PROSES BELAJAR DAN PEMBELAJARAN SEBAGAI SUATU SISTEM
PROSES BELAJAR DAN PEMBELAJARAN SEBAGAI SUATU SISTEM
Dalam rangka melengkapi tugas perkuliahan mata kuliah Belajar dan Pembelajaran PAI I
Dosen Pengampu
Drs. H. Jamaluddin, M.Pd.
Makalah Bahan Diskusi Kelompok 4
1152020094 Ikhsanul Fauzi
1152020104 Joni Iskandar
1152020108 Kristin Wiranata
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017
KATA PENGANTAR
﷽
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji hanya milik Allah subhanahu wata’ala yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dan hanya kepada-Nyalah kita berhak bersyukur dan tiada yang lain selain Allah, karena sesungguhnya Allah-lah yang mampu memberikan kita kekuatan untuk mengerjakan segala sesuatu yang kita lakukan.
Shalawat serta salam semoga tercurahlimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang telah menuntun kita kepada jalan yang benar. Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran PAI I. Kami berharap makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang mengarahkan kepada hal yang baik, dan mampu menjadi petunjuk untuk pembahasan yang kami bahas. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bandung, 28 September 2017
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 2
BAB II PEMBAHASAN 3
Konsep tentang Sistem 3
Pengertian Belajar dan Proses Belajar 7
Pengertian Pembelajaran dan Proses Pembelajaran 9
Hubungan antara Fase Belajar dan Acara Pembelajaran 14
Belajar Mengajar sebagai Suatu Sistem 15
BAB III PENUTUP 19
Daftar Pustaka 20
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Belajar merupakan proses yang berlangsung sepanjang hayat, dimulai dari sejak manusia itu dilahirkan dan berakhir sampai manusia itu meninggal. Belajar merupakan suatu proses yang kompleks, dimana didalamnya terjadi interaksi antara manusia dengan lingkungannya, dengan proses interaksi tersebut menimbulkan perubahan tingkah laku manusia. Lingkungan belajar sendiri menurut Ki Hajar Dewantara mencakup tiga ruang lingkup, yakni keluarga, sekolah dan lingkungan. Adapun makna belajar dan pembelajaran dalam ruang lingkup yang sempit ialah pembelajaran yang dilaksanakan di lingkungan sekolah.
Seringkali kita dapati suatu proses pembelajaran yang tidak membuahkan hasil yang sesuai dengan tujuan pembelajaran itu sendiri. Mengapa hal ini dapat terjadi? Diduga kuat didalam proses tersebut terdapat salah satu komponen belajar dan pembelajaran yang tidak berfungsi secara baik, sehingga sistemnya pun terganggu, yang mana secara tidak langsung akan berimbas kepada tidak tercapainya tujuan belajar dan pembelajaran yang diharapkan.
Idealnya, proses di dalam belajar dan pembelajaran itu haruslah mengasyikkan. Dengan terciptanya lingkungan belajar (pembelajaran) yang baik dan kondusif maka dapat memengaruhi psikis anak didik, yang mana hal tersebut dapat menunjang keberhasilan PMB. Alhasil, ilmu yang diajarkan lebih mudah untuk diserap anak didik dan berbuah kepada perubahan tingkah laku anak didik yang positif. Namun direalita yang nampak, sering dijumpai suatu proses PMB yang kurang mengasyikkan, yang mana di dalamnya dijumpai enam mitos tentang belajar yang menjadi momok bagi anak didik, yakni: “Bahwa belajar itu membosankan, belajar hanya terkait dengan materi dan keterampilan yang diberikan di sekolah, pembelajar harus pasif, si pembelajar berada di bawah perintah dan aturan guru, belajar harus sistematis, logis dan terencana, belajar harus mengikuti seluruh program yang telah ditentukan dan sebagainya. ” Memang benar adanya jika mitos tersebut muncul karena dilandasi berbagai fakta. Tidak jarang kita jumpai praktik pembelajaran di sekolah yang menunjukkan pelaksanaan hal-hal tersebut. Oleh sebab itu, haruslah diciptakan suatu sistem belajar dan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Sehingga, jika sistem belajar dan pembelajaran sudah saling terintegrasi dengan baik, maka semua komponen yang berada di dalamnya akan berfungsi dengan optimal dan tujuan belajar dan pembelajaran pun akan terpenuhi.
Berangkat dari permasalahan inilah kami merasa tergugah untuk menyusun suatu makalah dengan judul “Proses Belajar dan Pembelajaran sebagai Suatu Sistem”. Kami harap makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami, dan umumnya bagi pembaca.
Rumusan Masalah
Setelah kami melakukan penelusuran terhadap berbagai sumber yang terkait dengan pembahasan makalah ini, kami menyimpulkan rumusan masalah sebagai berikut.
Apa yang dimaksud dengan sistem?
Apa pengertian dari belajar dan pembelajaran?
Bagaimana proses belajar dan pembelajaran berlangsung?
Bagaimana hubungan antara fase belajar dan acara pembelajaran?
Apa yang dimaksud dengan belajar dan mengajar sebagai suatu sistem?
BAB II
PEMBAHASAN
Konsep tentang Sistem
Pengertian Sistem
Kata sistem berasal dari bahasa Yunani yaitu systema yang berarti “cara, strategi”. Dalam bahasa Inggris system berarti “sistim, susunan, jaringan, cara”. Sistem juga diartikan “sebagai suatu strategi, cara berpikir atau model berpikir.”
Banyak definisi yang digunakan untuk menjelaskan arti kata “sistem”, diantaranya sebagai berikut:
Sistem adalah suatu kebulatan keseluruhan yang kompleks atau teroganisir; suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau utuh.
Sistem merupakan himpunan komponen yang saling berkaitan yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan.
Sistem merupakan sehimpunan komponen atau subsistem yang terorganisasikan dan berkaitan sesuai dengan rencana untuk mencapai tujuan tertentu.
Definisi-definisi tersebut, yang pertama (a) menekankan soal wujud sistem, yang kedua (b) menaruh perhatian pada fungsi komponen yang saling berkaitan dengan tujuan sistem, dan yang ketiga (c) menampilkan unsur rencana di samping saling kaitan antar komponen dan tujuan dari sistem. Sekalipun demikian definisi yang berbeda-beda itu mengandung unsur persamaan yang dapat dipandang sebagai ciri umum dari sistem yaitu yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
Sistem merupakan suatu kesatuan yang berstruktur
Kesatuan tersebut terdiri dari sejumlah komponen yang saling berpengaruh
Masing-masing komponen mempunyai fungsi tertentu dan secara bersama-sama melaksanakan fungsi struktur, yaitu mencapai tujuan sistem.
Dengan demikian sistem dapat diartikan sebagai suatu kesatuan integral dari sejumlah komponen. Komponen tersebut satu sama lain saling berpengaruh dengan fungsinya masing-masing, tetapi secara fungsi komponen-komponen itu terarah pada pencapaian satu tujuan (yaitu tujuan dari sistem).
Ciri-Ciri Suatu Sistem Dan Komponennya
J.W. getzel dan E.G. Guba menyatakan bahwa pada umumnya sistem sosial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
Terdiri atas unsur-unsur yang saling berkaitan antara satu sama lain.
Berorientasi kepada tujuan yang ditetapkan.
Didalamnya terdapat peraturan-peraturan dan tata tertib berbagai kegiatan dan sebagainya.
Bila diaplikasikan dalam sistem pendidikan maka komponen-komponennya pendidikan seperti yang dikemukakan para pakar sebagai berikut:
Noeng Muhadjir membagi sistem kepada tiga kategori yaitu
Bertolak dari lima unsur dasar pendidikan, meliputi: yang memberi, yang menerima, tujuan, cara/jalan, dan konteks positif.
Bertolak dari empat komponen pokok pendidikan, yaitu kurikulum, subjek didik, personifikasi pendidik, dan konteks belajar mengajar.
Bertolak dari tiga fungsi pendidikan, iatu pendidikan kreativitas, pendidikan moralitas, dan pendidikan produktivitas.
Selanjutnya Ramayulis membagi sistem pendidikan tersebut atas empat unsur yaitu:
Kegiatan pendidikan yang meliputi: pendidikan diri sendiri, pendidikan oleh lingkungan, pendidikan oleh seseorang terhadap orang lain.
Binaan pendidikan, mencakup: jasmani, akal dan qalbu
Tempat pendidikan, mencakup: rumah tangga, sekolah, dan masyarakat
Komponen pendidikan, mencakup: dasar, tujuan, materi, metode, media, evaluasi, administrasi, dana dan sebagainya.
Klasifikasi Sistem
Sistem dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut pandang, di antaranya adalah sebagai berikut.
Sistem Abstrak dan Sistem Fisik. Sistem abstrak adalah sistem yang berupa pemikiran atau ide-ide yang tidak nampak secara fisik, sedangkan sistem fisik adalah sistem yang ada secara fisik.
Sistem Alamiah dan Sistem Buatan Manusia. Sistem alamiah adalah sistem yang terjadi melalui proses alam, tidak dibuat manusia, sedangkan sistem buatan manusia adalah sistem yang dirancang oleh manusia.
Sistem Tertentu dan Sistem Tak Tentu. Sistem tertentu adalah sistem yang terjadi dengan tingkah laku yang sudah dapat diprediksi. Interaksi antara bagian-bagiannya dapat dideteksi dengan pasti, sehingga keluaran dari sistem dapat diramalkan. Sistem tak tentu adalah sistem kondisi masa depannya tidak dapat diprediksi karena mengandung unsur probabilitas.
Sistem Tertutup dan Sistem Terbuka. Sistem tertutup merupakan sistem yang tidak terhubung dan tidak berpengaruh dengan lingkungan luarnya. Sistem terbuka adalah sistem yang berhubungan dan berpengaruh dengan lingkungan luarnya.
Dasar-Dasar Pemilihan Sistem
Sebuah sistem dipilih berdasarkan studi kelayakan, studi kelayakan adalah proses mempelajari dan menganalisa masalah yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan akhir yang dicapai. Ada lima aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam menilai suatu studi kelayakan, di antaranya adalah sebagai berikut.
Kelayakan teknis. Sebuah masalah mempunyai kelayakan teknis, jika dirancang bangun sistem dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan menggunakan hardware dan software yang tersedia, yaitu yang ada/yang dapat dimiliki. Dengan kata lain sistem yang nanti akan diterapkan menggunakan teknologi lama atau teknologi baru.
Kelayakan Operasi. Sebuah masalah mempunyai kelayakan operasi jika rancang bangun sistem dapat menyelesaikan masalah personil atau prosedur yang disediakan, yaitu yang ada atau dimiliki, dengan kata lain apakah sistem yang dirancang akan mengubah cara kerja dan struktur organisasi yang telah ada dan telah berjalan saat ini, sehingga dalam memeriksa aspek kelayakan operasi, sistem analisan semestinya memperhitungkan reaksi atau perubahan sistem.
Kelayakan Ekonomis. Sebuah masalah mempunyai kelayakan ekonomis jika rancang bangun sistem dapat menyelesaikan masalah tersebut dalam waktu dan anggaran biaya yang masuk akal, misalnya keuntungan sistem melebihi biaya penyusunan sistem, dengan kata lain apakah sistem yang dirancang lebih menguntungkan dari segi ekonomis. Dalam menghitung kelayakan ekonomis jauh lebih kompleks dibanding dengan menghitung kelayakan teknis dan operasi.
Kelayakan Jadwal Waktu. Pertanyaan mengenai kelayakan dari segi jadwal waktu ini timbul apabila suatu usulan rancang bangun sistem disertai dengan batas waktu tertentu. Perhatian atas batas waktu, sekali lagi tergantung pada pengetahuan dan pengalaman sistem analisa tertentu tentang masalah-masalah di dalam pengembangan software khususnya dalam bidang progamming dan kegiatan lain yang berhubungan dengan komputer.
Kelayakan Personil. Sistem database baru maupun hasil modifikasi adalah sarana untuk suatu perubahan. Manusia secara naluriah -pada umumnya- akan menentang adanya perubahan-perubahan. Jadi akan selalu timbul konflik dalam membangun dan mengimplementasikan suatu sistem database. Oleh sebab itu, suatu studi kelayakan haruslah mempertimbangkan faktor manusia tersebut.
Pengertian Belajar dan Proses Belajar
Pengertian Belajar
Hampir semua ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang “belajar”. Seringkali pula perumusan dan tafsiran itu berbeda satu sama lain. Dalam uraian ini kita akan berkenalan dengan beberapa perumusan saja, guna melengkapi dan memperluas pandangan kita tentang mengajar.
Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthtening of behaviour through experiencing). Menurut pengertian ini, belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.
Sejalan dengan perumusan di atas, ada pula tafsiran lain tentang belajar yang menyatakan, bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.
Sistem Belajar yang Efektif Dipengaruhi oleh Faktor Berikut
Faktor kegiatan, penggunaan dan ulangan; siswa yang belajar melakukan banyak kegiatan baik kegiatan neural system, seperti melihat, mendengar, merasakan, berpikir, kegiatan motoris, dan sebagainya maupun kegiatan-kegiatan lainnya yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan, sikap, kebiasaan, dan minat. Apa yang telah dipelajari perlu digunakan secara praktis dan diadakan ulangan secara kontinu di bawah kondisi yang serasi, sehingga penguasaan hasil belajar menjadi lebih mantap.
Belajar memerlukan latihan, dengan jalan: relearning, recalling, dan reviewing agar pelajaran yang terlupakan dapat dikuasai kembali dan pelajaran yang belum dikuasai akan dapat lebih mudah dipahami.
Belajar siswa lebih berhasil, belajar akan lebih berhasil jika siswa merasa berhasil dan mendapatkan kepuasannya. Belajar hendaknya dilakukan dalam suasana yang menyenangkan.
Siswa yang belajar perlu mengetahui apakah ia berhasil atau gagal dalam belajarnya. Keberhasilan akan menimbulkan kepuasan dan mendorong belajar lebih baik, sedangkan kegagalan akan menimbulkan frustasi.
Faktor asosiasi besar manfaatnya dalam belajar, karena semua pengalaman belajar antara yang lama dengan yang baru, secara berurutan diasosiasikan, sehingga menjadi satu kesatuan pengalaman.
Pengalaman masa lampau (bahan apersepsi) dan pengertian-pengertian yang telah dimiliki oleh siswa, besar peranannya dalam proses belajar. Pengalaman dan pengertian itu menjadi dasar untuk menerima pengalaman-pengalaman baru dan pengertian-pengertian baru.
Faktor kesiapan belajar. Murid yang telah siap belajar akan dapat melakukan kegiatan belajar lebih mudah dan lebih berhasil. Faktor keinginan ini erat hubungannya dengan masalah kematangan, minat, kebutuhan dan tugas-tugas perkembangan.
Faktor minat dan usaha. Belajar dengan minat akan mendorong siswa belajar lebih baik daripada belajar tanpa minta. Minat itu timbul apabila murid tertarik akan sesuatu karena sesuai dengan kebutuhannya atau merasa bahwa sesuatu yang akan dipelajari kebutuhannya bermakna bagi dirinya. Namun demikian, minat tanpa adanya usaha yang baik maka belajar juga sulit untuk berhasil.
Faktor-faktor fisiologis. Kondisi badan siswa yang belajar sangat berpengaruh dalam proses belajar. Badan yang lemah, lelah akan menyebabkan perhatian tak mungkin akan melakukan kegiatan belajar yang sempurna. Karena itu faktor fisiologis sangat menentukan berhasul atau tidaknya murid yang belajar.
Faktor intelegensi. Murid yang cerdas akan lebih berhasil dalam kegiatan belajar, karena ia lebih mudah menangkap dan memahami pelajaran dan lebih mudah mengingat-ingatnya. Anak yang cerdas akan lebih mudah berpikir kreatif dan lebih cepat mengambil keputusan. Hal ini berbeda dengan siswa yang kurang cerdas, para siswa yang lamban.
Proses Belajar
Menurut Wittig, proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yaitu sebagai berikut.
Acquistion (tahap perolehan informasi). Pada tahap ini, pembelajar mulai menerima informasi sebagai stimulus dan memberikan respons, sehingga ia memiliki pemahaman atau perilaku baru. Tahap acquisition merupakan tahapan yang paling mendasar, bila pada tahap ini kesulitan siswa tidak dibantu, maka ia akan mengalami kesulitan untuk menghadapi tahap selanjutnya.
Storage (penyimpanan informasi). Pemahaman dan perilaku baru yang diterima siswa secara otomatis akan disimpan dalam memorinya yang disebut short term atau long term memori.
Retrieval (mendapatkan kembali informasi). Apabila seorang siswa mendapat pertanyaan mengenai materi yang telah diperolehnya maka ia akan mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem memorinya untuk menjawab pertanyaan atau masalah yang dihadapinya. Tahap retrieval merupakan peristiwa mental dalam rangka mengungkapkan kembali informasi, pemahaman, pengalaman yang telah diperolehnya.
Pengertian Pembelajaran dan Proses Pembelajaran
Pengertian Pembelajaran
Beberapa ahli merumuskan pengertian pembelajaran sebagai berikut.
Menurut Syaiful Sagala, pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan azaz pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah.
Menurut Oemar Hamalik, pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.
Proses Pembelajaran
Proses Pembelajaran
Syarafuddin dan Nasution mengemukakan bahwa: “Proses suatu sistem dimulai dari input (masukan) kemudian diproses dengan berbagai aktivitas dengan menggunakan teknik dan prosedur, dan selanjutnya menghasilkan output (keluaran), yang akan dipakai oleh masyarakat lingkungannya.” Aktivitas suatu sistem tersebut dapat dilihat pada gambar berikut.
Proses pembelajaran yang baik adalah proses pembelajaran yang memungkinkan para pembelajar aktif melibatkan diri dalam keseluruhan proses baik secara mental maupun secara fisik. Model proses ini dikenal sebagai pembelajaran aktif atau pembelajaran interaktif dengan karakteristiknya sebagai berikut.
Adanya variasi kegiatan klasikal, kelompok, dan perorangan.
Dosen berperan sebagai fasilitator belajar, narasumber, dan manajer kelas yang demokratis.
Keterlibatan mental (pikiran, perasaan) siswa tinggi.
Menerapkan pola komunikasi yang banyak.
Suasana kelas yang fleksibel, demokratis, menantang, dan tetap terkendali oleh tujuan.
Potensial dapat menghasilkan dampak intruksional dan dampak penggiring lebih efektif.
Dapat digunakan di dalam atau di luar kelas/ruangan.
Adapun strategi menilai proses pembelajaran meliputi hal-hal sebagai berikut.
Penilaian pengetahuan awal, ingatan dan pemahaman.
Penilaian kecakapan dalam berpikir analisis kritis.
Penilaian kecakapan dalam berpikir sintesis kreatif.
Penilaian dalam memecahkan masalah.
Penilaian kecakapan dalam aplikasi dan performansi.
Adapun di dalam proses pembelajaran ada tiga bentuk proses pembelajaran yaitu: (1) transfer pengetahuan (transfer of knowledge), (2) transformasi pengetahuan (transformation of knowledge), (3) pengembangan keterampilan (development of skill), dan (4) penanaman nilai (Internalization of value).
Ruang Lingkup Proses Pembelajaran
Mengacu pada PP No. 19 tahun 2005, standar proses pembelajaran yang sedang dikembangkan, maka lingkup kegiatan untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efesien meliputi “(1) perencanaan proses pembelajaran”, (2) pelaksanaan proses pembelajaran, (3) penilaian hasil pembelajaran, dan (4) pengawasan proses pembelajaran.”
Keempat lingkup kegiatan dalam standar proses pembelajaran di atas dijelaskan oleh Pudji Muljono sebagai berikut.
Standar perencanaan proses pembelajaran didasarkan pada prinsip sistematis dan sistemik. Sistematik berarti secara runtut, terarah dan terukur dari jenjang kemampuan rendah hingga tinggi secara berkesinambungan. Sistemik berarti mempertimbangkan berbagai faktor yang berkaitan, yaitu tujuan yang mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan, karakteristik peserta didik, karakteristik materi ajar yang mencakup fakta, konsep, prosedur, dan prinsip, kondisi lingkungan dan hal-hal lain yang menghambat atau mendukung terlaksananya proses pembelajaran. Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran.
Standar pelaksanaan proses pembelajaran didasarkan pada prinsip intensitas interaksi antara peserta didik dengan pendidik, anar peserta didik dan antara peserta didik dengan aneka sumber belajar. Untuk itu perlu diperhatikan jumlah maksimal peserta didik dalam setiap kelas, beban pembelajaran maksimal pendidik, dan ketersediaan buku teks pelajaran bagi peserta didik. Di samping itu, perlu dipertimbangkan bahwa proses pembelajaran bukan sekedar menyampaikan ajaran, melainkan juga pembentukan pribadi peserta didik yang memerlukan perhatian penuh dari pendidik, maka perlu juga ditentukan tentang rassio maksimal jumlah peserta didik per pendidik. Perihal kemampuan pengelolaan kegiatan belajar dan pembelajaran pendidik, juga sesuatu yang harus menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
Standar penilaian hasil pembelajaran ditentukan dengan menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik. Teknik yang dimaksud dapat berupa tes tertulis, observasi, uji praktik, dan penugasan perseorangan atau kelompok. Untuk memantau proses dan kemajuan belajar serta memperbaiki hasil belajar peserta didik dapat digunakan teknik penilaian portofolio atau kolokium. Secara umum penilaian dilakukan untuk mengukur semua aspek perkembangan peserta didik yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan mengacu dan sesuai dengan standar penilaian.
Standar pengawasan proses pembelajaran adalah upaya penjaminan mutu pembelajaran bagi terwujudnya proses pembelajaran efektif dan efesien ke arah tercapainya kompetensi yang ditetapkan. Pengawasan perlu didasarkln pada prinsip-prinsip tanggung jawab dan kewenangan, dilakukan secara periodik, demokratis, terbuka, berkelanjutan. Pengawasan meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan pengambilan langkah tindak lanjut. Upaya pengawasan terhadap proses pembelajaran pada hakikatnya adalah tanggung jawab bersama antara kepala sekolah, pengawas, dan sejawat atau pihak lain yang ditugasi untuk melaksanakan pengawasan secara internal.
Ciri-Ciri Sistem Pembelajaran yang Baik
Adapun ciri-ciri atau karakteristik agar terbentuk sistem pembelajaran yang baik yaitu sebagai berikut.
Pengembangan kreativitas anak melalui pembelajaran kelompok bermain. Anggapan bahwa pendidikan baru bisa dimulai setelah usia sekolah dasar yaitu usia tujuh tahun ternyata tidaklah benar. Bahkan pendidikan dimulai pada usia TK (4-6 tahun) pun sebenarnya sudah terlambat.
Ciri-ciri masa awal kanak-kanak. Dalam setiap tahap perkembangan ada ciri-ciri khusus yang ada pada setiap perkembangan, begitu juga pada masa kanak-kanak awal ditandai dengan ciri-ciri tertentu.
Psikologi behaviorisme. Psikologi behaviorisme merupakan transisi dari sistem sebelumnya. Psikologi behaviorisme memaknai psikologi sebagai studi tentang perilaku.
Psikologi pendidikan dan guru.
Manajemen peserta didik dalam menghadapi kreativitas anak.
Ada tiga ciri-ciri khas dalam sistem pembelajaran, seperti yang ditemukan oleh Oemar Hamalik dalam bukunya, kurikulum dan pembelajaran, yaitu sebagai berikut.
Rencana ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran dalam suatu rencana khusus.
Kesalingtergantungan (interdefendence) antara unsur “sistem pembelajaran yang serasi dalam suatu keseluruhan”. Tiap unsur bersifat esnsial, dan masing-masing memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran.
Tujuan. Sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai. Seperti sistem transportasi, sistem komunikasi, sistem pemerintahan, semuanya memiliki tujuan.
Hubungan Antara Fase Belajar dan Acara Pembelajaran
Hubungan Antara Fase Belajar Dengan Acara Pembelajaran
Fase belajar
Acara pembelajaran
Persiapan untuk belajar
Mengarahkan perhatian
Menarik perhatian siswa dengan kejadian yang tidak seperti biasanya, pertanyaan atau perubahan stimulus.
Ekspektansi
Memberitahu siswa mengenai tujuan belajar
Retrival
Merangsang siswa agar mengingat kembali apa yang telah dipelajari sebelumnya
Pemerolehan dan unjuk perbuatan
Persepsi selektif atas sifat stimulus
Menyajikan stimulus yang jelas sifatnya
Sandi semantik
Memberikan bimbingan belajar
Retrival dan respons
Memunculkan perbuatan siswa
Penguatan
Memberikan balikan informatif
Retrival dan alih belajar
pengisyaratan
Menilai perbuatan siswa
Pemberlakuan secara umum
Meningkatkan retensi dan alih belajar
Belajar Mengajar Sebagai Suatu Sistem
Belajar mengajar sebagai suatu sistem instruksional mengacu kepada pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. Agar tujuan itu tercapai, semua komponen yang harus ada harus diorganisasikan secara sinergis dan sistematik. Karena itu, guru tidak hanya boleh memerhatikan komponen-komponen pengajaran secara parsial. Misalnya metode terpisah dari bahan, bahkan tidak mendukung sistem evaluasi dan seterusnya.
Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri atas komponen-komponen yang terpadu dan berproses untuk mencapai tujuan. Proses belajar mengajar sebagai suatu sistem, komponen-komponennya terdiri atas: (1) siswa, (2) guru, (3) tujuan, (4) materi, (5) metode, (6) evaluasi, (7) lingkungan.
Masing-masing komponen itu sebagai bagian yang berdiri sendiri-sendiri namun dalam berproses di kesatuan sistem, mereka saling bergantung dan bersama-sama untuk mencapai tujuan. Masing-masing komponen sistem proses belajar mengajar itu sedikit diulas seperti paparan berikut ini.
Siswa
Teori didaktik telah bergeser dalam menempatkan siswa sebagai komponen Proses belajar Mengajar (PBM), siswa yang semula dipandang sebagai objek pendidikan, bergeser menjadi subjek pendidikan. Tiada pendidikan tanpa anak didik. Untuk itu, siswa harus dipahami dan dilayani sesuai dengan hak-hak dan tanggung jawabnya sebagai siswa. Siswa adalah individu yang unik. Mereka merupakan kesatuan psiko-fisis yang secara sosiologis berinteraksi dengan teman sebaya, guru, pengelola sekolah, pegawai administrasi, dan masyarakat pada umumnya. Mereka datang ke sekolah telah membawa potensi psikologis dan latar belakang kehidupan sosial. Masing-masing memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda. Potensi dan kemampuan inilah yang harus dikembangkan oleh guru di sekolah.
Guru
Guru adalah sebuah profesi. Oleh sebab itu, pelaksanaan tugas guru harus profesional. Walaupun seorang guru sebagai individu memiliki kebutuhan pribadi dan memiliki keunikan tersendiri sebagai pribadi, namun guru mengemban tugas mengantarkan anak didiknya mencapai tujuan. Untuk itu, guru harus menguasai seperangkat kemampuan yang disebut dengan kompetensi guru. Kompetensi guru itu mencakup menguasai siswa, menguasai tujuan, menguasai metode pembelajaran, menguasai materi, menguasai cara mengevaluasi, menguasai alat pembelajaran, dan menguasai lingkungan belajar.
Tujuan
Setiap kegiatan belajar-pembelajaran, apapun materinya selalu memiliki sasaran (target). Sasaran, yang juga lazim disebut tujuan itu pada umumna tertulis. Walaupun ada juga sasaran tidak tertulis yang dikenal dengan objective in mind. Sasaran yang dituju PMB bersifat bertahap dan meliputi beberapa jenjang dari jenjang yang konkret dan langsung dapat dilihat dan dirasakan sampai yang bersifat nasional dan universal. Ditinjau dari sudut waktu pencapaiannya, sasaran PMB dapat dikategorikan tiga macam, yakni:
Sasaran-sasaran jangka pendek, seperti TPK (Tujuan Pembelajaran Khusus)
Sasaran jangka menengah, seperti tujuan pendidikan dasar, yakni untuk mempersiapkan siswa mengikuti pendidikan menengah.
Sasaran jangka panjang, seperti tujuan pendidikan nasional.
Untuk memperjelas uraian keterkaitan antarpelbagai tujuan belajar dan pembelajaran, berikut disajikan sebuah model
Tujuan Pendidikan Universal (dokumen UNESCO)
Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan Institusional (sekolah)
Tujuan Kurikuler (bidang studi)
Tujuan Instruksional (bahan dan kegiatan)
Materi
Materi pembelajaran dalam arti luas tidak hanya yang tertuang dalam buku paket yang diwajibkan, akan tetapi mencakup keseluruhan materi pembelajaran. Setiap aktivitas belajar mengajar pasti harus ada materinya. Anak yang sedang field-trip di kebun raya menggunakan materi jenis tumbuhan dan klasifikasinya. Anak yang praktikum di laboratorium menggunakan materi simbiosis katak. Semua materi pembelajaran harus diorganisasikan secara sistematis agar mudah dipahami oleh anak. Materi disusun berdasarkan tujuan dan karakteristik siswa.
Metode
Metode mengajar adalah cara atau teknik penyampaian materi pembelajaran yang harus dikuasai oleh guru. Metode mengajar ditetapkan berdasarkan tujuan dan materi pembelajaran, serta karakteristik anak.
Sarana atau Alat
Agar materi pembelajaran lebih mudah dipahami oleh siswa, maka dalam proses belajar mengajar digunakan alat pembelajaran. Alat pembelajaran dapat berupa benda yang sesungguhnya, imitasi atau tiruan, gambar, bagan, grafik, tabulasi dan sebagainya yang dituangkandalam media. Media itu dapat berupa alat elektronik, alat cetak, dan tiruan. Menggunakan sarana atau alat pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan, anak, materi, dan metode pembelajaran.
Evaluasi
Evaluasi dapat digunakan untuk menyusun gradasi kemampuan anak didik, sehingga ada penanda simbolis yang dilaporkan kepada semua pihak. Evaluasi dilaksanakan secara komprehensif, objektif, kooperatif, dan efektif. Evaluasi dilaksanakan berpedoman pada tujuan dan materi pembelajaran.
Lingkungan
Lingkungan pembelajaran merupakan komponen PBM yang sangat penting demi suksesnya belajar siswa. Lingkungan ini mencakup lingkungan fisik, lingkungan sosial, lingkungan alam, dan lingkungan psikologis pada waktu PBM berlagsung.
Semua komponen PBM itu harus dikelola sedemikian rupa, sehingga belajar anak dapat maksimal untuk mencapai hasil yang maksimal pula.
BAB III
PENUTUP
Idealnya, proses di dalam belajar dan pembelajaran itu haruslah mengasyikkan. Dengan terciptanya lingkungan belajar (pembelajaran) yang baik dan kondusif maka dapat memengaruhi psikis anak didik, yang mana hal tersebut dapat menunjang keberhasilan PMB. Alhasil, ilmu yang diajarkan lebih mudah untuk diserap anak didik dan berbuah kepada perubahan tingkah laku anak didik yang positif.
Maka demi terwujudnya tujuan dari pembelajaran haruslah diciptakan suatu sistem belajar dan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Sehingga, jika sistem belajar dan pembelajaran sudah saling terintegrasi dengan baik, maka semua komponen yang berada di dalamnya akan berfungsi dengan optimal dan tujuan belajar dan pembelajaran pun akan terpenuhi.
DAFTAR PUSTAKA
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Jamaluddin, dkk. 2015. Pembelajaran Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Muhibbin Syah. 2013. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: Rosdakarya
Oemar Hamalik. 2010. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara
Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia
Suyono dan Hariyanto. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Umar Tirtarahardja dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Komentar