PROBLEM PAI DALAM KELUARGA



PROBLEM PAI DALAM KELUARGA

MAKALAH
Dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah PAI dalam Keluarga
Dosen
Prof. Dr. H. Uus Ruswandi, M.Pd.

Bahan diskusi kelompok 1
Jahid Ridwan 1152020102
Kristin Wiranata 1152020108
Lasri Zakiah 1152020114
M. Zamzam 1152020124

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI 
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2018

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kepada Allah subhanahu wata’ala karena berkat ridho-Nya kami dapat menyusun makalah yang berjudul “Problem PAI dalam Keluarga” untuk memenuhi salah satu tugas kelompok pada mata kuliah PAI dalam Keluarga. Shalawat dan salam semoga senatiasa sampai kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang membawa kita selaku umatnya kepada jalan kebenaran.
Penyusun meyampaikan terima kasih kepada dosen mata kuliah PAI dalam Keluarga, Prof. Dr. H. Uus Ruswandi, M.Pd. yang telah memberikan arahannya kepada kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan. 
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kami menerima kritik dan saran dari pembaca, sehingga dapat menjadi sebuah pembelajaran dan perbaikan untuk kami agar menjadi lebih baik lagi kedepannya.


Bandung, 20 Febuari 2018


Penyusun 










DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. Pendidikan Agama yang Utama dan Pertama Adalah Keluarga 3
B. Problem Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga 5
1. Wibawa Orang Tua Berbanding Lurus dengan Teladan 5
2. “Krisis Tokoh Idola” 6
3. Hilang Kontrol dalam Mengawasi Lingkungan Pergaulan Anak 7
4. Waktu Luang Para Remaja yang Kurang Teroptimalkan 8
5. Tontonan yang Buruk 8
6. Ketidakharmonisan Rumah Tangga 9
7. Pemberian Pola Asuh yang Kurang Tepat dan Hak Anak yang Terabaikan 10
8. Kefakiran yang Menaungi sebagian Rumah 12
9. Musibah Keyatiman 13
10. Ibu “Sosok Madrasah Utama yang Tidak Dapat Tergantikan” 14
11. Orang Tua perlu Update Informasi 15
BAB III PENUTUP 16
DAFTAR PUSTAKA 17







BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Kepemimpinan dalam keluarga merupakan suatu amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Dalam menunaikan amanah tersebut perlulah dilandasi oleh berbagai ilmu dalam upaya pembinaan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Maka diadakanlah suatu pendidikan dalam unit keluarga yang mana berperan sebagai pendidikan awal dan utama. Jika pendidikan agama pada tahapan pertama (keluarga) baik, maka akan memudahkan pendidikan agama di sekolah dan masyarakat dapat terjalin dengan baik.
Namun, di dalam realita yang nampak, seringkali dijumpai berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pendidikan agama di rumah. Mendidik PAI di dalam keluarga tidaklah mudah, diperlukan adanya peneladanan dan pembiasaan secara berkesinambungan. Untuk menyelesaikan berbagai permasalahan mengenai pendidikan agama di keluarga perlulah dikenali berbagai permasalahan yang seringkali muncul ke permukaan. 
Sebagai seorang guru agama, perlulah memahami bagaimana karakteristik peserta didiknya, mengenal bagaimana background keluarganya, sehingga seorang guru agama dapat memberikan pendekatan dan metode pengajaran yang lebih efektif dan efisien. Tidak jarang dijumpai anak didik yang memiliki perilaku menyimpang di sekolah dikarenakan faktor kurangnya pendidikan agama dalam keluarga. Untuk mengatasi hal tersebut, guru akan melakukan pendekatan terhadap keluarga anak didiknya, menganalisis berbagai problema yang muncul, dan memberikan solusi jitu guna memperbaiki jiwa spiritual anak didiknya.
Dari permasalahan tersebut kami merasa tergugah untuk membuat sebuah makalah yang berjudul “Problem PAI dalam Keluarga”. Semoga dengan adanya makalah ini, kita sebagai calon guru dapat memahami ilmu mengenai PAI dalam keluarga dan mengenali berbagai permasalahan PAI dalam keluarga yang seringkali muncul.

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah di dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
Apa maksud bahwa keluarga merupakan pendidikan agama yang pertama dan utama?
Apa saja problem yang dijumpai dalam melaksanakan pendidikan agama Islam dalam keluarga?

























BAB II
PEMBAHASAN

Pendidikan Agama yang Utama dan Pertama Adalah Keluarga
Pendidikan agama di sekolah sebenarnya terletak pada pendidikan agama dalam rumah tangga. Inti pendidikan dalam rumah tangga itu ialah hormat kepada Tuhan, kepada orang tua, kepada guru. Bila anak didik tidak hormat kepada guru, berarti ia juga tidak akan menghormati agama. Bila agama Islam dan guru agama tidak dihormati, maka metode pendidikan agama yang baik pun tidak akan ada artinya. Itulah yang umumnya terlihat sekarang, terutama di sekolah umum. Oleh karena itu, pendidikan agama dalam rumah tangga sebenarnya tidak boleh terpisah dari pendidikan agama di sekolah; mula-mula adalah pendidikan agama dalam rumah tangga sebagai pondasi, kemudian dilanjutkan di sekolah sebagai pengembangan rinciannya. 
Berdasarkan uraian itu maka jelaslah bahwa pembangunan sumber daya manusia, termasuk pembinaan anak, erat sekali kaitannya dengan penumbuhan nilai-nilai seperti takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, jujur, berdisiplin, dan memiliki etos kerja yang tinggi. Hal ini bukanlah suatu proses sesaat, melainkan suatu proses yang panjang yang harus dimulai seidini mungkin, yaktu sejak masa anak-anak. Itu adalah pendidikan dalam rumah tangga.
Rumah tangga adalah amanah, anak juga adalah amanah, jika arah bahtera rumah tangga berlawanan dengan ridho-Nya berarti manusia telah berkhianat kepada amanah yang dititipkan-Nya. Masing-masing anggota keluarga merupakan pemimpin atas dirinya, dan mestilah menunaikan kewajibannya selaku anggota keluarga. Kelak di akhirat, semua manusia akan ditanyai pertanggungjawabannya ketika di dunia, demikian juga pertanggungjawaban atas amanah dalam keluarga. Oleh karena itu, agar keluarga yang dicintai di dunia ini tidak menjadi musuh di akhirat kelak, hendaklah menjaga dirinya dan keluarganya dair adzab dan murka-Nya. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ 
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim: 6)
Untuk dapat menjaga keluarga agar selalu dalam ridha-Nya diperlukanlah pendidikan agama didalamnya. Jika terdapat pola pendidikan agama yang kurang tepat atau salah dalam keluarga, tentu hal ini akan berdampak kepada perkembangan agama anak pada fase perkembangan selanjutnya. Tentu hal ini merupakan suatu permasalahan yang fatal. Terdapat beberapa kasus dalam masyarakat yang mana orang tua menyerahkan pendidikan agama sepenuhnya kepada ustadz/majelis ta’lim tertentu. Tentu hal ini merupakan hal yang baik, sebab mereka telah mengarahkan pola pendidikan agama sang anak kepada ahlinya. Namun, jika pendidikan agama diserahkan ‘sepenuhnya’ kepada ustadz atau guru, tanpa ada tindak lanjut/feedback orang tua terhadap hasil pembelajaran agama yang telah diperoleh anak di lembaga tersebut, maka tidak akan memberikan hasil yang berarti dalam perubahan tingkah laku anak. Bahkan ada sebagian orang tua yang mengabaikan pendidikan agama, dan mereka menganggap bahwa pendidikan agama di sekolah umum itu ‘cukup’. Padahal, pendidikan agama di sekolah umum hanya memiliki porsi pendidikan agama yang sangat sedikit, selain itu juga dengan waktu pengajaran agama yang singkat di sekolah, sulit rasanya seorang guru agama memberikan pendidikan agama yang kompleks dan menyentuh seluruh aspek koginitif, afektif dan psikomotorik anak didik secara optimal. Oleh karena itu kebutuhan spiritual anak tidak terpenuhi secara optimal, dan jangan aneh jika muncul berbagai perilaku buruk akibat kurangnya pemenuhan kebutuhan spiritual anak.
Pendidikan agama oleh orang tua di rumah tidaklah terlalu kaku seperti di sekolah/lembaga agama tertentu yang terdapat sistematika kurikulum pengajarannya. Pendidikan agama di rumah hanya sebatas pengenalan anak terhadap Allah subhanahu wa ta’ala, penanaman akhlak/nilai dan karakter, serta pembiasaan amaliyah. Pendidikan agama dalam keluarga tentu sangat signifikan dalam mewarnai jiwa spiritual anak. Apabila terdapat kejanggalan di dalamnya, tentu mengakibatkan adanya hambatan dalam pendidikan agama, sebab salah satu lingkungan pendidikan (trilogi pendidikan) di samping sekolah dan masyarakat adalah pendidikan keluarga. Untuk membentuk anak yang religius, intelek, terampil, dan pandai tentulah perlu adanya sinergitas pendidikan agama dalam ketiga lingkungan pendidikan tersebut.
Problem Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga
Wibawa Orang Tua Berbanding Lurus dengan Teladan 
Anak cenderung mengikuti perilaku orang tuanya, agaknya hal ini sesuai dengan ungkapan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Apabila anak diibaratkan bagaikan kertas putih yang membawa fitrah maka orang tuanya yang pertama kali menorehkan warna dalam kertas tersebut dan mengarahkan fitrahnya. Sungguh sangat disayangkan apabila fitrah murni yang sangat berharga tersebut disia-siakan atau bahkan dinodai. Mendidik anak di kala kecil ibarat mengukir di atas batu. Segala tindak-tanduk orang tua akan diamati oleh anak dan cenderung untuk diikuti. Sebab bagi anak, sosok orang tua merupakan sosok teladan bagi mereka. 
Ada peribahasa “guru kencing berdiri murid kencing berlari”. Menurut ilmu kejiwaan memang masuk akal. Karena anak atau murid cenderung meniru tingkah laku guru atau anak meniru perilaku orang tua. Sesuai dengan ajaran dalam Agama Islam bahwa dakwah islamiyyah zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu adalah 75% dengan metode contoh laku perbuatan baik dan 25% dengan sistem pidato atau ceramah. Maka orang tua yang tidak dapat memberikan contoh teladan yang baik kepada anak-anaknya jangan diharap akan dapat membimbing para anaknya kepada kebaikan yang diharapkan. Apabila ucapan orang tua tidak konsisten atau tidak sesuai dengan perilakunya, maka hal ini pun akan berdampak kepada turunnya wibawa orang tua dihadapan anaknya. Sehingga anak sulit untuk mematuhi perintah orang tuanya. 
“Krisis Tokoh Idola”
Generasi masa depan adalah generasi yang terancam. Gejala keresahan ini tampak pada semakin rapuhnya ikatan keluarga masa kini dan rapuhnya pribadi-pribadi-pribadi manusia modern. Pribadi yang rapuh dan lemah mudah sekali untuk diombang-ambing oleh arus zaman. Ia tidak dapat menghadapi arus zaman yang kuat. Apakah sosok pribadi yang ‘labil’ seperti ini dapat diharapkan?
Keluarga Muslim merupakan keluarga-keluarga yang telah “tercerahkan” dan mempunyai tanggung jawab yang paling besar, terutama dalam mendidik generasinya dan generasi-generasi berikutnya untuk mampu menghindarkan dari perbudakan materi. Karena lingkup masyarakat yang lebih luas dan telah terjebak dalam pola hidup materialisme, dan secara tidak disadari bahwa sebagian besar keluarga Islam juga telah tercemari olehnya, dan ini merupakan kendala, maka keluarga-keluarga Islam yang sadar wajib membina generasi penerusnya untuk didik menjadi “khalifah-khalifah” pengendali materi, bukan menjadi budak materi. Segala materi atau benda yang ada di dunia hanyalah makhluk ciptaan Allah yang menyiratkan tanda-tanda kebesaran Allah.
Sebagai keluarga Muslim hendaknya tidak silau dengan keberhasilan atau kejayaan yang diperoleh oleh manusia yang mengingkari Allah yakni dengan cara tidak menjadikan mereka sebagai panutan dan sosok idola yang digugu dan ditiru. Memang dari segi materi mereka terlihat penuh kecukupan, namun dari aspek rohani mereka mengalami kekeringan yang amat sangat. Umat Islam sungguh telah memiliki kekuatan yakni dua pusaka Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mana belum teroptimalisasi secara optimal. Jika diamati, syari’at Islam sangatlah lengkap dan kompleks untuk dijadikan pedoman dan norma yang dapat dianut umat manusia di dalam segala aspek. Syari’at Islam sangatlah integral dan tidak dogmatis sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh kejayaan dunia-akhirat itu mudah dan amat dekat jika manusia mengkuti jejaknya.
Maka, untuk menjadi keluarga yang tangguh dan bahagia dunia-akhirat, patutlah kita meniru panutan yang telah Allah utus terhadap umat manusia yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguhlah pantas manusia meneladani perilaku beliau. Dari segala bidang beliau telah memberikan contoh yang terbaik, baik sebagai pemimpin dalam masyarakat dan keluarga, sosok pendidik yang baik, pengusaha yang sukses, dan lain sebagainya sehingga terciptalah suatu perubahan di dalam tatanan peradaban umat manusia. Bahkan tokoh Barat sekalipun, Michael H. Hart menaruh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai urutan pertama dalam daftar seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.
Hilang Kontrol dalam Mengawasi Lingkungan Pergaulan Anak
Diantara faktor – faktor yang memungkinkan anak menyimpang ialah teman temen sepermainan yang jahat dan rusak moralnya. Maka iya pun akan berkebiasaan sesat dan berprilaku jahat. Bahkan ia akan berjalan bersama mereka pada jalan yang terjerumus dengan cepat sehingga perbuatan jahat dan penyimpangan menjadi bagian dari tabiat dan kebiasaan mereka. Kalau sudah separah ini, tentu akan sulit mengembalikannya kejalan yang lurus serta menyelamatkannya dari kesesatan dan keterjerumusan.
Islam dengan ajaran pendidikannya membimbing para orang tua untuk mengontrol dan mengamati sepenuhnya anak-anak mereka, lebih-lebih pada usia remaja dan pubertas. Hendaknya mereka mengetahui dengan siapa mereka bergaul dan berteman, kemana mereka pergi, dan apa tujuan mereka.
Bersamaan dengan itu, islam juga membimbing anak-anak untuk memilih teman bergaul yang sholeh agar mereka terpengaruh oleh akhlak yang mulia, sopan santun yang luhur, dan kebiasaan yang positif, seperti juga islam melarang mereka bergaul dengan orang-orang jahat berteman dengan orang yang jelek akhlaknya sehingga mereka tidak terjerumus kedalam kesesatan dan penyelewengannya.  
Waktu Luang Para Remaja yang Kurang Teroptimalkan
Para pendidik (orang tua) haruslah memperhatikan gejala-gejala pada anak yang sudah memasuki masa pubertas sehingga mereka dapat mengisi waktu ruang mereka dengan aktivitas yang menyehatkan badan, memperkuat organ-organ tubuh mereka. Jika mereka sulit mendapati tempat bermain, bercanda berolah raga, menyiapkan kekuatan fisik, berlatih, belajar, dan untuk aktivitas lainnya, maka mereka biasanya akan bergaul dengan teman-teman yang jelek, kawan-kawan yang bermental jahat dan rusak yang jelas akan mengakibatkan mereka terjerumus dan menyeleweng. Islam, dengan pengaruhnya yang mulia, mengatasi waktu luang anak-anak remaja dengan kegiatan-kegiatan praktis yang dapat menyehatkan fisik, memberi kekuatan, antusiasme, dan semangat. Diantara saran-saran mulia itu ialah membiasakan mereka beribadah, terutama sholat lima waktu sebagai tiang, tonggak, dan pondasi agama, yang didalamnya terdapat manfaat spiritual, fisik, moral, dan psikologis.
Tontonan yang Buruk
Di antara faktor-faktor utama yang menyebabkan menyimpangnya anak dan mendorongnya terjerumus melakukan dosa adalah karena menyaksikan film-film kriminal dan porno di bioskop dan televisi atau melalui media massa lainnya. Semua ini mendorong untuk melakukan penyimpangan dan tindak kejahatan. Tontonan yang sadistis dan pornografis itu merusak mental (selanjutnya fisik), baik bagi orang dewasa maupun bagi anak-anak. Bagi anak-anak pengaruhnya akan lebih besar sekali karena tontonan itu akan meninggalkan kesa yang tegus dan dalam jiwa anak-anak itu. Kelak, setelah anak-anak itu remaja, kesan itu bekerja, lantas dibarengi dengan keadaan mental yang bergejolah (gejolak remaja), biasanya remaja itu tidak dapat mengendalikan dirinya. Bila demikian maka nasihat dan  bimbingan para orang tua dan guru tidak akan besar lagi manfaatnya. Oleh karena itu, para pendidik Muslim berpendapat bahwa tontonan sadis dan porno itu amat berbahaya bagi anak-anak, remaja, dan juga bagi orang dewasa. Pemerintah yang dewasa seharusnya memerhatikan persoalan ini. Maka dengan didasarkan atas prinsip Islam dan metode pendidikan, setiap orang tua, pendidik dan penanggung jawab wajib mencegah anak-anak menyaksikan tontonan yang buruk tersebut.
Ketidakharmonisan Rumah Tangga 
Di antara faktor-faktor dasar yang mengakibatkan penyimpangan anak ialah terjadinya perselisihan dan konflik akut antara ibu-bapak setiap kali bertemu. Setiap kali anak membuka kedua matanya di rumah, yang terlihat adalah permusuhan di depan matanya sehingga ia akan segera meningalkan rumah pengap tersebut dan akan melarikan diri ke rumah dan keluarga orang lain untuk mencari teman bermain dan bergaul untuk mengisi kekosongan. Sekiranya teman-teman itu jahat dan berperangai buruk, tidak mustahil ia akan terbawa dan tertulari. Malah ketertularan penyimpangan dan penyelewengan ini akan semakin menjadi-jadi dan akhirnya akan menjadi bencana  buat  negara dan masyarakat. Sementara itu Islam dengan prinsip-prinsip yang bijaksana dan abadi telah merumuskan bagi pelamar cara yang benar dalam  memilih calon istri. Begitu juga Islam telah menjelaskan cara terbaik dalam memilih menantu lelaki kepada para wali perempuan, semua itu bertujuan untuk mewujudkan cinta, kasih sayang, saling pengertian, dan saling membantu antara suami istri. Konsekuensi berikutnya adalah dapat menghindarkan kemusykilan rumah tangga dan konflik yang memang sering terjadi antara suami istri. Dalam pasal pertama kami telah menjelaskan dasar dasar yang sehat dalam memilih suami atau istri. Semua itu, tidak diragukan lagi, merupakan dasar-dasar permanen agung guna menyongsong rumah tangga bahagia, dan untuk menyiapkan keluarga yang ideal, harmonis, saling mencintai, dan saling mengerti. 


Pemberian Pola Asuh yang Kurang Tepat dan Hak Anak yang Terabaikan 
Bila anak diperlakukan secara keras oleh kedua orang tuanya dan oleh para pendidiknya, seperti dipukul keras, dihina dengan pedas yang menjurus pada penghinaan dan ejekan, reaksinya akan tampak pada perilaku dan akhlaknya. Gejala takut dan cemas akan tampak pada tindak-tanduk anak, terkadang hal itu akan mendorongnya untuk bunuh diri atau mungkin membunuh kedua orang tuanya, atau akhirnya meninggalkan rumah untuk membebaskan diri dari situasi dan kekerasan yang zalim dan perlakuan yang menyakitkan. Maka tidak aneh dalam keadaan seperti ini bila kita melihatnya jahat di tengah-tengah masyarakat, nakal dan menyimpang dalam hidup ini. Dan tidak aneh pula bila ia tumbuh besar dalam suasana timpang dan tersesat.
Islam, dengan ajaran-ajarannya yang lurus dan abadi, memrintahkan setiap orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk memberikan penyuluhan dan bimbingan. Lebih-lebih para orang tua, mereka harus membimbingnya untuk berakhlak mulia, lemah lembut, penuh kasih sayang sehingga anak tumbuh istiqamah dan terdidik berani serta berkepribadian merdeka. Maka akhirnya mereka dapat merasakan bahwa mereka punya harga diri, mulia dan terhormat. Sikap lemah lembut terhadap anak sebagaimana yang tertera dalam hadits berikut:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ تُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ فَمَا نُقَبِّلُهُمْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ
dari 'Aisyah radliallahu 'anha dia berkata; "Seorang Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata; “Kalian menciumi anak-anak kalian, padahal kami tidak pernah menciumi anak-anak kami.” Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Apakah aku memiliki apa yang telah Allah hilangkan dari hatimu berupa sikap kasih sayang?” (HR. Bukhari, No.5539)

Pola asuh yang tepat dari orang tua kepada anaknya dan memberikan perlindungan terhadap hak-hak anak mempunyai hubungan yang sangat kuat terhadap pembentukan karakter anak ketika ia dewasa. Cara pengasuhan bagaimana, orang tua dapat membimbing anaknya sesuai dengan delapan fungsi keluarga dalam melindungi anak-anaknya sebagai hak-hak yang harus diterimanya. Dua hal ini tampaknya perlu mendapat perhatian orangtua sejak awal dalam membentuk karakter anak sejak usia dini. Peranan orang tua sebagai pemenuhan kebutuhan anak akan kasih sayang, perhatian dan rasa aman serta kebutuhan lainnya dalam takaran yang tepat. Sehingga pemenuhan kebutuhan anak di usia dini sangat berarti bagi anak ketika secara emosional berada dalam ketergantungan orang tua. Ketergantungan ini akan terus berlangsung sampai anak sekolah bahkan sampai menjelang dewasa. Oleh karena itu, sejak dini orang tua perlu menyediakan waktu bukan hanya bersama anak akan tetapi melakukan interaksi yang bermakna sesuai dengan kebutuhan anak dalam asih, asuh, dan asah. Ketidakhadiran orang tua secara fisik dan emosional dapat menimbulkan efek negatif pada anak. Perkembangan anak terhambat dan mengalami depresi serta kurang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Pola asuh orang tua dalam mendidik anak pada usia dini mencakup pemberian rangsangan fisik, mental, emosional, moral maupun sosial (dan spiritual) yang akan mendorong tumbuh kembang anak dalam berbagai dimensi kepribadiannya secara optimal. Model pola asuh juga sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak. Misal, anak yang diasuh secara otoriter  akan menjadi pasif, agresif di belakang orang tua, sangat ketergantungan, dan lain sebagainya. Adapun pola asuh permisif akan menyebabkan anak dapat berontak apabila tidak dipenuhi kebutuhannya, orang tua tidak berdaya, selalu melawan, dan lain sebagainya. 
Sebagaimana orang tua yang memiliki hak terhadap anaknya, anak pun memiliki hak yang wajib dipenuhi oleh orang tua. Orang tua tidak hanya sekedar melahirkan anak saja, melainkan mereka pun harus memberikan pendidikan sebagai bentuk wujud melaksanakan amanah yang Allah titipkan kepadanya. adapun kewajiban orang tua terhadap anak adalah: 
Memberikan nama yang baik
Membaguskan akhlaknya
Mengajar baca tulis
Mengajarkan keterampilan
Memberi makanan yang halal
Menjodohkannya bila telah dewasa dan orang tua telah mampu
Mengadakan aqiqah
Memberikan pelajaran al-Qur’an
Memerintahkan shalat
Mengkhitankan
Memberi pendidikan tauhid dan keimanan
Memberikan pendidikan jasmani
Memberi atau meninggalkan harta/mewarisi (jika ada)
Jika kewajiban orang tua terhadap anaknya telah dipenuhi, diharapkan anak dapat sadar atau tersadar untuk memenuhi hak-hak orang tua yang terdapat dalam dirinya. Dengan demikian, akan tercipta keharmonisan hubungan orang tua dan anak, yang mana setiap individu menyadari kewajibannya sebagai anggota keluarga.
Kefakiran yang Menaungi sebagian Rumah
Sebagaimana diketahui, ketika seorang anak kecil tidak mendapati makanan dan pakaian cukup dirumahnya dan tidak mendapati orang yang dapat memberikan pertolongan untuk hidup layak orang yang memberikan -sebab penghidupan-, disamping melihat kefakiran, kehinaan dan kepapanan disekelilingnya, maka tidak diragukan lagi anak itu akan segera meninggalkan rumah untuk mencari sebab-sebab tersebut, dan berusaha mengejar rezeki sehingga iapun jika kurang pendidikan agamanya akan mudah terjerumus kedalam tangan-tangan jelek dan jahat, tenggelam kedalam kejahatan dan penyelewengan. Dan akhirnya ditengah-tengah masyarakat anak itu menjadi orang jahat, mengancam jiwa, harta benda dan nama baik. 
Islam, dengan syariatnya yang adil, telah meletakan dasar-dasar yang memadai untuk memerangi kefakiran tersebut dan mengakui hak hidup mulia bagi setiap insan. Diantara syariatnya ialah Islam menjamin, minimal bagi setiap individu, berupa papan (tempat tinggal), pangan dan sandang. Bagi komunitas Islam, Islam juga telah merumuskan sistematika praktis untuk mengusir tuntas kefakiran seperti memberikan lapangan pekerjaan bagi setiap penduduk dan menyediakan baitulmal bagi yang lemah. Dan Islam juga memberikan asuransi kekeluargaaan bagi setiap ayah yang mempunyai keluarga dan anak, dan memperhatikan panti asuhan yatim-piatu, panti janda dan panti jompo. Semuanya ini bertujuan untuk memelihara kemuliaan kemanusiaan mereka. Mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi mereka, dan cara serta metode dan hukum-hukum yang jika terwujud dan dilaksanakan, maka sebab-sebab kriminalitas, absurditas dan kepapanan akan musnah, yang pada akhirnya akan menghapuskan seluruh fenomena kemiskinan, kebuasan, dan kepapanan.
Musibah Keyatiman
Di antara faktor-faktor mendasar yang mengakibatkan anak tergelincir ialah ditinggal mati bapaknya sewaktu ia masih kecil. Anak yatim ini, bila tidak mendapat uluran tangan kasih sayang, hati penyayang yang mengasihinya, bila tidak mempunyai kerabat dekat yang bisa diandalkan untuk memeliharanya dengan baik serta mengurus dan menjaminnya, mendidik dan membimbingnya serta menolong menutupi laparnya, maka tidak diragukan lagi situasi kritis ini akan mempercepat anak yatim itu terjerumus ke lembah penyimpangan dan kriminalitas. Islam, dengan syariatnya yang abadi dan pengarahan-pengarahannya yang bijak, memerintahkan orang-orang yang mendapat wasiat dan orang yang sekerabat dengan anak yatim agar memperlakukannya dengan baik, menjamin kebutuhannya, membimbing dan mengarahkannya sehingga anak yatim itu terdidik dengan baik, tumbuh dengan akhlak-akhlak mulia dan jiwa yang luhur, mendapat kelembutan, kasih sayang, keramahtamahan, dan keikhlasan dari orang-orang yang memeliharanya.
Berikut ini adalah sejumlah ajaran islam yang memerintahkan pemeliharaan dan perlakuan lembut kepada anak yatim. Allah berfirman:
وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡيَتَٰمَىٰۖ قُلۡ إِصۡلَاحٞ لَّهُمۡ خَيۡرٞۖ وَإِن تُخَالِطُوهُمۡ فَإِخۡوَٰنُكُمۡ 
Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: "Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu (QS. Al-Baqarah: 220)
Dan masih banyak lagi perintah Allah dan petunjuk Nabi untuk memelihara dan menjamin anak yatim. Itu wajib bagi kaum kerabat dan yang ada hubungan darah. Dalam keadaan mereka fakir dan lemah ekonomi, maka negara wajib menyediakan dan menjamin pendidikannya serta mengurusnya sehingga dengan begitu ia akan terhindar dari kebrutalan, kenistaan, dan ketidakpedulian.
Ibu “Sosok Madrasah Utama yang Tidak Dapat Tergantikan”
Wanita sebagai istri
Seorang istri yang bijaksana dapat menciptakan suasana rukun-damai dan menyenangkan dalam rumah tangga. Ia dapat membuat hati suaminya terpikat kepada suasana keluarganya. Suami akan lebih senang dan gembira jika dapat berkumpul dengan keluarganya daripada pergi bermain keluar. Banyak beberapa kerusuhan moral terjadi akibat keruh dan goncangnya suasana rumah tangga. Dan berapa banyaknya suami terdorong untuk menyeleweng, korupsi dan tidak jujur, akibat tidak bijaksananya istri. Apabila istri dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan membahagiakan di rumah, maka suami akan lari pulang, apabila ia mengalami kesusahan di luar rumah ia akan cepat mencari istrinya, apabila ia merasa gelisah dan tidak dapat mengatasi persoalan yang sedang dihadapinya. Suami yang merasa bahwa segala kebutuhannya baik jasmani, rohani, dan sosial terpenuhi dengan bantuan istrinya, maka orang yang paling dicintai dan dihargainya adalah istrinya. Ia tidak akan mau menyakiti hati istrinya, dan tidak akan mudah tertarik ke dalam pergaulan yang bertentangan dengan agama. Dengan demikian istri telah membina moralnya sendiri dan membantu pula pembinaan moral suaminya.
Wanita sebagai Ibu
Betapa besarnya peranan seorang ibu dalam membina moral/mental agama anak-anaknya. Seorang anak yang dibesarkan, dipelihara dan didik dalam rumah tangga yang aman-tenteram, penuh dengan kasih-sayang akan dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik serta pribadinya akan terbina dengan baik pula. Lebih-lebih apabila ibu-bapaknya mengerti agama dan menjalankannya secara istiqamah. Oleh karena itu dalam dakwwah kita harus menunjukkan perhatian yang besar terhadap pembinaan wanita dalam keluarga, baik sebagai ibu maupun sebagai istri. Di antara yang dapat kita lakukan dalam berdakwah, ialah membina keluarga, sesuai dengan keadannya masing-masing, antara lain:
Wanita terpelajar yang kurang mengenal agama, terhadap golongan ini diperlukan pengertian tentang agama yang dapat dicapainya dengan cara ilmiah.
Wanita beragama yang kurang menguasai ilmu umum, bagi wanita seperti ini perlu diadakan peningkatan dalam bidang umum dan memperluas cakrawala khazanah ilmu-agama.
Wanita dari kalangan awam, terhadap golongan ini perlu diadakan peningkatan dalam segala bidang kehidupan, di samping agama.
Orang Tua perlu Update Informasi
Dalam mendidik anak di zaman sekarang, orang tua perlu mengikuti dan update terhadap informasi terbaru sehingga tidak ada lagi suatu kasus dimana anak membohongi orang tuanya yang kurang paham IPTEK. Orang tua juga selalu mengkontrol bagaimana cara anak dalam menggunakan teknologi dan memberikan tips-tips agar dapat memanfaatkan teknologi sebagaimana mestinya. Diharapkan dengan orang tua yang selalu update, pergaulan anak di media sosial dapat diawasi dan diarahkan dengan baik.
BAB III
PENUTUP

Bila anak didik tidak hormat kepada guru, berarti ia juga tidak akan menghormati agama. Bila agama Islam dan guru agama tidak dihormati, maka metode pendidikan agama yang baik pun tidak akan ada artinya. Itulah yang umumnya terlihat sekarang, terutama di sekolah umum. Oleh karena itu, pendidikan agama dalam rumah tangga sebenarnya tidak boleh terpisah dari pendidikan agama di sekolah; mula-mula adalah pendidikan agama dalam rumah tangga sebagai pondasi, kemudian dilanjutkan di sekolah sebagai pengembangan rinciannya.
Namun di dalam melakukan pendekatan terhadap keluarga anak didik kita perlu mengetahui berbagai permasalahan PAI dalam keluarga yang kerap kali muncul. Permasalahan tersebut antara lain: kurangnya teladan agama dari orang tua, krisis tokoh idola, hilangnya kontrol terhadap pengawasan lingkungan pergaulan anak, waktu luang para remaja yang kurang teroptimalkan, adanya berbagai tontonan yang buruk, ketidakharmonisan rumah tangga, pemberian pola asuh yang kurang tepat, kefakiran yang menaungi sebagian keluarga, musibah keyatiman, sosok ibu sebagai madrasah utama yang tidak dapat tergantikan, kurang updatenya orang tua terhadap informasi terkini.












DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Nashih Ulwan. 1990. Tarbiyatu Al-Aulad fi Al-Islam (Pendidikan Anak Menurut Islam Pemeliharaan Kesehatan Jiwa Anak). Diterjemahkan oleh: Khalilullah Ahmas Masjkur Hakim. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Abdurrahman An-Nahlawi. 1995. Ushulut Tarbiyah Islamiyah wa Asalibiha fil Baiti wal Madrasati wal Mujtama’ (Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat). Jakarta: Gema Insani Press
Ahmad Tafsir. 2014. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Ibnu Musthafa. 1993. Keluarga Islam Menyongsong Abad 21. Bandung: Al-Bayan
Rahmat Rosyadi. 2013. Pendidikan Islam dalam Pembentukan Karakter Anak Usia Dini (Konsep dan Praktik PAUD Islami). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Umar Hasyim. 1980. Anak Saleh 2 Seri II (Cara Mendidik Anak dalam Islam). Surabaya: PT Bina Ilmu 
Zakiah Daradjat. 1975. Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental. Jakarta: Bulan Bintang

Aplikasi  Kutubuttis’ah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAFALAN QUR'AN HILANG KARENA MAKSIAT

PERTANYAAN DI PADANG MAHSYAR

EMPAT UNSUR TAWAKKAL