PROSES PERANG SALIB
PROSES TERJADINYA PERANG SALIB
Di antara para sejarawan terdapat perbedaan pendapat dalam menetapkan periodisasi Perang Salib. Ahmad Syalabi membagi Perang Salib atas tujuh periode, sedangkan Phillip K. Hitti memandang Perang Salib berlangsung terus menerus dengan kelompok yang bervariasi, kadang-kadang lama atau sebentar, kadang-kadang berskala besar dan tidak jarang pula berskala kecil. Selain itu, garis demarkasi antara gerakan yang satu dengan yang lainnya tidak jelas. Berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber yang berkaitan dengan Perang Salib baik dari sudut pandang Muslim ataupun sudut pandang Kristen, penulis membagi Perang Salib menjadi 4 periode, yakni Perang Salib I, II, III dan lanjutan.
PERANG SALIB I DAN KEKALAHAN KAUM MUSLIMIN (1096-1144 M)
Byzantium (Romawi Timur) merupakan sebuah imperium Kristen yang sangat besar. Kekaisaran ini berpusat di Konstatinopel (Istanbul), sebuah kota yang sangat indah, berbenteng kuat, serta memiliki lokasi yang sangat strategis. Byzantium merupakan penerus kekaisaran Romawi Kuno yang wilayahnya sempat mencakup seluruh Eropa, Asia Minor, Syam, Mesir, dan Afrika Utara. Sebelum munculnya Islam, kekaisaran Byzantium telah kehilangan kendali atas wilayah Eropa Barat. Kemunculan serta ekspansi Islam sejak abad ke-7 membuat luas wilayah Byzantium menjadi semakin berkurang. Syam, Mesir, dan Afrika Utara yang dulu dikuasainya satu demi satu jatuh ke tangan Islam. Pada masa-masa berikutnya, wilayah Byzantium menjadi terbatas pada Eropa Timur dan Asia Minor saja.
Pada penghujung abad ke-11, Byzantium mendapat gangguan dari beberapa bangsa Eropa pada bagian Barat kekuasannya. Namun ancaman paling besar datang dari sebelah Timur, yaitu oleh Bangsa Turki Saljuk yang beragama muslim Sunni. Pada pertengahan tahun 1071, Kaisar Byzantium, Romanus, mengerahkan sekitar 100.000 tentara untuk menjaga sebuah benteng dekat Danau Van, Armenia, dari ancaman Turki Saljuk. Tak lama kemudian tentara Turki Saljuk tiba di tempat tersebut dipimpin oleh sultan Alp Arsan (w. 1072). Setelah itu terjadi pertempuran besar yang dikenal dengan Perang Manzikert. Jumlah pasukan Turki Saljuk lebih sedikit dibandingkan dengan pasukan Byzantium, tapi mereka mampu mengalahkan Byzantium dan melawan kaisarnya.
Selama sepuluh tahun berikutnya, terjadi dua kali pergantian kekuasaan di Konstatinopel. Pada tahun 1081, alexius Commenus (1057-1118) mengambil alih kekuasaan dan menjadi kaisar Byzantium yang baru. Pada awal kekuasannya, ia menghadapi tantangan yang sangat serius di Asia Minir. Kota Nicaea (Iznik) direbut oleh Turki Saljuk pada tahun 1081. Tiga hingga empat tahun berikutnya, Antioch (Antakya), Edessa (al-Ruha), dann Melitene (Malatya) juga jatuh ke tangan Turki Saljuk. Semua itu merupakan kota-kota penting di wilayah Asia Minor dan Armenia. Pada masa-masa ini juga didirikan Kesultanan Rum di Asia Minor.
Pada tahun 1090-an, keadaan politik dan militer di wilayah Byzantium lebih baik dan menguntungkan bagi Alexius. Di bagian TImur, para bangsawan Turki saling berebut kekuasaan di antara sesama mereka. Bagi Alexius, ini merupakan peuang yang sangat baik untuk merebut kembali wilayah-wilayah d Asia Minor, seperti Antioch dan Edessa, dari tangan Muslim. Tapi rupanya ia tidak begitu yakin dengan kekuatannya sendiri dalam menghadapi pasukan Turki yang mulai berpecah belah ini. Karena itu ia berpikir untuk meminta bantuan dari Kerajaan-kerajaan Katolik di Eropa Barat dalam mencapai tujuannya itu.
Pada bula Maret 1095, alexius mengirim utusan kepada Paus Urbanus II di Roma agar berkenan mengupayakan pengiriman pasukan di wilayah-wilayah yang ada di bawah pengaruhnya. Ia mengetahui prajurit-prajurit dari wilayah Eropa Barat memiliki potensi yang besar dan dapat diandalkan untuk misinya itu. Dan ia juga mengetahui bahwa suara Paus cukup didengar dan berpengaruh bagi masyarakat di Eropa Barat yang umumnya menganut Katolik.
Alexius memilih waktu yang tepat dalam mengajukan permintaan tersebut. Pada Maret 1095 ada sidang gereja yang dipimpin oleh Paus Urbanus II di Piacenxa. Ia mengirim utusannya pada sidang gereja in. permohonannya tidak sia-sia, karena Paus menyambut positif permintaannya tersebut.
Pada pertengahan tahun 1095, Paus Urbanus II melakukan perjalanan ke Perancis. Ia mengundang para pendeta Perancis untuk berkumpul dalam suatu sidang yang akan diadakan di Clermont, Perancis, pada tanggal 26 November 1095 M. Pada sidang inilah, ide Perang Salib berkembang dalam pikran Urbanus II. Di dalam sidang ini, Paus Urbanus memberikan khotbah yang akan menandai lahirnya Perang Salib. Khotbahnya sangat menyentuh dan menggerakan hati orang yang mendengarkannya, menurut Edward Gibbon, khotbah itu “menyentuh syaraf perasaan yang sangat halus dan kegemparan pun mengguncangkan jantung Eropa”.
Secara ringkas, khotbah Paus Urbanus II yang dilaporkan oleh Robert the Monk di atas dapat dijelaskan sebagai berikut ini. Setelah memuji kelebihan bangsa Perancis, Paus menginformasikan jatuhnya tanah Umat Kristiani di Timur ke tangan bangsa yang ‘kejam dan tak mengenal Tuhan’. Kemudian Paus mengingatkan tentang kewajiban mereka membela wilayah Kristen dan mengikuti contoh dari leluhur mereka. Akhirnya ia mengingatkan tentang keadaan di Perancis yang susah serba kekurangan dan membuat mereka saling membunuh, serta mendorong mereka untuk pergi ke Yerussalem yang makmur dan mengharapkan pembebasan dari mereka.
Pidato itu bergema ke seluruh penjuru Eropa sehingga seluruh negara Kristen mempersiapkan berbagai bantuan untuk mengadakan penyerbuan. Gerakan yang dipimpin oleh Pierre I’Ermite, spontanitas diikuti oleh berbagai kalangan masyarakat (rakyat jelata) yang tidak mempunyai pengalaman berperang, tidak disiplin, dan tanpa persiapan. Sepanjang jalan menuju Konstantinopel, mereka melakukan keonaran, perampokan dan terjadi bentrokan dengan penduduk Hongaria dan Bizantium.
Dunia Islam pada masa itu berada dalam keadaan yang kacau balau. Keadaan politik dan keagamaannya telah sangat jauh berbeda dari konsep ajaran islam yang indah serta gambaran generasi aawal muslim yang ideal.
Kekhalifahan Abbasiyah yang memimpin dunia Islam pada masa itu telah lama terpecah-pecah menjadi kesultanan dan dinasti-dinasti kecil yang memerintah berbagai wilayah Islam. Masing-masig kesultanan mengakui kedudukan khalifah, tetapi mereka memerintah secara independen. Khalifah sendiri sudah tidak berfungsi sebagai kepala pemeritahan. Ia hanya berfungsi sebagai simbol saja. sementara yang bertindak sebagai kepala pemerintahan dan mengatur urusan pemerintahan adalah sultan yang berada di bawahnya.
Perpecahan menjadi lebih serius dengan kemunculan Dinasti Fatimiyah yang beraliran Syiah Ismailiyah. Dinasti ini muncul di Tunisia pada tahun 909. Pada tahun 969 dinasti ini berhasil menguasai Mesir dan menjadikan Kairo sebagai ibukotanya. Tidak seperti kesultanan-kesultanan lainnya yang beraliran Sunni dan mengakui kedudukan Khalifah Sunni di Baghdad, Fatimiyah tidak mengakui khalifah Sunni di Baghdad. Pemimpin dinasti Fatimiyah mengklaim bahwa dirinya sebagai khalifah yang sah dan penerus Rasulullah saw.
Kekuasaan Dinasti Fatimiyah terus menguat dan melebar hingga ke wilayah Palestina, Syria dan sekitarnya. Peristiwa dihancurkannya Holy Sepuchler di Yerussalem (al-Quds) pada tahun 1909 dan pembangunannya kembali pada tahun 1040 terjadi ketika kota ini dan seluruh wilayah di sekitarnya berada di bawah Dinasti Fatimiyah.
Puncak kegentingan konflik dunia sunni dan syiah Ismailiyah terjadi pada pertengahan tahun 1050-an. Ketika itu terjadi kudeta di pusat pemerintahan Abbasiyah di Baghdad oleh seorang tokoh Islmailiyah bernama al-Basasiri. Setelah kudeta tersebut, al-Basasiri memimpin Baghdad atas nama Dinasti Fatimiyah. Keadaan di dunia sunni ketika itu begitu suram hingga dikatakan pemerintahan Islam menjadi kacau dan Darusalam (yaitu Dinasti Abbasiyah) menjadi lumpuh. Cukup lama khalifah terasingkan dan semakin besar penderitaan rakyat.
Namun hal itu tidak berlangsung lama. Kira-kira setahun kemudian datang tentara Turki Saljuk. Mereka berhasil memadamkan kudeta dan mengembalikan kekuasaan Khalifah Abbasiyah. Atas jasa mereka itu, maka kedudukan sultan di Baghdad diserahkan kepada pimpinan Bani Saljuk. Dalam waktu singkat, mereka berhasil merebut kembali wilayah Palestina dan Syria yang sebelumnya dikuasai oleh Fatimiyah. Selain membebaskan Syria dan Palestina dari Fatimiyah, tentara Turki Saljuk juga berhasil merebut wilayah Byzantium di Asia Minor.
Bani Saljuk merupakan tentara yang sangat berani dan sangat tangguh dalam pertempuran. Mereka juga memiliki keberpihakan yang kuat terhadap Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Namun para pemimpin Bani Saljuk tidak semuanya konsisten berpegang pada nilai-nilai islam. Selain itu, mereka siap untuk menguasai suatu wilayah atau menjaga wilayah yang telah mereka kuasai walaupun mereka harus bermusuhan dan berperang dengan sesama pemimpin Bani Saljuk yang merupakan saudara kadung dan sepupu mereka sendiri.
Persaingan dan konflik di antara sesama pemimpin Turki Saljuk telah menyebabkan wilayah Islam, termasuk di Syria dan Palestina, terpecah-pecah ke dalam kesultanan-kesultanan kecil. Hal ini menyebabkan keadaan menjadi sangattidak stabil. Batas-batas wilayah dan kota-kota Muslim menjadi bahan rebutan di antara mereka. Pertempuran demi pertempuran terjadi tanpa kenal henti. Keadaan inilah yang dimanfaatkan oleh Kaisar Byzantium untuk meminta bantuan pada Eropa Barat.
PROSES SERANGAN PERANG SALIB I
Khotbah Paus Urbanus II menyebar dengan cepat. Paus memerintahkan beberapa pendeta untuk menyebarluaskan seruan itu kepada para bangsawan dan masyarakat. Diantara mereka terdapat pendeta yang mengkhususkan diri mempromosikan ide Perang Salib yaitu Peter si Pertapa (w.1115). ia berhasil menghimpun massa dalam Perang Salib I.
Pada bulan Maret 1096, rombongan pertama Perang Salib berangkat menuju Konstantinopel, untuk seterusnya pergi ke Yerussalem. Pemimpin umum rombongan ini adalah Peter. Mereka berangkat ke Konstantinopel melalui Hunggaria dan Bulgaria, negeri bawahan Byzantium.
Di dalam perjalanan tersebut, tidak sedikit masalah yang mereka hadapi, seperti perpecahan pasukan, pertengkaran dengan masyarakat setempat (Hunggaria, Belgrade dan Byzantium). Pada bulan September, beberapa ribu orang Perancis melakukan penyerangan di sekitar Kota Nicaea, ibukota Kesultanan Rum, Kesultanan Turki Saljuk di Asia Minor yang ketika itu dipimpin oleh Kilij Arslan bin Sulaiman (w.1107), sultan muda yang usianya belum mencapai 17 tahun. Mereka melakukan perampasan di desa-desa sekitar dan menyiksa serta membunuh penduduk Kristen yang ada di desa-desa itu secara kejam. Bahkan, mereka dikatakan membakar hidup-hidup bayi dan anak-anak. Pasukan Turki dikirim keluar dari gerbang kota untuk menghadapi pasukan Salib ini, tetapi mereka berhasil dikalahkan. Pasukan Perancis ini kemudian kembali ke Cibotos dengan membawa rampasan perang yang banyak.
Pada akhir September, tidak mau kalah dengan apa yang telah dilakukan Pasukan Perancis, pasukan Jerman dan Italia berangkat dengan ribuan pasukan. Mereka bergerak lebih jauh dari NIcacea. Dan akhirnya mereka tiba di sebuah kastil yang bernama Xerogordon dan berhasil menguasainya. Mereka hendak menjadikan kastil itu sebagai markas pertahanan mereka untuk menyerang daerah sekitar.
Kali ini Kilij Arslan dan pasukannya sudah lebih siap. Mereka lebih mengenal daerah itu dan jauh lebih berpengalaman dibandingkan lawan mereka. Pasukan Turki Saljuk segera mengepung Xerigoordon. Pasukan salib di dalam benteng tidak tahu bahwa sumber air untuk benteng tersebut terletak di luar benteng. Pasukan Turki Saljuk menyekat sumber air ini sehingga mereka yang di dalam benteng kehabisan air dan lama kelamaan menderita kehausan. Mereka tidak mampu bertahan lebih lama. Rainald dan kawan-kawannya akhirnya menyerah. Ia dan beberapa orang lainnya bersedia meninggalkan agama Kristen dan masuk Islam dijadikan sebagai tawanan dan dikirim ke Aleppo di Syria dan kemudian di kirim ke Khurasan di Asia Tengah. Sementara sisanya yang tetap bertahan pada agamanya dibunuh oleh Pasukan Turki Saljuk.
Setelah itu Kilij Arslan mengirim dua orang mata-mata Yunani ke Cibotos. Dan menyebarkan isu bahwa pasukan Rainald berhasil menaklukkan Nicaea, mereka mendapatkan banyak rampasan, tetapi tidak ingin membaginya dengan saudara-saudara mereka di Cibotos. Hal ini menimbulkan kemarahan pasukan Perancis, dan pasukan ini memutuskan untuk berangkat ke Nicaea untuk membalas kematian saudara mereka.
Saat pasukan Perancis berarak keluar dari Cibotos pada subuh hari tanggal 21 Oktober 1096, Kilij Arslan dan pasukannya sudah menunggu dan bersembunyi di balik sebuah bukit yang menghadap ke gerbang Cibotos. Belum sampai satu jam pasukan Perancis berjalan, Kilij arslan memerintahkan serangan mendadak. Pasukan pemanah segera menghujani pasukan Perancis. Dan dari serangan di bawah Kilij Arslan, pasukan salib mengalami kekalahan yang sangat fatal.
Sementara itu, Kilij Arslan dan pasukannya berhasil meraih kemenangan gilang gemilang di Asia Minor. Hanya sedikit anggota pasukannya yang gugur dalam pertempuran. Namun, kemenangan kadang dapat mengecoh. Kilij Arslan merasa terkejut saat rombongan pasukan Salib berikutnya menyebrang dari Konstatinopel ke Asia Minor.
Para bangsawan yang ikut dalam Perang Salib setelah rombongan rakyat jelata yang dipimpin Peter The Hermit merupakan tentara yang jauh lebih kuat dan lebih disiplin dibandingkan rombongan yang dibawa Peter. Banyak hal yang perlu disiapkan, seperti uang, persenjataan, dan wakil untuk mengurus wilayah selama mereka pergi, membuat masing-masing bangsawan ini berangkat agak lambat. Keberangkatan mereka yang masa itu disebut sebagai ksatria (knight), dibagi menjadi beberapa kelompok. Rombongan pertama dipimpin oleh Hugh of Vermandois (w.1101). berumur sekitar empat puluh tahun dan berangkat dengan pasukan yang tidak terlalu besar. Ia berangkat pada akhir Agustus 1096, ia menempuh jalur Italia Selatan, kemudian melewati jalur laut, dan tiba di Konstantinopel pada bulan Oktober atau November tahun itu. Kaisar Alexius menerimanya dengan baik dan memberi banyak hadiah kepadanya, tapi tidak memberinya kebebasan bergerak. Alexius ingin memastikan bahwa seluruh bangsawan Perancis akan berangkat ke Timur tanpa mengabaikan kepentingan Byzantium.Rombongan berikutnya dipimpin oleh Godfrey of Bouillon (d.1100), pangeran dari wilayah Lorrainedi Perancis Selatan. Ia berumur empat puluh tahun. Ia berangkat daengan jumlah pasukan yang sangat besar dan persiapan yang mencukupi. Godfrey dan pasukannya berangkat dari Lorraine pada akhir Agustus 1096. Mereka melewati jalur darat melalui Hunggaria dan Bulgaria, seperti yang dilakukan oleh Peter the Hermit dengan rombongannya. Pada tanggal 23 Desember 1096, mereka tiba di KOnstantinopel dan berkemah di luar tembok Konstantinopel. Rombongan berikutnya yang berangkat adalah Bohemond of Taranto (w.1111) dan pasukan Norman yang dipuimpinnya. Bohemond berusia empat puluh tahun lebih.mereka berangkat dari Bari di Italia Selatan pada bulan Oktober. Pasukannya tidak sebesar pasukan Godfrey tetapi pasukan tersebut lebih terlatih dan disiplin. Psukan Bohemond berangkat ke Konstantinopel pada penghujung April 1097 untuk terus disebrangkan ke Asia Minor dan berkumpul dengan pasukan lainnya yang sudah ada di sana.rombongan yang keempat dipimpin oleh Raymond of Saint-Gilles, atau dikenal juga sebagai Raymond IV of Toulouse. Usianya sekitar enam puluh tahun. Ia berangkat pada bulan Oktober 1096 dan baru tiba di Konstantinopel pada bulan April 1097.
Kini semua pasukan Salib sudah berkumpul di Pelecanum, sebuah kota dalam perjalanan ke Nocomedia. Jumlah mereka diperkirakan enampuluh sampai seratus ribu orang. Mereka juga terdiri dari tentara-tentara yang terlatih dan biasa berperang di medan tempur. Kaisar Byzantium sendiri tideak ikut dalam rombongan pasukan ini, tetapi mereka mengirimkan pasukan Byzantium bersama peralatan perang untuk mengepung benteng beserta para insyinyurnya. Peter the Hermit dan anggota pasukan lamanya yang masih tersisa ikut menyertai rombongan ini. Pasukan Salib bergerak dalam satu kesatuan komando dengan salah satu bangsawan sebagai pemimpin tertinggi pasukan. Setelah semua pasukan berkumpul di Asia Minor, maka target pertama mereka adalah ibukota Rum, yaitu kota Nicaea. Mayoritas penduduknya adalah Kristen Yunani. tetapi kota ini dikuasai dan dikawal oleh pasukan Turki Saljuk.
Pada tanggal 6 Mei 1097 mereka tiba di Nicaea. Mereka mengepung kota ini. Godfrey dan pasukannya mengepung bagian Utara kota, pasukan Norman yang ketika itu dipimpin oleh Tancred berjaga di bagian Timur. Sementara bagian Selatan untuk sementara dibiarkan kosong, menungggu datangnya pasukan Raymond of Saint-Gilles. Pasukan Turki yang ada di dalam kota tak akan sanggup menahan pasukan yang besar ini. Maka mereka pun mengirim utusan untuk menginformasikan situasi yang genting itu pada Sultan Kilij Arslan yang sedang berada di tempat lain.
Sebetulnya Kilij Arslan sudah mengetahui adanya pasukan baru Kroisten yang memasuki Asia Minor. Namun karena kemenangan yang mudah saat menghadapi pasukan sebelumnya, ia memandang remeh ancaman yang baru ini. Ia mengira bahwa pasukan yang baru datang sama tidak berpengalamannya dengan pasukan petani yang datang menyerbu beberapa waktu lalu. Perkiraannya sama sekali salah. Dan ketika ia menyadari kesalahannya, keadaan sudah terlalu sulit untuk diatasi.
Ia mengambil keputusan terbaik yang dapat dipilihnya. Ia mengirim utusan untuk melakukan genjatamn senjata dengan Danishmend serta memberitahukan kepadanya tentang datangnya ancaman ke Asia Minor dari pasukan Kristen. Tanpa menunggu hasil kesepakatan terlebih dahulu, ia segera mengirim sebagian pasukannya ke Nicaea, dengan harapan mereka dapat mempertahankan sisi sebelah Selatan kota saat bagian itu belum dikepung oleh musuh. Namun mereka terlambat. Saat pasukan Turki ini tiba di Nicaea, kota ini sudah dikepung dari semua arah.
Setelah tercapai gencatan senjata dengan Danishmend, Kilij Arslan dan tentaranya segera memacu kuda mereka menuju Nicaea. Apa yang dilihat Kilij Arslan saat tiba di kota tersebut membuat dirinya gamang. Kota itu telah dikepung dari berbagai penjuru oleh Pasukan Salib dalam jumlah yang sangat besar. Mereka menggunakan alat-alat pengepungan seperti ketapel raksasa dan menara-menara yang dapat digerakkan untuk menaiki benteng kota. Serangan kali ini sangat jauh berbeda dengan serbuan pasukan petani pada tahun sebelumnya.
Kilij Arslan mereka tidak yakin ia dan pasukannya dapat menghadapi pasukan ini serta mempertahankan kota Nicaea. Jumlah pasukannya kalah banya, dan ia sudah kalah strategi sejak awal. Namun ia tetap harus mencoba upaya terbaik yang dapat ia lakukan untuk menyelamatkan ibukota kesultanannya. Maka sejak shubuh pada tanggal 21 Mei, ia dan pasukannya bertempur dengan pasukan Raymond of Saint Gilles pada bagian Selatan kota. Bagian ini yang tampaknya merupakan titik pengepungan yang paling lemah. Kilij Arslan berharap ia dan pasukannya dapat memukul musuh pada bagian Selatan ini dan memasuki kota untuk kemudian mempertahankannya dari dalam.
Pertempuran terjadi seharian penuh dan jatuh korban yang cukup besar di kedua belah pihak. Saat matahari terbenam Kilij Arslan menyadari bahwa kekuatan musuh terlalu besar dan ia tak mungkin mempertahankan Kota Nicaea. Bagi seorang pejuang Turki Saljuk yang terbiasa dengan kehidupan nomaden, Kilij Arslan menyadari bahwa kehilangan ibukota dan pasukannya dapat berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain bersama kemah-kemah mereka, hingga keadaan lmemungkinkan bagi mereka untuk menyusun kekuatan kembali dan menghadapi musuh.
Kilij Arslan mengirimkan pesan ke dalam kota bahwa ia sudah tak dapat mempertahankan kota itu dan mereka yang di dalam kota mesti memutuskan nasib mereka sendiri. Kilij Arslan dan pasukannya meninggalkan kota Nicaea. Dan kelak ia memindahkan ibukota kesultanan Rum ke kota Iconia (Konya), tapi untuk itu sementara waktu, ia dan pasukannya terpaksa menghindari kota-kota besar yang nantinya akan dilalui pasukan Salib. Kota Nicaea diserahkan kepada Byzantium pada tanggal 19 Juni 1097. Para pemimpin pasukan Salib terpaksa menerima kenyataan itu dengan bersungut-sungut.
Peristiwa ini dlihat oleh para pemimpin pesukan Salib sebagai sebuah bentuk pengkhianatan dan kecurangan. Namun, mereka masih membutuhkan bantuan Byzantium, karena orang-orang Byzantium lebih mengetahui jalan menuju Syria dan Yerussalem.
Seminggu setelah penaklukan Nicaea, pasukan Salib bergerak menuju Kota Dorylaeum. Pada sore hari tanggal 30 Juni 1097, Bohemond dan rombongannya tiba di sebuah dataran tak jauh dari Dorylaeum, namun tak jauh dari tempat itu, Kilij Arslan dan pasukannya sudah menunggu dan siap untuk menyerang mereka. Kali ini ia mendapat bantuan dari beberapa pasukan Turki yang lain. Namun, pada pertarungan ini, pasukan Kilij Arslan mengalami kekalahan. Karena tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan kehadiran sejumlah besar pasukan Salib yang dipimpin oleh Godfrey dan Hugh. Pasukan Turki menjadi panik dan kocar-kacir. Kini mereka dalam keadaan terkepung musuh. Kilij Arslan merasa shock dengan semua hal yang mengejutkan itu. Ia terpaksa meninggalkan medan pertempuran untuk menyelamatkan dirinya, demikian dengan tentara Turki lainnya.
Kilij Arslan kini menyadari bahwa untuk beberapa waktu lamanya ia dan pasukannya akan terpaksa menghindari pertempuran dengan pasukan musuh. Kilij Arslan segera menyampaikan informasi kepada para pemimpin Turki Saljuk di Syria bahwa ia tak dapat menahan serbuan pasukan Salib yang sangat besar dan mereka mesti bersiap siaga dengan kedatangan mereka.
Kemenangan di Dorylaeum merupakan kemenangan gemilang kedua bagi pasukan Salib. Mmereka semakin bersemangat untuk meneruskan perjalanan ke Syria. Setelah semua peristiwa itu, kini tentara Salib harus melanjutkan perjalanan menuju Antioch. Mereka tidak lagi menghadapi gangguan yang berarti dari pihak musuh, tapi mereka mesti menempuh perjalanan yang sangat berat dan melelahkan.
Dalam perjalanan ke Antioch beberapa bangsawan rupanya berpikir keras untuk memastikan kesuksesan bagi diri mereka sendiri. Mereka ingin menguasai daerah tertentu yang menguntungkan bagi mereka sendiri. Diam-diam mereka mulai berusaha melepaskan diri dari janji yang dipaksakan atas mereka untuk menyerahkan kota-kota taklukkan kepada Byzantium. Mereka tidak terlalu senang dengan apa yang mereka saksikan di Nicaea dan mereka juga tidak sepenuhnya mempercayai rekan Byzantium mereka.
Tancred keponakan Bohemond, dan Baldwin adik Godfrey. Mereka memisahkan diri dari pasukan utama yang bergerak menuju Antioch dan mengarahkan pasukan mereka yang berjumlah antara seratus dan lima ratus orang ke wilayah Cilicia dan Armenia di sebelah TImur. Persaingan memperebutkan wilayah menimbulkan perseteruan di antara keduanya. Jumlah pasukan Tancred yang lebih sedikit menyebabkan ia terpaksa mengalah terhadap Baldwin saat berhasil menguasai kota tertentu.
Benih ambisi pribadi dan perpecahan ini kelak akan menjadi penyebab kemunduran pasukan Salib. Tapi untuk sementara waktu mereka masih diuntungkan oleh perpecahan dan kelemahan di dunia Islam. Ambisi dan langkah-langkah pribadi pemimpin Salib, seperti yang dilakukan Baldwin atas Edessa (ar-Ruha), untuk masa ini masih memberi keuntungan bagi pihak mereka. Dan Baldwin pada akhirnya menjadi raja di Edessa.
Pada saat Baldwin tiba di Edessa di awal Februari, pasukan Salib sudah melakukan pengepungan terhadap Antioch selama lebih dari tiga bulan. Mereka tiba di kota itu pada pertengahan Oktober 1097.
Antioch bukam kota yang paling menonjol bagi Muslim di Syria ataupun Asia Minor. Sepanjang masa pemerintahan Muslim, ia merupakan wilayah bawahan Damaskus atau Aleppo, dua kota paling penting di Syria. Tapi bagi dunia Kristen, baik Ortodoks maupun Katolik, kota ini sangat penting. Bagi Byzantium, ia merupakan bagian penting wilayahnya yang telah direbut oleh kaum Muslimin sejak Islam menyebar ke wilayah itu pada abad ke-7. Pada abad ke-10 Byzantium berhasil merebut dan mebangunnya kembali. namun sejak 1085, kota itu kembali jatuh ke tangan Muslim. Kini pasukan Salib, Kaisar Alexius berharap kota ini akan menjadi miliknya lagi, sebagaimana Nicaea.
Kota Antioch dalam sepuluh tahun terakhir dipimpin oleh seorang Gubernur Turki yang bernama Yaghi Siyan. Yaghi Siyan telah mendapat kabar tentang gerakan pasukan Salib beberapa bulan sebelumnya. Maka ia pun melakukan segala hal yang mungkin dilakukannya untuk mengamankan kota itu. Ia mengirim surat ke Aleppo dan Mosul, meminta agar dikirimi tentara bantuan. Ia menyiapkan bahan makanan yang banyak untuk memastikan kota itu dapat bertahan selama pengepungan nantinya.
Kota Antioch akhirnya jatuh ke tangan pasukan Salib. Ini terjadi karena pengkhianatan dari dalam, yakni oleh Fairuz yang merupakan keturunan Armenia yang masuk Islam. Ia memberikan informasi kepada Bohemond. Dan faktor lain yang menyebabkan jatuhnya kota Antioch ke tangan pasukan Salib adalah:
Pertama, kedatangan Karbugha dan pasukannya yang lebih lambat dari seharusnya. Saat melewati Edessa, Karbugha memutuskan untuk mengepung kota yang dikuasai Baldwin itu. Ia mengepung kota ini selama tiga minggu. Akhirnya ia meninggalkan kota itu tanpa berhasil menguasainya, dan saat ia tiba di Antioch, kota ini sudah jatuh ke tangan musuh.
Kedua, keputusan Yaghi Siyan untuk lari meninggalkan kota. Karena ia panik dengan keadaan saat itu. Dan di perjalanan, ia menghembuskan napas terakhirnya.
Kemenangan di Antioch menguibah perimbangan kekuatan di Syria. Kini tentara Salib mulai dilihat sebagai kekuatan baru yang bukan hanya perlu dipertimbangkan, tapi bahkan berpotensi menjadi yang paling dominan di wilayah itu. Dalam waktu dekat tentara Salib akan mulai merasakan buah dari kemenangannya berupa perubahan sikap sebagian emir di Syria.
Setelah penaklukkan Antioch dan kemenangan melawan pasukan Muslim yang dipimpin Karbugha, pasukan Salib memutuskan untuk beristirahat di kota itu hingga bulan November sebelum melakukan perjalanan. Pada bulan berikutnya setelah selesainya pertempuran, yaitu pada bulan Juli, Antioch diserang wabah penyakit tipus. Adhemar, uskup yang ditunjuk Urbanus II sebagai wakil Gereja Katolik di tengah pasukan Salib, menjadi korban merebaknya penyakit ini. Pada bulan November, walaupun masih terjadi perbedaan pendapat antara Bohemond dan Raymond tentang status Antioch, pasukan salib memutuskan untuk mulai bergerak. Mereka tidak langsung ke Yerussalem, melainkan ke Ma’arrat al-Nu’man, sebuah kota berpenduduk Muslim si tepian Orontes. Ma’arrat al-Nu’man merupakan kota bawahan Allepo.
JERIT TANGIS AL-QUDS
Sementara masih berada di Ma’arrat al-Nu’man, bencana kelaparan kembali merebak di tengah pasukan Salib. Tak ada bahan makanan untuk dikonsumsi. Entah dari mana mereka mendapat ide, tiba-tiba saja mereka memutuskan untuk memakan apa yang ada di hadapan mereka; mayat kaum muslimin. Mereka merebus mayat orang-orang dewasa dalam panci dan menusuk mayat-mayat bayi dengan alat penusuk (split), memanggang dan kemudian memakannya, salah satu penulis sejarah yang ikut menyertai pertempuran di Ma’arrat al-Nu’man menyebutkan bahwa selain memakan mayat-mayat yang bergelimpangan di kota Ma’arrat, tentara Salib juga memakan anjing. Perilaku kanibal pasukan Salib ini tidak mendapat kecaman dari para petinggi gereja dan pemimpin salib. Kebuasan itu tampaknya dipandang sebagai hal yang ruingan atau dipandang ‘mengagumkan’ oleh mereka.
Setelah itu Raymond dan pasukannya kembali meneruskan perjalanan. Mereka tiba di Acre pada tanggal 14 Februari dan segera mengepungnya. Kemudian Raymond memerintahkan tentaranya untuk menyerang Totosa, kota pelabuhan yang juga berada di bawah kendali Tripoli. Tortosa dapat dikuasai dengan mudah, tetapi kota Acre mampu bertahan dari serangan pasukan Raymond. Raymond kemudian mengirim utusan ke Antioch dan meminta pimpinan pasukan salib yang lain untuk membantunya menaklukkan Acre.
Pengepungan Acre berlangsung lama dan tanpa hasil. Sementara itu pertengkaran di antara pemimpin salib kembali terjadi. Raymond ingin diakui sebagai pemimpin utama pasukan salib, tetapi Godfrey dan yang lainnya tidak mau mengakuinya, karena mereka tidak menyukai kepemimpinan Raymond dan ia dipandang terlalu berpihak pada kaisar Byzantium. Pada masa ini pimpinan Byzantium yang secara diam-diam melakukan korespondensi dengan Dinasti Fatimiyah. Mereka merasa Byzantium hanya ingin memanfaatkan mereka saja demi kepentingannya sendiri. Pada masa ini juga datang utusan dari Fatimiyah yang meminta agar mereka tidak memasuki secara paksa wilayah Paletina yang ketika itu telah dikuasai kembali oleh Fatimiyah. Sebagai gantinya mereka akan diberi kebebasan untuk melakukan ziarah ke kota Yerussalem dan sekitarnya. Tawaran ini langsung ditolak oleh pasukan salib.
Pengepungan Acre berlarut-larut hingga bulan April. Para pemimpin Salib sudah ingin meninggalkan Acre dan meneruskan perjalanan ke Yerussalem. Tapi Raymond tetap bertahan pada keinginannya merebut Acre. Dan akhirnya, pada pertengahan bulan Mei, akhirnya Raymond berhasil dibujuk untuk meninggalkan pengepungan Acre. Pasukan Salib meneruskan perjalanan ke Selatan.
Pada tanggal 7 Juni 1099, pasukan Salib tiba di depan tembok Yerussalem. Gubernur kota Yerussalem saat itu adalah Iftikhar al-Dawla. Ia baru memerintah kurang dari setahun atas nama Dinasti Fatimiyah. Sebagaimana kebijakan Yaghi Siyan di Antioch, ia juga mengeluarkan penduduk Kristen dari kota itu sebelum pasukan Salib tiba di sana.
Pada tanggal 13 Juni, atas saran seorang pendeta tua di Gunung Olives, pasukan Salib melakukan serangan umum. Tetapi serangan ini tidak berhasil menggoyahkan pertahanan Yerussalem. Mereka terpaksa harus menunggu selama beberapa hari ketika beberapa pelaut Genoa muncul di pelabuhan Jaffa dengan membawa perlengkapan yang diperlukan. Tentara Salib kemudian dikerahkan untuk pergi mencari kayu yang diperlukan untuk membuat menara kayu. Dua menara kayu disiapkan secara bertahap, masing-masing di bawah intruksi Godfrey dan Raymond.
Sementara itu keadaan semakin sulit. Untuk mendapartkan air, tentara Salib perlu bergerak lebih jauh lagi, dengan risiko diserang pasukan Muslim. Selain itu pertengkaran kembali terjadi di antara pemimpin Salib. Mereka mempertikaikan hak penguasaan atas kota Bethlehem.
Pada tanggal 13 Juli diadakan serang umum terhdapYerussalem. Kini mereka mempunyai dua menara kayu. Namun mereka harus menutup dan meratakan parit yang dibuat kaum muslimin di sekeliling kota. Setelah parit itu ditutup, mereka baru dapat mendorong menara ke arah tembok kota.serangan berlangsung sejak tanggal 13 malam hingga tanggal 15 Juli. Raymond dan pasukannya mendapat kesulitan untuk mendekatkan menara ke tembok benteng bagian selatan karena pertahanan kaum Muslimin di bagian ini lebih kuat.Iftikhar sendiri ikut mengawal bagian ini. Tapi Godfrey dan pasukannya berhasil mendekatkan menara di bagian Utara kota pada pagi hari tanggal 15 Juli. Pada siang hari mereka berhasil menerobos masuk ke dalam tembok kota Yerussalem.
Kaum Muslimin yang melihat sebagian tembok kota sudah berhasil dikuasai musuh segera berlari ke Masjid Umar untuk berlindung di sana. Iftikhar yang mendapat informasi bahwa tembok bagian Utara sudah dikuasai musuh sadar bahwa ia sudah kalah. Maka ia dan pasukan intinya segera menyelamatkan diri ke menara David. Ia kemudian mendapat perlindungan dari Raymond dan agar dapat keluar menuju Ascalon untuk menemui pasukan bantuan yang lagi-lagi terlambat datang untuk menyelamatkan kota dan serangan musuh. Sementara itu, seluruh penduduk Muslim dan juga Yahudi, yang ada di dalam kota habis dibunuh oleh pasukan Salib.
Tentara Salib sama sekali tidak memperlihatkan perasaan baleas kasihan terhadap penduduk Yerussalem. Walaupun mereka berbeda agama, tetapi kebanyakan yang dibunuh adalah orang-orang yang tak bersenjata, termasuk kalangan orang tua, perempuan, dan anak-anak. Menurut Ibn Athir orang yang dibunuh berjumlah kurang lebih tujuh puluh ribu orang, sebagian dari mereka adalah para imam, ulama, orang-orang shaleh dan para sufi serta kaum Muslimin yang meninggalkan negeri tempat tinggal mereka dan datang untuk menjalani kehidupan yang shaleh pada bulan Ramadhan. Perlu kita ketahui, Yerussalem telah jatuh ke tangan pasukan Salib dan ia tetap bertahan di tangan orang-orang Kristen hingga hampir satu abad berikutnya.
Jika kita membandingkan antara Perang Salib atau Perang Suci dalam Kristen dengan konsep jihad dalam Islam, tentu sangat berbeda. Dalam jihad jelas-jelas dilarang membunuh anak-anak, perempuan, orang tua, dan orang-orang yang beribadah di tempat ibadah mereka.selain itu juga tidak boleh merusak tanaman hijau kecuali karena alasan yang betul-betul mendesak.
Ketika kaum muslimin menaklukkan Yerussalem pada masa Khalifah Umar bin Khattab, pasukan muslim sama sekali tidak membunuh penduduk Yerussalem, baik yang beragama Kristen maupun beragama Yahudi. Mereka tetap diperkenankan menjalankan ibadah mereka secara bebas.
Ketika kelak Shalahuddin al-Ayyubi merebut kembali Yerussalem dari tangan pasukan Salib, kaum muslimin juga tidak melakukan pembantaian atas orang-orang Kristen di kota itu dan tidak melakukan balas dendam.
Setelah berbagai perang yang dilakukan oleh pasukan Salib pada Perang Salib I. Sebagai akibat kemenangan itu, berdiri beberapa kerajaan Latin-Kristen di Timur yaitu Kerajaan Latin I di Edessa (1098 M) diperintah oleh Raja Badwin, kerajaan Latin II di Antiokia (1098 M) diperintah oleh Raja Bohemond, Kerajaan Latin III di Baitulmakdis (1099 M) diperintah oleh Raja Godfrey, dan kerajaan Latin IV di Tripoli (1109 M) oleh Raja Raymond.
KAUM PEMBERANI YANG TAK MEMILIKI RASA CEMBURU
Sejauh ini kita telah melihat kedatangan orang-orang Frank ke Syria, peperangan mereka dengan kaum Muslimin, serta penguasaan mereka atas wilayah-wilayah Muslim di Syria dan Palestina. Pada kisah-kisah di atas kita telah membaca tentang tekad dan ambisi mereka. Pada pembahasan ini kita akan melihat lebih jauh karakter orang-orang Frank secara lebih mendalam. Dengan begitu kita akan mengetahui ciri-ciri mereka serta perbedaannya dengan kaum Muslimin. Untuk itu kita akan merujuk pada penjelasan Usamah ibn Munqidh (1095-1188).
Usamah merupakan seorang bangsawan Arab yang berasal dari Shaizar. Kota Shaizar ketika itu dipimpin oleh Bani Munqidz, keluarga Usamah, dan pada masa terjadinya Perang Salib I kota ini termasuk paling awal membangun hubungan damai dengan pasukan Salib. Usamah merupakan seorang yang berumur panjang. Ia banyak melakukan perjalanan dan membangun relasi dengan penguasa di berbagai wilayah seperti Mesir, Damaskus, dan juga dengan orang-orang Frank. Belakangan ia ikut membantu Shalahuddin dalam perjuangannya memerangi pasukan Salib. Hanya setahun setelah Shalahuddin berhasil merebut kembali kota Yerussalem dari tangan orang-orang Kristen, Usamah ibn Munqidh meninggal dunia.
Umur yang panjang dan perjalanan ke berbagai wilayah membuat Usamah memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan tentang berbagai hal yang terjadi pada masa-masa Perang Salib. Ia menulis sebuah buku (kitab al-I’tibar) yang didalamnya ia menceritakan banyak hal berkenaan dengan perjalanannya ke berbagai tempat, peperangan dan hubungan damai dengan orang-orang Frank, serta berbagai hal lainnya. Penuturannya tentang orang-orang Frank sangat menarik untuk disimak.
Secara umum, Usamah menggambarkan orang-orang Frank sebagai orang-orang yang sangat pemberani, tetapi mereka sama sekali tidak memiliki rasa cemburu. Hal ini merupakan hal yang sulit diterima oleh seorang Muslim abad pertengahan seperti Usamah yang memahami bahwa rasa cemburu merupakan syarat keberanian. Selain itu mereka juga dilihat sebagai orang-orang yang cenderung bodoh dan terbelakang. Sistem hukum mereka ganjil, cara pengobatannya sangat aneh, demikian pula dengan selera humornya. Orang-orang Frank hanya menjadi lebih baik ketika mereka sudah tinggal agak lama di Syria dan berinteraksi dengan kaum Muslimin. Kekasaran dan keterbelakangan mereka membuat Usamah menyimpulkan bahwa orang Muslim yang mengamati keadaan orang-orang Kristen ERopa ini akan “melihat mereka sebagai hewan yang memiliki kebajikan dalam hal keberanian dan kemampuan bertempur; tidak lebih; sama seperti hewan-hewan yang memiliki keutamaan hanya dalam hal kekuatan dan kemampuan mengangkut beban.”
Orang-orang Frank, menurut Usamah, memiliki sistem pengadilan yang aneh. Suatu kali Usamah menemani Emir Mu’in al-Din melakukan perjalanan ke Yerussalem. Saat mampir ke Kota Nablus, mereka berjumpa dengan seorang pemuda Muslim yang kedua matanya buta. Usamah kemudian bertanya tentang pemuda ini. Ia mendapat informasi bahwa mata pemuda ini menjadi buta karena hukuman dari penguasa Kristen. Ibu pemuda ini telah menikah dengan seorang Frank dan kemudian membunuhnya. Pemuda ini terlibat dalam pembunuhan tersebut. Ia kemudian menjadi tersangka dan dibawa ke pengadilan orang-orang Frank.
Cara orang-orang Frank memutuskan apakah pemuda ini bersalah atau tidak sangat ganjil. Mereka menyiapkan sebuah tong besar yang diisi dengan air. Pemuda ini kemudian diikat kuat-kuat dan dijatuhkan ke dalam tong air itu. Sistem pengadilan mereka memutuskan bahwa jika tersangka yang dijatuhkan ke dalam tong tenggelam ke dalam air, berarti ia tidak bersalah. Jika ini yang terjadi, mereka akan segera menarik tersangka dari dalam air dan mebebaskannya. Tapi jika ia tidak tenggelam, maka ia dianggap bersalah dan akan diberi hukuman.
Ketika pemuda ini dilemparkan ke dalam tong berisi air, ia berusaha sekuat tenaga agar tenggelam ke dalam air. Namun ia tidak berhasil. Maka ia dinyatakan bersalah dan diberi hukuman. Kedua matanya ditusuk dengan besi panas. Itulah yang menyebabkan pemuda ini menjadi buta.
Pada kesempatan lain, juga di Kota Nablus, Usamah menyaksikan pertarungan di antara kedua orang Frank. Salah seorang Frank dituduh telah membantu orang-orang Muslim mencuri di desanya. Karena tuduhan itu, ia lari meninggalkan desanya. Tapi Raja Yerussalem kemudian menahan anaknya sebagai sandera, sehingga orang ini akhirnya datang menghadap raja. Ia berkata pada raja, “Biar keadilan menjadi tegak dalam kasus saya ini. Saya menantang duel orang yang menuduh bahwa saya telah membantu pencuri di desa”.
Raja kemudian memanggil orang yang bertanggung jawab di desa itu dan berkata, “Bawa kemari seseorang untuk berkelahi dengannya”. Orang itu kemudian pergi ke desanya dan menunjuk seorang pandai besi untuk mewakili desa itu berkelahi dengan si tertuduh. Kedua orang itu kemudian dihadirkan di sebuah tempat pertarungan berbentuk lingkaran dan orang-orang menyaksikan pertarungan ini di sekelilingnya. Kedua orang ini masing-masing diberi gada (cudgel) dan sebuah perisai. Pandai besi itu masih muda dan kuat. Sementara orang yang menantangnya, yaitu orang yang dituduh membantu pencuri, sudah berusia tua, tetapi ia memiliki jiwa yang kuat. Ia tidak kelihatan khawatir dengan pertarungan tersebut.
Pertarungan kemudian dimulai. Pada awalnya si penantang terlihat unggul dan berhasil mendesak si pandai besi hingga ke tepi lingkaran. Setelah itu ia akan kembali ke tengah lingkaran. Mereka saling menyerang dan melontarkan pukulan sehingga, seperti penuturan Usamah, “mereka kelihatan seperti tiang-toiang yang dilumuri darah”. Pertarungan berlangsung lama sehingga bangsawan yang mengadili duel itu menjadi tidak sabar dan memerintahkan mereka untuk segera menuntaskan pertarungan.
Akhirnya si pandai besi mulai unggul dalam perkelahian itu. Ia berhasil memukul si penantang dan membuatnya terjatuh. Kemudian ia menghantamkan gadanya ke kepala orang tua itu dan membunuhnya. Orang tua yang sudah kalah itu kemudian diikat lehernya dengan tali, diseret dan digantung. Usamah mengomentari kejadian ini dengan mengatakan, “samah mengomentari kejadian ini dengan mengatakan, “kasus ini menggambarkan jenis ilmu ukum dan keputusan perundangan yang dimiliki oleh orang Frank- semoga Allah melaknat mereka”.
Selera humor dan cara orang-orang Frank mengekspresikan kegembiraan juga terkadang aneh. Suatu kali Usamah berada di Tiberias (Tabarayyah) ketika orang-orang Franks sedang merayakan hari kegembiraan mereka itu dengan menghadirkan dua orang nenek-nenek yang sudah sangat tua. Kedua nenek itu dibawa berdiri di ujung sebuah lapangan. Pada ujung yang lain dari lapangan itu diletakkan seekor babi yang telah dibakar. Masing-masing nenek ini didukung oleh sekelompok pasukan berkuda. Kedua nenek itu harus berlomba dan berlari ke ujung lapangan. Yang lebih dulu berhasil meraih babi bakar akan menjadi pemenang dan pemiliknya.
Ketika perlombaan dimulai, kedua nenek itu mulai berlari secepat yang mereka bisa, sementara para penunggang kuda di sekelilingnya menyoraki dan memberi semangat. Nenek-nenek itu berkali-kali jatuh ke tanah, lalu kemudian bangkit dan mulai berlari lagi. Setiap kali nenek-nenek itu terjatuh, maka para penonton akan tertawa terpingkal-pingkal. Akhirnya salah satu dari kedua nenek itu berhasil mencapai ujung lapangan terlebih dahulu dan sebagai hadiahnya ia mendapatkan babi bakar.
Tentu saja Usamah merasa terkejut dan heran melihat pertandingan ini. Bagi seorang Arab Muslim, orang tua memiliki kedudukan yang sangat agung. Mereka tidak akan pernah menjadikan orang-orang tua mereka, terlebih lagi perempuan yang sudah lemah dan jompo, untuk dijadikan objek permainan semacam itu. Tapi bagi orang-orang Frank pada masa itu, hal itu merupakan hal yang lucu dan menyenangkan.
Sistem perobatan orang-orang Eropa Kristen ini juga sangat ganjil, terlebih bagi masyarakat Muslim yang sudah mengenal ilmu kedokteran yang jauh lebih maju pada masa itu. Cara pengobatan orang-orang Frank ini kadang berhasil, tetapi dalam banyak kesempatan mereka tampaknya lebih sering membunuh pasien daripada menyembuhkannya.
Suatu kali penguasa Tiberias, William of Bures, bercerita kepada Emir Mu’inuddin dan Usamah tentang seorang ksatria Frank yang sakit keras di kotanya dan hampir meninggal dunia. Kemudian William dan beberapa orang lainnya datang kepada seorang pendeta besar dan memintanya untuk memeriksa keadaan ksatria yang sakit itu. Pendeta itu menyetujuinya dan mereka pun pergi bersama-sama menuju ke rumah orang yang sakit itu. Sepanjang perjalanan mereka berpikir bahwa sekiranya pendeta agung ini meletakkan tangannya ke atas si pasien, tentu ia akan menjadi sembuh karenanya.
Ketika mereka tiba dan pendeta itu melihat keadaan si pasien, ia berkata , “berikan saya lilin”. Maka mereka pun memberikan kepadanya lilin. Pendeta itu segera melunakkan dan membentuk lilin itu menjadi seperti jari-jari. Setelah itu ia menyumpal kedua lubang hidung si pasien dengan lilin-lilin tersebut. Si pasien meninggal dunia seketika itu juga. William dan teman-temannya merasa sangat terkejut dan berkata, “Dia mati”. “Ya”, jawab pendeta itu dengan tenang, “Ia menderita kesakitan yang sangat, ya jadi saya tutup saja lubang hidungnya agar dia mati dan bebas dari penderitaan itu”.
Pada kesempatan yang lain, penguasa kota Munaytirah, seorang Frank, menulis surat kepada penguasa Shaizar, paman Usaamah. Ia meminta untuk dikirimi seorang dokter yang dapart mengobati beberapa pasien di sana. Karena pasien-pasiennya beragama Kristen, maka paman Usamah pun mengirimkan seorang dokter Kristen di Shaizar yang bernama Tsabit. Tsabit pergi ke Munaytirah untuk menjalankan tugas itu, tetapi sepuluh hari kemudian ia sudah kembali lagi ke Shaizar. Maka Usamah dan keluarganya menjadi heran dan bertanya padanya, “cepat sekali Anda menyembuhkan pasien-pasien di sana!” Maka Tsabit pun menceritakan kisahnya selama berada di kota orang-orang Frank tersebut:
Mereka membawa kepada saya seorang prajurit yang kakinya bengkak bernanah serta seorang perempuan yang mengalami kedunguan/ kesintingan. Kepada prajurit yang kakinya sakit itu saya berikan tuam/ tapal hingga bengkaknya terbuka dan membaik; dan kepada si perempuan saya terapkan diet dan ia mulai menjadi normal. Kemudian dtanga seorang dokter Frank yang berkata kepada mereka, “orang ini (maksudnya Tsabit) tidak tahu bagaimana cara mengobati mereka”.
Ia kemudian bertanya kepada si prajurit, “mana yang kamu pilih, hidup dengan satu kaki atau mati dengan dua kaki?” Prajurit itu menjawab, “hidup dengan satu kaki”. Dokter itu berkata, “Datangkan ke sini seorang prajurit yang kuat dan sebuah kampak yang tajam”.
Seorang prajurit kemudian datang dengan sebilah kapak. Dan saya berdiri mengamati. Kemudian dokter itu meletakkan kaki si pasien di atas papan kayu dan memerintahkan prajurit yang membawa kapak untuk mengayunkan kapaknya ke kaki prajuriot itu dengan satu kali tebasan hingga kaki itu putus. Maka ia pun memukulkan kampaknya –sementara saya memperhatikannya- dengan satu kali ayunan, tetapi kaki si prajurit tidak terpotong/ putus. Ia memukul sekali lagi, sehingga sumsumnya mengalir keluar dari kaki yang dipotong itu dan paisen itu pun mati di tempat.
Dokter itu kemudian memeriksa si perempuan yang sakit dan berkata, “Perempuan ini kemasukkan seran yang telah menguasai kepalanya. Gunduli kepalanya”. Maka mereka pun mencukur habis kepalanya dan perempuan itu meninggalkan dietnya dan mulai mengonsumsi kembali makanan yang biasa ia makan –bawang putih dan mustard-. Penyakit dungu/ simtingnya kambuh lagi lebih buruk dari sebelumnya.
Dokter itu kemudian berkata, “Setan itu telah masuk jauh ke dalam kepalanya”. Maka ia mengambil pisau, membuat torehan berbentuk salib yang dalam dikepalanya, mengupas kulit torehan di bagian tengah sampai tulang tengkoraknya terlihat dan ia mengolesinya dengan garam. Perempuan itu pun meninggal dunia.
Karena itu saya bertanya kepada mereka apakah mereka masih memerlukan jasa saya. Dan ketika mereka meresponnya negatif maka saya pun pulang, setelah belajar tentang perobatan mereka yang belum pernah saya ketahui sebelumnya.
Ilmu kedokteran Eropa dan Barat pada masa sekarang ini telah berubah menjadi sangat maju dan mengalahkan ilmu kedokteran di dunia Islam, tetapi pola hubungan lelaki dan perempuan mereka kelihatannya tidak mengalami perubahan. Pada masa sekarang ini kita dapati masyarakat Barat kurang memiliki rasa cemburu terhadap pasangannya dan mereka mudah saja berganti-ganti pasangan. Pada masa Perang Salib, orang-orang Eropa Kristen pun memiliki rasa cemburu yang sedikit sekali.
Usamah menjelaskan bahwa jika seorang Frank sedang berjalan bersama istrinya dan ada kenalan laki-laki dari sang istri yang sedang berbincang-bincang dengannya, maka suaminya akan membiarkan mereka bercakap-cakap. Kadang laki-laki itu akan menggandneg tangan si perempuan menjauh dari suaminya. Ia akan bercakap-cakap dengan perempuan itu sementara suaminya berdiri dan memperhatikan di kejauhan. Jika mereka berbincang-bincang telalu lama, maka suaminya akan pulang dan meninggalkan istrinya bersama lelaki itu.
Terlepas dari semua itu, Usamah mengamati bahwa orang-orang Frank yang telah lama tinggal di Syria dan berinteraksi dengan kaum Muslimin, mereka menjadi lebih halus dan lebih berbudaya. Sementara orang-orang Frank yang baru datang dari Eropa relatif lebih kasar dan kurang beradab.
Dalam kisah-kisah yang diceritakan Usamah di atas terlihat adanya perbedaan dengan orang-orang Frank yang baru datang ke Syria dan yang telah lama tinggal di sana. Orang-orang Frank yang telah lama tinggal di Syria sedikit banyak mendapat pengaruh dari kebudayaan kaum Muslimin. Bahkan di dalam The Crusades Enciclopaedia disebutkan bahwa pada awal abad ke-12 ada seorang bangsawan Frank yang bernama Walter Mahomet (Walter Muhammad). Ia merupakan pemimpin Hebron pada tahun 1107/1108 dan 1115 M, dan tampaknya merupakan salah satu orang dekat Baldwin, Raja Yerussalem. Kemungkinan orang ini merupakan seorang bangsawan yang masuk islam, walaupun hal semacam ini sangat tidak biasa di lingkungan Kerajaan Yerussalem.
Sementara itu, kaum Muslimin mendapati serangan kaum Salib sebagai buah dari kelemahan dan perpecahan mereka sendiri. Perang Salib merupakan sebuah refleksi dari keburukan yang ada di dalam masyarakat Muslim. Serangan itu merupakan pukulan yang sangat keras bagi mereka. Nemun ia juga membuka peluang bagi sebuah kebangkitan dan kejayaan yang indah. Kaum Muslimin rupanya memilih tragedi itu sebagai pelajaran dan peluang untuk memperbauiki diri. Perlu waktu memang. Tapi beberapa waktu kemudian akan muncul seorang pemimpin dan para pendukungnyayang shaleh dan lurus. mereka akan mampu merajut jiwa-jiwa yang berpecah belah dan merapatkannya dalam suatu barisan yang kokoh. Ketika hal itu terjadi, maka kekuatan Salib menjadi gemetar serta kehilangan pegangan. Dan pembebasan Syria secara utuh dari orang-orang Frank dan tentara Salib hanya tinggal menunggu waktu saja.
PERANG SALIB II (REAKSI UMAT ISLAM 1144-1192 M)
Jatuhnya Edessa pada akhir tahun 1144 menimbulkan kesedihan di Yersussalem, Antioch, dan wilayah kekuasaan salib lainnya. Edessa merupakan salah satu kota terpenting bagi mereka. Ditaklukannya kota ini oleh pasukan Muslim membuat mereka khawatir bahwa keadaan sudah mulai berbalik dan Kaum Muslimin semakin kuat dan mampu mengalahkan mereka. Para pemimpin Salib kemudian mengirim pasukan kepada Paus di Roma, menceritakan tentang jatuhnya Edessa ke tangan Muslim dan memohon agar Paus segera mengirimkan bantuan kepada mereka,.
Paus yang memimpin Gereja Roma pada masa ini adalah Eugenius III (w.1153), yang memegang posisi itu sejak awal tahun 1145. Gereja Roma tidak langsung merespons permintaan tersebut, mungkin karena Eugenius sendiri belum lama diangkat menjadi Paus pada saat berita itu tiba di Roma. Tapi ia membuat perencanaan untuk menyerukan Perang Salib yang baru. Pada akhir tahun itu, tanggal 1 Desember 1145, Eugenius mengeluarkan surat ensiklikal (papal encyclical) yang dikenal sebagai quantum praedecessores. Ini menjadi surat edaran resmi yang dikirimkan kepada para raja dan bangsawan di Perancis, Jerman, dan negeri-negeri lainnya, serta dibacakan pada ceramah-ceramah untuk menggalang Perang Salib.
Eugenius menunjuk senior dan matan mentornya, St. Bernard of Clairvaux (1090-1153), untuk menyerukan Perang Salib kepada para bangsawan dan masyarakat. St. Bernard merupakan seorang tokoh Gereja Katolik yang berpengaruh dan tokoh utama ordo Cistercian. Ia juga merupakan salah satu pendukung utama kaum Templar dan menulis sebuah buku khusus untuk mendukung keberadaan mereka. St. Bernard melaksanakan tugas kepausan ini dengan sepenuh hati dan ia akan mendapati dirinya mengalami apa yang pernah dilalui oleh Peter the Hermit.
Pada bulan Maret 1146, sebuah pertempuran resmi untuk menyerukan perang Salib dilaksanakan di Kota Vezelay, Burgundy. Dukungan atas Perang Salib II dapat dikatakan lebih besar dibandingkan dengan Perang Salib I. jika dulu hanya para bangsawan dan masyarakat yang menyambut seruan gereja, kini para raja juga memberikan dukungan secara langsung. Louis VII (1120-1180), dan Conrad III (1093-1152), Raja Jerman, menerima seruan ini dan memutuskan untuk mengikuti Perang Salib.
Penggalangan massa pada Perang Salib II juga jauh lebih disiplin dibandingkan dengan Perang Salib I. Keadaan yang lebih teratur ini menjadikan perjalanan ke Kontantinopel lebih baik dibandingkan pada masa Perang Salib I. Perang Salib yang jumlahnya sangat banyak dan lebih terorganisasi ini memiliki potensi yang sangat besar untuk mendominasi Syria dan Palestina dengan kekuatan mereka.
Kaisar Byzantium yang memerintah pada masa ini, Manuel Comneus (1118-1180), sama sekali tidak mengharapkan dan tidak menyukai kehadiran Pasukan Salib di wilayahnya ataupun di Syria.
Pasukan Turki yang dipimpin oleh Emir Mas’ud telah menunggu untuk menghancurkan pasukan Salib. Pada masa ini, Kesultanan Rum yang berpusat di Konya dipimpin oleh Emir Mas’ud. Sementara wilayah kekuasaan keluarga Danismend, sejak wafatnya Emir Muhammad bin Ghazi pada tahun 1141, terpecah menjadi tiga bagian dan saling diperebutkan oleh putra-putranya.
Pasukan Conrad berangkat dari Nicaea pada tanggal 15 Oktober 1147. Sepuluh hari kemudian, ketika mereka tiba di dekat Dorylaeum, tiba-tiba saja mereka mendapat serangan dari pasukan Turki. Pasukan Jerman dalam keadaan tidak siap menghadapoi serangan mendadak tersebut. Tentara Jerman tidak mampu melakukan perlawanan yang berarti. Pasukan mereka tercerai-berai dan banyak yang terbunuh. Menurut Steven Runciman, Conrad kehilangan sembilan puluh persen tentaranya. Conrad dan sisa pasukannya terpaksa menunggu dan bergabung bersama pasukannya terpaksa menunggu dan bergabung bersama pasukan Perancis yang tiba di Nicaea pada awal November.
Pasukan Perancis dan Jerman setelah itu berangkat melalui jalur Selatan. Conrad yang jatuh sakit diperjalanan memutuskan untuk menerima tawaran Kaisar Manuel agar ia kembali ke Konstantinopel untuk sementara waktu. Pasukan Salib meneruskan perjalanan mereka dengan penuh kewaspadaan. Saat mendapat serangan dari Pasukan Turki pada akhir Desember, mereka dapat memenangkan pertempuran. Namun ketika mereka melintasi Gunmung Kadmos pada bulan Januari, mereka kembali mendapat serangan dari pasukan Turki. Kali ini pasukan Turki yang memenangkan pertempuran.ketika pasukan ini tiba di Antioch pada bulan Maret 1148, jumlah pasukan dan kekuatan mereka sudah jauh berkurang. Atas semua itu, pasukan Salib menganggap Byzantium telah berlaku curang pada mereka dan diam-diam telah membiarkan mereka jatuh dalam perangkap pasukan Turki.
Sebelum kita melanjutkan kisah perjalanan Louis, Conrad, dan pasukan Salibnya, ada baiknya kita memperhatikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Syria dalam dua tahun terakhir. Ada beberapa hal yang terjadi di Syria sejak akhir tahun 1146. Wafatnya Zanki segera dimanfaatkan oleh Mu’inuddin Unur, penguasa Damaskus, untuk mengambil alih beberapa wilayah untuk kepentingan Damaskus. Tidak sampai satu bulan sejak wafatnya Zanki, Mu’inuddin sudah bergerak keluar bersama pasukannya. Kota pertama yang diserangnya adalah Ba’albek, kota yang dulu berada di bawah kendali Damaskus, sebelum dikuasai oleh Zanki.
Gubernur di kota ini adalah Najmuddin Ayyub, ayah Shalahuddin al-Ayyubi, Ayub merupakan salah satu orang kepercayaan Zanki, dan setelah itu Nuruddin. Mu’inuddin mengepung kota itu dan mengerahkan banyak peralatan tempur untuk memaksa kota tersebut menyerah.kota Ba’albek tidak dalam posisi yang siap untuk menghadapi serangan dari Damaskus. Dalam beberapa hari saja kota itu sudah kekurangan minuman dan bahan makanan. Ayyub kemudian memutuskan untuk menyerahkan kota itu berikut bentengnya kepada Mu’inuddin pada bulan Oktober 1046. Kemudian diadakan perjanjian di antara mereka dan setelah itu Mu’inuddin mengambil hasil pertanian serta peralatan perang yang ada di kota itu. Ia juga membangun perjanjian yang sama dengan Kota Homs dan Hamah.
Pada bulan November, ia dan pasukannya kembali ke Damasakus. Ia mendapati orang yang membunuh Zanki, yaitu Yaranqash, tengah berada di kota itu. Yaranqash meninggalkan benteng Ja’bar karena merasa khawatir pemimpin kota itu akan dipaksa untuk menyerahkan dirinya kepada keluarga Zanki. Ia merasa dirinya akan aman di Damaskus dan ia mengumumkan secara terbuka identitas dirinya. Boleh jadi ia berpikir seperti itu karena selama ini Mu’inuddin merupakan rival utama Zanki di Syria. Tapi perkiraannya ternyata salah. Mu’inuddin menangkapnya dan mengirimnya ke Aleppo. Setelah ditahan beberapa hari di Aleppo, ia dikirim ke Mosul. Tampaknya ia dihukum mati di sana.
Sikap Mu’inuddin relatif bersahabat dengan anak-anak Zanki, terutama Nuruddin. Ia tentu memahami bahwa anak-anak Zanki masih menjadi kekuatan utama di Syria dan ia perlu membangun hubungan yang baik dengan mereka. Selain itu, Nuruddin memiliki sifat yang berbeda di bandingkan dengan ayahnya. Ia mewarisi sifat positif ayahnya berupa keberanian, keterampilan bertempur, serta kemampuan memerintah yang baik. Namun, ia lebih lembut, lebih bijaksana, dan lebih shaleh dibandingkan ayahnya. Ada sebuah peristiwa yang membuat Mu’inuddin kemudian bersahabat dengan Nuruddin. Peristiwa itu juga terkait dengan kota Ba’albek.
Pada tahun 1139, Zanki menyerang dan mengepung Kota Ba’albek yang pada masa itu berada di bawah kekuasaan Damaskus. Ia mengepung kota itu, mengerahkan empat belas alat pelontar batu, dan menyerang kota itu sepanjang siang dan malam. Penduduk kota itu tidak mampu menahan gempuran pasukan Zanki. Mereka kemudian menyerah dan meminta jaminan keamanan. Zanki mengabulkan permintaan mereka.
Bagaimanapun, benteng (citadel) yang berada di dalam kota masih dipertahankan oleh beberapa orang-orang Turki. Zanki terus menyerang benteng ini hingga para prajurit Turki ini tidak mampu bertahan lagi sehingga mereka pun setuju untuk menyerah dan minta perlindungan keamanan. Zanki juga mengabulkan permohonan ini. Tetapi ketika pasukan Turki ini keluar dan menyerahkan benteng, Zanki mengabaikan jaminan yang sudah diberikannya dan memerintah agar para prajurit ini ditangkap. Hal ini menyebabkan shock dan rasa sakit hati penduduk kota itu. Kejadian itu juga menimbulkan kekhawatiran yang besar di kalangan penduduk Damaskus bahwa Zanki tentu juga akan melakukan hal yang sama jika ia berhasil menguasai Damaskus. Karena itu mereka bertekad untuk mempertahankan kota Damaskus secara habis-habisan dari upaya penaklukkan oleh Zanki.
Di kota Ba’albek, Zanki tidak hanya mengambil alih kota. Ia juga merebut seorang gadis budak yang dicintai oleh Mu’inuddin dan tinggal di kota itu. Zanki membawa gadis ini ke Aleppo dan menikahinya. Hal itu tentu menyebabkan kemarahan pada diri Mu’inuddin. Namun, ketika Zanki wafar, Nuruddin mengirim kembali gadis budak ini kepada Mu’inuddin. Menurut Ibn al-Athir, hal ini menjadi alasan terpenting bagi terjalinnya persahabatan di antara kedua pemimpin ini.
Pada akhri Oktober 1146, Joscelin II mengerahkan pasukan untuk merebut kembali kota Edessa. Sejak kotanya itu ditaklukkan oleh Zanki, ia menjadikan Kota Turbessel yang masih berada di propinsi Edessa sebagai pusat pemerintahannya. Kini setelah wafatnya Zanki ia melihat adanya peluang baginya untuk menguasai kembali Kota Edessa. Dengan segelintir pasukannya, Joscelin menyerang kota itu secara tiba-tiba. Penduduk Kristen yang ada di kota itu ikut membantunnya sehingga ia dan pasukannya bisa masuk ke dalam kota itu serta membunuh setiap Muslim yang mereka jumpai di dalam kota. Hanya pasukan Muslim yang berada dalam benteng jita (citadel) yang tetap bertahan dari serangan Joscelin.
Begitu kabar kembalinya Joscelin ke Edessa tiba di Aleppo, Nuruddin segera bertindak. Ia langsung bergerak bersama pasukannya menuju Edessa. Pasukan pendahuluan yang dikirimnya mengumumkan dengan cepat dan mengundang prajurit-prajurit Turki yang ada di sekitar wilayah itu untuk berkumpul dan ikut jihad tersebut. Jumlah tentara yang menyertai serangan ke Edessa tersebut mencapai sepuluh ribu orang. Mereka melarikan kuda-kuda mereka dengan sangat cepat sepanjag siang dan malam. Mereka hanya beristirahat sebentar saja di malam hari dan segera berangkat kembali pada shubuh hari.
Saat mereka tiba di Edessa pada tanggal 2 November, Joscelin dan pasukannya sudah berada di dalam kota itu. Pasukan Nuruddin segera menyerang kota itu. Pasukan Nuruddin segera menyerang kota itu sehingga sejumlah orang-orang Armenia dan orang-orang Kristen di kota itu yang memihak kepada Joscelin mati terbunuh. Joscelin melihat besarnya pasukan Muslim yang melakukan penyerangan dan mengetahui bahwa ia tak mungkin dapat bertahan dari serangan ini. Maka pada malam hari, ia dan pasukannya melarikan diri keluar dari kota itu, diikuti oleh sejumlah besar penduduk Kristen kota itu. Saat mengetahui larinya Joscelin, Nuruddin segera mengerahkan pasukannya untuk mengejar mereka. Keesokan harinya kedua pasukan bertemu. Pasukan Kristen hanya dapat bertahan sebentar saja, setelah itu mereka segera terpukul mundur. Seorang bangsawan Frank mati terbunuh dalam pertempuran itu. Joscelin mengalami luka pada lehernya, tetapi ia dan beberapa pengawalnya dapat melarikan diri. Sementara yang lainnya mati terbunuh atau menjadi tawanan.
Kota Edessa kembali dikuasai oleh Muslim.pada peristiwa ini, sebagian besar orang-orong Kristen di kota itu mati terbunuh dan menjadi tawanan Muslim. Kaum Muslimin yang sempat ditawan saat kota itu dikuasai Joscelin dibebaskan kembali. nuruddin dan pasukannya kembali ke Aleppo setelah urusan mereka di Edessa selesai.
Pada bulan Maret tahun berikutnya, Nuruddin dan Mu’inuddin melakukan korespondensi sehingga tercapai kesepakatan dan persahabatan di antara mereka. Mu’inuddin bahkan menikahkan anak perempuannya dengan Nuruddin. Nuruddin kemudian mengirim para utusannya ke Damaskus. Pada tanggal 17 April 1147, para utusan ini berangkat bersama dengan pengantin perempuan dan para pengawalnya ke Aleppo.
Setelah itu, Mu’inuddin dan pasukannya pergi menuju ke kota Sarkhad dan Basra yang ketika itu dipegang oleh seorang emir yang membangkang dan memisahkan diri terhadap Damaskus. Emir ini bersekutu dengan orang-orang Frankdan hendak bekerja sama dengan mereka untuk kepentingan dirinya sendiri. Ketika emir ini sedang pergi meninggalkan kotanya untuk meminta bantuan orang-orang Frank dalam rangka melaksanakan tujuan tertentu, pada saat inilah Mu’inuddin dan pasukannya berangkat untuk menyerang kedua kota tersebut.
Kedua kota itu segera dikepung oleh Mu’inuddin, sehingga tidak memungkinkan emir yang sebelumnya menguasai kota itu kembali ke sana. Pertempuran terjadi selama beberapa waktu lamanya. Orang-orang Frank menyurati Mu’inuddin beberapa kali, membujuk dan kemudian mengancamnya agar membiarkan kedua kota tersebut. Tetapi Mu’inuddin tidak menghiraukan hal ini. Kemudian terdengar kabar bahwa orang-orang Frank menghimpun pasukan untuk menuju ke Sarkhad dan Basra. Maka Mu’inuddin pun menyurati Nuruddin dan memintanya datang membantu.
Saat mendapat kabar tersebut, Nuruddin keberulan sedang bergerak keluar Kota Aleppo bersama pasukannya. Ia dan pasukannya segera memacu kudanya dengan kekuatan penuh menuju Sarkhad untuk membantu Mu’inuddin. Mereka tiba di kota itu pada penghujung Mei 1147. Pasukan Nuruddin pada masa itu merupakan yang paling kuat dan paling menonjol di Syria. “tidak ada yang pernah melihat tentara yang lebih baik daripada tentaranya”, komentar Ibn al-Qalanisi, “…(Baik) dalam hal penampilan, perelngkapan, maupun jumlahnya”.
Tentara yang berada di dalam Kota Sarkhad tak mampu menghadapi kekuatan gabungan yang besar ini, tetapi mereka berusaha mengulur-ulur waktu. Kemudian terdengar kabar bahwa pasukan Frank sedang bergerak ke arah Basra. Maka Nuruddin dan Mu’inuddin segera mengerahkan pasukannya menuju kota itu. Mereka tiba di Basra sebelum tentara Frank tiba di sana. Saat pasukan Frank juga tiba di tempat itu, maka kedua pasukan pun berhadap-hadapan dan siap untuk bertempur. Pasukan Muslim mengambil posisi yang lebih baik daripada musuh mereka.mereka mengambil tempat yang memiliki air dan padang rumput, sementara pasukan Frank tidak. Saat pertempuran dimulai, pasukan Muslim menghujani lawan dengan tombak dan panah, sehingga banyak tentara Frank yang mati dan luka-luka. Pertempuran tidak berlangsung lama. Pasukan Frank yang merasa khawatir akan kalah dan hancur dalam pertempuran itu memutuskan untuk menarik mundur pasukan dan segera pulang ke negeri mereka.
Basra akhirnya tunduk dan menyerahkan kota itu kepada Mu’inuddin. Setelah itu pasukan menuju ke Sarkhad yang kemudian juga menyerah kepadanya. setelah kedua kota itu berhasil dikuasai kembali dan segala urusan di kedua kota itu selesai, Mu’inuddin dan Nuruddin kembali ke Damaskus. Mereka tiba di kota itu pada hari Ahad, 29 Juni 1147. Nuruddin menjadi tamu Mu’inuddin dan tinggal di Damaskus selama tiga hari, lalu setelah itu ia dan pasukannya kembali ke Aleppo.
Pada akhir tahun 1147 kaum Muslimin mendapat kabar tentang kedatangan orang-orang Frank serta raja-raja mereka dalam jumlah yang sangat besar. Walaupun informasi yang diterima oleh kaum Muslimin kadang tidak akurat dan cenderung berlebihan, tetapi beberapa detail informasi yang mereka dapatkan serta perkembangan arus informasi itu dari waktu ke waktu menggambarkan adanya sistem informasi yang sangat baik yang dikembangkan oleh masyarakat Muslim pada masa ittu.
Ibn al-Qalanisi menyebutkan bahwa mereka menerima informasi tentang kedatangan pasukan Salib yang baru ini dari Konstantinopel, dari wilayah Anatolia (Asia Minor) dan sekitarnya, serta dari wilayah Frank sendiri. Mungkin yang dimaksud dengan wilayah Frank di sini adalah Sisilia, karena banyak komunitas Muslim yang tinggal di sana dan memiliki hubungan cukup baik dengan kerajaan Sisilia. Tentu mereka mengikuti juga perkembangan yang terjadi saat itu dan mengabarkan informasi ini kepada saudara-saudara Muslim mereka melalui jaringan Mediterania mereka. Ibn al-Qalanisi menyebutkan tentang usaha orang-orang Frank dalam menyerukan Perang Salib di negeri mereka dan betapa orang-orang Frank mwnyambut seruan ini sehingga kota-kota mereka menjadi kosong. Ia juga menggambarkan kekhawatiran Kaisar Byzantium terhadap bahaya kedatangan pasukan ini terhadap negerinya sendiri dan terpaksa menjalin perdamaian dengan raja-raja Frank itu, serta persiapan kaum Muslimin di Asia Minor untuk menghadapi mereka.
Jumlah tentara Salib yang didengar kaum Muslimin pada awalnya sangat fantastis, jumlah mereka mencapai satu juta tentara yang berkuda dan berjalan kaki. Tapi kabar yang terus mereka ikuti dari waktu ke waktu membuat mereka menjadi lebih lega dan perasaan takut dan khawatir mereka menjadi berkurang. Ketika orang-orang Frank itu menempuh perjalanan di Asia Minor menuju ke Syria, mereka mengalami berbagai serangan dan musibah.
Mu’inuddin dan pasukannya keluar dari kota Damaskus untuk menghadapi pasukan Salib. Maka pada hari Sabtu 24 Juli 1148, terjadi pertempuran di antar kedua belah pihak. Jatuih korban dikedua belah pihak, tetapi pasukan Salib terlalu besar dan kuat untuk dihadapi pasukan Damaskus secara terbuka. Pasukan Muslim akhirnya kalah dalam pertempuran itu dan terpaksa menarik diri ke dalam benteng Damaskus.
Setelah kemenangan itu, pasukan Salib maju mendekati Kota Damaskus hingga ke temp;at yang tidak pernah dicapai pasukan lain sebelumnya. Pada salah satu hari pengepungan Kota Damaskus oleh pasukan Salib, kaum muslimin mengeluarkan mushaf Utsman yang disimpan di Masjid Damaskus. Mushaf Utsman merupakan kitab al-Quran yang dihimpun dan dibukukan pada zaman Khalifah Utsman bin Affan. Mushaf tersebut merupakan mushaf yang dibaca oleh Utsman bin Affan pada hari ia terbunuh oleh kaum pemberontak dan di dalamnya terdapat bekas darah Utsman bin Affan. Al-Quran ini dibawa keluar ke halaman masjid untuk menemani mereka dalam shalat di tempat itu. Mereka berdoa dan memohon keselamatan dari Allah.
Sementara kota ini dikepung, tentara Turki dari luar kota Damaskus mulai berdatangan dan menyusup masuk ke dalam kota untuk membantu pertahanan kota itu.pada Selasa pagi, pasukan Muslim melakukan serangan ketika tentara Salib masih banyak yang tertidur. Pada hari itu banyak tentara Salib yang mati terbunuh.
Pada saat yang sama, pasukan Saifuddin dan Nuruddin sedang bergerak menuju ke Damaskus, mereka hendak membantu pertahanan Damaskus. Sementara itu, Mu’inuddin melakukan perang urat syaraf kepada tentara Salib. Ia menyurati raja-raja Frank yang ada di pasukan Salib dan para pemimpin Frank di Syria. Melalui surat tersebut, Mu’inuddin membujuk agar para pemimpin Frank di Syria melepaskan dukungan mereka dari Conrad dan Louis dan sebagai gantinya, ia akan memberikan benteng Banyas (Banias), sebuah kota yang terletak di antara Damaskus dan Tyre.
Para pemimpin Frank di Syria akhirnya merasa yakin bahwa mereka tidak mungkin bertahan dan tidak akan mampu menaklukkan Damaskus. Akhirnya mereka menarik mundur pasukan pada shubuh hari Rabu tanggal 28 Juli 1148. Mu’inuddin tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia dan pasukannya tidak membiarkan pasukan Salib dari pergi begitu saja. mereka mengejar pasukan Salib dari belakang dan menyerang mereka serta menghujani mereka dengan panah sehingga cukup banyak dari tentara musuh yang mati karenanya. Setelah itu tentara Muslim kembali ke Damskus dan mereka bersyukur kepada Allah atas kemenangan yang mereka raih pada hari itu. Maka berakhir jugalah Perang Salib II dengan akhir yang sangat jauh berbeda dengan Perang Salib I.
Bersamaan dengan berakhirnya Perang Salib II dan menurunnya kekuatan dan persatuan orang-orang Frank di Syria, ada kekuatan lain yang terus berkembang dan semakin lama semakin besar. Kekuatan tersebut adalah kekuatan Nuruddin Zanki yang kemudian diteruskan oleh Shalahuddin al-Ayyubii.
Selepas itu, Shalahuddin meneruskan perjuangan pendahulunya. Ia juga memerintah dengan adil dan nilai-nilai Islam yang kuat, sehingga pada akhirnya ia berhasil membebaskan Yerussalem dari tangan orang-orang Frank dan pasukan Salib.
Disamping pertempuran diatas, terdapat juga pertempuran sengit anatar pasukan Salahuddin al-Ayyubi dengan pasukan Philip dan Richard yang diakhiri dengan gencatan senjata dan membuat suatu perjanjian (shulh al-Ramlah) pada tanggal 2 Nopember 1192 M. inti dari perjanjian damai itu adalah daerah pedalaman menjadi milik kaum Muslimin dan Umat Kristen yang akan ziarah ke Baitulmakdis terjamin keamanannya, sedangkan daerah pesisir utara, Acre dan Jaffa berada di bawah kekuasaan tentara Salib. Tak lama setelah perjanjian disepakati, Salahuddin al-Ayyubi wafat pada bulan Safar 589 H/ Februari 1193 M.
Bagi Nuruddin, kaum Muslimin hanya dapat bangkit jika mereka kembali kepada nilai-nilai Islam yang murni. Mereka akan menang jika menjauhkan diri dari bid’ah dan sekte-sekte yang menyimpang dari faham Ahlussunnah wal jamaah. Ia melakukan hal ini secara bertahap dan terus-menerus.
PERANG SALIB PERIODE KETIGA (PERIODE PERANG SAUDARA KECIL-KECILAN ATAU KEHANCURAN DI DALAM PASUKAN SALIB: 1193-1291 M)
Periode ini lebih disemangati oleh ambisi politik untuk memperoleh kekuasaan dan sesuatu yang bersifat material daripada motivasi agama. Tujuan utama mereka untuk membebaskan Baitulmakdis terlupakan, terbukti dari pasukan salib yang dipersiapkan menyerang Mesir (1202-1204 M) ternyata membelokkan haluan menuju Constantinopel. Kota itu direbut, diduduki, dan dikuasai oleh Baldwin sebagai raja pertamanya. Tentara Salib yang dipimpin oleh Raja Jerman, Frederick II. Berusaha merebut Mesir terlebih dahulu sebelum ke Palestina dengan harapan mendapat bantuan dari orang-orang Kristen Qibthy dan tahun 1219 M berhasil menduduki Dimyat. Raja al-Malik al-Kamil dari Dinasti Ayyubiyah membuat perjanjian dengan Frederick II, yang isinya antara lain Frederick bersedia melepaskan Dimyat dan al-Malik al-Kamil melepaskan Palestina, Frederick menjamin keamanan kaum Muslimin di sana dan tidak mengirim bantuan kepada Kristen di Syria. Pada masa Mesir diperintah al-Malik al-Shalih, Palestina dapat direbut kembali oleh Kaum Muslimin tahun 1247 M.
Pada periode ini telah terukir dalam sejarah munculnya pahlawan wanita yang terkenal gagah berani yaitu Syajar ad-Durr. Ia berhasil menghancurkan pasukan raja Louis IX dan perancis dan sekaligus menangkap raja tersebut. Pahlawan wanita ini pun telah mampu menunjukkan sikap kebesaran islam dengan membebaskan dan mengizinkan raja Louis IX kembali ke negerinya. Setelah Mesir dikuasai Dinasti Mamalik, pimpinan perang dipegang oleh Baybars yang berhasil merebut kembali seluruh benteng yang dikuasai tentara Salib. Pada tahun 1286 M, kota Yaffa dapat ditaklukkan, tahun 1289 M menaklukkan kota Tripoli (Libanon) dan kota Akka dikuasai pada tahun 1291 M. sejak saat itu tentara Salib habis di seluruh benua TImur.
PERANG SALIB SELANJUTNYA
Masih ada beberapa Perang Salib di Tanah Suci selama abad ke-13 dan hampir selalu mengalami kegagalan. Bahkan Pasukan Salib tidak memperoleh keuntungan dari invasi Mongol ke wilayah Muslim di Timur Tengah pada pertengahan abad ke-13. Sedangkan seruan Perang Salib sendiri baru terdengar lagi setelah kejatuhan Akce dan terus berlanjut sepanjang Abad ke-14, 15, dan 16.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi Alatas. 2012. Nuruddin Zanki dan Perang Salib. Jakarta: Zikrul Hakim
Ratu Suntiah dan Maslani. 2012. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: CV. Insan Mandiri
Kelly Devries dkk. 2013. Battles of the Crusades 1097-1444-From Dorylaeum to Vana. Diterjemahkan oleh Peusy Sharmaya. Jakarta: PT Alex Media Komputindo
Komentar