KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP

KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP

Dalam rangka melengkapi tugas perkuliahan mata kuliah Landasan Pendidikan

Dosen
Dr. H. Irfan Ahmad Zain, M.Pd








Disusun oleh kelompok 8

1152020107 Khamim Fakhrurrozi
1152020108 Kristin Wiranata
1152020119 M. Luthfi Abdul Aziz
1152020125 Maisaroh Ritonga










JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang mana karena limpahan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu, baik dari segi apapun, sehingga makalah ini tersusun. Adapun makalah ini bertujuan untuk memenuhi syarat nilai mata kuliah Landasan Pendidikan. Makalah ini berjudulkan “Konsep Pendidikan Seumur Hidup”.
Penulis menyadari bahwa apa yang disajikan dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, baik menyangkut isi maupun penulisan. Kekurangan-kekurangan tersebut terutama disebabkan karena keterbatasan pengetahuan serta kemampuan penulis. Hanya dengan bantuan dari berbagai pihak untuk memberikan kritik dan saran yang membangun maka kekurangan-kekurangan tersebut dapat berubah menjadi lebih baik.

Bandung, 25 April 2016
         Penulis














DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 1
BAB II PEMBAHASAN 2
Konsep Pendidikan Seumur Hidup 2
Eksistensi Pendidikan Seumur Hidup 4
Pendidikan Seumur Hidup dalam Berbagai Pesrpektif 6
Dasar, Tujuan, dan Implikasi Konsep Pendidikan Seumur Hidup 8
Strategi Pendidikan Seumur Hidup 16
Peranan Media Komunikasi Massa 19
BAB III PENUTUP 21
DAFTAR PUSTAKA 22
















BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Konsep pendidikan seumur hidup, sebenarnya sudah sejak lama dipikirkan oleh para pakar pendidikan dari zaman ke zaman. Apalagi bagi umat islam, jauh sebelum orang-orang Barat mengangkatnya, Islam sudah mengenal pendidikan seumur hidup, sebagaimana dinyatakan oleh Hadits Rasulullah SAW. yang berbunyi:
اُطلُبُ العِلمَ مِنَ المَهدِ اِلَى اللَّحدِ
“Tuntutlah ilmu dari buaian sampai meninggal dunia” (H.R. Muslim)
Konsep tersebut menjadi aktual kembali terutama dengan terbitnya buku An Introduction to Lifelong Education, pada tahun 1970 karya Paul Lengrand yang dikembangkan lebih lanjut oleh UNESCO. Asas pendidikan seumur hidup itu merumuskan suatu asas bahwa proses pendidikan merupakan suatu proses kontinu, yang bermula sejak seorang dilahirkan hingga meninggal dunia. Proses pendidikan ini mencakup bentuk-bentuk belajar secara informal maupun formal baik yang berlangsung dalam keluarga, di sekolah, dalam pekerjaan dan dalam kehidupan masyarakat.
Mengingat dari hadits Rasulullah SAW. diatas, hendaknya kita lebih memahami konsep pendidikan seumur hidup dan dapat lebih maju dari orang Barat yang mengangkat gagasan konsep pendidikan seumur hidup jauh setelah Rasulullah bersabda mengenai hadits menuntut ilmu sepanjang hayat. Setelah kita memahami konsep tersebut, semoga kita dapat kembali mengukir kejayaan Islam di dalam bidang pendidikan dan mengantarkan kita kepada kebahagiaan dunia akhirat.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah.
Apa pengertian konsep pendidikan seumur hidup?
Apa dasar, tujuan dan implikasi pendidikan seumur hidup?
Bagaimanakah strategi pendidikan seumur hidup?
BAB II
PEMBAHASAN

Konsep Pendidikan Seumur Hidup 
Undang-undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 pasal 13 ayat 1, merupakan landasan hukum mengenai pendidikan seumur hidup di Indonesia. Pasal itu berbunyi: “Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya”.
Undang-undang Sisdiknas diatas memberi batasan bahwa jalur  pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan  informal yang dapat saling melngkapi dan memperkaya. Penerapan pendidikan dapat dilaksanakan di sekolah dan di luar sekolah. Dalam kaitannya dengan pendidikan seumur hidup. Pendidikan luar sekolah yang tidak dilembagakan adalah proses pendidikan yang diperoleh seseorang dari pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, umumnya tidak teratur dan tidak sistematis, sejak seseorang lahir sampai meninggal, seperti di dalam lingkungan keluarga. Pendidikan keluarga sangat besar pengaruhnya, karena di sanalah anak dipelihara, dibesarkan, dan menerima sejumlah nilai serta norma yang ditanamkan kepadanya. Motivasi belajar anak juga didapatkan dalam lingkungan keluarga. Terkait dengan ini, Wlodkowski dan Jaynes menyatakan bahwa “para orang tua hendaknya tampil sebagai faktor pemberi pengaruh utama bagi motivasi belajar anak”.
Sejalan dengan kepentingan dan masa depan anak-anak, maka orang tua hendaklah menyekolahkan mereka dan karena pendidikan di sekolah termasuk rangkaian pendidikan seumur hidup. Sistem pendidikan di sekolah yang teratur, sistematis, dan berjenjang sangat strategis untuk membina peserta didik dalam menghadapi masa-masa selanjutnya, sampai peserta didik tersebut berusia lanjut.
Pendidikan seumur hidup bagi anak, merupakan aspek perlu memperoleh perhatian utama. Proses pendidikan hendaknya menekankan pada strategi dan metodologi yang dapat menanmkan motivasi belajar dan kepribadian belajar yang kuat. Program kegiatan disusun mulai peningkatan kecakapan baca tulis, keterampilan dasar yang mempertinggi daya pikir anak, sehingga memungkinkan anak terbiasa untuk belajar, berpikir kritis dan mempunyai pandangan kehidupan yang dicita-citakan pada masa yang akan datang. Sedangkan pendidikan seumur hidup bagi orang dewasa adalah dalam rangka pemenuhan self interest yang merupakan tuntunan hidup mereka sepanjang masa. Di antara self interest tersebut adalah latihan keterampilan yang dapat membantu menghadapi situasi dan persoalan-persoalan penting yang merupakan kunci keberhasilan.
Konsep pendidikan seumur hidup merumuskan suatu asas bahwa pendidikan adalah suatu proses yang terus-menerus dari bayi sampai meninggal dunia. Konsep ini sesuai dengan konsep Islam seperti yang tercantum dalam hadits Nabi Muhammad SAW. yang menganjurkan belajar mulai dari buaian sampai ke liang kubur.
Sebenarnya ide pendidikan seumur hidup telah lama dalam sejarah pendidikan, tetapi baru populer sejak terbitnya buku Paul Langrend An Introduction to Life Education (sesudah perang dunia II). Kemudian diambil oleh International Commision on the Development of Education (UNESCO).
Istilah pendidikan seumur hidup tidak dapat diganti dengan istilah-istilah lain sebab isi dan luasnya tidak persisi sama, seperti istilah out of school education, contiunining education, adult education, further education, recurrent education. 
Adapun pendidikan seumur hidup bisa didapatkan dengan tiga jalur pendidikan, yakni pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sedangkan pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. dan disamping pendidikan formal dan nonformal, terdapat pendidikan informal, yakni jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
Dalam pendidikan seumur hidup dikenal adanya empat macam konsep kunci, yaitu: 
Konsep pendidikan seumur hidup itu sendiri. Pendidikan akan meliputi seluruh rentang usia dan usia yang paling muda sampai paling tua dan adanya basis institusi yang amat berbeda dengan basis yang mendasari persekolahan konvensional. 
Konsep belajar seumur hidup. Kegiatan yang dikelola walaupun tanpa organisasi sekolah dan kegiatan ini justru mengarah pad penyelenggaraan asas pendidikan seumur hidup. 
Konsep pelajar seumur hidup. Perlu adanya system pendidikan yang bertujuan membantu perkembangan orang-orang secara sadar dan sistematik merespons untuk beradaptasi dengan lingkungan mereka seumur hidup. 
Kurikulum yang membantu pendidikan seumur hidup. Kurikulum dalam hubungan ini, didesain atas dasar prinsip pendidikan seumur hidup betul-betul telah menghasilkan pelajar seumur hidup yang secara berurutan melaksanakan belajar seumur hidup. Kurikulum yang demikian, merupakan kurikulum praktis untuk mencapai tujuan pendidikan dan mengimplemantasikan prinsip-prinsip pendidikan seumur hidup.

Eksistensi Pendidikan Seumur Hidup
Pendidikan seumur hidup dalam prakteknya, sudah dilaksanakan oleh manusia sejak manusia ada id nunia ini.Namun secara kosepsional life long education merupakan suatu kosnep baru dengan pendidikan. Secara konsepsional dan kesadaran akan segala konsekuensinya baru dirasakan dan disadari pada dekade akhir 60an.
Pada abad 19, sekolah merupakan lembaga formal yang di peruntukan bagi anak anak yang harus taat pada disiplin dan ketentuan ketentuan yang sangat ketat dan baku. Sekolah merupakan, suatu keharusan dan dianggap seabagai penyebab utama kemajuan masyarakat dan industri yang sangat cepat. Sekolah merupakan tempat untuk menempa anak anak yang di persiapkan untuk hidup.
Pertumbuhan masyarakat industri di Eropa khususnya di inggris telah menciptakan kebutuhan pendidikan yang baru, terutama dikalangan orang dewasa.Pada tahun 1919 komite pendidikan orang dewasa, kementrian pendidikan kerajaan inggris melaporkan bahwa kesempatan untuk pendidikan orang dewasa harus bersifat universal dan sepanjang hayat. Laporan inilah yang merupakan pertanda lahirnya istilah istilah pendidikan seumur hidup.
Dalam bulan desember 1965, komite internasional UNESCO, mempertimbangkan sebuah laporan yang dikemukakan oleh Paul Lengran mengenai konsep berkelanjutan dalam pendidikan, dan menganjurkan agar UNESCO membenarkan asas asas “Pendidikan seumur hidup”. Yaitu suatu prinsip dimana seluruh proses pendidkan dianggap sebagai satu yang secara terus menerus didalam seluruh kehidupan seseorang dari semenjak masa kanak kanak sampai kepada akhir hayatnya, oleh karena itu diperlukan suatu pengelolaan secara terpadu.
Dalam tahun 1965 salah satu dewan CCC mendiiskusikan pendidkan seumur hidup dan menganjurkan bahwa masalah tersebut mesti dijadikan topik pembicaraan dalam setiap diskusi. Dalam tahun 1967 CCC memutuskan bahwa pendidikan seumur hidup mesti dipertimbangkan sebagai suatu “Guide Line” Dalam seluruh pelaksanaan pendidkan
Dalam tahun 1968 suatu konperensi yang diselanggarakan UNESCO membatasi 12 tujuan yang menjadi sasaran pendidikan secara internasional diantaranya ialah : Pendidikan seumur hidup.
Pada tahun 1971 CCC menutup tahap pengkonsepan pendididikan seumur hidup, dan pada tahun 1972 asas asa pendidkna seumur hidup dikukuhkan dalam bentuk laporan komisi internasional dalam bidang pengembangan pendidikan, yang diketahui oleh Hdgar Faure, dan di beri judul “Learning to be : The World Of Education Today and Tomorrow” komisi ini menegaskan ide yang fundamental yaitu Life Long Education dan learning society, pendidikan seumur hidup dan masyarakat belajar. 


Pendidikan Seumur Hidup Dalam Berbagai Pesrpektif 
Cukup banyak dasar-dasar pemikiran yang menyatakan bahwa long life sangat penting. Dasar-dasar pemikiran tersebut ditinjau dari berbagai aspek, diantaranya sebagai berikut.
Tinjauan Ideologi
Pendidikan seumur hidup atau long life education akan memungkinkan potensinya sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Pada dasarnya semua manusia dilahirkan ke dunia mempunyai hak yang sama, khususnya hak untuk mendapatkan pendidikan dan peningkatan pengetahuan dan keterampilannya (skill).
Tinjauan Ekonomis 
Pendidikan merupakan cara paling efektif untuk keluar dari suatu lingkaran yang menyeret kepada kebodohan dan kemelaratan. Pendidikan seumur hidup dalam konteks ini memungkinkan seseorang untuk;
Meningkatkan produktivitasnya;
Memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang dimilikinya;
Memungkinkan hidup dalam lingkungan yang lebih sehat dan menyenangkan;
Memiliki motivasi dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya secara tepat sehingga peranan pendidikan keluarga menjadi sangat penting dan besar artinya.
Tinjauan Sosiologis
Pada umumnya di negara-negara sedang berkembang ditemukan masih banyak orang tua yang kurang menyadari akan pentingnya pendidikan formal bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, anak-anak mereka yang kurang mendapatkan pendidikan formal, putus sekolah, dan atau tidak bersekolah sama sekali. Dengan demikian, pendidikan seumur hidup kepada orang tua akan merupakan solusi dari masalah tersebut.
Tinjauan Filosofis
Negara-negara demokrasi menginginkan seluruh rakyatnya menyadari pentingnya hak memilih dan memahami fungsi pemerintah, DPR, DPD, dan sebagainya. Oleh karena itu, pendidikan kewarganegaraan perlu diberikan kepada setiap orang. Hal ini menjadi tugas pendidikan seumur hidup.
Tinjauan Teknologis
Di era globalisasi seperti sekarang ini, tampaknya dunia dilanda oleh eksplosi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dengan berbagai produk yang dihasilkannya. Semua orang, tidak terkucuali para pendidik, sarjana, pemimpin, dan sebagainya dituntut selalu memperbaharui pengetahuan dan keterampilannya, seperti apa yang terjadi di negara-negara maju.
Bila hal ini tidak dilakukan, maka kita kan senantiasa tertinggal sebab bagaimana pun orang tidak bisa menutup diri terhadap segala kemajuan yang melandanya.
Tinjauan Psikologis dan Paedagogis
       Bagaimana pun diakui bahwa perkembangan iptek yang sangat pesat punya dampak dan pengaruh besar terhadap berbagai konsep, teknik, dan metode pendidikan. Disamping itu perkembangan tersebut juga semakin luas, dalam, dan kompleks, yang menyebabkan ilmu pengetahuan tidak mungkin lagi diajarkan seluruh nya kepada anak didik di sekolah.
       Oleh sebab itu, tugas pendidikan jalur sekolah yang saat sekrang ialah mengajarkan bagaimana cara belajar, menanamkan motivasi yang kuat dalam diri anak untuk belajar terus sepanjang hidupnya, memberikan skill kepada anak didik secara efektif agar dia mampu beradaptasi dalam masyarakat yang cenderung berubah secara cepat. Berkenaan dengan itulah, perlu diciptakan satu kondisi yang merupakan aplikasi atas pendidikan seumur hidup atau life long education. 
       Demikian keadaan pendidikan seumur hidup yang dilihat dari berbagai aspek dan pandangan. Sebagai pokok dalam pendidikan seumur hidup adalah seluruh individu harus memiliki kesempatan yang sistematik, terorganisasi untuk belajar disetiap kesempatan sepanjang hidup mereka. Semua itu dengan tujuan untuk menyembuhkan kemunduran pendidikan sebelumnya, untuk memperoleh skill yang baru, untuk meningkatkan keahlian mereka dalam upaya pengertian tentang dunia yang mereka tempati, untuk pengembangan kepribadian dan tujuan-tujuan lainnya.

Dasar, Tujuan, dan Implikasi Konsep Pendidikan Seumur Hidup 
Dasar-dasar pendidikan seumur hidup
       Prinsip pendidikan manusia seutuhnya dan berlangsung seumur hidup didasarkan atas berbagai landasan yang meliputi:
Dasar-dasar filosofis
       Secara filosofis (filsafat manusia) hakikat kodrat martabat manusia merupakan kesatuan integral segi-segi/ potensi-potensi (esensial):
Manusia sebagai makhluk pribadi (individual being)
Manusia sebagai makhluk sosial (social being); dan
Manusia sebagai makhluk susila (moral being).
       Ketiga esensial ini merupakan potensi-potensi dan kesadaran yang integral (bulat dan utuh) yang dimiliki setiap manusia. Ketiganya menentukan martabat dan kepribadian manusia. Artinya bagaimana individu itu merealisasikan potensi-potensi tersebut secara optimal dan berkeseimbangan, itulah wujud kepribadiannya.Mereka yang menonjol individu kualitasnya (egonya) ialah pribadi yang individualistis atau egoistis; mereka yang menonjolkan segi sosialnya ialah pribadi yang sosial (altruis atau pengabdi); dan mereka yang menonjolkan segi moralitasnya dianggap sebagai pribadi yang moralis. Sedangkan pribadi yang berkeseimbangan ialah yang dengan sadar mengembangkan potensi-potensi itu secara wajar dan seimbang. Jadi tidak menonjolkan atau lebih mengutamakan salah satunya.
Dasar-dasar psikofisisnya
       Yang dimaksud dasar-dasar psikosifis ialah dasar-dasar kejiwaan dan kejasmanian manusia. Realitas psikosifis manusia menunjukkan bahwa pribadi manusia merupakan kesatuan antara:
Potensi-potensi dan kesadaran rohaniah baik segi pikir, rasa, karsa, cipta, maupun budi-nurani;
Potensi-potensi dan kesadaran jasmaniah yakni jasmani yang sehat dengan panca indra yang normal yang secara fisiologis bekerja sama dengan sistem saraf dan kejiwaan;dan
Potensi-potensi psikofisis ini juga berada di dalam suatu lingkungan hidupnya baik alamiah (fisik) maupun sosial-budaya (manusia dan nilai-nilai).
       Ketiga kesadaran ini menampilkan watak dan kepribadian seseorang sebagai suatu keutuhan.
Dasar-dasar sosiobudaya:
       Meskipun manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang merupakan bagian dari umat manusia dan alam semesta, namun manusia Indonesia terbina pula oleh tata-nilai sosio-budayanya sendiri.inilah segi-segi sosiobudaya bangsa dan sosio-psikologis manusia yang wajar diperhatikan oleh pendidikan. Tiap warga negara dan tiap generasi bangsa Indonesia merupakan bagian dari tata-nilai dimaksud; mereka juga merupakan pewaris dan penerus tata nilai tersebut. Kesadaran demikian akan berkembang jika manusia Indonesia menyadari dan menghayati bahwa dirinya merupakan bagian yang bulat dari rakyat/ bangsa Indonesia dan kebudayaannya (sosiobudayanya).
Tata nilai warisan budaya bangsa yang menjadi filsafat hidup rakyatnya seperti nilai ketuhanan, kekeluargaan, musyawarah, mufakat, gotong royong dan tenggang rasa (tepa selira)
Nilai-nilai filsafat negaranya, yakni Pancasila;
Nilai-nilai budaya dan tradisi bangsanya seperti bahasa nasional, adat istiadat, unsur-unsur kesenian dan cita-cita yang berkembang; dan
Tata kelembagaan dalam hidup kemasyarakatan dan kenegaraan baik yang nonformal (paguyuban-paguyuban); maupun yang formal seperti kelembagaan negara menurut Undang-Undang Dasar. Termasuk juga tata-sosial ekonomi rakyat.
       Pendidikan berkewajiban menanamkan kesadaran penghayatan untuk mampu mengamalkan dan melestarikan tata nilai.Karena kelestarian tata nilai di atas tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia Indonesia. Ini berarti generasi muda wajib menyadari bahwa hidupnya ada di dalam dan untuk tata nilai tersebut.Bahkan pendidikan merupakan usaha dan lembaga untuk mewariskan dan melestarikan keseluruhan tata noilai sosio-budaya bangsanya, di samping menguasai nilai-nilai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tujuan pendidikan seumur hidup
Tujuan pendidikan manusia seutuhnya dan seumur hidup ialah:
Untuk mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakikatnya, yakni seluruh aspek pembawaannya seoptimal mungkin.
Berlangsung selama manusia hidup seirama dengan pertumbuhan kepribadian manusia yang bersifat dinamis.
Penjelasan:
Potensi jasmani (fisiologis dan panca indra) menurut ilmu kesehatan memerlukan gizi dan berbagai vitamin termasuk udara yang bersih dan lingkungan yang sehat sebagai prakondisi hidupnya. Jika kebutuhan jasmaniah ini sebagian tidak tercukupi, maka tubuh orang yang bersangkutan akan lemah; bahkan dapat sakit. Karena itulah ilmu kesehatan dan ilmu ekonomi berusaha meningkatkan kesejahteraan (jasmani) manusia.
Potensi rohaniah (psikologis dan budi nurani) juga membutuhkan “makanan”. Makanan rohaniah ini terutama kesadaran cinta kasih, kesadaran kebutuhan/ keagamaan, dan nilai-nilai budaya (ilmu pengetahuan, sastra dan filsafat). Supaya kepribadian kita sehat dan sejahtera (mental hygiene), di samping itu juga rohani kita harus tenang, sabar, optimis, mempercayai orang lain, bahkan mencintai sesama manusia, tidak iri hati, tidak menyimpan rasa benci atau dendam, dan sebagainya. Hidup rohani ini pangkal kebahagiaan manusia.
       Dengan keseimbangan yang wajar hidup jasmani dan rohani kita itu, berarti kita mengembangkan keduanya secara utuh sesuai dengan kodrati kebutuhannya, akan dapat terwujud manusia seutuhnya. Sebaliknya ada kecenderungan kadang-kadang tanpa disadari kita lebih mengutamakan hidup jasmani dan keduniawian. Hal ini terbukti dengan kebiasaan hidup yang melupakan kebutuhan nilai-nilai rohaniah tersebut di atas.
       Menurut ilmu kesehatan (kedokteran) modern banyak penyakit disebabkan oleh faktor-faktor nonfisis; yakni adanya segi-segi psikomatik. Artinya sumber-sumber/ sebab penyakit berasal dari segi-segi kejiawaan (psikologis, sosio ataupun ekonomi). Misalnya, remaja yang putus cinta dan sebagainya. Tegasnya, tujuan pendidikan manusia seutuhnya ialah mengembangkan potensi-potensi kodrati manusia secara proporsional sesuai dengan martabat kepribadiannya.
Implikasi pendidikan seumur hidup
Implikasi konsep pendidikan seumur hidup pada program-program pendidikan
       Implikasi pendidikan seumur hidup pada program pendidikan sebagaimana dikemukakan oleh Ananda W.P. Guruge, dalam garis besarnya dapat dikelompokkan dalam enam kategori, sebagai berikut:
Pendidikan baca tulis fungsional
       Program ini tidak saja penting bagi pendidikan seumur hidup karena relevansinya dengan kondisi yang ada pada negara-negara berkembang karena masih banyaknya penduduk yang buta huruf, melainkan juga sangat penting ditinjau dari implementasinya. Bahkan di negara yang sudah maju sekalipun di mana radio, film dan televisi telah menentang ketergantungan orang akan bahan-bahan bacaan, namun membaca masih tetap merupakan cara yang paling murah dan praktis untuk mendapatkan dan menyebarkan pengetahuan. Memang sulit untuk membuktikan peranan melek huruf fungsional, terhadap pembangunan sosial ekonomi masyarakat, namun pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap kehidupan rakyat jelata, misalnya para petani, disebabkan oleh pengetahuan-pengetahuan baru pada mereka. Pengetahuan baru ini dapat diperoleh terutama melalui bahan bacaan.
       Jadi melek huruf fungsional itu di samping merupakan isi program sekaligus juga merupakan sarana terlaksananya pendidikan seumur hidup. Namun kemampuan membaca menulis apabila tidak ditunjang oleh tersedianya bahan-bahan bacaan tidak ada artinya. Sebab itu realisasi baca tulis fungsional itu harus memuat dua hal, yaitu :
Memberikan kecakapan membaca-menulis-menghitung (3M) yang fungsional bagi anak didik; dan
Menyediakan 
Pendidikan vokasional
       Apakah pendidikan vokasional itu sebagai program pendidikan diluar sekolah bagi anak didik diluar batas usia sekolah, ataukah sebagai program pendidikan formal dan nonformal dalam rangka apprentice-skiptraining, metupakan salah stau program penting dalam rangka pendidikan pendidikan seumur hidup. Pada kebanyakan negara berkembang yang sistem pendidikan formal umumnya diambil dari negara barat (bekas jajahan) seperti hal yang Indonesia, output pendidikan sekolah pada umumnya dirasakan kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang sedang membangun.Sebab itu program pendidikan yang bersifat remedial agar para lulusan sekolah itu menjadi tenaga kerja yang produktif dan menjadi sangat penting.
       Namun yang lebih penting, ialah bahwa pendidikan vokasional ini tidak boleh dipandang sekali jadi lantas selesai.
       Kemajuan teknologi, tentang otomasi (otomation), dan makin meluasnya industrialisasi menuntut pendidikan vokasional itu terus menerus.
Pendidikan profesional
       Apa yang berlaku bagi para pekerja dan guru, berlaku pula bagi para profesional. Bahkan tantangan buat mereka itu lebih besar dan kuat.Mereka berusaha keras terus menerus dan bergerak cepat agar tidak ditinggalkan oleh kemajuan.
       Sebab itu dalam tiap-tiap profesi hendaknya telah tercipta built-in mechanism yang memungkinkan golongan profesional itu selalu mengikuti perubahan dan kemajuan dalam metode, perlengkapan, teknologi, dan sikap profesionalnya.Ini merupakan realisasi dari pendidikan seumur hidup.
Pendidikan kearah perubahan dan pembangunan
       Pendidikan bagi anggota masyarakat dari berbagai golongan usia agar mereka mampu mengikuti perubahan sosial dan pembangunan merupakan konsekuensi penting daripada asas pendidikan seumur hidup. Abad ilmu pengetahuan dan teknologi itu pengaruhnya telah menyusup dalam berbagai aspek kehidupan manusia dan masyarakat, seorang ibu rumah tangga yang bekerja di rumahnya dengan kompor listrik, mesin cuci listrik dan perkakas rumah tangga lainnya yang serba elektronik itu bagaikan seorang sarjana yang bekerja di laboratoriumnya. Semua itu mengandung konsekuensi program pendidikan yang terus menerus.
Pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik
       Tidak saja bagi warga negara biasa, melainkan para pemimpin masyarakat pun sangat membutuhkan pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik itu. Dalam alam pemerintahan dan masyarakat yang demokratis, maka kedewasaan warga negara dan pemimpinnya dalam kehidupan bernegara sangat penting. Untuk itu program pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik itu merupakan bagian yang penting bagi pendidikan seumur hidup.
Pendidikan kultural dan pengisian waktu luang
       Spesialisasi yang berlebih-lebihan dalam masyarakat, bahkan yang telah dimulai pada usia muda dalam program pendidikan formal di sekolah, membuat manusia menjadi berpandangan sempit pada bindangnya sendiri, buta kekayaan nilai-nilai kultural yang terkandung dalam warisan budaya masyarakat sendiri. seorang yang disebut “educated man” harus memahami dan menghargai sejarah, kesusastraan, agama, filsafat hidup, seni dan musik bangsa sendiri. sebab itu pendidikan kultural dan pengisian waktu senggang secara kultural dan konstruktif merupakan bagian penting dari pendidikan seumur hidup.
Implikasi konsep pendidikan seumur hidup dan sasaran pendidikan
       Adapun mengenai implikasi konsep pendidikan seumur hidup ini pada sasaran pendidikan, Ananda W.P. Guruge juga mengklasifikasikannya dalam enam kategori, masing-masing dengan prioritas programnya. Masing-masing ketegori tersebut adalah sebagai berikut:
Para buruh dan petani
       Mereka dengan pendidikan yang sangat rendah atau bahkan tanpa pendidikan sama sekali merupakan golongan terbesar penduduk di negara-negara yang sedang berkembang. Mereka pada umumnya masih hidup dalam suasana tradisional yang dikuasai oleh tahayyul, tabu dan kebiasaan-kebiasaan hidup yang menghambat kemajuan.
       Cara hidup tradisional ini merupakan hambatan-hambatan psikologik bagi pembangunan. Bagi golongan pendidik ini program pendidikan barulah mempunyai arti, apabila program tersebut:
Menolong meningkatkan produktivitas mereka, baik hal itu dicapai melalui pengajaran berbagai keterampilan baru maupun melalui pemberian metode-metode bertani yang baru yang memungkinkanuntuk memperbaiki kehidupan mereka.
Mendidik mereka agar dapat memenuhi kewajiban sebagai warga negara dan sebagai kepala keluarga, sehingga mereka menyadari pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka.
Memberi jalan bagi mereka untuk dapat mengisi waktu senggangnya dengan kegiatan-kegiatan yang produktif dan menyenangkan sehingga mereka menjadi lebih berarti.
       Golongan buruh dan petani inilah yang terutama membutuhkan program baca tulis fungsional (functional literary). Mereka pasti akan menyadari manfaat program itu apabila ketiga hal tersebut betul-betul diperhatikan.
Golongan remaja yang terganggu pendidikan sekolahnya
       Golongan remaja yang menganggur karena tidak mendapatkan pendidikan keterampilan atau unser-employed karena kurangnya bakat dan kemampuannya, memerlukan pendidkikan vokasional yang khusus. Demi perkembangan pribadinya, mereka perlu pula diberi pendidikan kultural dan kegiatan-kegiatan yang kreatif. Namun program yang penting bagi golongan anak didik ini ialah pendidikan yang bersifat remedial.
       Mungkin mereka meninggalkan pendidikan di sekolah karena tidak tertarik, bosan, atau tidak melihat manfaat pendidikan sekolah itu bagi kehidupannya. Sebab itu program remedial yang diberikan kepadanya harus dapat menarik, merangsang dan relevan dengan kebutuhan hidupnya.
Para pekerja yang berketerampilan
       Meskipun golongan ini, sama halnya dengan golongan lainnya, memerlukan program pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan untuk meningkatkan waktu senggang secara produktif, namun golongan ini memerlukan program khusus. Bagi golongan pekerja yang berketerampilan ini, program yang disediakan baginya harus mengandung dua maksud, yaitu:
Program itu harus mampu menyelamatkan mereka dari bahaya keusangan pengetahuannya dan otomasi, kepada mereka perlu diberikan latihan-latihan kembali untuk mendapatkan keterampilan baru;
Program itu harus membuka jalan bagi mereka untuk naik jenjang dalam rangka promosi kedudukan yang lebih baik. Program semacam itu tidak semata-mata bersifat vokasional dan teknik melainkan merupakan peningkatan atas pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki agar mereka dapat menghadapi tantangan-tantangan hari depan mereka.
Golongan techicians dan Professionals
       Program pendidikan seumur hidup itu terlebih sangat besar peranannya bagi golongan itu. Mereka pada umumnya menduduki posisi-posisi penting dalam masyarakat.Kemajuan masyarakat banyak tergantung pada golongan ini.Agar mereka tetap berperan dalam masyarakatnya, maka mereka harus senantiasa memperbarui dan menambah pengetahuan dan keterampilannya.Untyunglah pada umumnya golongan ini telah memiliki kebiasaan dan motivasi yang kuat dalam self learning.
Para pemimpin dalam masyarakat
       Para pemimpin dalam masyarakat (golongan politik, agama, sosial, dan sebagainya) perlu selalu memperbaiki sikap dan ide-idenya agar mereka dapat tetap berfungsi memimpin masyarakat sesuai dengan gerak kemajuan dan pembangunan.Mereka harus mampu mensistensikan pengetahuan dan berbagai macam keterampilan/keahlian, karena tendensi spesialisasi dalam masyarakat sekarang menjadi semakin lama makin jauh.Kemampuan mensistensikan itu tidak pernah diperoleh dari pendidikan sekolah biasa.Sebab itu program pendidikan untuk mencapai tujuan tersebut perlu diadakan.
Golongan anggota masyarakat yang sudah tua
       Dengan bertambah panjangnya usia rata-rata manusia dan kesehatan pun menjadi lebih baik, maka jumlah anggota golongan masyarakat yang lanjut usia ini makin lama makin bertambah besar. Mereka juga memerlukan program pendidikan dalam rangka pendidikan seumur hidup.
Mungkin pendidikan ini merupakan kesempatan yang sangat berharga karena belum pernah memperolehnya pada waktu masih muda.Program pendidikan itu terlebih untuk memenuhidorongannya untuk mengetahui hal-hal yang baru, jadi tidak lagi penting dilihat dari kegunann dan keuntungan materiilnya.
       Dengan uraian mengenai pendidikan seumur hidup (life long integrated education) ini mudah-mudahan konsep kita tantang pendidikan sosial dapat dipandang dalam konteks yang lebih luas.
       Berdasarkan uraian di atas, maka penetapan cara berpikir menurut asas pendidikan seumur hidup itu akan mengubah pandangan kita tentang status dan fungsi sekolah, di mana tugas pendidikan sekolah adalah mengajar anak didik bagaimana caranya belajar, peranan guru adalah sebagai motivator, simulator dan petunjuk jalan anak didik dalam hal belajar, sekolah sebagai pusat kegiatan belajar (learning contre) bagi masyarakat sekitarnya. Sehingga dalam rangka pandangan mengenai pendidikan seumur hidup, maka semua orang secara potensial merupakan anak didik.

Strategi Pendidikan Seumur Hidup
       Dari berbagai uraian yang dikemukakan terdahulu, tampaknya penerapan cara berfikir menurut atas pendidikan seumur hidup akan mengubah pandangan kita tentang status dan fungsi sekolah, dimana tugas utama pendidikan sekolah adalah mengajar anak didik bagaimana caranya belajar, peranan guru adalah sebagai motivator, emulator, dan petunjuk jalan anak didik dalam hal belajar, sekolah sebagai pusat belajar (learning center) bagi masyarakat sekitarnya. Dengan demikian, dalam pandangan mengenai pendidikan seumur hidup, semua orang secara potensial merupakan anak didik.
        Sementara itu pendidikan seumur hidup yang merupakan atas pendidikan dewasa ini, terus diamati baik dinegara-negara maju maupun negara yang sedang berkembang. Dalam konteks ini, diperlukan adannya strategis dalam penerapan pendidikan seumur hidup sehingga pendidikan bagi manusia dapat diartikan secara tepat dan benar.
       Adapun strategi dalam rangka pendidikan seumur hidup sebagaimana diinventarisasi Prof. Soelaiman Joesoef meliputi hal-hal sebagai berikut;
Konsep-konsep Kunci Pendidikan Seumur Hidup
Pada pendidikan seumur hidup dikenal adanya empat macam konsep kunci berikut
Konsep Pendidikan Seumur Hidup itu Sendiri
       Sebagaimana suatu konsep, pendidikan seumur hidup diartikan sebagai tujuan atau ide formal untuk pegorganisasian dan pentrukturan pengalaman-pengalaman pendidikan.
       Hal ini berarti pendidikan akan meliputi seluruh rentangan usia dari usia yang paling muda sampai paling tua, dan adanya basis institusi yang amat berbeda dengan basis yang mendasari persekolahan konvensional.
Konsep Belajar Seumur Hidup
       Pendidikan seumur hidup berarti pelajar belajar karena respons terhadap keinginan yang didasari untuk belajar dan agan-agan pendidikan menyediakan kondisi-kondisi yang membantu belajar.
       Jadi, istilah belajar ini merupakan kegiatan yang dikelola walaupun tanpa organisasi sekolah dan kegiatan ini justru mengarah pada penyelenggaraan asas pendidikan seumur hidup.
Konsep Belajar Seumur Hidup
       Metode belajar seumur hidup adalah orang-orang yang sadar tentang diri mereka sebagai pelajar seumur hidup, melihat belajar baru sebagai cara yang logis untuk mengatasi promlema dan sangat terdorong untuk belajar diseluruh tingkat usia, serta menerima tantangan dan perubahan seumur hidup sebagai pemberi kesempatan untuk belajar baru.
       Dalam keadaan demikian, perlu adanya sistem pendidikan yang bertujuan membantu perkembangan orang-orang secara sadar dan sistematika merespons untuk beradaptasi dengan lingkungan mereka seumur hidup (pelajar dan belajar seumur hidup).
Kurikulum yang Membantu Pendidikan Seumur Hidup
       Dalam konteks ini, kurikulum didesain atas dasar prisip pendidikan seumur hidup betul-betul telah menghasilkan pelajar seumur hidup yang secara berurutan melaksanakan belajar seumur hidup. 
       Kurikulum yang demikian merupakan kurikulum praktis untuk mencapai tujuan pendidikan dan mengimplementsikan prinsip-prinsip pendidikan seumur hidup.
Arah Pendidikan Seumur Hidup
       Umunya pendidikan seumur hidup diarahkan pada orang-orang dewasa dan anak-anak dalam rangka penambahan pengetahuan dan keterampilan mereka yang sangat dibutuhkan di dalam hidunya.
Pendidikan Seumur Hidup Kepada Orang Dewasa
       Sebagai generasi penerus, para pemuda atau pun dewasa membutuhkan pendidikan seumur hidup dalam rangka pemenuhan “self interest” yang merupakan tuntunan hidup mereka sepanjang masa.
       Diantara self interest tersebut, kebutuhan akan baca tulis bagi mereka semuanya dan latihan keterampilanbagi pekerja, sangat membantu mereka untuk menghadapi situasi dan persoalan-persoalan penting yang merupakan kunci keberhasilan.
       Program kegiatan, pembiayaan, dan administrasi penyelenggaraan, ada sebagian kecil yang ditangani masyarakat sebdiri, tetapi disebagian besar negara hal-hal tersebut memperoleh bantuan dari pihak luar seperti lembaga pendidikan tinggi, pemerintah setempat, atau suatu staf ahli dari proyek tertentu.
       Tempat penyelenggaraan dan alat-alat pendidikan hampir sepenuhnya diserahkan pada masyarakat yang bervariasi, dari keadaan sederhana sampai dengan keadaan yang dapat memenuhi persyaratan.
Pendidikan Seumur Hidup Bagi Anak
       Pendidikan seumur hidup bagi anak merupakan sisi lain yang perlu memperoleh perhatian dan pemenuhan karena anak akan menjadi “tempat awal” bagi orang dewasa nantinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
       Pengetahuan dan kemampuan anak memberi peluang yang besar bagi pembangunan pada masa dewasa, dan pada gilirannya masa dewasanya menanggung beban hidup yang lebih ringan.
       Proses pendidikannya menekankan pada metodologi mengajar dan pada dasarnya pada diri anak harus tertanam kunci belajar, motivasi belajar, dan kepribadian yang kuat.
       Sementara itu program kegiatan disusun mulai peningkatan kecakapan baca tulis, keterampilan dasar, dan mempertinggi daya pikir anak sehingga memungkinkan anak terbiasa dalam belajar, berpikir kritis dan mempunyai pandangan kehidupan yang dicita-citakan pada masa yang akan datang.

Peranan Media Komunikasi Massa
       Pendidikan sepanjang hayat berusaha menghilangkan rintangan-rintangan sektor pendidikan yang beraneka ragam dan mencoba mengiteraksi sistem yang beraneka ragam tersebut, untuk mencapai sasaran yang sama, tujuan yang akan dicapai oleh masyarakat/bangsa yang bersangkutan dalam usaha pembangunannya. Di samping itu pula pendidikan sepanjang hayat berusaha membebaskan seseorang atau warga masyarakat dari tekanan struktur pendidikan yang ketat. Untuk mencapai sasaran tersebut kiranya pendidikan sangat perlu untuk mencari dan menggunakan teknik-teknik serta alat-alat baru, yang memungkinkan dapat menjangkau sasarannya secara cepat dan tepat.
       Untuk menjawab tantangan diatas, kiranya media komunikasi massa, akan mampu diandalkan untuk memenuhinya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila media komunikasi massa dipergunakan secara meluas dalam menunjang kegiatan-kegiatan pendidikan yang berasaskan pendidikan spanjang hayat.
       Di bawah ini kami kemukakan satu contoh, dimana media komunikasi massa memegang peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan sepanjang hayat:
       Di Inggris sejak tahun 1970 diperkenalkan Universitas terbuka (Open Universty). Dari namanya saja kita dapat menduga bahwa lembaga tersebut terbuka bagi siapa saja, dengan suatu syarat sudah mencapai usia 21 tahun. Program universitas terbuka ini hanya sampai tingkat sarjana muda ( bachelor), dan memperoleh ijazah.
       Ciri khas universitas ini ialah, para mahasiswa tidak diharuskan mengurangi perkuliahan pada waktu yang telah ditetapkan, berhadapan langsung dengan dosen, dan berpartisipasi dalam latihan. Perkuliahan diberikan melalui radio, televisi, dan surat-surat ke rumah mahasiswa. Dewasa ini diselenggarakan siaran radio mingguan dan siaran televisi. Tugas-tugas dapat diberikan lewat pos, yang berisikan catatan, komentar, terhadap siaran radioa dan televisi tersebut, tugas-tugas untuk mengerjakan percobaan sendiri (beserta petunjuk alat perlengkapan yang harus/dapat dipergunakan). Dan latihan untuk self evaluation.
       Universitas terbuka telah diikuti oleh berbagai negara, baik negara maju maupun oleh negara-negara berkembang. Diantaranya diikuti oleh Republik Federasi Jerman, Iran (sebelum revolusi islam), dan lain-lainnya, yang prinsipnya sama, yaitu perkuliahan diberikan lewat media komunikasi massa seperti radio, televisi, dan surat kabar, serta surat-menyurat.
       Di Indonesia dewasa ini sedang dikembangkan apa yang disebut SBJJ (sistem belajar jarak jauh). SBJJ ini merupakan pilot proyek Dapertemen P Dan K, sasarannya ialah untuk menambah pengetahuan kepada para guru-guru yang telah menyelesaikan Diploma Satu (DI), diselenggrakan oleh beberapa IKIP, di antaranya IKIP Bndung. Namun SBJJ ini menggunakan sisitem modul dan di tiap kabupaten ditunjuk sekurang-kurangnya seorang “tutor” yang memberikan bimbingan dan nasihat kepada para mahasiswa peserta SBJJ tersebut.


BAB III
PENUTUP

       Konsep pendidikan seumur hidup merumuskan suatu asas bahwa pendidikan adalah suatu proses yang terus-menerus dari bayi sampai meninggal dunia. Konsep ini sesuai dengan konsep Islam seperti yang tercantum dalam hadits Nabi Muhammad SAW. yang menganjurkan belajar mulai dari buaian sampai ke liang kubur.
       Adapun tujuan dari pendidikan seumur hidup adalah: 
Untuk mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakikatnya, yakni seluruh aspek pembawaannya seoptimal mungkin.
Berlangsung selama manusia hidup seirama dengan pertumbuhan kepribadian manusia yang bersifat dinamis.
       Konsep pendidikan seumur hidup mempunyai peranan penting dalam pendidikan manusia. Adapun, teknologi dan media massa dapat membantu pelaksanaan pendidikan seumur hidup. Kiranya media komunikasimassa, akan mampu diandalkan untuk memenuhinya. Oleh karena itu, tidaklah mengheran kan apabila media komunikasi massa dipergunakan secara meluas dalam menunjang kegiatan-kegiatan pendidikan yang berasaskan pendidikan spanjang hayat.
       Sekian penyajian materi konsep pendidikan seumur hidup dalam makalah ini. Penulis mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan khususnya bagi kami.









DAFTAR PUSTAKA

Burhanuddin Salam. 2011. Pengantar Pedagogik: dasar-dasar ilmu mendidik. Jakarta: Rineka Cipta
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
Fuad Ihsan. 2011. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Hasbullah. 2012. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers
Internet
http://www.afdhalilahi.com/2013/01/pemikiran-filosofis-tentang-pendidikan.html diakses tanggal 25 April 2016, pukul 16:55

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAFALAN QUR'AN HILANG KARENA MAKSIAT

PERTANYAAN DI PADANG MAHSYAR

EMPAT UNSUR TAWAKKAL