melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan
setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan
Muslim).
Ulama ahli tarekat menuntut kepada murid-muridnya agar tidak tidur
kecuali benar-benar membutuhkan Tidur. tidak boleh makan kecuali benarbenar lapar, Tidak boleh berbincang-bincang kecuali sangat mendesak,
tidak boleh bergaul dengan masyarakat kecuali memang keadaan memaksa. Hal mana dikarenakan para guru tarekat menghendaki agar
murid-muridnya mendapat pahala sempurna dalam segala perilaku.
Sebagaimana mereka mendapat pahala melakukan kewajiban. jadi
murid itu baru diperbolehkan makan apabila makan tersebut telah
diwajibkan kepadanya. Maksudnya Makan itu menjadi wajib lantaran
kalau tidak makan nyawa melayang. Dalam keadaan yang kritis seperti ini
makan telah menjadi kewajiban baginya. Demikian juga berbicara,
dibolehkan dalam keadaan memaksa.
Seandainya turun dari tingkatan itu, maka jangan sampai lebih rendah dari
tingkatan sunnah. Maksudnya murid diperbolehkan makan maupun
berbicara kalau kondisi makan dan berbicara itu telah disunnahkan. Setelah
dalam kondisi dia disunahkan makan maupun berbicara, barulah
melakukannya.

Keutamaan Orang yang Makrifat Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

 (عن بعض الحكماء) رضي الله عنه: (مَنْ عَرَفَ اللهَ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَعَ الْخَلْقِ لَذَّةٌ) لأنه لم يحب غير الله تعالى، (وَمَنْ عَرَفَ الدُّنْيَا) بأنها فانية (لَمْ يَكُنْ لَهُ فِيهَا رَغْبَةٌ) بل اختار الدار الباقية وعمل لها، (وَمَنْ عَرَفَ عَدْلَ اللهِ تَعَالَى لَمْ يَتَقَدَّمْ إِلَيْهِ الْخَصْمَاءُ) أي لم يقبلوا عليه، لأنه قد ترك الخصومة.
وعن بعض الحكماء مَنْ عَرَفَ اللهَ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَعَ الْخَلْقِ لَذَّةٌ وَمَنْ عَرَفَ الدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِيْهَا رَغْبَةٌ وَمَنْ عَرَفَ عَدْلَ اللهِ تَعَالَى لَمْ يَتَقَدَّمْ اِلَيْهِ الْخَصْمَاءُ.
Dan maqalah yang keempat puluh sembilan: "Barangsiapa yang makrifat kepada Allah, maka tidak ada lagi kenikmatan bersama makhluk, dan barangsiapa yang mengetahui dunia maka tidak ada lagi kecintaan baginya tentang dunia serta barangsiapa yang mengetahui keadilan Allah, maka ia tidak akan didatangi musuh."



كما قال الحسن رحمه الله: من عرف الله أحبه، ومن عرف الدنيا كرهها. وقال الشافعي رضي الله عنه:
فَمَا هِيَ إِلَّا جِيفَةٌ مُسْتَحِيلَةٌ * عَلَيْهَا كِلَابٌ هَمُّهُنَّ أَجْتِدَابُهَا
فَإِنْ تَجْتَنِبْهَا كُنْتَ سِلْمًا لِأَهْلِهَا * وَإِنْ تَجْتَذِبْهَا نَازَعَتْكَ كِلَابِهَا
Sebagaimana yang dikatakan oleh Hasan rahimahullah: "Barangsiapa yang mengenal Allah, niscaya ia akan mencintai-Nya. Dan barangsiapa yang mengenal dunia, niscaya ia akan membencinya."

Dan berkata Imam Syafi'i radhiyallahu 'anhu:

Dunia itu tidak lain hanyalah bangkai yang busuk, Yang diperebutkan oleh anjing-anjing yang lapar.
Jika engkau menjauhinya, engkau akan selamat dari mereka, Namun jika engkau ikut memperebutkannya, mereka akan mencakarmu.

Menyembunyikan Kebaikan

*
Bisyr bin Harits al-Hafy rahimahullah berkata,

لا تعمل لتُذكر، اكتم الحسنة كما تكتم السيئة.

“Jangan beramal agar engkau mendapatkan pujian, sembunyikanlah kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan.”

Siyar A’lamin Nubala’

KETIKA TIDAK MERASAKAN KELEZATAN DAN KELAPANGAN HATI SAAT BERIBADAH


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

إذا لم تجد للعمل حلاوة في قلبك وانشراحاً فاتهمه! فإن الرب تعالى شكور؛ يعني: أنه لابد أن يثيب العامل على عمله في الدنيا من حلاوة يجدها في قلبه وقوة انشراح وقرة عين فحيث لم يجد ذلك فعمله مدخول”. (مدارج السالكين [2/68])

“Jika kamu tidak merasakan kelezatan dan kelapangan hati saat beribadah maka tuduhlah hatimu.. Karena Robb kita Asy Syakuur (maha berterima kasih).. Dia pasti memberi balasan kepada orang yang beramal sholeh di dunia ini berupa kelezatan yang ia rasakan di hatinya, hati yang lapang dan kesejukan pandangan..

Jika ia tidak mendapatkan itu semua maka berarti amalnya dimasuki (maksiat)..”

(Madarijussalikin 2/68)

Amalnya dimasuki ketidakikhlasan..
Atau tidak sesuai dengan tuntunan Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi Wa sallam..
Sehingga amal tersebut tidak menimbulkan ketakwaan..
Hatipun tidak merasakan kelezatan ibadah..
Maka saat itu bersegeralah intropeksi diri..
Dan banyak memohon ampunan kepada-Nya..


✏️ _Ustaz Abu Yahya Badrusalam hafizhahullah_


■ Channel Telegram: https://t.me/sunnahdaily_official
■ Channel Whatsapp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb5JtW9CMY0EHlZPd512
■ Instagram: https://instagram.com/sunnahdaily_official
■ Facebook: https://www.facebook.com/share/15kSJCFz48/

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...