Translate

Tampilkan postingan dengan label nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasihat. Tampilkan semua postingan

Pentingnya Menyebarkan Faedah dan Menyampaikannya kepada Orang Lain



Syekh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله berkata:

“Yang disyariatkan bagi seorang muslim apabila mendengar suatu faedah ilmu adalah menyampaikannya kepada orang lain.

Demikian pula seorang muslimah, hendaknya ia menyampaikan kepada selainnya ilmu yang telah didengarnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

> “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR. Bukhari)



Dan dahulu Nabi ﷺ apabila berkhutbah kepada manusia, beliau bersabda:

> “Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Bisa jadi orang yang menerima penyampaian itu lebih memahami daripada yang mendengarnya secara langsung.” (HR. Bukhari & Muslim)



Kemudian Syekh Muhammad ibn Utsaimin رحمه الله berkata:

“Ketahuilah —semoga Allah merahmati kalian— bahwa siapa saja di antara kalian yang menghadiri satu majelis ilmu, lalu ia memperoleh satu masalah atau satu faedah, kemudian ia mengamalkannya dan mengajarkannya kepada saudara-saudaranya, maka sungguh ia telah meraih kebaikan yang sangat banyak. Akan terus mengalir baginya pahala amalan tersebut dan pahala orang-orang yang mengamalkannya hingga Hari Kiamat.

Janganlah kalian menyangka bahwa keutamaan ilmu hanya diperoleh oleh orang yang mendalami ilmu dalam jumlah yang banyak. Sesungguhnya Allah Ta‘ala akan memberi balasan kepada setiap orang sesuai amalnya, meskipun amal itu sedikit.

Allah ﷻ berfirman:

> “Dan mereka tidak akan dizalimi sedikit pun.” (QS. An-Nisa’: 124)



Nabi ﷺ juga bersabda:

> “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR. Bukhari)



🌷 Betapa besar karunia Allah. Satu faedah yang dipelajari, lalu diamalkan dan disampaikan kepada orang lain, bisa menjadi sebab mengalirnya pahala yang tidak terputus hingga Hari Kiamat. Maka jangan meremehkan ilmu yang sedikit, dan jangan menunda untuk menyebarkan kebaikan yang telah kita ketahui.

📚 Adh-Dhiyā’ Al-Lāmi‘ min Al-Khuṭab Al-Jawāmi‘.
مثابة.

SABAR DALAM MENUNTUT ILMU

*Teruslah Rawat Kesabaranmu Wahai Penuntut Ilmu, Dengan Izin-Nya Engkau Akan Sampai* 

Barangsiapa yang jujur dan ikhlas dalam niatnya, senantiasa berdoa, berharap, bergantung dan bersandar kepada Allah semata, terus bersungguh-sungguh menempuh jalan ilmu, bersabar di setiap prosesnya dan tidak tergesa-gesa, senantiasa menghiasi dirinya dengan adab yang baik, terus berprasangka baik kepada Allah, memperbanyak syukur di setiap progress kecil yang dilalui, maka *yakinlah bahwa Allah akan buka untuknya pintu-pintu ilmu cepat atau lambat..*

*Ingatlah teman..*
Allah As-Sami’ Maha Mendengar setiap doamu, Allah Al-Bashir Maha Melihat setiap perjuangan yang kau keluarkan, Allah As-Syakur Maha Menghargai dan Mensyukuri setiap usahamu di saat mungkin orang di sekitarmu tidak mengapresiasinya.

*Bersabarlah..*
Kelak ada saatnya kita akan menangis bahagia atas karunia yang dilimpahkan kepada kita, bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya yang bersungguh-sungguh di jalan ilmu, amal dan dakwah. ♥️🪴
فذكر🤍🌱

Ghudul Bashar

Menjaga pandangan di zaman sekarang itu bukan hal sepele. Itu ibadah yang sangat besar.
Di tengah dunia yang penuh distraksi, ketika kamu memilih untuk menundukkan pandangan demi Allah, kamu sedang menunjukkan bahwa kamu lebih memilih ridha-Nya daripada godaan sesaat.
Bukankah itu sudah cukup mulia? Bahwa Allah bersamamu.
Renungkan sabda Allah ﷻ dalam hadits qudsi:
"Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat."
(HR. Bukhari)
 
Bayangkan betapa tingginya kedudukan seseorang yang dicintai Allah.
Bukan hanya doanya didengar, tetapi seluruh hidupnya berada dalam penjagaan dan bimbingan-Nya.

Pernahkah kamu merasa ingin menjadi salah satu dari mereka?
Kalau iya, teruslah berjuang! 
Karena hidup ini pada hakikatnya adalah perjuangan:
- melawan hawa nafsu,
- menahan keinginan yang tidak diridhai,
- dan menghadapi godaan setan yang tak pernah berhenti.

Menundukkan pandangan mungkin terlihat sederhana, tetapi di sisi Allah nilainya sangat besar.
Setiap kali kamu menahan diri dari sesuatu yang haram, Allah melihat perjuanganmu.
Dan tidak ada satu pun pengorbanan yang luput dari balasan-Nya.
Teruslah menjaga mata, hati, dan niatmu.
Sebab bisa jadi, dari usaha kecil yang terus kamu jaga, Allah menuliskanmu sebagai hamba yang dicintai-Nya.

Semoga Allah mengantarkanmu kepada semua cita-cita baikmu, dan menjaga pandanganmu dari segala yang haram.

Senantiasa Merasa Kurang di Hadapan Allah عز وجل


*Perasaan kurang dalam beribadah selalu menyertai orang-orang shalih; karena mereka mengetahui betapa agungnya Dzat yang mereka sembah, dan bahwa hak Allah atas mereka jauh lebih besar daripada ibadah yang mereka lakukan.*

Bahkan salah seorang dari mereka meyakini bahwa seandainya ia tersungkur sujud kepada Allah sejak lahir hingga meninggal dunia, tetap saja ia belum menunaikan hak ibadah kepada-Nya sebagaimana mestinya.

Karena itu, *setiap kali mereka selesai dari suatu ibadah*, mereka *beristighfar* kepada Allah atas kekurangan mereka, dan *bersyukur* kepada-Nya atas taufik yang diberikan.

Sebagaimana firman Allah ﷻ:

*﴿ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۝ فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا﴾*

_“Kemudian bertolaklah kalian dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah), dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji kalian, berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana kalian menyebut-nyebut nenek moyang kalian, bahkan berdzikirlah lebih banyak dari itu.”_ (QS. Al-Baqarah: 199-200)

Tentang ayat ini, Syaikh Abdurrahman As-Sa‘di رحمه الله berkata dalam tafsirnya:

*“Allah memerintahkan setelah selesai ibadah tersebut untuk beristighfar dan memperbanyak dzikir kepada-Nya. Istighfar itu untuk menutupi kekurangan yang terjadi dari seorang hamba dalam pelaksanaan ibadahnya dan kelalaiannya di dalamnya. Sedangkan dzikir kepada Allah adalah bentuk syukur kepada-Nya atas nikmat taufik untuk melakukan ibadah yang agung ini dan karunia yang besar tersebut.”*

Demikianlah seharusnya seorang hamba; setiap selesai dari ibadah, ia beristighfar atas kekurangannya dan bersyukur atas taufik Allah. *Bukan seperti orang yang merasa telah menyempurnakan ibadahnya*, lalu merasa berjasa di hadapan Rabbnya dan menganggap dirinya memiliki kedudukan tinggi karena amalnya.

Orang seperti ini lebih pantas mendapat kemurkaan dan tertolaknya amal, sedangkan yang pertama lebih pantas mendapatkan penerimaan dan taufik untuk amal-amal berikutnya.

— _Majalis Al-‘Aqidah | Syaikh Prof. Dr. Shalih Sindi حفظه الله_

_مَثابَة.

WANITA YANG BERUNTUNG

Begitu Iri.. Sebagian suami ada yang dayuts membiarkan istrinya jauh dari agama, ia tidak cemburu dengan hal itu. Maka ia terancam tidak aka...