PERKEMBANGAN REMAJA
KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN REMAJA
(Perkembangan Peserta Didik)
Dalam rangka melengkapi tugas perkuliahan mata kuliah Perkembangan Peserta Didik
Dosen
H. Tarsono, M.Pd
Oleh (kelompok 5)
1152020108 Kristin Wiranata
1152020110 Laila Hamidah
1152020116 Lucky Pratama Haldi
1152020124 M. Zam Zam
1152020132 Milla Zakiyah
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT. yang mana karena limpahan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu baik dari segi apapun, sehingga makalah ini tersusun dengan baik. Makalah ini bertujuan untuk memenuhi syarat nilai mata kuliah Perkembangan Peserta Didik. Penulis menyadari bahwa apa yang disajikan dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, baik menyangkut isi maupun penulisan. Kekurangan-kekurangan tersebut terutama disebabkan karenakan keterbatasan pengetahuan serta kemampuan penulis. Hanya dengan bantuan dari berbagai pihak untuk memberikan kritik dan saran yang membangun maka kekurangan-kekurangan tersebut dapat lebih baik. Dengan tersusunnya makalah ini penulis berharap kita dapat memahami karakteristik perkembangan remaja, agar saat menjadi pendidik ataupun orangtua, kita dapat memahami apa yang remaja butuhkan, sehingga mereka dapat berkembang dengan baik dan mencapai kematangan untuk dapat menaiki tingkat perkembangan selanjutnya, yakni dewasa.
Bandung, 09 Maret 2016
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan Penulisan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
Pengertian Perkembangan dan Makna Remaja 3
Pertumbuhan Fisik & Kognitif 4
Perkembangan Emosional 10
Perkembangan Sosial 12
Perkembangan Spiritual 22
Kebutuhan Remaja dan Pemenuhannya 23
Tugas-tugas Perkembangan Remaja 24
Penyesuaian Diri Remaja dan Permasalahannya 31
BAB III PENUTUP 35
DAFTAR PUSTAKA iii
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks karena melibatkan berbagai faktor yang harus dirancang dengan baik. Keharmonisan diantara semua faktor ini perlu dibangun. Salah satunya ialah keharmoisan antara guru dan peserta didiknya. Guru dituntut untuk mampu membangun hubungan yang menyenangkan dengan anak didiknya. Untuk dapat membangun hubungan ini guru hendaknya memahami karakteristik setiap anak didiknya.
Pendidik yang mempunyai anak didik usia remaja, diharapkan memiliki kiat-kiat khusus dalam mengajar dan membimbing siswanya. Karena pada usia remaja, remaja memiliki permasalahan yang kompleks, dimana ia dihadapkan pada kondisi-kondisi yang akan membuatnya gelisah, seperti perubahan fisik yang cepat, emosi yang tidak stabil dan jiwa yang bergejolak. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus, agar perkembangan remaja dapat berjalan dengan sempurna, sehingga tidak menimbulkan permasalahan yang kelak akan merepotkannya saat dewasa.
Permasalahan mengenai remaja dan aspek yang berkenaan dengannya, menarik untuk diketahui. Dan permasalahan mengenai remaja kini menjadi lebih rumit, zaman sekarang berbeda dengan zaman dahulu, remaja dihadapi berbagai tantangan zaman. Di dalam makalah ini penulis berusaha menyajikan karakteristik perkembangan remaja. Semoga maksud dari makalah ini dapat tersampaikan kepada pembaca.
Rumusan Masalah
Setelah penulis melakukan analisis dan penelusuran dari berbagai sumber, penulis merumuskan beberapa rumusan masalah, sebagai berikut:
Apa pengertian Perkembangan dan makna Remaja?
Bagaimanakah pertumbuhan dan perkembangan remaja dari segi fisik, kognitif, emosional, sosial dan spiritual?
Apa kebutuhan remaja yang perlu dipenuhi?
Apa tugas-tugas perkembangan remaja?
Apa Permasalahan yang dihadapi remaja?
Tujuan Penulisan
Tujuan penulis menyusun makalah ini ialah untuk memenuhi persyaratan tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik dan untuk memahami karakteristik perkembangan remaja secara menyeluruh.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Perkembangan dan Makna Remaja
Kata “remaja” berasal dari bahasa Latin yaitu adolescene yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dan dewasa. Papalia dan Ods (2001), tidak memberikan pengertian remaja secara implisit, mereka mendefinisikan masa remaja ialah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun dan awal dua puluh tahun. Trsansisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kemtangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis. Adapun bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak. (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).
Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia dan Olds, 2001). Perubahan ini dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya perubahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak. Perkembangan kualitatif ini antara lain, perkembangan fisik, kognitif, psikis, sosial, dan spiritual.
Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan atau ciri-ciri umum yang terjadi selama masa remaja, antara lain:
Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal sebagai masa storm & stress.
Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri.
Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting.
Perubahan nilai, di mana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena telah mendekati dewasa.
Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di stau sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan ini.
Berdasarkan beberapa perubahan yang dialami remaja diatas, dapat ditarik benang merah, yakni ada tiga perubahan fundamental pada masa remaja: Biologis; Kognisi; dan Sosial (Laurence Steinberg).
Pertumbuhan Fisik & Kognitif
Pertumbuhan fisik
Pesatnya pertumbuhan fisik pada masa remaja sering menimbulkan kejutan pada diri remaja itu sendiri. Oleh karena itu, seringkali gerak-gerik remaja menjadi serba canggung dan tidak bebas. Gangguan dalam bergerak yang disebabkan oleh pesatnya pertumbuhan fisik pada remaja seperti ini dikenal dengan istilah gangguan regulasi. Untuk dapat mengimbangi pertumbuhan yang cepat ini, remaja memerlukan zat-zat pembangun yang diperoleh dari makanan dan juga memerlukan bimbingan / pengarahan perilaku.
Masa remaja yang diawali dengan pubertas, adalah masa kematangan fisik yang sangat cepat meliputi aspek hormonal dan perubahan fisik. Perubahan fisik pada remaja pria meliputi
Membesarnya ukuran penis dan buah pelir;
Tumbuhnya bulu di sekitar kemaluan, ketiak dan di wajah;
Perubahan suara (menjadi agak membesar);
Terjadinya ejakulasi pertama melalui “wet dream” (mimpi basah).
Sementara perubahan fisik pada remaja wanita ditandai dengan
Menstruasi pertama (menarche);
Mulai membesarnya payudara;
Tumbuhnya bulu di daerah tertentu;
Membesarnya ukuran pinggul;
Puncak pertumbuhan fsik masa pubertas adalah pada usia 11 tahun bagi remaja wanita, dan usia 13 tahun bagi remaja pria.
Aspek hormonal yang memengaruhi perkembangan fisik remaja adalah kelenjar endoktrin, yang melibatkan interaksi antara kelenjar hypotalamus (sebuah struktur dalam porsi otak yang paling tinggi yang memonitor makan, minum dan seks), kelenjar pituitary (kelenjar endoktrin yang penting untuk mengontrol pertumbuhan dan regulasi kelanjar lainnya), dan gonads (kelenjar seks, yaitu testis pada pria dan ovaries pada wanita).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik
Faktor Internal
Sifat jasmaniyah yang diwariskan dari orang tuanya.
Kematangan; secara sepintas, pertumbuhan fisik seolah-olah seperti sudah direncanakan oleh faktor kematangan.meskipun anak itu diberi makanan yang bergizi tinggi, tetapi kalau saat kematangan belum sampai, maka pertumbuhan akan tertunda.
Faktor Eksternal
Kesehatan
Anak yang sering sakit-sakitan pertumbuhan fisiknya akan terhambat.
Makanan
Anak yang kurang gizi pertumbuhannya akan terhambat, sebaliknya anak yang cukup gizi pertumbuhannya pesat.
Stimulasi lingkungan
Individu yang tubuhnya sering dilatih untuk meningkatkan percepatan pertumbuhannya akan berbeda dengan anak yang tidak pernah mendapat latihan.
Upaya membantu pertumbuhan fisik dan implikasinya bagi pendidikan
Dalam batas-batas tertentu, percepatan pertumbuhan fisik dapat dibantu dengan berbagai usaha atau stimulasi secara sistematis, antara lain sebagai berikut.
Menjaga kesehatan badan
Kebiasaan hidup sehat, bersih, dan olahraga secara teratur akan dapat membantu menjaga kesehatan pertumbuhan tubuh. Namun, apabila ternyata masih terkena penyakit, haruslah segera diupayakan agar lekas sembuh. Sebab kesehatan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik.
Memberi makanan yang baik
Makanan yang baik ialah makanan yang banyak mengandung gizi, segar dan sehat, serta tidak tercemar oleh kotoran atau penyakit. Baik buruknya makanan yang dimakan oleh anak akan menentukan pula kecepatan pertumbuhan fisik. Pada remaja mengalami pertumbuhan fisik yang cepat. Oleh karena itu, memerlukan zat-zat pembangun yang terdapat dalam makanan sehingga menyebabkan para remaja umumnya nafsu makan. Jika makanan yang dimakan cukup mengandug gizi, kebutuhan zat pembangun bisa terpenuhi sehingga pertumbuhan menjadi lancar. Sebaliknya, jika kebutuhan zat pembangun tidak terpenuhi, pertumbuhan fisik akan menjadi terhambat dan kurang lancar.
Implikasiya bagi pendidikan adalah perlunya memperhatikan faktor-faktor berikut ini.
Sarana dan prasarana
Faktor sarana dan prasarana ini jangan sampai menimbulkan gangguan kesehatan pada anak. Misalnya, tempat duduk yang kurang sesuai serta ruangan yang gelap dan terlalu sempit akan menimbulkan gangguan kesehatan. Penyelenggaraan pendidikan modern menghendaki agar tempat duduk anak dan meja dapat diatur sesuai dengan kebutuhan, ruangan kelas yang bersih, terang dan cukup luas, serta kedisiplinan yang tidak kaku.
Waktu istirahat
Untuk menghilangkan rasa lelah dan mengumpulkan tenaga baru, istirahat sangat diperlukaan. Terus-menerus bekerja tanpa ada waktu istirahat dapat menimbulkan kelelahanyang mendatangkan kerugian bagi kesehatan. Oleh karena itu, dalam belajar pun sangat penting memperhatikan pengaturan waktu istirahat bagi anak-anak karena dalam belajar dikenal dengan istilah yang disebut biorama, yang berarti kemampuan anak berkonsentrasi akan sangat dipengaruhi oleh irama stamina biologis pada anak itu sendiri. Berkaitan dengan biorama ini, ada rumus pengaturan belajar yang dikenal dengan “lima kali dua lebih baik daripada dua kali lima”. Artinya, belajar sebanyak lima kali yang masing-masing berlangsung selama dua jam, hasilnya akan lebih baikdaripada belajar sebanyak dua kali yang masing-masing berlangsung selama lima jam. Ini berkaitan dengan kemampuan stamina tubuh untuk berkonsentrasidalam belajar guna menyerap isi yang terkandung dalam materi pembelajaran.
Diadakannya jam-jam olahraga bagi para siswa
Pelajaran olahraga sangat penting bagi pertumbuhan fisik anak karena dengan olahraga yang dijadwalkan secara teratur oleh sekolah berarti pertumbuhan fisik anak akan memperoleh stimulasi secara teratur pula.
Perkembangan kognitif
Perkembangan kognitif adalah perkembangan kemampuan (kapasitas) individu untuk memanipulasi dan mengingat informasi. Untuk membahas perkembangan kognitif (berpikir) remaja, pada paparan berikut dikemukakan beberapa pandangan dari Piaget, Vigotsky, dan para ahli psikologi pemrosesan informasi.
Menurut Jean Piaget, pekembangan kognitif remaja berada pada tahao “Formal operation stage”, yaitu tahap ke empat atau terakhir dari perkembangan kognitif. Tahapan berpikir formal ini terdiri atas dua subperiode (Broughton dalam John W. Santrock, 2010: 97), yaitu:
Early formal operational thought, yaitu kemampuan remaja untuk berpikir dengan cara-cara hipotetik yang menghasilkan pikiran-pikiran sukarela (beba) tentang berbagai kemungkinan yang tidak terbatas. Dalam periode awal ini, remaja mempersepsi dunia sangat bersifat subjektif dan idealistik.
Late formal operational thought, yaitu remaja mulai menguji pikirannya yang berlawanan dengan pengalamannya dan mengembalikan keseimbangan intelektualnya. Melalui akomodasi (penyesuaian terhadap informasi/hal baru), remaja mulai dapat menyesuaikan terhadap bencana atau kondisi pancaroba yang telah dialaminya.
Kemampuan berpikir hipotetik, berarti remaja telah dapat mengintegrasikan apa yang telah mereka pelajari dengan tantangan di masa mendatang dan membuat rencana untuk masa mendatang. Meskipun remaja dipandang sudah dapat memecahkan masalah abstrak dan membayangkan masyarakat yang ideal, namun dalam beberapa hal pemikiran remaja masih kurang matang. Ketidakmatangan berpikir remaja itu, menurut David Elkin (Diane E. Papalia, et.al., alih bahasa A.K. Anwar, 2008: 561-562) dimanifestasikan ke dalam enam karakteristik, yaitu:
Idealism dan kekritisan (suka berpikir ideal dan mengeritik orang lain, orang dewasa atau orang tua sendiri).
Argumentativitas (menjadi argumentatif ketika mereka menyusun fakta atau logika untuk mencari alasan, misalnya: begadang)
Ragu-ragu (meskipun remaja dapat menyimpan berbagai alternatif dalam pikiran mereka pada waktu yang sama, tetapi karena kurangnya pengalaman, mereka kekurangan strategi efektif untuk memilih).
Menunjukkan hipocrisy (remaja sering kali tidak menyadari perbedaan antara mengekspresikan sesuatu yang ideal dengan membuat pengorbanan yang dibutuhkan untuk mewujudkannya).
Kesadaran diri (meskipun remaja sudah dapat berpikir sudah dapat berpikir tentang pemikiran mereka sendiri dan orang lain, akan tetapi mereka sering kali berasumsi bahwa yag dipikirkan orang lain sama dengan yang mereka pikirkan, yaitu diri mereka sendiri).
Kekhususan dan ketangguhan (menunjukkan keyakinan remaja bahwa mereka spesial, pengalamannya unik, dan tidak tunduk pada peraturan. Hal ini merupakan bentuk egosentrisme khusus yang mendasari perilaku).
Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan kognitif remaja
Kelompok psikometrika radikal berpendapat bahwa perkembangan intelektual individu sekitar 90% ditentukan faktor hereditas dan pengaruh lingkungan, adapun pendidikan hanya memberikan kontribusi sebesar 10% saja.
Sebaliknya, kelompok penganut pedadogis radikal amat yakin bahwa intervensi lingkungan, termasuk pendidikan, justru memiliki andil sekitar 80-85%, sedangkan hereditas hanya memberikan kontribusi 15-20% terhadap perkembangan intelektual individu.
Membantu perkembangan kognitif remaja dan implikasinya bagi pendidikan
Pendidik menerima peserta didik secara positif sebagaimana adanya dan tanpa syarat. Artinya, apa pun keberadaan peserta didik dengan segala kelebihan dan kekurangannya harus diterima dengan baik serta memberi kepercayaan padanya bahwa pada dasarnya setiap peserta didik memiliki kemampuan intelektual yang dapat dikembangkan secara maksimal.
Pendidik menciptakan suasana di mana peserta didik tidak merasa terlalu dinilai oleh orang lain. Paling tidak pendidik mengupayakan penilaian tidak mencemaskan peserta didik, melainkan menjadi sarana yang dapat mengembangkan sifat kompetitif secara kuat.
Memahami pemikiran, perasaan, dan perilaku remaja; menempatkan diri dalam situasi remaja; serta melihat sesuatu dari sudut pandang mereka (empathy).
Menciptakan suasana psikologis yang aman bagi remaja. Seperti keterbukaan, kehangatan dan kekonkretan.
Model pendidikan yang aktif adalah model yang tidak menunggu sampai peserta didik siap sendiri, tetapi sekolahlah yang mengajar lingkungan belajar sedemikian rupa sehingga dapat memberi kemungkinan maksimalpada peserta didik. Dengan lingkungan yang penuh rangsangan untuk belajar tersebut, proses pembelajaran yang aktif akan terjadi hingga mampu membawa peserta didik untuk maju ke taraf/tahap berikutnya.
Perkembangan Emosional
Pengertian Emosional
Chaplin (1989) dalam dictionary of psichology mendefinisikan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari organisme mencakupperubaha-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan prilaku. Chaplin membedakan emosi dengan perasaan, dan dia mendefinisikan perasaan (feelings) adalah pengalaman diadari yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh bermacam-macam keadan jasmaniyah.
Definisi lain menyatakan bahwa emosi adalah suatu respon terhadap suatu perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus. Respons demikian terjadi baik terhadap perangsang-perangsang eksternal maupun internal (Soegarda Poerbakawatja, 1982).
Jadi, emosi emosi adalah pengalaman efektif yang disertai penyesuaian dari dalam individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud satu tingkah laku yang tampak.
Emosi adalah warna efektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan fisik. Pada saat terjadi emosi seringkali terjadi perubahan-perubahan pada fisik, antara lain berupa :
Reaksi elektris pada kulit: meningkat bila terpesona.
Pebedaan daerah: bertambah cepat bila marah.
Denyut jantung: bertambah cepat bila terkejut.
Pernafasan: bernafas panjang kalau kecewa.
Pupil mata: membesar bila marah.
Liur: mengering kalu takut atau tegang.
Bulu roma: berdiri kalu takut.
Pencernaan: mencret-mencret kalu tegang.
Otot: ketegangan atau ketakutan menyebebkan otot menegang atau bergetar (tremor)
Komposisi darah: komposisi darah akan iku berubah karena emosional yang menyebabkan kelenjar-kelenjar lebih aktif.
Karakteristik Perkembangan Emosi
Pola emosi masa remaja adalah sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis emosi yang secar normal dialami adlah: cinta/ kasih sayang, gembira, marah, tekut dan cemas, cemburu sedih dan lain-lain. Perbedaannya terletak pada macam derajat dan rangsangan yang membangkitkan emosinya, dan khsusnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka.
Remaja sendiri menyadari bahwa aspek-aspek emosional dalm kehidupan adalah penting (Jersild, 1957: 133). Untuk selanjutnya berikut ini dibahas beberapa kondisi emosional seperti: cinta/ kasih sayang, gembira, kemarahan dan permusuhan, ketakutan dan kecemasan.
Cinta/ kasih Sayang
Faktor penting dalam kehidupan remaja adalah kapasitasnya unuk mencintai orang lain dan kebutuhannya untuk mendapatkan cinta dari orang lain. Kemampuanuntuk menerima cinta sama pentingnya dengan kemampuan untuk memberinya.
Gembira
Perasaan gembira dari remaja belum banyak diteliti. Perasaan gembira sedikit mendapat perhatian dari petugas peneliti daridapa perasaan ,arah dan takut atau tingkah laku problema lain yang memantulkan kesedihan. Rasa gembira akan dialami apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan para remaja akan mengalami kegembiraan jika ia diterima sebaga seorang sahabat atau bila ia jatuh cinta dan cintanya itu mendapat sambutan (diterima) oleh yang dicintai.
Kemarahan dan permusuhan
Dalam upaya memahami remaja, ada 4 (empat) faktor yang sangat penting sehubungan dengan rasa marah.
Adanya kenyataan bahwa perasaan marah berhubungan dengan usaha manusia untuk memiliki dirinya dan menjadi dirinya sendiri.
Pertimbangan penting lainnya ialah ketika individu mencapai masa remaja, dia tidak hanya merupakan subjek kemaragan yang berkembang dan kemudian menjadi surut, tetepi juga mempunyai sikap-sikap dimana ada sisa kemarahan dalam bentuk permusuhan yang meliputi sisa kemarhan dalam bentuk permusuhan yang meliputi sisa kemarahan masa lalu.
Seringkali rasa marah disembunyikan dan seringkali tampak dalam bentuk yang samar-samar.
Kemarahan mungkin berbalik pada diri sendiri. Dalam beberapa hal, aspek ini merupakan aspek yang sangat penting dan juga paling sulit dipahami.
Perkembangan Sosial
Pengertian Perkembangan Hubungan Sosial
Hubungan sosial individu berkembang karena adanya dorongan rasa ingin tahu terhadap segala sesuatu yang ada didunia dan sekitarnya. Dalam perkembangannya, secara individu ingin tahu bagaimanakah cara melakukan hubungan secara baik dan aman dengan dunia sekitarnya, baik yang bersifat fisik maupun sosial. Hubugan sosial diartikan sebagai “cara-cara individu bereaksi terhadap orang-orang disekitarnya dan bagiaman pengaruh hubungan itu terhadap dirinya” (Anna, alisyahbana, dkk., 1984). Hubungan sosial ini menyangkut juga penyesuaian diri terhadap lingkungan, seperti makan dan minum sendiri, berpakaian sendiri, menaati peraturan, menbangun komitmen bersama dalam kelompok atau organisasinya, dan sejenisnya.
Menginjak masa remaja, interaksi dan pengenalan atau pergaulan dengan teman sebaya terutama lawan jenismenjadi semakin penting. Pada akhirnya pergaulan sesama manusia menjadi suatu kebuthan. Kebutuhan bergaul dan berhubungan dengan orang lain ini telah mulai dirasakan sejak anak berumurenam bulan, disaat manusia itu telah mengenalmanusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya.anak mulai mengenal dan mampu membedakan arti senyum dan perilakusosial yang lain, seperti marah (tidak senang mendengar suara keras) dan kasih sayang. Akhirnya setiap orang menyadari bahwa setiap manusiaitu saling membutuhkan. Dari uraian itu dapat dimengerti bahwa uraian sosial merupakan hubungan antara manusia yang saling membutuhka. Hubungan sosial dimulai dari tingkat yang sederhanadan terbatas, yang issadari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia menjadi kompleks dan degan demikian, tingkat hubungan sosial juga bertingkat menjadi. Amt kompleks. Pada jenjang perkembangan reamaja, sorang remaja bukan saja memerlukan orang lain demi untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi mengandung maksud untuk disimpulkan bahwa pengertian perkembangan sosial adalah berkembanganya tingkat hubungan antara manusia sehubungan dengan menngkatnya kebutuhan hidup manusia.
Karateristik Perkembangan Sosial
Kehidupan sosial pada jenjang remaja ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan emosional. Seseorang remaja dapat mengalami sikap hubunggan sosial yang bersifat tertutup sehubungan dengan masalah yang dialami remaja. Keadaan atau peristiwa oleh Eric Erickson. (dalam Leffon, 1982:281) dinyatakan bahwa ank dapat mengalami krisis identitas. Proses pembentukan identitas dari dan konsep diri seseorang adalah suatu yanag kompleks. Konsep dari anak tidak hanya terbentuk dari bagaimana orang lain percaya tentang keberadaan drinya sendiri,tetapi jiga terbentuk dari bagaimana orang lain percaya dari keberadaan dirinya. Erickson mengemukakan bahwaperkembangan anak sampai jenjang dewasa melalui delapan tahap dan perkembangan remaja ini berada pada tahap keenam dan ketujuh, yaitu masa anak ingin menentukan jati dirinya dan memilih kawan akrabnya. Seringkali anak menemukan jati dirinya sesuai dengan kehidupanyang mreka alami. Banyak remaja yang amat percaya pada kelompok mereka dalam menemukan jati dirinya.
Pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk kelompok, baik kelompok kecil ataupun kelompok besar. Dalam menentukan kelompok yang diikiuti, disadari oleh berbagai pemimbangan, seperti moral, sosial, ekonomi, minat dan kesamaan bakat dan kemapuan. Baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar, masalah yang umum dihadapi oleh remaja dan palin rumit adalah faktor penyesuaian diri. Dalam kelompok besar akan terjadi persaingan yang berat, masing-masing individu bersaing untuk tampil menonjol, memperlihatkan akunya. Oleh karena itu, sering terjadi perpecahan dalam kelompok tersebut yang disebabkan oleh menonjolnyakepentingan pribadi setiap orang. Tetapi sebliknya dalam kelompok itu terbentuk suatu persatuan yang kokoh, yang kuat, yang diikat oeh norma kelompok tyang telah disepakati.
Nilai positif dalam kehidupan kelompok adalah tiap anggota kelompok belajar berorganisasi, memilih pemimpin, dan mematuhi aturan kelompok. Seklaipun dalam hal tertentu tindskan suatu kelompok kurang memperhatikan norma umum yang berlaku didalam masyarakat, karena yang lebih dierhatikan adalah keutuhan kelompoknya.didalam mempertahankan dan melawan ‘serangan’ kelompok lain, lebih dijiwai keutuhan kelompoknya tanpa mempedulikan objektivitas kebenaran.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
Keluarga
Keluarga merupakan lingkungsn pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tatacara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Didalam keluarga berlaku norma-norma keluarga kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya keluarga merekayasa perilaku kehidupan budaya anak.
Kematangan
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan fisikis. Untuk mampu mempertimbangkan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Disamping itu kemampuan berbahasa ikut pula menentikan.
Dengan demikian, untuk mampu bersosilisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjelaskan fungsinya dengan baik.
Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang independent, akan tetapi akan ipandang dalam koneksnya yang utuh dalam keluarga anak itu, “anak siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya akan memperhitungkan norma yang berlaku didalam keluarganya.
Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoprasian ilmu yang normatif, akan memberi warna kehidupan anak didalam masyaraka dan kehidupan mereka dimasa yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehiduan keluarga, masyarakat, dan kelembagaan.penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepada peseta didik yang belajar dikelembagaan pendidikan (sekolah).
Kapasitas Mental: Emosi dan Inteligensi
Sikap saling perhatian dan kemampuan memahami orang lain meru-pakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan mudah dicapai oleh remaja yang bekemampuan intelektual tinggi.
Pada kasus tertentu seorang jenius atau superior sukar untuk bergaul dengan kelompok sebaya, karena pemahaman mereka telah setingkat dengan kelompok umur yang lebih tinggi. Sebaliknya kelompok umur yang lebih tinggi (dewasa) tetap ‘menganggap’ dan ‘memperlakukan’ mereka sebagai anak-anak.
Penyesuaian remaja terhadap lingkuangan sosial
Terhadap teman sebaya
Dalam perkembangannya, remaja memiliki penyesuaian-penyesuaian tertentu dalam berinteraksi dengan kelompok sosialnya, khususnya penyesuaian dalam kelompok teman sebaya, antara lain sebagai berikut.
Penyesuaian Pribadi dan Sosial Merupakan Proses
Bagi tipe sosial kultural masyarakat Indonesia, penyesuaian pribadi dan sosial remaja khusus dalam pembahasan ini ditekankan dalam lingkup kelompok teman sebaya. Alasannya bahwa kelompok teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama dimana remaja belajar untuk hidup bersama orang lainyang bukan anggota keluarganya. Lingkungan teman sebaya merupakan suatu kelompok baru yang memiliki ciri, norma, kebiasaan yang jauh berbeda dengan apa yang ada dalam lingkungan keluarga remaja. Terhadap hal-hal tersebut, remaja dituntut memilki kemampuan pertama dan baru dalam menyesuaikan diri dan dapat dijadikannya dasar dalam hubungan sosial yang lebih luas.
Pergaulannya meluas mulai dari terbentuknya kelompok-kelompok teman sebaya (peer-group) sebagai sutau wadah penyesuaian. Didalamnya timbul persahabatan yang merupakan ciri khas pertama dan sifat interaksinya dalam pergaulan. Dalam kelompok yang lebih besar, persoalan bertambah dengan adanya pemimpin dan kepemimpinan yang juga merupakan proses pembentukan, pemilihan, dan penyesuaian pribadi dan sosial. Sangat penting dalam pergaulan ini, didalamnya remaja mendapat pengaruh yang kuat dari teman sebaya; dengan mana remaja mengalami perubahan-perubahan tingkah laku sebagai salah satu usaha penyesuaian.
Penyesuaian pribadi dan sosial besar pengaruhnya bagi pembentukan manusia menjadi matang atau dewasa. Para ahli Psikologi sepakat bahwa terdapat kelompok-kelompok yang terbentuk dalam masa remaja. Dalam hal ini, akan diuraikan dalam beberapa bagian sebagai berikut.
1. Kelompok “Chums” (Sahabat Karib)
Chums yaitu kelompok dimana remaja bersahabat karib dengan ikatan persahabatan yang sangat kuat. Anggota kelompok biasanya terdiri dari 2-3 remaja dengan jenis kelamin sama, memilki minat, kemampuan dan kemauan-kemauan yang nirip. Beberapa kemiripan itu membuat mereka semakin akrab.
2. Kelompok “Cliques” (Komplotan Sahabat)
Cliques biasanya terdiri dari 4-5 remaja yang memiliki minat, kemampuan dan kemauan-kemauan yang realtif sama. Jenis kelamin remaja dalam satu cliques umumnya sama. Seorang remaja putri bersahabat karib dengan remaja putri lainnya. Pada pertengahan dan akhir remaja awal umumnya terjadi cliques dengan anggota berlainan. Dalam cliques inilah remaja pada mulanya banyak melakukan kegiatan-kegiatan bersama; menonton bersama, rekreasi, pesta, saling menelpon, dan sebagainya. Mereka para remaja banyak menghabiskan waktu dalam kegiatan-kegiatan seperti itu, sehingga sering menjadi sebab pertentangan dengan orang tua mereka.
3. Kelompok “Crowds” (Kelompok Banyak Remaja)
Crowds biasanya terdiri dari banyak remaja, lebih besardibandinkan dengan Cliques. Karena besarnya kelompok, maka jarak emosi antara anggota juga agak renggang. Terdapat perbedaan jenis kelamin serta terdapat keragaman kemampuan, minat dan kemauan di antara para anggota Crowds. Hal yang sama dimiliki mereka adalah rasa takut diabaikan atau tidak diterima oleh teman-temannya.
4. Kelompok yang Diorganisir
Kelompok yang diorganisir merupakan kelompok yang sengaja dibentuk dan diorganisir oleh orang dewasa yang biasanya melalui lembaga-lembaga tertentu, misalnya sekolah dan yayasan-yayasan keagamaan. Umumnya, kelompok ini timbul atas dasar kesadaran orang dewasa bahwa remaja sangat membutuhkan penyesuaian pribadi dan sosial, penerimaan dan ikut serta dalam suatu kelompok-kelompok.
5. Kelompok “Gangs”
Gangs merupakan kelompok yang terbentuk dengan sendirinya yang pada umumnya merupakan akibat pelarian dari empat jenis kelompok tersebut diatas. Ada remaja yang tidak memenuhi kebutuhan-kebutuhan kelompoknya, yang antaralain disebabkan ditolak oleh teman sepergaulannya, atau tidak menyesuaikan diri dalam kelompok tersebut. Remaja-remaja yang tidak puas ini “melarikan diri” dan membentuk kelompok tersendiri yang dikenal dengan “Gangs”. Anggota gangs dapat berlainan jenis kelamin dan dapat pula sama. Kebanyakan remaja anggota gangs itu menghabiskan waktu menganggur dan kadang-kadang mengganggu remaja lain.
Persahabatan Remaja Dalam Kelompok
Perasaan bersahabat merupakan ciri khas dan sifat interaksi remaja dalam kelompoknya. Bagi remaja yang bersekolah, dalam masa remaja awal mereka umumnya memilih teman tidak mesti ditentukan oleh tingkat jenjang kelas (sekolah) mereka; tidak mesti teman sekelas. Beberapa unsur lain yang menjadi standar pemilihan adalah pola tingkah laku, minat/kesenjangan, ciri-ciri fisik dan kepribadian, dan nilai-nilai yang dianut. Seorang remaja akan menilai teman-teman sepergaulannya apakah terdapat keserasian atau kemauan dengan standar yang dimilikinya. Semakin besar atau banyak keserasian dan kesamaan yang mereka miliki, maka semakin erat pula persahabatan diantara mereka.
Dalam masa remaja awal, problema yang harus dirasakan adalah hal persahabatan dengan teman sebaya lain jenis kelamin. Sehubungan dengan persahabatan dengan lain jenis kelamin, maka pendapat Scheinfeld. L. Cole pernah memberikan indikasi sebagai berikut.
• Usia ± 8 tahun : Anak lebih suka bermain dalam kelompok sejenis kelamin.
• Usia 10-12 tahun: Saling mengejek antara dua kelompok; kelompok pria melawan kelompok wanita.
• Usia 13-14 tahun: Kelompok wanita mulai tertarik untuk bersahabat dengan kelompok pria, tetapi kelompok pria masih belum tertarik.
• Usia 14-16 tahun: Kelompok laki-laki mulai tertarik untuk bersahabat dengan kelompok wanita.
• Usia 16-17 tahun, dan seterusnya: Masing-masing remaja pria dan wanita menjadi senang berpasang-pasangan.
Dalam masa remaja ini terdapat pula hal-hal yang dapat memutuskan persahabatan. Dalam masa remaja awal sangat mudah remaja bertengkar yang kemudian tidak bertegur-sapa. Akan tetapi dalam masa remaja akhir keadaan semacam itu sudah sangat jarang terjadi.
Manfaat penting dari adanya persahabatan dalam masa remaja ini adalah mereka dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan mengisi waktu luang yang baik.
Pemimpin dan Kepemimpinan Remaja
Remaja memegang peranan dalam banyak kegiatan. Dalam peranan-peranan itu akan muncul pula pemimpin informal diantara mereka. Pemunculan itu secara tidak disadari terjadinya, yang sesungguhnya adalah hasil “seleksi” diantara mereka. Persyaratan umum yang dijadikan dalam pemilihan pemimpin, keadaanya relatif sama bagi kelompok non formal maupun formal. Menurut pandangan remaja itu sendiri, persyaratan atau ciri-ciri yang diharapkan dimiliki oleh pemimpin kelompok mereka adalah :
1. Ciri yang bersangkutan dengan penampilan dan perilaku
2. Ciri yang bersangkutan dengan kemampuan berpikir
3. Ciri-ciri yang bersangkutan dengan sikap/perasaan
4. Ciri-ciri yang bersangkutan dengan pribadi
Pada kelompok-kelompok yang khusus tentu saja remaja memiliki persyaratan yang khusus pula.
Para anggota belajar menyesuaikan diri dengan harapan-harapan dan perencanaan yang dibuat pemimpinnya atas kerjasama dengan mereka. Sebaliknya, pemimpin kelompok belajar menyesuaikan diri dan mengerti/memahami harapan-harapan dan perasaan orang lain, terutama anggota kelompok yang dipimpinnya.
Penerimaan dan Penolakan Teman Sebaya Remaja
Dalam kelompok teman-teman sebaya, merupakan kenyataan adanya rrermaja yang diterima dan ditolak yang disebabkan oleh beberapa faktor yang bersifat pribadi/individu.
1. Faktor-faktor yang menyebabkan seorang remaja diterima .
a. Penampilan dan perbuatan. Meliputi antara lain; tampang yang baik, atau paling tidak rapih serta akktif dalam urusan kelompok
b. Kemampuan pikir. Antara lain meliputi; mempunyai inisiatif, mengemukakan buah pikiran, dan sebagainnya
c. Sikap, sifat, perasaan. Antara lain meliputi; bersikap sopan, memperhatikan orang lain, penyabar atau dapat menahan amarah, dan sebagainnya
d. Pribadi, meliputi; jujur dan dapat dipercaya, bertanggung jawab dan suka menjalankan pekerjaannya, dan sebagainnya
e. Aspek lain, meliputi; pemurah atau tidak pelit atau tidak kikir, suka bekerjasama dan membantu anggota kelompoknya.
2. Faktor-faktor yang menyebabkan seorang remaja ditolak .
a. Penampilan (performance) dan perbuatan, antara lain meliputi; sering menantang, malu-malu, dan sebagainya
b. Kemampuan pikir meliputi; keterlambatan berpikir atau bodoh, dan sebagainya
c. Sikap, sifat meliputi; suka melanggar norma dan nilai-nilai kelompok, suka curiga, mengganggu orang lain, dan sebagainya
d. Ciri lain; faktor rumah yang terlalu jauh dari tempat teman kelompok.
Arti Penting dan Akibat-akibat Penerimaan dan Penolakan
Arti penting hal penerimaan ataupun penolakan teman sebaya dalam kelompok bagi sesorang remaja adalah (bahwa0 hal itu mempunyai pengaruh yang kuat/besar terhadap pikiran, sikap, perasaan, perbuatan-perbuatan dan penyesuaian diri remaja.
Akibat langsung adanya penerimaan teman sebaya bagi seseorang remaja adalah adanya rasa berharga dan berarti serta dibutuhkan bagi/pleh kelompoknya. Hal yang demikian ini akan menimbulkan rasa senang, gembira, puas bahkan rasa bahagia yang akan memberikan rasa percaya diri yang besar.
Hal yang sebaliknya dapat terjadi bagi remaja yang diabaikan ataupun ditolak oleh kelompoknya. Adanya frustasi yang menimbulkan rasa kecewa akibat penolakan atau pengabaian itu. Akibatnya seorang remaja bertingkah laku yang luar biasa; baik bersifat pengunduran diri maupun agresif.
• Tingkah laku yang bersifat pengunduran diri antara lain:
a) Melamun
b) Menyendiri
c) Berlebihan dalam menekuni hobi
Dan ada pula pengunduran diri yang bersifat netral seperti
d) Bergaul dengan orang-orang yang lebih muda/tua dari dirinya.
• Tingkah laku yang bersifat agresif
a) Menentang orang lain
b) Mengeritik
c) Suka berdebat
d) Suka menyebarkan gosip
e) Suka memitnah, dan sebagainya.
Jika intensitasnya semakin tinggi, maka tingkah lakunya mungkin; sadis, pembunuh, pencuri, dan lain sebagainya.
Perilaku pelarian sebagai akibat penolakan, baik yang bersifat pengunduran diri maupun yang bersikap agresif, kesemuanya merupakan tingkah laku yang tidak memuaskan dibandingkan dengan kepuasan yang ditimbulkan oleh adanya penerimaan kelompok.
Titik tekan pembahasan dalam penyesuaian pribadi dan sosial remaja tersebut diatas adalah dalam kelompok teman sebaya. Hal ini tidaklah berarti bahwa penyesuaian diri remaja dengan masyarakat yang lebih luas adalah tidak penting. Hal yang sebenarnya ditonjolkan adalah:
1. Kuatnya ketertarikan antara anggota kelompok teman sebaya, sehingga seakan-akan kelompok remaja merupakan kelompok tersendiri dalam masyarakat. Implikasi keadaaan ini bagi pendidik adalah diperlukannya pendekatan yang berlandaskan pemahaman dan pengertian untuk “mendekati” remaja.
2. Kelompok-kelompok remaja itu sangat dinamis sifatnya. Implikasi keadaan ini bagi pendidik adalah diperlukannya kedinamisan serta kreativitas pendidik dalam pendekatan.
3. Keberhasilan dan kegagalan remaja dalam penyesuaian diri dengan teman sebaya sangat mendasari penyesuaian sosialnya yang lebih luas serta sangat berpengaruh bagi penyesuaian pribadi dan sosial remaja dalam masa dewasa kelak. Impliasi keadaan ini bagi pendidik adalah pendidik dan pembimbing remaja merupakan hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dan memerlukan sikap/minat yang mapan dari pendidik dan pembimbing. Jadi, sikap dan minat dalam mengajar dari pendidik merupakan faktor yang penting.
Perkembangan Spiritual
Masa remaja sebagai segmen dari siklus kehidupan manusia, menurut agama merupakan masa starting point pemberlakuan hukum syar’i bagi seorang insan yang sudah baligh (mukallaf). Oleh karena itu, remaja sudah seharusnya melaksanakan nilai-nilai atau ajaran agama dalam kehidupannya.
Sebagai mukallaf, remaja dituntut untuk memiliki keyakinan dan kemampuan mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupanya sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Nilai-nilai agama yang seharusnya diaktualisasikan itu dapat disimak dalam tabel berikut.
Nilai-nilai agama
Profil sikap dan perilaku remaja
Akidah (keyakinan)
Meyakini Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, yang harus dan patut disembah; Meyakini semua sifat Allah dan mengimplementasikannya ke dalam kehidupan; Meyakini adanya malaikat-malaikat Allah, sehingga lebih was-was dalam menjalani hidup; Menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidupnya dan solusi dari setiap permasalahan; Percaya akan adanya hari kiamat dan akhirat, sehingga mulai mempersiapkan bekal guna kehidupan di akhirat; Percaya dan menerima akan takdir Allah. Tetap berikhtiar serta bertawakal dan menjauhkan diri dari sifat putus asa.
Ibadah dan akhlak
Mendirikan shalat 5 waktu; Belajar untuk menyisihkan sebagian uang jajan ataupun barangnya, untuk diberikan kepada orang yang membutuhkannya; Membaca al-Quran dan berusaha memahami maknanya; Mengikuti sunnah Nabi; berlatih mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal yang dilarang oleh Allah; Bersabar; Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya; Memiliki etos belajar yang tinggi untuk mendapatkan keridoan Allah; Berbakti kepada kedua orang tua; Optimis, dengan cara berikhtiar, berdoa dan bertawakal kepada Allah.
Dalam mengaktualisasikan nilai-nilai agama di atas, tidaklah mudah. Anak memerlukan bimbingan dari keluarga, guru dan masyarakat sekitarnya. Pada saat remaja, anak hendaknya diajarkan oleh guru agama yang ahli lagi terpercaya, hal ini dilakukan bilamana orang tuanya tidak dapat atau tiak sanggup untuk memberikan pengetahuan agama kepada anaknya.
Adapun keragaman profil remaja dalam mengamalkan poin di atas, disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya: (1) keragaman pendidikan agama yang diterima remaja dari orang tuanya, ada yang baik, kurang, dan bahkan tidak sama sekali; (2) keragaman pendidikan agama yang diterima remaja dalam pengamalan nilai-nilai agama, ada yang taat, kurang taat dan bahkan sama sekali tidak peduli; dan (3) keragaman kelompok teman bergaul.
Untuk mengatasi hal ini, pendidik hendaknya menerapkan nilai-nilai agama, baik skala kecil ataupun skala besar. Sampaikanlah nilai-nilai agama secara terus-menerus dengan penyampaian yang lembut dan tidak lupa pula sentuhlah hati peserta didik dengan akhlak pendidik yang mulia. Dengan begitu, anak didik akan tergugah untuk mengamalkan kebaikan.
Kebutuhan Remaja dan Pemenuhannya
Kebutuhan remaja
Kekhasan dalam perkembangan fase remaja dibandingkan dengan fase perkembangan lainnya membawa konsekuensi pada kebutuhan yang khas pula pada mereka. Menurut Garrison (Andi Mapiarre, 1982) setidaknya ada tujuh kebutuhan khas remaja, yaitu
Kebutuhan akan kasih sayang,
Kebutuhan akan keikutsertaan dan diterima dalam kelompok,
Kebutuhan untuk berdiri sendiri,
Kebutuhan untuk berprestasi,
Kebutuhan akan pengakuan dari orang lain,
Kebutuhan untuk dihargai, dan
Kebutuhan memperoleh falsafah hidup yang utuh.
Pemenuhan kebutuhan remaja
Kondisi lingkungan sekitar, baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat berkaitan erat dengan motivasi seseorang. Menurut Maslow (Goble, 1987), ada sejumlah kondisi yang merupakan prasyarat dan sekaligus menjadi intervensi edukatif dalam rangka pemuasan kebutuhan dasar manusia, termasuk remaja, yaitu:
Kemerdekaan untuk berbicara;
Kemerdekaan melakukan apa saja yang diinginkan selama tidak merugikn dirinya dan orang lain;
Kemerdekaan untuk mengeksplorasi lingkungan;
Kemerdekaan untuk mempertahankan atau membela diri;
Adanya keadilan;
Adanya kejujuran;
Adanya kewajaran;
Adanya ketertiban.
Hal-hal di atas hendaknya di penuhi dan diciptakan oleh seorang pendidik. Dengan begitu kebutuhan peserta didik/remaja akan terpenuhi, sehingga penyimpangan yang dilakukan remaja akibat tidak terpenuhi kebutuhannya, akan terminimalisir.
Tugas-tugas Perkembangan Remaja
Havighurst mendefinisikan tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar sautu periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan fase bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi, jika gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya.
Salah satu periode dalam rentang kehidupan individu ialah masa (fase) remaja. Masa ini merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat. (Konopka, dalam Pikunas, 1976; Kaczman dan Riva, 1996)
Masa remaja ditandai dengan:
Berkembangnya sikap dependen kepada orang tua ke arah independen;
Minat seksualitas;
Kecenderungan untuk merenung atau memperhatikan diri sendiri, nilai-nilai etika, dan isu-isu moral. Pendapat dari Salzman dan Pikunas 1976.
Menurut Havighurst (Hurlock, 1990), ada sejumlah tugas perkemabangan yang harus diselesaikan dengan baik oleh remaja, yaitu sebagai berikut.
Mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
Hakikat tugas
Mempelajari peran anak perempuan sebagai wanita dan anak laki-laki sebagai pria, menjadi dewasa di antara orang dewasa, dan belajar memimpin tanpa menekan orang lain.
Dasar biologis
Secara biologis, manusia terbagi menjadi dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan. Kematangan seksual dicapai selama masa remaja. Daya tarik seksual menjadi suatu kebutuhan yang dominan dalam kehidupan remaja. hubungan sosial dipengaruhi oleh kematangan fisik yang telah dicapai.
Dasar psikologis
Dalam kelompok sejenis, remaja belajar untuk bertingkah laku sebagaimana orang dewasa. Adapun dalam kelompok lain jenis, remaja belajar menguasai keterampilan sosial. Remaja putri umumnya lebih cepat matang daripada remaja putra dan cenderung leboh tertarik kepada remaja putra yang usianya beberapa tahun lebih tua. Kecenderungan seperti ini akan berlangsung sampai mereka kuliah di perguruan tinggi. Keberhasilan dalam melaksanakan tugas perkembangan akan membawa penyesuaian sosial yang lebih baik sepanjang kehidupannya.
Mencapai peran sosial pria dan wanita
Hakikat tugas
Mempelajari peran sosial sesuai dengan jenis kelaminnya sebagai pria atau wanita.
Dasar biologis
Ditinjau dari kekuatan fisik, remaja putri menjadi orang yang lebih lemah dibandingkan dengan remaja putra. Namun, remaja putri memiliki kekuatan lain meskipun memiliki kelemahan fisik.
Dasar psikologis
Peranan sosial pria dan wanita memang berbeda. Remaja putra perlu menerima peranan sebagai seorang pria dan remaja putri perlu menerima peranan sebagai seorang wanita. Meskipun demikian, sering terjadi kesulitan pada remaja putri, kadang-kadang cenderung lebih mengutamakan ketertarikannya kepada karier, cenderung mengagumi ayahnya dan kakaknya, serta ingin bebas dari peranan sosialnya sebagai istri atau ibu yang memerlukan dukungan suami.
Menerima keadaan fisiknya dan menggunakannya secara efektif
Hakikat tugas
Menjadi bangga atau sekurang-kurangnya toleran dengan kondisi fisiknya sendiri, menjaga dan melindungi, serta meggunakannya secara efektif.
Dasar biologis
Perkembangan remaja disertai dengan pertumbuhan fisik dan seksual. Laju pertumbuhan tubuh gadis lebih cepat apabila dibandingkan pemuda. Waktunya kini tiba bagi si remaja untuk mempelajari bagaimana jadinya fisiknya kelak, menjadi tinggi, pendek, besar atau kurus. Umumnya gadis yang berusia 15 sampai 16 tahun, tubuhnya mencapai bentuk akhir. Adapun pada pemuda keadaan ini akan dicapai sekitar usia 18 tahun.
Dasar psikologis
Terjadinya perubahan bentuk tubuh yang disertai dengan perubahan sikap dan minat remaja. Remaja suka memperlihatkan perubahan tubuh yang sedang dialaminya sendiri. Remaja putri lebih suka berdandan dan berhias untuk menarik lawan jenisnya manakala dia sudah mulai menstruasi.
Mencari kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya
Hakikat tugas
Membebaskan sifat kekanak-kanakan yang selalu menggantungkan diri pada orang tua, mengembangkan sikap perasaan tertentu kepada orang tua tanpa menggantungkan diri padanya, dan mengembangkan sikap hormat kepada orang dewasa tanpa menggantungkan diri padanya.
Dasar biologis
Kematangan seksual individu. Individu yang tidak memperoleh kepuasan di dalam keluarganya akan keluar untuk membangun ikatan emosional dengan teman sebaya. Ini bisa berlangsung tanpa mengubah ikatan emosional yang meningkat terhadap orang tua.
Pada masa ini, remaja mengalami sikap ambivalen terhadap orang tuanya. Remaja ingin bebas, namun dirasa bahwa dunia dewasa itu cukup rumit dan asing baginya. Dalam keadaan semacam ini, remaja masih mengharapkan perlindungan orang tua, sebaliknya orang tua menginginkan anaknya berkembang menjadi lebih dewasa. Keadaan inilah yang menjadikan remaja sering memberontak pada otoritas orang tua. Guru adalah salah satu tempat bertumpu. Di sinilah peranan guru cukup besar dalam rangka proses penyapihan psikologis remaja. Kegagalan dalam melaksanakan tugas cenderung dapat diasosiasikan dengan kegagalan dalam membina hubungan yang bersifat dewasa dengan teman sebaya.
Mencapai jaminan kebebasan ekonomis
Hakikat tugas
Merasakan kemampuan membangun kehidupan sendiri.
Dasar biologis
Tidak ada dasar biologis yang berarti untuk pelaksanaan tugas ini, meskipun kekuatan dan keterampilan fisik sangat bermanfaat untuk mencapai tugas ini.
Dasar psikologis
Berkaitan erat dengan hasrat untuk berdiri sendiri.
Memilih dan menyiapkan lapangan pekerjaaan
Hakikat tugas
Memilih pekerjaan yang memerlukan kemampuan serta mempersiapkan pekerjaan.
Dasar biologis
Ukuran dan kekuatan badan pada sekitar usia 18 tahun sudah cukup kuat dan tangkas untuk memiliki dan menyiapkan diri memperoleh lapangan pekerjaan.
Dasar psikologis
Dari hasil penelitian mengenai minat di kalangan remaja, ternyata pada kaum remaja berusia 16-19 tahun, minat utamanya tertuju kepada pemilihan dan mempersiapkan lapangan pekerjaan. Sebenarnya prestasi siswa di sekolah, tentang apa yang dicita-citakannya, kemana akan melanjutkan pendidikannya, secara samar-samar dapat menjadi gambaran tentang lapangan pekerjaan yang diminatinya.
Persiapan untuk memasuki kehidupan berkeluarga
Hakikat tugas
Mengembangkan skap positif terhadap kehidupan berkeluarga. Khusus untuk remaja putri termasuk di dalamnya kesiapan untuk mempunyai anak.
Dasar biologis
Kematangan seksual yang normal yang menumbuhkan ketertarikan antar jenis kelamin.
Dasar psikologis
Sikap remaja terhadpa perkawinan sangat bervariasi. Ada yang menunjukkan rasa takut, tetapi ada juga yang menunjukkan sikap bahwa perkawinan justru merupakan suatu kebahagiaan hidup.
Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep yang penting untuk kompetensi kewarganegaraan
Hakikat tugas
Mengembangkan konsep tentang hukum, politik, ekonomi, dan kemasyarakatan.
Dasar biologis
Pada usia 14 tahun, sistem syaraf dan otak telah mencapai tahap ukuran kedewasaan.
Dasar psikologis
Berkembangnya kemampuan kejiwaan yang cukup besar dan perbedaan individu dalam perkembangan kejiwaan yang sangat erat hubungannya dengan perbedaan dalam penguasaan bahasa, pemaknaan, perolehan konsep-konsep, minat, dan motivasi.
Mencapai dan mengharapkan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab
Hakikat tugas
Berpartisipasi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat dan mampu menjunjung nilai-nilai masyarakat dalam bertingkah laku.
Dasar biologis
Tugas ini tidak terlalu menuntut dasar biologis. Tugas ini berkaitan dengan pengaruh masyarakat terhadap individu, kecuali jika menerima adanya insting sosial pada manusia atau memandang bagus tingkah laku remaja merupakan sublimasi dari dorongan seksual.
Dasar psikologis
Proses untuk megikatkan diri individu kepada kelompok sosialnya telah berlangsung sejak individu dilahirkn. Sejak kecil anak diminta untuk belajar menjaga hubungan baik dengan kelompok, berpartisipasi sebagai anggota kelompok sebaya, dan belajar bagaimana caranya berbuat sesuatu untuk kelompoknya. Ini berlangsung sampai dengan individu itu mencapai fase remaja.
Memperoleh suatu himpunan nilai-nilai dan sistem etika sebagai pedoman tingkah laku
Hakikat tugas
Membentuk suatu himpunan nilai-nilai sehingga memungkinkan remaja mengembangkan dan merealisasikan nilai-nilai, mendefinisikan posisi individu dalam hubungannya dengan individu lain, dan memegang suatu gambaran dunia dan suatu nilai untuk kepentingan hubungan dengan individu lain.
Dasar psikologis
Banyak remaja yang menaruh perhatian pada problem filosofis dan agama. Ini diperoleh remaja melalui identifikasi dan imitasi pribadi ataupun penalaran dan analisis tentang nilai.
William Kay, mengemukakan tugas-tugas perkembangan remaja itu sebagai berikut:
Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya;
Mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau figur-figur yang mempunyai otoritas;
Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual maupun kelompok.
Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya;
Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri;
Memperkuat self-control (kemampuan mengendalikan diri) atas dasar skala nilai, prinsip-prinsip, atau falsafah hidup. (Weltan-schauung)
Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap/perilaku) kekanak-kanakan.
Permasalahan yang Dihadapi Remaja
Konflik yang dialami remaja
Berbagai konflik yang dialami oleh remaja ialah sebagai berikut:
Konflik antara kebutuhan untuk mengendalikan diri dan kebutuhan untuk bebas dan merdeka.
Konflik antara kebutuhan akan kebebasan dan ketergantungan kepada kedua orang tua.
Konflik antara kebutuhan seks dan agama serta nilai sosial.
Konflik antar prinsip dan nilai-nilai yang dipelajari oleh remaja ketika ia kecil dahulu dengan prinsip dan nilai yang dilakukan oleh orang dewasa di lingkungannya dalam kehidupan sehari-hari.
Konflik menghadapi masa depan.
Selain itu para remaja, biasanya mempunyai permasalahan fisik. Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri. Levine & Smolak (2002) menyatakan bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan ketidakpuasan pada dua atau lebih dari bagian tubuhnya. Dalam sebuah penelitian survey pun ditemukan hampir 80% remaja ini mengalami ketidakpuasan dengan kondisi fisiknya (Kostanski & Gullone, 1998). Ketidakpuasan akan diri ini sangat erat kaitannya dengan emosi, pikiran yang berlebihan tentang penampilan, depresi, rendahnya harga diri dan perilaku makan yang maladaptiv (Shaw, 2003; Stice & Whitenton, 2002). Lebih lanjut, ketidakpuasan akan body image ini dapat sebagai pertanda awal munculnya gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia (Polivy & Herman, 1999; Thompson et al). Dalam masalah kesehatan tidak banyak remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang banyak terjadi adalah kurang tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Beberapa kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalah karakteristik mereka yang suka bereksperimentasi dan berskplorasi.
Permasalahan yang dialami remaja selain uraian di atas, juga mencakup; hubungan dengan orangtua, lingkungan, masyarakat, teman, sekolah dan permasalahan moral, nilai, dan agama.
Kenakalan Remaja
Permasalahan konflik yang dialami remaja, jika tidak segera/bisa teratasi, maka akan muncul berbagai perilaku penyimpang, antara lain:
Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja dapat terjadi di sekolah atau di masyarakat. Di sekolah, bentuk kenakalannya dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya berupa:
Masalah dengan guru
Masalah dengan peraturan sekolah
Masalah dengan ujian, kenaikan kelas, dan kelulusan
Masalah dengan jajan dan makan minum
Masalah dengan kegiatan belajar dan mengajar
Masalah dengan transportasi pulang pergi.
Adapun bentuk kenakalan remaja di antaranya, perkelahian, tawuran pelajar, membolos, merokok, penyebaran gambar pornografi, dsb.
Sedangkan di masyarakat bentuk kenakalannya dapat berupa, geng kelompok anak nakal atau berandalan, mabuk-mabukan, kebut-kebutan di jalan raya, dsb.
Menentang Otoritas
Otoritas adalah kekuasaan orang, lembaga atau system yang mengatur dan memerintah. Misalnya orang tua, guru, kepala sekolah, pemimpin dan pemerintah masing-masing memiliki otoritas. Seorang anak remaja yang tidak menyetujui nilai-nilai hidup orang tuanya , cenderung menjauhkan diri dari keterikatan orang tua . Bagi remaja yang agresif , cenderung melakukan pemberontakan dengan cara seperti lari dari rumah, membangkang, tidak hormat kepada orangtua, mabuk-mabukan dan ngebut di jalan.
Penyalahgunaan Narkoba
Penyalahgunaan narkoba adalah penggunaan obat-obatan bukan untuk tujuan pengobatan, tetapi untuk menikmati pengaruhnya dalam jumlah berlebih, secara kurang lebih teratur, berlangsung relatif lama, sehingga menyebabkan gangguan fisik, gangguan kesehatan jiwa dan gangguan kehidupan sosialnya.
Penyalahgunaan narkoba menjadi masalah yang memprihatinkan, karena banyak menimpa generasi muda penerus bangsa. Generasi muda sangat rawan terhadap masalah narkoba karena mereka merupakan sasaran strategis mafia perdagangan narkoba.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku menyimpang Remaja
Kelalaian orang tua dalam mendidik.
Perselisihan atau konflik orang tua.
Perceraian orang tua.
Perjualan alat kontrasepsi yang kurang terkontrol (Beredarnya film-film atau bacaan porno).
Hidup menganggur (kurang dapat memanfaatkan waktu luang).
Sikap perlakuan orang tua yang buruk terhadap anak.
Kehidupan ekonomi keluarga yang morat-marit (tidak karuan, serba ketidakcukupan).
Diperjualbelikannya minuman keras dan obat-obatan terlarang secara bebas.
Kehidupan moralitas masyarakat yang bobrok.
Pergaulan negatif (teman bergaul kurang/ tidak memerhatikan nilai-nilai moral).
Upaya Mengatasi Permasalahan yang Dialami Remaja
Beberapa remaja mengeluhkan cara-cara orang tua memperlakukan mereka yang otoriter, atau sikap-sikap orang tua yang terlalu kaku atau tidak memahami kepentingan remaja.
Akhir-akhir ini banyak orang tua maupun pendidik yang merasa khawatir bahwa anak-anak mereka terutama remaja mengalami degradasi moral. Sementara remaja sendiri juga sering dihadapkan pada dilema-dilema moral sehingga remaja merasa bingung terhadap keputusan-keputusan moral yang harus diambilnya. Walaupun di dalam keluarga mereka sudah ditanamkan nilai-nilai, tetapi remaja akan merasa bingung ketika menghadapi kenyataan ternyata nilai-nilai tersebut sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dihadapi bersama teman-temannya maupun di lingkungan yang berbeda.
Pengawasan terhadap tingkah laku oleh orang dewasa sudah sulit dilakukan terhadap remaja karena lingkungan remaja sudah sangat luas. Pengasahan terhadap hati nurani sebagai pengendali internal perilaku remaja menjadi sangat penting agar remaja bisa mengendalikan perilakunya sendiri ketika tidak ada orang tua maupun guru dan segera menyadari serta memperbaiki diri ketika dia berbuat salah.
Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi remaja bisa diatasi dengan beberapa intervensi edukatif yang dapat dilakukan, diantaranya:
Dalam kehidupan keluarga hendaknya diciptakan interaksi edukatif yang memberikan perasaan aman bagi remaja untuk memerankan dirinya ikut ambil bagian dalam berbagai kegiatan keluarganya.
Orang tua hendaknya jangan memberikan stimulus yang mengembangkan identifikasi negatif pada remaja, karena sesungguhnya orang tua harus dapat dijadikan suriteladan bagi remaja dalam segala tingkah lakunya. Karena orangtua merupakan guru pertama bagi anak, sehingga sebelum ada upaya dari guru (sekolah) untuk mengatasi permasalahan anak remaja, terlebih dahulu hal ini diatasi oleh orangtuanya. Sebab orangtua nya sangat mengenali anak tersebut dibandingkan dengan gurunya di sekolah.
Pendidik dan orang tua hendaknya menciptakan kegiatan-kegiatan yang bersifat edukatif di dalamnya, menuntut kemampuan remaja untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif.
BAB III
PENUTUP
Demikianlah makalah yang kami buat, tentunya banyak kekurangan dan kelemahan karena terbatasnya pengetahuan atau kurangnya rujukan yang kami peroleh dalam makalah ini. Penulis banyak berharap kepada para pembaca yang budiman agar memberikan kritik dan saran demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi penulis khususnya para pembaca. Aamiin.
DAFTAR PUSTAKA
Andi Mappiare.1982. Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional
Elizabeth B. Hurlock. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga
Mohammad Ali & Mohammad Astori. 2014. Psikologi Remaja. Jakarta: PT Bumi Aksara
Sri Esti Wuryani Djiwandono. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Grasindo
Sunarto & Agung Hartono. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta
Syamsu Yusuf & Nani M.S. 2013. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rajawali Pers
Yudrik Jahja. 2011. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Kencana
Internet
Masalah remaja. ( Diakses pada tanggal 2 Februari 2016 pukul 09.16 WIB) http://meiliawati97.blogspot.co.id/p/blog-page_4357.html
Problema masalah yang dihadapi anak-anak dan remaja. ( Diakses pada tanggal 2 Februari 2016 pukul 09.11 WIB). http://www.organisasi.org/1970/01/problema-masalah-yang-dihadapi-anak-anak-dan-remaja.html
Sri Sudarmiyati. Permasalahan yang sering dihadapi remaja. (Diakses pada tanggal 2 Februari 2016 pukul 09.14 WIB). http://srisudarmiyati.blogspot.co.id/2013/07/permasalahan-yang-sering-dihadapi-remaja.html
Komentar