MANAJEMEN KURIKULUM
MANAJEMEN KURIKULUM
MAKALAH
Dalam rangka memenuhi tugas perkuliahan mata kuliah Administrasi Pendidikan
Dosen Pengampu
Koko Khoerudin, M.Pd.I
Makalah Bahan Diskusi Kelompok 8
1152020108 Kristin Wiranata
1152020114 Lasri Zakiah
1152020122 M. Luthfi Iman Muqoddas
1152020126 Ma’la Yu’labi
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017
KATA PENGANTAR
﷽
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji hanya milik Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dan hanya kepada-Nyalah kita berhak bersyukur dan tiada yang lain selain Allah, karena sesungguhnya Allah-lah yang mampu memberikan kita kekuatan untuk mengerjakan segala sesuatu yang kita lakukan.
Shalawat serta salam semoga tercurahlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa kita kepada jalan yang benar. Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Administrasi Pendidikan. Kami berharap makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang mengarahkan kepada hal yang baik, dan mampu menjadi petunjuk untuk pembahasan yang kami bahas. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bandung, 16 April 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan Makalah 2
BAB II PEMBAHASAN 3
Pengertian Manajemen Kurikulum 3
Pengertian Kurikulum 3
Pengertian Manajemen 6
Pengertian Manajemen Kurikulum 7
Tujuan Kurikulum dan Tujuan Manajemen Kurikulum 7
Tujuan Kurikulum 7
Tujuan Manajemen Kurikulum 9
Fungsi Kurikulum dan Fungsi Manajemen Kurikulum 10
Fungsi Kurikulum 10
Fungsi Manajemen Kurikulum 13
Proses Manajemen Kurikulum 15
Perencanaan Kurikulum 15
Pengorganisasian Kurikulum 19
Pelaksanaan Kurikulum 20
Pemantauan Kurikulum 22
Evaluasi Kurikulum 22
BAB III PENUTUP 26
DAFTAR PUSTAKA 27
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Lembaga-lembaga pendidikan melalui program-programnya tentu perlu menyadari pengertian kurikulum yang amat menantang akan kemajuan, agar lewat program-program yang ditawarkan kepada siswa di lembaga pendidikan tersebut diupayakan untuk dapat membantu kesuksesan peserta didik dalam menjalankan aktivitas-aktivitas yang berguna untuk kehidupan di tengah-tengah masyarakat.
Dari sisi ini berarti dapat dijelaskan bahwa menempatkan kurikulum dalam arti aktivitas kehidupan dapat mendorong komitmen dan akuntabilitas sekolah dan peserta didik untuk mengembangkan program dan kegiatan pembelajaran guna mewujudkan keterampilan hidup (life skill) hal ini dengan sendirinya dinilai menjadi salah satu ukuran yang amat penting di dalam menunjukkan keberhasilan kurikulum. Secara umum itulah yang menjadi tagihan dari setiap kurikulum yakni bagaimana peserta didik dapat menjadi setiap orang yang berguna ditengah-tengah masyarakatnya. Dalam pesan Rasulullah SAW yang sudah terkenal juga disebutkan bahwa “sebaik-baik manusia adalah orang yang lebih banyak memberikan manfaat kepada orang lain.” Untuk itu kurikulum harus diberi pemaknaan yang besar kepada kemanfaatan ummat manusia. Namun di dalam pelaksanaan kurikulum, dirasa masih kurang adanya manajemen yang baik. Dan tidak dapat dipungkiri, bahwa salah satu hal yang vital dalam meningkatkan suatu mutu pendidikan adalah dengan adanya manajemen kurikulum yang baik. Sehingga dengan adanya manajemen kurikulum yang baik dipandang dapat menjawab berbagai kebutuhan siswa dan dapat mewujudkan SDM yang berkualitas.
Berangkat dari permasalahan ini, kami merasa tergugah untuk membuat makalah dengan mengangkat tema “Manajemen Kurikulum”. Adapun pembahasan lebih lanjut mengenai apa pengertian manajemen kurikulum? Bagaimana proses manajemen kurikulum? Dan sebagainya akan dibahas lebih lanjut dalam bab selanjutnya.
Rumusan Masalah
Setelah kami menelusuri berbagai sumber dan artikel terkait berkenaan dengan tema makalah yang kami angkat, kami menyimpulkan rumusan masalah sebagai berikut.
Apa yang dimaksud dengan manajemen kurikulum?
Apa fungsi manajemen kurikulum?
Apa fungsi kurikulum?
Apa tujuan manajemen kurikulum?
Apa tujuan kurikulum?
Bagaimana proses manajemen kurikulum?
Tujuan Makalah
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Administrasi Pendidikan dan untuk dijadikan bahan acuan dalam diskusi “Manajemen Kurikulum”.
BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN PENGELOLAAN/MANAJEMEN KURIKULUM
Pengertian Kurikulum
Secara etimologis, kurikulum berasal dari kata dalam Bahasa Latin ”curir” yang artinya pelari, dan ”curere” yang artinya ”tempat berlari”. Pengertian awal kurikulum adalah suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari mulai dari garis start sampai dengan finish. Dengan demikian, istilah kurikulum pada awalnya berasal dari dunia olahraga pada zaman Romawi kuno di Yunani, dan kemudian diadopsi ke dalam dunia pendidikan.
Istilah kurikulum baru masuk khazanah pembendaharaan kata dalam dunia pendidikan di Indonesia pada sekitar tahun 1968, sejak kelahiran kurikulum sebelumnya, yaitu Rencana Pelajaran 1950. Ketika itu, istilah yang digunakan dalam dunia pendidikan adalah rencana pelajaran, bukan kurikulum. Pengertian kurikulum menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bab 1 disebutkan tentang pengertian kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.
Dilihat dari sudut terminologi, pengertian kurikulum menurut pandangan tradisional, kurikulum didefinisikan sebagai “sejumlah mata pelajaran atau bahan ajar yang harus dikuasai oleh murid atau diajarkan oleh guru untuk mencapai suatu tingkatan atau ijazah.” Inti pengertian ini menunjukkan bahwa kurikulum adalah mata pelajaran. Yang dimaksud dengan mata pelajaran di sini adalah pengetahuan yang dipelajari atau dibelajarkan kepada siswa oleh guru. Menurut S. Nasution disebutkan bahwa pemaknaan pendidikan dalam pengertian ini adalah sempit, karena ruang lingkup kurikulum yang sangat terbatas pada kegiatan-kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan di ruang kelas (intra kurikuler).
Jika pada zaman dahulu pengertian tradisional cenderung membatasi aktivitas kurikulum terbatas pada kegiatan di ruangan kelas dapat dimaklumi, karena kegiatan yang dilaksanakan di ruangan kelas masih sejalan dengan setting kebutuhan masyarakat tradisional yang masih sederhana. Karena itu program pembelajaran masih dinilai memadai untuk memberikan jawaban-jawaban terhadap kebutuhan-kebutuhan individu atau masyarakat yang ada pada masa itu. Lain halnya untuk masa sekarang pelaksanaan kurikulum tradisional sudah dinilai sangat sempit, sehingga tidak memadai lagi untuk diperhatikan. Karena itu pakar-pakar kurikulum mengkritisi pengertian kurikulum tradisional, dan menyesuaikan pengertian tersebut sesuai dengan tuntutan zaman dan perkembangan masyarakat.
Menurut pandangan modern, kurikulum diartikan sebagai “segala upaya sekolah untuk merangsang anak belajar apakah di ruangan kelas, di halaman dan di luar sekolah. Pengertian seperti ini antara lain dapat dilihat dari pengertian Harold B. Alberty dan Elsie J. Alberty yang menyebutkan: “All of the activities that are provided for students by the school..” (semua aktivitas yang disediakan untuk siswa oleh sekolah…). Demikian juga definisi kurikulum yang dikemukakan oleh Tyler sebagaimana dikutip oleh Daniel Tanner, Laurel N. Tanner yang berbunyi: “All of the learning of students which is planned by and directed by the school to attain its educational goals.” (semua kegiatan pembelajaran siswa yang direncanakan dan diarahkan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan).
Dengan bertolak dari pengertian-pengertian seperti di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah “sesuatu” yang sangat dominan dan penting dalam kegiatan sekolah karena kurikulum sebagai “rencana sekolah” dalam arti luas berarti mencakup makna manajemen meskipun dalam arti biasa dibatasi pada makna “what to teach” apapun kegiatan sekolah. Segalanya harus direncanakan dan diciptakan untuk kepentingan kemajuan sekolah dan peserta didik. Dan bahwasannya inti kegiatan pendidikan adalah terletak pada kurikulum.
Selain dari pengertian-pengertian di atas, ada lagi pengertian kurikulum yang lebih luas, di mana makna kurikulum dihubungkan dengan kehidupan masyarakat, misalnya melihat program pendidikan di sekolah dengan kebutuhan-kebutuhan hidup peserta didik di masyarakat (what shoukd the school program be like in that community). Dengan demikian pengertian kurikulum ini dipandang sangat ideal dan menantang karena pihak manajemen sekolah mengelola kurikulum untuk menjawab kebutuhan siswa seperti yang diperankan oleh lembaga-lembaga pendidikan yang berorientasi bisnis (pendidikan bisnis). Kurikulum sekolah-sekolah yang seperti ini sangat inovatif, reformatif dan dinamis sehingga di dalam pengelolaannya amat menantang dalam mewujudkan SDM yang berkualitas. Meskipun di lain pihak menghadapi kesulitan-kesulitan dalam pengukuran-pengukuran mutu input proses dan output (out come).
Sementara kurikulum di satu pihak memerlukan pengukuran yang jelas, dilain pihak diperlukan pula dukungan SDM untuk mengembangkan aktivitas kurikulum misalnya mendorong aktivitas-aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa sepanjang siswa tersebut terkait dengan program-program pendidikan yang diikutinya dari suatu lembaga pendidikan. Apakah kegiatan dimaksud dilakukan oleh siswa di ruangan kelas, di halaman atau di luar sekolah.
Sekalipun harus diakui bahwa untuk membuat anak sukses dalam kehidupan ditengah-tengah masyarakat, bukanlah hal yang muda, tetapi justru memerlukan waktu yang relatif lebih lama. Namun, dengan pengertian seperti ini, setiap anak akan dapat menanamkan pada dirinya sendiri prinsip untuk berkerja keras di dalam mencari pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan yang belum bisa diperolehnya dari sekolah, karena dia mengaggap bahwa hal-hal tersebut berguna untuk kehidupannya di tengah-tengah masyarakat. Dengan konstruksi pemahaman seperti ini anak akan termotivasi untuk berusaha menjadikan dirinya menjadi “kahirul bariyah” dengan landasan iman, amal saleh dan ilmu yang bermanfaat.
Demikian pula lembaga-lembaga pendidikan dipihak lain, melalui program-programnya tentu perlu menyadari pengertian kurikulum yang amat menantang akan kemajuan, agar lewat program-program yang ditawarkan kepada siswa di lembaga pendidikan tersebut diupayakan untuk dapat membantu kesuksesan peserta didik dalam menjalankan aktivitas-aktivitas yang berguna untuk kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Dari sisi ini berarti dapat dijelaskan bahwa menempatkan kurikulum dalam arti aktivitas kehidupan dapat mendorong komitmen dan akuntabilitas sekolah dan peserta didik untuk mengembangkan program dan kegiatan pembelajaran guna mewujudkan keterampilan hidup (life skill) hal ini dengan sendirinya dinilai menjadi salah satu ukuran yang amat penting di dalam menunjukkan keberhasilan kurikulum. Secara umum itulah yang menjadi tagihan dari setiap kurikulum yakni bagaimana peserta didik dapat menjadi setiap orang yang berguna ditengah-tengah masyarakatnya. Dalam pesan Rasulullah SAW yang sudah terkenal juga disebutkan bahwa “sebaik-baik manusia adalah orang yang lebih banyak memberikan manfaat kepada orang lain.” Untuk itu kurikulum harus diberi pemaknaan yang besar kepada kemanfaatan ummat manusia.
Pengertian Pengelolaan/Manajemen
Pengelolaan merupakan istilah Indonesia yang sama pengertian dan maknanya dengan manajemen. Berikut beberapa definisi pengelolaan yang dikemukakan oleh para ahli, di antaranya:
Stoner (1981), Pengelolaan sebagai serangkaian kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, mengendalikan, dan mengembangkan segala upaya didalam mengatur dan mendayangunakan sumber daya manusia, sarana dan prasarana untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.
Nanang Fatah (2004), Pengelolaan sebagai proses merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan upaya organisasi dnegan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien. Dalam asumsi ini pengelolaan atau manajemen adalah kemampuan dan keterampilan untuk melakukan suatu kegiatan bersama orang lain atau melalui orang lain dalam mencapai tujuan organisasi.
Harold & Cyril O’Dannel (1972), Pengelolaan ialah usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain. Dalam melaksanakan pengkoordinasian sejumlah kelompok aktivitas, selaku manajer atau pimpinan harus melaksanakan perencanaan, pengorganisasian, penempatan, penggerakkan (pengarahan) dan pengendalian,
Dari beberapa pengertian di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa pengelolaan adalah serangkaian kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, memotivasi, mengendalikan, dan mengembangkan segala upaya dalam mengatur dan mendayangunakan sumber daya manusia, sarana dan prasarana untuk mencapai tujuan organisasi. Pengelolaan juga merupakan kegiatan engineering yaitu kegiatan to produce, to implement and to appraise the effectiveness of the curriculum. Dan pengelolaan dapat pula diartikan sebagai upaya menata sumber daya agar organisasi terwujud secara produktif.
Pengertian Manajemen Kurikulum
Manajemen kurikulum adalah suatu sistem pengelolaan kurikulum yang kooperatif, komprehensif, sistemik, dan sistematik dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum.
TUJUAN KURIKULUM DAN TUJUAN MANAJEMEN KURIKULUM
Tujuan Kurikulum
Dalam kurikulum atau pembelajaran, tujuan memegang peranan penting, karena tujuan akan mengarahkan semua kegiatan pembelajaran dan memberi warna setiap komponen kurikulum lainnya. Tujuan kurikulum dirumuskan berdasarkan dua hal, yaitu; (1) Perkembangan tuntutan, kebutuhan dan kondisi masyarakat, (2) didasari oleh pemikiran-pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai-nilai filosofis, terutama falsafah negara. Tujuan pendidikan terbagi dalam beberapa kategori yaitu tujuan pendidikan umum dan khusus, tujuan jangka panjang, menengah dan jangka pendek.
Komponen tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Dalam skala makro rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut suatu bangsa. Bahkan, rumusan tujuan menggambarkan suatu masyarakat yang dicita-citakan.
Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah 1975/1976 tujuan pendidikan memiliki klasifikasi, dari mulai tujuan yang sangat umum sampai tujuan khusus yang bersifat spesifik dan dapat diukur, yang kemudian dinamakan kompetensi. Tujuan pendidikan diklasifikasikan menjadi empat yaitu:
Tujuan Pendidikan Nasional adalah tujuan yang bersifat paling umum dan merupakan sasaran yang harus dijadikan pedoman oleh setiap usaha pendidikan. Tujuan pendidikan umum dirumuskan dalam bentuk perilaku yang ideal sesuai dengan pandangan hidup dan filsafat suatu bangsa yang dirumuskan oleh pemerintah dalam bentuk undang-undang. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 dinyatakan dengan jelas tujuan pendidikan nasional bersumber dari sistem nilai Pancasila berfungsi mengembangkan kemampuan dan bentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan jangka panjang yang menjadi dasar dari segala tujuan pendidikan nasional baik pendidikan formal, informal maupun pendidikan nonformal.
Tujuan Institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan. Tujuan institusional merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan umum yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan, misalnya standar kompetensi pendidikan dasar, menengah, kejuruan, dan jenjang pendidikan tinggi.
Tujuan Kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran. Tujuan kurikuler juga pada dasarnya merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan. Dengan demikian, setiap tujuan kurikuler harus dapat mendukung dan diarahkan untuk mencapai tujuan institusional.
Tujuan Pembelajaran yang merupakan bagian dari tujuan kurikuler, dapat didefenisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah mereka mempelajari materi pelajaran tertentu dalam mata pelajaran tertentu dalam satu kali pertemuan. Karena hanya guru yang memahami kondisi lapangan, termasuk memahami karakteristik peserta didik yang akan melakukan pembelajaran di suatu sekolah atau madrasah, maka menjabarkan tujuan pembelajaran adalah tugas guru.
Tujuan pembelajaran dibedakan atas beberapa kategori, sesuai dengan perilaku yang menjadi sasarannya. Gagne mengemukakan lima kategori tujuan atau hasil belajar berupa kapabilitas yaitu (1) informasi verbal, (2) keterampilan intelektual, (3) strategi kognitif, (4) strategi afektif, (5) keterampilan gerak.
Tujuan Manajemen Kurikulum
Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa tujuan dasar kurikulum dapat ditinjau dalam empat dimensi, yaitu:
Kurikulum sebagai suatu ide adalah kurikulum yang dihasilkan melalui teori-teori dan penelitian, khususnya dalam bidang kurikulum dan pendidikan.
Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, adalah sebagai perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide yang diwujudkan dalam bentuk dokumen, yang di dalamnya memuat tentang tujuan, bahan, kegiatan, alat-alat, dan waktu.
Kurikulum sebagai suatu kegiatan, merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, dan dilakukan dalam bentuk praktek pembelajaran.
Kurikulum sebagai suatu hasil, merupakan konsekuensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan, dalam bentuk ketercapaian tujuan kurikulum yakni tercapainya perubahan perilaku atau kemampuan tertentu dari para peserta didik.
Berdasarkan uraian di atas bisa disimpulkan bahwa kurikulum merupakan dokumen perencanaan yang mencakup:
Tujuan yang harus diraih
Isi dan pengalaman belajar yang harus diperoleh siswa
Strategi dan cara yang dapat dikembangkan
Evaluasi yang dirancang untuk mengumpulkan informasi mengenai pencapaian tujuan
Penerapan dari isi dokumen yang dirancang dalam bentuk nyata.
FUNGSI KURIKULUM DAN FUNGSI MANAJEMEN KURIKULUM
Fungsi Kurikulum
Dilihat dari cakupan dan tujuannya menurut McNell (1990) isi kurikulum memiliki empat fungsi, yaitu:
Fungsi Pendidikan umum (common and general education)
Fungsi pendidikan umum, yaitu fungsi kurikulum untuk mempersiapkan peserta didik agar mereka menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab. Kurikulum harus memberikan pengalaman belajar kepada setiap peserta didik agar mampu menginternalisasi nilai-nilai dalam kehidupan, memahami setiap hak dan kewajiban sebagai anggota masyarakat dan makhluk sosial. Dengan demikian fungsi kurikulum ini harus diikuti oleh setiap siswa pada jenjang dan level atau jenis pendidikan mana pun.
Suplementasi (Suplementation)
Setiap peserta didik memiliki perbedaan baik dilihat dari perbedaan kemampuan, perbedaan minat, maupun perbedaan bakat. Kurikulum sebagai alat pendidikan seharusnya dapat memberikan pelayanan kepada setiap siswa sesuai dengan perbedaan tersebut. Dengan demikian, setiap anak memiliki kesempatan untuk menambah kemampuan dan wawassan yang lebih baik sesuai dengan minat dan bakatnya.
Eksplorasi (exploration)
Fungsi eksplorasi memiliki makna bahwa kurikulum harus dapat menemukan dan mengembangkan minat dan bakat masing-masing siswa. Melalui fungsi ini siswa diharapkan dapat belajar sesuai dengan minat dan bakatnya, sehingga memungkinkan mereka akan belajar tanpa adanya paksaan. Namun demikian, proses eksplorasi terhadap minat dan bakat siswa bukan pada pekerjaan yang mudah. Adakalanya terjadi pemaksaan dari pihak luar, misalnya para orang tua, yang sebenarnya anak tidak memiliki minat dan bakat terhadap bidang tertentu, mereka dipaksa untuk memilihnya hanya karena alasan-alasan tertentu yang sebenarnya tidak rasional. Oleh sebab itu para pengembang kurikulum mesti dapat mengenali rahasia bakat anak yang terpendam.
Keahlian (spesialization)
Kurikulum berfungsi untuk mengembangkan kemampuan anak sesuai dengan keahliannya yang didasarkan atas minat dan bakat siswa. Dengan demikian, kurikulum harus memberikan pilihan berbagai bidang keahlian, misalnya perdagangan, pertanian, industri, atau disiplin akademik. Untuk itu pengembangan kurikulum harus melibatkan para spesialis untuk menentukan kemampuan apa yang harus dimiliki setiap siswa sesuai dengan bidang keahliannya.
Memerhatikan fungsi-fungsi di atas, maka jelas kurikulum berfungsi untuk setiap orang atau lembaga yang berhubungan baik langsung maupun tidak langsung dengan penyelenggaraan pendidikan. Adapun bagi guru, kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang tidak berpedoman kepada kurikulum, maka tidak akan berjalan dengan efektif, sebab pembelajaran adalah proses yang bertujuan, sehingga segala sesuatu yang dilakukan guru dan siswa diarahkan untuk mencapai tujuan; sedangkan arah dan tujuan pembelajaran beserta bagaimana cara dan strategi yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan itu merupakan komponen penting dalam sistem kurikulum.
Bagi kepala sekolah, kurikulum berfungsi untuk menyusun perencanaan dan program sekolah. Dengan demikian, penyusunan kalender sekolah, pengajuan sarana dan prasarana sekolah kepada dewan sekolah, penyusunan berbagai kegiatan sekolah baik yang menyangkut kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan-kegiatan lainnya, harus didasarkan pada kurikulum.
Bagi Pengawas, kurikulum akan berfungsi sebagai panduan dalam melaksanakan supervisi. Dengan demikian, dalam proses pengawasan para pengawas akan dapat menentukan apakah program sekolah termasuk pelaksanaan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru sudah sesuai dengan tuntutan kurikulum atau belum, sehingga berdasarkan kurikulum itu juga pengawas dapat memberikan saran pendidikan.
Bagi orang tua, sebagai pedoman untuk memberikan bantuan baik bagi penyelenggaraan program sekolah, maupun membantu putra/putri mereka belajar di rumah sesuai dengan program sekolah. Melalui kurikulum orang tua akan mengetahui tujuan yang harus dicapai serta ruang lingkup materi pelajaran.
Bagi siswa, kurikulum berfungsi sebagai pedoman belajar. Melalui kurikulum siswa akan memahami apa yang harus dicapai, isi atau bahan pelajaran apa yang harus dikuasai, dan pengalaman belajar apa yang harus dilakukan untuk mecapai tujuan. berkaitan dengan fungsi kurikulum, Alexander Inglis (dalam Hamalik, 1990) mengemukakan enam fungsi kurikulum untuk siswa:
Fungsi Penyesuaian
Kurikulum harus dapat mengantar sisa agar mampu menyesuaikan diri dalam kehidupan sosial masyarakat. Sebab kehidupan masyarakat tidak bersifat statis, akan tetapi dinamis, artinya kehidupan masyarakat selalu berubah dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Oleh sebab itu, siswa harus dapat beradaptasi dalam kehidupan masyarakat yang cepat berubah tersebut. Dalam rangka inilah fungsi penyesuaian kurikulum diperlukan.
Fungsi Integrasi
Kurikulum harus dapat mengembangkan pribadi siswa secara utuh. Kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor harus berkembang secara terintegrasi. Mengapa demikian? Sebab, kurikulum bukan hanya diharapkan dapat mengembangkan kemampuan intelektual atau kecerdasan saja, akan tetapi juga harus dapat membentuk sikap sesuai dengan sistem nilai yang berlaku di masyarakat serta dapat memberikan keterampilan untuk dapat hidup di lingkungan masyarakatnya.
Fungsi Diferensiasi
Kurikulum harus dapat melayani setiap siswa dengan segala keunikannya. Sebab, siswa adalah organisme yang unik, yakni memiliki perbedaan-perbedaan, baik perbedaan minat, bakat, maupun perbedaan kemampuan.
Fungsi Persiapan
Kurikulum harus dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, maupun untuk kehidupan di masyarakat. Namun bukan itu saja, kurikulum juga harus membekali mereka agar dapat belajar di masyarakat, bagi mereka yang tidak memiliki potensi untuk melanjutkan pendidikannya.
Fungsi Pemilihan
Fungsi kurikulum yang dapat memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk belajar sesuai dengan bakat dan minatnya. Kurikulum harus bersifat fleksibel, artinya menyediakan berbagai pilihan program pendidikan yang dapat dipelajari.
Fungsi Diagnostik
Fungsi untuk mengenal berbagai kelemahan dan kekuatan siswa. Melalui fungsi ini kurikulum berperan untuk menemukan kesulitan-kesulitan dan kelemahan yang dimiliki siswa, di samping mengksplorasi berbagai kekuatan-kekuatan sehingga melalui pengenalan itu siswa dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Fungsi Manajemen Kurikulum
Fungsi dari manajemen kurikulum antara lain sebagai berikut.
Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum, pemberdayaan sumber maupun komponen kurikulum dapat ditingkatkan melalui pengelolaan yang terencana dan efektif.
Meningkatkan keadilan (equality) dan kesempatan pada siswa untuk mencapai hasil yang maksimal, kemampuan yang maksimal dapat dicapai peserta didik tidak hanya melalui kegiatan intrakurikuler, tetapi juga perlu melalui kegiatan ekstra dan kokurikuler yang dikelola secara integritas dalam mencapai tujuan kurikulum.
Meningkatkan relevansi dan efektivitas pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan, kurikulum yang dikelola secara efektif dapat memberikan kesempatan dan hasil yang relevan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitar.
Meningkatkan efektivitas kinerja guru maupun aktivitas siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, pengelolaan kurikulum yang professional, efektif, dan terpadu dapat memberikan motivasi pada kinerja guru maupun aktivitas siswa dalam belajar.
Meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses belajar mengajar, proses pembelajaran selalu dipantau dalam rangka melihat konsistensi antara desain yang telah direncanakan dengan pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian, ketidaksesuaian antara desain dengan implementasi dapat dihindarkan. Disamping itu, guru maupun siswa selalu termotivasi untuk melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efisien karena adanya dukungan kondisi positif yang diciptakan dalam kegiatan pengelolaan kurikulum.
Meningkatkan partisipasi masyarakat untuk membantu pengembangan kurikulum, kurikulum yang dikelola secara professional akan melibatkan masyarakat, khususnya dalam mengisi bahan ajar atau sumber belajar perlu disesuaikan dengan ciri khas dengan kebutuhan pembangunan daerah setempat.
PROSES MANAJEMEN KURIKULUM
Manajemen Perencanaan Kurikulum
Maksud dari manajemen dalam perencanaan kurikulum adalah keahlian “managing” dalam arti kemampuan merencanakan dan mengorganisasikan kurikulum. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses perencanaan kurikulum adalah siapa yang bertanggung jawab dalam perencanaan kurikulum, dan bagaimana perencanaan kurikulum itu direncanakan secara professional.
Hal yang pertama dikemukakan berkenaan dengan kenyataan adanya gap atau jurang antara ide-ide strategi dan pendekatan yang dikandung oleh suatu kurikulum dengan usaha-usaha implementasinya. Gap ini disebabkan oleh masalah keterlibatan personal dalam perencanaan kurikulum. Keterlibatan personal ini banyak bergantung pada pendekatan perencanaan kurikulum yang dianut.
Pada pendekatan yang bersifat “administrative approach” kurikulum direncanakan oleh pihak atasan kemudian diturunkan kepada instansi-instansi bawahan sampai kepada guru-guru. Jadi form the top down, dari atas ke bawah atas inisiatif administrator. Dalam kondisi ini guru-guru tidak dilibatkan. Mereka lebih bersifat pasif yaitu sebagai penerima dan pelaksana di lapangan.semua ide, gagasan dan inisiatif berasal dari pihak atasan.
Sebaliknya pada pendekatan yang bersifat “grass roots approach” yaitu yang dimulai dari bawah, yakni dari pihak guru-guru atau sekolah-sekolah secara individual dengan harapan bisa meluas ke sekolah-sekolah lain. Kepala sekolah serta guru-guru dapat merencanakan kurikulum atau perubahan kurikulum karena melihat kekurangan dalam kurikulum yang berlaku. Mereka tertarik oleh ide-ide baru mengenai kurikulum dan bersedia menerapkannya di sekolah mereka untuk meningkatkan mutu pelajaran.
Dengan bertindak dari pandangan bahwa guru adalah manajer (the teacher as manager) J.G Owen sangat menekankan perlunya keterlibatan guru dalam perencanaan kurikulum. Guru harus ikut bertanggung jawab dalam perencanaan kurikulum Karena dalam praktek mereka adalah pelaksana-pelaksana kurikulum yang sudah disusun bersama.
Masalah yang kedua, bagaimana kurikulum direncanakan secara professional, J.G Owen lebih menekankan pada masalah bagaimana menganalisis kondisi-kondisi yang perlu diperhatikan sebagai faktor yang berpengaruh dalam perencanaan kurikulum.
Terdapat dua kondisi yang perlu dianalisis setiap perencanaan kurikulum:
Kondisi sosiokultural
Kemampuan professional manajerial menuntut kemampuan untuk dapat mengolah atau memanfaatkan berbagai sumber yang ada di masyarakat, untuk dijadikan narasumber. J.G Owen menyebutkan peranan para ahli behavior science, karena kegiatan pendidikan merupakan kegiatan behavioral dimana di dalamnya terjadi berbagai interaksi social antara guru dengan murid, murid dengan murid, dan atau guru dengan murid dengan lingkungannya.
Ketersediaan fasilitas
Salah satu penyebab gap antara perencana kurikulum dengan guru-guru sebagai praktisi adalah jika kurikulum itu disusun tanpa melibatkan guru-guru, dan terlebih para perencana kurang atau bahkan tidak memperhatikan kesipan guru-guru di lapangan. Itulah sebabnya J.G Owen menyebutkan perlunya pendekatan “from the bottom up”, yaitu pengembangan kurikulum yang berasal dari bawah ke atas.
Karakteristik Perencanaan Kurikulum
Perencanaan kurikulum adalah perencanaan kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membina siswa/ peserta didik ke arah perubahan tingkah laku yang diinginkan dan menilai hingga mana perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa/ peserta didik. Kurikulum adalah semua pengalaman yang mencakup yang diperoleh baik dari dalam maupun dari luar lembaga pendidikan, yang telah direncanakan secara sistematis dan terpadu, yang bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik mencapai tujuan pendidikan. Tujuan perencanaan kurikulum dikembangkan dalam bentuk kerangka teori dan penelitian terhadap kekuatan social, pengembangan masyarakat, kebutuhan, dan gaya belajar siswa. Beberapa keputusan harus dibuat ketika merencanakan kurikulum dan keputusan tersebut harus mengarah pada spesifikasi berdasarkan kriteria. Merencanakan pembelajaran merupakan bagian yang sangat penting dalam perencanaan kurikulum karena karena pembelajaran mempunyai pengaruh terhadap siswa daripada kurikulum itu sendiri.
Pimpinan perlu menyusun perencanaan secara cermat, teliti, menyeluruh dan rinci, karena memiliki multi fungsi sebagai berikut :
Perencanaan kurikulum berfungsi sebagai pedoman atau alat manajemen, yang berisi petunjuk tentang jenis dan sumber peserta yang diperlukan, media penyampaiannya, tindakan yang perlu dilakukan, sumber biaya, tenaga, sarana yang diperlukan, system control dan evaluasi, peran unsur-unsur ketenagaan untuk mencapai tujuan manajemen organisasi.
Berfungsi sebagai penggerak roda organisasi dan tata laksana untuk menciptakan perubahan dalam masyarakat sesuai dengan tujuan organisasi. Perencanaan kurikulum yang matang besar sumbangannya terhadap pembuatan keputusan oleh pimpinan, dan oleh karenanya perlu memuat informasi kebijakan yang relevan, disamping seni kepemimpinan dan pengetahuan yang telah dimilikinya.
Sebagai motivasi untuk melaksanakan system pendidikan sehingga mencapai hasil optimal.
Model Perencanaan Kurikulum
Perencanaan kurikulum adalah suatu proses sosial yang kompleks yang menuntut berbagai jenis dan tingkat pembuatan keputusan kebutuhan mendiskusikan dan mengkoordinasikan proses menghendaki penggunaan model-model untuk menyajikan aspek-aspek kunci kendatipun penyajian tersebut pada gilirannya harus menyederhanakan banyak aspek dan mungkin mengabaikan beberapa aspek lainnya. Sebagaimana dengan model-model pembuatan keputusan umumnya, maka rumusan suatu model perencanaan berdasarkan asumsi-asumsi rasionalitas yakni asumsi tentang pemrosesan secara cermat informasi misalnya tentang mata ajaran, siswa, lingkungan, dan hasil belajar.
Beberapa model perencanaan, yaitu :
Model perencanaan rasional deduktif atau rasional Tyler, menitik beratkan logika dalam merancang program kurikulum dan bertitik tolak dari spesifikasi tujuan (goals and objectives) tetapi cenderung mengabaikan problematika dalam lingkungan tugas. Model itu dapat diterapkan pada semua tingkat pembuatan keputusan, misalnya rasionalisasi proyek pengembangan guru, atau menentukan kebijakan suatu planning by objectives di lingkungan departemen. Model ini cocok untuk sistem perencanaan pendidikan yang sentralistik yang menitikberatkan pada system perencanaan pusat, dimana kurikulum dianggap sebagai suatu alat untuk mengembangkan/mencapai maksud-maksud di bidang sosial ekonomi.
Model interaktif rasional (the rational interactive model), memandang rasionalitas sebagai tuntutan kesepakatan antara pendapat-pendapat yang berbeda, yang tidak mengikuti urutan logis. Perencanaan kurikulum dipandang suatu masalah lebih “perencanaan dengan” (planning with) daripada perencanaan bagi (planning for). Seringkali model ini dinamakan model situasional, asumsi rasionalitasnya menekankan pada respon fleksibel kurikulum yang tidak memuaskan dan inisiatif pada tingkat sekolah atau tingkat lokal. Hal ini mungkin merupakan suatu refleksi suatu keyakinan ideologis masyarakat demokrasi atau pengembangan kurikulum berbasis sekolah. Implementasi rencana merupakan fase krusial dalam pengembangan kurikulum, dimana diperlukan saling beradaptasi antara perencana dan pengguna kurikulum.
The Diciplines Model, perencanaan ini menitikberatkan pada guru-guru, mereka sendiri yang merencanakan kurikulum berdasarkan pertimbangan sistematik tentang relevansi pengetahuan filosofis, (isu-isu pengetahuan yang bermakna), sosiologi (argument-argumen kecenderungan sosial), psikologi (untuk memberitahukan tentang urutan-urutan materi pelajaran)
Model tanpa perencanaan (non planning model), adalah suatu model berdasarkan pertimbangan-pertimbangan intuitif guru-guru di dalam ruangan kelas sebagai bentuk pembuatan keputusan, hanya sedikit upaya kecuali merumuskan tujuan khusus, formalitas pendapat, dan analisis intelektual.
Keempat model perencanaan kurikulum yang dikemukakan di atas sesungguhnya merupakan tipe-tipe yang ideal (ideal types) dan bukan model-model perencanaan kurikulum aktual. Umumnya perencanaan kurikulum mengandung keempat aspek model tersebut. Namun untuk membedakannya antara satu dengan yang lainnya, diperlukan analisis variabel kebermaknaan bagi praktek perencanaan. Asumsi-asumsi rasionalitas tersebut perlu disadari dalam kaitannya dengan cara memproses informasi sebagai refleksi posisi-posisi sosial dan ideologis yang mengatur perencanaan kurikulum.
Organisasi Kurikulum
Adanya berbagai pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum memunculkan terjadinya keragaman dalam mengorganisasikan kurikulum. Sekurang-kurangnya terdapat enam ragam pengorganisasian kurikulum, yaitu:
Mata pelajaran terpisah (separated subject); kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang diajarkan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dengan mata pelajaran lainnya. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, semua materi diberikan sama.
Mata pelajaran berkolerasi; korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran. Prosedur yang ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok materi pelajaran yang saling berhubungan untuk memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu.
Bidang studi (broad field); yaitu organisasi kurikulum yang berupa peleburan beberapa mata pelajaran yang sejenis dan memiliki ciri-ciri yang sama serta difungsikan dalam satu bidang pengajaran atau bidang studi. Salah satu mata pelajaran lainnya dapat dijadikan “core subject” dan mata pelajaran lainnya dikorelasikan dengan core tersebut.
Program yang berpusat pada anak (child centered), yaitu program kurikulum yang menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik, bukan pada mata pelajaran.
Inti masalah (core program), yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah, masalah-masalah diambil dari suatu pelajaran tertentu, dan mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalahnya. Mata pelajaran-mata pelajaran yang menjadi pisau analisisnya diberikan secara integritasi.
Ecletyc program, yaitu suatu program yang mencari keseimbangan anatara organisasi kurikulum yang terpusat pada matapelajaran dan peserta didik.
Berkaitan dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan, tampaknya lebih cenderung menggunakan pengorganisasian yang bersifat eklektik, yang terbagi dalam lima kelompok mata pelajaran, yaitu; (1). Kelompok mata pelajaran dan akhlak mulia. (2). Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. (3). Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. (4). Kelompok mata pelajaran estetika. (5) kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.
Kelompok-kelompok mata pelajaran tersebut selanjutnya diajabarkan lagi kedalam sejumlah mata pelajaran tertentu yang disesuaikan dengan jenjang dan jenis sekolah dan madrasah. Disamping itu, untuk memenuhi kebutuhan lokal disediakan mata pelajaran muatan lokal serta untuk kepentingan penyaluran bakat dan minat peserta didik disediakan kegiatan pengembangan diri.
Pelaksanaan Kurikulum
Pembinaan kurikulum pada dasarnya adalah usaha pelaksanaan kurikulum di sekolah, sedangkan pelaksanaan kurikulum itu sendiri direalisasikan dalam proses belajar mengajar sesuai dengan prinsip-prinsip dan tuntutan kurikulum yang telah dikembangkan sebelumnya bagi suatu jenjang pendidikan atau sekolah-sekolah tertentu. Pokok-pokok kegiatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi 9 pokok kegiatan, yaitu :
Kegiatan yang berhubungan dengan tugas kepala sekolah
Kegiatan yang berhubungan dengan tugas guru
Kegiatan yang berhubungan dengan murid
Kegiatan yang berhubungan dengan proses belajar mengajar
Kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler
Kegiatan pelaksanaan evaluasi
Kegiatan pelaksanaan pengaturan alat
Kegiatan dalam bimbingan dan penyuluhan
Kegiatan yang berkenaan dengan usaha peningkatan mutu professional guru.
Pelaksanaan kurikulum dibagi menjadi dua tingkatan yaitu pelaksanaan kurikulum tingkat sekolah dan tingkat kelas. Dalam tingkat sekolah yang berperan adalah kepala sekolah, dan pada tingkatan kelas yang berperan adalah guru. Walaupun dibedakan antara tugas kepala sekolah dan tugas guru dalam pelaksanaan kurikulum serta diadakan perbedaan dalam tingkat pelaksanaan administrasi, yaitu tingkat kelas dan tingkat sekolah, namun antara kedua tingkat dalam pelaksanaan administrasi kurikulum tersebut senantiasa bergandengan dan bersama-sama bertanggungjawab melaksanakan proses administrasi kurikulum.
Pelaksanaan kurikulum tingkat sekolah
Pada tingkatan sekolah, kepala sekolah bertanggung jawab melaksanakan kurikulum di lingkungan sekolah yang dipimpinnya. Kepala sekolah berkewajiban melakukan kegiatan-kegiatan yakni menyusun rencana tahunan, menyusun jadwal pelaksanaan kegiatan, memimpin rapat dan membuat notula rapat, membuat statistik dan menyusun laporan.
Pelaksanaan kurikulum tingkat kelas
Pembagian tugas guru harus diatur secara administrasi untuk menjamin kelancaran pelaksanaan kurikulum lingkungan kelas. Pembagian tugas-tugas tersebut meliputi tiga jenis kegiatan administrasi, yaitu :
Pembagian tugas mengajar
Pembagian tugas pembinaan ekstra kurikuler
Pembagian tugas bimbingan belajar.
Pengembangan Kurikulum
Monitoring Pelaksanaan Kurikulum
Kegiatan monitoring terhadap pelaksanaan kurikulum pada dasarnya dimaksudkan untuk mengetahui sampai dimana kurikulum baru itu telah dilaksanakan di sekolah-sekolah dan persoalan-persoalan apa yang dirasakan di dalam pelaksanaan kurikulum tersebut.
Adapun cara pelaksanaan monitoring terbagi menjadi kepada dua cara, yakni pamantauan langsung dan pemantauan tidak langsung. Pemantauan langsung adalah pemantauan yang dilakukan dengan cara mengunjungi lokasi proyek. Dengan cara demikian petugas monitoring dapat secara bebas mengumpulkan informasi yang diperlukan. Pemantauan tidak langsung adalah cara pemantauan yang menghendaki petugas monitoring tidak perlu terjun langsung ke lokasi, tetapi penggalian data dilakukan dengan cara mengirim seperangkat daftar isisan untuk diisi oleh orang lain di lokasi penelitian. Cara tidak langsung ini juga dapat dilakukan dengan mengumpulkan data melalui laporan-laporan yang dibuat pimpinan pemantau.
Evaluasi Kurikulum
Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Kurikulum juga dirancang dari tahap perencanaan, organisasi kemudian pelaksanaan dan akhirnya monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan mengetahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya.
Sasaran utama pelaksanaan ditujukan untuk mengetahui sampai sejauh mana siswa dapat mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Tujuan merupakan acuan dari seluruh komponen dalam kurikulum. Baik komponen bahan, metode maupun evaluasi. Apa yang dipelajari siswa agar memperoleh pengalaman belajar sesuai dengan tujuan tercermin dari isi kurikulum. Jadi luas dan dalamnya isi kurikulum tergantung kepada banyak ditentukan oleh tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian bila ingin diketahui apakah tujuan itu tercapai seluruhnya atau tidak, maka seluruh bahan menjadi dasar melakukan evaluasi.
Dalam pelaksanaan evaluasi kadang-kadang dipengaruhi oleh faktor subyektif guru. Bila ini terjadi maka hasil evaluasi tidak dapat menggambarkan keadaan sebenarnya dari hasil yang di capai. Dengan demikian, bila diinginkan agar hasil evauasi dapat menggambarkan keadaan sebenarnya dari hasil belajar atau hasil kurikulum, maka evaluasi perlu dilakukan secara obyektif.
Berdasarkan penjelasan diatas, dalam melalukan evaluasi kurikulum perlu dipegang prinsip-prinsip sebagai berikut:
evaluasi mengacu kepada tujuan
evaluasi bersifat komprehensif dan menyeluruh
evaluasi dilakukan secara obyektif
Tujuan sebagai acuan dalam evaluasi
Agar evaluasi sesuai dan dapat mencapai sasaran, maka evaluasi harus mengacu kepada tujuan sebagai acuan ini harus dirumuskan terlebih dahulu dengan jelas menggambarkan apa yang berhak dicapai. Bila tujuan itu ditetapkan dengan menggunakan taksonomi Bloom, dapatlah dilakukan kajian tentang pengetahuan apa telah dimiliki siswa sebagai hasil belajar. Keterampilan apa yang diperoleh, serta sikap bagaimana dimiliki. Untuk menetapkan alat menilai atau mengukurnya tentu memerlukan rincian lebih jauh dalam bidang pengetahuan dapat pula, dilakukan kajian tentang bentuk bentuk tujuan sesuai taksonomi, demikin pula dengan hal keterampilan dan sikap. Disini diperlukan kajian lebih mendalam tentang bentuk-bentuk atau perjenjangan segi kognitif, afektif dan psikomotorik dari taksonomi sebagaimana diuraikan pada penjealasan di point sebelumnya.
Prinsip lain dari penggunaan tujuan sebagai acuan dalam evaluasi adalah rumusan itu harus dapat menggambarkan bentuk perilaku yang dapat diukur. Jelas di sini penggunaan tujuan khusus diperlukan. Namun demikian kita bertanya, apakah dengan melalukan evaluasi terhadap hal-hal khusus dapat dapat dicapai seluruh bagian yang menggambarkan seluruh hasil pengcapaian tujuan. Bila itu memungkinkan, harus berupa banyak butir-butir soal evaluasi.utntuk itu teknik yang hari hati perlu di gunakan.
Tekanan utama dalam menentukan bobot sasaran dalam evaluasi banyak ditentukan oleh bentuk kurikulum yang dtetapkan. Tentu saja paca subject centered, berbeda dengan activity ataupun life curriculum. Hal ini juga merupakan salah satu kajian dasar dalam evaluasi.
Seluruh bahan harus dicakup dalam evaluasi
Luas dan dalamnya bahan disesuaikan dengan tujuan. Bila tujuan itu menentukan luas dan banyak bahan, akibatnya akan banyak sekali bahan yang dinilai dengan rangka pencapaian tujuan. Mungkinkah ini dilakukan, kemungkinannya ada dua macam, pertama kita harus dilakukan evaluasi dengan butir soal sebanyak-banyaknya sesuai dengan banyaknya tujuan atau bahan kuantitatif. Tentu ini membutuhkan waktu lama. Kedua, dapat diambil sample (cuplikan-contoh) yang mewakili bentuk-bentuk tujuan, sehingga didapat butir-butir soal tidak terlalu banyak dan dapat dilakukan dalam waktu tidak terlalu lama.
Bila kita menggunakan sample sebagai dasar untuk melakukan evaluasi yang bersifat komprehensif, diperlukan teknik tertentu. Tekhik merumuskan ini dapat dilakukan dengan terlebih dahulu membuat kisi-kisi evaluasi. Berdasarkan kisi-kisi itu barulah dibuat alat evaluasi.
Hasil sebenarnya merupakan dasar kajian
Maksud utama yang terkandung pelaksanaan evaluasi kurikulum adalah sebagai dasar untuk memberikan balikan atau feedback. Oleh karena itu evaluasi harus dilakukan secara terus menerus. Tujuannya pun bukan sekedar menemukan indeks kemampuan atau angka (biji) kepada siswa.
Hasil evaluasi harus dapat menggambarkan keadaan sebenarnya hasil yang dicapai. Dengan mengetahui hasil sebenarnya ini dapat diketahui pula segi-segi kelemahan dan kekuatan dari kurikulum yang dilaksanakan, di samping kemampuan siswa itu sendiri. Agar hasil evaluasi dapat berarti untuk maksud di atas, keobyektifan perlu diperhatikan dan dipegang.
Keobyektifan ini dimaksudkan, bahwa evaluasi harus dilaksanakan dengan sebaik-sebaiknya, tanpa ada pengaruh luar dari faktor guru maupun siswa itu sendiri. Pelaksanaan evaluasi dimana siswa menunjukkan kemampuan tidak sebagaimana adanya (mencontek), atau guru memberikan data penilaian yang tidak sebenarnya (subyektif), tidak mempunyai arti bagi perbaikan kurikulum.
Berdasarkan kepada ketiga prinsip di atas, ternyata pelaksanaan evaluasi merupakan kegiatan yang sangat besar artinya dalam pengembangan kurikulum. Agar data yang yang diperoleh itu dapat dijadikan dasar feedback dalam kurikulum, maka alat yang digunakan dalam evaluasi harus memenuhi kriteria:
Alat evaluasi harus sesuai dengan sasaran yang hendak dicapai
Alat yang digunakan harus terpercaya (valid)
Alat yang digunakan harus terandalkan (reliable)
Alat evaluasi harus signifikan atau dapat dipercaya
Keempat kriteria di atas dapat dicapai apabila alat yang digunakan bersifat baku (standardized).
BAB III
PENUTUP
Pengertian kurikulum menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bab 1 disebutkan tentang pengertian kurikulum sebagai seperangkat rencana daan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.
Manajemen kurikulum berkaitan dengan manajemen pengalaman belajar yang membutuhkan strategi tertentu sehingga menghasilkan produktifitas belajar bagi siswa. Manajemen kurikulum harus diarahkan agar proses pembelajaran berjalan dengan baik, dengan tolok ukur pencapaian tujuan oleh siswa agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Kesimpulannya manajemen kurikulum adalah suatu sistem pengelolaan kurikulum yang kooperatif, komprehensif, sistemik, dan sistematik dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum.
Sekian pemaparan mengenai manajemen kurikulum dalam makalah ini. Kami mohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat di dalam makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
Afifuddin dan Sobry Sutikno. 2008. Pengelolaan Pendidikan “Teori dan Praktek”. Bandung: Prospect
Lias Hasibuan. 2010. Kurikulum dan Pemikiran Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada
Muhammad Ali. 2009. Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Sinar Baru Algasindo
Sholeh Hidayat. 2013. Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Wina Sanjaya. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan KTSP. Jakarta: Prenada Media Group
Internet
Abdul Muiz, Pemantauan (Monitoring) dan Evaluasi Kurikulum https://amcreative.wordpress.com/pemantauan-kurikulum/ diakses pada tanggal 16 April 2017 pukul 20.44 WIB
Galih Prismasari Shillahaque, Makalah Menajemen Kurikulum, Diakses dari http://galihprismasarishillahaque.blogspot.com/2013/06/makalah-manajemen-kurikulum.html?m=1 pada tanggal 16 April 2017 pukul 21.33 WIB
Syamsuddin, Manajemen Kurikulum, diakses dari http://syamsuddincoy.blogspot.co.id/2012/02/manjemen-kurikulum.html?m=1 pada tanggal 16 April 2017 pukul 20.49 WIB
Komentar