ALLAH AL KABIIR

Al-Kabiir secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha besar. Kebesaran Allah di antaranya keberadaan-Nya ada dengan sendiriNya, tak bermula dan tak akan pernah berakhir. Segala yang ada ini adalah makhluk yang diciptakan-Nya, sehingga sejatinya hanya Allah lah yang maha memiliki. Oleh karenanya Allah juga yang maha mengatur segalanya; Allah yang menghidupkan dan mematikan, serta Allah yang memberi rezeki.

Allah berfirman yang artinya, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati,
benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.
Demikianlah, dan barang siapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan bahwasanya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar (Qs. al-Hajj: 58-62).

ALLAH AL 'ALIY

Al-’Aliy secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha tinggi yang tak tertandingi akan eksistensi-Nya, kedudukanNya, kemuliaan-Nya, kekuasan-Nya, dan segala kesempurnanNya lainnya. Misalnya terkait dengan kepemilikan-Nya, Allah  berfirman yang maknanya, Kepunyaan-Nyalah apa yang ada di 
langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar (Qs. al-Syura: 4).

Ketika bertitah, Allah berfirman yang maknanya, Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkatakata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) 
lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana (Qs. al-Syura: 51).

Oleh karena itu, untuk merengkuh kemuliaan, kita dituntun untuk mematuhi-Nya. Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi (Qs. al-A’la: 1). 

Demikianlah, karena sesungguhnya Allah,
Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang bathil; dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar (Qs. Luqman: 30).

PAHALA SHOLAT



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

وَالْعَبْدُ وَإِنْ أَقَامَ صُورَةَ الصَّلَاةِ الظَّاهِرَةَ فَلَا ثَوَابَ إلَّا عَلَى قَدْرِ مَا حَضَرَ قَلْبُهُ فِيهِ مِنْهَا، كَمَا جَاءَ فِي السُّنَنِ لِأَبِي دَاوُد، وَغَيْرِهِ: عَنْ {النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: إنَّ الْعَبْدَ لَيَنْصَرِفُ مِنْ صَلَاتِهِ وَلَمْ يُكْتَبْ لَهُ مِنْهَا إلَّا نِصْفُهَا، إلَّا ثُلُثُهَا، إلَّا رُبْعُهَا، إلَّا خُمُسُهَا، إلَّا سُدُسُهَا، إلَّا سُبُعُهَا، إلَّا ثُمُنُهَا، إلَّا تُسْعُهَا، إلَّا عُشْرُهَا}. وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا لَيْسَ لَك مِنْ صَلَاتِك إلَّا مَا عَقَلْتَ مِنْهَا

“Seorang hamba, meskipun dia telah melakukan bentuk sholat secara lahiriah, namun dia tidak mendapatkan pahala kecuali sesuai kadar kehadiran kalbunya saat sholat..

Sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud dan selainnya, dari Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Seorang hamba, dia selesai dari sholatnya, padahal tidak dituliskan pahala baginya kecuali :
– setengahnya,
– sepertiganya,
– seperempatnya,
– seperlimanya,
– seperenamnya,
– sepertujuhnya,
– seperdelapannya,
– sepersembilannya, atau
– sepersepuluhnya..”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhumaa juga mengatakan, “Engkau tidak mendapatkan pahala dari sholatmu kecuali apa yang engkau pahami..”

Majmu’ Fatawa Syaikhil Islam 32 – 217

BERLOMBA



Al Hafidz Ibnu Rojab rahimahullah berkata,

‎فمن عجـز عن مـسابقة المـحبين
‎‏فـي مضـمارهم ؛
‎‏فلا يعجز عن مسـابقة
‎‏المذنبيــن في اسـتغفارهــم

“Siapa yang merasa lemah untuk berlomba dengan para pecinta akherat dalam amal sholeh, maka janganlah ia lemah untuk berlomba dengan para pendosa dalam memohon ampunan..”

Lathoiful Ma’arif hal. 45

Hanya Karena Allah



Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

رحم الله عبداً وقف عند همّه، فـإن كان لله مضـى، وإن كان لغيره تأخر.

“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti ketika ingin melakukan sesuatu… jika hal itu dia niatkan untuk Allah maka dia meneruskannya, namun jika hal itu dia niatkan untuk selain-Nya maka dia mundur.”

Ighotsatul Lahafan

Landasan amal ialah niat... Walaupun amal kebaikan terlihat kecil, namun jika ikhlas dilakukan karena Allah semata, maka ia akan bernilai disisi Allah... Bersemangat lah atas apa yang bermanfaat darimu..

Hati Yang Sejuk



Hatim al-Ashom rahimahullah berkata,

“Aku tahu bahwa rezekiku tidak akan dimakan orang lain, karena itu hatiku tenang..
aku tahu bahwa amalku tidak akan dikerjakan orang lain, maka aku sibuk mengerjakannya..
aku tahu kematian akan datang dengan tiba-tiba, maka aku bersiap-siap menyambutnya.. dan
aku tahu bahwa diriku selalu dalam pengawasan Allah, karena itu aku malu kepada-Nya..”

Hilyatul Auliya’ – 8/73

MELIHAT AIB DIRI



Ibnu Hibban rahimahullah berkata,

والعاقل لا يخفى عليه عيب نفسه، لأن من يخفى عليه عيب نفسه خفيت عليه محاسن غيره، وإن من أشد العقوبة للمرء أن يخفى عليه عيبه.

“Orang yang berakal tidaklah tersamarkan baginya aibnya sendiri.. siapa yang tidak mengetahui aib dirinya, dia tidak akan mengetahui kebaikan orang lain..

Sungguh, termasuk hukuman terberat bagi seseorang ialah dia tidak mengetahui aib yang dia miliki..”

Roudhotul ‘Uqola, hlm. 22


Tanda kebodohan diri ialah tidak dapat mengetahui kelemahan dan aib pada diri sendiri.... Janganlah kita disibukkan dari melihat aib orang lain... Manakala sering melihat aib orang lain maka kita akan buta tentang keadaan aib diri sendiri... Barangsiapa yang membicarakan aib orang lain, maka Allah akan membuka aib nya kelak baik didunia ataupun kelak diakhirat.. nauzubillahimindzalik..

Hendaklah Seorang Mukmin Berada Dalam Salah Satu Dari Dua Keadaan



Ibnu Rojab rahimahullah berkata,

“Dunia bagi seorang mukmin bukanlah negeri untuk menetap, bukan sebagai tempat tinggal.. Hendaklah seorang mukmin berada dalam salah satu keadaan :

(1) menjadi seorang ghorib (orang asing), tinggal di negeri asing, ia semangat mempersiapkan bekal untuk kembali ke negeri tempat tinggal sebenarnya..

(2) menjadi seorang musafir, tidak tinggal sama sekali, bahkan malam dan siangnya ia terus berjalan ke negeri tempat tinggalnya.

Maka dari itu Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam mewasiatkan kepada Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaa agar hidup di dunia dengan salah satu dari dua keadaan ini..”

Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:378

Pengembara tidaklah menyia-nyiakan kesempatan menyiapkan bekal untuk perjalanan yang amat jauh... Sebab ia tahu jalan yang dilaluinya kelak amatlah menyusahkannya.. sehingga ia membekali dirinya dengan segala kebaikan... Dan kelak kita sebagai pengembara di dunia ini akan memanen hasil atas buah perbuatan kita selama singgah didunia yang fana dan singkat ini... Maka jangan lah tertipu oleh dunia... Bukalah hatimu untuk menyongsong seruan Allah kepada hambaNya agar senantiasa bertaqwa..

Menyembunyikan Kebaikan



Bisyr bin Harits al-Hafy rahimahullah berkata,

لا تعمل لتُذكر، اكتم الحسنة كما تكتم السيئة.

“Jangan beramal agar engkau mendapatkan pujian, sembunyikanlah kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan.”

Siyar A’lamin Nubala’


Jangan sampai kita shalih dikhalayak umum dan bermaksiat dikala menyendiri.... Keburukan yang dilakukan disaat sendirian jauh dari pandangan manusia lain, dapat menghapuskan amal amal kebaikan kita... Oleh karena itu terapkanlah Ihsan disaat kesendirian... Seakan akan kita dilihat Allah dan seakan akan kita melihat Allah... Sehingga kita menjadi pribadi yang shalih dihadapan Allah, Aamiin..

Tutuplah dosa dosa dengan melakukan kebaikan yang tersembunyi... Karena hanya Allah dan kita yang tahu amal kebaikan tersebut... Dan semata mata dilakukan ikhlas karena Allah... InsyaAllah akan mengundang Rahmat dan ampunan Allah kepada kita...

Rasa Takut Sesuai Kadarnya



Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

رهبة العبد من الله على قدر علمه بالله، وزهده في الدنيا على قدر رغبته في الآخرة.

“Rasa takut seorang hamba kepada Allah sesuai kadar ilmunya tentang Allah, dan sikap perendahannya terhadap dunia sesuai dengan kadar kecintaannya terhadap akhirat.”

Az-Zuhd al-Kabir, 74

Hamba Allah yang paling takut krpadaNya ialah para ulama.. karena mereka mengenal Allah melalui ilmunya... Bahwa asma wa shifat Allah amatlah mulia dan agung.. oleh karena itu, upayakanlah untuk sering berthalabul Ilmi kapanpun dan dimanapun... Dan takutlah untuk bermaksiat karena Allah selalu mengawasi hambaNya..

Agar Rasa Hasad Hilang



Hatim Al-Asham -rahimahullah- mengatakan:

“Aku melihat orang-orang saling hasad, maka aku pun merenungi firman Allah ta’ala:

نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَیۡنَهُم مَّعِیشَتَهُمۡ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَاۚ

“Kamilah yang membagi-bagi penghidupan untuk mereka dalam kehidupan dunia..” [Az-Zukhruf: 32]

Maka, aku pun meninggalkan hasad, karena hasad adalah bentuk protes terhadap pembagian Allah..”

Mukhtashar Minhajil Qashidin 28, Diterjemahkan oleh, Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Setiap manusia berbeda beda keadaannya.... Allah menciptakan perbedaan ini agar manusia saling melengkapi satu sama lain... Ada yang kaya ada yang miskin... Semua Rizki dari Allah kepada hambaNya telah ditakar sesuai takdir yang telah digoreskan... Janganlah hasad dengan kelebihan yang dimiliki orang lain.. sebab hasad dapat menghapuskan kebaikan sebagaimana api menghanguskan kayu....

Ya Allah jauhkanlah kami dari jasad kepada sesama kaum mukminin... Rabbanaa laa taj'al fii quluubinaa ghillallilladziina aamanuu..

Mempertanggung-Jawabkan Perbuatan Sendirian



Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

“Wahai anak Adam, ketahuilah bahwasanya sungguh..
- engkau akan mati sendirian,
- masuk ke liang kubur pun sendirian,
- dibangkitkan sendirian dan,
- mempertanggung-jawabkan perbuatanmu juga sendirian..”

Hilyatul Auliya’ – 4/116

Kelak kita akan hidup di alam BARZAKH sendirian.. tanpa ditemani keluarga, sahabat dan juga harta benda.. ketika dibangkitkan pun kita akan sendirian, menghadap Allah juga sendirian... semua manusia akan sibuk dengan dirinya masing-masing / nafsi-nafsi.... Oleh karena itu perbanyaklah beramal Soleh agar Allah berikan syafaat penyelamat di akhirat kelak..

Istighfar Merupakan Kebaikan Terbesar



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

“Istighfar merupakan kebaikan terbesar, jadi siapa yang merasakan kekurangan pada ucapannya, perbuatannya, rezekinya, atau begitu mudahnya hatinya berbolak-balik, maka hendaklah dia membenahi tauhidnya dan banyak istighfar..”

Majmu’ul Fatawa : 11 hal 698

Dengan Istighfar maka seseorang akan Allah berikan solusi disetiap permasalahan yang dihadapinya... Dan seseorang juga akan diberikan kekuatan dalam menghadapi kehidupannya...

Seringlah taubat kepada Allah, dengan demikian kita akan merasakan nikmatnya berdekatan dengan Allah...

Menghadapi Musibah



Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,

“Barangsiapa yang memahami keadaan lautan kehidupan dunia dan mengetahui bagaimana gelombang itu kadang bisa pasang dan juga surut, maka tahulah ia bagaimana harus bersabar menghadapi keganasan hari-hari kehidupan, dan ia tidak akan pernah merisaukan turunnya bala’, dan tidak akan pula pernah begitu kaget dengan kegembiraan yang terkadang datang begitu tiba-tiba..”

Shoidul Khothir – 210

Ahli bala' yakni orang yang ditimpa musibah kelak akan bersyukur ketika melihat ganjaran kebaikan atas kesabaran mereka selama di dunia ditimbang saat Yaumil Mizan... Karena besarnya ganjaran tersebut sehingga orang-orang iri kepadanya dan berharap ditimpa musibah yang sama ketika di dunia...

Janganlah terlalu sedih dengan musibah yang menimpa sehingga menimbulkan keputus asaan dan berprasangka buruk kepada Allah.. jangan pula terlalu gembira kepada kenikmatan dan kebaikan yang datang kepada kita.. sebab keduanya sudah Allah takdirkan dalam garis kehidupan hambaNya... Adapun yang perlu dilakukan ada dua hal.. yakni bersabar dan bersyukur...

Bermuhasabah dirilah ketika musibah itu datang, musibah diundang karena maksiat yang kita lakukan... Karena segala keburukan datangnya dari dalam diri kita.... 

Adapun jika mendapat kebaikan, maka kembalikanlah sanjungan dan pujilah Allah atas kenikmatan tersebut...

Apakah Perkara Sunnah Boleh Ditinggalkan..?



disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah-:

وقد كان صدر الصحابة ومن تبعهم؛
– يواظبون على السنن مواظبتهم على الفرائض،
– ولا يفرقون بينهما في اغتنام ثوابهما

“Dahulu para pemuka sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka:
– merutinkan amalan-amalan sunnah, sebagaimana mereka merutinkan amalan-amalan wajib.
– dan mereka tidak membedakan antara keduanya dalam mengambil manfaat pahalanya..”

Fathul Bari 3/265

Definisi Sunnah zaman kini agaknya kurang tepat jika dibandingkan pengamalan Sunnah dizaman salaf...
Definisi Sunnah zaman kini ialah perbuatan yang apabila dilakukan mendatangkan pahala dan ditinggalkan tidak mendapat dosa... Makna ini memanglah benar... Namun ada yang lebih tepat dan baik yakni: Sunnah adalah apabila ditinggalkan membuat pelakunya merugi dan apabila dikerjakan membuat pelakunya beruntung dan meraih cinta Allah ta'ala... Maka tidak heran generasi salaf seperti sahabat, tabiin mereka berlomba lomba dalam mengerjakan Sunnah...

Ya Allah berikan kemudahan kepada kami untuk melaksanakan kewajiban kami sebagai hambaMu dan menunaikan hak Engkau sebagai Tuhan Kami...

Hukuman Dosa Yang Tidak Disadari Mayoritas Manusia


Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

‏والله سبحانه جعل مما يعاقب به الناس على الذنوب سلب الهدى والعلم النافع.

“Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan diantara hukuman yang Dia timpakan kepada manusia akibat dosa-dosa, adalah dicabutnya petunjuk dan ilmu yang bermanfaat.”

Majmu’ul Fatawa, jilid 14 hlm. 152, Diterjemahkan oleh, Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى

Manakala hidayah dan Taufik Allah cabut, maka seseorang hamba tidak dapat melakukan ibadah.... Ibarat cahaya yang terang menjadi redup dan padam.... Ia akan tersesat dan melakukan hal-hal yang Allah tidak ridhoi... Nauzubillahimindzalik..

Adapun jika ilmu yang dimiliki ditarik kemanfaatannya... Maka ilmu tersebut tidak dapat mengantarkan pemiliknya kepada jalan yang Allah ridhoi... Ilmu tersebut tidak memberikan kesan yang baik kepada akhlaknya.. banyak orang yang berilmu namun melakukan dan mengajak untuk menjauhi Allah, maka ilmu ini tidaklah bermanfaat...

RIDHA

Ridha itu bisa digambarkan dengan sesuatu yang Bertentangan dengan nafsu. Jelasnya, yaitu jika ada suatu  penderitaan yang menimpa seseorang, dia merasakan dan mengalami penderitaan itu, namun dia ridha , sekalipun dia 
membencinya dengan tabiatnya, karena dia akan mendapatkan Pahalanya.

 Dalam surah Al-Bayyinah ayat 8:
Artinya: “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.”

Ibnu Khafif berkata, “ridha adalah tenangnya hati dengan ketetapan Allah swt dan keserasian hati dengan apa yang
menjadikan Allah swt ridha dan dengan apa yang dipilih-Nya.”

Ketika Rabi’ah al-Adawiyah ditanya, “bilakah seorang hamba dipandang ridha?” ia menjawab, “apabila baginya
penderitaan itu sama menggembirakannya dengan di anugerah nikmat.”

Abu Ali Ad-Diqaqi r.a, berkata, “bukanlah sesuatu keridhaan jika engkau tidak merasakan cobaan, tetapi keridhaan itu
adalah tidak mempertanyakan hukum dan ketetapan (Allah swt).”

MAHABBAH

Ketahuilah bahwa mahabbah (cinta) kepada Allah adalah puncak tujuan dari berbagai macam kedudukan. Setelah
mengetahui perasaan cinta ini, maka tidak ada lagi kedudukan lain kecuali rasa yang muncul itu diiringi dengan rasa yang penuh kerinduan, kesenangan dan ridha. Maqam cinta itu muncul setelah
ianya dihiasi oleh taubat, sabar, zuhud dan lain-lainnya.

Kondisi spiritual mahabbah ini memerlukan syarat, sebagaimana yang pernah ditanyakan kepada Samnun
rahimahullah. Kemudian dia mengatakan, “mahabbah adalah jernihnya cinta dengan disertai mengingat-Nya yang terus-menerus. Karena orang yang mencintai sesuatu ia akan banyak
menyebutnya.”
Firman Allah dalam surah Al-Maidah ayat 54: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang
kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas
(pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.”

TAWAKAL

Ibrahim bin Khawwas berkomentar, “barang siapa benarbenar bertawakal kepada Allah di dalam urusan dirinya sendiri, pasti juga akan bertawakal kepada Allah dalam urusan dengan
orang lain.” Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 12:
Artinya: “mengapa Kami tidak akan bertawakal kepada
Allah Padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada Kami, dan
Kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguangangguan yang kamu lakukan kepada kami. dan hanya kepada
Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri.”

Imam al-Ghazali, menyatakan bahwa tawakal itu terdiri atas
tiga tingkatan: 
pertama, menyerah diri kepada Allah swt, seperti seseorang yang menyerahkan segala kekuasaan dalam sesuatu
urusan kepada wakilnya, setelah ia menyakini dan percaya diatas kebenaran, kejujuran, dan kesungguhan wakilnya dalam hal urusan itu. Tingkat ini masih dapat memperlihatkan adanya harapan dan keinginan dalam dirinya, meskipun segala hal telah diwakilkannya kepada Allah. 
Kedua, menyerahkan diri kepada Allah, seperti seorang anak kecil yang menyerahkan segala persoalan
kehidupannya kepada ibunya. Pada tingkatan ini, harapan dan keinginan masih terlihat, namun sudah semakin berkurang.
 Ketiga, menyerahkan diri kepada Allah seumpama mayat yang berada di
tangan orang yang memandikannya. Pada tingkatan ini, tawakal adalah kepasrahan total kepada Allah.

FAQIR

Faqr berarti senantiasa merasa butuh kepada Allah. Seseorang hamba yang menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki
apa-apa, bebas dari segala sesuatu yang ada di atas dunia ini, merasakan kebutuhan dan ketidak mampuan di hadapan Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Fathir: 15,
Artinya: Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan
sesuatu) lagi Maha Terpuji.

Jadi, faqr disini bukanlah orang yang tidak punya harta benda yang berupa material, tetapi faqr disini membawa maksud
orang yang punya hati yang bersih atau kosong dari keinginan hawa nafsu terhadap duniawi. Faqr itu juga bermakna orang yang memperkaya rohani atau batinnya dengan Allah. Abu Bakar alSyibli menyebut bahwa orang faqr adalah orang yang kaya dengan Allah semata. Sementara Yahya al-Razi mengatakan bahwa barang siapa yang meletakkan kekayaannya di dalam usahanya, maka ia
senantiasa faqr , dan barang siapa yang meletakkan kekayaannya di dalam hatinya, maka ia senantiasa kaya, dan barang siapa yang memanjangkan hajatnya kepada makhluk (manusia), maka ia
senantiasa tidak memperoleh apa-apa (mahrum).

Ciri-ciri para sufi yang telah mencapai tahap merasakan Faqir. 
Pertama, bebas dari perasaan memiliki dan menginginkan sesuatu. 
Kedua, bebas dari diri. 
Ketiga, kedermawanan. 
Keempat, berada di dunia tapi bebas dari dunia.
Kelima, memiliki jiwa yang tenang (nafs-al-muthmaina).

SABAR

QS. Ali Imran : 200 artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu
dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”

Hakikat Sabar
Kata Imam Ghazali, “ketahuilah olehmu bahwasanya sabar
itu tersusun dari tiga perkara: 
Pertama, ilmu yang mengetahui
bahwa sabar itu baginya maslahat di dalam agama dan adab baginya serta berfaedah yang memberi manfaat di dalam dunia dan di akhirat. Dengan mengetahui akan hal demikian, maka ia
memerangi dengan sabar . 
Kedua, hal yang berada di dalam hati
dengan sabar atas kesungguhan berbuat ibadah dan sikap meninggalkan maksiat serta meninggalkan keberlebihlebihan dalam syahwat yang mubah dan sabar daripada meninggalkan kesakitan cobaan dan kesusahan dalam kehidupan.
Ketiga, beramal terhadap apa yang
telah diperangai dengan sabar dan dengan sifat sabar itu sudah siap hatinya pada tiap-tiap kedatangan kesulitan. Cobaan dan kesulitan datang sehingga ia mampu melewatinya...

ZUHUD

Zuhud adalah benci akan dunia, maka berada pada martabat yang tinggi, yang terlebih lagi hampir kepada kedekatan yang lebih dekat Allah taala, karena benci akan dunia yang membuat kedekatannya dengan Allah taala. Diriwayatkan dari Sahal ibn Sa’ad as-Saidi r.a bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah s.a.w dan berkata: “Wahai Rasulullah, tunjukanlah kepadaku suatu pekerjaan yang apabila aku mengerjakanya, maka
Allah dan manusia akan mencintaiku.” Rasulullah s.a.w bersabda
kepadanya : “Berzuhudlah engkau terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan berzuhudlah engkau terhadap apa-apa yang ada di manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.”
(HR.Ibnu Majah)

Hakikat Zuhud
Berkata Imam Ghazali, “Ketahuilah olehmu bahwasanya zuhud di dalam dunia itu merupakan salah satu maqam yang mulia
daripada beberapa maqam orang yang salik.”

Di antara doa kaum sufi yang mulia adalah doa: “Ya Allah letakkan dunia ditangan kami, dan jangan kau letakkan di hati
kami.” Inilah yang dimaksud dengan zuhud, yang kosongnya hati dari ikatan pada dunia atau cinta dunia, hingga sekalipun tangan penuh dengan dunia.

TAUBAT

Makna taubat itu kembali/meninggalkan daripada perbuatan maksiat kepada perbuatan taat dan taubat itu merupakan
awal dari perjalan bagi salik yang berjalan kepada haq dan ketentuan Allah swt, karna taubat itu membawa kepada perbuatan
ibadah yang mengarah kepada kasih sayang Allah taala, dan dengan kasih sayang Allah taala, membawa kita kepada dekat kepadaNya. Dengan dekat kepadaNya niscaya dapat membawa
kepada segala kebajikan dunia dan jadi mulia pada pandanganNya.Firman Allah taala dalam Surah An-Nisa’ ayat 17
yang berbunyi:
Artinya: “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran
kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, Maka
mereka Itulah yang diterima Allah taubatnya dan Allah Maha
mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Syarat-syarat Taubat
Adalah taubat itu sahlah dengan tiga syarat:
1) Meninggalkan maksiat yang telah diperbuat
2) Menyesali atas maksiat yang telah diperbuat
3) Berkeinginan besar untuk tidak kembali kepada melakukan kemaksiatan.
Maka jika tidak ada satu pun syarat dari ketiga syarat diatas, maka tidak sahlah taubatnya.

Faedah Taubat
Dalam taubat itu ada dua faedahnya:
Pertama: mengkifaratkan (menghapuskan) dosanya sepertimana
sabda Nabi Saw.:
التائب من الذنب كمن الذنب له
Artinya: Orang yang bertaubat dari dosanya adalah seperti orang yang tidak ada dosa baginya.
Kedua: mendapat derajat yang mulia dan tinggi apabila ia jadi kekasih Allah Taala, sebagaimana firman-Nya:
Artinya: “sesungguhnya Allah mengasihani akan orang yang bertaubat dan mengasih akan orang-orang yang sentiasa
mensucikan dirinya daripada segala ‘aib dan najis”

GAMBAR QUOTES PENGHAFAL ALQURAN

ALLAH ASY SYAKUUR

As-Syakuur sebagai salah satu asma-Nya Allah secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha berterima kasih,
zat yang sangat apresiatif terhadap amalan baik hamba-hambaNya sekecil apapun itu, untuk kemudian segera mengaruniakan balasan yang berlipat-lipat ganda kepadanya...

Allah berfirman yang artinya Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka
dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (Qs. Fathir: 30). 
Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang Telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi
Maha Mensyukuri (Qs. Fathir: 34).

Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (Qs. Asy-Syura: 23)

 Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. dan Allah Maha pembalas Jasa lagi Maha Penyantun (Qs.
At-Taghabun: 17).

Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri
kebaikan lagi Maha Mengetahui (Qs. al-Baqarah: 158).

 Dan, mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman dan
Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui (Qs. anNisa’: 147).

ALLAH AL GHAFUUR

Asma al-Ghaffaar, dan al-Ghafuur, serta istilah maghfirah untuk menyatakan bahwa Allah maha mengampuni dosa namun dosa itu masih ada. Mengapa? Karena dosa tersebut hanya ditutupi
oleh Allah di dunia dan di akhirat nanti juga ditutupi sehingga tidak kelihatan dari pandangan makhluk. Dengan kemurahanNya, Allah tidak menyiksa seseorang karena dosa tersebut, tapi
dosa itu masih ada. Nah dosa akan diampuni dan dihapus sehingga
tidak ada dosa lagi diperuntukkan bagi Allah al-’Afuww. Karena dosa sudah dihapus maka dosa yang dilakukan sudah tidak ada; seolah-olah, ia tidak pernah melakukan kesalahan. Karena dosa
itu telah dihilangkan dan dihapuskan sehingga bekasnya tidak lagi terlihat. Dengan demikian pemberian maaf dengan melebur dosanya lebih istimewa ketimbang mengampuni dengan sekedar
menutupi dosa dalam kesalahannya saja.
Dalam konteks Allah al-Ghaffaar dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mengampuni segala dosa dari segi kuantitasnya, Sedangkan al-Ghafuur adalah mengampuni dosa dari segi
kualitasnya. Oleh karenanya bagi sesiapa yang sering melakukan kesalahan diharapkan sering-sering menyebut al-Ghaffaar agar Allah mengampuni segala dosanya, sedangkan yang melakukan
kesalahan berat atau dosa-dosa berat diharapkan segera banyakbanyak menyebut Allah al-Ghafuur agar mendapat pengampunanNya...

Namun demikian ada juga ulama yang berpendapat bahwa alGhaffaar berorientasi preventif pada kepengampunan dosa masa
kini dan datang. Adapun al-Ghafuur lebih lengkap yaitu Allah mengampuni dosa dari masa lalu, kini hingga masa mendatang.
Allah berfirman yang maknanya, katakanlah: “Jika kamu (benarbenar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu“. Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang (Qs. Ali Imran: 31).

KUPUJI ALLAH KARENA EMPAT PERKARA



Dari Asy Sya’bi bahwa Syuraih, rohimahumallah, berkata,

“Sesungguhnya aku pernah ditimpa musibah..
Maka aku memuji Allah karena EMPAT perkara..

– Kupuji Allah karena tidak diberikan musibah yang lebih berat dari itu..

– Kupuji Allah karena aku diberikan kesabaran..

– Kupuji Allah karena telah memberikanku taufiq untuk istirja’.. sehingga aku dapat berharap pahala..

– Kupuji Allah karena musibah itu tidak menimpa agamaku..”

Siyar A’laam An Nubalaa 4/105, Diterjemahkan oleh, Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Ketika mendapat musibah maka lihatlah ke bawah, banyak yang lebih menderita daripada kita, sehingga kita bersyukur dan ridho menerima takdir Allah... Tak ada satupun manusia yang terlepas dari musibah, bahkan semakin taat dan takwa kepada Allah maka ujiannya lebih berat namun disamping itu ada ganjaran dari Allah yang tak ternilai.... Bersyukurlah jika musibah hanya menimpa pada duniawi, karena segala sesuatu yang bersifat duniawi itu akan hancur dan fana... Jika musibah menimpa ukhrawi maka hal ini amat sangat berat, karena dengan demikian akan menjauhkan kita dari naungan Rahmat Allah, dan mengikis bekal kita untuk perjalanan akhirat.... Ya Allah kami berlindung dariMu dari fitnah dunia dan kami berlindung kepadaMu dari fitnah di akhirat...

PENTINGNYA TAWAKAL

Anda kalau nggak punya kepasrahan, stres.. karena selalu memikirkan apa yang mau dikerjakan dan selalu orientasi pada hasil, kita punya tawakal.

Sekarang siapa yang paling mampu menguasai? siapa yang paling hebat menyelesaikan segala hal? siapa yang punya segalanya? Bukankah Allah? Orang-orang yang punya tingkat tawakal yang tinggi.. maka satu, dia akan lebih stabil keadaan mentalnya dan tidak akan pernah gelisah dengan kekecewaan. Karena tawakal itu kalau sudah kepasrahan pasti menerima hasil, kalau sudah tawakal terserah Allah tetapkan apa saja...

> Saluran Ust Adi Hidayat

ALLAH AL 'AZHIIM

Saudaraku, keagungan sejatinya hanya milik Allah saja. Seandainya ada manusia yang agung berbudi pekerti dan akhlaknya luhur, maka tidak lain adalah karena yang
bersangkutan dapat merengkuh kedekatannya pada Allah al-
’Azhiim, Zat Pemilik Keagungan tersebut. Allah al-’Azhiim inilah yang menjadi tema muhasabah kali ini....

Al-’Azhiim secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Agung (YMA), Allah maha luhur, Allah maha besar.
Di antaranya dalam Ayat Kursi, Allah menampakkan keagungan-Nya di samping ketinggian-Nya; Allah, tidak ada
Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa´at di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa
dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar
(Qs. al-Baqarah: 255)...

Demikian juga pada ayat 4 surat al-Syuara, Allah berfirman yang maknanya, Kepunyaan-Nya-lah apa yang ada di langit
dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar (Qs. al-Syura: 4)...

 Oleh karenanya dalam banyak
tempat, Allah menuntun kita agar bertasbih memuji al-’Azhiim ke atas keagungan-Nya. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar (Qs. al-Waqi’ah: 74) dan, Maka
bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha Besar (Qs. al-Waqi’ah: 96)

ALLAH AL HALIIM

Saudaraku, tema muhasabah hari ini adalah Allah al-Haliim. Allah Maha Penyantun. Dalam hal ini kita meyakini bahwa Allah maha penyantun terhadap makhluk-Nya, tetap welas asih 
terhadap hamba-hamba-Nya; Allah senantiasa menolong hambahamba-Nya, memahami isi hatinya, memenuhi kebutuhan untuk hidupnya dengan sunnatullah-Nya...

Dalam konteks kelemahan manusia yang sering salah dan lupa, misalnya, seberapapun dosa dan kesalahan yang telah dilakukan hamba-Nya tidak segera dibalasi-Nya dengan siksa, apalagi kemudian pelakunya bertaubat. Mengapa? Di antaranya, karena Allah itu al-Haliim, Allah yang maha penyantun. Oleh 
karenanya, ketika kita berbuat salah sehingga berdosa jangan berketerusan, meskipun tidak atau belum dibalasi dengan keburukan atau siksa oleh Allah. Maka, hendaknya bersegera melakukan taubat nasuha...

Allah berfirman yang artinya, Dan ketahuilah bahwa Allah 
mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepadaNya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha 
Penyantun” (Qs. al-Baqarah: 235)...

 Demikian juga pada ayat lain 
yang maknanya, Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian
tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha
Penyantun lagi Maha Pengampun (Qs. al-Israa’: 44). 

JANGAN TINGGALKAN MAJELIS PARA ULAMA



‘Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata,

‏« إن الرجل ليخرج من منزله وعليه من الذنوب مثل جبال تهامة، فإذا سمع العلم خاف ورجع وتاب، فانصرف إلى منزله وليس عليه ذنب، فلا تفارقوا مجالس العلماء »

“Seseorang keluar dari rumahnya dalam keadaan membawa dosa sebesar gunung tuhamah. Ketika ia mendengarkan ilmu, ia menjadi takut dan bertaubat. Ia pun pulang ke rumahnya dalam keadaan bersih dari dosa. Maka jangan tinggalkan majelis para ulama..”

Miftah Darissa’adah 1/122

Memandang ulama, mengikuti akhlaknya yang baik akan membuat hati tergerak untuk mengikutinya insyaAllah...
Nabi Muhammad Saw tidak meninggalkan Dinar atau dirham, yang ditinggalkan hanyalah Al Qur'an dan asSunnah... Sedangkan penyampai dua pusaka nabi tersebut adalah para Ulama....
Para ulama bagaikan bintang yang menghiasi dan menerangi malam... Tanpa ulama kita tidak akan tahu yang mana halal dan haram... Dengan perantara ulama lah kita dapat mengenal siapa tuhan kita.... Maka janganlah kita jauhi para ulama...

ALLAH AL KHABIIR


Saudaraku, kita meyakini bahwa Allah maha mengetahui sehingga Allah juga dikenal sebagai al-’Aliim. Ketika pengetahuan Allah itu serba meliputi dan menjangkau semuanya sampai yang sekecil-kecilnya, maka Allah disebut al-Khabiir. Nah al-Khabiir
inilah yang akan kita ulang kaji kembali untuk muhasabah hari ini.

Al-Khabiir secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Mengetahui dengan pengetahuan yang sempurna, baik yang global maupun yang terperinci. Allah Maha Lembut 
pengetahuan-Nya. Allah berfirman yang artinya Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu 
terjadilah”, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui (Qs. alAn’am: 73). 

Demikian juga, Barang siapa yang dijauhkan adzab 
daripadanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan 
rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata. Jika 
Allah menimpakan suatu?kemudharatan kepadamu, maka tidak 
ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika 
Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa 
atas segala sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian 
hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui” (Qs. al-An’am: 16-18).

Dan “Tidak seorangpun yang mengetahui di bumi mana ia 
akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha 
Mengenal” (Qs. Luqman: 34). Dengan demikian hanya Allah lah 
yang mengetahui hal ikhwal tibanya kematian seseorang.

ALLAH AL LATHIIF


Al-Lathiif secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha lembut, 
Allah maha halus, Allah maha sensitif, Allah maha peka terhadap permohonan, persoalan, keadaan dan perilaku hamba-hambaNya.

Allah berfirman yang maknanya bahwa Allah maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa (Qs. al-Syura: 19).

 Di ayat lain Allah juga berfirman yang maknanya, apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air 
dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui (Qs. al-Hajj: 63).

Bukan saja peka terhadap keperluan dan rezeki hambahamba-Nya, kemahahalusan Allah juga menjangkau seluruh niat dan perilaku hamba-hamba-Nya sekecil apapun juga 
, (Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu 
perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di 
langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya 
(membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha 
Mengetahui (Qs. Lukman: 16)

ALLAH AL 'ADL


Al-’Adl secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha adil, Allah maha memutuskan yang keputusan-Nya menunjukkan kesempurnaan keadilan-Nya. Oleh karena itu, orang-orang beriman senantuasa 
akan merujuk dan memedomani ketentuan dari Rabbnya.

Allah berfirman yang maknanya, Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan terperinci. Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu (Qs. al-An’am: 114).

Keadilan Allah bersifat menyeluruh dalam seluruh tindakan dan keputusan-Nya. Allah memutuskan dan menempatkan segala sesuatu pada tempat, posisi, kondisi, dan kadar ukurannya 
sesuai dengan hikmah dan ilmu-Nya yang serba meliputi. Di 
samping itu, dengan keadilan-Nya Allah juga memberikan 
balasan setimpal kepada seluruh makhluk-Nya di dunia dan 
kelak di akhirat, sesuai dengan amal masing-masing sesuai 
dengan sunnatullah-Nya. Allah tidak akan menzalimi makhlukNya sedikit pun. Allah berfirman yang maknanya, Sesungguhnya 
Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah….” 
(Qs. al-Nisâ`: 40).

Keadilan Allah efektif pada sekecil apapun usaha dan 
perbuatan hamba-hamba-Nya. Allah menganugerahkan 
kebahagiaan kepada hamba-hamba-Nya yang bersyukur, tetapi 
Allah juga memberi ancaman berupa kesengsaraan kepada 
siapa saja yang mengingkari karunia-Nya. Allah berfirman yang 
maknanya, Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; 
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah 
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), 
maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Qs. Ibrahim: 7).

Oleh karenanya di ayat lain juga disebutkan yang maknanya, 
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, 
niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa yang 
mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya dia akan 
melihat (balasan)-nya pula” (Qs. al-Zalzalah: 7-8).

ALLAH AL HAKAM



Al-Hakam secara populis dipahami bahwa Allah adalah Hakim yang maha adil, Allah maha memutuskan yang keputusan-Nya menunjukkan keagungan-Nya, zat yang maha menetapkan yang ketetapan-Nya menunjukkan keadilan dan kesempurnaan-Nya.

Allah berfirman yang maknanya, maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan terperinci? 
Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu (Qs. al-An’am: 114).

Dalam ayat yang lain Allah berfirman yang maknanya, kemudian mereka [hamba Allah] dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala 
hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dialah Pembuat perhitungan yang paling cepat (Qs. al-An’am: 62). 

Dan juga, Allah akan mengadili di antara kamu pada hari kiamat tentang apa 
yang kamu dahulu selalu berselisih padanya (Qs. al-Hajj: 69).

ALLAH AL BASHIIR


Saudaraku, kita bisa berencana apa saja, dapat berniat akan melakukan 
apapun juga, berpikir selangit selagi bisa, dan berbuat sesuka hati kita, tetapi mesti diingat bahwa Allah juga al-Bashiir.

Al-Bashiir secara populis dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Melihat. Allah adalah zat yang menyaksikan apapun yang sudah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi. Allah juga memperhatikan dan mengetahui seluruh perbuatan hambaNya baik perbuatan itu besat ataupun kecil.

Allah berfirman yang maknanya, Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan (Qs. al-Baqarah: 96).

Oleh karenanya berapapun umur yang nantinya 
disempurnakan yang dianugerahkan kepada kita, harus 
dimanfaatkan untuk berbuat baik sehingga dijauhkan dari siksaNya, baik saat hidup di dunia ini maupun apalagi di akhirat kelak.

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam 
surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka 
di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang 
suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi 
nyaman. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan 
amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh 
kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya 
kamu menetapkan dengan adil.Sesungguhnya Allah memberi 
pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah 
adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Qs. an-Nisa’: 57-58).

ALLAH ASSAMII'

Nama Allah ini sangat krusial bagi kita yang memiliki banyak permintaan,
karena Allah maha mendengarkan permintaan dan keluhan hamba-Nya serta sekaligus maha mengabulkan doa. 

AlSamii’ secara populis dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Mendengar. Allah adalah zat yang memperkenankan
permohonan dan doa-doa hamba-Nya.
Di antara bukti didengarkan dan dikabulkannya doa Nabi Ibrahim dapat kita baca tentang pragmen kisahnya. Dan
(ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasardasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Qs.
al-Baqarah: 127).

Dan juga doa istri nabi Ibrahim

Ingatlah ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku 
menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). 
Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Qs. Ali Imran: 35).

ALLAH AL MUDZIL

Dalam kehidupan ini ternyata di samping ada banyak orang yang diangkat derajat kepribadiannya sehingga mulia, baik dalam pandangan Allah maupun dalam pandangan manusia, ternyata juga ada orang yang “direndahhinakan” akibat
perilakunya sendiri. 

Al-Mudzil secara populis dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Merendahkan. Allah adalah zat yang maha kuasa, dan yang berkuasa menjadikan mulia atau rendah hina siapapun dari hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, lantaran perbuatannya sendiri. Adalah yang sudah pasti Allah memuliakan orang-orang yang beriman berilmu dan beramal shalih lantaran ketakwaannya. Dan sebaliknya Allah juga menghinadinakan orang-orang musyrik, kafir, munafik, dan fasiq karena kedurhakaan mereka. 

Allah mengingatkan kita agar tidak durhaka karena akibat kedurhakaan hanyalah direndahhinakan, sebagaimana
firman-Nya yang maknanya, sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang
yang sangat hina” (Qs. al-Mujadalah: 20).

Sekali lagi Allah berkuasa memuliakan dan menghinakan hamba-Nya. Seorang hamba dimuliakan karena amalnya, demikian juga yang lainnya dihinakan juga karena perbuatannya. Dengan demikian Allah memuliakan dan menghinakan hambaNya atas dasar hikmah dan keadilan-Nya. Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya, tetapi seringkali seseorang itu sendiri
yang menzalimi dirinya...

ALLAH AL MU'IZZ

Al-Mu’izz secara populis dipahami bahwa Allah adalah zat YangMaha Memuliakan... Allah adalah zat yang maha mulia, sumber kemuliaan, dan yang menganugerahi kemuliaan kepada siapapun dari hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Allah berfirman, yang maknanya, barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang
baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur (Qs. Fathir: 10)...

Oleh karenanya kita sudah selayaknya memuji Allah dengan al-Mu’izz untuk memperoleh keridhaan-Nya sehingga dimuliakanNya. “Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Qs. Ali Imran: 26).

ALLAH AR RAAFI'

Ar-Raafi’ secara umum dipahami bahwa
Allah adalah zat Yang Maha Tinggi yang senantiasa meninggikan segala sesuatu atas makhluk-Nya. Allah kuasa mengangkat derajat hamba-hamba-Nya ke kedudukan (maqam) kemuliaan...

Seperti di antaranya dijelaskan dalam al-Qur’an bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu
pengetahuan.

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Qs. alMujadalah: 11).

ALLAH AL KHAAFIDH

Al-Khaafidh secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Merendahkan segala sesuatu atas makhluk-Nya. Tentu di samping kuasa
merendahkan, Allah juga kuasa meninggikan, kuasa mengangkat
derajat hamba-hamba-Nya....

Suatu hari Rasulullah Nabi Muhammad saw ditanya tentang maksud firman Allah, ”Setiap saat Dia (Allah) dalam kesibukan
(Qs. al-Rahman: 29), beliau bersabda, ”Termasuk kesibukan yang
dilakukan oleh Allah adalah mengampuni dosa, menghilangkan
keresahan, meninggikan kelompok-kelompok manusia, dan
merendahkan yang lain” (HR. Ibnu Majah). 

Siapapun yang direndahhinakan atau ditinggimuliakan oleh Allah tentu atas
ketentuan sunatullah-Nya yang maha adil dan bijaksana....

ALLAH AL BAASITH

Allah al-Baasith mengantarkan kita untuk merenungi kembali tentang bagaimana Allah mengatur hal ikhwal makhluknya, terutama dalam hal melapangkan, menambah atau melipatgandakan rezeki juga umur hamba-hamba-Nya. al-Baasith
secara populis dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha kuasa melapangkan segala urusan hamba-hamba-Nya. Allah
memudahkan rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya.

Dalam banyak tempat dalam al-Qur’an, Allah berfirman yang maknanya. Sesungguhnya Tuhanmu Melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hambaNya (Qs. al-Isra’: 30). 

Allah melapangkan rezeki bagi siapa saja
yang dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dia pula yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Qs. al-Ankabuut: 62).

Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambaNya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi
Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hambaNya lagi Maha Melihat” (Qs. al-Syuura: 27).

Allah berfirman yang maknanya, siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan (Qs. al-Baqarah: 245).

Di ayat lain juga disebutkan bahwa Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka
bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah
kesenangan (yang sedikit) (Qs. al-Ra’d: 26).

ALLAH AL QAABIDH

Al-Qaabidh secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Menyempitkan, yang kuasa menahan,
menggenggam, menghalangi, dan menyempitkan segala sesuatu
atas makhluk-Nya. Tentu di samping kuasa menahan, Allah juga kuasa membebaskan, Allah kuasa menggenggam juga kuasa
melepaskan, Allah kuasa menghalangi juga kuasa melancarkan, dan Allah kuasa menyempitkan juga kuasa melapangkan.
Semuanya berjalan sesuai dengan ketentuan sunnatullah-Nya yang rapi dan sempurna...

Allah berfirman yang maknanya, siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan
hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan (Qs. al-Baqarah: 245).

Di ayat lain juga disebutkan bahwa Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka
bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah
kesenangan (yang sedikit) (Qs. al-Ra’d: 26). 

ALLAH AL 'ALIIM

Al-’Aliim secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Mengetahui yang pengetahuan-Nya sempurna, serba
meliputi, baik yang lahir maupun yang bathin, baik yang tampak maupun tersembunyi, dari yang besar sampai yang sangat kecil sekalipun, baik yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi....

Allah berfirman dalam beberapa ayat yang maknanya “... Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran (dari padanya)?” (Qs al-An’aam: 80).

 “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati” (Qs. al-Mukmin: 19).
 
Katakanlah, “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui.” Allah mengetahui apaapa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Qs. Ali Imran: 29).

Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi (dari
rahasia itu) (Qs. Thaahaa: 7). 

Dalam Islam, Allah sebagai al-’Aliim
merupakan sumber segala ilmu. Oleh karenanya ilmu yang dicari dan dikuasai oleh manusia berasal dari-Nya. Allah menurunkan wahyu dan menciptakan alam serta mengajarkan kepada manusia
ilmu pengetahuan tentang apa pun yang tidak atau yang belum diketahui...

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya
yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (Qs. Hadiid: 22).

 “...Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya...” (Qs. al-Baqarah: 255).

 Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Qs. al- ‘Alaq: 5).

🌊 Hamba yang Cerdas


> Tentang hakikat dunia.

إِنَّ للّهِ عِبَادًا فُطَنَا ** طَلَّقُوا الدُّنْيَا وخَافُوا الفِتَنَا
نَظَروا فيهَا فَلَمَّا عَلِمُوا ** أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ وَطَنَا
جَعَلُوها لُجَّةً واتَّخَذُوا ** صَالِحَ الأَعمالِ فيها سُفُنا

Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas,

Mereka meninggalkan perkara dunia yang remeh dan senantiasa takut akan fitnah, khawatir kalau-kalau diri mereka terjatuh ke dalamnya,

Juga, mereka merenungi perkara dunia itu, hingga kemudian begitu mereka sadar bahwa dunia ini bukanlah tempat tinggal mereka,

Merekapun menganggapnya bak lautan dengan ombak besar, dan menjadikan amal sholeh sebagai perahu untuk berlayar di atasnya.

📚 Kutipan bait syi'ir Imam Syafi'i -rahimahullāh
(Diterjemahkan secara makna, bukan secara harfiah)

💡Fitnah yang dimaksud di sini: Setiap hal yang melalaikan seseorang dari perkara akhirat.


> 9 Dzulqa'dah 1446 H/7 Mei 2025.

Cr. Bekal Perjalanan

ALLAH AL FATTAAH

hati siapa yang tidak senang dibukakan pintu  rezeki, bahkan dengan tidak disangka-sangka sebelumnya, baik dari kuantitas maupun kualitasnya, baik dari bentuk dan  kemanfaatannya. Atau dibukakan pintu pengetahuan dan 
hikmah. Atau dibukakan pintu taubat agar segera merapat ke  haribaan-Nya. Atau dibukakan pintu kemenangan sehingga 
merasakan kebahagiaan. 

Allah al-Fattaah secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Pembuka segala rahmat, Maha Pemutus yang putusan-Nya sempurna, Maha Pemenang yang memenangkan. 

Dalam konteks bahwa Allah sebagai pemutus perkara, Allah berfirman yang maknanya, Katakanlah, “Rabb kita akan 
mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui (Qs. Saba’: 26) dan Dengan al-Fattaah, Allah juga memutuskan segala sesuatu. “Ya Rabb kami, berilah
keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil), dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya” (Qs. alA’raaf: 89).

Al-Fattaah, juga bermakna Allah Maha Pembuka rahmat, pembuka rezeki, pembuka kesuksesan, pembuka kebahagiaan dan seterusnya. Dengan al-Fattaah, Allah tidak menutup rezeki untuk
semua makhluk-Nya. Allah juga yang kemudian mengirimkan kenikmatan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Apa saja yang Allah kirimkan kepada manusia berupa rahmat, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk
melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Qs. Fathir: 2).

Di sanping itu al-Fattaah, Allah juga memenangkan, seperti dalam firman-Nya, “Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu
sukai, (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang beriman” (Qs. al-Shaf: 13). 

Dengan al-Fattaah Allah menganugerahi kemenangan kepada setiap hamba-Nya
saat berusaha dan berjuang. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan” (Qs. al-Nashr: 1). 


ALLAH AR RAZZAQ

 Allah al-Razzaq secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Mengaruniai Rezeki.

Dalam hal ar-Razzaaq, kita meyakini bahwa Allah adalah zat yang menciptakan semua makhluk, mengatur rezekinya,
dan serta yang menganugerahkannya kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya dengan menciptakan sebab-sebab
dan kausalitasnya sehingga sesiapapun dapat meraih dan menikmatinya. Apalagi bagi hamba-hamba-Nya yang beriman
kepada-Nya.
Allah berfirman, ”Dan tidak ada sesuatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya, dan
Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)’’ (Qs. Hûd: 6).

Rizki dari Allah tidak hanya berupa harta dan materi... Hidayah dan Taufik juga termasuk Rizki dari Allah...kesehatan, ketenangan, rasa keamanan, anak yang Sholeh Sholehah, ilmu yang bermanfaat juga termasuk Rizki Allah yang harus disyukuri...

Alhamdulillah alladzi bini'maatihii tatimmush shalihaat...

ALLAH AL WAHHAAB

Al-Wahhaab secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Memberi, Maha Mengaruniai. Allah alWahhaab berarti Allah mengaruniai apapun yang diperlukan oleh manusia, bahkan memberi juga segala sesuatu yang dipinta oleh hamba-hamba-Nya. Di samping dari segi kuantitasnya banyak
dan seringnya, pemberian Allah kepada hamba-hamba-Nya atau bahkan kepada semua makhluk-Nya juga bersifat kualitas
pemberian-Nya, yakni pemberian yang tepat dan terbaik....

Karena Allah Maha Pemurah, Allah Maha Kaya, apapun dalam genggaman-Nya, maka tidak sulit bagi Allah untuk memberikan apapun yang diminta oleh manusia. Allah berfirman yang
maknanya, Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan
rahmat Tuhanmu yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi (Qs. Shad: 9).

Pemberian Allah kepada manusia dapat berupa segala sesuatu yang bersifat fisik kasat mata seperti harta yang melimpah, alam yang subur, pemandangan yang indah, kendaraan yang kuat dan cepat larinya, pakaian yang sesuai, makanan minuman, obat-obatan, dan seterusnya. Pemberian Allah juga ada yang
bersifat non fisik seperti kesehatan, kenyamanan, persaudaraan, keamanan, kedamaian, kesejahteraan, pikiran yang cerdas, hati yang tawadhu Dan seterusnya...

Apapun yang Allah berikan kepada kita, merupakan yang terbaik untuk kita.... Ya Allah jadikanlah kami hambaMu yang pandai bersyukur atas segala nikmat yang Engkau berikan kepada kami..

ALLAH AL QAHHAAR

Allah al-Qahhaar secara populis dipahami bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Perkasa Menundukkan, Maha Mengalahkan. Seluruh
makhluk ciptaan-Nya tunduk pada sunatullah-Nya. Allah mencipta dan menundukkan siang dan malam, matahari, bulan dan bintang dan seluruh planet tata surya melalui sunatullahNya yang rapi. Semua planet tata surya beredar menurut garis edarnya. Tidak ada satupun yang menyalahi dan keluar dari ketentuan-Nya. Tetapi justru di sinilah, lahirnya keseimbangan dan tetap berlangsung keharmonisan...

Dalam Surat Ar-Ra`d: 16, Allah berfirman yang artinya Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak
menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang;  apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan
itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa
lagi Maha Perkasa”.

Allah juga menundukkan manusia dan makhluk hidup lainnya melalui sunatullah-Nya dan menunjukkan keesaan-Nya
agar manusia menggunakan akal budinya untuk berpikir. Tidak satupun yang dapat menolak rencana dan ketentuan-Nya. Allah
yang menimpakan kehinaan karena ulah tangannya sendiri dan Allah pula yang memberi kekuasaan kepada yang dikehendakiNya. Allah menggenggam semua makhluk-Nya. Namun ketika
manusia pongah terhadap kebenaran, maka pastilah mengalami kerugian....

ALLAH AL GHAFFAR

Asma Allah yang akan mengingatkan akan dosa dan kesalahan kita serta pengharapan ampunan-Nya adalah al-Ghaffaar....

Kita meyakini sepenuh hati bahwa semua nama Allah adalah
sangat baik dan mulia. Al-Ghaffaar, al-Ghafuur, dan al-’Afuwwu dapat dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Pengampun Mengampuni, Maha Pemaaf-Memaafkan. Namun para ulama memberi penjelasan brilian sehingga satu sama lainnya bersinergi menunjukkan kemahapengampunan-Nya yang sempurna....

Asma al-Ghaffaar, dan al-Ghafuur, serta istilah maghfirah untuk menyatakan bahwa Allah maha mengampuni dosa namun dosa itu masih ada. Mengapa? Karena dosa tersebut hanya
ditutupi oleh Allah di dunia dan di akhirat nanti juga ditutupi sehingga tidak kelihatan dari pandangan makhluk. Dengan kemurahan-Nya, Allah tidak menyiksa seseorang karena dosa tersebut, tapi dosa itu masih ada. Nah dosa akan diampuni dan dihapus sehingga tidak ada dosa lagi diperuntukkan bagi Allah al-‘Afuww....

Karena dosa sudah dihapus maka dosa yang dilakukan sudah tidak ada; seolah-olah, ia tidak pernah melakukan kesalahan...
Karena dosa itu telah dihilangkan dan dihapuskan sehingga bekasnya tidak lagi terlihat. Dengan demikian pemberian maaf
dengan melebur dosanya lebih istimewa ketimbang mengampuni dengan sekedar menutupi dosa dalam kesalahannya saja. 

Dalam konteks Allah al-Ghaffaar dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mengampuni segala dosa dari segi kuantitasnya, sedangkan
al-Ghafuur adalah mengampuni dosa dari segi kualitasnya...

ada juga ulama yang berpendapat bahwa
al-Ghaffaar berorientasi preventif pada kepengampunan dosa masa kini dan datang. Adapun al-Ghafuur lebih lengkap yaitu Allah mengampuni dosa dari masa lalu, kini hingga masa mendatang.
Allah berfirman, Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Qs. Shad :66).

ALLAH AL MUSHAWWIR

Saudaraku, pernahkah terpikir oleh kita tentang keindahan akan keragaman bentuk dan rupa-rupa serta keserasiannya
terhadap makhluk ciptaan Allah yang ada di sekitar kita...

Allah al-Mushawwir secara populis dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mendesain secara sempurna akan segala makhluk-Nya. Allah telah menggambar, menjadikan, dan mendesain seluruh makhluk-Nya dengan bentuk, rupa bahkan sifat yang melekat pada kediriannya masing-masing..

Diri kita manusia, misalnya, telah didesain dengan sangat menawan oleh Allah swt, malah sudah sejak di rahim orangtua
kita dan disempurnakan-Nya akan kecantikan atau ketampanan saat kita hidup di dunia ini. Allah berfirman. Dialah yang membentukmu dalam rahim ibu sebagaimana dikehendakiNya. Tak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana” (Qs. Ali Imran: 6).

Kita memiliki dua mata menghadap ke depan, dua lobang hidung menghadap ke bawah, satu mulut pas di bagian depan
wajah kita, dua telinga di samping kiri dan kanan di kepala kita. Kedua tangan di sebelah kiri dan kanan dari badan kita. Dua kaki yang sangat kokoh menyangga tubuh kita...

saat kita perhatikan pada makhluk lainnya,
maka sungguh hanya decak kagum seraya spontan melafalkan subhanallah, maha suci Allah yang mendesain ini semua dengan serasi dan menawan. Burung diciptakan dengan indah dan bebeda-beda, baik bentuk, rupa, warna, bulu maupun suara kicauannya. Demikian juga ikan-ikan di lautan, aneka binatang buas di hutan, hewan piaraan di kandang-kandang, aneka
rerumputan, bunga, pepohononan, batu, gunung atau lainnya....

Ya Allah tidaklah engkau menjadikan semua ini sia sia, Maha Suci Engkau,maka jauhkanlah kami dari adzab neraka... Rabbana maa khalaqta haadza bathilaa, subhaanak faqina 'adzabannar

ALLAH AL BAARI'

Allah al-Baari’ dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mengadakan dan membentuk segalanya dari tiada. Allah menjadikan segalanya dengan perencanaan yang sempurna, terutama terkait dengan makhluk hidupnya. 

Oleh karenanya al-Baari’ juga dapat dipahami bahwa Allah sebaga pemenage, perencana, penata yang sempurna ketelitian dan keserasian-Nya.

Dengan Al-Baari` Allah Yang Maha Mengadakan semua makhluk-Nya sesuai dengan rencana-Nya, sesuai dengan
kegunaan dan tujuannya masing-masing. Dia-lah yang menciptakan semua makhluk-Nya dan segala kejadian di seluruh
alam semesta ini, sehingga selaras dalam keserasian yang sempurna, sesuai rencana yang diinginkan-Nya dan ketentuan yang telah ditetapkan-Nya.

Berbeda dengan al-Khaliq yang cenderung bersifat general untuk makna menciptakan, maka al-Baari’ lebih cenderung bersifat spesifik, terencana dan jelas untuk makna menjadikan atau mengadakan. Sehingga ada ulama yang berpendapat bahwa al-Khaliq itu digunakan untuk menunjuk penciptaan Allah semuanya, tetapi al-Baari’ lebih diistimewakan pada penciptaan
atau menjadikan makhuk hidup dan tidak termasuk benda-benda mati yang sudah terelaborasi pada al-Khaliq....

ALLAH AL KHALIQ

Allah al-Khaliq secara populis dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Pencipta, zat yang menciptakan segala yang ada dan yang mungkin ada dan semuanya. Mengapa Allah disebut Yang Maha Pencipta? Karena di antaranya, Allah mencipta semua yang ada dan mungkin
ada di seluruh alam dan semesta. 

Allah menciptakan makhluk hidup juga benda-benda mati. Allah menciptakan langit, bumi, pergantian siang dan malam, angin, air dunia, akhirat, surga, neraka, malaikat, setan, panas, dingin, dan seterusnya.

Aneka ragam makhluk hidup ciptaan Allah kemudian menghiasi isi alam semesta dari yang sangat kecil seperti serangga sampai yang besar seperti gajah, dari yang tampak seperti manusia sampai yang ghaib seperti malaikat. Allah juga
mencipta dan menumbuhkan aneka tetumbuhan, biji-bijian, buah-buahan dan seterusnya. Demikian juga benda-benda mati.

Di samping itu kemahaciptaan Allah juga tanpa preseden atau tidak ada contoh sebelumnya. Allah benar-benar maha pencipta kebaruan. Semua ciptaan-Nya tidak ada contoh sebelumnya yang dapat ditiru....

Semua ciptaan Allah, tidaklah dibuat dalam keadaan sia sia.... Semuanya terkandung hikmah di dalamnya... Kita sebagai makhluk perlu menafakkuri ciptaan Allah... Dan kita juga harus memperhatikan diri sendiri sebagai ciptaan Allah Sang Khaliq...

ALLAH AL MUTAKABBIR

Al-Mutakabbir dapat dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha besar yang kebesaran-Nya sempurna tak tertandingi oleh selain-Nya. Allah adalah zat yang
maha agung yang keagungan-Nya sempurna, Allah adalah maha megah yang kemegahan-Nya tak terbantahkan dan Allah maha tinggi yang ketinggian-Nya mengatasi apapun juga.

Oleh karenanya hanya Allah sajalah zat yang berhak menyandang selendang kesombongan dan mahkota kebesaranNya. Karena selain-Nya adalah makhluk yang hanya melekat sebagian kecil sifat dari kesempurnaan-Nya, sehingga makhluk tidak pantas memeluk kesombongan....

ALLAH AL JABBAR

alJabbar dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha tinggi, agung, berkuasa mutlak sehingga mau tidak mau, sadar atau tidak
“memaksa” makhluk-Nya untuk tunduk terhadap sunnatullahNya. Tidak ada sama sekali di antara makhluk-Nya yang
menyalahi ketentuan-Nya.. Oleh karena itu secara bahasa al-Jabbar dimaknai sebagai
ketinggian, keagungan, keistiqamahan, kekuatan yang memaksa.

Ketinggian dan keagungan Allah tidak dapat dijangkau oleh makhluk atau manusia siapapun ia. Karena kemahatinggian dan kemahaagungan-Nya, maka semua makhluk ciptan-Nya yang
notabene rendah bila dibandingkan dengan-Nya untuk tunduk patuh kepada-Nya. Dari sini kemudian al-Jabbar dimaknai bahwa Allah sebagai zat Yang Maha Pemaksa, zat yang kehendak-Nya
tidak bisa diingkari.

Allah menciptakan langit, bumi dan semua seisinya serta memerintahkannya berjalan mengikuti sunnah-Nya atau ketentuan atasnya. Tidak ada satupun yang menyimpang atau menyalahi sunatullah-Nya. Semua berjalan seperti adanya;
seperti matahari terbit dari timur kecuali suatu saat nanti ketika kiamat, angin berhembus sebagai ungkapan tasbih pada
Rabbnya, air mendinginsejukkan, api menghangatkan atau bahkan membakar, malaikat senantiasa menyampaikan ilham
kebaikan kepada hamba-Nya, setan mengilhamkan kejahatan untuk menguji manusia dan seterusnya.

Di samping itu dengan al-Jabbar, Allah juga diyakini sebagai zat yang berkuasa mengatur segala hal ikhwal makhluk-Nya. Diantaranya Allah berkuasa mengaruniai kekuatan kepada hambahamba-Nya. Allah berfirman, Allah, Dialah yang menciptakan
kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia
menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah
Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa (Qs. al-Rûm: 54).

Allah juga berkuasa menganugerahi kekuasaan atau mencabutnya dari hamba-Nya. Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang
mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha
Kuasa atas segala sesuatu (Qs. Ali Imran: 26).
Allah juga kuasa mengatur siang dan malam, menghidupkan dan mematikan serta memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Engkau masukkan malam kepada siang dan Engkau masukkan
siang kepada malam, dan ”Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau memberi rezeki siapa yang Engkau kehendaki dengan
tidak terkira (Qs. Ali Imran: 27).

Semua makhluk Allah tidak terlepas dari sunnatullah ketentuanNya... Semuanya tunduk kepada Allah baik secara sukarela ataupun terpaksa....

WASPADALAH AKAN DOSA DISISA UMURMU

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

“Engkau berbuat kebaikan (amal shaleh) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (dosa-dosamu) di masa lalu..

karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan disiksa (pada hari kiamat) karena (dosa-dosamu) di masa lalu dan (dosa-dosamu) pada sisa umurmu.”

Lathoiful Ma’aarif 

Satu Dosa yang kita lakukan seringkali mendatangkan dosa dosa yang lainnya... Seetprti orang yang mabuk, karena akalnya tertutupi dan terganggu, kemudian ia mencuri, berzina, membunuh, dsb... Oleh karena itu takutlah terhadap Allah, jauhilah apa yang Allah murkai niscaya kita Allah jauhkan kita dari maksiat... Jauhilah pula dosa dosa kecil, karena jika dosa kecil dilakukan terus menerus makan akan menjadi besar dan bnayak, kemudian menyengsarakanmu di dunia dan diakhirat... nauzubillahimindzalik

Perbaikilah sisa umur, dan tetaplah dalam kebaikan... Sebab keadaan diakhirat itu berdasarkan baik buruknya amal penutup kala ajal menjemput... Ya Allah Husnul khatimahkanlah kami... Berakhirlah sisa umur kami, panjangkan lah umur kami dalam ketaatan... Aamiin ya Allah

ALLAH AL AZIZ

Nama indah yang dimiliki Allah berikutnya
adalah al-’Aziiz. Allah al-’Aziiz dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha kuat dan perkasa..... 

Dengan al-’Aziiz, Allah swt telah
mempermaklumkan bahwa diri-Nya memiliki keperkasaan yang tidak dapat diukur oleh manusia ataupun makhluk lainnya..... Allah swt berfirman dalam Qs. Yasin ayat 1-5 yang menunjukkan bahwa diri-Nya yang memiliki Maha Keperkasaan
dan Maha kasih sayang. "Yasin (Muhammad), demi Al-Qur’an yang
penuh hikmah, sesungguhnya engkau sungguh adalah termasuk
para Rasul. Yang berada di atas jalan yang lurus. Yang diturunkan
oleh Allah Yang Maha Perkasa dan Bijaksana” (Qs. Yasin: 1- 5).

Dari normativitas di atas, diberitakan bahwa dengan keperkasaan dan kebijaksanan-Nya Allah mengutus Nabi
Muhammad saw sebagai rentetan kerisalahan yang lurus dan mendapat keridhaan-Nya.....

Dan Allah bersumpah bahwa al-Qur’an
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw merupakan pedoman yang sarat akan hikmah kebijaksanaan dan pelajaran
yang agung....

Allah Maha Perkasa, sehingga segala sesuatu tercipta atas kePerkasaan Allah Al Aziz.... Allah Maha Perkasa menciptakan manusia, tetapi tidaklah suatu ciptaan Allah itu diciptakan sia sia, oleh karena itu Allah menurunkan Al Qur'an untuk membimbing manusia didalam kebenaran....

ALLAH AL MUHAIMIN

Nama indah yang dimiliki Allah berikutnya
adalah al-Muhaimin. Allah sebagai al-Muhaimin dipahami bahwa Allah adalah zat yang memelihara dengan pemeliharaan yang sempurna, maha mengatur dengan pengaturan yang sempurna, dan maha mengawasi dengan pengawasan yang sempurna....

Allah berfirman : Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang
Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan (Qs. al-Hasyr: 23).

Allah memelihara seluruh makhluk-Nya dengan sangat teliti, sehingga tidak ada sekecilpun keberadaan makhluk yang luput dari pemiliharaan-Nya. Bumi tetap dalam keseimbangannya, alam tetap dalam keasriannya, tata surya tetap dalam peredarannya, manusia tetap dalam kebaikannya, dan sebagian besar makhlukNya senantiasa bertasbih kepada Allah dengan caranya masing-masing. Allah juga mengatur segala hal tentang hal ikhwal keberadaan makhluk-Nya, hidup dan matinya, rezeki dan karunianya, pertemuan dan jodohnya dan seterusnya... 

Makhluk tinggal menjalani sesuai garisan sunnatullah-Nya. Allah juga mengawasi
hal ikhwal apapun atas makhluk-Nya... Tidak ada hal ikhwal yang berada di luar jangkauan kepengawasan Allah yang Maha Teliti, hatta sekecil daun yang jatuh sekalipun. Apalagi getaran hati kita, goresan niat, dan perilaku kita sekecil zarrah sekalipun...

Lihatlah diri kita, begitu apik Allah memelihara kita, mengatur denyut nadi, hembusan nafas, aliran darah dsb... Semua makhlukNya dalam genggaman pengaturanNya.... Subhanallah, Allahu Akbar.... Tidak ada tandingan selain Allah yang dapat melakukan hal ini!!!...

ALLAH AL MUKMIN

Nama Allah al-Mukmin dipahami bahwa Allah adalah zat yang terpercaya pemberi rasa aman kepada semua makhluk-Nya, 
terutama orang-orang yang beriman... 

Allah berfirman: Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha 
Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan (Qs. al-Hasyr: 23)

Di samping itu, Allah al-Mukmin adalah zat yang maha terpercaya karena janji-janji-Nya benar dan pasti ditepati. Diantara janji-Nya orang beriman pasti bahagia hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat. Orang-orang yang bertaubat, pasti diampuni oleh Allah. Orang yang berdoa kepada Allah, pasti  dikabulkan permohonannya.....

Allah berfirman: Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Allah tidak 
menyalahi janji (Qs. Ali Imran: 9).

 Disaat manusia ditimpa kekurangan baik jasmani dan rohani, hanya Allah yang dapat menenangkan hati dan mengamankan kita dari segala kerusakan... Yakini dalam hati, dimanapun kita berada, Allah adalah Dzat yang menjamin keamanan bagi kita, baik di dunia maupun di akhirat.... 

Janji Allah adalah pasti dan akan terlaksana... Jika kita senantiasa dekat dengan Allah, maka Allah akan mencintai kita.. dan bagi hamba Allah yang dicintaiNya maka akan diberikan segala kenikmatan dan kebutuhan yang cukup bagi hamba tersebut...

ALLAH AS SALAM

Allah juga memiliki nama as-Salaam yang lazimnya dimaknai bahwa Allah adalah zat Yang Maha Damai Sejahtera, Allah maha berkuasa mencurahkan rahmat, keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan kepada semua makhluk-Nya, apalagi kepada orang-orang yang beriman....

Allah mengukuhkan as-Salaam di antara beberapa namaNya dalam ayat yang maknanya, Dialah Allah Yang tiada Tuhan
selain Dia, Raja yang Menguasai, Yang Maha Suci, Yang Maha Damai Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang
mereka persekutukan (Qs. al-Hasyr: 23).

Kata as-Salaam berasal dari asal kata salama gabungan huruf sin lam mim yang sama dengan Islam sebagai agama yang memiliki karakteristik damai mendamaikan, sejahtera mensejahterakan, dan selamat menyelamatkan. 

Ketika musibah melanda, hanya Allah asSalam yang dapat menyelamatkan kita dari berbagai keburukan.... Disaat kemusyrikan merajalela, hanya Allah yang dapat menyelamatkan kita dengan keimanan yang lurus dan teguh... Baik di dunia, di alam BARZAKH, di akhirat kelak, hanya Allah yang dapat menyelamatkan kaum mukminin...

Ya Allah, selamatkan lah kami dari keburukan... Jauhkanlah kami dari murkaMu ya Allah....

ALLAH AL QUDUS

Allah juga memiliki nama al-Quddus, yang
lazim dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Suci, bersih secara sempurna dengan sendiri-Nya, terpelihara dari segala
macam kekurangan dan jauh dari segala aib serta terhindar dari kesalahan......

Kemahasucian Allah sempurna, baik zat-Nya, kehendak-Nya maupun perbuatan Nya. Allah berfirman, "Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci (al-Quddus), Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (Qs. alHasyr: 23).


Kesempurnaan kesucian Allah terjalin dengan sifat dan kesempurnaan lainnya, sehingga seluruh makhluk memuji-Nya, meskipun pujian makhluk tidak menambah dan keingkaran makhluk tidak mengurangi kesucian-Nya. Allah berfirman “Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci (alQuddus), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Qs. al Jumu’ah: 1)....

Sebagian manusia ada yang menaruhkan ketidaksempurnaan zat kepada Allah... Dengan mengatakan bahwa Allah memiliki anak dan istri... dan mengatakan bahwa Allah tidak mempu mengubah takdir mnausia serta mengatakan bahwa Allah lelah dalam mengurus alam semesta ini... Subhanallah!!!, Maha Suci Allah dari segala kekurangan.... Ya Allah, jauhkanlah iman dan hati kami dari mencela KeMaha Sempurnaan Engkau ya Allah....

ALLAH AL MALIK

Terdapat nama al-Rahman, ar-Rahiim dan al-Malik. Dalam 
konteks al-Malik, kita diingatkan bahwa Allah adalah raja yang merajai atau penguasa yang menguasai kehidupan di jagad raya ini maupun kehidupan di akhirat nanti. Oleh karenanya 
kekuasaan Allah atas makhluk-Nya, baik makhluk berupa alam 
dunia seisinya maupun alam akhirat seisinya itu sempurna, tanpa batas...

Allah berfirman, Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di 
antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Qs. al-Mulk: 1-2)....

Kekuasaan atau kerajaan Allah itu bersifat mutlak. Karena 
Allah adalah pencipta dan selain-Nya adalah makhluk, maka semua makhluk adalah milik-Nya saja. Oleh karena itu segala 
yang ada pada makhluk adalah pemberian-Nya.... Ruh pada 
manusia, nyawa pada binatang, jiwa pada segala sesuatu yang 
ada adalah pemberian atau titipan Allah yang suatu waktu pasti akan diambil-Nya kembali.
Begitu juga halnya dengan kepemilikan manusia terhadap harta, tahta dan keluarga (wanita atau pria)... Semua itu hanya titipan dan yang sebenar-benarnya pemilik adalah Allah saja. Bila 
Zat yang memiliki berkenan mengambil apapun dan kapanpun milik-Nya adalah hak pemilik. Makhluk hanya menempati sebagai hak pakai bukan hak milik....

ALLAH ARRAHIM

Jika ArRahman adalah Maha Pengasihnya Allah kepada seluruh makhlukNya, baik yang kafir ataupun mukmin.. maka ArRahim adalah Maha Penyayang nya Allah kepada makhlukNya khusus yang mukmin saja....

Allah berfirman, Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang 
terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang 
yang beriman (Qs. al-Ahzab: 43).

Hidayah dan Taufik merupakan hadiah khusus yang hanya turun kepada hamba Allah yang beriman saja... Allah menyediakan berbagai kenikmatan dan keselamatan diakhirat kelak kepada mukmin dikarenakan Allah ArRahim (Maha Penyayang)....

ALLAH ARRAHMAN

 al-Rahman dimaknai bahwa Allah adalah zat yang maha pengasih. Dengan sifat-Nya al-Rahman maka Allah adalah maha pengasih, yakni mengasihi seluruh makhluk ciptaan-Nya. Sifat kepengasihan Allah berlaku bagi seluruh manusia baik itu yang Islam maupun yang kafir, malaikat, setan, hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan, batu-batuan dan seluruh 
makhluk ciptaan-Nya.

Karena Maha Pengasihnya Allah, bahkan orang kafir pun merasakan kepengasihan Allah.. mereka diberi kehidupan, mampu bernafas, diberi Rizki, tubuh yang sempurna, dsb... Padahal jika dunia ini berharga seperti sebelah sayap nyamuk maka hanya orang mukmin lah yang Allah limpahkan kasih sayang Nya...

Dalam sebuah riwayat Rasulullah saw bersabda Allah swt menjadikan rahmat (kebaikan) itu seratus bagian, disimpan di 
sisi-Nya sembilan puluh sembilan dan diturunkan-Nya ke bumi ini satu bagian; yang satu bagian inilah yang dibagi pada seluruh makhluk, (yang tercermin antara lain) pada seekor binatang yang mengangkat kakinya dari anaknya, terdorong oleh rahmatnya, kuatir jangan sampai menyakitinya (menginjak anaknya) (HR. Muslim).

Karena limpahan Rahmat Allah kepada makhukNya, mereka saling menyayangi satu sama lain.... Seorang ibu sayang kepada anak nya... Manusia menyayangi anak kecil dan menghormati yang tua.... Tidak melakukan kekerasan terhadap hewan ... Perhatiannya seorang guru kepada murid muridnya.... Semua itu karena 1% limpahan Rahmat Allah....

SEGALA SESUATU BERTASBIH KEPADA ALLAH SWT

"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah, dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memujinya. tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. sesungguhnya dia adalah Maha penyantun lagi maha pengampun" Quran surat Al isra ayat 44.
Kicauan dan kepakan sayap burung merupakan tasbih burung kepada Allah... bahkan batu yang mengalir air daripadanya bertasbih kepada Allah seraya takut kepada Allah...
Semut dikegelapan, pohon yang bergoyang, dan seluruh makhluk Allah bertasbih memuji Allah..
Benda matipun seperti bayang bayang juga tunduk dan bertasbih kepada Allah
..

Semua makhluk dimuka bumi bertasbih kepada Allah baik sukarela ataupun terpaksa... Di zaman azali pun, manusia sudah berikrar dan bersaksi bahwa Hanya Allah Tuhan yang patut disembah...

Orang mukmin yang shalih senantiasa bertasbih didalam solatnya, didalam dzikirnya, disetiap pagi dan petang dihidupnya...

Allah Maha Suci dari persangkaan hambaNya yang menyekutukan Allah dengan tandingan selain Allah... Maha Suci Allah dari makhluk yang mengatakan bahwa Allah memiliki anak dan istri... Kami berlindung kepada Engkau dari menyekutukanMu ya Allah... Tetapkan lah kami secara Kaaffah keseluruhan lahir bathin untuk berada di atas Islam hingga akhir hayat menjemput kami...

CIRI ORANG MUKMIN SAAT DITIMPA MUSIBAH

Mukmin Saat Mendapatkan Ujian

Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata,

“Seorang mukmin ketika diuji, dia bersabar, mengambil hikmahnya, serta beristighfar memohon ampun.. dia tidak menyibukkan dirinya dengan mencela Dzat Yang menghukumnya karena Allah adalah hakim yang adil.. lalu, dia justru memuji Allah karena agamanya masih selamat dan mengerti bahwa hukuman di dunia lebih ringan dan lebih baik baginya..”

Siyar A’lam An-Nubala – 8/81

Goresan Pena takdir Telah mengering, setiap kejadian pasti terjadi sesuai ketetapan Allah .... Setiap waktu terdapat takdir Allah yang telah berjalan.. apabila kita menerimanya dengan ridho dan sabar maka Allah akan ridho pula dengan kita, serta Allah akan menuliskan pahala untuknya... Namun apabila kita marah dan tidak menerima dengan takdir Allah, maka beratnya musibah itu semakin berat, kemudian Allah juga murka kepadanya, Nauzubillahimindzalik....

Musibah duniawi itu pasti dialami oleh setiap jiwa,,,, dengan musibah itu bisa jadi Allah menghapus kesalahannya, mengangkat derajatnya, atau karena Allah mencintainya maka Allah mengujinya.... Musibah duniawi masih bisa ditangani insyaAllah, asal jangan musibah itu menimpa kepada agama dan keimanan kita, ini sangatlah bahaya, karena orang tsb akan jauh dari Allah ta'ala...

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, akan tetapi kita harus yakin bahwa takdir Allah itu yang terbaik untuk kita... Kita tidak mengetahui ilmu sedangkan Allah Al 'Alim Maha Mengetahui.....

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...