SEJARAH FILSAFAT EKSISTENSIALISME
SEJARAH FILSAFAT KONTEMPORER
(EKSISTENSIALISME)
Dalam rangka melengkapi tugas perkuliahan mata kuliah
Filsafat Umum
Dosen
Zaenal Muftie, M.Ag
Disusun oleh kelompok 11
1152020108 Kristin Wiranata
1152020123 M. Rais Umam Bishri
1152020130 Maspupah Zakiah
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. yang mana karena limpahan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah. Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu, sehingga makalah ini dapat tersusun. Makalah ini bertujuan untuk memenuhi syarat nilai mata kuliah Filsafat Umum. Penulis menyadari bahwa apa yang disajikan dalam makalah ini terdapat banyak kekurangan, baik menyangkut isi maupun penulisan. Kekurangan-kekurangan tersebut terutama disebabkan karenakan keterbatasan pengetahuan serta kemampuan penulis. Hanya dengan bantuan dari berbagai pihak untuk memberikan kritik dan saran yang membangun maka kekurangan-kekurangan tersebut dapat berubah menjadi lebih baik.
Bandung, 28 April 2016
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 1
BAB II PEMBAHASAN 2
Pengertian Eksistensialisme 2
Sejarah Eksistensialisme 4
Tokoh-tokoh Eksistensialisme 8
Aliran-aliran Eksistensialisme 22
Ciri-ciri, Prinsip serta Kelebihandan Kekurangan Eksistensialisme 23
BAB III PENUTUP 26
DAFTAR PUSTAKA 27
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Filsafat memiliki berbagai ragam pemikiran dengan ciri khasnya masing-masing. Antara satu jenis dengan jenis yang lainnya memiliki perbedaan, persamaan dan bahkan ada yang bertentangan. Contohnya, dalam epistemologi filsafat terdapat cabang yang bertolak belakang, seperti empirisme dengan rasionalisme, lalu keduanya disintetis oleh kritisisme.
Filsafat juga memiliki sejarahnya tersendiri, yang dimulai dari Zaman Yunani Kuno- Zaman Pertengahan - Zaman Pencerahan -Zaman Modern - Zaman Pascamodernisme. Zaman Modern merupakan zaman dimana filsafat terbebas dari kungkungan masa kegelapan. Adapun di dalam zaman modern filsafat dibagi dalam beberapa kelompok yakni, rasionalisme, empirisme, kritisisme; dialetika idealisme dan dialetika materialisme; fenomenologi dan eksistensialisme. Diantara filsafat modern, filsafat yang menonjolkan mengenai eksistensi manusia itu sendiri adalah eksistensialisme.
Eksistensialisme adalah sebagai bentuk ketidakpuasan dan pertentangan dengan materialisme dan idealisme. Pada prinsipnya, eksistensialisme memandang materialisme dan idealisme tidak lengkap. Untuk dapat memahami mengenai eksistensialisme, kami menyusun makalah yang berisi tentang pengertian, sejarah, tokoh-tokoh, serta kelebihan dan kekurangan eksistensialisme.
Rumusan Masalah
Setelah menelusuri beberapa sumber buku dan artikel yang terkait dengan sejarah filsafat kontemporer; eksistensialisme, penulis menarik beberapa rumusan masalah, diantaranya:
Apa pengertian Eksistensialisme?
Bagaimana sejarah Eksistensialisme?
Siapa tokoh-tokoh dalam Eksistensialisme?
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Eksistensialisme
Secara etimologis eksistensialisme berarti berdiri sendiri atau berada di (ke) luar. Eks berarti ke (di) luar, dan (s)istens berarti menempatkan atau berdiri. Oleh karena itu, hanya manusialah yang dapat bereksistensi, sedangkan binatang dan organisasi tidak. Apabila benda dan binatang “berada di luar”. Maka manusia “mengada di sini” atau “mengada di situ”.
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala hal berpangkal pada eksistensinya. Artinya, bahwa eksistensialisme merupakan cara manusia berada, atau lebih tepat mengada, di dunia ini. Jadi, hal yang bereksistensi itu hanyalah manusia. Adanya benda dan adanya manusia, jelas berbeda.
Paparan berikut ini dapat memberikan penjelasan yang lebih detail dalam memahami kedudukan eksistensialisme pada situasi awal berdirinya.
Hal pertama yang perlu dilihat adalah bagaimana eksistensialisme menentang materialisme, bahkan menentang idealisme. Menurut materialisme, manusia hanyalah resultante atau akibat dari proses unsur-unsur kimia, sedangkan menurut idealisme, manusia cukup diwakili oleh kesadarannya.
Secara lebih rinci, berikut uraian mengenai hal tersebut.
Materialisme pada prinsipnya hanyalah materi sehingga manusia hanya merupakan resultante dari proses kimiawi. Dalam mengungkap materialisme tidaklah sederhana seperti orang awam memikikannya. Misalnya menyamakan manusia dengan batu atau kerbau. Namun, materialisme melakukan kesalahan berupa detotalisation yang berarti memungkiri keseluruhan. Dengan materialisme, kita hanya memandang manusia seperti memandnag bahan yang tunduk pada hukum-hukum alam, fisika, kimia, dan biologi. Sartre menyebutnya sebagai en-soi, sesuatu bahan yang bukan subjek. Menurut filosof Perancis ini, manusia, selain en-soi, ada juga yang disebut pour soi, sesuatu yang sadar akan dirinya sendiri yang berpikir.
Secara etimologi, “idealisme” berasal dari kata eidos, idea yang berarti buah pikiran. Jika kita berpikir maka muncullah idea. Jika kita memikirkan sesuatu, dan karena itu kita mengerti mengenai sesuatu, maka lahirlah idea atau gagasan kita mengenai hal itu. Idealisme hanya memandang manusia sebagai idea, sebagai subjek. Selanjutnya manusia hanya menempatkan diri sebagai kesadaran. Idealisme menganggap manusia hanya dapat berdiri sebagai subjek karena menghadapi objek. Manusia hanya dapat berdiri sebagai manusia karena bersatu dengan realitas di sekitarnya. Sebaliknya materialisme hanya memandang manusia sebagai objek, sedangkan barang-barang di dunia ini hanyalah menjadi objek karena adanya subjek.
Demikianlah prinsip berlawanan eksistensialisme terhadap metarialisme ataupun idealisme. Manusia bukan hanya objek dan bukan pula kesadaran, melainkan eksistensi. Namun, sebagian besar tokoh eksistensialisme memiliki pengertian eksistensialisme dalam pengertian pokoknya saja. pada dasarnya manusia dapat menyebut dirinya “aku”, seperti perbuatanku. Dengan cara itu, manusia dapat menentukan apa yang akan dilakukan, dipilih, diselenggarakan, dan dipertanggungjawabkannya. Ia adalah ia sendiri, yang mengalami sendiri sebagai pribadi.
Meskipun demikian, manusia tidak berdiri sendiri. ia senantiasa sibuk dengan pikiran dan kehendaknya sendiri. ia memperdulikan dunia luar; berbuat karena berhubungan dengan dunia luar, memanfaatkan situasi, menghargai alam, dan menggunakan barang.
Dengan perbuatannya itu, ia berada di luar dirinya sendiri sehingga dapat menyatakan apa yang sedang dilakukannya. Inilah yang disebut eksistensi, ialah berdiri sendiri dengan keluar dari diri sendiri.
Cara demikian dalam bahasa Jerman disebut Da-sein. Kata Heidegger, murid Husserl, “Das Wesen des Daseins liegt in seiner Exiztenz” (Inti Dasein terletak pada eksistensinya). Dasein menunjukkan tempat, jadi mengada di sana, di suatu tempat, berada, terlibat, dan bersatu dalam dan dengan alam jasmani. Lalu apa perbedaan eksistensi dengan Dsein? Eksistensi adalah pangkalannya, sedangkan Dasein lebih menyangkut kehadiran atau presensinya. Manusia menyatu dalam struktur sehingga selalu mengonstruksi. Oleh karena itu, manusia selalu berada dalam situasi “werden”, menjadi dan berproses. Menurut Jean Paul Sartre, manusia tidak etre, tetapi a etre. Heidegger pun menyatakan “zu sein”.
Sejarah Eksistensialisme
Tidak banyak aliran filsafat yang mengguncangkan dunia; filsafat eksistensialisme adalah salah satu di antaranya. Nanti anda akan melihat bahwa filsafat ini tidak luar biasa, akar-akarnya ternyata tidak dapat bertahan dari berbagai kritik. Akan tetapi, isme ini termasuk isme yang membuat guncangan yang hebat.
Setelah selesai Perang Dunia Kedua, penulis-penulis Amerika (terutama wartawan) berbondong-bondong pergi menemui filosof eksistensialisme, misalnya mengunjungi filosof Jerman Martin Heidegger (lahir 1839) di gubuknya yang terpencil di pegunungan Alpen sekalipun ia telah bekerja sama dengan Nazi. Tatkala seorang filosof eksistensialisme, Jean Paul Sartre (lahir 1905), mengadakan perjalanan keliling Amerika, dia disebut oleh surat-surat kabar Amerika sebagai The King Of Existentialism. Bila cerita-cerita sandiwaranya dipentaskan, orang telah menyiapkan ambulans untuk mengangkut penonton yang jatuh pingsan. Demikianlah sekadar penggambaran kehebatan filsafat eksiatensialisme. Sayangnya filsafat ini sulit di pahami oleh pemula. Marilah kita mulai dengan memperhatikan lebih dulu definisi eksistensialisme.
Tidak mudah membuat definisi eksistensialisme. Kesulitannya adalah karena Existentialism Embarves a Variety Of Style And Convictions (Encyplopedia Americana: 10:762). Kaum eksistensialis sendiri tidak sepakat mengenai rumusan tentang apa sebenarnya eksistensialisme itu (Hassan, 1974:8). Sekalipun demikian, ada sesuatu yang disepakati: baik filsafat eksistensi maupun filsafat eksistensialisme sama-sama menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral.
Lahirnya Eksistensialisme
Filsafat selalu lahir dari suatu krisis. Krisis berarti penentuan. Bila terjadi krisis, orang biasanya meninjau kembali pokok pangkal yang lama dan mencoba apakah ia dapat tahan uji. Dengan demikian, filsafat adalah perjalanan dari satu krisis ke krisis yang lain. Ini berarti bahwa manusia yang berfilsafat senantiasa meninjau kembali dirinya. Mungkin tidak secara tegas manusia itu meninjau dirinya, misalnya ia mempersoalkan Tuhan atau dunia sekelilingnya, tetapi dalam hal seperti itu manusia sesungguhnya masih mempersoalkan dirinya juga. Bahwa dalam filsafat eksistensi manusia tegas-tegas dijadikan tema sentral, menunjukkan bahwa di tempat itu (Barat) sedang terjangkit suatu krisis yang luar biasa hebatnya (Beerling, 1966:211-212). Bagaimana keadaan krisis itu?. Uraian berikut ini meninjau keadaan dunia pada umumnya dan Eropa Barat khsusnya yang merupakan tempat bertanggung jawab atas timbulnya filsafat eksistensialisme.
Sifat meterialisme ternyata merupakan pendorong lahirnya eksistensialisme. Yang dimaksud dengan eksistensi ialah cara orang berada di dunia. Kata berada pada manusia tidak sama dengan beradanya pohon atau batu. Untuk menjelaskan arti kata berada bagi manusia, aliran eksistensialisme mula-mula menghantam materialisme.
Bagaimana pandangan meterialisme tentang manusia? Dalam pandangan meterialisme, baik yang kolot maupun yang modern, manusia itu pada akhirnya adalah benda seperti halnya kayu dan batu. Memang orang meterialis tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda seperti batu dan kayu. Akan tetapi, materialisme mengatakan bahwa pada akhirnya, jai pada prinsipnya, pada dasarnya, pada instansi yang terakhir, manusia hanyalah sesuatu yang material; memang manusia lebih unggul ketimbang sapi, batu, atau pohon, tetapi pada eksistensinya manusia sama saja dengan sapi, batu, atau pohon. Dilihat dari segi keberadaannya juga sama. Nah, disinilah bagian ajaran materialisme itu dihantam oleh eksistensialisme.
Eksistensialisme menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada di dunia; sapi dan pohon juga. Akan tetapi, cara beradanya tidak sama. Manusia berada di dalam dunia; ia mengalami beradanya di dunia itu; manusia menyadari dirinya berada di dunia. Manusia menghadapi dunia, menghadapi dengan mengerti yang dihadapinya itu. Manusia mengerti guna pohon, batu, dan salah satu di antaranya ialah ia mengerti bahwa hidupnya mempunyai arti. Apa arti semua ini? Artinya ialah bahwa manusia adalah subjek. Subjek artinya yang menyadari, yang sadar. Barang-barang yang disadarinya disebut objek.
Lalu, di mana kesalahan materialisme? Rene Le Senne, seirang Existentialis, merumuskan kegagalan materialisme itu secara singkat: keaalahan itu adalah detotalisasi. De artinya memungkiri, total artinya seluruh. Maksudnya, memungkiri manusia sebagai keseluruhan. Pandangan materialisme itu belum mencakup manusia secara keseluruhan. Pandangan tentang manusia seperti pada meterialisme itu akan menbawa konsekuensi yang anat penting (Drijarkara, 1966:57-60). Lahirnya eksistensialisme merupakan salah satu dati konsekuensi itu.
Eksistensialisme juga lahir sebagai reaksi terhadap idealisme. Materialisme dan idealisme adalah dua pandangan filsafat tentang hakikat yang ekstrim. Kedua-duanya berisi benih-benih kebenaran, tetapi kedua-duanya juga salah. Eksistensialisme ingin mencari jalan keluar dari kedua ekstremitas itu.
Materialisme memandang kejasmanian (materi) sebagai keseluruhan manusia, padahal itu hanyalah aspek manusia. Materialisme menganggap manusia hanyalah sesuatu yang ada, tanpa menjadi subjek. Manusia berpikir, berkesadaran; inilah yang tidak diaadari oleh meterialisme. Akan tetapi, sebaliknya, aspek ini (berpikir, berkesadaran) dilebih-lebihkan lagi sampai menjadi tidak ada barang lain selain pikiran.
Bibit idealisme trlah ada sejak Plato, tetapi pembuka jalan bagi idealisme yang sungguh-sungguh adalah Descartes. Dalam pandangan Descartes, manusia itu disamakan saja dengan kesadarannya. Kesadaran itu tidak berhubungan sama sekalidengan persentuhan dengan alam jasmani. Kesadaran itu seolah-olah tergantung di langit. Di dalam kesadaran itu terdapat idea-idea. Idea-idea itu sama sekali bukan berasal dari kontak dengan dunia luar kesadaran. Kita dapat berkata idea tentang jucing, sapi dan sebagainya yang dibentuk oleh kenyataan di luar diri kita, misalnya karena kita telah melihatnya. Akan tetapi, bagi Descartes tidak demikian. Padanya antara kesadaran dan alam luar diri tidak ada sangkutannya. Sekalipun demikian, Descartes belum benar-benar jatuh ke dalam idealisme karena ia masih mengakui dunia realitas. Ia mengatakan bahwa idea itu seakan-akan copy dunia realitas. Sekalipun demikian, pada prinsipnya Descartes telah menisahkan kesadaran dari dunia luar. Dengan bertolak dari Descartes itu kelak idealisme akan memungkiri sama sekali pengertian dunia luar. Di dalam kesadaran, yang dimengerti hanyalah idea-idea. Alam pikiran hanyalah alam idea. Manusia tidak mengerti dunia luar kesadarannya Yang dimengerti hanyalah idea-idea. Di dalam idealisme tulen, tidak ada hubungan antara idea dan realitas di luar pikiran. Menurut idealisme, tiap-tiap pikiran tentang dunia luar hanyalah nonsens belaka. Konsekuensinya ialah ia akan mengingkari adanya manusia lain selain dia. Dalam cogito-nya, Descartes pernah mengingkari adanya jasadnya sendiri.
Letak kesalahan idealisme adalah karena ia memandang manusia hanya sebagai subjek, hanya sebagai kesadaran. Sebaliknya, materialisme hanya melihat manusia sebagai objek. Meterialisme juga lupa bahwa barang di dunia ini disebut objek lantaran adanya subjek. Saat itu, sesuatu yang aneh terjadi: materialisme dan idealisme sama-sama salah, tetapi mengapa dapat tersebar luas?, memperoleh banyak penganut?, memikat hati banyak orang? Hal itu memperlihatkan bahwa sukar bagi manusia untuk mengerti dirinya sendiri. Rupanya manusia itu semacam rahasia bagi dirinya.
Eksistensialisme juga didorong munculnya oleh situasi dunia pada umumnya. Di sini eksistensialisme lahir sebagai reaksi terhadap dunia pada umumnya, terutama dunia Eropa Barat. Keadaan dunia yang bagaimana?
Secara umum dapatlah dikatakan bahwa keadaan dunia pada waktu itu tidak menentu. Rasa takut berkecamuk, terutama terhadap ancaman perang. Tingkah laku manusia telah menimbulkan rasa muak atau mual. Penampilan manusia penuh rahasia, penuh imitasi yang merupakan hasil persetujuan bersama yang palsu yang disebut konvensi atau tradisi. Manusia berpura-pura. Kebencian merajalela. Nilai sedang mengalami krisis, bahkan manusianya sendiri sedang mengalami krisis. Sementara itu agama di Eropa Barat dan di tempat lain dianggap tidak mampu memberikan makna pada kehidupan. Di beberapa orang-orang beragama sendiri justru terlibat dalam krisis itu, bahkan lebih dari itu, mereka ikut memperhebat krisis. Manusia menjadi orang yang gelisah, merasa eksistensinya terancam oleh ulahnya sendiri. Pokoknya, manusia benar-benar mengalami krisis. Dalam keadaan seperti itu, filosof melihat pada dirinya sendiri. Ia mengharap ada pegangan yang dapat menyelamatkan, keluar dari krisis itu. Maja dari proses itu tampillah eksistensialisme yang menjadikan manusia sebagai subjek. Manusia dijadikan tema sentral dalam perenungan.
Tokoh-tokoh Eksistensialisme
Soren Kierkeegard (5 Mei 1813, Denmark)
Kierkeegard mendapakan modal pemikiran eksistensialismenya dengan mempelajari dahulu filsafat Hegelian. Penolakan terhadap rumus-rumus filsafat Hegel mengantarkannya pada perumusan filsafatnya sendiri yang pada saat itu belum mengenal istilah Eksistensialisme. Kritik Kierkegaard atas idealisme Hegel diawali dengan keprihatinannya terhadap perilaku keagamaan masyarakat di Denmark yang sebagian besar menganut Lutherianisme. Agama kristen menurut Kierkegaard sudah sekuler dan duniawi dan tidak benar-benar memikirkan hal-hal transenden seperti misal saat pembahasan mendalam mengenai Allah. Agama benar-benar hanya persoalan “objektif” dan “lahiriah” serta tidak langsung menyangkut komitmen subjektif manusia yang memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri maupun masyarakat. Kierkegaard menuduh bahwa yang menyebabkan adanya kemerosotan tersebut adalah filsafat Hegelianisme yang banyak dipelajari pada abad 18 di Barat terutama pada masyarakat Denmark.
Bagi Kierkeegard, “dosa” terbesar Hegel adalah saat ia mengabstraksi segala sesuatu menjadi sebuah sistem tidak jelas yang mengecilkan peran manusia sebagai individu yang nyata. Karena selama ini pandangan Hegel mengatakan bahwa yang merupakan realitas sejati dalam hidup manusia adalah Idea abstrak atau roh. Bukan manusia yang sadar diri, melainkan roh yang sadar diri dalam manusia. Manusia konkret justru menjadi alat bagi roh yang menjadi memenjarakannya menjadi manusia yang konkrit seutuhnya. Maka Hegel mengusung ide kolektif dengan mereduksi manusia menjadi sekawanan kelompok. Bukan individu. Keputusan yang diambil secara pribadi tidak otentik saat itu. Sebab yang real bukan individu, melainkan Roh yang menjadi sadar diri melalui individu itu.
Kierkegaard menilai bahwa paham-paham Kristiani inilah yang menjadikan hubungan subjektif dengan Allah sehingga ia menjadi sangat ekslusif. Hegelian menjadikan manusia objek anonim dan impersonal sehingga tidak akan tampak individu-individu yang menonjol karena semua orang akan berbicara atas nama kelompoknya. Tidak ada individu, yang ada adalah suku, ras, bangsa, agama maupun komunitasny. Budaya kolektif ini di satu sisi mencerminkan keselarasan dalam masyarakat karena adanya “kekompakan”, di sisi lain yang buruk adalah membuat masyarakat homogen yang monoton. Dikhawatirkan juga membunuh kreativitas individu karena segala sesuatu yang berkaitan dengan tingkah laku atau moral di terapkan standarnya oleh masyarakat kolektif. Individu-individu yang terpenjara kebebasannya oleh komunal inilah yang dikritik oleh Kierkegaard.
Hegelianisme juga menghilangkan komitmen subjektif orang beriman, karena yang penting adalah keputusan kelompok dan kebenaran adalah yang keseluruhan. Artinya, yang benar adalah sesuatu yang bersifat kolektif. Jika masyarakat banyak tidak melakukan hal-hal tertentu, maka individu tidak boleh melakukan hal itu juga karena berarti sedang melakukan perlawanan tehadap hukum masyarakat. Ini juga akan membuat msyarakat makin tidak toleran terhadap perbedaan karena masyarakat bisa saja memberi hukuman secara sosial kepada individu yang “berbeda” dan dianggap menyimpang keluar dari aturan masyarakat pada umumnya. Berbeda bagi Kierkegaard, Hegelianisme membuat individu tidak bertanggung jawab terhadap dirinya, ia larut dalam kerumunan dan tidak berkembang.
Secara sekilas, Kierkeegard mendukung ide-ide individualisme yang diangkat oleh kaum Liberal yang mengatakan bahwa manusia tampil sebagai dirinya sendiri dengan ke-individuan-nya. Individualisme ini berbeda dengan individualistis yang berarti mementingkan diri sendiri. Namun Individualisme ini memberikan kesempatan tiap individu untuk mengembangkan dirinya. Namun, lebih jauh, Kierkegaard menjelaskan bahwa kebebasan yang diraih untuk individu ini berbeda dengan apa yang dimaksud dengan kebebasan individu ala kaum liberal. Karena konteks yang diambil adalah mengenai eksistensialisme manusia yang saat itu menjadi hal yang tabu karena kuatnya pemahaman mainstream kolektif dalam masyarakat.
Istilah eksistensi adalah istilah yang diperkenalkan Kierkegaard dalam dunia filsafat. Ia mengemukakan bahwa kebenaran adalah individu yang bereksistensi. Istilah eksistensi ini hanya dapat diterapkan untuk individu konkret. Hanya aku yang konkreat yang dapat bereksistensi. Aku juga tidak dapat direduksi ke realitas-realitas lain, entah itu sistem ekonomi, Idea, masyarakat dst. Bereksistensi bukan berarti hidup menurut pola-pola abstrak dan mekanis, melainkan melakukan pilihan-pilihan baru yang berbeda. Tidak ada yang menggantikan tempatku untuk bereksistensi. Penggunaan kata “Aku” disini menjadi sangat penting. Individu sebagai aku adalah yang menjadi aktor dalam kehidupan yang bisa mengambil arah hidupku sendiri, bukan spektator kehidupanku belaka. Hanya individu yang benar-benar mengarahkan hidupnya yang bisa di sebut bereksistensi. Sedangkan yang larut dalam kerumunan tidak bisa dikatakan sedang bereksistensi.
Kierkegaard juga mengkritik dialektika Hegel dengan dialektika eksistensial. Ia memahami perkembangan eksistensial individu. Perbedaan mencolok dengan Hegel adalah ketika Hegel berpikir bahwa peralihan satu tahap ke tahap yang lainnya adalah karena sebuah pemikiran. Kierkegaard membantah itu dengan mengatakan bahwa perubahan tahap seseorang itu terjadi karena keputusan kehendak individu sebagai aku. Pilihan itu bukan semacam pilihan konseptual ala Hegel, tapi tentang komitmen total seluruh pribadi individu.
Kierkegaard yang menerapkan konsep eksistensi berdasarkan pengalaman subjektifnya ini mengambil sikap anti mainstream terutama menyangkut sebuah sistem pemikiran. Bukan dengan metode-metode tertentu dengan sikap rasional dan sistematis yang dijalani oleh para filosof lainnya. Ia menggunakan caranya sendiri dalam merumuskan apa yang Ia pikirkan sehingga banyak yang menilai bahwa Kierkeegard tidak memiliki dasar pemikiran sistematis dalam merumuskan konsep eksistensialismenya. Justru, orang-orang yang mempelajari Kierkegaard sering kali mensistematiskan apa yang ditulis oleh Kierkegaard.
Dalam hal ini, Kierkegaard telah memenuhi konsekuensi logis dari jalan pemikiran yang Ia pilih. Sikap seperti ini dapat membuat filsafatnya terus hidup karena ia dapat dipraktikkan oleh orang yang mengikuti konsep filsafat nya. Namun pemikiran Kierkegraad yang tidak sisitematis memang membuat kita agak kesulitan memahami konsep filsafatnya sehingga muncullah banyak versi “tafsir” filsafat Kierkegaard.
Heidegger (Jerman, 26 September 1889)
Menurut Heidegger, persoalan tentang “berada” ini hanya dapa di jawab melalui ontologi, artinya: jikalau persoalan ini di hubungkan dengan manusia dan di cari artinya dalam hubungan itu. Agar usaha ini berhasil harus di gunakan metode fenomenologis. Demikianlah yang penting ialah menemukan arti “berada” itu.
Satu-satunya “berada” yang sendiri dapat di mengerti sebagai “berada” ialah “berada” nya manusia. Harus di bedakan antara “berada” (sein) dan “yang berada”(seiende). Ungkapan “yang berada”(seiende) hanya berlaku bagi benda-benda, yang bukan manusia, yang jikalau di pandang pada dirinya sendiri. Benda-benda itu hanya “vorhanden” hanya terletak begitu saja di depan orang, tanpa ada hubungan nya dengan orang itu (meja, jika di pandang pada dirinya, berkedudukan sebagai meja, lepas dari hubungan nya dengan apapun). Benda-benda itu hanya berarti, jikalau di hubungkan dengan manusia, dan memiliki arti dalam hubungan itu.
Manusia memang juga berdiri sendiri, akan tetapi ia mengambil tempat di tengah-tengah dunia sekitarnya. Ia tidak termasuk “yang berada”, tetapi ia “berada”. Keberdaan manusia ini disebut dasein berada di sana, manusia harus keluar dari dirinya dan berdiri di tengah-tengah segala “yang berada”. Dasein manusia disebut juga eksistensi.
Guna menemukan arti “berada” manusia harus di selidiki dalam wujudnya yang biasa tampak sehari-hari, Heidegger bermaksud mengetahui keadaan manusia sebelum keadaan itu di pikirkan secara ilmiah, yaitu dalam perwujudan yang belum ditafsirkan. Hasil usahanya ini ialah bahwa ia menemukan manusia yang “di dalam dunia”. Inilah ketentuan asasi yang paling umum entang manusia. Manusia berada “di dalam dunia”. Dasein berarti “berada di dalam dunia”. Ketentuan ini berlaku bagi semua manusia, sekalipun cara mereka “berada di dalam dunia” berbeda-beda. Oleh karena manusia “berada di dalam manusia” maka ia dapat memberi temapat kepada benda-benda yang ada di sekitarnya, ia dapat bertemu dengan benda-benda itu dan juga dengan manusia-manusia yang lain, dapat bergaul dan bekomunikasi dengan semuanya itu.
Benda-benda pada dirinnya tidak mewujudkan dunia. Sebab benda-benda itu tidak dapat saling menjamah, tidak dapat saling berjumpa. Tempat mereka di berikan oleh manusia, karena manusia “berada di dalam dunia”. Bahwa kayu adalah bahan bakar atau bahan bangunan, yang menentukan adalah manusia. Demikianlah ungkapan “yang berada di dalam dunia”. Mempunyai sifat rangkap, yaitu: memiliki dunia dan berada di dunia. Manusia memang tidak hanya berada di dalam dunia, tetapi ia memiliki dunia.
Secara fenomenologis, hubungan sehari-hari antara manusia dan dunianya itu bersifat praktis, hubungan itu dapat di katakan sebagai demikian, bahwa manusia sibuk dengan dunia, dan sebagainya, yang semuanya itu di rangkumkan Heidegger dalam kata Besorgen (memelihara). Hubungan asli yang dalam kesatuan antara Dasein dan dunia adalah Basorgen (memelihara). Di dalam dunia itu manusia tampak sebagai yang berbuat. Pebuatan itu bukan hanya perbuatan yang konkrit, tetapi juga jikalau manusia diam, ia berbuat. Ada suasana perbuatan yang praktis dan teoritis. Akan tetapi manusia terlebih-lebih di sibukan dengan kegiatan yang berkaitan dengan dunia yang dijumpainaya. Kita membuka pintu, memgang tas, naik sepeda, dsb. Pintu, tas, sepeda adalah benda-benda yang bagi manusia berfungsi sebagai alat (zeug), yaitu alat untuk mengusahakan sesuatu. Fungsi itu baru dimiliki jikalau telah dtentukan oleh manusia (kayu sebagai bahan bakar atau bahan bangunan). Demikianlah benda-benda itu menunjuk kepada suatu tujuan, sedang tujuan itu menunjuk lagi kepada tujuan yang lain. Akan tetapi benda-benda itu sendiri tidak dengan sadar menonjolkan diri. Juga penunjuknya kepada suatu tujuan tidak menonjolkan diri. Dunia, yaitu segala sesuatu dalm kaitannya dengan manusia, baru tampil, jikalau ada sesuatu yang tidak berfungsi seperti yang semestinya, umpamanya: kemeja itu terlalu kecil untuk di pakai, mobilnya mogok, dsb. Baru pada saat itulah dunia menonjol. Jadi biasanya dunia tidak memberitahukan dirinya kepada manusia.
Jean Paul Sartre (Paris, 21 Juni 1905)
Olehnya filsafat Eksistensialisme menjadi tersebar luas. Hal ini disebabkan karena kecakapannya yang luar biasa sebagai sastrawan. Ia menyajikan filsafatnya dalam bentuk roman dan pentas dalam bahasa yang mampu menampakkan maksudnya kepada para pembacanya. Dengan demikian filsafat Eksistensialisme dihubungkan dengan hidup yang konkrit ini.
Setelah menyelesaikan studinya pada tahun 1929 ia menjadi guru di sebuah sekolah menengah di Le Havre (1931-1933). Kemudian selama setahun ia belajar di Berlin. Sekembalinya dari Berlin ia mengajar di Laon dan Paris. Ketika Perang Dunia II ia masuk dinas militer dan menjadi tawanan perang selama setahun. Pada tahun 1941 ketika ia berhasil meloloskan diri dari tempat tawanan ia menjabat dosen lagi di Paris hingga tahun 1945. Setelah itu ia membebaskan diri dari tugas mengajar untuk dapat mengarang.
Sejak ia masih mengajar di sekolah menengah ia telah mengarang banyak karya filsafati dan karya seni sastra seperti cerpen, roman, sandiwara, dll. Karya pokoknya yang menjadikan dia mahsyur adalah L’etre et le neanet, atau ‘keberadaan dan ketiadaan’ (1943). Karya ini ditulis pada jaman ketika Perancis dijajah Jerman. Pada tahun 1940 ketika karena penjajahan Jerman itu segala yang jasmani runtuh, maka runtuhlah juga segala cita-cita orang Perancis. Dimana-mana yang ada hanya ketidakpercayaan, kepahitan, keraguan terhadap tertib Negara yang begitu cepat runtuh. Akan tetapi di lain pihak semua rakyat Perancis sehati untuk mengusir musuh. Agar supaya rakyat memiliki semangat ketahanan nasional itu diperlukan suatu pandangan dunia dan pandangan hidup yang kuat. Rakyat Perancis merasa diberi alat untuk bertahan oleh Sartre.
Sekalipun Sartre dipengaruhi oleh Husserl dan Heidegger, namun pandangannya tidak sama dengan pandangan kedua tokoh tersebut.
Di dalam bukunya itu Sartre mulai dengan menganalisa “ada” atau “berada” (L’etre). Menurut dia ada dua macam “etre” atau “berada”, yaitu L’etre – en-soi (berada dalam diri) dan L’etre – pour-soi (ber-ada-untuk-diri).
Yang dimaksud dengan L’etre-en-soi atau “berada dalam diri” adalah semacam berada an sich, berada dalam dirinya, berada itu sendiri. Filsafat berpangkal dari realitas yang ada, sebab realitas yang ada itulah yang kita hadapi, kita tangkap, kita mengerti. Ada banyak yang berada: pohon, batu, binatang, manusia, dsb. Semuanya itu berbeda-beda, banya ragamnya, akan tetapi ada sebuatan umum bagi semuanya tu, yaitu: semuanya itu ada atau berada. “berada” mewujudkan ciri segala benda jasmaniah, Segala materi. Semua benda ada dalam diri atau dalam dirinya sendiri tidak ada dasar atau alasan mengapa benda-benda itu berada begitu (apa alasannya). Segala yang berada dalam diri ini tidak aktif, akan tetapi juga tidak pasif, tidak mengiyakan tetapi juga tidak menyangkal. Semuanya dikatakan padat, beku, tertutup, yang satu lepas daripada yang lain, tanpa saling berhubungan. Etreensoi mentaati perinsip identitas (it is what it is). Benda-benda idak mempunyai hubungan dengan keberadaanya. Meja itu ada, meja itu warnnya demikian, titik. Kita tidak dapat mengatakan, bahwa meja bertanggung jawab atas fakta bahwa ia adalah meja, bahwa warnanya demikian, dsb.
Jikalau di dalam sesuatu ynag ada ini terdapat perkembangan (pohon kecil menjadi besar), maka perkembangan itu menjadi karena sebab-sebab yang telah ditentukan. Oleh karenanya perubahan-perubahan itu adalah perubahan-perubahan yamg kaku. Menurut Sartre, segala yang berada secara ini, segala “berada dalam diri” (L’etreensoi), memuakkan (neusent). Meja, kursi, pohon dsb, dalam dirinya bukanlah apa-apa. Benda-benda itu, bila kita lihat sebagai de facto demikian ,seperti adanya tanpa alasan apapun, lepas dari segala arti yang kita berikan kepadanya dalm hidup sehari-hari, akan tampak memuakkan. (sebatang pohon, jikalau di periksa secara teliti, tampak batangnya dengan kulitnya yang kasar, dengan garis-garisnya, dengan segala penampakannya, jka tanpa di hubungkan dengan kegunaannya, tampak memuakkan).
Yang dimaksud dengan letreensoi atau “berada dalam diri” ialah semacam berada an sich, berada dalam dirinya, berada itu sendiri. Filsafat berpangkal dari realitas realitas yang ada, sebab realitas yang adalah itulah yang kita hadapi, kita tangkap, kita mengerti. Ada banyak yang berada: pohonnya, akan tetapi ada sebutan umum bagi semuanya itu, yaitu: semuanya itu ada atau berada. “berada” mewujudkan ciri segala benda jasmaniah, segala materi. Semua benda ada dalam diri atau ada dalam dirinya sendiri. Tidak ada alasan atau dasar mengapa benda-bnda itu berada begitu (apa sebab meja itu meja, dan bukan kursi, serta bukan tempat tidur, tiada alasannya). Segala yang berada dalam diri ini tidak aktif, akan tetap juga di katakana padat, beku, tertutup, yang satu lepas daripada yang lain, tanpa saling berhubungan. Etreensoi mentaati prinsip identitas (it is what it is). Benda-benda tidak mempunyai hubungan dengan keberadaanya. Meja itu ada, meja itu warnanya demikian. Titik. Kita tidak dapat mengatakan, bahwa meja bertanggung jawab atas fakta bahwa ia adalah meja, bahwa warnanya demikian, dsb.
Jikalau di dalam sesuatu yang ada itu terdapat perkembangan (pohon kecil menjadi besar), maka perkembangan itu terjadi Karena sebab-sebab yang telah di tentukan. Oleh karenanya perubahan-perubahan ituadalah perubahan-perubahan yang kaku. Menurut Sartre, segala yang berada secara ini, segala “berada dalam diri” (letrensoi), memuakkan (nauseant). Meja, kursi, pohon dsb, dalam dirinya bukan lah apa-apa. Benda-benda itu, bila kita lihat sebagai the facto demikian, seperti adanya tanpa alasan apapun, lepas dari segala arti yang kita berikan kepadanya dalam hidup sehari-hari akan tampak memuakkan (sebatang pohon, jikalau diperiksa secara teliti, tampak batangnya dengan kulitnya yang kasar, dengan gari-garis nya dengan segala penampakannya, jika tanpa di huungkan dengan kegunaannya, tampak memuakkan
Yang di maksud dengan letrepoursoi atau “berada untuk diri “ ialah berada yang dengan sadar akan dirinya, yaitu cara berada manusia. Etrepoursoi tidak mentaati prinsip identitas seperti halnya dengan etreensoi. Manusia mempunyai hubungan dengan keberadaanya, ia bertanggung jawab atas fakta, bahwa ia seorang pegawai, atau seorang pedagang, atau seorang pencuri, dsb. Benda-benda tidak sadar bahwa dirinya ada, tetapi manuusia sadar bahwa dirinya berada. Di dalam kesadaran ini, yaitu kesadaran yang disebut reflektif, ada yang menyadari danada yang disadari, ada subjek dan objek. Hal yang demikian tidak terdapat dalam benda. Oleh karena itu, seperti yang telah diebutkan diatas benda adalah padat, penuh dengan diri sendiri, tertututp bagi yang lain, tanpa hubungan dengan yang lain. Dapat dikatakan bahwa benda adalah buta, gelap. Benda hanyalah benda, hanya ada saja, lain tidak. Benda adalah dia sendiri. Akan tetapi tidaklah demikian dengan manusia. Pada manusia ada kesadaran, yaitu kesadaran yang refleksif dan yang parefleksif. Pembedaan ini dapat dijelaskan demikian: Aku sedang menutup buku kasku pada bulan ini. Oleh karena itu aku sibuk menghitung pengeluaranku. Perhatianku ku curahkan kepada angka-angka di dalam buku kasku itu. Angka-angka itulah yang menjadi tema perhatianku. Bahwa aku sedang menghitung memang kusadari (sebab aku tidak pingsan ketika aku menghitung itu), akan tetapi perbuatan menghitung itu pada waktu itu idak menjadi pusat perhatianku. Perbuatan menghitung hanya ada di periferi atau di sekitar perhatianku. Bentuk kesadaran yang tidak ada di pusat inilah yang disebut kesadaran prarefleksif (kesadaran yang belum dipikirkan kembali). Pada waktu aku sedang sibuk menghitung datang temanku yang bertanya: “Kamu sedang apa?” Aku berhenti menghitung, dan menjawab:”Aku sedang menghitung”. Pada waktu inilah aku menyadari bahwa aku sedang menghitung. Pada waktu inilah perhatianku kuarahkan kepada perbuatan menghitung itu sendiri, bukan kepada angka-angka yang di hitung. Bentuk kesadaran ini disebut kesadaran refleksif (kesadaran yang di pikirkan kembali atau kesadaran yang telah kembali kepada diri sendiri). Selesai menghitung aku aku pergi dengan teman ke toko. Kesadaran pareklesif pada waktu itu tidak hilang, yang ialah kesadaran menghitung, kesadaran bahwa aku menghitung, sebab timbulah kesadaran yang baru, kesadaran bahwa aku sedang pergi ke toko, dan lain sebagainya.
Menurut Sartre, biasanya kesadaran kita bukanlah kesadaran akan dirinya (conscience de soil), melainkan kesadaran diri (conscience (de) soil). Kepada obyek (melihat, mendengar, merusak, dll), kesadaran kita diberi bentuk conscience de soi (kesadaran akan diri). Di dalam kesadaran akan diri ini selalu ada jarak antara kesadaran (conscience) dan diri (Soi). Tetapi jarak ini sebenarnya terdapat juga pada kesadaran yang prarefleksif . jadi di dalam kesadaran diri selalu ada jarak. Jarak yang senantiasa ini oleh Sartre disebut le neant (ketiadaan). Di dalam kesadaran kita senantiasa ada ketiadaan (le neant), yang membuat kita dari ensi (dalam diri sendiri) menjadi pour soi (untuk diri sendiri)
Sekalipun dalam kesadaran prarefleksif telah ada jarak, nemun hal itu belum berarti, bahwa di dalam kesadaran ini telah ada hubungan subjek objek dalam arti yang sebenarnya. Baru kesadaran yang refleksiflah yang dapat mempunyai bentuk hubungan subjek objek , dan sering kali memang menjadi berbentuk subjek objek.
Jadi di dalam kesedaran diri yang refleksif itu manusia sadar bahwa ia ada. Manusia menyadari bahwa dirinya sebagai ada. Yang menyadari (subjek) tidak sama yang disadari (obyeknya). Obyek adalah sesuatu di luar subjek. Di satu pihk kesadaran menghubungkan subjek dengan yang bukan subjek, yaiu objeknya, akan tetapi di lain pihak kesadaran memecah belah. Apa yang semula satu di jadaikan dua. Kata “aku sadar akan aku (diriku)” berarti, bahwa “aku” yang pertama adalah subjek, sedang “aku” yang kedua (diriku) adalah objek, sehingga “aku” yang perama lain dengan “aku” yang kedua, seperti halnya dengan subjek lain daripada obyek. Kesadaran menjadikan retak apa yang semula utuh, menjadikan dua apa yang semula satu, menjadikan tidak padat lagi apa yang semula padat, menjadikan tidak padat lagi apa yang semula padat, menjadikan tidak sendirian lagi apa yang semula sendirian. Jadi di dalam kesadaran itu ada yang di tiadakan. Kesadaran meniadakan (neantiser), yaitu meniadakan kepadatan, meniadakan kesatuan dan sebagainya.
Kesadaran ini tidak boleh di pandang sebagai hal yang berdiri sendiri, seolah-olah ada sesuatu ayng berdiri sendiri, yang di sebut kesadaran. Sebab kesadaran hanya di temukan sebagai latar belakang suatu kegiatan. Orang yang sadar adalah orang yang berbuat. (ingat teladan hal aku yang menghitung diatas). Kesadaran sebagai kehadiran pada diri sendiri berarti jarak diantara aku dan diriku, yaitu le neant (ketiadaan), suatu jarak yang tada ukuranya dan tidak terjembatani. Kesadaran bukanlah etre dalam arti yang sepenuhnya, yang telah ada lobangnya. Sebab seandainya dalam arti yang sepenuhnya, maka kesadaran adalah padat, tertutup, penuh, tidak akan dapat berubah kepada orang lain. Kesadaran bukan “berada” dalam arti yang sepenuhnya, melainkan “pengempesan ada”, atau pengurangan tekanan “ada” (decompression de letre).
Manusia adalah “berada untuk diri” (entre pour soi). Oleh karena itu maka manusia terwujud karena “berada” itu meniadakan diri (se nentise). Manusia sebagai manusia, sebagai “letre pour soi” terdiri dari peniadaan.
Mengenai hal meniadakan (neantiser) dan peniadaan yang terus menerus (neantisation) dibedakan antara peniadaan lahiriah (negation externe) dan peniadaan yang batiniah (negation interne). Bahwa meja bukanlah kursi, hal itu tidak menunjukan sesuatu yang menyifatkan meja, artinya: bahwa meja bukan lah besi tidak di tentukan dari dalam. Inilah negation externe. Akan tetapi bahwa aku bukan orang yang berbakat seni, atau bukan seorang pedagang, dan lain-lain, hal itu menunjuk kepada suatu negativitas yang menyifatkan diriku dari dalam, dengan konsekuensi bahwa aku bertanggung jawab atas diriku yang bersifat negative seperti itu. Jadi di samping realitas yang positif ada juga realitas yang negative.
Hal yang “tidak ada” tidak mungkin berasal dari hal yang “berada dalam diri”. Sebab yang”berada dalm diri” adalah penuh, padat, tertutup. Lalu dari mana asal yang “tidak ada” itu? Yang “tidak ada”. Di sini terdapat perbedaan antara Heidegger dan Sartre. Menurut Heidegger, eksisensi manusia adalah satu-satunya yang benar-benar penting, satu-satunya yang bentuk “berada” dalam arti kata yang sepenuhnya. Akan tetapi menurut Sartre, “eksistensi yang murni” adalah apa yang nyata. Eksistensi manusia adalah “ketiadaan”.
Karl Jaspers (Jerman Utara, 23 Februari 1883)
Karl Jaspers semulanya belajar hukum dan kedokteran, tetapi akhirnya setelah ia menjabat sebagai dosen psikologi-psikiatri (1913-1916 di heildberg sebagai privat dosen, 1916-1921 sebagai ordinaris psikologi) ia memindahkan perhatiannya ke flsafat. Hal ini terjadi pada tahun 1919, ketika ia menulis bukunya Die Psychologie der Weltanschauungen, atau “Psikologi pandangan-pandangan Dunia” (1919). Pada tahun 1921-1937 ia menjabat guru besar filsafat di Heilberg. Karyanya yang paling penting guna mengetahui sistemnya adalah Philosophie, atau “Filosofi” (1932).
Pemikirannya terlebih-lebih berakar kepada Kiekegaard, akan tetapi banyak dipengaruhi peh Plotinus, Spinoza, Kant, Schelling dan Nietzsche. Dibanding dengan para filsuf eksistensialisme yang ain, Jasperslah orang yang telah menyusun suatu sistim yang paling rapi, yang sejenis dengan sistim metafisis.
Pokok persoalan filsafat yang paling penting baginya adalah bagaimana dapat menangkap “ada” atau “berada” (das sein) dalam eksistensi sendiri. Apakah “ada” itu? Menurut Jaspers “ada” bukanlah hal yang obyektif, yang dapat diketahui setiap orang. Orang harus mencarinya dengan susah-payah dengan melalui beberapa tahap. Sebuah benda yang konkrit bukanlah “ada” dalam arti yang umum. Benda tertentu yang konkrit itu (meja, kursi, dsb) adalah suatu yang “ada” tertentu, yang terbatas. Maka benda bukanlah seluruh “ada”. “ada” dalam arti yang sebenarnya, “ada” yang uum, meliputi, merangkumkan segala yang berada secara terbatas dan tertentu. “ada” ini tidak dapat diraih, tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori. “ada” yang demikian ini disebut das ungreifende (yang merangkumi).
Benda-benda disekitar kita tampak sebagai suatu dunia yang tersusun rapi, akan tetapi dunia ini sebenarnya hanya bersifat relative saja. Segala sesuatu mengitari kita seperti suatu cakrawala. Keanehan cakrawala ialah demikian, bahwa segala usaha untuk mendekatinya gagal, sebab cakrawala itu mengikuti gerak laju seorang yang berusaha mendekatinya, sehingga cakrawala itu tetap jauh daripadanya. Cakrawala ini menempatkan diri juga didalam das ungreifende atau “yang merangkumi” tadi, tetapi cakrawala, sekalipun juga disebut “yang merangkumi” namun bukan “ada” itu sendiri.
“ada” sebagai das ungreifende sebagai “yang merangkumi” Tidak dapat dikenal, sekalipun demikian “ada” menjadi lebih jelas atau lebih dipahami, atau terlebih-lebih dapat memberi petunjuk kearah mana kita harus mencarinya.
Menurut Jaspers, ada tiga cara untuk mendekati “ada” sebagai “yang merangkumi” itu.
Pertama-tama kita dapat mendekatinya dengan berpangkal dari diri kita sebagai da sein, sebagai pengada yang berada ditengah-tengah segala pengada yang lain. Sebagai Da sein disatu pihak kita sama dengan pengada-pengada yang lain, di tengah-tengahmya kita berada, yaitu bahwa kita dapat dijadikan obyek atau sasaran pemikiran serta penyelidikan (umpamanya di dalam ilmu alam, biologi, psikologi). Akan tetapi di lain pihak kita berbeda dengan pengada-pengada yang lain. Sebab jikalau kita memikirkan atau menyelidiki pengada-pengada hal itu kita lakukan dari suatu pusat, darimana segala obyektivasi dilakukan.
Cara kedua untuk mendekati “ada” sebagai “yang merangkumi” ialah dengan berpangkal dari dunia. Menurut cara-cara yang telah dibicarakan diatas kita dapat tahu, bahwa kita sebagai Da sein senantiasa di konfontasikan dengan pengada-pengada yang lain. Pengada-pengada yang lain tadi menampakkan dirinya di dalam keseluruhan dunia. Hal ini lebih tampak jelas dalam pendekatan “ada” yang melalui kesadaran dan roh. Kesadaran membuka bagi kita dunia ilmu pengetahuan.
Cara ketiga untuk mendekati “ada” sebagai “yang merangkumi” ialah mendekatinya melalui hubungan, yang menghubungkan segala cara yang dipakai “yang merangkumi” untuk menampakkan diri tadi. Hingga kini bentuk-bentuk “yang merangkumi” yang berbeda-beda tadi hanya kita lihat satu-persatu dan secar terpisah. Kita memerlukan sesuatu yang dapat mengikatkan yang satu dengan yang lain, sejauh pengikat itu juga mengikat pendekatan-pendekatan, yang berbeda-beda tadi, yang satu dengan yang lain. Menurut Jaspers, pengikat itu adalah Vernunft, rasio atau buddhi, yaitu daya piker kita yang tidak mengikat dirinya kepada obyektivasi manapun juga, tetapi yang justru terus-menerus menerobos obyektivasi-obyektivasi itu, supaya dapat sampai kepada “yang merangkumi” dalam artinya yang berbeda-beda itu.
Gabriel Marcel (Paris, 7 Desember 1889)
Pada tahun 1910 ia mendapat ijazah ilmiahnya di bidang filsafat. Semula ia tertarik dengan idealisme, akantetapi kemudian ia berpaling dari idealisme dan mengimuti eksistensialisme. Karyanya yang pertama yang bersifat eksistensialistis adalah Existence Et Objectivite, atau “Eksistensi dan Obyektivitas” (1924), di mana ia membela dalil-dalil yang menekankan pentingnya eksistensi sebagai pangkal tolak pemikiran filsafati. Sekalipun demikian di sini istilah “existence"”tidak berarti “cara berada” manusia, melainkan “ada secara nyata”, bahkan dipakai dalam arti “ada sebagai kenyataan jasmaniah”. Oleh karena itu maka mungkin boleh dikatakan, bahwa ia adalah filsuf eksistensialistis yang pertama, jikalau dilihat dari urutan waktu. Tetapi karya-karyanya tidak diuraikan secara sistematis. Itulah sebabnya sukar sekali untuk merangkumkan pandangannya. Yang jelas ialah, bahwa ia dekat sekali dengan Kierkegaad, namun gagasan pokoknya telah dijabarkan sebelum ia membaca tulisan Kierjegaard. Ada dua buku harian yang ditulisnya, yang mengandung gagasan-gagasan metafisis, yaitu: Journal Methaphysique, atau “buku harian metafisika” (1914; 1915-1923; yang diterbitkan pada tahun 1927), dan Etre Et Avoir, atau “berada dan memiliki” (1928-1934, yang diterbitkan pada tahun 1935).
Pangkal pikiran Marcel adalah segala hal “berada”. Menurut dia, sudah pasti bahwa “berada” itu ada. Sebab dalam kenyataannya kita berkata “aku berada”. Aku sadar, bahwa aku ada, jadi jelas bahwa "berada" itu ada, dan tidak dapat dikesampingkan. Hal ini berarti, bahwa tidak mungkin orang menganggap segala sesuatu yang ada hanya sebagai permainan bermacam-macam gejala yang silih-berganti tampil ke depan.
Aliran-aliranEksistensialisme
Eksistensialisme jika ditinjau dari fungsinya, yakni penggunaan konsep-konsep eksistensialistik sebagai model suatu pemikiran. Dari sudut fungsi ini, eksistensialisme dibedakan menjadi dua. Eksistensialisme metodis dan eksistensialisme ideologis.Eksistensialisme metodis adalah bentuk pemikiran yang menggunakan konsep konsep dasar eksistensialisme manusia, seperti; pengalaman personal, sejarah situasi individu, kebebasan, sebagai alat atau sarana untuk membahas tema-tema khusus dalam kehidupan manusia.Sedangkan eksistensialisme ideologis merupakan kebalikannya, merupakan suatu bentuk pemikiran eksistensialisme yang menempatkan kategori-kategori atau konsep-konsep dasar eksistensialisme manusia sebagai satu-satunya ukuran yang sahih dalam membahas setiap problema hidup dan kehidupan manusia pada umumnya. Jenis eksistensialisme ini berusaha mengabsolutkan seluruh kategori-kategori eksistensi manusia sebagai satusatunya kebenaran.
Sementara eksistensialisme jika ditinjau berdasarkan implikasi teologisnya, terbagi atas dua bentuk, eksistensialisme teistik dan eksistensialisme atheistik. Eksistensialisme teistik meruapakan suatu bentuk aliran eksistensialisme yang orientasi pemikirannya kearah penegasan adanya realitas ketuhanan. Dalam bentuk ini, pemikiran di sandarkan pada asumsi bahwa untuk memahami eksistensi manusia diperlukan adanya Tuhan. Diperlukan nilai transendensi untuk memahami eksistensinya yang mengarah pada relaitas ketuhanan. Kierkegaard yang dikenal sebagai bapak eksistensialsime juga merupakan tokoh yang biasanya menjadi rujukan terhadap pemikiran eksistensialisme aliran theistik. Ia menyatakan bahwa eksistensi manusia bersifat konkrit dan individual. Jadi, pertama yang penting bagi manusia adalah keberadaanya sendiri atau eksistensinya sendiri. Kerena hanya manusia yang dapat bereksistensi. Namun, harus ditekankan, bahwa eksistensi manusia bukanlah suatu “ada” yang statis, melainkan suatu “menjadi, yang mengandung didalamnya suatu perpindahan, yaitu perpindahan dari “kemungkinan” ke “kenyataan”. Sedangkan eksistensialisme atheistik adalah orientasi pemikiran eksistensialistik yang memilki implikasi menuju penolakan adanya realitas ketuhanan. Bentuk pemikirannya terletak pada asumsi bahwa bahwa untuk menegaskan eksistensi manusia, maka keberadaan Tuhan harus disingkirkan atau diingkari. Dan salah satu filosof yang mengingkari keberadaan Tuhan untuk menempatkan eksistensi manusia adalah Jean Paul Satre. Dalam filsafatnya, Sartre menyatakan dengan tegas bahwa manusia modern harus menghadapi fakta bahwa Tuhan tidak ada. Dunia dan benda-benda yang membentuknya adalah benda-benda yang ada tanpa suatu alasan ataupun tanpa tujuan apapun. Tidak tercipta, tanpa alsan untuk hidup, mereka sekedar ada.Karena dunia tidak mempunyai alasan untuk ada, Sartre menyebutkan sebagai Yang Absurd. Absurditas ini yang menmbangkitkan dalam diri manusia suatu perasaan muak. Muak adalah suatu yang menjijikan kerena kurangnya makna dalam keberadaannya, suatu keengganan yang mendatangkan sekumpulan realitas yang hitam, tidak jelas dan tidak teratur. Suatu rasa sakit yang muncul pada diri manusia dari kehadiran eksistensi disekelilingnya. Bagi Sartre, manusia berbeda dari makhluk yang lain karena kebebasannya.
Ciri-ciri, Prinsip serta Kelebihan dan Kekurangan Eksistensialisme
Ciri-ciri Eksistensialisme
Ciri-ciri Eksistensialisme yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh eksistensialisme memiliki kesamaan di antaranya:
Motif pokok adalah apa yang disebut eksistensi, yaitu cara manusia berada. Hanya manusialah yang bereksistensi. Eksistensi adalah cara khas manusia berada. Pusat perhatian ini ada pada manusia. Oleh karena itu bersifat humanistis.
Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan dirinya secara katif, bereksistensi berarti berbuat, menjadi, merencanakan. Setiap saat manusia menjadi lebih atau kurang dari keadaannya.
Di dalam filsafat eksistensialisme menusia dipandang sebagai terbuka. Manusia adalah realitas yang belum selesai, yang masih ahrus dibentuk. Pada hakekatnya manusia terikat kepada dunia sekitarnya, terlebih-lebih kepada sesama manusia.
Filsafat eksistensialisme memberi tekanan kepada pengalaman yang konkrit, pengalaman yang eksistensial. Hanya arti pengalaman ini berbeda-beda. Heidegger memberi tekanan kepada kematian, yang menyuramkan segala sesuatu, Marcel kepada pengalaman keagamaan dan Jaspers kepada pengalaman hidup yang bermacam-macam seperti kematian, penderitaan, perjuangan dan kesalahan.
Prinsip Eksistensialisme
Ada beberapa prinsip dari aliran eksistensialisme, yakni sebagai berikut:
Aliran ini tidak mementingkan metafisika (Tuhan). Aliran ini memandang bahwa manusia tidak diarahkan. Manusia yang menciptakan kehidupannya sendiri dan oleh sebab itu manusia bertanggung jawab sepenuhnya atas pilihan-pilihan yang dibuat. Aliran ini memberikan pemahaman kepada individual, kebebasan dan penanggung jawabannya.
Pengetahuan lebih merupakan suatu keadaan dan kecenderungan seseorang. Karena manusia tidak tunduk terhadap apa yang ada di luar dirinya, maka nilai-nilai tidak dicari dari luar diri melainkan dicari dalam diri manusia itu sendiri. Hal ini disebabkan karena nilai itu hidup dalam dirinya. Oleh karena itu, apa yang disebut baik atau buruk tergantung atas keyakinan pribadinya.
Aliran ini memandang individu dalam keadaan tunggal selama hidupnya dan individu hanya mengenal dirinya dalam interaksi dirinya sendiri dengan kehidupan.
Kelebihan dan Kekurangan Eksistensialisme
Kelebihan:
Mengerti akan semua realitas.
Mengetahui pengetahuan tentang manusia.
Kekurangan:
Mengabaikan Perintah Tuhan.
Menyangkal realitas dan kesungguhan perikehidupan antar manusia.
BAB III
PENUTUP
Materialisme dan Idealisme dianggap kurang lengkap dan terdapat kesalahan yang perlu dikoreksi. Eksistensialisme hadir untuk menentang Materialisme dan Idealisme. Eksistensialisme berusaha untuk mengeksistensikan keberadaan manusia. Manusia bukanlah sebagai suatu objek yang bisa disamakan dengan benda mati. Dan eksistensi manusia bukan pula dilihat dari eksistensi pemikirannya. Filsafat eksistensialisme adalah filsafat yang berpangkal dari eksistensi. Artinya, bahwa eksistensialisme merupakan cara manusia berada, atau lebih tepat mengada, di dunia ini. Jadi, hal yang bereksistensi itu hanyalah manusia.
Sekian pembahasan mengenai eksistensialisme dari penulis. Penulis menyadari kekurangan yang terdapat dalammakalah ini dan penulis mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca. Semoga makalah ini dapat bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir. 2001. Filsafat Umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Harun Hadiwijono. 2011. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: KANISIUS
Sutardjo A. Wiramihardja. 2015. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama
Internet
http://charlessimbolon.blogspot.co.id/2014/10/filsafat-aliran-eksistensialisme.html diakses pada tanggal 20 April 2016, pukul 16:18
http://digilib.uinsby.ac.id/11241/5/bab%202.pdfdiakses pada tanggal 20 April 2016, pukul 17.:20
https://id.m.wikipedia.org/ diakses pada tanggal 21 April 2016, pukul 11:37
http://syaharbanu.blogspot.co.id/2013/01/kierkegaard-bapak-eksistensialisme.html diakses pada tanggal 28 April 2016, pukul 19.38
http://www.kompasiana.com/mauidhotulkhasanah/kelebihan-dan-kekurangan-aliran-aliran-filsafat_54f7c28da33311c27b8b4c97 diakses pada tanggal 20 April 2016, pukul 16.:20
Komentar