Etika Belajar
Imam Syafi'i berguru kepada Imam Malik dalam rentang waktuyang cukup lama. Ia bermulazamah bersama sang guru, hinggagurunya itu wafat. Sebelum Imam Syafi'i meninggalkan KotaMakkahuntuk berguru kepada Imam Malik, ia tinggal bersama orang-orangHudzail dari suku Badui. Ia belajar bahasa Arab kepada mereka danmemahami watak orang-orangnya. Sebab, orang Badui ini terkenalsebagai sebaik-baiknya orang Arab dalam berbahasa.
Imam Syafi'i bermulazamah dengan mereka selama tujuh belastahun. Ketika mereka berpindah dari satu daerah ke daerah lain(nomaden), ia juga mengikuti mereka, ke mana pun mereka pergi.
Pada suatu hari, seorang lelaki dari Bani Zubair yang tak lain berasal dari Bani pamannya berkata kepadanya, “Wahai Abdullah, apakah kamu tak ingin selain menguasai bahasa Arab juga menguasai fiqh sehingga kamu akan menjadi orang yang berilmu di generasimu?”
Imam Syafi’i pun menjawab, “Siapa sosok guru yang menurutmu aku bisa berguru kepadanya?”
“Imam Malik, ia gurunya kaum muslimin saat ini,” jawabnyakepada Imam Syafi’i.
Kemudian, pergilah Imam Syafi'i ke Madinah untuk bergurukepada Imam Malik. Di sana, ia diasuh langsung oleh Imam Maliksecara baik dan diajarkan kepadanya ilmu-ilmu Islam, terutamailmu fiqih.
Dari bait-bait syair Imam Syafi’i berikut ini, kita akan dapati tatacara belajar dan membangun kepribadian dalam menuntut ilmu,sebagaimana yang telah dilakukan oleh imam kita ini.
إِصْبِرْ عَلَى مُرِّ الْجَفَا مِنْ مُعَلِّمٍ فَإنَّ رُسُوْبَ الْعِلْمِ فِي نَفَرَاتِهِ
وَمَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلًّمِ سَاعَةً تَجَرَّعَ ذُلَّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتِهِ
وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابهِ فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ
وَذَاتُ الْفَتَى واللهِ بِالْعِلْمِ وَالتُّقَى إِذَا لَمْ يَكُوْنَا لَا إِعْتِبَارَ لِذَاتِهِ
Sabarlah kamu akan pahitnya seorang guru.
Sebab, mantapnya ilmu karena banyaknya guru.
Barang siapa tak sudi merasakan pahitnya belajar,
ia akan bodoh selama hidupnya.
Barang siapa ketinggalan belajar pada waktu mudanya,
takbirlah kepadanya empat kali, anggap saja ia sudah mati.
Seorang pemuda akan berarti apabila ia berilmu danbertakwa.
Apabila kedua hal itu tidak ada dalam dirinya maka pemuda
itu pun tak bermakna lagi.
Komentar