PEMBELAJARAN AKHLAQUL KARIMAH
PEMBELAJARAN AKHLAQUL KARIMAH DALAM PEMBENTUKAN SIFAT-SIFAT MULIA
MAKALAH
Dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Belajar dan
Pembelajaran PAI II
Dosen
Dra. Ida Rosyidah, M.Ag
Bahan diskusi kelompok 9
Hifni Mannan Nuzula 1152020091
Irfi Nur Syamsiah 1152020101
Kristin Wiranata 1152020108
Laela Nur Saleha 1152020109
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2018
KATA PENGANTAR
﷽
Segala puji syukur kami panjatkan kepada Allah subhanahu wata’ala karena berkat ridho-Nya kami dapat menyusun makalah yang berjudul “Pembelajaran Akhlaqul Karimah Dalam Pembentukan Sifat-Sifat Mulia” untuk memenuhi salah satu tugas kelompok pada mata kuliah Belajar dan Pembelajaran PAI II. Shalawat dan salam semoga senantiasa sampai kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang membawa kita selaku umatnya kepada jalan kebenaran.
Penyusun meyampaikan terima kasih kepada dosen mata kuliah Belajar dan Pembelajaran PAI II Dra. Ida Rosyidah, M.Ag. yang telah memberikan arahannya kepada kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kami menerima kritik dan saran dari pembaca, sehingga dapat menjadi sebuah pembelajaran dan perbaikan untuk kami agar menjadi lebih baik lagi kedepannya.
Bandung, 24 Mei 2018
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 1
BAB II PEMBAHASAN 3
A. Nabi Muhammad 3
B. Khadijah 4
C. Utsman bin Affan 6
D. Nabi Nuh 7
E. Luqman 9
F. Ali bin Abi Thalib 11
G. Abu Bakar Ash-Shiddiq 13
H. Umar bin Khattab 15
I. Fatimah Az-Zahra 16
J. Imam Hanafi 17
K. Imam Maliki 19
L. Imam Syafi’i 20
M. Imam Hanbali 21
BAB III PENUTUP 23
A. Simpulan 23
DAFTAR PUSTAKA 25
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Allah swt. sangat mencintai hambanya yang memiliki akhlakul karimah. Hamba tersebut mampu menjalin hubungan yang baik dengan penciptanya, sesama manusia, dengan alam dan dengan dirinya sendiri. Orang yang memiliki akhlak yang baik akan mudah diterima dimanapun ia berada. Kehadirannya senantiasa menjadi angin penyejuk bagi lingkungannya. Rasulullah saw. sangat menekankan umatnya untuk berakhlakul karimah, sebagaimana misi diutusnya Rasulullah saw. ialah untuk memperbaiki akhlak. Derajat manusia akan meningkat dan menurun sebanding dengan kadar akhlaknya.
Perilaku yang baik dapat kita teladani dari para salafush shalih. Mereka memiliki masa lalu yang mempunyai pesona unik bagi para pemerhati kemanusiaan. Peninggalan masa lalu mereka dapat menggugah dan menumbuhkan hasrat dalam benak kita untuk meningkatkan kualitas diri. Kisah-kisah orang shalih akan memberi kepuasan kepada rasa keingintahuan dengan memungkinkan kita untuk meneladani kehidupan figur-figur sejarah yang mahsyur melalui perilaku mereka. Para pemuda muslim bisa menggali inspirasi yang luas dari berbagai perilaku teladan dari para pendahulu mereka.
Beranjak dari pentingnya mengetahui kisah para salafus shalih kami merasa tergugah untuk membuat makalah dengan tema “Pembelajaran Akhlakul Karimah Dalam Pembentukan Sifat-Sifat Mulia”. Semoga makalah ini dapat bermanfaat.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas kami menyimpulkan rumusan masalah sebagai berikut:
Bagaimana biografi Nabi Muhammad saw. dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
Bagaimana biografi Khadijah dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
Bagaimana biografi Utsman. dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
Bagaimana biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
Bagaimana biografi Umar bin Khattab dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
Bagaimana biografi Ali bin Abi Thalib dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
Bagaimana biografi Fatimah dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
Bagaimana biografi Imam 4 Madzhab dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
Bagaimana biografi Luqman dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
Bagaimana biografi Nabi Nuh dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
BAB II
PEMBAHASAN
Nabi Muhammad
Riwayat Hidup Nabi Muhammad
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Manaf dilahirkan di kota Makkah. Abdullah ayah beliau meninggal dunia sewaktu beliau dalam kandungan, ibu beliau juga meninggal dunia sewaktu beliau berumur enam tahun. Akhirnya beliau dibesarkan oleh kakeknya yang bernama Abdul Muthalib, sampai ia berumur delapan tahun, setelah kakeknya meninggal dunia ia tinggal dengan pamannya Abu Thalib, selama beliau tinggal dengan pamannya, perilakunya mendapat perhatian penduduk sekitar dan tidak lama berselang ia telah mendapat di hati mereka.
Pada usia tiga belas tahun, ia menemani Abu Thalib ke Syam (Syiria sekarang). Dalam perjalanan inilah keagungan jiwa dan sifat amanahnya teruji, Oleh karena itu di kalangan masyarakat Makkah pada saat itu memanggilnya Muhammad Al-Amin (yang terpercaya). Pada usia dua puluh lima tahun beliau menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, dan pada usia itu pula beliau menempatkan Hajarul Aswad di tempatnya semula dan mencegah terjadinya perang antar kabilah Makkah, ia telah membuktikan keahliannya dalam manajemen, dan dengan ikut serta dalam perjanjian Hilful Fudhul ia telah membuktikan kecintaanya terhadap persatuan insani.
Pada usia empat puluh tahun ia diangkat menjadi nabi, selama tiga tahun ia berdakwah secara diam-diam di kota Makkah. Setelah masa tiga tahun turunlah ayat yang berbunyi “berilah peringatan kepada keluarga dekat mu” dan dia mulai melakukan dakwah secara terang terangan dan dia mulai dari keluarga dekat dia sendiri, setelah itu ia mendakwahkan untuk bertauhid dan meninggalkan syirik dan menyembah berhala. Semenjak dakwah rasul terang terangan kaum quraisy menyatakan peperangan dengan beliau, menentang dakwah beliau, dan menganggu segala aktivitas beliau. Selama tiga belas tahun Rasulullah SAW menghadapi segala gangguan dan ejekan dari pembesar pembesar quraisy. Dengan tegar ia tidak mundur walaupun selangkah dari misi nya. Setelah tiga tahun berdakwah di Makkah dia terpaksa harus hijrah ke Madinah, pasca hijrah di Madinah lahan untuk dakwah Islam tersedia dengan baik meskipun pada priode sepuluh tahun ini kaum musyrikin, munafikin dan kabilah – kabilah yahudi selalu mengganggu.
Akhlaqul Karimah Nabi Muhammad
Keteladanan sifat- sifat yang harus kita teladani adalah Empat sifat Rasul yang sangat mulia, yang harus ditiru dalam berkepemimpinan baik pada diri sendiri maupun kepada orang lain:
Shiddiq (Berkata Benar)
Fathonah (cerdass)
Tabligh (Menyampaikan Wahyu
Amanah (Dapat dipercaya)
Khadijah
Riwayat Hidup Khadijah
Siti Khadijah adalah putri Khuwailid bin As’ad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Siti Khadijah dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat, pada tahun 68 sebelum hijrah. Khadijah tumbuh dalam lingkungan yang keluarga yang mulia, sehingga akhirnya setelah dewasa ia menjadi wanita yang cerdas, teguh, dan berperangai luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya yang menaruh simpati padanya. Syaikh Muhammad Husain Salamah menjelaskan bahwa Siti Khadijah, nasab dari jalur ayahnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada kakeknya yang bernama Qushay. Dia menempati urutan kakek keempat bagi dirinya.
Pada tahun 575 Masehi, Siti Khadijah ditinggalkan ibunya. Sepuluh tahun kemudian ayahnya, Khuwailid, menyusul. Sepeninggal kedua orang tuanya, Khadijah dan saudara-saudaranya mewarisi kekayaannya. Kekayaan warisan menyimpan bahaya. Ia bisa menjadikan seseorang lebih senang tinggal di rumah dan hidup berfoya-foya. Bahaya ini sangat disadari Khadijah. Ia pun memutuskan untuk tidak menjadikan dirinya pengangguran. Kecerdasan dan kekuatan sikap yang dimiliki Khadijah mampu mengatasi godaan harta. Karenanya, Khadijah mengambil alih bisnis keluarga.
Pertama kali dalam sejarah bangsa Arab, seorang wanita diberi panggilan Ratu Mekkah dan juga dijuluki at-Thahirah. Orang-orang memanggil Khadijah dengan Ratu Mekkah karena kekayaannya dan menyebut Khadijah dengan at-Thahirah karena reputasinya yang tanpa cacat.
Suatu ketika, Muhammad berkerja mengelola barang dagangan milik Siti Khadijah untuk dijual ke Syam bersama Maisyarah. Setibanya dari berdagang Maysarah menceritakan mengenai perjalanannya, mengenai keuntungan-keuntungannya, dan juga mengenai watak dan kepribadian Muhammad. Setelah mendengar dan melihat perangai manis, pekerti yang luhur, kejujuran, dan kemampuan yang dimiliki Muhammad, kian hari Khadijah semakin mengagumi sosok Muhammad. Selain kekaguman, muncul juga perasaan-perasaan cinta Khadijah kepada Muhammad.
Tibalah hari suci itu. Maka dengan maskawin 20 ekor unta muda, Muhammad menikah dengan Siti Khadijah pada tahun 595 Masehi. Pernikahan itu berlangsung diwakili oleh paman Khadijah, ‘Amr bin Asad. Sedangkan dari pihak keluarga Muhammad diwakili oleh Abu Thalib dan Hamzah. Ketika Menikah, Muhammad berusia 25 tahun, sedangkan Siti Khadijah berusia 40 tahun. Bagi keduanya, perbedaan usia yang terpaut cukup jauh dan harta kekayaan yang tidak sepadan di antara mereka, tidaklah menjadi masalah, karena mereka menikah dilandasi oleh cinta yang tulus, serta pengabdian kepada Allah. Dan, melalui pernikahan itu pula Allah telah memberikan keberkahan dan kemuliaan kepada mereka.
Dari pernikahan itu, Allah menganugerahi mereka dengan beberapa orang anak, maka dari rahim Siti Khadijah lahirlah enam orang anak keturunan Muhammad. Anak-anak itu terdiri dari dua orang laki-laki dan empat orang perempuan. Anak laki-laki mereka, al-Qasim dan dan Abdullah at-Tahir at-Tayyib meninggal saat bayi. Kemudian, empat anak perempuannya adalah Zainab, Ruqayyah, Ummi Kulsum, dan Fatimah az-Zahra. Siti Khadijah mengasuh dan membimbing anak-anaknya dengan bijaksana, lembut, dan penuh kasih sayang, sehingga mereka pun setia dan hormat sekali kepada ibunya.
Setelah berakhirnya pemboikotan kaum Quraisy terhadap kaum muslim, Siti Khadijah sakit keras akibat beberapa tahun menderita kelaparan dan kehausan. Semakin hari kondisi kesehatan badannya semakin memburuk. Dalam sakit yang tidak terlalu lama, dalam usia 60 tahun, wafatlah seorang mujahidah suci yang sabar dan teguh imannya, Sayyidah Siti Khadijah al-Kubra binti Khuwailid.
Siti Khadijah wafat dalam usia 65 tahun pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-10 kenabian, atau tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah atau 619 Masehi. Ketia itu, usia Rasulullah sekitar 50 tahun. Beliau dimakamkan di dataran tinggi Mekkah, yang dikenal dengan sebutan al-Hajun.
Akhlaqul Karimah Khadijah
Wanita yang Cerdas
Wanita yang Ulet dan Mandiri
Wanita yang Sangat Setia
Wanita yang Salihah dan Teguh
Utsman bin Affan
Riwayat Hidup Utsman bin Affan
Ustman bin Affan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Utsman bin Affan lahir pada tahun 574 – 656 M atau 12 Dzulhijjah 35 H. beliau diperkirakan berumur 81–82 tahun. Ustman bin affan adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang termasuk Khulafaur Rasyidin yang ke-3 yang sangat pemalu. Beliau juga merupakan seorang yang saudagar kaya dan dermawan. Selain itu beliau juga berjasa dalam hal membukukan kitab suci Al-Qur'an.
Utsman bin Affan adalah khalifah Khulafaur Rasyidin yang ketiga dan memerintah dari tahun 644 hingga 656. Saat beliau berumur 69–70 tahun dan memerintah selama 11–12 tahun. Ia banyak memberikan bantuan ekonomi kepada umat Islam di awal dakwah Islam. Ia menikahi puteri kedua dan ketiga dari Rasullah yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum sehingga mendapat julukan sebagai Dzunnurain yang artinya memiliki dua cahaya.
Di mata Rasulullah SAW Utsman bin Affan sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati. Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Abu Bakar masuk tapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa?’ Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?”
Khalifah Utsman wafat karena dibunuh oleh para pemberontak. Saat itu beliau dikepung oleh pemberontak selama 40 hari dimulai dari bulan Ramadhan hingga Dzulhijah. Beliau diberi 2 ultimatum oleh pemberontak (Ghafiki dan Sudan), yaitu mengundurkan diri atau dibunuh. Meski Utsman mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan pemberontak, namun ia berprinsip untuk tidak menumpahkan darah umat Islam. Utsman akhirnya wafat sebagai syahid pada bulan Dzulhijah 35 H ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat sedang membaca Al-Quran.
Hal ini persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah SAW perihal kematian Utsman yang syahid nantinya, peristiwa pembunuhan usman berawal dari pengepungan rumah Utsman oleh para pemberontak selama 40 hari. Utsman wafat pada hari Jumat 18 Dzulhijjah 35 H.
Akhlaqul Karimah Utsman bin Affan
Dermawan
Adil
Sederhana
Diplomat ulung
Ramah dan sabar
Nabi Nuh
Riwayat Hidup Nabi Nuh
Nuh adalah putra Lamik bin Matta Syalih bin Idris. Menurut Al-Quran usia Nabi Nuh ialah 950 tahun (QS. Al-'Ankabuut:14). Setelah Nabi Idris meninggal dunia, perilaku masyarakat semakin menyimpang. Begitu juga kaum Nuh, yang ketika itu menyembah berhala. Al-Quran menyebutkan hal ini dalam Surah Nuuh ayat 23. "Mereka berkata, "Jangan kamu tinggalkan tuhan-tuhan kamu dan jangan kamu tinggalkan Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr."
Ternyata, dakwah Nabi Nuh tidak mendapat sambutan yang baik. Mereka malah mencemooh dan menghina Nabi Nuh. Mereka juga meremehkan Nabi Nuh dan pengikutnya yang miskin. "Maka, berkatalah pemimpin-peminpin yang kafir dari kaumnya, 'Kami tidak melihat kamu melainkan (sebagai) seorang manusia seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina diantara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang berdusta." (QS. Huud : 27).
Nabi Nuh kesal terhadap sikap kaumnya. Ia pun berlindung kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya. Ia berdoa kepada Allah, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku untuk beriman kepada-Mu. Aku juga mengajak mereka agar meninggalkan penyembahan berhala. Aku sangat berharap mereka mau beriman. Tidak ku lewatkan setiap kesempatan, melainkan kuajak mereka siang dan malam. Ternyata, harapanku sia-sia. Mereka malah makin membangkang dan durhaka. Setiap kali kuajak mereka untuk menyembah-Mu, supaya Engkau bisa memaafkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka pun menutup telinganya dengan ujung jarinya. Mereka tidak suka mendengar ajakanku. Mereka sangat berlebih-lebihan dalam pembangkangan. Sampai-sampai, mereka menutup wajahnya dengan baju supaya tidak melihatku dan tidak mendengar dakwah yang kuberikan. Wahai Tuhanku, aku telah mengajak mereka untuk menyembah-Mu berulang-ulang dengan berbagai cara. Kadang-kadang, aku mengajak secara terang-terangan dalam kelompok-kelompok mereka. Kadang-kadang, secara sendirian terhadap seseorang diantara mereka. Aku berkata kepada mereka, 'Mintalah ampun kepada Tuhanmu. Bertobatlah dari kekafiran dan kemaksiatan. Sesungguhnya Dia menerima tobat hamba-hamba-Nya. Dia memaafkan kesalahan-kesalahan serta memberi ganjaran atas tobat dan istigfarmu. Maka, Dia akan menurunkan hujan yang deras bagi kamu. Hujan yang akan menyuburkan tanahmu sesudah kekeringan. Dia memberi rezeki kepadamu berupa harta benda untuk kamu nikmati dan mengaruniai anak-anak yang akan membantu kamu. Kebun-kebun yang lebat akan membuat hidupmu sejahtera. Dan sungai-sungai akan menjamin pengairan bagi tanahmu." (QS. Nuuh : 5-12)
Sudah tidak ada harapan lagi kaum Nuh akan beriman, kecuali sedikit. Akhirnya, Nabi Nuh berdoa agar Allah menimpakan azab kepada kaumnya. Allah pun mengabulkan doa Nabi Nuh. Sebelum membinasakan kaum kafir itu. Allah memerintahkan Nabi Nuh dan kaum Muslim menyiapkan alat untuk menyelamatkan diri. Allah menyuruh mereka untuk membuat kapal. Nabi Nuh dan pengikutnya segera menjalankan perintah Allah itu. Mereka mulai membuat kapal. Namun, pembuatan kapal diejek oleh orang-orang kafir. Untuk menghadapi ejekan orang-orang kafir itu, Nabi Nuh berkata, "Jika kamu mengejek Kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalin, mengejek (kami). Kelak, kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya, dan yang akan ditimpa azab yang kekal." (QS. Huud : 38-39).
Akhlaqul Karimah Nabi Nuh
Penyayang
Penyabar
Luqman
Riwayat Hidup Luqman
Nama lengkapnya adalah Luqman bin `Anqo’ bin Sadun, anaknya bernama Tsaron. Ia seorang hamba yang shalih, bukan seorang nabi. Karena keshalihannya dan untaian nasihatnya bagaikan mutiara, namanya diabadikan dalam al-Qur’an, yaitu dalam surat Luqman, surat ke-31. la telah mendapatkan ilmu hikmah sehingga dijuluki al-Hakim (ahli hikmah). Bahkan dalam banyak riwayat shahih dikatakan, ia seorang budak belian, berkulit hitam, berparas pas-pasan, hidung pesek, kulit hitam legam. Namun demikian, namanya diabadikan oleh Allah menjadi nama salah satu surat dalam al-Qur’an, surat Luqman. Penyebutan ini tentu bukan tanpa maksud. Luqman diabadikan namanya oleh Allah, karena memang orang shaleh yang patut diteladani. Allah tidak menilai seseorang dari gagah tidaknya, juga tidak dari statusnya, jabatannya, warna kulitnya dan lainnya. Akan tetapi Allah menilai dari ketakwaaan dan kesalehannnya.
Pendapat sejarawan tentang lukman hakim
Dalam Tarikhnya, Ibnu Ishak menuturkan, bahwa Luqman bernama Luqman bin Bau’raa bin Nahur bin Tareh, dan Tareh bin Nahur merupakan nama dari Azar, ayah Nabi Ibrahim as.
Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa Luqman adalah putra dari saudari kandung Nabi Ayyub as. Muqatil menuturkan, Luqman adalah putra dari bibinya Nabi Ayyub as.Imam Zamakhsyari menguatkan dengan mengatakan: Dia adalah Luqman bin Bau’raa putra saudari perempuan Nabi Ayyub atau putra bibinya.
Riwayat lain mengatakan, Luqman adalah cicit Azar, ayahnya Nabi Ibrahim as. Luqman hidup selama 1000 tahun, ia sezaman bahkan gurunya Nabi Daud. Sebelum Nabi Daud diangkat menjadi Nabi, Luqman sudah menjadi mufti saat itu, tempat konsultasi dan bertanya Nabi Daud as.
Luqmanul Hakim dalam sebuah riwayat dikatakan seorang yang bermuka biasa, tidak ganteng. Qatadah pernah menuturkan dari Abdullah bin Zubair bahwasannya ia pernah bertanya kepada Jabir bin Abdullah tentang Luqman. Jabir menjawab: “Dia berbadan pendek dan berhidung pesek, orang Nubi, Mesir”.
Sa’id bin al-Musayyib juga menuturkan bahwa Luqman termasuk orang berkulit hitam dari Mesir, akan tetapi sangat mulia, dan Allah memberikan hikmah kepadanya, juga Luqman menolak untuk diangkat sebagai Nabi. Seorang laki-laki berkulit hitam datang mengadu kepada Said bin al-Musayyib. Sa’id kemudian berkata: “Janganlah bersedih lantaran kulit kamu hitam, karena di antara manusia pilihan itu, ada tiga orang semuanya berkulit hitam: Bilal, Mihja’ budak Umar bin Khatab dan Luqmanul Hakim”.
Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang profesinya. Sebagian mengatakan, profesinya adalah tukang jahit. Sebagian lainnya mengatakan, tukang kayu, yang lainnya menuturkan tukang kayu bakar, dan terakhir mengatakan sebagai penggembala.
Riwayat lain menuturkan bahwa Luqman adalah qadhi pada masa Bani Israil, sekaligus konsultannya Nabi Daud as. Bahkan riwayat lain menuturkan Luqman adalah seorang budak belian dari Habasyi yang berprofesi sebagai tukang kayu. Khalid ar-Rib’i menuturkan: “Luqman adalah seorang budak belian dari Habasyi yang berprofesi sebagai tukang kayu. Suatu hari majikannya berkata: “Wahai Luqman sembelih kambing ini lalu keluarkan dua dagingnya yang paling enak. Luqman lalu menyembelih dan mengeluarkan lidah dengan hati.
Keesokan harinya, majikannya kembali berkata: “Luqman, sembelih domba ini, dan keluarkan dua daging yang paling tidak enak”. Luqman kembali mengeluarkan lidah dengan hati. Majikannya lalu bertanya, wahai Luqman, saya meminta kamu mengeluarkan daging yang paling enak dan paling tidak enak, kamu mengeluarkan yang sama, lidah dengan hati. Kenapa demikian?. Luqman menjawab: “Tidak ada yang seenak keduanya, apabila dipakai dengan sebaik mungkin, dan tidak ada yang sejelek dari keduanya, manakala dipakai tidak pada tempatnya”. SubhanAllah sungguh bijak sekali Luqman ini, karena itulah Allah memberikan nama Luqmanul Hakim (Luqman yang sangat bijak). Dalam sejarahnya Luqman menikah dan dikaruniai banyak anak, akan tetapi semuanya meninggal dunia ketika masih kecil, tidak ada yang sampai dewasa, namun Luqman tidak menangis, karena hidupnya yang sudah yakin dengan Allah.
Akhlaqul Karimah Luqman
Menahan (menjaga) pandangan
Menjaga lisan
Memperhatikan makanan
Memelihara (menjaga) kemaluan
Berkata jujur
Menunaikan janji
Menghormati tamu
Memedulikan tetangga
Meninggalkan semua yang tidak bermanfaat bagi dirinya
Seorang yang tangguh
Pendiam
Pemikir
Berpandangan mendalam
Tidak pernah terlihat oleh orang lain tidur siang, meludah, berdahak, kencing, buang air besar, menganggur ataupun tertawa seenaknya.
Tidak pernah mengulang kata-katanya, kecuali ucapan hikmah yang diminta penyebutannya kembali oleh orang lain.
Ali bin Abi Thalib
Riwayat Hidup Ali bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang terkemuka di kalangan umat Islam sekaligus sepupu Nabi Muhammad yang menjadi khalifah ke-4 (khulafaur rosyidin) setelah kekhalifhan Utsman bin Affan.
Ali adalah sosok yang cerdas dan tampan. Tumbuh berkembang dalam didikan rumah tangga kenabian, dialah orang pertama yang masuk Islam dari golongan anak kecil. Sejak kecil Ali telah berada dalam didikan Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wassalam, sebagaimana dikatakannya sendiri: "Nabi membesarkan aku dengan suapannya sendiri. Aku menyertai beliau kemanapun beliau pergi, seperti anak unta yang mengikuti induknya. Tiap hari aku dapatkan suatu hal baru dari karakternya yang mulia dan aku menerima serta mengikutinya sebagai suatu perintah".
Ali dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian Muhammad, sekitar tahun 599 Masehi atau 600(perkiraan) dan ada juga yang menyebutkan tahun ke dua puluh sebelum kenabian. Usia Ali terhadap Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wassalam masih diperselisihkan hingga kini, sebagian riwayat menyebut berbeda 25 tahun, ada yang berbeda 27 tahun, ada yang 30 tahun bahkan 32 tahun.
Ali bernama asli Haydar bin Abu Thalib, paman Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wassalam. Haydar yang berarti "Singa" adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani diantara kalangan Quraisy Mekkah. Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar, Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wassalam memanggil dengan Ali yang berarti "Tinggi (derajat di sisi Allah)."
Ayahnya adalah: Abu Thalib, paman Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wassalam, bin Abdul Muththalib, bin Hasyim, bin Abdi Manaf, bin Qushayy. Ibunya adalah: Fathimah binti Asad, bin Hasyim, bin Abdi Manaf. Saudara-saudara kandungnya adalah: Thalib, 'Uqail, Ja'far dan Ummu Hani. Ali adalah berdarah Hasyimi dari kedua ibu-bapaknya. Keluarga Hasyim memiliki sejarah yang cemerlang dalam masyarakat Mekkah. Sebelum datangnya Islam, keluarga Hasyim terkenal sebagai keluarga yang mulia, penuh kasih sayang, dan pemegang kepemimpinan masyarakat. Ibunya adalah Fathimah binti Asad, yang kemudian menamakannya Haidarah. Haidarah adalah salah satu nama singa, sesuai dengan nama ayahnya: Asad (singa). Fathimah adalah termasuk salah seorang wanita yang terdahulu beriman dengan Risalah Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wassalam. Dia pula-lah yang telah mendidik Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wassalam, dan menanggung hidupnya, setelah meninggalnya bapak-ibu beliau, Abdullah dan Aminah. Beliau kemudian membalas jasanya, dengan menanggung kehidupan Ali, untuk meringankan beban pamannya, Abu Thalib, pada saat mengalami kesulitan ekonomi. Saat Fathimah meninggal dunia, Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wassalam yang mulai mengkafaninya dengan baju qamisnya, meletakkannya dalam kuburnya, dan menangisinya, sebagai tangisan seorang anak atas ibunya.
Ali adalah anak bungsu dari kedua orang tuanya, selain Ja'far, Uqail dan Thalib. Saat Abu Thalib mengalamai krisis ekonomi karena kekeringan yang melanda, seperti yang dialami oleh orang-orang Quraisy, Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wassalam menyarankan kepada kedua pamannya: Hamzah dan Abbas untuk turut membantu meringankan beban saudaranya, Abu Thalib, dengan menanggung biaya hidup anaknya. Maka keduanya pun memenuhi permintaan tersebut. Mengetahui hal itu, Abu Thalib berkata kepada kedua saudaranya tersebut,: "Ambillah siapa yang kalian ingini, namun tinggalkanlah Uqail, untuk tetap aku didik." Uqail adalah anak yang paling disayangi oleh Abu Thalib. Maka Abbas mengambil Thalib, Hamzah mengambil Ja'far dan Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wassalam mengambil Ali.
Akhlaqul Karimah Ali bin Abi Thalib
Tegas
Pemberani
Kuat mental
Tekad yang kuat
Abu Bakar Ash-Shiddiq
Riwayat Hidup Abu Bakar Ash-Shiddiq
Abu Bakar r.a. (nama lengkapnya Abu Bakar Abdullah bin Abi Quhafah bin Utsman bin Amr bin Masud bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr At-Taimi Al-Quraisy. Berarti silsilahnya dengan Nabi bertemu pada Murrah bin Ka’ab). Dilahirkan pada tahun 573 M. Dia dilahirkan di lingkungan suku yang sangat berpengaruh dan suku yang banyak melahirkan tokoh-tokoh besar. Ayahnya bernama Utsman (Abu Quhafah) bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Saad bin Laym bin Mu’ah bin Ka’ab bin Lu’ay, berasal dari suku Quraisy, sedangkan ibunya bernama Ummu Al-Khair Salmah binti Sahr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taym bin Murrah. Garis keturunannya bertemu dengan neneknya, yaitu Ka’ab bin Sa’ad
Abu Bakar r.a. dilahirkan dua tahun lebih enam bulan setelah peristiwa penyerangan Ka’bah oleh tentara gajah. Dari Aisyah r.a. dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki yang berkata kepadanya, “Sebutkan kepadaku ciri-ciri fisik Abu Bakar itu!” Aisyah segera menjawab, “Ia adalah seorang laki-laki yang berkulit putih, kurus, dan kedua pipinya tipis, serta tulang pipinya agak menonjol. Ia tidak pernah mengikat kainnya dan dibiarkan menggantung di pinggangnya. Wajahnya selalu berkeringat, kedua martanya agak cekung, keningnya lonjong, jari-jarinya selalu terbuka” itulah ciri-ciri fisik Abu Bakar r.a.
Masa muda Abu Bakar r.a. tidak ternodai oleh keburukan dan perilaku negatif kaum Jahiliyah, karena dia memegang teguh sifat-sifat luhur bangsa Arab. Abu Bakar r.a. dikenal sebagai pribadi yang berakhlak mulia, sosok yang menyenangkan, mudah membantu sesama, jujur dalam setiap perkataannya, baik pergaulannya, bahkan mengharamkan atas dirinya khamar sejak masa Jahiliah. Lebih dari itu dia juga merupakan seorang pedagang berpengalaman dan terlatih. Semua itu membuat Abu Bakar r.a. disukai dan sangat dipercaya oleh kaumnya serta menempati posisi yang terhormat. Maka tidak heran jika kemudian Abu Bakar r.a. menjelma sebagai salah satu pemuka kaumnya pada masa Jahiliah dan menjadi salah satu elemen penting dalm permusyawaratan mereka.
Akhlaqul Karimah Abu-Bakar Ash-Shiddiq
Berikut adalah beberapa akhlaqul karimah yang dapat diteladani dari Abu Bakar Ash-Shiddiq:
Kasih sayang, suka menolong dan dermawan
Jujur
Rendah hati
Berjiwa tenang
Suka bermusyawarah
Setia
Umar bin Khattab
Riwayat Hidup Umar Ibn Khattab
Nama lengkapnya adalah Umar Ibn Khattab Ibn Nufail Ibn ‘Abdul ‘Uzza Ibn Riyah Ibn ‘Abdullah Ibn Qurth Ibn ‘Abdi Ibn Ka’ab dari Bani Addiy. Ibunya bernama Hantamah binti Hasyim. Badi Addiy terkenal sebagai suku yang terpandang mulia, megah, dan berkedudukan tinggi. Nasab Umar Ibn Khattab dan Nabi Muhammad saw. bertemu pada nenek merka yang bernama Ka’ab bin Luai al-Quraisyin al-Kadawi. Umar tiga belas tahun lebih muda dari Nabi Muhammad saw. Umar ibn Khattab lahir di kota Mekah pada tahun 581 M. Beliau berasal dari lingkungan keluarga yang tidak beragama Islam.
Umar adalah laki-laki berkulit coklat, kedua tangannya aktif sehingga dapat melakukan pekerjaan dengan kedua tangannya, memiliki sosok yang kuat, ukuran tubuh yang tinggi besar. Tinggi badannya jauh di atas rata-rata. Umar berkumis lebat, jalannya cepat, suaranya besar, dan pukulannya amatlah keras. Kekuatan fisik dan kesatriannya amatlah prima, sampai-sampai dia sanggup naik ke atas kuda hanya dengan berpegang pada telinga kuda.
Umar merupakan salah satu orang terpandang dan pemuka kaum Quraisy. Dia sering dipercaya sebagai juru damai apabila terjadi peperangan antar sesama kaum Quraisy atau antara suku Quraisy dengan yang lain. Telah menjadi kebiasaan bangsa Arab, pada saat hendak berdamai masing-masing pihak yang bertikai mengutus seseorang sebagai juru damai.
Akhlaqul Karimah Umar ibn Khattab
Berikut adalah beberapa akhlaqul karimah yang dapat diteladani dari Umar ibn Khattab:
Pemberani
Adil
Sederhana
Tegas
Loyalitas tinggi
Bertanggung jawab
Fatimah Az-Zahra
Riwayat Hidup Fatimah AZ-Zahra
Pemimpin wanita pada masanya ini adalah putri ke 4 dari anak anak Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, dan ibunya adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwalid. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala menghendaki kelahiran Fatimah yang mendekati tahun ke 5 sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, bertepatan dengan peristiwa besar yaitu ditunjuknya Rasulullah sebagai penengah ketika terjadi perselisihan antara suku Quraisy tentang siapa yang berhak meletakan kembali Hajar Aswad setelah Ka’bah diperbaharui. Dengan kecerdasan akalnya dia mampu memecahkan persoalan yang hampir menjadikan peperangan di antara kabilah-kabilah yang ada di Makkah.
Kelahiran Fatimah disambut gembira oleh Rasulallah alaihi wassalam dengan memberikan nama Fatimah dan julukannya Az-Zahra, sedangkan kunyahnya adalah Ummu Abiha (Ibu dari bapaknya).
Ia putri yang mirip dengan ayahnya, Ia tumbuh dewasa dan ketika menginjak usia 5 tahun terjadi peristiwa besar terhadap ayahnya yaitu turunnya wahyu dan tugas berat yang diemban oleh ayahnya. Dan ia juga menyaksikan kaum kafir melancarkan gangguan kepada ayahnya. sampai cobaan yang berat dengan meninggal ibunya Khadijah. Ia sangat pun sedih dengan kematian ibunya.
Rasulullah sangat menyayangi Fatimah, setelah Rasulullah bepergian ia lebih dulu menemui Fatimah sebelum menemui istri istrinya. Aisyah berkata ,” Aku tidak melihat seseorang yang perkataannya dan pembicaraannya yang menyerupai Rasulullah selain Fatimah, jika ia datang mengunjungi Rasulullah, Rasulullah berdiri lalu menciumnya dan menyambut dengan hangat, begitu juga sebaliknya yang diperbuat Fatimah bila Rasulullah datang mengunjunginya.”.
Rasulullah mengungkapkan rasa cintanya kepada putrinya takala diatas mimbar:” Sungguh Fatimah bagian dariku , Siapa yang membuatnya marah berarti membuat aku marah”. Dan dalam riwayat lain disebutkan,” Fatimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti.”.
Tatkala 6 bulan sejak wafatnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, Fatimah jatuh sakit, namun ia merasa gembira karena kabar gembira yang diterima dari ayahnya. Tak lama kemudian iapun beralih ke sisi Tuhannya pada malam Selasa tanggal 13 Ramadhan tahun 11 H dalam usia 27 tahun.
Akhlaqul Karimah Fatimah Az-Zahra
Tidak manja
Sederhana
Penyayang
Rajin beribadah
Pemurah
Sanggup berkorban
Imam Hanafi
Riwayat Hidup Imam Hanafi
Imam Abu Hanifah dilahirkan di Kufah pada tahun 699 M. Ayahnya, Tsabit, adalah seorang pebisnis yang sukses di Kota Kufah, tidak heran kita mengenal Imam Abu Hanifah sebagai seorang pebisnis yang sukses pula mengikuti jejak sang ayah. Jadi, beliau tumbuh di dalam keluarga yang shaleh dan kaya. Di tengah tekanan peraturan yang represif yang diterapkan gubernur Irak Hajjaj bin Yusuf, Imam Abu Hanifah tetap menjalankan bisnisnya menjual sutra dan pakaian-pakaian lainnya sambil mempelajari ilmu agama.
Sebagaimana kebiasaan orang-orang shaleh lainnya, Abu Hanifah juga telah menghafal Alquran sedari kecil. Di masa remaja, Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit mulai menekuni belajar agama dari ulama-ulama terkemuka di Kota Kufah. Ia sempat berjumpa dengan sembilan atau sepuluh orang sahabat Nabi semisal Anas bin Malik, Sahl bin Sa’d, Jabir bin Abdullah, dll.
Saat berusia 16 tahun, Abu Hanifah pergi dari Kufah menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Madinah al-Munawwaroh. Dalam perjalanan ini, ia berguru kepada tokoh tabi’in, Atha bin Abi Rabah, yang merupakan ulama terbaik di kota Mekah.
Jumlah guru Imam Abu Hanifah adalah sebanyak 4000 orang guru. Di antaranya 7 orang dari sahabat Nabi, 93 orang dari kalangan tabi’in, dan sisanya dari kalangan tabi’ at-tabi’in. Jumlah guru yang demikian banyak tidaklah membuat kita heran karena beliau banyak menempuh perjalanan dan berkunjung ke berbagai kota demi memperoleh ilmu agama. Beliau menunaikan haji sebanyak 55 kali, pada musim haji para ulama berkumpul di Masjidil Haram menunaikan haji atau untuk berdakwah kepada kaum muslimin yang datang dari berbagai penjuru negeri.
Imam Abu Hanifah wafat di Kota Baghdad pada tahun 150 H/767 M. Imam Ibnu Katsir mengatakan, “6 kelompok besar Penduduk Baghdad menyolatkan jenazah beliau secara bergantian. Hal itu dikarenakan banyaknya orang yang hendak menyolatkan jenazah beliau.” Di masa Turki Utsmani, sebuah masjid di Baghdad yang dirancang oleh Mimar Sinan didedikasikan untuk beliau. Masjid tersebut dinamai Masjid Imam Abu Hanifah.
Sepeninggal beliau, madzhab fikihnya tidak redup dan terus dipakai oleh umat Islam, bahkan menjadi madzhab resmi beberapa kerajaan Islam seperti Daulah Abbasiyah, Mughal, dan Turki Utsmani. Saat ini madzhab beliau banyak dipakai di daerah Turki, Suriah, Irak, Balkan, Mesir, dan India.
Akhlaqul Karimah Imam Hanafi
Semangat dalam mencari ilmu hingga mempunyai banyak guru
Cerdas dan produktif
Imam Maliki
Riwayat Hidup Imam Maliki
Beliau adalah Abu Abdullah, Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin al-Harits bin Ghuyman bin Khutsail bin Amr bin Harits. Ibunya adalah Aliyah bin Syarik al-Azdiyah. Keluarganya berasal dari Yaman, lalu pada masa Umar bin Khattab, sang kakek pindah ke Kota Madinah dan menimba ilmu dengan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga menjadi salah seorang pembesar tabi’in.
Imam Malik dilahirkan di Kota Madinah 79 tahun setelah wafatnya Nabi kita Muhammad, tepatnya tahun 93 H. Tahun kelahirannya bersamaan dengan tahun wafatnya salah seorang sahabat Nabi yang paling panjang umurnya, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Malik kecil tumbuh di lingkungan yang religius, kedua orang tuanya adalah murid dari sahabat-sahabat yang mulia. Pamannya adalah Nafi’, seorang periwayat hadis yang terpercaya, yang meriwayatkan hadis dari Aisyah, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, dan sahabat-sahabat besar lainnya, radhiallahu ‘anhum. Dengan lingkungan keluarga yang utama seperti ini, Imam Malik dibesarkan.
Dari segi fisik, Imam Malik dikarunia fisik yang istimewa; berwajah tampan dengan perawakan tinggi besar. Mush’ab bin Zubair mengatakan, “Malik termasuk seorang laki-laki yang berparas rupawan, matanya bagus (salah seorang muridnya mengisahkan bahwa bola mata beliau berwarna biru), kulitnya putih, dan badannya tinggi.” Abu Ashim mengatakan, “Aku tidak pernah melihat ahli hadits setampan Malik.”
Imam Syafii mengatakan,
إذا جاء الحديث، فمالك النجم الثاقب
“Apabila disebutkan sebuah hadits, Malik adalah seorang bintang yang cerdas (menghafalnya pen.).
Imam Malik sangat tidak suka dengan orang-orang yang meremehkan ilmu. Apabila ada suatu permasalahan ditanyakan kepadanya, lalu ada yang mengatakan, ‘Itu permasalahan yang ringan.” Maka Imam Malik pun marah kepada orang tersebut, lalu mengatakan, “Tidak ada dalam pembahasan ilmu itu sesuatu yang ringan,.
Imam Malik rahimahullah wafat di Kota Madinah pada tahun 179 H/795 M dengan usia 85 tahun. Beliau dikuburkan di Baqi’. Semoga Allah merahmati Imam Malik dan menempatkannya di surganya yang penuh dengan kenikmatan.
Akhlaqul Karimah Imam Maliki
Wara dalam menyikapi ilmu
Menjaga kesehatan
Imam Syafi’i
Riwayat Hidup Imam Syafi’i
Beliau dilahirkan di desa Gaza, masuk kota ‘Asqolan pada tahun 150 H. Saat beliau dilahirkan ke dunia oleh ibunya yang tercinta, bapaknya tidak sempat membuainya, karena ajal Allah telah mendahuluinya dalam usia yang masih muda. Lalu setelah berumur dua tahun, paman dan ibunya membawa pindah ke kota kelahiran nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, Makkah Al Mukaramah.
Beliau tumbuh dan berkembang di kota Makkah, di kota tersebut beliau ikut bergabung bersama teman-teman sebaya belajar memanah dengan tekun dan penuh semangat, sehingga kemampuannya mengungguli teman-teman lainnya. Beliau mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam bidang ini, hingga sepuluh anak panah yang dilemparkan, sembilan di antaranya tepat mengenai sasaran dan hanya satu yang meleset.
Setelah itu beliau mempelajari tata bahasa arab dan sya’ir sampai beliau memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan dan menjadi orang yang terdepan dalam cabang ilmu tersebut. Kemudian tumbuhlah di dalam hatinya rasa cinta terhadap ilmu agama, maka beliaupun mempelajari dan menekuni serta mendalami ilmu yang agung tersebut, sehingga beliau menjadi pemimpin dan Imam atas orang-orang
Akhlaqul Karimah Imam Syafi’i
Kecerdasan adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada hambanya sebagai nikmat yang sangat besar. Di antara hal-hal yang menunjukkan kecerdasannya:
Kemampuannya menghafal Al-Qur’an di luar kepala pada usianya yang masih belia, tujuh tahun.
Cepatnya menghafal kitab Hadits Al Muwathta’ karya Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas pada usia sepuluh tahun.
Rekomendasi para ulama sezamannya atas kecerdasannya, hingga ada yang mengatakan bahwa ia belum pernah melihat manusia yang lebih cerdas dari Imam Asy-Syafi`i.
Beliau diberi wewenang berfatawa pada umur 15 tahun.
Imam Hanbali
Riwayat Hidup Imam Hanbali
Nama lengkap beliau adalah “Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad Asy-Syaibani”. Kun-yah beliau adalah “Abu Abdillah”, karena salah satu anak laki-laki beliau bernama Abdullah. Beliau berasal dari Bani Dzuhli bin Syaiban, suatu keturunan yang menisbahkan dirinya kepada Kabilah Bakr bin Wail. Beliau dilahirkan di Baghdad pada tahun 164 H. Di usia kecilnya, beliau menjalani hari-hari dalam keadaan yatim karena bapak beliau telah meninggal di usia muda, ketika beliau masih kecil. Bapak beliau termasuk salah satu aktivis di dunia dakwah. Dengan penuh kesabaran, ibunya mendidik beliau dan mengarahkan beliau untuk senantiasa menuntut ilmu agama. Peran ibunya telah mengantarkan beliau pada kedudukan yang tinggi disebabkan ilmu.
Jika kita mengumpulkan pujian ulama untuk Imam Ahmad maka pujian-pujian itu bisa dijadikan sebagai satu buku tersendiri. Saking banyaknya keutamaan dan keistimewaan Imam Ahmad, sampai-sampai Imam Adz-Dzahabi membawakan biografi beliau dalam kitabnya, Siyar A`lam An-Nubala’, dari halaman 177 sampai halaman 358. Selain itu, banyak ulama telah menulis biografi Imam Ahmad dalam buku tersendiri, seperti: Imam Al-Baihaqi dan Ibnul Jauzi menulis biografi beliau dalam satu jilid tebal buku khusus, sementara Syekhul Islam Al-Anshari menulis biografi beliau dalam buku yang berjilid agak tipis.
Di masa Khalifah Al-Makmun, kaum muslimin diuji dengan pemikiran Mu’tazilah. Mereka dipaksa untuk mengatakan bahwa “Alquran adalah makhluk”. Siapa saja di antara tokoh masyarakat yang tidak mau mengatakan bahwa “Alquran adalah makhluk” maka dia dibunuh atau dipenjara. Saleh, putra Imam Ahmad, mengatakan, “Semua ulama mengakui bahwa Alquran adalah makhluk kecuali empat orang: bapakku, Muhammad bin Nuh, Al-Qawariry, dan Al-Hasan bin Hammad. Akhirnya, Al-Qawariry dan Al-Hasan bin Hammad bersedia mengakui bahwa Alquran adalah makhluk. Tinggallah bapakku dan Muhammad bin Nuh di penjara selama beberapa hari.”
Imam Ahmad selalu tegar untuk mempertahankan akidah ahlus sunnah wal jamaah, bahwa Alquran adalah firman Allah dan bukan makhluk. Setelah Al-Mutawakkil menjadi khalifah, Imam Ahmad dimuliakan oleh kerajaan. Sampai-sampai, tidak ada seorang pun hakim dan pejabat negara yang akan diangkat, kecuali telah dikonsultasikan terlebih dahulu kepada Imam Ahmad.
Beliau meninggal di hari Jumat, tanggal 12 Rabi`ul Awwal, tahun 241 H, di usia beliau yang ke-77 tahun. Ketika beliau meninggal, banyak orang yang menyalati jenazah beliau. Diceritakan oleh Adz-Dzahabi dari Bunan bin Ahmad Al-Qashbani bahwa beliau menghadiri salat jenazah untuk Imam Ahmad, sementara yang ikut menyalati jenazah Imam Ahmad adalah sekitar 800.000 orang dari kalangan lelaki dan sekitar 60.000 orang dari kalangan wanita. Dalam riwayat yang lain dari Abu Zur`ah, beliau mendapat kabar bahwa Khalifah Al-Mutawakil memerintahkan seseorang untuk menghitung jejak kaki manusia yang menyalati jenazah Imam Ahmad. Dikabarkan bahwa dari jumlah telapak kaki tersebut diketahui bahwa ada lebih dari 2.500.000 orang yang menyalati jenazah Imam Ahmad. Semoga Allah merahmati Imam Ahmad bin Hanbal.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Sifat-sifat yang dapat diteladani dari para salafush shalih di dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
Sifat yang dapat diteladani dari Nabi Muhammad saw. sangatlah banyak, diantaranya adalah: siddiq, amanah, tabligh, Fathonah
Sifat yang dapat diteladani dari Khadijah adalah: cerdas, ulet dan mandiri, setia, salihah dan teguh.
Sifat yang dapat diteladani dari Utsman adalah: dermawan, adil, sederhana, diplomat ulung, ramah dan sabar
Sifat yang dapat diteladani dari Nabi Nuh as. adalah penyayang dan penyabar
Sifat yang dapat diteladani dari Luqman adalah: menahan (menjaga) pandangan, menjaga lisan, memperhatikan makanan, menjaga kemaluan, berkata jujur dan menunaikan janji
Sifat yang dapat diteladani dari Ali bin Abi Thalib adalah: tegas, pemberani, kuat mental, dan tekad yang kuat.
Sifat yang dapat diteladani dari Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah: penyayang, suka menolong, dermawan, jujur, rendah hati, berjiwa tenang, suka bermusyawarah dan setia
Sifat yang dapat diteladani dari Umar bin Khattab adalah: pemberani, adil, sederhana, tegas, loyalitas tinggi dan bertanggung jawab
Sifat yang dapat diteladani dari Fatimah adalah: tidak manja, sederhana, penyayang, rajin beribadah, pemurah, dan rela berkorban
Sifat yang dapat diteladani dari Imam Hanafi adalah semangat mencari ilmu, cerdas dan produktif
Sifat yang dapat diteladani dari Imam Maliki adalah wara dalam menyikapi ilmu dan pandai menjaga kesehatan
Sifat yang dapat diteladani dari Imam Syafi’i adalah kecerdasannya yang luar biasa
Sifat yang dapat diteladani dari Imam Hanbali adalah tegar di atas kebenaran
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Abdul ath-Thahtawi. 2009. 150 Qishshah Min Hayaat Abi Bakar As Shiddiq wa Umar bin Al Khattab wa Utsman bin Affan wa Ali bin Abi Thalib r.a. Diterjemahkan oleh: Muhammad Mukhlisin. Jakarta: Gema Insani
Dedi Supriyadi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia
Ratu Suntiah dan Maslani. 2012. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: CV. Insan Mandiri
Aplikasi (Android)
Kisah Shahih Sahabat Nabi Abu Bakar r.a. Ash-Shiddiq Radhiallahu’anhu yang bersumber dari buku 10 Sahabat Nabi yang di jamin masuk Surga oleh Abdus Sattar Asy-Syaikh Terbitan: Darus Sunnah Press
Kisah Nyata Sahabat Nabi Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu yang bersumber dari buku 10 Sahabat Nabi yang di jamin masuk Surga oleh Abdus Sattar Asy-Syaikh Terbitan: Darus Sunnah Press
Internet
http://buletinmitsal.com/biografi-singkat-rasulullah-saw/ di akses pukul 20.24 tanggal 17/5/2018
http://kota-islam.blogspot.co.id/2014/11/biografi-singkat-kisah-utsman-bin-affan.html di unggah pukul 21.27 tanggal 17/5/2018
https://www.sejarah-negara.com/2014/11/5-kepribadian-usman-bin-affan-yang.html di unggah pukul 21.33 tanggal 17/5/2018
http://info-biografi.blogspot.co.id/2010/04/kisah-nabi-nuh-as.html akses Kamis, 17 Mei 2018 pukul 06.59
http://nambahiman.blogspot.com/2015/03/yang-perlu-dicontoh-dari-luqman-al-hakim.html diakses pada tanggal 24 Mei 2018 pukul 9.59
http://viosixwey.blogspot.com/2013/04/sejarah-kisahbiografi-ali-bin-abi.html diakses pada tanggal 24 Mei 2018 pada pukul 10.03
http://kisahmuslim.com/4365-biografi-imam-abu-hanifah.html pada tanggal 24 Mei 2018 pukul 7.10
http://kisahmuslim.com/4351-biografi-imam-malik.html pada tanggal 24 Mei 2018 pada pukul 7.23
https://yufidia.com/imam-ahmad-bin-hanbal/ pada tanggal 24 Mei 2018 pada pukul 8.15
Komentar