ALLAH ASH SHABUUR

Saudaraku, ketika kita melakukan kesalahan, bahkan berulang dan berulang dalam ragam kesalahan lainnya sehingga
menyalahi hukum syariat-Nya dan belum sempat bertaubat, Allah juga tidak kunjung memberikan balasan berupa kesulitan atau teguran atau ujian apapun, apakah kemudian kita menyangka bahwa Allah tidak peduli terhadap dosa dan kesalahan kita yang berketerusan tersebut? Tidak, saudaraku.

Sekali lagi tidak. Allah tidak segera mendatangkan balasanNya tersebut karena Allah maha sabar yang kesabaran-Nya sempurna dan tanpa batas. Allah menanti pertaubatan kita: Allah menunggu agar kita segera kembali ke jalan-Nya saja. Jadi persoalannya pada kita, mau sampai kapan? berketerusan jauh dari-Nya, padahal usia dan kesempatan hidup di dunia sangat terbatas. Maka kini saatnya bertaubat, meski kesabaran Allah
melampaui murka-Nya.

Referensi: Buku Edukasi Asmaul Husna Oleh Sri Suyanta.

ALLAH AR RASYIID

Ar-Rasyiid secara bebas dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha menunjuki pada jalan yang benar. Allah lah zat yang maha pembimbing yang memberi bimbingan pada kebenaran.

Allah berfirman yang artinya, Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah
kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah.

Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan Barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun
yang dapat memberi petunjuk kepadanya (Qs. al-Kahfi: 17).

ALLAH AL WAARITS

Al-Waarits secara bebas dimaknai bahwa Allah adalah zat yang maha mewarisi segala sesuatu. Karena hanya Allah lah
tempat berasal dan tempat kembali semua yang ada: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Sesungguhnya kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Bila manusia memiliki harta, tahta, keluarga, maka mesti diyakini bahwa kepemilikannya sementara, dan seandainya waris mewarisi pun juga sementara, hanya hak pakai dan hak
guna, maka yang hakiki Sang Pemilik Sejati hanyalah Allah. Inilah Allah sebagai zat yang maha mewarisi.

Allah berfirman yang artinya, Dan sesungguhnya benarbenar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami
(pulalah) yang mewarisi” (Qs. al-Hijr: 23). 

ALLAH AL BAAQII

 Al-Baaqii secara bebas dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha kekal, baik
zat, sifat maupun af’al atau perbuatan-Nya. Pada ranah zat-Nya, misalnya, Allah adalah zat yang maha suci, maha mulia, maha kaya, maha besar, maha agung, maha kaya, maha tinggi, maha sempurna selama-lamanya.

Pada ranah sifat-Nya, misalnya, Allah adalah zat yang maha pengasih, maha penyayang, maha adil, maha penyantun, maha bijaksana, maha pelindung, maha penolong, maha pemberi keselamatan selama-lamanya. Pada ranah af’’al atau perbuatanNya, misalnya, Allah adalah zat yang maha mengayakan hamba-hamba-Nya, maha menghidupkan, maha mewafatkan, maha menyaksikan, maha memaafkan, maha mengangkat atau
menurunkan derajat siapapun yang dikehendaki-Nya, maha mengaruniai rezeki, maha menghidayahi hamba-hamba-Nya selama-lamanya

ALLAH AL BAADII'U

Al-Badii”u secara bebas dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha menciptakan segala sesuatu yang tidak ada bandingannya, baik dalam jenisnya, aneka ragamnya, bentuknya, keindahannya
maupun karakteristik yang melekat pada makhluk-Nya. Allah menciptakan bumi, langit, laut dan alam semesta dengan sangat indah yang tidak ada contoh sebelumnya sekaligus tidak ada bandingan setelahnya. Allah juga menciptakan manusia, malaikat, setan, binatang, tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam yang sangat mengangumkan karena keunikannya dan
tidak ada contoh sebelumnya dan bandingan setelahnya.

Allah berfirman yang artinya, Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!”
Lalu jadilah ia (Qs. al-Baqarah: 117).

ALLAH AL HAADII

Al-Haadii secara bebas dipahami bahwa
Allah adalah zat yang maha menunjuki hamba-hamba-Nya pada jalan yang benar membahagiakan. Allah adalah zat yamg maha pemberi hidayah kepada sesiapapun yang dikehendaki-Nya. 

Al-Qur’an Allah Swt. berfirman, yang artinya “Dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong” (Qs. alFurqan: 31) Di tempat lain Allah juga berfirman yang maknanya, Musa berkata: “Tuhan Kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (Qs. Thahaa: 50).

ALLAH AN NUUR

An-Nuur secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha bercahaya, sumber segala cahaya, dan zat yang maha mengaruniai cahaya kepada siapapun yang dikehendaki-Nya, cahaya-Nya maha sempurna.

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.  Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang 
tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di  dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) 
seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon  yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di 
sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya),  yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah  membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (Qs. an-Nur: 35).

ALLAH ANNAAFII'

An-Naafii’ secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha pemberi manfaat kepada hamba-hamba-Nya. Allahlah zat yang maha mendatangkan kebaikan bagi hamba-hamba-Nya atas
segala sesuatu. Allah berfirman yang artinya, Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: “Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah
ampunan untuk kami”; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah
jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Qs. al-Fath: 11).

ALLAH ADH DHAAR

Ad-Dhaar secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mendatangkan kemudharatan kepada sesiapapun yang menolak ajaran-Nya, mengingkari titah-Nya, dan apalagi
yang mengangkangi aturan-Nya. Allah berkuasa mendatangkan keburukan, kesedihan, penderitaan, musibah, kecelakaan, penyakit dan segala hal yang menimbulkan penderitaan kepada
sesiapapun yang mengingkari syariat-Nya.
Allah berfirman yang artinya, Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang
menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas
tiap-tiap sesuatu (Qs. al-An’am: l17).

ALLAH AL MAANI'

Al-Maani' secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha menjaga, maha melindungi hamba-hamba-Nya dari
gangguan dan dari segala yang dapat membayakan dirinya. Di samping itu, dengan al-Maani', Allah juga zat maha mencegah hamba-hamba-Nya dari segala perilaku jahat dan maksiat.
Sehingga hamba-hamba-Nya terhindar dari perilaku dosa yang hanya skan mencelakakan dirinya saja. Allah berfirman yang artinya, ”Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak
kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu
dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (Qs. al-Mâ`idah: 67).

ALLAH AL MUGHNII

Dengan al-mughnii, Allah memberi kekayaan kepada sesiapapun yang dikehendaki. Allah melimpahkan karunia-Nya berupa harta tahta dan keluarga kepada hamba-hamba pilihanNya, sehingga kaya harta dan kaya anak juga sanak saudara. Allah mencuhkan ilmu dan kebijakan kepada orang-orang terpilih, sehingga kaya ilmu dan arif bijaksana. Allah juga yang menganugerahkan rasa bahagia di hati hamba-hamba tetbaikNya, sehingga kaya hatinya.

Berkaitan dengan al-Ghaniyy, Allah berfirman yang artinya Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang
yang diberikitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertawakallah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha
Terpuji (Qs. an-Nisa’: 131).

ALLAH AL GHANIYY

Al-Ghaniyy secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha kaya, segala kerajaan di tangan-Nya, dan seluruh alam
dalam kekuasaan-Nya.

Allah berfirman yang artinya Padanya terhadap tandatanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa
memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa
mengingkari (kewajibannya haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam (Qs.Ali Imran: 97).

ALLAH AL JAAMI'

Allah Al Jaami' secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha
mengumpulkan, menghimpunkan manusia baik di dunia maupun di akhirat kelak. Allah juga yang menghimpun tulang belulang yang berserakan atau tak terlihat lagi guna dibangkitkan untuk menerima putusan dari pengadilan ilahi di Padang Mahsyar.

Allah berfirman yang artinya, ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tidak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya
Allah tidak menyalahi janji (Qs. Ali Imran: 9)

ALLAH AL MUQSITH

Dengan ragam normativitas di atas, maka Allah juga menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berlaku adil” (Qs. al-Hujurat: 9).

Adapun al-Muqsith dijelaskan pada beberapa ayat, yang artinya Hanya kepada-Nyalah kamu semua akan kembali; sebagai janji yang besar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan
makhluk yang permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia
memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal shalih dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka (Qs. Yunus: 4).

ALLAH DZUL JALAALI WAL IKRAAM

Dzul Jalaali wal Ikraam tersusun dari tiga kata kunci, yaitu dzu yang diartikan memiliki atau yang memiliki, al-jalal berarti
keagungan atau kebesaran dan ikram yang bermakna kemuliaan karena memiliki kemurahan. Dengan demikian Allah adalah zat yang maha agung, maha besar dan maha mulia. Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya, Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (Qs. al-Rahmaan: 27).

ALLAH MALIKUL MULK

Dalam konteks Malikul Mulk, kita diingatkan bahwa Allah itu raja yang merajai atau penguasa yang menguasai kehidupan di jagad raya ini maupun kehidupan di akhirat nanti. Oleh
karenanya kekuasaan Allah atas makhluk-Nya, baik makhluk berupa alam dunia seisinya maupun alam akhirat seisinya itu
sempurna, tanpa batas, dan serba meliputi.

Allah berfirman Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang
menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Qs. al-Mulk: 1-2). Tiadakah kamu mengetahui
bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang
penolong (Qs. al-Baqarah: 107).

ALLAH AR RA'UUF

Ar-Ra’uuf secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha welas asih. Allah maha mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya dan maha memenuhi segala hajad dan kebutuhannya, meskipun tidak diminta oleh yang bersangkutan
sekalipun. Apalagi bagi hamba-hamba-Nya yang mau memohon pertolongan-Nya.
Dalam konteks ar-Ra’uuf, Allah berfirman yang artinya, Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi
atas (perbuatan kamu). Dan kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang
membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk
oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha penyayang kepada manusia (Qs. al-Baqarah: 143).

ALLAH AL 'AFUWW

Al-Ghaffaar, al-Ghafuur, dan istilah maghfirah untuk
menyatakan bahwa Allah maha mengampuni dosa namun dosa
itu masih ada. Mengapa? Karena dosa tersebut hanya ditutupi oleh Allah sehingga tidak kelihatan dari pandangan makhluk. Dengan kemurahan-Nya, Allah juga tidak menyiksa seseorang karena dosa tersebut, tapi dosa itu masih ada. Nah dosa akan diampuni dan dihapus sehingga tidak ada lagi diperuntukkan
bagi Allah al-’Afuww. Karena dosa sudah dihapus maka dosa yang dilakukan sudah tidak ada; seolah-olah, ia tidak pernah
melakukan kesalahan. Karena dosa itu telah dihilangkan dan dihapuskan sehingga bekasnya juga tidak terlihat lagi. Dengan demikian mengampuni dengan melebur dosanya lebih istimewa
ketimbang memaafkan dengan sekedar menutupi dosa saja.

ALLAH AL MUNTAQIM

AlMuntaqim secara umum dipahami bahwa Allah maha membalasi kejahatan, penyiksa terhadap orang-orang yang jahat. Padahal sebelumnya Allah membuka pintu dan menanti orang-orang yang jahat dan lupa diri, orang-orang yang masih jauh untuk segera kembali kepada Allah, bertaubat (taba ila Allah). Karena
tidak juga bertaubat, maka siksaan Allah berlaku atasnya.

ALLAH AT TAWWAAB

AtTawwaab secara umum dipahami bahwa Allah maha penerima taubat. Allah membuka pintu dan menanti orang-orang beriman, menunggu orang-orang yang lupa diri, orang-orang yang masih jauh untuk segera kembali mendekat dan menujup kepada Allah, bertaubat (taba ila Allah).
Kita seyogyanya mengambil ibrah dari pengalaman adanya pelangharan yang dilakukan nenek moyang manusia, Nabi Adam dan Siti Hawa. Allah berfirman yang artinya Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi maha
Penyayang (Qs. al-Baqarah: 37).

ALLAH AL BARRU

Al-Barru secara umum dipahami bahwa Allah maha baik, maha dermawan, Allah maha tahu keperluan kita dan kadarnya. Allah berfirman yang artinya, “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” (Qs. Ibrahim: 34).

ALLAH AL MUTA'AALII

Al-Muta’aalii secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Tinggi yang senantiasa meninggikan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah kuasa mengangkat derajat hambahamba-Nya kepada kedudukan (maqam) kemuliaan. Seperti di antaranya dijelaskan dalam al-Qur’an bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan.

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila
dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Qs. alMujadalah: 11).

ALLAH AL WAALI

Al-Waali secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha dekat, karena saking dekatnya, maka Allah menjadi
pelindung (Allah maha pelindung), menjadi penolong (Allah maha penolong) terhadap hamba-hamba-Nya. Oleh karenanya
kita harus berhati-hati, jangan sampai mencari perlindungan kepada selain Allah. Allah berfirman yang artinya, Orang-orang
Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ”Sesungguhnya petunjuk Allah? itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan kapadamu, maka Allah tidak lagi menjadi perlindungan dan penolong bagimu (Qs. al-Baqarah: 120).

ALLAH AL BAATHIN

Al-Baathin secara umum dipahami bahwa
Allah adalah zat yang maha tersembunyi, maha menyembunyikan segala yang dikehendaki-Nya. Allah maha bathin, Allah yang tersembunyi sehingga Allah maha dekat dengan hamba-hambaNya. Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya, Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin, dan Dia Maha
Mengetahui segala sesuatu” (Qs. al-Hadid: 3).

ALLAH AZH ZHAAHIR

 AzZhaahir secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha nyata adanya. Karena sangat nyata, maka justru tak terlihat oleh mata lahir kita, tapi akan nampak jelas pada mata batin kita. Seperti halnya, mata lahir kita justru tidak bisa melihat apa-apa ketika kita menatap melihat matahari yang tengah menyala di waktu dhuhur tiba. Matahari ciptaan-Nya saja yang begitu besar, justru tidak sanggup terlihat, apalagi Allah zat yang
menciptakannya. Inilah Allah sebagai zat yang maha zahir. Allah berfirman yang artinya, Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Qs. al-Hadid: 3). 

ALLAH AL AAKHIR

AlAakhir secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha 
akhir tidak berkesudahan alias kekal abadi. Allah berfirman yang 
artinya, Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang  Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Qs. al-Hadid: 3).

ALLAH AL AWWAL

Al-Awwal secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha awal, tidak ada sesuatupun dan sesiapapun yang
mendahului-Nya. Oleh karenanya Allah sebagai Prima Causa, bahwa segala sesuatu adanya disebabkan karena diadakan olehNya. Allah juga tidak berhajad pada apapun dan sesiapapun, dan justru sebaliknya apapun dan sesiapapun berhajad pada Allah
swt. Inilah Allah yang maha awal. Allah berfirman yang artinya, Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin,
dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Qs. al-Hadid: 3).

ALLAH AL MUAKKHIR

Al-Mu’akkhir secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang
maha mengakhirkan apa dan siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Siapa saja yang dikehendaki-Nya ini tentu merupakan respon atas keteledoran manusia yang telah menempatkan Allah di
akhir prioritas hidupnya. Karena manusia mengakhirkan Allah, maka Allah pun nengakhirkan dirinya dari rahmat-Nya. Karena manusia melupakan Allah, maka Allah pun melupakannya. Karena manusia menjauhi Allah, maka Allah pun jauh darinya dan seterusnya.

Allah mengingatkan dalam firman-Nya yang artinya, Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka
sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik” (Qs. al-Hasyr: 18-19).

ALLAH AL MUQADDIM

Al-Muqaddim dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mendahulukan atas apapun berdasarkan kemahabijakan-Nya.
Hal apapun, baik yang didahulukan maupun yang tidak adalah otoritas kemahamutlakan Allah.

Allah berfirman yang artinya, Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (Qs. al-A’râf: 34). 

ALLAH AL MUQTADIR

Secara terminologi, al-Muqtadir
memiliki asal kata yang sama dengan al-Qaadir asmaul husnaNya Allah yang keenampuluh sembilan tema muhasabah yang baru lalu, yaitu qadara dan darinya muncul qudrah. Bila alQaadir dimaknai bahwa Zat Allah lah yang memiliki qudrah atau kemampuan, maka al-Muqtadir untuk lebih menyatakan bahwa kemampuan, kekuasaan atau qudrah Allah tidak ada batasnya, tidak ada sandingan, bandingan dan tandingannya.

Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya, Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia
sebagai air hujan yang kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu (Qs. alKahfi: 45).

ALLAH AL QAADIR

Al-Qaadir dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mampu, Allah maha kuasa, Allah maha menentukan dan Allah maha segala-Nya atas makhluk ciptaan-Nya.
Dalam konteks al-Qaadir, Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya, dan mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata: “Mengapa tidak diurunkan kepadanya (Muhammad) sesuatu mukjizat dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah Kuasa menurunkan sesuatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (Qs. al-An’am: 37).

ALLAH ASH SHAMAD

As-Shamad dimaknai bahwa Allah adalah Zat tempat berlindung, Allah adalah tujuan, Allah sebagai zat yang bergantung semua makhluk. Mengapa? Karena semua makhluk diciptakan oleh Allah. Maka logikanya hanya kepada penciptaNya saja manusia berserah diri dan meminta pertolongan. Dalam surat al-Ikhlas, Allah berfirman yang artinya, Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Dzat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula
diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

ALLAH AL AHAD

Makna al-’Ahad terjalin berkelindan dengan al-Wahid sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Bila al-Wahid lebih cenderung dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Pertama, zat Yang Maha Nomor Satu; maka al-’Ahad dipahami bahwa Allah adalah yang maha satu-satunya, tidak ada duanya, tidak ada sandingan, bandingan dan tandingann-Nya.

Secara lugas Allah berfirman, qul huwallahu ahad, Katakanlah Dialah Allah yang Maha Esa” (Qs. al-Ikhlas: 1). Di tempat lain, Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya Sesungguhnya kafirlah
orang-orang yang mengatakan: ”Bahwasanya Allah salah seorang
dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Allah yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antaranya mereka
akan ditimpa siksaan yang pedih (Qs. al-Mâ`idah: 73).

ALLAH AL WAHID

Al-Wahid dipahami bahwa Allah maha pertama, esa, Allah itu Satu maka harus dinomorsatukan, dan menjadi tidak etis bila dikemudiankan meskipun dengan alasan apapun juga.

Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ”Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Allah yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antaranya mereka akan ditimpa siksaan yang pedih (Qs. alMâ`idah: 73).

ALLAH AL MAAJID

AlMaajid secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mulia, baik mulia zat-Nya, mulia sifat-Nya maupun mulia perbuatan-Nya.
Kemuliaan Allah pada zat-Nya memantul dalam kesempurnaan eksistensi-Nya, sehingga tidak ada yang menyerupai apalagi menandingi-Nya. Kemuliaan Allah pada sifatNya mewujud dalam seluruh puncak kebaikan adalah milik-Nya saja. Dan kemuliaan Allah pada af’al atau perbuatan-Nya terlihat pada curahan nikmat dan karunia kepada seluruh makhluk-Nya.

Allah berfirman yang maknanya, Para malaikat itu berkata: ”Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, Hai ahlulbait! Seseungguhnya Allah Maha terpuji lagi
Maha Pemurah” (Qs. Hûd: 73). 

Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih,
yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha Mulia, (Qs. al-Buruj: 13-15).

ALLAH AL WAJIID

Allah al-Waajid, karena dengan kekuasaan-Nya Allah yang menciptakan segala yang ada ini, Allah menemukan apapun
yang dikehendaki-Nya. Allah menciptakan segala kebaruan yang ada di alam ini, Allah menemukan dan mengetahui apapun niat, pikiran dan perbuatan yang manusia lakukan.

Allah berfirman yang artinya, Dan orang-orang yang kafir berkata: “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami”.
Katakanlah: “Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang
ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Qs. Saba: 3).

ALLAH AL QAYYUM

Al-Qayyum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mandiri. Allah mandiri dengan sendirinya, baik zat-Nya, sifatNya maupun af’al atau perbuatan-Nya. Allah tidak tergantung kepada apapun dan siapapun, justru tempat bergantung apapun dan siapapun.

Para ulama memberi penegasan bahwa al-Qayyum dapat dimaknai dengan dua makna. Pertama, Allah adalah zat yang
maha mandiri, Allah berdiri sendiri tidak membutuhkan bantuan justru malah membantu, tidak memerlukan sesuatu justru malah diperlukan oleh hamba-hamba-Nya. Kedua, Allah adalah zat yang
maha mengatur dan memenuhi hajat makhluk-Nya. Seluruh yang ada di alam ini teratur karena diatur oleh Allah. Semua
manusia membutuhkan Allah, dari sejak penciptaannya hingga kapanpun jua.

Allah berfirman yang artinya katakanlah, “Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?” Sebenarnya mereka adalah orangorang yang berpaling dari mengingati Rabb mereka (Qs. al-Anbiyâ: 42). 

ALLAH AL HAYYU

Al-Hayyu dipahami bahwa Allah adalah Rabb yang maha hidup, sumber kehidupan, dan maha menghidupkan seluruh makhlukNya. Allah berfirman yang maknanya, adalah Allah, tidak ada
Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)” (Qs. al-Baqarah: 255).

Kesedihan yang sangat

Asy-Syibli mengatakan, "Cinta adalah kenikmatan yang luar biasa dan
kesedihan yang sangat." Asy-Syibli juga mengatakan, "Kerinduan adalah api
yang dinyalakan oleh Allâh dalam hati orang-orang yang menjadi kekasih-
Nya, sehingga dengan api itulah Dia membakar semua perasaan, ungkapan
dan kehendak yang ada dalam hati mereka."
Pahamilah hal itu, niscaya engkau akan memperoleh manfaatnya. Wallahu
a'lam.

HAMBA YANG ALLAH CINTAI DAN DIRINDUKAN.

Diriwayatkan dari seorang ulama salaf, sesungguhnya Allah Ta'ala pernah mengatakan kepada seorang shiddiqin, "Aku mempunyai seorang hamba
di antara hamba-hamba-Ku yang mencintai-Ku dan Aku pun mencintainya.
la merindukan-Ku dan Aku pun merindukannya. Ia mengingat-Ku dan Aku
pun mengingatnya. Ia memandang-Ku dan Aku pun memandangnya. Jika
engkau ikuti jalannya, Aku akan mencintamu. Dan jika engkau menyimpang dari bimbingannya, Aku akan menghukummu."
Orang itu bertanya, "Wahai Rabbku, apa tanda-tanda orang yang Engkau
sebutkan tadi?" Allah berkata, "Ia menjaga bayang-bayang pada siang hari,
seperti seorang penggembala yang dengan penuh kasih sayang menjaga kawanan dombanya. Ia rindu pada terbenamnya matahari, seperti burung-burung yang rindu pada sarangnya saat matahari terbenam. Ketika gelap malam telah menyelimutinya, tikar-tikar telah digelar, tempat-tempat tidur telah dipasang dan setiap kekasih sedang berduaan dengan kekasihnya, ia menegakkan kedua kakinya, menengadahkan wajahnya kepada-Ku, tekun mendengarkan firman-
Ku dan merasa senang atas segala karunia berupa nikmat-Ku, Dan di antara
hamba-Ku itu ada yang menjerit, ada yang menangis, ada yang mengadu, ada
yang mengeluh, ada yang berdiri, duduk, serta ada yang ruku' dan sujud. Di
depan mata-Ku ia tabah demi Aku dan di dekat telinga-Ku ia tidak mengeluh
karena mencintai-Ku. Pertama-tama yang Aku berikan kepadanya ada tiga.
Pertama, aku pasang cahaya-Ku di hatinya, lalu ia menceritakan tentang Aku
sebagaimana Aku pun menceritakan tentang kondisinya. Kedua, seandainya
langit dan bumi serta seluruh isinya dalam timbangannya, niscaya Aku meng-
anggapnya sedikit baginya. Ketiga, Aku hadapkan wajah-Ku kepadanya.
Tahukah engkau, siapa hamba yang Aku hadapkan wajah-Ku kepadanya,
niscaya apa pun yang ia minta pasti Aku berikan kepadanya."

ALLAH AL MUMIIT

Al-Mumiitu dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mengambil nyawa kembali kepada-Nya, Allah yang mematikan
siapapun yang dikehendaki-Nya, baik manusia, jin, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Hidup di dunia ini ada batasnya. Makanya ketika batas itu sudah diliwati, kita menyebutnya
yang bersangkutan telah meninggal (kan) dunia atau yang lazim disebut mati. Tapi mesti diingat, bahwa manusia mati untuk
hidup lagi di akhirat guna mempertangungjawabkan apapun yang telah diperbuat sebelumnya...

Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya? (Qs. al-Mu’minun: 80). Di tempat lain Allah
berfirman yang maknanya, “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan (Qs. al-A’raf: 25).

ALLAH AL MUHYII

Al-Muhyii dipahami bahwa Allah adalah Rabb yang maha menghidupkan, yang maha meniupkan ruh kehidupan pada
makhluk-Nya, yang maha menghidupkan semangat dan yang maha menghdupkan segalanya dari kematiannya. Dalam konteks al-Muhyii, Allah berfirman yang maknanya, Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (Yang memiliki sifat-sifat) demikian
ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? (Qs. al-An’am:95).

ALLAH AL MU'IID

Bila al-Mubdi’ bermakna Allah maha memulai, maha mencipta, maka al-Mu’iid bermakna Allah maha mengembalikan. Allah berfirman yang maknanya Dan
Dialah yang (Mubdi`) menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)-nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana” (Qs. al-Rûm: 27).

ALLAH AL MUBDI'

Al-Mubdi’ dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha memulai, Allah maha kreatif, Allah maha menciptakan
segala hal yang belum pernah ada sebelumnya.

Dalam konteks al-Mubdi’, Allah berfirman yang artinya, Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah memulai
penciptaan (makhluk), kemudian Dia mengulanginya (kembali). Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah (Qs. al-’Ankabut:19).

ALLAH AL MUHSHII

Al-Muhshii merupakan salah satu asmaul husna-Nya Allah yang maknanya sangat dekat dengan al-Hasiib, dimana secara
umum dimaknai bahwa Allah adalah zat yang maha menghitung dengan cermat, Allah maha cepat hisab perhitungan-Nya atas apapun, termasuk atas amalan hamba-hamba-Nya.

Allah berfirman yang maknanya, Supaya Dia mengetahui,bahwa Sesungguhnya Rasul-rasul itu telah menyampaikan
risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu” (Qs. al-Jin: 28).

ALLAH AL HAMIID

Allah adalah zat yang maha terpuji, baik terpuji zatNya, terpuji sifat-Nya maupun terpuji perbuatan-Nya. Dalam serangkaian
asmaul husna, Allah yang maha terpuji disebut dengan asma-Nya al-Hamiid. Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi
dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. dan Dia-lah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui (Qs. al-Saba: 1).

ALLAH AL WALIYY

Al-Waliy dipahami bahwa Allah
adalah zat yang maha dekat, sehingga karenanya kedekatan-Nya, maka Allah maha pelindung dan penolong bagi hamba-hambaNya yang beriman.

Allah berfirman yang artinya, Allah Pelindung orangorang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan
(kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka
itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (Qs. alBaqarah: 257).

ALLAH AL MATIIN

Para ulama menjelaskannya bahwa al-Qawiyyu lebih pada ketiadaan dari cacat, kekurangan dan kelemahan sedikitpun pada Allah, baik pada zat, sifat maupun perbuatan-Nya, dan al-Matiin untuk menjelaskan bahwa kekuatan Allah itu maha dahsyat dan sangat sempurna. Dengan demikian al-Qawiyyu dan al-Matiin bisa saling terjalin berkelindan satu sama lain, sebagaimana asmaul husna lainnya yang menunjukkan kesempurnaan Allah.
Kedahsyatan kekuatan Allah tidak ada yang bisa menolakNya, ketentuan-Nya mengikat, sesuatu yang pasti, dan tidak ada yang kuasa lari dari pada-Nya. Bila Allah menghendaki sesuatu terjadi pada makhluk-Nya, pasti menjadi kenyataan adanya. Bila Allah menurunkan rahmat-Nya, maka tidak ada yang kuasa
menghentikaan-Nya, dan ketika Allah menahannya maka tidak ada yang kuasa meraih-Nya. 

Allah berfirman yang artinya,
Sesungguhnya Allah Dialah maha pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh (Qs. Al-Dzariyat: 58)

ALLAH AL QAWIYYU

Al-Qawiyyu dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha kuat nan perkasa, yang kekuatan-Nya tidak ada ada bandingan,
yang keperkasaan-Nya tidak ada saingannya. Dengan kekuatan-Nya, Allah lah yang menghidupkan dan mematikan seluruh yang makhluk-Nya yang berjiwa; Allah menguasai segala yang ada, Allah melindungi hamba-hambaNya, Allah mencurahkan rezeki untuk semua makhlukNya, Allah mengijabah semua permohonan yang disampaikan kepada-Nya. Allah berfirman dalam al-Qur’an yang maknanya Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki
kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa (Qs. al-Syu’ara: 19). Dan, Allah Maha lembut
terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa
(Qs. al-Syu’ara: 19).

ALLAH AL WAKIIL

AlWakiil dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mewakili, maha membantu, memelihara, melindungi dan menanggung dan memenuhi seluruh kebutuhan makhluk dan hamba-hamba-Nya.
Apalagi hamba-hamba-Nya berhasil bertawakal kepada-Nya. Dan dalam surat Ali Imran: 173 Allah berfirman yang artinya
(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang
kamu, karena itu takutlah kepada mereka“, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik
Pelindung“.

ALLAH AL HAQQ

Al-Haqq dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha benar, bahkan sebagai
Kebenaran itu sendiri. Allah adalah benar Rabb sesembahan kita, benar sebagai pencipta dan pemilik semua yang ada, benar yang mewafatkan kita, benar menjadi penguasa atas segala yang ada
dan seterusnya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat al-An’am: 62, yang
maknanya, Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dialah
Pembuat perhitungan yang paling cepat. Dan dalam surat alHajj: 6, Allah berfirman yang artinya, Yang demikian itu, karena
sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah
Maha Kuasa atas segala suatu.

Risalah Untuk Saudariku Terkasih, Urgensi Menuntut Ilmu


 Ashom bin Muhammad Asy-Syarif
Wahai ukhti muslimah…..
Saya akan kemukakan.nasehat yang utama bagi kalian. Yakni tentang perlunya semangat dalam menuntut ilmu dan tafaqquh fid-din, akan tetapi pada kenyataannya banyak wanita yang tidak sungguh-sungguh dalam belajar, bahkan meninggalkannya (berpaling darinya). Telah menjadi keprihatinan tersendiri dalam benak saya. Oleh karena itu, insya Allah saya akan menjelaskan dan menguraikan urgensi tholibul ilmi dari dalil-dalil Al-Qur’an, disertai ta’liq sederhana.

Ukhti muslimah yang dirahmati-Nya,
Allah سبحانه و تعالى telah banyak memaparkan pentingnya menuntut ilmu dalam deretan firman-Nya yang mengagumkan.

"Artinya : Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." [Ali-Imran :18]

Berkata Imam Al Qurtubi rahimahullah dalam tafsirnya :
"Ayat ini adalah dalil tentang keutaman ilmu dan kemuliaan ulama. Seandainya ada orang yang lebih mulia dari ulama, sungguh Allah akan menyertakan nama-Nya dan nama malaikat-Nya. Allah سبحانه و تعالى berfirman juga kepada Nabi-Nya صلی الله عليه وسلم tentang kemuliaan ilmu."

"Artinya : Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." [Thaha :114]

Maka seandainya ada sesuatu yang lebih mulia daripada ilmu, sungguh Allah سبحانه و تعالى akan memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan akan sesuatu itu, sebagaimana Allah سبحانه و تعالى telah memerintahkan Nabi-Nya صلی الله عليه وسلم untuk meminta tambahan ilmu. [Tafsir Al-Qurthubi hal. 1283]

"Artinya : Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui" [Az-Zumar : 9]

Imam Al Qurtubi rahimahullah berkata :
"Menurut Az-Zujaj رضي الله عنه, maksud ayat tersebut yaitu orang yang tahu berbeda dengan orang yang tidak tahu, demikian juga orang taat tidaklah sama dengan orang bermaksiat. Orang yang mengetahui adalah orang yang dapat mengambil manfaat dari ilmu serta mengamalkannya. Dan orang yang tidak mengambil manfaat dari ilmu serta tidak mengamalkannya, maka ia berada dalam barisan orang yang tidak mengetahui" [Tafsir Al-Qurthubi hal. 5684]

"Artinya : Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." [Al-Mujaadilah : 11]

Imam Al Qurtubi rahimahullah berkata,
"Maksud ayat di atas yaitu, dalam hal pahala di akhirat dan kemuliaan di dunia, Allah سبحانه و تعالى akan meninggikan orang beriman dan berilmu di atas orang yang tidak berilmu. Kata Ibnu Masud, dalam ayat ini Allah سبحانه و تعالى memuji para ulama. Dan makna bahwa Allah سبحانه و تعالى akan meninggikan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat, adalah derajat dalam hal agama, apabila mereka melakukan perintah- perintah Allah" [Tafsir Al-Qurtubi hal. 5070]

"Artinya : Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya, hanyalah ulama." [Al- Fathirv: 28]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
"Maksud ayat di atas adalah, orang yang takut kepada Allah سبحانه و تعالى dengan benar hanyalah ulama yang mengenal-Nya, karena semakin mengenal Allah Yang Maha Agung, Yang Maha Berkuasa, Yang Maha Mengetahui,Yang memiliki sifat kesempurnaan dan kebaikan, maka pengenalan, pengetahuan, dan ketakutan terhadap-Nya akan semakin sempurna" [Tafsir Ibnu Katsir 3/163]

"Artinya : Sesungguhnya al-Quran adalah ayat-ayat yang nyata dalam dada orang-orang yang diberi. Dan tidak mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dholim." [Al-Ankabut : 49]

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata tentang ayat di atas.
"Allah سبحانه و تعالى menyanjung ahli ilmu, memuji dan memuliakan mereka dengan menjadikan kitab-Nya sebagai ayat-ayat yang nyata/jelas dalam dada mereka. Ini merupakan kekhususan dan kebaikan bagi mereka dan tidak bagi yang lainnya." [Miftah Daari As-Sa’adah hal. 1/50]

Dan kata Imam Al Qurtubi rahimahullah.
"Maksud ayat tersebut adalah, Al Quran bukanlah sihir atau syair, seperti yang dikatakan oleh orang-orang batil. Akan tetapi Al Quran adalah tanda dan dalil Allah سبحانه و تعالى. Dalam Al Quran agama dan segala hukum-Nya dapat diketahui. Seperti itulah al-Quran di dalam dada-dada orang yang diberi ilmu. Mereka adalah para sahabat Muhammad صلی الله عليه وسلم. Dan orang-orang yang beriman kepadanya. Mereka berilmu, mampu memahami dan membedakan antara kalamullah, perkataan manusia dan ucapan-ucapan setan" [Tafsir Al-Qurtubi hal. 5070]

"Artinya : Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mumin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." [At-Taubah : 122]

Imam Al-Qurtubi rahimahullah berkata.
"Ayat ini merupakan pokok tentang wajibnya menuntut ilmu. Karena tidak seharusnya orang mukmin itu pergi ke medan perang semua, padahal Nabi صلی الله عليه وسلم tidak, sehingga mereka meninggalkan beliau sendiri. Mereka membatalkan keinginan mereka, setelah mengetahui tidak dibolehkannya pergi secara keseluruhan. Beberapa orang dari tiap-tiap golongan, agar tetap tinggal bersama Nabi untuk mempelajari agama. Sehingga apabila orang- orang yang berperang itu telah kembali, mereka bisa mengabarkan dan meyebarkan pengetahuan ilmu mereka. Dalam ayat ini juga terdapat kewajiban untuk memahami Al Kitab dan Sunnah. Dan kewajiban tersebut adalah kewajiban kifayah bukan wajib ain" [Tafsir Al-Qurtubi hal.3132]

“Artinya : Dan katakanlah:"Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan". [Thaha :114]

Berkata Ibnu Uyainah rahimahullah.
"Rasulullah صلی الله عليه وسلم senantiasa bertambah ilmunya sampai Allah سبحانه و تعالى mewafatkan beliau" [Tafsir Ibnu Katsir 3/167]

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah.
"Dengan hal ini cukuplah merupakan kemuliaan bagi ilmu, yaitu bahwa Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan berupa ilmu" [Miftah Daari As-Sa’adah]

"Artinya : Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." [Al-Anam : 83]

Imam Al Qurtubi rahimahullah berkata.
"Firman Allah, Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat yaitu dengan ilmu, kepahaman dan imamah (kepemimpinan) serta kekuasaan" [Tafsir Al-Qurtubi hal. 2466]

"Artinya : Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu." [An Nisaa : 113]

Berkata Ibnul Qoyyimrahimahullah tentang ayat di atas,
"Allah سبحانه و تعالى menyebutkan kenikmatan-kenikmatan dan karunia-Nya kepada Rasul صلی الله عليه وسلم dan Allah سبحانه و تعالى menjadikan kenikmatan dan karunia-Nya yang paling agung adalah memberinya Al Kitab dan hikmah serta mengajarkan kepadanya apa yang belum diketahuinya."[Miftah Daari As-Sa’adah 1/52]

Demikianlah Ukhti Muslimah
Semoga pemaparan saya kali ini bermanfaat bagi ukhti semuanya. Harapan saya semoga kita masih mendapat kesempatan untuk meniti ilmu-Nya yang maha luas. Amin

[Diterjemahkan oleh Salamah Ummu Ismail, dari Kitab Al-Kalimatun Nafi’at Lil Akhwatil Muslimah hal. 23-28]

[Disalin dari Majalah As Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M. Diterbitkan Oleh Yayasan Lajnah Istiqomah Suarakarta, Alamat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo – Solo 57183]

Apakah itu Taubat?


 Syaikh Ibnu Utsaimin
Pertanyaan:
Apakah itu taubat?

Jawaban:

Taubat adalah kembali dari bermaksiat kepada Allah menuju ketaatan kepadaNya.
Taubat itu disukai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala ,
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (Al-Baqarah: 222).

Taubat itu wajib atas setiap mukmin,

"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya." (At-Tahrim: 8).

Taubat itu salah satu faktor keberuntungan,

"Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (An-Nur: 31).

Keberuntungan ialah mendapatkan apa yang dicarinya dan selamat dari apa yang dikhawatirkannya.

Dengan taubat yang semurni-murninya Allah akan menghapuskan dosa-dosa meskipun besar dan meskipun banyak,

"Katakanlah, 'Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (Az-Zumar: 53).

Jangan berputus asa, wahai saudaraku yang berdosa, dari rahmat Tuhanmu. Sebab pintu taubat masih terbuka hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Allah membentangkan tanganNya pada malam hari agar pelaku dosa pada siang hari bertaubat, dan membentangkan tanganNya pada siang hari agar pelaku dosa pada malam hari bertaubat hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya." (HR. Muslim dalam at-Taubah, no. 2759).

Betapa banyak orang yang bertaubat dari dosa-dosa yang banyak dan besar, lalu Allah menerima taubatnya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

"Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membu-nuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, ber-iman dan mengerjakan amal shalih; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Furqan: 68-70).

Taubat yang murni ialah taubat yang terhimpun padanya lima syarat:

Pertama, Ikhlas karena Allah, dengan meniatkan taubat itu karena mengharapkan wajah Allah dan pahalanya serta selamat dari adzabnya.

Kedua, menyesal atas perbuatan maksiat itu, dengan bersedih karena melakukannya dan berangan-angan bahwa dia tidak pernah melakukannya.

Ketiga, meninggalkan kemaksiatan dengan segera. Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak Allah Subhanahu Wa Ta'ala , maka ia meninggalkannya, jika itu berupa perbuatan haram; dan ia segera mengerjakannya, jika kemaksiatan tersebut adalah meninggalkan kewajiban. Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak makhluk, maka ia segera membebaskan diri darinya, baik dengan mengembalikannya kepada yang berhak maupun meminta maaf kepadanya.

Keempat, bertekad untuk tidak kembali kepada kemaksiatan tersebut di masa yang akan datang.

Kelima, taubat tersebut dilakukan sebelum habis masa penerimaannya, baik ketika ajal datang maupun ketika matahari terbit dari tempat terbenamnya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

"Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, 'Sesungguhnya saya bertaubat sekarang'." (An-Nisa': 18).

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya, maka Allah menerima taubatnya." (HR. Muslim dalam adz-Dzikr wa ad-Du'a', no. 2703)

Ya Allah, berilah kami taufik untuk bertaubat semurni-murninya dan terimalah amalan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
 

Rujukan:
Risalah fi Shifati Shalatin Nabi a, hal. 44-45, Syaikh Ibn Utsaimin.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

TIGA CARA ALLAH MENGABULKAN DOA

Perlu dipahami bahwa setiap do’a yang kita panjatkan—jika memang terpenuhi syarat-syaratnya—niscaya diijabahi. Namun belum tentu yang kita minta bisa persis seperti itu. Boleh jadi Allah beri yang lebih baik. Boleh jadi Allah alihkan ke pilihan lain karena siapa tahu yang kita minta bisa mencelakakan diri kita. Barangkali pula Allah berikan persis sesuai dengan apa yang kita minta. Ini semua tergantung pada hikmah Allah Ta’ala.

Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad 3/18, dari Abu Sa’id; derajat hasan) 

Allah Ta’ala berfirman,
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al Mu’min: 60). 

Boleh jadi Allah mengabulkan do’a tersebut sebagaimana yang diminta. Boleh jadi Allah ganti dengan yang lebih baik. Boleh jadi pula Allah ganti dengan yang lain karena yang kita minta barangkali tidak baik untuk kita.

Jika setiap orang memahami hal ini, maka tentu ia akan terus banyak berdo’a dan banyak memohon pada Allah. Karena setiap do’a yang dipanjatkan pasti bermanfaat. Segala sesuatu yang Allah karuniakan, itulah yang terbaik.

✍🏻 Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
_Reposted by :_ @pesanpositifharian

❀ *Yuk share ✔️, tanpa crop ❗* ❀
__________
Channel telegram https://t.me/pesanpositif 
Instagram @pesanpositifharian
Grup FB : Pesan Positif Harian
Gabung Grup WA 📲 089666148616
(Ketik : Daftar#Nama#L/P#Kota).

DOA SAAT GELISAH

"Tidak ada seorang mukmin yang menderita hamm, atau, ghamm, atau duka cita, lalu ia membaca, 'Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hamba laki-lakiMu, anak hamba perem-puanMu, ubun-ubunku di tanganMu, berlalu hukum Engkau padaku, qadhaMu sangat adil padaku, aku memohon kepadaMu dengan segala nama yang Engkau namakan diriMu dengannya, atau Engkau beritahu kepada seseorang makhlukMu, atau Engkau turunkan dalam kitabMu, atau hanya Engkau yang mengetahuinya dalam ilmu ghaib di sisiMu, jadikanlah al-Qur'an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penerang duka citaku, dan hilangnya hamm (sakit hati)ku.' Melainkan Allah I melapangkan darinya." (HR. Ahmad dalam al-Musnad (3704, 4306))

Surat Dari Ibu Yang Terkoyak Hatinya


 Majalah As-Sunnah
Anaku….
Ini surat dari ibu yang tersayat hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Aku lihat engkau lelaki yang gagah lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh merobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.

Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan aku mengandungmu. Seluruh aktivitas aku jalani dengan susah payah karena kandunganku. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaanku. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat aku melahirkanmu. Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami.

Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatanku demi kesehatanmu. Kegelisahanku demi kebaikanmu. Harapanku hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu.

Masa remaja pun engkau masuki. Kejantananmu semakin terlihat, Aku pun berikhtiar untuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu. Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru.

Seiring perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak diriku telah terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa menit saja untuk melihat anakku.

Ibu sekarang sudah sangat lemah. Punggung sudah membungkuk, gemetar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku. Ibu semakin susah melakukan gerakan.

Anakku…
Seandainya ada yang berbuat baik kepadamu, niscaya ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara Ibu telah sekian lama berbuat baik kepada dirimu. Manakah balasan dan terima kasihmu pada Ibu ? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada Ibu ? Ibu bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi Ibu ? Baiklah, anggap Ibu sebagai pembantu, mana upah Ibu selama ini ?

Anakku..
Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Kapan hatimu memelas dan luluh untuk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan, sekaligus duka dan kesedihan ? Ibu tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada Dzat yang di atas sana. Ibu juga tidak akan menularkan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukuman pun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat. Ibu tidak akan sampai hati melakukannya,

Anakku…
Walaupun bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku…

Anakku…
Perjalanan tahun akan menumbuhkan uban di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami. Di sisi Allah, kelak akan berhimpun sekian banyak orang-orang yang menggugat.

Anakku..
Takutlah engkau kepada Allah karena kedurhakaanmu kepada Ibu. Sekalah air mataku, ringankanlah beban kesedihanku. Terserahlah kepadamu jika engkau ingin merobek-robek surat ini. Ketahuilah, “Barangsiapa beramal shalih maka itu buat dirinya sendiri. Dan orang yang berbuat jelek, maka itu (juga) menjadi tanggungannya sendiri”.

Anakku…
Ingatlah saat engkau berada di perut ibu. Ingat pula saat persalinan yang sangat menegangkan. Ibu merasa dalam kondisi hidup atau mati. Darah persalinan, itulah nyawa Ibu. Ingatlah saat engkau menyusui. Ingatlah belaian sayag dan kelelahan Ibu saat engkau sakit. Ingatlah ….. Ingatlah…. Karena itu, Allah menegaskan dengan wasiat : “Wahai, Rabbku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil”.

Anakku…
Allah berfirman: “Dan dalam kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang berakal” [Yusuf : 111]

Pandanglah masa teladan dalam Islam, masa Rasulullah صلی الله عليه وسلم masih hidup, supaya engkau memperoleh potret bakti anak kepada orang tua.

KISAH TELADAN KEPADA ORANG TUA
Sahabat Abu Hurairah sempat gelisah karena ibunya masih dalam jeratan kekufuran. Dalam shahih Muslim disebutkan, dari Abu Hurairah, ia bercerita.

Aku mendakwahi ibuku agar masuk Islam. Suatu hari aku mengajaknya untuk masuk Islam, tetapi dia malah mengeluarkan pernyataan tentang Nabi yang aku benci. Aku (pun) menemui Rasulullah dalam keadaan menangis. Aku mengadu.

“Wahai Rasulullah, aku telah membujuk ibuku untuk masuk Islam, namun dia menolakku. Hari ini, dia berkomentar tentang dirimu yang aku benci. Mohonlah kepada Allah supaya memberi hidayah ibu Abu Hurairah”. Rasulullah bersabda : “Ya, Allah. Tunjukilah ibu Abu Hurairah”. Aku keluar dengan hati riang karena do’a Nabi. Ketika aku pulang dan mendekati pintu, maka ternyata pintu terbuka. Ibuku mendengar kakiku dan berkata : “Tetap di situ Abu Hurairah”. Aku mendengar kucuran air. Ibu-ku sedang mandi dan kemudian mengenakan pakaiannya serta menutup wajahnya, dan kemudian membuka pintu. Dan ia berkata : “Wahai, Abu Hurairah ! Asyhadu an Laa Ilaaha Illa Allah wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuluhu”. Aku kembali ke tempat Rasulullah dengan menangis gembira. Aku berkata, “Wahai, Rasulullah, Bergembiralah. Allah telah mengabulkan do’amu dan menunjuki ibuku”. Maka beliau memuji Allah dan menyanjungNya serta berkomentar baik” [Hadits Riwayat Muslim]

Ibnu Umar pernah melihat lelaki menggendong ibunya dalam thawaf. Ia bertanya : “Apakah ini sudah melunasi jasanya (padaku) wahai Ibnu Umar?” Beliau menjawab : “Tidak, meski hanya satu jeritan kesakitan (saat persalinan)”.

Zainal Abidin, adalah seorang yang terkenal baktinya kepada ibu. Orang-orang keheranan kepadanya (dan berkata) : “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibu. Mengapa kami tidak pernah melihatmu makan berdua dengannya dalam satu talam”? Ia menjawab,”Aku khawatir tanganku mengambil sesuatu yang dilirik matanya, sehingga aku durhaka kepadanya”.

Sebelumnya, kisah yang lebih mengharukan terjadi pada diri Uwais Al-Qarni, orang yang sudah beriman pada masa Nabi, sudah berangan-angan untuk berhijrah ke Madinah untuk bertemu dengan Nabi. Namun perhatiannya kepada ibunya telah menunda tekadnya berhijrah. Ia ingin bisa meraih surga dan berteman dengan Nabi dengan baktinya kepada ibu, kendatipun harus kehilangan kemuliaan menjadi sahabat Beliau di dunia.

Dalam shahih Muslim, dari Usair bin Jabir, ia berkata : Bila rombongan dari Yaman datang, Umar bin Khaththab bertanya kepada mereka : “Apakah Uwais bin Amir bersama kalian ?” sampai akhirnya menemui Uwais. Umar bertanya, “Engkau Uwais bin Amir?” Ia menjawa,”Benar”. Umar bertanya, “Engkau dari Murad kemudian beralih ke Qarn?” Ia menjawab, “Benar”. Umar bertanya, “Engkau punya ibu?”. Ia menjawab, “Benar”. Umar (pun) mulai bercerita, “Aku mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda.

“Akan datang pada kalian Uwais bin Amir bersama rombongan penduduk Yaman yang berasal dari Murad dan kemudian dari Qarn. Ia pernah tertimpa lepra dan sembuh total, kecuali kulit yang sebesar logam dirham. Ia mempunyai ibu yang sangat dihormatinya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya aku hormati sumpahnya. Mintalah ia beristighfar untukmu jika bertemu”.

(Umar berkata), “Tolong mintakan ampun (kepada Allah) untukku”. Maka ia memohonkan ampunan untukku. Umar bertanya, “Kemana engkau akan pergi?”. Ia menjawab, “Kufah”. Umar berkata, “Maukah engkau jika aku menulis (rekomendasi) untukmu ke gubernurnya (Kufah)?” Ia menjawab, “Aku lebih suka bersama orang yang tidak dikenal”.

Kisah lainnya tentang bakti kepada ibu, yaitu Abdullah bin Aun pernah memanggil ibunya dengan suara keras, maka ia memerdekakan dua budak sebagai tanda penyesalannya.

KISAH KEDURHAKAAN KEPADA ORANG TUA
Diceritakan ada lelaki yang sangat durhaka kepada sang ayah sampai tega menyeret ayahnya ke pintu depan untuk mengusirnya dari rumah. Sang ayah ini dikarunia anak yang lebih durhaka darinya. Anak itu menyeret bapaknya sampai kejalanan untuk mengusirnya dari rumahnya. Maka sang bapak berkata : “Cukup… Dulu aku hanya menyeret ayahku sampai pintu depan”. Sang anak menimpali : “Itulah balasanmu. Adapun tembahan ini sebagai sedekh dariku!”.

Kisah pedih lainnya, seorang Ibu yang mengisahkan kesedihannya : “Suatu hari istri anakku meminta suaminya (anakku) agar menempatkanku di ruangan yang terpisah, berada di luar rumah. Tanpa ragu-ragu, anakku menyetujuinya. Saat musim dingin yang sangat menusuk, aku berusaha masuk ke dalam rumah, tapi pintu-pintu terkunci rapat. Rasa dingin pun menusuk tubuhku. Kondisiku semakin buruk. Anakku ingin membawaku kesuatu tempat. Perkiraanku ke rumah sakit, tetapi ternyata ia mencampakkanku ke panti jompo. Dan setelah itu tidak pernah lagu menemuiku”

Sebagai penutup, kita harus memahami bahwa bakti kepada orang tua merupakan jalan lempang dan mulia yang mengantarkan seorang anak menuju surga Allah. Sebaliknya, kedurhakaan kepada mereka, bisa menyeret sang anak menuju lembah kehinaan, neraka.

Hati-hatilah, durhaka kepada orang tua, dosanya besar dan balasannya menyakitkan. Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda.

“Artinya : Akan terhina, akan terhina dan akan terhina!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullahj, siapakah gerangan ?” Beliau bersabda, “Orang yang mendapati orang tuanya, atau salah satunya pada hari tuanya, namun ia (tetap) masuk neraka” [Hadits Riwayat Muslim]


[Diadaptasi dari Idatush Shabirin, oleh Abdullah bin Ibrahim Al-Qa’rawi dan Ilzam Rijlaha Fatsamma Al-Jannah, oleh Shalihj bin Rasyid Al-Huwaimil]

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun VIII/1425/2005M. Penerbiit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo – Solo 57183]

HAK SEORANG IBU



 Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 Allah سبحانه و تعالىa berfirman :

"Artinya : Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a, "Ya Rabb-ku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".

Ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari) di tambah 2 tahun menyusui anak jadi 30 bulan, sehingga tidak bertentangan dengan surat Lukman ayat 14. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir]

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar dari pada kepada bapak.

Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.

"Artinya : Dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, "Datang seseorang kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم dan berkata, 'Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?' Nabi صلی الله عليه وسلم menjawab, 'Ibumu!' Orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi ?' Nabi صلی الله عليه وسلم menjawab, 'Ibumu!' Ia bertanya lagi, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi صلی الله عليه وسلم menjawab, 'Ibumu!', Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi, 'Nabi صلی الله عليه وسلم menjawab, 'Bapakmu' "[Hadits Riwayat Bukhari (Al-Fath 10/401) No. 5971, Muslim 2548]

Imam Adz-Dzhabai dalam kitabnya Al-Kabair berkata:
"Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik. Dia selalu mendo'akanmu dengan taufiq, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat di sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan dia haus. Dan engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Dan engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia buat. Dan rasanya berat atasmu memeliharanya padahal adalah urusan yang mudah. Dan engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek. Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.

Padahal Allah telah melarangmu berkata 'ah' dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut. Dan engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu. Dan Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul 'Aalamin. Dan Allah berfirman di dalam surat Al-Hajj ayat 10 :

"Artinya : (Akan dikatakan kepadanya), 'Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tanganmu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba-hambaNya".

Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung. Ketika Ibnu Umar menemui seseorang yang menggendong ibunya beliau mengatakan, "Itu belum bisa membalas". Kemudian juga beberapa riwayat[1] disebutkan bahwa seandainya kita ingin membalas jasa orang tua kita dengan harta atau dengan yang lain, masih juga belum bisa membalas. Bahkan dikatakan oleh Nabi صلی الله عليه وسلم.

"Artinya : Kamu dan hartamu milik bapakmu" [Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Jabir, Thabrani dari Samurah dan Ibnu Mas'ud, Lihat Irwa'ul Ghalil 838]


[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta]

 

Foote Note.
[1] Shahih Ibnu Majah No. 1855

Sebab-sebab Yang Dapat Memperkuat Iman


 Syaikh Ibnu Utsaimin
Pertanyaan:
Bagaimana seseorang bisa memperkuat imannya di mana kondisinya tidak dapat terpengaruh oleh makna ayat-ayat yang dibacanya kecuali sedikit sekali?

Jawaban:

Yang jelas, orang ini ketika mengatakan ucapan ini tampak bahwa dia sebenarnya seorang yang beriman kepada hari akhir dan membenarkannya akan tetapi pada dirinya ada sedikit kekerasan hati. Penyakit keras hati pada masa sekarang ini banyak sekali dan sebab utamanya adalah berpaling dari beribadah dan ketundukan secara total kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala . Andaikata seseorang beribadah kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan tunduk patuh kepadaNya dengan sebenar-benarnya, niscaya dia akan mendapatkan hatinya menjadi lunak dan khusyu'. Dan, andaikata seseorang di antara kita menyongsong al-Qur'an dan mentadabburinya, niscaya dia juga akan mendapatkan hatinya menjadi lunak dan khusyu' sebab Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

"Kalau sekiranya kami menurunkan al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah." (Al-Hasyr: 21).

Di antara penyebab timbulnya penyakit keras hati adalah fenomena hiasan dunia di era kontemporer ini, terbuainya manusia olehnya serta beragamnya problematika. Oleh karena itu, anda bisa menjumpai anak kecil yang belum begitu mengenal godaan duniawi dan godaan duniawi pun belum menyentuhnya lebih banyak khusyu' dan tangisnya (karena hatinya tersentuh-penj.) dibandingkan dengan orang dewasa. Ini adalah pemandangan yang kita saksikan dan kalian saksikan juga sekarang ini di Masjid Al-Haram di saat shalat Qiyamullail. Anda akan menjumpai anak-anak muda berusia delapan belasan tahun dan semisalnya bisa lebih banyak tangisnya karena tersentuh saat disebutkan ayat-ayat yang berisi ancaman atau sugesti daripada orang yang lebih tua dari mereka karena hati mereka lebih lunak dan belum banyak terbuai oleh godaan duniawi dan belum begitu memikirkan problematika-problematika jangka panjang ataupun pendek.

Oleh karena itu, kita menjumpai mereka lebih banyak diliputi rasa khusyu' dan lebih dekat kepada kelunakan hati daripada mereka yang sudah terbelalak oleh godaan duniawi dan terbuai olehnya sehingga menjadikan hati mereka tercerai-berai ke sana dan kemari.

Nasehat saya kepada saudara penanya ini agar mengkonsentrasikan hati dan pemikirannya hanya pada hal yang terkait dengan dien ini semata, antusias dalam membaca al-Qur'an dengan tadabbur dan perlahan serta antusias pula untuk merujuk kepada hadits-hadits yang mengandung targhib (bersifat rangsangan dan sugesti) dan tarhib (bersifat menakutkan dan ultimatum) karena hal ini dapat melunakkan hati.

 

Rujukan:
Kumpulan Kajian dan Fatwa di al-Haram al-Makki, Juz III, hal. 380 dari Syaikh Ibnu Utsaimin.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq.

Kiat Memperkuat Iman


 Lajnah Daimah
Pertanyaan:
Bagaimana seseorang bisa menjadi orang yang kuat imannya, menerapkan segala perintah Allah dan takut akan siksaNya?

Jawaban:

Hal itu bisa terjadi dengan cara membaca Kitabullah, mengkajinya dan mentadabburi makna dan hukum-hukumnya; mengkaji sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengetahui rincian syariat darinya, mengamalkan isinya dan komitmen terhadapnya dalam perbuatan dan ucapan; menjadikan diri selalu dalam pengawasan Allah dan menyadarkan hati akan keagunganNya; mengingat hari akhir dan adanya hisab, pahala, siksa dan kepedihan serta hal-hal yang menye-ramkan; bergaul dengan orang-orang yang dikenal keshalihannya dan menjauhi para pelaku kejahatan dan kerusakan. Wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad Wa Alihi Wa Shahbihi.

 

Rujukan:
Kumpulan Fatwa Islam, Lajnah Da'imah, Juz IV, hal. 495.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq.

Hukum Menggerutu (Mendongkol) Terhadap Musibah Yang Menimpa



 Syaikh Ibnu Utsaimin
Pertanyaan:

Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya mengenai orang yang menggerutu (mendongkol) bila ditimpa suatu musibah; apa hukumnya?

Jawaban:

Kondisi manusia dalam menghadapi musibah ada empat tingkatan:

Tingkatan pertama, menggerutu (mendongkol) terhadapnya. Tingkatan ini ada beberapa macam:

Pertama: Direfleksikan dengan hati, seperti seseorang yang menggerutu terhadap Rabbnya dan geram terhadap takdir yang dialaminya; perbuatan ini hukumnya haram dan bisa menyebabkan kekufuran. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat." (Al-Hajj: 11).

Kedua: Direfleksikan dengan lisan, seperti berdoa dengan umpatan 'celaka', 'hancurlah' dan sebagainya; perbuatan ini haram hukumnya.

Ketiga: Direfleksikan dengan anggota badan, seperti menam-par pipi, menyobek kantong baju, mencabut bulu dan sebagainya; semua ini adalah haram hukumnya karena menafikan kewajiban bersabar.

Tingkatan kedua, bersabar atasnya. Hal ini senada dengan ungkapan seorang penyair,

Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya

Akan tetapi hasilnya lebih manis daripada madu.

Orang yang dalam kondisi ini beranggapan bahwa musibah tersebut sebenarnya berat baginya akan tetapi dia kuat menanggungnya, dia tidak suka hal itu terjadi akan tetapi iman yang bersemayam di hatinya menjaganya dari menggerutu (mendongkol). Terjadi dan tidak terjadinya hal itu tidak sama baginya. Perbuatan seperti ini wajib hukumnya karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan untuk bersabar sebagaimana dalam firmanNya,

"Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Anfal: 46).

Tingkatan ketiga, ridha terhadapnya seperti keridhaan seseorang terhadap musibah yang dialaminya di mana baginya sama saja; ada dan tidak adanya musibah tersebut. Adanya musibah tidak membuat-nya sesak dan menanggungnya dengan perasaan berat. Sikap seperti ini dianjurkan tetapi bukan suatu kewajiban menurut pendapat yang kuat.

Perbedaan antara tingkatan ini dengan tingkatan sebelumnya amat jelas sekali, sebab dalam tingkatan ini ada dan tidak adanya musibah sama saja bagi orang yang mengalaminya sementara pada tingkatan sebelumnya, adanya musibah dirasakan sulit baginya tetapi dia bersabar atasnya.-

Tingkatan keempat, bersyukur atasnya. Ini merupakan tingkatan paling tinggi. Hal ini direfleksikan oleh orang yang mengalaminya dengan bersyukur kepada Allah atas musibah apa saja yang dialami. Dalam hal ini, dia mengetahui bahwa musibah ini merupakan sebab (sarana) untuk menghapus semua kejelekan-kejelekannya (dosa-dosa kecilnya) dan barangkali bisa menambah kebaikannya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Tiada suatu musibah pun yang menimpa seorang Muslim, melainkan dengannya Allah hapuskan (dosa-dosa kecil) darinya sampai-sampai sebatang duri pun yang menusuknya." (Shahih al-Bukhari, kitab al-Mardla, no. 5640; Shahih Muslim, kitab al-Birr wa ash-Shilah, no. 2572)

 

Rujukan:

Kumpulan Fatwa dan Risalah Syaikh Ibnu Utsaimin, Juz II, hal. 109-111.

Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq

ALLAH ASY SYAHIID

As-Syahiid dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Menyaksikan. Allah adalah zat yang menyaksikan apapun yang sudah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi. Oleh karenanya, Allah mengetahui seluruh perbuatan hamba-Nya baik perbuatan itu besar ataupun kecil, baik perbuatan yang lalu, kini maupun yang akan dilakukan. Allah berfirman yang maknanya, Dan demikianlah Kami
telah menurunkan Al-Qur’an yang merupakan ayat-ayat yang nyata, dan bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya orang-orang yang beriman,
orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah
akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat.

Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang
ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohonpohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar
daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya
Allah berbuat apa yang Dia kehendaki (Qs. Hûd: 16 -18).

ALLAH AL BAA'ITS

Al-Baa’its juga dapat dipahami bahwa Allah adalah yang mengutus para rasul-Nya, sebagaimana firman Allah yang artinya Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (Al-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya
benar-benar dalam kesesatan yang nyata, dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan
mereka. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. Jumuah: 2-3).
Al-Baa’its juga dapat dipahami bahwa Allah adalah zat yang membangunkan manusia dari tidurnya... Dan Al baa'its juga dapat berarti Allah membangkitkan manusia dari alam BARZAKH...

ALLAH AL MAJIID

Al-Majiid secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mulia, baik mulia zat-Nya, mulia sifat-Nya maupun
mulia perbuatan-Nya. Kemuliaan zat Allah pada kesempurnaan eksistensi-Nya, tidak ada yang menyerupai apalagi menandingiNya. Kemuliaan sifat Allah mewujud dalam seluruh puncak
kebaikan adalah milik-Nya saja. Dan kemuliaan perbuatanNya terlihat pada curahan nikmat dan karunia kepada seluruh makhluk-Nya.

Allah berfirman yang maknanya, Para malaikat itu berkata: ”Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, Hai ahlulbait! Seseungguhnya Allah Maha terpuji lagi
Maha Pemurah” (Qs. Hûd: 73). Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih,
yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha Mulia (Qs. al-Buruj: 13-15).

ALLAH AL WADUUD

Saudaraku, di antara fitrah manusia adalah memiliki cinta, baik cinta kepada Rabbnya maupun cinta kepada selain-Nya. Cinta kepada selain Allah, seperti cinta terhadap harta tahta dan wanita/pria (baca keluarga) idealnya harus dalam rangka
mencitai Rabbnya. Kecintaan terhadap Rabbnya menjadi sangat penting dalam menjalin relasi antara hamba dan Rabbnya. Apalagi kalau kita menyadari bahwa cinta-Nya Allah terhadap hamba-hamba-Nya sangat besar dan begitu nyata. Hal ini bisa dipahami, karena menurut iman Islam, Allah juga menyandang
nama al-Waduud.

Secara umum al-Waduud dimaknai bahwa Allah adalah zat yang maha mencintai. Dengan cinta-Nya, Allah menciptakan dan
menghidupkan manusia serta menyediakan seluruh kebutuhan hidupnya. Setelah manusia dapat memenuhi kebutuhannya, ada di antaranya yang justru melupakan-Nya, namun Allah tetap
mencintainya. Allah berfirman yang maknanya, Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mencintai hamba-hamba-Nya” (Qs. al Buruj: 13-14).

Oleh karenanya, dengan cinta-Nya, Allah menunggu pertaubatan hamba-hamba-Nya seraya menyeru agar segera
kembali ke jalan-Nya saja dan memohon ampunan pada-Nya. Allah berfirman yang artinya, Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu (Allah) kemudian bertaubatlah kepada-Nya, sesungguhnya Rabb-ku Maha Mencintai hamba-hamba-Nya lagi Maha Pengasih (Qs. Hûd: 90).

ALLAH AL HAKIIM

Bila al-Hakam menunjukkan perbuatan Allah dalam memutuskan segala sesuatu atas makhluk-Nya dan Allah yang 
maha menetapkan, maka al-Hakiim selain dipahami bahwa  Allah sebagai Subyek yakni sebagai Hakim, juga dipahami 
bahwa Allah adalah zat yang maha bijaksana. Dengan demikian, Allah adalah hakim yang bijaksana; seluruh keputusan-Nya merupakan putusan yang bijaksana; seluruh ketetapan Allah merupakan ketetapan yang bijaksana. Kebijaksanaan ini karena Allah maha luas ilmu-Nya, maha luas kekuasaan-Nya, maha luas kedermawanan-Nya dan maha luas sifat-sifat kebaikan-Nya.

Allah sebagai al-Hakiim dapat ditemukan di dalam al-Qur’an. Di antaranya al-Hakiim disebut bergandengan dengan al-’Aziiz
(Allah Maha Perkasa). Allah berfirman yang artinya, Dan Allah adalah ‘Azîz (Maha Perkasa) lagi Hakîm (Maha Bijaksana) (Qs. alBaqarah: 228, Fathir: 2, al-Hadîd: 1, al-Hasyr: 1 dan 24, al-Jumu’ah: 3).

Dari normativitas di atas, Allah ingin menunjukkan bahwa meskipun maha kuat dan perkasa dalam segala hal atas seluruh
makhluk-Nya, Allah tetap maha bijaksana dalam suluruh ketetapan atas makhluk-Nya, jauh dari sikap semena-mena,
terhindar dari perilaku dzalim dan bersih dari ketidakadilan.

Asma al-Hakiim juga disebut beriringan dengan al-Khabiir dan al-’Alim (Allah maha mengetahui), Allah berfirman yang maknanya, dan Dia-lah Allah Yang Hakîm (Maha Bijaksana) lagi Khabîr (Maha
Mengetahui). [Qs. Saba`: 1].

ALLAH AL WAASI'

skope kehidupan ini juga luas tanpa batas.
Untuk memperoleh rasa bahagia juga dianugerahi keleluasan usaha dan jangkauannya. Mengapa? Karena semua ini diciptakan dan kita sengaja dihadirkan oleh Allah al-Waasi’ bahwa Allah Luas; luas kekayaanNya, luas kedermawanan-Nya, luas pengetahuan-Nya, luas
kekuasaan-Nya, luas kasih kasih sayang-Nya, luas ampunan-Nya dan luas sifat-sifat kemuliaan-Nya.

Term al-Waasi’ disebut dalam al-Qur’an, di antaranya berkaitan dengan keluasan pemberian-Nya, Allah berfirman yang maknanya: Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah
akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui (Qs. alMâ`idah: 54).
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hambahamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan
mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui (Qs. an-Nur: 32).
Adapun keluasan ampunan-Nya, Allah berfirman yang maknanya (yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar
dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu
dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang
paling mengetahui tentang orang yang bertakwa (Qs. al-Najm: 32)

ALLAH AL MUJIIB

Saudaraku, argumen mengapa manusia butuh terhadap agama di antaranya karena tuntutan fitrahnya, karena tantangan yang dihadapinya dan karena kedhaifan dirinya selaku makhluk.
Oleh karenanya dalam iman Islam, kita dituntun untuk berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Untuk menghadapi tantangan kita dituntun berdoa memohon perlindungan juga petunjukNya dan untuk mengatasi kedhaifan diri kita dituntun untuk memohon pertolongan juga kekuatan dari Allah, sehingga dapat
mengemban tugas menjalani misi kekhilafan di muka bumi ini dengan baik.

Dalam konteks doa, Allah menuntun kita di beberapa tempat dalam firman-Nya. Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang melampaui batas (Qs. al-A’raaf: 55). Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, di waktu pagi dan petang, dan dengan tidak
mengeraskan suara, dan jangalah kamu termasuk orang-orang yang lalai (Qs. al-A’raf: 205). Katakanlah: “Serulah (berdoalah kepadaku) Allah atau serulah Al-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai asmaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu, dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah diantara kedua itu” (Qs. al-Isra’: 110).

ALLAH AR RAQIIB

Saudaraku, dalam iman Islam dinyatakan bahwa Allah selalu bersama hamba-hamba-Nya. Karena selalu bersama, maka
kedekatan Allah terhadap hamba-Nya sudah dapat dipastikan kecuali si hamba itu sendiri yang justru menjauhi-Nya. Bagi
orang beriman, meyakini bahwa karena kedekatannya dengan Rabbnya, maka tidak ada satu aktivitas pun yang luput dari kepengawasan-Nya. 

Ar-Raqiib secara umum dapat dimaknai bahwa Allah adalah zat Yang Maha Mengawasi atas makhluk-Nya, baik aktivitasnya, keadaannya, kebutuhannya maupun segala urusannya. Oleh
karenanya mestinya kita merasa aman tentram, karena pengawasan Allah menjangkau semuanya sampai memenuhi
kebutuhan kita.

Allah berfirman yang artinya, Hai sekalian manusia,bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu (Qs.an-Nisa’: 1).

ALLAH AL KARIIM

AlKariim secara umum dapat dimaknai bahwa Allah adalah zat Yang Maha Mulia lagi Pemurah. Allah dengan kemurahan-Nya selalu menganugerahkan ragam karunia kepada semua hambaNya, baik diminta maupun tidak, baik melimpah ruah maupun ketercukupannya, baik keberkahannya maupun kesesuaiannya
dengan keadaan hamba-Nya. Allah berfirman yang artinya, berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: “Aku akan membawa singgasana
itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku
apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia” (Qs. al-Naml: 40).

ALLAH AL JALIIL

Al-Jaliil secara umum dapat
dimaknai bahwa Allah adalah zat yang besar lagi mulia. Asmaul husna-Nya Allah yang relatif dekat pemaknaannya dengan alJaliil adalah al-Kabiir dan al-’Azhiim. Para ulama menjelaskannya, bahwa al-Kabiir dimaknai bahwa Allah adalah zat yang kebesaranNya sempurna dari segi zat-Nya; al-Jaliil dimaksudkan untuk
kebesaran Allah sempurna di dalam sifat-Nya; dan al-’Azhiim digunakan untuk merujuk makna bahwa kebesaran Allah
sempurna di dalam keduanya, baik dalam zat maupun sifat-Nya”.

Dalam konteks al-Jaliil, kebesaran dan kemulian Allah mewujud dalam kesempurnaan sifat-Nya, seperti kepengasihanNya, kepenyayangan-Nya, kepemurahan-Nya, kelembutan-Nya,
kesantunan-Nya, ketinggian-Nya, kebijakan-Nya, keadilan-Nya,
kekekalan-Nya dan seterusnya. Allah berfirman yang maknanya, Dan tetap kekal Zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (Qs. Ar Rahman:27)

Kehidupan Sehari-Hari Yang Islami

Syaikh Abdullah bin Jaarullah

Saudaraku….
Dengan penuh pengharapan bahwa kebahagian dunia dan akhirat yang akan kita dapatkan, maka kami sampaikan risalah yang berisikan pertanyaan-pertanyaan ini kehadapan anda untuk direnungkan dan di jawab dengan perbuatan.

Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja kami angkat kehadapan anda dengan harapan yang tulus dan cinta karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, supaya kita bisa mengambil mannfaat dan faedah yang banyak darinya, disamping itu sebagai bahan kajian untuk melihat diri kita, sudah sejauh mana dan ada dimana posisinya selama ini.

1. Apakah anda selalu shalat shubuh berjama’ah di masjid setiap hari.?
2. Apakah anda selalu menjaga shalat yang lima waktu di masjid.?
3. Apakah anda hari ini membaca al-Qur’an.?
4. Apakah anda rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan shalat wajib.?
5. Apakah anda selalu menjaga shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat wajib.?
6. Apakah anda (hari ini) khusyu dalam shalat, menghayati apa yang anda baca.?
7. Apakah anda (hari ini) mengingat mati dan kubur.?
8. Apakah anda (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya.?
9. Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak tiga kali, agar memasukkan anda ke dalam Surga .? Maka sesungguhnya barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata :"Wahai Allah Subhanahu wa Ta’ala masukkanlah ia ke dalam Surga".
10. Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali .? Maka sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata :"Wahai Allah peliharalah dia dari api neraka".

Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

"Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata :"Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata :"Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka"[1]

11. Apakah anda (hari ini) membaca hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.?
12. Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik.?
13. Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau.?
14. Apakah anda (hari ini) menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.?
15. Apakah anda selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari.?
16. Apakah anda (hari ini) telah memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas dosa-dosa (yang engkau perbuat -pen).?
17. Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati Syahid.?

Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

"Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur".[2]

18. Apakah anda telah berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia menetapkan hati anda atas agama-Nya.?
19. Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di waktu-waktu yang mustajab.?
20. Apakah anda telah membeli buku-buku agama Islam untuk memahami agama.?[3]
21. Apakah anda telah memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah.? Karena setiap mendo’akan mereka anda akan mendapat kebajikan pula.
22. Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala (dan bersyukur kepada-Nya, pent) atas nikmat Islam.?
23. Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya.?
24. Apakah anda hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya.?
25. Apakah anda dapat menahan marah yang disebabkan urusan pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.?
26. Apakah anda telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri sendiri.?
27. Apakah anda telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala?
28. Apakah anda telah menda’wahi keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri anda.?
29. Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua.?
30. Apakah anda mengucapkan "Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raji'uun" jika mendapatkan musibah.?
31. Apakah anda hari ini mengucapkan do'a ini :

"Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui".[4]

Barangsiapa yang mengucapkan yang demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghilangkan darinya syirik besar dan syirik kecil.

32. Apakah anda berbuat baik kepada tetangga.?
33. Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad, dan dengki.?
34. Apakah anda telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada manfaatnya.?
35. Apakah anda takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian.?
36. Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan.?

Saudaraku ..
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan, agar kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, inysa Allah.

[Risalah ini dinukilkan dari buku saku Zaad Al-Muslim Al-Yaumi (Bekalan Muslim Sehari-hari) hal. 51 – 55, bab Hayatu Yaumi Islami yang diambil dari kitab Al-Wabil Ash-Shoyyib oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, Penerjemah Fariq Gasim Anuz]


Footnote
[1]. Hadits Riwayat Tirmidzi dishahihkan oleh syaikh Al Albani dalam shahih Al Jami’ no. 911
[2]. Hadits Riwayat Muslim 3532, Abu Daud 1299, al-Tirmizi 1577, al-Nasa’i 3111; Ibn Majah 2787 al-Darimi 2300
[3]. Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang dipahami oleh para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar, pent
[4]. Lihat Shahih Al-Jami’ No. 3625


Sumber: almanhaj.or.id

Engkau Akan Dikumpulkan Bersama Orang Yang Kau Cintai


FB_IMG_15161725061154911Siapakah orang yang kita idolakan? artis? penyanyi? pemain bola? orang kafir? yang perlu diingat baik-baik adalah, mereka semua itu tidak kenal siapa kita! jika kenal saja tidak, maka apa yang bisa mereka lakukan untuk kita di akhirat nanti? padahal…Rasulullah berkata :

(أنت مع من احببت)
diakhirat engkau akan dikumpulkan bersama dengan orang yang engkau cintai/idolai.
Sedangkan rasulullah diakhir hayatnya berkata sambil menahan perihnya sakaratul maut : umatku…umatku…umatku, tanda begitu besar cintanya kepada umatnya, disaat seperti itu beliau tidak memikirkan kondisi dirinya sendiri tapi malah teringat kondisi umatnya, beliau itulah yang mengenal kita, tau siapa kita sebenarnya, sungguh amat rugi jika kita malah mengidolai selainnya, tidak mencintainya & tidak menempuh jalan hidup sesuai sunnahnya dan para pengikutnya yang setia.
Rasulullah berkata :
“Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan. Mereka (para sahabat) bertanya : “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan masuk surga itu?” beliau menjawab: “Siapa yang mentaatiku ia akan masuk surga dan siapa yang mendurhakaiku sugguh ia telah enggan masuk surga.” (H.R. Al-Bukhari)
 Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah. berkata :
“Orang yang tidak bersedia mengikuti jalan hidup Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan tidak mau mentaatinya serta tidak mau tunduk kepada ajaran yang beliau bawa maka orang ini telah menolak masuk surga”
Wallahua’lam [elwafii]

Menyelami Samudera Cinta Yang Tak Bertepi Mendeteksi Kadar Cinta Kepada Allah

Cinta adalah kata yang tidak asing lagi bagi kita semua, khususnya bagi kalangan pemuda-pemudi. Dalam masalah cinta ini terdapat banyak sekali definisi. Dalam bahasa arab cinta disebut dengan menggunakan dua huruf yaitu hubb, Ha dan Ba, Ha yang berarti adalah keluarnya jiwa dan mengarahkannya kepada sesuatu yang dicintai dan Ba yang berarti adalah keluarnya badan dan mengarahkannya untuk ketaatan kepada sesuatu yang dicintai.

Adapula yang mengatakan bahwa cinta adalah kecenderungan hati kepada sesuatu yang dicintainya, merasa ketentraman, ketenangan, hatinya pun terhubung dengan yang dicintainya. Masih banyak lagi definisi mengenai cinta. Masing-masing sulit untuk mendefinisikan cinta secara jelas dan mudah difahami, karena memang cinta tidak dapat terlihat hanya dari kata-kata yang keluar dari mulut saja, sesungguhnya cinta hanya

dapat tampak dari tabiat dan perilaku seorang pecinta. Banyak dari orang-orang yang mencintai hati mereka dipenuhi dengan cinta, yang jika ditanya mengenai definisnya, ketentuan dan hakikatnya dia tidak mampu mengungkapkan dan menjelaskannya. Kebanyakan ahli ilmu kalam didalam masalah cinta hanya berbicara mengenainya secara lisan ilmu dan bukan lisan kenyataan.

Abu Umar Az-Zujaji mengatakan, “Hakikat cinta adalah mencintai apa yang dicintai Allah dalam hamba-hamba-Nya dan membenci apa yang dibenci Allah dalam hamba-hamba-Nya”. Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Hakikat cinta adalah pengesaan terhadap Allah Dzat yang dicintai, dan tidak mempersekutukan-Nya, kalaupun mencintai selain-Nya maka hal itu didasari cinta karena-Nya dan merupakan sarana untuk menggapai cinta-Nya”.

Maka siapa saja yang tidak menjadikan Allah (ilah) sesembahan (rabb) sebagai penguasa dan pemelihara yang menjadi cinta terbesarnya niscaya hawa nafsulah yang akan menjadi ilah nya (sesembahannya). Allah berfirman dalam Q.S Al-Jatsiyah ayat 23 :

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

 

Dilain ayat Allah Ta’ala berfirman :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”(Q.S. Al-Baqarah : 165).
Allah mengabarkan bahwa ada manusia yang membuat tandingan selain Allah, dan mereka mencintainya sebagiamana mereka mencintai Allah. Perlu diketahui bahwa jika mencintai sesuatu dan amat merendahkan diri kepadanya (menyamai bahkan melebihi Allah) itu bisa menjadi bentuk ibadah dengan hatinya. Karena ibadah merupakan tingkatan terakhir atau puncak dari cinta. Hal ini disebut dengan Tatayyum.

Tingkatan cinta yang pertama adalah ‘alaqah (hubungan). Dinamakan hubungan karena terdapat keterkaitan antara hati orang yang mencintai kepada sesuatu yang dicintai.

Tingkatan cinta berikutnya adalah shababah (kerinduan). Dinamakan kerinduan karena tertuangnya hati orang yang mencintai kepada sesuatu yang dicintainya.

Tingkatan cinta selanjutnya adalah gharam (cinta yang membara). Maksudnya adalah rasa cinta yang senantiasa menetap dan telah masuk ke hati yang paling dalam dan tidak terpisahkan darinya.

Tingkatan cinta berikutnya adalah ‘isyq (mabuk asmara), yaitu cinta yang berlebihan dan rasa amat ingin memiliki, serta senantiasa membayangkan sesuatu yang dicintainya. Ini bisa menjadi penyakit bagi hati jika tidak ditangani dengan serius.

Tingkatan cinta diatasnya adalah syauq (sangat rindu), yakni berkelananya hati menuju yang dicintainya, perasaan yang menggebu-gebu, membuat hati tidak karuan ingin bertemu dengan yang  dicintainya, dan tak akan pernah berhenti sampai dia berhasil mendapatkan tujuannya.

Tingkatan cinta yang paling tinggi adalah tatayyum, yang dimaksud dengan tatayyum adalah penghambaan pecinta terhadap apa yang dicintainya. Jika telah sampai pada tingkatan ini maka akan menjadi ta’abud yang bermakna peribadahan, maksudnya dia akan menjadi hamba yang menyembah bagi sesuatu yang dicintainya.

Setiap manusia memiliki tingkatan yang berbeda-beda dalam tingkat kecintaannya kepada sesuatu yang dicintainya, baik cintanya kepada hal duniawi ataupun cinta kepada hal ukhrowi. Akan tetapi sebagai hamba Allah maka wajib bagi kita untuk menempatkan cinta kita kepada Allah adalah yang pertama dan yang tertinggi dari sesuatu apapun, karena Allah-lah satu-satunya Dzat yang berhak untuk diibadahi dan tidak boleh dipersekutukan. Akan tetapi bagaimana caranya untuk mengetahui kadar (tingkat) cinta kita kepada Allah Ta’ala, maka yang pertama dapat dilihat dari kecintaan kita kepada Kalamullahu Ta’ala Al-Qur’an Al-Karim, perhatian kita dengan mendengar seruan firman-firman-Nya. Dikatakan oleh seorang penyair :

Jika kau menyatakan cinta kepada-Ku , lalu mengapa kau jauhi Kitab-Ku

Tidaklah kau perhatikan apa yang ada didalamnya, yang merupakan kelezatan seruan-Ku.

Utsman bin Affan berkata : Sekiranya hati kita bersih, tentu ia tidak akan pernah merasa kenyang dengan firman Allah.

Hasan Al-Bashri berkata : “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menganggap Al Quran sebagai kumpulan surat cinta dari Rabb mereka”.

Para pecinta Al-Qur’an mampu merasakan kenikmatan dan ketentraman dari firman-firman Allah daripada mendengarkan nyanyian-nyanyian yang melalaikan mereka, karena mereka tau bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk dari sang Maha Penyayang, yang dengannya mereka dapat menggapai cintanya Allah Ta’ala. Seperti sebagiaman yang dikatakan dalam syair :

Dibacakan kepadamu Al-Qur’an, namaun hatimu keras seperti batu.

Tapi tatkala satu bait syair disenandungkan, engkau pun goyah seperti orang yang mabuk kepayang.

Yang kedua adalah mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian“.(Q.S.Ali-Imron : 31).

Yang ketiga adalah beramal shalih, senantiasa mengerjakan ibadah yang fardhu dan sunnah disebutkan dalam hadits qudsi berikut ini:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman :

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“Siapa yang memusuhi wali-Ku maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang terhadapnya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan Sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai  tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepada-Ku pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku pasti Aku akan melindunginya.” (H.R.Bukhari)

Hadits ini menjelaskan, bahwa di antara sebab yang mendatangkan cinta dan kecintaan Allah adalah mengerjakan amalan wajib dan amalan sunnah sesudahnya secara istiqomah. Dan jika Allah sudah mencintai hamba, maka Allah akan memberi petunjuk pada anggota tubuhnya. Sehingga ia akan berkata dan berbuat sesuai keridhaan-Nya. Buah manis lain yang akan hamba tersebut dapatkan adalah doanya akan didengar dan dikabulkan. Ia berada pada perlindungan Allah Ta’ala  dari segala yang mengancam dirinya.

Dari pernyatan-pernyatan yang telah dijelaskan diatas kita mampu mengukur seberapa dalam dan besarkah kadar cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimanakah hubungan kita dengan Al-Qur’an? Sudahkah kita menikmati bacaannya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari kita? Sudahkah kita hidup dengan mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam? Apakah kita telah melaksankan ibadah fardhu dengan baik dan menyempurnakannya dengan ibadah yang sunnah dengan istiqomah? Mari kita hisab terlebih dahulu diri kita sendiri didunia sebelum dihisab diakhirat kelak, agar kita bisa terus memperbaiki hubungan cinta kita dengan Allah Ta’ala dan tidak menyesal di hari akhir nanti.  Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus, yaitu diatas jalan Al-Qur’an dan As-Sunnah hingga kematian menjemput kita. aamiin

Wallahua’lam

Akhukum, Ibnu Setya

@ChannelEl-Wafii

SUMBER :

Al-Jauziyyah, Imam Ibnul Qayyim. 2009. Ad-Daa’ Wa Ad-Dawaa’ Macam-Macam Penyakit Hati yang Membahayakan dan Resep Pengobatannya. Jakarta : Pustaka Imam Syafi’i

Al-Jauziyyah, Imam Ibnul Qayyim. 2015. Thariq Al-Hijrataini wa Bab As-Sa’adataini Jalan Orang Shalih Menuju Surga : Menuju Terminal Kebahagiaan Terakhir. Jakarta : Akbarmedia

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...