LAPORAN KKN JURUSAN PENDIDIKAN

LAPORAN INDIVIDUAL

KKN TAHUN 2018





MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PAI DI DESA SUKAMANTRI






Oleh:
Kristin Wiranata
NIM. 1152020108








PUSAT PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
LEMBAR PENGESAHAN


Laporan Individu Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan basis pengabdian kepada masyarakat di Desa Sukamantri Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung dengan judul “Meningkatkan Motivasi Belajar PAI di Desa Sukamantri” telah diperiksa dan disahkan pada tanggal 15 September 2018







Dosen Pembimbing Lapangan Kepala Pusat pengabdian kepada
     Masyarakat-LP2M UIN SGD Bandung







Dr. Dian, M.Ag Dr. H. Ramdani Wahyu Sururie, M.Ag., M.Si
Nip.197607062007101004 Nip. 197210302001121002

















KATA PENGANTAR


Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penulis mampu menyusun tugas laporan individul yang berjudul ”Meningkatkan Motivasi Belajar PAI di Desa Sukamantri”
Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa tanpa bimbingan dan dorongan dari pihak-pihak yang terkait tidak mungkin selesai dengan baik. Maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
Orang tua saya yang telah memberikan dukungan baik moral maupun spiritual.
Bapak Dr. Dian, M.Ag selaku Dosen Pembimbing Lapangan.
Bapak Drs. Jaja Surjana Kades Sukamantri beserta seluruh perangkat desa yang telah membantu memperlancar program-program saya.
Tokoh-tokoh masyarakat dan warga masyarakat kampung Mantricina Desa Sukamantri yang telah bersedia menerima dan membantu saya selama melaksanakan KKN Sisdamas.
Rekan-rekan seperjuangan khususnya kelompok 456 KKN UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang telah membantu saya selama kegiatan berlangsung.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan individual ini masih jauh sekali dari kesempurnaan, untuk itu penulis mohon kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan dimasa yang akan datang.
Akhir kata semoga laporan individual ini dapat berguna bagi penulis khususnya dan bagi pembaca yang berminat pada umumnya.

Bandung, September 2018


Penulis









DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
DAFTAR TABEL iv
DAFTAR GAMBAR v
RINGKASAN EKSEKUTIF vi
PROLOG vii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Analisis Permasalahan 1
B. Identifikasi Masalah 5
C. Tujuan dan Manfaat 5
D. Metode Pengabdian 6
E. Kerangka Pemecahan Masalah 8
BAB II GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN 10
A. Monografi Desa 10
B. Kondisi Komunitas Sasaran 16
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN PENGABDIAN 17
A. Tahapan Pengabdian kepada Masyarakat 17
B. Hasil Pengabdian kepada Masyarakat 18
C. Faktor Pendukung dan Penghambat 23
BAB IV PENUTUP 24
A. Simpulan 24
B. Rekomendasi 24
DAFTAR PUSTAKA 25
BIODATA 26
LAMPIRAN 27

DAFTAR TABEL

Table 2 1 Jumlah Penduduk berdasarkan jenis kelamin 10
Table 2 2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Usia 10
Table 2 3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Tingkat Pendidikan 12
Table 2 4 Jumlah Penduduk Cacat Fisik 12
Table 2 5 Jumlah Penduduk Cacat Mental 12
Table 2 6 Jumlah Penduduk Berdasarkan Tenaga Kerja 13
Table 2 7 Jumlah Penduduk Berdasarkan Angkatan Kerja 13
Table 2 8 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan 14
Table 2 9 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Agama 14
Table 2 10 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kewarganegaraan 15
Table 2 11 Jumlah Penduduk Berdasarkan Etnis 15
Table 2 12 Sarana dan Prasaran Desa sukamantri 15

Table 3 1 Program Pengabdian Individu 20

















DAFTAR GAMBAR

gambar 3 1 Proses Kegiatan Belajar Mengajar PAI 21
gambar 3 2 Proses Belajar Mengajar PAI 21
gambar 3 3 Proses belajar Mengajar di Madrasah Diniyyah 22
gambar 3 4 Diskusi Dengan Staff Pengajar 22



















RINGKASAN EKSEKUTIF

Salah satu fenomena yang cukup memprihatinkan pada zaman kita saat ini adalah rendahnya semangat dan motivasi untuk menuntut ilmu agama. Ilmu agama seakan menjadi suatu hal yang remeh dan terpinggirkan bagi mayoritas kaum muslimin. Berbeda halnya dengan semangat untuk mencari ilmu dunia. Seseorang bisa jadi mengorbankan apa saja untuk meraihnya. 
Motivasi diri untuk terus belajar merupakan hal yang sangat penting bagi setiap individu, karena motivasi tersebut dapat menggugah diri untuk tetap bersemangat dalam belajar. Demikian pula dalam menuntut ilmu agama, diperlukan adanya motivasi yang berupa niat dan tekad yang kuat dalam upaya memperolehnya. Jika niat menuntut ilmu agama lemah dan rapuh maka ilmu agama yang dimiliki tidak akan bertambah dan tidak memiliki keberkahan.
Faktanya, lemahnya motivasi diri untuk belajar pada siswa ternyata menjadi masalah yang begitu membingungkan bagi guru, juga orangtua siswa. Misalnya banyak siswa yang menghabiskan tidur selama jam pelajaran berlangsung, siswa mengabaikan penjelasan guru, siswa lebih asyik dengan gawai ketimbang membaca buku, dan lain-lain. 
Berdasarkan permasalahan itu penulis memberikan salah satu solusi untuk mengatasi rendahnya motivasi belajar anak terhadap PAI, maka dari itu penulis menerapkan metode pembelajaran berbasis masalah agar terjadi pola interaksi multi-arah sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar anak. Selain menerapkan metode pembelajaran ini penulis juga menerapkan berbagai langkah lainnya untuk dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, seperti pemberian reward dan punishment, menyelikan humor di dalam pembelajaran dan lain sebagainya. 
Hasil yang di dapat dari penerapan beberapa hal di atas yaitu: meningkatnya motivasi belajar anak terhadap mata pelajaran PAI, timbulnya interaksi multi-arah di dalam pembelajaran, pembelajaran lebih terfokus kepada pendekatan pembelajaran yang terpusat pada siswa, siswa belajar dengan aktif dan siswa mampu mengungkapkan pemikirannya secara bebas namun tetap terarah.








PROLOG


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr.Wb

 Segala puji bagi allah SWT., atas rahmat dan inayah-Nya kita dapat melaksanakan program KKN sisdamas 2018 sesuai dengan apa yang direncanakan. shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW., keluarga dan sahabatnya serta para pengikutnya.
 Pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian integral dari tri darma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian. Sintesis dari pendidikan dan penelitian akan bermuara pada pengabdian yang mana dalam prakteknya dibutuhkan berbagai disiplin ilmu guna menghadapi kompleksitas permasalahan di masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat, sejatinya merupakan wahana bagi mahasiswa untuk menguji hasil pendidikan dan penelitian yang telah dilakukan selama proses perkuliahan. Pengabdian dalam arti luas dapat meliputi pengajaran, pelatihan, pendampingan dan advokasi, loka karya, ataupun pelatihan.
 Pengabdian yang diprogramkan di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung dinamakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). KKN yang diselenggarakan oleh Lembaga Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) pada tahun ini menggunakan sistem pemberdayaan masyarakat (sisdamas). KKN Sisdamas 2018 berfokus pada pemberdayaan masyarakat yang menempatkan mahasiswa sebagai pendamping, dengan diawali tahapan transect, sosialisasi awal, pemetaan sosial, perencanaan partisipatif, sampai pelaksanaan program.
 Kami, Dosen Pembimbing Lapangan, menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya seluruh program dengan baik, semoga dapat menjadi bekal berharga di masa yang akan datang. Ucapan terima kasih disampaikan pula kepada semua pihak yang telah membantu suksesnya kegiatan KKN Sisdamas 2018, jazakumullah ahsa al-jaza











BAB I
PENDAHULUAN

Analisis Permasalahan
Sebagian orang tua sangat senang jika anaknya bisa belajar sampai jenjang lebih tinggi. Tapi sedikit yang peduli akan pendidikan agama pada anak. Jika anak tidak bisa baca Al Qur’an tidaklah masalah, yang penting bisa menguasai bahasa asing terutama bahasa Inggris. Jika anak tidak paham agama tidak apa-apa, yang penting anak bisa komputer. Jadilah anak-anak muda saat ini jauh dari Islam, tidak bisa baca Qur’an, ujung-ujungnya gemar maksiat ditambah dengan pergaulan bebas yang tidak karuan. 
Salah satu fenomena yang cukup memprihatinkan pada zaman kita saat ini adalah rendahnya semangat dan motivasi untuk menuntut ilmu agama. Ilmu agama seakan menjadi suatu hal yang remeh dan terpinggirkan bagi mayoritas kaum muslimin. Berbeda halnya dengan semangat untuk mencari ilmu dunia. Seseorang bisa jadi mengorbankan apa saja untuk meraihnya. 
Sebagian di antara kita mungkin menganggap bahwa hukum menuntut ilmu agama sekedar sunnah saja, yang diberi pahala bagi yang melakukannya dan tidak berdosa bagi siapa saja yang meninggalkannya. Padahal, terdapat beberapa kondisi di mana hukum menuntut ilmu agama adalah wajib atas setiap muslim (fardhu ‘ain) sehingga berdosalah setiap orang yang meninggalkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)
Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas menyatakan bahwa menuntut ilmu itu hukumnya wajib atas setiap muslim, bukan bagi sebagian orang muslim saja. Lalu, “ilmu” apakah yang dimaksud dalam hadits ini? Penting untuk diketahui bahwa ketika Allah Ta’ala atau Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kata “ilmu” saja dalam Al Qur’an atau As-

Sunnah, maka ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i (ilmu agama), termasuk kata “ilmu” yang terdapat dalam hadits di atas.
Motivasi diri untuk terus belajar merupakan hal yang sangat penting bagi setiap individu, karena motivasi tersebut dapat menggugah diri untuk tetap bersemangat dalam belajar. Demikian pula dalam menuntut ilmu agama, diperlukan adanya motivasi yang berupa niat dan tekad yang kuat dalam upaya memperolehnya. Jika niat menuntut ilmu agama lemah dan rapuh maka ilmu agama yang dimiliki tidak akan bertambah dan tidak memiliki keberkahan.
Faktanya, lemahnya motivasi diri untuk belajar pada siswa ternyata menjadi masalah yang begitu membingungkan bagi guru, juga orangtua siswa. Misalnya banyak siswa yang menghabiskan tidur selama jam pelajaran berlangsung, siswa mengabaikan penjelasan guru, siswa lebih asyik dengan gawai ketimbang membaca buku, dan lain-lain. 
Sampai saat ini, tentu kita menemukan banyak siswa memiliki motivasi yang lemah dalam belajar, apalagi jika kita seorang pendidik. Untuk itu, kita perlu mengetahui apa penyebab kurangnya motivasi diri bagi siswa untuk tetap aktif dalam kegiatan belajar.
Ada beberapa faktor yang menjadikan lemahnya motivasi siswa dalam belajar seperti kurangnya perhatian guru terhadap siswanya. Hal utama yang perlu dilakukan sebagai seorang guru ialah mengevaluasi diri sendiri. Guru di sekolah bukan hanya berfungsi sebagai pendidik, tetapi juga sebagai motivator bagi siswanya. Peran guru dalam memotivasi siswa sangatlah penting, khususnya bagi siswa yang malas untuk belajar, dan siswa yang bermasalah. Sedikit banyaknya motivasi yang diberikan pasti akan tersirat di dalam hati para siswa. Bahkan fakta membuktikan bahwa guru yang lebih dekat dengan siswanya, sering berinteraksi dengan siswanya, dan sering memberikan motivasi, akan lebih disukai oleh siswanya.
Hal selanjutnya yang menjadi faktor lemahnya motivasi siswa dalam belajar adalah disebabkan karena gaya dan cara penyampaian materi oleh guru. Siswa pastinya akan merasa bosan dengan metode pengajaran yang monoton, penyampaian materi yang sulit dipahami, kurangnya pelibatan media belajar, guru yang asyik sendiri, dan lain-lain. Jika demikian, motivasi siswa untuk tetap memperhatikan materi akan semakin melemah jika guru tidak memberikan pemahaman yang baik bagi siswanya.
Lemahnya motivasi untuk belajar dalam diri siswa itu sendiri merupakan faktor utama yang dialami oleh kebanyakan siswa, sehingga hal ini menyebabkan siswa kurang berminat untuk belajar dan menghabiskan waktu beberapa tahun di sekolah dengan sia-sia. Siswa yang tidak memiliki impian dan cita-cita yang jelas, siswa yang tidak percaya diri dan merasa dirinya tidak pintar, siswa yang memiliki idealisme yang menganggap tujuan akhir pendidikan adalah hanya untuk mendapatkan pekerjaan saja yang pada akhirnya siswa tidak serius dalam hal pembelajaran, akan membuat siswa menjadikan pendidikan sebagai formalitas semata.
Faktor selanjutnya adalah masalah dalam kehidupan siswa yang menjadikan lemahnya motivasi diri untuk belajar seperti masalah keluarga, putus cinta, masalah dengan teman sebayanya, bolos sekolah, dan lain sebagainya. Siswa tidak berani menceritakan permasalahannya kepada orangtua, guru, bahkan teman dekatnya sekalipun, karena malu atau karena mereka beranggapan itu adalah hal privasi, yang pada akhirnya semua permasalahan yang dialaminya ia tanggung dan pendam sendiri, yang menyebabkan siswa tidak hanya bermasalah dalam hal akademik saja, tetapi psikologisnya pun ikut bermasalah.
Kurangnya perhatian orangtua juga dapat menjadi faktor lemahnya motivasi belajar pada anaknya. Orangtua menempati peran yang sangat penting sebagai motivator bagi pendidikan anak, karena secara tidak sadar apapun yang berasal dari orangtua baik sifat maupun sikap akan menjadi panutan anak begitu pula dalam masalah pendidikan anak. Saat ini, banyak orangtua yang kerap menyalahkan kenakalan anaknya kepada pihak sekolah. Padahal letak kesalahannya adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Kebanyakan orangtua tidak menyadari hal tersebut dikarenakan mereka sibuk bekerja dan beranggapan bahwa semua proses pembelajaran ditanggung oleh pihak sekolah.
Hal selanjutnya yang menjadi faktor lemahnya motivasi siswa dalam belajar di sekolah adalah pergaulan yang bebas. Mereka melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh pelajar, seperti pelecehan anak di bawah umur, mencuri, berjudi, merokok dan sebagainya. Mereka beranggapan bahwa begitulah seharusnya menikmati masa remaja. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar pun terbuang sia-sia, sehingga siswa tidak sadar keinginan untuk belajar semakin menurun. 
Walaupun tidak semua siswa yang bergaul dengan lingkungan yang kurang baik akan terbentuk menjadi anak yang tidak baik, tetapi mayoritas siswa yang sudah terjerumus dalam lingkungan yang bebas, maka perilaku dan pemikirannya bisa saja terpengaruhi oleh lingkungan luar yang saat ini semakin mengkhawatirkan. Sebagai guru dan orangtua, sebaiknya mereka memberi pemahaman yang lebih terkait dengan lingkungan yang hendak mereka masuki. Pengawasan yang baik dari kedua orangtua tentunya sangat penting agar anak merasa dirinya diperhatikan.
Selanjutnya adalah faktor kemajuan teknologi yang tidak bisa dipungkiri memang membawa kemudahan pada setiap aktivitas manusia. Meski demikian, kemajuan teknologi juga membawa dampak buruk terutama dalam hal pendidikan. Budaya-budaya luar yang terselip dalam fasilitas internet, program-program kurang mendidik, dan masih banyak hal lainnya dapat menghipnotis siswa untuk asyik bermain daripada belajar. Semua itu memperbanyak aktivitas siswa sehari-hari sampai melupakan belajar dan secara perlahan kemajuan hebat peradaban manusia melemahkan motivasi belajar dalam diri siswa. Kita bisa berasumsi bahwa siswa mampu bertahan lebih dari lima jam bermain games daripada satu jam belajar di sekolah. Jika siswa tersebut terus terbuai dan tidak bisa membatasi diri dari fasilitas teknologi yang kian menarik, maka permasalahan yang timbul tidak hanya melemahnya keinginan untuk belajar saja, tetapi siswa tersebut akan kecanduan yang dapat membahayakan pemikiran juga kesehatannya.
Ketika siswa mulai berpikir kritis, tentunya siswa harus tetap dapat pengawasan yang baik dari orang-orang terdekatnya, agar dapat membedakan mana yang baik untuk dijadikan patokan dan mana yang tidak baik untuk dijadikan patokan. Siswa pasti akan semakin penasaran dengan dunianya yang kian hari semakin berkembang. Oleh karena itu, sepatutnya orangtua di rumah dan guru di sekolah, lebih memperhatikan aktivitas siswanya agar siswa tetap menyadari bahwa pendidikan merupakan hal yang penting untuk masa depannya, dan tidak mengorbankan masa mudanya hanya untuk hal yang tidak ada maknanya.
Hadirnya peserta KKN (Kuliah Kerja Nyata) di lingkungan desa Sukamantri ini semoga dapat membawa perubahan baik pada anak-anak agar meningkatkan minat dan motivasi belajar ilmu agama. Anak-anak merupakan bibit generasi penerus peradaban yang harus benar-benar dipersiapkan untuk mewujudkan peradaban yang lebih baik, yang bisa membanggakan baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Identifikasi Masalah
Berdasarkan hal di atas akhirnya dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut :
Rendahnya motivasi belajar agama pada diri siswa
Guru PAI kurang variatif di dalam memilih metode pembelajaran
Pembelajaran PAI cenderung monoton

Tujuan dan Manfaat
Tujuan Pengabdian
Tujuan program kegiatan pengabdian PkM adalah untuk mendeskripsikan upaya peningkatan motivasi belajar pendidikan agama Islam baik dalam ruang lingkup pembelajaran formal dan non formal dalam lingkungan masyarakat Kampung Mantricina Desa Sukamantri.
Manfaat Pengabdian
Setelah program kegiatan PkM dilaksanakan, diharapkan dapat memberikan kegunaan atau manfaat sebagai berikut:
Bagi siswa:
Untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IV, V dan VI SDN Sukamantri Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung.
Untuk meningkatkan motivasi belajar siswa madrasah diniyah Bani Qosim kampung Mantricina desa Sukamantri kecamatan Paseh Kabupaten Bandung
Bagi pengabdi:
Program pengabdian ini merupakan salah satu usaha untuk memperdalam dan memperluas ilmu pengetahuan penulis. 
Meningkatkan keterampilan penulis untuk mengaplikasikan ilmu yang dimiliki penulis dalam praktik secara nyata.
Bagi prodi
Memperoleh umpan balik sebagai hasil pengintegrasian mahasiswanya dengan proses pembangunan di tengah –tengah masyarakat sehingga kurikulum, materi perkuliahan dan pembangunan ilmu pengetahuan yang diasuh di perguruan tinggi dapat lebih disesuaikan dengan tuntutan nyata dari pembangunan.
Memperoleh hasil kegiatan mahasiswa, dapat menelaah dan merumuskan keadaan/ kondisi masyarakat yang berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta dapat mendiagnosa secara tepat kebutuhan masyarakat sehingga ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang diamalkan dapat sesuai dengan tuntutan nyata.

Metode Pengabdian
Di dalam melakukan program kegiatan pengabdian berupa mengajar, penulis menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah. Melalui metode pembelajaran ini anak dituntut untuk dapat berpikir secara kritis untuk dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang di ajukan oleh guru.
Barrow mendefinisikan Pembelajaran berbasis masalah (Problem-based Learning/PBL) sebagai “pembelajaran yang diperoleh melalui proses menuju pemahaman akan resolusi suatu masalah. Masalah tersebut dipertemukan pertama-tama dalam proses pembelajaran”. PBL merupakan salah satu bentuk peralihan dari paradigma pengajaran menuju paradigma pembelajaran. Jadi, fokusnya adalah pada pembelajaran siswa dan bukan pada pengajaran guru.
Sementara itu, Loyd-Jones, Margeston, dan Bligh menjelaskan fitur-fitur penting dalam PBL. Mereka menyatakan bahwa ada tiga elemen dasar yang seharusnya muncul dalam pelaksanaan PBL: menginisiasi pemicu/masalah awal (initiating trigger), meneliti isu-isu yang diidentifikasi sebelumnya, dan memanfaatkan pengetahuan dalam memahami lebih jauh situasi masalah. PBL tidak hanya bisa diterapkan oleh guru dalam ruang kelas, akan tetapi juga oleh pihak sekolah untuk pengembangan kurikulum. Ini sesuai dengan definisi PBL yang disajikan oleh Maricopa Community Colleges, Centre for learning and instruction. Menurut mereka, PBL merupakan kurikulum sekaligus proses. Kurikulumnya meliputi masalah-masalah yang dipilih dan dirancang dengan cermat yang menuntut upaya kritis siswa untuk memperoleh pengetahuan, menyelesaikan masalah, belajar secara mandiri, dan memiliki skill partisipasi yang baik. Sementara itu, proses PBL mereplikasi pendekatan sistemik yang sudah banyak digunakan dalam menyelesaikan masalah atau memenuhi tuntutan-tuntutan dalam dunia kehidupan dan karier.
Sintak operasional PBL bisa mencakup antara lain sebagai berikut:
Siswa disajikan suatu masalah
Siswa mendiskusikan masalah dalam tutorial PBL dalam sebuah kelompok kecil. Mereka mengklarifikasi fakta-fakta suatu kasus kemudian mendefinisikan sebuah masalah. Mereka membainstroming gagasan-gagasannya dengan berpijak pada pengetahuan sebelumnya. Kemudian, mereka mengidentifikasi apa yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan masalah serta apa yang mereka tidak ketahui. Mereka menelaah masalah tersebut. Mereka juga mendesain suatu rencana tindakan untuk menggarap masalah.
Siswa terlibat dalam studi independen untuk menyelesaikan masalah di luar bimbingan guru. Hal ini bisa mencakup: perpustakaan, database, website, masyarakat, dan observasi.
Siswa kembali pada tutorial PBL, lalu saling sharing informasi, melalui peer teaching atau cooperative learning atas masalah tertentu.
Siswa menyajikan solusi atas masalah.
Siswa mereview apa yang mereka pelajari selama proses pengerjaan selama ini. Semua yang berpartisipasi dalam proses tersebut terlibat dalam review pribadi, review berpasangan, dan review berdasarkan bimbingan guru, sekaligus melakukan refleksi atas kontribusinya terhadap proses tersebut.
Adapun alasan penulis menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah adalah:
Terjadinya interaksi yang dinamis diantara guru dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan siswa.
Siswa memiliki keterampilan mengatasi masalah.
Siswa memiliki kemampuan mempelajari peran orang dewasa.
Siswa dapat menjadi pembelajar yang mandiri dan independent
Siswa memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi

Kerangka Pemecahan Masalah
Metode pembelajaran berbasis masalah adalah suatu metode pembelajaran yang dirancang pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah agar siswa mendapat pengetahuan penting. Dengan demikian diharapkan siswa mahir dalam memecahkan masalah, memiliki model belajar sendiri dan memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Dengan terjalinnya multi-interaksi di dalam metode pembelajaran ini sehingga dengan metode ini dapat menghasilkan pembelajaran yang menyenangkan dan dapat membangun motivasi untuk semangat dalam belajar.
Selain menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah, penulis juga menerapkan berbagai kiat lainnya untuk dapat meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama islam bagi siswa, diantaranya:
Menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa
Bangkitkan semangat belajar dan berikan perhatian kepada siswa.
Menggunakan model pembelajaran dan metode pembelajaran yang variatif
Menyiapkan media yang tepat dengan materi 
Memunculkan kompetisi atau saingan yang positif
Membantu kesulitan belajar siswa
Memberikan pujian terhadap siswa yang berprestasi
Memberikan sangsi atau hukuman terhadap siswa yang membuat kesalahan
Memberikan reward atau hadiah kepada siswa yang terbaik
Menyelipkan humor di dalam pembelajaran






























BAB II
GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN


Monografi Desa
Jumlah Penduduk berdasarkan jenis kelamin
Jumlah laki-laki
8.239 orang

Jumlah perempuan
8.175 orang

Jumlah total
16.414 orang

Jumlah kepala keluarga
4.472 KK

Kepadatan penduduk
0,5 per Km

Table 2 1 Jumlah Penduduk berdasarkan jenis kelamin
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Usia
Usia
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

0-4 tahun
682
696

5-9 tahun
890
902

10-14 tahun
947
965

15-19 tahun
648
626

20-24 tahun
846
800

25-29 tahun
752
738

30-34 tahun
606
722

35-38 tahun
425
365

39-43 tahun
487
457

44-49 tahun
581
525

50-52 tahun
259
247

53-55 tahun
252
234

56-59 tahun
252
283

60-64 tahun
280
266

65-69 tahun
152
152

70-75 tahun
143
144

Lebih dari 75 tahun
37
53

Total
8.239
8.175

Table 2 2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Usia

Dari data jumlah penduduk berdasarkan usia tersebut, dapat kita lihat bahwa, jumlah angkatan kerja yang tergolong usia produktif atau usia angkatan kerja 15-64 tahun berjumlah 10.651 orang, sedangkan jumlah penduduk yang bukan angkatan kerja memiliki jumlah 5.763 orang, sehingga angka tanggungan usia angkatan kerja terhadap usia non- angkatan kerja berjumlah 1,8 hal tersebut menunjukkan setiap orang yang tergolong angkatan kerja menanggung 2 orang usia yang non-produktif.

Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Tingkat Pendidikan
Tingkatan Pendidikan
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Usia 3-6 tahun yang belum masuk TK
29
33

Usia 3-6 tahun yang sedang TK/Play group
79
91

Usia 7-18 tahun yang tidak pernah sekolah
123
102

Usia 7-18 tahun yang sedang sekolah
834
789

Usia 18-56 tahun tidak pernah sekolah
15
25

Usia 18-56 tahun tidak tamat SD
98
91

Usia 18-56 tahun tidak tamat SLTP
1.808
1.542

Usia 18-56 tahun tidak tamat SLTA
242
253

Tamat SD/sederajat
84
96

Tamat SMP/Sederajat
1.445
1.329

Tamat SMA/Sederajat
1.542
1.851

Tamat D-1/Sederajat
23
23

Tamat D-2/Sederajat
142
143

Tamat D-3/Sederajat
41
41

Tamat S-1/Sederajat
206
200

Tamat S-2/Sederajat
5
-

Tamat S-3/Sederajat
1
-

Tamat SLB A
-
-

Tamat SLB B
-
-

Tamat SLB C
-
-

Jumlah
6.717
6.609

Jumlah Total
13.326

Table 2 3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Tingkat Pendidikan
Jumlah Penduduk Cacat Mental dan Fisik
Jenis Cacat Fisik
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Tuna rungu
41
18

Tuna wicara
17
4

Tuna netra
6
-

Lumpuh
12
8

Sumbing
3
1

Cacat kulit
4
1

Cacat fisik/tuna daksa lainnya
3
1

Jumlah
86
33

Table 2 4 Jumlah Penduduk Cacat Fisik
Jenis Cacat Mental
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Idiot
1
2

Gila
2
1

Stress
-
-

Autis
-
-

Jumlah
3
3

Table 2 5 Jumlah Penduduk Cacat Mental
Jumlah Penduduk Berdasarkan Tenaga Kerja dan angkatan kerja
Tenaga Kerja
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Penduduk usia 18-56 tahun
4.508
4.376

Penduduk usia 18-56 tahun yang bekerja
1.985
2.432

Penduduk usia 18-56 tahun yang belum/tidak bekerja
2.523
1.944

Penduduk usia 56 tahun ke atas



Angkatan kerja



Jumlah
4.508
4.376

Jumlah total (laki-laki+perempuan)
8.884


Table 2 6 Jumlah Penduduk Berdasarkan Tenaga Kerja
Jumlah tenaga kerja penduduk yang berusia 18-56 tahun sebanyak 8.884 orang, yang bekerja sebanyak 4.417 orang dan yang belum atau tidak bekerja sebanyak 4.467 orang. Berikut adalah rincian penduduk berdasarkan kualitas angkatan kerja.
Angkatan Kerja
Laki-laki 
(orang)
Perempuan 
(orang)

Penduduk usia 18-56 tahun yang buta aksara dan huruf/angka latin



Penduduk usia 18-56 tahun yang tidak tamat SD
95
89

Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat SD
1.407
1.416

Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat SLTP
252
265

Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat SLTA
1.524
1.862

Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat Perguruan Tinggi
43
34

Jumlah
3.321
3.666

Table 2 7 Jumlah Penduduk Berdasarkan Angkatan Kerja
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Jenis Pekerjaan
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Petani
71
46

Buruh tani
85
52

Buruh migran
-
-

Pegawai Negeri Sipil
151
141

Pengrajin industri rumah tangga
71
96

Pedagang keliling
158
76

Peternak
2
-

Dokter swasta
-
-

Bidan swasta
-
-

Pensiunan TNI/POLRI
482
421

TNI
52
-

POLRI
135
173

Pengusaha kecil
1.242
9

Montir
2
-

Notaris
-
4

Dukun Kampung Terlatih
-
3

Jasa Pengobatan Terlatih
1
-

Dosen Swasta
3
-

Arsitektur
1
-

Seniman/Artis
2
2

Karyawan Perusahaan Swasta
5.882
3.437

Karyawan Perusahaan Pemerintah
7
2

Perawat Swasta
-
71

Jumlah
8.347
4.533

Jumlah Total Penduduk
12.880

Table 2 8 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Agama
Agama
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Islam
8.150
8.079

Kristen
48
53

Kathotik
41
43

Dan Lain-lain
0
0

Jumlah
8.239
8.175

Table 2 9 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Agama
Jumlah Penduduk Berdasarkan Kewarganegaraan
Kewarganegaraan
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Warga Negara Indonesia
8.239
8.175

Warga Negara Asing



Dwi Kewarganegaraan



Jumlah
8.239
8.175

Table 2 10 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kewarganegaraan
Jumlah Penduduk Berdasarkan Etnis
Etnis
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Aceh
5


Batak
92
98

Sunda
7.866
7.836

Jawa
276
241

Jumlah
8.239
8.175

Table 2 11 Jumlah Penduduk Berdasarkan Etnis
Sarana dan Prasarana
No
Sarana 
Jumlah

1
kantor kepala Desa
1

2
Posyandu
16

3
Masjid
15

4
Tk 
3

5
Gedung tempat bermain anak
6

6
SD
7

7
SMP
2

8
SMA
2

9
Perpustakaan desa
1

10
Puskesmas pembantu
1

11
Lapangan bulu tangkis
1

12
Toko obat
2

13
Rumah bersalin
1

14
Balai kesehatan ibu dan anak
1

Table 2 12 Sarana dan Prasaran Desa sukamantri
Kondisi Komunitas Sasaran
Berdasarkan hasil pengamatan data-data lengkap yang diperoleh mengenai monografi, topografi serta analisis geografis wilayah. Desa Sukamantri memiliki banyak keunikan dan potensi yang menarik untuk dicermati.
Secara khusus di wilayah kampung Mantricina Desa Sukamantri, masyarakatnya sudah tergolong masyarakat semi-modern (tradisional modernis) tidak terlalu tradisional dan juga modern. Daerah ini dahulunya terdapat banyak kebun-kebun, namun seiring perkembangan zaman banyak bangunan-bangunan yang mulai didirikan seperti banyaknya rumah-rumah, toko, ataupun bangunan lainnya. Mata pencaharian utama di desa ini ialah menjadi buruh pabrik.
Jalan menuju kampung mantricina desa Sukamantri ini pun sudah mulai bagus namun masih ada sebagian kecil yang belum di aspal, akses menuju desa ini bisa menggunakan motor dan juga mobil. 
Tidak sedikit pemuda di wilayah ini mengalami putus sekolah, padahal wajib sekolah 9 tahun yang disahkan oleh pemerintah. Selain itu, banyak juga warga yang acuh terhadap pembelajaran anaknya di sekolah. Dalam pendidikan, tidak sedikit orang tua siswa yang memiliki latarbelakang pendidikan yang rendah. Sehingga penulis mengamati ada beberapa orang tua yang belum paham tentang perkembangan pendidikan dari sisi pola asuh. Sehingga apa yang di ajarkan guru di sekolah ataupun dilembaga pendidikan non-formal lainnya tidak di terapkan di rumah karena perspektif pola asuh yang dikatakan masih awam. Sehingga orangtua sukar untuk menerima ilmu baru dalam pola asuh. 









BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN PENGABDIAN


Tahapan Pengabdian kepada Masyarakat
Tahapan pengabdian kepada masyarakat terkait dengan pendidikan dan minat mempelajari ilmu agama Islam khususnya pada anak SD, penulis memilih mengadakan bimbingan belajar rutin untuk membantu anak-anak belajar PAI. Bagi siswa madrasah diniyah penulis membantu mengajarkan PAI pula di madrasah, seperti tahfidz, baca tulis al-Qur’an, pembelajaran tajwid, dan lain sebagainya. Selain di sekolah dan di madrasah diniyyah penulis juga membantu mengajar mengaji di salah satu kediaman masyarakat setempat. Berikut adalah tahap-tahap pelaksanaan bimbingan belajar khususnya PAI:  
Identifikasi
Identifikasi adalah suatu kegiatan yang berupaya untuk menemukan siswa yang mengalami kesulitan belajar PAI khususnya dalam baca tulis al-Qur’an dengan mencari informasi tentang siswa melalui: 
Melakukan wawancara dengan siswa untuk mengetahui kesulitan  
Bertanya kepada guru mapel PAI mengenai data siswa yang mengalami kesulitan 
Diagnosis 
Diagnosis adalah keputusan atau penentuan mengenai hasil dari pengolahan data. Diagnosis ini dapat berupa hal-hal sebagai berikut:
Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar PAI siswa
Keputusan mengenai faktor-faktor yang menjadi sumber kesulitan belajar PAI
Prognosis 
Prognosis merupakan aktifitas penyusunan rencana atau program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar anak didik terhadap mata pelajaran PAI. Prognosis dapat diartikan rencana apa yang telah diterapkan dalam tahap 

diagnosis yang akan menjadi dasar utama dalam menyusun dan menetapkan ramalan mengenai bantuan apa yang harus diberikan kepada siswa untuk membantu mengatasi masalahnya. Prognosis tersebut berupa:  
Bentuk treatment yang harus diberikan
Bahan atau materi yang diperlukan
Metode yang akan digunakan
Alat bantu belajar mengajar yang diperlukan
Waktu kegiatan dilaksanakan 
Terapi atau pemberian bantuan
Terapi ini berupa pemberian bantuan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk terapi yang akan diberikan antara lain:  
Bimbingan belajar kelompok
Bimbingan belajar individual
Pemberian bimbingan pribadi 
Tindak lanjut atau follow up
Tindak lanjut atau follow up adalah suatu usaha untuk mengetahui keberhasilan bantuan yang telah diberikan kepada siswa dan tindak lanjutnya. Dalam kegiatan tindak lanjut mendasarkan hasil evaluasi dan analisisnya.

Hasil Pengabdian kepada Masyarakat
Kegiatan pembelajaran PAI dalam ruang lingkup lembaga pendidikan formal dan non-formal adalah sebagai berikut:
No
Waktu
Tempat
Kegiatan dan Pembahasan Materi
Evaluasi

1
9-08-2018
SDN Sukamantri
Memahami Asmaul Husna
Siswa sangat tertarik dengan pembahasan yang disampaikan oleh guru bahkan siswa pun dapat menjawab post test yang diberikan guru diakhir pembelajaran

2
10-08-2018
SDN Sukamantri
Hablumminal ‘alam (mencintai lingkungan)
Siswa dapat memberikan berbagai solusi sebagai upaya memperbaiki alam

3
24-08-2018
SDN Sukamantri
Mensyukuri anugerah yang Allah berikan dengan berpikir kritis
Siswa mampu memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan yang guru berikan bahkan siswa mengkritisi materi yang disampaikan oleh guru

4
6-08-2018
Rumah Warga
Mempelajari Ilmu Tajwid
Masih terdapat beberapa murid yang belum memahami ilmu tajwid dengan benar

5
13-08-2018
Rumah warga
Mempelajari Rukun Iman
Siswa sangat antusias mempelajari rukun iman

6
8-08-2018
Madrasah Diniyyah Bani Qosim
BTQ
Masih terdapat beberapa siswa yang belum lancar dalam membaca al-Qur’an dan memerlukan bimbingan dan pengajaran lebih lanjut

7
20-08-2018
Madrasah Diniyyah Bani Qosim
Tahfidz
Siswa dapat menghafal surat pilihan dengan baik

8
25-08-2018
Posko KKN kelompok 456
Belajar bahasa arab dengan bernyanyi
Siswa mampu menyanyikan lagu berbahasa arab akan tetapi di dalam pelafalan perlu diperbaiki dan dilatih lagi

9
13-08-2018
PAUD Bani Qosim
Belajar doa-doa pendek
Siswa mampu mengikuti KBM dengan baik

10
1-09-2018
Madrasah Diniyyah Bani Qosim
Mendirikan rumah baca yang agamis, inovatif, dan inspiratif
Masyarakat menyambut dengan positif

Table 3 1 Program Pengabdian Individu
Dokumentasi kegiatan diarsipkan dalam bentuk gambar, sebagai berikut: 

gambar 3 1 Proses Kegiatan Belajar Mengajar PAI

gambar 3 2 Proses Belajar Mengajar PAI



gambar 3 3 Proses belajar Mengajar di Madrasah Diniyyah

gambar 3 4 Diskusi Dengan Staff Pengajar


Faktor Pendukung dan Penghambat
Selama proses bimbingan belajar faktor pendukungnya adalah anak-anak di desa Sukamantri antusias dan semangat dalam proses belajar mengajar mata pelajaran PAI sehingga memudahkan pengajar untuk menjalankan program yang sudah direncanakan. Selain itu, para orang tua mendukung anak-anaknya untuk mengikuti program belajar bahasa arab yang diadakan di posko kelompok 456. Masyarakat pun antusias untuk mendorong anak-anaknya agar mengikuti program pengajaran baik di madrasah diniyyah dan program pengajaran agama yang dilakukan di rumah warga.  
Faktor penghambat dari proses bimbingan belajar diantaranya masih ada anak-anak yang tidak mau belajar karena alasan malu. Dan ada juga beberapa orang tua yang menganggap cukup jika anaknya sudah mendapatkan pendidikan agama di sekolah sedangkan di rumah anak tersebut dirasa tidak perlu mendapatkan pendidikan agama lebih lanjut. Padahal waktu belajar PAI di sekolah sangatlah singkat dan tidak memungkinkan bagi guru untuk mampu menanamkan nilai-nilai spiritual secara optimal ke dalam karakter anak didik. Selain itu penulis mendapati ada murid yang memiliki kesulitan dalam belajar seperti tidak bisa calistung padahal siswa tersebut sudah menduduki kelas 4,5 dan 6 SD. Tentu penulis harus memberikan perhatian lebih ekstra terhadap beberapa anak tersebut.














BAB IV
PENUTUP

Simpulan
Pembelajaran PAI dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah cukup efektif karena anak lebih antusias dengan memberikan respon positif untuk mengikuti kegiatan bimbingan belajar PAI baik di sekolah maupun di luar sekolah sehingga dengan demikian motivasi anak dalam belajar PAI pun meningkat. Metode pembelajaran ini sangat membantu anak di dalam meningkatkan daya pikir kritis pada anak. Dengan menerapkan metode tersebut anak-anak lebih terdorong untuk belajar secara aktif dan menggunakan daya berpikirnya untuk menyelesaikan dan memberi solusi terhadap masalah yang disajikan. Sehingga terjadilah pola interaksi yang multi-arah di dalam pembelajaran PAI sehingga anak termotivasi untuk belajar PAI bersama teman-temannya.
Mengenai faktor hambatan, tidak terlalu banyak hambatan dan kesulitan sehingga kegiatan belajar mengajar dari awak sampai akhir berjalan dengan cukup baik.

Rekomendasi
Pelaksana KKN diharapkan tetap menggunakan sistem pemberdayaan masyarakat untuk mengoptimalkan masa pengabdian mahasiswa pada masyarakat. Selain itu, penambahan masa KKN dengan lebih dari sebulan akan lebih baik agar masa pengabdian mahasiswa kepada masyarakat bisa lebih maksimal.











DAFTAR PUSTAKA

Arsip monografi Desa Sukamantri Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung
Miftahul Huda. 2014. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-Isu Metodis dan Pradigmatis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Pedoman Buku Panduan KKN SISDAMAS (Kuliah Kerja Nyata Berbasis Pemberdayaan Masyarakat) Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung Tahun 2018




























BIODATA





Nama : Kristin Wiranata
TTL: Tangerang, 13-10-1997
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Fakultas: Tarbiyah dan Keguruan
No. HP: 088218652494
Alamat: komplek Pindad No. 13 RT.3 RW.21 Desa Margasari Kec. Buah batu Kota Bandung
























LAMPIRAN



Foto Upacara dengan Para Siswa dan Para Tenaga Pendidik

Foto bersama para siswa SDN Sukamantri



Foto Perpisahan Mahasiswa KKN kelompok 456 dengan Para Siswa

Foto Peresmian Rumah Baca Insan Cita Di Desa Sukamantri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAFALAN QUR'AN HILANG KARENA MAKSIAT

PERTANYAAN DI PADANG MAHSYAR

EMPAT UNSUR TAWAKKAL