TOKOH FILOSOF ALAM DAN FILOSOF BESAR

TOKOH FILOSOF ALAM DAN FILOSOF BESAR

MAKALAH

Untuk memenuhi tugas struktur mata kuliah Filsafat Ilmu

Dosen Pengampu:
Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd









Makalah diskusi kelompok 1:

Indah Tria Amalia 1152020099
Kristin Wiranata 1152020108
M. Jhovi Sofyan 1152020121










JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah subhanahu wata’ala yang telah memberikan kita beribu kenikmatan. Nikmat sehat, nikmat beribadah dan nikmat mencari ilmu pengetahuan. Sholawat serta salam tak lupa tercurah limpahkan kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam kepada para sahabatnya, kepada keluarganya serta kepada kita semua selaku umatnya ingga akhir zaman.  Beliaulah yang telah mengantarkan kita semua dari zaman kegelapan hingga zaman terang benderang. 
Penulis mengucapkan ungkapan terimakasih kepada Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Filsafat Ilmu yang telah mengarahkan penulis dalam pembuatan makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Semoga makalah ini menjadi sumber belajar khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca dalam menggali pemahamannya mengenai Filsafat. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa berfilsafat sangatlah penting dalam kehidupan.  
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh



Bandung, 4 Oktober 2017

Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i 
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN
Filosof Alam 3
Filosof Besar 12
Filosof Muslim 16
BAB III PENUTUP 22
DAFTAR PUSTAKA 23


















BAB II
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah 
Manusia adalah makhluk yang istimewa ia di anugerahi akal oleh Tuhan, akal digunakan manusia untuk mengetahui mana yang baik dan buruk dalam hidupnya. Jika akalnya tidak digunakan maka tidak ada bedanya manusia dengan hewan. Berfikir secara mendalam untuk menemukan kebenaran adalah pengertian dari berfilsafat. Filsafat adalah suatu aktifitas yang dilakukan oleh akal. Dengan pengertian lainnya filsafat adalah pengetahuan yang menyelidiki sesuatu dengan mendalam mengenai keTuhanan, alam dan manusia. 
Filsafat muncul pertama kali di Yunani yang diawali oleh Thales bahwa alam semesta tercipta dari air. Air yang cair itu adalah pangkal, pokok dan dasar segala-galanya. Semua barang terjadi daripada air dan semuanya kembali kepada air pula. setelah Thales, muncul-lah filosof-filosof lainnya filosof alam, filosof besar hingga filosof muslim. Filosof-filosof tersebut memberikan kontribusinya berbentuk buah pikiran dalam menemukan kebenaran. 
Dewasa ini, banyak manusia yang tidak mempergunakan potensi akalnya secara maksimal. Mereka cenderung berfikir dangkal, malas, tidak mau berusaha. Allah subhanahu wata’ala sendiri telah mencipatakan alam semesta berupa isinya untuk memfasilitasi manusia dalam mencapai tujuannya. Dan hal itu dapat dipahami manusia jika manusianya mampu berpikir terhadap ayat-ayat Allah. Tetapi perlu kita ketahui bahwa akal manusia terbatas ia tidak bisa menjangkau wujud atau bentuk Allah. Dari sinilah banyak pula filosof-filosof besar atau manusia yang menyimpang setelah berfilsafat. 
Berangkat dari permasalahan tersebut penulis membuat makalah mengenai filosof-filosof alam, filosof besar dan juga filosof muslim. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi  penulis dan umumnya bagi pembaca agar mampu membedakan cara atau aliran berfikir para filosof untuk menjadi tambahan pengetahuan dan pelajaran dalam berfilsafat. Sehingga kita mampu berfilsafat dengan baik.   
Rumusan Masalah 
Dari latar belakang masalah diatas, penulis menarik rumusan masalah sebagai berikut: 
Apa biografi filosof-filosof alam, filosof besar, dan filosof muslim?
Bagaimana para filosof mencari kebenaran?
Apa hasil pikiran para filosof?

Tujuan 
Dari rumusan masalah diatas, penulis menarik tujuan penulisan makalah sebagai berikut:
Mengetahui biografi para filosof untuk dijadikan acuan dalam belajar,
Mengetahui dan memahami bagaimana cara filosof-filosof menggunakan akalnya untuk mencari kebenaran, 
Mengetahui dan memahami hasil pikiran filosof-filosof untuk dijadikan referensi dalam belajar berfilsafat. 
















BAB II
PEMBAHASAN

Filosof Alam
Thales (Asas Air)
Filosof alam pertama adalah Thales, yang hidup pada abad ke-6 sebelum Masehi. Seperti para pujangga-pujangga Greek yang lain, tanggal lahirnya tidak diketahui dengan pasti. Banyak orang yang menyebut Thales hidup pada masa 625-545 sebelum masehi. Di kalangan orang Yunani pada waktu itu, ia dikenal sebagai seorang hoi liepta soplioi, yaitu tujuh orang yang bijaksana, atau The Seven Wise Men atau al-Hukamia’ as-Sab’ah. Thales adalah seorang saudagar yang sering berlayar ke negeri Mesir. Ia menemukan ilmu ukur dari Mesir dan membawanya ke Yunani. Diceritakan pula bahwa ia memiliki ilmu tentang cara mengukur tinggi piramid-piramid dari bayangannya; cara mengukur jauhnya kapal laut dari sebuah pantai; ia juga mempunyai teori tentang banjir tahunan Sungai Nil di Mesir. Bahkan, ia juga berhasil meramal terjadinya gerhana matahari pada tanggal 28 Mei tahun 585 SM. Oleh karena itu, ia dikenal sebagai ahli astronomi dan metafisika. Berbagai penemuan Thales mengiring cara berpikir manusia dari mitos-mitos kepada alam nyata yang empirik.
Menurut keterangan Aristoteles, kesimpulan ajaran Thales ialah “semuanya itu air”. Air yang cair itu adalah pangkal, pokok dan dasar segala-galanya. Semua barang terjadi daripada air dan semuanya kembali kepada air pula.
Dengan jalan berpikir Thales mendapat keputusan tentang soal besar yang senantiasa mengikat perhatian: Apa asal alam ini? Apa yang menjadi sebab penghabisan daripada segala yang ada?
Untuk mencari sebab yang penghabisan itu, ia tidak mempergunakan takhayul atau kepercayaan umum pada waktu itu, melainkan mempergunakan akal. Pengalaman yang dilihatnya sehari-hari dijadikan pikirannya untuk menyusun bangun alam. Sebagai orang pesisir, dia dapat melihat setiap hari, betapa air laut menjadi sumber hidup. Di Mesir, ia melihat dengan mata kepalanya, betapa nasib rakyat di sana bergantung kepada air sungai Nil. Air Sungai Nil itulah yang menyuburkan tanah sepanjang alirannya, sehingga dapat didiami oleh manusia. Jika tidak ada Sungai Nil yang melimpahkan airnya sewaktu-waktu ke darat, negeri Mesir kembali menjadi padang pasir. Sebagai seorang saudagar pelayar, Thales melihat pula kemegahan air laut, yang menimbulkan rasa takjub. Sewaktu-waktu air laut itu menggulung dan menghanyutkan, memusnahkan serta menghidupkan. Di sini dihapuskannya segala yang hidup. Akan tetapi, bibit dan buah kayu-kayuan yang ditumbangkannya itu dihanyutkannya dan dihantarkannya ke pantai tanah lain. Bibit dan buah itu tumbuh di sana dan menjadi tanaman hidup.
Demikianlah, laut menyebarkan bibit seluruh dunia, yang menjadi dasar penghidupan. Semua itu terpikir oleh Thales. Air yang tidak berkeputusan itu dilihatnya dalam pelayaran, berpengaruh besar atas pikiran dan pandangannya tentang alam. “semuanya itu air”, katanya. Dalam perkataan itu tersimpul, dengan disengaja atau tidak, suatu pandangan yang dalam, bahwa “semuanya itu satu”.
Kepercayaan bathin Thales masih animisme. Animisme ialah kepercayaan bahwa bukan saja barang yang hidup yang mempunyai jiwa, tetapi juga benda mati. 
Anaximandros (Asas “yang tak terbatas”)
Anaximandros adalah murid Thales. Masa hidupnya disebut orang dari tahun 610-547 sebelum Masehi. Ia lima belas lebih muda dari Thales, tetapi meninggal dua tahun lebih dahulu. Sebagai filosof ia lebih besar daripada gurunya. Ia juga ahli astronomi dan ahli ilmu bumi.
Sama halnya dengan gurunya, Anaximandros juga ingin mencari asal dari segalanya. Ia tidak menerima saja apa yang diajarkan oleh gurunya. Yang dapat diterima oleh akalnya adalah bahwa yang asal itu satu, tidak banyak. Akan tetapi, yang satu itu bukan air, dan bukan suatu anasir yang dapat diamati oleh pancaindra. Menurut Anaximandros, segala sesuatu itu berasal dari to apeiron, yaitu yang tak terbatas, sesuatu yang tidak terhingga.
Anaximandros menerangkan bagaimana Apeiron timbul dari alam semesta. Bermula dari Apeiron, keluarlah yang panas dan yang dingin. Yang panas membalut yang dingin sehingga yang dingin itu terkandung di dalamnya. Dari yang dingin itu terjadilah yang cair dan yang beku. Yang beku inilah yang kemudian menjadi bumi. Api yang membalut yang dingin itu kemudian terpecah-pecah, dan pecahan-pecahan itu berputar-putar, dan kemudian terpisah-pisah, maka terjadilah matahari, bulan, dan bintang-bintang.
Adapun bumi pada awalnya dibalut oleh uap yang basah. Karena beputar terus-menerus, yang basah itu secara berangsur-angsur menjadi kering, akhirnya tinggallah sisa uap yang basah itu sebagai laut pada bumi.
Mengenai terjadinya makhluk di bumi, Anaximandros menerangkan bahwa atas pengaruh yang panas tersebut, dari uap yang basah di bumi itu terjadilah makhluk-makhluk hidup, yang kemudian secara bertingkat-tingkat mengalami kemajuan dalam hidupnya. Pada mulanya, bumi ini diliputi oleh air semata-mata. Oleh sebab itu, makhluk yang pertama di atas bumi ialah hewan yang hidup di dalam air, seperti ikan. Akan tetapi, setelah tanah semakin kering, timbullah daratan maka makhluk yang lain mulai berkembang di atas daratan.
Mengenai manusia, Anaximandros mengatakan bahwa dari binatang yang berupa ikan itulah terjadi manusia yang pertama. Manusia bermula tidak bisa serupu dengan manusia sekarang, sebab orang yang dilahirkan dalam bentuk bayi sekarang memerlukan asuhan orang lain. Makhluk seperti itu tidak bisa hidup pada permulaan penghidupan di atas dunia ini. Satu-satunya yang bisa menolong dirinya sendiri sejak lahir hanyalah binatang berupa ikan.
Dilihat dari kacamata ilmu modern sekarang, tampak adanya kejanggalan-kejanggalan pada keterangan Anaximandros tentang kejadian alami. Akan tetapi, dititik masanya, di mana segala keterangan berdasar kepada takhayul dan cerita yang ganjil-ganjil, pendapatnya itu merupakan buah pikiran yang maju, sehingga cukup untuk menilai Anaximandros sebagai pemikir yang serius.
Menurut Anaximandos semua makhluk hidup berasal dari proses penguapan air samudra oleh matahari. Manusia, sebagaimana binatang, berasal dari ikan. Anaximandros sangat terpesona oleh pemandangan ikan, anjing laut, dan dia mengaggap bahwa merea mata rantai yang berada antara jenis ikan dan jenis binatang. Manusia tentu berasal dari binatang lain, karena waktu perawatannya, pada waktu kanak-kanak, memakan waktu yang begitu panjang, sedangkan jenis binatang lainnya begitu dilahirkan telah dapat memperoleh makanannya sendiri, maka dia telah tidak dapat bertahan hidup sebagaimana manusia yang ada kini.
Anaximenes (Asas Udara)
Anaximenes adalah murid Anaximandros. Sebab itu tak heran, kalau pandangannya tentang kejadian alam ini sama dasarnya dengan pandangan gurunya. Juga ia mengajarkan, bahwa barang yang asal itu satu dan tidak terhingga. Cuma ia tidak dapat menerima ajaran Anaximandros, bahwa barang yang asal itu tidak ada persamaannya dengan barang yang lahir dan tidak dapat dirupakan. Baginya yang aslah itu mestilah satu daripada yang ada dan yang nampak. Barang yang asal itu adalah udara.
Pandangan Anaximenes tersebut didasarkan atas alasan-alasan sebagai berikut:
Suatu kenyataan bahwa udara itu terdapat dimana-mana. Dunia ini diliputi oleh udara, tidak ada satu ruangan pun yang tidak terdapat udara di dalamnya. Oleh karena itu, udara tidak habis-habisnya, tidak berkesudahan dan tidak berkeputusan.
Suatu keistimewaan dari udara ialah ia senantiasa bergerak. Oleh karena itu, udara memegang peranan yang penting dalam berbagai rencana kejadian dan perubahan dalam alam ini.
Udara adalah unsur kehidupan. Udara adalah dasar hidup. Tidak ada sesuatu pun yang hidup tanpa udara. Oleh karena itu, ia dapat menerima ajaran gurunya, bahwa “jiwa itu serupa dengan udara”.  Sebagai kesimpulan atas ajarannya ia mengatakan, “ sebagaimana jiwa kita, yang lain dari udara, menyatukan tubuh kita, demikian juga udara mengikat alam ini menjadi satu. Maksudnya, jiwalah yang menyusun tubuh manusia menjadi satu, dan menjaga agar tubuh tidak bercerai-berai. Kalau jiwa keluar dari badan, badan menjadi mati, hancur dan bercerai-berai bagian-bagiannya. Juga alam besar ini ada karena udara, udaralah yang menjadi dasar hidupnya, jika tak ada udara hancurlah alam ini. Dengan demikian, alam (makro kosmos) dan manusia (mikro kosmos) itu pada dasarnya satu rupa.”
Mengenai terjadinya alam ini, ia mengatakan, “semuanya terjadi dari udara. Karena gerak udaralah yang menjadi sebab terjadinya. Udara bisa jarang dan bisa rapat. Kalau udara menjadi jarang terjadilah api, kalau udara terkumpul menjadi rapat, terjadilah angin dan awan, kalau udara bertambah padat lagi, turunlah hujan dari awan itu. Dari air terjadi tanah, dan tanah yang sangat padat menajadi batu.
Terlihat di sini cara Anaximenes dalam mengupas persoalan ini menunjukkan derajat pemikirannya yang lebih tinggi daripada gurunya. Tetapi didalam pemahamannya tentang bangun alam ia terlihat lebih terbelakang dari Anaximandros. Menurut pendapatnya dunia ini datar seperti meja bundar, dan dibawahnya ditopang oleh udara. Udara yang mengangkatnya itu tidak punya ruang buat bergerak dan bersebar, sebab itu tetap duduknya. Dan oleh karena itu bumi ini tetap pada tempatnya.
Pythagoras (kuantitatif bangun Alam)
Filosofi Pythagoras mempunyai kedudukan tersendiri dalam alam pikiran Yunani. Filosofinya berdasar pada pandangan agama dan paham keagamaan. Yakni yang berdasarkan kepada aliran mistik. Pythagoras berasal dari Samos. Ia dilahirkan kira-kira dalam tahun 580 sebelum Masehi. Menurut umurnya ia sepangkat dengan Xenophanes. Di kota tersebut didirikan sebuah perkumpulan agama, yang disebut-sebut orang kaum Pythagoras. Perkumpulan itu menjadi sebuah tarikat. Mereka itu diam dengan menyisihkan diri dari masyarakat, dan hidup selalu dengan amal ibadah. Menurut berbagai keterangan, Pythagoras terpengaruh oleh aliran mistik yang betkembang di waktu itu dalam alam Yunani, yang bernama Orfisisme. Ujung tarikat Pythagoras ialah mendidik kebatinan dengan menyucikan ruh. Pythagoras percaya akan  kepindahan jiwa dari makhluk yang sekarang kepada makhluk yang akan ada. Apabila seseorang meninggal, jiwanya kembali ke langit dunia, dan masuk dalam badan salah suatu hewan. Selain dari ahli mistis Pythagoras tersebut juga sebagai ahli pikir, terutama dalam ilmu matematik dan ilmu berhitung dan tersohorlah namanya.
Menurut Pythagoras, alam ini tersusun sebagai angka-angka. Dimana ada matematik, ada susunan, ada kesejahteraan. Bintang yang banyak di langit menyatakan kedudukan yang teratur, kesejahteraan yang sebesar-besarnya. Badan-badan di langit itu mempunyai gerak yang tertentu dan mempunyai edaran yang pasti, menurut irama yang tetap. Sebab itu Pythagoras suka berkata tentang “kesejahteraan di langit.” 
Angka itu adalah asal dari segalanya. Segala perhubungan dapat ditentukan dengan angka-angka. Demikianlah lagi: angka 1 ialah titik, angka 2 baris, angka 3 daratan, angka 4 badan. Selanjutnya angja 1 juga dasar laki-laki, angka 2 dasar perempuan. juga keadilan, jiwa dan pikiran tidak lain daripada angka-angka. 
Herakleitos (Asas Api)
Herakleitos lahir di kota Ephesos di Asia Minor. Sebab itu ia sering disebut Herakleitos orang Ephesos. Masa hidupnya kira-kira dari tahun 540-480 sebelum Masehi.
Ia mempunyai watak yang tidak mengenal kompromi dan sangat ekstrim dalam menentang demokrasi. Dia sangat bebas mengemukakan pendapatnya, terutama dalam hal mencela orang lain. Bahkan tidak segan-segan, ia menghina orang-orang terkemuka yang dijunjung tinggi oleh banyak orang, seperti: Humeros, Arkhilokhes, Hesiodos, Pythagoras, Xenophauses, Hekataios, dan lain-lain.
Kalau filosof-filosof sebelumnya tertarik pada substansi yang menjadi asal atau sebab dari alam, maka Herakleitos tertarik pada masalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam alam (Problem of changing or becoming). Herakleitos sangat terpengaruh oleh kenyataan bahwa alam ini mengalami perubahan terus-menerus, sehingga terjadilah pluralitas dalam alam ini.
Sungguhpun ia mempunyai pandangan tersendiri yang berlainan dengan pendirian para filosof sebelumnya, ia juga terpengaruh oleh alam pikir filosof alam dari Miletos. Ia juga menyatakan bahwa asal dari segala sesuatu hanyalah satu anasir, yakni api. Api itu lebih daripada air dan udara, dan setiap orang dapat melihat sifatnya yang mudah bergerak dan mudah bertukar rupa. Api membakar semuanya, menjadikan semuanya api dan akhirnya menukarnya lagi jadi abu. Semuanya bertukar menjadi api dan api bertukar menjadi semuanya. Yang kemudian ini dapat dilihat pada panas matahari yang menjadi syarat hidup bagi manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Herakleitos memandang api sebagai anasir yang asal. Pandangannya itu semata-mata tidak terikat pada alam eksternal, alam besar seperti pandangan filosof-filosof Miletos. Anasir yang asal itu dipandanganya pula sebagai kiasan dari segala kejadian. Api yang selalu bergerak dan berubah rupa itu menyatakan, bahwa tidak ada yang tenang dan tetap. Yang ada hanya senantiasa terjadi pergerakan. Tidak boleh disebut ada, melainkan menjadi. Semuanya itu dalam kejadian.
Parmenides 
Parmenides lahir di Elia pada tahun 540 sebelum Masehi. Waktu meninggalnya tidak diketahui orang secara tepat. Di dalam kota kelahirannya itu ia terkenal sebagai orang besar. Ia ahli politik dan pernah memangku jabatan pemerintah. Tetapi bukan karena itu kesohor namanya. Ia kesohor sebagai ahli pikir, yang melebihi siapa juga pada masa itu. Ia mengemukakan apa yang kemudian dikenal dengan nama “metafisika”, yaitu bagian filsafat yang mempersoalkan “ada” (being), kemudian berkembang menjadi “yang ada, sejauh ada” (being as being, being as such). Ia berpendapat bahwa pluralitas itu tidak ada.
Filsafatnya: yang realitas dalam alam ini hanya satu, tidak bergerak, tidak berubah dasar pemikirannya; yang ada itu ada, mustahil tidak ada. Perubahan itu berpindah dari ada menjadi tidak ada, itu mustahil, sebagaimana mustahilnya yang tidak ada menjadi ada. Konsekuensi dari pandangan demikian adalah: 
Bahwa “yang ada” adalah satu dan tidak terbagi, karena itu pluralitas tidak mungkin ada.
Bahwa “yang ada” itu tidak dijadikan, dan tidak akan dimusnahkan (dihilangkan). Dengan kata lain, “yang ada” itu bersifat kekal dan tidak terubahkan.
Bahwa “yang ada” itu sempurna, tidak ada sesuatu yang dapat ditambahkan lagi padanya, dan tidak ada sesuatu yang dapat diambil darinya.
Bahwa “yang ada” itu mengisi segala tempat, sehingga tidak ada ruang yang kosong, sebab kalau ada ruang kosong, “yang ada” akan ada dalam pergerakan, dan pergerakan berarti perubahan. Hal serupa ini tidak mungkin.
Leukippos (Asas Atom)
Leukippos (±540 SM) berasal dari Miletos. Ia murid Parmenides, dan guru Demokritos. Sejarah hidupnya hampir tidak diketahui orang. Leukippos tersebut sebagai pujangga yang pertama kali mengajarkan tentang atom. Atom asalnya dari perkataan Greek: a: tidak, dan toom: terbagi. Jadi, atom artinya tidak dapat dibagi lagi.
Dasar teori tentang atom ialah rumus tentang “yang penuh yang kosong”. Atom dinamainya yang penuh sebagai benda betapa pun kecilnya dan bertubuh. Setiap yang bertubuh mengisi lapangan yang kosong. Jadi, di sebelah yang penuh dan yang kosong itulah kejadian alam ini. Keduanya yang penuh dan yang kosong mesti ada sebab kalau tak ada yang kosong atom itu tidak bergerak. Paham Leukippos bahwa atom itulah yang ada, tetap dan tidak berubah, dipengatuhi oleh teori gurunya Parmenides, sedangkan pahmnya bahwa atom itu banyak dan bergerak dipengaruhi oleh Herakleitos. Rupanya Leukippos akan melakukan kompromi dari dua teori yang bertentangan tersebut.
Pandangan ontologis dari Leukippos tidak berbeda jauh dengan gurunya. Semua pada hakikatnya adalah hakikat, dan semua yang ada adalah hakikat. Hakikat itu ada yang ada dan yang  tiada. Oleh karena itu, tidak akan ada jika tidak ada yang tidak ada, karena ada dan tidak ada sebagai hukum alam yang sebenarnya.
Demokritos (Asas Atom)
Demokritos lahir di Abdera, sebuah kota di pantai Trasia, bagian Balkan. Ia hidup kira-kira dari tahun 460-360 sebelum Masehi. Ia tersebut sebagai seorang ahli ilmu alam yang berpengetahuan luas.
Demokritos menyatakan bahwa mengapa kita dapat memotong apel dengan pisau adalah karena ada ruang-ruang kosong diantara atom-atom, teorinya merupakan gabungan antara pemikiran praktis dan tradisi pemikiran abstrak mengenai unsur-unsur fundamental.
Jika apel tersebut tidak mengandung kekosongan, ia tentu sangat keras dan tidak dapat sevara fisik dibelah. Adapun bagian yang penuh dari segala sesuatu dapat dibagi-bagi menjadi titik-titik yang tak terbatas jumlahnya, dan karena kecilnya, ia tidak dapat ditangkap oleh pancaindra. Again kecil-kecil itu tidak dapat dibagi dan tidak mengandung kekosongan. Atomos ini tidak lahir dan tidak hilang, ia sangat homogen, satu dari ruang lain tidak berbeda, kecuali hanya dalam letaknya, lahir dan hilangnya suatu benda bergantung kepada bersatu atau terpisah-pisahnya atom-atom itu. Letak, bentuk dan besar-kecilnya atom menentukan sifat-sifat benda. Atom-atom itu dalam keadaan bergerak selamanya, sebagaimana geraknya titik-titik debu yang dapat dilihat dalam berkas sinar matahari di udara. Gerak itu terjadi tidak karena akal, ia terjadi secara mekanis.

Filosof Besar
Socrates
Biografi Socrates
Dalam sejarah filsafat Yunani kita bisa menemukan lahirnya banyak pemikir-pemikir yang sangat berguna bagi perkembangan dunia, dan juga kita bisa menemukan bagaimana para pemikir itu berusaha untuk mengubah keadaan dan cara berfikir yang ada didaerah kelahirannya. Tentunya dalam perkembangan yang diusahakan itu para filsuf Yunani menemukan berbagai protes dari masyarakat saat itu, contohnya seperti Socrates yang berusaha untuk mengubah pemikiran didaerahnya akan tetapi selalu mendapatkan perlawanan dari para lawannya. Socrates adalah sosok yang dianggap sebagai seorang nabi bagi para pengikut ajaranya sebab salah satu pemikiran yang berusaha dia ubah adalah proses ibadah saat itu yang terlau mensakralkan benda-benda gaib. Athena adalah daerah dimana dia memulai mengajarkan konsep-konsep pemikiranya sebab daerah Athena ini adalah tempat kelahiran Socrates. Pemikir ini lahir pada tahun 470 SM dan menurut sejarahnya bahwa Socrates memiliki seorang ayah yang berprofesi sebagai pemahat patung bernama Sophroniskos sedangkan ibunya bernama Phainarete adalah seorang bidan di Athena. 
    Sewaktu muda Socrates pernah menjadi seorang anggota tentara karena pada waktu itu Athena khususnya selalu mendapatkan serangan dari berbagai wilayah yang ada didekatnya. Socrates tidak pernah sedikitpun meninggalkan kampung halamanya jika hanya untuk masalah yang kecil dan tidak penting selain untuk berperang, sebab dia sangat mencintai tanah kelahiranya itu. Pada masa tuanya setelah dia keluar dari keanggotaan militer Socrates ingin mengubah pemikiran masyarakatnya dengan konsep pemikiranya sendiri sebab dia mulai resah dengan perilaku kehidupan umum yang ada di Athena. Akhirnya Socrates memulai mengajarkan ajaranya yang dimulai dari para pemuda-pemuda yang ada di Athena, hal ini dikarenakan menurutnya para pemuda masih memiliki pemikiran yang kritis mengenai kehidupan ini, mereka juga sering menanyakan bagaimana sesuatu terjadi dan bagaimanakah sesuatu itu hilang. Inilah beberapa faktor yang menyebabkan Socrates memulai ajaranya dari para pemuda Athena. Akan tetapi Socrates dalam sejarahnya saat menjalankan ajarannya itu selalu dipenuhi banyak kedukaan dan yang paling ironis adalah dia dihukum mati oleh rezim saat itu karena pemikiranya.
Pemikiran Socrates
Socrates adalah filsuf Athena pertama yang mengajarkan cara berfikir dengan konsep pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pada lawan bicara. Hal ini bias kita anggap sebagai metode dialektika, sebab setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang kita lontarkan pada lawan bicara maka kita pula akan mencari jawaban kedua, ketiga, dan seterusnya sehingga kita bisa mengambil kesimpulan dari jawaban-jawaban tadi. Hal ini mungkin bisa kita katakan juga sebagai metode induksi sebab jika di telaah secara mendalam maka kesimpulan yang kita ambil tadi adalah merupakan kesimpulan yang umum dari berbagai jawaban yang bersifat khusus. Metode berfilsafat yang ditawarkanya ini adalah sebuah metode berfikir yang nantinya akan dikembangkan oleh para murid maupun sahabat-sahabatnya seperti Xenhopon, Aristoteles, Plato, dan Aristophanes. Inilah yang mungkin menurut kita semua menjadi proses awal terbentuknya metode berfikir induksi seperti apa yang dijalankan oleh Aristoteles pada zaman Yunani kuno dan Francis Bacon pada zaman Renaisains, kemudian di Jerman seorang filsuf yang bernama Hegel yang mencoba menawarkan metode berfikir seperti ini.
Plato
Biografi Plato
Plato lahir di Athena tahun 427 SM dan hidup satu zaman dengan Socrates. Ia adalah seorang murid dan teman Socrates. Dalam beberapa pemikirannya ia memperkuat pendapat gurunya dalam menghadapi kaum sofisme dan ia meninggal di athena pada tahun 347 SM.

Pemikiran Plato
Menurut Plato, kebenaran umum (definisi) itu dibuat bukan dengan cara dialog yang induktif seperti menurut Socrates melainkan pengertian umum itu sudah tersedia di alam ide. Definisi menurut Socrates dapat diartikan tidak memiliki realitas. Namun menurut Plato esensi itu memiliki realitas, dan realitasnya ada pada alam ide itu sendiri. Dengan demikian jelaslah bahwa kebenaran umum itu memang ada, bukan dibuat melainkan sudah ada pada alam ide. Plato memperkuat Socrates dalam menghadapi kaum sofis. Plato juga berpendapat bahwa selain kebenaran umum akan ada kebenaran khusus yaitu kongkretisasi ide di alam ini.
Aristoteles
Biografi Aristoteles
Aristoteles Lahir pada tahun 384 SM, di Stagira pada sebuah kota Thrace. Keluarganya adalah orang yang tertarik kepada ilmu kedokteran dan ia banyak mempelajari filsafat, matematika, astronomi, dan ilmu-ilmu lainnya. Dengan kecerdasannya ia hampir menguasai berbagai ilmu yang berkembang pada masanya. Ayahnya meninggal ketika ia masih muda, kemudian Aristoteles diasuh oleh Proxenus dan memberikan pendidikan yang istimewa kepadanya. Ketika Aristoteles berumur 18 tahun ia dikirim ke Athena dan dimasukan ke Akademia Plato. Selama 20 tahun ia menjadi murid Plato dan ia pun pernah menjadi guru Alexander, putra Phllip dari Masedonia seorang diplomat ulung dan jendral yang terkenal. Sebagai guru Alexander, Aristoteles mempunyai pengaruh yang besar terhadap sejarah dunia. Alexander tidak hanya menerima seluruh ide dan rencananya, lebih dari itu juga pola pikirnya.Antara tahun 304-335 SM beliau menekuni riset di Stagira yang dibantu oleh Theophrastus yang juga alumnus Athena. Riset yang intensif itu dibiayai oleh Alexander dan menghasilkan kemajuan dibidang sains dan filsafat. Ketika Alexander berperang di Asia pada tahun 334 SM, Aristoteles pergi lagi ke Athena, bukan lagi sebagai murid namun ia mendirikan sekolahan yang bernama Lyceum. Setelah Aristoteles mendirikan sekolah terjadilah persaingan hebat antara Lyceum dan Akademi. Persaingan tersebut mendorong Aristoteles untuk meningkatkan penelitiannya. Hasilnya sangat memuaskan ia tidak hanya dapat menjelaskan prinsip-prinsip sains, tetapi ia juga mengajarkan politik, retorika dan dialektika. Tapi lama kelamaan ia meninggalkan Athena dan pergi ke Chalcis dan meninggal disana pada tahun 322 SM. Dalam dunia filsafat Aristoteles dikenal dengan bapak logika.
Pemikiran Aristoteles
Filsafat Aristoteles berkembang dalam tiga tahapan yang pertama ketika ia masih belajar di Akademi Plato ketika gagasannya masih dekat dengan gurunya, kemudian pada saat ia mengungsi, dan yang terakhir pada saat ia memimpin Lyceum yang menghasilkan enam karya tulis mengenai bahasan logika yang dianggap paling penting selain kontribusinya dibidang Metafisika, Fisika, Etika, Ontologi, Politik, Kedokteran, Ilmu Alam, dan Karya Seni.Apabila kebanyakan orang-orang sofisme beranggapan bahwa manusia tidak akan mampu memperoleh kebenaran, tetapi lain halnya dengan Aristoteles. Dalam Metaphysics ia menyatakan bbahwa manusia mampu mencapai kebenaran. Salah satu teori metafisika Aristoteles yang penting ialah bahwa matter dan form itu bersatu, matter memberikan subtansi sesuatu sedangkan form memberikan pembungkusnya. Setiap obyek terdiri atas metter dan form. Aristoteles percaya pada Tuhan. Menurutnya bukti adanya Tuhan adalah sebagai penyebab gerak (a first cause of motion). Menurut Aristoteles Tuhan berhubungan dengan dirinya sendiri, Ia tidak persona, dan juga tidak memperhatikan doa dan keinginan manusia. Dalam mencintai Tuhan, kita tidak usah mengharap ia mencintai kita. Ia adalah kesempurnaan tertinggi dan kita mencontoh kesana untuk perbuatan dan pikiran kita. Berdasarkan Aristoteles kita menyaksikan bahwa pemikiran filsafatnya lebih maju karena didamnya terdapat pemikiran sains pula. Tuhan di capai dengan akal, tetapi ia percaya pada Tuhan. Sampai disini selesailah ronde pertarungan antara akal dan hati (iman). Kemenangan sementara berada pada kedua belah pihak, akal dan hati keduanya menang. Kuasa akal mulai dibatasi  adanya kebenaran yang umum, jadi tidak semua kebenaran relatif. Sains dapat dipegang dan dapat diperselisihkan sebagian. Filsafat Yunani yang rasional itu boleh dikatakan berakhir stelah Aristoteles selesai menggelarkan pemikirannya, akan tetapi sifat rasional itu masih digunakan beberapa abad setelah Aristoteles sebelum filsafat benar-benar memasuki dan tenggelam dalam abad pertengahan. Namun jelas setelah periode SPA (Socrates, Plato, Aristoteles) mutu filsafat semakin merosot. Kemunduran filsafat itu sejalan dengan kemunduran politik ketika itu, yaitu sejalan dengan terpecahnya imperium besar yang dibangun Alexander menjadi pecahan-pecahan kecil.

Filosof Muslim
Al-Kindi 
Bernama lengkap Abu ya’kub al-Kindi (801-866M) Ia dapat dianggap sebagai peletak dasar pemikiran fisafat Islam. Filsafat al-Kindi menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar pemikirannya, tetapi kandungan Al-Qur’an dipahami dengan rasionalitas yang dibangun dari pemikiran Plato dan terutama Aristoteles yang dipelajarinya dari filsafat Yunani kuno. Oleh karena itu, al-Kindi sering disebut sebagai seorang yang menghubungkan antara filsafat dan teologi Islam. Al-Kindi berpendapat bahwa keyakinan atau kebenaran tentang sesuatu seharusnya didasari oleh akal. Menggunakan akal adalah kewajiban manusia, dan dia menggunakan pemikiran tentang adanya penyebab. Menurut Aristoteles hal-hal yang digunakan Al-Kindi adalah 1).Penyebab material, 2).penyebab formal, 3).penyebab efisien dan 4).penyebab final. Selain itu dari pemikiran Aristoteles, Al-Kindi menggunakan konsep penggerak utama, atau penyebab pertama sebagai kesatuan dari penyebab efisien dan penyebab final. Penyebab pertama, prima causa, Tuhan atau Allah. Oleh karena itu, Allah adalah yang Maha Esa, wujud abadi, dan menjadi awal dan asal dari segala hal. 
Dengan demikian, al-Kindi menggunakan prinsip teologis, bertujuan teologis berasal dari bahasa Yunani  telos yang berari tujuan dan tele yang berarti jauh dan logos yang berarti pikiran atau aturan. Penjelasan-penjelasan tersebut menggambarkan digunakan kandungan Al-Qur’an dalam pemikiran filsafati.
Al-Kindi adalah filosof Islam yang mula-mula secara sadar berupaya mempertemukan ajaran-ajaran Islam dengan filsafat Yunani. Sebagai seorang filosof Al-Kindi amat percaya terhadap kemampuan akal untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang realitas. Tetapi dalam waktu yang sama diakuinya pula keterbatasan akal untuk mencapai pengetahuan metafisis. Oleh karenanya menurut al-Kindi diperlukan adanya nabi untuk mengajarkan ha-hal diluar jangkauan akal manusia yang diperoleh dari wahyu Tuhan. Dengan demikian al-Kindi tidak sependapat dengan filsuf Yunani dengan hal-hal yang dirasakan bertentangan dengan ajaran Islam yang diyakininya. Misalnya mengenai kejadian alam berasal dari ciptan Tuhan yang semula tiada, berbeda dengan filsafat Aristoteles yang mengatakan bahwa alam tidak diciptakan dan bersifat abadi. 
Al-Kindi mempunyai semangat menakjubkan bukan hanya dalam menunjukan bahwa kebenaran agama dan filsafat senada, tetapi juga ia ingin menghargai para filsuf dari kalangan luar muslim untuk memetik hikmah dari mereka. Bagi al-Kindi kebenaran agama tidak berlawanan dengan kebenaran filosofis hanya saja kebenran agama kadang-kadang tidak cukup didasarkan pada zhahir teks sehingga mengharuskan dilakukan penafsiran metaforis-alegoris (ta’wil).
Mengenai kebenaran dari luar, al-Kindi menegaskan bahwa kaum muslim tidak perlu malu mengakui sebuah kebaikan dan mengambilnya dari manapun datangnya, sekalipun datang dari orang jauh dan berbeda dengan keyakinannya dengan kaum muslim. Sebab, tidak ada yang lebih utama dalam mencari kebenaran kecuali kebenaran itu sendiri. Bahkan terhadap mereka yang menolak filsafat. Al-Kindi menjuluki sebagai “orang-orang asing dengan kebenaran dan memakai mahkota kebenaran yang tidak berhak mereka pakai” 
Al-Farabi  
Nama lengkapnya adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzalagh al-farabi. Al-Farabi lahir di Wasij, sebuah dusun kecil dekat Farab Transoxiana, pada tahun 870 M dari ayah seorang jendral keturunan Turki. Sejak kecil ia mempunyai kecakapan luar biasa dalam bidang bahasa. Setelah besar, al-Farabi meninggalkan negerinya untuk menuju Baghdad, yang menjadi pusat pemerintahan dan ilmu pengetahuan saat itu. Di Baghdad ia belajar logika kepada Abi Bisyr bin Mattius dan ilmu Nahwu kepada Abu Bakar as-Sarraj
Al-Farabi meneruskan pemikiran al-Kindi yang menggunakan pola pikir plato dan Aristoteles. Kemudian ia mengembangkan pemikiran filsafatnya secara komprehensif. Meskipun pada awalnnya ia lebih mengenalkan pemikiran Plato dan Aristoteles namun akhirnya ia mengembangkan isi filsafat yang diyakininya, yaitu emanasi. Emanasi adalah bagan filsafat yang memandang Tuhan atau Allah sebagai asal segala hal. Filsafat al-Farabi sebagian besar memang banyak membahas tentang Tuhan dan keTuhanan. 
Al-Farabi mengembangkan kehidupan spiritual dan mempraktikan sufisme sejak remaja. Tidak mengherankan ia sering disebut sebagai bapak sufisme dalam lingkungan Islam. Jika Aristoteles dikenal sebagai “guru pertama” maka al-Farabi dikenal sebagai “guru kedua” pemikiran yang lain dari al-Farabi diluar masalah keTuhanan adalah masalah ilmu pengetahuan yang nantinya menjadikan al-Farabi juga dikenal seagai “ilmuwan” (the scientist). Nama lain untuk al-Farabi adalah al-Nashr atau al-Naser.
Menurut Al-Farabi akal itu berisi satu pikiran saja, yakni senantisa memikirkan dirinya sendiri. Jadi Tuhan itu adalah akal yang aqil (berpikir) dan ma’qul (dipikirkan), dengan ta’aqqul ini dimulailah ciptaan Tuhan. Tatkala Tuhan memikkrkan itu, timbulah suatu wujud baru atau terciptalah suatu akal baru yang oleh farabi dinamakan al-aqlu ats-stani dan seterusnya.
 3. Ibnu sina 
Orang barat mengenal dengan sebutan Aviccena dan bernama lengkap Abu Ali al-Hussein bin Abdallah Ibn Sina. pada tahun 370 H atau 980 M meninggal pada 426 H atau 1036 M. Ia mempelajari ilmu-ilmu agama , astronomi dan sudah hafal Al-Qur’an saat berusia sepuluh tahun. Pada usia 16 tahun, ia sudah mampu belajar filsafat dan kedokteran secara autodidak, bahkan mencapai kedudukan istimewa sehingga banyak orang yang belajar kepadanya. Menurut sejarah hidup yang ditulis oleh muridnya yakni Jurjani, sejak kecil Ibn Sina telah  banyak mempelajari imu-ilmu yang sudah ada pada zaman itu, seperti fisika, matematika, (berguru kepada Al-Khawarizme), kedokteran (berguru kepada Isa Ibnu Yahya), hukum, dan lain-lain. Ketika masih betumur 17 tahun ia terkenal sebagai seorang dokter dan pernah mengobati pangeran Nih Ibnu Mansur atas panggilan istana.
Pada usia 21 tahun, Ibn Sina mulai menuangkan gagasan-gagasannya secara tertulis. Berbagai karyanya, menurut versi modern berjumlah 276 buah yang mencakup sekuruh kajian filosofis, saintifik, kedokteran,  dan juga kebahasaan. Karya-karya ibn sina boleh dikata paling  bernas dan sistematik diantara semua karya berbahasa Arab, dan dalam skala yang lebih kecil , berbahasa Persia, hampir semua karya itu masih ada sampai sekarang. 
Kehebatan Ibn Sina tidak terlepas dari perjalanan intelektualnya semasa hidup. Pada usia yang masih sangat belia, beliau sudah berkenalan dengan berbagai ajaran religius, filsafat dan ilmiah. Misalnya ia sudah diperkenalkan dengan Rasa’il (jamak atau risalah) ikhwan Ash-Shafa’ dan Isma’iliyah oleh ayahnya yang merupakan sekte tersebut. Ia juga sudah diperkenalkan dengan doktrin sunni karena guru fiqihnya yaitu Isma’il Al-zahid adalah seorang sunni dan tentu saja doktrin syi’ah dua belas imam. Disamping itu juga telah ditanamkan kepadanya dasar-dasar logika, geometri, dasar astronomi. Akan tetapi ibnu sina cepat-cepat memerdekakan pemikiran dengan beberapa cara: pertama,ia berpisah dengan gurunya dan memutuskan untuk belajar sendiri. Kedua, ia tidak terikat atau takllid buta terhadap suatu doktrin yang telah dikemukakan kepadanya. Sebaliknya ia mengambil dari berbagai sumber lain dan memilih apa yang dinilainya meyakinkan. Sistemnya sangat unik dan tidak memilik salah satu mahzab. 
Menurut Ibnu Sina pembagian filsafat dan ilmu, ada dua tipe yatu fisafat yaitu teoretis dan praktis. Teoritis adalah untuk menyempurnakan jiwa melalui pengetahuan semata-mata. Sedangkan praktis adalah untuk menyempurnakan jiwa melalui pengetauan tentang apa yang seharusnya dilakukan sehingga jiwa bertindak  sesuai dengan pengetahuan ini.
Menurut Ibn Sina metafisika merupakan ilmu yang memberikan pengetahuan tentang prinsip-prinsip filsafat teoretis yang berhubungan dengan maujud (eksisten atau yang ada) sepanjang ia ada. Menurut Ibnu Sina wujud dari Tuhanlah kemajuan yang mesti, mengalir intelegensi pertama, karena hanya Allah lah yang tunggal yang mutlak, sesuatu dapat mewujud. Ibnu Sina berpendapat bahwa jiwa adalah wujud ruhani (imateri) yang berada dalam tubuh. Wujud imateri yang tidak berada dalam tubuh atau tidak langsung mengendalikan tubuh disebut akal. 
Ibn Rusyd
Nama lengkapnya, Abu Walid Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Rusyd dilahirkan di Cordova sebuah kota di Andalus. Ia terlahir pada tahun 510 H/126 M, Ia lebih populer dengan sebutan  Ibnu Rusyd. Orang barat menyebutnya dengan sebuah nama Averrois. Sebutan ini sebenarnya di ambil dari nama kakeknya. Keturunannya berasal dari keluarga yang alim dan terhormat, bahkan terkenal dengan keluarga yang memiliki banyak keilmuan. Kakek dan ayahnya mantan hakim di Andalus dan ia sendiri pada tahun 565 H/1169 M diangkat pula menjadi hakim di Seville dan Cordova. Karena prestasinya yang luar biasa dalam ilmu hukum, pada tahun 1173 M ia dipromosikan menjadi ketua Mahkamah Agung, Qadhi al-Qudhat di Cordova.
Aliran filsafat Ibnu Rusyd adalah rasional. Ia menjunjung tinggi akal fikiran dan menghargai peranan akal. Karena dengan akal fikiran itulah manusia dapat menafsirkan alam wujud. Iya berkeyakinan bahwa segala sesuatu tidak mungkin terlepas dari sebab-musabab. Keyakinan pada sebab-musabab adalah asas ilmu alam dan asas filsafat rasional.
Dalam kitabnya Fash al Maqal ini, ibn Rusyd berpandangan bahwa mempelajari filsafat bisa dihukumi wajib. Dengan dasar argumentasi bahwa filsafat tak ubahnya mempelajari hal-hal yang wujud yang lantas orang berusaha menarik pelajaran/hikmah/’ibrah darinya, sebagai sarana pembuktian akan adanya Tuhan Sang Maha Pencipta. Semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang maujud atau tentang ciptaan Tuhan, maka semakin sempurnalah ia bisa mendekati pengetahuan tentang adanya Tuhan. Bahkan dalam banyak ayat-ayat-Nya Tuhan mendorong manusia untuk senantiasa menggunakan daya nalarnya dalam merenungi ciptaan-ciptaan-Nya.
Jika kemudian seseorang dalam pemikirannya semakin menjauh dengan dasar-dasar Syar’iy maka ada beberapa kemungkinan, pertama, ia tidak memiliki kemampuan / kapasitas yang memadai berkecimpung dalam dunia filsafat, kedua, ketidakmampuan dirinya mengendalikan diri untuk untuk tidak terseret pada hal-hal yang dilarang oleh agama dan yang ketiga adalah ketiadaan pendamping /guru yang handal yang bisa membimbingnya memahami dengan benar tentang suatu obyek pemikiran tertentu.
Oleh karena itu tidak mungkin filsuf akan berubah menjadi mujtahid, tidak mempercayai eksistensi Tuhan/ meragukan keberadaaan Tuhan, Kalaupun ia berada dalam kondisi semacam itu bisa dipastikan ia mengalami salah satu dari 3 faktor di atas, atau terdapat dalam dirinya gabungan 2 atau 3 faktor-faktor tersebut. Sebab kemmapuan manusia dalam menenrima kebenaran dan bertindak dalam mencari pengetahuan berbeda-beda.
Sebagai filosof pemikirannya yang sangat rasional sering dianggap “bertentangan” dengan cara agama (Islam) dalam menangani sesuatu. Tetapi sebagai pemikir Islam, ia lebih dahulu mengenal Islam sehingga ia sekaligus menjadi penyebar kebenaran agama Islam. 








BAB III
PENUTUP

Filsafat pertama kali muncul di zaman Yunani Kuno, dimana para filosof alam menggagas berbagai pendapat/filsafatnya mengenai bangun alam. Para filosof alam tersebut adalah: Thales (asas air, Anaximandros (asas tak terbatas), Anaximenes (asas udara), Heraklios (asas api), Pythagoras (asas kuantitatif), Parmenides (asas yang “ada”), serta Demokritos dan Leucippus (Asas Atom).
Selanjutnya, setelah masa awal zaman Yunani Kuno berakhir, muncullah zaman keemasan Yunani Kuno yang dipelopori oleh tiga filosof besar yakni: Socrates (dialetika), Plato (Idealisme) dan Aristoteles (realisme).
Umat Islam juga tidak mau kalah saing dalam berfilsafat, umat Islam pun memiliki para filosof yang ulung. Mereka berperan sebagai penyambung yang menjembatani antara filsafat Yunani dengan filsafat Barat. Yang tentunya jika tidak ada peran mereka di dalam sejarah filsafat, maka sudah reduplah filsafat itu di zaman kegelapan. Para filosof muslim yang tersohor diantaranya: Al-Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Al-Farabi.














DAFTAR PUSTAKA

Al-Ahwani A. Fuad. 1993. Filsafat Islam. Pustaka Firdaus. 
Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani. 2008. Filsafat Umum dari Mitolologi sampai Teofilosofi. Bandung: Pustaka Setia
Mohammad Hatta. 1986. Alam Pemikiran Yunani cetakan ke-3. Jakarta: UI-Press
Richard Osborne. 2001. Filsafat untuk Pemula. Diterjemahkan oleh: P. Hardono Hadi. Yogyakarta: Kanisius
Sulaiman Asep. 2016. Mengenal Filsafat Islam. Bandung: Fadillah Press
Sutardjo A. Wiramihardja. 2009. Pengantar Filsafat: Sistematika dan Sejarah Filsafat, Logika dan Filsafat Ilmu (Epistemologi), Metafisika dan Fisafat Manusia, Aksiologi. Bandung: PT Refika Aditama
Tafsir Ahmad. 2013. Filsafat Umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Zaprulkan. 2014. Filsafat Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAFALAN QUR'AN HILANG KARENA MAKSIAT

PERTANYAAN DI PADANG MAHSYAR

EMPAT UNSUR TAWAKKAL