Tidak Berdosa Bukanlah Syarat Orang Yang Bertakwa 🥀🥀🥀



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

"ولَيْسَ مِن شَرْطِ المُتَّقِينَ ونَحْوِهِمْ أنْ لا يَقَعَ مِنهُمْ ذَنْبٌ، ولا أنْ يَكُونُوا مَعْصُومِينَ مِنَ الخَطَأِ والذُّنُوبِ. فَإنَّ هَذا لَوْ كانَ كَذَلِكَ لَمْ يَكُنْ فِي الأُمَّةِ مُتَّقٍ،بَلْ مَن تابَ مِن ذُنُوبِهِ دَخَلَ فِي المُتَّقِينَ، ومَن فَعَلَ ما يُكَفِّرُ سَيِّئاتِهِ دَخَلَ فِي المُتَّقِينَ"

 "Bukanlah syarat orang yang bertakwa dan semisalnya, bahwa mereka tidak melakukan dosa, atau mereka ma'shum (terjaga) dari kesalahan dan dosa. Jika ini yang menjadi syarat, maka tidak akan ada orang bertakwa di umat ini. Akan tetapi, barangsiapa bertaubat dari dosa-dosanya, maka dia termasuk orang yang bertakwa. Dan barangsiapa melakukan amalan yang dapat menghapuskan kesalahan-kesalahannya, maka dia termasuk orang yang bertakwa."

Majmu' Al-Fatawa hal 82 juz 7

Sumber Saluran Whatsapp *Pelajar Sunnah*

https://whatsapp.com/channel/0029VahHEqtFSAsyXkHzeE0D

youtube.com/pelajarsunnah
instagram.com/pelajarsunnah.id
fb.com/pelajarsunnah.id
twitter.com/pelajarsunnah
telegram.me/pelajarsunnah

Mari dukung program dakwah @pelajarsunnah.id dengan berinfaq dan bersedekah ke rekening :
Bank Syariah Indonesia
(BSI-451) 7775222338
a.n. PELAJAR SUNNAH

Menghadapi Musibah



Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,

“Barangsiapa yang memahami keadaan lautan kehidupan dunia dan mengetahui bagaimana gelombang itu kadang bisa pasang dan juga surut, maka tahulah ia bagaimana harus bersabar menghadapi keganasan hari-hari kehidupan, dan ia tidak akan pernah merisaukan turunnya bala’, dan tidak akan pula pernah begitu kaget dengan kegembiraan yang terkadang datang begitu tiba-tiba..”

Shoidul Khothir – 210

AnugerahNya

﴿وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَيْكَ مَرَّةً أُخْرَى﴾
_“Dan sungguh, Kami telah menganugerahkan nikmat kepadamu sekali lagi.”_

Aku sangat mencintai ayat ini. Ayat yang selalu mengingatkanku akan begitu banyaknya nikmat Allah dalam hidupku. Bahwa Allah tidak memberiku nikmat hanya sekali, tidak memberiku rezeki hanya sekali, tidak memuliakanku hanya sekali, dan tidak melimpahkan kelembutan-Nya kepadaku hanya sekali.

Bahkan seluruh hidupku adalah rangkaian nikmat, rezeki, kemuliaan, dan kelembutan yang terus diperbarui—berkali-kali, tanpa terhitung.

Setiap hari dan setiap waktu, kesadaranmu akan nikmat Allah atasmu adalah sebuah ibadah. Dan keyakinanmu terhadap karunia-Nya adalah ketenangan yang tak pernah terputus.

Panjang angan-angan


ومعنى طول الأمل: استشعارُ طول البقاء في الدنيا حتى يغلب ذلك على القلب فيأخذ في العمل بمقتضاه، وقد قال السلف الصالح - رحمة الله عليهم -: من طال أمله ساء عمله. وذلك لأن طول الأمل يحمل على الحرص على الدنيا، والتشمير لعمارتها، حتى يقطع الإنسان ليله ونهاره بالتفكر في إصلاحها، وكيفية السعي لها تارةً بقلبه وتارةً بالعمل في ذلك، والأخذ فيه بظاهره، فيصير قلبه وجسمه مستغرقين في ذلك، وحينئذ ينسى الآخرة ويشتغل عنها، ويسوِّف في العمل لها، فيكون في أمر دنياه مبادرًا ومشمِّرًا، وفي أمر آخرته مسوِّفًا ومقصِّرًا، وكان الذي ينبغي له أن يعكس الأمر، فيشمِّر للآخرة التي هي دار البقاء وموطن الإقامة،
Karena angan-angan panjang membuat seseorang lebih mencintai dunia, berusaha untuk memakmurkannya hingga seseorang rela menghabiskan siang dan malam memikirkan cara membenahinya dan cara untuk mengumpulkannya terkadang dengan hati dan terkadang dengan usahanya untuk menikmati kenikmatan dhahirnya, hingga pikiran dan anggota tubuhnya senantiasa sibuk mengejar dunia, akhirnya ia akan lupa akhirat dan berpaling darinya, selalu menunda-nunda amalan akhirat tetapi mendahulukan urusan duniawinya, padahal seharusnya ia membalik keadaan itu dengan giat beramal untuk akhiratnya yang merupakan empat tinggalnya yang abadi.

وقد أخبره الله تعالى ورسوله ﷺ أنه لا ينالها بدون السعي والطلب والجدّ في ذلك والتشمير له.
Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah memberitahu bahwa surga tidak dapat dicapai tanpa kesungguhan dan keteguhan untuk meraihnya.

وأما الدنيا فهي دار زوال وانتقال، وعن قريب يرتحل منها إلى الآخرة ويُخلِّفها وراء ظهره، وليس مأمورًا بطلبها والحرص عليها، بل هو منهي عنه في كتاب الله تعالى، وفي سنة رسوله ﷺ،
Adapun dunia adalah tempat yang akan hancur dan binasa, dalam waktu dekat ia akan berpindah dari dunia menuju akhirat dan ia akan meninggalkan harta bendanya, ia tidak diperintah untuk mencari dan mencintainya, bahkan hal ini dilarang dalam Ktabullah dan sunnah Rasul-Nya ﷺ.

ونصيبهُ المقدر له منها لا يفوته ولو لم يطلبه، ولكنه لما طال عليه الأمل حمله على الحرص على الدنيا والتسويف في الآخرة، فلا يخطر له أمرُ الموت، ووجوب الاستعداد له بالأعمال الصالحة،
Bagian yang sudah ditetapkan untuknya tidak akan lari meski ia tidak mencarinya, tetapi karena ia dihinggapi oleh angan- angan yang panjang, maka ia senantiasa mengejar materi duniawi dan selalu menunda-nunda urusan akhirat. Ia tidak pernah teringat akan datangnya kematian dan kewajibannya untuk bersiap-siap menghadapinya dengan berbagai rangkaian amal shaleh.

إلَّا وعدَ نفسه بالفراغ لذلك من أشغال الدنيا في أوقات مستقبَلة كأنَّ أجله في يده يموت متى شاء.
Hanya saja ia berjanji pada diri sendiri setelah selesai dari urusan duniawi kelak di masa datang ia akan meluangkan diri untuk ibadah, ia menganggap ajalnya ada di tangannya hingga ia bisa mati kapan saja ia mau.

وهذا كلّه من شؤم طول الأمل، فاحذروه رحمكم الله - واجعلوا التسويف والتأخير في أمور الدنيا، والمبادرة والتشمير في أمور الآخرة، كما قال النبي عليه الصلاة والسلام:
Semuanya ini dampak buruk dari angan-angan yang panjang, oleh karena itu hindarilah hal ini dan jadikanlah penundaan itu dalam urusan duniawi saja sedangkan untuk urusan akhirat sibukkanlah dirimu dan segeralah melakukannya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ:

«اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ لَا تُمُوْتُ أَبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ مَيِّتٌ غَدًا».
Artinya: "Berbuatlah untuk duniamu seakan-akan engkau tidak akan mati untuk selamanya dan berbuat untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.”

واستشعِرُوا قربَ الموت، فإنه كما في الحديث:
Renungkanlah dekatnya ajal. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadis, bahwasannya Baginda Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

«أَقْرَبُ غَائِبٍ يُنْتَظَرُ»
Artinya: "Perkara ghaib paling dekat yang ditunggu-tunggu."

وما يدري الإنسان لعلّه لم يبقَ من أجله إلا الشيء اليسير، وهو مقبل على دنياه ومعرضٌ عن آخرته، فإن نزل به الموت وهو على تلك الحالة رجع إلى الله، وهو غير مستعد للقائه، وربما يتمنى الإمهال عندما ينزل الموت به فلا يجاب إليه ولا يمكّن منه،
Mana tahu manusia! Bisa jadi umurnya tinggal sedikit saja sedangkan ia sibuk dengan dunia dan berpaling dari akhirat, kalau ajal menjemputnya sedangkan ia dalam keadaan yang demikian ia kembali kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dalam keadaan belum siap menghadap kepada-Nya, bahkan ia masih ingin diberi tangguhan ketika ajal menjemputnya tetapi keinginannya ditolak, seperti yang dijelaskan oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala:

كما قال الله تعالى:
Dalam ayat-Nya yang lain, Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

﴿حَتّٰٓى اِذَا جَآءَ اَحَدَهُمُ الۡمَوۡتُ قَالَ رَبِّ ارۡجِعُوۡنِۙ‏ ٩٩ لَعَلِّىۡۤ اَعۡمَلُ صَالِحًـا فِيۡمَا تَرَكۡتُؕ كَلَّا ؕ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآٮِٕلُهَاؕ وَمِنۡ وَّرَآٮِٕهِمۡ بَرۡزَخٌ اِلٰى يَوۡمِ يُبۡعَثُوۡنَ‏ ١٠٠﴾ [المؤمنون:۲۳/ ۱۰۰-۹۹].
Artinya: "(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak, karena sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan dihadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." (Qs. al-Mukminuun ayat: 99-100).

فلا يطيل الأمل ويسوف العمل، ويغفُل عن الاستعداد للموت إلا أحمق مغرورٌ، وقد قال رسول الله ﷺ:
Maka tidaklah seseorang berangan-angan panjang, menunda-nunda amal perbuatan dan lupa mempersiapkan diri menghadapi kematian kecuali orang bodoh dan tertipu. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

«الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ. وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهَ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَ».
Artinya: "Orang yang pandai adalah yang selalu menahan diri dan beramal untuk bekal setelah kematian, dan orang yang lemah adalah orang yang menuruti hawa nafsunya dan berangan-angan kosong terhadap Allah."

فطول الأمل من اتِّباع هوى النفس والانخداع بأمانيها الكاذبة.
Jadi, angan-angan yang panjang termasuk menuruti hawa nafsu dan tertipu oleh angan-angannya yang dusta.

وقال بعض السلف الصالح - رضي الله عنهم -: لو رأيتم الأجل ومسيره لأبغضتم الأمل وغروره.
Dalam hal ini, salah seorang salafunasshalihin Radhiyallahu ‘anhu berkata: "Andaikan kalian melihat ajal dan perjalanannya, maka pastilah kalian akan membenci angan-angan dan tipuannya."

وقال آخر: كم من مستقبلٍ يومًا لم يستكمله، ومؤمِّلٍ غدًا لم يدركه.
Dalam kesempatan lain, diantara mereka berkata: "Berapa banyak orang yang menyambut datangnya hari, namun ia tidak sempat melaluinya. Dan berapa banyak orang yang mengharapkan hari esok, namun ia tidak bisa mengalaminya."

وقال آخر: ربّ ضاحك مِلءَ فيه ولعل أكفانه قد خرجت من عند القصَّار.
Ada pula yang berkata: "Bisa jadi seseorang tertawa terbahak- bahak, padahal kain kafannya telah keluar dari penjahit."

وفي الحديث:
Disebutkan dalam hadis:

«يَنْجُوْ أَوَّلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بِالزُّهْدِ وَالْيَقِينِ، وَيَهْلِكُ آخِرُهَا بِالْحِرْصِ وَطُولِ الْأَمَلِ».
Artinya: "Generasi pertama umat ini selamat dengan zuhud dan keyakinan dan generasi terakhir binasa karena cinta harta benda dan angan-angan panjang."

وقال علي رضي الله عنه: أخوف ما أخاف عليكم اتباعُ الهوى وطول الأمل. فأما اتباع الهوى فيصدّ عن الحق، وأما طول الأمل فيُنسي الآخرة،
Dalam kesempatan ini, Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata: "Perkara yang amat engkau khawatirkan atas kalian adalah menueuti hawa nafsu dan angan-angan panjang, karena mengikuti hawa nafsu akan menghalangi dari kebenaran sedangkan angan- angan panjang akan membuat diri lupa akan akhirat.

ومن نسي الآخرة لم يعمل لها، ومن لم يعمل لها قدم إليها وهو مفلس من الأعمال الصالحة التي لا نجاة ولا فوز في الآخرة بدونها،
Barangsiapa yang lupa akhirat, maka ia tidak akan berbuat untuknya sedangkan yang tidak berbuat untuknya ia akan datang di akhirat dalam keadaan tidak membawa amal shaleh yang mana tidak ada keselamatan di akhirat tanpanya.

فإن طلب عند ذلك أن يُرَد إلى الدنيا ليعمل صالحًا حيل بينه وبين ذلك، فيعظمُ عند ذلك تحسُّره وندمُهُ حيث لا ينفع الندم.
Jika di saat itu ia meminta agar dikembalikan ke dunia untuk mengerjakan satu amal shaleh saja, niscaya ia akan dihalangi. Dengan demikian, maka ia akan sangat menyesal di saat penyesalannya tidak berguna lagi baginya."

وفي وصية رسول الله ﷺ لابن عمر رضي الله عنهما:
Dalam wasiat Rasulullah ﷺ kepada Ibnu Umar disebutkan:

«كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْعَابِرُ سَبِيلٍ»
Artinya: "Jadilah engkau di dunia ini seperti orang yang asing atau orang yang melewati jalan."

وفي ذلك غايةُ الحثِّ على قِصَر الأمل، وقلّة الرغبة في الدنيا. وكان ابن عمر يقول: إذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وإذا أمسيت فلا تنتظر الصباح. وخذ من حياتك لموتك ومن صحتك لسقمك.
Hadis ini berisi anjuran untuk memperpendek angan-angan dan sedikit berharap pada materi duniawi, Ibnu Umar berkata: "Jika engkau di pagi hari, maka janganlah engkau menunggu sore. Apabila di sore hari, maka janganlah menunggu sampai pagi. Ambillah dari hidupmu bekal untuk kematianmu dan dari masa sehatmu untuk masa sakitmu."

andai aku diberi waktu satu detik

قال بعض العلماء - رحمة الله عليهم -: فلو كانت الدنيا بأسرها لهذا الإنسان وأمكنه أن يشتري بها ساعة واحدة يزيدها في عمره، ويعتذر فيها إلى ربه، لَفَعَل.
Sebagian ulama berkata: "Andaikan seseorang memiliki dunia seisinya dan dengannya ia bisa membeli umur meski sesaat agar ia bisa bertaubat kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala saat itu pasti akan ia lakukan."

siapa yang senang bertemu dengan Allah maka?


ولما قال رسول الله ﷺ:
Ketika Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ»
Artinya: "Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah pun senang bertemu dengannya, dan barangsiapa yang tidak senang bertemu dengan Allah, maka Allahpun tidak senang bertemu dengannya."

قالت له عائشة رضي الله عنها: يا رسول الله، كلنا نكرهالموت؟ فقال عليه الصلاة والسلام:
Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Baginda Rasulullh ﷺ: "Wahai Rasulullah, bukannya kita semua membenci kematian?" Kemudian Nabi ﷺ bersabda:

«إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ الْمَوْتُ بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللَّهِ فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا حَضَرَهُ الْمَوْتُ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ فَكَرِهَ لِقَاءَ اللَّهُ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ»
Artinya: "Sesungguhnya seorang mukmin apabila telah tiba ajalnya, maka ia dihibur dengan kasih sayang Allah sehingga ia senang bertemu dengan Allah dan Allahpun senang bertemu dengannya. Sedangkan orang kafir, apabila telah dijemput ajal, maka ia diberitahu akan siksa Allah sehingga ia idak senang bertemu dengan Allah dan Allah pun tidak senang bertemu dengannya

PANJANG UMUR

طول العمر

وأما طول العمر في طاعة الله فهو محبوب ومطلوب، لقولهعليه الصلاة والسلام:
Adapun usia yang panjang dalam keadaan taat kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala suatu perkara yang baik dan dicari. Hal ini sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

«خَيْرُكُمْ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ».
Artinya: "Sebaik-baik orang diantara kalian adalah yang berumur panjang dan baik amalannya."

وكلما كان العمر أطول في طاعة الله كانت الحسنات أكثر والدرجات أرفع. وأما طوله في غير طاعة الله فبلاءٌوشر: تكثر السيئات وتتضاعف الخطيئات.
Setiap kali umur semakin panjang dalam keadaan taat kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala semakin banyak pula pahala kebaikan dan derajat tinggi yang diraih, namun apabila umur yang panjang bukan dalam keadaan taat kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala itu adalah bencana dan keburukan, hanya memperbanyak dosa dan kejelekan

ga ada manusia yang lolos dari masalah

ga ada manusia yang *baik-baik saja* di dunia ini, semua sedang berjuang dengan ujiannya masing-masing. Maka ingatlah selalu,

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَ كِيْلُ

“Cukuplah Allah sebagai penolong kami.”
(QS. Ali Imran : ayat 173)

- luka pendosa

Hakekat Ikhlas

**

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

“Meninggalkan amalan karena manusia (takut dipuji orang) adalah riya’. Sedangkan mengerjakan amalan karena manusia (ingin dipuji orang) adalah syirik. Adapun ikhlas adalah jika Allah menyelamatkan darimu dari keduanya..”

Syarah Hadist Arba’in, Imam Nawawi, edisi terjemahan hal 21

Penghalang doa

Di antara sebab penting untuk terkabulnya doa adalah kondisi hati kita yang betul-betul merasa butuh hanya kepada Allah, tidak pada yang lain. Bahkan terkadang penghalang terkabulnya doa pun kan luluh jika kita berdoa dengan hati yang butuh kepada Allah. Maka perhatikanlah baik-baik kondisi hati kita.

#twitulama

Follow juga media sosial kami:
Twitter | FB | IG | Telegram | threads: @twitulama

*Jika bermanfaat, silakan disebarluaskan.*

HATI TEMPAT JATUHNYA PANDANGAN ALLAH SWT

إصلاح القلب

Memperbaiki hati

واصرف عنايتك إلى أمر القلب والباطن، فقد قال عليه الصلاة والسلام:

Kemudian alihkan perhatiamu pada masalah hati dan batinmu. Dalam hal ini, Baginda Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ وَإِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَنِيَّاتِكُمْ»

Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak memandang pada bentuk kalian dan amal perbuatan kalian, sesungguhnya Dia memandang kepada hati dan niat kalian.”

فحقِّق قولك بعملك، وعملك بنيتك وإخلاصك، ونيتَك وإخلاصَك بتصفية ضميرك وإصلاح قلبك، فإن القلب هو الأصل وعليه المدار.

Buktikan ucapanmu melalui perbuatanmu, perbuatanmu melalui niat dan ketulusanmu, niat dan ketulusanmu melalui pembersihan dan pembenahan hatimu, karena hati adalah inti darı pusat segala sesuatu.

وفي الحديث:

Dalam hadis disebutkan:

«أَلَا إِنَّ فِي الْحَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ الْجَسَدِ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ الْجَسَدِ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ».

Artinya: "Ketahuilah sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging apabila ia baik, maka seluruh jasad menjadi baik dan apabila ia rusak, maka seluruh jasad menjadi rusak, ketahuilah ia adalah hati."

فوجب الاهتمام به، وصرف العناية إلى إصلاحه وتقويمه، وهو - أعني القلب - سريع التقلب، كثير الاضطراب حتى قال عليه الصلاة والسلام فيه:

Jadi, kewajiban kita adalah memberi perhatian khusus untuk membenahinya karena hati cepat berubah dan banyak tergoncang hingga Nabi Muhammad ﷺ bersabda mengenainya:

«إِنَّهُ أَسْرَعُ تَقَلُّبًا مِنَ الْقِدْرِ إِذَا اسْتَجْمَعَتْ غَلَيَانُهَا».

Artinya: "Sesungguhnya ia lebih cepat berubah daripada periuk yang mendidih."

وكان عليه الصلاة والسلام كثيرًا ما يدعو:

Bahkan beliau seringkali berdo'a:

«يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ».

Artinya: "Wahai Dzat Yang Membolak-balik hati teguhkanlah hatiku dalam agama-Mu."

ويقول:

Dalam hadis yang lain, Baginda Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

«إِنَّ الْقُلُوْبَ بَيْنَ أَصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، إِنْ شَاءَ أَقَامَهَا وَإِنْ شَاءَ أَزَاغَهَا»،

Artinya: "Sesungguhnya hati berada diantara dua jari dari jari-jari Tuhan, apabila Dia berkehendak Ia akan meluruskannya dan apabila Dia berkehendak Ia akan membelokkannya."

وكان عليه الصلاة والسلام إذا حلف واجتهد في اليمين يقول:

Nabi ﷺ sendiri manakala bersumpah dengan sungguh- sungguh beliau ﷺ bersabda:

«لَا، وَمُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ».

Artinya: "Tidak demi Tuhan yang membolak balikkan hati."

وقال تعالى حاكيًا عن إبراهيم خليله عليه السلام:

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menceritakan tentang ucapan Nabi Allah Ibrahim 'Alaihis Salam dalam firman-Nya:

﴿يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌۭ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍۢ سَلِيمٍۢ ٨٩﴾ [الشعراء:٨٨-٨٩/٢٦].

Artinya: "(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Qs. asy-Syu'araa ayat: 88 - 89).

فاحرص كل الحرص - رحمك الله - على أن تأتي ربك بالقلب السليم من الشرك والنفاق، والبدعة ومنكرات الأخلاق، مثل الكبر والرياء، والحسد والغش للمسلمين، وأشباه ذلك.

Jadi, berusahalah semampumu agar engkau menghadap Tuhanmu dalam keadaan hati yang bersih dari syirik dan kemunafikan, bid'ah dan akhlak yang buruk seperti sombong dan riya,' dengki dan penuh tipuan kepada umat Islam dan lain-lain.

واستعن بالله واصبر، واجتهد وشمِّر، وقل كثيرًا:

Mohonlah pertolongan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala sambil bersabar dan terus berusaha. Dan juga lazimilah untuk membaca ayat Allah Subhaanahu Wa Ta’ala:

﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ﴾ [آل عمران: ٨/٣].

Artinya: "Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau sesatkan hati kami, sesudah Engkau tunjuki kami (jalan yang benar), dan berilah kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau amat suka memberi." (Qs. Ali Imran ayat: 8).

فبذلك وصف الله الراسخين في العلم من عباده المؤمنين.

Begitulah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala mensifatkan para hamba-Nya beriman yang berpijak kuat dalam ilmu.

Anugerah kepada mereka yang Dia cintai

إنما العلم مواهب، يُؤتيه الله من أحب من خلقه، وليس يَناله أحد بالحسَب.

Ilmu itu anugerah dari Allah yang diberikan hanya kepada mereka yang Dia cintai, tidak bisa diwariskan atau diperoleh dari jalur keturunan.

- Imam Ahmad bin Hanbal -

DOSA PASTI ADA HUKUMANNYA



Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata,

فالذنب لا يخلو من  عقوبة البتة، ولكن لجهل العبد لا يشعر بما هو فيه من العقوبة؛ لأنه بمنزلة السكران والمخدر والنائم الذي لا يشعر بالألم، فإذا استيقظ وصحا أحس بالمؤلم. فترتب العقوبات على الذنوب كترتب الإحراق على النار، والكسر على الانكسار ، والإغراق على الماء، وفساد البدن على السموم، والأمراض على الأسباب الجالبة لها. 
وقد تقارن المضرة للذنب، وقد تتأخر عنه إما يسيرا وإما مدة ، كما يتأخر المرض عن سببه أو يقارنه. وكثيرا ما يقع الغلط للعبد في هذا المقام، ويذنب الذنب فلا يرى أثره عقيبه، ولا يدري أنه يعمل عمله على التدريج شيئا فشيئا، كما تعمل السموم والأشياء الضارة حذو القذة بالقذة. فإن تدارك العبد بالأدوية والاستفراغ والحمية وإلا فهو صائر إلى الهلاك.

"Setiap dosa pasti tidak lepas dari hukuman sama sekali. Namun karena kebodohan manusia, ia sering tidak merasakan hukuman yang sedang menimpanya. Keadaannya seperti orang mabuk, orang yang dibius, atau orang yang sedang tidur, yang tidak merasakan rasa sakit. Tetapi ketika ia sadar dan terbangun, barulah ia merasakan sakit tersebut.

Hukuman-hukuman yang muncul akibat dosa itu berjalan sesuai dengan sebabnya, sebagaimana terbakar adalah akibat dari api, patah adalah akibat dari benturan, tenggelam adalah akibat air, rusaknya tubuh adalah akibat racun, dan penyakit adalah akibat dari sebab-sebab yang mendatangkannya.

Kadang bahaya dari dosa itu muncul bersamaan dengan dosanya, dan kadang datang belakangan, bisa sebentar atau dalam waktu yang lama, sebagaimana penyakit yang terkadang langsung muncul setelah sebabnya, dan terkadang muncul setelah jeda.

Sering kali seseorang keliru dalam memahami hal ini yaitu ia melakukan dosa, tetapi tidak melihat dampaknya langsung, lalu mengira tidak terjadi apa-apa. Padahal sebenarnya dosa itu sedang bekerja sedikit demi sedikit, sebagaimana racun dan hal-hal berbahaya bekerja secara bertahap dan sangat tepat mengenai sasarannya.

Jika seorang hamba segera mengobatinya dengan taubat, membersihkan diri dari dosa, dan menjaga diri maka ia akan selamat. Namun jika tidak, ia akan menuju kebinasaan."
(Ad-daa wa Ad-dawaa : 272)

Sumber Saluran Whatsapp *Pelajar Sunnah*

https://whatsapp.com/channel/0029VahHEqtFSAsyXkHzeE0D

perjumpaan dengan Allah

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda"Barangsiapa yang mencintai perjumpaan dengan Allah, niscaya Allah pun mencintai perjumpaan dengannya. Sebaliknya, barangsiapa yang membenci perjumpaan dengan Allah, Allah pun membenci perjumpaan dengannya." 'Aisyah atau sebagian istri beliau berkomentar: "Bukankah kita juga tidak menginginkan kematian?" Nabi lantas bersabda, "Bukan begitu maksudnya, namun maksud yang benar adalah bila ajal seorang mukmin menjemputnya, ia akan diberi kabar gembira dengan keridaan Allah dan karamah-Nya, sehingga tak ada sesuatu apapun yang lebih ia cintai daripada apa yang ada di hadapannya, lantas ia mencintai untuk berjumpa dengan Allah, dan Allah pun mencintai berjumpa dengannya. Sebaliknya, bila ajal menjemut orang kafir, ia akan diberi kabar buruk dengan azab Allah dan hukuman-Nya, sehingga tidak ada yang lebih ia cemaskan daripada apa yang ada di hadapannya, lantas ia membenci berjumpa dengan Allah, dan Allah pun membenci berjumpa dengannya."
 Abu Daud dan 'Amru meringkasnya dari Syu'bah, sementara Said mengatakan dari Qatadah, dari Zurarah, dari Sa'ad, dari 'Aisyah, dari Nabi ﷺ. (HR. Bukhari: 6026) - 

mengingat dosa

Mengingat dosa-dosa yang telah lalu.
Bila akan menimbulkan rasa takut dan sesal, maka lakukanlah. Tetapi, bila tidak, maka lebih baik tinggalkan. Hal-hal yang membangkitkan kesabaran ini ialah mengingat ancaman siksa Allah di dunia dan akhirat.
Barangsiapa dalam hal ini dapat terus menerus, maka Allah akan memuliakannya dengan memberikan rasa enggan padanya dalam melaksanakan kemaksiatan sehingga ia berpendapat lebih baik masuk ke dalam api daripada mengerjakan maksiat walaupun sedikit.

menyembunyikan dosa

Wahai saudaraku, jangan sekali-kali engkau menyembunyikan sesuatu yang seandainya tampak oleh orang lain, engkau akan merasa malu, yang muncul dari rasa takut dicela orang.

قال بعض العارفين: لا يكون الصوفي صوفياً حتى يكون بحيث لو طيف بجميع ما في باطنه على طبق في السوق ما استحيا من ظهور شيء منه؛ فإن لم تقدر أن تجعل سريرتك خيراً من علانيتك فلا أقل من أن تسوي بينهما،
Sebagian orang bijaksana berkata :

“Seseorang belum disebut sufi sampai ia tidak lagi merasa malu seandainya batinnya diletakkan di atas talam lalu dipertontonkan di tengah-tengah pasar.”

dimensi lahir batin dari suatu syariat

Hidayah juga memiliki dimensi lahir dan batin karena segala yang mempunyai dimensi lahir pasti memiliki dimensi batin, dan begitu sebaliknya. oleh sebab itu, syariat adalah dimensi lahir dari al-haqiqah (hakikat), dan ia merupakan dimensi batin dari syariah; keduanya merupakan sesuatu yang lazim (kelaziman yang tidak terpisahkan) secara maknawi. Syariat tanpa hakikat tidak berguna dan tidak membuahkan, sedangkan hakikat tanpa syariat itu batil, sia-sia, dan tidak ada kebaikan yang dapat diharapkan darinya. Berkaitan dengan persoalan di atas, seorang penyair berkata:

بَلِ التَّصَوُّفُ أَنْ تَصْفُو بِلاَ كَدَرٍ * وَتَتْبَعَ الحَقَّ وَالقُرْآنَ وَالدِّيْنَا
وَأَنْ تَرَى خَاشِعًا لِلّٰهِ مُكْتَئِباً * عَلىَ ذُنُوْبِكَ طُوْلَ الدَّهْرِ مَحْزُوْنًا
tasawuf adalah jika engkau jernih tanpa noda dengan mengikuti kebenaran, al-Quran dan agama

dan engkau menjadi khusyuk di hadapan Sang Mahakuasa berduka dan menangis atas dosa-dosamu sepanjang masa

Cinta Kepada Allah SWT


(وعليك) بالحب في الله
حتى يصير سبحانه أحب إليك مما سواه بل حتى لا يصير لك محبوب إلا إياه.
وسبب وجود الحب من جهة المحبوب إما وجود كمال فيه أو حصول نوال منه.

Perwujudan cinta
Hendaknya engkau melebihkan cintamu kepada Allah Swt. dari yang lainnya, bahkan hanya Dialah yang patut engkau cintai.
Sebab timbulnya cinta ialah bila yang dicintai itu memiliki kesempurnaan dan dapat memberikan sesuatu pada yang mencintai.

فإن كنت ممن يحب لأجل الكمال فالكمال والجمال والجلال لله وحده لا شريك له في شيء من ذلك، وما يلوح على صفحات بعض الموجودات من معنى كمال أو يبدو عليها من رونق جمال فهو المكمل والمجمل لها سبحانه وتعالى بل هو الموجد لها والمخترع ولولا أنه أنعم عليها بالإيجاد لكانت مفقودة معدومة ولولا ما أفاض عليها من أنوار جمال صنعته لكانت قبيحة مشئومة.

Apabila engkau mencintai sesuatu karena kesempurnaan, kebaikan, keagungan, maka ketahuilah bahwa semuanya itu hanyalah milik Allah Swt. dan tiada sekutu bagi-Nya. Segala sesuatu yang terwujud dengan kesempurnaan dan keindahan maka hanya Dialah yang menciptakan dan mewujudkannya. Seandainya Ia tak berkehendak menciptakannya, maka tak akan terwujud pula segala kesempurnaan dan keindahan itu.

وإن كنت ممن يحب لأجل النوال فلست ترى إحساناً ولا تشاهد امتناناً ولا ترى إكراماً ولا تبصر إنعماً عليك وعلى سائر الخلق إلا والله تعالى هو المتفضل بجميع ذلك بمحض الجود والكرم فكم من خير قد أسداه إليك!

Apabila engkau termasuk orang yang mencintai pemberian dari yang engkau cintai, maka engkau tak akan melihat kebaikan, anugerah, kemuliaan pemberian dan pelimpahan dari seluruh makhluk di alam semesta ini, kecuali Allah yang mencukupi segalanya.


وكم من نعمة قد أنعم بها عليك! فهو سيدك ومولاك الذي خلقك وهداك، والذي له مماتك محياك، والذي أطعمك وسقاك، وكفلك ورباك وأسكنك وآواك،

Bagimu kesemuanya disebabkan ileh kemurkaan dan kedermawanan-Nya padamu. Dialah Raja dan Tuhanmu. Dia pula yang menciptakan, memberi petunjuk, menghidupkan, mematikan, memberi makan dan minum serta mencukupi, mendidik, dan memberi tempat tinggal kepadamu.


يرى القبيح منك فيستره، وتستغفره منه فيغفره، ويرى الجميل منك فيكثره ويظهره، وتطيعه بتوفيقه ومعونته فينوه باسمك في الغيوب ويقذف تعظيمك وحبك في القلوب، وتعصيه بنعمته فلا يمنعه وجود العصيان عن إفاضة الإحسان، فكيف ينبغي لك أن تحب غير هذا الإله الكريم؟ أم كيف يحسن منك أن تعصي هذا الرب الرحيم؟

Bila engkau memiliki aib dan kelemahan, maka Ia segera menutupnya. Dan bila engkau memohon ampun pada-Nya, Dia pun segera mengampuni segala dosamu dan jika Ia melihat kebaikan pada dirimu maka Ia pun akan memperbanyak dan menampakkan kebaikan itu.


Jika engkau taat dengan taufiq dan pertolongan-Nya, Ia akan menempatkan namamu pada suatu tempat yang agung dan semua makhluk di langit dan bumi akan melimpahkan rasa cinta dan kasih kepadamu. Sebaliknya, jika engkau bermaksiat pada-Nya, maka Ia pun tetap memberi nikmat kepadamu. Oleh karena itu, mengapa engkau masih mencintai selain Dia Yang Maha pengasih, dan mengapa pula engkau tek merasa malu bila engkau senantiasa bermaksiat kepada-Nya Yang Maha Pemurah.

Wasiat Allah kepada Nabi Musa AS




وأوحى الله إلى موسى عليه السلام: يا موسى كن كالطير الوحداني يأكل من رؤوس الأشجار ويشرب من الماء القراح، فإذا جنه الليل أوى إلى كهف من الكهوف استئناساً به واستيحاشاً ممن عصاني (يا موسى) إني آليت على نفسي أن لا أتم لمدبر عني عملاً، ولأقطعن أمل(1) كل من يؤمل غيري، ولأقصمن ظهر من استند إلى سواي، ولأطيلن وحشة من استأنس بغيري، ولأعرضن عمن أحب حبيباً سواي (يا موسى) إن لي عباداً إن ناجوني أصغيت إليهم، وإن نادوني أقبلت عليهم، وإن أقبلوا علي أدنيتهم، وإن دنوا مني قربتهم، وإن تقربوا مني اكتنفتهم، وإن والوني، واليتهم، وإن صافوني صافيتهم، وإن عملوا لي جازيتهم، أنا مدبر أمورهم، وسائس قلوبهم وأحوالهم، لم أجعل لقلوبهم راحة إلا في ذكري؛ فهو لأسقمهم شفاء، وعلى قلوبهم ضياء، لا يستأنسون إلا بي، ولا يحطون رحال قلوبهم إلا عندي، ولا يستقر بي قرار إلا إلي.

“Hai Musa, Aku telah bersumpah kepada diri-Ku, “Sesungguhnya Aku tak akan menyenpurnakan pekerjaan orang yang berpaling dair-Ku. Dan akan Kuputuskan angan-angan orang yang memikirkan selain-Ku. Akan Kulemahkan kekuatan mereka yang bersandar pada selain Aku. Kuperpanjang pula kedukaan orang paling akrab pada selain Aku. Dan Aku pun akan berpaling dari mereka yang mencintai sesuatu lebih dari-Ku.”


“Hai Musa, sesungguhnya Aku memiliki beberapa hamba. Bila mereka bermunajat kepada-Ku, Aku selalu memperhatikan mereka, bila mereka mengundang-Ku, Aku akan menghadap mereka, bila mereka menghadap-Ku, Aku akan menghampiri mereka. Apabila mereka mengasihi-Ku, Aku pun mengasihi mereka. Apabila mereka membersihkan diri karena-Ku, Aku akan membersihkan mereka. Bila mereka beramal, Aku akan membalas bereka. Akulah yang mengatur urusan serta mendasari hati dan tingkah laku mereka. Aku tak akan mengistirahatkan hati mereka selain mengingat-Ku, karena hal itu merupakan obat dari segala penyakit dan penenang hati. Mereka tak akan senang, kecuali dengan-Ku. Mereka tak menggerakkan hati mereka, kecuali dengan sesuatu yang Aku ridai dan hati mereka pun tak akan merasa tenang kecuali bersama-Ku.”

Niat menuntut ilmu

وإن كانت نيتك وقصدك بينك وبين الله تعالى من تعلم العلم الهداية) بأن تنوي بتحصيله إزالةَ الجهل عن نفسك، وعن سائر الجهال، وإحياء الدين وإبقاءَ الإسلام بالعلم الدارَ الآخرة ورضا الله تعالى، وتنوي بذلك الشكر على نعمة العقل ونعمة صحة البدن (دُوْنَ مُجَرَّدِ الرِّوَايَةِ) أي الحمل والنقل عن العلماء (فَأَبْشِرُ ، فَإِنَّ الْمَلائِكَةَ تَبْسُطُ لَكَ) أي رضا بما تطلب (أَجْنِحَتَهَا) أي تضعها لتكون وطاء لك إِذا مشيت)
Apabila niat dan tujuanmu dalam mencari ilmu untuk mendapatkan hidayah Allah, atau dengan tujuan menghilangkan kebodohan diri sendiri dan orang-orang yang bodoh; atau untukmenghidupkan agama dan membela Islam dengan perantaraan ilmu yang kaudapat; atau untuk meraih kebahagiaan hidup di akhirat dan ridha Allah, seraya berniat memanjatkan syukur kepada-Nya atas karunia akal dan kesehatan badan yang telah dianugerahkan Dia kepadamu, bukan sekadar meriwayatkan atau menukil dari para ulama maka bergembiralah, sesungguhnya para malaikat telah ridha terhadap apa yang kaulakukan. mereka akan membentangkan sayap-sayap mereka untuk menjadi tempat pijakan kakimu saat engkau berjalan, sebagai pernyataan ridha atas upayamu dalam menuntut ilmu.

وقيل: إن الملائكة تظلل طالب العلم بأجنحتها (وَحِيْتَانَ البَحْرِ تَسْتَغْفِرُ لَكَ إِذَا سَعَيْتَ) أي ذهبت إلى العالم، وذلك لأن صلاح العالم منوط بالعالم بتبليغه الأحكام الشرعية التي منها أن الحيوان يحرم ،تعذيبه، كما أفاده العزيزي.
Menurut sebagian ulama, para malaikat akan menaungi orang yang mencari ilmu dengan sayap-sayap mereka. Binatang-binatang di laut pun akan memohonkan ampunan bagimu ketika engkau berangkat mendatangi ulama untuk menimba ilmu dari mereka. Sebab, kebaikan alam ini tidak lepas dari peran ulama; melalui pengajarannya tentang hukum-hukum syariat yang, di antaranya berkaitan dengan diharamkannya penyiksaan terhadap binatang.

وعلامة ذلك القصد أن يكون بحث العلم في الخلاء أحب إليك أن يكون في الملإ، وأن لا تفرق بين أن ينكشف الحق على لسانك أو على لسان غيرك.
Adapun tanda dari niat yang lurus dan tulus dalam mencari ilmu adalah bahwa engkau lebih suka menuntut ilmu tanpa dilihat orang daripada menuntut ilmu di tengah keramaian. dengan begitu engkau tidak mempersoalkan apakah kebenaran itu datang melalui lisanmu atau melalui lisan orang lain

dimensi lahir batin dari suatu syariat

Hidayah juga memiliki dimensi lahir dan batin karena segala yang mempunyai dimensi lahir pasti memiliki dimensi batin, dan begitu sebaliknya. oleh sebab itu, syariat adalah dimensi lahir dari al-haqiqah (hakikat), dan ia merupakan dimensi batin dari syariah; keduanya merupakan sesuatu yang lazim (kelaziman yang tidak terpisahkan) secara maknawi. Syariat tanpa hakikat tidak berguna dan tidak membuahkan, sedangkan hakikat tanpa syariat itu batil, sia-sia, dan tidak ada kebaikan yang dapat diharapkan darinya. Berkaitan dengan persoalan di atas, seorang penyair berkata:

بَلِ التَّصَوُّفُ أَنْ تَصْفُو بِلاَ كَدَرٍ * وَتَتْبَعَ الحَقَّ وَالقُرْآنَ وَالدِّيْنَا
وَأَنْ تَرَى خَاشِعًا لِلّٰهِ مُكْتَئِباً * عَلىَ ذُنُوْبِكَ طُوْلَ الدَّهْرِ مَحْزُوْنًا
tasawuf adalah jika engkau jernih tanpa noda dengan mengikuti kebenaran, al-Quran dan agama

dan engkau menjadi khusyuk di hadapan Sang Mahakuasa berduka dan menangis atas dosa-dosamu sepanjang masa

Roja dan Khauf


(وعليك) بالرجاء والخوف
فإنهما من أشرف ثمرات اليقين وقد وصف الله بهما عباده السابقين فقال وهو أصدق القائلين: (أولئك الذين يدعون يبتغون الى ربهم الوسيلة أيُّهم أقرب ويرجون رحمته ويخافون عذابه إن عذاب ربك كان محذوراً) وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم قال الله تعالى: "أنا عند ظن عبدي بي فلْيظنَّ بي ما يشاء" وقال عليه الصلاة والسلام، قال الله تعالى: "وعزتي وجلالي لا أجمع على عبدي أمنين ولا خوفين إن هو أمِنَني في الدنيا أخفته يوم أبعث عبادي وإن هو خافني في الدنيا أمَنته يوم أجمع عبادي".

Harap dan cemas

Hendaklah engkau memperbanyak perasaan harap dan cemas, harap di sini ialah selalu menginginkan rahmat Allah dan senantiasa cemas dan takut pada siksa Allah, karena kedua sifat ini merupakan sifat keyakinan yang termulia.


Maha benar Allah Swt. dalam firman-Nya:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا [١٧:٥٧]
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. al-Isra`: 57)


Dalam hadist qudsi, Allah berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عِبْدِيْ بِيْ فَلْيَظُنَّ بِيْ مَا شَاءَ.
“Aku tergantung pada sangkaan hamba-Ku, maka terserahlah dalam berperasangka kepada-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Dalam hadist qudsi yang lain, Allah Swt. juga berfirman:

وَعِزَّتِيْ لَا أَجْمَعُ عَلَى عَبْدِيْ أَمَنَيْنِ وَلَا خَوْفَيْنِ إِنْ هُوَ أَمَنَنِيْ فِيْ الدُّنْيَا أَخَفْتُهُ يَوْمَ أَبْعَثُ عِبَادِيْ وَإِنْ هُوَ خَافَنِيْ فِي الدُّنْيَا أَمَنْتُهُ يَوْمَ أَجْمَعُ عِبَادِيْ.
“Demi kemuliaan-Ku, Aku tidak mengumpulkan atas hamba-Ku dua kesentosaan dan dua ketakutan. Apabila hamba-Ku merasa aman dari-Ku di dalam kehidupan dunia, Aku akan memberi ketakutan kepadanya di hari bangkitnya hamba-hamba-Ku dari alam kubur. Dan apabila hamba-Ku takut dengan-Ku di dalam kehidupan dunia, Aku akan memberi kesejahteraan kepadanya di hari berkumpulnya hamba-hamba-Ku.” (HR. Abu Nu`aim)


وأصل الرجاء معرفة القلب بسعة رحمة الله وجوده وعظيم فضله وإحسانه وجميل وعده لمن عمل بطاعته فيتولد من هذه المعرفة حالة فرح تسمى الرجاء. وثمرته المقصودة منه كثرة المسارعة في الخيرات، وشدة المحافظة على الطاعات فإن الطاعة هي السبيل الموصلة إلى رضوان الله وجنته.

Raja` (harapan) ialah makrifat hati terhadap keluasan rahmat Allah, kedermawanan, keagungan, keutamaan, dan kebaikan janji-Nya bagi orang yang taat kepada-Nya.
Dari makrifat ini timbul suatu keadaan bahagia yang dinamakan raja` dan hasil-hasil yang dicapai dari sifat ini ialah berlomba-lomba menjalankan kebaikan dan benar-benar menjaga ketaatan kepada Allah, karena ia telah mengetahui bahwa taat adalah salah satu jalan yang menghubungkan dirinya dengan rida dan sesama Allah Swt.

وأما الخوف فأصله معرفة القلب بجلال الله تعالى وقهره وغناه عن جميع خلقه وشديد عقابه وأليم عذابه اللذين توعد بهما من عصاه وخالف أمره فيتولد من هذه المعرفة حالة وجَل تسمى الخوف. وثمرته المقصودة منه ترك المعاصي وشدة الاحتراز منها فإن المعصية هي الطريق الموصلة إلى سخط الله ودار عقوبته.

Khauf(cemas) ialah makrifat hati terhadap keagungan Allah, kepedehan siksa-Nya pada orang-orang yang senantiasa bergelimang dengan dosa dan kemaksiatan serta melalaikan perintah-perintah-Nya.

Hasil-hasil yang dicapai dari sifat khauf ini ialah meninggalkan segala bentuk kemaksiatan dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhinya karena ia sadar bahwa kemaksiatan itulah yang mengantarkannya pada murka dan siksa Allah Swt.


وكل رجاء وكل خوف لا يحملان على فعل الموافقات وترك المخالفات معدودان عند أرباب البصائر من الترَّهات والتهويسات التي لا حاصل لها ولا طائل تحتها فإن من رجا شيئاً طلبه ومن خاف شيئا ًهرب منه لا محالة.

Setiap harapan yang tidak mendorong seseorang untuk berbuat segala kebaikan dan rasa cemas yang tidak memacu seseorang untuk tidak menjauhi segala kemaksiatan, keduanya tidak berguna dan tak berarti dalam tata kehidupan beragama setiap orang menurut pendapat sebagian orang makrifat. Karena barangsiapa mengharap sesuatu pasti ia mencarinya, dan barangsiapa takut terhadap sesuatu, tentu ia akan lari menjauhinya.


(واعلم) أن الناس ثلاثة "عبدٌ" قد أناب إلى ربه واطمأنت نفسه به وانقشعت ظلمات شهواته بإشراق أنوار قربه فلم تبق له لذة إلاَّ في مناجاته ولا راحة إلا في معاملته فصار رجاؤه شوقاً ومحبة وخوفه تعظيماً وهيبة،

Ada tiga kelompok manusia sehubungan denga harap dan cemas: pertama, manusia yang telah bertobat kepada Allah Swt., tenang dan tentram hatinya bila selalu bersama-Nya serta hilanglah segala bisikan hawa nafsu yang ada pada dirinya dengan cahaya pendekatannya pada Allah.


Ia pun tak pernah merasakan lezatnya hidup kecuali dengan bermunajatkepada Allah dan tak akan merasa senang kecuali ketika ia sedang berhubungan dengan-Nya.

Dalam keadaan seperti ini, rasa harapnya berubah menjadi rasa rindu dan cinta kepada Allah, sedangkan rasa cemasnya menjadi rasa pengagungan dan rasa takut kepada Allah.

"وعبدٌ" لا يأمن على نفسه من التقاعد عن المأمورات والركون إلى المحظورات، والذي ينبغي لهذا العبد استواء الخوف والرجاء حتى يكونا كجناحي الطائر. وفي الحديث: "لو وزن خوف المؤمن ورجاؤه لاعتدلا" وهذا حال أكثر المؤمني .

Kedua, manusia yang tak mampu menjaga dirinya untuk selalu menjalankan perintah bahkan cenderung melakukan hal-hal yang dilarang oleh-Nya. Untuk tipe manusia seperti ini, hendaknya ia mampu menyeimbangkan harap dan cemasnya laksana dua sayap burung yang kemampuannya dalam terbang selalu seimbang.


Rasulullah saw. bersabda,

لَوْ وُزِنَ خَوْفُ الْمُؤْمِنِ وَرَجَاؤُهُ لَاعْتَدَلَا.
“Andaikan rasa cemas dan harap seorang mukmin ditumbang, maka keduanya pasti seimbang.” (al-Hadist)

Kedua, manusia yang tak mampu menjaga dirinya untuk selalu menjalankan perintah bahkan cenderung melakukan hal-hal yang dilarang oleh-Nya. Untuk tipe manusia seperti ini, hendaknya ia mampu menyeimbangkan harap dan cemasnya laksana dua sayap burung yang kemampuannya dalam terbang selalu seimbang.

Rasulullah saw. bersabda,

لَوْ وُزِنَ خَوْفُ الْمُؤْمِنِ وَرَجَاؤُهُ لَاعْتَدَلَا.
“Andaikan rasa cemas dan harap seorang mukmin ditumbang, maka keduanya pasti seimbang.” (al-Hadist)

Memang sebagian besar kaum mukminin memiliki tingkat keseimbangan yang sama antara rasa harap dan cemas.


Memang sebagian besar kaum mukminin memiliki tingkat keseimbangan yang sama antara rasa harap dan cemas.


"وعبدٌ" قد غلب عليه التخليط واستولى عليه التفريط، فاللائق به غلبة الخوف عليه لينزجر عن المعاصي إلا عند الموت فينبغي أن يكون رجاؤه غالباً على خوفه لقوله عليه الصلاة والسلام: "لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله".

Ketiga, manusia yang dirinya telah dikuasai oleh kelalaian dan tak mampu membedakan halal dan haram, maka tipe manusia seperti ini sebaiknya lebih menitikberatkan rasa cemasnya daripada harapannya agar ia dapat terhindar dari segala kemaksiatan, kecuali ketika ia akan meninggal dunia, maka rasa harap yang harus ia titikberatkan.


Sabda Rasulullah saw.:

لَا يَمُوْتُنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ حُسْنُ الظَّنِّ بِاللَّهِ.
“Sungguh, janganlah meninggal dunia salah satu di antaramu, kecuali ia berbaik sangka dengan Allah (yakni menyangka Alllah mengampuni dosanya).” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

setiap kesusahan disertai kemudahan

وَلا تَجزَعْ لِحَادِثَةِ اللَيَاليفَمَا لِحَوَادِثِ الدُّنْيَا بَقاءُ
Janganlah kamu gelisah terhadap musibah-musibah yangterjadi pada malam hari.

Sebab, tiada satu pun musibah dunia itu yang kekal abadi.

Penjelasan:


Kebanyakan dari manusia kehilangan kesabaran, bahkan merasarisau tatkala tertimpa musibah. Mereka tidak menyadari bahwakehidupan dunia itu tidaklah selalu dalam satu kondisi. Oleh karenaitu, janganlah kalian merasa risau ketika tertimpa musibah. Sebab,musibah itu tak akan terus-terusan membelit kalian. Ingatlah bahwadalam setiap kesulitan pasti terdapat kemudahan, dan dalam setiappersoalan pasti terdapat jalan keluar.

Bersama Takdir



وَمَنْ نَزَلَتْ بِسًاحَتِهِ الْمَنَايَا فَلَا أَرْضٌ تَقِيْهِ وَلَا سَمَاءُ
وَأَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ وَلٰكِنْ إِذَا نَزَلَ القَضَا ضَاقَ الْفَضَاءُدَعِ الْأَيّامَ تَغْدِرُ كُلَّ حِيْنٍ فَمَا يُغْنِيْ عَنِ الْمَوْتِ الدَّوَاءُ
Apabila ajal datang padamu,

maka tak sejengkal bumi, tidak pula sebidang langit yang dapatmelindungimu.

Bumi Allah amatlah luas, tetapi

suatu saat apabila takdir sudah datang angkasa pun menjadi

sempit.

Biarlah hari-hari itu tidak setia setiap saat.

Sebab, obat apa pun juga tak akan menangkal ajal.

(Jawahir al-Adab wa Adab al-Fugaha).

Penjelasan:


Ketika ajal datang menghampiri seseorang, maka tidak adatempat baginya untuk menghindar dan berlindung. Ya, benar,kematian bagaikan suatu penyakit yang tiada obatnya. Lalu, apakahkita semua sudah siap untuk bertemu dengan detik-detik kematianitu?

Etika Belajar


Imam Syafi'i berguru kepada Imam Malik dalam rentang waktuyang cukup lama. Ia bermulazamah bersama sang guru, hinggagurunya itu wafat. Sebelum Imam Syafi'i meninggalkan KotaMakkahuntuk berguru kepada Imam Malik, ia tinggal bersama orang-orangHudzail dari suku Badui. Ia belajar bahasa Arab kepada mereka danmemahami watak orang-orangnya. Sebab, orang Badui ini terkenalsebagai sebaik-baiknya orang Arab dalam berbahasa.

Imam Syafi'i bermulazamah dengan mereka selama tujuh belastahun. Ketika mereka berpindah dari satu daerah ke daerah lain(nomaden), ia juga mengikuti mereka, ke mana pun mereka pergi.

Pada suatu hari, seorang lelaki dari Bani Zubair yang tak lain berasal dari Bani pamannya berkata kepadanya, “Wahai Abdullah, apakah kamu tak ingin selain menguasai bahasa Arab juga menguasai fiqh sehingga kamu akan menjadi orang yang berilmu di generasimu?”

Imam Syafi’i pun menjawab, “Siapa sosok guru yang menurutmu aku bisa berguru kepadanya?”

“Imam Malik, ia gurunya kaum muslimin saat ini,” jawabnyakepada Imam Syafi’i.

Kemudian, pergilah Imam Syafi'i ke Madinah untuk bergurukepada Imam Malik. Di sana, ia diasuh langsung oleh Imam Maliksecara baik dan diajarkan kepadanya ilmu-ilmu Islam, terutamailmu fiqih.

Dari bait-bait syair Imam Syafi’i berikut ini, kita akan dapati tatacara belajar dan membangun kepribadian dalam menuntut ilmu,sebagaimana yang telah dilakukan oleh imam kita ini.

إِصْبِرْ عَلَى مُرِّ الْجَفَا مِنْ مُعَلِّمٍ فَإنَّ رُسُوْبَ الْعِلْمِ فِي نَفَرَاتِهِ
وَمَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلًّمِ سَاعَةً تَجَرَّعَ ذُلَّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتِهِ
وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابهِ فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ
وَذَاتُ الْفَتَى واللهِ بِالْعِلْمِ وَالتُّقَى إِذَا لَمْ يَكُوْنَا لَا إِعْتِبَارَ لِذَاتِهِ
Sabarlah kamu akan pahitnya seorang guru.

Sebab, mantapnya ilmu karena banyaknya guru.

Barang siapa tak sudi merasakan pahitnya belajar,

ia akan bodoh selama hidupnya.

Barang siapa ketinggalan belajar pada waktu mudanya,

takbirlah kepadanya empat kali, anggap saja ia sudah mati.

Seorang pemuda akan berarti apabila ia berilmu danbertakwa.

Apabila kedua hal itu tidak ada dalam dirinya maka pemuda

itu pun tak bermakna lagi.

Fiqh dan Tasawuf Selalu Bersama




Dalam pandangan Imam Syafi'i, ulama itu terdiri atas tiga golongan‎ yaitu seorang ahli fiqh saja (fakih), seorang ahli tasawuf saja (sufi), dan seorang ahli fiqh tetapi juga ahli tasawuf (fakih-sufi).

Oleh karena itu, dalam konteks ini, Imam Syafi'i menasihati

seorang ahli fiqh agar juga menjadi seorang yang ahli tasawuf. Hal ini sebagaimana yang ia jelaskan dalam bait-bait syair berikut:

فَقِيْهًا وَصُوْفِيًا فَكُنْ لَيْسَ وَاحِدًا فَإِنِّي وَحَقِّ اللهِ إيَّاكَ أَنْصَحُ
فَذٰلِكَ قَاسٍ لَمْ يَذُقْ قَلْبُهُ تُقَى وَهَذَا جَهُوْلٌ كَيْفَ ذُوْ الْجَهْلِ يَصْلُحُ؟
Jadilah ahli fiqh dan sufi, jangan menjadi salah satunya.

Demi Allah, aku menasihatimu

Sebab, ahli fiqh itu kejam, hatinya tidak bertakwa.

Sedangkan, sufi itu bodoh, lalu bagaimana seorang yang bodoh

itu bisa mengubah sesuatu menjadi lebih baik?

aku akan berlari menuju Tuhanku

Sesungguhnya, pintu ampunan Allah Subhanahu wa ta’ala. itu senantiasa terbuka lebar bagi orang-orang yang tengah mengalami tekanan dosa dan takut pada Hari Pembalasan. Bagaimana tidak, sebab Allah Subhanahu wa ta’ala. telah mencurahkan nikmat-Nya, baik itu kenikmatan lahir maupun batin kepada mereka?!

Sejak manusia masih berupa segumpal darah yang berada di perut ibunya, Allah Subhanahu wa ta’ala. telah menjaganya secara baik, hingga ia lahir ke dunia. Lantas, jika kenyataannya seperti ini, apakah benaria telah menelantarkanmu begitu saja, dan membiarkanmu kelakmasuk neraka?!

Apabila kelak Allah Subhanahu wa ta’ala. memang menghendaki kamu masuk neraka-Nya, tentu saja Dia tak akan mengilhamkan kebenaran tauhid kepadamu, sejak kamu masih bayi! Oleh sebab itu, bagi siapa saja yang merasa dirinya penuh dengan lumuran dosa dan senantiasa terbayang-bayang olehnya, janganlah sekali-kali putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala.

Mengenai hal ini, Imam Syafi'i berkata dalam empat syairnya

berikut

إِنْ كُنْتَ تَغْدُوْ فِي الذُّنُوْبِ جَلِيْدًا وَتَخَافُ فِي يَوْمِ الْمَعَادِ وَعِيْدًا
فَلَقَدْ أَتَاكَ مِنَ الْمُهَيْمِنِ عَفْوُهُ وَأَفَاضَ مِنْ نِعَمِ عَلَيْكَ مَزِيْدًا
Apabila kamu berjalan di atas dosa yang banyak seperti salju,

dan kamu khawatir terhadap Hari Pembalasan kelak,

maka sebenarnya kamu telah mendapat ampunan dari Allah,

dan limpahan nikmat-Nya telah dianugerahkan kepadamu.

Janganlah kamu berputus asa dalam memohon kemurahan

Tuhanmu.

Sebab, sewaktu kamu masih berada di perut ibumu, kamu

hanyalah segumpal darah.

Apabila Tuhan menghendaki kamu kekal masuk neraka,

tentunya Dia tidak akan mengilhami ketauhidan kepadamu.

Penjelasan:

Ingatlah, wahai orang yang terbebani oleh dosa, sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala. yang mengilhamkan tauhid dalam kalbumu tidak akan membiarkanmu terperosok ke dalam jurang api neraka. Oleh sebab itu, kembalilah kamu kepada-Nya, sembari menyesali dan meminta ampunan atas segala dosa-dosamu. Sebab, Dia Maha Rahim terhadap para hamba-Nya. Katakanlah pada dirimu sendiri, “Aku akan berlarimenuju Tuhanku!”

Mempelajari Ilmu Akhirat



Imam Syafi'i berkata dalam dua bait syairnya:

مَنْ تَعَلَّمَ لِلْمَعَدِ فَازَ بِفَضْلٍ مِنَ الرَّشَادِ
وَ نَالَ حُسْنًا لِطَالِبِيْهِ وَ فَضْلَ نَيْلٍ مِنَ الْعِبَادِ
‎Barang siapa mempelajari ilmu akhirat,‏maka ia akan mendapatkan petunjuk (dari Allah Subhanahu wa ta’ala.).‏

Apabila ia mendapatkan ilmu tersebut dengan cara yang baik,‏

maka ia akan mendapatkan keutamaan dari orang-orang shalih.

Penjelasan:

Mempelajari ilmu akhirat itu memiliki beberapa faedah.Barang siapa mempelajarinya dengan tujuan untuk mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa ta’ala. maka ia akan mendapatkan keberuntungan, berupa hidayah dan petunjuk-Nya. Dan, apabila dalam mencarinya itudilakukan dengan cara yang baik, maka orang-orang shalih akanmemberinya sesuatu yang ia butuhkan (ilmu).

Mencintai Orang Shalih



Andai kamu ditanya: siapa saja di antara segolongan manusiayang kamu cintai, dan siapa saja di antara mereka yang kamubenci? Kira-kira jawaban apa yang dapat kamu berikan?!

Padahal, seyogianya cinta itu hanya karena Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan,bencipun seharusnya juga karena-Nya. Sebab, yang demikian itu adalahciri-ciri orang-orang mukmin yang bertakwa.

Apabila kita lihat jawaban Imam Syafi'i atas pertanyaan tersebut,kita dapati jawaban yang mengagumkan darinya. Dengan sangatrendah hati (tawadhu), ia menjawab, "Aku adalah orang yang sangatmencintai orang-orang shalih, meskipun aku sendiri bukanlahtermasuk golongan mereka!”

Dari jawaban tersebut sebenarnya Imam Syafi'i ingin agar cintanya kepada orang-orang shalih tersebut kelak akan menjadi syafaatnya di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebab, barang siapa mencintai segolongan manusia, maka di akhirat nanti ia akan dikumpulkanbersama mereka.

Selain mencintai orang-orang shalih, Imam Syafi'i juga sangatmembenci mereka yang kerjanya hanya berbuat kebatilan dankemaksiatan. Meskipun ia sendiri mengakui bahwa dirinya jugasama-sama masih suka melakukan maksiat.

Ya, benar, apabila seorang mukmin itu menyukai kebenaran (haq), maka ia akan menerima kebenaran itu dari mana pun berasal, baik itu dari anak kecil, orang dewasa, maupun dari orang yang jauh sekalipun orang yang tak dikenal. Sebaliknya, ia akanmenolak danberusaha mengubah kebatilan, tanpa gentar sedikit pun, meskipunhalitu berasal dari anak kecil, orang dewasa, maupun orang terdekatsekalipun.

Mengenai hal ini, Imam Syafi'i bersenandung:

أُحِبُّ الصَّالِحِيْنَ وَلَسْتُ مِنْهُمْ لَعَلِّي أَنْ أَنَالَ بِهِمْ شَفَاعَةِ
وَأَكْرَهُ مَنْ تِجَارَتُهُ الْمَعَاصِي وَلَوْ كُنَّا سَوَاءً فِي الْبِضَاعَةِ
Aku mencintai orang-orang shalih, meskipun diriku bukan

orang shalih.

Aku berharap semoga diriku akan memperoleh syafaat dari

mereka.

Aku tidak suka kepada orang yang kerjanya selalu maksiat,

meski diriku sama dengannya, suka berbuat maksiat

Mendekat Kepada Allah



📆 Ahad, 15 Rajab 1447 H / 04 Januari 2026
📚 *Tazkiyatun Nafs*
📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi M.A.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹       

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

إذا استغنى الناسُ بالدُّنيا فاستغنِ أنت بالله

Ketika orang-orang merasa cukup dengan dunia, hendaknya engkau merasa cukup dengan Allah.

وإذا فرحوا بالدُّنيا فافرح أنت بالله

Ketika mereka bergembira dengan dunia, hendaknya engkau bergembira dengan Allah.

وإذا أَنِسُوا بأحبابهم فاجعلْ أنسَك بالله

Ketika mereka merasa tenteram dengan orang-orang yang mereka cintai, hendaknya engkau jadikan ketenteramanmu bersama Allah.

وإذا تعرَّفوا إلى ملوكهم وكبرائهم وتقربوا إليهم لينالوا بهم العزَّ والرفعة؛ فتعرَّفْ أنت إلى الله وتودَّدْ إليه؛ تنالُ بذلك غاية العز والرفعة

Ketika mereka berusaha mendekat kepada para raja dan pembesar mereka agar mendapat kedudukan dan kemuliaan, hendaknya engkau berusaha mengenal dan mendekat kepada Allah, niscaya engkau akan mendapat puncak kedudukan dan kemuliaan.

Siapa yang merasa cukup dengan pertolongan Allah , maka dia tidak akan membutuhkan pertolongan dari selain Nya , sebagaimana nabi Ibrahim ketika ia dilempar ke api ,lalu datang malaikat menawarkan bantuan ,lalu ia menjawab “ adapun terhadapmu aku tidak membutuhkan pertolongan , aku hanya membutuhkan pertolongan Allah .

Siapa yang merasa bahagia ketika dekat dengan Allah ,maka yang lain tidak bisa membuatnya bahagia ,karena ia sudah mendekat dengan zat yang dengan menyebut namanya saja hati menjadi tenang.
 
Siapa yang tentram dalam dekapan Allah ,maka ia akan putus asa dari apa yang ada ditangan manusia dan ia hanya punya harapan kepadaNya yang menguasai langit dan bumi 

Orang yang kenal dengan Allah ,maka ia tidak sibuk cari muka untuk mencari kedudukan dihadapan manusia , baginya sebaik-baik kedudukan adalah mencari keridhaan Nya dan disanalah puncak kebahagiaan .

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Subscribe Youtube MANIS: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

Follow IG MANIS : 
https://instagram.com/majelis_manis?igshid=YmMyMTA2M2Y=

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSI : 5512 212 725
Konfirmasi:
wa.me/62852-7977-6222
wa.me/6287782223130

JANGAN BERSEDIH DENGAN SEDIKITNYA PENGANUT KEBENARAN

وَامْتَثَلَ مَا رَوَى الْحَاكِمُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ بِإِاسْنَادِهِ عَنِ السَّيِّدِ الْجَلِيلِ الْفُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَا تَسْتَوْحِشْ طُرُقُ الْهُدَى لِقِلَّةِ أَهْلِهَا وَلَا تَغْتَرَّنَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ وَلَا يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِينَ
Ikutilah pendapat yang diriwayatkan oleh Al-Hakim Abu Abdillah dengan isnadnya dari As-Sayyid yang mulai Al-Fudhail bin “Iyadh Radhiyallahu 'anhu berkata: “Janganlah merasa kesepian di jalan kebenaran karena sedikit pengikutnya dan jangan terpedaya dengan banyaknya orang yang rusak dan janganlah mengganggumu karena kurangnya orang-orang yang menempuhnya.”

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...