis mampu mengembangkan hidup anak didik kepada ke arah kedewasaan/kematangan yang menguntungkan dirinya.
Islam sebagai agama wahyu yang diturunkan oleh Allah Swt dengan tujuan untuk menyejahterakan dan membahagiakan hidup dan kehidupan umat manusia di dunia dan di akhirat, baru dapat mempunyai arti fungsional dan aktual dalam diri manusia jika dikembangkan dalam proses pendidikan yang sistematis.
Ruang lingkup ilmu pendidikan islam mencakup segala bidang kehidupan umat manusia dunia, dimana manusia mampu memanfaatkan sebagai tempat menanam benih-benih amaliah yang buahnya dipetik di akhirat, mak pembentukan sikap dan nilai-nilai amaliah dalam pribadi manusia dapat efektif bilamana dilakukan melalui proses kependidikan yang berjalan di atas kaidah-kaidah ilmu pengetahuan kependidikan.
Fungsi Ilmu Pendidikan Islam
Ilmu pendidikan islam mempunyai fungsi yaitu:
Ingin melakukan pembuktian terhadap teori-teori kependidikan islam yang merangkum aspirasi atau cita cita islam yang harus diikhtisarkan agar menjadi kenyataan.
Ilmu pendidikan islam memberikan informasi tentang pelaksanaan pendidikan dalam segala aspeknya bagi pengembangan ilmu pengetahuan pendidikan islam tersebut. Ia memberikan bahan masukan yang beharga kepada ilmu ini. Mekanisme yang berasal dari penerimaan input (bahan masukan), lalu diproses dalam kegiatan pendidikan (dalam bentuk kelembagaan atau non kelembagaan yang disebut truput), kemudian berakhir dengan pada output (hasil yang diharapkan). Dari hasil yang diharapkan timbul umpan balik (feed back) yang mengoreksi bahan masukan. Mekanisme proses semacam ini berlanggsung secara terus selama proses pendidikan terjadi. Semakin banyak diperoleh bahan masukan dari pengalaman opersional itu, semakin berimbang ilmu pendidikan Islam.
Menjadi pengkoreksi kekurangan teori-teorinya, ilmu pendidikan Islam itu sendiri, sehingga kemungkinan pertemuan antara teori dan praktek semakin dekat, dan hubungan antara keduanya semakin bersifat saling mempengaruhi (interaktif).
BAB III
PENUTUP
Muslim meyakini bahwa kehidupan tidak dapat diserahkan seluruhnya kepada kemampuan akal, atau kepada kemauan manusia, baik manusia secara pribadi ataupun manusia dalam arti keseluruhan manusia. Dalam hal ini, pandangan muslim itu bertolak belakang dengan humanisme yang mengajarkan bahwa akal manusia telah mencukupi untuk mengatur dunia dan kehidupan manusia, dan karena itu agama tidak diperlukan. Pandangan muslim itu tidak juga dapat dikatakan seratus persen hanya berdasarkan keyakinan. Dasar akliahnya ada juga ada, sekalipun tidak begitu kuat. Karena pendidikan menduduki posisi terpenting dalam kehidupan manusia, maka wajarlah muslim meletakkan al-Quran, hadis dan akal sebagai dasar bagi teori-teori pendidikannya. Itulah sebabnya Ilmu Pendidikan Islami memilih al-Quran dan hadis sebagai dasarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir. 2013. Ilmu Pendidikan Islami. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhdiyat. 2009. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia
Cecep Anwar. 2016. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan. Bandung
Mohammad Daud Ali. 2002. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia
Zakiah Daradjat. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara
Aplikasi:
Kutubuttis’ah