Translate

kondisi saat sakaratul maut

Di antara perkara yang paling menggetarkan adalah keadaan seseorang ketika menghadapi kematian.

*Saat itu ia akan merasakan penyesalan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, kegelisahan yang tak bertepi, dan kesedihan mendalam atas waktu yang telah berlalu. Ia berharap diberi kesempatan kembali agar dapat memperbaiki apa yang telah ia lewatkan dan menebus kelalaiannya, meskipun hanya seukuran waktu menjelang kematian. Bahkan, sebelum benar-benar meninggal, jiwanya hampir mati karena penyesalan.*

Seandainya seseorang merasakan sedikit saja dari keadaan itu ketika masih sehat, niscaya ia akan memperoleh semua tujuan yang ingin diraih melalui amal saleh. Orang yang berakal hendaknya membayangkan seolah-olah saat itu telah tiba, lalu beramal sesuai tuntutannya. Jika ia belum mampu membayangkannya secara nyata, hendaklah ia memaksakan diri semampunya. Dengan begitu, hawa nafsu akan terkendali dan semangat untuk bersungguh-sungguh akan bangkit.

*Adapun orang yang selalu membayangkan saat itu di depan matanya, seakan-akan ia adalah tawanan yang menanti eksekusi,* sebagaimana diriwayatkan tentang Habib al-'Ajami, bahwa setiap pagi ia berkata kepada istrinya :

*"Jika hari ini aku meninggal, maka si Fulan akan memandikanku, dan si Fulan akan membawaku (ke pemakaman)."*

Diriwayatkan pula bahwa ada seseorang berkata kepada seorang yang dikenalnya,
"Mari kita salat Zuhur."
Ia menjawab,
"Kalau aku sudah salat Zuhur bersamamu, belum tentu aku shalat ashar bersamamu"


Lalu ia berkata, *"Seakan-akan engkau berharap bisa hidup sampai Ashar! Semoga Allah melindungi kita dari panjang angan-angan."*

Disebutkan pula tentang seorang lelaki yang ketika jenazah diletakkan di hadapannya, ia berkata kepada dirinya sendiri

*"Ingatlah keadaan orang yang terbaring itu, seolah-olah dialah dirimu."*

> 📚 Shaidul al-Khathir karya Ibnul Jauzi.

_مَثابَة.

masuk surga Dengan mencintai nabi

`📄AL- HAFIZH JALALUDDIN AS-SUYUTHI pernah di tanya :`

هل يدخل احد الجنة بمحبته صلى الله عليه وسلم وهو عاص؟ 

Apakah seseorang itu masuk kedalam syurga dengan mencintai NABI SHOLLALLOHU A'LAIHI WASALLAM, padahal dia ahli maksiat ( pendosa)? 
Maka beliau menjawab :
نعم 
Iya ,dia akan masuk syurga. 


*📚Referensi :*

الحاوي للفتاوي ج ١ ص 280

`ִֶָ𓂃 ࣪˖ ִֶ𝑫𝒂𝒘𝒖𝒉 𝑼𝒍𝒂𝒎𝒂་༘࿐`

Nikmatnya Dekat Dengan Allah


Kedekatan dengan Allah itu tidak datang sekaligus, tapi dia adalah latihan yang menenangkan jiwa. Dia dimulai dengan langkah-langkah yang ringan, lalu bertambah besar seiring waktu berjalan.

Maka hendaklah kamu membiasakan hatimu untuk shalat di waktunya, terbiasa berzikir kepada Allah bahkan di waktu tersempitmu, dan membaca Al-Quran walau sedikit ayat yang diucap, karena itu adalah permulaan jalan.

Kalau jiwa terbiasa melakukan kebaikan, maka dia akan mencitainya, kalau jiwa sudah tenang bersama Allah, maka dia tidak mencari ketenangan selain itu. Dan selanjutnya, lama-lama taqorrub (kedekatan) kepada Allah ini bukan hanya menjadi ibadah, melainkan cara dan kebiasaan hidup seseorang.

Yang diminta bukanlah banyaknya, tapi kejujuran dan keteguhan, karena Allah tidak melihat banyaknya amal, tapi kejujuran hati.

Dan barang siapa yang melatih dirinya dalam taqarrub kepada Allah, maka dia akan hidup tenang walau kehidupan berubah keadaannya.

perbaiki hubungan dengan Allah, maka lihatlah hasilnya

“Dahulu para ulama jika bertemu, mereka saling menasihati dengan kalimat-kalimat berikut. Dan jika mereka saling berjauhan, mereka menuliskan pesan kepada sebagian yang lain:

’Barang siapa memperbaiki apa yang tersembunyi di dalam hatinya, maka Allah akan memperbaiki apa yang tampak darinya.

Barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungan antara dirinya dengan sesama manusia.

Dan barang siapa lebih mengutamakan urusan akhiratnya, niscaya Allah akan mencukupkan urusan dunianya.’”

> Ma’qil Al-Jazari رحمه الله
> 📚 Al-Ikhlāṣ wan-Niyyah, karya Ibnu Abi Ad-Dunya, hlm. 16.
__
t.me/atsarulkhair

Bacalah Surah Al-Fatihah pada air, lalu minumlah.



Di antara nama-nama Surah Al-Fatihah adalah: Asy-Syāfiyah (penyembuh), Al-Kāfiyah (yang mencukupi), Al-Wāfiyah (yang sempurna), dan Al-Wāqiyah (yang melindungi).

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

“Pernah suatu kali aku ditimpa rasa sakit yang sangat menyiksa, hingga hampir membuatku tidak mampu bergerak. Rasa sakit itu menyerangku ketika sedang thawaf maupun pada ibadah lainnya. *Maka aku segera membaca Surah Al-Fatihah, lalu mengusapkannya pada bagian tubuh yang terasa sakit.* Seketika rasa sakit itu hilang seakan-akan jatuh seperti batu yang terlepas.

Aku telah mencobanya berulang kali. Aku juga pernah mengambil segelas air zamzam, kemudian membacakan Surah Al-Fatihah berulang kali lalu meminumnya. Sungguh, aku merasakan manfaat dan kekuatan yang tidak pernah kudapati dari obat apa pun.”

> Madārij as-Sālikīn (1/58)._

_مثابة.

Jangan Mudah Merasa Paling Baik



Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ الرَّجُلَ يَقُولُ: هَلَكَ النَّاسُ، فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ

"Apabila kalian mendengar seseorang berkata, 'Manusia telah binasa,' maka dialah yang paling binasa di antara mereka."

(HR. Sahih Muslim no. 2623)

Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini ditujukan kepada orang yang gemar merendahkan orang lain dan merasa dirinya lebih baik daripada mereka. Ia melihat manusia penuh dengan kekurangan, tetapi lupa melihat aib yang ada pada dirinya sendiri.

Bukan berarti seorang muslim tidak boleh prihatin terhadap banyaknya kemaksiatan atau kerusakan di tengah masyarakat. Yang tercela adalah ketika keprihatinan itu berubah menjadi kesombongan, hingga ia memandang dirinya sebagai satu-satunya orang yang selamat dan meremehkan orang lain.

Seorang mukmin yang rendah hati akan lebih banyak berdoa agar Allah memperbaiki dirinya dan kaum muslimin. Ia menasihati dengan kasih sayang, bukan dengan sikap merasa paling suci.

Maka, ketika melihat kesalahan orang lain, jangan terburu-buru berkata, "Manusia sekarang sudah rusak semua." Bisa jadi, orang yang hari ini kita anggap jauh dari hidayah justru suatu saat Allah angkat derajatnya. Dan bisa jadi, kita yang merasa aman justru sedang diuji dengan penyakit hati yang tidak kita sadari.

Kalau nanti saya sudah lebih baik, baru saya mulai dekat dengan Al-Qur'an.


Kalimat ini terdengar baik, tetapi justru sering menjadi alasan untuk terus menunda.

Bukankah Al-Qur'an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia? Kita tidak harus menunggu menjadi baik untuk membacanya, menghafalnya, atau mentadabburinya. Justru dengan terus bersama Al-Qur'an, Allah memperbaiki hati, akhlak, dan langkah hidup kita sedikit demi sedikit.

Tidak ada yang memulai perjalanan ini dalam keadaan sempurna. Yang Allah cintai adalah hamba yang mau melangkah dan terus kembali kepada-Nya.

Jadi jangan tunggu hati menjadi baik untuk dekat dengan Al-Qur'an. Dekatilah Al-Qur'an, lalu mohonlah kepada Allah agar Dia menjadikan kita pribadi yang lebih baik setiap harinya.

Simpan postingan ini jika Anda sedang memulai perjalanan bersama Al-Qur'an, dan bagikan kepada seseorang yang masih merasa "belum pantas" untuk mendekat kepada firman Allah. 🤍

tahfidzmadani.com

kondisi saat sakaratul maut

Di antara perkara yang paling menggetarkan adalah keadaan seseorang ketika menghadapi kematian. *Saat itu ia akan merasakan penyesalan yang ...