ADMINISTRASI PENDIDIKAN

JAWABAN UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS)
ADMINISTRASI PENDIDIKAN

Mata Kuliah : Administrasi Pendidikan Islam
Prodi/Smstr/Kls : PAI / IV / C 
Jumlah SKS : 2 (dua)
Dosen : Koko Khoerudin, M.Ag.
Teknik Ujian : Tes Tulisan 
Nama : Kristin Wiranata
NIM : 1152020108
 
Jelaskan secara rinci hal-hal di bawah ini!  
Pengertian administrasi dalam pendidikan Islam
Pengertian Administrasi Pendidikan. Secara etimologi: administrasi berasal dari bahasa latin yang terdiri dari “ad” artinya “intensif” dan “ministrate” artinya melayani, membantu atau mengarahkan. Secara Terminologi: Menurut Sutisna “Adminitrasi pendidikan adalah keseluruhan (proses) yang membuat sumber-sumber personil dan materiil sesuai yang tersedia dan efektif bagi tercapainya tujuan-tujuan bersama. Ia mengerjakan fungsi-fungsinya dengan jalan mempengaruhi perbuatan orang-orang. Proses ini meliputi perencanaan, organisasi, koordinasi, pengawasan, penyelenggaraan dan pelayanan dari segala sesuatu mengenai urusan sekolah yang langsung berhubungan dengan pendidikan sekolah seperti kurikulum, guru, murid, metode-metode, alat-alat pelajaran, dan bimbingan. Juga soal-soal tentang tanah dan bangunan sekolah, perlengkapan, pembekalan, dan pembiayaan yang diperlukan penyelenggaraan pendidikan termasuk didalamnya.”
Pengertian Pendidikan Islam: proses internalisasi nilai-nilai islam kepada peserta didik sebagai bekal untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat.
Pengertian Administrasi Pendidikan Islam: proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (ummat islam/lembaga pendidikan) melalui bantuan orang lain dan bekerjasama dengannya, agar tujuan pendidikan islam bisa dicapai secara efektif, efisien, dan produktif.
Administrasi dalam arti sempit: adalah sebagai tata usaha dan surat-menyurat
Administrasi dalam arti luas: konsep manajemen dan konsep administrasi

Perbedaan administrasi dan manajemen dalam pendidikan Islam
Menurut Dwight Waldo: Administrasi lebih luas dari manajemen

Administrasi
Manajemen

Arti
Proses mengelola suatu organisasi
Seni mengelola suatu organisasi

Peran
Menentukan
Pelaksana

Bisa diterapkan pada
Pelayanan Publik (non-profit oriented)
Lembaga-lembaga profit oriented

Menentukan
Apa yang harus diselesaikan? Dan kapan pekerjaan tersebut terselesaikan?
Siapa yang melakukan pekerjaan? Bagaimana pekerjaan tersebut diselesaikan?

Pekerjaan
Formulasi dari rencana, menyusun kebijakan, dan menentukan tujuan.
Menerapkan rencana dan kebijakan sebagai aksi.

Juru kunci
Administrator
Manajer


Pentingnya partisipasi guru dalam Administrasi Pendidikan Islam 
Pengambilan inisiatif, pengarah, dan penilaian kegiatan-kegiatan pendidikan islam. Hal ini berarti guru turut serta memikirkan kegiatan-kegiatan pendidikan islam yang direncanakan serta nilainya. (mengembangkan filsafat pendidikan islam, memperbaiki dan menyesuaikan kurikulum, merencanakan program supervisi, merencanakan kebijakan-kebijakan kepegawaian dan kesempatan-kesempatan berpartisipasi lainnya)
Wakil masyarakat, yang berarti dalam lingkungan sekolah guru menjadi anggota suatu masyarakat. Guru harus mencerminkan suasana dan kemauan masyarakat dalam arti yang baik.
Orang yang ahli dalam mata pelajaran. Guru bertanggung jawab unyuk mewariskan kebudayaan kepada generasi muda yang berupa pengetahuan.
Penegak disiplin, guru harus menjaga agar tercapai suatu disiplin.
Pelaksana administrasi pendidikan, disamping menjadi pengajar, guru pun bertanggung jawab agar kelancaran jelannya pendidikan dan ia harus mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan administrasi.
Pemimpin generasi muda, masa depan generasi terletak ditangan guru. Guru berperan sebagai pemimpin mereka dalam mempersiapkan diri untuk anggota masyarakat yang dewasa.
Penerjemah kepada masyarakat, artinya guru berperan untuk menyampaikan segala perkembangan kemajuan dunia sekitar kepada masyarakat, khususnya masalah-masalah pendidikan.

a. Perencanaan yang baik harus dapat memberikan jawaban terhadap konsep pertanyaan 5W 1H. Sebutkan dan jelaskan apa yang dimaksud dengan 5W 1H tersebut! 
What: Apa, mampu menjawab atas tujuan, rencana, dan kegiatan yang akan dilaksanakan
Why: Mengapa, mampu memberikan argumen yang kuat dan logis mengapa suatu perencanaan itu dibuat
Where: Dimana, mampu menjawab lokasi diselenggarakannya kegiatan tersebut
When: kapan, mampu menjawab waktu diselenggarakannya kegiatan
Who: Siapa, Mampu menjawab orang yang akan bertanggung jawab dalam melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan perencanaan tersebut
How: Bagaimana, mampu menjawab bagaimana juknis dan teknis pelaksanaan perencanaan 

b. Menurut Hudson dalam Tanner (1981) teori perencanaan meliputi; sinoptik, inkremental, transaktif, advokasi, dan radial. Selanjutnya di kembangkan oleh Tanner (1981) dengan nama teori SITAR sebagai penggabungan dari taksonomi Hudson. Jelaskan teori tersebut !
Teori SITAR Merupakan gabungan kelima teori (sinoptik, inkremental, transaktif, advokasi, dan radial) diatas sehingga disebut juga complementary planning process. Teori ini menggabungkan kelebihan dari teori diatas sehingga lebih lengkap. Karena teori ini memperhatikan situasi dan kondisi masyarakat atau lembaga tempat perencanaan itu akan diaplikasikan, maka teori ini menjadi SITARS yaitu S terakhir adalah menunjuk huruf awal dari teori situational. Berarti teori baru ini di samping mengombinasikan teori-teori yang sudah ada penggabungan itu sendiri ada dasarnya ialah menyesuaikan dengan situasi dan kondisi lembaga pendidikan dan masyarakat. Jadi dapat kita simpulkan bahwa teori-teori diatas mempunyai persamaan dan pebedaannya.
Persamaannya:
Mempunyai tujuan yang sama yaitu pemecahan masalah
Mempunyai obyek perencanaan yang sama yaitu manusia dan lingkungan sekitarnya.
Mempunyai beberapa persyaratan data, keahlian, metode, dan mempunyai konsistensi internal walaupun dalam penggunaannya terdapat perbedaan penitikberatan.
Mempertimbangkan dan menggunakan sumberdaya yang ada dalam pencapaian tujuan
Perbedaannya adalah :
Perencanaan sinoptik lebih mempunyai pendekatan komprehensif dalam pemecahan masalah dibandingkan perencanaan yang lain, dengan lebih mengedepankan aspek-aspek metodologi, data dan sangat memuja angka atau dapat dikatakan komprehensif rasional. Hal ini yang sangat minim digunakan dalam 4 pendekatan perencanaan yang lain.
Perencanaan incremental lebih mempertimbangkan peran lembaga pemerintah dan sangat bertentangan dengan perencanaan advokasi yang cenderung anti kemapanan dan perencanaan radikal yang juga cenderung revolusioner.
Perencanaan transactive mengedepankan faktor – faktor perseorangan / individu melalui proses tatap muka dalam salah satu metode yang digunakan, perencanaan ini kurang komprehensif dan sangat parsial dan kurang sejalan dengan perencanaan Sinoptik dan Incremental yang lebih komprehensif.
Perencanaan advocacy cenderung menggunakan pendekatan hukum dan obyek yang mereka ambil dalam perencanaan adalah golongan yang lemah. Perencanaan ini bersifat sosialis dengan lebih mengedepankan konsep kesamaan dan hal keadilan sosial
Perencanaan Radikal seakan-akan tanpa metode dalam memecahkan masalah dan muncul dengan tiba-tiba (spontan) dan hal ini sangat kontradiktif dengan pendekatan incremental dan sinoptik yang memepertimbangkan aturan-aturan yang ada baik akademis / metodologis dan lembaga pemerintahan yang ada.

a. Aspek utama proses penyusunan struktur organisasi adalah departementalisasi, dan pembagian kerja. Uraikan kedua istilah tersebut ! 
Departementalisasi: adalah pengelompokan pekerjaan menjadi departemen aktivitas pekerjaan yang serupa secara logis berhubungan, oleh karena itu merupakan hasil keputusan manajer tentang aktivitas tadi dibagi-bagi menjadi tugas atau secara jelasnya adalah Proses pengelompokkan dan penamaan bagian atau kelompok pekerjaan berdasarkan kriteria tertentu. Sebagai contoh, untuk bisnis restoran : pencatatan menu, pemberitahuan menu kepada bagian dapur, hingga pengiriman makanan dari bagian dapur kepada pelanggan di meja makan dapat dikelompokkan menjadi satu departemen tertentu, katakanlah bagian Pelayan.
Ada beberapa cara dimana organisasi dapat mengelompokkan kegiatan-kegiatan yang bermacam-macam untuk dilaksanakan. Sekali lagi, proses penentuan cara bagaimana kegiatan-kegiatan dikelompokkan disebut departementalisasi atau departementasi.
Departementalisasi Fungsional. Departementalisasi fungsional mengelompokkan fungsi-fungsi yang sama atau kegiatan-kegiatan sejenis untuk membentuk satu satuan organisasi. Semua individu- individu yang melaksanakan fungsi yang sama dikelompokkan bersama, seperti seluruh personalia, penjualan, akuntansi, programmer computer, dan sebagainya. Kebaikan pendekatan fungsional: Kebaikan utama pendekatan fungsional adalah bahwa pendekatan ini menjaga kekuasaan dan kedudukan fungsi-fungsi utama, menciptakan efisiensi melalui spesialisasi, memusatkan keahlian organisasi, dan memungkinkan pengawasan manajemen puncak lebih ketat terhadap fungsi-fungsi. Kelemahan struktur fungsional : Bagaimanapun juga, pendekatan fungsional mempunyai berbagai kelemahan. Struktur fungsional dapat menciptakan konflik antar fungsi-fungsi, menyebabkan kemacetan-kemacetan pelaksanaan tugas yang berurutan, memberikan tanggapan lebih lambat terhadap perubahan, hanya memusatkan pada kepentingan tugas-tugasnya, dan menyebabkan para anggota berpandangan lebih sempit serta kurang inovatif. 
Departementalisasi Divisional. Banyak perusahaan besar, dengan banyak jenis produk, diorganisasikan menurut struktur organisasi divisional. Bila departementalisasi perusahaan menjadi terlalu kompleks dan tidak praktis bagi struktur fungsional, manajer perlu membentuk divisi-divisi semi otonomi, dimana setiap divisi merancang, memproduksi dan memasarkan produknya sendiri. Tidak seperti departemen fungsional, suatu divisi menyerupai perusahaan yang terpisah.kepala divisi terutama memusatkan perhatiannya bersaing dengan satuan-satuan lainnya dalam perusahaan yang sama. Tetapi suatu divisi bukan merupakan satuan bebas seperti halnya perusahaan terpisah. Dalam hal ini, seorang manajer divisi tidak dapat membuat keputusan-keputusan sebebas pemilik perusahaan terpisah, karena dia masih harus melaporkan kegiatannya kepada direktur pusat. Sebagai pedoman umum, wewenang kepala divisi terbatas bila keputusan-keputusannya akan mempengaruhi kegiatan-kegiatan divisi-divisi lain. Kebaikan struktur divisional : Organisasi atas dasar divisi mempunyai beberapa kebaikan. Karena semua kegiatan, ketrampilan dan keahlian yang diperlukan untuk memproduksi dan memasarkan produk dikelompokkan menjadi satu dibawah seorang kepala,keseluruhan pekerjaan dapat lebih mudah dikoordinasikan dan prestasi kerja yang tinggi dipelihara. Disamping itu, baik kualitas dan kecepatan pembuatan keputusan meningkat, karena keputusan- keputusan yang dibuat pada tingkat divisi dekat dengan kancah kegiatan. Kelemahan struktur divisional: Bagaimanapun juga stuktur divisional mempunyai berbagai kelemahan. Kepentingan divisi mungkin ditempatkan di atas tujuan dan kebutuhan organisasi keseluruhan. Setiap divisi mempunyai para anggota staf dan spesialis sendiri, sehingga akan meningkatkan biaya administrasi dan terjadi duplikasi ketrampilan.
Pembagian Kerja. Pembagian kerja harus disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan kerja berjalan efektif. Oleh karena itu, dalam penempatan karyawan harus menggunakan prinsip the right man in the right place. Pembagian kerja harus rasional/objektif, bukan emosional subyektif yang didasarkan atas dasar like and dislike. Dengan adanya prinsip orang yang tepat ditempat yang tepat (the right man in the right place) akan memberikan jaminan terhadap kestabilan, kelancaran dan efesiensi kerja. Pembagian kerja yang baik merupakan kunci bagi penyelengaraan kerja. kecerobohan dalam pembagian kerja akan berpengaruh kurang baik dan mungkin menimbulkan kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan, oleh karena itu, seorang manajer yang berpengalaman akan menempatkan pembagian kerja sebagai prinsip utama yang akan menjadi titik tolak bagi prinsip-prinsip lainnya.
Dalam Pembagian kerja karyawan harus memiliki sikap seperti dibawah ini :
Wewenang dan tanggung jawab (Authority and responsibility). Setiap karyawan dilengkapi dengan wewenang untuk melakukan pekerjaan dan setiap wewenang melekat atau diikuti pertanggungjawaban. Wewenang dan tanggung jawab harus seimbang. Setiap pekerjaan harus dapat memberikan pertanggungjawaban yang sesuai dengan wewenang. Oleh karena itu, makin kecil wewenang makin kecil pula pertanggungjawaban demikian pula sebaliknya. Tanggung jawab terbesar terletak pada manajer puncak. Kegagalan suatu usaha bukan terletak pada karyawan, tetapi terletak pada puncak pimpinannya karena yang mempunyai wewemang terbesar adalah manajer puncak.
Disiplin (Discipline). Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawab. Disiplin ini berhubungan erat dengan wewenang. Dalam melakasanakan pekerjaan, karyawan harus memperhatikan prinsip kesatuan perintah sehingga pelaksanaan kerja dapat dijalankan dengan baik. Karyawan harus tahu kepada siapa ia harus bertanggung jawab sesuai dengan wewenang yang diperolehnya. Perintah yang datang dari manajer lain kepada serorang karyawan akan merusak jalannya wewenang dan tanggung jawab serta pembagian kerja.
Kesatuan pengarahan (Unity of direction). Dalam melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya, karyawan perlu diarahkan menuju sasarannya. Kesatuan pengarahan bertalian erat dengan pembagian kerja. Kesatuan pengarahan tergantung pula terhadap kesatuan perintah. Dalam pelaksanaan kerja bisa saja terjadi adanya dua perintah sehingga menimbulkan arah yang berlawanan. Oleh karena itu, perlu alur yang jelas dari mana karyawan mendapat wewenang untuk pmelaksanakan pekerjaan dan kepada siapa ia harus mengetahui batas wewenang dan tanggung jawabnya agar tidak terjadi kesalahan. Pelaksanaan kesatuan pengarahan (unity of direction) tidak dapat terlepas dari pembagian kerja, wewenang dan tanggung jawab, disiplin, serta kesatuan perintah.

b. Struktur organisasi mengandung unsur-unsur; spesialisasi kerja, standarisasi, koordinasi, sentralisasi/desentralisasi dalam pembuatan keputusan, besaran (ukuran) satuan kerja. Jelaskan unsur-unsur tersebut!

Spesialisasi kerja. Spesialisasi kerja ini berkaitan dengan spesialisasi, baik tugas individu maupun tugas kelompok dalam organisasi (pembagian kerja) dan mengelompokkan tugas-tugas tersebut ke dalam unit kerja (departementasi)
Standarisasi. Standarisasi kegiatan-kegiatan ini berkaitan dengan standarisasi tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja yang digunakan dalam organisasi. Banyak sistem dan prosedur kerja, termasuk didalamnya struktur organisasi dan bagan organisasi, yang dikembangkan melalui peraturan-peraturan tentang kegiatan-kegiatan dan hubungan-hubungan kerja yang ada dalam organisasi.
Koordinasi. Koordinasi kegiatan ini berkaitan dengan pengintegrasian dan penyelarasan fungsi-fungsi dan unit-unit dalam organisasi yang berkaitan dan saling ketergantungan.
Sentralisasi dan desentralisasi. Sentralisasi dan desentralisasi ini berkaitan dengan letak pengambilan keputusan. Dalam struktur organisasi yang disentralisasikan, pengambilan keputusan dilakukan oleh para pimpinan puncak saja. Dalam desentralisasi, kekuasaan pengambilan keputusan didelegasikan kepada individu-individu pada tingkat-tingkat manajemen menengah dan menengah bawah
Ukuran satuan kerja menunjukan jumlah karyawan dalam suatu kelompok kerja.


Alhamdulillah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAFALAN QUR'AN HILANG KARENA MAKSIAT

PERTANYAAN DI PADANG MAHSYAR

EMPAT UNSUR TAWAKKAL