PERKEMBANGAN REMAJA

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN REMAJA
(Perkembangan Peserta Didik)

Dalam rangka melengkapi tugas perkuliahan mata kuliah Perkembangan Peserta Didik

Dosen
H. Tarsono, M.Pd

Oleh (kelompok 5)

1152020108 Kristin Wiranata
1152020110 Laila Hamidah
1152020116 Lucky Pratama Haldi
1152020124 M. Zam Zam
1152020132 Milla Zakiyah








PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT. yang mana karena limpahan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu baik dari segi apapun, sehingga makalah ini tersusun dengan baik. Makalah ini bertujuan untuk memenuhi syarat nilai mata kuliah Perkembangan Peserta Didik. Penulis menyadari bahwa apa yang disajikan dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, baik menyangkut isi maupun penulisan. Kekurangan-kekurangan tersebut terutama disebabkan karenakan keterbatasan pengetahuan serta kemampuan penulis. Hanya dengan bantuan dari berbagai pihak untuk memberikan kritik dan saran yang membangun maka kekurangan-kekurangan tersebut dapat lebih baik. Dengan tersusunnya makalah ini penulis berharap kita dapat memahami karakteristik perkembangan remaja, agar saat menjadi pendidik ataupun orangtua, kita dapat memahami apa yang remaja butuhkan, sehingga mereka dapat berkembang dengan baik dan mencapai kematangan untuk dapat menaiki tingkat perkembangan selanjutnya, yakni dewasa.

Bandung, 09 Maret 2016
         Penulis








DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan Penulisan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
Pengertian Perkembangan dan Makna Remaja 3
Pertumbuhan Fisik & Kognitif 4
Perkembangan Emosional 10
Perkembangan Sosial 12
Perkembangan Spiritual 22
Kebutuhan Remaja dan Pemenuhannya 23
Tugas-tugas Perkembangan Remaja 24
Penyesuaian Diri Remaja dan Permasalahannya 31
BAB III PENUTUP 35
DAFTAR PUSTAKA iii













BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks karena melibatkan berbagai faktor yang harus dirancang dengan baik. Keharmonisan diantara semua faktor ini perlu dibangun. Salah satunya ialah keharmoisan antara guru dan peserta didiknya. Guru dituntut untuk mampu membangun hubungan yang menyenangkan dengan anak didiknya. Untuk dapat membangun hubungan ini guru hendaknya memahami karakteristik setiap anak didiknya. 
Pendidik yang mempunyai anak didik usia remaja, diharapkan memiliki kiat-kiat khusus dalam mengajar dan membimbing siswanya. Karena pada usia remaja, remaja memiliki permasalahan yang kompleks, dimana ia dihadapkan pada kondisi-kondisi yang akan membuatnya gelisah, seperti perubahan fisik yang cepat, emosi yang tidak stabil dan jiwa yang bergejolak. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus, agar perkembangan remaja dapat berjalan dengan sempurna, sehingga tidak menimbulkan permasalahan yang kelak akan merepotkannya saat dewasa.
Permasalahan mengenai remaja dan aspek yang berkenaan dengannya, menarik untuk diketahui. Dan permasalahan mengenai remaja kini menjadi lebih rumit, zaman sekarang berbeda dengan zaman dahulu, remaja dihadapi berbagai tantangan zaman. Di dalam makalah ini penulis berusaha menyajikan karakteristik perkembangan remaja. Semoga maksud dari makalah ini dapat tersampaikan kepada pembaca.
Rumusan Masalah
Setelah penulis melakukan analisis dan penelusuran dari berbagai sumber, penulis merumuskan beberapa rumusan masalah, sebagai berikut:
Apa pengertian Perkembangan dan makna Remaja? 
Bagaimanakah pertumbuhan dan perkembangan remaja dari segi fisik, kognitif, emosional, sosial dan spiritual?
Apa kebutuhan remaja yang perlu dipenuhi? 
Apa tugas-tugas perkembangan remaja? 
Apa Permasalahan yang dihadapi remaja?
Tujuan Penulisan
Tujuan penulis menyusun makalah ini ialah untuk memenuhi persyaratan tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik dan untuk memahami karakteristik perkembangan remaja secara menyeluruh.























   

BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Perkembangan dan Makna Remaja
Kata “remaja” berasal dari bahasa Latin yaitu adolescene yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dan dewasa. Papalia dan Ods (2001), tidak memberikan pengertian remaja secara implisit, mereka mendefinisikan masa remaja ialah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun dan awal dua puluh tahun. Trsansisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kemtangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis. Adapun bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak. (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).
Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia dan Olds, 2001). Perubahan ini dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya perubahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak. Perkembangan kualitatif ini antara lain, perkembangan fisik, kognitif, psikis, sosial, dan spiritual.
Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan atau ciri-ciri umum yang terjadi selama masa remaja, antara lain:
Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal sebagai masa storm & stress.
Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri.
Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting.
Perubahan nilai, di mana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena telah mendekati dewasa.
Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di stau sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan ini.
       Berdasarkan beberapa perubahan yang dialami remaja diatas, dapat ditarik benang merah, yakni ada tiga perubahan fundamental pada masa remaja: Biologis; Kognisi; dan Sosial (Laurence Steinberg).

Pertumbuhan Fisik & Kognitif
Pertumbuhan fisik
Pesatnya pertumbuhan fisik pada masa remaja sering menimbulkan kejutan pada diri remaja itu sendiri. Oleh karena itu, seringkali gerak-gerik remaja menjadi serba canggung dan tidak bebas. Gangguan dalam bergerak yang disebabkan oleh pesatnya pertumbuhan fisik pada remaja seperti ini dikenal dengan istilah gangguan regulasi. Untuk dapat mengimbangi pertumbuhan yang cepat ini, remaja memerlukan zat-zat pembangun yang diperoleh dari makanan dan juga memerlukan bimbingan / pengarahan perilaku.
Masa remaja yang diawali dengan pubertas, adalah masa kematangan fisik yang sangat cepat meliputi aspek hormonal dan perubahan fisik. Perubahan fisik pada remaja pria meliputi
Membesarnya ukuran penis dan buah pelir;
Tumbuhnya bulu di sekitar kemaluan, ketiak dan di wajah;
Perubahan suara (menjadi agak membesar);
Terjadinya ejakulasi pertama melalui “wet dream” (mimpi basah).
Sementara perubahan fisik pada remaja wanita ditandai dengan
Menstruasi pertama (menarche);
Mulai membesarnya payudara;
Tumbuhnya bulu di daerah tertentu;
Membesarnya ukuran pinggul;
Puncak pertumbuhan fsik masa pubertas adalah pada usia 11 tahun bagi remaja wanita, dan usia 13 tahun bagi remaja pria.
       Aspek hormonal yang memengaruhi perkembangan fisik remaja adalah kelenjar endoktrin, yang melibatkan interaksi antara kelenjar hypotalamus (sebuah struktur dalam porsi otak yang paling tinggi yang memonitor makan, minum dan seks), kelenjar pituitary (kelenjar endoktrin yang penting untuk mengontrol pertumbuhan dan regulasi kelanjar lainnya), dan gonads (kelenjar seks, yaitu testis pada pria dan ovaries pada wanita).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik
Faktor Internal
Sifat jasmaniyah yang diwariskan dari orang tuanya.
Kematangan; secara sepintas, pertumbuhan fisik seolah-olah seperti sudah direncanakan oleh faktor kematangan.meskipun anak itu diberi makanan yang bergizi tinggi, tetapi kalau saat kematangan belum sampai, maka pertumbuhan akan tertunda.
Faktor Eksternal
Kesehatan
Anak yang sering sakit-sakitan pertumbuhan fisiknya akan terhambat.
Makanan
Anak yang kurang gizi pertumbuhannya akan terhambat, sebaliknya anak yang cukup gizi pertumbuhannya pesat.
Stimulasi lingkungan
Individu yang tubuhnya sering dilatih untuk meningkatkan percepatan pertumbuhannya akan berbeda dengan anak yang tidak pernah mendapat latihan.
Upaya membantu pertumbuhan fisik dan implikasinya bagi pendidikan
       Dalam batas-batas tertentu, percepatan pertumbuhan fisik dapat dibantu dengan berbagai usaha atau stimulasi secara sistematis, antara lain sebagai berikut.
Menjaga kesehatan badan
Kebiasaan hidup sehat, bersih, dan olahraga secara teratur akan dapat membantu menjaga kesehatan pertumbuhan tubuh. Namun, apabila ternyata masih terkena penyakit, haruslah segera diupayakan agar lekas sembuh. Sebab kesehatan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik.
Memberi makanan yang baik
Makanan yang baik ialah makanan yang banyak mengandung gizi, segar dan sehat, serta tidak tercemar oleh kotoran atau penyakit. Baik buruknya makanan yang dimakan oleh anak akan menentukan pula kecepatan pertumbuhan fisik. Pada remaja mengalami pertumbuhan fisik yang cepat. Oleh karena itu, memerlukan zat-zat pembangun yang terdapat dalam makanan sehingga menyebabkan para remaja umumnya nafsu makan. Jika makanan yang dimakan cukup mengandug gizi, kebutuhan zat pembangun bisa terpenuhi sehingga pertumbuhan menjadi lancar. Sebaliknya, jika kebutuhan zat pembangun tidak terpenuhi, pertumbuhan fisik akan menjadi terhambat dan kurang lancar.
Implikasiya bagi pendidikan adalah perlunya memperhatikan faktor-faktor berikut ini.
Sarana dan prasarana
Faktor sarana dan prasarana ini jangan sampai menimbulkan gangguan kesehatan pada anak. Misalnya, tempat duduk yang kurang sesuai serta ruangan yang gelap dan terlalu sempit akan menimbulkan gangguan kesehatan. Penyelenggaraan pendidikan modern menghendaki agar tempat duduk anak dan meja dapat diatur sesuai dengan kebutuhan, ruangan kelas yang bersih, terang dan cukup luas, serta kedisiplinan yang tidak kaku.
Waktu istirahat
Untuk menghilangkan rasa lelah dan mengumpulkan tenaga baru, istirahat sangat diperlukaan. Terus-menerus bekerja tanpa ada waktu istirahat dapat menimbulkan kelelahanyang mendatangkan kerugian bagi kesehatan. Oleh karena itu, dalam belajar pun sangat penting memperhatikan pengaturan waktu istirahat bagi anak-anak karena dalam belajar dikenal dengan istilah yang disebut biorama, yang berarti kemampuan anak berkonsentrasi akan sangat dipengaruhi oleh irama stamina biologis pada anak itu sendiri. Berkaitan dengan biorama ini, ada rumus pengaturan belajar yang dikenal dengan “lima kali dua lebih baik daripada dua kali lima”. Artinya, belajar sebanyak lima kali yang masing-masing berlangsung selama dua jam, hasilnya akan lebih baikdaripada belajar sebanyak dua kali yang masing-masing berlangsung selama lima jam. Ini berkaitan dengan kemampuan stamina tubuh untuk berkonsentrasidalam belajar guna menyerap isi yang terkandung dalam materi pembelajaran.
Diadakannya jam-jam olahraga bagi para siswa
Pelajaran olahraga sangat penting bagi pertumbuhan fisik anak karena dengan olahraga yang dijadwalkan secara teratur oleh sekolah berarti pertumbuhan fisik anak akan memperoleh stimulasi secara teratur pula.
Perkembangan kognitif
Perkembangan kognitif adalah perkembangan kemampuan (kapasitas) individu untuk memanipulasi dan mengingat informasi. Untuk membahas perkembangan kognitif (berpikir) remaja, pada paparan berikut dikemukakan beberapa pandangan dari Piaget, Vigotsky, dan para ahli psikologi pemrosesan informasi.
Menurut Jean Piaget, pekembangan kognitif remaja berada pada tahao “Formal operation stage”, yaitu tahap ke empat atau terakhir dari perkembangan kognitif. Tahapan berpikir formal ini terdiri atas dua subperiode (Broughton dalam John W. Santrock, 2010: 97), yaitu:
Early formal operational thought, yaitu kemampuan remaja untuk berpikir dengan cara-cara hipotetik yang menghasilkan pikiran-pikiran sukarela (beba) tentang berbagai kemungkinan yang tidak terbatas. Dalam periode awal ini, remaja mempersepsi dunia sangat bersifat subjektif dan idealistik.
Late formal operational thought, yaitu remaja mulai menguji pikirannya yang berlawanan dengan pengalamannya dan mengembalikan keseimbangan intelektualnya. Melalui akomodasi (penyesuaian terhadap informasi/hal baru), remaja mulai dapat menyesuaikan terhadap bencana atau kondisi pancaroba yang telah dialaminya.
       Kemampuan berpikir hipotetik, berarti remaja telah dapat mengintegrasikan apa yang telah mereka pelajari dengan tantangan di masa mendatang dan membuat rencana untuk masa mendatang. Meskipun remaja dipandang sudah dapat memecahkan masalah abstrak dan membayangkan masyarakat yang ideal, namun dalam beberapa hal pemikiran remaja masih kurang matang. Ketidakmatangan berpikir remaja itu, menurut David Elkin (Diane E. Papalia, et.al., alih bahasa A.K. Anwar, 2008: 561-562) dimanifestasikan ke dalam enam karakteristik, yaitu:
Idealism dan kekritisan (suka berpikir ideal dan mengeritik orang lain, orang dewasa atau orang tua sendiri).
Argumentativitas (menjadi argumentatif ketika mereka menyusun fakta atau logika untuk mencari alasan, misalnya: begadang)
Ragu-ragu (meskipun remaja dapat menyimpan berbagai alternatif dalam pikiran mereka pada waktu yang sama, tetapi karena kurangnya pengalaman, mereka kekurangan strategi efektif untuk memilih).
Menunjukkan hipocrisy (remaja sering kali tidak menyadari perbedaan antara mengekspresikan sesuatu yang ideal dengan membuat pengorbanan yang dibutuhkan untuk mewujudkannya).
Kesadaran diri (meskipun remaja sudah dapat berpikir sudah dapat berpikir tentang pemikiran mereka sendiri dan orang lain, akan tetapi mereka sering kali berasumsi bahwa yag dipikirkan orang lain sama dengan yang mereka pikirkan, yaitu diri mereka sendiri).
Kekhususan dan ketangguhan (menunjukkan keyakinan remaja bahwa mereka spesial, pengalamannya unik, dan tidak tunduk pada peraturan. Hal ini merupakan bentuk egosentrisme khusus yang mendasari perilaku).
Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan kognitif remaja
       Kelompok psikometrika radikal berpendapat bahwa perkembangan intelektual individu sekitar 90% ditentukan faktor hereditas dan pengaruh lingkungan, adapun pendidikan hanya memberikan kontribusi sebesar 10% saja.
       Sebaliknya, kelompok penganut pedadogis radikal amat yakin bahwa intervensi lingkungan, termasuk pendidikan, justru memiliki andil sekitar 80-85%, sedangkan hereditas hanya memberikan kontribusi 15-20% terhadap perkembangan intelektual individu.
Membantu perkembangan kognitif remaja dan implikasinya bagi pendidikan
Pendidik menerima peserta didik secara positif sebagaimana adanya dan tanpa syarat. Artinya, apa pun keberadaan peserta didik dengan segala kelebihan dan kekurangannya harus diterima dengan baik serta memberi kepercayaan padanya bahwa pada dasarnya setiap peserta didik memiliki kemampuan intelektual yang dapat dikembangkan secara maksimal.
Pendidik menciptakan suasana di mana peserta didik tidak merasa terlalu dinilai oleh orang lain. Paling tidak pendidik mengupayakan penilaian tidak mencemaskan peserta didik, melainkan menjadi sarana yang dapat mengembangkan sifat kompetitif secara kuat.
Memahami pemikiran, perasaan, dan perilaku remaja; menempatkan diri dalam situasi remaja; serta melihat sesuatu dari sudut pandang mereka (empathy).
Menciptakan suasana psikologis yang aman bagi remaja. Seperti keterbukaan, kehangatan dan kekonkretan.
Model pendidikan yang aktif adalah model yang tidak menunggu sampai peserta didik siap sendiri, tetapi sekolahlah yang mengajar lingkungan belajar sedemikian rupa sehingga dapat memberi kemungkinan maksimalpada peserta didik. Dengan lingkungan yang penuh rangsangan untuk belajar tersebut, proses pembelajaran yang aktif akan terjadi hingga mampu membawa peserta didik untuk maju ke taraf/tahap berikutnya.

Perkembangan Emosional
Pengertian Emosional
Chaplin (1989) dalam dictionary of psichology mendefinisikan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari organisme mencakupperubaha-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan prilaku. Chaplin membedakan emosi dengan perasaan, dan dia mendefinisikan perasaan (feelings) adalah pengalaman diadari yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh bermacam-macam keadan jasmaniyah.
Definisi lain menyatakan bahwa emosi adalah suatu respon terhadap suatu perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus. Respons demikian terjadi baik terhadap perangsang-perangsang eksternal maupun internal (Soegarda Poerbakawatja, 1982). 
Jadi, emosi emosi adalah pengalaman efektif yang disertai penyesuaian dari dalam individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud satu tingkah laku yang tampak.
Emosi adalah warna efektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan fisik. Pada saat terjadi emosi seringkali terjadi perubahan-perubahan pada fisik, antara lain berupa :
Reaksi elektris pada kulit: meningkat bila terpesona.
Pebedaan daerah: bertambah cepat bila marah.
Denyut jantung: bertambah cepat bila terkejut.
Pernafasan: bernafas panjang kalau kecewa.
Pupil mata: membesar bila marah.
Liur: mengering kalu takut atau tegang.
Bulu roma: berdiri kalu takut.
Pencernaan: mencret-mencret kalu tegang.
Otot: ketegangan atau ketakutan menyebebkan otot menegang atau bergetar (tremor)
Komposisi darah: komposisi darah akan iku berubah karena emosional yang menyebabkan kelenjar-kelenjar lebih aktif.
Karakteristik Perkembangan Emosi
       Pola emosi masa remaja adalah sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis emosi yang secar normal dialami adlah: cinta/ kasih sayang, gembira, marah, tekut dan cemas, cemburu sedih dan lain-lain. Perbedaannya terletak pada macam derajat dan rangsangan yang membangkitkan emosinya, dan khsusnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka.
       Remaja sendiri menyadari bahwa aspek-aspek emosional dalm kehidupan adalah penting (Jersild, 1957: 133). Untuk selanjutnya berikut ini dibahas beberapa kondisi emosional seperti: cinta/ kasih sayang, gembira, kemarahan dan permusuhan, ketakutan dan kecemasan.
Cinta/ kasih Sayang
Faktor penting dalam kehidupan remaja adalah kapasitasnya unuk mencintai orang lain dan kebutuhannya untuk mendapatkan cinta dari orang lain. Kemampuanuntuk menerima cinta sama pentingnya dengan kemampuan untuk memberinya.
Gembira 
Perasaan gembira dari remaja belum banyak diteliti. Perasaan gembira sedikit mendapat perhatian dari petugas peneliti daridapa perasaan ,arah dan takut atau tingkah laku problema lain yang memantulkan kesedihan. Rasa gembira akan dialami apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan para remaja akan mengalami kegembiraan jika ia diterima sebaga seorang sahabat atau bila ia jatuh cinta dan cintanya itu mendapat sambutan (diterima) oleh yang dicintai.
Kemarahan dan permusuhan 
Dalam upaya memahami remaja, ada 4 (empat) faktor yang sangat penting sehubungan dengan rasa marah.
Adanya kenyataan bahwa perasaan marah berhubungan dengan usaha manusia untuk memiliki dirinya dan menjadi dirinya sendiri.
Pertimbangan penting lainnya ialah ketika individu mencapai masa remaja, dia tidak hanya merupakan subjek kemaragan yang berkembang dan kemudian menjadi surut, tetepi juga mempunyai sikap-sikap dimana ada sisa kemarahan dalam bentuk permusuhan yang meliputi sisa kemarhan dalam bentuk permusuhan yang meliputi sisa kemarahan masa lalu.
Seringkali rasa marah disembunyikan dan seringkali tampak dalam bentuk yang samar-samar.
Kemarahan mungkin berbalik pada diri sendiri. Dalam beberapa hal, aspek ini merupakan aspek yang sangat penting dan juga paling sulit dipahami.

Perkembangan Sosial
Pengertian Perkembangan Hubungan Sosial
Hubungan sosial individu berkembang karena adanya dorongan rasa ingin tahu terhadap segala sesuatu yang ada didunia dan sekitarnya. Dalam perkembangannya, secara individu ingin tahu bagaimanakah cara melakukan hubungan secara baik dan aman dengan dunia sekitarnya, baik yang bersifat fisik maupun sosial. Hubugan sosial diartikan sebagai “cara-cara individu bereaksi terhadap orang-orang disekitarnya dan bagiaman pengaruh hubungan itu terhadap dirinya” (Anna, alisyahbana, dkk., 1984). Hubungan sosial ini menyangkut juga penyesuaian diri terhadap lingkungan, seperti makan dan minum sendiri, berpakaian sendiri, menaati peraturan, menbangun komitmen bersama dalam kelompok atau organisasinya, dan sejenisnya.
Menginjak masa remaja, interaksi dan pengenalan atau pergaulan dengan teman sebaya terutama lawan jenismenjadi semakin penting. Pada akhirnya pergaulan sesama manusia menjadi suatu kebuthan. Kebutuhan bergaul dan berhubungan dengan orang lain ini telah mulai dirasakan sejak anak berumurenam bulan, disaat manusia itu telah mengenalmanusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya.anak mulai mengenal dan mampu membedakan arti senyum dan perilakusosial yang lain, seperti marah (tidak senang mendengar suara keras) dan kasih sayang. Akhirnya setiap orang menyadari bahwa setiap manusiaitu saling membutuhkan. Dari uraian itu dapat dimengerti bahwa uraian sosial merupakan hubungan antara manusia yang saling membutuhka. Hubungan sosial dimulai dari tingkat yang sederhanadan terbatas, yang issadari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia menjadi kompleks dan degan demikian, tingkat hubungan sosial juga bertingkat menjadi. Amt kompleks. Pada jenjang perkembangan reamaja, sorang remaja bukan saja memerlukan orang lain demi untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi mengandung maksud untuk disimpulkan bahwa pengertian perkembangan sosial adalah berkembanganya tingkat hubungan antara manusia sehubungan dengan menngkatnya kebutuhan hidup manusia.
Karateristik Perkembangan Sosial
        Kehidupan sosial pada jenjang remaja ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan emosional. Seseorang remaja dapat mengalami sikap hubunggan sosial yang bersifat tertutup sehubungan dengan masalah yang dialami remaja. Keadaan atau peristiwa oleh Eric Erickson. (dalam Leffon, 1982:281) dinyatakan bahwa ank dapat mengalami krisis identitas. Proses pembentukan identitas dari dan konsep diri seseorang adalah suatu yanag kompleks. Konsep dari anak tidak hanya terbentuk dari bagaimana orang lain percaya tentang keberadaan drinya sendiri,tetapi jiga terbentuk dari bagaimana orang lain percaya dari keberadaan dirinya. Erickson mengemukakan bahwaperkembangan anak sampai jenjang dewasa melalui delapan tahap dan perkembangan remaja ini berada pada tahap keenam dan ketujuh, yaitu masa anak ingin menentukan jati dirinya dan memilih kawan akrabnya. Seringkali anak menemukan jati dirinya sesuai dengan kehidupanyang mreka alami. Banyak remaja yang amat percaya pada kelompok mereka dalam menemukan jati dirinya. 
       Pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk kelompok, baik kelompok kecil ataupun kelompok besar. Dalam menentukan kelompok yang diikiuti, disadari oleh berbagai pemimbangan, seperti moral, sosial, ekonomi, minat dan kesamaan bakat dan kemapuan. Baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar, masalah yang umum dihadapi oleh remaja dan palin rumit adalah faktor penyesuaian diri. Dalam kelompok besar akan terjadi persaingan yang berat, masing-masing individu bersaing untuk tampil menonjol, memperlihatkan akunya. Oleh karena itu, sering terjadi perpecahan dalam kelompok tersebut yang disebabkan oleh menonjolnyakepentingan pribadi setiap orang. Tetapi sebliknya dalam kelompok itu terbentuk suatu persatuan yang kokoh, yang kuat, yang diikat oeh norma kelompok tyang telah disepakati.
       Nilai positif dalam kehidupan kelompok adalah tiap anggota kelompok belajar berorganisasi, memilih pemimpin, dan mematuhi aturan kelompok. Seklaipun dalam hal tertentu tindskan suatu kelompok kurang memperhatikan norma umum yang berlaku didalam masyarakat, karena yang lebih dierhatikan adalah keutuhan kelompoknya.didalam mempertahankan dan melawan ‘serangan’ kelompok lain, lebih dijiwai keutuhan kelompoknya tanpa mempedulikan objektivitas kebenaran.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
Keluarga 
Keluarga merupakan lingkungsn pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tatacara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Didalam keluarga berlaku norma-norma keluarga kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya keluarga merekayasa perilaku kehidupan budaya anak.
Kematangan 
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan fisikis. Untuk mampu mempertimbangkan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Disamping itu kemampuan berbahasa ikut pula menentikan.
Dengan demikian, untuk mampu bersosilisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjelaskan fungsinya dengan baik.
Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang independent, akan tetapi akan ipandang dalam koneksnya yang utuh dalam keluarga anak itu, “anak siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya akan memperhitungkan norma yang berlaku didalam keluarganya.
Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoprasian ilmu yang normatif, akan memberi warna kehidupan anak didalam masyaraka dan kehidupan mereka dimasa yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehiduan keluarga, masyarakat, dan kelembagaan.penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepada peseta didik yang belajar dikelembagaan pendidikan (sekolah).
Kapasitas Mental: Emosi dan Inteligensi
Sikap saling perhatian dan kemampuan memahami orang lain meru-pakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan mudah dicapai oleh remaja yang bekemampuan intelektual tinggi.
Pada kasus tertentu seorang jenius atau superior sukar untuk bergaul dengan kelompok sebaya, karena pemahaman mereka telah setingkat dengan kelompok umur yang lebih tinggi. Sebaliknya kelompok umur yang lebih tinggi (dewasa) tetap ‘menganggap’ dan ‘memperlakukan’ mereka sebagai anak-anak.
Penyesuaian remaja terhadap lingkuangan sosial
Terhadap teman sebaya
Dalam perkembangannya, remaja memiliki penyesuaian-penyesuaian tertentu dalam berinteraksi dengan kelompok sosialnya, khususnya penyesuaian dalam kelompok teman sebaya, antara lain sebagai berikut.
Penyesuaian Pribadi dan Sosial Merupakan Proses
Bagi tipe sosial kultural masyarakat Indonesia, penyesuaian pribadi dan sosial remaja khusus dalam pembahasan ini ditekankan dalam lingkup kelompok teman sebaya. Alasannya bahwa kelompok teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama dimana remaja belajar untuk hidup bersama orang lainyang bukan anggota keluarganya. Lingkungan teman sebaya merupakan suatu kelompok baru yang memiliki ciri, norma, kebiasaan yang jauh berbeda dengan apa yang ada dalam lingkungan keluarga remaja. Terhadap hal-hal tersebut, remaja dituntut memilki kemampuan pertama dan baru dalam menyesuaikan diri dan dapat dijadikannya dasar dalam hubungan sosial yang lebih luas. 
Pergaulannya meluas mulai dari terbentuknya kelompok-kelompok teman sebaya (peer-group) sebagai sutau wadah penyesuaian. Didalamnya timbul persahabatan yang merupakan ciri khas pertama dan sifat interaksinya dalam pergaulan. Dalam kelompok yang lebih besar, persoalan bertambah dengan adanya pemimpin dan kepemimpinan yang juga merupakan proses pembentukan, pemilihan, dan penyesuaian pribadi dan sosial. Sangat penting dalam pergaulan ini, didalamnya remaja mendapat pengaruh yang kuat dari teman sebaya; dengan mana remaja mengalami perubahan-perubahan tingkah laku sebagai salah satu usaha penyesuaian.
Penyesuaian pribadi dan sosial besar pengaruhnya bagi pembentukan manusia menjadi matang atau dewasa. Para ahli Psikologi sepakat bahwa terdapat kelompok-kelompok yang terbentuk dalam masa remaja. Dalam hal ini, akan diuraikan dalam beberapa bagian sebagai berikut.
1. Kelompok “Chums” (Sahabat Karib)
       Chums yaitu kelompok dimana remaja bersahabat karib dengan ikatan persahabatan yang sangat kuat. Anggota kelompok biasanya terdiri dari 2-3 remaja dengan jenis kelamin sama, memilki minat, kemampuan dan kemauan-kemauan yang nirip. Beberapa kemiripan itu membuat mereka semakin akrab.
2. Kelompok “Cliques” (Komplotan Sahabat)
       Cliques biasanya terdiri dari 4-5 remaja yang memiliki minat, kemampuan dan kemauan-kemauan yang realtif sama. Jenis kelamin remaja dalam satu cliques umumnya sama. Seorang remaja putri bersahabat karib dengan remaja putri lainnya. Pada pertengahan dan akhir remaja awal umumnya terjadi cliques dengan anggota berlainan. Dalam cliques inilah remaja pada mulanya banyak melakukan kegiatan-kegiatan bersama; menonton bersama, rekreasi, pesta, saling menelpon, dan sebagainya. Mereka para remaja banyak menghabiskan waktu dalam kegiatan-kegiatan seperti itu, sehingga sering menjadi sebab pertentangan dengan orang tua mereka.
3. Kelompok “Crowds” (Kelompok Banyak Remaja)
Crowds biasanya terdiri dari banyak remaja, lebih besardibandinkan dengan Cliques. Karena besarnya kelompok, maka jarak emosi antara anggota juga agak renggang. Terdapat perbedaan jenis kelamin serta terdapat keragaman kemampuan, minat dan kemauan di antara para anggota Crowds. Hal yang sama dimiliki mereka adalah rasa takut diabaikan atau tidak diterima oleh teman-temannya.
4. Kelompok yang Diorganisir
Kelompok yang diorganisir merupakan kelompok yang sengaja dibentuk dan diorganisir oleh orang dewasa yang biasanya melalui lembaga-lembaga tertentu, misalnya sekolah dan yayasan-yayasan keagamaan. Umumnya, kelompok ini timbul atas dasar kesadaran orang dewasa bahwa remaja sangat membutuhkan penyesuaian pribadi dan sosial, penerimaan dan ikut serta dalam suatu kelompok-kelompok.
5. Kelompok “Gangs”
Gangs merupakan kelompok yang terbentuk dengan sendirinya yang pada umumnya merupakan akibat pelarian dari empat jenis kelompok tersebut diatas. Ada remaja yang tidak memenuhi kebutuhan-kebutuhan kelompoknya, yang antaralain disebabkan ditolak oleh teman sepergaulannya, atau tidak menyesuaikan diri dalam kelompok tersebut. Remaja-remaja yang tidak puas ini “melarikan diri” dan membentuk kelompok tersendiri yang dikenal dengan “Gangs”. Anggota gangs dapat berlainan jenis kelamin dan dapat pula sama. Kebanyakan remaja anggota gangs itu menghabiskan waktu menganggur dan kadang-kadang mengganggu remaja lain.
Persahabatan Remaja Dalam Kelompok
Perasaan bersahabat merupakan ciri khas dan sifat interaksi remaja dalam kelompoknya. Bagi remaja yang bersekolah, dalam masa remaja awal mereka umumnya memilih teman tidak mesti ditentukan oleh tingkat jenjang kelas (sekolah) mereka; tidak mesti teman sekelas. Beberapa unsur lain yang menjadi standar pemilihan adalah pola tingkah laku, minat/kesenjangan, ciri-ciri fisik dan kepribadian, dan nilai-nilai yang dianut. Seorang remaja akan menilai teman-teman sepergaulannya apakah terdapat keserasian atau kemauan dengan standar yang dimilikinya. Semakin besar atau banyak keserasian dan kesamaan yang mereka miliki, maka semakin erat pula persahabatan diantara mereka.
Dalam masa remaja awal, problema yang harus dirasakan adalah hal persahabatan dengan teman sebaya lain jenis kelamin. Sehubungan dengan persahabatan dengan lain jenis kelamin, maka pendapat Scheinfeld. L. Cole pernah memberikan indikasi sebagai berikut.
• Usia ± 8 tahun : Anak lebih suka bermain dalam kelompok sejenis kelamin.
• Usia 10-12 tahun: Saling mengejek antara dua kelompok; kelompok pria melawan kelompok wanita.
• Usia 13-14 tahun: Kelompok wanita mulai tertarik untuk bersahabat dengan kelompok pria, tetapi kelompok pria masih belum tertarik.
• Usia 14-16 tahun: Kelompok laki-laki mulai tertarik untuk bersahabat dengan kelompok wanita.
• Usia 16-17 tahun, dan seterusnya: Masing-masing remaja pria dan wanita menjadi senang berpasang-pasangan.
Dalam masa remaja ini terdapat pula hal-hal yang dapat memutuskan persahabatan. Dalam masa remaja awal sangat mudah remaja bertengkar yang kemudian tidak bertegur-sapa. Akan tetapi dalam masa remaja akhir keadaan semacam itu sudah sangat jarang terjadi.
Manfaat penting dari adanya persahabatan dalam masa remaja ini adalah mereka dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan mengisi waktu luang yang baik.
Pemimpin dan Kepemimpinan Remaja
Remaja memegang peranan dalam banyak kegiatan. Dalam peranan-peranan itu akan muncul pula pemimpin informal diantara mereka. Pemunculan itu secara tidak disadari terjadinya, yang sesungguhnya adalah hasil “seleksi” diantara mereka. Persyaratan umum yang dijadikan dalam pemilihan pemimpin, keadaanya relatif sama bagi kelompok non formal maupun formal. Menurut pandangan remaja itu sendiri, persyaratan atau ciri-ciri yang diharapkan dimiliki oleh pemimpin kelompok mereka adalah :
1. Ciri yang bersangkutan dengan penampilan dan perilaku
2. Ciri yang bersangkutan dengan kemampuan berpikir
3. Ciri-ciri yang bersangkutan dengan sikap/perasaan
4. Ciri-ciri yang bersangkutan dengan pribadi
Pada kelompok-kelompok yang khusus tentu saja remaja memiliki persyaratan yang khusus pula.
Para anggota belajar menyesuaikan diri dengan harapan-harapan dan perencanaan yang dibuat pemimpinnya atas kerjasama dengan mereka. Sebaliknya, pemimpin kelompok belajar menyesuaikan diri dan mengerti/memahami harapan-harapan dan perasaan orang lain, terutama anggota kelompok yang dipimpinnya.
Penerimaan dan Penolakan Teman Sebaya Remaja
Dalam kelompok teman-teman sebaya, merupakan kenyataan adanya rrermaja yang diterima dan ditolak yang disebabkan oleh beberapa faktor yang bersifat pribadi/individu.
1. Faktor-faktor yang menyebabkan seorang remaja diterima .
a. Penampilan dan perbuatan. Meliputi antara lain; tampang yang baik, atau paling tidak rapih serta akktif dalam urusan kelompok
b. Kemampuan pikir. Antara lain meliputi; mempunyai inisiatif, mengemukakan buah pikiran, dan sebagainnya
c. Sikap, sifat, perasaan. Antara lain meliputi; bersikap sopan, memperhatikan orang lain, penyabar atau dapat menahan amarah, dan sebagainnya
d. Pribadi, meliputi; jujur dan dapat dipercaya, bertanggung jawab dan suka menjalankan pekerjaannya, dan sebagainnya
e. Aspek lain, meliputi; pemurah atau tidak pelit atau tidak kikir, suka bekerjasama dan membantu anggota kelompoknya.
2. Faktor-faktor yang menyebabkan seorang remaja ditolak .
a. Penampilan (performance) dan perbuatan, antara lain meliputi; sering menantang, malu-malu, dan sebagainya
b. Kemampuan pikir meliputi; keterlambatan berpikir atau bodoh, dan sebagainya
c. Sikap, sifat meliputi; suka melanggar norma dan nilai-nilai kelompok, suka curiga, mengganggu orang lain, dan sebagainya
d. Ciri lain; faktor rumah yang terlalu jauh dari tempat teman kelompok.
Arti Penting dan Akibat-akibat Penerimaan dan Penolakan
Arti penting hal penerimaan ataupun penolakan teman sebaya dalam kelompok bagi sesorang remaja adalah (bahwa0 hal itu mempunyai pengaruh yang kuat/besar terhadap pikiran, sikap, perasaan, perbuatan-perbuatan dan penyesuaian diri remaja.
 Akibat langsung adanya penerimaan teman sebaya bagi seseorang remaja adalah adanya rasa berharga dan berarti serta dibutuhkan bagi/pleh kelompoknya. Hal yang demikian ini akan menimbulkan rasa senang, gembira, puas bahkan rasa bahagia yang akan memberikan rasa percaya diri yang besar.
Hal yang sebaliknya dapat terjadi bagi remaja yang diabaikan ataupun ditolak oleh kelompoknya. Adanya frustasi yang menimbulkan rasa kecewa akibat penolakan atau pengabaian itu. Akibatnya seorang remaja bertingkah laku yang luar biasa; baik bersifat pengunduran diri maupun agresif.
• Tingkah laku yang bersifat pengunduran diri antara lain:
a) Melamun 
b) Menyendiri
c) Berlebihan dalam menekuni hobi
Dan ada pula pengunduran diri yang bersifat netral seperti
d) Bergaul dengan orang-orang yang lebih muda/tua dari dirinya.
• Tingkah laku yang bersifat agresif
a) Menentang orang lain
b) Mengeritik 
c) Suka berdebat
d) Suka menyebarkan gosip
e) Suka memitnah, dan sebagainya.
Jika intensitasnya semakin tinggi, maka tingkah lakunya mungkin; sadis, pembunuh, pencuri, dan lain sebagainya.
Perilaku pelarian sebagai akibat penolakan, baik yang bersifat pengunduran diri maupun yang bersikap agresif, kesemuanya merupakan tingkah laku yang tidak memuaskan dibandingkan dengan kepuasan yang ditimbulkan oleh adanya penerimaan kelompok.
Titik tekan pembahasan dalam penyesuaian pribadi dan sosial remaja tersebut diatas adalah dalam kelompok teman sebaya. Hal ini tidaklah berarti bahwa penyesuaian diri remaja dengan masyarakat yang lebih luas adalah tidak penting. Hal yang sebenarnya ditonjolkan adalah:
1. Kuatnya ketertarikan antara anggota kelompok teman sebaya, sehingga seakan-akan kelompok remaja merupakan kelompok tersendiri dalam masyarakat. Implikasi keadaaan ini bagi pendidik adalah diperlukannya pendekatan yang berlandaskan pemahaman dan pengertian untuk “mendekati” remaja.
2. Kelompok-kelompok remaja itu sangat dinamis sifatnya. Implikasi keadaan ini bagi pendidik adalah diperlukannya kedinamisan serta kreativitas pendidik dalam pendekatan.
3. Keberhasilan dan kegagalan remaja dalam penyesuaian diri dengan teman sebaya sangat mendasari penyesuaian sosialnya yang lebih luas serta sangat berpengaruh bagi penyesuaian pribadi dan sosial remaja dalam masa dewasa kelak. Impliasi keadaan ini bagi pendidik adalah pendidik dan pembimbing remaja merupakan hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dan memerlukan sikap/minat yang mapan dari pendidik dan pembimbing. Jadi, sikap dan minat dalam mengajar dari pendidik merupakan faktor yang penting.

Perkembangan Spiritual
Masa remaja sebagai segmen dari siklus kehidupan manusia, menurut agama merupakan masa starting point pemberlakuan hukum syar’i bagi seorang insan yang sudah baligh (mukallaf). Oleh karena itu, remaja sudah seharusnya melaksanakan nilai-nilai atau ajaran agama dalam kehidupannya. 
Sebagai mukallaf, remaja dituntut untuk memiliki keyakinan dan kemampuan mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupanya sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Nilai-nilai agama yang seharusnya diaktualisasikan itu dapat disimak dalam tabel berikut.
Nilai-nilai agama
Profil sikap dan perilaku remaja

Akidah (keyakinan)
Meyakini Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, yang harus dan patut disembah; Meyakini semua sifat Allah dan mengimplementasikannya ke dalam kehidupan; Meyakini adanya malaikat-malaikat Allah, sehingga lebih was-was dalam menjalani hidup; Menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidupnya dan solusi dari setiap permasalahan; Percaya akan adanya hari kiamat dan akhirat, sehingga mulai mempersiapkan bekal guna kehidupan di akhirat; Percaya dan menerima akan takdir Allah. Tetap berikhtiar serta bertawakal dan menjauhkan diri dari sifat putus asa.

Ibadah dan akhlak
Mendirikan shalat 5 waktu; Belajar untuk menyisihkan sebagian uang jajan ataupun barangnya, untuk diberikan kepada orang yang membutuhkannya; Membaca al-Quran dan berusaha memahami maknanya; Mengikuti sunnah Nabi; berlatih mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal yang dilarang oleh Allah; Bersabar; Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya; Memiliki etos belajar yang tinggi untuk mendapatkan keridoan Allah; Berbakti kepada kedua orang tua; Optimis, dengan cara berikhtiar, berdoa dan bertawakal kepada Allah.


       Dalam mengaktualisasikan nilai-nilai agama di atas, tidaklah mudah. Anak memerlukan bimbingan dari keluarga, guru dan masyarakat sekitarnya. Pada saat remaja, anak hendaknya diajarkan oleh guru agama yang ahli lagi terpercaya, hal ini dilakukan bilamana orang tuanya tidak dapat atau tiak sanggup untuk memberikan pengetahuan agama kepada anaknya.
       Adapun keragaman profil remaja dalam mengamalkan poin di atas, disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya: (1) keragaman pendidikan agama yang diterima remaja dari orang tuanya, ada yang baik, kurang, dan bahkan tidak sama sekali; (2) keragaman pendidikan agama yang diterima remaja dalam pengamalan nilai-nilai agama, ada yang taat, kurang taat dan bahkan sama sekali tidak peduli; dan (3) keragaman kelompok teman bergaul.
Untuk mengatasi hal ini, pendidik hendaknya menerapkan nilai-nilai agama, baik skala kecil ataupun skala besar. Sampaikanlah nilai-nilai agama secara terus-menerus dengan penyampaian yang lembut dan tidak lupa pula sentuhlah hati peserta didik dengan akhlak pendidik yang mulia. Dengan begitu, anak didik akan tergugah untuk mengamalkan kebaikan.

Kebutuhan Remaja dan Pemenuhannya
Kebutuhan remaja
Kekhasan dalam perkembangan fase remaja dibandingkan dengan fase perkembangan lainnya membawa konsekuensi pada kebutuhan yang khas pula pada mereka. Menurut Garrison (Andi Mapiarre, 1982) setidaknya ada tujuh kebutuhan khas remaja, yaitu
Kebutuhan akan kasih sayang,
Kebutuhan akan keikutsertaan dan diterima dalam kelompok,
Kebutuhan untuk berdiri sendiri,
Kebutuhan untuk berprestasi,
Kebutuhan akan pengakuan dari orang lain,
Kebutuhan untuk dihargai, dan
Kebutuhan memperoleh falsafah hidup yang utuh.
Pemenuhan kebutuhan remaja
Kondisi lingkungan sekitar, baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat berkaitan erat dengan motivasi seseorang. Menurut Maslow (Goble, 1987), ada sejumlah kondisi yang merupakan prasyarat dan sekaligus menjadi intervensi edukatif dalam rangka pemuasan kebutuhan dasar manusia, termasuk remaja, yaitu:
Kemerdekaan untuk berbicara;
Kemerdekaan melakukan apa saja yang diinginkan selama tidak merugikn dirinya dan orang lain;
Kemerdekaan untuk mengeksplorasi lingkungan;
Kemerdekaan untuk mempertahankan atau membela diri;
Adanya keadilan;
Adanya kejujuran;
Adanya kewajaran;
Adanya ketertiban.
Hal-hal di atas hendaknya di penuhi dan diciptakan oleh seorang pendidik. Dengan begitu kebutuhan peserta didik/remaja akan terpenuhi, sehingga penyimpangan yang dilakukan remaja akibat tidak terpenuhi kebutuhannya, akan terminimalisir.

Tugas-tugas Perkembangan Remaja
Havighurst mendefinisikan tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar sautu periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan fase bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi, jika gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya.
       Salah satu periode dalam rentang kehidupan individu ialah masa (fase) remaja. Masa ini merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat. (Konopka, dalam Pikunas, 1976; Kaczman dan Riva, 1996)
       Masa remaja ditandai dengan:
Berkembangnya sikap dependen kepada orang tua ke arah independen;
Minat seksualitas;
Kecenderungan untuk merenung atau memperhatikan diri sendiri, nilai-nilai etika, dan isu-isu moral. Pendapat dari Salzman dan Pikunas 1976.
Menurut Havighurst (Hurlock, 1990), ada sejumlah tugas perkemabangan yang harus diselesaikan dengan baik oleh remaja, yaitu sebagai berikut.
Mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
Hakikat tugas
Mempelajari peran anak perempuan sebagai wanita dan anak laki-laki sebagai pria, menjadi dewasa di antara orang dewasa, dan belajar memimpin tanpa menekan orang lain.
Dasar biologis
Secara biologis, manusia terbagi menjadi dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan. Kematangan seksual dicapai selama masa remaja. Daya tarik seksual menjadi suatu kebutuhan yang dominan dalam kehidupan remaja. hubungan sosial dipengaruhi oleh kematangan fisik yang telah dicapai.
Dasar psikologis
Dalam kelompok sejenis, remaja belajar untuk bertingkah laku sebagaimana orang dewasa. Adapun dalam kelompok lain jenis, remaja belajar menguasai keterampilan sosial. Remaja putri umumnya lebih cepat matang daripada remaja putra dan cenderung leboh tertarik kepada remaja putra yang usianya beberapa tahun lebih tua. Kecenderungan seperti ini akan berlangsung sampai mereka kuliah di perguruan tinggi. Keberhasilan dalam melaksanakan tugas perkembangan akan membawa penyesuaian sosial yang lebih baik sepanjang kehidupannya.
Mencapai peran sosial pria dan wanita
Hakikat tugas
Mempelajari peran sosial sesuai dengan jenis kelaminnya sebagai pria atau wanita.
Dasar biologis
Ditinjau dari kekuatan fisik, remaja putri menjadi orang yang lebih lemah dibandingkan dengan remaja putra. Namun, remaja putri memiliki kekuatan lain meskipun memiliki kelemahan fisik.
Dasar psikologis
Peranan sosial pria dan wanita memang berbeda. Remaja putra perlu menerima peranan sebagai seorang pria dan remaja putri perlu menerima peranan sebagai seorang wanita. Meskipun demikian, sering terjadi kesulitan pada remaja putri, kadang-kadang cenderung lebih mengutamakan ketertarikannya kepada karier, cenderung mengagumi ayahnya dan kakaknya, serta ingin bebas dari peranan sosialnya sebagai istri atau ibu yang memerlukan dukungan suami.
Menerima keadaan fisiknya dan menggunakannya secara efektif
Hakikat tugas
Menjadi bangga atau sekurang-kurangnya toleran dengan kondisi fisiknya sendiri, menjaga dan melindungi, serta meggunakannya secara efektif.
Dasar biologis
Perkembangan remaja disertai dengan pertumbuhan fisik dan seksual. Laju pertumbuhan tubuh gadis lebih cepat apabila dibandingkan pemuda. Waktunya kini tiba bagi si remaja untuk mempelajari bagaimana jadinya fisiknya kelak, menjadi tinggi, pendek, besar atau kurus. Umumnya gadis yang berusia 15 sampai 16 tahun, tubuhnya mencapai bentuk akhir. Adapun pada pemuda keadaan ini akan dicapai sekitar usia 18 tahun.
Dasar psikologis
Terjadinya perubahan bentuk tubuh yang disertai dengan perubahan sikap dan minat remaja. Remaja suka memperlihatkan perubahan tubuh yang sedang dialaminya sendiri. Remaja putri lebih suka berdandan dan berhias untuk menarik lawan jenisnya manakala dia sudah mulai menstruasi.
Mencari kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya
Hakikat tugas
Membebaskan sifat kekanak-kanakan yang selalu menggantungkan diri pada orang tua, mengembangkan sikap perasaan tertentu kepada orang tua tanpa menggantungkan diri padanya, dan mengembangkan sikap hormat kepada orang dewasa tanpa menggantungkan diri padanya.
Dasar biologis
Kematangan seksual individu. Individu yang tidak memperoleh kepuasan di dalam keluarganya akan keluar untuk membangun ikatan emosional dengan teman sebaya. Ini bisa berlangsung tanpa mengubah ikatan emosional yang meningkat terhadap orang tua.
Pada masa ini, remaja mengalami sikap ambivalen terhadap orang tuanya. Remaja ingin bebas, namun dirasa bahwa dunia dewasa itu cukup rumit dan asing baginya. Dalam keadaan semacam ini, remaja masih mengharapkan perlindungan orang tua, sebaliknya orang tua menginginkan anaknya berkembang menjadi lebih dewasa. Keadaan inilah yang menjadikan remaja sering memberontak pada otoritas orang tua. Guru adalah salah satu tempat bertumpu. Di sinilah peranan guru cukup besar dalam rangka proses penyapihan psikologis remaja. Kegagalan dalam melaksanakan tugas cenderung dapat diasosiasikan dengan kegagalan dalam membina hubungan yang bersifat dewasa dengan teman sebaya.
Mencapai jaminan kebebasan ekonomis
Hakikat tugas
Merasakan kemampuan membangun kehidupan sendiri.
Dasar biologis
Tidak ada dasar biologis yang berarti untuk pelaksanaan tugas ini, meskipun kekuatan dan keterampilan fisik sangat bermanfaat untuk mencapai tugas ini.
Dasar psikologis
Berkaitan erat dengan hasrat untuk berdiri sendiri.
Memilih dan menyiapkan lapangan pekerjaaan
Hakikat tugas
Memilih pekerjaan yang memerlukan kemampuan serta mempersiapkan pekerjaan.
Dasar biologis
Ukuran dan kekuatan badan pada sekitar usia 18 tahun sudah cukup kuat dan tangkas untuk memiliki dan menyiapkan diri memperoleh lapangan pekerjaan.
Dasar psikologis
Dari hasil penelitian mengenai minat di kalangan remaja, ternyata pada kaum remaja berusia 16-19 tahun, minat utamanya tertuju kepada pemilihan dan mempersiapkan lapangan pekerjaan. Sebenarnya prestasi siswa di sekolah, tentang apa yang dicita-citakannya, kemana akan melanjutkan pendidikannya, secara samar-samar dapat menjadi gambaran tentang lapangan pekerjaan yang diminatinya.
Persiapan untuk memasuki kehidupan berkeluarga
Hakikat tugas
Mengembangkan skap positif terhadap kehidupan berkeluarga. Khusus untuk remaja putri termasuk di dalamnya kesiapan untuk mempunyai anak.
Dasar biologis
Kematangan seksual yang normal yang menumbuhkan ketertarikan antar jenis kelamin.
Dasar psikologis
Sikap remaja terhadpa perkawinan sangat bervariasi. Ada yang menunjukkan rasa takut, tetapi ada juga yang menunjukkan sikap bahwa perkawinan justru merupakan suatu kebahagiaan hidup.
Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep yang penting untuk kompetensi kewarganegaraan
Hakikat tugas
Mengembangkan konsep tentang hukum, politik, ekonomi, dan kemasyarakatan.
Dasar biologis
Pada usia 14 tahun, sistem syaraf dan otak telah mencapai tahap ukuran kedewasaan.
Dasar psikologis
Berkembangnya kemampuan kejiwaan yang cukup besar dan perbedaan individu dalam perkembangan kejiwaan yang sangat erat hubungannya dengan perbedaan dalam penguasaan bahasa, pemaknaan, perolehan konsep-konsep, minat, dan motivasi.
Mencapai dan mengharapkan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab
Hakikat tugas
Berpartisipasi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat dan mampu menjunjung nilai-nilai masyarakat dalam bertingkah laku.
Dasar biologis
Tugas ini tidak terlalu menuntut dasar biologis. Tugas ini berkaitan dengan pengaruh masyarakat terhadap individu, kecuali jika menerima adanya insting sosial pada manusia atau memandang bagus tingkah laku remaja merupakan sublimasi dari dorongan seksual.
Dasar psikologis
Proses untuk megikatkan diri individu kepada kelompok sosialnya telah berlangsung sejak individu dilahirkn. Sejak kecil anak diminta untuk belajar menjaga hubungan baik dengan kelompok, berpartisipasi sebagai anggota kelompok sebaya, dan belajar bagaimana caranya berbuat sesuatu untuk kelompoknya. Ini berlangsung sampai dengan individu itu mencapai fase remaja.
Memperoleh suatu himpunan nilai-nilai dan sistem etika sebagai pedoman tingkah laku
Hakikat tugas
Membentuk suatu himpunan nilai-nilai sehingga memungkinkan remaja mengembangkan dan merealisasikan nilai-nilai, mendefinisikan posisi individu dalam hubungannya dengan individu lain, dan memegang suatu gambaran dunia dan suatu nilai untuk kepentingan hubungan dengan individu lain.
Dasar psikologis
Banyak remaja yang menaruh perhatian pada problem filosofis dan agama. Ini diperoleh remaja melalui identifikasi dan imitasi pribadi ataupun penalaran dan analisis tentang nilai.
William Kay, mengemukakan tugas-tugas perkembangan remaja itu sebagai berikut:
Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya;
Mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau figur-figur yang mempunyai otoritas;
Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual maupun kelompok.
Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya;
Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri;
Memperkuat self-control (kemampuan mengendalikan diri) atas dasar skala nilai, prinsip-prinsip, atau falsafah hidup. (Weltan-schauung)
Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap/perilaku) kekanak-kanakan.

Permasalahan yang Dihadapi Remaja
Konflik yang dialami remaja
Berbagai konflik yang dialami oleh remaja ialah sebagai berikut:
Konflik antara kebutuhan untuk mengendalikan diri dan kebutuhan untuk bebas dan merdeka.
Konflik antara kebutuhan akan kebebasan dan ketergantungan kepada kedua orang tua.
Konflik antara kebutuhan seks dan agama serta nilai sosial.
Konflik antar prinsip dan nilai-nilai yang dipelajari oleh remaja ketika ia kecil dahulu dengan prinsip dan nilai yang dilakukan oleh orang dewasa di lingkungannya dalam kehidupan sehari-hari.
Konflik menghadapi masa depan.
Selain itu para remaja, biasanya mempunyai permasalahan fisik. Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri. Levine & Smolak (2002) menyatakan bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan ketidakpuasan pada dua atau lebih dari bagian tubuhnya. Dalam sebuah penelitian survey pun ditemukan hampir 80% remaja ini mengalami ketidakpuasan dengan kondisi fisiknya (Kostanski & Gullone, 1998). Ketidakpuasan akan diri ini sangat erat kaitannya dengan emosi, pikiran yang berlebihan tentang penampilan, depresi, rendahnya harga diri dan perilaku makan yang maladaptiv (Shaw, 2003; Stice & Whitenton, 2002). Lebih lanjut, ketidakpuasan akan body image ini dapat sebagai pertanda awal munculnya gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia (Polivy & Herman, 1999; Thompson et al). Dalam masalah kesehatan tidak banyak remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang banyak terjadi adalah kurang tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Beberapa kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalah karakteristik mereka yang suka bereksperimentasi dan berskplorasi.
       Permasalahan yang dialami remaja selain uraian di atas, juga mencakup; hubungan dengan orangtua, lingkungan, masyarakat, teman, sekolah dan permasalahan moral, nilai, dan agama.
Kenakalan Remaja
       Permasalahan konflik yang dialami remaja, jika tidak segera/bisa teratasi, maka akan muncul berbagai perilaku penyimpang, antara lain:
Kenakalan Remaja
       Kenakalan remaja dapat terjadi di sekolah atau di masyarakat. Di sekolah, bentuk kenakalannya dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya berupa:
Masalah dengan guru
Masalah dengan peraturan sekolah
Masalah dengan ujian, kenaikan kelas, dan kelulusan
Masalah dengan jajan dan makan minum
Masalah dengan kegiatan belajar dan mengajar
Masalah dengan transportasi pulang pergi.
       Adapun bentuk kenakalan remaja di antaranya, perkelahian, tawuran pelajar, membolos, merokok, penyebaran gambar pornografi, dsb.
Sedangkan di masyarakat bentuk kenakalannya dapat berupa, geng kelompok anak nakal atau berandalan, mabuk-mabukan, kebut-kebutan di jalan raya, dsb.
Menentang Otoritas
Otoritas adalah kekuasaan orang, lembaga atau system yang mengatur dan memerintah. Misalnya orang tua, guru, kepala sekolah, pemimpin dan pemerintah masing-masing memiliki otoritas. Seorang anak remaja yang tidak menyetujui nilai-nilai hidup orang tuanya , cenderung menjauhkan diri dari keterikatan orang tua . Bagi remaja yang agresif , cenderung melakukan pemberontakan dengan cara seperti lari dari rumah, membangkang, tidak hormat kepada orangtua, mabuk-mabukan dan ngebut di jalan.
Penyalahgunaan Narkoba
Penyalahgunaan narkoba adalah penggunaan obat-obatan bukan untuk tujuan pengobatan, tetapi untuk menikmati pengaruhnya dalam jumlah berlebih, secara kurang lebih teratur, berlangsung relatif lama, sehingga menyebabkan gangguan fisik, gangguan kesehatan jiwa  dan gangguan kehidupan sosialnya.
Penyalahgunaan narkoba menjadi masalah yang memprihatinkan, karena banyak menimpa generasi muda penerus bangsa. Generasi muda sangat rawan terhadap masalah narkoba karena mereka merupakan sasaran strategis mafia perdagangan narkoba.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku menyimpang Remaja
Kelalaian orang tua dalam mendidik.
Perselisihan atau konflik orang tua.
Perceraian orang tua.
Perjualan alat kontrasepsi yang kurang terkontrol (Beredarnya film-film atau bacaan porno).
Hidup menganggur (kurang dapat memanfaatkan waktu luang).
Sikap perlakuan orang tua yang buruk terhadap anak.
Kehidupan ekonomi keluarga yang morat-marit (tidak karuan, serba ketidakcukupan).
Diperjualbelikannya minuman keras dan obat-obatan terlarang secara bebas.
Kehidupan moralitas masyarakat yang bobrok.
Pergaulan negatif (teman bergaul kurang/ tidak memerhatikan nilai-nilai moral).
Upaya Mengatasi Permasalahan yang Dialami Remaja
Beberapa remaja mengeluhkan cara-cara orang tua memperlakukan mereka yang otoriter, atau sikap-sikap orang tua yang terlalu kaku atau tidak memahami kepentingan remaja.
Akhir-akhir ini banyak orang tua maupun pendidik yang merasa khawatir bahwa anak-anak mereka terutama remaja mengalami degradasi moral. Sementara remaja sendiri juga sering dihadapkan pada dilema-dilema moral sehingga remaja merasa bingung terhadap keputusan-keputusan moral yang harus diambilnya. Walaupun di dalam keluarga mereka sudah ditanamkan nilai-nilai, tetapi remaja akan merasa bingung ketika menghadapi kenyataan ternyata nilai-nilai tersebut sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dihadapi bersama teman-temannya maupun di lingkungan yang berbeda.
Pengawasan terhadap tingkah laku oleh orang dewasa sudah sulit dilakukan terhadap remaja karena lingkungan remaja sudah sangat luas. Pengasahan terhadap hati nurani sebagai pengendali internal perilaku remaja menjadi sangat penting agar remaja bisa mengendalikan perilakunya sendiri ketika tidak ada orang tua maupun guru dan segera menyadari serta memperbaiki diri ketika dia berbuat salah.
       Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi remaja bisa diatasi dengan beberapa intervensi edukatif yang dapat dilakukan, diantaranya:
Dalam kehidupan keluarga hendaknya diciptakan interaksi edukatif yang memberikan perasaan aman bagi remaja untuk memerankan dirinya ikut ambil bagian dalam berbagai kegiatan keluarganya.
Orang tua hendaknya jangan memberikan stimulus yang mengembangkan identifikasi negatif pada remaja, karena sesungguhnya orang tua harus dapat dijadikan suriteladan bagi remaja dalam segala tingkah lakunya. Karena orangtua merupakan guru pertama bagi anak, sehingga sebelum ada upaya dari guru (sekolah) untuk mengatasi permasalahan anak remaja, terlebih dahulu hal ini diatasi oleh orangtuanya. Sebab orangtua nya sangat mengenali anak tersebut dibandingkan dengan gurunya di sekolah.
Pendidik dan orang tua hendaknya menciptakan kegiatan-kegiatan yang bersifat edukatif di dalamnya, menuntut kemampuan remaja untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif.

BAB III
PENUTUP

       Demikianlah makalah yang kami buat, tentunya banyak kekurangan dan kelemahan karena terbatasnya pengetahuan atau kurangnya rujukan yang kami peroleh dalam makalah ini. Penulis banyak berharap kepada para pembaca yang budiman agar memberikan kritik dan saran demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi penulis khususnya para pembaca. Aamiin.























DAFTAR PUSTAKA

Andi Mappiare.1982. Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional
Elizabeth B. Hurlock. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga
Mohammad Ali & Mohammad Astori. 2014. Psikologi Remaja. Jakarta: PT Bumi Aksara
Sri Esti Wuryani Djiwandono. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Grasindo
Sunarto & Agung Hartono. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta
Syamsu Yusuf & Nani M.S. 2013. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rajawali Pers
Yudrik Jahja. 2011. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Kencana

Internet
Masalah remaja. ( Diakses pada tanggal 2 Februari 2016 pukul 09.16 WIB) http://meiliawati97.blogspot.co.id/p/blog-page_4357.html
Problema masalah yang dihadapi anak-anak dan remaja. ( Diakses pada tanggal 2 Februari 2016 pukul 09.11 WIB). http://www.organisasi.org/1970/01/problema-masalah-yang-dihadapi-anak-anak-dan-remaja.html
Sri Sudarmiyati. Permasalahan yang sering dihadapi remaja. (Diakses pada tanggal 2 Februari 2016 pukul 09.14 WIB). http://srisudarmiyati.blogspot.co.id/2013/07/permasalahan-yang-sering-dihadapi-remaja.html

ADMINISTRASI PENDIDIKAN

JAWABAN UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS)
ADMINISTRASI PENDIDIKAN

Mata Kuliah : Administrasi Pendidikan Islam
Prodi/Smstr/Kls : PAI / IV / C 
Jumlah SKS : 2 (dua)
Dosen : Koko Khoerudin, M.Ag.
Teknik Ujian : Tes Tulisan 
Nama : Kristin Wiranata
NIM : 1152020108
 
Jelaskan secara rinci hal-hal di bawah ini!  
Pengertian administrasi dalam pendidikan Islam
Pengertian Administrasi Pendidikan. Secara etimologi: administrasi berasal dari bahasa latin yang terdiri dari “ad” artinya “intensif” dan “ministrate” artinya melayani, membantu atau mengarahkan. Secara Terminologi: Menurut Sutisna “Adminitrasi pendidikan adalah keseluruhan (proses) yang membuat sumber-sumber personil dan materiil sesuai yang tersedia dan efektif bagi tercapainya tujuan-tujuan bersama. Ia mengerjakan fungsi-fungsinya dengan jalan mempengaruhi perbuatan orang-orang. Proses ini meliputi perencanaan, organisasi, koordinasi, pengawasan, penyelenggaraan dan pelayanan dari segala sesuatu mengenai urusan sekolah yang langsung berhubungan dengan pendidikan sekolah seperti kurikulum, guru, murid, metode-metode, alat-alat pelajaran, dan bimbingan. Juga soal-soal tentang tanah dan bangunan sekolah, perlengkapan, pembekalan, dan pembiayaan yang diperlukan penyelenggaraan pendidikan termasuk didalamnya.”
Pengertian Pendidikan Islam: proses internalisasi nilai-nilai islam kepada peserta didik sebagai bekal untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat.
Pengertian Administrasi Pendidikan Islam: proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (ummat islam/lembaga pendidikan) melalui bantuan orang lain dan bekerjasama dengannya, agar tujuan pendidikan islam bisa dicapai secara efektif, efisien, dan produktif.
Administrasi dalam arti sempit: adalah sebagai tata usaha dan surat-menyurat
Administrasi dalam arti luas: konsep manajemen dan konsep administrasi

Perbedaan administrasi dan manajemen dalam pendidikan Islam
Menurut Dwight Waldo: Administrasi lebih luas dari manajemen

Administrasi
Manajemen

Arti
Proses mengelola suatu organisasi
Seni mengelola suatu organisasi

Peran
Menentukan
Pelaksana

Bisa diterapkan pada
Pelayanan Publik (non-profit oriented)
Lembaga-lembaga profit oriented

Menentukan
Apa yang harus diselesaikan? Dan kapan pekerjaan tersebut terselesaikan?
Siapa yang melakukan pekerjaan? Bagaimana pekerjaan tersebut diselesaikan?

Pekerjaan
Formulasi dari rencana, menyusun kebijakan, dan menentukan tujuan.
Menerapkan rencana dan kebijakan sebagai aksi.

Juru kunci
Administrator
Manajer


Pentingnya partisipasi guru dalam Administrasi Pendidikan Islam 
Pengambilan inisiatif, pengarah, dan penilaian kegiatan-kegiatan pendidikan islam. Hal ini berarti guru turut serta memikirkan kegiatan-kegiatan pendidikan islam yang direncanakan serta nilainya. (mengembangkan filsafat pendidikan islam, memperbaiki dan menyesuaikan kurikulum, merencanakan program supervisi, merencanakan kebijakan-kebijakan kepegawaian dan kesempatan-kesempatan berpartisipasi lainnya)
Wakil masyarakat, yang berarti dalam lingkungan sekolah guru menjadi anggota suatu masyarakat. Guru harus mencerminkan suasana dan kemauan masyarakat dalam arti yang baik.
Orang yang ahli dalam mata pelajaran. Guru bertanggung jawab unyuk mewariskan kebudayaan kepada generasi muda yang berupa pengetahuan.
Penegak disiplin, guru harus menjaga agar tercapai suatu disiplin.
Pelaksana administrasi pendidikan, disamping menjadi pengajar, guru pun bertanggung jawab agar kelancaran jelannya pendidikan dan ia harus mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan administrasi.
Pemimpin generasi muda, masa depan generasi terletak ditangan guru. Guru berperan sebagai pemimpin mereka dalam mempersiapkan diri untuk anggota masyarakat yang dewasa.
Penerjemah kepada masyarakat, artinya guru berperan untuk menyampaikan segala perkembangan kemajuan dunia sekitar kepada masyarakat, khususnya masalah-masalah pendidikan.

a. Perencanaan yang baik harus dapat memberikan jawaban terhadap konsep pertanyaan 5W 1H. Sebutkan dan jelaskan apa yang dimaksud dengan 5W 1H tersebut! 
What: Apa, mampu menjawab atas tujuan, rencana, dan kegiatan yang akan dilaksanakan
Why: Mengapa, mampu memberikan argumen yang kuat dan logis mengapa suatu perencanaan itu dibuat
Where: Dimana, mampu menjawab lokasi diselenggarakannya kegiatan tersebut
When: kapan, mampu menjawab waktu diselenggarakannya kegiatan
Who: Siapa, Mampu menjawab orang yang akan bertanggung jawab dalam melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan perencanaan tersebut
How: Bagaimana, mampu menjawab bagaimana juknis dan teknis pelaksanaan perencanaan 

b. Menurut Hudson dalam Tanner (1981) teori perencanaan meliputi; sinoptik, inkremental, transaktif, advokasi, dan radial. Selanjutnya di kembangkan oleh Tanner (1981) dengan nama teori SITAR sebagai penggabungan dari taksonomi Hudson. Jelaskan teori tersebut !
Teori SITAR Merupakan gabungan kelima teori (sinoptik, inkremental, transaktif, advokasi, dan radial) diatas sehingga disebut juga complementary planning process. Teori ini menggabungkan kelebihan dari teori diatas sehingga lebih lengkap. Karena teori ini memperhatikan situasi dan kondisi masyarakat atau lembaga tempat perencanaan itu akan diaplikasikan, maka teori ini menjadi SITARS yaitu S terakhir adalah menunjuk huruf awal dari teori situational. Berarti teori baru ini di samping mengombinasikan teori-teori yang sudah ada penggabungan itu sendiri ada dasarnya ialah menyesuaikan dengan situasi dan kondisi lembaga pendidikan dan masyarakat. Jadi dapat kita simpulkan bahwa teori-teori diatas mempunyai persamaan dan pebedaannya.
Persamaannya:
Mempunyai tujuan yang sama yaitu pemecahan masalah
Mempunyai obyek perencanaan yang sama yaitu manusia dan lingkungan sekitarnya.
Mempunyai beberapa persyaratan data, keahlian, metode, dan mempunyai konsistensi internal walaupun dalam penggunaannya terdapat perbedaan penitikberatan.
Mempertimbangkan dan menggunakan sumberdaya yang ada dalam pencapaian tujuan
Perbedaannya adalah :
Perencanaan sinoptik lebih mempunyai pendekatan komprehensif dalam pemecahan masalah dibandingkan perencanaan yang lain, dengan lebih mengedepankan aspek-aspek metodologi, data dan sangat memuja angka atau dapat dikatakan komprehensif rasional. Hal ini yang sangat minim digunakan dalam 4 pendekatan perencanaan yang lain.
Perencanaan incremental lebih mempertimbangkan peran lembaga pemerintah dan sangat bertentangan dengan perencanaan advokasi yang cenderung anti kemapanan dan perencanaan radikal yang juga cenderung revolusioner.
Perencanaan transactive mengedepankan faktor – faktor perseorangan / individu melalui proses tatap muka dalam salah satu metode yang digunakan, perencanaan ini kurang komprehensif dan sangat parsial dan kurang sejalan dengan perencanaan Sinoptik dan Incremental yang lebih komprehensif.
Perencanaan advocacy cenderung menggunakan pendekatan hukum dan obyek yang mereka ambil dalam perencanaan adalah golongan yang lemah. Perencanaan ini bersifat sosialis dengan lebih mengedepankan konsep kesamaan dan hal keadilan sosial
Perencanaan Radikal seakan-akan tanpa metode dalam memecahkan masalah dan muncul dengan tiba-tiba (spontan) dan hal ini sangat kontradiktif dengan pendekatan incremental dan sinoptik yang memepertimbangkan aturan-aturan yang ada baik akademis / metodologis dan lembaga pemerintahan yang ada.

a. Aspek utama proses penyusunan struktur organisasi adalah departementalisasi, dan pembagian kerja. Uraikan kedua istilah tersebut ! 
Departementalisasi: adalah pengelompokan pekerjaan menjadi departemen aktivitas pekerjaan yang serupa secara logis berhubungan, oleh karena itu merupakan hasil keputusan manajer tentang aktivitas tadi dibagi-bagi menjadi tugas atau secara jelasnya adalah Proses pengelompokkan dan penamaan bagian atau kelompok pekerjaan berdasarkan kriteria tertentu. Sebagai contoh, untuk bisnis restoran : pencatatan menu, pemberitahuan menu kepada bagian dapur, hingga pengiriman makanan dari bagian dapur kepada pelanggan di meja makan dapat dikelompokkan menjadi satu departemen tertentu, katakanlah bagian Pelayan.
Ada beberapa cara dimana organisasi dapat mengelompokkan kegiatan-kegiatan yang bermacam-macam untuk dilaksanakan. Sekali lagi, proses penentuan cara bagaimana kegiatan-kegiatan dikelompokkan disebut departementalisasi atau departementasi.
Departementalisasi Fungsional. Departementalisasi fungsional mengelompokkan fungsi-fungsi yang sama atau kegiatan-kegiatan sejenis untuk membentuk satu satuan organisasi. Semua individu- individu yang melaksanakan fungsi yang sama dikelompokkan bersama, seperti seluruh personalia, penjualan, akuntansi, programmer computer, dan sebagainya. Kebaikan pendekatan fungsional: Kebaikan utama pendekatan fungsional adalah bahwa pendekatan ini menjaga kekuasaan dan kedudukan fungsi-fungsi utama, menciptakan efisiensi melalui spesialisasi, memusatkan keahlian organisasi, dan memungkinkan pengawasan manajemen puncak lebih ketat terhadap fungsi-fungsi. Kelemahan struktur fungsional : Bagaimanapun juga, pendekatan fungsional mempunyai berbagai kelemahan. Struktur fungsional dapat menciptakan konflik antar fungsi-fungsi, menyebabkan kemacetan-kemacetan pelaksanaan tugas yang berurutan, memberikan tanggapan lebih lambat terhadap perubahan, hanya memusatkan pada kepentingan tugas-tugasnya, dan menyebabkan para anggota berpandangan lebih sempit serta kurang inovatif. 
Departementalisasi Divisional. Banyak perusahaan besar, dengan banyak jenis produk, diorganisasikan menurut struktur organisasi divisional. Bila departementalisasi perusahaan menjadi terlalu kompleks dan tidak praktis bagi struktur fungsional, manajer perlu membentuk divisi-divisi semi otonomi, dimana setiap divisi merancang, memproduksi dan memasarkan produknya sendiri. Tidak seperti departemen fungsional, suatu divisi menyerupai perusahaan yang terpisah.kepala divisi terutama memusatkan perhatiannya bersaing dengan satuan-satuan lainnya dalam perusahaan yang sama. Tetapi suatu divisi bukan merupakan satuan bebas seperti halnya perusahaan terpisah. Dalam hal ini, seorang manajer divisi tidak dapat membuat keputusan-keputusan sebebas pemilik perusahaan terpisah, karena dia masih harus melaporkan kegiatannya kepada direktur pusat. Sebagai pedoman umum, wewenang kepala divisi terbatas bila keputusan-keputusannya akan mempengaruhi kegiatan-kegiatan divisi-divisi lain. Kebaikan struktur divisional : Organisasi atas dasar divisi mempunyai beberapa kebaikan. Karena semua kegiatan, ketrampilan dan keahlian yang diperlukan untuk memproduksi dan memasarkan produk dikelompokkan menjadi satu dibawah seorang kepala,keseluruhan pekerjaan dapat lebih mudah dikoordinasikan dan prestasi kerja yang tinggi dipelihara. Disamping itu, baik kualitas dan kecepatan pembuatan keputusan meningkat, karena keputusan- keputusan yang dibuat pada tingkat divisi dekat dengan kancah kegiatan. Kelemahan struktur divisional: Bagaimanapun juga stuktur divisional mempunyai berbagai kelemahan. Kepentingan divisi mungkin ditempatkan di atas tujuan dan kebutuhan organisasi keseluruhan. Setiap divisi mempunyai para anggota staf dan spesialis sendiri, sehingga akan meningkatkan biaya administrasi dan terjadi duplikasi ketrampilan.
Pembagian Kerja. Pembagian kerja harus disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan kerja berjalan efektif. Oleh karena itu, dalam penempatan karyawan harus menggunakan prinsip the right man in the right place. Pembagian kerja harus rasional/objektif, bukan emosional subyektif yang didasarkan atas dasar like and dislike. Dengan adanya prinsip orang yang tepat ditempat yang tepat (the right man in the right place) akan memberikan jaminan terhadap kestabilan, kelancaran dan efesiensi kerja. Pembagian kerja yang baik merupakan kunci bagi penyelengaraan kerja. kecerobohan dalam pembagian kerja akan berpengaruh kurang baik dan mungkin menimbulkan kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan, oleh karena itu, seorang manajer yang berpengalaman akan menempatkan pembagian kerja sebagai prinsip utama yang akan menjadi titik tolak bagi prinsip-prinsip lainnya.
Dalam Pembagian kerja karyawan harus memiliki sikap seperti dibawah ini :
Wewenang dan tanggung jawab (Authority and responsibility). Setiap karyawan dilengkapi dengan wewenang untuk melakukan pekerjaan dan setiap wewenang melekat atau diikuti pertanggungjawaban. Wewenang dan tanggung jawab harus seimbang. Setiap pekerjaan harus dapat memberikan pertanggungjawaban yang sesuai dengan wewenang. Oleh karena itu, makin kecil wewenang makin kecil pula pertanggungjawaban demikian pula sebaliknya. Tanggung jawab terbesar terletak pada manajer puncak. Kegagalan suatu usaha bukan terletak pada karyawan, tetapi terletak pada puncak pimpinannya karena yang mempunyai wewemang terbesar adalah manajer puncak.
Disiplin (Discipline). Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawab. Disiplin ini berhubungan erat dengan wewenang. Dalam melakasanakan pekerjaan, karyawan harus memperhatikan prinsip kesatuan perintah sehingga pelaksanaan kerja dapat dijalankan dengan baik. Karyawan harus tahu kepada siapa ia harus bertanggung jawab sesuai dengan wewenang yang diperolehnya. Perintah yang datang dari manajer lain kepada serorang karyawan akan merusak jalannya wewenang dan tanggung jawab serta pembagian kerja.
Kesatuan pengarahan (Unity of direction). Dalam melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya, karyawan perlu diarahkan menuju sasarannya. Kesatuan pengarahan bertalian erat dengan pembagian kerja. Kesatuan pengarahan tergantung pula terhadap kesatuan perintah. Dalam pelaksanaan kerja bisa saja terjadi adanya dua perintah sehingga menimbulkan arah yang berlawanan. Oleh karena itu, perlu alur yang jelas dari mana karyawan mendapat wewenang untuk pmelaksanakan pekerjaan dan kepada siapa ia harus mengetahui batas wewenang dan tanggung jawabnya agar tidak terjadi kesalahan. Pelaksanaan kesatuan pengarahan (unity of direction) tidak dapat terlepas dari pembagian kerja, wewenang dan tanggung jawab, disiplin, serta kesatuan perintah.

b. Struktur organisasi mengandung unsur-unsur; spesialisasi kerja, standarisasi, koordinasi, sentralisasi/desentralisasi dalam pembuatan keputusan, besaran (ukuran) satuan kerja. Jelaskan unsur-unsur tersebut!

Spesialisasi kerja. Spesialisasi kerja ini berkaitan dengan spesialisasi, baik tugas individu maupun tugas kelompok dalam organisasi (pembagian kerja) dan mengelompokkan tugas-tugas tersebut ke dalam unit kerja (departementasi)
Standarisasi. Standarisasi kegiatan-kegiatan ini berkaitan dengan standarisasi tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja yang digunakan dalam organisasi. Banyak sistem dan prosedur kerja, termasuk didalamnya struktur organisasi dan bagan organisasi, yang dikembangkan melalui peraturan-peraturan tentang kegiatan-kegiatan dan hubungan-hubungan kerja yang ada dalam organisasi.
Koordinasi. Koordinasi kegiatan ini berkaitan dengan pengintegrasian dan penyelarasan fungsi-fungsi dan unit-unit dalam organisasi yang berkaitan dan saling ketergantungan.
Sentralisasi dan desentralisasi. Sentralisasi dan desentralisasi ini berkaitan dengan letak pengambilan keputusan. Dalam struktur organisasi yang disentralisasikan, pengambilan keputusan dilakukan oleh para pimpinan puncak saja. Dalam desentralisasi, kekuasaan pengambilan keputusan didelegasikan kepada individu-individu pada tingkat-tingkat manajemen menengah dan menengah bawah
Ukuran satuan kerja menunjukan jumlah karyawan dalam suatu kelompok kerja.


Alhamdulillah

PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN GURU

Nama : Kristin Wiranata
NIM : 1152020108
Kelas : PAI VC
Mata Kuliah : Pengembangan Kepribadian Guru
Dosen : Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Ed
Heri Gunawan, S.Pd.I., M.Ag

Apa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian? Mengapa guru “wajib” memiliki kompetensi kepribadian & apa urgensinya menurut Anda? Jelaskan! (15)
Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan beribawa serta menjadi teladan peserta didik. Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup kepribadian yang: Beriman dan bertakwa; Berakhlak mulia; Arif dan bijaksana; Demokratis; Mantap; Berwibawa; Stabil; Dewasa; Jujur; Sportif; Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; Secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri; dan Mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan. [Abdul Somad, Tentang Guru, (Bandung: Alqaprint Jatinangor, 2009), hlm: 10&44]
Guru wajib memiliki kompetensi kepribadian karena berbagai macam tingkah laku yang dzhahir berpangkal dari kepribadian. Jika kepribadiannya baik, maka perilakunya akan positif dan banyak menebar manfaat. Oleh karena itu kompetensi kepribadian wajiblah dimiliki guru, sebab guru merupakan sosok yang dianut oleh siswa dan masyarakat pada umumnya. Guru yang berkepribadian baik dapat amanah dalam mengemban tugasnya (kompetensi profesional), selalu mengasihi muridnya sebagaimana anaknya (kompetensi paedagogik), dan dapat menjalin hubungan interaksi yang baik (kompetensi sosial). Sebelum guru mengembangkan potensi peserta didik, maka hendaknya guru tersebut menjadi sosok yang “baik” terlebih dahulu, sehingga guru mampu menjadi inspirator bagi muridnya.
Apa yang Anda ketahui tentang Id, Ego dan Super Ego dalam teori kepribadian? Jelaskan! (10)
ID/Das Es (Aspek Biologis Kepribadian) atau ketidaksadaran. Id merupakan komponen kepribadian yang primitif, yakni tempat berpangkalnya berbagai dorongan-dorongan untuk memenuhi kepuasan instink. Dalam das es ini berkuasalah prinsip kesenangan atau Lustprinzip. Yakni semua dorongan mengarah pada pemuasan kesenangan. Contohnya: dorongan untuk makan saat lapar.
Ego/Das Ich, (Aspek Psikologis Kepribadian) atau memiliki unsur kesadaran, yang mampu menghayati secara batiniah maupun lahiriah. Das Ich menampilkan akal budi dan pikiran, selalu siap menyesuaikan diri, dan mampu mengendalikan dorongan-dorongan. Das Ich menampilkan prinsip realitas, yaitu menghambat dan mengendalikan prinsip kesenangan. Dalam kata lain kepribadian ini mampu membuat keputusan tentang instink-instink mana yang akan dipuaskan dan bagaimana caranya. Contohnya: Orang yang lapar merencanakan untuk mencari makanan.
Super Ego /Das Uber-ich/Ueber-ich, (Aspek Sosiologis Kepribadian) atau Aku-Ideal. Aku-Ideal merupakan komponen moral kepribadian yang memberikan garis-garis pengarahan etis dan norma-norma yang harus dianut. Salah satu fungsi terpenting dan Uber-Ich ialah: berfungsi sebagai hati nurani, yang mengontrol dan mengeritik perbuatan sendiri. [Kartini Kartono, Psikologi Umum, (Bandung: Mandar Maju, 1996), hlm: 128-129; & Uus Ruswandi dan Badrudin, Pengembangan Kepribadian Guru, (Bandung: CV Insan Mandiri), hlm: 58-61]

Para ahli telah menjelaskan tentang syarat, sifat dan etika profesi guru dengan sangat gamblang, Apa yang Anda ketahui tentang hal tersebut? Dan mengapa hal itu mesti dipenuhi oleh guru dalam menjalankan profesinya? (20)


Persyaratan Profesi Keguruan: Dalam Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dinyatakan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik (ijazah jenjang pendidikan akademik yang harus dimiliki oleh guru atau dosen sesuai dengan jenis, jenjang dan satuan pendidikan formal di tempat penugasan), kompetensi (kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, kompetensi sosial), sertifikat pendidik, sehat jasmani dan ruhani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan dasar dan menengah sekurang-kurangnya S 1/D IV. Sementara itu Ahmad Tafsir menjelaskan syarat-syarat yang harus dipenuhi guru adalah: a) Guru harus dewasa; b) Sehat jasmani dan rohani; c) Memiliki kemampuan atau keahlian dalam mengajar; d) Berkesusilaan dan berdedikasi tinggi. [Chaerul Rochman dan Heri Gunawan, Pengembangan Kompetensi Kepribadian Guru, Bandung: Nuansa Cendekia, 2012), hlm: 26&106-107]
Sifat Guru: Di dalam buku Pengembangan Kompetensi Kepribadian Guru yang ditulis oleh Chaerul Rochman dan Heri Gunawan, terdapat ragam sifat guru yang ideal, yakni: a) Pribadi yang disiplin; b) Pribadi yang jujur dan adil; c) Pribadi yang berakhlak mulia; d) Pribadi teladan; e) Pribadi yang MANTAP (mandiri, aktif, nggak suka maksiat, tenang, anggun,dan prima); f) Pribadi yang dewasa; g) Pribadi yang arif dan penyabar; h) Pribadi yang berwibawa; dan i) Pribadi yang memiliki rasa percaya diri.
Kode Etik Profesi Guru: Dalam pidato pembukaan Kongres PGRI XIII Tahun 1973, Basuni (Ketua Umum PGRI) menyatakan bahwa Kode Etik Guru Indonesia merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku warga PGRI dalam melaksanakan panggilan pengabdiannya bekerja sebagai guru. Pengertian tersebut menunjukkan unsur yang terkandaung dalam kode etik guru Indonesia, yaitu: a) sebagai landasan moral; b) sebagai pedoman tingkah laku. Soetjipto dan Raflis Kosasi menegaskan bahwa kode etik suatu profesi adalah norma-norma yang harus diindahkan oleh setiap anggota profesi di dalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya di masyarakat. Norma-norma tersbeut berisi petunjuk-petunjuk bagi para anggota profesi tentang bagaimana mereka melaksanakan profesinya dan larangan-larangan, yaitu ketentuan-ketentuan tentang apa yang tidak boleh diperbuat atau dilaksanakan oleh mereka, tidak saja dalam menjalankan tugas profesi mereka, malainkan juga menyangkut tingkah laku anggota profesi pada umumnya dalam pergaulannya sehari-hari dalam masyarakat. Tujuan kode etik ialah untuk kepentingan anggota atau profesi itu sendiri. R. Hermawan S. menjelaskan tujuan mengadakan kode etik adalah: a) Untuk menjunjung tinggi martabat profesi; b) Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggotanya; c) Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi; d) dan Untuk meningkatkan mutu profesi.
KODE ETIK GURU INDONESIA
Guru Indonesia menyadari, bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bangsa dan negara, serta kemanusiaan pada umumnya. Guru Indonesia yang berjiwa Pancasila dan setia pada Undang-Undang Dasar 1945, turut bertanggung jawab atas terwujudnya cita-cita Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Oleh sebab itu, guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya dengan memedomani dasar-dasar sebagai berikut: a) Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila; b) Guru memiliki dan meaksanakan kejujuran profesional; c) Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan; d) Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar-mengajar; e) Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan; f) Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya; g) Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial; h) Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian; i) Guru melaksanakan segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. [Uus Ruswandi dan Badrudin, Pengembangan Kepribadian Guru, (Bandung: CV Insan Mandiri), hlm: 23-25]
Mengapa ketiga hal tersebut harus dipenuhi oleh guru? Sebab tugas menjadi seorang guru tidaklah mudah, yakni mengembangkan potensi manusia agar menjadi seorang hamba yang dekat dengan Allah (Abdullah) dan manusia yang dapat hidup mandiri sebagai khalifah di muka bumi (cerdas spiritual, cerdas akal dan cerdas emosional). Tentu profesi ini tidak boleh dipegang oleh sembarang orang, dan mestilah didalam profesi tersebut mencakup berbagai persyaratan, kode etik, dan ragam sifat yang idealnya melekat dalam sosok seorang guru. 

Sebagai guru yang profesional hendaknya disiplin, jujur, adil, berwibawa, berakhlak mulia, memiliki etos kerja dan rasa bangga menjadi guru. Mengapa semua hal tersebut penting dimiliki oleh guru? Jelaskan! (25)
Disiplin: Orang yang disiplin akan memperoleh hasil yang jauh lebih banyak di dalam hidupnya daripada orang yang tidak disiplin. Oleh karena itu seorang guru hendaknya memiliki sikap disiplin, sebab dalam menanamkan kedisiplinan terhadap siswa, guru bertanggung jawab dalam mengarahkan, berbuat baik dan menjadi contoh teladan dalam kedisiplinan. Profesi guru sangatlah memerlukan keuletan dan kedisiplinan yang tinggi sebagai wujud keprofesionalannya. Seperti disiplin masuk kelas, mengerjakan berbagai tugas secara tepat waktu, disiplin dalam mencontohkan kebaikan, dll. Guru pun harus mampu mamanage aktivitasnya dan melaksanakannya secara disiplin, sehingga ia dapat menebar kemanfaatan lebih banyak. Bukankah disiplin dalam kebaikan (istiqomah) merupakan perilaku yang dicintai Allah?
Jujur: Jujur ialah setia pada kebaikan. Dimanapun guru berada, ia harus senantiasa bertingkah laku jujur sesuai dengan ilmu yang dimilikinya. Guru hendaknya tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang negatif. Sikap jujur dapat dikatakan sebagai salah satu induk dari perilaku baik/akhlak baik. Guru yang senantiasa bersikap jujur tentu dapat amanah dalam mengemban tugasnya, dapat dicontoh perilakunya, dan dapat dipercayai ucapannya.
Adil: Adil ialah menempatkan sesuatu pada tempatnya secara benar. Dalam artian, ucapan dan perilaku guru haruslah sesuai dengan syariat dan norma yang berlaku. Guru haruslah berlaku adil dalam memperlakukan anak didiknya yang memiliki perbedaan karakteristik, dan dapat memberikan asupan ilmu sesuai dengan tingkat pemahaman murid, serta tidak berlaku sewenang-wenang atau otoriter kepada murid tanpa alasan yang benar.
Berwibawa: Berwibawa ialah adanya kesesuaian antara ucapan dengan perilaku. Setiap ilmu yang dimiliki oleh guru haruslah diamalkan dengan penuh keinsyafan dan kesungguhan. Guru hendaknya cerdas dalam merealesasikan ilmunya, dalam artian menjadi sosok yang cerdas spiritual, cerdas akalnya, dan cerdas pula emosionalnya. Sosok guru yang berwibawa senantiasa menjadi pionir dalam kebaikan. Dengan demikian, siswa akan menghormati sosok guru yang berwibawa, dan inilah sosok guru sejati! Bukankah menjadi perintis dalam kebaikan merupakan perilaku yang sangat terpuji?
Berakhlak mulia: Siswa lebih mengarahkan perhatiannya kepada sikap dan perilaku gurunya dibandingkan dengan untaian ilmu yang diucapkannya. Dalam kata lain, siswa lebih mudah meniru perilaku guru dibandingkan ucapannya. Akhlak mulia seorang guru merupakan alat yang sangat berpengaruh dalam membentuk karakter siswa. Dengan akhlak mulia, maka seorang guru dapat menyentuh ranah afektif siswa didalam pembelajaran, hal ini tentu lebih efektif dalam membentuk karakter siswa. Jika ranah afektif siswa sudah tersentuh, maka siswa akan lebih mudah dalam menyerap ilmu, dengan demikian tujuan pembelajaran pun akan mudah tercapai.
Memiliki etos kerja: Karakter guru yang memiliki etos kerja yang tinggi, akan memberikan dampak yang signifikan terhadap keprofesionalitasannya sebagai seorang guru. Ia mampu menyelesaikan tugasnya secara efektif dan efisien atau setidaknya ia memiliki kesungguhan dan antusias dalam menjalani tugasnya. Tentu ini merupakan salah satu modal menjadi guru yang profesional. Guru ini pun mampu menghidupkan kondisi dan lingkungan belajar yang menyenangkan dan kondusif.
Memiliki rasa bangga menjadi guru: Yakni seorang guru merasa percaya diri dan tidak minder dengan profesi yang dilakoninya. Profesi guru merupakan panggilan hidup, dan dilakukan karena mencari keridoan Allah. Pekerjaan yang mulia ini tentulah hendaknya membuat orang yang menekuninya merasa bangga atas tugasnya tersebut. Jika seorang guru sudah bangga dengan profesinya, maka ia akan mencurahkan segala kapasitasnya dalam upaya menebarkan manfaat sebagai seorang guru. Dengan demikian ia tidak mudah putus asa dan pesimis dalam menjalankan profesinya. Bukankah Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu? [Disadur bebas dari buku Pengembangan Kompetensi Kepribadian Guru karya Chaerul Rochman dan Heri Gunawan]

Jelaskan secara rinci kepribadian Guru menurut Ibnu Shahnun, Al-Ghazali, dan Hasyim Asy’ari! (25)
Kepribadian Guru Menurut Ibnu Shahnun: Guru tidak diperkenankan memerintahkan murid untuk memenuhi segala kebutuhannya; Etika guru dan kewajibannya harus berdasarkan hukum agama dan hukum syar’i (apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan seorang guru, kapan guru berhak menerima upah, hibah dan berapa kisaran upahnya); Guru diperbolehkan menghukum murid apabila melakukan kesalahan (atas izin orang tuanya, maksimal hukuman tersebut 3 kali pukulan rotan dan bukan dilakukan dibagian muka atau kepala, dan usia siswa yang boleh dihukum harus lebih dari 10 tahun); Guru harus ikhlas, takwa, tanggap terhadap masalah, dan penyayang; Guru dilarang keras untuk mengumpulkan hadiah dari murid (dengan paksaan); Guru boleh menentukan upahnya sesuai dengan kesepakatan dengan wali murid; Guru bersikap adil terhadap siswa dan selalu mengawasinya; Guru dilarang mengajarkan al-Qur’an kepada murid non-muslim; dan Guru dilarang mencampurbaurkan murid perempuan dengan murid laki-laki.
[Chaerul Rochman dan Heri Gunawan, Pengembangan Kompetensi Kepribadian Guru, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2012), hlm: 298-299]
Kepribadian Guru Menurut Al-Ghazali: Menunjukkan kasih sayang kepada anak didik yakni dengan menganggapnya seperti anak sendiri; Ikhlas dalam mengajar; Menjadi pengajar dan penyuluh yang jujur dan benar di hadapan murid-muridnya; Menggunakan cara yang simpatik, halus dalam mengajar dan tidak menggunakan kekerasan, cacian, makian dan sebagainya; Tampil sebagai teladan atau panutan yang baik di hadapan murid-muridnya. Dan dalam hubungan ini seorang guru harus bersikap toleran dan mau menghargai keahlian orang lain; Mengakui adanya perbedaan potensi yang dimiliki murid secara individual, dan memperlakukannya sesuai dengan tingkat perbedaan yang dimiliki muridnya itu; serta Berpegang teguh kepada prinsip yang diucapkannya, serta berupaya untuk merealisasikannya sedemikian rupa.
[Imam Ghazali, Ringkasan Ihya’ Ulumuddin, diterjemahkan oleh: Zaid Husein Al-Hamid, (Jakarta: Pustaka Amani, 1995), hlm 1; Abu Muhammad Iqbal, Konsep Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan, (Jawa Timur: Jaya Star Nine, 2013), hlm: 30]
Al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh Zainuddin merumuskan syarat-syarat kepribadian seorang pendidik sebagai berikut: (1) Sabar menerima masalah-masalah yang ditanyakan murid, dan harus diterima dengan baik; (2) Senantiasa bersifat kasih sayang dan tidak pilih kasih; (3) Jika duduk harus senantiasa sopan dan tunduk, tidak ria dan pamer; (4) Tidak takabur, kecuali kepada orang yang zalim, dengan maksud mencegah dari tindakannya; (5) Bersikap tawadhu dalam pertemuan-pertemuan; (6) Sikap dan pembicarannya tidak main-main; (7) Menanam sifat bersahabat dalam hatinya terhadap semua murid-muridnya; (8) Menyantuni serta tidak membentak-bentak orang-orang yang “bodoh”; (9) Membimbing dan mendidik murid yang “bodoh” dengan cara yang sebaik-baiknya; (10) Berani berkata “saya tidak tahu” terhadap masalah yang tidak dimengerti; (11) Menampilkan hujjah yang benar apabila ia berada dalam hak, dan bersedia ruju’ kepada kebenaran.
Kemudian terkait dengan tugas dan kewajiban pendidik, dalam kitab Ihya Ulumuddin dan Mizan Al Amal, ia telah menjelaskannya dengan sangat gamblang, sebagaimana dikutip oleh Zainuddin bahwa secara umum Al-Ghazali membaginya kepada empat hal, yaitu: (1) Mengikuti jejak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam tugas dan kewajibannya; (2) Memberi kasih sayang terhadap anak didik; (3) menjadi teladan bagi anak didiknya; dan (4) Menjaga kode etik guru (pendidik). [Heri Gunawan, Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, (Bandung: Rosdakarya, 2014), hlm: 331]
Kepribadian Guru Menurut Hasyim Asyari: Selalu mendekatkan diri kepada Allah (muraqabah); Takut (khouf) kepada murka atau siksa Allah subhanahu wata’ala; Sakinah (bersikap tenang); Wara’, (Berhati-hati dalam setiap perbuatan); Tawadhu ( Rendah hati atau tidak menyombongkan diri); Khusyu kepada Allah subhanahu wata’ala; Senantiasa Berpedoman kepada hukum Allah dalam setiap hal; Zuhud (tidak terlampau mencintai kesenangan dunia); Menjaga dan mengamalkan hal-hal yang sangat dianjurkan oleh syari’at Islam, baik berupa perkataan maupun perbuatan; serta senantiasa Menyucikan jiwa raga dari akhlak-akhlak tercela serta menghiasinya dengan akhlak-akhlak mulia. [Tamamur Ridlo, Skripsi: Kompetensi Guru Menurut KH. Hasyim Asy’ari dalam Kitab Adab Al-‘Alim wa Al-Muta’allim, (Kudus: STAIN Kudus, 2014), hlm: 39-45]

Apa manfaat yang Anda dapatkan setelah mempelajari mata kuliah Pengembangan Kepribadian Guru? Jelaskan! (5)
Dapat mengetahui berbagai teori kepribadian guru yang ideal, sehingga dapat memberikan bekal dan penguatan terhadap kompetensi kepribadian guru yang ideal. Dapat mengetahui bagaimana persyaratan, kode etik guru, kompetensi yang wajib dimiliki oleh guru, kewajiban dan tanggung jawab seorang guru, memahami bagaimana karakter kepribadian guru yang ideal, dapat memupuk rasa bangga dan etos kerja dalam menekuni profesi guru, serta dapat mempelajari berbagai pendapat para ilmuwan muslim mengenai etika guru yang ideal. Dengan mempelajari teori keilmuan mengenai pengembangan kepribadian guru, dapat memudahkan untuk membentuk dan mengembangkan karakter diri agar dapat menjadi guru yang profesional.

*الحمدلله ربّ العالمين*




LITERATUR

Abdul Somad. 2009. Tentang Guru. Bandung: Alqaprint Jatinangor
Abu Muhammad Iqbal. 2013. Konsep Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan. Jawa Timur: Jaya Star Nine
Chaerul Rochman dan Heri Gunawan. 2012. Pengembangan Kompetensi Kepribadian Guru. Bandung: Nuansa Cendekia
Heri Gunawan. 2014. Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Imam Ghazali. 1995. Ringkasan Ihya’ Ulumuddin. Diterjemahkan oleh: Zaid Husein Al-Hamid. Jakarta: Pustaka Amani 
Kartini Kartono. 1996. Psikologi Umum. Bandung: Mandar Maju
Tamamur Ridlo. 2014. Kompetensi Guru Menurut KH. Hasyim Asy’ari dalam Kitab Adab Al-‘Alim wa Al-Muta’allim. Skripsi. Fakultas Tarbiyah, Pend. Agama Islam, STAIN Kudus 
Uus Ruswandi dan Badrudin. Pengembangan Kepribadian Guru. Bandung: CV Insan Mandiri

DASAR DAN TUJUAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM

DASAR DAN TUJUAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM

Dalam rangka melengkapi tugas perkuliahan mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam

Dosen
Dr. H. Dindin Jamaluddin, M.Ag.
Dr. H. Ujang Dedih, M.Pd.





Disusun oleh kelompok 2

1152020101 Irfi Nur Syamsiah
1152020108 Kristin Wiranata
1152020115 Lina Marlina






JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017


KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji hanya milik Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dan hanya kepada-Nyalah kita berhak bersyukur dan tiada yang lain selain Allah, karena sesungguhnya Allah-lah yang mampu memberikan kita kekuatan untuk mengerjakan segala sesuatu yang kita lakukan.
Shalawat serta salam semoga tercurahlimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang telah menuntun kita kepada jalan yang benar. Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam. Kami berharap makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang mengarahkan kepada hal yang baik, dan mampu menjadi petunjuk untuk pembahasan yang kami bahas. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

   Bandung, 18 September 2017












DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR i
BAB I PENDAHULUAN ii
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 2
BAB II PEMBAHASAN 3
Sumber Ilmu Pendidikan Islam 3
Dasar Ilmu Pendidikan Islam 6
Tujuan Mempelajari Ilmu Pendidikan Islam 11
Urgensi Ilmu Pendidikan Islam 11
Fungsi Ilmu Pendidikan Islam 12
BAB III PENUTUP 14
Daftar Pustaka 15

















BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Dewasa ini di dalam dunia pendidikan, terdapat dua kelompok teori pendidikan yang sangat berpengaruh, yakni teori pendidikan barat dan teori pendidikan Islam. Jika umat Islam (Indonesia) sadar akan pentingnya pendidikan dalam upaya memajukan bangsa, maka umat Islam hendaknya merujuk dan kembali kepada dua pusaka yang agung, yakni Al-Quran dan Al-Hadis.
Seringkali, umat Islam (di bangsa ini) ‘tertinggal’ dan ‘tidak terlibat’ di dalam gerakan pembaharuan ilmu dan pengetahuan. Coba sesekali tengoklah bangsa Barat, yang mana mereka begitu cerdik mengambil saripati ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam dua pusaka umat Islam. Lalu, mengapa umat Islam bisa tertinggal dan tidak sadar bahwa kunci kebahagiaan dunia akhirat itu sudah tertuang di dalam Al-Quran dan Al-Hadis?. Mungkin, selama ini kita masih disibukkan dengan perbedaan/ikhtilafiyyah, atau mungkin juga ada yang perlu dibenahi dalam pola pemikiran umat Islam. Contohnya, seperti apa yang dikatakan oleh Ahmad Tafsir yakni banyak orang Islam (di bangsa ini) yang ingin memajukan kesejahteraan hidupnya/memajukan bangsanya, namun pendidikan yang menjadi kunci kemajuan itu sendiri tidak diperhatikan mutunya. Jika diperhatikan dan diambil kesimpulan secara rata, sebab rendahnya mutu pendidikan islami ialah karena kekurangan dana, kurang profesionalnya tenaga pendidik, pengelolaan pendidikan yang kurang baik.
Berbagai permasalahan di dalam dunia pendidikan islami tersebut dapat dibenahi dengan cara mengaplikasikan ilmu pendidikan Islami, yang mana didalamnya mencakupi teori-teori pendidikan yang bersumber dari Al-Quran, al-Hadis, dan Ijtihad. Diharapkan kelak, umat Islam akan memiliki kekuatan dari segala sisi, baik intelektualnya, emosionalnya, dan sudah barang tentu spiritualnya. 
Untuk lebih mengenal ilmu pendidikan Islam secara lebih dekat kami menyusun makalah yang berjudul “Dasar dan Tujuan Ilmu Pendidikan Islam”. Yang mana harapan kami adalah ilmu pendidikan Islam dapat dipahami dasar-dasarnya dan tujuan dari ilmu pendidikan Islam itu sendiri, agar kelak ilmu pendidikan Islam dapat diaplikasikan oleh para calon pendidik secara nyata di dalam dunia pendidikan Islam yang sebenarnya.

Rumusan Masalah
Agar dapat memudahkan kami di dalam penyusunan makalah ini, kami membatasi dan menyusun rumusan masalah sebagai berikut.
Darimana sumber Ilmu Pendidikan Islam berasal?
Apa dasar-dasar Ilmu Pendidikan Islam?
Apa tujuan dari mempelajari Ilmu Pendidikan Islam?
Apa fungsi Ilmu Pendidikan Islam?
Bagaimana urgensi Ilmu Pendidikan Islam?



















BAB II
PEMBAHASAN

Sumber Ilmu Pendidikan Islam
Ahmad Tafsir mendefinisikan Ilmu Pendidikan Islami sebagai ilmu pendidikan yang berdasarkan Islam, yang mana isi dari Ilmu Pendidikan Islami mencakup berbagai teori mengenai pendidikan berdasarkan ajaran Islam. Pertanyaannya: mengapa harus berdasarkan Islam? Jawaban yang paling penting dan mendasar terhadap pertanyaan ini adalah: karena keyakinan. Jika dasarnya keyakinan, maka sebenarnya persoalan itu tidak dapat diperdebatkan lagi. Akan tetapi, sekalipun tidak dapat diperdebatkan lagi, konsep tersebut dapat dijelaskan. Muslim meyakini bahwa kehidupan tidak dapat diserahkan seluruhnya kepada kemampuan akal, atau kepada kemauan manusia, baik manusia secara pribadi ataupun manusia dalam arti keseluruhan manusia. Dalam hal ini, pandangan muslim itu bertolak belakang dengan humanisme yang mengajarkan bahwa akal manusia telah mencukupi untuk mengatur dunia dan kehidupan manusia, dan karena itu agama tidak diperlukan. Pandangan muslim itu tidak juga dapat dikatakan seratus persen hanya berdasarkan keyakinan. Dasar akliahnya ada juga ada, sekalipun tidak begitu kuat. 
Karena pendidikan menduduki posisi terpenting dalam kehidupan manusia, maka wajarlah muslim meletakkan al-Quran, hadis dan akal sebagai dasar bagi teori-teori pendidikannya. Itulah sebabnya Ilmu Pendidikan Islami memilih al-Quran dan hadis sebagai dasarnya. Kata “akal” tidak perlu disebutkan secara formal karena telah diketahui secara umum bahwa al-Quran dan hadis menyeluruh menggunakan akal. Jadi, mengapa muslim meletakkan al-Quran dan hadis menjadi dasar pendidikannya, jawabnya adalah karena kedua sumber itu dijamin kebenarannya.


Al-Quran sebagai sumber utama
Sumber utama ilmu pendidikan Islam adalah Al-Quran. Al-Quran sebagai sumber dan dasar nilai serta norma dalam Islam. Dengan demikian, sumber dan dasar nilai ilmu pendidikan Islam pun adalah Al-Quran. Oleh karena itu, bukan ilmu pendidikan Islam apabila sumber inspirasinya bukan Al-Quran.
Di dalam Al-Quran banyak dijelaskan ajaran-ajaran yang berkenaan dengan kegiatan atau usaha pendidikan ini. Sebagai contoh dapat dibaca kisah Luqman mengajari anaknya dalam surat Al-Luqman ayat 12 sampai dengan ayat 19. Dalam ayat tersebut terdapat 5 azas pendidikan yaitu yang berkenaan dengan :
Azas pendidikan tauhid
Azas pendidikan akhlak kepada orang tua dan masyarakat
Azas pendidikan amar ma’ruf nahi munkar
Azas pendidikan kesabaran dan ketabahan
Azas pendidikan sosial kemasyarakatan (tidak boleh sombong)
Pendidikan, karena termasuk ke dalam usaha atau tindakan untuk membentuk manusia, termasuk ke dalam ruang lingkup muamalah. Pendidikan ikut menentukan corak dan bentuk amal dan kehidupan manusia, baik pribadi maupun masyarakat. Didalam Al-Quran terdapat banyak ajaran yang berisi prinsip-prinsip berkenaan dengan kegiatan atau usaha pendidikan itu sendiri. 
Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa ilmu pendidikan Islam harus mengunakan Al-Quran sebagai sumber utama dalam merumuskan beberapa teori tentang pendidikan Islam. Atau dengan kata lain, ilmu pendidikan Islam harus berdasarkan ayat-ayat Al-Quran yang penafsirannya dapat dilakukan berdasarkan ijtihad disesuaikan dengan perkembangan zaman.

As-Sunnah dan hadis sebagai sumber kedua
Al-Hadits adalah sumber kedua agama dan ajaran Islam. Apa yang disebutkan dalam Al-Quran dijelaskan atau dirinci lebih lanjut oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan sunah beliau. Karena itu, sunah Rasul yang kini terdapat dalam Al-Hadits merupakan penafsiran serta penjelasan otentik (sah, dapat dipercaya sepenuhnya) terhadap Al-Quran. Di dalam As-Sunnah juga berisi ajaran tentang aqidah dan akhlak seperti Al-Quran yang berkaitan dengan masalah pendidikan. As-Sunnah berisi petunjuk (tuntunan) untuk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspeknya, untuk membina umat manusia seutuhnya. Dan yang lebih penting lagi dalam As-Sunnah bahwa dalamnya terdapat cerminan tingkah laku dan kepribadian Rasulullah shallallahu alaihi wasasallam yang merupakan tauladan dan edukatif bagi manusia. Oleh karena itu As-Sunnah dan hadits merupakan landasan kedua bagi cara pembinaan pribadi manusia muslim. As-Sunnah selalu membuka kemungkinan penafsiran berkembang. Itulah sebabnya, mengapa ijtihad perlu ditingkatkan dalam memahaminya termasuk As-Sunnah dan hadits yang berkaitan dengan pendidikan.

Ijtihad sebagai sumber ketiga
Ijtihad adalah istilah para fuqaha, yaitu berfikir dengan menggunakan seluruh ilmu yang dimiliki oleh ahli syari’at Islam untuk menetapkan atau menentukan suatu hukum Islam dalam hal-hal yang belum ditegaskan hukumnya oleh Al-Quran dan Sunnah. Ijtihad dalam hal ini dapat saja meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan, tetapi tetap berpedoman kepada Al-Quran dan Sunnah.
Ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber dari al-Quran dan as-Sunah/al-Hadis yang diolah akal yang sehat dari para ahli pendidikan Islam. Ijtihad tersebut haruslah dalam hal-hal yang berhubungan langsung dengan kebutuhan hidup di suatu tempat pada kondisi dan situasi tertentu. Teori-teori pendidikan baru hasil ijtihad harus dikaitkan dengan ajaran islam dan kebutuhan hidup. 
Ijtihad dibidang pendidikan ternyata semakin perlu sebab ajaran islam yang terdapat dalam al-Quran dan sunah adalah bersifat pokok-pokok dan prinsip-prinsipnya saja. Bila ternyata terdapat hal yang terperinci di dalamnya, maka perincian itu adalah sekedar contoh dalam menerapkan yang prinsip itu. Sejak diturunkan sampai Nabi Muhammad shallalahu alaihi wasallam wafat, ajaran Islam telah tumbuh dan berkembang melalui ijtihad yang dituntut oleh perubahan situasi dan kondisi sosial yang tumbuh dan berkembang pula. Sebaliknya ajaran Islam sendiri telah berperan mengubah kehidupan manusia menjadi kehidupan muslim.

Dasar Ilmu Pendidikan Islam
Dasar-dasar dalam uraian ini adalah landasan atau pijakan yang dijadikan tempat berjalannya ilmu pendidikan Islam. Pada prinsipnya, ilmu pendidikan Islam berfungsi mengembangkan pendidikan Islam itu sendiri. oleh karena itu, harus diaplikasikan pada hal-hal berikut:
Pendidikan Islam harus diorientasikan pada upaya mengejawantahkan nilai-nilai ilaihiah dalam pribadi setiap peserta didik.
Pendidikan Islam adalah upaya manusia untuk menginternalisasikan sifat-sifat Allah yang ada pada dirinya.
Pendidikan Islam sesungguhnya diorientasikan umat Islam pada upaya mengenal Allah, mendekati-Nya, dan menyerahkan diri kepada-Nya.
Kemutlakan Allah dalam segala dimensi-Nya harus tampak dalam seluruh komponen pendidikan Islam, baik dalam tujuan, materi, dan komponen pendidikan lainnya.
Dimensi kebenaran Allah mengisyarakan bahsa hanyalah Dia Sumber Kebenaran, melahirkan cara pandang epistemologis tentang apa yang disebut dengan pengetahuan; tidak ada pengetahuan yang dianggap benar jika tidak bersumber dan tidak merujuk tanda-tanda Allah, baik qauniyah maupun qauliyah. Hal itu berlaku juga dalam ilmu pendidikan Islam.
Agar lebih sistematis, dasar-dasar ilmu pendidikan Islam adalah sebagai berikut.

Ayat-ayat al-Quran tentang ilmu pendidikan Islam
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥ 
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan; Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah; Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah; Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam; Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al-‘Alaq: 1-5)
Menurut al-Maraghi, ayat al-Quran tersebut menjadi dalil bagi keutamaan membaca, menulis dan ilmu. Ketiganya merupakan komponen-komponen pokok dalam setiap kegiatan belajar. Kewajiban belajar menjadi semakin urgen manakala dikaitkan dengan eksistensi manusia sebagai makhluk yang mengemban amanat mulia untuk membangun kehidupan dan peradaban dimuka bumi. Dengan kesempurnaan akal yang telah Allah anugerahkan kepada manusia maka hendaknya manusia termotivasi untuk senantiasa membaca dan menemukan berbagai ilmu pengetahuan. Sebab kata iqra didalam surat ini memiliki makna yang lebih luas dari sekedar membaca, yakni menghimpun, meneliti, menelaah dan sebagainya. Sehingga dengan berbagai kegiatan tersebut lahirlah berbagai ilmu dan pengetahuan yang belum diketahui sebelumnya. 
أَلَمۡ تَرَوۡاْ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَأَسۡبَغَ عَلَيۡكُمۡ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةٗ وَبَاطِنَةٗۗ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُجَٰدِلُ فِي ٱللَّهِ بِغَيۡرِ عِلۡمٖ وَلَا هُدٗى وَلَا كِتَٰبٖ مُّنِيرٖ ٢٠ 
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Q.S. Luqman: 20)
Manusia mengemban amanah sebagai khalifah/pemimpin dimuka bumi ini. Dengan demikian, tauhid mendorong manusia untuk menguasai dan memanfaatkan alam karena sudah ditundukkan oleh Allah. Perintah mengesakan Tuhan dibarengi dengan larangan mempersekutukan Tuhan (syirik). Jika manusia mempersekutukan Tuhan, berarti ia dikuasai oleh alam, padahal, manusialah yang harus menguasai bumi karena bumi telah ditundukkan Allah. Konsekuensi dari tauhid adalah bahwa manusia harus menguasai alam dan haram untuk tunduk pada alam. Menguasai alam berarti menguasai hukum alam; dan dari hukum alam ini, ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan. 
Pandangan ini menjelaskan kepada kita bahwa dasar ilmu pendidikan Islam adalah Al-Quran dengan ayat-ayat yang berbicara mengenai ilmu pengetahuan alam dan ilmu kemanusiaan serta ilmu ketuhanan. Yang mana semua ayat tersebut merupakan pondasi bagi bergeraknya ilmu pendidikan Islam. Dengan dasar al-Quran, ilmu pendidikan Islam dikembangkan agar manusia bertauhid, artinya senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah, sebaliknya menundukkan alam semesta ini sebagai sumber manfaat bagi manusia. Manusia tidak dibenarkan tunduk pada alam. Kehidupan yang ditundukkan oleh alam berarti kehidupan yang hampir identik dengan kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Dengan demikian, sumbangan Islam dalam kehidupan manusia adalah terbentuknya suatu komunitas yang dapat memelihara dan mengembangkan kehidupan melalui pengembangan ilmu atau sains. Penguasaan dan pengembangan sains yang didasari dengan keimanan bukan saja termasuk amal saleh, melainkan juga bagian dari komitmen keimanan kepada Allah. 
Atang Abdul Hakim dan Jaih Mubarok mengutip pendapat Nurcholish Madjid, menjelaskan hubungan organik antara iman dan ilmu dalam Islam. Menurutnya, ilmu adalah hasil pelaksanaan perintah Tuhan untuk memperhatikan dan memahami alam raya ciptaan-Nya, sebagai manifestasi atau penyingkapan tabir akan rahasia-Nya. Garis argumen ini dijelaskan oleh Ibnu Rusyd, antara iman dan ilmu tidak terpisahkan meskipun dapat dibedakan. Dikatakan tidak terpisahakan karena iman tidak saja mendorong, bahkan menghasilkan ilmu, tetapi juga membimbing ilmu dalam bentuk pertimbangan moral dan etis dalam penggunaannya.
Sebagaimana yang sudah diketahui ruang lingkup ilmu pendidikan Islam meliputi: pendidik, anak didik, materi pendidikan, perbuatan mendidik, metode pendidikan, evaluasi pendidikan, tujuan pendidikan, alat-alat pendidikan, lingkungan pendidikan. Jika merujuk kepada al-Qur’an maka terdapat ayat-ayat global yang dapat menjadi pijakan dalam membahas ilmu pendidikan Islam tersebut. Seperti: 1. pendidik yang ideal (penuh kasih sayang, Q.S. Ar-Rahman: 1-4; rabbani –bijaksana, cerdas dan santun-, Q.S. Ali-Imran: 79; energik dan berwawasan luas, Q.S. An-Najm: 5-6), 2. hakikat anak didik (penciptaan manusia, Q.S. al-Mu’minun: 12-16; manusia sebagai pemimpin di muka bumi, Q.S. Al-Baqarah: 30; manusia sebagai hamba Allah, Q.S. Adz-Dzariyat: 56; potensi anak didik, Q.S. Al-A’raf: 179), 3. tujuan pendidikan (cerdas spiritual, cerdas intelektual, cerdas emosional, Q.S. Ali Imran: 190-191, sehingga anak didik dapat hidup mandiri dan dapat memakmurkan bumi guna mencukupi kebutuhannya dan melestarikan bumi dengan cara melakukan perbaikan).
Selain ilmu pendidikan, beberapa ilmu pengetahuan lainnya juga dapat ditarik dari al-Quran, sebagaimana telah dikembangkan oleh ilmuwan muslim terdahulu adalah ilmu matematika, ilmu astronomi, ilmu kimia, ilmu biologi, ilmu optik, dan ilmu kedokteran. Dan bahkan hingga saat ini semakin banyak dan berkembang berbagai ilmu pengetahuan yang ditarik dari Al-Quran. Dengan adanya bukti bahwa ulama terdahulu telah menjadi pelopor keilmuan Islam yang modern, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dasar-dasar ilmu pendidikan Islam yang pertama adalah al-Quran dengan ratusan ayat-ayatnya yang dapat dijadikan ide dasar ilmu pendidikan Islam yang Universal.

Hadis tentang ilmu pendidikan Islam
Banyak hadis yang menyinggung tentang ilmu pendidikan Islam secara global, dari kewajiban menuntut ilmu, motivasi menuntut ilmu, pengembangan fitrah/potensi manusia, sosok pendidik yang ideal, metode pendidikan yang tepat, dan sebagainya.
Contoh hadis mengenai metode pendidikan dengan menggunakan metode permisalan:
dari Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Wahai Rasulullah, isteriku telah melahirkan anak yang berkulit hitam." Beliau bertanya: "Apakah kamu memiliki beberapa ekor Unta?" laki-laki itu menjawab, "Ya." Beliau melanjutkan bertanya: "Lalu apa saja warna kulitnya?" Ia menjawab, "Merah." Beliau bertanya lagi: "Apakah di antara Unta itu ada yang berkulit keabu-abuan?" laki-laki itu menjawab, "Ya." Beliau bertanya: "Kenapa bisa seperti itu?" laki-laki itu menjawab, "Mungkin itu berasal karena faktor keturunan." Beliau bersabda: "Mungkin juga anakmu seperti itu (karena factor keturunan)." (HR. bukhari No.4893)
Mengenai retorika seorang guru yang ideal:
Seorang syaikh dalam masjid berkata, "Aku mendengar Jabir bin Abdullah mengatakan; "bahwa ucapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tartil (jelas)." (HR. Abu Daud No.4198)
Penyampaian materi yang tepat sasaran:
Dan Ali berkata, "Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka, apakah kalian ingin jika Allah dan rasul-Nya didustakan?" Telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin Musa dari Ma 'ruf bin Kharrabudz dari Abu Ath Thufail dari 'Ali seperti itu." (HR. Bukhari, No.124)
Dan masih banyak hadis lainnya mengenai ilmu pendidikan Islam, yang tidak dapat kami jelaskan satu-persatu. Walaupun teks hadis tersebut bermakna global, namun dapat ditarik kedalam suatu ilmu yang khusus dengan menyesuaikan kebutuhan, kondisi dan situasi. Sungguh, dalam diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terdapat suri teladan bagi seluruh manusia, maka merugilah jika kita selaku umatnya, tidak memegang teguh dua pusaka Al-Quran dan Al-Hadis di dalam kehidupan kita.

Tujuan Mempelajari Ilmu Pendidikan Islam
Tujuan mempelajari ilmu pendidikan islam antara lain:
Untuk mengetahui problem-problem dan isu-isu baru komponen pendidikan Islam.
Dengan mengetahui komponen ilmu pendidikan Islam dan problemnya maka dapat menkontruksikan sistem pendidikannya dengan paradigma baru yang sesuai dengan ajaran Islam, sehingga dapat memahami dan menghayati kebijaksanaan Allah sebagai Robbul’alamin dalam membimbing hamba-Nya.
Untuk merefleksikan pertautan nilai-nilai trasendentallahi dengan realitas kependidikan.
Mencerahkan situasi ilmu pendidikan Islam, sehingga hubungan antara unsur-unsur dasarnya menjadi jelas, dan orang yang mempelajarinya pun akan memperoleh pegangan yang berguna untuk praktek pendidikan. Unsur-unsur dasarnya adalah peserta didik, pendidik, tujuan pendidikan, kurikulum, metode pembelajaran serta manajemennya.

Urgensi Ilmu Pendidikan Islam
Ilmu pendidikan Islam merupakan kajian mengenai kependidikan yang mempunyai peran penting untuk dipelajari setiap muslim, yang berkeinginan agar pendidikan dapat berlanggsung secara lancar dan mencapai tujuan.
Urgensi mempelajari ilmu pendidikan islam antara lain :
Ilmu pendidikan Islam sebagai usaha membentuk pribadi manusia harus melalui proses yang panjang dengan hasil yang tidak dapat diketahui dengan segera, berbeda dengan membentuk benda mati yang dapat dilakukan sesuai dengan keinginan pembuatnya.
Ilmu pendidikan Islam khususnya yang bersumberkan nilai-nilai agama islam di samping menanamkan dan membentuk sikap hidup yang dijiwai nilai-nilai tersebut, juga mengembangkan kemampuan berilmu pengetahuan sejalan dengan nilai-nilai Islam yang melandasinya adalah merupakan proses ikhtiar yang secara paedagogis mampu mengembangkan hidup anak didik kepada ke arah kedewasaan/kematangan yang menguntungkan dirinya.
Islam sebagai agama wahyu yang diturunkan oleh Allah Swt dengan tujuan untuk menyejahterakan dan membahagiakan hidup dan kehidupan umat manusia di dunia dan di akhirat, baru dapat mempunyai arti fungsional dan aktual dalam diri manusia jika dikembangkan dalam proses pendidikan yang sistematis.
Ruang lingkup ilmu pendidikan islam mencakup segala bidang kehidupan umat manusia dunia, dimana manusia mampu memanfaatkan sebagai tempat menanam benih-benih amaliah yang buahnya dipetik di akhirat, mak pembentukan sikap dan nilai-nilai amaliah dalam pribadi manusia dapat efektif bilamana dilakukan melalui proses kependidikan yang berjalan di atas kaidah-kaidah ilmu pengetahuan kependidikan.

Fungsi Ilmu Pendidikan Islam
Ilmu pendidikan islam mempunyai fungsi yaitu:
Ingin melakukan pembuktian terhadap teori-teori kependidikan islam yang merangkum aspirasi atau cita cita islam yang harus diikhtisarkan agar menjadi kenyataan. 
Ilmu pendidikan islam memberikan informasi tentang pelaksanaan pendidikan dalam segala aspeknya bagi pengembangan ilmu pengetahuan pendidikan islam tersebut. Ia memberikan bahan masukan yang beharga kepada ilmu ini. Mekanisme yang berasal dari penerimaan input (bahan masukan), lalu diproses dalam kegiatan pendidikan (dalam bentuk kelembagaan atau non kelembagaan yang disebut truput), kemudian berakhir dengan pada output (hasil yang diharapkan). Dari hasil yang diharapkan timbul umpan balik (feed back) yang mengoreksi bahan masukan. Mekanisme proses semacam ini berlanggsung secara terus selama proses pendidikan terjadi. Semakin banyak diperoleh bahan masukan dari pengalaman opersional itu, semakin berimbang ilmu pendidikan Islam. 
Menjadi pengkoreksi kekurangan teori-teorinya, ilmu pendidikan Islam itu sendiri, sehingga kemungkinan pertemuan antara teori dan praktek semakin dekat, dan hubungan antara keduanya semakin bersifat saling mempengaruhi (interaktif).



















BAB III
PENUTUP

Muslim meyakini bahwa kehidupan tidak dapat diserahkan seluruhnya kepada kemampuan akal, atau kepada kemauan manusia, baik manusia secara pribadi ataupun manusia dalam arti keseluruhan manusia. Dalam hal ini, pandangan muslim itu bertolak belakang dengan humanisme yang mengajarkan bahwa akal manusia telah mencukupi untuk mengatur dunia dan kehidupan manusia, dan karena itu agama tidak diperlukan. Pandangan muslim itu tidak juga dapat dikatakan seratus persen hanya berdasarkan keyakinan. Dasar akliahnya ada juga ada, sekalipun tidak begitu kuat. Karena pendidikan menduduki posisi terpenting dalam kehidupan manusia, maka wajarlah muslim meletakkan al-Quran, hadis dan akal sebagai dasar bagi teori-teori pendidikannya. Itulah sebabnya Ilmu Pendidikan Islami memilih al-Quran dan hadis sebagai dasarnya.

















DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir. 2013. Ilmu Pendidikan Islami. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhdiyat. 2009. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia
Cecep Anwar. 2016. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan. Bandung
Mohammad Daud Ali. 2002. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia
Zakiah Daradjat. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara

Aplikasi:
Kutubuttis’ah

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...