pantaskah aku untuk belajar

*قال المنصور بن المهدي للمأمون* : 
"*أيحسن بمثلي أن يتعلم*؟"
فقال : "*والله لأن تموت طالباِ للعلم خير من أن تموت قانعاً بالجهل*"

*Berkata Al-Manshur bin Al Mahdi kepada Al-Ma’mun* 

“ *Masih pantaskah orang sepertiku untuk belajar* ?” 

*Beliau menjawab* : 
“ *Demi Allah, engkau mati sebagai penuntut ilmu, lebih baik daripada engkau mati dalam keadaan puas dalam kebodohanmu*”

Nasihat yang menyentuh dari Ustadzuna Abu Huroiroh حفظه الله تعالى pada pembelajaran takhrij sore hari ini.

Kita semua di sini sedang belajar dan sama-sama berproses. Tidak ada orang yang langsung berada di titik tinggi tanpa memulai dari bawah. Semua butuh kesabaran dan keberanian untuk terus mencoba.

Maka jangan biarkan rasa ragu menghalangi kita dalam menuntut ilmu. Jangan malu untuk belajar dan bertanya kepada ahlinya, karena dari proses mencoba dan belajar itulah seseorang akan tumbuh.

Lihatlah para dokter spesialis — mereka pun dahulu memulai dari dasar, terus belajar dan dibimbing oleh ahlinya hingga Allah mudahkan mencapai kedudukan yang tinggi.

Begitu juga dengan kita. Jika ingin berkembang, teruslah mencoba dan jangan takut untuk memulai.
نسأل الله التوفيق والسداد والثبات 🤍

Dan ilmu itu 
Sebagaimana dawuh para ulama: 
العِلْمُ إِنْ لَمْ يَعْمَلْ بِهِ صَارَ حُجَّةً عَلَى صَاحِبِهِ
Ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi hujjah yang menghancurkan pemiliknya." Maka sungguh celaka, orang yang setiap hari menambah catatan ilmu, namun sujudnya tetap malas, dosanya tetap diulang, dan hatinya tetap keras. Takutlah bukan pada sedikitnya ilmu, tapi pada ilmu yang tidak mengubah kita. 
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ

Sederhana Tapi Tidak Semua Orang Bisa



ليكن حظ المؤمن منك ثلاثا إن لم تنفعه فلا تضره وإن لم تفرحه فلا تغمه وإن لم تمدحه فلا تذمه

1️⃣ Jika tidak bisa memberi manfaat, jangan merugikan. 
2️⃣ Jika tak bisa membahagiakan, jangan menyakiti. 
3️⃣ Jika tak bisa memuji, jangan mencela.

Fawaid min Az-Zuhd wa Ar-Raqa’iq, hal. 114

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan
setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan
Muslim).
Ulama ahli tarekat menuntut kepada murid-muridnya agar tidak tidur
kecuali benar-benar membutuhkan Tidur. tidak boleh makan kecuali benarbenar lapar, Tidak boleh berbincang-bincang kecuali sangat mendesak,
tidak boleh bergaul dengan masyarakat kecuali memang keadaan memaksa. Hal mana dikarenakan para guru tarekat menghendaki agar
murid-muridnya mendapat pahala sempurna dalam segala perilaku.
Sebagaimana mereka mendapat pahala melakukan kewajiban. jadi
murid itu baru diperbolehkan makan apabila makan tersebut telah
diwajibkan kepadanya. Maksudnya Makan itu menjadi wajib lantaran
kalau tidak makan nyawa melayang. Dalam keadaan yang kritis seperti ini
makan telah menjadi kewajiban baginya. Demikian juga berbicara,
dibolehkan dalam keadaan memaksa.
Seandainya turun dari tingkatan itu, maka jangan sampai lebih rendah dari
tingkatan sunnah. Maksudnya murid diperbolehkan makan maupun
berbicara kalau kondisi makan dan berbicara itu telah disunnahkan. Setelah
dalam kondisi dia disunahkan makan maupun berbicara, barulah
melakukannya.

Keutamaan Orang yang Makrifat Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

 (عن بعض الحكماء) رضي الله عنه: (مَنْ عَرَفَ اللهَ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَعَ الْخَلْقِ لَذَّةٌ) لأنه لم يحب غير الله تعالى، (وَمَنْ عَرَفَ الدُّنْيَا) بأنها فانية (لَمْ يَكُنْ لَهُ فِيهَا رَغْبَةٌ) بل اختار الدار الباقية وعمل لها، (وَمَنْ عَرَفَ عَدْلَ اللهِ تَعَالَى لَمْ يَتَقَدَّمْ إِلَيْهِ الْخَصْمَاءُ) أي لم يقبلوا عليه، لأنه قد ترك الخصومة.
وعن بعض الحكماء مَنْ عَرَفَ اللهَ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَعَ الْخَلْقِ لَذَّةٌ وَمَنْ عَرَفَ الدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِيْهَا رَغْبَةٌ وَمَنْ عَرَفَ عَدْلَ اللهِ تَعَالَى لَمْ يَتَقَدَّمْ اِلَيْهِ الْخَصْمَاءُ.
Dan maqalah yang keempat puluh sembilan: "Barangsiapa yang makrifat kepada Allah, maka tidak ada lagi kenikmatan bersama makhluk, dan barangsiapa yang mengetahui dunia maka tidak ada lagi kecintaan baginya tentang dunia serta barangsiapa yang mengetahui keadilan Allah, maka ia tidak akan didatangi musuh."



كما قال الحسن رحمه الله: من عرف الله أحبه، ومن عرف الدنيا كرهها. وقال الشافعي رضي الله عنه:
فَمَا هِيَ إِلَّا جِيفَةٌ مُسْتَحِيلَةٌ * عَلَيْهَا كِلَابٌ هَمُّهُنَّ أَجْتِدَابُهَا
فَإِنْ تَجْتَنِبْهَا كُنْتَ سِلْمًا لِأَهْلِهَا * وَإِنْ تَجْتَذِبْهَا نَازَعَتْكَ كِلَابِهَا
Sebagaimana yang dikatakan oleh Hasan rahimahullah: "Barangsiapa yang mengenal Allah, niscaya ia akan mencintai-Nya. Dan barangsiapa yang mengenal dunia, niscaya ia akan membencinya."

Dan berkata Imam Syafi'i radhiyallahu 'anhu:

Dunia itu tidak lain hanyalah bangkai yang busuk, Yang diperebutkan oleh anjing-anjing yang lapar.
Jika engkau menjauhinya, engkau akan selamat dari mereka, Namun jika engkau ikut memperebutkannya, mereka akan mencakarmu.

Menyembunyikan Kebaikan

*
Bisyr bin Harits al-Hafy rahimahullah berkata,

لا تعمل لتُذكر، اكتم الحسنة كما تكتم السيئة.

“Jangan beramal agar engkau mendapatkan pujian, sembunyikanlah kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan.”

Siyar A’lamin Nubala’

KETIKA TIDAK MERASAKAN KELEZATAN DAN KELAPANGAN HATI SAAT BERIBADAH


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

إذا لم تجد للعمل حلاوة في قلبك وانشراحاً فاتهمه! فإن الرب تعالى شكور؛ يعني: أنه لابد أن يثيب العامل على عمله في الدنيا من حلاوة يجدها في قلبه وقوة انشراح وقرة عين فحيث لم يجد ذلك فعمله مدخول”. (مدارج السالكين [2/68])

“Jika kamu tidak merasakan kelezatan dan kelapangan hati saat beribadah maka tuduhlah hatimu.. Karena Robb kita Asy Syakuur (maha berterima kasih).. Dia pasti memberi balasan kepada orang yang beramal sholeh di dunia ini berupa kelezatan yang ia rasakan di hatinya, hati yang lapang dan kesejukan pandangan..

Jika ia tidak mendapatkan itu semua maka berarti amalnya dimasuki (maksiat)..”

(Madarijussalikin 2/68)

Amalnya dimasuki ketidakikhlasan..
Atau tidak sesuai dengan tuntunan Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi Wa sallam..
Sehingga amal tersebut tidak menimbulkan ketakwaan..
Hatipun tidak merasakan kelezatan ibadah..
Maka saat itu bersegeralah intropeksi diri..
Dan banyak memohon ampunan kepada-Nya..


✏️ _Ustaz Abu Yahya Badrusalam hafizhahullah_


■ Channel Telegram: https://t.me/sunnahdaily_official
■ Channel Whatsapp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb5JtW9CMY0EHlZPd512
■ Instagram: https://instagram.com/sunnahdaily_official
■ Facebook: https://www.facebook.com/share/15kSJCFz48/

adab hamba dengan Allah

adab Bermuamalah dengan Allah Ada 14, Yaitu:

الأول: (إطراق الرأس وغض الطرف) أي خفضه.
1.Menundukkan Kepala dan Merendahkan Pandangan.

(و) الثاني: (جمع الهم) أي القصد مع الاعتماد على الله.
2.Memusatkan Perhatian dan Hanya Bersandar Kepada-Nya.

(و) الثالث: (دوام الصمت) أي عما لا يفيد في الدين، لقوله صلى الله عليه وسلم: "عَلَيْكَ بِطُوْلِ الصَّمْتِ، فَإِنَّهُ مُطْرِدَةٌ لِلشَّيْطَانِ".
3.Banyak diam Disertai Zikir Kepada Allah. Hal Ini Sesuai dengan Sabda Rasulullah, "hendaklah Engkau Banyak diam karena Hal Itu Dapat mengusir setan.”

(و) الرابع: (سكون الجوارح) عن الملاغاة، لأنه يستلزم الخشوع والخضوع وحضور القلب الله تعالى.
4.Memelihara Anggota Badan dari Perbuatan Sia-Sia karena Engkau Dituntut untuk khusyuk, Tunduk, dan menghadirkan Hati bersama Allah.

(و) الخامس: (مبادرة) امتثال (الأمر) أي من الواجب والمندوب.
5.menjalankan Perintah-Nya dengan segera, Baik Wajib maupun Sunah.

(و) السادس: (اجتناب النهي) أي المحرم والمكروه.
6.menjauhi Larangan-Nya, Baik yang Haram maupun yang Makruh.

(و) السابع: (قلة الاعتراض) أي عدم الاعتراض (على القدر) بتحريك الدال أي على تقدير الله الأمور، قال النبي صلى الله عليه وسلم: اعْبُدِ اللّهَ بِالرِّضَا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَفِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ"
7.Menerima Takdir-Nya dengan Ikhlas. Rasulullah Bersabda, "Sembahlah Allah dengan penuh Keridhaan. Jika Engkau tidak Mampu, hendaklah Engkau Bersabar karena di dalam Kesabaran terdapat Banyak Kebaikan Atas Hal-Hal yang tidak Kausukai."
(و) الثامن: (دوام الذكر) أي باللسان والقلب.
8. Selalu Berzikir dengan Hati dan Lisan.

(و) التاسع: (ملازمة الفكر) في نعمة الله تعالى وفي جلاله تعالى.
9. Senantiasa Berpikir tentang Nikmat Allah dan Keagungan- Nya.

(و) العاشر: (إيثار الحق) أي اختياره وتقديمه (على الباطل) وفي بعض النسخ سقوط هذا الجار والمجرور، والمعنى: تقديم الله تعالى في الرجوع إليه على الخلق وعلى كل ما سواه، والمراد بالحق على هذا هو الله تعالى.
10. mengutamakan Kebenaran di Atas Kebatilan. Artinya, lebih mengutamakan Allah dalam segala Urusan daripada Seluruh Makhluk dan segala Sesuatu Selain-Nya. karena, yang dimaksud dengan Kebenaran adalah Allah Itu Sendiri.
(و) الحادي عشر: (الإياس) أي قطع الرجاء (عن الخلق) أي عدم الاعتماد على الخلق في حاجتك في السفر والحضر، لأن الخلق لا تنفع ولا تضر.
11.tidak Bergantung kepada Manusia Dalam segala Hajat dan Kebutuhan karena mereka tidak bisa Mendatangkan manfaat Dan Memberikan Mudarat.

(و) الثاني عشر: (الخضوع) أي التواضع بالقلب (تحت الهيبة) الله تعالى.
12.Tunduk Dibarengi dengan Rasa Takut Kepada-Nya.

(و) الثالث عشر: (الانكسار) أي في القلب (تحت الحياء) من الله تعالى لتقصيرك في العبادة.
13.merasa Sedih Disertai Rasa Malu Atas segala Kekurangan dalam Beribadah Kepada-Nya.

(و) الرابع عشر: (السكون عن حيل الكسب ثقة) أي ائتمانًا (بالضمان) أي بضمان الله تعالى لك في رزقك، قال تعالى: {وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا}. (والتوكل) أي الاعتماد (على فضل الله تعالى معرفة بحسن الاختيار) أي اختياره تعالى، فإن الله تعالى هو المدبر لعبده.
14.tidak terlalu Memaksakan diri Dalam mencari Penghasilan karena Percaya pada Jaminan Allah Subhanahu Wa Ta'ala . dan Bertawakal Atas Karunia-Nya. Sebab, Dialah yang mengurus Makhluk-Makhluk-Nya, Sebagaimana Firman-Nya: "Dan tidak Ada Suatu Binatang Melata Pun di Bumi Melainkan Allah-Lah yang Memberi Rezekinya." (Qs. Hûd [11]: 6)
Semua adab Ini Layak Kau Jadikan Pedoman dalam Kehidupan Sehari-Hari karena mengajarkan Tata cara Berhubungan dengan Tuhan yang tidak Pernah Meninggalkanmu, dan Senantiasa Menyertaimu dengan Ilmu dan Taufik-Nya. sedangkan Manusia tidak Selalu Menyertaimu, Bahkan Pergi Meninggalkanmu. Allah Berfirman:

{وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ}
"Dan Dia bersamamu di Mana Pun Kamu Berada." (Qs. Al-Hadid [57]: 4)

pantaskah aku untuk belajar

*قال المنصور بن المهدي للمأمون* :  "*أيحسن بمثلي أن يتعلم*؟" فقال : "*والله لأن تموت طالباِ للعلم خير من أن تموت قانعاً بالجه...