Sadar Akan Kekurangan dan Kelemahan Dirinya

 

: (قيل: الْمُقِرُّ بِالتَّقْصِيرِ) أي بالعجز عن الطاعة (أَبَدًا مَحْمُودٌ، وَالْإِقْرَارُ بِالتَّقْصِيرِ عَلَامَةُ الْقَبُولِ). لأنه إشارة إلى عدم العجب والكبر.

وَقِيلَ: الْمُقِرُّ بِالتَّقْصِيرِ أَبَدًا مَحْمُودُ وَالْإِقْرَارُ بِالتَّقْصِيرِ عَلَامَةُ الْقَبُوْلِ.

"Dalam sebuah pernyataan telah dijelaskan, orang yang mau menyadari akan kelemahan yang ada pada dirinya akan terpuji selamanya dan mau mengakui kekurangannya itu merupakan bukti diterimanya amal perbuatannya (oleh Allah)."

Khawatir Terhadap Dunia dan Akhirat

 (عن عثمان رضي الله عنه: هَمُّ الدُّنْيَا ظُلْمَةٌ فِي الْقَلْبِ، وَهَمُّ الْآخِرَةِ نُورٌ فِي الْقَلْبِ).
Dan maqalah yang kelima: Diriwayatkan dari Utsman Radhiyallahu ‘anhu khawatir memikirkan dunia akan membuat hati menjadi gelap, sedangkan khawatir memikirkan akhirat akan membuat hati menjadi bercahaya."

أي الحزن في الأمور المتعلقة بالدنيا صار مظلمًا في القلب، والحزن في الأمور المتعلقة بالآخرة صار منورًا للقلب. اللهم لا تجعل الدنيا أكبر همنا ولا مبلغ علمنا.
"Yaitu, kesedihan dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan dunia akan menjadi kegelapan di dalam hati, dan kesedihan dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan akhirat akan menjadi cahaya yang menerangi hati. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai perhatian terbesar kami dan jangan pula sebagai puncak dari ilmu kami."

Cara Praktis Menghilangkan Pikiran Stres

 (عن بعض الحكماء) أي أطباء القلوب: (ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ تُفَرِّجُ الْغُصَصَ) بضم الغين أي تكشف الغموم: (ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى) بأي صيغة كانت كان يقول كثيرًا: لا إله إلا الله ولا حول ولا قوة إلا بالله، أو بالمناجاة كأن يقول: يامغيث كل ملهوف ناداه، ويا مجيب كل مضطر دعاه، ويا حليمًا على كل ذي هفوة عصاه، ويا قائماً بالكفاية لمن آثره على دنياه، أسألك الوصول إلى ما لا أصلِ إليه إلا بمعونتك، ودفع ما لا أطيق دفعه إلا بقوتك، وأسألك خيرة فيها عافية، وعافية فيها خيرة، برحمتك يا أرحم الراحمين. (وَلِقَاءُ أَوْلِيَائِهِ) من العلماء والصالحين، (وَكَلامُ الْحُكَمَاءِ) أي الذي يدل على خيري الدنيا والآخرة.
وعن بعض الحكماء: ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ تُفَرِّجُ الْغُصَصَ ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى وَلِقَاءُ أَوْلِيَائِهِ وَكَلَامُ الْحُكَمَاءِ.

Dan maqalah yang kedua belas: "Tiga perkara yang dapat menghilangkan kegundahan (pikiran stress) yaitu dzikir (mengingat) kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, silaturrahim kepada para wali Allah dan memperhatikan perkataan hukama."

Empat kenikmatan hidup

وعن عثمان رضي الله عنه: وَجَدْتُ حَلَاَوةَ الْعِبَادَةِ فِى أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: أَوَّلُهَا: فِي أَدَاءِ فَرَائِضِ اللهِ وَالثَّانِي: فِي اجْتِنَابِ مَحَارِمِ اللهِ وَالثَّالِثُ: فِى الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَابْتِغَاءُ ثَوَابِ اللهِ وَالرَّابِعُ: فِي النَّهْى عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْاِتِّقَاءِ مِنْ غَضَبِ اللهِ.
Dan maqalah yang kedelapan: "Diriwayatkan dari Utsman Radhiyallahu ‘anhu, saya mendapatkan kenikmatan beribadah dalam empat perkara, yaitu: pertama, ketika mengerjakan kewajiban-kewajiban Allah; kedua, ketika menjauhi larangan-larangan-Nya; ketiga, ketika berbuat amar ma'ruf dan mencari pahala Allah; keempat, ketika mengerjakan nahi munkar dan memelihara diri dari murka-Nya."

Berjalanlah kepada Allah walau dengan keadaan pincang

وقال الإمام الشافعي رضي الله عنه: من مكايد الشيطان ترك العمل خوفًا من أن يقول الناس: إنه لمراء، لأن تطهير العمل من نزعات الشيطان بالكلية متعذر، فلو وقفنا العبادة على الكمال لتعذر الاشتغال بشيء من العبادات، وذلك يوجب البطالة التي هي أ أقصى غرض الشيطان، ولذا قال بعضهم: سيروا إلى الله عرجًا ومكاسير.
Dan berkata Imam Syafi'i radhiyallahu 'anhu: "Termasuk dari tipu daya setan adalah meninggalkan amal karena takut dikatakan riya'. Karena menyucikan amal dari dorongan setan secara keseluruhan adalah mustahil. Maka jika kita menggantungkan ibadah pada kesempurnaan, niscaya sulit untuk mengerjakan sesuatu dari ibadah. Dan hal itu menyebabkan pengangguran yang merupakan tujuan tertinggi setan. Oleh karena itu, sebagian ulama berkata: 'Berjalanlah menuju Allah dengan pincang dan patah tulang.'"

Meninggalkan sesuatu karena Allah

إِنَّكَ لَمْ تَدَعْ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللهِ عَزَّوَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ خَيْرًا مِنْهُ
"Sesungguhnya kamu tidaklah meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah Azza Wa Jalla, melainkan Dia memberikan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripadanya."

Buah dari makrifat

ثَمَرَةُ الْمَعْرِفَةِ ثَلَاثُ خِصَالٍ: الْحَيَاءُ مِنَ اللهِ تَعَالَى وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْأُنْسُ بِاللهِ.

Dan maqalah yang keempat puluh empat: "Buah makrifat (mengenal Allah) itu ada tiga, yaitu: malu kepada Allah, cinta kepada Allah dan rindu berjumpa dengan Allah."

Permohonan imam Sulaiman addarini

 (عن أبي سليمان الداراني) عبد الرحمن بن عطية رضي الله عنه، وداران قرية من قرى دمشق، مات سنة خمس عشرة ومائتين. (أنه قال في المناجاة) مع الله تعالى: (اِلٰهِي، لَئِنْ طَالَبْتَنِي بِذَنْبِي لَأُطَلِّبَنَّكَ بِعَفْوِكَ) لأن مغفرتك أوسع من ذنوبي، (وَلَئِنْ طَالَبْتَنِي بِبُخْلِي) بمنع الواجب أو منع السائل مما فضل عندي (لَأُطلِّبَنَّكَ بِسَخَائِكَ) أي بكرمك، (وَلَئِنْ أَدْخَلْتَنِيَ النَّارَ لَأَخْبَرْتُ أَهْلَ النَّارِ بِأَنِّي أُحِبُّكَ).
وعن أبي سليمان الداراني أنه قال فى المناجاة اِلٰهِي، لَئِنْ طَالَبْتَنِي بِذَنْبِي لَأُطَلِّبَنَّكَ بِعَفْوِكَ وَلَئِنْ طَالَبْتَنِي بِبُخْلِي لَأُطلِّبَنَّكَ بِسَخَائِكَ وَلَئِنْ أَدْخَلْتَنِيَ النَّارَ لَأَخْبَرْتُ أَهْلَ النَّارِ بِأَنِّي أُحِبُّكَ

Dan maqalah yang keenam belas: "Wahai Tuhanku, apabila Engkau menuntutku karena dosaku, maka akupun akan menuntut kepada-Mu akan ampunan-Mu. Dan apabila Engkau menuntutku karena kebakhilanku, maka akupun akan menuntut kepada-Mu akan kedermawanan-Mu. Dan apabila Engkau memasukkan aku ke dalam neraka, maka akan aku sampaikan kepada para ahli neraka, bahwa sesungguhnya aku sangat mencintai-Mu."

Ketahuilah olehmu!

وكانوا من قلبنا يتواصون بثلاث خصال ويتكاتبون بها مَنْ عَمِلَ لِآخِرَتِهِ كَفَاهُ اللهُ أَمْرَ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ وَمَنْ أَحْسَنَ سَرِيْرَتَهُ أَحْسَنَ الله عَلَانِيَتَهُ وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ مَا أَصْلَحَ اللهُ مَابَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ.

"Barangsiapa yang beramal untuk akhiratnya, maka Allah akan mencukupkan urusan agama dan dunianya. Dan barangsiapa yang memelihara bathiniahnya, maka Allah akan membaguskan lahiriahnya. Serta barangsiapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia."

Manusia dalam pandangan Allah,oranglain,dan dirinya sendiri

وكانوا من قلبنا يتواصون بثلاث خصال ويتكاتبون بها مَنْ عَمِلَ لِآخِرَتِهِ كَفَاهُ اللهُ أَمْرَ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ وَمَنْ أَحْسَنَ سَرِيْرَتَهُ أَحْسَنَ الله عَلَانِيَتَهُ وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ مَا أَصْلَحَ اللهُ مَابَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ.

"Barangsiapa yang beramal untuk akhiratnya, maka Allah akan mencukupkan urusan agama dan dunianya. Dan barangsiapa yang memelihara bathiniahnya, maka Allah akan membaguskan lahiriahnya. Serta barangsiapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia."

dosa kecil, Rizki dan musibah

يَاعُزَيْرُ اِذَا أَذَنَبْتَ ذَنْبًا صَغِيْرًا فَلَا تَنْظُرْ اِلَى صُغْرِهِ وَانْظُرْ اِلَى مَنْ أَذْنَبْتَ لَهُ وَاِذَا أَصَابَكَ خَيْرٌ يَسِيْرٌ فَلَا تَنْظُرْ اِلَى صُغْرِهِ وَانْظُرْ اِلَى مَنْ رَزَقَكَ وَاِذَا أَصَابَكَ بَلِيَّةٌ فَلَا تَشْكُوْنِى اِلَى خَلْقِى كَمَا لَا أَشْكُوْكَ اِلَى مَلَائِكَتِى اِذَا صَعِدَتْ اِلَىَّ مَسَاوِيْكَ.
Dan maqalah yang kedua puluh dua: "Wahai Uzair, jika kamu melakukan dosa kecil, maka kamu jangan melihat kecilnya, tapi lihatlah kepada siapa kamu telah berbuat dosa. Jika kamu mendapatkan yang sedikit, maka kamu jangan melihat sedikitnya, tapi lihatlah siapakah yang telah memberikan itu semua kepadamu. Dan jika kamu mendapatkan suatu musibah, maka janganlah kamu mengadukan-Ku kepada makhluk-Ku, sebagaimana Aku tidak mengadukan kepada Malaikat-Ku, jika kejelekanmu disampaikan kepada-Ku."

Cinta kepada Allah

مَنْ لَقِيَنِى وَهُوَ يُحِبُّنِي أَدْخَلْتُهُ جَنَّتِى وَمَنْ لَقِيَنِي وَهُوَ يَخَافُنِى أَجْنَبْتُهُ نَارِي، وَمَنْ لَقِيَنِى بِالْمَوْت وَهُوَ يَسْتَحْيِ مِنِّى أَنْسَيْتُ الْحَفَظَةَ ذُنُوْبَهُ.

Dan maqalah yang kedua puluh enam: "Barangsiapa yang menemui-Ku dalam keadaan cinta kepada-Ku, maka ia akan Aku masukkan ke dalam surga-Ku. Dan barangsiapa yang menemui-Ku dalam keadaan takut kepada-Ku, maka ia akan Aku jauhkan dari neraka-Ku. Serta barangsiapa yang menemui-Ku karena ia mati dalam keadaan malu kepada-Ku, maka Aku jadikan malaikat (pencatat amal) lupa terhadap dosa-dosa orang itu."

TIGA CARA MENJADI ZUHUD

وعن ابراهيم بن أدهيم رحمه الله أنه قيل له: بم وجدت الزهد؟ قال بثلاثة أشياء: رَأَيْتُ الْقَبْرَ مُوحِشًا وَلَيْسَ مَعِى مُؤْنِسٌ وَرَأَيْتُ طَرِيْقًا طَوِيْلًا وَلَيْسَ مَعِى زَاذٌ وَرَأَيْتُ الْجَبَّارَ قَاضِيًا وَلَيْسَ لِى حُجَّةٌ.

Dan maqalah yang ketiga puluh satu: "Dengan tiga perkara, "Aku melihat kuburan itu menjadi ngeri, sedang aku belum mendapatkan pelipur, aku melihat jalan yang panjang, sedang aku belum mempunyai bekal, dan aku melihat Allah Yang Maha Perkasa dan mengadili, sedang aku belum mempunyai alasan."

syair pengingat

أَمَا تَرَى كَيْفَ يُبْلِينَا الْجَدِيدَانِ * وَنَحْنُ نَلْعَبُ فِي سِرِّ وَإِعْلَانِ
لَا تَرْكُنَنَّ إِلَى الدُّنْيَا وَزَحْرَفِهَا * فَإِنَّ أَوْطَانَهَا لَيْسَتْ بِأَوْطَانِ
وَاعْمَلْ لِنَفْسِكَ مِنْ قَبْلِ الْمَمَاتِ فَلَا * تَغْرُرْكَ كَفْرَةُ أَصْحَابِ وَإِخْوَانِ
"Tidakkah kamu tahu, bagaimana siang dan malam telah menguji kita # Tapi kita justru hanya bermain-main saja, baik secara tersembunyi maupun terang-terangan. Janganlah kamu terpedaya oleh dunia dan segala isinya # Karena sesungguhnya tanah air dunia, bukan tanah air yang sebenarnya.dan beramallah untuk dirimu sendiri, sebelum kematian datang menjemputmu # Jangan sampai kamu tertipu oleh banyaknya sahabat dan teman."

Mati Tanpa Iman, Bagaikan Mengarungi Samudera Tanpa Kapal


 ( عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه: مَنْ دَخَلَ الْقَبْرَ بِلَا زَادٍ) أي من العمل الصالح (فَكَأَنَّمَا رَكِبَ الْبَحْرَ بِلا سَفِينَةٍ) أي فيغرق غرقًا لا خلاص له إلا بمن ينقذه، كما قال صلى الله عليه وسلم: «مَا الْمَيِّتُ فِي قَبْرِهِ إِلَّا كَالْغَرِيقِ الْمُتَغَوِّثِ» أي الطالب لأن يغاث.
عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه: مَنْ دَخَلَ الْقَبْرَ بِلَا زَادٍفَكَأَنَّمَا رَكِبَ الْبَحْرَ بِلا سَفِينَةٍ
Dan maqalah yang ketiga: Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq pernah berkata, barangsiapa masuk kubur (mati) dengan tanpa membawa bekal (iman), maka ia bagaikan mengarungi samudera tanpa kapal."

Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَا الْمَيِّتُ فِي قَبْرِهِ إِلَّا كَالْغَرِيقِ الْمُتَغَوِّثِ» أي الطالب لأن يغاث.
"Mayat di dalam kuburnya, bagaikan orang tenggelam yang memohon pertolongan."

Tanda apabila Allah subhanahuwataala mencintai hambanya

*
Dicintai Penduduk Bumi

Dalam hadits qudsi disebutkan:

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحْبِبْهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ

"Apabila Allah mencintai seorang hamba, Allah berseru kepada Jibril: 'Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah dia.' Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: 'Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah dia.' Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian ditetapkan baginya

penerimaan (kecintaan) di muka bumi." (Muttafaq 'alaih)

Hamba yang dicintai Allah akan ditempatkan di hati manusia. Tanpa promosi, tanpa pencitraan, Allah akan tanamkan kecintaan kepadanya di hati orang-orang.

Ini bukan tentang popularitas atau kepemilikan follower yang banyak, melainkan tentang diterima dan dipercaya oleh orang-orang baik. Mereka adalah orang yang ketika hadir membawa ketenangan, dan ketika berbicara membawa kebaikan.

INVESTASI AKHIRAT

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Wahai umat Islam saudara-saudaraku yang kucinta karena 
*Allah SubhanahuwaTa'ala*

Dengarkanlah seruan Investasi Akhirat ini, yang lahir dari hati yang penuh kasih sayang dan prihatin — agar kita semua semakin giat mengumpulkan bekal untuk negeri abadi, sebelum dunia ini berakhir sebagai panggung ujian.
Perlu diingat dengan hati yang dalam:

#Dunia ini panggung ujian — tempat kita diuji dengan harta, jabatan, kesehatan, dan fitnah ribawi yang merajalela.

#Kubur itu ruang evaluasi — tempat amal kita ditimbang, dosa dihisab, dan zikir menjadi cahaya di kegelapan.

#Akhirat itu hasil akhirnya — surga atau neraka, tergantung investasi apa yang kita tanam di dunia fana ini.

Investasi akhirat yang paling ringan di lidah, tapi paling berat di timbangan, paling disukai 
*Allah SubhanahuwaTa'ala* adalah dzikir — nutrisi bagi jiwa, raga, ruh, dan spiritual kita. Dzikir membersihkan hati dari karat dosa, menguatkan iman di tengah fitnah, dan menjadi penolong di hari kiamat.

Berikut amalan dzikir ringan tapi pahala luar biasa, berdasarkan hadits shahih dan hasan:


*Tasbih 100x: Subhanallah*

سبحان الله

Bertasbih 100 kali: pahala seperti memerdekakan 100 budak dari keturunan Nabi Ismail 'alaihissalam.
(Riwayat dari Ummu Hani' radhiyallahu 'anha, Musnad Ahmad dan Syu'abul Iman, sanad jayyid/hasan)

*Tahmid 100x: Alhamdulillah*

الحمد لله

Bertahmid 100 kali: pahala seperti menyiapkan 100 kuda lengkap untuk jihad fi sabilillah.
(Riwayat serupa, hasan)
*Takbir 100x: Allahu Akbar*

الله أكبر

Bertakbir 100 kali: pahala seperti berkurban 100 unta yang diterima Allah.
(Riwayat serupa, hasan)

*Tahlil 100x: La ilaha illallah*

لا إله إلا الله

Bertahlil 100 kali: memenuhi ruang antara langit dan bumi, amalan terbaik hari itu.
(Musnad Imam Ahmad, hasan)

Dzikir Lengkap 100x atau 10x: 

*La ilaha illallah wahdahu la syarika lahu lahul mulku walahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qadir*

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

Dibaca 100x sehari: pahala memerdekakan 10 budak, 100 kebaikan, hapus 100 dosa, lindung dari setan hingga malam.
Dibaca 10x: pahala memerdekakan 4 budak.

(HR. Bukhari 3293, Muslim 2691 — shahih)

*Subhanallah wa bihamdihi, Subhanallahil 'Azhim (100x atau rutin)*

سبحان الله وبحمده ، سبحان الله العظيم

Ringan di lidah, berat di timbangan, dicintai Ar-Rahman. Dibaca 100x: dosa diampuni sebanyak buih laut.
(HR. Bukhari 6682, Muslim 2691 — shahih)

*La ilaha illallah, wallahu akbar, subhanallah, walhamdulillah, wa la hawla wa la quwwata illa billah
Dosa dihapus sebanyak buih lautan.*

(HR. Ahmad, hasan)

Tanaman Surga: Subhanallah, walhamdulillah, la ilaha illallah, wallahu akbar
Bertemu Nabi Ibrahim 'alaihissalam di Isra Mi'raj: tanaman surga adalah kalimat ini.
(HR. Tirmidzi, hasan)

Empat Perkataan Pilihan 
*Allah subhanahuwata'ala*
Subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, Allahu akbar
Paling dicintai Allah, 20-30 kebaikan per ucapan, hapus dosa.
(HR. Ahmad, shahih menurut sebagian ulama)
Saudara-saudaraku umat Islam...
Jadikan dzikir ini kekuatan spiritual harian — nutrisi jiwa di tengah fitnah ribawi dan duniawi. Ringan di lidah, tapi investasi akhirat terbesar: pahala jutaan, hapus dosa, timbangan berat, surga menanti.
*Allah SubhanahuwaTa'ala* lebih gembira dengan taubat dan dzikir hamba-Nya daripada orang menemukan untanya di padang pasir.
Ini rahmat terbesar — mulai sekarang, basahi lisan dengan dzikir ini.

PRIBADI YANG MAWAS DIRI

Sungguh beruntung pribadi yang selalu memperhatikan dirinya dan senantiasa menjaga hak hak Allah ta'ala dalam kehidupannya.. dimanapun ia berada ia selalu bertaqwa dan ingat kepada Allah.. ia menyadari betul apa yang dilakukannya dipantau Allah... Sebab Allah lebih dekat kepadanya lebih dari urat nadi di lehernya... Setiap aktivitas yang ia lakukan berlandaskan ilmu yang Haq dan benar.... Ia tahu betul apa yang diridhai Allah dan apa yang dilarang Allah... MaasyaAllah sungguh beruntung pribadi yang seperti ini... Semoga Allah menjadikan kita pribadi muqarrabin yang unggul dalam beramal dan memiliki hati yang bersih sehingga dapat pulang ke pangkuannya dengan selamat.. aamiin ya Mujiib

TAUBAT

taubat adalah pintu rahmat terbesar yang *Allah SubhanahuwaTa'ala* buka lebar-lebar bagi hamba-Nya. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni selama taubat dilakukan dengan tulus sebelum nyawa sampai di kerongkongan atau matahari terbit dari barat.
Berikut ayat-ayat Al-Qur'an yang paling indah dan menyentuh hati tentang taubat, aku urutkan dengan penjelasan singkat agar semakin menjiwai:

1. QS. Az-Zumar: 53 (Ayat Harapan Terbesar)

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'"


Hikmah menjiwai: Ayat ini turun untuk orang yang merasa dosanya terlalu besar (bahkan syirik dan pembunuhan). Allah panggil mereka dengan lembut "Ya 'ibadi" (hamba-Ku) — bukti kasih sayang-Nya tak pernah putus.

2. QS. At-Tahrim: 8

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

"Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang tulus (nasuha). Mudah-mudahan Rabbmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai..."


Hikmah menjiwai: Taubat nasuha = menyesal, berhenti dari dosa, bertekad tidak ulangi, dan perbaiki jika melibatkan hak orang lain. Balasannya: dosa dihapus, diganti surga.

3. QS. An-Nisa: 17-18

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا ۝ وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ

"Sesungguhnya taubat di sisi Allah adalah bagi orang-orang yang melakukan kejahatan karena kebodohan, kemudian segera bertaubat. Mereka itulah yang diterima taubatnya oleh Allah... Dan tidaklah taubat itu diterima bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang maut kepada salah seorang di antara mereka, dia berkata: 'Sekarang aku bertaubat...'"


Hikmah menjiwai: Taubat diterima selama nyawa belum sampai kerongkongan — segera taubat, jangan tunggu sakaratul maut.

4. QS. Al-Furqan: 70-71

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا ۝ وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

"Kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan beramal shalih, maka mereka itu, Allah akan mengganti kesalahan-kesalahan mereka dengan kebajikan-kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan barangsiapa bertaubat dan mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya."


Hikmah menjiwai: Taubat + iman + amal shalih = dosa diganti jadi pahala! Rahmat terindah.

5. QS. Hud: 3

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ

"...dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berbuat baik."


Hikmah menjiwai: Taubat bawa kenikmatan dunia yang baik + karunia akhirat.

Pesan rahmat akhir:
Tidak ada dosa yang tak terampuni selama taubat tulus. Allah Subhanahu wa Ta'ala lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada orang yang menemukan untanya di padang pasir (HR. Muslim).

PAKSAKAN IBADAH



Ibadah itu kadang kala memang HARUS DIPAKSAKAN, sampai nanti engkau akan merasakan kenikmatan dalam beribadah yang awalnya dipaksakan tadi

Karena kalau kita tidak memaksakan diri, Maka dipastikan sampai mati tidak akan Ibadah. Sebab syaitan tidak mau kita beribadah.


Paksakan shalat tepat waktu

Paksakan baca Al-Qur'an

Paksakan shalat Sunnah Paksakan shalat malam Paksakan dzikir dan istighfar Paksakan puasa Sunnah Paksakan sedekah walau sedikit

Paksakan menghadiri Majelis Ilmu

Paksakan untuk melakukan

ketaatan dan kebaikan

Karena sesungguhnya rasa malas adalah salah satu bentuk bisikan syaitan, maka lawanlah, Jangan kalah dengan syaitan

I(Ustadz Khalid Basalamah Hafidzahullah)

Mau Pahala Tanpa Batas?



Kata orang sabar itu ada batasnya, tapi kata Allah subhanahuwataala pahala sabar itu tanpa batas.

Allah subhanahuwataala berfirman (yang artinya);

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."

(QS. Az-Zumar: 10)

3 macam kesabaran:

1. Sabar dalam melaksanakan taat kepada Allah subhanahuwataala 

2. Sabar dalam menjauhi kemaksiatan

3. Sabar dalam menerima takdir Allah subhanahuwataala

DUNIA ITU HANYA TIGA HARI




1.Adapun kemarin,
sungguh dia telah pergi bersama dengan apa yang ada padanya

2.Adapun besok,
maka barangkali kamu tidak bisa mendapatinya

Al-Hasan al-Bashri -rahimahullah-[Az-Zuhd, al-Baihaqi (1/196)]

3.Dan hari ini adalah milikmu,

maka beramallah (dengan amalan yang baik) padanya

MENGELUHLAH HANYA KEPADA ALLAH, DZAT YANG TIDAK PERNAH BOSAN MENDENGAR RINTIHANMU



Jika pintu-pintu dunia tertutup rapat untukmu, maka datangilah pintunya Allah, pintu yang selalu terbuka untukmu dan tidak pernah menolakmu...

رُبَّ أَشْعَثَ أغبر، مدفوع بالأبواب، لو أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَهُ.

"Berapa banyak orang yang rambutnya kusut, pakaiannya berdebu, tertolak di setiap pintu-pintu, akan tetapi jika ia berdoa kepada Allah, Allah kabulkan doanya.
(HR. Muslim)

Sungguh sayang dan malangnya nasibku!!!

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah pernah mengisahkan, 

"Seorang anak perempuan meninggal karena Tho'un, kemudian ayahnya melihatnya di dalam mimpi, maka ayahnya berkata kepadanya : "Wahai anakku kabarkan kepadaku tentang akhirat..!"

Anak perempuan itu menjawab,
"Kami telah melewati perkara yang sangat besar, dan sesungguhnya kita telah mengetahui, tapi kita tidak mengamalkannya. Demi Allah, sesungguhnya satu ucapan tasbih atau satu roka'at sholat yang tertulis dalam lembaran amalku lebih aku sukai daripada dunia dan seluruh isinya.."

Berkata Ibnul Qoyyim rohimahullah,
 
"Anak perempuan itu telah mengatakan perkataan yang dalam maknanya - sesungguhnya kami mengetahui, tapi kita tidak mengamalkan -, akan tetapi banyak diantara kita yang tidak memahami maknanya.."

●  Kita mengetahui, bahwa ucapan "Subhaanallaahi wa bihamdihi" sebanyak 100 kali dalam sehari akan menghapuskan dosa-dosa kita, walaupun dosa kita sebanyak buih di lautan. Akan tetapi sayang, Berapa banyak hari kita yang berlalu tanpa kita mengucapkannya sedikitpun.

●  Kita mengetahui, bahwa pahala dua roka'at Dhuha setara dengan pahala 360 shodaqoh, akan tetapi sayang, Hari berganti hari tanpa kita melakukan sholat Dhuha.

●  Kita mengetahui, bahwa orang yang berpuasa sunnah karena Allah satu hari saja, akan dijauhkan wajahnya dari api neraka sejauh 70 musim atau 70 tahun perjalanan. Tapi sayang, kita tidak mau menahan lapar.

●  Kita mengetahui, bahwa siapa yang menjenguk orang sakit akan diikuti oleh 70 ribu malaikat yang memintakan ampun untuknya. Tapi sayang, kita belum juga menjenguk satu orang sakit pun pekan ini.

●  Kita mengetahui, bahwa siapa yang membantu membangun masjid karena Allah walaupun hanya sebesar sarang burung, akan dibangunkan sebuah rumah di surga. Tapi sayang, kita tidak tergerak untuk membantu pembangunan masjid walaupun hanya dengan beberapa puluh ribu.

●  Kita mengetahui, bahwa siapa yang membantu janda dan anak yatimnya, pahalanya seperti berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang berpuasa sepanjang hari tanpa berbuka, atau orang yang sholat sepanjang malam tanpa tidur. Tapi sayang, sampai saat ini kita tidak berniat membantu seorang pun janda dan anak yatim.

●  Kita mengetahui, bahwa orang yang membaca satu huruf dari Al Qur'an, baginya sepuluh kebaikan dan satu kebaikan akan di lipatgandakan sepuluh kali. Tapi sayang, kita tidak pernah meluangkan waktu membaca Al-Qur'an dalam jadwal harian kita.

●  Kita mengetahui, bahwa haji yang mabrur, tidak ada pahala baginya kecuali surga, dan akan diampuni dosa-dosanya sehingga kembali suci seperti saat dilahirkan oleh ibunya. Tapi sayang, kita tidak bersemangat untuk melaksanakannya, padahal kita mampu melaksanakannya.

●  Kita mengetahui, bahwa orang mukmin yang paling mulia adalah yang yang paling banyak sholat malam, dan bahwasanya Rosulullah shollallaahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya tidak pernah meremehkan sholat malam di tengah segala kesibukan dan jihad mereka. Tapi sayang kita terlalu meremehkan sholat malam.

●  Kita mengetahui, bahwa hari kiamat pasti terjadi, tanpa ada keraguan, dan pada hari itu Allah akan membangkitkan semua yang ada di dalam kubur. Tetapi sayang, kita tidak pernah mempersiapkan diri untuk hari itu.

●  Kita sering menyaksikan orang-orang yang meninggal mendahului kita. tetapi sayang, kita selalu larut dengan senda gurau dan permainan dunia seakan kita mendapat jaminan hidup selamanya dan tidak akan akan menyusul mereka.

Wahai Saudaraku yang di Rahmati Allah.. Semoga kita segera merubah keadaan kita mulai detik ini, dan mempersiapkan datangnya hari perhitungan yang pasti akan kita hadapi..

Hari dimana kita mempertanggung jawabkan setiap perbuatan kita di dunia..

Hari ketika lisan kita dikunci, sedangkan mata, kaki, dan tangan kita yang menjadi saksi..

Dan pada hari itu, setiap orang akan lari dari saudaranya, ibu dan bapaknya, teman-teman dan anaknya, karena pada hari itu setiap orang akan disibukkan dengan urusannya masing-masing.

*💝Saya telah mengirimkan Nasehat ini kepada orang yang saya cintai karena Allah, maka kirimkanlah nasehat ini kepada orang yang kalian cintai.💝*

*💫Agama itu Nasihat..💫*

✒️📚💐
Ditulis oleh, 
Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin Lc, حفظه الله تعالى

HAFALAN QUR'AN HILANG KARENA MAKSIAT

Beberapa Atsar yang Memperingatkan Perbuatan-perbuatan
Maksiat:
Adalah para al-Salaf al-Shaleh-dengan semangat mereka untuk menjaga
apa yang telah mereka hafal dari al-Qur‟an-, mereka selalu mengintrospeksi diri mereka dan menyalahkannya jika melakukan kelalaian dan kelalaian, serta
menyandarkan penyebab itu semua pada kesalahan dan dosa mereka:
-Ja‟far bin Sulaiman al-Dhubba‟i rahimahullah mengatakan: “Adalah Malik bin Dinar termasuk manusia yang paling hafal terhadap al-Qur‟an. Ia membaca untuk kami satu juz al-Qur‟an setiap harinya untuk kami hingga ia mengkhatamkannya. Maka jika ia lupa satu huruf, ia mengatakan: „Ini
karena dosa saya, dan Allah tidak pernah menzhalimi hamba-hambaNya.‟

-Ibnu Mas‟ud radhiyallahu „anhu berkata:
“Sungguh aku menduga bahwa seseorang itu melupakan ilmunya disebabkan kesalahan yang dikerjakannya.”

-Seorang bertanya kepada Imam Malik rahimahullah: “Wahai Abu Abdillah, apakah ada sesuatu yang tepat untuk menghafal?” Beliau menjawab “Jika ada sesuatu yang tepat untuknya, maka itu adalah meninggalkan  maksiat.”

-Hal itu juga yang diwasiatkan oleh Waki‟ bin al-Jarrah rahimahullah, ia  berkata: “Minta bantuanlah untuk menghafal dengan meninggalkan maksiat.” 

Dan di antara dampak perbuatan maksiat-yang disebutkan oleh Ibnu al- Qayyim rahimahullah melalui pernyataannya: 
“Dan maksiat itu memiliki banyak dampak yang buruk dan tercela serta  berbahaya bagi hati dan tubuh, baik di dunia maupun di akhirat yang tidak  diketahui kecuali oleh Allah. Di antaranya adalah: terhalangnya ilmu, karena  ilmu adalah cahaya yang dilemparkan Allah ke dalam hatinya, dan kemaksiatan  itu akan memadamkan cahayanya. 

Ketika al-Syafi‟i duduk di hadapan Malik dan membaca di hadapannya;  Malik terkagum-kagum melihat kecerdasannya yang besar, kepandaiannya yang  menyala dan pemahamannya yang sempurna. Maka ia pun berkata: „Sungguh 
aku melihat bahwa Allah telah meletakkan cahaya di dalam hatimu, maka  janganlah engkau padamkan ia dengan kegelapan maksiat.”

Apa Gunanya..?!

**

Ibnu as-Samak rahimahullah berkata,

“Anggaplah dunia ada di genggamanmu dan ditambahkan lagi yang semisalnya, dan anggaplah Timur dan Barat datang kepadamu.. tapi jika kematian telah datang kepadamu, maka apa gunanya yang ada di tanganmu tersebut..?”

Siyar VIII/330

KEHERANAN RASULULLAH SAW


1. Heranku terhadap orang yang meyakinkan adanya maut, kenapa masih sempat bersuka ria?, 
2. Dan terhadap orang yang meyakinkan adanya neraka, kenapa sempat tertawa?, 
3. Dan terhadap orang yang meyakinkan ketentuan Allah, kenapa sempat berduka 
cita?, 
4. Dan terhadap orang yang meyakinkan bahwa dunia itu bukan tempat kekal, kenapa  tenang-tenang (santai)?, 
5. Dan Tiada Tuhan yang lain, kecuali Allah, Muhammad adalah Rasulullah Allah

Menyembunyikan Kebaikan

*
Bisyr bin Harits al-Hafy rahimahullah berkata,

لا تعمل لتُذكر، اكتم الحسنة كما تكتم السيئة.

“Jangan beramal agar engkau mendapatkan pujian, sembunyikanlah kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan.”

Siyar A’lamin Nubala’

Tentang Rasa Takut dan Harap Kepada Allah Ta’ala

**

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

“Rasa takut lebih baik daripada rasa harap selama seseorang dalam keadaan sehat. Lalu apabila ajal menghampirinya, maka rasa harap lebih baik daripada rasa takut.. Jika pada masa sehatnya dia melakukan kebaikan, tentu akan menjadi besar rasa harap dan baik sangkanya (kepada Allah Ta’ala) saat kematian (menghampirinya)..

(Tapi) bila pada masa sehatnya dia melakukan keburukan, tentu dia akan berburuk sangka ketika (kematian) menghampirinya, dan tidak akan bertambah rasa harapnya (kepada Allah)..”

Hilyatul Auliya’ – 8/89

Jangan Merasa Aman dari Dosa-dosa mu

**

Ibnu ‘Aun rahimahullah berkata,

“Janganlah engkau yakin dengan banyaknya amalanmu, karena sesungguhnya engkau tidak tahu apakah amalanmu diterima atau tidak.. dan jangan pula engkau merasa aman dari dosa-dosamu karena sesungguhnya engkau tidak tahu apakah dosamu diampuni atau tidak..”

 at Taubah Lii Ibni Abi ad Dunya

Kupuji Allah Karena Empat

**

Dari Asy Sya’bi bahwa Syuraih, rohimahumallah, berkata,

“Sesungguhnya aku pernah ditimpa musibah..
Maka aku memuji Allah karena EMPAT perkara..

– Kupuji Allah karena tidak diberikan musibah yang lebih berat dari itu..

– Kupuji Allah karena aku diberikan kesabaran..

– Kupuji Allah karena telah memberikanku taufiq untuk istirja’.. sehingga aku dapat berharap pahala..

– Kupuji Allah karena musibah itu tidak menimpa agamaku..”

Siyar A’laam An Nubalaa 4/105, Diterjemahkan oleh, Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Takdir Allah berlaku bagi setiap hembusan nafasmu

Maka, jangan pernah bangga atas perbuatan dosa yang telah dilakukan... malulah atas segala nikmat yang telah Allah berikan... Sebab Allah telah mengilhamkan kepada manusia jalan taqwa dan jalan fujur (keburukan)...

 Allah telah menganugerahkan berbagai potensi kepada kita..seperti hati dan akal...

 kebenaran telah terpampang nyata.. baik secara qauliyah maupun secara kauniyah..

 (QS asysyams 9-10) sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu dan sungguh bagi orang yang mengotorinya.

GOD SPOT

Setiap otak manusia memiliki tempat god spot tersendiri.. ialah tempat bermuaranya bisikan hati yang tulus dan jernih ...ialah tempat di mana kau menyadari bahwa banyak berbagai hal dalam hidupmu yang cenderung irasional dan kemudian keyakinanmu menjadi meningkat kepada Allah ....itulah fitrah yang Hanif yang Allah anugerahkan kepada setiap hamba ...ada yang mengasahnya sehingga setiap saat, setiap waktu, menjadi makrifat kepada Allah  dan bahkan ada yang mengabaikannya sampai ia menjadi titik dimana manusia yang bernafsukan binatang yang tidak berakal ...

ketahuilah mengenal Allah akan menyadarkan kehidupan yang sejati.. menyadarkan status kita sebagai hamba Allah dan menyadarkan bahwa  Allah yang Maha Besar, Maha Tinggi, Maha Mulia dan Maha Agung..

 jangan sampai lengah saat ajal telah datang dan jasad telah membusuk!!! sesungguhnya tulang ekor masihlah utuh... kelak ia akan disusun kembali pada hari kebangkitan... namun sungguh ajib.. banyak manusia yang dibangkitkan dalam kondisi yang tidak lazim ...ada yang menjadi anjing ,babi , bahkan kepalanya diseret di bawah sebagai kaki..

( QS al-a'raf 172) dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi tulang belakang anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka seraya berfirman bukankah Aku ini tuhanmu mereka menjawab betul Engkau Tuhan kami kami bersaksi ..kami lakukan yang demikian itu agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini..

Aku hanyalah Bima Sakti

Aku ....hanyalah Bima sakti yang menyelami luasnya Galaksi Samudra Maha cintaMu ...


(QS al-baqarah 255) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha hidup yang terus-menerus mengurus makhlukNya. tidak mengantuk dan tidak tidur. milikNya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi . tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisiNya tanpa izinNya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apapun tentang ilmuNya melainkan apa yang Dia kehendaki. kursinya meliputi langit dan bumi dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya Dan Dia Maha Tinggi Maha Besar.

Ibarat Helium

Aku hanyalah Helium, yang akan hangus dibakar oleh Kebesaran KasihMu 

QS attakwir 1-3 
Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan.

CintaMu tidak terhingga

Ibarat nol dibagi nol...tidak terhingga... cintaMu membuatku ingin lenyap dalam kasih sayangMu ...naungi selalu aku akan rahmatMu..

(QS ar-rahman 19-21) ia membiarkan dua laut mengalir yang kemudian keduanya bertemu.. diantara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.. maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Tinta Tuhanku

CintaMu ...ibarat darah yang mengalir di dalam nadiku...ibarat oksigen yang selalu kuhirup...ibarat embun yang selalu membasahi jiwa dan ragaku...

 (QS Al Kahfi 109) katakanlah Muhammad seandainya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai penulisan kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.

buatlah malaikat iri

CintaMu membuat malaikat iri kepadaku... namun aku sasar...apalah daya diri ini...ingatku kepadaMu hanya sedikit, lupaku amat banyak...

 (QS Ali Imron 31) katakanlah Muhammad: jika kamu mencintai Allah ikutilah aku niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu Allah Maha Pengampun Maha Penyayang

Pemilik bintang Syi'ro

Kisahkan padaku tentang seribu bintang!!! hanya Kaulah yang ku puja, duhai Rabbku..!!!

(QS an Najm 49) dan sesungguhnya dialah Tuhan yang memiliki bintang Syi'ro

Kisahkan kepadaku 1000 Cahaya!!!

Katakan kepadaku tentang 1000 cahaya!!! hanya Kaulah ya Robbi..cahaya yang kusembah!!!

( QS an-nur 35) Allah pemberi cahaya kepada langit dan bumi. perumpamaan cahayanya seperti lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu ada di dalam tabung kaca dan tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi yaitu pohon zaitun. yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat ..yang minyak saja hampir hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya berlapis-lapis, Allah memberi petunjuk kepada cahayaNya bagi orang yang Dia kehendaki dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu..

Luka hati bertaut dengan doa

Pergerakanmu sungguh semu... tak jemu aku memikirkanmu.. kau keluar dari bumi dan berganti dengan kau yang keluar dari langit....

(proses fotosintesis) QS Al Hadid: 4 
Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana..


 ibarat luka hati bertaut dengan doa berubah menjadi pemakbulan yang membawa suka

BATU SAJA TAHU

Batu saja tahu....ia selalu tunduk kepada sang pencipta....isak tangis mereka mengalir sepanjang air deras dan berbuih..

( QS al-baqarah 75) padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang airnya memancar daripadanya, ada pula yang terbelah lalu keluar mata air darinya, dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah, dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan...

Unta tidak bisa masuk kedalam jarum

Setiap perumpamaan telah gamblang sudah terpampang....seperti orang yang ingkar kepada Allah diibaratkan unta yang tidak akan pernah bisa masuk ke dalam jarum...

(QS Al a'raf 40) sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit, dan tidak pula mereka masuk surga hingga unta masuk ke dalam jarum..demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan..

MAHABBAH

Mahabbah ibarat kepala burung, Raja' sayap kanannya, Khauf sayap kirinya... Dan tak akan ada yang mampu membendung suratan cinta seorang hamba yang rapuh kepadaNya 


(QS al-mulk 19) tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka tidak ada yang menahannya di udara selain Yang Maha Pengasih

Bayang bayang pun tahu

Bayang-bayang pun tahu apa yang terdapat dalam lubuk hati.... ia akan lunak kepada kalam cintaNya dan ganas kepada selainNya ...
(QS Ar Ra'd 15) dan sujud pula bayang-bayang mereka pada waktu pagi dan petang hari...

DAUN SAJA TAHU DIRI

Daun saja tahu diri...ia tidak akan selamanya berada di atas dia pasti sadar akan ada saatnya ia harus jatuh dan bisa terkena pelapukan..

(QS Al an'am 59) tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahuiNya.

Semut pun tahu

Semut pun tahu betapa bahagianya hati yang diselimuti naungan rohimNya...mereka saling bersinergi berlomba dalam bertasbih kepadanya...
 (QS an naml 40) Ini merupakan karunia Robbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau  justru mengingkari nikmat-nikmatNya ...

Allah mencintai hambaNya yang bertaqwa

Allah menyukai hambaNya yang mengerjakan suatu pekerjaan dengan sebaik-baiknya...
ibarat seekor burung di pagi hari ia pergi meninggalkan sarangnya berkelana ke berbagai penjuru untuk mencari rezeki yang Allah tetapkan padanya...lalu ia pulang dengan membawa perut yang kenyang dan rezeki yang cukup untuk keluarganya..

 (QS Al ankabut 60) dan berapa banyak binatang melata yang tidak mampu membawa ( mengurus) rezekinya sendiri Allahlah yang memberi Rizki kepadanya dan kepadamu juga Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Allah tidak meminta rezeki kepada kita sungguh Allah Al Kabir tidak butuh itu 
(QS Toha 132) kami Allah tidak meminta rezeki kepadamu kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan akibat yang baik itu adalah bagi orang yang bertakwa..

 mengapa Allah sangat mencintai hambanya yang bertaqwa? bahkan diberi solusi dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka?

 sebab orang bertakwa memiliki niat yang amat tulus karena Allah dan didukung dengan iman dan ilmu yang kuat, sehingga setiap apa yang diusahakannya tetap berada di trek aturan Allah... di sisi lain ia juga memiliki plan dan usaha yang cermat... sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikan seorang hamba.. Allah as Syakur Maha menerima amal hambanya walaupun itu hina dan sedikit teruslah beramal walaupun itu terlihat kecil karena kita tidak tahu amal mana yang mengantarkan kita ke dalam keridaan jannahNya...

ALFAKAH ENGKAU

Alfakah engkau kepadaNya... Dia yang lebih dekat dari urat nadi di lehermu... Dia yang selalu mengatur kehidupanmu.. Dia yang selalu menegurmu dikalah khilaf...

 tidak rindukah engkau kepadanya... Ketika engkau sering menangis dalam naungan rahmatNya, mengiba atas perihnya kehidupan yang mendera dan meronta-ronta dengan amat keras seakan Allah tidak mendengar Isak tangismu... 

ingatlah bahwa sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (QS al-baqarah 214) 
dan manusia itu bersifat tergesa-gesa ( QS Al isra 11)

JADILAH SEPERTI LEBAH

Jadilah seperti lebah... bermanfaat dimanapun ia berada... di manapun ia tinggal ia tidak akan pernah merusak habitat sekitar... ia hanya makan dari Sari yang terbaik... dan apa yang dia keluarkan merupakan yang terbaik juga, yakni sebagai Syifa atau obat....
(Quran surat an-nahl ayat 68) dan tuhanmu mengilhamkan kepada lebah buatlah sarang-sarang di gunung-gunung di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibikin manusia..

Amal Itu Bertingkat-Tingkat

**

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

إِنَّ الْأَعْمَالَ لَا تَتَفَاضَلُ بِالْكَثْرَةِ، وَإِنَّمَا تَتَفَاضَلُ بِمَا يَحْصُلُ فِي الْقُلُوبِ حَالَ الْعَمَلِ

“Sesungguhnya amal itu bertingkat-tingkat keutamaannya bukan karena banyaknya. Namun karena apa yang ada di hati saat beramal..”

Majmu Fatawa 25/282

HAMBA YANG BERUNTUNG

Setiap hari ada hamba Allah yang menunggu dengan penuh rindu datangnya malaikat maut yang akan menjemputnya..... sampai-sampai ia merasa bosan dengan manusia dan menjauh dari dunia..... dan tiba-tiba datanglah utusan Allah dengan membawa wewangian dan kabar gembira.... kemudian mereka memindahkannya dari alam dunia fana ke alam akhirat yang bersifat abadi...... ia akan dimasukkan ke dalam surgaNya dengan penuh kemuliaan, ketentraman, kenikmatan dan cinta....  setiap hari ia memperoleh tambahan nikmat hingga selama-lamanya..... betapa besar kebahagiaan yang didapat, betapa tinggi kedudukan yang diberikan Allah... dan betapa ia menjadi seorang hamba yang berbahagia ......seorang hamba yang dimanjakan lagi terpuji.... sungguh beruntung dan mulia tempat kembali hamba tersebut .....maka marilah kita memohon kepada Allah ta'ala, Semoga dia memberikan anugerah kepada kita dengan anugerah yang agung dan nikmat yang sangat besar .....sebab hal itu tidaklah sulit bagi Allah dan Semoga dia tidak menjauhkan kita dari karuniaNya yang besar itu...

Pelajaran Berharga

**

Hatim Al Ashomm rahimahullah ditanya oleh Syaqiq, “Sejak engkau menjadi temanku, pelajaran apa yang engkau dapatkan..?” Hatim pun menjawab,

ست كلمات :

? رأيت الناس في شك من أمر الرزق ، فتوكلت على الله . قال الله تعالى : وما من دابة في الأرض إلا على الله رزقها .

? ورأيت لكل رجل صديقا يفشي إليه سره ، ويشكو إليه ، فصادقت الخير ليكون معي في الحساب ، ويجوز معي الصراط .

? ورأيت كل أحد له عدو ، فمن اغتابني ليس بعدوي ، ومن أخذ مني شيئا ليس بعدوي ; بل عدوي من إذا كنت في طاعة ، أمرني بمعصية الله ، وذلك إبليس وجنوده ، فاتخذتهم عدوا وحاربتهم .

? ورأيت الناس كلهم لهم طالب ، وهو ملك الموت ، ففرغت له نفسي .

? ونظرت في الخلق ، فأحببت ذا ، وأبغضت ذا . فالذي أحببته لم يعطني ، والذي أبغضه لم يأخذ مني شيئا ، فقلت : من أين أتيت ؟ فإذا هو من الحسد فطرحته ، وأحببت الكل ، فكل شيء لم أرضه لنفسي لم أرضه لهم .

? ورأيت الناس كلهم لهم بيت ومأوى ، ورأيت مأواي القبر ، فكل شيء قدرت عليه من الخير قدمته لنفسي لأعمر قبري .

? ورأيت الناس كلهم لهم بيت ومأوى ورأيت مأواي القبر فكل شيء قدرت عليه من الخير قدمته لنفسي لأعمر قبري

“Ada ENAM hal..

1. Aku melihat orang-orang ragu dalam hal rezeki, maka akupun bertawakal kepada Allah. Allah berfirman yang artinya, “Tidak ada satu binatang melata pun di atas bumi, kecuali rezekinya dijamin Allah..”

2. Aku melihat, setiap orang memiliki teman untuk menceritakan rahasianya dan mengadu kepadanya. Maka akupun berteman dengan amalan baik, agar bersamaku ketika hisab dan bersamaku melewati shiroth..

3. Aku melihat bahwa setiap orang memiliki musuh..
– Yang meng-ghibahiku bukan musuhku..
– yang mengambil sesuatu dariku bukanlah musuhku..

justru musuhku adalah yang ketika aku taat, dia memerintahkan maksiat. Itulah Iblis dan tentaranya.. maka aku jadikan dia sebagai musuh dan memeranginya..

4. Aku melihat bahwa setiap orang ada yang mencarinya.. dialah malaikat maut. Maka akupun fokus dalam mempersiapkan diri bertemu dengannya..

5. Aku melihat manusia.. aku cinta kepada yang ini dan benci kepada yang itu.
– Orang yang kucintai tidaklah memberiku (karena itu adalah rezeki dari Allah)..
– Orang yang kubenci tidak mengambil sesuatu milikku (karena apa yang kumiliki adalah milik Allah)..

Akupun bertanya, ‘Apa sebab hal ini..?’ Ternyata, itu disebabkan hasad. Aku pun melepaskan hasad dan mencintai semua orang. Segala sesuatu yang aku tidak senang menimpaku, aku tidak senang menimpa mereka..

6. Aku melihat semua orang memiliki rumah dan tempat tinggal. Namun aku melihat tempat tinggalku [kelak] adalah kubur, maka segala kebaikan yang aku mampui, aku pergunakan untuk memakmurkan kuburanku (yakni dengan banyak beramal sebagai bekal ketika mati)..”

Siyar A’lam An Nubala 1/486

Semua Akan Menemui Ajalnya

*
Suatu ketika Al Hasan Al Bashri menjenguk temannya yang sakit dan menanyakan keadaannya.

Temannya berkata, “Aku ingin makan tapi tak mampu menelan .. dan ingin minum tapi tak mampu menelannya juga..”

Al Hasan menangis dan berkata,

على الاسقام والأمراض أسست هذه الدار وهبك تصح من الأسقام وتبرأ من الأمراض هل تقدر أن تنجو من الموت؟

“Dunia ini memang dibangun di atas kesakitan dan penyakit.. Kalaupun kamu selamat dan sehat dari penyakit, akankah kamu selamat dari kematian..?
Mendengar itu orang-orangpun menangis..”

Az Zuhd karya Ibnu Abidunya hal. 257

Hamba yang Allah Cintai

Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Jika kamu mau, aku akan sampaikan kepadamu bahwa hamba Allah yang paling Allah cintai adalah yang membuat manusia mencintai Allah dan memberi nasehat di bumi..”

Az Zuhd Lil Imam Ahmad

Menghisab Diri Di Dunia

**

Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata,

وإنما خف الحساب على قوم حاسبوا أنفسهم في الدنيا ، وإنما شق الحساب يوم القيامة على قوم أخذوا هذا الأمر من غير محاسبة

“Hisab menjadi ringan bagi orang yang menghisab dirinya di dunia. Dan hisab menjadi berat pada hari kiamat bagi orang yang melakukan urusan tanpa muhasabah..”

Hilyatul Auliya’ 2/157

Derajat Hati Yang Paling Tinggi

**

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :

فإن أرفع درجات القلوب فرحها التام بما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم وابتهاجها وسرورها كما قال تعالى: (والذين آتيناهم الكتاب يفرحون بما أنزل إليك) وقال تعالى: (قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا) ففضل الله ورحمته القرآن والإيمان من فرح به فقد فرح بأعظم مفروح به”.

“Sesungguhnya derajat hati yang paling tinggi adalah kebanggaan yang sempurna dengan apa yang dibawa oleh Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam, merasa bahagia dan gembira dengannya sebagaimana firman Allah :
“Dan orang-orang yang Kami berikan al kitab, mereka bergembira dengan apa yang diturunkan kepadamu..” (Ar Ra’du: 36)
dan firman Allah :
“Katakan, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah mereka bergembira..” (Yunus: 58)

Karunia Allah dan rahmat-Nya adalah Alqur’an dan keimanan. Siapa yang bergembira dengannya maka ia telah bergembira dengan sesuatu yang amat agung..”

Majmu’ Fatawa 16/49

Duduk Bersama Ulama




Nabi SAW bersabda, (wajib bagi kamu semua untuk duduk bersama para ‘Ulama) artinya yang mengamalkan ilmunya, (dan mendengarkan kalam para ahli hikmah) artinya orang yang mengenal Tuhan. (Karena sesungguhnya Allah Ta’ala akan menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah-ilmu yang bermanfaat- sebagaimana Allah menghidupkan bumu yang mati denganair hujan). Dan dalam riwayat lain dari Thabrani dari Abu Hanifah “Duduklah kamu dengan orang dewasa, dan bertanyalah kamu kepada para ‘Ulama dan berkumpulah kamu dengan para ahli hikmah” dan dalam sebuah riwayat, “duduklah kamu degan para ulama, dan bergaulah dengan kubaro’ ”. Sesungguhnya Ulama itu ada dua macam, :


orang yang alim tentang hukum-hukum Allah, mereka itulah yang memiliki fatwa, dan
ulama yang ma’rifat akan Allah, mereka itulah para hukama’ yang dengan bergaul dengan mereka akan dapat memperbaiki akhlak, karena sesungguhnya hati mereka telah bersinar sebab ma’rifat kepada Allah demikian juga sirr / rahasia mereka telah bersinar disebabkan nur keagungan Allah.

Telah bersabda Nabi SAW, akan hadir suatu masa atas umatku, mereka menjauh dari para ulama dan fuqaha, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka dengan tiga cobaan,

Allah akan menghilangkan berkah dari rizkinya.
Allah akan mengirim kepada mereka penguasa yang zalim
Mereka akan keluar meninggalkan dunia tanpa membawa iman kepada Allah Ta’ala Na’udzubiLlahi min dzaalik.



MEMASUKI KUBUR TANPA BEKAL




Dari Abi Bakar As-Shiddiq RA (Barang siapa yang memasuki kubur tanpa membawa bekal yaitu berupa amal shalih maka keadaannya seperti orang yang menyeberangi lautan tanpa menggunakan perahu).

Maka sudahlah pasti ia akan tenggelam dengan se tenggelam-tenggelamnya dan tidak mungkin akan selamat kecuali mendapatkan pertolongan oleh orang-orang yang dapat menolongnya.. sebagaimana sabda Rasulullah SAW, tidaklah seorang mayat yang meninggal itu, melainkan seperti orang yang tenggelam yang meminta pertolongan.




Menangis Karena Allah

‚Wajib bagi kalian di atas jalan Sunnah. Siapapun yang berada di atas 
jalan Sunnah kemudian meneteskan air mata karena takut 
kepada Allah, pasti tidak akan disentuh api Neraka. Siapapun 
yang berada di atas jalan Sunnah kemudian kulitnya bergetar 
karena takut kepada Allah, niscaya perumpamaannya seperti 
pohon yang daunya kering lalu diterpa angin, seperti itulah 
dosa-dosanya berguguran. Sederhana dalam beramal di atas Sunnah lebih utama daripada bersungguh-sungguh di atas 
jalan yang menyelisihi Sunnah. Maka perhatikanlah amal kalian, 
apapun keadaan kalian, baik saat sederhana beramal atau 
bersungguh-sungguh, untuk sentiasa di atas manhaj para Nabi 
dan Sunnah mereka.‛ (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 35526)

SAHABAT SEJATI YANG SESUNGGUHNYA


Ketahuilah bahwa ‘sahabatmu’ yang tak pernah ber­pisah denganmu entah dalam keadaan diam, bepergian, tidur, diam, bahkan dalam hidup dan matimu adalah Tuhan Penciptamu. Selama engkau mengingatNya, niscaya Dia menjadi ‘Teman dudukmu’. Sebab, Allah Swt. berkata, “Aku adalah teman duduk bagi orang yang berzikir pada-Ku.” Selama hatimu sedih karena tak mampu menunaikan kewajiban agamamu, maka Dia se­nantiasa menyertaimu. Sebab Allah Swt. berkata, “Aku berada bersama mereka yang hatinya sedih karena-Ku.” Apabila engkau betul-betul mengenali-Nya, niscaya engkau akan menjadikan-Nya sebagai ‘sahabat’ dan niscaya engkau akan meninggalkan yang lainnya. Jika engkau tak mampu melaksanakan hal itu setiap waktu, maka eng­kau harus menyediakan waktu di malam dan di siang hari untuk kau pergunakan berkhalwat bersama Tuhan dan merasakan kenikmatan bermunajat kepada-Nya. Ber­kenaan dengan hal itu, engkau harus mengetahui adab­-adab menjalin hubungan dengan Tuhan. Yaitu, menun­dukkan kepala, menjaga pandangan mata, mengkonsen­trasikan pikiran, senantiasa diam, menenangkan anggota badan, segera mengerjakan perintah, meninggalkan la­rangan, tidak menolak takdir, senantiasa berzikir dan berpikir, mengutamakan yang hak atas yang batil, putus asa dari makhluk, tunduk dengan perasaan hormat, ri­sau diliputi oleh rasa malu, tenang dalam berusaha ka­rena yakin atas jaminan-Nya, bertawakal kepada karunia Allah Swt. Semua ini harus menjadi karaktermu sepan­jang siang dan malam. Itulah adab menjalin hubungan dengan ‘Teman yang tak pernah berpisah denganmu.’ Adapun semua makhluk, dalam waktu tertentu akan berpisah denganmu.

Adab Sholat


Apabila engkau telah selesai membersihkan kotoran dan najis yang terdapat di badan, pakaian, dan tempat salat, juga engkau telah menutup aurat dari pusar sam­pai dengkul, maka berdirilah menghadap ke arah kiblat dengan kaki yang lurus tapi tidak dirapatkan sedang­kan engkau berada dalam posisi tegak. Lalu bacalah surat an-Naas guna berlindung dari setan yang terku­tuk. Hadirkan hatimu ketika itu. Buanglah segala bisik­an dan rasa was-was. Perhatikan kepada siapa engkau sedang menghadap dan bermunajat sekarang. Hendak­nya engkau malu untuk bermunajat kepada Tuhan de­ngan hati yang lalai dan dada yang penuh dengan bi­sikan dunia beserta kebejatan syahwat. Sadarlah bahwa Allah Swt. mengetahui semua yang tersembunyi di da­lam dirimu dan melihat hatimu. Allah hanya menerima salatmu sesuai dengan kadar kekhusyukan, ketundukan, dan ketawaduanmu.

Sembahlah Allah dalam salatmu seakan-akan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tak melihat-Nya, sesung­guhnya Dia melihatmu. Jika hatimu tidak hadir dan ang­gota badanmu tidak bisa tenang maka hal itu disebab­kan engkau tidak betul-betul mengenal keagungan-Nya. Bayangkan jika ada seorang saleh di antara keluargamu yang melihatmu ketika engkau salat. Pada saat itu, pasti hatimu akan khusyuk dan anggota badanmu akan te­nang. Lalu, tanyakan pada dirimu, “Wahai jiwa yang buruk, tidakkah engkau malu kepada Pencipta dan Tu­anmu?” Apabila engkau mampu salat secara khusyuk dan tenang karena dilihat seorang hamba yang hina, yang tak bisa memberikan manfaat atau bahaya pada­mu, sedang engkau mengetahui bahwa Dia melihatmu tapi engkau tak takut pada keagungan-Nya, apakah Allah SWT. lebih rendah dibandingkan hamba-Nya itu? Betapa durhaka dan bodohnya engkau! Betapa engkau memusuhi dirimu itu!
Obatilah hatimu dengan cara itu, barangkali ia akan menjadi hadir dalam salatmu. Salatmu hanyalah saat engkau sadar kepadanya. Adapun salat yang engkau kerjakan dengan hati yang lalai dan lupa, maka ia butuh pada istigfar dan perenungan.

Manakala hatimu sudah hadir, jangan lupa meng­ucapkan ikamah kalau engkau salat sendirian. Tapi, jika engkau menunggu datangnya jamaah yang lain hendak­nya engkau melakukan azan lalu ikamah. Apabila eng­kau sudah mengucapkan ikamah, berniatlah dan bacalah dalam hatimu, “Aku laksanakan salat lohor karena Allah Swt.” Usahakan niat tersebut hadir dalam hatimu ketika engkau bertakbir. Jangan sampai niatmu tak kau sadari sebelum takbir selesai. Angkatlah tanganmu saat bertakbir ke arah pipi dan pundakmu dengan jari-jari yang tidak dihimpitkan. Jangan terlalu menempel atau­pun menjauh. Yang penting ibu jarimu berada di hadapan kedua cuping telingamu, ujung-ujung jarimu berada di atas kuping, serta telapak tangan di atas pundak. Jika kedua telapak tanganmu sudah berada pada posisi ter­wbut bertakbirlah lalu turunkan kembali dengan perla­han. Saat diangkat atau diturunkan, jangan kau hentak­kan tanganmu ke depart secara keras dan jangan pula diangkat sampai ke belakang. Selain itu, jangan kau gerakkan ia ke kanan atau ke kiri. Ketika diturunkan, mulailah engkau meletakkan tanganmu di atas dada. Iangan kanan berada di atas yang kiri. Renggangkan lari-jari kananmu di lengan tangan yang kiri. Genggam di atas siku. Setelah bertakbir bacalah:
Allahu akbar kabiiran walhamduilllah katsiiran wa subhanalla bukrattan wa ashiilla, inni wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samawati wal ardha haniifan musliman wa ma ana minal musyrikin. Inni shalatii wa nusukii wa mahyaya wamamatii lillahi rabbil ‘alamiin laa syarikallahuwa bi dzalika umirtu wa ana minal muslimiin.

“Allah Mahabesar dengan segala sifat kebesaran-Nya. Pujian bagi Allah sebanyak-banyaknya dan Mahasuci Allah pada tiap pagi dan sore. Aku hadapkan wajahku pada Tuhan yang mencipta langit dan bumi dengan lu­rus dan aku bukan dari golongan yang musyrik. Se­sungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semata-mata karena Tuhan seru sekalian alam. Tiada sekutu bagi-Nya. Begitulah aku diperintah dan aku ter­masuk dari golongan Islam (menyerah dan patuh).”
Setelah itu, bacalah al-Fatihah dengan tekanan yang kuat. Usahakan untuk membedakan antara huruf dhad dan zha’ dalam bacaan salatmu. Lalu ucapkan amin se­cara terpisah dengan kata wala ad-dhaliin.

Nyaringkan bacaanmu pada salat subuh, magrib, dan isya. Maksudnya, pada dua rakaat yang pertama, ke­cuali jika engkau menjadi makmum. Jika menjadi mak­mum, nyaringkan bacaan amin. Lantas, dalam salat subuh, bacalah salah satu surat yang panjang setelah bacaan surat al-Fatihah. Sementara pada waktu magrib, cukup surat yang pendek. Adapun pada salat lohor, asar, dan isya, bacalah surat yang pertengahan. Misalnya su­rat al-Buruj dan yang semisalnya. Ketika salat subuh yang dilaksanakan dalam perjalanan, bacalah surat al­-Kafirun dan surat al-Ikhlas. Jangan engkau sambungkan akhir bacaan surat dengan takbir untuk rukuk, tapi pi­sahkan antara keduanya dengan seukuran bacaan subhanallah.

Ketika berdiri, usahakan untuk senantiasa menunduk dengan hanya memandang tempat salatmu. Hal itu, akan membuatmu lebih berkonsentrasi dan membuat hatimu lebih khusyuk. Jangan engkau menoleh ke kiri atau ke kanan pada saat sedang salat.

Lalu bertakbirlah untuk rukuk. Angkat tanganmu dengan cara yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pan­jangkan bacaan takbir sampai engkau berada pada po­sisi rukuk. Lalu, letakkan telapak tanganmu di atas lu­tut sementara jari-jemarimu berada pada posisi yang renggang. Tegakkan lututmu serta bentangkan pung­gung, leher, dan kepalamu secara lurus. Lantas, jauhkan sikumu dari pinggang. Sementara untuk wanita tidak demikian karena mereka hendaknya menempelkan yang satu dengan yang lain. Lalu ucapkan:

Subhana rabbiyal ‘azhiim
“Maha suci Tuhanku Yang Mahaagung.”
Bacaan tersebut diucapkan sebanyak tiga kali. Jika engkau salat sendirian, bagus pula kalau ditambah sam­pai menjadi tujuh atau sepuluh kali. Kemudian angkat kepalamu sampai berdiri tegak seraya mengangkat ta­ngan dan membaca:

Sami ‘allahu liman hamidah
“Allah mendengar siapa yang memuji-Nya.”
Apabila engkau telah berdiri tegak lurus, ucapkan:

 Rabbana lakal hamdu mil’as samawati wa mil ardhi wa mil ama syi’ta min syai’in ba’du
“Wahai Tuhan kami, segala puji bagi-Mu sepenul langit dan bumi dan sepenuh apa yang Kau kehendak sesudah itu.”
Apabila engkau sedang dalam melakukan salat subuh, bacalah doa qunut pada rakaat kedua ketika dalan posisi iktidal. Lalu, sujudlah dengan bertakbir tanpa mengangkat kedua tangan. Pertama-tama, letakkanlal kedua lututmu diikuti kemudian oleh kedua tanganmi lalu dahimu yang berada dalam keadaan terbuka. Letakkan hidung beserta dahimu. jauhkan sikumu dari pinggang dan angkat perutmu dari paha (Hal ini tidak berlaku bagi wanita). Letakkan kedua tanganmu di atas tanah sejajar dengan pundakmu. Jangan kau bentangkan lenganmu di atas tanah. Dan ucapkan:

Subhana rabbiyal ‘alaa
“Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi”

Doa di atas dibaca sebanyak tiga kali, tujuh kali, atau sepuluh kali jika engkau salat sendirian.
Lalu, angkat kepalamu dari sujud seraya bertakbir sampai engkau duduk dengan tegak. Duduklah di atas kaki kiri. Tegakkan kaki kananmu. Letakkan kedua ta­nganmu di atas paha dengan jari-jemari yang renggang. Lantas ucapkan (minimal):

‘rabbighfirlii warhamnii warzuqni wajburnii wa ‘afinii wa ‘afuanii
“Ya Tuhan, ampunilah aku, sayangilah aku, berikar rezeki padaku, pimpinlah aku, tambahkan kekurang­anku, dan maafkanlah daku.”
Kemudian lakukan sujud yang kedua sama seperti sebelumnya. Lalu duduk tegak sebentar untuk istirahat pada setiap rakaat yang tak disertai tasyahud.
Setelah itu, engkau berdiri dan meletakkan kedua tangan di atas tanah. Jangan engkau mendahulukan sa­lah satu kakimu ketika berdiri. Mulailah dengan takbir untuk berdiri saat hampir selesai dari duduk istirahat. Panjangkan bacaan takbir tersebut sampai pada posisi setengah berdiri. Usahakan agar duduk istirahat tersebut berlangsung sebentar. Lalu, laksanakan rakaat ke­dua seperti rakaat pertama. Ulangi membaca taawud ketika memulai. Lalu duduklah pada rakaat kedua un­tuk membaca tasyahud pertama. Saat duduk tasyahud, letakkan tangan kananmu di atas paha kanan dengan jari yang tergenggam kecuali jari telunjuk dan ibu jari. Berilah isyarat dengan jari telunjukmu yang kanan saat membaca illallah (kecuali Allah), bukan pada kata-kata Iaa ilaha (tiada Tuhan). Sementara itu, engkau letakkan tangan kirimu dengan jari jari terbuka di atas paha kiri. Duduklah di atas kaki kiri dalam tasyahud pertama ini seperti ketika

duduk antara dua sujud. Adapun pada tasyahud akhir, duduklah secara tawaruk (di atas pang­kal paha). Setelah mengucapkan salawat atas Nabi Saw., bacalah doa yang sudah dikenal. Duduklah di atas pang­kal paha yang kiri sementara kaki kirimu keluar dari sisi bawah. Tegakkan posisi kaki kananmu lalu ucapkan salam dua kali dari ke kanan dan kiri. Menolehlah hing­ga tampak putihnya kedua pipimu dari kedua sisi. Ber­niatlah untuk menyudahi salat dan arahkan salammu pada para malaikat dan kaum muslim yang berada di sampingmu. Begitulah gerakan salat sendirian.


Tiang penopang salat adalah kekhusyukan dan ke­hadiran hati disertai bacaan, dan pemahaman. Ha­san al-Basri rahimahullah berkata, “Setiap salat yang tidak disertai oleh kehadiran hati akan cepat terkena hukum­an.” Rasul Saw. bersabda, “Seorang hamba adakalanya melakukan salat tapi ia tidak mendapat seperenam atau sepersepuluh dari salatnya. Karena, ganjaran salat bagi seorang hamba sesuai dengan kadar kekhusyu’kannya.”

Misteri Kedasyatan Doa Dan Dzikir


Dahsyatnya Pengaruh Dzikir

Ibadah ini termasuk ibadah yang paling mudah. Tidak memerlukan banyak waktu, dapat dilakukan kapan dan di mana saja, dengan atau tanpa wudhu, bahkan oleh wanita yang datang bulan sekalipun. Ya, tanpa halangan.

Tetapi ibadah ini menuntut frekuensi yang tinggi, dilakukan sesering mungkin, dan bukan ketika sempat saja. Mengapa demikian? Anda mesti tahu makna zikir terlebih dahulu. Zikir pada dasarnya adalah "tidak lupa", alias "ingat" yang lawannya adalah lupa. Mungkinkah Anda mengingat Allah Subhaanahu Wa Ta’ala barang sebentar, kemudian Anda bilang, "Beginilah cara berzikir yang benar?" Tentu saja tidak demikian, akan tetapi sekali lagi, dia terkait dengan pengertian "banyak" dan "sering".

Cermatilah firman-firman Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang berbicara tentang zikir dan kaitannya dengan frekuensi pelaksanaannya.Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya."
(QS. Al Ahzâb: 41).

Demikian pula firman-Nya:

"Dan laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar."
(QS. Al Ahzâb: 35).

Demikian pula:

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguhhatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung."
(QS. Al Anfâl: 45).

Juga firman-Nya:

"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring."
(QS. Âli ‘Imrân: 191).

Dalam ayat yang lain:

"Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-bangga-kan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu."
(QS. Al Baqarah: 200).

Di dalam Al Qur’an, Allah Subhaanahu Wa Ta’ala tidak pernah menyebutkan suatu ibadah yang secara khusus diperintahkan untuk diperbanyak selain zikir. Maka, marilah perbanyak zikir sejak sekarang, sebab jika tidak, Anda harus berhati-hati terhadap peringatan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dalam ayat berikut ini.

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah, kecuali sedikit sekali.
" (QS. An-Nisâ’: 142).

Sudahkah Anda membaca ayat di atas dengan hati terbuka? Sedikit mengingat Allah adalah sifat orang-orang munafik. Maka segeralah, jangan lewatkan waktu-waktu Anda tanpa mengingat Allah. Berangkat ke sekolah, ke kampus, tempat kerja, olahraga, bahkan ketika hendak masuk ke kamar kecil sekalipun, kita diperintahkan untuk berzikirdengan membaca doa sebelum masuk WC. Tidak ada yang sulit, Anda tidak perlu melakukan apa-apa selain "memulai".


Keutamaan Berzikir

Allah Taala berfirman:

"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu…
(Al-Baqarah, 2:152).

Menakjubkan! Hanya dengan banyak mengingat Allah, Allah pun akan mengingat kita. Adakah kebahagiaan dan keberuntungan yang lebih besar daripada ketika seorang hamba yang lemah dan fakir diingat oleh Sang Pencipta Alam Semesta?

Perhatikan pula sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

"Allah Taala berfirman:

‘Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, Aku bersamanya (dengan ilmu dan rahmat) bila dia mengingat Aku. Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia menyebut nama-Ku dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka….
(HR. Bukhârî dan Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah keluar menemui para sahabat. Beliau ternyata sedang mendapatkan mereka sedang duduk-duduk. Lantas beliau bertanya, "Apa yang membuat kalian duduk (di sini)?" Para sahabat menjawab, "Kami duduk untuk berzikir kepada Allah, Wahai Rasulullah." Rasulullah pun kembali bertanya, "Demi Allah, kalian tidak duduk selain karena itu?" Mereka menjawab, "Demi Allah, kami tidak duduk selain karena itu." Rasulullah  pun bersabda, "Aku tidaklah menanyakannya (dengan meminta sumpah) kepada kalian karena curiga, namun karena aku mendapat kabar bahwa Allah sedang membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya."
(HR. Muslim).

Bayangkan, Allah Subhaanahu Wa Ta’ala bersama Anda, Allah bahkan membanggakan Anda di hadapan para malaikat-Nya! Jika Anda mengingat-Nya. Masih kaitannya dengan zikir, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

"Perumpamaan orang yang ingat akan Rabbnya dengan orang yang tidak ingat Rabbnya laksana orang yang hidup dengan orang yang mati."
(HR. Bukhârî).

Camkan hadits ini dan renungkanlah baik-baik, apabila Anda tidak berzikir dan mengingat Allah, maka Anda adalah orang mati. Sebab zikir adalah nyawanya hati, sehingga orang yang tidak berzikir hatinya akan mati.

Sekarang, tanyakanlah pada diri Anda, ‘Di manakah diri Anda dari dua perumpamaan itu? Masih hidupkah Anda ataukah sebenarnya Anda hanyalah mayat berjalan?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda:

"Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci di sisi Rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari infaq emas atau perak, dan lebih baik bagimu daripada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu? Para sahabat yang hadir berkata, Mau (wahai Rasulullah)! Beliau bersabda, Zikir kepada Allah Yang Mahatinggi."
(HR. At-Tirmidzî, Ibnu Mâjah. Lihat pula Shahih Tirmidzî 3/139 dan Shahih Ibnu Mâjah 2/316).


Jika Anda Enggan Berzikir

Anda telah mengetahui betapa banyak dan luar biasanya keutamaan zikir ini. Sungguh sangat mengherankan, dan sepantasnya Anda menangis sejadi-jadinya jika sampai saat ini hati Anda belum juga tersentuh untuk segera berzikir menyebut nama Allah. Semoga hati Anda tidak sampai demikian. Sebab jika tidak, tidak ada yang bisa kami sampaikan lagi kepada Anda kecuali firman Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." Berkatalah ia, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"


Allah berfirman:

"Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat kami, maka kamu melupakan-nya, dan begitu (pula) pada hari Ini kamu pun dilupakan."
(QS. Thâha: 124-126).

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala juga berfirman:

"Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Mahapemurah (Al Quran), kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) Maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya."
(QS. Az-Zukhruf: 36).

Dan firman-Nya yang lain:

"Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi."
(QS. Al Munâfiqûn: 9).

Setelah membaca ketiga ayat di atas, menurut Anda, apa yang akan menimpa orang-orang yang tidak mau berzikir? Kehidupan yang sempit, dibangkitkan di akhirat dalam keadaan buta, temannya adalah setan, dan menjadi orang yang rugi.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

"Barangsiapa yang duduk di suatu tempat, lalu tidak berzikir kepada Allah di dalamnya, niscaya akan menjadi penyesalan baginya (di hari Kiamat) dan barangsiapa yang berbaring dalam suatu tempat lalu tidak berzikir kepada Allah, niscaya akan menjadi penyesalan baginya (di hari Kiamat) "
(HR. Abû Dâwûd Shahihul Jaami 5/342).

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Engkau sebutkan dalam ayat ini:

"Dan laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah."
(QS. Al Ahzâb: 35).


Manfaat Dzikir

Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari masalah. Entah itu masalah pekerjaan, masalah rumah tangga, masalah keuangan, dan lain sebagainya. Begitu satu masalah selesai, masalah yang lain menghampiri, seolah-olah hidup hanya untuk menanggung masalah.

Banyak orang yang bisa mengatasi semua masalahnya dengan baik, tapi tak sedikit pula yang mengeluh karena masalahnya tak kunjung usai. Apakah anda juga sedang mengalaminya? Bagaimana caranya keluar dari masalah-masalah tersebut? Barangkali kita lupa akan kekuatan dzikir.

Kata dzikir berasal dari bahasa Arab, adz-dzikir yang berarti mengingat, mengucap dan berbuat baik. Pengertian dzikir sendiri adalah mengingat dan menyebut asma Allah SWT, seperti dengan membaca tasbih, tahlil, istighfar maupun shalawat.

Dengan berdzikir, manusia akan menyadari bahwa ada kekuasaan dari segala yang ada di dunia ini, yaitu Allah SWT. Oleh karena itu, dalam mewujudkan segala yang diinginkan dan diharapkan, manusia membutuhkan pertolongan-Nya.

Dzikir dapat pula berarti berbuat baik atau beramal saleh guna mendekatkan diri kepada Allah SWT sesuai dengan yang telah diajarkan oleh Rasullullah saw, misalnya dengan berbakti kepada orang tua, berlaku jujur, melakukan kebaikan dan menghindari kemungkaran.

Kekuatan dzikir sangat dahsyat bagi kehidupan. Dzikir merupakan salah satu bentuk komitmen keberagamaan seseorang. Dzikir juga merupakan kunci ketenangan jiwa, karena menyadari bahwa semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah dan akan kembali pada Allah.

Manfaat dzikir sudah dibuktikan oleh banyak ilmuwan di berbagai belahan dunia. Berikut ini manfaat dan kekuatan dzikir dalam kehidupan kita:

1) Mencegah dan mengobati penyakit. Berdasarkan penelitian dari Dr. Francis Keefe, seorang peneliti dari Duke University Medical School, Amerika Serikat, efek dzikir dapat mengatasi nyeri artritis rematik.

Penelitian yang dilakukan pada 35 orang yang mengalami arthritis rematik membuktikan bahwa pasien yang dekat dengan Tuhan lebih mampu mengatasi rasa nyerinya. Dalam Journal of Chronic Diseases, 1972, yang diungkapkan oleh Comstock, membuktikan bahwa orang yang melakukan dzikir secara teratur dapat menurunkan resiko kematian akibat jantung koroner hingga 50%. Selain itu, kekuatan dzikir juga dapat memperpanjang usia penderita HIV/AIDS.

2) Kunci ketenangan jiwa. Dengan berdzikir dapat menghilangkan gelisah dan hati yang gundah gulana dan mendatangkan ketenangan, ketentraman serta kebahagiaan hati.

3) Mendatangkan rizki.

4) Mendatangkan ridha Allah.

5) Semakin dekat dengan Allah.

6) Melindungi dari marabahaya.

7) Dzikir akan mengusir setan dan mengekangnya.

8) Dzikir dapat menghapus dosa dan menyelamatkan manusia dari azab Allah.

9) Menerangi hati dan wajah menjadi bersinar.

10) Dzikir dapat menghindarkan dari sifat munafik dan sifat buruk lainnya.

Selain yang disebutkan diatas, masih banyak lagi manfaat dari kekuatan dzikir dalam kehidupan kita di dunia maupun di akhirat nanti. Dzikir bisa menjadi cahaya ketika manusia telah berada di alam kubur.

Dzikir adalah ibadah yang paling ringan dan sangat mulia. Ibarat sebuah bangunan, dzikir adalah pondasinya. Bisa dibayangkan apabila sebuah bangunan tanpa pondasi tentunya akan hancur. Seperti itulah kekuatan dzikir. Begitu pentingnya dzikir, sehingga, tidak ada alasan apapun bagi seorang muslim untuk meninggalkan dzikir.

Sebenarnya tak ada waktu khusus yang perlu dipersiapkan untuk berdzikir. Kita bisa berdzikir dimana saja dan kapan saja, entah itu seusai shalat, saat menjelang tidur, dan sebagainya. Yakinlah, sebanyak atau seberat apapun masalah yang kita hadapi, dengan berdzikir Allah akan menunjukkan jalan keluarnya. Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah.


Amalan-Amalan Ketaatan


Ketahuilah bahwa perintah Allah ada yang wajib dan ada yang sunah. Yang wajib merupakan harta po­kok. Dia adalah modal perdagangan yang dengannya na bisa selamat. Sementara yang sunah merupakan laba yang dengannya kita bisa meraih derajat mulia.

Nabi saw. bersabda, “Allah Swt. berfirman, ‘Tidaklah orang­-orang mendekatkan diri pada-Ku dengan melaksanakan apa yang Kuwajibkan pada mereka, dan tidaklah se­orang hamba mendekatkan diri padaku dengan amal­-amal sunah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku su­dah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya yang mendengar, matanya yang melihat, lidahnya yang ber­bicara, tangannya yang memegang, dan kakinya yang berjalan.”

Engkau tidak akan dapat menegakkan perintah Allah, kecuali dengan senantiasa mengawasi hati dan anggota badanmu pada setiap waktu dan pada setiap tarikan nafasmu, dari pagi hingga sore. Ketahuilah bahwa Allah Swt. menangkap isi hatimu, mengawasi lahir dan batin­mu, mengetahui semua lintasan pikiranmu, langkah-lang­kahmu, serta diam dan gerakmu. Saat bergaul dan me­nyendiri, engkau sedang berada di hadapan-Nya. Tidak ada yang diam, dan tak ada yang bergerak, melainkan semuanya diketahui oleh Penguasa langit, Allah Swt.

 “Dia mengetahui khianatnya mata dan apa yang disembunyi­kan hati” (Q.S. Ghafir: 19),
 “Dia Maha Mengetahui yang rahasia dan tersembunyi” (Q.S. Thaha: 7).

Oleh karena itu, hendaklah engkau beradab di hadapan Allah Swt. de­ngan adab seorang hamba yang hina dan berdosa di hadapan-Nya. Berusahalah agar Allah tidak melihatmu sedang melakukan sesuatu yang dilarang dan tidak me­laksanakan apa-apa yang diperintah. Hal itu hanya bisa terwujud jika engkau bisa membagi waktu dan meng­atur wirid-wiridmu dari pagi hingga petang. Jagalah perintah Allah Swt. yang diwajibkan kepadamu, sejak dari bangun tidur hingga engkau kembali ke pemba­ringan.

Menghindari Kesedihan yang Berlebihan

Sedih itu, sedih ini.

Sedih dengan berbagai perkara.

Kematian, kemalangan, kehilangan, cacian dan makian, umpatan orang dan sebagainya.

Ada juga yang bersedih dengan rupa parasnya, bersedih dengan kejadiannya, bersedih mengenangkan nasibnya, sedih dengan cara hidupnya.

Tidak kurang juga yang sedih dengan dirinya yang lemah, keimanannya yang rendah, ibadahnya yang sedikit dan sebagainya.

Ada waktu, memang manusia akan merasakan kesedihan.

Mungkin kita pernah membaca ayat ini:

"Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita."
(At-Taubah:40)


Ok, bagaimana jika kita tetap merasa bersedih?

Ini ertinya ada sesuatu yang salah didalam hati kita. Dalam ayat diatas, kita tidak perlu bersedih sebab Allah bersama kita.

Jika kita masih juga bersedih, artinya kita belum merasakan dekatnya dengan Allah Yang dimaksud bersedih bukanlah berarti menangis.

Menangis adalah bermaksud dalam rangka takut dan berharap kepada Allah, supaya kita bebas dari api neraka. Bersedih yang dilarang adalah kesedihan akibat ketidaksabaran, tidak menerima takdir, dan menunjukan kelemahan diri.



Bersedih Itu Adalah Fitrah Manusia


Para Nabi bersedih.

Bahkan Rasulullah saw pun bersedih saat ditinggal oleh orang-orang dicintai dan dicintai beliau.

Namun, para Nabi tidak berlebihan dalam bersedih.

Para Nabi segera bangkit dan kembali berjuang tanpa memanjangkan kesedihan. Tetapi sindrom dari kalangan kita adalah, kita suka memanjangkan kesedihan.

Seakan Allah tidak wujud dalam kehidupan kita.



Bersedih Yang Tidak Diajarkan Dalam Islam


Bersedih (selain takut kerana Allah) tidak diajarkan dalam agama.

Bahkan kita banyak menemui ayat mahupun hadis yang melarang kita untuk bersedih.

"Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
(QS.At-Taubah:40)


"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darjatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”
(QS.Ali ‘Imran:139)


Rasulullah saw pun berdoa untuk agar terhindar dari kesedihan

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran; Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur. Tiada Tuhan kecuali Engkau.”
(HR. Abu Dawud)



Bagaimana Caranya Supaya Kita Tidak Bersedih Lagi?


Jika kita melihat ayat dan hadis yang disebutkan diatas, setidaknya kita sudah memiliki dua kekuatan agar kita tidak terus berada dalam kesedihan.

Pertama:

Dari ayat diatas (At Taubah:40) bahawa cara menghilangkan kesedihan ialah dengan menyedari, mengetahui, dan mengingati bahawa Allah bersama kita.

Jika kita sedar bahawa Allah bersama kita, oleh itu apa yang perlu kita takutkan?

Apa yang membuat kita sedih. Allah Maha Kuasa, Allah Maha Penyayang, Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kita.

Saat kesedihan terus menimpa kita, mungkin kita lupa atau hilang kesedaran, bahawa Allah bersama kita. Untuk itulah kita diperintahkan untuk terus mengingat Allah.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”
(QS Ar Ra’d: 28)


Dari ayat ini, kita sudah mengetahui cara menghilangkan kesedihan, kecemasan, dan ketakutan yaitu bi zikrillah, dengan berzikir memuji Allah.

Saat saya mengalami kesedihan, ketakutan, atau kecemasan, ada tiga kalimat yang sering saya gunakan untuk berzikir.


1. Istighfar, memohon ampun kepada Allah.

2. La haula wala quwwata illa billah (Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)

3. Hasbunallaah wa ni’mal wakiil (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baiknya Pelindung)


Alhamdulillah, kesedihan, kecemasan, dan ketakutan menjadi reda setelah berzikir dengan kalimat-kalimat diatas. Harus diingat, zikir bukan sahaja di mulut tetapi harus sampai masuk ke hati.


Kedua:

Cara menghilangkan kesedihan ialah dengan berdoa seperti dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Nabi pun meminta pertolongan Allah, apa lagi kita, jauh lebih memerlukan pertolongan Allah.

Maka berdoalah.

"Ya Allah, aku memohon perlindungan denganMu daripada keluh kesah dan kesedihan, rasa lemah dan kemalasan, Aku memohon perlindungan denganMu daripada sifat penakut dan kebakhilan, dan aku mohon perlindungan denganMu dari bebanan hutang dan dikuasai seseorang.
(Hadith riwayat Abu Daud)

Doa ini adalah diajarkan Rasulullah kepada Abu Umamah ra sewaktu Baginda mendapati beliau sedang bersedihan didalam masjid.



Kesedihan Adalah Keperluan. Tetapi Tidak Boleh Berlebihan


Sedih memang baik.

Sekali sekala ia melembutkan hati.

Tanda jiwa yang sensitif. Tanda hati yang peka.

Tetapi merendam roh kita ke dalam kesedihan terlalu lama akan mereputkannya.

Apakah alasan untuk memanjangkan kesedihan?

Kesedihan tidak akan pernah menjadi penyelesaian kepada sesuatu masalah. Maka perhatikanlah masalah, bergerak menyelesaikannya.

Jika masalah itu bukan datang dengan penyesalan, sebagai contoh: Kematian rakan karib, guru tercinta, ibu bapa tersayang dan sebagainya, hendaklah tabah dan melangkahlah memandang apa yang masih ada pada kita.

Sesungguhnya seorang mukmin itu tidak sepatutnya bersedih terlalu lama.

Kerana dia ada Allah di sisinya.

Dan kesedihan bukanlah cara seorang hamba Allah mengabdikan diri kepadaNya

Tidak ada Yang Dicintai kecuali Allah

(لا مَحْبُوْبَ إلا الله)
Orang yang meyakini akan merasakan manisnya iman
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَمَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَمَنْ كَانَ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَرْجِعَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ

Ada tiga hal yang barang siapa mengamalkannya, maka ia dapat menemukan manisnya iman, yaitu orang yang mencintai orang lain hanya karena Allah, lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain,tidak suka kembali ke dalam kekufuran (setelah Allah menyelamatkannya) sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka. (Shahih Muslim No.60)

Hati Yang Sejuk

**

Hatim al-Ashom rahimahullah berkata,

“Aku tahu bahwa rezekiku tidak akan dimakan orang lain, karena itu hatiku tenang..
aku tahu bahwa amalku tidak akan dikerjakan orang lain, maka aku sibuk mengerjakannya..
aku tahu kematian akan datang dengan tiba-tiba, maka aku bersiap-siap menyambutnya.. dan
aku tahu bahwa diriku selalu dalam pengawasan Allah, karena itu aku malu kepada-Nya..”

Hilyatul Auliya’ – 8/73

Celaan Hawa Nafsu


Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan:
الهوى ميل الطبع إلى ما يلائمه
“Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya”
(Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

وقد يطلق الهوى بمعنى المحبة والميل مطلقًا، فيدخل فيه الميل إلى الحق وغيره
“Terkadang dimutlakkan penyebutan hawa dengan makna cinta dan kecondongan, maka termasuk di dalamnya kecondongan kepada kebenaran dan selainnya”
(Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/399).

Asy-Sya’bi rahimahullah berkata:
“Hawa nafsu dinamakan al-hawa karena bisa menjerumuskan pemiliknya (ke dalam Neraka-pent)”
(Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3).

Orang yang memperturutkan hawa nafsu, hakikatnya mencari kenikmatan semu dan kepuasan nafsu sesaat di dunia, tanpa berpikir panjang akibatnya, walaupun harus rela kehilangan kenikmatan yang hakiki di dunia dan Akhirat.

Apakah Hawa Nafsu Tercela?

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan dalam kitab tersebut bahwa hawa nafsu diciptakan ada pada diri manusia guna menjaga kelangsungan hidupnya. Sebab, kalaulah tidak ada nafsu makan, minum dan nikah, tentulah manusia akan mati dan punah, karena tidak makan, minum dan menikah.

Hawa nafsu mendorong manusia meraih perkara yang diinginkannya, sedangkan marah mencegahnya dari perkara yang mengganggunya dalam kehidupannya. Maka tidak selayaknya hawa nafsu dicela atau dipuji secara mutlak tanpa pengecualian. Sebagaimana marah tidak boleh dicela atau dipuji secara mutlak pula.



Namun Mengapa Banyak Disebutkan Celaan Terhadap Hawa Nafsu?

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
“Ketika sikap yang sering terjadi pada orang yang mengikuti hawa nafsu, syahwat dan amarah tidak bisa berhenti sampai pada batas mengambil manfaat saja (darinya), karena itulah (banyak) disebutkan nafsu, syahwat dan amarah dalam konteks yang tercela. Karena dominannya bahaya yang ditimbulkannya (dan) jarang orang yang mampu bersikap tengah-tengah dalam hal itu (mengatur nafsu, syahwat, dan amarahnya)”
(Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3).


Ibnu Rajab rahimahullah berkata:



وربما استعمل بمعنى محبة الحق خاصة والانقياد إليه
“Bisa pula digunakan secara khusus untuk makna kecintaan terhadap kebenaran dan tunduk (kepada Allah) dengan mengamalkannya”
(Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/399).

Beliau juga berkata:
و المعروف في استعمال الهوى عند الإطلاق : أنه الميل إلى خلاف الحق
“Makna yang dikenal luas didalam penggunaan kata hawa nafsu secara mutlak, tanpa terikat dalam kondisi tertentu adalah kecondonggan kepada sesuatu yang menyelesihi kebenaran”
(Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/398).

Maksud Ucapan Kedua Ulama Tersebut

Kebanyakan manusia tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya dengan adil, tidak bisa bersikap tengah-tengah antara berlebih-lebihan dan menelantarkan hawa nafsu. Yang sering terjadi adalah seseorang mengikuti hawa nafsu, syahwat dan amarahnya. Karena itulah hawa nafsu sering disebutkan dalam konteks yang tercela.



Kesimpulan Tentang Status Hawa Nafsu

Pada asalnya hawa nafsu itu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang disukainya, lalu jika condongnya kepada sesuatu yang sesuai dengan syari’at, maka terpuji, namun sebaliknya, jika kecondongannya kepada sesuatu yang bertentangan dengan syari’at, maka tercela.

Sedangkan jika disebutkan hawa nafsu secara mutlaq tanpa terikat dalam kondisi tertentu atau disebutkan tentang celaan terhadap hawa nafsu, maka yang dimaksudkan dalam konteks itu adalah hawa nafsu yang tercela.

Jadi, Ia lawan atau kawan?
Dalam menjalani kehidupan, hawa nafsu yang terpuji ibarat teman perjalanan bagi Anda, sedangkan hawa nafsu yang tercela adalah musuh Anda.



Celaan Terhadap Mengikuti Hawa Nafsu dalam Kitabullah

Allah mencela ittiba’ul hawa (mengikuti hawa nafsu) di beberapa ayat yang banyak dalam Al-Qur`an, diantaranya adalah
firman-Nya:



أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”
(Al-Furqaan: 43).

Allah Ta’ala berfirman:


أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُون
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?”
(Al-Jaatsiyah: 23).

Allah Ta’ala berfirman:


فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”
(Al-Qashash:50).


Hawa Nafsu Meliputi Dua Hal: Syubhat dan Syahwat

Mengikuti hawa nafsu yang tercela, bisa dalam masalah beragama (penyakit syubhat) atau dalam masalah syahwat dunia (penyakit syahwat), atau dalam kedua penyakit tersebut sekaligus.

Ulama merinci sebagai berikut:

1. Jika terkait dengan hawa nafsu jenis syubhat, maka bisa sampai menjerumuskan seseorang ke dalam status ahli bid’ah dan dinamakan ahlul ahwa`. Dan kebiasaan salaf menamai ahli bid’ah dengan nama ahlul ahwa`.

2. Adapun hawa nafsu jenis syahwat, maka terbagi dua, yaitu dalam perkara yang mubah, seperti makan, minum, dan pakaian dan bisa juga dalam perkara yang diharamkan, seperti zina, khamr, dan pelakunya dinamakan dengan fajir, fasiq, atau pelaku maksiat.


Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
“Seluruh maksiat tumbuh dari sikap mendahulukan hawa nafsu di atas kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya”,


Beliau juga berkata:
“Dan demikian pula bid’ah, sesungguhnya bid’ah hanyalah muncul dari sikap mendahulukan hawa nafsu di atas syari’at, oleh karena itu mereka disebut dengan ahlul ahwa`. Demikian pula kemaksiatan, sesungguhnya maksiat hanyalah terjadi karena sikap mendahulukan hawa nafsu di atas kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada apa yang Dia cintai”.
(Jami’ul Uluum wal Hikam: 2/397-398).


Mengikuti Hawa Nafsu dalam Beragama (syubhat) Lebih Parah dibandingkan Dalam Urusan Syahwat:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:



واتباع الأهواء في الديانات أعظم من اتباع الأهواء في الشهوات
“Mengikuti hawa nafsu dalam beragama (syubhat) lebih parah dibandingkan Mengikuti hawa nafsu dalam urusan syahwat”
(Al-Istiqomah, Ibnu Taimiyyah)

Tidaklah Allah Subhanahu wa Tala’ala menyebutkan kata “Nafsu” di dalam Kitab-Nya, melainkan dalam bentuk celaan. Nafsu adalah kecenderungan tabiat kepada sesuatu yang dirasa cocok. Kecenderungan ini merupakan suatu bentuk ciptaan yang ada di dalam diri manusia sebagai urgensi keberlangsungan hidupnya.

Kendati mustahil untuk menghilangkan nafsu itu sama sekali, akan tetapi pertempuran yang senantiasa terjadi di dalam diri manusia antara nafsu dan akalnya, menjadikannya sebagai suatu topik yang selalu menarik untuk dibicarakan dan dikaji.


Berikut ini beberapa kiat untuk mengendalikan nafsu, yang telah kami ringkas dan sadur secara bebas dari kitab “Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu”, Al-Imam, Al-‘Allamah Ibnu Qayyim Al-Jauziyah:

1. Harus mempunyai hasrat, sehingga ada rasa cemburu terhadap diri sendiri dan nafsunya.

2. Harus memiliki seteguk kesabaran dalam menghadapi kepahitan yang dirasakan pada saat itu.

3. Memiliki kekuatan jiwa yang bisa mendorongnya untuk meminum seteguk kesabaran itu, sebab semua bentuk keberanian merupakan kesabaran sekalipun hanya sesaat.

4. Mempertimbangkan kelanjutan yang baik dan kesembuhan yang terjadi di kemudian hari.

5. Mempertimbangkan penderitaan yang akan semakin menjadi-jadi, sebagai akibat dari memperturutkan kenikmatan hawa nafsu.

6. Lebih mementingkan kedudukannya disisi Allah dan di hati para hambanya yang beriman daripada menurutkan keinginan hawa nafsunya.

7. Lebih mementingkan kehormatan diri dan kelezatannya daripada kenikmatan sesaat.

8. Memikirkan kebanggaan yang akan diperoleh bila berhasil menaklukkan musuhnya.
Allah suka dan membanggakan hamba-Nya, serta melimpahkan rezeki kepada mereka jika berani menghadapi musuhnya, Sebagaimana firman-Nya (artinya):

“Dan mereka tidak menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskan bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih.”
(At-Taubah; 120)

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.”
(An-Nisa’; 100)

Karena diantara tanda cinta yang tulus dari seorang hamba terhadap Kekasihnya adalah, melibas musuh kekasih-Nya dan mengalahkannya.

9. Harus menyadari bahwa dia diciptakan bukan untuk mementingkan nafsunya, tetapi untuk suatu urusan yang besar dan mulia, yang tak akan bisa dicapai kecuali dengan menentang hawa nafsunya.

10. Manusia diberikan akal sebagai alat yang dapat membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang akan membahayakan dirinya. Sangat berbeda dengan hewan yang tidak diberikan perangkat alat tersebut dalam menikmati makan, minum dan hubungan seksual sehingga mereka tidak mengetahui akibat kesudahannya (hanya sekedar mengikuti naluri dan tabiatnya).

11. Melibatkan hati dalam mempertimbangkan akibat nafsu, sehingga dia bisa mengetahui seberapa banyak nafsu itu dapat melalaikan keta’atan dan berapa banyak kehinaan yang akan didatangkannya. Betapa sering syahwat yang sedikit menghancurkan kehormatan seseorang, menundukkan kepala, serta mengabadikan kenangan yang buruk.

12. Orang yang berakal harus mampu menggambarkan tujuan mewujudkan nafsu itu, dan menggambarkan keadaan dirinya setelah memenuhi tuntutan tersebut dan apa yang hilang / “tercabut” dari dirinya.

13. Harus mampu mengambil pelajaran dari orang lain yang pernah melakukan perbuatan yang sama.

14. Harus memikirkan apa yang dituntut jiwanya, lalu bertanya kepada akal dan agamanya, yang nantinya akan memberitahukan bahwa, apa yang dituntut itu sebenarnya tidak mempunyai arti apa-apa.

Abdullah bin Mas’ad Radhiyallahu ‘Anhu pernah berkata:
“Jika salah seorang diantara kalian tertarik kepada seorang wanita, maka hendaklah dia mengingat-ingat kebusukannya.”

15. Tidaklah seseorang memperturutkan hawa nafsunya, melainkan pasti akan mendapatkan kehinaan pada dirinya. Jangan tertipu dengan kehebatan dan kesombongan orang-orang yang mengikuti nafsunya, padahal dilihat dari sisi bathinnya mereka adalah orang-orang yang paling hina-dina.

16. Pertimbangkanlah keselamatan Agama, kehormatan, harta dan kedudukan dengan kenikmatan yang didapatkan. Antara keduanya tidak ada perimbangan sama sekali.

17. Menggambarkan kehinaan dirinya andaikata dia berada dibawah kekuasaan musuhnya. Jika dia memiliki kekuatan, semangat dan kemuliaan jiwa, maka syaithan tidak akan tertarik kepadanya dan tidak akan mampu mengganggunya kecuali dengan cara mencuri-curi.

18. Harus mengetahui, bahwa tidaklah nafsu itu mencampuri sesuatu melainkan ia akan merusaknya. Jika nafsu mencampuri ilmu, maka ia akan mengeluarkannya kepada bid’ah dan kesesatan, pelakunya mengikuti orang-orang yang mengikuti nafsu. Jika nafsu mencampuri zuhud, maka ia mengeluarkan pelakunya kepada riya dan menyelisihi Sunnah. Jika nafsu mencampuri hukum, maka ia akan mengeluarkan pelakunya kepada kezhaliman dan penentang kebenaran.

19. Harus mengetahui, bahwa syaithan tidak mempunyai jalan masuk kedalam diri anak Adam, melainkan melalui pintu nafsu.

20. Allah menjadikan nafsu sebagai penentang apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan menjadikan para pengikut nafsu sebagai musuh para pengikut Rasul. Karena manusia itu bisa dibagi menjadi dua bagian: Pengikut Wahyu dan Pengikut Nafsu. Hal ini banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an.

Firman Allah:
“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka.”
(Al-Qashash; 50)

“Dan, jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”
(Al-Baqarah; 120)

21. Allah menyerupakan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dengan hewan yang paling buruk, baik rupa maupun perangainya. Terkadang Allah menyerupakan mereka dengan anjing, seperti
firman-Nya (artinya):

“Tetapi dia cenderung kepada dunia dan memperturutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dia mengulurkan lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).”
(Al-A’raf; 176)

“Seakan-akan mereka itu kelelawar liar yang lari terkejut, lari daripada singa.”
(Al-Muddatstsir; 50-51)
Terkadang rupa mereka dirubah Allah menjadi kera, dan terkadang menjadi babi.

22. Pengikut nafsu tidak layak untuk dita’ati, tidak patut menjadi pemimpin dan diikuti. Sesungguhnya Allah menghindarkannya dari kepemimpinan dan melarang keta’atan kepadanya, seperti
firman-Nya (artinya):
“...Janji-Ku ini tidak mengenai orang yang zhalim.”
(Al-Baqarah; 124).
Setiap orang yang mengikuti hawa nafsunya, maka dia adalah orang yang zhalim.

“Tetapi orang-orang yang zhalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan.”
(Ar-Rum; 29)

Larangan keta’atan kepadanya seperti firman Allah (artinya):

“Dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta memperturutkan hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas.”
(Al-Kahfi; 28)

23. Allah menempatkan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya sama dengan kedudukan penyembah berhala

“Terangkanlah kepada-Ku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya.”
(Al-Furqan; 43)

24. Nafsu adalah dinding pagar yang melingkari neraka Jahannam. Barangsiapa terseret ke dalam nafsu, berarti dia terseret ke dalam neraka.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (artinya):

“Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai, dan neraka itu dikelilingi dengan berbagai macam syahwat.”

25. Orang yang mengikuti hawa nafsunya dikhawatirkan akan terlepas dari iman, sementara dia tidak menyadarinya, ,sebagaimana disebutkan di dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (artinya):

“Seseorang diantara kalian tidak beriman sehingga keinginannya mengikuti apa yang aku bawa.”

“Ketakutan yang paling kutakutkan atas kalian adalah godaan dalam perut dan kemaluan kalian serta hawa nafsu.”

26. Mengikuti hawa nafsu termasuk tindakan yang merusak

“Ada tiga perkara yang merusak dan tiga perkara yang menyelamatkan. Tiga perkara yang merusak adalah kekikiran yang diikuti, hawa nafsu yang diperturutkan dan ketaajuban seseorang terhadap diri sendiri.
Tiga perkara yang menyelamatkan adalah, takwa kepada Allah disaat terang-terangan dan sembunyi-sembunyi, bersikap adil dikala marah dan ridha, kesederhanaan disaat miskin dan kaya.”
(Al-Hadits)

27. Menentang hawa nafsu menghasilkan kekuatan tubuh, hati dan lidah manusia.
Selagi seseorang membiasakan dirinya untuk menentang hawa nafsunya, berarti dia menambah kekuatan di atas kekuatan yang sudah ada.

“Orang yang kuat itu bukanlah karena dengan bergulat, tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang mampu menguasai dirinya tatkala sedang marah.”
(HR. Bukhari-Muslim dan Ahmad).

28. Orang yang paling kesatria adalah orang yang paling keras menentang hawa nafsunya.

29. Tidak ada satu hari pun yang berlalu melainkan nafsu dan akal saling bergulat pada diri seseorang. Mana yang dapat mengalahkan rivalnya, maka dia akan mengusirnya dan menguasainya.

30. Sesungguhnya Allah menjadikan kesalahan dan mengikuti hawa nafsu sebagai dua hal yang berdampingan, dan menjadikan kebenaran dan menentang nafsu sebagai dua hal yang berdampingan pula.

31. Nafsu itu merupakan penyakit dan obat penawarnya adalah menentangnya dan meninggalkannya.

32. Memerangi nafsu lebih hebat dan lebih besar daripada memerangi orang-orang kafir.
Seseorang bertanya kepada Al-Hasan Al-Basri:
“Wahai Abu Said, apakah jihad yang paling utama?” Dia menjawab, “Jihadmu memerangi hawa nafsumu.”
Jihad memerangi nafsu adalah dasar jihad dalam memerangi orang-orang kafir dan munafik.

33. Nafsu itu merupakan kegoncangan dan kebingungan, sedangkan memerangi nafsu merupakan pertahanan diri.

34. Mengikuti nafsu bisa menutup pintu taufik dan membukakan pintu penyesalan. Padahal dia menyukai jika Allah memberinya taufik, seandainya dia berbuat begini dan begitu. Sementara Allah telah menutup pintu taufik karena dia mengikuti hawa nafsunya.

Al-Fudhail bin Iyadh berkata:
“Barangsiapa mengikuti nafsu dan memperturutkan syahwatnya, maka terputuslah tali taufik dari dirinya.”

35. Barangsiapa yang memanjakan nafsunya, maka dia akan merusak akal dan pikirannya. Sebab dia telah mengkhianati Allah dalam penggunaan akal, sehingga Allah merusak akalnya.

Al-Mu’thasim berkata:
“Jika nafsu dimanja, maka pikiran menjadi sirna.”

36. Barangsiapa melapangkan dirinya untuk mengikuti hawa nafsu, maka dia akan disempitkan di dalam kuburnya dan saat kembalinya. Barangsiapa menyempitkan dirinya dengan cara menentang nafsu, maka akan dilapangkan kuburnya dan tempat kembalinya.

37. Mengikuti nafsu membuat hamba tidak bisa bangkit untuk mencapai surga bersama-sama dengan orang-orang yang berhasil meraihnya.

38. Mengikuti nafsu bisa mengendorkan semangat, dan menentang nafsu bisa menguatkan semangat. Semangat merupakan tunggangan hamba, yang membawanya kepada Allah dan Hari Akhirat. Jika tunggangannya lemah dan tak berdaya, saat itu pula perjalanan menjadi terhenti.

Yahya bin Mu’az pernah ditanya:
“Siapakah yang paling benar semangatnya?” Dia menjawab, “Orang yang menundukkan nafsunya.”

39. Seorang yang Arif Bijaksana berkata: “Tunggangan yang paling cepat ke surga adalah zuhud di dunia, dan tunggangan yang paling cepat ke neraka ialah mencintai syahwat.”

40. Tauhid dan mengikuti hawa nafsu merupakan dua hal yang saling bertentangan. Nafsu itu ibarat berhala. Setiap hamba mempunyai berhala di dalam hatinya menurut hawa nafsunya. Allah mengutus Rasul-Rasul-Nya untuk menghancurkan berhala dan memerintahkan untuk menyembah-Nya semata, tanpa ada sekutu bagi-Nya.

Hasan bin Al-Muththawwiy berkata:
“Berhala setiap manusia adalah nafsunya. Barangsiapa menghancurkan berhala itu dengan cara menentangnya, maka dia layak disebut pemberani.”

Hal ini sesuai dengan berhala-berhala yang diinginkan hati dan yang disembah secara tekun selain Allah.
Firman-Nya (artinya):

“Terangkanlah kepada-Ku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (daripada binatang ternak itu).”
(Al-Furqan; 43-44)

41. Menentang nafsu bisa melenyapkan penyakit dari hati dan badan, sedangkan mengikuti nafsu bisa mendatangkan penyakit bagi hati dan badan.

42. Dasar permusuhan, kejahatan dan kedengkian yang muncul dikalangan manusia ialah karena mengikuti nafsu. Siapa yang menentang nafsunya, berarti dia membuat hati dan badannya menjadi tenteram dan sehat.

43. Allah menciptakan nafsu dan akal di dalam diri manusia. Mana yang menang diantara keduanya, maka yang lain akan menyingkir.
Ali bin Sahl berkata:
“Akal dan nafsu saling bermusuhan. Taufik merupakan kesudahan akal dan penyesalan merupakan kesudahan nafsu. Jiwa berada diantara keduanya. Mana yang tampil sebagai pemenang, maka jiwa akan mengikutinya.”

44. Allah menjadikan hati sebagai raja bagi anggota badan, tambang pengetahuan, cinta dan ibadahnya, lalu Dia mengujinya dengan dua kekuasaan, dua pasukan dan dua pendukung: Kebenaran, Zuhud dan Petunjuk merupakan satu kekuasaan, pendukungnya Para Malaikat, pasukannya Kejujuran, Ikhlas dan Menjauhi Nafsu.

Sedangkan Kebathilan merupakan kekuasaan satunya lagi, para pendukungnya adalah Syaithan,pasukannya adalah mengikuti hawa nafsu. Sementara jiwa berada diantara dua pasukan ini. Pasukan kebathilan tidak berani maju mendekati hati kecuali melalui jiwa.

45. Musuh terbesar bagi seseorang adalah syaithan dan hawa nafsunya. Sedangkan rekan yang paling dipercaya adalah akalnya dan kekuasaan yang memberikan nasihat kepadanya.

46. Setiap manusia mempunyai permulaan dan kesudahan. Barangsiapa yang permulaannya ditandai dengan mengikuti hawa nafsu, maka kesudahannya adalah kehinaan, kemerosotan dan bencana, tergantung seberapa jauh dia mengikuti hawa nafsunya.

Sedangkan di akhirat Allah menjadikan Surga sebagai kesudahan bagi orang-orang yang menentang hawa nafsunya, dan Neraka sebagai kesudahan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya.

47. Nafsu merupakan budak hati, belenggu di leher dan tali di kaki. Orang yang mengikuti nafsu menjadi tawanan dari penguasa yang buruk, dan siapa yang menentang nafsu bisa bebas dari perbudakan dan menjadi orang yang merdeka.

Dikatakan dalam sebuah sya’ir:
"Orang yang mengikuti syahwat adalah hamba sahaya
Namun jika syahwat ditaklukkan dia kan menjadi raja

48. Menentang nafsu bisa menempatkan hamba pada suatu kedudukan, yang jika ia memohon kepada Allah pasti akan dikabulkan, sehingga Dia memenuhi segala kebutuhannya sekian kali lipat dari nafsu yang ditinggalkannya. Dia itu bisa diibaratkan orang yang tidak menyukai kotoran hewan, lalu diganti dengan Mutiara.

49. Menentang nafsu pasti akan mendatangkan kemuliaan di dunia dan kemuliaan di akhirat, keperkasaan lahir dan bathin. Sedangkan mengikuti nafsu akan menghinakan manusia di dunia dan di akhirat, lahir dan bathin.

50. Tujuh Golongan orang-orang yang mendapat perlindungan ‘Arsy Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari yang tiada perlindungan selain perlindungan-Nya, maka engkau akan mendapati bahwa mereka mendapatkan perlindungan itu semua karena menentang hawa nafsunya.


melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...