HATI YANG BERKARAT



Dalam diri manusia ada hati. Jika ia baik maka baik juga seluruh anggota tubuhnya, sebaliknya jika ia buruk maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. Hati yang baik akan bercahaya dan hati yang buruk akan tertutup noda hitam. Jika noda hitam ini tidak dibersihkan dengan segera, niscaya ia akan menutupi seluruh hati sampai hitam legam dan gelap hingga akhirnya mematikannya.

Demikian yang Nabi SAW sampaikan dalam hadisnya, “Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula jasad tersebut, dan sebaliknya apabila ia buruk maka jasad itu akan menjadi buruk pula. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah kalbu (hati).” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Noda hitam yang disebut menutupi hati seperti dikatakan Nabi SAW adalah dosa dan maksiat, baik itu kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Beliau mengistilahkannya dengan ran (titik hitam). Beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu dosa maka akan ada titik hitam di hatinya. Apabila ia meninggalkannya, meminta ampun dan bertobat kepada Allah, hatinya bersih kembali. Apabila ia kembali berdosa, titik hitam itu akan kembali lagi hingga menutupi hatinya. Itulah yang disebut ran,” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Noda hitam itu membuat hati menjadi berkarat. Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab al-Fath ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani mengatakan, hati itu bisa berkarat. Namun, sebagaimana yang dinasihatkan Nabi SAW, jika pemiliknya merawatnya dengan baik maka hati itu akan bercahaya kembali. Jika tidak dirawat, hati akan menjadi hitam kelam karena jauh dari nur (cahaya). Selain karena dosa, kata sang Syekh, hati menjadi hitam juga karena cinta dan rakusnya terhadap dunia, tanpa punya sikap wara'. Orang seperti ini akan terus-menerus mengumpulkan dunia tanpa pernah merasa puas, sampai melakukannya dengan cara yang diharamkan.

Untuk membersihkan hati yang berkarat ini, kata Syekh, setidaknya ada tiga hal yang bisa dilakukan. Ia mengutip sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya hati itu bisa berkarat, dan sesungguhnya penggosoknya adalah membaca Alquran, mengingat mati, dan menghadiri majelis zikir.”

Alquran adalah kalamullah. Dalam Alquran, misalnya, disebutkan bahwa ia adalah obat bagi penyakit hati dan fisik, “Dan Kami turunkan dari Alquran sesuatu yang menjadi obat (penawar) dan rahmat bagi orang beriman.” (QS al-Isra [17]: 82). Semakin seseorang banyak membaca Alquran lalu mengamalkannya dalam kehidupan, karat di hatinya akan semakin berkurang dan hilang.

Mengingat mati juga bisa membersihkan karat di hati. Nabi SAW mengatakan, “Perbanyaklah mengingat mati karena sesungguhnya mengingat mati itu dapat menghilangkan dosa-dosa dan menjadikannya zuhud terhadap dunia.” (HR Ibnu Abi ad-Dunya). Dengan mengingat mati, seseorang akan menyadari dirinya, mengingat dosanya, lalu berusaha memperbaiki dirinya menjadi lebih baik.

Menghadiri majelis zikir juga dapat membersihkan karat di hati. Dalam hadis disebutkan bahwa malaikat berkeliling mencari majelis zikir. Ketika menemukannya, ia memanggil malaikat lainnya untuk ikut dalam majelis tersebut dan mendoakan orang-orang di situ. Allah kemudian berkata kepada para malaikat itu, “Persaksikanlah oleh kalian bahwasanya aku telah mengampuni mereka.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Allah mengampuni dosa mereka dan membersihkan hatinya.


HATI YANG KAYA

Kekayaan yang hakiki adalah kekakayaan dalam hati/jiwa. Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (dalam) jiwa“- Kebahagiaan hidup dan keberuntungan di dunia dan akhirat hanyalah bagi orang yang cinta kepada Allah dan hari akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah Ta’ala berikan kepadanya”

- Sifat yang mulia ini dimiliki dengan sempurna oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan inilah yang menjadikan mereka lebih utama dan mulia di sisi Allah Ta’ala dibandingkan generasi yang datang setelah mereka. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kalian lebih banyak berpuasa, (mengerjakan) shalat, dan lebih bersungguh-sungguh (dalam beribadah) dibandingkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi mereka lebih baik (lebih utama di sisi Allah Ta’ala) daripada kalian”. Ada yang bertanya: Kenapa (bisa demikian), wahai Abu Abdirrahman? Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Karena mereka lebih zuhud dalam (kehidupan) dunia dan lebih cinta kepada akhirat”

Sebagai penutup artikel singkat ini dikutipkan sebuah hadits Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam :

صحيح مسلم ٥٢٥٧: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ يَعْنِي ابْنَ بِلَالٍ عَنْ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ قَالُوا وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى الْعَنَزِيُّ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَرْعَرَةَ السَّامِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ يَعْنِيَانِ الثَّقَفِيَّ عَنْ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ غَيْرَ أَنَّ فِي حَدِيثِ الثَّقَفِيِّ فَلَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ هَذَا السَّكَكُ بِهِ عَيْبًا
Shahih Muslim 5257: dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam melintas masuk ke pasar seusai pergi dari tempat-tempat tinggi sementara orang-orang berada disisi beliau. Beliau melintasi bangkai anak kambing dengan telinga melekat, beliau mengangkat telinganya lalu bersabda: "Siapa diantara kalian yang mau membeli ini seharga satu dirham?" mereka menjawab: Kami tidak mau memilikinya, untuk apa? Beliau bersabda: "Apa kalian mau (bangkai) ini milik kalian?" mereka menjawab: Demi Allah, andai masih hidup pun ada cacatnya karena telinganya menempel, lalu bagaimana halnya dalam keadaan sudah mati? Beliau bersabda: "Demi Allah, dunia lebih hina bagi Allah melebihi (bangkai) ini bagi kalian." ( Wallahu ‘alam bish-shawab)

Seni menjalani hidup dengan syukur



Salah satu dampak buruk media sosial adalah: Ia membuka akses lebih luas bagi kita untuk "membandingkan diri" dengan orang lain, membandingkan hidup kita dengan hidup mereka. *Padahal media sosial adalah dunia penuh ilusi.* Kebanyakan warga di dalamnya _berlomba-lomba_ menyajikan kehidupan pribadinya dari sisi termanisnya. Bahkan tak jarang, semua itu disajikan setelah sebelumnya diberi bumbu-bumbu berlebihan, dipoles sedemikian rupa.

Melihat status kawan yang menampilkan tempat-tempat elok destinasi liburannya. Kemudian tanpa sadar, melihat diri yang kebanyakan waktu liburan hanya dihabiskan di rumah saja. *Mulai merasa bahwa diri ini tidak seberuntung dia.* Mulai menaruh "standar keberuntungan" secara abstrak.

Padahal, jika ditilik sejenak, *sejatinya kehidupan kitapun dipenuhi banyak hal manis yang menuntut syukur.* Hanya saja, seringkali kita tidak lagi merasakan manisnya sebab penyakit "membandingkan diri" tadi.

Obat dari penyakit ini sederhana saja: (Setelah taufiq dari Allah) Kita hanya perlu *lebih menghargai setiap momen, sekecil apapun itu.*

*Ketika hanya di rumah,* perhatikan lagi, bukankah berkumpul bersama keluarga merupakan hal yang tidak semua orang berkesempatan merasakannya?

*Ketika waktu berlibur justru _habis_ untuk mengabdi pada masyarakat,* renungkan sejenak, bukankah kesibukan dalam hal positif adalah nikmat begitu besar yang hanya diberikan pada segelintir orang?

*Ketika kemudian diuji dengan sakit,* coba pikirkan dalam diam, bukankah sakit juga merupakan salah satu bentuk Allah menyayangi kita?

Lihat? *Ternyata pada setiap yang terjadi, selalu ada hal yang bisa kita syukuri* :)

Maka kawan, apapun yang Allah pilihkan untuk menjadi bagian dari alur kehidupan kita, biasakan diri untuk *mengedepankan syukur* di atas hal lainnya. Tanamkan pada diri, bahwa *skenario Allah pasti lebih indah* dibanding apa yang kita inginkan.

Hingga akhirnya, kita menjadi seorang hamba yang terus bersyukur, dan senantiasa melihat apa yang terjadi pada kita dari sudut pandang yang positif.

—•—•—•—
*💌 Resepnya begini:*

Ketika terjadi hal yang menyenangkan, ucapkan:
*الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصّالِحَات.*

Sedangkan, ketika terjadi hal yang kurang menyenangkan, ucapkan:
*الحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى كُلِّ حَال.*
—•—•—•—

Semoga Allah senantiasa berikan taufiq kepada kita semua🌹


> 6 Shafr 1447 H/31 Juli 2025.

🔗https://s.id/BekalPerjalanan

Memutus Harapan Dari Makhluk



Syaikh al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata,

“والله لو يئست من الخلق
حتى لا تريد منهم شيئا:
لأعطاك الله مولاك كل ما تريد”.

“Demi Allah, Seandainya kamu memutus harapan dari makhluk hingga kamu tidak berharap sesuatupun dari mereka niscaya Allah Pelindungmu akan memberikan kepadamu segala yang kamu inginkan.”

Jami’ Al-Ulum Wal Hikam, hlm. 264


Berharap kepada manusia hanya akan melahirkan kekecewaan .. sebab manusia itu rapuh... Hanya kepada Allah lah harapan tidak akan menjadi sia sia... Karena Allah lah tempat bergantung, Allahush Shamad...

JANGAN HINAKAN DIRI



Imam Ibnu Rojab rahimahullah berkata,

ابن آدم لو عرفت قدر نفسك ما أهنتها بالمعاصي أنت المختار من المخلوقات ولك أعدت الجنة.

“Wahai anak Adam, jikalau engkau mengerti kadar dirimu, niscaya engkau tidak akan menghinakannya dengan berbagai kemaksiatan, engkau adalah pilihan di antara para makhluk. Dan bagimu, Surga telah dipersiapkan.”

Lathoiful-Ma’arif 183

Ketika melakukan dosa, jangan lihat kepada kecilnya maksiat yang dilakukan, tapi lihatlah Siapa yang mengetahu engkau melakukan maksiat, Allah Maha Melihat apa yang kita perbuat... Sungguh malu jika kita ingat, bahwa kita lahir dalam keadaan bersih, namun apakah malu jika kita pulang dengan membawa dosa .....

PEMBATAL-PEMBATAL KEISLAMAN



Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini adanya perkara-perkara yang dapat membatalkan keislaman seseorang. Berikut ini akan kami sebutkan sebagiannya:

1. Menyekutukan Allah (syirik). Yaitu menjadikan sekutu atau menjadikannya sebagai perantara antara dirinya dengan Allah. Misalnya berdo’a, memohon syafa’at, bertawakkal, beristighatsah, bernadzar, menyembelih yang ditujukan kepada selain Allah, seperti menyembelih untuk jin atau untuk penghuni kubur, dengan keyakinan bahwa para sesembahan selain Allah itu dapat menolak bahaya atau dapat mendatangkan manfaat.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya…” [An-Nisaa’: 48] Dan Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
“… Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya adalah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maa-idah: 72]

2. Orang yang membuat perantara antara dirinya dengan Allah, yaitu dengan berdo’a, memohon syafa’at, serta bertawakkal kepada mereka. Perbuatan-perbuatan tersebut termasuk amalan kekufuran menurut ijma’ (kesepakatan para ulama).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
“Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (sekutu) selain Allah, maka tidaklah mereka memiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula dapat memindahkannya.’ Yang mereka seru itu mencari sendiri jalan yang lebih dekat menuju Rabb-nya, dan mereka mengharapkan rahmat serta takut akan adzab-Nya. Sesungguhnya adzab Rabb-mu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” [Al-Israa’: 56-57][2]

3. Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan pendapat me-reka. Yaitu orang yang tidak mengkafirkan orang-orang kafir -baik dari Yahudi, Nasrani maupun Majusi-, orang-orang musyrik, atau orang-orang mulhid (Atheis), atau selain itu dari berbagai macam kekufuran, atau ia meragukan kekufuran mereka, atau ia membenarkan pendapat mereka, maka ia telah kafir.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…” [Ali ‘Imran: 19][3]

Termasuk juga seseorang yang memilih kepercayaan selain Islam, seperti Yahudi, Nasrani, Majusi, Komunis, sekularisme, Masuni, Ba’ats atau keyakinan (kepercayaan) lainnya yang jelas kufur, maka ia telah kafir.

Juga firman-Nya:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali ‘Imran: 85]

Hal ini dikarenakan Allah Ta’ala telah mengkafirkan mereka, namun ia menyelisihi Allah dan Rasul-Nya, ia tidak mau mengkafirkan mereka, atau meragukan kekufuran mereka, atau ia membenarkan pendapat mereka, sedangkan kekufuran mereka itu telah menentang Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” [Al-Bayyinah: 6]

Yang dimaksud Ahlul Kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani, sedangkan kaum musyrikin adalah orang-orang yang menyembah ilah yang lain bersama Allah.[4]

4. Meyakini adanya petunjuk yang lebih sempurna dari Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang meyakini bahwa ada petunjuk lain yang lebih sempurna dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau orang meyakini bahwa ada hukum lain yang lebih baik daripada hukum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti orang-orang yang lebih memilih hukum-hukum Thaghut daripada hukum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia telah kafir.

Termasuk juga di dalamnya adalah orang-orang yang meyakini bahwa peraturan dan undang-undang yang dibuat manusia lebih afdhal (utama) daripada sya’riat Islam, atau orang meyakini bahwa hukum Islam tidak relevan (sesuai) lagi untuk diterapkan di zaman sekarang ini, atau orang meyakini bahwa Islam sebagai sebab ketertinggalan ummat. Termasuk juga orang-orang yang berpendapat bahwa pelaksanaan hukum potong tangan bagi pencuri, atau hukum rajam bagi orang yang (sudah menikah lalu) berzina sudah tidak sesuai lagi di zaman sekarang.

Juga orang-orang yang menghalalkan hal-hal yang telah diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan dalil-dalil syar’i yang telah tetap, seperti zina, riba, meminum khamr, dan berhukum dengan selain hukum Allah atau selain itu, maka ia telah kafir berdasarkan ijma’ para ulama. Allah Ta’ala berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliyyah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” [Al-Maa-idah: 50]

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir.” [Al-Maa-idah: 44] Allah Ta’ala berfirman:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“… Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim.” [Al-Maa-idah: 45] Allah Ta’ala berfirman:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“… Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” [Al-Maa-idah: 47]

5. Tidak senang dan membenci hal-hal yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun ia melaksanakannya, maka ia telah kafir. Yaitu orang yang marah, murka, atau benci terhadap apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun ia melakukannya, maka ia telah kafir.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَّهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ
“Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang di-turunkan Allah (Al-Qur-an), lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” [Muhammad: 8-9]

Juga firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى ۙ الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَىٰ لَهُمْ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ ۖ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ
“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (murtad) setelah jelas petunjuk bagi mereka, syaithan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): ‘Kami akan mematuhimu dalam beberapa urusan,’ sedangkan Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat (maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka dan punggung mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” [Muhammad: 25-28]

6. Menghina Islam

Yaitu orang yang mengolok-olok (menghina) Allah dan Rasul-Nya, Al-Qur-an, agama Islam, Malaikat atau para ulama karena ilmu yang mereka miliki. Atau menghina salah satu syi’ar dari syi’ar-syi’ar Islam, seperti shalat, zakat, puasa, haji, thawaf di Ka’bah, wukuf di ‘Arafah atau menghina masjid, adzan, memelihara jenggot atau Sunnah-Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya, dan syi’ar-syi’ar agama Allah pada tempat-tempat yang disucikan dalam keyakinan Islam serta terdapat keberkahan padanya, maka dia telah kafir.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ
“… Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” [At-Taubah: 65-66]

Dan firman Allah Ta’ala:

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” [Al-An’aam: 68]

7. Melakukan Sihir

Yaitu melakukan praktek-praktek sihir, termasuk di dalamnya ash-sharfu dan al-‘athfu. Ash-sharfu adalah perbuatan sihir yang dimaksudkan dengannya untuk merubah keadaan seseorang dari apa yang dicintainya, seperti memalingkan kecintaan seorang suami terhadap isterinya menjadi kebencian terhadapnya.

Adapun al-‘athfu adalah amalan sihir yang dimaksudkan untuk memacu dan mendorong seseorang dari apa yang tidak dicintainya sehingga ia mencintainya dengan cara-cara syaithan. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ
“…Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir…’” [Al-Baqarah: 102]

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ.
‘Sesungguhnya jampi, jimat dan tiwalah (pelet) adalah perbuatan syirik.’” [5]

8. Memberikan pertolongan kepada orang kafir dan membantu mereka dalam rangka memerangi kaum Muslimin Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin bagimu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” [Al-Maa-idah: 51][6]

Juga firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang yang membuat agamamu menjadi buah ejekan dan permainan sebagai pemimpin, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu dan dari orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertawakkallah kepada Allah jika kamu benar-benar orang yang beriman.” [Al-Maa-idah: 57]

9. Meyakini bahwa manusia bebas keluar dari syari’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu orang yang mempunyai keyakinan bahwa sebagian manusia diberikan keleluasaan untuk keluar dari sya’riat (ajaran) Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana Nabi Khidir dibolehkan keluar dari sya’riat Nabi Musa Alaihissallam, maka ia telah kafir.

Karena seorang Nabi diutus secara khusus kepada kaumnya, maka tidak wajib bagi seluruh menusia untuk mengikutinya. Adapun Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia secara kaffah (menyeluruh), maka tidak halal bagi manusia untuk menyelisihi dan keluar dari syari’at beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua…’” [Al-A’raaf: 158] Dan Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada ummat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Saba’: 28] Juga firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiyaa’: 107] Allah Ta’ala berfirman:

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ
“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.” [Ali ‘Imran: 83] Dan dalam hadits disebutkan:

وَاللهِ، لَوْ أَنَّ مُوْسَى حَيًّا لَمَا وَسِعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِيْ.
“Demi Allah, jika seandainya Musa q hidup di tengah-tengah kalian, niscaya tidak ada keleluasaan baginya kecuali ia wajib mengikuti syari’atku.”[7]

10. Berpaling dari agama Allah Ta’ala, ia tidak mempelajarinya dan tidak beramal dengannya. Yang dimaksud dari berpaling yang termasuk pembatal dari pembatal-pembatal keislaman adalah berpaling dari mempelajari pokok agama yang seseorang dapat dikatakan Muslim dengannya, meskipun ia jahil (bodoh) terhadap perkara-perkara agama yang sifatnya terperinci. Karena ilmu terhadap agama secara terperinci terkadang tidak ada yang sanggup melaksanakannya kecuali para ulama dan para penuntut ilmu. Firman Allah Ta’ala:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنذِرُوا مُعْرِضُونَ
“… Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.” [Al-Ahqaaf: 3] Firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا ۚ إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ
“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabb-nya, kemudian ia berpaling daripadanya. Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” [As-Sajdah: 22] Firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” [Thaahaa: 124]

Yang mulia ‘Allamah asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alusy Syaikh ketika memulai Syarah Nawaaqidhil Islaam, beliau berkata: “Setiap Muslim harus mengetahui bahwa membicarakan pembatal-pembatal keislaman dan hal-hal yang menyebabkan kufur dan kesesatan termasuk dari perkara-perkara yang besar dan penting yang harus dijalani sesuai dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Tidak boleh berbicara tentang takfir dengan mengikuti hawa nafsu dan syahwat, karena bahayanya yang sangat besar. Sesungguhnya seorang Muslim tidak boleh dikafirkan dan dihukumi sebagai kafir kecuali sesudah ditegakkan dalil syar’i dari Al-Qur-an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab jika tidak demikian orang akan mudah mengkafirkan manusia, fulan dan fulan, dan menghukuminya dengan kafir atau fasiq dengan mengikuti hawa nafsu dan apa yang diinginkan oleh hatinya. Sesungguhnya yang demikian termasuk perkara yang diharamkan.

Allah berfirman:

فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [Al-Hujuraat: 8]

Maka, wajib bagi setiap Muslim untuk berhati-hati, tidak boleh melafazhkan ucapan atau menuduh seseorang dengan kafir atau fasiq kecuali apa yang telah ada dalilnya dari Al-Qur-an dan As-Sunnah. Sesungguhnya perkara takfir (menghukumi seseorang sebagai kafir) dan tafsiq (menghukumi seseorang sebagai fasiq) telah banyak membuat orang tergelincir dan mengikuti pemahaman yang sesat. Sesungguhnya ada sebagian hamba Allah yang dengan mudahnya mengkafirkan kaum Muslimin hanya dengan suatu perbuatan dosa yang mereka lakukan atau kesalahan yang mereka terjatuh padanya, maka pemahaman takfir ini telah membuat mereka sesat dan keluar dari jalan yang lurus.” [8]

Imam asy-Syaukani (Muhammad bin ‘Ali asy-Syaukani, hidup tahun 1173-1250 H) rahimahullah berkata: “Menghukumi seorang Muslim keluar dari agama Islam dan masuk dalam kekufuran tidak layak dilakukan oleh seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, melainkan dengan bukti dan keterangan yang sangat jelas -lebih jelas daripada terangnya sinar matahari di siang hari-. Karena sesungguhnya telah ada hadits-hadits yang shahih yang diriwayatkan dari beberapa Sahabat, bahwa apabila seseorang berkata kepada saudaranya: ‘Wahai kafir,’ maka (ucapan itu) akan kembali kepada salah seorang dari keduanya. Dan pada lafazh lain dalam Shahiihul Bukhari dan Shahiih Muslim dan selain keduanya disebutkan, ‘Barangsiapa yang memanggil seseorang dengan kekufuran, atau berkata musuh Allah padahal ia tidak demikian maka akan kembali kepadanya.’

Hadits-hadits tersebut menunjukkan tentang besarnya ancaman dan nasihat yang besar, agar kita tidak terburu-buru dalam masalah kafir mengkafirkan.” [9]

Pembatal-pembatal keislaman yang disebutkan di atas adalah hukum yang bersifat umum. Maka, tidak diperbolehkan bagi seseorang tergesa-gesa dalam menetapkan bahwa orang yang melakukannya langsung keluar dari Islam. Sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya pengkafiran secara umum sama dengan ancaman secara umum. Wajib bagi kita untuk berpegang kepada kemutlakan dan keumumannya. Adapun hukum kepada orang tertentu bahwa ia kafir atau dia masuk Neraka, maka harus diketahui dalil yang jelas atas orang tersebut, karena dalam menghukumi seseorang harus terpenuhi dahulu syarat-syaratnya serta tidak adanya penghalang.” [10]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Syarat-syarat seseorang dapat dihukumi sebagai kafir adalah:

1. Mengetahui (dengan jelas),
2. Dilakukan dengan sengaja, dan
3. Tidak ada paksaan.

Sedangkan intifaa-ul mawaani’ (penghalang-penghalang yang menjadikan seseorang dihukumi kafir ) yaitu kebalikan dari syarat tersebut di atas: (1) Tidak mengetahui, (2) tidak disengaja, dan (3) karena dipaksa. [11]


MATA YANG BUTA

mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)’; maknanya adalah mereka yang telah Allah jadikan penghuni Jahannam mempunyai hati yang tidak digunakan untuk memikirkan ayat-ayat Allah, tidak mentadaburi dalil-dalil yang menunjukkan ke-Esa-an-Nya, dan tidak mengambil pelajaran dengannya dari hujjah-hujjah Rasul sehingga mereka mengetahui tauhid Rabb mereka dan mengetahui hakekat kenabian nabi-nabi mereka. Maka Rabb kita ‘azza wa jalla mensifati mereka dengan : ‘tidak dipergunakan hatinya untuk memahami (ayat-ayat Allah)’, dikarenakan berpalingnya mereka dari kebenaran dan meninggalkan mentadaburi kebenaran kenabian para Rasul., serta karena lamanya mereka berada dalam kekafiran. Begitu juga dengan firman-Nya ‘dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihatnya’, yaitu : mereka mempunyai mata yang tidak dipergunakan untuk melihat ayat-ayat Allah dan dalil-dalil-Nya, sehingga mereka dapat merenungkan dan memikirkannya (ayat-ayat Allah dan dalil-dalil-Nya), mengetahui kebenaran dakwah para Rasul kepada mereka, rusaknya perbuatan mereka berupa kesyirikan kepada Allah dan pendustaan terhadap rasul-rasul-Nya. Maka Allah mensifati mereka tidak dapat melihat, karena mereka tidak mempergunakan mata mereka untuk melihat kebenaran.

MUNAJAT (DOA) DALAM KITAB AL-HIKAM





Dari Ibnu’Atha’illah semoga Allah senantiasa meridhainya berkata:



1
“Tuhanku, akulah yang fakir di dalam kekayaanku, maka bagaimana tidak akan merasakan kefakiran dalam kefakiranku?.”



2
“Tuhanku, akulah hamba yang bodoh dalam ilmu pengetahuanku, maka bagaimana tak akan lebih bodoh lagi dalam hal-hal yang aku masih bodoh tidak mengetahuinya?.”



3
“Tuhanku, perubahanperubahan aturan-Mu (tadbir) dan cepat tibanya takdir-Mu, telah menahan hamba-hamba-Mu yang ‘arif dari penyadaran pemberian atau putusasa dari pada-Mu selama dalam ujian.”



4
“Tuhanku, akan muncul apa-apa yang layak dengan kerendahan, kekurangan dan sifat kebodohanku, dan dari-Mu pasti akan muncul segala hal yang layak dengan Kemuliaan-Mu.”



5
“Tuhanku, Engkau telah menyifati diri-Mu dengan sifat belas kasih terhadapku, dari mulai sebelum adanya kelemahan (bentuk)ku ini; maka, apakah kemudiann Engkau akan menolakku dari kedua sifat-Mu setelah adanya kelemahanku?.”



6
“Tuhanku, apabila amal kebaikan (al-mahasin) muncul dariku, maka itu adalah semata-mata karena karunia-Mu dan itu adalah hak-Mu untuk memberkatiku. Dan apabila kejahatan (al-masawi) muncul dariku, maka itu adalah semata-mata karena keadilan-Mu: itu adalah hak-Mu untuk menuntutku.”



7
“Tuhanku, bagaimana dapat Engkau tinggalkan aku untuk mengurusi diriku sendiri, padahal Engkau-lah Yang menjamin aku? Dan bagaimana aku dapat dalam bahaya, padahal Engkau-lah Temanku? Atau, bagaimana ku dapat kecewa dengan-Mu, pdahal Engkau-lah Penghiburku? Inilah aku yang sedang beusaha mendekat kepada-Mu dengan melalui kefakiranku kepada-Mu.

Bagaimana aku dapat mendekat kepada-Mu dengan melalui sesuatu yang mustahil akan dapat sampai kepada-Mu? Bagaimana aku dapat mengadu kepada-Mu tentang keadaanku, padahal aku tidak tersembunyi daripada-Mu? Atau bagaimana aku nyatakan kepada-Mu dengan kata-kataku, padahal kata-kata itu datang dan kembali kepada-Mu? Atau bagaimana harapanku dapat hancur, padahal telah datang menghadap-Mu? Atau bagaimana keadaanku tidak akan menjadi baik, padahal ia berasal dari-Mu dan kembali kepada-Mu?



8
“Tuhanku, betapa lunaknya Engkau terhadapku, padahal aku begitu dungu, dan alangkah besar-Nya rahmat-Mu kepadaku, padahal sangat jelek perbuatanku.”



9
“Tuhanku, betapa dekatnya Engkau kepadaku, dan alangkah jauhnya aku dari-Mu.”



10
“Tuhanku, betapa kasih-Mu kepadaku, maka apakah yang telah menutupiku dari-Mu?"



11
“Tuhanku, aku telah mengerti dengan perubahan keadaan dan pergantian-pergantian masa, bahwa tujuan-Mu dariku adalah untuk memperkenalkan kekuasaan-Mu kepadaku, dalam segala keadaan dan masa, sehingga aku tidak melupakan-Mu dalam segala apa-pun.”



12
“Tuhanku, kapan saja dosa-dosa ku membungkamku, maka kemurahan-Mu membuatku berbicara, dan kapan saja sifat-sifatku membuatku putus asa, maka karunia-Mu memberiku setitik harapan.”


13
“Tuhanku, Jika dalam kebaikan seseorang masih banyak kemaksiatan (kesalahan). Maka bagaimanakah tidak akan menjadi kemaksiatan itu sebagai dosa? Dan jika semua ilmu dan pengertian seseorang itu sekedar pengakuan belaka, maka bagaimana tidak akan menjadi semua pengakuannya itu kepalsuan belaka?.” (Kebajikan-kebajikan yanng diklaim orang untuk dirinya sendiri adalah suatu kesalahan karena terdapat unsur egisentrisme.

Demikian juga dengan melakukan kebenaran demi karunia spiritual (ilham), dan juga ego yang mengakui sebagai miliknya sendiri. Kalau begitu, ia tengah mengatakan, jika kebajikan-kebajikan dan amal kebaikan belum bersih dari individualisme, maka bagaimana dengan dosa-dosa dan pengakuan-pengakuan sebanyak itu?).



14
“Tuhanku, hukum putusan-Mu yang pasti terlaksana dan kehendak-Mu yang memaksa, keduanya itu tidak memberi kesempurnaan bagi orang yang pandai berkata-kata, atau bagi orang yang mempunyai kesaktian untuk melaksanakan kesaktiannya.”



15
“Tuhanku, berapa banyak amal taat yang telah ku lakukan dan keadaan yang telah kuperbaiki, tiba-tiba harapanku terhadapnya digagalkan oleh keadilan-Mu, namun aku telah dibebaskan oleh karunia-Mu dari bergantung nasib pada amal perbuatan lahir batin itu.”



16
“Tuhanku, Engkau mengetahui bahwa meskipun ketaatan itu tidak terus-menerus dalam praktiknya, tapi ia tetap terus (langgeng) dalam perasaan cinta dan niatku pada amal perbuatan tersebut.”



17
“Tuhanku, bagaimana aku akan dapt memutuskan, padahal Engkau-lah Yang Maha Menentukan (al-Qahir) dan bagaimana aku tidak akan dapat memutuskan, padahal Engkau-lah Yang Maha Memerintahkan (al-Amir).?”



18
“Tuhanku, hlir mudikku pada alam benda ini menyebabkan jauhnya perjalanan, karena itu dekatkanlah aku kepada-Mu dengan sesuatu amal yang segera dapat menyampaikanku kepada-Mu.”



19
“Tuhanku, Bagaimana dapat dijadikan alasan (dalil) untuk menunjukkan kepada-Mu, sesuatu yang bergantung kepada-Mu? Adakah sesuatu selain-Mu yang dapat mewujudkan apa-apa yang tidak Engkau miliki, sehingga ia dapat menjadi pencinta-Mu? Bilakah Engkau gaib, sehingga diperlulan petunjuk yang dapat menunjukkan kepada-Mu? Dan bilakah Engkau jauh sehingga alam ini sendiri yang menunjukkan (mendekatkan) kami kepada-Mu?”.

(Sebagaimana terlihat, ini hampir sama dengan hikmah No.29. Ia mengatakan bahwa Tuhan adalah lebih “Nyata” (Zhahir) daripada makhluk-Nya. Adalah Tuhan Yang membuktikannya, bukan mereka yang membuktikan Tuhan).



20
“Tuhanku, sungguh buta mata yang tidak melihat pengawasan-Mu (raqib) dan sungguh sia-sia (rugi) dagangan seorang hamba yang tidak dapat bagian cinta-Mu.”



21
“Tuhanku,, Engkau telah memerintahkan aku untuk kembali ke alam ini, maka kembalikanlah aku padanya dengan diliputi pancaran cahaya dan petunjuk penglihatan batin (al-istibar), sehingga aku bisa kembali kepada-Mu dari alam ini sebagaimna ketika aku masuk ke dalamnya, dengan keberadaan batinku (as-sirr) yang terpelihara dari memperhatikannya dan semangatku (al-himmah) yang enggan bersandar padanya. Sungguh Engkau berkuasa atas segala sesuatu.”



22
“Tuhanku, inilah kehinanku yang nyata di depan-Mu, dan inilah keadaanku yang tidak tersembunyi dari-Mu. Dari-Mu aku memohon agar sampai kepada-Mu dengan melalui cahaya-Mu dan tegakkanlah aku dihadapan-Mu dengan melalui kesungguhan dan pengabdian!,”



23
“Tuhanku, Ajarilah aku dengan ilmu-Mu yang masih tersimpan, dan lindungilah aku dengan rahasia nama-Mu yang senantiasa terpelihara.”



24
“Tuhanku, jadikanlah aku memahami tingkat hakikat dari orang-orang muqarrabin, dan jadikanlah aku berjalan di jalan orang-orang mujdzab (ahlul-jadzb), yang merupakan orang-orang yang Engkau kasihi yang tertarik langsung kepada-Mu.”



25
“Tuhanku, melalui aturan-Mu (at-tadbir) buatlah aku puas dengannya daripada dengan aturanku sendiri, dan dengan pilihan-Mu daripada pilihanku sendiri, serta dudukkanlah aku di tempat-tempat kebutuhanku yang sungguh-sungguh.”



26
“Tuhanku, keluarkanlah aku dari kerendahan diriku (nafsuku) dan bersihkanlah aku dari keraguan dan syirik sebelum masuk ke liang kuburku. Aku memohon pertolongan-Mu, maka tolonglah aku kepada-Mu aku berserah, maka jangan serahi aku dengan sesuatu yang lain kepada-Mu aku memohon, maka janganlah kecewakan aku pada karunia-Mu aku berharap, maka jangan tolak diriku kepada-Mu aku mendekat, maka jangan jauhkan aku dan pada pintu-Mu aku berdiri, maka jangan campakkan aku.”



27
“Tuhanku, Mahasuci keridhaan-Mu itu akan tergantung pada sesuatu sebab dari pada-Mu, maka bagaimana akan bersebab dari padaku? Sedang Engkau Dzat Yang terkaya daripada sampainya sesuatu kemanfaatan dari Diri-Mu Sendiri, maka baaimana mungkin akn membutuhkan sesuatu dari padaku, padahal akulah hamba ciptaan-Mu ya Allah?.”



28
“Tuhanku, sesungguhnya takdir dan putusan-Mu telah menguasaiku, dan hawa nafsu telah menjadikanku tawanan. Jadilah Penolongku sehingga menolongku dan juga Penolong bagi yang lainnya melalui diriku. Kayakanlah aku dengan karunia-Mu sehingga puas dengan Diri-Mu daripada aku meminta-minta.

Engkau Dzat Yang menjadikan cahaya-cahaya bersinar di dalam hati par Wali-Mu sehingga mereka mengenal-Mu dan menegaskan keesaan-Mu. Engkau-lah Dzat Ynag menjadikan dunia ini hilang dari hati para pencinta-Mu sehingga mereka tidak mencintai sesutu selain-Mu dan menolak sesuatu selan-Mu.

Engkau-ah Dzat yangmelindungi mereka ketika dunia menjadikan mereka jemu. Engkau-lah Dzat Yang menunjukkan mereka hingga tanda-tndan petunjuk menjadi jelas bagi mereka. Orang-orang yang kehilangan=Mu apa yang telah ia temukan? Orang yang telah menemukan-Mu apa yang hilang darinya? Barangsiapa menjadikan sesuatu selain-Mu sebagai pengganti, maka pasti akan kecewa, dan barangsiapa hendak menyimpang dari-Mu, maka pasti akan rugi.”



29
“Tuhanku, bagaimana aku akan dapat berharap pada sesuatu selain-Mu, padahal Engkau tidak pernah memutuskan pertolongan-Mu? Dan bagaimana akan dapat meminta sesuatu kepada selain-Mu, padahal Engkau tidak pernah mengganti kebiasaan-kebiasaan dalam memberikan anugerah? Wahai Dzat Yang menjadikan teman tercinta-Nya merasakan manisnya bermunajat kepada-Nya sehingga mereka dapat berdiri di hadapan-Nya dengan suka cita.

Ya Tuhan Yang memakaikan pada para wali-Nya dengan pakaian kebesaran (takwa) sehingga mereka dapat berbangga dengan kemulian-Nya – Engkau-lah Dzat Yang berdzikir (adz-dzikr) sebelum orang-orang berdzikir. Engkaulah Dzat Yang Permulaan (al-Badi’) yang memberi bantuan pertolongan kebaikan sebelum para ahli ibadat menghadap-Mu.

Engkau-lah Dzat Pemurah (al-Jawwad) di dalam memberi sebelum orang-orang meminta, dan Engkau-lah Dzat Yang Maha Pemberi (al-wahhab), kemudian terhadap apa yang telah Engkau berikan itu. Engkau pinjam (untuk dibayar berlipat ganda).”



30
“Tuhanku, dekatkanlah aku dengan Rahmat-Mu sehingga aku bisa mencapai-Mu, dan tariklah aku dengan karunia-Mu sehingga aku bisa menghadap kepada-Mu.”



31
“Tuhanku, harapanku tidak putus dari pada-Mu, meskipun aku telah berbuat dosa maksiat, demikian pula rasa takutku kepada-Mu tidak hilang meskipun aku telah berbaut taat kepada-Mu.”



32
“Tuhanku, Dunia (materi) ini telah mendorongku untuk pergi menghadap-Mu, dan pengetahuanku akan kemurahan-Mu telah membuatku berdiri di depan pintu-Mu.”



33
“Tuhanku, bagaimana aku akan dapat kecewa padahal Engkau-lah harapanku, atau bagaimana aku akan dapat terhina padahal kepada-Mu-lah aku bersandar dan berserah diri?”



34
“Tuhanku, bagaimana aku akan dapat menganggap diriku ini mulia padahal Engkau telah menempatkanku dalam kehinaan, atau bagaimana aku tidak akan dapat menganggap diriku ini mulia padahal Engkau telah menisbahkan diriku dengan Diri-Mu?

Bagaimana aku tidak akan berhajat kepada-Mu, sementara engkau telah menempatkanku dalam kemiskinan, tetapi bagaimana aku akan miskin padahal Engkau telah mencukupiku dengan kemurahn-Mu?

Engkaulah Tuhan, tiada Tuhan selain Engkau, engkau telah memperkenalkan diri pada tiap sesuatu, sehingga tiada sesuatu pun yang yang tidak mengenal-Mu. Dan Engkau-lah Yang telah memperkenalkan diri-Mu kepadaku dalam seala sesuatu; dengan begitu aku telah melihat-Mu jelas pada tiap sesuatu, dan Engkau-lah Yang Zhahir pada tiap sesuatu.

Wahai Tuhan Yang menembunyikan diri di atas Arasy-Nya beserta Sifat Rahmaniah-Nya, sehingga Arasy itu lenyap di dalam rahmaniah-Nya, sebagaimana alam semesta lenyap di dalam Arasy-Nya Engkau telah melenyapkan makhluk, dan melenyapkan yang lainnya dengan kepungan pancaran cahaya!

Wahai Tuhan, Yang di balik kemuliaan-Nya, tertutup dari pandangan, Wahai Tuhan Yang selalu bersinar dalam kesempurnaan keindahan-Nya dan Yang kebesaran-Nya dimengerti oleh batin orang-orang ‘arif, bagaimana Engkau akan dapat lenyap padahal Engkau-lah Dzat Yang Zhahir (azh-zhahir)? Atau bagaimana Engkau akan dapat gaib, padahal Engkaulah Dzat Yang selalu hadir dan mengawasi.”

Dan Allah Yang memberi Taufik (al-Muwafiq), dan kepada-Nya aku berharap bantuan pertolongan.




JANGAN RAGU DALAM BERDOA

Sekalipun dilakukan doa secara rutin, tapi jika ada kelambatan waktu pemenuhan doa (al-‘atha), maka janganlah engkau putus harapan, sebab Allah menjamin untuk mengabulkan dia dalam apa yang Dia kehendaki untukmu, dan bukan menurut apa yang engkau kehendaki, dan waktunya adalah sesuai dengan kehendak-Nya, bukan sesuai dengan kehendakmu. (Pemberian (al-‘atha) adalah respon surga terhadap faqir, tanda bahwa ia tengah menuju Allah).

Jika apa yang dijanjikan (Allah) kepadamu belum turun, padahal waktunya telah tiba, maka janganlah engkau sampai meragukan janji tersebut. Jika tidak demikian, maka pandangan mata hatimu akan menjadi kabur dan pancaran cahanya (sarirah) akan redup dan padam.

Pedoman bagi Para Dai


Dakwah merupakan aktivitas yang sangat mulia dengan kebaikan dan keutamaan yang tiada tara. Tiada perkataan yang lebih baik selain dakwah sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman dalam Al Qur’anul Karim

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat: 33)

Seorang Da’I yang ideal harus memiliki empat kredibilitas (misdaqiyah) untuk menunjang proses dakwah yang Ia lakukan. Empat kredibilitas tersebut adalah Misdaqiyah Ar ruhiyah(Kredibilitas Ruhani), Misdaqiyah Al Ilmiyah(Kredibilitas Keilmuan), Misdaqiyah As Syabiyah (Kredibilitas Sosial) dan Misdaqiyah Al Akhlaqiyah (Kredibilitas Akhlaq).

1. Misdaqiyah Ar ruhiyah (Kredibilitas Ruhani)

Ruhiyah merupakan sebuah kondisi yang menggambarkan tingkat kedekatan seorang hamba kepada Rabb-Nya. Sebuah kata yang mewakili seberapa besar tercurahkannya pikiran seorang hamba kepada pencipta-Nya. Ruhiyah adalah bekal terbaik bagi setiap muslim, terutama bagi seseorang yang telah mengazzamkan dirinya sebagai seorang dai. Ruhiyah bagi seorang muslim berperan sebagai motivator, penggerak, dan evaluator dari setiap perbuatan yang dilakukan oleh dirinya. Jika ruhiyah bagus kemauan dan kesadarannya berputar pada hal yang positif dan sebaliknya jika ruhiyahnya jelek maka kemauan dan kesadarannya akan berputar pada hal yang negatif.

Sebagai seorang Da’I kita harus senantiasa menjaga ketajaman ruhiyahnya sekaligus meningkatkan ruhiyah kita. “Barangsiapa yang memperbaiki bathinnya”, Kata Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, “maka Allah akan memperbaiki lahirnya”

Seorang Da’I yang mempunyai Ruhiyah yang bagus, maka ia akan memancarkan aura kebaikan bagi sekitarnya. Seperti kisah seorang Tabi’in masyhur Imam Hasan Al Basri ketika masuk pasar, orang satu pasar menangis melihat beliau dikarenakan ingat kepada Akhirat. Pernah suatu hari pula, ada sepasang suami istri yang sedang ribut bertengkar dan tidak mengetahui bagaimana agar bisa damai kembali, atas dasar rekomendasi tetangganya pergi ke rumah Imam Hasan Al Basri untuk meminta nasehat. Akan tetapi, Imam Hasan Al Basri baru buka pintu saja pasangan suami istri tersebut sudah langsung berdamai. Hal ini bisa terjadinya karena Imam Hasan Al Basri memiliki Ruhiyah yang sungguh luar biasa bagusnya sehingga memancarkan aura kebaikan yang berefek positif terhadap orang lain.

Imam Ahmad bin Hambal, seperti yang diceritakan oleh Imam Dzahabi, ketika wafat satu juta mengitarinya. Enam ribu wanita mengantarnya karena daya tarik ruhiyahnya, padahal hukum wanita mengantar jenazah di kalangan ulama masih khilafiyah antara makruh dan haram. Ada yang memakruhkan secara makruh Tanziq seperti imam An Nawawi dan ada yang mengharamkan seperti kalangan addzhohiriyyah misalnya Imam Daud dan Imam Ibnu Hajm. Kemudian yang luar biasa, dua ribu orang masuk islam pada saat Imam Ahmad bin Hambal meninggal. Begitulah orang yang shaleh yang ruhiyahnya bagus, meninggalnya saja membawa manfaat apalagi hidupnya. Subhanallah.

2. Misdaqiyah Al Ilmiyah (Kredibilitas Keilmuan)

Seorang Da’i haruslah memiliki kredibilitas dalam keilmuan dan ini merupakan bekal yang sangat utama. Hujjah Al Balighoh (Argumen yang kuat dan mendalam) merupakan salah satu parameter dari da’I yang memiliki misdaqiyah al ilmiyah.

Seorang da’I yang berkewajiban menyampaikan ayat-ayatnya, mengajarkan manusia tentang Islam, menyampaikan manusia tentang halal dan haram haruslah kita faham tentang ilmunya terlebih dahulu. Sebagaimana sebuah peribahasa Arab mengatakan Faaqidu asy-syai’i laa yu’ti syai’a yang memiliki arti orang yang tidak mempunyai apa-apa tidak akan mampu memberikan apa-apa.

Suatu hari seorang wanita menghadap Khalifah Umar bin Khattab dan melapor bahwa ia telah diperkosa. Sebagai bukti, wanita ini membawa dan memperlihatkan selimut yang dalam pengakuan sang wanita adalah sperma laki-laki yang memperkosanya. Khalifah Umar bin Khattab kemudian memanggil Ali bin Abi Thalib untuk menganalisis apakah sang wanita jujur atau tidak. Ali bin Abi Thalib kemudian menyiram selimut itu dengan air panas dan tidak lama kemudian bercak sperma tersebut menggumpal. Ali bin Abi Thalib lau berkata bahwa sang wanita telah berbohong karena itu adalah bercak putih telur. Begitulah profil seorang da’I ia haruslah memiliki wawasan dan keilmuan yang cukup untuk mengatasi permasalahan masyarakat yang ada.

3. Misdaqiyah As Syabiyah (Kredibilitas Sosial)

Seorang mu’min tidaklah cukup dengan menjadi shalih atau baik untuk dirinya sendiri saja. Namun, seorang mu’min haruslah menjadi mushlih atau menshalihkan orang lain sebagai salah bentuk dakwah yang kita lakukan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda: “Orang mu’min yang bergaul dengan manusia dan sabar menghadapi gangguan mereka, lebih baik daripada orang yang tidak mau bergaul dengan mereka dan tak sabar menghadapi gangguan mereka”. (HR. Imam Bukhari dalam Adabul Al Mufrad, Imam At Tirmidzy, dan Imam Ahmad)

Hadits diatas menegaskan peran seorang mu’min untuk senantiasa bergaul dengan masyarakat, sehingga interaksi seorang da’i dengan masyarakat dalam kehidupan sosial adalah sebuah keniscayaan. Sebuah kisah masyhuryang seringkali kita dengar mengenai amalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menyuapi seorang tua yang buta beragama yahudi setiap harinya dengan kelembutan dan kesabaran. Lalu Abu bakar ash shidiq pun berusaha untuk mengamalkannya sepeninggalan beliau.

Serta-merta orang tua tunanetra ini kaget karena merasa “sentuhan” suapannya berbeda. Abu Bakar pun menjelaskan bahwa yang biasa menyuapinya adalah Rasulullah yang telah tiada. Hingga akhirnya orang tua tersebut masuk islam karena Orang ini tidak menyadari bahwa yang menyuapi dirinya adalah seorang Nabi yang selalu diejek, dicaci maki, dan dibencinya. Ini merupakan contoh langsung dari Rasulullah kepada kita, agar senantiasa bergaul dengan masyarakat. Oleh karena itu setiap mu’min hendaknya mempunyai kredibilatas sosial untuk menunjang amal sya’bi kita.

4. Misdaqiyah Al Akhlaqiyah (Kredibilitas Akhlaq)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus oleh Allah Ta’ala dalam rangka untuk menyempurnakan Akhlaq manusia sebagaimana beliau bersabda

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ)وَفِي رِوَايَةٍ صَالِحَ(الأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku (Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (dalam riwayat yang lain dengan lafadz untuk memperbaiki akhlak)” (HR Bukhari)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri langsung mencontohkan kepada kita bagaimana keagungan akhlaknya sehingga diabadikan oleh Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an sesuai firman-Nya

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ۬
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlaq yang agung”. (QS. al-Qalam [68]:4).

Begitupun juga sebagai Da’I saat kita ingin melakukan amar ma’ruf nahi munkar, mengajarkan kebaikan kepada setiap insan, mengajak mereka mengagungkan asmaNya, beribadah kepadaNya, dan memperbaiki akhlaq manusia, kita terlebih dahulu harus memiliki alkhlaqul mahmudah atau akhlak yang terpuji untuk kita semaikan kepada umat.

Seringkali Da’wah bil hal (dakwah dengan contoh perbuatan yang terpuji) seringkali lebih efektif untuk mengajak manusia kepada lingkaran kebaikan dibandingkan dengan da’wah bil lisan(dakwah dengan perkataan) semata, menimbulkan kesan dan memberikan efek magnetis. Begitu banyak kaum Quraisy yang masuk islam karena terkesan dengan akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang begitu mulia.

Saat seorang da’I memiliki empat kredibilitas ini, maka InsyaAllah dakwah yang kita lakukan akan efektif dan optimal.


Terbukanya Pintu Makrifat

Jika Tuhan membukakan pintu ma’rifat bagimu, maka janganlah engkau menghiraukan soal amalmu yang masih sedikit atau membandingkannya. Karena sesungguhnya Tuhan tidaklah membukakan bagimu melainkan Dia akan memperkenalkan diri kepadamu.

Tidakkah engkau mengerti, bahwa ma’rifat itu adalah anugerah-Nya kepadamu, sedangkan amalmu adalah pemberian dari dirimu? Maka di manakah letak perbandingan antara apa yang Dia anugerahkan kepadamu dengan apa yang engkau berikan kepada-Nya?

Futur; Sebab dan Penanggulangannya


📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu'man Hasan, S.S., M.Sos.
🍃🍃🌺🍃🌺🍃🍃

Jika saat ini Anda mengalami:

- Malas hadir halaqah,  kajian, ta'lim, padahal dulunya semangat

- Malas membaca Al Quran, padahal dulunya begitu giat

- Tidak merasa bersalah melihat aurat, padahal dulunya sangat takut dosa

- Menghindar dari aktivitas dakwah dan keislaman, setelah dulunya sebagai motor penggerak dan penuh dengan berbagai amanah

- Pembicaraan selalu dunia, dunia, dan dunia, padahal dulunya Allah, Rasul, Islam, Al Quran, dan Sunnah

Ketahuilah, itulah FUTUR, yaitu lemah setelah kuat, malas setelah semangat, menghilang setelah eksis. Jauh-jauh hari, Rasulullah ﷺ telah bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً ، وَإِنَّ لِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً ، فَمَنْ كَانَتْ شِرَّتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ ، وَمَنْ كَانَتْ شِرَّتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

Setiap amalan itu ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat ada masa malasnya. Siapa yang semangatnya dalam koridor ajaranku, maka ia sungguh beruntung. Namun siapa yang sampai futur (malas) hingga keluar dari ajaranku, maka dialah yang binasa.” (Hr. Ahmad. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, demikian kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Sebab-Sebab Futur

Futur tidaklah muncul begitu saja tapi ada sebab yang mendahuluinya. Di antaranya:

1. Tidak Ikhlas

Ikhlas adalah salah satu unsur utama keistiqamahan seseorang pada kebaikan. Ketika kebaikan yang dia lakukan bertujuan pujian, sanjungan, dan like jempol orang lain, dan ternyata itu tidak dia dapatkan maka biasanya dia akan berhenti dan kecewa. Tidak lagi melanjutkan kebaikan tsb.

Hal ini secara implisit telah dikatakan Rasulullah ﷺ:

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ شِرَّةً وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً فَإِنْ كَانَ صَاحِبُهَا سَدَّدَ وَقَارَبَ فَارْجُوهُ وَإِنْ أُشِيرَ إِلَيْهِ بِالْأَصَابِعِ فَلَا تَعُدُّوهُ 

"Sesungguhnya pada setiap sesuatu itu ada saat semangatnya dan setiap masa semangat ada masa melemahnya, jika pelakunya senantiasa bersikap istiqomah dan mendekat, berharaplah dia bisa tetap (semangat), sebaliknya jika ia hanya ingin ditunjuk dengan jari (sanjungan, pent.) maka janganlah orang itu kalian anggap (orang baik)." (HR. At Tirmidzi no.  2453, hasan shanih)

2. Trend atau Ikut-ikutan

Ini juga faktor futur yang sering terjadi. Kebaikan yang dilakukan tidak muncul dari kesadaran dirinya tapi karena melihat fenomena orang lain. Manusia ke Barat dia ikut, manusia ke Timur dia ikut. Ketika trend ini sedang hit dia pun ikut, ketika trend ini surut maka dia pun ikut surut, walau bisa jadi ada yg awalnya karena trend lalu berubah menjadi kesadaran. Rasulullah ﷺ memberikan nasihat:

لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا

“Janganlah kalian menjadi orang yang tidak memiliki pendirian (ima'ah) yang berkata, ‘Jika orang-orang berbuat baik, kami pun berbuat baik, dan jika mereka berbuat zalim, kami pun berbuat zalim.’ Tetapi, teguhkanlah diri kalian; jika orang-orang berbuat baik, kalian juga berbuat baik, dan jika mereka berbuat jahat, maka janganlah ikut kalian berbuat zalim.” (HR. Tirmidzi, no. 2007, hadits  hasan)

3. Maksiat yang dibiarkan

Seorang yang berada dalam arus kebaikan, tidak lantas menjadi manusia suci. Sebab, semua pasti pernah berbuat salah dan dosa, dan yang terbaik dari yang berbuat dosa adalah yang mau bertobat.  

Namun, masalah muncul jika dia membiarkan dosa tersebut berlarut-larut, dianggap enteng,  akhirnya maksiat tersebut dominan dalam hati, pikiran, jiwanya dan tindakan. Sampai akhirnya dia sulit keluar dari situasi itu, maka kebaikan pun tidak lagi menjadi budayanya.

Imam Ibnul Qayyim menerangkan salah satu bahaya pembiaran thdp maksiat:

حِرْمَانُ الطَّاعَةِ، فَلَوْ لَمْ يَكُنْ لِلذَّنْبِ عُقُوبَةٌ إِلَّا أَنْ يَصُدَّ عَنْ طَاعَةٍ تَكُونُ بَدَلَهُ، وَيَقْطَعَ طَرِيقَ طَاعَةٍ أُخْرَى، فَيَنْقَطِعَ عَلَيْهِ بِالذَّنْبِ طَرِيقٌ ثَالِثَةٌ، ثُمَّ رَابِعَةٌ، وَهَلُمَّ جَرًّا، فَيَنْقَطِعُ عَلَيْهِ بِالذَّنْبِ طَاعَاتٌ كَثِيرَةٌ

Di antara dampak buruk dari dosa adalah terhalangnya seseorang dari ketaatan. Seandainya dosa tidak membawa hukuman apa pun kecuali membuat seseorang luput dari satu amal ketaatan yang seharusnya menjadi gantinya, lalu memutus jalannya menuju amal ketaatan yang lain, kemudian tertutup pula jalan menuju amal ketiga, lalu keempat, dan seterusnya—maka cukuplah itu (terhalangnya dari ketaatan, pent) sebagai hukuman yang besar. Sebab, dengan satu dosa saja, seseorang bisa kehilangan banyak kesempatan untuk beramal saleh. (Ad Da'u wad Dawaa')

4. Adanya Konflik

Adanya konflik seseorang kepada orang lain, baik persoalan keluarga,  tempat kerja, masyarakat, bahkan konflik dengan sesama teman pengajian juga menjadi faktor terjadinya futur. Baik konflik persoalan politik, utang piutang, dsb.

Tadinya, sekadar ingin menjaga jarak dengan satu-dua orang yang konflik dengannya, namun lama kelamaan berubah menjauh dari semuanya. Awalnya tidak suka dengan satu-dua orang, lama kelamaan tidak suka dengan semuanya. Akhirnya budaya kebaikan yang dulu menjadi rutinitasnya bersama kawan-kawannya tidak lagi dia lakukan.

5. Berlebihan dalam ibadah tanpa keseimbangan

Melakukan banyak amal sekaligus, secara ekstrem, tanpa jeda atau tanpa hikmah, bisa menyebabkan kelelahan ruhani. Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ ..

"Sesungguhnya agama ini mudah. Siapa yang memaksakan diri dalam agama, maka ia akan dikalahkan olehnya..."
(HR. Bukhari no. 39)

6. Jenuh

Ini juga menjadi faktor futur yang cukup sering. Sebab, jenuh dan semangat adlh dua sisi manusiawi yang selalu menghampiri manusia di tengah aktivitasnya, apa pun itu.

Ketika kejenuhan itu menghampiri, dan dia tidak pandai mensiasatinya maka dia akan berlama-lama dengan kejenuhan itu dan sulit untuk kembali bangkit. Sekali pun bangkit, dia tidak lagi bangkit bersama kebaikan yang dulu pernah menyelamatkan masa lalu hidupnya dari kegelapan dan kebodohan tapi dia bersama kondisi dan komunitas yang menjerumuskannya dalam kegelapan baru.

Solusi dan obatnya

- Taubat dan istighfar – karena dosa adalah sumber penyakit hati.

- Membangun rutinitas ibadah yang ringan tapi kontinyu – seperti sabda Nabi ﷺ:

_“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus walaupun sedikit.”_ (HR. Bukhari-Muslim)

- Menjaga lingkungan yang shaleh – dekat dengan orang-orang berilmu dan beramal.

- Menghidupkan hati dengan tadabbur Al-Qur’an dan dzikir.

- Menghadiri majelis ilmu dan peringatan akhirat.

- Berdoa agar diteguhkan hati – Nabi ﷺ sering berdoa:

"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu."

- Tidak perfeksionis dalam memandang manusia dan komunitas, posisikan mereka sebagaimana manusia biasa yang bisa salah dan benar. Agar kita tidak mudah kecewa dan bad mood hanya karena kekeliruan mereka.

- Berikan variasi kegiatan positif agar tidak jenuh.

Wallahu A'lam 

Wa Shalallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Subscribe Youtube MANIS: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

Follow Media Sosial MANIS : 
IG : http://instagram.com/majelismanis
FB: http://fb.com/majelismanis
TikTok
https://www.tiktok.com/@majelis_manis_

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/62852-7977-6222
wa.me/087891088812

Manusia Amat Kanud Kepada Robbnya



Allah Ta’ala berfirman,

إنَّ الإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُود

“Sesungguhnya manusia itu amat kanud kepada Robbnya..”
.
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata, “Kanud adalah orang yang suka menghitung-hitung musibah dan melupakan nikmat nikmat..”

Tafsir Ath Thobari


Ketika ditimpa musibah manusia menyalahkan Allah atas takdirnya.... Ketika manusia mendapatkan nikmat, ia lupa kepada pemberi nikmat tersebut....

Padahal, setiap keburukan datang karena dosa... Dan setiap kebaikan datang dari Allah.... Semoga Allah jauhkan kita dari sifat lalai...aamiin

EMPAT UNSUR TAWAKKAL

Sebuah aktivitas bisa di kategorikan menggunakan prinsip tawakal apabila terdapat 4 unsur, yaitu sebagai berikut :

1. Mujahadah, artinya sungguh sungguh dalam melakukan suatu pekerjaan, artinya tidak asal asalan. Contohnya, sebagai pelajar, belajarlah sungguh sungguh agat dapat memperoleh prestasi yang baik.

2. Doa, artinya walaupun kita sudah melakukan upaya mujahadah (sungguh sungguh) kita pun harus tetap berdoa memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala

3. Syukur, artinya apabila menemukan keberhasilan kita harus mensyukurinya. Prinsip ini perlu kita punya. Jika tidak, kita akan menjadi orang yang sombong atau angkuh (kufur nikmat).

4. Sabar, Artinya tahan uji menghadapi berbagai cobaan termasuk hasil yang tidak memuaskan (kegagalan). Sabar tidak berarti diam dan meratami kegagalan, tetapi sabar adalah instropeksi dan bekerja lebih baik agar kegagalan tidak terulang

Kita ulangi lagi bahwa sebelum tawakal dan berpasrah diri, kita di perintahkan untuk berusaha dan bekerja sekuat tenaga terlebih dahulu karena allah, hanya akan mengubah keadaan suatu kaum ketika mau berusaha membuat perubahan, hal ini tertuang dalam firman allah surat ar-ra’du ayat 11

Gambaran Ringkas tentang Dunia


Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu ditanya, “wahai Abul Hasan, gambarkanlah dunia kepada kami..”

Beliau menjawab, “aku panjangkan atau aku ringkas..?”

“mohon anda ringkas..”

Beliau pun mengatakan,
“yang halal dari dunia akan dihitung dan dimintai pertanggung-jawabannya, sedangkan yang haramnya di neraka..”

Az Zuhd – Ibnu Abid Dunya

Yang halalnya saja dihisab, apalagi yang haramnya.... Ambillah dunia secukupnya saja untuk bertahan hidup didunia dan beramal Soleh dengan memperhatikan hak para masaakin... Taruhlah dunia ditangan jangan taruh dihati.. dengan demikian kita akan selamat dari fitnah dunia, jika Allah memberi kita hidayah dan taufikNya

Syarat Orang Yang Bertakwa


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Bukanlah syarat orang yang bertakwa itu tidak pernah berbuat dosa atau harus suci dari kesalahan dan maksiat.. sebab jika demikian maka tidak ada orang yang bertakwa.. akan tetapi siapa yang bertaubat dari dosa-dosanya dan melakukan amalan yang dapat menggugurkan dosanya, maka ia termasuk orang yang bertakwa..”

Minhajussunnah

Setiap manusia memiliki dosa... Dan sebaik baik manusia ialah yang segera bertaubat ketika melakukan kesalahan.... Mungkin kita tidak bisa menyaingi para hamba Allah yang shaleh dlaam ketaatan, maka marilah berlomba untuk beristighfar dengan para pendosa lainnya...

Istighfar Merupakan Kebaikan Terbesar



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

“Istighfar merupakan kebaikan terbesar, jadi siapa yang merasakan kekurangan pada ucapannya, perbuatannya, rezekinya, atau begitu mudahnya hatinya berbolak-balik, maka hendaklah dia membenahi tauhidnya dan banyak istighfar..”

Majmu’ul Fatawa : 11 hal 698

Sungguh beruntung seorang mukmin, dihari penghisaban amalnya menjumpai banyaknya amalan atas istighfarnya selama di dunia....

Tentang Rasa Takut dan Harap Kepada Allah Ta’ala



Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

“Rasa takut lebih baik daripada rasa harap selama seseorang dalam keadaan sehat. Lalu apabila ajal menghampirinya, maka rasa harap lebih baik daripada rasa takut.. Jika pada masa sehatnya dia melakukan kebaikan, tentu akan menjadi besar rasa harap dan baik sangkanya (kepada Allah Ta’ala) saat kematian (menghampirinya)..

(Tapi) bila pada masa sehatnya dia melakukan keburukan, tentu dia akan berburuk sangka ketika (kematian) menghampirinya, dan tidak akan bertambah rasa harapnya (kepada Allah)..”

Hilyatul Auliya’ – 8/89

Mudah Bosan adalah salah satu Ahklak Tercela



Amru bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu berkata:

لا أَمَلُّ ثوبي ما وسعني،
ولا أملُّ زوجتي ما أحسنت عِشرتِي،
ولا أملُّ دابٌَتِي ما حملتني،
إن الملال من سيء الأخلاق.

“Sesungguhnya aku tidak bosan dengan bajuku selama masih mencukupiku..

Aku tidak bosan dengan istriku selama ia masih mau menemaniku..

Aku tidak bosan dengan kendaraanku selama ia masih bisa membawaku..

Sesungguhnya mudah bosan itu adalah akhlak tercela..”

تاريخ دمشق [۱٨٣/٤٦]. Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 

Hukuman Dosa Yang Tidak Disadari Mayoritas Manusia



Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

‏والله سبحانه جعل مما يعاقب به الناس على الذنوب سلب الهدى والعلم النافع.

“Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan diantara hukuman yang Dia timpakan kepada manusia akibat dosa-dosa, adalah dicabutnya petunjuk dan ilmu yang bermanfaat.”

Majmu’ul Fatawa, jilid 14 hlm. 152, Diterjemahkan oleh, Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى

Jika hidayah dan Taufik sudah ALLAH cabut, maka apa bedanya manusia dengan hewan ternak?....
Ilmu adalah pelita yang menuntun hidup manusia menuju keridhoan Allah... Jika ilmu itu tidak bermanfaat maka ia hanya menimbulkan mudharat, kelak ia akan ditanyakan,, sejauh mana pengamalan seseorang terhadap ilmu yang dimilikinya???....

Lebih baik



‏قال شيخ الإسلام ابن_تيمية :
(مُصيبةٌ تُقبِلُ بك على الله، خيرٌ لك من نعمةٍ تُنسِيك ذكرَ الله).
__
جامع المسائل ٣٨٧/٩

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Sebuah musibah yang membuat dirimu menghadap kepada Allah, itu lebih baik dibandingkan dengan sebuah kenikmatan yang membuat dirimu lupa dari mengingat Allah..”

Jaami’ul Masaa-il 387/9, Diterjemahkan oleh, Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى


Hal apapun yang membuat kita kembali kepada Allah, itu merupakan perkara yang baik bagi dunia dan akhirat.... Terkadang perkara yang pahit mengandung hasil yang baik, seperti pahitnya rasa obat yang insyaAllah membawa kesembuhan... Adakalanya yang manis diawal, berupa kelapangan, kenikmatan atas sesuatu hal membuat kita lalai dari mengingat Allah, sehingga ada jarak yang jauh antara kita dengan Allah Sang Khalik... Maka kenikmatan itu adalah tipu daya syaitan dan jerat jerat kesesatan yang diserukan syaiton agar kita durhaka kepada Allah, nauzubillahimindzalik

Yang Benar-Benar Kokoh Imannya



Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

“Pada saat manusia sama-sama sehat, maka mereka itu sejajar
dalam iman.. namun tatkala bencana menimpa, tersingkaplah siapa yang benar-benar kokoh imannya..”

Shoidul Khoothir hal 321

Ibarat logam, jika ingin diambil kualitas terbaik haruslah dibakar terlebih dahulu... Begitu juga manusia... Ujian ialah cara Allah untuk menguji siapa hambaNya yang bersungguh sungguh didalam mencintai Allah dan sebagai pertanda kuatnya iman seorang hamba..... Semua manusia benar benar sama rata dihadapan Allah, baik miskin atau kaya, elok ataukah buruk rupa, pandai ataukah bodoh.. yang membedakan adalah derajat ketaqwaan...

Tanda-Tanda Orang Yang Bertakwa



Imam al-Hasan al-Bashry rahimahullah berkata:

? ﺇﻥَّ ﻷَﻫـْﻞِ ﺍﻟﺘَّـﻘْـﻮَﻯ ﻋَـﻠَﺎﻣَﺎﺕٌ ﻳُﻌْﺮَﻓُﻮﻥَ ﺑِـﻬَﺎ:

? ﺻﺪﻕ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ
? ﻭﺍﻟﻮﻓﺎﺀ ﺑﺎﻟﻌﻬﺪ
? ﻭﺻﻠﺔ ﺍﻟﺮﺣﻢ
?ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻀﻌﻔﺎﺀ
? ﻭﻗﻠﺔ ﺍﻟﻔﺨﺮ ﻭﺍﻟﺨﻴﻼﺀ
? ﻭﺑﺬﻝ ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ
?ﻭﻗﻠﺔ ﺍﻟﻤﺒﺎﻫﺎﺓ ﻟﻠﻨﺎﺱ
? ﻭﺣﺴﻦ ﺍﻟﺨﻠﻖ
? ﻭﺳﻌﺔ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﻣﻤﺎ ﻳﻘﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa memiliki tanda-tanda yang mereka bisa dikenali dengannya:
- Jujur ucapannya
- Menunaikan janji
- Menyambung silaturahmi
- Menyayangi orang-orang lemah
- Tidak bangga dan sombong
- Memberikan kebaikan
- Tidak membanggakan diri di hadapan manusia
- Baik akhlaknya
- Keluasan akhlak dengan sikap-sikap yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah.”

Hilyatul Auliya’ juz 1, hlm. 270

ANDAI DOSA ITU BERBAU, BETAPA BAUNYA DIRIKU


Muhammad bin Waasi’ Al-azdi berkata, “Kalau seandainya dosa itu memiliki bau maka tidak seorang pun dari kalian yang akan duduk denganku”.

Yaa Alloh Maha suci Engkau yang menutupi aib dan dosa-dosa hambaMu. tak menjadikan dosa itu bau..

Sesungguhnya orang memuji, karena Allah masih menutup aib kita, Menutupi dosa-dosa kita.

Imam Ahmad berkata, “Mintalah kepada Allah agar menjadikan kita lebih baik dari yang mereka persangkakan dan mengampuni kita atas apa-apa yang mereka tidak ketahui” (Al-Waro’ li ibni Hanbal 1/152)
 
Seandainya Allah membongkar satu saja aib kita yang selama ini kita sembunyikan tentunya semua orang yang tadinya memuji dan menghormati tentu akan berbalik mencela dan merendahkan.

Berkata An-Nawawi, “Abu Bakar jika dipuji maka beliau berdoa….”
 
اللهم أنت أعلم بي من نفسي وأنا أعلم بنفسي منهم اللهم اجعلني خيرا مما يظنون واغفر لي ما لا يعلمون ولا تؤاخذني بما يقولون

“Ya Allah, Engkau mengenal saya lebih dari saya dan saya tahu diri saya dari mereka, Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka sangkakan dan ampunilah aku dari apa-apa yang mereka tidak ketahui”(Tahdzibul Asma’ 2/479-480)

📷 @mahasiswa.salaf x @dshaz_easyfood

DOA SAAT DITIMPA KESEDIHAN DAN KESUSAHAN

Ya Allah,aku adalah hamba-Mu,anak hamba laki-laki dan
hamba perempuan-Mu,diriku berada dalam genggaman-Mu,
jiwaku berada di tangan-Mu,hukum-Mu berlaku pada diriku,
keadilan keputusan-Mu berlaku terhadap diriku,aku memohon
kepada-Mu dengan menyebut semua Asma'-Mu yang Engkau
namakan diri-Mu dengannya,atau Engkau turunkan dalam Kitab-
Mu,atau Engkau mengajarkannya kepada seseorang diantara
makhluk-Mu,atau Engkau memeliharanya di dalam ilmu ghaib
disisi-Mu,jadikanlah al-Qur-an sebagai cahaya dadaku,kebahagiaan
hatiku,penghapus kesedihanku,dan pelenyap kesusahanku.”

KEUTAMAAN BERISTIGHFAR

1. Menghapuskan Dosa
Allah berfirman: ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu memohon dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu betapapun banyaknya (dosa) yang ada pada dirimu dan Aku tidak peduli.” (HR. Tirmidzi)
2. Terhindar dari Azab
Rasulullah SAW. bersabda: "Dan tidaklah Allah akan mengazab kalian sementara kalian dalam keadaan banyak beristighfar." (HR. Ibnu Asakir)
3. Mendatangkan kebaikan di dunia
Qur’an surat Hud ayat 3:
وَأَنِ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَٰعًا حَسَنًا إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِى فَضْلٍ فَضْلَهُۥ ۖ وَإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
Artinya: "Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kesenangan yang baik kepadamu (di dunia) sampai waktu yang telah ditentukan (kematian) dan memberikan pahala-Nya (di akhirat) kepada setiap orang yang beramal saleh. Jika kamu berpaling, sesungguhnya aku takut kamu (akan) ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat)."
4. Ketenangan Hati  
5. Memperbaiki diri
6. Wasilah dikabulkannya doa
 Al-Qur’an surat Hud ayat 61:
 وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَٰلِحًا ۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥ ۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Artinya: “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."
7. Memperluas Rizki
8. Mendatangkan keberuntungan
“Beruntunglah orang yang di dalam catatan amalnya terdapat istighfar yang banyak.” (HR Ibnu Majah)
9. Dimudahkan Dalam Segala Urusan 
10. Meninggikan derajat di dunia dan akhirat

Keutamaan Tahlil

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ لا إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ ؛ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، في يَوْمٍ مِئَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وكُتِبَتْ لَهُ مِئَةُ حَسَنَةٍ ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِئَةُ سَيِّئَةٍ ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزاً مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِي ، وَلَمْ يَأتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ رَجُلٌ عَمِلَ أكْثَرَ مِنْهُ

“Barangsiapa mengucapkan LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya) dalam sehari seratus kali, itu sama pahalanya dengan membebaskan sepuluh hamba sahaya dan dituliskan untuknya seratus kebaikan, serta dihapuskan dari dirinya seratus kejelekan (dosa). Dzikir itu juga penjaga dirinya dari gangguan setan pada hari itu sampai sorenya. Dan tidak ada seorang pun yang datang membawa amal yang lebih baik daripada yang ia bawa, kecuali ada orang yang beramal lebih banyak daripada dirinya.”


Rutinkanlah membaca zikir laailaahaillallah setiap hari, karena seutama utama zikir yang Afdhal ialah zikir ini... Semoga Allah memudahkan lisan kita untuk mengucap kalimat tauhid ini saat ajal menjemput... Karena kondisi sakaratul maut seseorang akan sesuai dengan kebiasaannya sehari hari... Ada yang meninggal saat sujud, ada pula saat membaca Al Qur'an.. ya Allah, Allahumma Inna nas Aluka Husnul khatimah.. Aamiin Ya Mujiib

Cara menghidupkan cahaya keimanan

Kehidupan dunia yang memukau seringkali menjadikan manusia lupa Dan lalai terhadap keimanan mereka kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan hari akhir..... hal itu disebabkan oleh terbuainya nafsu syahwat mereka dan keserakahan mereka terhadap keindahan dunia yang semu dan tampak bagaikan fatamorgana.... Oleh karena itu salat yang telah ditetapkan 5 kali sehari semalam bagi orang-orang yang beriman dapat difungsikan sebagai benteng pertahanan bagi mereka terhadap keinginan-keinginan nafsu syahwat dan keserakahan yang setiap saat hadir di dalam manusia....dalam Quran surat al-ankabut ayat 45 artinya bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu yaitu Alquran, dan dirikanlah salat sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar dan sesungguhnya mengingat Allah dalam salat adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.... 

 ketika seseorang melakukan salat secara baik dan benar serta mengerjakannya sesuai waktu-waktu yang telah ditetapkan berarti orang itu telah menghidupkan cahaya keimanan di dalam dirinya.... paling sedikit lentera keimanan yang dinyalakan dalam setiap lima waktu salat dapat menjadi penerang bagi dirinya dari satu waktu ke waktu berikutnya untuk selalu berada di jalan yang benar dan diridhoi allah subhanahu wa ta'ala....

HAKIKAT SALAT

Hakikat salat ialah suatu perjuangan mencapai kebahagiaan yang dimulai dengan mengakbarkan Allah lalu dijalani dengan Istiqomah atau konsisten dalam menghadapi berbagai kondisi seperti berdiri rukuk, sujud dan duduk yang kemudian diakhiri dengan salam.....

Artinya kita harus mengakbarkan Allah dalam setiap keadaan hidup yang kita hadapi. susah senang, lapang maupun sempit, sampai akhirnya kita memperoleh kedudukan yang selamat atau bahagia sehingga kita bisa menyelamatkan dan membahagiakan orang di sekitar kita.....

Maka dengan mendalami hakikat salat tahulah kita bahwa praktik salat merupakan miniatur kehidupan manusia...

Tips Agar dimudahkan oleh Allah

Barang siapa memudahkan orang yang kesusahan maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.... (HR. Muslim)

Demikian pula jika, seorang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya..

Maka perlakukan lah seseorang sebagaimana engkau ingin diperlakukan dengan baik... Jangan hasad, iri dan dengki kepada hamba Allah.. dengan berharap kenikmatan mereka hilang...

Antara Sabar, Ridho Dan Bersyukur



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

“Sabar (menghadapi musibah) hukumnya wajib berdasarkan kesepakatan para ulama..

Derajat yang lebih tinggi dari sabar adalah ridho terhadap ketetapan Allah. Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum ridho saat menghadapi musibah adalah wajib. Sementara itu, ulama yang lain berpendapat hukumnya sunnah, dan inilah pendapat yang benar..

Berikutnya, tingkatan di atas ridho adalah bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut.

Dia justru menilai bahwa musibah tersebut termasuk bagian dari nikmat Allah atasnya. Sebab, Allah menjadikan musibah tersebut sebagai sebab terhapusnya kesalahan-kesalahannya, terangkatnya kedudukannya, kembalinya kepada Allah, ketundukkannya serta kepasrahannya kepada Allah, dan sebab keikhlasannya dalam tawakalnya kepada Allah semata, juga berharapnya hanya kepada Allah bukan kepada makhluk-Nya..”

al-Furqon Bayna Auliya ar-Rohmana wa Auliya asy-Syaithon hlm. 143

Ketika Tidak Merasakan Kelezatan dan Kelapangan Hati Saat Beribadah


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

إذا لم تجد للعمل حلاوة في قلبك وانشراحاً فاتهمه! فإن الرب تعالى شكور؛ يعني: أنه لابد أن يثيب العامل على عمله في الدنيا من حلاوة يجدها في قلبه وقوة انشراح وقرة عين فحيث لم يجد ذلك فعمله مدخول”. (مدارج السالكين [2/68])

“Jika kamu tidak merasakan kelezatan dan kelapangan hati saat beribadah maka tuduhlah hatimu.. Karena Robb kita Asy Syakuur (maha berterima kasih).. Dia pasti memberi balasan kepada orang yang beramal sholeh di dunia ini berupa kelezatan yang ia rasakan di hatinya, hati yang lapang dan kesejukan pandangan..

Jika ia tidak mendapatkan itu semua maka berarti amalnya dimasuki (maksiat)..”

Madarijussalikin 2/68


Amal Soleh akan mendatangkan cahaya dihati dan mendatangkan ketenangan.... Jiwanya akan semakin khusyu disetiap saat dan senang berdekatan dengan Allah... Jika ia menjaga hak hak Allah atas segala aktivitas nya, maka Allah pun akan menjaga dan melindunginya... 

Amal Itu Bertingkat-Tingkat



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

إِنَّ الْأَعْمَالَ لَا تَتَفَاضَلُ بِالْكَثْرَةِ، وَإِنَّمَا تَتَفَاضَلُ بِمَا يَحْصُلُ فِي الْقُلُوبِ حَالَ الْعَمَلِ

“Sesungguhnya amal itu bertingkat-tingkat keutamaannya bukan karena banyaknya. Namun karena apa yang ada di hati saat beramal..”

Majmu Fatawa 25/282

Jangan meremehkan kebaikan sekecil apapun... Karena kita tidak tahu amalan mana yang mengantarkan kita kepada Ridho Allah.... Amalan kecil, jika dilakukan dengan niat yang ikhlas demi mengharap ridho Allah akan lebih baik dan diterima, daripada amalan yang besar dan berat namun dilakukan karena Ujub dan ria, malah amal ini mendatangkan murka Allah.. nauzubillahimindzalik
...

Teruslah mendekat melangkah kepada Allah... Jika lelah, jangan berhenti apalagi berbalik arah...

Mengapa Kebaikan Terasa Berat Diamalkan..?



“Kenapa kebaikan begitu berat dikerjakan, dan kenapa kejelekan begitu mudah dilakukan..?”

Ibnu Hajar rahimahullah menukilkan jawaban dari ulama salaf,

“Karena saat melakukan kebaikan, pahit segera terasa dalam jiwa, sementara buah manisnya belum hadir di depan mata, jadilah terasa berat mengamalkannya.. maka jangan sekali-kali perasaan berat itu menyebabkanmu meninggalkan kebaikan tersebut..

berbeda ketika melampiaskan kejelekan, manisnya segera terasa, sementara akibat buruknya belum terlihat nyata, sehingga jiwa pun begitu mudah melakukannya.. maka janganlah perasaan mudah itu menggelincirkanmu untuk terjatuh dalam kejelekan..”

Fathul Bari

DOSA SEPENUH BUMI

ALLAH SWT MAHA PENGAMPUN

                                 ﷽

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: قَالَ اللهُ تبارك و تَعَالَى: “يَا ابْنَ آَدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فيك وَلا أُبَالِيْ، يَا ابْنَ آَدَمَ لَو بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ و لا أبالي، يَا ابْنَ آَدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لقِيْتَنِيْ لاَتُشْرِكُ بِيْ شَيْئَاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغفِرَةً” رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحَيْحٌ.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah berfirman: ”Wahai Bani Adam, sesungguhnya jika engkau senantiasa berdoa dan berharap kepada–Ku niscaya Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam kalau seandainya dosamu setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada– Ku, niscaya aku akan memberikan ampunan kepadamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam seandainya engkau menghadap kepada–Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi kemudian engkau berjumpa dengan–Ku dalam keadaan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” *[H.R. At Tirmidzi, dan dia berkata bahwa hadits ini hasan shahih]*

LANDASAN ILMU

USAHA RAKYAT DALAM BIDANG PENDIDIKAN

USAHA-USAHA RAKYAT DALAM BIDANG PENDIDIKAN
(MUHAMMADIYAH, TAMSIS & PERSIS)

Dalam rangka melengkapi tugas perkuliahan mata kuliah Sejarah Pendidikan Umum

Dosen
Saca Suhendi, M.Ag

Oleh (kelompok 4)

1152020096 Imam Ubaidilah
1152020097 Indah Faridiawati
1152020102 Jahid Ridwan
1152020108 Kristin Wiranata
1152020122 M. Luthfi Iman Muqoddas





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016




KATA PENGANTAR

Segala Puji dan Syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT. yang mana karena limpahan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu baik dari segi apapun, sehingga makalah ini berjalan dengan baik. Makalah ini bertujuan untuk memenuhi syarat nilai mata kuliah Sejarah Pendidikan Umum. Penulis menyadari bahwa apa yang disajikan dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, baik menyangkut isi maupun penulisan. Kekurangan-kekurangan tersebut terutama disebabkan karenakan keterbatasan pengetahuan serta kemampuan penulis. Hanya dengan bantuan dari berbagai pihak untuk memberikan kritik dan saran yang membangun maka kekurangan-kekurangan tersebut dapat lebih baik. Dengan tersusunnya makalah ini penulis berharap kita dapat memahami sejarah mengenai usaha-usaha rakyat di dalam bidang pendidikan sehingga kita lebih menghargai pendidikan.


Bandung, 07 Maret 2016
Penulis










DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan Penulisan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
Muhammadiyah 3
Taman Siswa 9
Persatuan Islam 15
BAB III PENUTUP 19
Lampiran iii
DAFTAR PUSTAKA iv

















BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
       Pendidikan tidak terlepas dari sejarahnya dan pendidikan ada karena adanya pengorbanan dan perjuangan dalam mewujudkannya. Pendidikan di Indonesia telah melalui beberapa tahapan sejarah yang penuh perjuangan, diawali dengan munculnya sekolah R.A. Kartini, Muhammadiyah, Taman Siswa dsb. Para tokoh tersebut mempunyai kepentingan pendirian untuk bangsa Indonesia secara umum, tanpa melihat ras, suku, daerah, dan agama. Mereka berkeingininan memajukan bangsa melalui pendidikan. Karena suatu bangsa dijajah disebabkan keterbelakangannya, dan kunci kemajuan bangsa adalah pendidikan. Diantara beberapa bentuk perjuangan rakyat dalam bidang pendidikan, penulis akan membahas pendidikan yang dibangun oleh Muhammadiyah, Taman Siswa dan Persatuan Islam.  
Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1912. Beliau berinisiatif untuk mendirikan sekolah yang berbasis modern namun di dalamnya mencakup ajaran-ajaran islam. Taman Siswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantara (1922). Beliau mendirikan Tamsis sebagai salah satu cara untuk meningkatkan derajat rakyat yang ditindas oleh kaum Revolusioner. Dengan pendidikan yang dibangunnya (Tamsis) beliau berusaha untuk membangkitkan rakyat Indonesia sehingga dapat melakukan titik balik pergerakan bangsa. Adapun Persis (Persatuan Islam) didirikan oleh H. Zamzam dan H. Muhammad Yunus. Salah satu tokoh Persis yakni Muhammad Natsir, Beliau sangat prihatin dengan pendidikan yang berada disekitarnya, karena pendidikan umum tidak mencakup pelajaran agama (islam) di dalamnya. Oleh karena itulah, untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan agama beliau mendirikan sekolah berbasis Islam.
Usaha para tokoh diatas dalam memperjuangkan pendidikan di Indonesia, tidaklah mudah, bahkan mereka rela mengorbankan harta, pemikiran, tenaga dan keselamatan. Untuk dapat mengetahui perjuangan mereka maka penulis menyajikan makalah ini dengan judul “Usaha-usaha Rakyat dalam Bidang Pendidikan”.
Rumusan Masalah
Setelah penulis menelusuri sejarah mengenai usaha-usaha rakyat di bidang pendidikan, penulis merumuskan beberapa masalah, diantaranya:
Bagaimanakah sejarah pendidikan Muhammadiyah?
Bagaimanakah sejarah pendidikan Taman Siswa?
Bagaimanakah sejarah pendidikan Persatuan Islam?
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulis membuat makalah ini adalah untuk memenuhi persyaratan mata kuliah Sejarah Pendidikan Umum dan sebagai salah satu langkah penulis untuk dapat memperluas pengetahuan mengenai sejarah pendidikan di Indonesia.


















BAB II
PEMBAHASAN

Muhammadiyah
Biografi K.H. Ahmad Dahlan
K.H Ahmad Dahlan dilahirkan pada tahun 1868 di Kauman, Yogyakarta, dengan nama kecil Muhammad Darwisyi. K.H. Ahmad Dahlan berasal dari “lingkaran dalam” atau “lingkaran tengah kesultanan Yogyakarta”. Beliau lahir dari keluarga ningrat yang dekat dengan lingkaran kesultanan, meskipun merupakan trah (keturunan langsung) dari sultan. Ayahnya, K.H Abu Bakar bin H. Sulaiman adalah seorang ketip tetap di masjid Agung Kesultanan Yogyakarta, ibunya berasal dari keturunan seorang penghulu bernama H. Ibrahim.
K.H. Ahmad Dahlan tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah sekuler yang diselenggarakan pemerintah Belanda. Ayahnya memberikan pendidikan privat di rumahnya. Melalui ayahnya beliau belajar ilmu-ilmu keagamaan.
Beliau mengembangkan gagasan pembaharuan di dalam masyarakat. Alasan beliau terpanggil untuk melakukan pembaharuan di masyarakat ialah: pertama, alasan religious, yaitu kemunduran umat islam yang disebabkan oleh sinkretisme, mistisime, dan taqlid; kedua, alasan social-budaya. Karena bangsa Indonesia dan umat islam mengalami kemiskinan, kemunduran dan keterbelakangan; ketiga, alasan politik. Karena penjajahan Belanda dan penetrasi Misi Kristen-Katholik dalam masyarakat pribumi.
Sejarah Muhammadiyah
Muhammmadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogya Karta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian di kenal dengan KHA Dahlan. Persyarikatan ini bergerak di bidang di bidang sosial pendidikan. Padahal K.H.A Dahlan juga berasal dari keluarga bangsawan Jawa. Namun, beliau tidak tertarik pada gerakan jawanisme atau kedjawen dari Boedi Oetomo, K.H.A Dahlan memberikan perhatian besar pada anak yatim piatu dan fakir miskin. Beliau lebih tertarik membuka kesempatan pendidikan nasional dengan tidak mengutamakan salah satu suku jawa saja seperto Boedi Oetomo, dan hanya untuk anak bangsawan.melainkan lebih menekankan pendidikan untuk seluruh strata soaial anak dari Keluarga Muslim.
 K.H.A. Dahlan, beliau adalah pegawai Kesultanan Krato Yogyakarta sebagai seorang khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur’an dan Hadist. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan di rumahnya di tengah kesibukannya sebagai Khatib dan para pedagang.
Mula-mula ajaran ini ditolak, namun berkat ketekunan dan kesabarannya, akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman dekatnya. Profesinya sebagai pedagang sangat mendukung ajakan beliau, sehingga dalam waktu singkat ajakannya menyebar keluar kampung Kauman bahkan sampai keluar daerah dan keluar pulau Jawa. Untuk mengorganisir kegiatan tersebut maka didirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Dan kini Muhammadiyah telah ada di seluruh pelosok tanah air.
Disamping memberikan pelajaran (pengetahuannya) kepada laki-laki, beliau juga memberi pelajaran kepada kaum Ibu mudan dan forum pengajian yang di sebut “Sidratul Muntaha”. Pada siang hari pelajaran untuk anak laki-laki dan perempuan. Pada malam hari untuk anak-anak yang telah dewasa.
K.H.A. Dahlan memimpin Muhammadiyah dari tahun 1912 hingga tahun 1922 disana saat itu masi menggunakan sistem permusyawaratan rapat tahunan. Pada rapat tahun ke 11, Pemimpin Muhammadiyah di pegang oleh KH Ibrahim yang kemudian memegang Muhammadiyah hingga tahun 1934. Rapat Tahunan itu sendiri kemudian berubah menjadi Konggres Tahunanpada tahun 1926 yang di kemudian hari berubah menjadi Muktamar tiga tahunan dan seperti saat ini menjadi Muktamar 5 tahunan.
Muhammadiyah memiliki karakteristik tersendiri, yakni pada pembaruan yang dilakukan melalui penataan organisasi yang rapi terencana. Pokok-pokok pemikiran Muhammadiyah di aplikasikan dalam kehidupan sosial yang nyata. Secara umum amal usaha Muhammadiyah difokuskan pada bidang garap, yaitu keagamaan, pendidikan, dan kemasyarakatan.
Dalam bidang keagamaan, berarti ini penemuan kembali ajaran atau prinsip dasar yang berlaku abadi seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah yang karena waktu, lingkungan, situasi dan kondisi, mungkin menyebabkan dasar-dasar tersebut kurang jelas dan tertutp oleh kebiasaan dan pemikiran lain. Dalam masalah akidah, Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya akidah islam yang murni, bebas dari gejala-gejala kemusyrikan, bid’ah dan khurafat tanpamengabaikan prinsip-prinsip toleransi menurut ajaran islam. Sedangkan dalam ibadah, Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah sebagaiman yang di tuntunkan oleh Rasulullah SAW. tanpa tambahan dan perubahan dari manusia.
Dalam bidang pendidikan, Muhammadiyah merupakan organisasi massa Islam terdepan dan terbesar di bandingkan dengan organisasi yang lainnya. Bagi Muhammadiyah pendidikan mempunyai arti penting, karena melalui bidang inilah pemahaman tentang ajaran Islam dapat di wariskan dan dapat di tanamkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika program nyata yang paling awak di lakukan oleh Muhammadiyah adalah menggembirakan pendidikan. Dibidang ini, paling tidak ada dua segi yang menjadi sasaran pembaruan, yaitucita-cita dan teknik pengajaran. Dari segi prtama K.H.A. Dahlan menginginkan bahwa cita-cita pendidikan Islam adalah untuk membentuk manusia Muslim yang baik budi, alim, dan agama, luas dalam pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya. Sdangkan pembaruan segi kedua berkaitan dengan cara penyelenggaraan pengajaran. Dengan mengambil unsur-unsur yang baik dari sistem pendidikan Barat dan sistem pendidikan tradisional,Muhammadiyah berhasil membangun sistem pendidikan sendiri seperti sekolah model Barat, tetapi di masukkan materi pelajaran agama di dalamnya,, proses belajar mengajar tidak lagi diadakan di masjid atau langgar, tapi di gedung yang khusus, yang di lengkapi dengan meja, kursi dan papan tulis, sehingga tidak lagi duduk dilantai.
Dalam bidang kemasyarakatan, usaha yang dilakukan oleh Muahammadiyah yaitu dengan mendirikan berbagai rumah sakit, poliklinik, rumah yatim piatu, yang di kelola melalui lembaga-lembaga, bukan secara individual sebagaimana yang dilakukan orang pada umumnya di dalam memelihara anak yatim piatu. Usaha dlam bidang pembruan soseial kemasyarakatan ini di tandai dengan didirikannya Pertolonga Kesengsaraan Oemoem (PKO) pada tahun 1923. Ide dibalik pengembangunan dalam bidang ini karena banyak diantara orang Islam yang mengalami kesengsaraan. Hal ini merupakan kesempatan kaum Muslimin untuk saling menolong.
Sampai saat ini Muhammadiyah mengelola lebih dari 10.000 lembaga pendidikan dari tingkat dasar sampai dengan Perguruan Tinggi (Perguruan Tinggi Muhammadiyah sendiri sudah mencapai 117), 25 rumah sakit, ratusan poli klinik dan BKIA, ratusan rumah sakit yatim piatu dan ratusan usaha koperasi. Dari amal usaha yang begitu besar dan luas, perkembangan usaha Muhammadiyah tidak ada tanda-tanda untuk surut.
Muhammadiyah mempunyai usaha lain untuk mencapai maksud dan tujuan.
Mengadakan dakwah Islam
Memajukan pendidikan dan pengajaran
Menghidup-suburkan masyarakat tolong-menolong
Mendirikan dan memelihara tempat ibadah dan wakaf
Mendidik dan mengasuh anak-anak dan pemuda-pemuda, supaya kelak menjadi orang Islam yang berarti
Berusaha kearah kebaikan penghidupan dan kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam
Berusaha dengan segala kebijaksanaan, supaya kehendak dan peraturan Islam berlaku dalam masyarakat. (Anggaran Dasar Muhammadiyah Desember 1950).
Muhammadiyah mulai diluaskan pada tahun 1917. Dalam tahun 1927 Muhammadiyah mendirikan cabang-cabang di Bengkulu, Banjarmasin, dan Amuntai. Pada tahun 1929 pengaruhnya tersebar ke Aceh dan Makassar. Dalam tahun 1925 organisasi ini telah mempunyai 29 cabang-cabang dengan 4.000 orang anggota, sedangkan kegiatan-kegiatannya dalam bidang pendidikan meliputi delapan Hollands Inlandse School, sebuah sekolah guru di Yigyakarta, 32 sekolahh dasar lima tahun, sebuah Schakelschool, 14 madarasah, seluruhnya dengan 119 orang guru dan 4.000 murid. Dalam bidang sosial, ia mencatat dua buah klinik di Yigyakarta dan Surabaya dimana 12.000 pasien memperoleh pengobatan; sebuah rumah miskin dan dua buah rumah yatim piatu. Dalam tahun 1929 peserta-peserta dari kongres tahunnya berasal dari hampir pulau-pulau besar Indonesia (kecuali Kalimantan). Kongres ini mencatat 19.000 anggota Muhammadiyah, sedangkan dalam publikasi dari Muhammadiyah telah menerbitkan sejumlah 700.000 buah buku dan brosur. Cabang organisasi ini di Solo telah membuka sebuah klinik mata dan di Malang sebuah klinik lain. Kongres tahun 1930 yang yang diadakan di Bukittinggi, tempat pertama kongres di luar Jawa, mencatat 112 cabang-cabang dengan 24.000 orang anggota. Keanggotaan ini bertambah menjadi 43.000 pada tahun 1935,tersebar pada 710 cabang-cabang termasuk 316 di Jawa, 286 di Sumatera, di Sulawesi dan 29 di Kalimantan. Pada tahun 2938 terdapat 852 cabang-cabang serta 898 kelompok (yang belum berstatus cabang), seluruhnya dengan 250.000 anggota. Aiapun memelihara 834 mesjid dan langgar, 31 perpustakaan umum dan 1.774 sekolah.disamping itu terdaftar pula propagandis Muhammadiyah sebanyak 5.516 laki-laki dan 2.114 wanita.
Diantara sekolah-sekolah Muhammadiyah yang tertua dan besar jasanya ialah:
Kweekschool Muhammadiyah Yogyakarta.
Mu’alimin Muhammadiyah, Solo, Jakarta.
Mu’alimat Muhammadiyah, Yogyakarta.
Zu’amaZa’imat, Yogyakarta.
Kuliyah Mubaligin/Mubaligat, Padang Panjang (Sumatera Tengah)
Tabligschool, Yogyakarta.
HIK Muhammadiyah Yogyakarta.
Pada masa Indonesia merdeka, Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah / madrasah-madrasah berlipat ganda banyaknya dari masa penjajahan Belanda dahulu. Menurut siaran Muhammadiyah (Edisi Oktober 1957) jumlah sekolah agama / madrasah Muhammadiyah adalah sebagai berikut:
Madrasah Ibtidaiyah 412 buah
Madrasah Tsanawiyah 40 buah
Madrasah Diniyah (Awalyah) 82 buah
Madrasah Mu’alimin 73 buah
Madrasah Pendidikan Guru Agama 75 buah
Lain daripada itu banyak sekolah-sekolah umum Muhammadiyah seperti di bawah ini :
Sekolah Rakyat ................................................................. 445 buah
SMP ................................................................................... 230 buah
SMA.................................................................................... 30 buah 
Sekolah Taman Knak-kanak .............................................. 66 buah
SGB .................................................................................... 69 buah
SGA..................................................................................... 16 buah
Sekolah Kepandaian Putri ................................................... 9 buah
Sekolah Menengah Ekonomi Pertama ............................. 3 buah
Sekolah Guru Taman Kanak-kanak ................................. 2 buah
Sekolah Ekonomi Atas .................................................... 1 buah
Sekolah Guru Kepandaian Putri ...................................... 1 buah
Sekolah Guru Pendidikan Jasmani .................................. 1 buah
Sekolah Pendidikan Kemasyarakatan ............................. 1 buah
Sekolah Putri A’isyiyah .................................................. 1 buah
Fakultas Hukum dan Filsafat .......................................... 1 buah
Perguruan Tinggi Pendidikan Guru ................................ 1 buah
Taman Siswa
Biografi Ki Hajar Dewantara
Nama asli Ki hajar Dewantara adalah Raden Mas Suwardi Suryaningrat putra dari Sasradiningrat dan cucu dari Raden Mas Nataningrat Raden Paku Alam ke-4 dari Yogyakarta, Beliau lahir pada tanggal 2 Mei 1889.
Setelah tamat dari ELS (Europesche Lagere School) sekolah dasar Belanda, beliau meneruskan pendidikannya ke sekolah guru namun tidak sampai lulus, beliau juga pernah sekolah di STOVIA, namun juga tidak sampai tamat karena beasiswanya di cabut setelah beliau menyelesaikan ujian kenaikan tingkat, tapi putus sekolah tidak membuat beliau patah semangat, ia yang telah aktif dalam pergerakan nasional menyalurkan ekspresi perjuangannya melalui tulisan-tulisannya. Berbagai tulisannya dimuat dalam berbagai media penerbitan, diantaranya dua tulisannya yang berani mengkeritisi pemerintahan Belanda di beri judul Als Ik Een Nederlander Was (seandainya aku seorang Belanda) dan Een Voor Allen Maar Ook Allen Voor Een (satu untuk semua, namun semua untuk satu juga) selain menulis beliau bekerja di Apotek Rathkamp, Yogyakarta.
Ki Hajar juga aktif berorganisasi. Ia memasuki Budi Utomo dan berada dalam devisi propoganda. Bersama dengan Danudrija Setyabudi dan Ciptomangunkusumo, mereka mendirikan Indische Partij (IP) di Bandung. Karena aktifitas politik mereka yang menantang pemerintahan kolonial Belanda mereka di asingkan ke Belanda selama 6 tahun. Di Belanda Ki hajar memanfaatkan waktunya untuk belajar ilmu pendidikan hingga akhirnya mendapatkan Europeesche Akte (Akte Guru Eropa).
Sepulang dari pengasingannya, Ki Hajar menjadi guru di sekolah yang didirikan Suryopronoto dan pada tanggal 3 juli 1922 beliau mendirikan sekolah yang di beri nama Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) beliau juga di tunjuk menjadi anggota PUTERA ( Pusat Tenaga Rakyat) ketika masa pendudukan jepang ketokohannya mengenai pendidikan membuatnya terpilih sebagai menteri pengajaran dalam kabinet pertama Republik Indonesia yang di bentuk pada tanggal 2 September 1945.
Bapak pendidikan ini terus berkiprah dalam dunia pendidikan hingga wafat pada tanggal 26 april 1959 di Yogyakarta dan di makamkan di pemakaman Wijayabrata. Pemerintah indonesia menganugrahi Ki Hajar dewantara selaku pahlawan pergerkan nasional pada tahun 1959.
Sejarah Taman Siswa
Sejarah Taman Siswa adalah sejarah kebangsaan Indonesia. Kelahirannya pada tanggal 3 juli 1992 dinilai oleh seorang penulis sejarah Indonesia sebagai titik balik dalam pergerakan Indonesia. Karena kaum revolusioner yang mencoba menggerakkan rakyat dengan semboyan-semboyan asing dan ajaran-ajaran marxis terpaksa memberikan tempat untuk ajaran-ajaran baru, yang benar-benar berasas kebangsaaan dan berifat non kooperatif dengan pemerintah jajahan.
Bapak gerakan inilah R.M. Suwardi Surjaningrat atau yang kemudian dikenal Ki Hadjar Dewantara. Karena ke anggotaannya dalam Indische Partij dan aktifitasnya menentang usaha-usaha perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda atas jajahan Francis Navoleon, maka ia dibuang ke negeri Belanda bersama dengan Dr. Tjipto Mangunkusumo dan E.F.E Douwes Dekker (Danudirdjo Setyabudhi), 1913 – September 1919. Dalam masa pembuangan itu ia memakai kesempatan untuk mempelajari masalah-masalah pendidikan dan berhasil merumuskan pernyataan azas pengajaran nasional.
Dengan mendirikan Taman Siswa yang pertama, maka pada masa itu berarti ia mengesampingkan pendapatan politik. Tetapi ternyata ia dapat mewujudkan keinginan bangsanya, karena usaha untuk mendidik angkatan muda dalam jiwa kebangsaan Indonesia merupakan bagian penting dari pergerakan Indonesia dan dianggap merupakan dasar perjuangan meninggikan derajat rakyat. Banyak perkumpulan partai-partai memasukkan hal itu dalam programnya.
Pernyataan azas Taman Siswa tahun 1922 berisi 7 pasal yang secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut : pasal kesatu dan kedua mengandung dasar kemerdekaan bagi tiap-tiap orang untuk mengatur dirinya sendiri. Bila ditetapkan pada pelaksanaan pengajaran, maka hal itu merupakan usaha mendidik murid-murid supaya dapat berperasaan, berpikiran dan bekerja merdeka didalam batas-batas tujuan mencapai tertib-damainya hidup bersama. Didalam pasal satu termasuk juga dasar kodrat alam, yang diterangkan perlunya, agar kemajuan sejati dapat diperoleh dalam perkembangan kodrati.
Pada tahun 1930 pemerintah Hindia Belanda mencatat bahwa di jawa terdapat pusat-pusat kegiatan pemeliharaan kesejahteraan penduduk yang diusahakan oleh bangsa Indonesia sendiri, yaitu yang diusahakan oleh Muhammadiyah, Indonesische Studieclub Surabaya dan Taman Siswa.
Mengenai Taman Siswa penerbitan pemerintah Belanda itu menyuarakan sebagai berikut :
“Semula didirikan pada tahun 1922 di Yogyakarta, sekarang ini perguruan Taman Siswa meliputi 40 cabang, 3 diantaranya di Sumatra Timur dan 4 di Keresidenan Kalimantan Selatan dan Timur, dengan jumlah murid 5.140 orang. Ibu Pwiyatan di Yogyakarta terdiri dari sebuah MULO dengan 238 murid, sekolah rendah dengan 362 murid dan schakelschool dengan 97 murid. Sejak tahun 1925, pada waktu sekolah rendah untuk pertama kali meluluskan muridnya, rata-rata 70% dari mereka telah lulus ujian pegawai negeri rendah dan ujian masuk MULO atau sekolah teknik. Banyak diantaranya yang melanjutkan pelajaran ke MULO atau ke kweekschool, yang didirikan pada tahun 1924”.
Dari lulusan MULO pada tahun 1928, 5 diantara 9, dan pada tahun 1929, 6 diantara 14 telah lulus ujian AMS atau berarti rata-rata 45%. Sedangkan 24 lulusan Taman Guru (MULO + 1 tahun teori + 1 tahun pendidikan praktek) sekarang semua bekerja sebagai guru pada Taman Siswa atau pendidikan partikelir lainnya. Pada tahun 1929 yang mencatatkan diri sebagai murid MULO begitu besar, sehingga banyak yang ditolak. Tentang Taman Siswa yang di Yogyakarta para ahli telah memberikan penilaiannya yang baik. Kesuksesan juga dialami oleh sekolah-sekolah di Surabaya, Jakarta, Tegal dan Malang. Di kota tersebut pertama itu terdapat sekolah Taman Siswa di keranggan, dan di Tumenggungan yaitu Taman Indriya dengan 7 guru dan 420 murid, sekolah rendah di pacarkeling dengan 1 guru dan 32 murid. Tetapi disini sistem Yogyakarta tak dapat dilaksanakan karena anak-anak tidak tinggal menetap di sekolah, orang mulai mengajar dengan bahasa Belanda, pengajaran musik dan nyanyian harus berbeda dengan apa yang dapat terlaksana di pusat budaya Jawa itu banyak yang mementingkan Taman Indriya sebagai regenerasi anak-anak kota karena hasil pengajarannya baik.
Di Batavia terdapat taman anak-anak dengan 60 murid di Kemayoran dan sekolah rendah dengan 200 murid di Jati Baru. Mulai tanggal 1 Juli sekolah rendah yang kedua didirikan di kebon jeruk. Sebuah asrama didirikan di Jati Baru.
Mr. A. Jonkama yang telah mengunjungi sekolah menengah Taman Siswa di Bandung yang dipimpin oleh Sosrokartono, kakak dari R. A. Kartini yang guru-gurunya adalah I. R. Soekarno dan Mr. Sunaryo. Sekolah itu bercorak Nasional Indonesia. Selanjutnya nampak sekolah itu mengikuti MULO pemerintah. Bahasa Belanda merupakan bahasa pengantar. Diduga Mr. Sunaryo yang memberi pelajaran tatanegara sejarah, akan menitikberatkan kepada corak Insonesia. Direktur Sosrokartono menyukai suatu AMS dengan bahasa-bahasa Timur klasik dan memikirkan sebagai kelanjutan sebuah fakultas sastra Timur.
Kedudukan sastra Timur dalam program pendidikan sudah tidak asing dikalangan Taman Siswa, namun dalam pemikiran dan penerapannya ternyata berbeda menurut lingkungannya. Demikian juga dikalangangan Taman Siswa Jakarta pada tahun 1933 mendirikan Taman Dewasa Raya sebagai lanjutan Taman Dewasa atau SMP dengan program yang disebut “literer-ekonomis”. Sarmidi Mangun Sarkoro, waktu itu sebagai pemimpin perguruan, menjelaskan program itu dalam karangannya sebagai berikut :
Mengapa literer-ekonomis ? sifat kesusastraan (sastra timur) menyatakan cita-cita pembangunan kebudayaan sendiri. Program ekonomis itu timbul dalampandangan, bahwa kalau tidak adanya pengetahuan ekonomi bangsa Insonesia tidak dapat bertahan dalam perputaran rumah tangga dunia yang besar itu dengan sadar Taman Dewasa Raya bertujuan mendidik pekerja untuk pergaulan hidup yang akan datang berjiwakan cinta yang besar kepada bangsa dan tanah air.
Dari gambaran mengenai keadaan beberapa cabang Taman Siswa di atas, nyatalah bahwa sekolah sebagai alat ideologi yang begitu populer di masa itu, segi praktisnya dihindari dari Taman Siswa dan program kegiatannya lebih menekankan Nasionalisme Kebudayaan. Nasionalisme Kebudayaan dalam Taman Siswa dijelaskan. Telah menjadi kepercayaan luhur, menjadi aliran jiwa (Ki Hadjar Dewantara) yang bercorak religi.
Dalam Kongres Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) di Surabaya pada tahun 1928, Suwardi (Ki Hajar Dewantara) diminta untuk memberikan prasaran yang berjudul “pengajaran dan penghidupan Rakyat” dan di terima oleh Kongres. Ki Hajar dewantara kemudian menjabat menjadi komisi pengajaran PPPKI. Dengan ini, sekolah-sekolah partikelir mendapat landasan untuk meneruskan usaha meninggikan derajat rakyat melalui pengajaran sendiri.
Sejak itu timbul rumusan Ki Hajar Dewantara tentang hubungan gerakan politik dan sekolah-sekolah bangsa sendiri, “Tanam Siswa dan segala usaha sosial lainnya merupakan ladang dan sawah, dimana orang-orang memupuk apa yang perlu bagi melindungi hidupnya. Gerakan politik merupakan pagar, yang melindungi ladang dari gangguan binatang-binatang buas yang akan memakan dan menginjak-injak tunas-tunas tanaman”. Pelaksanaan pernyataan azas itu didalam praktek pengajaran yang di tujukan untuk dapat mencapai tujuan pendidikan Taman Siswa, yaitu terwujudnya masyarakat tata-tenterem atau tertib-damai. Metode pendidikan yang ditempuh adalah:
a. Pada tahun-tahun pertama permulaan peserta didik sebanyak mungkin dibiasakan dengan suasana rumah serta lingkunganya sendiri. Dasar-dasar bahasa dan alam pikiran sendiri ditanam sekuat-kuatnya melalui nyanyian dan permainan anak-anak, sebelum peserta didik mendapat pengajaran dalam bahasa asing.
b. Pendidikan diberikan untuk menyiapkan rasa kebebasan dan tanggungjawab, agar anak-anak berkembang merdeka dan menjadi orang yang serasi, terikat erat dengan milik budaya sendiri dan dengan demikian dan terhindar dari pengaruh tidak baik dan tekanan hubungan kolonial, sepertiumpamany rendah diri, ketakutan, kebencin, keseganan dan tiruan yang membuta. Lain dari pada itu anak-anak di didik dengan partiotismeimdomesia yang memilik rasapengabdian tinggi bagi nusa dan bangsa.
c. untuk memantapkan dasar-dasar itu, maka pada pertamanya perlu di kembangkan sistem pondok Indonesia. Murid-murid lelaki dan perempuan tinggal bersama guru-guru pria dan wanita dalam satu asrama. Tiap bagian perguruan harus diketuai oleh guru yang telah berkeluarga, yang bertugas untuk tetap memelihara suasana kekeluargaan. Pusat dari perguruan, yang merupakan masyarakat kecil itu, ialah guru (dan pada awal perkembangan perguruan Taman Siswa ialah Ki Hajar Dewantara sendiri), kepada siapa saja baik itu guru atau murid dapat mengemukakan kesulitan yang di hadapinya.
d. murid-murid yang telah dewasa disamping mempuanyai kebebasan atas dirinya mereka juga di berikan tanggung jawab sesuai tugasnya masing-masing. Di terapkan sistem ko-edukasi, yang di harapkan memberi pengaruh baik bagi anak laki-laki dengan hadirnya anak-anak perempuan di dalam kelas dan lingkunganya.
e. untuk anak-anak, maka pengajaran dengan ko-edukasi di laksanakan dengan sempurna, sedangkan untuk orang dewasa di adakan pengawasan dan pembatasan dengan penuh kebijaksanaan. Kepada gadis-gadis diterangkan, bahwa tugas mereka di masa depan sebagai calon ibu akan berbeda dengan anak laki-laki, dan oleh karena itu mereka harusmengembangkan bakat-bakat sendiri secara serasi.
Persatuan Islam
Sejarah Persis
Tampilnya Persatuan Islam (Persis) dalam pentas sejarah Islam di Indonesia pada awal abad ke-20 telah memberikan corak dan warna baru dalam gerakan pembaruan pemikiran Islam.Gerakan pembaruan pemikiran Islam di Indonesia pada awal abad ke-20 ditandai dengan munculnya berbagai organisasi yang dikelola oleh tokoh modernis Islam di antaranya: Al-Jam’iyyah Al-Khairiyah (JamiatKhair) di Jakarta yang berdiri pada tanggal 17 Juli 1905; Muhammadiyah yang berdiri di Yogyakarta pada tanggal 12 Nopember 1912; dan Persis pada tanggal 12 September 1923 di Bandung.
Ide pendirian organisasi persis berasal dari pertemuan (tadarusan) yang diadakan secara berkala di rumah salah seorang anggota kelompok yang berasal dari Sumatera. Orang Sumatera ini ialah H. Zamzam dan H. Muhammad Yunus, mereka mempunyai banyak pengetahuan. Keduanya sebenarnya adalah pedagang, tetapi mereka mempunyai kesempatan dan waktu untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang Islam.
Zamzam (1894-1952), ia menghabiskan tiga setengah tahun di Mekah, ia belajar di lembaga Darul Ulum. Sekembali dari Mekah ia menjadi guru di Darul Muta’allimin, sebuah sekolah agama di Bandung (1910). Adapun Muhammad Yunus, memperoleh pendidikan agama secara tradisional dan menguasai bahasa Arab, ia tidak pernah mengajar dan hanya berdagang, tetapi minatnya tidak hilang untuk mempelajari agama. 
Perhatian persis yang utama ialah bagaimana menyebarkan cita-cita dan pemikirannya. Ini dilakukan dengan mengadakan pertemuan umum, tabligh, khotbah-khotbah, kelompok-kelompok studi, mendirikan sekolah-sekolah dan menyebarkan pamflet-pamflet, majalah-majalah dan kitab-kitab. Dengan penerbitan inilah yang terutama menyebarluaskan daerah penyebaran pemikirannya.
Persis mendapat dukungan dari Ahmad Hassan, ia dianggap sebagai guru persis. Ia lahir di Singapura tahun 1887 berasal dari keluarga campuran India dan Indonesia. Ayahnya merupakan ahli agama islam. Tokoh lain dari persis diantaranya ialah Muhammad Natsir (1908). Ia lahir di Alahan Panjang Sumatera Barat. Pada tahun 1927 ia pergi ke Bandung untuk melanjutkan studi pada AMS (Algeme Middlebare School). Turut sertanya secara teratur di dalam siding Jumat (persis), menyebabkan ia memiliki hubungan yang erat dengan tokoh-tokoh persis. Dan beliau pun sering memikirkan pendidikan di kalangan anak muslim. 
Sebagaimana halnya dengan organisasi Islam lainnya, persis memberikan perhatian yang besar pada kegiatan-kegiatan pendidikan, tablig serta publikasi. Dalam pendidikan, persis mendirikan sebuah madrasah yang mulanya dikhususkan untuk anak-anak dari anggota persis, tetapi kemudian madrasah ini diluaskan untuk dapat menerima anak-anak lain. Hassan dan Zamzam mengajar mereka dengan pembahasan soal-soal iman serta ibadah dengan menolak segala kebiasaan bid’ah. Sebuah kegiatan lain yang penting dalam rangka kegiatan pendidikan persis ini adalah lembaga-lembaga pendidikan islam, diantaranya kelas pendidikan aqidah dan ibadah bagi orang dewasa (1924) dan sebuah proyek yang diluncurkan oleh Natsir seperti TK (1930), HIS (1930), MULO (1931), dan sebuah sekolah guru (1932). Inisiatif ini dikemukakannya setelah ia melihat berdirinya beberapa sekolah swasta di Bandung yang tidak memberikan pelajaran agama didalamnya. Menjelang tahun 1942 kira-kira 50 orang siswa telah menyelesaikan studinya di MULO dan 30-40 orang di sekolah guru. Para lulusan ini umumnya kembali ke tempat asal mereka, dan membuka sekolah-sekolah baru atau bergabung dengan sekolah-sekolah yang telah ada.
Di samping pendidikan Islam, Persis mendirikan sebuah pesantren (disebut Pesantren Persis) di Bandung pada bulan Maret 1936 untuk membentuk kader-kader yang mempunyai keinginan untuk menyebarkan agama. Usaha ini merupakan inisiatif Hassan. Pesantren ini dipindahkan ke Bangil, Jawa Timur, ketika Hassan pindah kesana dengan membawa 25 dari 40 siswanya. Setelah pesantren dibuka di Bangil, maka murid-murid pun bertambah.
Pada bulan Desember 1941 terjadi Perang Dunia II.Sebagian murid-murid pulang ke kampung masing-masing. Ketika tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, di pesantren tinggal beberapa orang anak laki-laki yang tak dapat pulang, pada saat itu, pesantren terpaksa di tutup. Tetapi 1 Muharram 1371 (3 Oktober 1951) dibuka kembali dengan resmi. Sampai sekarang masih tetap ramai dikunjungi para santri dari berbagai daerah di Indonesia untuk menuntut ilmu pengetahuan agama dan umum.
Pendidikan Persis
Tingkat Ibtidaiyah
Lama studi 6 tahun, terdiri atas kelas Tahdiri (persiapan) untuk 2 tahun pertama (kelas A dan B); setelah itu baru menjadi kelas I-II-III dan diakhri dengan kelas IV. Setelah pelajaran agama diberikan di kelas-kelas rendah sebanyak 75%; sedangkan pengetahuan umum hanya 25%, maka di kelas III dan IV pelajaran agama dan pengetahuan umum menjadi seimbang (50%-50%) dan setelah hampir masak pengetahuan agama pada murid-murid, ilmu umum ditambah menjadi 75%. Mulai kelas IV bahasa pengantar menggunakan bahasa Arab.
Tingkat Tajhiziyah
Menampung lulusan SD untuk menyiapkan diri selama 2 tahun supaya dapat ikut memasuki Tsanawiyah. Di sini 100% dimatangkan agama dan bahasa Arab.
Tingkat Tsanawiyah
Pada tingkat Tsanawiyah memakan waktu 4 tahun, yang memasukinya ialah lulusan Ibtidaiyah dan Tajhiziah. Muatan agama diberikan lebih banyak, sedangkan pelajaran umum hanya yang penting-penting saja, diantaranya ilmu mengajar dan perbandingan agama. Di samping memperdalam bahasa Arab, diberikan juga bahasa Inggris.
Tingkat Mu’allimin
Yang berhak masuk tingkat Mu’allimin ialah tamatan Tsanawiyah dengan lama belajar 2 tahun. Di samping mempelajari bidang ilmiah, praktek kemasyarakatan menjadi tugas pokok. Kecuali praktek mengajar, diberikan pula kepemimpinan dan praktek tabligh.
Tingkat Aliyah
Bertujuan memantapkan ilmu pengetahuan dengan menerima lulusan Mu’allimin. Lama belajar 3 tahun.























BAB III
PENUTUP

       Demikianlah “Usaha-usaha rakyat di dalam bidang pendidikan” yang mana setiap jengkal dari tulisan penulis dapat di ambil ibrah dan dapat di tarik benang merah yang menjadi permasalahan ataupun pertanyaan kita. Penulis yakin di dalam makalah ini terdapat banyak kekurangan baik dalam segi materil ataupun yang lainnya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun atas kekurangan yang terdapat pada makalah ini. Semoga ilmu yang telah di rangkai dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi kehidupan kita sehari-hari. Aamiiin.





















LAMPIRAN

    









DAFTAR PUSTAKA

Afifuddin, dkk. 2013. Sejarah Pendidikan. Bandung: Prospect 
Ahmad Mansur Suryanegara, dkk. 2009. Api Sejarah. Bandung: PT. Grafindo Media Pratama
Bambang Sokawati. 1989. Ki Hadjar Dewantara. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Irfan Safrudin. 2008. Ulama-ulama Perintis. Bandung: MUI Bandung
M. Yunan Yusuf. 2005. Ensiklopedi Muhammadiyah. Jakarta : PT. Raja Grafindo
Poesponegoro, Marwati Djoened. 1993. Sejarah Nasional. Jakarta: Balai Pustaka
Shiddieq Amien, dkk. 2007. Panduan Hidup Berjama’ah dalam Jam’iyyah Persis.
Universitas Muhammadiyah. Agenda U.NI.R.E.S.
Zuhairini, dkk. 2013. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...