TAFSIR KONSEP KETUHANAN

PENDAHULUAN
Dalam konsep Islam, Allah adalah Tuhan yang memiliki dzat Yang Maha Tinggi (al-‘Aliyyu) dalam kedudukannya, tiada satupun yang setara dengannya. Konsep ketuhanan dalam islam adalah mengakui sepenuh hati bahwa Allah SWT. Yang Maha Esa (ahad) dan tidak berbilang. Tidak seperti agama lain, yang mempercayai konsep trinitas dll. dalam konsep ketuhanannya. Secara logika, konsep dualisme, trinitas, ataupun konsep yang menyatakan bahwa Tuhan berbilang ialah bertentangan dengan akal dan tidak logis. Bagaimana mungkin, terdapat lebih dari seorang pencipta yang mengatur dan menguasai alam semesta. Jika hal ini terjadi, tentu kekacauan akan tampak di setiap aspek, baik dalam hal qudrat (kekuasaan) ataupun iradah (kehendak).
Jika diri telah mengenali sosok dirinya sendiri, maka ia pun telah mengenal Allah. Kita akan paham siapa yang menciptakan kita dan untuk apa kita diciptakan. Sehingga tujuan hidup akan tergambar dengan jelas dan kehidupan pun akan lebih terarah. Orang yang jauh dari Tuhannya maka hidupnya tidak bahagia dan tidak terarah. Oleh karena itu, keberadaan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Renungkan sejenak, waktu terus berjalan dan segala yang terjadi tidak terlepas dari kuasa Allah, karena segala sesuatu telah di takdirkan-Nya. Maka gunakanlah akal untuk berpikir dan merenungi kebesaran Allah. Sehingga kita dapat bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan.
Adapun, islam datang sebagai rahmatan lil’alamin. Melenyapkan kemusyrikan dan memurnikan akidah ummat manusia. Al-Qur’an turun sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya. ia menjawab semua permasalahan dan memberi solusi yang benar. Al-Qur’an menuntun manusia untuk beriman kepada Allah SWT. semata. Di dalamnya ditegaskan, bahwa Tiada Tuhan Selain Allah SWT. Tuhan ataupun sesembahan selain daripada-Nya ialah batil.
Namun, dalam memahami isi dan makna dalam al-Qur’an diperlukan kajian dari berbagai ilmu. Salah satu diantaranya adalah ilmu tafsir. Mufassir memberikan penjelasan secara rinci mengenai tafsir al-Qur’an. Dengan begitu, tafsiran mufassir dapat membantu dalam mengkaji al-Qur’an, agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menganalisis al-Qur’an itu sendiri. Di sini saya akan mengkaji ketuhanan dalam QS. Al-Hasyr ayat 22.

TEKS DAN TERJEMAH QS. AL-HASYR [60]: 22
(((( (((( ((((((( (( ((((((( (((( (((( ( ((((((( (((((((((( (((((((((((((( ( (((( (((((((((((( (((((((((( ((((   
Dia-lah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

KAIDAH ILMU TAJWID
No.
Lafadz
Hukum Ilmu Tajwid
Alasan
Cara
Membaca
Ket.

1
Huwallahu
tafkhim
lafadz Allah didahului huruf berharakat fathah
lafadz Allah dibaca tebal


2
Wallaahu
mad thabi’i
terdapat fathah berdiri
panjang 1 alif
1 alif= 2 harkat

3
Alladzii
mad thabi’i
terdapat huruf berharakat kasrah menghadapi ya mati
panjang 1 alif


4
Laa ila
mad jaiz munfashil
mad thabi’i bertemu dengan hamzah pada kalimat berikutnya
panjang 2-5 harkat


5
Ilaaha
mad thabi’i
terdapat fathah berdiri
panjang 1 alif


6
Illa
mad thabi’i
terdapat huruf berharakat fathah menghadapi alif mati
panjang 1 alif


7
waqaf jaiz
waqaf jaiz

boleh berhenti atau tidak


8
‘aalimu
mad thabi’i
terdapat huruf berharakat fathah menghadapi alif mati
panjang 1 alif


9
‘alimul gaibi
aliflam qamariyah
aliflam menghadapi salah satu huruf qamariyah yakni ghain
aliflam dibaca jelas “L”


10
Wasy syaha
alif lam syamsiyah
aliflam menghadapi salah satu huruf syamsiyah yakni syin
bunyi aliflam hilang & dimasukkan ke dalam huruf yang ada di depannya


11
Syahaa
mad thabi’i
terdapat huruf berharakat fathah menghadapi alif mati
panjang 1 alif


12
Huwarrah
alif lam syamsiyah
aliflam menghadapi salah satu huruf syamsiyah yakni ra
bunyi aliflam hilang & dimasukkan ke dalam huruf yang ada di depannya


13
Arrahman
ra tafkhim
huruf ra berharakat fathah
huruf ra dibaca tebal


14
Rahmaanu
mad thabi’i
terdapat fathah berdiri
panjang 1 alif


15
Nurrahiim
alif lam syamsiyah
aliflam menghadapi salah satu huruf syamsiyah yakni ra
bunyi aliflam hilang & dimasukkan ke dalam huruf yang ada di depannya


16
rahiim
mad aridl lissukun
mad thabi’i menghadapi huruf hidup dalam satu kalimat & diwaqafkan
panjang 2-6 harkat



ASBABUN NUZUL
Surat al-Hasyr ayat 22 tidak terdapat asbabun nuzul. Khusus tentang rincian beberapa Asmaul-Husna yang disebutkan dalam surat al-Hasyr: 22-24, Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an menjelaskan komentarnya, “Sungguh ini merupakan tasbih seorang hamba yang berulang-ulang dalam kesehariannya. Setiap nama dari nama-nama ini memiliki pengaruh dalam kehidupan semesta yang nyata dan dalam kehidupan setiap manusia. Ia memiliki keterikatan dengan setiap yang hidup, terutama dalam kehidupan manusia. Ia bukanlah sifat salbiyah yang lepas dari kehidupan ini. Namun, ia senantiasa hadir dan tampak menyertai setiap gerak perjalanan hidup manusia”.  
Karena memang Sunnatul Qur’an dalam menyebutkan sesuatu hanya secara global, maka penjelasan lebih rinci akan al-Asma’ul-Husna ini dapat ditemukan dalam hadits Rasulullah SAW. (Atabik Luthfi: 2009)

PENAFSIRAN MUFASSIR
Tafsir Ibnu Katsir
Allah Ta’ala berfirman:
(((( (((( ((((((( (( ((((((( (((( (((( ( ((((((( (((((((((( (((((((((((((( ( (((( (((((((((((( (((((((((( ((((   
“Dia-lah Allah Yang tidak ada ilah (yang haq) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dia-lah Yang Mahapemurah Lagi Mahapenyayang.” Allah Ta’ala memberitahukan bahwa tidak ada ilah yang haq selain Dia, karena itu tidak ada Rabb melainkan hanya Dia semata, dan tidak ada sembahan bagi semesta alam kecuali Dia. Segala sembahan selain dari-Nya adalah bathil. Dan bahwasannya Dia Mahamengetahui segala yang ghaib dan yang tampak. Artinya, Dia mengetahui seluruh ciptaan ini baik yang tampak oleh pandangan kita maupun yang tidak tampak. Tidak ada satupun yang tersembunyi dari-Nya baik di muka bumi ini maupun di langit, kecil maupun besar, bahkan semut kecil yang berada di kegelapan sekalipun.
       Dan firman-Nya: 
Huwarrahmanurrahim
“Dia Yang Mahapemurah Lagi Mahapenyayang.” Penafsiran ayat ini telah dikemukakan di awal surat al-Fatihah. Artinya, Dia adalah rabb yang mempunyai sifat rahmat yang sangat luas dan mencakup seluruh makhluk. Jadi, Dia adalah Yang Mahapemurah di dunia dan di akhirat, juga Mahapenyayang di kedua alam tersebut. Allah telah berfirman:
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ 

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raaf: 156)
Tafsir al-Maraghi
Penafsiran kata-kata sulit
Al ghaibi _ Al-Gaib : segala alam yang tidak terjangkau indera dan tidak kita lihat.
Asy syahaadah _ Asy-Syahᾱdah : benda-benda material yang dapat kita saksikan.
Allah SWT. mensifati diri-Nya dengan keagungan sifat-sifat yang merupakan rahasia keagungan dan kebesaran-Nya. Firman-Nya:
(((( (((( ((((((( (( ((((((( (((( (((( ( ((((((( (((((((((( (((((((((((((( ( (((( (((((((((((( (((((((((( ((((   
Sesungguhnya tidak ada Tuhan selain dia. Segala sesuatu yang disembah selain Dia, baik itu pohon, batu, berhala maupun malaikat adalah batil. Dia mengetahui segala makhluk yang nyata bagi kita dan yang gaib. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya, baik di langit maupun di bumi. Dia mempunyai rahmat yang luas dan meliput segala makhluk. Dia-lah Yang Maha Rahman di dunia dan Maha Rahim di dunia dan di akhirat.
Tafsir al-Misbah
 “Dia Allah Yang tiada Tuhan selain Dia. Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dia-lah ar-Raẖmȃn lagi ar-Raẖim.”
Kelompok ayat ini merupakan penutup uraian surah. Sebelum ini telah berulang-ulang disebut nama Allah atau pengganti nama-Nya serta sifat-sifat-Nya (26 kali menyebut kata Allah dan 16 kali pengganti atau penyebutan sifat-sifat-Nya). Kesemuanya menunjuk keagungan Allah SWT. di sisi lain, ayat yang lalu (QS. Al-Hasyr: 21) menguraikan tentang keagungan al-Quran. Maka, sangat wajar jika kelompok ayat in berbicara tentang sifat-sifat Allah yang menurunkan kitab suci itu, sekaligus menunjuk kepada Allah yang disebut berulang-ulang pada ayat-ayat lalu. 
Ayat ini menunjuk-Nya dengan kata “Dia”, yakni Dia yang menurunkan al-Quran yang disebut-sebut pada ayat-ayat yang lalu. Dia, Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah serta tiada Pencipta dan Pengendali alam raya selain Dia, Dia Maha Mengetahui yang gaib, baik yang nisbiyy/relatif maupun yang mutlak dan yang nyata. Dia-lah saja ar-Raẖmȃn, Pencurah rahmat yang bersifat sementara untuk seluruh makhluk dalam pentas kehidupan dunia ini, lagi ar-Raẖim, Pencurah rahmat yang abadi bagi orang-orang beriman di akhirat nanti.
Al-Biqȃ’i berkomentar tentang kata (huwa) huwa pada ayat di atas bahwa Dia yang wujud-Nya dari zat-Nya sendiri sehingga Dia sama sekali tidak disentuh oleh ‘adam (ketiadaan) dalam bentuk apa pun dan, dengan demikian, tidak ada wujud yang pantas disifati dengan kata tersebut selain-Nya karena Dia-lah yang selalu wujud sejak dahulu hingga kemudian yang tidak terhingga. Dia-lah yang hadir pada setiap benak, dan yang gaib (tidak terjangkau) keagungan-Nya oleh semua indra, dan karena itu pula gunung retak karena takut kepada-Nya.
Kata (huwa) huwa yang mendahului kata ar-Raẖmȃn ar-Raẖim berfungsi mengkhususkan kedua sifat itu dalam pengertiannya yang sempurna hanya untuk Allah SWT.
Kata (allah) Allȃh sepintas tidak diperlukan lagi karena kata huwa telah menunjuk kepada-Nya. Tetapi, ini agaknya untuk menggambarkan semua sifat-sifat-Nya, menyebut sifat-sifat tertentu, karena kata Allah menunjuk kepada Zat yang wajib wujud-Nya itu dengan semua sifat-Nya, baik sifat zat maupun sifat fi’l. apabila anda berkata “Allah”, apa yang Anda ucapkan itu mencakup semua nama-nama-Nya yang lain, sedang bila Anda mengucapkan nama-Nya yang lain (misalnya ar-Raẖim atau al-Malik) ia hanya menggambarkan sifat Rahmat atau sifat kepemilikan-Nya. Rujuklah ke QS. Al-Fȃtiẖah untuk memahami kandungan makna kata Allȃh, illȃh, serta ar-Raẖmȃn dan ar-Raẖim.
Penyebutan sifat ar-Raẖmȃn dan ar-Raẖim setelah menegaskan pengetahuan-Nya yang menyeluruh mengisyaratkan bahwa Dia Maha Mengetahui keadaan makhluk-Nya sehingga semua diberikan rahmat sesuai kebutuhan dan kewajarannya menerima.
 Tafsir Fi Zhilalil Qur’an
 “Dialah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia….”
Ia menetapkan dalam nurani tentang keesaan dan kesatuan keyakinan, keesaan dan kesatuan beribadah, keesaan kesatuan arah dan maksud, dan keesaan dan kesatuan dorongan dan semangat dari sejak awal penciptaan dan akhirnya. Di atas keesaan dan kesatuan ini, berdirilah dan terbangunlah manhaj yang sempurna dalam berpikir, bercita rasa, berasumsi, berkeyakinan, dan berperilaku. Juga dalam hubungan manusia dalam alam semesta dan seluruh kehidupan, serta hubungan manusia antara sebagian mereka dengan sebagian yang lain atas dasar dan asas keesaan Tuhan, Allah.
“…Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata….”
Keyakinan kepada ilmu Allah tentang perkara lahiriah dan perkara yang tersembunyi semakin kokoh dalam hati. Dengan demikian, akan terbangun kesadaran dalam hati ini tentang pengawasan Allah dalam perkara-perkara yang rahasia dan terang-terangan. Sehingga, akan melaksanakan segala sesuatu dengan perasaan diawasi oleh Allah dan mawas diri kepada-Nya, di mana manusia tidak hidup sendirian walaupun dia sedang menyendiri atau sedang bermunajat. Kemudian perilakunya selalu disesuaikan dengan perasaan itu, di mana hatinya tidak akan melupakan dan melalaikan dirinya sendiri darinya.
“…Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (al-Hasyr: 22)
Perasaan ketenangan dan damai dalam nurani kepada rahmat Allah dan kenikmatan-Nya akan semakin kokoh. Kemudian antara perasaan ketakutan dengan harapan pun pasti menjadi seimbang dan demikian pula antara perasaan keguncangan dengan ketenangan. Dalam pandangan seorang mukmin. Allah tidak akan mengusir hamba-hamba-Nya melainkan hanya mengawasi mereka. Allah tidak menginginkan keburukan bagi mereka. Dia tidak membiarkan mereka tanpa pertolongan-Nya menghadapi sendiri kejahatan dan hawa nafsunya.
Tafsir Hasbi ash-Shiddieqy 
Huwa ‘llaahu ‘lladzi laa illaaha illaa huwa ‘aalimu ‘lghaibi wa ‘lsyahaadati huwa ‘lrahmaanu ‘lrahiim= Dialah Allah, tak ada Tuhan melainkan Dia, maha tahu segala yang ghaib dan segala yang nyata. Dialah Allah yang Rahman, yang tetap mencurahkan rahmatNya.
Yakni: Tuhan yang telah menurunkan Al Qur-an dan memerintahkan kita bertakwa kepadaNya, ialah Allah yang wajib wujudNya yang kekal dan abadi yang di sembah, yang sangat pemurah lagi kekal rahmatNya. Dia mengetahui segala yang lahir dan segala yang ghaib, tak ada sedikitpun yang tersembunyi bagiNya, baik di bumi maupun di langit. Tak ada Tuhan yang berhak di sembah selain daripadaNya.

ANALISIS ISI KANDUNGAN AYAT
“Tiada tuhan selain Allah”. Kalimat ini merupakan kalimat Tauhid. Inti dari kalimat ini adalah menafikan semua yang disembah selain Allah SWT. dan menetapkan Ibadah hanya kepada Allah SWT. Meyakini dan mengakui sepenuh hati Allah Maha Esa dan tidak berbilang. Menghindari sekecil apapun hal-hal yang merusak aqidah dan memurnikan tauhid dari perkara-perkara musyrik, agar Tauhid tetap kokoh tertanam dalam hati. 
Man ma ta wa huwa ya’lamu annahu laa ilaaha illallahu dakhala ljannah
“Barangsiapa yang meninggal dunia dalam kedaan ia mengetahui bahwa tidak ada illah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, maka ia masuk Surga”. (HR. Muslim (no.26) dari sahabat ‘Utsman ra.
Berdasarkan hadits diatas, kunci surga adalah kalimat “laa ilaaha illallah”. Apabila ingin memasuki surga hendaknya menjaga selalu iman sampai akhir hayat, sehingga meninggal dalam lindungan Allah dengan membawa iman islam dan meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Allah Maha mengetahui (al-‘Aliimu), baik yang syahadah maupun yang gaib. Dan pada-Nya kunci-kunci segala yang gaib. Tiada yang mengetahuinya selain Ia, Ia mengetahui apa yang di darat dan di laut. Tiada daun yang jatuh yang tiada diketahui-Nya.
Ia mengetahui apa yang kamu lakukan. dan Ia mengetahui apa yang tersirat dalam benakmu sekalipun kamu tidak mengatakannya. Dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan. Kemudian diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu lakukan.
Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Karena Ar-Rahman Allah-lah Ia menurunkan al-Quran untuk umat manusia, Ia tidak membiarkan hambaNya tersesat. Siapa saja yang memahami secara benar makna ar-Rahman, dia akan mengetahui bahwa di balik nama tersebut terkandung makna pengutusan para rasul dan penurunan kitab suci. Pengertian ini lebih luar biasa dibanding sekadar membuat makna menurunkan hujan dan menumbuhkan biji-bijian. (Said bin Ali: 2010) 
Allah Maha Rahman tanpa pandang bulu, Ia Rahman pada semua makhluk, baik yang taat maupun yang ingkar. Adapun Allah (Rahim), khusus kepada makhluk pilihanNya yang Dia sayangi. Dari Ibnu Syihab, Sesungguhnya Sa’id bin al-Musayyab menceritakan kepadanya, sesungguhnya Abu Hurairah berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Allah membuat kasih sayang sebanyak 100 bagian, lalu Allah memegang 99 bagian dan menurunkan 1 bagian kasih sayang ke dunia, sehingga semua makhluk saling mengasihi, termasuk seekor binatang mengangkat kakinya karena khawatir anaknya akan terpijak”. (HR. Muslim (2752) Jilid 4)
Allah SWT. banyak memberikan rahmat dan kasih sayang serta nikmat kepada manusia yang jumlahnya tidak terbatas dan tidak dapat diukur. Adapun kewajiban manusia adalah mensyukuri segala apa yang dianugerahkan Allah SWT. bersyukur bisa dilakukan dengan tiga cara; pertama, dengan hati; artinya dengan meyakini sepenuh hati bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT. kedua, dengan lisan (ucapan); yaitu dengan mengucapkan bacaan-bacaan mulia semisal hamdalah yang umum dibaca ketika mendapat nikmat, atau bacaan-bacaan mulia lainnya, terutama membaca al-Qur’an. Ketiga, dengan anggota badan; artinya bersyukur dengan melakukan amal ibadah kepada Allah. (Cecep Anwar: 2016) 

PENUTUP
Sunnatullah ialah mutlak, dan di setiap sunnatullah terdapat Ilmu Allah yang melingkupinya. Ia ada yang tersurat dan ada yang tersirat. Al-Quran ialah bentuk rahman Allah yang diberikan kepada ummat manusia. Hanya orang-orang berakal yang mau berpikirlah yang dapat meresapi bentuk kasih sayang Allah tersebut. Semoga kita termasuk di antara mereka.
Sekian ulasan mengenai kajian QS. Al-Hasyr ayat 22. Saya mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang kurang berkenan di dalam paper ini. Kebenaran hanya milik Allah SWT. dan kesalahan adalah milik saya. Terimakasih atas waktu yang pembaca luangkan, semoga ada manfaatnya.  

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah bin Muhammad & Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. 2008. Tafsir Ibnu Katsir Jilid 8. Diterjemahkan oleh: M. Abdul Ghoffar E.M. & Abu Ihsan al-Atsari. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafii.
Ahmad Mustafa al-Maragi. 1993. Tafsir al-maraghi 28. Diterjemahkan oleh: Bahrun Abubakar dkk. Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang.
Atabik Luthfi. 2009. Tafsir Tazkiyah. Jakarta: Gema Insani
Cecep Anwar. 2016. Tafsir ayat-ayat ketuhanan, kemanusiaan dan kehidupan. Bandung
Departemen Agama RI. 2005. Al-quran dan Terjemahannya. Bandung: CV. Penerbit Diponegoro
Hasbi ash-Shiddieqy. Tafsir al-Quran Djuz 28 s/d 30. Jakarta: Bulan Bintang
Internet. 08 Februari 2016 (16: 50 WIB). Hadis sahih muslim luasnya rahmat Allah. www.hafiids65.blogspot.co.id. 
M. Quraish Shihab. 2002. Tafsir al-Misbah 13. Jakarta: Lentera Hati.
Said bin Ali bin Wahf al-Qahtani. 2010. Hakikat & Makna Asmaul Husna. Diterjemahkan oleh: Sharih al-Khalid. Jakarta: Embun Litera Publishing
Sayyid Quthb. 2004. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid II. Jakarta: Gema Insani Press
Thomas Ballantine dkk. 1996. Al-quran Tentang Akidah & Segala Amal-Ibadah Kita. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Yazid bin Abdul Qadir Jawas. 2012. Prinsip Dasar Islam. Bogor: Pustaka at-Taqwa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAFALAN QUR'AN HILANG KARENA MAKSIAT

PERTANYAAN DI PADANG MAHSYAR

EMPAT UNSUR TAWAKKAL