MUNAJAT (DOA) DALAM KITAB AL-HIKAM
Dari Ibnu’Atha’illah semoga Allah senantiasa meridhainya berkata:
1
“Tuhanku, akulah yang fakir di dalam kekayaanku, maka bagaimana tidak akan merasakan kefakiran dalam kefakiranku?.”
2
“Tuhanku, akulah hamba yang bodoh dalam ilmu pengetahuanku, maka bagaimana tak akan lebih bodoh lagi dalam hal-hal yang aku masih bodoh tidak mengetahuinya?.”
3
“Tuhanku, perubahanperubahan aturan-Mu (tadbir) dan cepat tibanya takdir-Mu, telah menahan hamba-hamba-Mu yang ‘arif dari penyadaran pemberian atau putusasa dari pada-Mu selama dalam ujian.”
4
“Tuhanku, akan muncul apa-apa yang layak dengan kerendahan, kekurangan dan sifat kebodohanku, dan dari-Mu pasti akan muncul segala hal yang layak dengan Kemuliaan-Mu.”
5
“Tuhanku, Engkau telah menyifati diri-Mu dengan sifat belas kasih terhadapku, dari mulai sebelum adanya kelemahan (bentuk)ku ini; maka, apakah kemudiann Engkau akan menolakku dari kedua sifat-Mu setelah adanya kelemahanku?.”
6
“Tuhanku, apabila amal kebaikan (al-mahasin) muncul dariku, maka itu adalah semata-mata karena karunia-Mu dan itu adalah hak-Mu untuk memberkatiku. Dan apabila kejahatan (al-masawi) muncul dariku, maka itu adalah semata-mata karena keadilan-Mu: itu adalah hak-Mu untuk menuntutku.”
7
“Tuhanku, bagaimana dapat Engkau tinggalkan aku untuk mengurusi diriku sendiri, padahal Engkau-lah Yang menjamin aku? Dan bagaimana aku dapat dalam bahaya, padahal Engkau-lah Temanku? Atau, bagaimana ku dapat kecewa dengan-Mu, pdahal Engkau-lah Penghiburku? Inilah aku yang sedang beusaha mendekat kepada-Mu dengan melalui kefakiranku kepada-Mu.
Bagaimana aku dapat mendekat kepada-Mu dengan melalui sesuatu yang mustahil akan dapat sampai kepada-Mu? Bagaimana aku dapat mengadu kepada-Mu tentang keadaanku, padahal aku tidak tersembunyi daripada-Mu? Atau bagaimana aku nyatakan kepada-Mu dengan kata-kataku, padahal kata-kata itu datang dan kembali kepada-Mu? Atau bagaimana harapanku dapat hancur, padahal telah datang menghadap-Mu? Atau bagaimana keadaanku tidak akan menjadi baik, padahal ia berasal dari-Mu dan kembali kepada-Mu?
8
“Tuhanku, betapa lunaknya Engkau terhadapku, padahal aku begitu dungu, dan alangkah besar-Nya rahmat-Mu kepadaku, padahal sangat jelek perbuatanku.”
9
“Tuhanku, betapa dekatnya Engkau kepadaku, dan alangkah jauhnya aku dari-Mu.”
10
“Tuhanku, betapa kasih-Mu kepadaku, maka apakah yang telah menutupiku dari-Mu?"
11
“Tuhanku, aku telah mengerti dengan perubahan keadaan dan pergantian-pergantian masa, bahwa tujuan-Mu dariku adalah untuk memperkenalkan kekuasaan-Mu kepadaku, dalam segala keadaan dan masa, sehingga aku tidak melupakan-Mu dalam segala apa-pun.”
12
“Tuhanku, kapan saja dosa-dosa ku membungkamku, maka kemurahan-Mu membuatku berbicara, dan kapan saja sifat-sifatku membuatku putus asa, maka karunia-Mu memberiku setitik harapan.”
13
“Tuhanku, Jika dalam kebaikan seseorang masih banyak kemaksiatan (kesalahan). Maka bagaimanakah tidak akan menjadi kemaksiatan itu sebagai dosa? Dan jika semua ilmu dan pengertian seseorang itu sekedar pengakuan belaka, maka bagaimana tidak akan menjadi semua pengakuannya itu kepalsuan belaka?.” (Kebajikan-kebajikan yanng diklaim orang untuk dirinya sendiri adalah suatu kesalahan karena terdapat unsur egisentrisme.
Demikian juga dengan melakukan kebenaran demi karunia spiritual (ilham), dan juga ego yang mengakui sebagai miliknya sendiri. Kalau begitu, ia tengah mengatakan, jika kebajikan-kebajikan dan amal kebaikan belum bersih dari individualisme, maka bagaimana dengan dosa-dosa dan pengakuan-pengakuan sebanyak itu?).
14
“Tuhanku, hukum putusan-Mu yang pasti terlaksana dan kehendak-Mu yang memaksa, keduanya itu tidak memberi kesempurnaan bagi orang yang pandai berkata-kata, atau bagi orang yang mempunyai kesaktian untuk melaksanakan kesaktiannya.”
15
“Tuhanku, berapa banyak amal taat yang telah ku lakukan dan keadaan yang telah kuperbaiki, tiba-tiba harapanku terhadapnya digagalkan oleh keadilan-Mu, namun aku telah dibebaskan oleh karunia-Mu dari bergantung nasib pada amal perbuatan lahir batin itu.”
16
“Tuhanku, Engkau mengetahui bahwa meskipun ketaatan itu tidak terus-menerus dalam praktiknya, tapi ia tetap terus (langgeng) dalam perasaan cinta dan niatku pada amal perbuatan tersebut.”
17
“Tuhanku, bagaimana aku akan dapt memutuskan, padahal Engkau-lah Yang Maha Menentukan (al-Qahir) dan bagaimana aku tidak akan dapat memutuskan, padahal Engkau-lah Yang Maha Memerintahkan (al-Amir).?”
18
“Tuhanku, hlir mudikku pada alam benda ini menyebabkan jauhnya perjalanan, karena itu dekatkanlah aku kepada-Mu dengan sesuatu amal yang segera dapat menyampaikanku kepada-Mu.”
19
“Tuhanku, Bagaimana dapat dijadikan alasan (dalil) untuk menunjukkan kepada-Mu, sesuatu yang bergantung kepada-Mu? Adakah sesuatu selain-Mu yang dapat mewujudkan apa-apa yang tidak Engkau miliki, sehingga ia dapat menjadi pencinta-Mu? Bilakah Engkau gaib, sehingga diperlulan petunjuk yang dapat menunjukkan kepada-Mu? Dan bilakah Engkau jauh sehingga alam ini sendiri yang menunjukkan (mendekatkan) kami kepada-Mu?”.
(Sebagaimana terlihat, ini hampir sama dengan hikmah No.29. Ia mengatakan bahwa Tuhan adalah lebih “Nyata” (Zhahir) daripada makhluk-Nya. Adalah Tuhan Yang membuktikannya, bukan mereka yang membuktikan Tuhan).
20
“Tuhanku, sungguh buta mata yang tidak melihat pengawasan-Mu (raqib) dan sungguh sia-sia (rugi) dagangan seorang hamba yang tidak dapat bagian cinta-Mu.”
21
“Tuhanku,, Engkau telah memerintahkan aku untuk kembali ke alam ini, maka kembalikanlah aku padanya dengan diliputi pancaran cahaya dan petunjuk penglihatan batin (al-istibar), sehingga aku bisa kembali kepada-Mu dari alam ini sebagaimna ketika aku masuk ke dalamnya, dengan keberadaan batinku (as-sirr) yang terpelihara dari memperhatikannya dan semangatku (al-himmah) yang enggan bersandar padanya. Sungguh Engkau berkuasa atas segala sesuatu.”
22
“Tuhanku, inilah kehinanku yang nyata di depan-Mu, dan inilah keadaanku yang tidak tersembunyi dari-Mu. Dari-Mu aku memohon agar sampai kepada-Mu dengan melalui cahaya-Mu dan tegakkanlah aku dihadapan-Mu dengan melalui kesungguhan dan pengabdian!,”
23
“Tuhanku, Ajarilah aku dengan ilmu-Mu yang masih tersimpan, dan lindungilah aku dengan rahasia nama-Mu yang senantiasa terpelihara.”
24
“Tuhanku, jadikanlah aku memahami tingkat hakikat dari orang-orang muqarrabin, dan jadikanlah aku berjalan di jalan orang-orang mujdzab (ahlul-jadzb), yang merupakan orang-orang yang Engkau kasihi yang tertarik langsung kepada-Mu.”
25
“Tuhanku, melalui aturan-Mu (at-tadbir) buatlah aku puas dengannya daripada dengan aturanku sendiri, dan dengan pilihan-Mu daripada pilihanku sendiri, serta dudukkanlah aku di tempat-tempat kebutuhanku yang sungguh-sungguh.”
26
“Tuhanku, keluarkanlah aku dari kerendahan diriku (nafsuku) dan bersihkanlah aku dari keraguan dan syirik sebelum masuk ke liang kuburku. Aku memohon pertolongan-Mu, maka tolonglah aku kepada-Mu aku berserah, maka jangan serahi aku dengan sesuatu yang lain kepada-Mu aku memohon, maka janganlah kecewakan aku pada karunia-Mu aku berharap, maka jangan tolak diriku kepada-Mu aku mendekat, maka jangan jauhkan aku dan pada pintu-Mu aku berdiri, maka jangan campakkan aku.”
27
“Tuhanku, Mahasuci keridhaan-Mu itu akan tergantung pada sesuatu sebab dari pada-Mu, maka bagaimana akan bersebab dari padaku? Sedang Engkau Dzat Yang terkaya daripada sampainya sesuatu kemanfaatan dari Diri-Mu Sendiri, maka baaimana mungkin akn membutuhkan sesuatu dari padaku, padahal akulah hamba ciptaan-Mu ya Allah?.”
28
“Tuhanku, sesungguhnya takdir dan putusan-Mu telah menguasaiku, dan hawa nafsu telah menjadikanku tawanan. Jadilah Penolongku sehingga menolongku dan juga Penolong bagi yang lainnya melalui diriku. Kayakanlah aku dengan karunia-Mu sehingga puas dengan Diri-Mu daripada aku meminta-minta.
Engkau Dzat Yang menjadikan cahaya-cahaya bersinar di dalam hati par Wali-Mu sehingga mereka mengenal-Mu dan menegaskan keesaan-Mu. Engkau-lah Dzat Ynag menjadikan dunia ini hilang dari hati para pencinta-Mu sehingga mereka tidak mencintai sesutu selain-Mu dan menolak sesuatu selan-Mu.
Engkau-ah Dzat yangmelindungi mereka ketika dunia menjadikan mereka jemu. Engkau-lah Dzat Yang menunjukkan mereka hingga tanda-tndan petunjuk menjadi jelas bagi mereka. Orang-orang yang kehilangan=Mu apa yang telah ia temukan? Orang yang telah menemukan-Mu apa yang hilang darinya? Barangsiapa menjadikan sesuatu selain-Mu sebagai pengganti, maka pasti akan kecewa, dan barangsiapa hendak menyimpang dari-Mu, maka pasti akan rugi.”
29
“Tuhanku, bagaimana aku akan dapat berharap pada sesuatu selain-Mu, padahal Engkau tidak pernah memutuskan pertolongan-Mu? Dan bagaimana akan dapat meminta sesuatu kepada selain-Mu, padahal Engkau tidak pernah mengganti kebiasaan-kebiasaan dalam memberikan anugerah? Wahai Dzat Yang menjadikan teman tercinta-Nya merasakan manisnya bermunajat kepada-Nya sehingga mereka dapat berdiri di hadapan-Nya dengan suka cita.
Ya Tuhan Yang memakaikan pada para wali-Nya dengan pakaian kebesaran (takwa) sehingga mereka dapat berbangga dengan kemulian-Nya – Engkau-lah Dzat Yang berdzikir (adz-dzikr) sebelum orang-orang berdzikir. Engkaulah Dzat Yang Permulaan (al-Badi’) yang memberi bantuan pertolongan kebaikan sebelum para ahli ibadat menghadap-Mu.
Engkau-lah Dzat Pemurah (al-Jawwad) di dalam memberi sebelum orang-orang meminta, dan Engkau-lah Dzat Yang Maha Pemberi (al-wahhab), kemudian terhadap apa yang telah Engkau berikan itu. Engkau pinjam (untuk dibayar berlipat ganda).”
30
“Tuhanku, dekatkanlah aku dengan Rahmat-Mu sehingga aku bisa mencapai-Mu, dan tariklah aku dengan karunia-Mu sehingga aku bisa menghadap kepada-Mu.”
31
“Tuhanku, harapanku tidak putus dari pada-Mu, meskipun aku telah berbuat dosa maksiat, demikian pula rasa takutku kepada-Mu tidak hilang meskipun aku telah berbaut taat kepada-Mu.”
32
“Tuhanku, Dunia (materi) ini telah mendorongku untuk pergi menghadap-Mu, dan pengetahuanku akan kemurahan-Mu telah membuatku berdiri di depan pintu-Mu.”
33
“Tuhanku, bagaimana aku akan dapat kecewa padahal Engkau-lah harapanku, atau bagaimana aku akan dapat terhina padahal kepada-Mu-lah aku bersandar dan berserah diri?”
34
“Tuhanku, bagaimana aku akan dapat menganggap diriku ini mulia padahal Engkau telah menempatkanku dalam kehinaan, atau bagaimana aku tidak akan dapat menganggap diriku ini mulia padahal Engkau telah menisbahkan diriku dengan Diri-Mu?
Bagaimana aku tidak akan berhajat kepada-Mu, sementara engkau telah menempatkanku dalam kemiskinan, tetapi bagaimana aku akan miskin padahal Engkau telah mencukupiku dengan kemurahn-Mu?
Engkaulah Tuhan, tiada Tuhan selain Engkau, engkau telah memperkenalkan diri pada tiap sesuatu, sehingga tiada sesuatu pun yang yang tidak mengenal-Mu. Dan Engkau-lah Yang telah memperkenalkan diri-Mu kepadaku dalam seala sesuatu; dengan begitu aku telah melihat-Mu jelas pada tiap sesuatu, dan Engkau-lah Yang Zhahir pada tiap sesuatu.
Wahai Tuhan Yang menembunyikan diri di atas Arasy-Nya beserta Sifat Rahmaniah-Nya, sehingga Arasy itu lenyap di dalam rahmaniah-Nya, sebagaimana alam semesta lenyap di dalam Arasy-Nya Engkau telah melenyapkan makhluk, dan melenyapkan yang lainnya dengan kepungan pancaran cahaya!
Wahai Tuhan, Yang di balik kemuliaan-Nya, tertutup dari pandangan, Wahai Tuhan Yang selalu bersinar dalam kesempurnaan keindahan-Nya dan Yang kebesaran-Nya dimengerti oleh batin orang-orang ‘arif, bagaimana Engkau akan dapat lenyap padahal Engkau-lah Dzat Yang Zhahir (azh-zhahir)? Atau bagaimana Engkau akan dapat gaib, padahal Engkaulah Dzat Yang selalu hadir dan mengawasi.”
Dan Allah Yang memberi Taufik (al-Muwafiq), dan kepada-Nya aku berharap bantuan pertolongan.
Komentar