TUNTUTAN PENDIDIKANABAD KE 21

TUNTUTAN PENDIDIKAN ABAD KE-21
HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS)

MAKALAH

Untuk memenuhi tugas struktur mata kuliah Pengembangan Kurikulum

Dosen Pengampu:
Dr. Asep Nursobah, S.Ag.









Makalah diskusi kelompok 8:

Kristin Wiranata 1152020108
Maisaroh Ritonga 1152020125
Mariah 1152020128







JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah subhanahu wata’ala yang telah memberikan kita beribu kenikmatan. Nikmat sehat, nikmat beribadah dan nikmat mencari ilmu pengetahuan. Sholawat serta salam tak lupa tercurah limpahkan kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya, kepada keluarganya serta kepada kita semua selaku umatnya hingga akhir zaman. Beliaulah yang telah mengantarkan kita semua dari zaman kegelapan hingga zaman terang benderang. 
Penulis mengucapkan ungkapan terimakasih kepada Dr. Asep Nursobah, S.Ag. selaku dosen pengampu mata kuliah Pengembangan Kurikulum yang telah mengarahkan penulis dalam pembuatan makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Semoga makalah ini menjadi sumber belajar khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca dalam menggali pemahamannya mengenai tuntutan pendidikan abad 21 (HOTS). 
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh



  
       Bandung, 13 Desember 2017


         Penyusun




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Makalah 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. Tuntutan Pendidikan Abad 21 3
B. Inovasi Pendidikan Abad 21 (Higher Order Thinking Skills) 5
1. Kualitas Karakter 6
2. Kompetensi 4C’s /HOTS dan Contoh Penerapannya didalam Pembelajaran PAI 8
3. Literasi Dasar 12
BAB III PENUTUP 14
DAFTAR PUSTAKA 15
















BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Pendidikan hendaknya mampu menjawab atas berbagai permasalahan yang ada. Ketidaksiapan generasi penerus bangsa dalam menghadapi zaman modern yang serba canggih yang mana didalamnya terdapat kompetisi persaingan yang ketat dan bebas akan menyebabkan lahirnya generasi muda yang rapuh dan mudah terombang-ambing oleh kuatnya arus modernisme. Kecanggihan ilmu dan teknologi juga membawa dampak negatif, jika tidak dihadapi dengan bijak, maka dapat memberikan imbas negatif. Di dalam filsafat, zaman modern merupakan zaman dimana manusia melakukan pemuasan terhadap materialisme, dan tentunya zaman ini meminta “korban”. Entah mengorbankan nilai-nilai agama, norma-norma, dan melunturkan karakter diri demi memperoleh kepuasan materi.
Abad 21 mendatang jika disikapi dengan baik, maka akan melahirkan kekuatan tersendiri. Oleh karena itu, guna menghadapi berbagai permasalahan yang ‘sudah muncul’ di abad ini dan ‘diperkirakan akan memuncak’ di abad 21, maka perlunya kita sebagai calon pendidik untuk memberikan inovasi di bidang pendidikan sebagai bekal untuk peserta didik. Diharapkan kelak mereka mampu menjadi ilmuwan yang kompetitif, kolaboratif, memiliki rasa tanggung jawab, kreatif serta berpikir kritis namun tetap memiliki karakter yang kokoh. 
Berangkat dari permasalahan ini, kami merasa tergugah untuk menyusun makalah dengan judul “Tuntutan Pendidikan Abad 21, Higher Thinking Order Skills (HOTS)”. Diharapkan kita sebagai calon pendidik memiliki kesiapan untuk menghadapi abad 21 ini. Dan juga sebagai bekal untuk berinovasi di bidang pendidikan yang hasilnya layak untuk disuguhkan kepada masyarakat. Semoga makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.




Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, penulis menarik rumusan masalah sebagai berikut: 
Apa tuntutan pendidikan di abad 21?
Bagaimana inovasi pendidikan yang tepat guna menghadapi abad 21?
Apa yang dimaksud dengan Higher Order Thinking Skills? 

Tujuan Makalah
Dari rumusan masalah diatas, penulis menarik tujuan penulisan makalah sebagai berikut:
Mengetahui tuntutan pendidikan di abad 21.
Mengetahui inovasi pendidikan di abad 21.
Mengetahui apa yang dimaksud dengan Higher Order Thinking Skills.


















BAB II
PEMBAHASAN

Tuntutan Pendidikan Abad 21
Abad ke-21 ditandai sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi, artinya kehidupan manusia pada abad ke-21 mengalami perubahan-perubahan yang fundamental. Dikatakan abad ke-21 adalah abad yang meminta kualitas dalam segala usaha dan hasil kerja manusia. Dengan sendirinya abad ke-21 meminta sumberdaya manusia yang berkualitas. Seperti yang sudah kita ketahui, apabila ingin memajukan suatu negara maka dimulai dengan memperbaiki kualitas SDM-nya, adapun cara memperbaiki kualitas SDM ialah melalui pendidikan. Dengan kata lain diperlukan suatu paradigma baru dalam menghadapi tantangan-tantangan baru yang menuntut terobosan pemikiran agar mampu menghasilkan output peserta didik yang bermutu dan dapat bersaing dalam dunia yang serba terbuka.
Abad 21 ditandai dengan berkembangnya teknologi informasi yang sangat pesat, tentu diperlukan adanya kesiapan dalam menghadapi perkembangan ini. Arus informasi yang sangat pesat, apabila tidak dapat diseleksi dengan baik, maka dapat mempengaruhi kepribadian informan. Oleh karena itu diperlukan penegasan dan penguatan karakter guna membekali diri peserta didik, agar peserta didik mampu mengarungi luasnya ilmu pengetahuan dengan tetap memiliki kepribadian dan karakter yang kuat. Lalu bagaimana cara menguatkan karakter dalam diri peserta didik? Diperlukan adanya pendekatan pembelajaran yang inovatif, yakni pendekatan saintifik sebagaimana yang tertuang di dalam K.13.
Dengan adanya pendekatan pembelajaran yang menuntut kompetensi higher order thinking skills (keterampilan berpikir tingkat tinggi), maka seorang guru mengajarkan peserta didik untuk dapat berpikir kritis terhadap berbagai fenomena yang ada, sehingga diharapkan peserta didik mampu memberikan persepsi dan interpretasi yang benar dan tepat sebagai solusi atas permasalahan-permasalahn yang muncul di realita. Di dalam pembelajaran HOTS juga siswa diajarkan untuk dapat menghasilkan gagasan baru yang inovatif dan bermanfaat. Sehingga dengan begitu seorang siswa diharapkan dapat menjadi ilmuwan yang memiliki pemikiran kritis (tidak jumud), selalu berkreasi serta berinovasi dengan tetap memiliki karakter yang tangguh.
Namun perlu diinsyafi, untuk dapat berpikir kritis dan kreatif maka diperlukan adanya kemampuan ‘melek informasi’. Dalam artian, mampu memilah-memilih berbagai informasi yang ada dengan menggunakan literatur yang ‘dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya’. Literatur yang dapat digunakan sebagai pijakan penggalian informasi tidak hanya terdapat di dalam media cetak (buku-buku) namun informasi juga kini telah disuguhkan di media online. Apabila tidak mampu menyeleksi informasi yang tersedia, maka informan akan disesatkan oleh informasi tersebut dan secara tidak langsung akan berimplikasi kepada pembunuhan karakter melalui akses-akses informasi negatif. Oleh karena itu, guru perlu membekali peserta didik yang hidup di zaman millenium yakni suatu kemampuan ‘melek informasi’, agar mereka mampu untuk memfilter diri dalam mengakses berbagai informasi yang tersedia.
PERANAN PENDIDIKAN DI ABAD KE-21
Terdapat berbagai aturan pembelajaran yang ideal diterapkan di pendidikan abad ke-21, yakni sebagai berikut:
Pembelajaran harus berpusat pada siswa (student centered). Dalam model kelas ini, guru bertindak sebagai fasilitator bagi siswa. Siswa tidak akan menerima informasi secara pasif, namun para siswa akan mengumpulkan informasi sendiri, di bawah bimbingan gurunya. Gaya belajar yang digunakan siswa pun beragam. Mereka terlibat dalam berbagai jenis aktivitas pembelajaran secara langsung, dan juga siswa menunjukkan pembelajaran dengan berbagai cara belajar yang berbeda (5M). Di dalam konsep pembelajaran ini kegiatan belajar adalah tentang penemuan, bukan menghafal fakta.
Pendidikan harus kolaboratif. Siswa harus belajar bagaimana cara berkolaborasi dengan orang lain. Siswa diharapkan dapat bekerja sama dengan orang lain yang memiliki budaya yang berbeda, ideologi/sudut pandang yang berbeda. Dengan begitu siswa mampu mengembangkan berbagai bakat dan minatnya dengan cara berkolaborasi dengan orang lain. Karena tidak dapat dipungkiri, bahwa manusia merupakan zoon politicon atau makhluk sosial. 
Belajar harus memiliki konteks. Sistem pembelajaran student centered tidak berarti bahwa guru menyerahkan semua kendali kelas kepada siswa tanpa kendali. Memang siswa didorong untuk belajar dengan cara yang berbeda, namun guru tetap memberikan panduan mengenai keterampilan yang perlu diperoleh atau kompetensi yang wajib dicapai. Guru dapat membuat sebuah titik untuk membantu siswa memahami bagaimana keterampilan yang mereka bangun dapat diterapkan dalam kehidupan mereka. Karena siswa akan lebih termotivasi untuk belajar sesuatu yang bisa mereka lihat nilainya atau kegunannya di dunia nyata.
Sekolah harus diintegrasikan dengan masyarakat. Untuk mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, kita perlu memodelkan apa itu warga negara yang bertanggung jawab. Sekolah diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan dan permasalahan yang muncul di masyarakat. Yakni dengan membekali siswa berbagai komptensi/keterampilan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Oleh karenanya, sistem pendidikan haruslah menyesuaikan dengan kearifan lokal.

Inovasi Pendidikan Abad 21 (Higher Order Thinking Skills)
Di poin sebelumnya, kita mendapati adanya berbagai tuntutan pendidikan di abad 21, yang mana dalam menjawab tuntutan tersebut diperlukan adanya pembekalan keterampilan abad 21 yang dibutuhkan oleh setiap siswa, yakni sebagai berikut:
Kualitas Karakter (bagaimana siswa beradaptasi pada lingkungan yang dinamik)
Adapun karakter yang diharapkan muncul dalam diri siswa adalah:
Jenis Karakter
Deskripsi

Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan agama, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

Nasionalis
Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi dan politik bangsa.

Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

Integritas
Adanya keterkaitan antara berbagai disiplin ilmu, dimana materi pembelajaran disusun secara nondikotomik. Dan adanya keterkaitan antara pengetahuan dengan sikap.

Gotong-royong
Tindakan yang memperlihatkan rasa senasib- sepenanggungan. Yakni mampu bekerja sama dengan orang lain guna mencapai tujuan yang telah disepakati.

Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dengan dirinya.

Tanggung jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa. 

Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil yang baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

Peduli lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

Proses pendidikan dalam realitanya masih mengutamakan aspek kognitif ketimbang aspek afektif dan psikomotoriknya. Bahkan konon Ujian Nasional pun lebih mementingkan aspek intelektualnya ketimbang aspek kejujuran. Bukankah hal ini sangat bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional? Daniel Goleman mengingatkan kepada kita bahwa kecerdasan emosional dan sosial dalam kehidupan diperlukan 80% sementara kecerdasan intelektual hanyalah 20% saja. Dalam hal inilah maka pendidikan karakter diperlukan untuk membangun kehidupan yang lebih beradab, bukan kehidupan yang justru dipenuhi dengan perilaku biadab. Mengapa pendidikan karakter penting? Setidaknya pendidikan karakter penting dengan alasan: (1) karakter adalah bagian esensial manusia dan karenanya harus dididikkan; (2) saat ini karakter generasi muda (bahkan juga generasi tua) mengalami erosi, pudar, dan kering keberadaannya; dan berbagai alasan lain sebagainya.
Untuk mengimplementasikan penguatan karakter pada diri peserta didik maka diperlukan adanya: kurikulum pendidikan karakter, pembelajaran berbasis karakter, dan evaluasi terhadapnya. Kurikulum pendidikan karakter di sekolah meliputi dua kurikulum, yaitu kurikulum tersembunyi dan kurikulum terbuka. Dengan kata lain, kurikulum pendidikan karakter haruslah integratif, baik dari segi materi pembelajaran, strategi pembelajaran, dan adanya penanaman nilai karakter didalam setiap aktivitas pembelajaran. Untuk menerapkan kurikulum pendidikan karakter, maka diperlukan adanya penerapan pendekatan pembelajaran berkarakter yang bertujuan mencapai kompetensi inti, yakni kompetensi spiritual/religius, kompetensi sosial, kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan. Sehingga pendidikan karakter ini lebih menekankan kepada aspek sikap yang core-nya ialah religius. Dengan adanya karakter yang kuat maka akan muncul berbagai perilaku baik dalam diri siswa. Adapun di dalam evaluasi pendidikan karakter, guru hendaknya secara intens menilai sikap siswa baik dengan cara observasi ataupun dengan cara lainnya dan tentunya berpedoman kepada evaluasi penilaian (otentik) terhadap kegiatan pembelajaran saintific methods. Dan guru pun hendaknya melakukan apresiasi yang tepat terhadap kegiatan belajar siswa. Sekecil apapun gerak-gerik atau tingkah laku siswa patut dievaluasi.
Kompetensi 4C’s /HOTS (bagaimana siswa memecahkan masalah) dan Contoh Penerapannya didalam Pembelajaran PAI
Kompetensi 4C’s /HOTS
Anderson dan Krathwohl (2001) mengungkapkan bahwa kompetensi berpikir dapat dikelompokkan menurut taksonomi Bloom, seperti pada tabel di bawah.
Taksonomi Bloom
Tingkatan Berpikir
Tinjauan

Knowledge (C1)
Comprehension (C2)
Application (C3)
Analysis (C4)
Synthesis (C5)
Evaluation (C6)
Lower-Order
Lower-Order
Higher-Order
Higher-Order
Higher-Order
Higher-Order
Mengingat
Memahami
Menerapkan
Menganalisis
Menciptakan
Mengevaluasi 

Keterampilan berpikir tingkat tinggi atau dikenal dengan istilah Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada taksonomi Bloom, merupakan urutan tingkat berpikir (kognitif) dari tingkat rendah ke tinggi. Pada ranah kognitifnya, HOTS berada pada level analisis, sintesis dan evaluasi. HOTS versi lama berupa kata benda yaitu pengetahuan, pemahaman, terapan, analisis, sintesis, evaluasi. Sedangkan HOTS setelah direvisi menjadi kata kerja: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. Adapun pendekatan pembelajaran yang ideal di abad 21 adalah dengan menerapkan HOTS ini menjadi 4 C’s Learning, sebagai berikut:
Critical Thinking (Berpikir Kritis). Pemikiran kritis adalah proses penyaringan, analisis dan memberikan pertanyaan terhadap informasi/konten yang ditemukan di berbagai media, dan kemudian mensintesisnya dalam bentuk yang memiliki nilai kepada individu. Hal ini memungkinkan siswa untuk memahami konten yang disajikan dan menerapkannya pada kehidupan mereka sehari-hari. Martini Yamin mendefinisikan berpikir kritis adalah Keterampilan individu dalam menggunakan proses berpikirnnya untuk menganalisa argumen dan memberikan interpretasi berdasarkan persepsi yang benar dan rasional, analisis asumsi dan bias dari argumen, dan interpretasi logis.
Collaboration (Kolaborasi). Kolaborasi adalah keterampilan memanfaatkan berbagai kepribadian, talenta, dan pengetahuan dengan cara menciptakan hasil maksimal. Hasilnya harus memberi manfaat bagi seluruh masyarakat atau kelompok. Karena bersinergi, hasil bersama memiliki nilai lebih besar daripada jumlah nilai setiap hasil individu.
Creativity (Kreativitas). Kreativitas adalah keterampilan individu dalam menggunakan proses berpikirnya untuk menghasilkan gagasan yang baru, konstruktif berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang rasional maupun persepsi, dan intuisi individu. Pada abad ke-21, seorang individu harus bisa menciptakan sesuatu yang baru atau menciptakan sesuatu dengan cara baru, dengan memanfaatkan pengetahuan yang telah dia dapatkan. Cipataan tersebut tidak hanya berupa seni, tetapi juga berupa berbagai solusi terhadap masalah yang muncul di dunia nyata.
Communication (Komunikasi). Komunikasi adalah keterampilan menyajikan informasi dengan cara yang jelas, ringkas dan berarti. Ini juga menunjukkan kepada kemampuan kehati-hatian di dalam mendengarkan dan mengartikulasikan pemikiran. Komunikasi memiliki berbagai tujuan, yakni: menginformasikan, menginstruksikan, memotivasi, dan meyakinkan.
Cara-cara yang dapat melatih siswa untuk berpikir tingkat tinggi
Membuat Peta Konsep
Mengajukan Pertanyaan
Menyusun buku harian/jurnal pembelajaran
Pembelajaran kooperatif berbasis TI (Teknologi Informasi)
Menggunakan analogi
Eksperimen berbasis inkuiri
Metode Proyek
Latihan-latihan membuat keputusan
Contoh Penerapan HOTS didalam Pembelajaran PAI
Berbusana Muslim dan Muslimah Merupakan cermin Kepribadian dan Keindahan diri
Berpikir Kritis. Memberikan pertanyaan terhadap berbagai informasi yang ditemukan di berbagai media dan realita yang nampak mengenai hal-hal yang berkaitan dengan urgensi berpakaian syar’i. Contohnya dengan memberikan intruksi berikut: “Carilah melalui berbagai media, para aktris dan aktor atau public figure yang telah mengubah penampilan cara berpakaiannya secara islami atau syar’i. Kemudian berilah argumen mengenai dampak apa saja yang mempengaruhi pola pikir masyarakat sehingga mereka tertarik untuk berpakaian syar’i karena mengikuti public figurenya? dan berikan juga argumen mengenai beberapa manfaat berhijab syar’i !” 
Kolaborasi. Kolaborasi dapat diterapkan dengan cara melakukan sinergitas yakni kerja sama dengan orang lain dengan mengerahkan berbagai keterampilan yang dipunya guna menciptakan hasil yang memiliki nilai manfaat. Contohnya: memberikan intruksi kepada siswa agar dapat bekerjasama dengan siswa lainnya dalam menebar dakwah (berpakaian Islami), dengan cara mengerahkan talenta yang dimiliki masing-masing siswa. Para siswa diperintahkan untuk membuat tugas dengan format penilaian proyek terhadap kegiatan yang dilakukannya.
Kreativitas. Dengan kerjasama ini diharapkan mampu memberi berbagai solusi atau setidaknya sosialisasi mengenai urgensi berpakaian Islami di lingkungan kelas ataupun lingkungan sekolah dan masyarakat.
Mengkomunikasikan. Para siswa mencoba untuk mengenalkan gagasannya kepada lingkungannya, baik guru, sesama teman, warga sekolah, keluarga, dan masyarakat mengenai pentingnya menutup aurat sebagai identitas muslim dan muslimah yang berkepribadian.
Toleransi Sebagai Alat Pemersatu Bangsa 
Berpikir Kritis. Memberikan pertanyaan terhadap berbagai informasi yang ditemukan di berbagai media dan realita yang nampak mengenai hal-hal yang berkaitan dengan urgensi toleransi. Contohnya memberikan pertanyaan: “Pengrusakan tempat-tempat ibadah, tawuran antarwarga, demonstrasi mahasiswa, dan berbagai macam tindakan kekerasan lainnya telah menggambarkan secara jelas pudarnya persatuan dan rasa toleransi. Bagaimana pendapatmu mengenai kondisi seperti ini?”
Kolaborasi. Kolaborasi dapat diterapkan dengan cara melakukan sinergitas yakni kerja sama dengan orang lain dengan mengerahkan berbagai keterampilan yang dipunya guna menciptakan hasil yang memiliki nilai manfaat. Contohnya: Memberikan intruksi kepada siswa agar bekerja sama untuk menganalisis realita dengan mencurahkan pendapat/pandangan kritisnya masing-masing, lalu melakukan pembagian tugas sesuai dengan bakat atau potensi yang dimiliki temannya, misalnya Umar pandai dalam berkomunikasi, Aisyah pandai dalam merangkai kata-kata, Zainab mampu membuat power point yang bagus, Ahmad pandai menjadi pemimpin, maka mereka membagi-bagi tugas semisal Ahmad menjadi ketua kelompok yang memiliki tanggung jawab untuk memimpin kelompoknya, Aisyah menjadi notulen, Zainab membuat media powerpoint, dan Umar membimbing kegiatan diskusi didalam kelompoknya.
Kreativitas. Dengan kerjasama kelompok yang diketuai oleh Ahmad ini, kelompoknya mampu mengkritisi dan menganalisa “Urgensi toleransi di dalam realita”, dan mereka mampu memberikan berbagai solusi terhadap permasalahan dan pertanyaan yang diberikan oleh guru.
Mengkomunikasikan. Ahmad dan kelompoknya berusaha untuk mepresentasikan hasil kreativitasnya yang berupa gagasan (solusi untuk mempererat kesatuan dengan rasa toleransi) semaksimal mungkin dihadapan teman-temannya dan mengupload presentasinya ke media sosial contohnya youtube.
Literasi Dasar (bagaimana siswa menerapkan keterampilan dasar sehari-hari)
Program-program pendidikan yang memenuhi etika tentu dilaksanakan berbasis data, dari data terkini yang tersedia disusunlah rencana program baik bersifat strategis maupun operasional untuk mengatasi berbagai masalah yang tampak dari data-data tersebut. Disebutkan bahwa salah satu keterampilan utuh abad 21 yang dibutuhkan adalah memiliki kemampuan literasi dasar yang baik, yaitu bagaimana menerapkan keterampilan inti untuk kegiatan sehari-hari.
Ada enam komponen dalam literasi dasar ini, yaitu kemampuan baca-tulis-berhitung, sains, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), keuangan, budaya, dan kewarganegaraan. Penjelasan keenam komponen literasi dasar tersebut ialah sebagai berikut.
Literasi baca-tulis-berhitung (calistung) merupakan literasi dasar (basic literacy) yang berkaitan dengan kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan menganalisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengkomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.
Literasi sains, merupakan ranah utama dari Program for International Student Assessment (PISA). Literasi sains adalah kemampuan menggunakan pengetahuan sains untuk mengidentifikasikan permasalahan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti dalam rangka memahami serta membuat keputusan tentang alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia.
Literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), adalah kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti perangkat keras atau hardware, perangkat lunak atau software, serta etika dan etiket dalam memahami teknologi. Dalam praktiknya, juga pemahaman dalam menggunakan komputer atau computer literacy yang di dalamnya termasuk menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengolah data, serta mengoperasikan beberapa perangkat.
Literasi keuangan. Bagi sebagian masyarakat pada bagian ini, literasi ekonomi adalah hal yang fundamental terutama bagi pemangku kebijakan untuk urusan ekonomi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) misalnya mengeluarkan definisi bahwa yang dimaksud literasi keuangan adalah aktivitas untuk meningkatkan pengetahuan, keyakinan, keterampilan konsumen, dan masyarakat luas sehingga mereka mampu mengelola keuangan dengan baik.
Literasi budaya adalah kemampuan untuk mengetahui budaya yang dimiliki bangsa.
Literasi kewarganegaraan adalah kemampuan seseorang dalam memahami kebijakan dan keputusan dalam penyelenggara negara. Literasi yang disebutkan juga terdapat dalam program global UNESCO. Karena dalam misi yang dikeluarkan adalah melakukan pembangunan berkelanjutan sesuai misi dari SDG'S atau Sustainable Development Goals.

BAB III
PENUTUP

Abad ke-21 ditandai sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi, artinya kehidupan manusia pada abad ke-21 mengalami perubahan-perubahan yang fundamental. Dikatakan abad ke-21 adalah abad yang meminta kualitas dalam segala usaha dan hasil kerja manusia. Dengan sendirinya abad ke-21 meminta sumberdaya manusia yang berkualitas. Pembenahan kualitas SDM adalah dengan melakukan pembenahan pada sistem pendidikan. Dalam artian perlu dirancang suatu paradigma baru yang menuntut terobosan pemikiran agar mampu menghasilkan peserta didik yang bermutu dan dapat bersaing dalam dunia yang serba terbuka.
Dalam menjawab tuntutan pendidikan abad 21 sekiranya perlu memperhatikan tantangan yang dihadapi oleh suatu negara dalam menyelenggarakan sistem pendidikannya tersebut. Tantangan pendidikan sendiri meliputi dua faktor, yakni dari dalam (internal) dan faktor luar (ekternal). Faktor eksternal yang menjadi tantangan bagi pendidikan ialah terdapat persaingan yang sangat kompetitif di dunia ini yang mana menuntut adanya kompetensi dan berbagai keterampilan yang memadai. Selain itu pula, di zaman modern segalanya serba canggih, bahkan berbagai informasi (positif/negatif) dapat diakses oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Oleh karena itu, suatu sistem pendidikan hendaknya mampu membekali kemampuan ‘melek informasi’ kepada peserta didik, agar mereka memiliki wawasan luas dengan memanfaatkan berbagai literatur yang ada namun cerdas dalam menyeleksi informasi yang diterima, sehingga peserta didik tetap memiliki karakter yang kokoh. Adapun faktor internal yang menjadi tantangan bagi dunia pendidikan adalah, rapuhnya moral dan karakter generasi muda (bahkan ada juga generasi tua). Pendidikan diharapkan tidak hanya mengutamakan aspek kognitif tetapi juga menekankan aspek sikap dan psikomotor. Dengan sistem pendidikan inilah, diharapkan pendidikan mampu melahirkan generasi unggul yang cerdas spiritual, cerdas intelektual serta cerdas emosional.

DAFTAR PUSTAKA

Maksudin. 2013. Pendidikan Karakter Nondikotomik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Martinis Yamin. 2008. Paradigma Pendidikan Konstruktivistik. Jakarta: Gaung Persada Press
Suyadi. 2013. Mencegah Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Melalui Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Penerbit ANDI
Syaiful Sagala & Syawal Gultom. 2011. Praktik Etika Pendidikan di Seluruh Wilayah NKRI. Bandung: Alfabeta

Internet
Aisyah Turidho. Tantangan Kurikulum dan Pembelajaran di Abad-21. Diakses dari: Https://www.slideshare.net/mobile/aisyahturidho/tantangan-kurikulum-dan-pembelajaran-di-abad-21 pada tanggal 14 November 2017 pukul 20.26 WIB
Doni Adhitia. 2016. Kemendikbud Kenalkan Enam Komponen Literasi Dasar. Diakses dari: http://www.klikanggaran.com/kebijakan/kemendikbud-kenalkan-enam-komponen-literasi-dasar.html pada tanggal 14 Nopember 2017 pukul 11.21 WIB
Dorotea Knezevic. 21st Century Skills: 6 C’S of Education. Diakses dari: https://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://blog.awwapp.com/6-cs-of-education-classroom/&prev=search pada tanggal 14 Nopember 2017 pukul 11.16 WIB
Jennifer Rita Nichols. 2015. 4 Essential Rules Of 21st Century Learning. Diakses dari: https://www.teachthought.com/learning/4-essential-rules-of-21st-century-learning/ pada tanggal 14 Nopember 2017 pukul 10.53 WIB
Komarudin Sukmana. 2016. Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS) Untuk Siswa SD. Diakses dari: http://mytuaianilmu.blogspot.com/2016/10/keterampilan-berpikir-tingkat-tinggi-.html?m=1 pada tanggal 14 Nopember 2017 pukul 21.21 WIB

Jurnal
Etistika Yuni Wijaya, dkk. 2016. Transformasi Pendidikan Abad 21 Sebagai Tuntutan Pengembangan Sumber Daya Manusia di Era Global. Malang: Prosiding Seminar Pendidikan Nasional Pendidikan Matematika 2016 Universitas Kanjuruhan Malang. Vol. 1: 263

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAFALAN QUR'AN HILANG KARENA MAKSIAT

PERTANYAAN DI PADANG MAHSYAR

EMPAT UNSUR TAWAKKAL