AYAT AYAT AL QURAN TENTANG PENDIDIK
AYAT-AYAT AL-QURAN TENTANG PENDIDIK
(Kajian Q.S. Ali-Imrân [3]: 79)
Diajukan sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Tafsir II
Dosen
Cecep Anwar, M.Ag
Oleh
Kristin Wiranata
NIM 1152020108
TAFSIR II
TAFSIR AYAT-AYAT PENDIDIKAN
SEMESTER III
KELAS C
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016
PENDAHULUAN
Nabi meninggalkan dua pusaka yang amat berharga bagi ummat manusia, yakni Al-Quran dan Sunnah. Barangsiapa yang berpegang teguh kepadanya dan berjalan lurus serta tegak diatasnya maka ia tidak akan tersesat. Kedua pusaka tersebut dapat dipahami ummat dari penjelasan para ulamanya. Sebagaimana kita ketahui bahwa Ulama adalah pewaris nabi dan rasul. Para nabi dan rasul tidaklah menyuruh kepada ummatnya untuk mempersekutukan Allah dengan cara menyembah para mereka (nabi dan rasul). Mereka tiada lain menyuruh dan menganjurkan kepada umatnya untuk menjadi pribadi yang berjiwa rabbani yang salah satu artinya adalah sempurna ilmu dan takwanya.
Melalui didikan para alim-Ulama terciptalah generasi yang mampu mendidik dan mengajarkan ilmu kepada manusia salah satu generasi yang diciptakannya antara lain adalah guru. Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan ummat, keberadaannya tidak dapat digantikan oleh apapun.
Dalam mengajar seorang pendidik akan menghadapi anak didik yang memiliki fitrah akal, hati, dan fisik (jasmani dan rohani). Karenanya seorang pendidik hendaknya memerhatikan aspek-aspek ini. Terdapat berbagai kompetensi dasar yang harus dimiliki seorang guru, yakni kompetensi Paedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, kompetensi professional.
Merujuk kepada ayat-ayat dalam Al-Quran, terdapat penjelasan yang global dan umum mengenai sifat-sifat yang hendaknya dimiliki oleh seorang pendidik. Walaupun secara eksplisit tidak terdapat suatu penunjukan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pendidik, namun kita dapat ambil makna dari beberapa ayat secara implisit yang terkait dengan pendidik. Berikut saya paparkan tafsir tentang pendidik yang terdapat dalam Q.S Ali-Imran [3]: 79.
TEKS DAN TERJEMAH Q.S. ALI-IMRAN [3]: 79
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤۡتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحُكۡمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُواْ عِبَادٗا لِّي مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِن كُونُواْ رَبَّٰنِيِّۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ تَدۡرُسُونَ ٧٩
“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.
KAIDAH ILMU TAJWID
No.
Lafadz
Hukum Ilmu Tajwid
Alasan
Cara membaca
Ket.
1
Maa
Mad thabii
Terdapat huruf berharakat fathah menghadapi alif mati
Panjang 1 alif
1 alif: 2 harkat
2
Kaana
Mad thabii
Terdapat huruf berharakat fathah menghadapi alif mati
Panjang 1 alif
3
Libasyarin an
Idzhar
Terdapat kasrah tanwin menghadapi huruf idzhar yakni “alif”
Kasrah tanwin dibaca jelas “N”
Huruf idzhar ada 6
4
Ay yu’
Idhgam Bigunnah
Terdapat nun mati menghadapi huruf Idgham Bigunnah yakni “Ya”
Bunyi nun mati dilebur dan dimasukkan ke dalam huruf selanjutnya
Huruf idgham bigunnah ada 4
5
Ayyu’tiyahu llahu
tafkhim
Lafadz Allah didahului huruf yang berharakat dhamah
Lafadz Allah dibaca tebal
6
Allahu
Mad thabii
Ada fathah berdiri
Panjang 1 alif
7
Allahul kitaaba
Alif lam Qomariyah
Terdapat alif-lam menghadapi huruf alif-lam qomariyah yakni “Kaf”
Alif-lam dibaca jelas
Huruf alif-lam Qomariyah ada 14 huruf
8
Kitaaba
Mad thabii
Ada fathah berdiri
Panjang 1 alif
9
Wal hukma
Alif lam Qomariyah
Terdapat alif-lam menghadapi huruf alif-lam qomariyah yakni “ha”
Alif-lam dibaca jelas
10
Wannubuwwata
Alif-lam syamsiyah
Terdapat alif-lam menghadapi huruf alif-lam qomariyah yakni “Nun ”
Bunyi alif-lam hilang dan dimasukkan ke dalam huruf sebelumnya
Huruf alif-lam Syamsiyah ada 14
11
Wannubuwwata
Ghunnah
Terdapat nun bertasydid
Ditahan 2-3 harkat
Huruf ghunnah ada 2
12
Tsumma
Ghunnah
Terdapat mim bertasydid
Ditahan 2-3 harkat
13
Yaquula
Mad thabii
Terdapat huruf berharakat dhamah menghadapi wau mati
Panjang 1 alif
14
Linnasi
Ghunnah
Terdapat nun bertasydid
Ditahan 2-3 harkat
15
Linnaasi
Mad thabii
Terdapat huruf berharakat fathah menghadapi alif mati
Panjang 1 alif
16
Kuunuu
Mad thabii
Terdapat huruf berharakat dhamah menghadapi wau mati
Panjang 1 alif
17
‘ibaadallii
Mad thabii
Terdapat huruf berharakat fathah menghadapi alif mati
Panjang 1 alif
18
Dalli
Idgham bilagunnah
Terdapat fathah tanwin menghadapi huruf idgham bilagunnah yakni “Lam”
Tanpa dengung ke hidung
Hurufnya ada 2
19
Dalliii
Mad thabii
Terdapat huruf berharakat kasrah menghadapi ya mati
Panjang 1 alif
20
Minduuni
ikhfa
Terdapat nun mati menghadapi huruf ikhfa yakni “Dal”
Nun mati dibaca samar
Huruf ikhfa ada 15
21
Minduuni
Mad thabii
Terdapat huruf berharakat dhamah menghadapi wau mati
Panjang 1 alif
22
nillahi
Tarqiq
Terdapat lafadz allah yang didahului huruf yang berharakat kasrah
Lafadz Allah dibaca tipis
23
nillaahi
Mad thabii
Terdapat fathah berdiri
Panjang 1 alif
24
walaa
Mad thabii
Terdapat fathah berdiri
Panjang 1 alif
25
Kin ku
Ikhfa
Terdapat nun mati menghadapi huruf ikhfa yakni “Kaf”
Nun mati dibaca samar
26
Kuunuu
Mad thabii
Terdapat huruf berharakat dhamah menghadapi wau mati
Panjang 1 alif
27
robbaaniyyiina
Mad thabii
Terdapat huruf berharakat fathah menghadapi alif mati
Panjang 1 alif
28
robbaniyyiina
Mad shilah qasirah
Karena ada kasrah berdiri
Panjang 1 alif
29
Bimaa
Mad thabii
Terdapat huruf berharakat fathah menghadapi alif mati
Panjang 1 alif
30
Kuntum
Ikhfa
Terdapat nun mati menghadapi huruf ikhhfa yakni “Ta”
Nun mati dibaca samar
Huruf ikhfa ada 15
31
Kuntum tu
Idzhar syafawi
Terdapat mim mati menghadapi huruf idzhar syafawi yakni “ta”
Mim mati dibaca jelas “m”
Hurufnya ada 26
32
Tu’allimuuna
Mad thabii
Terdapat huruf berharakat dhamah menghadapi wau mati
Panjang 1 alif
33
Nal kitaabu
Alif lam Qomariyah
Terdapat alif-lam menghadapi huruf alif-lam qomariyah yakni “kaf”
Alif-lam dibaca jelas “L”
34
Kitaaba
Mad Thabii
Terdapat fathah berdiri
Panjang 1 alif
35
bimaa
Mad thabii
Terdapat huruf berharakat fathah menghadapi alif mati
Panjang 1 alif
36
kuntum
Ikhfa
Terdapat nun mati menghadapi huruf ikhhfa yakni “Ta”
Nun mati dibaca samar
37
Kuntum tadrusuun
Idzhar syafawi
Terdapat mim mati menghadapi huruf idzhar syafawi yakni “ta”
Mim mati dibaca jelas “m”
38
tadrusuun
Qalqalah sughra
Terdapat huruf qalqalah mati di tengah kalimat yakni “dal”
Huruf “dal” dipantulkan (secara ringan)
39
tadrusuun
Ra tafkhim
Terdapat huruf “ra” berharakat dhamah
Huruf “ra” dibaca tebal
40
tadrusuuun
Mad aridh lissukun
Terdapat mad Ashli menghadapi huruf hidup dan diwaqafkan
Panjang 2 s/d 6 harkat
ASBABUN NUZUL
Ketika para Pendeta Yahudi dan Nasrani Najran berkumpul di hadapan rasulullah SAW dan Rasulullah SAW mengajak mereka untuk memeluk agama islam, Abu Rafi’ al-Quradhi berkata: “Wahai Muhammad, apakah kamu menginginkan kami menyembahmu sebagaimana orang-orang Nasrani menyembah Isa?. Jawab Rasulullah: “Ma’adzallah-aku berlindung kepada Allah dari perbuatan itu”. Sehubungan dengan itu Allah SWT menurunkan Q.S. Ali Imran ayat ke-79 dan 80 untuk memberi dukungan terhadap apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW itu. Selain itu juga memberi sanggahan terhadap mereka, bahwa tidak ada seorang nabi pun yang mengajak ummatnya untuk menyembah dirinya.
(HR. Ibnu Ishak dan Baihaqi daari Ibnu Abbas)
Pada suatu ketika ada seorang lelaki dating menghadap Rasulullah SAW, seraya berkata: “Wahai Rasulullah, apakah memberi salam kepadamu itu seperti memberi salam kepada teman kami saja, ataukah tidak lebih baik dengan sujud?”. Jawab Rasulullah: “Jangan bersujud. Cukup kamu menghormati nabimu, dan sampaikanlah perkara yang benar kepada siapa saja yang layak untuk diberi tahu. Sebab seseorang tidak dibenarkan sujud kepada sesamanya. Hanya dibenarkan bersujud kepada Allah saja”. sehubungan dengan peristiwa itu allah SWT menurunkan ayat ke-79 dan 80 sebagai ketegasan bahwa apa yang disabdakan Rasulullah SAW itu adalah benar. Selain itu menegaskan pula tentang tidak diperbolehkannya bersujud kepada hamba. (HR. Abdurrazak dalam kitab tafsirnya dari al-Hasan).
PENAFSIRAN MUFASSIR
Tafsir Ibnu Katsir
Firman allah Ta’ala, “Tidaklah layak bagi seorang manusia yang telah diberikan oleh Allah Alkitab, hikmah, dan kenabian… setelah kamu islam?” Maksudnya, tidaklah layak bagi seorang nabi dan seorang rasul untuk mengatakan kepada manusia, “Sembahlah aku di samping menyembah Allah!” Jika perbuatan seperti itu tidak dilakukan oleh seorang nabi dan rasul, maka ia lebih tidak layak lagi dilakukan oleh manusia yang bukan nabi atau rasul. Hal itu karena sebagian Ahli Kitab menyembah Ahli Kitab yang lain, yakni menyembah pendeta dan uskupnya. Allah Ta’ala berfirman, “Mereka menjadikan para pendeta dan rahibnya sebagai tuhan selain Allah”.
Dalam musnad dan riwayat at-Tirmidzi dikatakan, “Sesungguhnya Adi bin Hatim berkata, ‘Wahai Rasulullah, mereka tidak menyembah para pendetanya?’ Nabibersabda, ‘Memang bukan menyembah demikian, tetapi para pendeta itu mengharamkan yang halal kepada manusia, lalu mereka mengikutinya. Itulah penyembahan mereka kepada pendetanya.’” Para rahib dan pendeta yang dungu serta tokoh kesesatan termasuk ke dalam celaan ayat ini. Berbeda dengan para rasul dan para pengikut mereka dari kalangan ulama yang mengamalkan ilmunya. Sesungguhnya mereka hanya memerintahkan apa yang telah diperintahkan Allah dan apa yang disampaikan oleh para rasul kepada mereka, serta mereka melarang manusia dari perbuatan yang dilarang Allah dan Rasul-Nya. Para rasul itu merupakan duta-duta yang tepercaya antara Allah dan makhluknya, lalu mereka menjalankan tugasnya dengan sempurna, mereka menasihati makhluk dan menyampaikan kebenaran.
Firman Allah, “Namun dia berkata, ‘Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani,’ karena kamu selalu mengajarkan Alkitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya,” akan tetapi, seorang rasul akan berkata kepada manusia, “Jadilah kamu orang-orang rabbani!” Yakni, ulama yang hilim dan ahli fikih yang ahli ibadah dan bertakwa. Sehubungan dengan firman Allah, “Karena kamu selalu mengajarkan Alkitab dan siebabkan kamu tetap mempelajarinya.” Adh-Dhahhak berkata, “Yakni apa yang kalian pahamkan kepada manusia mengenai berbagai makna Alkitab dan kalian ajarkan kepada mereka hukum-hukum, perintah-perintah, dan larangannya, bukan apa yang kalian hafalkan kata-katanya secara verbal”.
وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ ٢٥
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (Q.S. Al-Anbiyaa: 25)
Tafsir al-maraghi
Penafsiran kata-kata sulit
Al-Basyar: manusia, baik lelaki atau wanita satu atau banyak.
Al-Hukma: Hikmah, yaitu pengetahuan mengenai Al-Kitab dan rahasia-rahasianya, yang hal ini memerlukan pengamalan.
Al-‘Ibaad: bentuk tunggalnya ‘abdun dengan makna ‘abidun, orang yang menyembah (hamba). Al-‘Abiid merupakan bentuk jamak dari ‘abdun, yang artinya hamba. Sifat hamba ini nisa juga terhadap selain Allah.
Ar-Rabbaaniyyiin: bentuk tunggalnya Rabbaniy, sebagaimana dikatakan oleh Sibawaih, artinyaadalah dikaitkan dengan Tuhan, dan taat terhadap-Nya. Sebagaimana dikatakan, Rajulun ilahiy, artinya bila ia selalu taat kepada Allah dan mengetahui-Nya. Diriwayatkan, bahwa Muhammad Ibnul-Hanafiyah berkata sewaktu wafatnya Ibnu Abbas, “Padahari ini, telah wafat seorang rabbaniy umat ini.
Dalam ayat ini, Allah SWT, telah menuturkan tentang bikinan orang-orang Yahudi terhadap Allah SWT. dengan kebohongan, lalu menisbahkannya kepada Allah. Padahal Allah tidak mengatakannya. Lalu Allah SWT. mengiringi hal tersebut dengan penjelasan bikinan mereka terhadap para Nabi.
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤۡتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحُكۡمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُواْ عِبَادٗا لِّي مِن دُونِ ٱللَّهِ
Tidak pantas bagi seorang manusia yang menerima kitab dari Allah, Allah mengajarinya pengetahuan mengenai agama-Nya kenabian. Kemudian, ia mengajak umat manusia agar menyembah dirinya, selain Allah. Sebab orang yang dianugerahi Allah akan hal tersebut, hanya mengajak umat manusia agar mengetahui-Nya, serta menganjurkan agar mengetahui Syari’at-syari’at agama-Nya, serta menganjurkan mereka agar menjadi panutan dalam hal ketaatan dan ibadah kepada-Nya, dan menjadi orang-orang yang mengajari umat manusia akan kitab-Nya.
Maka firman Allah Min dunihi, maksudnya menjadi orang-orang yang melewati batas yang diwajibkan, yaitu dalam hal mengkhususkan Allah SWT. untuk diibadahi (disembah). Sebab, ibadah yang benar tidak akan terealisasikan kecuali bila anda ikhlas kepada-Nya semata, lalu engkau tidak mencampuri hal ini dengan yang lainnya, seperti menyembah kepada selain-Nya, sebagaimana firman Allah:
قُلِ ٱللَّهَ أَعۡبُدُ مُخۡلِصٗا لَّهُۥ دِينِي ١٤
Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku” (Q.S. Az-Zumar [39]: 14)
Barangsiapa mengajak penyembahan kepada dirinya berarti ia mengajak umat manusia agar menjadi hamba yang menyembah kepada selain-Nya, sekalipun ia tidak melarang menyembah Allah. Bahkan, sekalipun ia memerintahkan agar menyembah Allah.
Barangsiapa menjadikan perantara antara dirinya dengan Allah dalam masalah ibadah, seperti berdoa, berarti ia menyembah perantaraan itu, bukannya Allah. Sebab, adanya perantara ini bertentangan dengan pengertian ikhlas terhadap Allah semata. ketika tiada rasa ikhlas, maka lenyap pula pengertian ibada kepada-Nya. Oleh karena itu, Allah berfirman:
تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَكِيمِ ١
Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar (Q.S. Az-Zumar [39]: 2-3)
Tawassul (mengambil perantara) mereka melalui para wali, membuat Allah berfirman, bahwa mereka telah mengambil tuhan-tuhan selain Allah. Dan, Rasulullah saw. bersabda, bahwa Allah telah berfirman:
“Aku adalah sekutu yang paling tidak membutuhkan kemusyrikan, maka barangsiapa melakukan suatu amal, kemudian ia memusyrikan selain Aku didalamnya, Aku tinggalkan dia beserta kemusyrikannya.” Dan, dalam riwayat lain disebutkan, “Maka Aku bebas dari padanya, ia adalah bagi yang mengamalkannya.” (H.R. Muslim)
Dan, Rasulullah pernah bersabda:
“Bila Allah mengumpulkan umat manusia di hari kiamat, ada suara yang memanggil, barangsiapa memusyrikkan dalam suatu pekerjaan (amal) dengan seseorang yang seharusnya ia lakukan demi Allah, maka mintalah pahalanya kepada selain Allah, sebab Allah tidak membutuhkan kemusyrikan.” (H.R. Ahmad)
وَلَٰكِن كُونُواْ رَبَّٰنِيِّۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ تَدۡرُسُونَ
Akan tetapi, Nabi yang telah diberi kitab dan hikmah memerintahkan agar menjadi manusia yang rabbaniy secara langsung, tidak melalui perantara atau tawassul. Nabi memberikan petunjuk kepada mereka para wasilah hakiki yang dapat mengantarkan seseorang ke arah Rabbaniy yaitu mengajarkan al-kitab dan mempelajarinya. Sebab, dengan ilmu al-kitab, mengajarkan, dan mengamalkannya seseorang bisa menjadikan rabbaniy yang diridhoi Allah, Ilmu yang tidak bisa membangkitkan amal bukanlah ilmu yang benar. Karena itu-lah dalam ayat ini tidak disebutkan secara jelas penuturan perintah beramal, karena cukup dengan hal tersebut.
Tafsir Al-Misbah
Sekelompok pemuka agama Yahudi dan Nasrani menemui Rasul saw. mereka bertanya: “Wahai Muhammad, apakah engkau ingin kami menyembahmu?” salah seorang di antara mereka bernama ar-Rais mempertegas, ‘Apakah untuk itu engkau mengajak kami” Nabi Muhammad saw. menjawab: “aku berlindung kepada Allah dari penyembahan kepada selain Allah atau menyuruh yang demikian. Allah sama sekali tidak menyuruh aku demikian, tidak pula mengutus aku untuk itu.” Demikian jawaban Rasul saw. yang diperkuat dengan turunnya ayat ini.
Dari segi hubungan ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya, dapat diuraikan bahwa, setelah selesai dalam ayat-ayat yang lalu penjelasan tentang kebenaran yang disembunyikan oleh Bani Israil dan hal-hal yang berkaitan dengannya dan berakhir pada penegasan bahwa mereka tidak segan-segan berbohong terhadap Allah-dan ini juga berarti berbohong atas nama nabi dan rasul- karena tidak ada informasi pasti dari Allah keculai melalui mereka, di sini ditegaskan bahwa hal tersebut tidak wajar bagi seorang nabi pun. Bahwa yang dinafikan oleh ayat ini adalah penyembahan kepada selain Allah sangat pada tempatnya karena apapun yang disampaikan oleh seorang nabi ats nama Allah adalah ibadah, baik dalam pengertiannya yang khusus, yakni ibadah murni, maupun dalam pengertiannya yang umum, yakni segala aktivitas yang dilakukan dengan motivasi mengikuti rasul dan mendekatkan diri kepada Allah.
Tidak wajar dan tidak dapat tergambar dalam benak betapa pun keadaannya bagi seseorang manusia siapa dia dan betapa pun tinggi kedudukannya, baik Muhammad saw. maupun Isa as. Dan selain mereka yang Allah berikan kepadanya al-Kitab dan hikmah yang digunakannya menetapkan hukum putusan. Hikmah adalah ilmu amaliah dan amal ilmiah dan kenabian, yakni informasi yang diyakini bersumber dari Allah yang disampaikan kepada orang-orang tertentu pilihan-Nya yang mengandung ajakan untuk mengesakan-Nya. Tidak wajar bagi seorang yang memeroleh anugerah-anugerah itu kemudian dia berkata bohong kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Betapa itu tidak wajar, bukankah kitab suci Yahudi atau Nasrani, apalagi al-Quran, melarang mempersekutukan Allah dan mengajak mengesakan-Nya dalam zat, sifat, perbuatan dan ibadah kepada-Nya? Bukankah nabi dan rasul yang paling mengetahui tentang Allah? Bukankah penyembahan kepada manusia berarti meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, sedang mereka adalah orang yang memiliki hikmah sehingga tidak mungkin meletakkan manusia atau makhluk apa pun di tempat dan kedudukan Allah, Sang Khaliq itu? Jika demikian, tidak mungkin Isa as. Manusia ciptaan Allah dan pilihan-Nya itu, menyuruh orang lain menyembahnya, sebagaimana diduga oleh orang-orang Nasrani.
Selanjutnya, mereka juga tidak akan diam, tidak mengajak kepada kebaikan atau mencegah keburukan. Tidak! Tetapi Dia akan mengajak dan akan berkata, “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, yang berpegang teguh serta mengamalkan nilai-nilai Ilahi karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu terus-menerus mempelajarinya.”
Kata ( ) tsumma, yakni kemudian, diletakkan antara uraian tentang anugerah-anugerah-Nya dan pernyataan bahwa mereka menyuruh orang untuk menyembah manusia. Kata kemudian itu bukan bermakna adanya jarak waktu, tetapi untuk mengisyaratkan betapa jauh ucapan demikian dari sifat-sifat mereka dan betapa ucapan tersebut tidak masuk akal.
Kalau nabi dan rasul demikian itu halnya, tentu lebih tidak wajar lagi bagi manusia biasa untuk mengucapkan kata-kata demikian. Tidak wajar ada manusia yang dengan ucapan atau perbuatan memerintahkan atau bahkan mengisyaratkan agar dia disembah dan dikultuskan. Karena itu, para dictator adalah ornag-orang yang merasa dirinya tuhan-tuhan yang harus disembah, ditaati, dan diagungkan.
Kata ( ) Rabbani terambil dari kata ( ) Rabb yang memiliki aneka makna, antara lain pendidik dan pelindung. Jika kata ini berdiri sendiri, yang dimaksud tidak lain kecuali Allah swt. Kalau Anda bermaksud menisbahkan sesuatu, biadanya kata ini ditambah dengan huruf ( ) ya’ seperti kata ( ) insan menjadi ( ) insani atau ( ) nur menjadi ( ) nuri. Dalam bahasa Indonesia, terkadang untuk memudahkan pengucapan ditambah terlebih dahulu dengan huruf “W” sehingga misalnya berbunyi manusiawi. Apabila Anda ingin menekankan sifat itu, dalam bahasa Arab ditambah juga sebelum huruf ( ) ya’ dengan huruf alif dan nun, sehingga kata ( ) nur menjadi ( ) nurani dan kata ( ) rabb menjadi ( ) rabbani, sebagaimana bunyi ayat di atas.
Mereka yang dianugerahi kitab, hikmah, dan kenabian menganjurkan semua orang agar menjadi rabbani, dalam arti semua aktivitas, gerak, dan langkah, niat dan ucapan kesemuanya sejalan dengan nilai-nilai yang dipesankan oleh Allah swt. Yang Maha Pemelihara dan Pendidik itu.
Kata ( ) tadrusun digunakan untuk meneliti sesuatu guna diambil manfaatnya. Dalam konteks-teks-baik dalam kitab suci maupun selainnya—ia adalah membahaas, mendiskusikan teks untuk menarik informasi dan pesan-pesan yang dikandungnya.
Seorang Rabbani-menurut ayat ini- paling tidak melakukan dua hal. Pertama, terus-menerus mengajarkan kitab suci, dan kedua terus-menerus mempelajarinya. Pengertian terus-menerus itu dipahami dari bentuk kata kerja mudhari yang digunakan ayat ini untuk kedua hal tersebut.
Bahwa seorang Rabbani harus terus-menerus mengajar karena manusia tidak pernah luput dari kekurangan. Seandainya si A telah tahu, si B dan si C boleh jadi belum, atau lupa, atau mereka adalah generasi muda yang selama ini belum mengetahui. Itu dari sayu sisi. Di sisi lain, Rabbani bertugas terus-menetus membahas dan mempelajari kitab suci karena firman-firman Allah sedemikian luas kandungan maknanya sehingga, semakin digali, semakin banyak yang diraih, walaupun yang dibaca adalah teks yang sma. Kitab Allah yang tertulis tidak ubahnya dengan kitab-Nya yang terhampar, yaitu alam raya. Walaupun alam raya sejak diciptakannya hingga kini tidak berubah, rahasia yang dikandungnya tidak pernah habis terkuak. Rahasia-rahasia alam tidak henti-hentinya terungkap, dari saat ke saat ditemukan hal-hal baru yang belum ditemukan saat ini. Jika demikian, seseorang tidak boleh berhenti belajar, meneliti, dan membahas, baik objeknya alam raya maupun kitab suci. Nah, yang ditemukan dalam bahasan dan penelitian itu hendaknya diajarkan pula sehingga bertemu antara mengajar dan meneliti dalam satu lingkaran yang tidak terputus kecuali dengan putusnya lingkaran, yakni dengan kematian seseorang. Bukankan pesan agama “Belajarlah dari buaian hingga liang lahat” dan bukankah al-Quran menegaskan kerugian orang-orang yang tidak saling wasiat-mewasiati tentang kebenaran dan ketabahan, yakni ajar-mengajar tentang ilmu dan petunjuk serta saling ingat-mengingatkan tentang perlunya ketabahan dalam hidup ini?
Tafsir Fi zhilalil Quran (Sayyid Quthb)
Sang Nabi yakin dengan sepenuh hati bahwa dia adalah seorang hamba dan hanya Allah saja sebagai Tuhan yang kepada-Nyalah semua hamba menunjukan pengabdian dan ibadahnya. Karena itu, tidak mungkin dia mendakwakan bagi dirinya sifat ketuhanan yang menuntut manusia beribadah kepadanya. seorang nabi tidak akan berkata kepada manusia, “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku, bukan penyembah Allah.” Akan tetapi, yang dikatakan nabi kepada mereka adalah, “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani,”dengan menisbatkan diri kepada rabb ‘Tuhan, Allah’, sebagai hamba-hamba dan pengabdi kepada-Nya. Menghadaplah kepada-Nya saja dalam beribadah dan ambillah manhaj hidupmu dari-Nya saja, sehingga kamu menjadi orang yang tulus kepada-Nya dan kamu menjadi “Rabbani”. Jadilah kamu orang-orang rabbani, sesuai dengan pengetahuanmu terhadap Alkitab dank arena kamu mempelajarinya. Ini sudah menjadi konsekuensi logis bagi orang-orang yang mengerti dan mempelajari kitab Allah.
Tafsir Al-Qur’anul Majid an-Nuur (Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy)
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.”
Tidaklah patut bagi seseorang yang telah diberi Kitab dari Allah, dijelaskan rahasia-rahasianya dan hikmat-hikmat agama, serta diberi kenabian (nubuwwah), namun jutru menyeru manusia untuk menyembah dirinya bukan menyembah allah. Dia sesungguhnya diminta menggerakkan (mendorong) manusia mempelajari syariat-syariat agama.
Yang dimaksud dengan pernyataan ayat yang selain Allah adalah tidak mengeskan Allah dalam ibadat, atau juga menuhankan yang lain. Ibaday yang benar adalah yang dijalankan dengan tulus ikhlas hanya untuk Allah, tidak dicemari oleh kepercayaan yang menempatkan sesuatu setara dengan Allah.
Orang yang menyeru manusai untuk juga menyembah (mengagungkan, menyucikan) dirinya, selain menyembah Allah, dipandang sebagai perbuatan yang mengajak orang lain untuk memperhambakan diri kepadanya, seolah dia itu setara dengan Allah, walapun orang lain itu juga disuruh menyembah Allah.
Orang yang mengadakan perantaraan antara dia dengan Allah dalam beribadat, seperti dalam berdoa, sama artinya dengan menyembah perantara itu, bukan menyembah Allah. Adanya oerantara berlawanan dengan ikhlas kepada Allah atau beribadat langsung jepada Allah. Dengan hilangnya keikhlasan, maka hilang pula ibadat.
Dengan ayat ini jelaslah bahwa Allah memandang tawassul (beribadat atau melakukan acara agama dengan perantaraan orang lain) sama dengan menjadikan beberapa acara agama dengan perantaraan orang lain) sama dengan menjadikan beberapa tuhan selain Allah.
Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”
Para rasul itu hanya menunjukkan kepada manusia tentang jalan yang benar atau menyampaikannya apa yang menjadi tugasnya, yaitu mengajarkan al-Kitab dan mempelajarinya. Dengan mengetahui isi al-kitab dan mengamalkannya, maka menjadilah seseorang sebagai manusia yang rabbani (hidup menurut aturan Tuhan).
Ilmu yang tidak mendorong manusia untuk beramal tidak dipandang sebagai ilmu yang benar. Karena itu dalam ayat ini kembali ditegaskan tentang amalan itu.
Tafsir Al-Wasith (Prof. dr. Wahbah az-Zuhaili)
Hasan al-Bashri berkata, “Disampaikan kepadaku bahwa seseorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami mengucapkan salam kepadamu sebagaimana kami saling mengucapkan salam satu sama lain, tidakkah kami bersujud kepadamu? ‘Beliau bersabda, “Tidak semestinya bersujud kepada seseorang selain daripada Allah. Akan tetapi, muliakanlah nabi kalian dan tunaikanlah hak kepada pemiliknya.” Lalu Allah menurunkan ayat ini.”
Maka, tidak benar bagi seseorang yang telah mendapatkan karunia dari Allah berupa diturunkannya Kitab, petunjuk kepada hikmah dan kebenaran dalam memahami apa yang diturunkan Allah kepadanya, serta diberikannya kenabian dan risalah kepadanya, kemudain ia meminta kepada manusia untuk menyembahnya semata atau menyembahnya bersama Allah. Ini adalah kesyirikan itu sendiri. akan tetapi hendaknya ia berkata, “Wahai manusia, jadilah kalian rabbaniyyin, yakni orang-orang yang berpegang teguh dengan agama dan taat kepada Allah dengan sebenar-benar ketaatan, disebabkan kalian mengajarkan kitab selain kalian, juga kalian telah mengkaji kitab selain kalian, juga kalian telah mengkaji dan mempelajarinya.” Tidak logis jika seorang nabi menyuruh menjadikan malaikat atau nabi menjadi tuhan yang layak disembah selain Allah, semua itu adalah kefasikan dan kemaksiatan, tidak selaras dengan Islam dan ketertundukkan kepada Allah berdasarkan tabiat dan fitrah, yang mana manusia diciptakan atas fitrah tersebut.
Tafsir kementrian agama RI
Secara etimologis, rabbaniyyin adalah jamak dari kata rabbani. Kta rabbani adalah menisbatkan sesuatu kepada Rabb, yaitu Tuhan. Jika dikaitkan dengan orang, kata ini berarti orang yang telah mencapai derajar makrifat kepada Allah atau orang yang sangat menjiwai ajaran agamanya. Dalam ayat ini Allah memerintahkan Ahli Kitab untuk menisbatkan diri mereka kepada allah, artinya mengikhlaskan diri beribadah hanya kepada Allah, bukan kepada selain Allah sesuai dengan ajaran Alkitab yang mereka pelajari.
Munasabah
Di dalam ayat yang lalu sudah diterangkan kebohongan orang-orang Yahudi yan sengaja dilakukannya terhadap Allah yaitu menyatakan sesuatu dari Allah, padahal bukan daripada-Nya. Kemudia di dalam ayat ini Allah menegaskan lagi tuduhan orang Yahudi terhadap nabi-nabi. Bahwa nabi-nabi menghendaki agar mereka disembah oleh manusia. Tuduhan ini dibantah dengan ayat ini.
Tafsir
Tidak mungkin terjadi dan tidak pantas bagi seorang manusia yang diberi kitab oleh Allah dan diberi pelajaran tentang pengetahuan agama, serta diangkat menjadi nabi, kemudian dia mengajak manusia untuk menyembah dirinya sendiri bukan menyembah Allah. Orang yang diberi keutamaan-keutamaan seperti itu tentunya akan mengajak manusia mempelajari sifat-sifat Allah serta mempelajari hukum-hukum agama, dan memberikan contoh yang baik dalam hal menaati Allah dan beribadan kepada-Nya, serta mengajarkan Kitab kepada sekalian manusia.
Nabi sebagai seorang manusia yang telah diberi keutamaan yang telah disebutkan, tentu tidak mungkin dan tidak pantas menyuruh orang lain menyembah dirinya, sebab dia adalah makhluk Allah. Maka penciptanya yaitu Allah yang harus disembah. Ditegaskan kepadanya adalah menyuruh manusia agar bertakwa kepada Allah, mengajarkan Al-Kitab dan melaksanakannya, hal itu telah ditegaskan oleh firman Allah
Qulillahu a’budu mukhlishollahudiin
Katakalanlah, “Hanya Allah yang aku sembah dengan penuh ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku,” (az-Zumar[39]: 14)
Barangsiapa menyuruh manusia menyembah dirinya, berarti ia mengakui bahwa Allah mempunyai sekutu yaitu dirinya sendiri. Barangsiapa mempersukutukan Allah dengan lain-Nya, berarti ia telah menghilangkan kemurnian ibadah kepada Allah semata. dengan hilangnya kemurnian ibadah berarti hilang pulalah arti ibadah.
أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ ٣
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar (Q.S. Az-Zumar [39]: 3)
Begitu juga firman Allah yang menceritakan seruan Nabi Hud kepada kaumnya:
أَن لَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَۖ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ أَلِيمٖ ٢٦
Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan (Q.S. Hud [11]: 26)
ANALISIS ISI KANDUNGAN AYAT
Berdasarkan ayat al-Quran di atas (Ali Imraan:79), terdapat manusia yang diberi anugerah besar oleh Allah SWT berupa kitab, hikmah dan kenabian. Mereka adalah para nabi dan rasul. Para nabi dan rasul menyeru kepada umatnya untuk tidak menghamba kepada mereka. Tetapi pengikutnya itu harus menjadi seorang yang “rabbani” yang salah satu maknanya ialah orang yang sempurna ilmu dan takwanya. Diantara pengikut para nabi dan rasul terdapat sekelompok oranng yang mengajarkan isi kitab (ajaran agama) berupa berbagai macam pengetahuan yang telah mereka pelajari (dirasah). Mereka itulah yang sekarang dikenal sebagai guru. Berdasarkan penalaran dan pemahaman terhadap ayat al-Quran tersebut, maka guru harus memiliki jiwa “rabbani”. Salah satu makna rabbani ialah memiliki sifat-sifat ketuhanan, dalam arti meneladani sifat-sifat Tuhan dalam kehidupan terutama pada saat menjalankan tugas edukatifnya sejauh batas-batas dan kapasitas kemanusiaannya.
Ibnu katsir menafsirkan kata rabbani dengan hukama, ulama, hulama yang masing-masing merupakan jamak dari kata hakim, alim halim. Hakim artiinya orang yang memiliki hikmah (wisdom); bijaksana. Dalam tataran manusiawi, kandungan makana yang terdapat dalam kata ini harus diteladani manusia, terutama mereka yang berkedudukan sebagai guru. Dengan sifat ini seorang guru harus memiliki sifat bijak, artinya senantiasa mempertimbangkan segala perkataan dan perbuatannya, terutama dampak yang akan ditimbulkannya. Dengan kata lain ia harus senantiasa bijaksana dalam setiap tindakannya. Tidak mudah menjadi orang bijak itu. Hal ini karena kemampuan berbuat bijak ialah yang mampu mengintegrasikan kekuatan iman dan ilmu disertai akhlak yang luhur dengan menjadikan al-Quran dan Sunnah sebagai landasan perilakunya. Merekalah yang diberi anugerah besar berupa hikmah yang Allah berikan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Makanya tidak semua orang bisa menjadi guru dengan hakim (hikmah) sebagai salah satu sifat utamanya. Hal ini didasarkan pada firman Allah Q.S. Al-Baqarah[2]: 269:
يُؤۡتِي ٱلۡحِكۡمَةَ مَن يَشَآءُۚ وَمَن يُؤۡتَ ٱلۡحِكۡمَةَ فَقَدۡ أُوتِيَ خَيۡرٗا كَثِيرٗاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٢٦٩
Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)
Hikmah yang diberikan allah kepada seseorang akan senantiasa menjadikannya memiliki banyak kelebihan disbanding dengan yang lainnya. Kelebihan itu dalam kehidupan di dunia bisa berbentuk keluasan ilmu, keluhuran akhlak, kelapangan sikao, kecukupan harta, dan sebagainya. Al-Quran menyebutnya khairan katsira dan diakhirat berbentuk kebahagiaan yang kekal abadi. Dengan hikmah juga seorang meraih Ulul Albab; satu predikat yang hanya dapat diraih dengan senantiasa berdzikir kepada Allah SWT serta merasa dekat dan takut kepada-Nya.
Penafsiran kedua dari Ibnu Katsir terhadap kata Rabbani ialah al-Ulama. Kata ini merupakan bentuk jama dari kata al-‘Aalim atau al-‘Aliim artinya orang yang berilmu. Ulama adalah orang-orang yang berilmu yang dengan ilmunya ia beramal dan benar-benar memiliki rasa takut kepada Allah Q.S. Fathir [35]: 28:
وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَآبِّ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ مُخۡتَلِفٌ أَلۡوَٰنُهُۥ كَذَٰلِكَۗ إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ٢٨
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun
Seorang guru harus merupakan sosok seorang ulama yang luas ilmunya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pengamalan ilmu tersebut didasarkan pada ketaatan dan rasa takut kepada Allah.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٢ كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٣
Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan; Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Q.S. Ash-Shaff: 2-3)
Kecurangan dan manipulasi dalam berbagai bentuknya akan senantiasa dihindarinya. Seorang guru yang berkarakter ulama akan menjalankan tugasnya dengan penuh perhatian, cinta kasih, takut kepaa Allah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika mendidik keluarga dan sahabatnya, karena ulama merupakan pewaris para nabi (al-Ulama waratsat al-Anbiya). Kekuatan akidah dan kemuliaan akhlak merupakan ciri utamanya.
Dalam pandangan Quraish Shibab, terdapat empat tugas utama yang harus dijalankan oleh ulama sesuai dengan tugas kenabian dalam mengembankan kitab suci. Pertama, menyampaikann (tabligh) ajaran-ajarannya, sesuai dengan perintah, “wahai Rasul sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu” (Q.S. al-Maidah [5]: 67). Kedua, menjelaskan ajaran-ajarannya berdasarkat ayat, “dan Allah turunkan bersama mereka Al-Kitab dengan benar, agar dapat memutuskan perkara yang diperselisihkan manusia” (Q.S. al-Baqarah[2]: 213). Keempat, memberikan contoh pengamalan, sesuai dengan hadits Aisyah yang diriwayatkan Bukhari yang menyatakan bahwa perilaku nabi adalah praktik dari Al-Quran.
Penguasaan seorang guru terhadap ilmu pengetahuan terutama yang menjadi bidang keahliannya merupakan salah satu syarat mutlak keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran. Cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kemampuan dan penguasaan materi kelimuan diantaranya lebih banyak membaca sumber, diskusi dengan pakar atau teman sejawat, mengakses dari berbagai media seprti internet, melakukan studi lanjut, dan sebagainya. Keberhasilan seorang guru dalam menguasai sejumlah ilmu pengetahuan –walaupun tetap dalam pandangan al-Quran ilmunya sedikit (Q.S. al-Isra [17]: 85)- dan menjadikan dirinya sebagai seorang guru yang professional, harus dapat menjadikan dia berkepribadian ulama dengan memiliki sikap tawadhu (rendah hati), tasamuh (toleran), ta’awun (tolong menolong), dan sebagainya. Cahaya keulamaan dan keluhuran akhlaknya akan menjadikan hati anak didiknya tersinari. Mereka akan mendapatkan banyak ilmu yang barokah dan bermanfaat dari sosok guru yang berkepribadian ulama.
Penafsiran ketiga dari Ibnu Katsir terhadap kata Rabbani adalah al-Hulamaa, yang merupakan bentuk jamak dari kata al-haliim. Dengan sifat ini guru seorang guru akan memiliki sifat santun dan tidak sudah melakukan tindakan keras (menyiksa) walaupun memiliki kesempatan dan kemampuan untuk melaksanakannya. Seorang guru yang memiliki sifat halim/hilm akan menghadapi perilaku anak didiknya terutama yang negative dengan sifat bijaksana dan penuh kasih sayang. Halim/hilm juga merupakan puncak tertinggi dari kesadaran dan kesantunan seseorang dalam meperlakukan orang lain dengan penuh kasih sayang.
Keberhasilan dakwah Nabi Muhammad SAW salah satu factor penunjangnya adalah sifat Halim/hilm yang dimilikinya tersebut merupakan cermin kelembutan hatinya (layyin al-qalb), kesantunan dan kelembutan hati Nabi SAW tersebut dijelaskan dalam firman Allah Q.S. ali Imran [3]: 159:
فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ ١٥٩
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
PENUTUP
Berdasarkan ayat Quran Surat Ali-Imran [3]: 79, jika kaitkan dengan pendidikan maka dapat ditafsirkan bahwa seorang pendidik harulah memiliki jiwa yang rabbani yakni jiwa yang meneladani asma-asma Allah serta sempurna ilmu dan takwanya. Ada tiga tafsiran menurut Ibnu Katsir dalam memahami kata rabbani dengan kaitannya dengan seorang pendidik. Yakni: Pertama, seorang pendidik harus memiliki sifak hukamaa (bijak); Kedua, pendidik haru memiliki sifat ulamaa yakni berilmu yang dengan ilmunya ia beramal dan benar-benar takwa kepada Allah; dan Ketiga, Pendidik harus memiliki sifat al-Hulamaa (santun) yakni memperlakukan muridnya dengan penuh kasih sayang.
Sekian ulasan saya dalam paper ini mengenai kajian tafsir tentang pendidik berdasarkan Q.S. Ali-Imran ayat 79. Saya mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang kurang berkenan di dalam paper ini. Kebenaran hanya milik Allah SWT. dan kesalahan adalah milik saya. Terimakasih atas waktu yang pembaca luangkan, semoga ada manfaat yang dapat dipetik dalam paper ini.
DAFTAR PUSTAKA
A. Mudjab Mahali. 2002. Asbabun nuzul: studi pendalaman al-Quran. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Ahmad Mustafa al-Maragi. 1974. Tafsir Al-Maraghi. Diterjemahkan oleh: Bahrun Abubakar dkk. Semarang: CV. Toha Putra Semarang
Cecep Anwar. 2016. Tafsir ayat-ayat pendidikan. Bandung
Kementrian Agama RI. 2011. Al-Quran dan tafsirnya. Jakarta: Widya Cahaya
M. Quraish Shihab. 2002. Tafsir al-Misbah. Jakarta: Lentera hati
Muhammad Nasib ar-Rifa’i. 2011. Kemudahan dari Allah: ringkasan tafsir ibnu katsir jilid 1. Diterjemahkan oleh: Budi Permadi. Jakarta: Gema Insani
Syahid Sayyid Quthb. 2001. Tafsir fi Zhilali-Quran dibawah naungan al-Quran jilid 2. Diterjemahkan oleh: As’ad Yasin dkk. Jakarta: gema Insani Press
Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. 2000. Tafsir al-Quranul Majid an-Nuur. Semarang: Pustaka Rizki Putra
Wahbah Az-Zuhaili. 2012. Tafsir al-Wasith jilid 1 (Al-Faatihhah-At-Taubat). Diterjemahkan oleh: Muhtadi. Jakarta: Gema Insani
Komentar