SEJARAH FILSAFAT EKSISTENSIALISME

SEJARAH FILSAFAT KONTEMPORER
(EKSISTENSIALISME)

Dalam rangka melengkapi tugas perkuliahan mata kuliah
Filsafat Umum



Dosen
Zaenal Muftie, M.Ag







Disusun oleh kelompok 11

1152020108 Kristin Wiranata
1152020123 M. Rais Umam Bishri
1152020130 Maspupah Zakiah








JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. yang mana karena limpahan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah. Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu, sehingga makalah ini dapat tersusun. Makalah ini bertujuan untuk memenuhi syarat nilai mata kuliah Filsafat Umum. Penulis menyadari bahwa apa yang disajikan dalam makalah ini terdapat banyak kekurangan, baik menyangkut isi maupun penulisan. Kekurangan-kekurangan tersebut terutama disebabkan karenakan keterbatasan pengetahuan serta kemampuan penulis. Hanya dengan bantuan dari berbagai pihak untuk memberikan kritik dan saran yang membangun maka kekurangan-kekurangan tersebut dapat berubah menjadi lebih baik. 
Bandung, 28 April 2016
Penulis















DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 1
BAB II PEMBAHASAN 2
Pengertian Eksistensialisme 2
Sejarah Eksistensialisme 4
Tokoh-tokoh Eksistensialisme 8
Aliran-aliran Eksistensialisme 22
Ciri-ciri, Prinsip serta Kelebihandan Kekurangan Eksistensialisme 23
BAB III PENUTUP 26
DAFTAR PUSTAKA 27
















BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Filsafat memiliki berbagai ragam pemikiran dengan ciri khasnya masing-masing. Antara satu jenis dengan jenis yang lainnya memiliki perbedaan, persamaan dan bahkan ada yang bertentangan. Contohnya, dalam epistemologi filsafat terdapat cabang yang bertolak belakang, seperti empirisme dengan rasionalisme,  lalu keduanya disintetis oleh kritisisme. 
Filsafat juga memiliki sejarahnya tersendiri, yang dimulai dari Zaman Yunani Kuno- Zaman Pertengahan - Zaman Pencerahan -Zaman Modern - Zaman Pascamodernisme. Zaman Modern merupakan zaman dimana filsafat terbebas dari kungkungan masa kegelapan. Adapun di dalam zaman modern filsafat dibagi dalam beberapa kelompok yakni, rasionalisme, empirisme, kritisisme; dialetika idealisme dan dialetika materialisme; fenomenologi dan eksistensialisme. Diantara filsafat modern, filsafat yang menonjolkan mengenai eksistensi manusia itu sendiri adalah eksistensialisme.
Eksistensialisme adalah sebagai bentuk ketidakpuasan dan pertentangan dengan materialisme dan idealisme. Pada prinsipnya, eksistensialisme memandang materialisme dan idealisme tidak lengkap. Untuk dapat memahami mengenai eksistensialisme, kami menyusun makalah yang berisi tentang pengertian, sejarah, tokoh-tokoh, serta kelebihan dan kekurangan eksistensialisme.

Rumusan Masalah
Setelah menelusuri beberapa sumber buku dan artikel yang terkait dengan sejarah filsafat kontemporer; eksistensialisme, penulis menarik beberapa rumusan masalah, diantaranya:
Apa pengertian Eksistensialisme?
Bagaimana sejarah Eksistensialisme?
Siapa tokoh-tokoh dalam Eksistensialisme?

BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Eksistensialisme
Secara etimologis eksistensialisme berarti berdiri sendiri atau berada di (ke) luar. Eks berarti ke (di) luar, dan (s)istens berarti menempatkan atau berdiri. Oleh karena itu, hanya manusialah yang dapat bereksistensi, sedangkan binatang dan organisasi tidak. Apabila benda dan binatang “berada di luar”. Maka manusia “mengada di sini” atau “mengada di situ”.
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala hal berpangkal pada eksistensinya. Artinya, bahwa eksistensialisme merupakan cara manusia berada, atau lebih tepat mengada, di dunia ini. Jadi, hal yang bereksistensi itu hanyalah manusia. Adanya benda dan adanya manusia, jelas berbeda.
Paparan berikut ini dapat memberikan penjelasan yang lebih detail dalam memahami kedudukan eksistensialisme pada situasi awal berdirinya.
Hal pertama yang perlu dilihat adalah bagaimana eksistensialisme menentang materialisme, bahkan menentang idealisme. Menurut materialisme, manusia hanyalah resultante atau akibat dari proses unsur-unsur kimia, sedangkan menurut idealisme, manusia cukup diwakili oleh kesadarannya.
Secara lebih rinci, berikut uraian mengenai hal tersebut.
Materialisme pada prinsipnya hanyalah materi sehingga manusia hanya merupakan resultante dari proses kimiawi. Dalam mengungkap materialisme tidaklah sederhana seperti orang awam memikikannya. Misalnya menyamakan manusia dengan batu atau kerbau. Namun, materialisme melakukan kesalahan berupa detotalisation yang berarti memungkiri keseluruhan. Dengan materialisme, kita hanya memandang manusia seperti memandnag bahan yang tunduk pada hukum-hukum alam, fisika, kimia, dan biologi. Sartre menyebutnya sebagai en-soi, sesuatu bahan yang bukan subjek. Menurut filosof Perancis ini, manusia, selain en-soi, ada juga yang disebut pour soi, sesuatu yang sadar akan dirinya sendiri yang berpikir.
Secara etimologi, “idealisme” berasal dari kata eidos, idea yang berarti buah pikiran. Jika kita berpikir maka muncullah idea. Jika kita memikirkan sesuatu, dan karena itu kita mengerti mengenai sesuatu, maka lahirlah idea atau gagasan kita mengenai hal itu. Idealisme hanya memandang manusia sebagai idea, sebagai subjek. Selanjutnya manusia hanya menempatkan diri sebagai kesadaran. Idealisme menganggap manusia hanya dapat berdiri sebagai subjek karena menghadapi objek. Manusia hanya dapat berdiri sebagai manusia karena bersatu dengan realitas di sekitarnya. Sebaliknya materialisme hanya memandang manusia sebagai objek, sedangkan barang-barang di dunia ini hanyalah menjadi objek karena adanya subjek.
Demikianlah prinsip berlawanan eksistensialisme terhadap metarialisme ataupun idealisme. Manusia bukan hanya objek dan bukan pula kesadaran, melainkan eksistensi. Namun, sebagian besar tokoh eksistensialisme memiliki pengertian eksistensialisme dalam pengertian pokoknya saja. pada dasarnya manusia dapat menyebut dirinya “aku”, seperti perbuatanku. Dengan cara itu, manusia dapat menentukan apa yang akan dilakukan, dipilih, diselenggarakan, dan dipertanggungjawabkannya. Ia adalah ia sendiri, yang mengalami sendiri sebagai pribadi.
Meskipun demikian, manusia tidak berdiri sendiri. ia senantiasa sibuk dengan pikiran dan kehendaknya sendiri. ia memperdulikan dunia luar; berbuat karena berhubungan dengan dunia luar, memanfaatkan situasi, menghargai alam, dan menggunakan barang.
Dengan perbuatannya itu, ia berada di luar dirinya sendiri sehingga dapat menyatakan apa yang sedang dilakukannya. Inilah yang disebut eksistensi, ialah berdiri sendiri dengan keluar dari diri sendiri.
Cara demikian dalam bahasa Jerman disebut Da-sein. Kata Heidegger, murid Husserl, “Das Wesen des Daseins liegt in seiner Exiztenz” (Inti Dasein terletak pada eksistensinya). Dasein menunjukkan tempat, jadi mengada di sana, di suatu tempat, berada, terlibat, dan bersatu dalam dan dengan alam jasmani. Lalu apa perbedaan eksistensi dengan Dsein? Eksistensi adalah pangkalannya, sedangkan Dasein lebih menyangkut kehadiran atau presensinya. Manusia menyatu dalam struktur sehingga selalu mengonstruksi. Oleh karena itu, manusia selalu berada dalam situasi “werden”, menjadi dan berproses. Menurut Jean Paul Sartre, manusia tidak etre, tetapi a etre. Heidegger pun menyatakan “zu sein”.

Sejarah Eksistensialisme
Tidak banyak aliran filsafat yang mengguncangkan dunia; filsafat eksistensialisme adalah salah satu di antaranya. Nanti anda akan melihat bahwa filsafat ini tidak luar biasa, akar-akarnya ternyata tidak dapat bertahan dari berbagai kritik. Akan tetapi, isme ini termasuk isme yang membuat guncangan yang hebat.
Setelah selesai Perang Dunia Kedua, penulis-penulis Amerika (terutama wartawan) berbondong-bondong pergi menemui filosof eksistensialisme, misalnya mengunjungi filosof Jerman Martin Heidegger (lahir 1839) di gubuknya yang terpencil di pegunungan Alpen sekalipun ia telah bekerja sama dengan Nazi. Tatkala seorang filosof eksistensialisme, Jean Paul Sartre (lahir 1905), mengadakan perjalanan keliling Amerika, dia disebut oleh surat-surat kabar Amerika sebagai The King Of Existentialism. Bila cerita-cerita sandiwaranya dipentaskan, orang telah menyiapkan ambulans untuk mengangkut penonton yang jatuh pingsan. Demikianlah sekadar penggambaran kehebatan filsafat eksiatensialisme. Sayangnya filsafat ini sulit di pahami oleh pemula. Marilah kita mulai dengan memperhatikan lebih dulu definisi eksistensialisme.
Tidak mudah membuat definisi eksistensialisme. Kesulitannya adalah karena Existentialism Embarves a Variety Of Style And Convictions (Encyplopedia Americana: 10:762). Kaum eksistensialis sendiri tidak sepakat mengenai rumusan tentang apa sebenarnya eksistensialisme itu (Hassan, 1974:8). Sekalipun demikian, ada sesuatu yang disepakati: baik filsafat eksistensi maupun filsafat eksistensialisme sama-sama menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral.
Lahirnya Eksistensialisme
Filsafat selalu lahir dari suatu krisis. Krisis berarti penentuan. Bila terjadi krisis, orang biasanya meninjau kembali pokok pangkal yang lama dan mencoba apakah ia dapat tahan uji. Dengan demikian, filsafat adalah perjalanan dari satu krisis ke krisis yang lain. Ini berarti bahwa manusia yang berfilsafat senantiasa meninjau kembali dirinya. Mungkin tidak secara tegas manusia itu meninjau dirinya, misalnya ia mempersoalkan Tuhan atau dunia sekelilingnya, tetapi dalam hal seperti itu manusia sesungguhnya masih mempersoalkan dirinya juga. Bahwa dalam filsafat eksistensi manusia tegas-tegas dijadikan tema sentral, menunjukkan bahwa di tempat itu (Barat) sedang terjangkit suatu krisis yang luar biasa hebatnya (Beerling, 1966:211-212). Bagaimana keadaan krisis itu?. Uraian berikut ini meninjau keadaan dunia pada umumnya dan Eropa Barat khsusnya yang merupakan tempat bertanggung jawab atas timbulnya filsafat eksistensialisme.
Sifat meterialisme ternyata merupakan pendorong lahirnya eksistensialisme. Yang dimaksud dengan eksistensi ialah cara orang berada di dunia. Kata berada pada manusia tidak sama dengan beradanya pohon atau batu. Untuk menjelaskan arti kata berada bagi manusia, aliran eksistensialisme mula-mula menghantam materialisme.
Bagaimana pandangan meterialisme tentang manusia? Dalam pandangan meterialisme, baik yang kolot maupun yang modern, manusia itu pada akhirnya adalah benda seperti halnya kayu dan batu. Memang orang meterialis tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda seperti batu dan kayu. Akan tetapi, materialisme mengatakan bahwa pada akhirnya, jai pada prinsipnya, pada dasarnya, pada instansi yang terakhir, manusia hanyalah sesuatu yang material; memang manusia lebih unggul ketimbang sapi, batu, atau pohon, tetapi pada eksistensinya manusia sama saja dengan sapi, batu, atau pohon. Dilihat dari segi keberadaannya juga sama. Nah, disinilah bagian ajaran materialisme itu dihantam oleh eksistensialisme.
Eksistensialisme menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada di dunia; sapi dan pohon juga. Akan tetapi, cara beradanya tidak sama. Manusia berada di dalam dunia; ia mengalami beradanya di dunia itu; manusia menyadari dirinya berada di dunia. Manusia menghadapi dunia, menghadapi dengan mengerti yang dihadapinya itu. Manusia mengerti guna pohon, batu, dan salah satu di antaranya ialah ia mengerti bahwa hidupnya mempunyai arti. Apa arti semua ini? Artinya ialah bahwa manusia adalah subjek. Subjek artinya yang menyadari, yang sadar. Barang-barang yang disadarinya disebut objek.
Lalu, di mana kesalahan materialisme? Rene Le Senne, seirang Existentialis, merumuskan kegagalan materialisme itu secara singkat: keaalahan itu adalah detotalisasi. De artinya memungkiri, total artinya seluruh. Maksudnya, memungkiri manusia sebagai keseluruhan. Pandangan materialisme itu belum mencakup manusia secara keseluruhan. Pandangan tentang manusia seperti pada meterialisme itu akan menbawa konsekuensi yang anat penting (Drijarkara, 1966:57-60). Lahirnya eksistensialisme merupakan salah satu dati konsekuensi itu.
Eksistensialisme juga lahir sebagai reaksi terhadap idealisme. Materialisme dan idealisme adalah dua pandangan filsafat tentang hakikat yang ekstrim. Kedua-duanya berisi benih-benih kebenaran, tetapi kedua-duanya juga salah. Eksistensialisme ingin mencari jalan keluar dari kedua ekstremitas itu.
Materialisme memandang kejasmanian (materi) sebagai keseluruhan manusia, padahal itu hanyalah aspek manusia. Materialisme menganggap manusia hanyalah sesuatu yang ada, tanpa menjadi subjek. Manusia berpikir, berkesadaran; inilah yang tidak diaadari oleh meterialisme. Akan tetapi, sebaliknya, aspek ini (berpikir, berkesadaran) dilebih-lebihkan lagi sampai menjadi tidak ada barang lain selain pikiran.
Bibit idealisme trlah ada sejak Plato, tetapi pembuka jalan bagi idealisme yang sungguh-sungguh adalah Descartes. Dalam pandangan Descartes, manusia itu disamakan saja dengan kesadarannya. Kesadaran itu tidak berhubungan sama sekalidengan persentuhan dengan alam jasmani. Kesadaran itu seolah-olah tergantung di langit. Di dalam kesadaran itu terdapat idea-idea. Idea-idea itu sama sekali bukan berasal dari kontak dengan dunia luar kesadaran. Kita dapat berkata idea tentang jucing, sapi dan sebagainya yang dibentuk oleh kenyataan di luar diri kita, misalnya karena kita telah melihatnya. Akan tetapi, bagi Descartes tidak demikian. Padanya antara kesadaran dan alam luar diri tidak ada sangkutannya. Sekalipun demikian, Descartes belum benar-benar jatuh ke dalam idealisme karena ia masih mengakui dunia realitas. Ia mengatakan bahwa idea itu seakan-akan copy dunia realitas. Sekalipun demikian, pada prinsipnya Descartes telah menisahkan kesadaran dari dunia luar. Dengan bertolak dari Descartes itu kelak idealisme akan memungkiri sama sekali pengertian dunia luar. Di dalam kesadaran, yang dimengerti hanyalah idea-idea. Alam pikiran hanyalah alam idea. Manusia tidak mengerti dunia luar kesadarannya Yang dimengerti hanyalah idea-idea. Di dalam idealisme tulen, tidak ada hubungan antara idea dan realitas di luar pikiran. Menurut idealisme, tiap-tiap pikiran tentang dunia luar hanyalah nonsens belaka. Konsekuensinya ialah ia akan mengingkari adanya manusia lain selain dia. Dalam cogito-nya, Descartes pernah mengingkari adanya jasadnya sendiri.
Letak kesalahan idealisme adalah karena ia memandang manusia hanya sebagai subjek, hanya sebagai kesadaran. Sebaliknya, materialisme hanya melihat manusia sebagai objek. Meterialisme juga lupa bahwa barang di dunia ini disebut objek lantaran adanya subjek. Saat itu, sesuatu yang aneh terjadi: materialisme dan idealisme sama-sama salah, tetapi mengapa dapat tersebar luas?, memperoleh banyak penganut?, memikat hati banyak orang? Hal itu memperlihatkan bahwa sukar bagi manusia untuk mengerti dirinya sendiri. Rupanya manusia itu semacam rahasia bagi dirinya.
Eksistensialisme juga didorong munculnya oleh situasi dunia pada umumnya. Di sini eksistensialisme lahir sebagai reaksi terhadap dunia pada umumnya, terutama dunia Eropa Barat. Keadaan dunia yang bagaimana?
Secara umum dapatlah dikatakan bahwa keadaan dunia pada waktu itu tidak menentu. Rasa takut berkecamuk, terutama terhadap ancaman perang. Tingkah laku manusia telah menimbulkan rasa muak atau mual. Penampilan manusia penuh rahasia, penuh imitasi yang merupakan hasil persetujuan bersama yang palsu yang disebut konvensi atau tradisi. Manusia berpura-pura. Kebencian merajalela. Nilai sedang mengalami krisis, bahkan manusianya sendiri sedang mengalami krisis. Sementara itu agama di Eropa Barat dan di tempat lain dianggap tidak mampu memberikan makna pada kehidupan. Di beberapa orang-orang beragama sendiri justru terlibat dalam krisis itu, bahkan lebih dari itu, mereka ikut memperhebat krisis. Manusia menjadi orang yang gelisah, merasa eksistensinya terancam oleh ulahnya sendiri. Pokoknya, manusia benar-benar mengalami krisis. Dalam keadaan seperti itu, filosof melihat pada dirinya sendiri. Ia mengharap ada pegangan yang dapat menyelamatkan, keluar dari krisis itu. Maja dari proses itu tampillah eksistensialisme yang menjadikan manusia sebagai subjek. Manusia dijadikan tema sentral dalam perenungan.

Tokoh-tokoh Eksistensialisme
Soren Kierkeegard (5 Mei 1813, Denmark)
Kierkeegard mendapakan modal pemikiran eksistensialismenya dengan mempelajari dahulu filsafat Hegelian. Penolakan terhadap rumus-rumus filsafat Hegel mengantarkannya pada perumusan filsafatnya sendiri yang pada saat itu belum mengenal istilah Eksistensialisme. Kritik Kierkegaard atas idealisme Hegel diawali dengan keprihatinannya terhadap perilaku keagamaan masyarakat di Denmark yang sebagian besar menganut Lutherianisme. Agama kristen menurut Kierkegaard sudah sekuler dan duniawi dan tidak benar-benar memikirkan hal-hal transenden seperti misal saat pembahasan mendalam mengenai Allah. Agama benar-benar hanya persoalan “objektif” dan “lahiriah” serta tidak langsung menyangkut komitmen subjektif manusia yang memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri maupun masyarakat. Kierkegaard menuduh bahwa yang menyebabkan adanya kemerosotan tersebut adalah filsafat Hegelianisme yang banyak dipelajari pada abad 18 di Barat terutama pada masyarakat Denmark. 
Bagi Kierkeegard, “dosa” terbesar Hegel adalah saat ia mengabstraksi segala sesuatu menjadi sebuah sistem tidak jelas yang mengecilkan peran manusia sebagai individu yang nyata. Karena selama ini pandangan Hegel mengatakan bahwa yang merupakan realitas sejati dalam hidup manusia adalah Idea abstrak atau roh. Bukan manusia yang sadar diri, melainkan roh yang sadar diri dalam manusia. Manusia konkret justru menjadi alat bagi roh yang menjadi memenjarakannya menjadi manusia yang konkrit seutuhnya. Maka Hegel mengusung ide kolektif dengan mereduksi manusia menjadi sekawanan kelompok. Bukan individu. Keputusan yang diambil secara pribadi tidak otentik saat itu. Sebab yang real bukan individu, melainkan Roh yang menjadi sadar diri melalui individu itu. 
Kierkegaard menilai bahwa paham-paham Kristiani inilah yang menjadikan hubungan subjektif dengan Allah sehingga ia menjadi sangat ekslusif. Hegelian menjadikan manusia objek anonim dan impersonal sehingga tidak akan tampak individu-individu yang menonjol karena semua orang akan berbicara atas nama kelompoknya. Tidak ada individu, yang ada adalah suku, ras, bangsa, agama maupun komunitasny. Budaya kolektif ini di satu sisi mencerminkan keselarasan dalam masyarakat karena adanya “kekompakan”, di sisi lain yang buruk adalah membuat masyarakat homogen yang monoton. Dikhawatirkan juga membunuh kreativitas individu karena segala sesuatu yang berkaitan dengan tingkah laku atau moral di terapkan standarnya oleh masyarakat kolektif. Individu-individu yang terpenjara kebebasannya oleh komunal inilah yang dikritik oleh Kierkegaard.
Hegelianisme juga menghilangkan komitmen subjektif orang beriman, karena yang penting adalah keputusan kelompok dan kebenaran adalah yang keseluruhan. Artinya, yang benar adalah sesuatu yang bersifat kolektif. Jika masyarakat banyak tidak melakukan hal-hal tertentu, maka individu tidak boleh melakukan hal itu juga karena berarti sedang melakukan perlawanan tehadap hukum masyarakat. Ini juga akan membuat msyarakat makin tidak toleran terhadap perbedaan karena masyarakat bisa saja memberi hukuman secara sosial kepada individu yang “berbeda” dan dianggap menyimpang keluar dari aturan masyarakat pada umumnya. Berbeda bagi Kierkegaard, Hegelianisme membuat individu tidak bertanggung jawab terhadap dirinya, ia larut dalam kerumunan dan tidak berkembang. 
Secara sekilas, Kierkeegard mendukung ide-ide individualisme yang diangkat oleh kaum Liberal yang mengatakan bahwa manusia tampil sebagai dirinya sendiri dengan ke-individuan-nya. Individualisme ini berbeda dengan individualistis yang berarti mementingkan diri sendiri. Namun Individualisme ini memberikan kesempatan tiap individu untuk mengembangkan dirinya. Namun, lebih jauh, Kierkegaard menjelaskan bahwa kebebasan yang diraih untuk individu ini berbeda dengan apa yang dimaksud dengan kebebasan individu ala kaum liberal. Karena konteks yang diambil adalah mengenai eksistensialisme manusia yang saat itu menjadi hal yang tabu karena kuatnya pemahaman mainstream kolektif dalam masyarakat. 
Istilah eksistensi adalah istilah yang diperkenalkan Kierkegaard dalam dunia filsafat. Ia mengemukakan bahwa kebenaran adalah individu yang bereksistensi. Istilah eksistensi ini hanya dapat diterapkan untuk individu konkret. Hanya aku yang konkreat yang dapat bereksistensi. Aku juga tidak dapat direduksi ke realitas-realitas lain, entah itu sistem ekonomi, Idea, masyarakat dst. Bereksistensi bukan berarti hidup menurut pola-pola abstrak dan mekanis, melainkan melakukan pilihan-pilihan baru yang berbeda. Tidak ada yang menggantikan tempatku untuk bereksistensi. Penggunaan kata “Aku” disini menjadi sangat penting. Individu sebagai aku adalah yang menjadi aktor dalam kehidupan yang bisa mengambil arah hidupku sendiri, bukan spektator kehidupanku belaka. Hanya individu yang benar-benar mengarahkan hidupnya yang bisa di sebut bereksistensi. Sedangkan yang larut dalam kerumunan tidak bisa dikatakan sedang bereksistensi. 
Kierkegaard juga mengkritik dialektika Hegel dengan dialektika eksistensial. Ia memahami perkembangan eksistensial individu. Perbedaan mencolok dengan Hegel adalah ketika Hegel berpikir bahwa peralihan satu tahap ke tahap yang lainnya adalah karena sebuah pemikiran. Kierkegaard membantah itu dengan mengatakan bahwa perubahan tahap seseorang itu terjadi karena keputusan kehendak individu sebagai aku. Pilihan itu bukan semacam pilihan konseptual ala Hegel, tapi tentang komitmen total seluruh pribadi individu. 
Kierkegaard yang menerapkan konsep eksistensi berdasarkan pengalaman subjektifnya ini mengambil sikap anti mainstream terutama menyangkut sebuah sistem pemikiran. Bukan dengan metode-metode tertentu dengan sikap rasional dan sistematis yang dijalani oleh para filosof lainnya. Ia menggunakan caranya sendiri dalam merumuskan apa yang Ia pikirkan sehingga banyak yang menilai bahwa Kierkeegard tidak memiliki dasar pemikiran sistematis dalam merumuskan konsep eksistensialismenya. Justru, orang-orang yang mempelajari Kierkegaard sering kali mensistematiskan apa yang ditulis oleh Kierkegaard.
Dalam hal ini, Kierkegaard telah memenuhi konsekuensi logis dari jalan pemikiran yang Ia pilih. Sikap seperti ini dapat membuat filsafatnya terus hidup karena ia dapat dipraktikkan oleh orang yang mengikuti konsep filsafat nya. Namun pemikiran Kierkegraad yang tidak sisitematis memang membuat kita agak kesulitan memahami konsep filsafatnya sehingga muncullah banyak versi “tafsir” filsafat Kierkegaard.

Heidegger (Jerman, 26 September 1889)
Menurut Heidegger, persoalan tentang “berada” ini hanya dapa di jawab melalui ontologi, artinya: jikalau persoalan ini di hubungkan dengan manusia dan di cari artinya dalam hubungan itu. Agar usaha ini berhasil harus di gunakan metode fenomenologis. Demikianlah yang penting ialah menemukan arti “berada” itu. 
Satu-satunya “berada” yang sendiri dapat di mengerti sebagai “berada” ialah “berada” nya manusia. Harus di bedakan antara “berada” (sein) dan “yang berada”(seiende). Ungkapan “yang berada”(seiende) hanya berlaku bagi benda-benda, yang bukan manusia, yang jikalau di pandang pada dirinya sendiri. Benda-benda itu hanya “vorhanden” hanya terletak begitu saja di depan orang, tanpa ada hubungan nya dengan orang itu (meja, jika di pandang pada dirinya, berkedudukan sebagai meja, lepas dari hubungan nya dengan apapun). Benda-benda itu hanya berarti, jikalau di hubungkan dengan manusia, dan memiliki arti dalam hubungan itu. 
Manusia memang juga berdiri sendiri, akan tetapi ia mengambil tempat di tengah-tengah dunia sekitarnya. Ia tidak termasuk “yang berada”, tetapi ia “berada”. Keberdaan manusia ini disebut dasein berada di sana, manusia harus keluar dari dirinya dan berdiri di tengah-tengah segala “yang berada”. Dasein manusia disebut juga eksistensi. 
Guna menemukan arti “berada” manusia harus di selidiki dalam wujudnya yang biasa tampak sehari-hari, Heidegger bermaksud mengetahui keadaan manusia sebelum keadaan itu di pikirkan secara ilmiah, yaitu dalam perwujudan yang belum ditafsirkan. Hasil usahanya ini ialah bahwa ia menemukan manusia yang “di dalam dunia”. Inilah ketentuan asasi yang paling umum entang manusia. Manusia berada “di dalam dunia”. Dasein berarti “berada di dalam dunia”. Ketentuan ini berlaku bagi semua manusia, sekalipun cara mereka “berada di dalam dunia” berbeda-beda. Oleh karena manusia “berada di dalam manusia” maka ia dapat memberi temapat kepada benda-benda yang ada di sekitarnya, ia dapat bertemu dengan benda-benda itu dan juga dengan manusia-manusia yang lain, dapat bergaul dan bekomunikasi dengan semuanya itu. 
Benda-benda pada dirinnya tidak mewujudkan dunia. Sebab benda-benda itu tidak dapat saling menjamah, tidak dapat saling berjumpa. Tempat mereka di berikan oleh manusia, karena manusia “berada di dalam dunia”. Bahwa kayu adalah bahan bakar atau bahan bangunan, yang menentukan adalah manusia. Demikianlah ungkapan “yang berada di dalam dunia”. Mempunyai sifat rangkap, yaitu: memiliki dunia dan berada di dunia. Manusia memang tidak hanya berada di dalam dunia, tetapi ia memiliki dunia. 
Secara fenomenologis, hubungan sehari-hari antara manusia dan dunianya itu bersifat praktis, hubungan itu dapat di katakan sebagai demikian, bahwa manusia sibuk dengan dunia, dan sebagainya, yang semuanya itu di rangkumkan Heidegger dalam kata Besorgen (memelihara). Hubungan asli yang dalam kesatuan antara Dasein dan dunia adalah Basorgen (memelihara). Di dalam dunia itu manusia tampak sebagai yang berbuat. Pebuatan itu bukan hanya perbuatan yang konkrit, tetapi juga jikalau manusia diam, ia berbuat. Ada suasana perbuatan yang praktis dan teoritis. Akan tetapi manusia terlebih-lebih di sibukan dengan kegiatan yang berkaitan dengan dunia yang dijumpainaya. Kita membuka pintu, memgang tas, naik sepeda, dsb. Pintu, tas, sepeda adalah benda-benda yang bagi manusia berfungsi sebagai alat (zeug), yaitu alat untuk mengusahakan sesuatu. Fungsi itu baru dimiliki jikalau telah dtentukan oleh manusia (kayu sebagai bahan bakar atau bahan bangunan). Demikianlah benda-benda itu menunjuk kepada suatu tujuan, sedang tujuan itu menunjuk lagi kepada tujuan yang lain. Akan tetapi benda-benda itu sendiri tidak dengan sadar menonjolkan diri. Juga penunjuknya kepada suatu tujuan tidak menonjolkan diri. Dunia, yaitu segala sesuatu dalm kaitannya dengan manusia, baru tampil, jikalau ada sesuatu yang tidak berfungsi seperti yang semestinya, umpamanya: kemeja itu terlalu kecil untuk di pakai, mobilnya mogok, dsb. Baru pada saat itulah dunia menonjol. Jadi biasanya dunia tidak memberitahukan dirinya kepada manusia.

Jean Paul Sartre (Paris, 21 Juni 1905)
Olehnya filsafat Eksistensialisme menjadi tersebar luas. Hal ini disebabkan karena kecakapannya yang luar biasa sebagai sastrawan. Ia menyajikan filsafatnya dalam bentuk roman dan pentas dalam bahasa yang mampu menampakkan maksudnya kepada para pembacanya. Dengan demikian filsafat Eksistensialisme dihubungkan dengan hidup yang konkrit ini. 
Setelah menyelesaikan studinya pada tahun 1929 ia menjadi guru di sebuah sekolah menengah di Le Havre (1931-1933). Kemudian selama setahun ia belajar di Berlin. Sekembalinya dari Berlin ia mengajar di Laon dan Paris. Ketika Perang Dunia II ia masuk dinas militer dan menjadi tawanan perang selama setahun. Pada tahun 1941 ketika ia berhasil meloloskan diri dari tempat tawanan ia menjabat dosen lagi di Paris hingga tahun 1945. Setelah itu ia membebaskan diri dari tugas mengajar untuk dapat mengarang. 
Sejak ia masih mengajar di sekolah menengah ia telah mengarang banyak karya filsafati dan karya seni sastra seperti cerpen, roman, sandiwara, dll. Karya pokoknya yang menjadikan dia mahsyur adalah L’etre et le neanet, atau ‘keberadaan dan ketiadaan’ (1943). Karya ini ditulis pada jaman ketika Perancis dijajah Jerman. Pada tahun 1940 ketika karena penjajahan Jerman itu segala yang jasmani runtuh, maka runtuhlah juga segala cita-cita orang Perancis. Dimana-mana yang ada hanya ketidakpercayaan, kepahitan, keraguan terhadap tertib Negara yang begitu cepat runtuh. Akan tetapi di lain pihak semua rakyat Perancis sehati untuk mengusir musuh. Agar supaya rakyat memiliki semangat ketahanan nasional itu diperlukan suatu pandangan dunia dan pandangan hidup yang kuat. Rakyat Perancis merasa diberi alat untuk bertahan oleh Sartre.
Sekalipun Sartre dipengaruhi oleh Husserl dan Heidegger, namun pandangannya tidak sama dengan pandangan kedua tokoh tersebut.
Di dalam bukunya itu Sartre mulai dengan menganalisa “ada” atau “berada” (L’etre). Menurut dia ada dua macam “etre” atau “berada”, yaitu L’etre – en-soi (berada dalam diri) dan L’etre – pour-soi (ber-ada-untuk-diri).
Yang dimaksud dengan L’etre-en-soi atau “berada dalam diri” adalah semacam berada an sich, berada dalam dirinya, berada itu sendiri. Filsafat berpangkal dari realitas yang ada, sebab realitas yang ada itulah yang kita hadapi, kita tangkap, kita mengerti. Ada banyak yang berada: pohon, batu, binatang, manusia, dsb. Semuanya itu berbeda-beda, banya ragamnya, akan tetapi ada sebuatan umum bagi semuanya tu, yaitu: semuanya itu ada atau berada. “berada” mewujudkan ciri segala benda jasmaniah, Segala materi. Semua benda ada dalam diri atau dalam dirinya sendiri tidak ada dasar atau alasan mengapa benda-benda itu berada begitu (apa alasannya). Segala yang berada dalam diri ini tidak aktif, akan tetapi juga tidak pasif, tidak mengiyakan tetapi juga tidak menyangkal. Semuanya dikatakan padat, beku, tertutup, yang satu lepas daripada yang lain, tanpa saling berhubungan. Etreensoi mentaati perinsip identitas (it is what it is). Benda-benda idak mempunyai hubungan dengan keberadaanya. Meja itu ada, meja itu warnnya demikian, titik. Kita tidak dapat mengatakan, bahwa meja bertanggung jawab atas fakta bahwa ia adalah meja, bahwa warnanya demikian, dsb.
Jikalau di dalam sesuatu ynag ada ini terdapat perkembangan (pohon kecil menjadi besar), maka perkembangan itu menjadi karena sebab-sebab yang telah ditentukan. Oleh karenanya perubahan-perubahan itu adalah perubahan-perubahan yamg kaku. Menurut Sartre, segala yang berada secara ini, segala “berada dalam diri” (L’etreensoi), memuakkan (neusent). Meja, kursi, pohon dsb, dalam dirinya bukanlah apa-apa. Benda-benda itu, bila kita lihat sebagai de facto demikian ,seperti adanya tanpa alasan apapun, lepas dari segala arti yang kita berikan kepadanya dalm hidup sehari-hari, akan tampak memuakkan. (sebatang pohon, jikalau di periksa secara teliti, tampak batangnya dengan kulitnya yang kasar, dengan garis-garisnya, dengan segala penampakannya, jka tanpa di hubungkan dengan kegunaannya, tampak memuakkan).
Yang dimaksud dengan letreensoi atau “berada dalam diri” ialah semacam berada an sich, berada dalam dirinya, berada itu sendiri. Filsafat berpangkal dari realitas realitas yang ada, sebab realitas yang adalah itulah yang kita hadapi, kita tangkap, kita mengerti. Ada banyak yang berada: pohonnya, akan tetapi ada sebutan umum bagi semuanya itu, yaitu: semuanya itu ada atau berada. “berada” mewujudkan ciri segala benda jasmaniah, segala materi. Semua benda ada dalam diri atau ada dalam dirinya sendiri. Tidak ada alasan atau dasar mengapa benda-bnda itu berada begitu (apa sebab meja itu meja, dan bukan kursi, serta bukan tempat tidur, tiada alasannya). Segala yang berada dalam diri ini tidak aktif, akan tetap juga di katakana padat, beku, tertutup, yang satu lepas daripada yang lain, tanpa saling berhubungan. Etreensoi mentaati prinsip identitas (it is what it is). Benda-benda tidak mempunyai hubungan dengan keberadaanya. Meja itu ada, meja itu warnanya demikian. Titik. Kita tidak dapat mengatakan, bahwa meja bertanggung jawab atas fakta bahwa ia adalah meja, bahwa warnanya demikian, dsb. 
Jikalau di dalam sesuatu yang ada itu terdapat perkembangan (pohon kecil menjadi besar), maka perkembangan itu terjadi Karena sebab-sebab yang telah di tentukan. Oleh karenanya perubahan-perubahan ituadalah perubahan-perubahan yang kaku. Menurut Sartre, segala yang berada secara ini, segala “berada dalam diri” (letrensoi), memuakkan (nauseant). Meja, kursi, pohon dsb, dalam dirinya bukan lah apa-apa. Benda-benda itu, bila kita lihat sebagai the facto demikian, seperti adanya tanpa alasan apapun, lepas dari segala arti yang kita berikan kepadanya dalam hidup sehari-hari akan tampak memuakkan (sebatang pohon, jikalau diperiksa secara teliti, tampak batangnya dengan kulitnya yang kasar, dengan gari-garis nya dengan segala penampakannya, jika tanpa di huungkan dengan kegunaannya, tampak memuakkan
Yang di maksud dengan letrepoursoi atau “berada untuk diri “ ialah berada yang dengan sadar akan dirinya, yaitu cara berada manusia. Etrepoursoi tidak mentaati prinsip identitas seperti halnya dengan etreensoi. Manusia mempunyai hubungan dengan keberadaanya, ia bertanggung jawab atas fakta, bahwa ia seorang pegawai, atau seorang pedagang, atau seorang pencuri, dsb. Benda-benda tidak sadar bahwa dirinya ada, tetapi manuusia sadar bahwa dirinya berada. Di dalam kesadaran ini, yaitu kesadaran yang disebut reflektif, ada yang menyadari danada yang disadari, ada subjek dan objek. Hal yang demikian tidak terdapat dalam benda. Oleh karena itu, seperti yang telah diebutkan diatas benda adalah padat, penuh dengan diri sendiri, tertututp bagi yang lain, tanpa hubungan dengan yang lain. Dapat dikatakan bahwa benda adalah buta, gelap. Benda hanyalah benda, hanya ada saja, lain tidak. Benda adalah dia sendiri. Akan tetapi tidaklah demikian dengan manusia. Pada manusia ada kesadaran, yaitu kesadaran yang refleksif dan yang parefleksif. Pembedaan ini dapat dijelaskan demikian: Aku sedang menutup buku kasku pada bulan ini. Oleh karena itu aku sibuk menghitung pengeluaranku. Perhatianku ku curahkan kepada angka-angka di dalam buku kasku itu. Angka-angka itulah yang menjadi tema perhatianku. Bahwa aku sedang menghitung memang kusadari (sebab aku tidak pingsan ketika aku menghitung itu), akan tetapi perbuatan menghitung itu pada waktu itu idak menjadi pusat perhatianku. Perbuatan menghitung hanya ada di periferi atau di sekitar perhatianku. Bentuk kesadaran yang tidak ada di pusat inilah yang disebut kesadaran prarefleksif (kesadaran yang belum dipikirkan kembali). Pada waktu aku sedang sibuk menghitung datang temanku yang bertanya: “Kamu sedang apa?” Aku berhenti menghitung, dan menjawab:”Aku sedang menghitung”. Pada waktu inilah aku menyadari bahwa aku sedang menghitung. Pada waktu inilah perhatianku kuarahkan kepada perbuatan menghitung itu sendiri, bukan kepada angka-angka yang di hitung. Bentuk kesadaran ini disebut kesadaran refleksif (kesadaran yang di pikirkan kembali atau kesadaran yang telah kembali kepada diri sendiri). Selesai menghitung aku aku pergi dengan teman ke toko. Kesadaran pareklesif pada waktu itu tidak hilang, yang ialah kesadaran menghitung, kesadaran bahwa aku menghitung, sebab timbulah kesadaran yang baru, kesadaran bahwa aku sedang pergi ke toko, dan lain sebagainya. 
Menurut Sartre, biasanya kesadaran kita bukanlah kesadaran akan dirinya (conscience de soil), melainkan kesadaran diri (conscience (de) soil). Kepada obyek (melihat, mendengar, merusak, dll), kesadaran kita diberi bentuk conscience de soi (kesadaran akan diri). Di dalam kesadaran akan diri ini selalu ada jarak antara kesadaran (conscience) dan diri (Soi). Tetapi jarak ini sebenarnya terdapat juga pada kesadaran yang prarefleksif . jadi di dalam kesadaran diri selalu ada jarak. Jarak yang senantiasa ini oleh Sartre disebut le neant (ketiadaan). Di dalam kesadaran kita senantiasa ada ketiadaan (le neant), yang membuat kita dari ensi (dalam diri sendiri) menjadi pour soi (untuk diri sendiri)
Sekalipun dalam kesadaran prarefleksif telah ada jarak, nemun hal itu belum berarti, bahwa di dalam kesadaran ini telah ada hubungan subjek objek dalam arti yang sebenarnya. Baru kesadaran yang refleksiflah yang dapat mempunyai bentuk hubungan subjek objek , dan sering kali memang menjadi berbentuk subjek objek. 
Jadi di dalam kesedaran diri yang refleksif itu manusia sadar bahwa ia ada. Manusia menyadari bahwa dirinya sebagai ada. Yang menyadari (subjek) tidak sama yang disadari (obyeknya). Obyek adalah sesuatu di luar subjek. Di satu pihk kesadaran menghubungkan subjek dengan yang bukan subjek, yaiu objeknya, akan tetapi di lain pihak kesadaran memecah belah. Apa yang semula satu di jadaikan dua. Kata “aku sadar akan aku (diriku)” berarti, bahwa “aku” yang pertama adalah subjek, sedang “aku” yang kedua (diriku) adalah objek, sehingga “aku” yang perama lain dengan “aku” yang kedua, seperti halnya dengan subjek lain daripada obyek. Kesadaran menjadikan retak apa yang semula utuh, menjadikan dua apa yang semula satu, menjadikan tidak padat lagi apa yang semula padat, menjadikan tidak padat lagi apa yang semula padat, menjadikan tidak sendirian lagi apa yang semula sendirian. Jadi di dalam kesadaran itu ada yang di tiadakan. Kesadaran meniadakan (neantiser), yaitu meniadakan kepadatan, meniadakan kesatuan dan sebagainya. 
Kesadaran ini tidak boleh di pandang sebagai hal yang berdiri sendiri, seolah-olah ada sesuatu ayng berdiri sendiri, yang di sebut kesadaran. Sebab kesadaran hanya di temukan sebagai latar belakang suatu kegiatan. Orang yang sadar adalah orang yang berbuat. (ingat teladan hal aku yang menghitung diatas). Kesadaran sebagai kehadiran pada diri sendiri berarti jarak diantara aku dan diriku, yaitu le neant (ketiadaan), suatu jarak yang tada ukuranya dan tidak terjembatani. Kesadaran bukanlah etre dalam arti yang sepenuhnya, yang telah ada lobangnya. Sebab seandainya dalam arti yang sepenuhnya, maka kesadaran adalah padat, tertutup, penuh, tidak akan dapat berubah kepada orang lain. Kesadaran bukan “berada” dalam arti yang sepenuhnya, melainkan “pengempesan ada”, atau pengurangan tekanan “ada” (decompression de letre). 
Manusia adalah “berada untuk diri” (entre pour soi). Oleh karena itu maka manusia terwujud karena “berada” itu meniadakan diri (se nentise). Manusia sebagai manusia, sebagai “letre pour soi” terdiri dari peniadaan. 
Mengenai hal meniadakan (neantiser) dan peniadaan yang terus menerus (neantisation) dibedakan antara peniadaan lahiriah (negation externe) dan peniadaan yang batiniah (negation interne). Bahwa meja bukanlah kursi, hal itu tidak menunjukan sesuatu yang menyifatkan meja, artinya: bahwa meja bukan lah besi tidak di tentukan dari dalam. Inilah negation externe. Akan tetapi bahwa aku bukan orang yang berbakat seni, atau bukan seorang pedagang, dan lain-lain, hal itu menunjuk kepada suatu negativitas yang menyifatkan diriku dari dalam, dengan konsekuensi bahwa aku bertanggung jawab atas diriku yang bersifat negative seperti itu. Jadi di samping realitas yang positif ada juga realitas yang negative. 
Hal yang “tidak ada” tidak mungkin berasal dari hal yang “berada dalam diri”. Sebab yang”berada dalm diri” adalah penuh, padat, tertutup. Lalu dari mana asal yang “tidak ada” itu? Yang “tidak ada”. Di sini terdapat perbedaan antara Heidegger dan Sartre. Menurut Heidegger, eksisensi manusia adalah satu-satunya yang benar-benar penting, satu-satunya yang bentuk “berada” dalam arti kata yang sepenuhnya. Akan tetapi menurut Sartre, “eksistensi yang murni” adalah apa yang nyata. Eksistensi manusia adalah “ketiadaan”. 

Karl Jaspers (Jerman Utara, 23 Februari 1883)
Karl Jaspers semulanya belajar hukum dan kedokteran, tetapi akhirnya setelah ia menjabat sebagai dosen psikologi-psikiatri (1913-1916 di heildberg sebagai privat dosen, 1916-1921 sebagai ordinaris psikologi) ia memindahkan perhatiannya ke flsafat. Hal ini terjadi pada tahun 1919, ketika ia menulis bukunya Die Psychologie der Weltanschauungen, atau “Psikologi pandangan-pandangan Dunia” (1919). Pada tahun 1921-1937 ia menjabat guru besar filsafat di Heilberg. Karyanya yang paling penting guna mengetahui sistemnya adalah Philosophie, atau “Filosofi” (1932).
Pemikirannya terlebih-lebih berakar kepada Kiekegaard, akan tetapi banyak dipengaruhi peh Plotinus, Spinoza, Kant, Schelling dan Nietzsche. Dibanding dengan para filsuf eksistensialisme yang ain, Jasperslah orang yang telah menyusun suatu sistim yang paling rapi, yang sejenis dengan sistim metafisis.
Pokok persoalan filsafat yang paling penting baginya adalah bagaimana dapat menangkap “ada” atau “berada” (das sein) dalam eksistensi sendiri. Apakah “ada” itu? Menurut Jaspers “ada” bukanlah hal yang obyektif, yang dapat diketahui setiap orang. Orang harus mencarinya dengan susah-payah dengan melalui beberapa tahap. Sebuah benda yang konkrit bukanlah “ada” dalam arti yang umum. Benda tertentu yang konkrit itu (meja, kursi, dsb) adalah suatu yang “ada” tertentu, yang terbatas. Maka benda bukanlah seluruh “ada”. “ada” dalam arti yang sebenarnya, “ada” yang uum, meliputi, merangkumkan segala yang berada secara terbatas dan tertentu. “ada” ini tidak dapat diraih, tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori. “ada” yang demikian ini disebut das ungreifende (yang merangkumi).
Benda-benda disekitar kita tampak sebagai suatu dunia yang tersusun rapi, akan tetapi dunia ini sebenarnya hanya bersifat relative saja. Segala sesuatu mengitari kita seperti suatu cakrawala. Keanehan cakrawala ialah demikian, bahwa segala usaha untuk mendekatinya gagal, sebab cakrawala itu mengikuti gerak laju seorang yang berusaha mendekatinya, sehingga cakrawala itu tetap jauh daripadanya. Cakrawala ini menempatkan diri juga didalam das ungreifende atau “yang merangkumi” tadi, tetapi cakrawala, sekalipun juga disebut “yang merangkumi” namun bukan “ada” itu sendiri. 
“ada” sebagai das ungreifende sebagai “yang merangkumi” Tidak dapat dikenal, sekalipun demikian “ada” menjadi lebih jelas atau lebih dipahami, atau terlebih-lebih dapat memberi petunjuk kearah mana kita harus mencarinya. 
Menurut Jaspers, ada tiga cara untuk mendekati “ada” sebagai “yang merangkumi” itu. 
Pertama-tama kita dapat mendekatinya dengan berpangkal dari diri kita sebagai da sein, sebagai pengada yang berada ditengah-tengah segala pengada yang lain. Sebagai Da sein disatu pihak kita sama dengan pengada-pengada yang lain, di tengah-tengahmya kita berada, yaitu bahwa kita dapat dijadikan obyek atau sasaran pemikiran serta penyelidikan (umpamanya di dalam ilmu alam, biologi, psikologi). Akan tetapi di lain pihak kita berbeda dengan pengada-pengada yang lain. Sebab jikalau kita memikirkan atau menyelidiki pengada-pengada hal itu kita lakukan dari suatu pusat, darimana segala obyektivasi dilakukan. 
Cara kedua untuk mendekati “ada” sebagai “yang merangkumi” ialah dengan berpangkal dari dunia. Menurut cara-cara yang telah dibicarakan diatas kita dapat tahu, bahwa kita sebagai Da sein  senantiasa di konfontasikan dengan pengada-pengada yang lain. Pengada-pengada yang lain tadi menampakkan dirinya di dalam keseluruhan dunia. Hal ini lebih tampak jelas dalam pendekatan “ada” yang melalui kesadaran dan roh. Kesadaran membuka bagi kita dunia ilmu pengetahuan.  
Cara ketiga untuk mendekati “ada” sebagai “yang merangkumi” ialah mendekatinya melalui hubungan, yang menghubungkan segala cara yang dipakai “yang merangkumi” untuk menampakkan diri tadi. Hingga kini bentuk-bentuk “yang merangkumi” yang berbeda-beda tadi hanya kita lihat satu-persatu dan secar terpisah. Kita memerlukan sesuatu yang dapat mengikatkan yang satu dengan yang lain, sejauh pengikat itu juga mengikat pendekatan-pendekatan, yang berbeda-beda tadi, yang satu dengan yang lain. Menurut Jaspers, pengikat itu adalah Vernunft, rasio atau buddhi, yaitu daya piker kita yang tidak mengikat dirinya kepada obyektivasi manapun juga, tetapi yang justru terus-menerus menerobos obyektivasi-obyektivasi itu, supaya dapat sampai kepada “yang merangkumi” dalam artinya yang berbeda-beda itu.

Gabriel Marcel (Paris, 7 Desember 1889)
Pada tahun 1910 ia mendapat ijazah ilmiahnya di bidang filsafat. Semula ia tertarik dengan idealisme, akantetapi kemudian ia berpaling dari idealisme dan mengimuti eksistensialisme. Karyanya yang pertama yang bersifat eksistensialistis adalah Existence Et Objectivite, atau “Eksistensi dan Obyektivitas” (1924), di mana ia membela dalil-dalil yang menekankan pentingnya eksistensi sebagai pangkal tolak pemikiran filsafati. Sekalipun demikian di sini istilah “existence"”tidak berarti “cara berada” manusia, melainkan “ada secara nyata”, bahkan dipakai dalam arti “ada sebagai kenyataan jasmaniah”. Oleh karena itu maka mungkin boleh dikatakan, bahwa ia adalah filsuf eksistensialistis yang pertama, jikalau dilihat dari urutan waktu. Tetapi karya-karyanya tidak diuraikan secara sistematis. Itulah sebabnya sukar sekali untuk merangkumkan pandangannya. Yang jelas ialah, bahwa ia dekat sekali dengan Kierkegaad, namun gagasan pokoknya telah dijabarkan sebelum ia membaca tulisan Kierjegaard. Ada dua buku harian yang ditulisnya, yang mengandung gagasan-gagasan metafisis, yaitu: Journal Methaphysique, atau “buku harian metafisika” (1914; 1915-1923; yang diterbitkan pada tahun 1927), dan Etre Et Avoir, atau “berada dan memiliki” (1928-1934, yang diterbitkan pada tahun 1935).
Pangkal pikiran Marcel adalah segala hal “berada”. Menurut dia, sudah pasti bahwa “berada” itu ada. Sebab dalam kenyataannya kita berkata “aku berada”. Aku sadar, bahwa aku ada, jadi jelas bahwa "berada" itu ada, dan tidak dapat dikesampingkan. Hal ini berarti, bahwa tidak mungkin orang menganggap segala sesuatu yang ada hanya sebagai permainan bermacam-macam gejala yang silih-berganti tampil ke depan.


Aliran-aliranEksistensialisme
Eksistensialisme jika ditinjau dari fungsinya, yakni penggunaan konsep-konsep eksistensialistik sebagai model suatu pemikiran. Dari sudut fungsi ini, eksistensialisme dibedakan menjadi dua. Eksistensialisme metodis dan eksistensialisme ideologis.Eksistensialisme metodis adalah bentuk pemikiran yang menggunakan konsep konsep dasar eksistensialisme manusia, seperti; pengalaman personal, sejarah situasi individu, kebebasan, sebagai alat atau sarana untuk membahas tema-tema khusus dalam kehidupan manusia.Sedangkan eksistensialisme ideologis merupakan kebalikannya, merupakan suatu bentuk pemikiran eksistensialisme yang menempatkan kategori-kategori atau konsep-konsep dasar eksistensialisme manusia sebagai satu-satunya ukuran yang sahih dalam membahas setiap problema hidup dan kehidupan manusia pada umumnya. Jenis eksistensialisme ini berusaha mengabsolutkan seluruh kategori-kategori eksistensi manusia sebagai satusatunya kebenaran.
Sementara eksistensialisme jika ditinjau berdasarkan implikasi teologisnya, terbagi atas dua bentuk, eksistensialisme teistik dan eksistensialisme atheistik. Eksistensialisme teistik meruapakan suatu bentuk aliran eksistensialisme yang orientasi pemikirannya kearah penegasan adanya realitas ketuhanan. Dalam bentuk ini, pemikiran di sandarkan pada asumsi bahwa untuk memahami eksistensi manusia diperlukan adanya Tuhan. Diperlukan nilai transendensi untuk memahami eksistensinya yang mengarah pada relaitas ketuhanan. Kierkegaard yang dikenal sebagai bapak eksistensialsime juga merupakan tokoh yang biasanya menjadi rujukan terhadap pemikiran eksistensialisme aliran theistik. Ia menyatakan bahwa eksistensi manusia bersifat konkrit dan individual. Jadi, pertama yang penting bagi manusia adalah keberadaanya sendiri atau eksistensinya sendiri. Kerena hanya manusia yang dapat bereksistensi. Namun, harus ditekankan, bahwa eksistensi manusia bukanlah suatu “ada” yang statis, melainkan suatu “menjadi, yang mengandung didalamnya suatu perpindahan, yaitu perpindahan dari “kemungkinan” ke “kenyataan”. Sedangkan eksistensialisme atheistik adalah orientasi pemikiran eksistensialistik yang memilki implikasi menuju penolakan adanya realitas ketuhanan. Bentuk pemikirannya terletak pada asumsi bahwa bahwa untuk menegaskan eksistensi manusia, maka keberadaan Tuhan harus disingkirkan atau diingkari. Dan salah satu filosof yang mengingkari keberadaan Tuhan untuk menempatkan eksistensi manusia adalah Jean Paul Satre. Dalam filsafatnya, Sartre menyatakan dengan tegas bahwa manusia modern harus menghadapi fakta bahwa Tuhan tidak ada. Dunia dan benda-benda yang membentuknya adalah benda-benda yang ada tanpa suatu alasan ataupun tanpa tujuan apapun. Tidak tercipta, tanpa alsan untuk hidup, mereka sekedar ada.Karena dunia tidak mempunyai alasan untuk ada, Sartre menyebutkan sebagai Yang Absurd. Absurditas ini yang menmbangkitkan dalam diri manusia suatu perasaan muak. Muak adalah suatu yang menjijikan kerena kurangnya makna dalam keberadaannya, suatu keengganan yang mendatangkan sekumpulan realitas yang hitam, tidak jelas dan tidak teratur. Suatu rasa sakit yang muncul pada diri manusia dari kehadiran eksistensi disekelilingnya. Bagi Sartre, manusia berbeda dari makhluk yang lain karena kebebasannya.

Ciri-ciri, Prinsip serta Kelebihan dan Kekurangan Eksistensialisme
Ciri-ciri Eksistensialisme
Ciri-ciri Eksistensialisme yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh eksistensialisme memiliki kesamaan di antaranya:
Motif pokok adalah apa yang disebut eksistensi, yaitu cara manusia berada. Hanya manusialah yang bereksistensi. Eksistensi adalah cara khas manusia berada. Pusat perhatian ini ada pada manusia. Oleh karena itu bersifat humanistis.
Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan dirinya secara katif, bereksistensi berarti berbuat, menjadi, merencanakan. Setiap saat manusia menjadi lebih atau kurang dari keadaannya.
Di dalam filsafat eksistensialisme menusia dipandang sebagai terbuka. Manusia adalah realitas yang belum selesai, yang masih ahrus dibentuk. Pada hakekatnya manusia terikat kepada dunia sekitarnya, terlebih-lebih kepada sesama manusia.
Filsafat eksistensialisme memberi tekanan kepada pengalaman yang konkrit, pengalaman yang eksistensial. Hanya arti pengalaman ini berbeda-beda. Heidegger memberi tekanan kepada kematian, yang menyuramkan segala sesuatu, Marcel kepada pengalaman keagamaan dan Jaspers kepada pengalaman hidup yang bermacam-macam seperti kematian, penderitaan, perjuangan dan kesalahan.

Prinsip Eksistensialisme
Ada beberapa prinsip dari aliran eksistensialisme, yakni sebagai berikut:
Aliran ini tidak mementingkan metafisika (Tuhan). Aliran ini memandang bahwa manusia tidak diarahkan. Manusia yang menciptakan kehidupannya sendiri dan oleh sebab itu manusia bertanggung jawab sepenuhnya atas pilihan-pilihan yang dibuat. Aliran ini memberikan pemahaman kepada individual, kebebasan dan penanggung jawabannya.
Pengetahuan lebih merupakan suatu keadaan dan kecenderungan seseorang. Karena manusia tidak tunduk terhadap apa yang ada di luar dirinya, maka nilai-nilai tidak dicari dari luar diri melainkan dicari dalam diri manusia itu sendiri. Hal ini disebabkan karena nilai itu hidup dalam dirinya. Oleh karena itu, apa yang disebut baik atau buruk tergantung atas keyakinan pribadinya.
Aliran ini memandang individu dalam keadaan tunggal selama hidupnya dan individu hanya mengenal dirinya dalam interaksi dirinya sendiri dengan kehidupan.

Kelebihan dan Kekurangan Eksistensialisme
Kelebihan:
Mengerti akan semua realitas.
Mengetahui pengetahuan tentang manusia. 
Kekurangan:
Mengabaikan Perintah Tuhan.
Menyangkal realitas dan kesungguhan perikehidupan antar manusia.


























BAB III
PENUTUP

Materialisme dan Idealisme dianggap kurang lengkap dan terdapat kesalahan yang perlu dikoreksi. Eksistensialisme hadir untuk menentang Materialisme dan Idealisme. Eksistensialisme berusaha untuk mengeksistensikan keberadaan manusia. Manusia bukanlah sebagai suatu objek yang bisa disamakan dengan benda mati. Dan eksistensi manusia bukan pula dilihat dari eksistensi pemikirannya. Filsafat eksistensialisme adalah filsafat yang berpangkal dari eksistensi. Artinya, bahwa eksistensialisme merupakan cara manusia berada, atau lebih tepat mengada, di dunia ini. Jadi, hal yang bereksistensi itu hanyalah manusia.
Sekian pembahasan mengenai eksistensialisme dari penulis. Penulis menyadari kekurangan yang terdapat dalammakalah ini dan penulis mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca. Semoga makalah ini dapat bermanfaat.















DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir. 2001. Filsafat Umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Harun Hadiwijono. 2011. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: KANISIUS
Sutardjo A. Wiramihardja. 2015. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama
Internet
http://charlessimbolon.blogspot.co.id/2014/10/filsafat-aliran-eksistensialisme.html diakses pada tanggal 20 April 2016, pukul 16:18
http://digilib.uinsby.ac.id/11241/5/bab%202.pdfdiakses pada tanggal 20 April 2016, pukul 17.:20
https://id.m.wikipedia.org/ diakses pada tanggal 21 April 2016, pukul 11:37
http://syaharbanu.blogspot.co.id/2013/01/kierkegaard-bapak-eksistensialisme.html diakses pada tanggal 28 April 2016, pukul 19.38
http://www.kompasiana.com/mauidhotulkhasanah/kelebihan-dan-kekurangan-aliran-aliran-filsafat_54f7c28da33311c27b8b4c97 diakses pada tanggal 20 April 2016, pukul 16.:20

RPP FIQH SMP SHALAT SUNNAH

KRISTIN WIRANATA (1152020108) PAI III/C
MATA KULIAH: PERENCANAAN PEMBELAJARAN PAI

SEKOLAH : SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)
MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI
POKOK BAHASAN : FIQIH
SUB POKOK BAHASAN : SHALAT SUNNAH

KOMPETENSI INTI
(KI-1) Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya;
(KI-2) Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya;
(KI-3) Memahami pengetahuan (faktual, konseptual dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata;
(KI-4) Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.
KOMPETENSI DASAR
Menunaikan shalat sunnah berjamaah dan munfarid sebagai implementasi dari pemahaman rukun Islam.
Memahami hikmah ketentuan dan tata cara shalat sunnah berjamaah dan munfarid.
Mempraktikkan shalat sunnah berjamaah dan munfarid dalam kehidupan sehari-hari.

TUJUAN PEMBELAJARAN
Siswa mampu menjelaskan pengertian shalat sunnah berjamaah dan munfarid serta dasar hukumnya.
Siswa mampu membedakan shalat sunnah munfarid, shalat sunnah berjamaah dan shalat sunnah munfarid/berjamaah.
Siswa mampu mempraktikkan shalat sunnah berjamaah dan munfarid dalam kehidupan sehari-hari.
Siswa mampu memahami hikmah shalat sunnah.
MATERI PEMBELAJARAN
Pengertian Shalat Sunnah
Menurut bahasa shalat berarti do’a, karena kata shalat itu sendiri mencakup makna do’a. Shalat menurut istilah syara’ ialah: sebuah peribadahan kepada Allah swt. yang di dalamnya ada perkataan dan perbuatan yang dilakukan secara khusus, dibuka dengan takbir dan ditutup dengan salam. Shalat sunnah adalah shalat yang hukumnya sunnah. Apabila dilaksanakan mendapat pahala, apabila ditinggalkan tidak mendapat dosa. Orang yang melakukan shalat sunnah akan mendapat keutamaan khusus melebihi orang-orang yang tidak melaksanakannya. Shalat sunnah merupakan ibadah tambahan selain shalat wajib. 
Macam-macam Shalat Sunnah
Salat Sunnah Berjamaah
Salat ‘Idain
Hukum melaksanakan salat sunnah ini adalah sunnah mu’akkad (sangat dianjurkan). Berikut ketentuan pelaksanaan shalat ‘Idain: Waktu shalat ‘Id adalah mulai terbit matahari hingga sebelum waktu zuhur; Shalat Idul Fitri dikerjakan tanggal 1 Syawal sedangkan Idul Adha tanggal 10 zulhijjah; Terdiri dari dua rakaat, diawali dengan niat takbiratul ihram, kemudian takbir 7 kali pada rakaat pertama dan 5 kali pada rakaat kedua; Antara takbir satu dengan takbir berikutnya membaca tasbih. ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﻭَﻟَﺎ ﺇﻟَﻪَ ﺇﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺍَﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮ Artinya : “Maha suci Allah, dan segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan melainkan Allah, Allah Mahabesar.”; Ada khutbah setelah shalat; Disunnahkan mandi sebelum shalat; Disunnahkan memakai wangi-wangian dan berhias; Disunnahkan makan sebelum pergi (shalat Idul Fitri) dan tidak makan sebelum (shalat idul Adha); Disunnahkan berangkat melalui satu jalan dan pulang melintasi jalan yang berbeda.
Shalat Gerhana (Kusuf dan Khusuf)
Shalat sunnah gerhana adalah shalat yang dilakukan secara berjama`ah pada waktu terjadi gerhana bulan (Shalat Kusuf) atau matahari (Shalat Khusuf). Ketentuan pelaksanaannya sebagai berikut: Dilaksanakan ketika terjadi gerhana dan belum lenyap (terang kembali); Sebaiknya dilaksanakan di masjid atau musala; Terdiri dari dua rakaat diawali dengan niat dan dilanjutkan takbiratul ihram, doa iftitah, Al-Fatihah, surat atau ayat Al-Quran, rukuk, iktidal kemudian Al-Fatihah, surat atau ayat Al-Quran, rukuk, iktidal, sujud, duduk di antara dua sujud, sujud kemudian dilanjutkan rakaat kedua dengan cara yang sama dengan rakaat pertama kemudian diakhiri tahiyat akhir dan salam; Ada khutbah setelah shalat.
Shalat Istisqa’
Shalat Istisqa adalah shalat sunnah yang dikerjakan secara berjama`ah dengan tujuan memohon kepada Allah SWT agar diberi hujan. Ketentuan pelaksanaannya sebagai berikut: Dikerjakan di lapangan pada tengah hari; Disunahkan puasa 3 hari sebelum shalat; Ada khutbah setelah shalat; Memperbanyak istighfar dan bertobat; Memakai pakaian yang sederhana; Anak-anak, kakek-kakek serta dan nenek-nenek serta binatang ternak dianjurkan untuk diajak ikut serta ke lapangan.
Salat-salat Sunnah Munfarid
Salat sunnah munfarid adalah Salat yang dilaksanakan secara individu atau sendiri. 
Salat Rawatib
Dengan demikian salat sunnah rawatib adalah salat yang dilaksanakan menyertai atau mengiringi salat fardu, baik sebelum maupun sesudahnya. Ditinjau dari segi hukumnya, salat rawatib ini terbagi menjadi dua macam, yaitu: Salat rawatib mu`akkadah dan salat rawatib gairu mu`akkad. Salat rawatib mu`akadah (salat rawatib yang sangat dianjurkan) yaitu: Dua rakaat sebelum salat Zuhur; Dua rakaat sesudah salat Zuhur; Dua rakaat sesudah salat Magrib; Dua rakaat sesudah salat Isya’; Dua rakaat sebelum salat Subuh. Salat rawatib gairu mu`akkadah (salat rawatib yang cukup dianjurkan untuk dikerjakan) yaitu: Dua rakaat sebelum Zuhur (selain dua rakaat yang mu`akkadah); Dua rakaat sesudah Zuhur (selain dua rakaat yang mu`akkadah); Empat rakaat sebelum Asar; Dua rakaat sebelum Magrib.
Salat Tahiyyatul Masjid
Salat tahiyyatul masjid adalah salat sunnah yang dilaksanakan untuk menghormati masjid. Salat ini disunnahkan bagi setiap muslim ketika memasuki masjid. Salat sunnah ini merupakan rangkaian adab memasuki masjid. Jika kita sudah masuk ke dalam masjid, hendaklah sebelum duduk kita mengerjakan salat sunnah dua rakaat.
Salat Istikharah
Salat istikharah adalah salat dengan maksud untuk memohon petunjuk Allah swt. dalam menentukan pilihan terbaik di antara dua pilihan atau lebih. Salat istikharah sebenarnya hampir sama dengan salat hajat. Bedanya kalau salat istikharah tertuju pada suatu keinginan atau cita-cita yang sudah nampak adanya, tetapi masih ragu-ragu dalam menentukan pilihannya. Sedangkan salat hajat tertuju pada sebuah keinginan yang belum kelihatan akhir dan tujuannya. Waktu yang terbaik dalam melaksanakan salat istikharah ini adalah saat mulai pertengahan malam yang akhir, sebagaimana waktu salat tahajjud. Salat istikharah dikerjakan sebagaimana salat biasa dan setelah selesai salat dilanjutkan dengan membaca doa istikharah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah. Salat istikharah hukumnya adalah sunnah mu`akkadah bagi orang dari yang sedang membutuhkan untuk menentukan pilihan.
Salat Sunnah Berjamaah atau Munfarid
Beberapa salat sunnah berikut ini boleh dilaksanakan secara berjama’ah atau secara munfarid. Adapun Salat sunnah yang dimaksud adalah:
Salat Tarawih
Salat tarawih adalah salat sunnah yang dilaksanakan pada malam bulan dari Ramadan. Hukum melaksanakan salat tarawih adalah sunnah mu’akkadah. Salat tarawih dilaksanakan setelah Salat Isya’ sampai waktu fajar. Salat tarawih dapat dilaksanakan delapan, dua puluh, atau tiga puluh enam rakaat. Kita tinggal memilih jumlah rakaat mana yang mau dan mampu untuk dilaksanakan. Perbedaan jumlah bilangan rakaat ini tidak perlu dipermasalahkan. Yang terpenting adalah umat Islam dapat melaksanakannya.
Salat Witir
Salat witir adalah salat yang dilaksanakan dengan bilangan ganjil (satu, tiga, lima, tujuh, sembilan, atau sebelas rakaat). Hukumnya melaksanakannya adalah sunnah mu’akkadah. Adapun waktu salat witir adalah sesudah salat Isya’ sampai menjelang fajar salat Subuh.
Salat Duha
Salat sunnah duha atau yang sering disebut dengan salat awwabin duha adalah salat sunnah yang dikerjakan pada waktu matahari sudah menaik sekitar satu tombak (sekitar pukul 07.00 atau matahari setinggi sekitar tujuh hasta) hingga menjelang salat Zuhur. Kita dapat melaksanakan salat duha sebanyak 2 rakaat dan paling banyak 12 rakaat. Tata cara pelaksanaannya tidaklah sulit, sama dengan cara melaksanakan salat pada umumnya.
Salat Tahajjud
Salat sunnah tahajjud adalah salat sunnah mu’akkadah yang dilaksanakan pada sebagian waktu di malam hari. Salat tahajjud adalah bagian dari qiyamullail (Salat malam) yang langsung diperintahkan oleh Allah Swt. Melalui firman-Nya dalam QS. Al-Isra: 79 yang artinya: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajjud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
Salat Tasbih
Salat sunnah tasbih adalah salat sunnah yang dilaksanakan dengan memperbanyak membaca tasbih. Salat tasbih ini merupakan sunnah khusus dengan membaca tasbih sebanyak 300 kali di dalam salat. Secara lebih terperinci, tata cara mengerjakan salat tasbih ini terdiri dari dua macam cara, yaitu: Jika dilaksanakan di malam hari, jumlah rakaatnya ada empat dengan dua kali salam dan jika dilaksanakan di siang hari, jumlah rakaatnya ada empat dan sekali salam. 
Berikut tata cara membaca tasbih dalam shalat sunnah tasbih: Setelah membaca surah al-Fatihah dan surat-surat pendek, membaca tasbih 15 kali; Ketika ruku’ (setelah membaca do’a ruku’) membaca tasbih 10 kali; Ketika bangun dari ruku’ (setelah membaca do’anya) membaca tasbih 10 kali; Ketika sujud pertama (setelah membaca do’a sujud) membaca tasbih 10 kali; Ketika duduk di antara dua sujud (setelah membaca do’anya) membaca tasbih 10 kali; Ketika sujud kedua (setelah membaca do’anya) membaca tasbih 10 kali; Ketika akan berdiri untuk rakaat yang kedua duduk dulu (duduk istirahat) membaca tasbih 10 kali.
Setelah itu berdiri untuk rakaat yang kedua yang bacaannya sama dengan rakaat yang pertama. Pada rakaat kedua, setelah membaca tasyahud, baik tasyahud awal maupun akhir, membaca tasbih 10 kali. Dengan demikian apabila kita hitung jumlah bacaan tasbih tiap satu rakaat adalah 75 kali. Berarti jumlah keseluruhan bacaan tasbih dalam salat tasbih adalah 75 x 4 rakaat = 300 kali bacaan tasbih. 
Hikmah Salat Sunnah
Disediakan jalan keluar dari segala permasalahan dan persoalannya dan senantiasa akan diberikan rezeki yang cukup oleh Allah Swt.
Menambah kesempurnaan salat fardu. 
Menghapuskan dosa, meningkatkan derajat keridhoan Allah Swt. Serta menumbuhkan kecintaan kepada Allah Swt. 
Sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Allah swt. atas berbagai karunia-Nya 
Mendatangkan keberkahan pada rumah yang sering digunakan untuk salat sunnah. 
Hidup menjadi terasa nyaman dan tenteram.
Bekal terbaik di dalam menempuh perjalanan ke akhirat adalah dengan ketaqwaan. Sedangkan aspek terpenting dalam mewujudkan taqwa adalah dengan salat, terutama salat sunnah sebagai ibadah tambahan.
REFERENSI
Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari. Sholat (Definisi, Anjuran dan Ancamannya). Diterjemahkan oleh: Syafiq Fauzi Bawazier
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMP/MTs kelas VIII. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

TUNTUTAN PENDIDIKANABAD KE 21

TUNTUTAN PENDIDIKAN ABAD KE-21
HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS)

MAKALAH

Untuk memenuhi tugas struktur mata kuliah Pengembangan Kurikulum

Dosen Pengampu:
Dr. Asep Nursobah, S.Ag.









Makalah diskusi kelompok 8:

Kristin Wiranata 1152020108
Maisaroh Ritonga 1152020125
Mariah 1152020128







JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah subhanahu wata’ala yang telah memberikan kita beribu kenikmatan. Nikmat sehat, nikmat beribadah dan nikmat mencari ilmu pengetahuan. Sholawat serta salam tak lupa tercurah limpahkan kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya, kepada keluarganya serta kepada kita semua selaku umatnya hingga akhir zaman. Beliaulah yang telah mengantarkan kita semua dari zaman kegelapan hingga zaman terang benderang. 
Penulis mengucapkan ungkapan terimakasih kepada Dr. Asep Nursobah, S.Ag. selaku dosen pengampu mata kuliah Pengembangan Kurikulum yang telah mengarahkan penulis dalam pembuatan makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Semoga makalah ini menjadi sumber belajar khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca dalam menggali pemahamannya mengenai tuntutan pendidikan abad 21 (HOTS). 
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh



  
       Bandung, 13 Desember 2017


         Penyusun




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Makalah 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. Tuntutan Pendidikan Abad 21 3
B. Inovasi Pendidikan Abad 21 (Higher Order Thinking Skills) 5
1. Kualitas Karakter 6
2. Kompetensi 4C’s /HOTS dan Contoh Penerapannya didalam Pembelajaran PAI 8
3. Literasi Dasar 12
BAB III PENUTUP 14
DAFTAR PUSTAKA 15
















BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Pendidikan hendaknya mampu menjawab atas berbagai permasalahan yang ada. Ketidaksiapan generasi penerus bangsa dalam menghadapi zaman modern yang serba canggih yang mana didalamnya terdapat kompetisi persaingan yang ketat dan bebas akan menyebabkan lahirnya generasi muda yang rapuh dan mudah terombang-ambing oleh kuatnya arus modernisme. Kecanggihan ilmu dan teknologi juga membawa dampak negatif, jika tidak dihadapi dengan bijak, maka dapat memberikan imbas negatif. Di dalam filsafat, zaman modern merupakan zaman dimana manusia melakukan pemuasan terhadap materialisme, dan tentunya zaman ini meminta “korban”. Entah mengorbankan nilai-nilai agama, norma-norma, dan melunturkan karakter diri demi memperoleh kepuasan materi.
Abad 21 mendatang jika disikapi dengan baik, maka akan melahirkan kekuatan tersendiri. Oleh karena itu, guna menghadapi berbagai permasalahan yang ‘sudah muncul’ di abad ini dan ‘diperkirakan akan memuncak’ di abad 21, maka perlunya kita sebagai calon pendidik untuk memberikan inovasi di bidang pendidikan sebagai bekal untuk peserta didik. Diharapkan kelak mereka mampu menjadi ilmuwan yang kompetitif, kolaboratif, memiliki rasa tanggung jawab, kreatif serta berpikir kritis namun tetap memiliki karakter yang kokoh. 
Berangkat dari permasalahan ini, kami merasa tergugah untuk menyusun makalah dengan judul “Tuntutan Pendidikan Abad 21, Higher Thinking Order Skills (HOTS)”. Diharapkan kita sebagai calon pendidik memiliki kesiapan untuk menghadapi abad 21 ini. Dan juga sebagai bekal untuk berinovasi di bidang pendidikan yang hasilnya layak untuk disuguhkan kepada masyarakat. Semoga makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.




Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, penulis menarik rumusan masalah sebagai berikut: 
Apa tuntutan pendidikan di abad 21?
Bagaimana inovasi pendidikan yang tepat guna menghadapi abad 21?
Apa yang dimaksud dengan Higher Order Thinking Skills? 

Tujuan Makalah
Dari rumusan masalah diatas, penulis menarik tujuan penulisan makalah sebagai berikut:
Mengetahui tuntutan pendidikan di abad 21.
Mengetahui inovasi pendidikan di abad 21.
Mengetahui apa yang dimaksud dengan Higher Order Thinking Skills.


















BAB II
PEMBAHASAN

Tuntutan Pendidikan Abad 21
Abad ke-21 ditandai sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi, artinya kehidupan manusia pada abad ke-21 mengalami perubahan-perubahan yang fundamental. Dikatakan abad ke-21 adalah abad yang meminta kualitas dalam segala usaha dan hasil kerja manusia. Dengan sendirinya abad ke-21 meminta sumberdaya manusia yang berkualitas. Seperti yang sudah kita ketahui, apabila ingin memajukan suatu negara maka dimulai dengan memperbaiki kualitas SDM-nya, adapun cara memperbaiki kualitas SDM ialah melalui pendidikan. Dengan kata lain diperlukan suatu paradigma baru dalam menghadapi tantangan-tantangan baru yang menuntut terobosan pemikiran agar mampu menghasilkan output peserta didik yang bermutu dan dapat bersaing dalam dunia yang serba terbuka.
Abad 21 ditandai dengan berkembangnya teknologi informasi yang sangat pesat, tentu diperlukan adanya kesiapan dalam menghadapi perkembangan ini. Arus informasi yang sangat pesat, apabila tidak dapat diseleksi dengan baik, maka dapat mempengaruhi kepribadian informan. Oleh karena itu diperlukan penegasan dan penguatan karakter guna membekali diri peserta didik, agar peserta didik mampu mengarungi luasnya ilmu pengetahuan dengan tetap memiliki kepribadian dan karakter yang kuat. Lalu bagaimana cara menguatkan karakter dalam diri peserta didik? Diperlukan adanya pendekatan pembelajaran yang inovatif, yakni pendekatan saintifik sebagaimana yang tertuang di dalam K.13.
Dengan adanya pendekatan pembelajaran yang menuntut kompetensi higher order thinking skills (keterampilan berpikir tingkat tinggi), maka seorang guru mengajarkan peserta didik untuk dapat berpikir kritis terhadap berbagai fenomena yang ada, sehingga diharapkan peserta didik mampu memberikan persepsi dan interpretasi yang benar dan tepat sebagai solusi atas permasalahan-permasalahn yang muncul di realita. Di dalam pembelajaran HOTS juga siswa diajarkan untuk dapat menghasilkan gagasan baru yang inovatif dan bermanfaat. Sehingga dengan begitu seorang siswa diharapkan dapat menjadi ilmuwan yang memiliki pemikiran kritis (tidak jumud), selalu berkreasi serta berinovasi dengan tetap memiliki karakter yang tangguh.
Namun perlu diinsyafi, untuk dapat berpikir kritis dan kreatif maka diperlukan adanya kemampuan ‘melek informasi’. Dalam artian, mampu memilah-memilih berbagai informasi yang ada dengan menggunakan literatur yang ‘dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya’. Literatur yang dapat digunakan sebagai pijakan penggalian informasi tidak hanya terdapat di dalam media cetak (buku-buku) namun informasi juga kini telah disuguhkan di media online. Apabila tidak mampu menyeleksi informasi yang tersedia, maka informan akan disesatkan oleh informasi tersebut dan secara tidak langsung akan berimplikasi kepada pembunuhan karakter melalui akses-akses informasi negatif. Oleh karena itu, guru perlu membekali peserta didik yang hidup di zaman millenium yakni suatu kemampuan ‘melek informasi’, agar mereka mampu untuk memfilter diri dalam mengakses berbagai informasi yang tersedia.
PERANAN PENDIDIKAN DI ABAD KE-21
Terdapat berbagai aturan pembelajaran yang ideal diterapkan di pendidikan abad ke-21, yakni sebagai berikut:
Pembelajaran harus berpusat pada siswa (student centered). Dalam model kelas ini, guru bertindak sebagai fasilitator bagi siswa. Siswa tidak akan menerima informasi secara pasif, namun para siswa akan mengumpulkan informasi sendiri, di bawah bimbingan gurunya. Gaya belajar yang digunakan siswa pun beragam. Mereka terlibat dalam berbagai jenis aktivitas pembelajaran secara langsung, dan juga siswa menunjukkan pembelajaran dengan berbagai cara belajar yang berbeda (5M). Di dalam konsep pembelajaran ini kegiatan belajar adalah tentang penemuan, bukan menghafal fakta.
Pendidikan harus kolaboratif. Siswa harus belajar bagaimana cara berkolaborasi dengan orang lain. Siswa diharapkan dapat bekerja sama dengan orang lain yang memiliki budaya yang berbeda, ideologi/sudut pandang yang berbeda. Dengan begitu siswa mampu mengembangkan berbagai bakat dan minatnya dengan cara berkolaborasi dengan orang lain. Karena tidak dapat dipungkiri, bahwa manusia merupakan zoon politicon atau makhluk sosial. 
Belajar harus memiliki konteks. Sistem pembelajaran student centered tidak berarti bahwa guru menyerahkan semua kendali kelas kepada siswa tanpa kendali. Memang siswa didorong untuk belajar dengan cara yang berbeda, namun guru tetap memberikan panduan mengenai keterampilan yang perlu diperoleh atau kompetensi yang wajib dicapai. Guru dapat membuat sebuah titik untuk membantu siswa memahami bagaimana keterampilan yang mereka bangun dapat diterapkan dalam kehidupan mereka. Karena siswa akan lebih termotivasi untuk belajar sesuatu yang bisa mereka lihat nilainya atau kegunannya di dunia nyata.
Sekolah harus diintegrasikan dengan masyarakat. Untuk mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, kita perlu memodelkan apa itu warga negara yang bertanggung jawab. Sekolah diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan dan permasalahan yang muncul di masyarakat. Yakni dengan membekali siswa berbagai komptensi/keterampilan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Oleh karenanya, sistem pendidikan haruslah menyesuaikan dengan kearifan lokal.

Inovasi Pendidikan Abad 21 (Higher Order Thinking Skills)
Di poin sebelumnya, kita mendapati adanya berbagai tuntutan pendidikan di abad 21, yang mana dalam menjawab tuntutan tersebut diperlukan adanya pembekalan keterampilan abad 21 yang dibutuhkan oleh setiap siswa, yakni sebagai berikut:
Kualitas Karakter (bagaimana siswa beradaptasi pada lingkungan yang dinamik)
Adapun karakter yang diharapkan muncul dalam diri siswa adalah:
Jenis Karakter
Deskripsi

Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan agama, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

Nasionalis
Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi dan politik bangsa.

Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

Integritas
Adanya keterkaitan antara berbagai disiplin ilmu, dimana materi pembelajaran disusun secara nondikotomik. Dan adanya keterkaitan antara pengetahuan dengan sikap.

Gotong-royong
Tindakan yang memperlihatkan rasa senasib- sepenanggungan. Yakni mampu bekerja sama dengan orang lain guna mencapai tujuan yang telah disepakati.

Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dengan dirinya.

Tanggung jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa. 

Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil yang baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

Peduli lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

Proses pendidikan dalam realitanya masih mengutamakan aspek kognitif ketimbang aspek afektif dan psikomotoriknya. Bahkan konon Ujian Nasional pun lebih mementingkan aspek intelektualnya ketimbang aspek kejujuran. Bukankah hal ini sangat bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional? Daniel Goleman mengingatkan kepada kita bahwa kecerdasan emosional dan sosial dalam kehidupan diperlukan 80% sementara kecerdasan intelektual hanyalah 20% saja. Dalam hal inilah maka pendidikan karakter diperlukan untuk membangun kehidupan yang lebih beradab, bukan kehidupan yang justru dipenuhi dengan perilaku biadab. Mengapa pendidikan karakter penting? Setidaknya pendidikan karakter penting dengan alasan: (1) karakter adalah bagian esensial manusia dan karenanya harus dididikkan; (2) saat ini karakter generasi muda (bahkan juga generasi tua) mengalami erosi, pudar, dan kering keberadaannya; dan berbagai alasan lain sebagainya.
Untuk mengimplementasikan penguatan karakter pada diri peserta didik maka diperlukan adanya: kurikulum pendidikan karakter, pembelajaran berbasis karakter, dan evaluasi terhadapnya. Kurikulum pendidikan karakter di sekolah meliputi dua kurikulum, yaitu kurikulum tersembunyi dan kurikulum terbuka. Dengan kata lain, kurikulum pendidikan karakter haruslah integratif, baik dari segi materi pembelajaran, strategi pembelajaran, dan adanya penanaman nilai karakter didalam setiap aktivitas pembelajaran. Untuk menerapkan kurikulum pendidikan karakter, maka diperlukan adanya penerapan pendekatan pembelajaran berkarakter yang bertujuan mencapai kompetensi inti, yakni kompetensi spiritual/religius, kompetensi sosial, kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan. Sehingga pendidikan karakter ini lebih menekankan kepada aspek sikap yang core-nya ialah religius. Dengan adanya karakter yang kuat maka akan muncul berbagai perilaku baik dalam diri siswa. Adapun di dalam evaluasi pendidikan karakter, guru hendaknya secara intens menilai sikap siswa baik dengan cara observasi ataupun dengan cara lainnya dan tentunya berpedoman kepada evaluasi penilaian (otentik) terhadap kegiatan pembelajaran saintific methods. Dan guru pun hendaknya melakukan apresiasi yang tepat terhadap kegiatan belajar siswa. Sekecil apapun gerak-gerik atau tingkah laku siswa patut dievaluasi.
Kompetensi 4C’s /HOTS (bagaimana siswa memecahkan masalah) dan Contoh Penerapannya didalam Pembelajaran PAI
Kompetensi 4C’s /HOTS
Anderson dan Krathwohl (2001) mengungkapkan bahwa kompetensi berpikir dapat dikelompokkan menurut taksonomi Bloom, seperti pada tabel di bawah.
Taksonomi Bloom
Tingkatan Berpikir
Tinjauan

Knowledge (C1)
Comprehension (C2)
Application (C3)
Analysis (C4)
Synthesis (C5)
Evaluation (C6)
Lower-Order
Lower-Order
Higher-Order
Higher-Order
Higher-Order
Higher-Order
Mengingat
Memahami
Menerapkan
Menganalisis
Menciptakan
Mengevaluasi 

Keterampilan berpikir tingkat tinggi atau dikenal dengan istilah Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada taksonomi Bloom, merupakan urutan tingkat berpikir (kognitif) dari tingkat rendah ke tinggi. Pada ranah kognitifnya, HOTS berada pada level analisis, sintesis dan evaluasi. HOTS versi lama berupa kata benda yaitu pengetahuan, pemahaman, terapan, analisis, sintesis, evaluasi. Sedangkan HOTS setelah direvisi menjadi kata kerja: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. Adapun pendekatan pembelajaran yang ideal di abad 21 adalah dengan menerapkan HOTS ini menjadi 4 C’s Learning, sebagai berikut:
Critical Thinking (Berpikir Kritis). Pemikiran kritis adalah proses penyaringan, analisis dan memberikan pertanyaan terhadap informasi/konten yang ditemukan di berbagai media, dan kemudian mensintesisnya dalam bentuk yang memiliki nilai kepada individu. Hal ini memungkinkan siswa untuk memahami konten yang disajikan dan menerapkannya pada kehidupan mereka sehari-hari. Martini Yamin mendefinisikan berpikir kritis adalah Keterampilan individu dalam menggunakan proses berpikirnnya untuk menganalisa argumen dan memberikan interpretasi berdasarkan persepsi yang benar dan rasional, analisis asumsi dan bias dari argumen, dan interpretasi logis.
Collaboration (Kolaborasi). Kolaborasi adalah keterampilan memanfaatkan berbagai kepribadian, talenta, dan pengetahuan dengan cara menciptakan hasil maksimal. Hasilnya harus memberi manfaat bagi seluruh masyarakat atau kelompok. Karena bersinergi, hasil bersama memiliki nilai lebih besar daripada jumlah nilai setiap hasil individu.
Creativity (Kreativitas). Kreativitas adalah keterampilan individu dalam menggunakan proses berpikirnya untuk menghasilkan gagasan yang baru, konstruktif berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang rasional maupun persepsi, dan intuisi individu. Pada abad ke-21, seorang individu harus bisa menciptakan sesuatu yang baru atau menciptakan sesuatu dengan cara baru, dengan memanfaatkan pengetahuan yang telah dia dapatkan. Cipataan tersebut tidak hanya berupa seni, tetapi juga berupa berbagai solusi terhadap masalah yang muncul di dunia nyata.
Communication (Komunikasi). Komunikasi adalah keterampilan menyajikan informasi dengan cara yang jelas, ringkas dan berarti. Ini juga menunjukkan kepada kemampuan kehati-hatian di dalam mendengarkan dan mengartikulasikan pemikiran. Komunikasi memiliki berbagai tujuan, yakni: menginformasikan, menginstruksikan, memotivasi, dan meyakinkan.
Cara-cara yang dapat melatih siswa untuk berpikir tingkat tinggi
Membuat Peta Konsep
Mengajukan Pertanyaan
Menyusun buku harian/jurnal pembelajaran
Pembelajaran kooperatif berbasis TI (Teknologi Informasi)
Menggunakan analogi
Eksperimen berbasis inkuiri
Metode Proyek
Latihan-latihan membuat keputusan
Contoh Penerapan HOTS didalam Pembelajaran PAI
Berbusana Muslim dan Muslimah Merupakan cermin Kepribadian dan Keindahan diri
Berpikir Kritis. Memberikan pertanyaan terhadap berbagai informasi yang ditemukan di berbagai media dan realita yang nampak mengenai hal-hal yang berkaitan dengan urgensi berpakaian syar’i. Contohnya dengan memberikan intruksi berikut: “Carilah melalui berbagai media, para aktris dan aktor atau public figure yang telah mengubah penampilan cara berpakaiannya secara islami atau syar’i. Kemudian berilah argumen mengenai dampak apa saja yang mempengaruhi pola pikir masyarakat sehingga mereka tertarik untuk berpakaian syar’i karena mengikuti public figurenya? dan berikan juga argumen mengenai beberapa manfaat berhijab syar’i !” 
Kolaborasi. Kolaborasi dapat diterapkan dengan cara melakukan sinergitas yakni kerja sama dengan orang lain dengan mengerahkan berbagai keterampilan yang dipunya guna menciptakan hasil yang memiliki nilai manfaat. Contohnya: memberikan intruksi kepada siswa agar dapat bekerjasama dengan siswa lainnya dalam menebar dakwah (berpakaian Islami), dengan cara mengerahkan talenta yang dimiliki masing-masing siswa. Para siswa diperintahkan untuk membuat tugas dengan format penilaian proyek terhadap kegiatan yang dilakukannya.
Kreativitas. Dengan kerjasama ini diharapkan mampu memberi berbagai solusi atau setidaknya sosialisasi mengenai urgensi berpakaian Islami di lingkungan kelas ataupun lingkungan sekolah dan masyarakat.
Mengkomunikasikan. Para siswa mencoba untuk mengenalkan gagasannya kepada lingkungannya, baik guru, sesama teman, warga sekolah, keluarga, dan masyarakat mengenai pentingnya menutup aurat sebagai identitas muslim dan muslimah yang berkepribadian.
Toleransi Sebagai Alat Pemersatu Bangsa 
Berpikir Kritis. Memberikan pertanyaan terhadap berbagai informasi yang ditemukan di berbagai media dan realita yang nampak mengenai hal-hal yang berkaitan dengan urgensi toleransi. Contohnya memberikan pertanyaan: “Pengrusakan tempat-tempat ibadah, tawuran antarwarga, demonstrasi mahasiswa, dan berbagai macam tindakan kekerasan lainnya telah menggambarkan secara jelas pudarnya persatuan dan rasa toleransi. Bagaimana pendapatmu mengenai kondisi seperti ini?”
Kolaborasi. Kolaborasi dapat diterapkan dengan cara melakukan sinergitas yakni kerja sama dengan orang lain dengan mengerahkan berbagai keterampilan yang dipunya guna menciptakan hasil yang memiliki nilai manfaat. Contohnya: Memberikan intruksi kepada siswa agar bekerja sama untuk menganalisis realita dengan mencurahkan pendapat/pandangan kritisnya masing-masing, lalu melakukan pembagian tugas sesuai dengan bakat atau potensi yang dimiliki temannya, misalnya Umar pandai dalam berkomunikasi, Aisyah pandai dalam merangkai kata-kata, Zainab mampu membuat power point yang bagus, Ahmad pandai menjadi pemimpin, maka mereka membagi-bagi tugas semisal Ahmad menjadi ketua kelompok yang memiliki tanggung jawab untuk memimpin kelompoknya, Aisyah menjadi notulen, Zainab membuat media powerpoint, dan Umar membimbing kegiatan diskusi didalam kelompoknya.
Kreativitas. Dengan kerjasama kelompok yang diketuai oleh Ahmad ini, kelompoknya mampu mengkritisi dan menganalisa “Urgensi toleransi di dalam realita”, dan mereka mampu memberikan berbagai solusi terhadap permasalahan dan pertanyaan yang diberikan oleh guru.
Mengkomunikasikan. Ahmad dan kelompoknya berusaha untuk mepresentasikan hasil kreativitasnya yang berupa gagasan (solusi untuk mempererat kesatuan dengan rasa toleransi) semaksimal mungkin dihadapan teman-temannya dan mengupload presentasinya ke media sosial contohnya youtube.
Literasi Dasar (bagaimana siswa menerapkan keterampilan dasar sehari-hari)
Program-program pendidikan yang memenuhi etika tentu dilaksanakan berbasis data, dari data terkini yang tersedia disusunlah rencana program baik bersifat strategis maupun operasional untuk mengatasi berbagai masalah yang tampak dari data-data tersebut. Disebutkan bahwa salah satu keterampilan utuh abad 21 yang dibutuhkan adalah memiliki kemampuan literasi dasar yang baik, yaitu bagaimana menerapkan keterampilan inti untuk kegiatan sehari-hari.
Ada enam komponen dalam literasi dasar ini, yaitu kemampuan baca-tulis-berhitung, sains, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), keuangan, budaya, dan kewarganegaraan. Penjelasan keenam komponen literasi dasar tersebut ialah sebagai berikut.
Literasi baca-tulis-berhitung (calistung) merupakan literasi dasar (basic literacy) yang berkaitan dengan kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan menganalisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengkomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.
Literasi sains, merupakan ranah utama dari Program for International Student Assessment (PISA). Literasi sains adalah kemampuan menggunakan pengetahuan sains untuk mengidentifikasikan permasalahan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti dalam rangka memahami serta membuat keputusan tentang alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia.
Literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), adalah kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti perangkat keras atau hardware, perangkat lunak atau software, serta etika dan etiket dalam memahami teknologi. Dalam praktiknya, juga pemahaman dalam menggunakan komputer atau computer literacy yang di dalamnya termasuk menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengolah data, serta mengoperasikan beberapa perangkat.
Literasi keuangan. Bagi sebagian masyarakat pada bagian ini, literasi ekonomi adalah hal yang fundamental terutama bagi pemangku kebijakan untuk urusan ekonomi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) misalnya mengeluarkan definisi bahwa yang dimaksud literasi keuangan adalah aktivitas untuk meningkatkan pengetahuan, keyakinan, keterampilan konsumen, dan masyarakat luas sehingga mereka mampu mengelola keuangan dengan baik.
Literasi budaya adalah kemampuan untuk mengetahui budaya yang dimiliki bangsa.
Literasi kewarganegaraan adalah kemampuan seseorang dalam memahami kebijakan dan keputusan dalam penyelenggara negara. Literasi yang disebutkan juga terdapat dalam program global UNESCO. Karena dalam misi yang dikeluarkan adalah melakukan pembangunan berkelanjutan sesuai misi dari SDG'S atau Sustainable Development Goals.

BAB III
PENUTUP

Abad ke-21 ditandai sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi, artinya kehidupan manusia pada abad ke-21 mengalami perubahan-perubahan yang fundamental. Dikatakan abad ke-21 adalah abad yang meminta kualitas dalam segala usaha dan hasil kerja manusia. Dengan sendirinya abad ke-21 meminta sumberdaya manusia yang berkualitas. Pembenahan kualitas SDM adalah dengan melakukan pembenahan pada sistem pendidikan. Dalam artian perlu dirancang suatu paradigma baru yang menuntut terobosan pemikiran agar mampu menghasilkan peserta didik yang bermutu dan dapat bersaing dalam dunia yang serba terbuka.
Dalam menjawab tuntutan pendidikan abad 21 sekiranya perlu memperhatikan tantangan yang dihadapi oleh suatu negara dalam menyelenggarakan sistem pendidikannya tersebut. Tantangan pendidikan sendiri meliputi dua faktor, yakni dari dalam (internal) dan faktor luar (ekternal). Faktor eksternal yang menjadi tantangan bagi pendidikan ialah terdapat persaingan yang sangat kompetitif di dunia ini yang mana menuntut adanya kompetensi dan berbagai keterampilan yang memadai. Selain itu pula, di zaman modern segalanya serba canggih, bahkan berbagai informasi (positif/negatif) dapat diakses oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Oleh karena itu, suatu sistem pendidikan hendaknya mampu membekali kemampuan ‘melek informasi’ kepada peserta didik, agar mereka memiliki wawasan luas dengan memanfaatkan berbagai literatur yang ada namun cerdas dalam menyeleksi informasi yang diterima, sehingga peserta didik tetap memiliki karakter yang kokoh. Adapun faktor internal yang menjadi tantangan bagi dunia pendidikan adalah, rapuhnya moral dan karakter generasi muda (bahkan ada juga generasi tua). Pendidikan diharapkan tidak hanya mengutamakan aspek kognitif tetapi juga menekankan aspek sikap dan psikomotor. Dengan sistem pendidikan inilah, diharapkan pendidikan mampu melahirkan generasi unggul yang cerdas spiritual, cerdas intelektual serta cerdas emosional.

DAFTAR PUSTAKA

Maksudin. 2013. Pendidikan Karakter Nondikotomik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Martinis Yamin. 2008. Paradigma Pendidikan Konstruktivistik. Jakarta: Gaung Persada Press
Suyadi. 2013. Mencegah Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Melalui Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Penerbit ANDI
Syaiful Sagala & Syawal Gultom. 2011. Praktik Etika Pendidikan di Seluruh Wilayah NKRI. Bandung: Alfabeta

Internet
Aisyah Turidho. Tantangan Kurikulum dan Pembelajaran di Abad-21. Diakses dari: Https://www.slideshare.net/mobile/aisyahturidho/tantangan-kurikulum-dan-pembelajaran-di-abad-21 pada tanggal 14 November 2017 pukul 20.26 WIB
Doni Adhitia. 2016. Kemendikbud Kenalkan Enam Komponen Literasi Dasar. Diakses dari: http://www.klikanggaran.com/kebijakan/kemendikbud-kenalkan-enam-komponen-literasi-dasar.html pada tanggal 14 Nopember 2017 pukul 11.21 WIB
Dorotea Knezevic. 21st Century Skills: 6 C’S of Education. Diakses dari: https://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://blog.awwapp.com/6-cs-of-education-classroom/&prev=search pada tanggal 14 Nopember 2017 pukul 11.16 WIB
Jennifer Rita Nichols. 2015. 4 Essential Rules Of 21st Century Learning. Diakses dari: https://www.teachthought.com/learning/4-essential-rules-of-21st-century-learning/ pada tanggal 14 Nopember 2017 pukul 10.53 WIB
Komarudin Sukmana. 2016. Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS) Untuk Siswa SD. Diakses dari: http://mytuaianilmu.blogspot.com/2016/10/keterampilan-berpikir-tingkat-tinggi-.html?m=1 pada tanggal 14 Nopember 2017 pukul 21.21 WIB

Jurnal
Etistika Yuni Wijaya, dkk. 2016. Transformasi Pendidikan Abad 21 Sebagai Tuntutan Pengembangan Sumber Daya Manusia di Era Global. Malang: Prosiding Seminar Pendidikan Nasional Pendidikan Matematika 2016 Universitas Kanjuruhan Malang. Vol. 1: 263

PROFESIONALISME DALAM PENGELOLAAN INSTITUSI PENDIDIKAN

PROFESIONALISME DALAM PENGELOLAAN INSTITUSI PENDIDIKAN

MAKALAH
Dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan
Dosen
 Dr.Wahyu Hidayat, M.A. 



Oleh
Kelompok 12
Imam Ubaidillah 1152020096
Kristin Wiranata 1152020108
Lulu Septiana Putri 1152020117

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI 
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kepada Allah subhanahu wata’ala karena berkat ridho-Nya kami dapat menyusun makalah yang berjudul Profesionalisme dalam Pengelolaan Institusi Pendidikan untuk memenuhi salah satu tugas kelompok pada mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan. Shalawat dan salam semoga senatiasa sampai kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang membawa kita selaku umatnya kepada jalan kebenaran.
Penyusun meyampaikan terima kasih kepada dosen mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan yang telah memberikan arahannya kepada kami dan juga kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak atas berbagai bantuan yang telah diberikan, semoga berbagai pihak yang membantu kami Allah berikan ganjaran yang berlipat ganda.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kami menerima kritik dan saran dari semua pembaca, sehingga dapat menjadi sebuah pembelajaran dan lebih baik lagi ke depan.


Bandung, 24 Desember 2017



Penyusun 







DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
BAB II PEMBAHASAN 2
A. Definisi Profesionalisme dalam Pengelolaan Institusi Pendidikan 2
B. Profesionalisme dalam Pandangan Islam 4
C. Cara Menerapkan Profesionalisme dalam Pengelolaan Institusi Pendidikan 5
D. Kendala-kendala yang Menghambat Profesionalisme di dalam Pengelolaan Institusi Pendidikan Beserta Tips Sukses Pengelolaan Intitusi Pendidikan 7
E. Kepala Sekolah yang Profesional sebagai Core Pengelola Institusi Pendidikan 9
F. Manajemen yang Profesional, Fleksibel, Efektif dan Efisien 16
BAB III PENUTUP 19
DAFTAR PUSTAKA 21













BAB I
  PENDAHULUAN 

Latar Belakang
 Dalam mengelola lembaga atau institusi, khususnya dalam lembaga pendidik harus dilakukan dengan baik dan benar, karna akan berpengaruh kepada jalannya proses pengelolaan kelmbagaan tersebut. Jika dalam mengelolanya salah, atau tidak baik, maka jelaslah dalam prosesnya pun sudah dianggap tidak baik. Apalagi orang yang berpengaruh dalam kelembagaannya kinerjanya harus sesuai yang telah ditetapkan, itupun akan berpengaruh kepada yang lainnya. 
Maka dalam mengelolaan sebuah lembaga atau institusi harus berdasarkan keprofesionalannya dalam melaksanakan alur dari kelembagaan tersebut. Profesional didapat ketika seseorang komitmen dengan pemikirannya dan dilakukan atas dasar perasaan, kemauan, pendapat, atau semacamnya tetapi benar-benar di landasi oleh pengetahuan secara akademik juga. Oleh karena itu kelompok kami menyusun makalah mengenai profesionalisme pengelolaan isnsitusi pendidikan sebagai berikut.
Rumusan Masalah
Apa definisi profesionalisme dalam pengelolaan institusi pendidikan?
Bagaimana profesionalisme dalam pandangan Islam?
Bagaimana cara menerapkan profesionalisme dalam pengelolaan institusi pendidikan?
Apa saja kendala-kendala yang menghambat profesionalisme di dalam pengelolaan institusi pendidikan beserta dan bagaimana tips sukses pengelolaan intitusi pendidikan?
Mengapa Kepala Sekolah yang Profesional dikatakan sebagai Core Profesionalisme dalam Pengelolaan Institusi Pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN

Definisi Profesionalisme dalam Pengelolaan Institusi Pendidikan
Definisi Profesionalisme
Secara etimologi, istilah profesi berasal dari bahasa Inggris yaitu profession atau bahasa Latin profecus yang artinya mengakui, adanya pengakuan, menyatakan mampu, atau ahli dalam melakukan suatu pekerjaan.
Adapun secara terminologis Freidson (1970) menjelaskan bahwa profesionalisme adalah komitmen untuk ide-ide profesional dan karir. Secara operatif profesionalisme memiliki aturan dan komitmen untuk memberi definisi jabatan keilmuan tehnik dan jabatan yang akan di berikan pada pelayanan masyarakat agar secara khusus pandangan-pandangan jabatan di koreksi secara keilmuan dan etika sebagai pengukuhan terhadap profesionalisme. Profesionalisme tidak dapat dilakukan atas dasar perasaan, kemauan, pendapat, atau semacamnya tetapi benar-benar di landasi oleh pengetahuan secara akademik. Ahmad Tafsir menyatakan bahwa profesionalisme ialah suatu paham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang yang profesional. 
Ada 10 kriteria bagi suatu “profesi” untuk dsebut sebagai bidang profesi, yakni sebagai berikut: 
Profesi harus memiliki keahlian yang khusus
Profesi harus diambil sebagai panggilan hidup oleh karena itu profesi dikerjakan sepenuh waktu
Profesi memiliki teori-teori yang baku secara universal. Artinya, profesi itu dijalani menurut teori-teorinya.
Profesi adalah untuk masyarakat, bukan untuk diri sendiri. Maksudnya ialah profesi itu merupakan alat dalam mengabdikan diri kepada masyarakat, bukan untuk kepentingan diri sendiri seperti untuk mengumpulkan uang atau mengejar kedudukan
Profesi harus dilengkapi dengan kecakapan diagnostik (menganalisis suatu problem) dan kompetensi aplikatif
Pemegang profesi memiliki otonomi (kewenangan) dalam melakukan profesinya
Profesi hendaknya mempunyai kode etik
Profesi harus memiliki klien yang jelas
Profesi memerlukan organisasi profesi
Suatu profesi juga hendaknya dapat mengenali hubungan profesinya dengan bidang-bidang profesi lain
Kecenderungan spesialisasi hendaknya dibatasi pada pendalaman untuk meningkatkan teori-teori dalam profesinya. Ini tidak diartikan “hanya berkewajiban mengetahui teori-teori dalam profesinya”. Spesialisasi yang tidak mengenal apa-apa di lingkungannya bukanlah profesi karena spesialisasi seperti itu tidak akan mampu melayani kliennya. Kliennya adalah objek yang tidak terlepas dari lingkungannya.
Definisi Pengelolaan Institusi Pendidikan
Pengertian pengelolaan pendidikan sebagaimana yang telah didefinisikan oleh para tokoh diantaranya adalah. 
Andrew F Siula. Pengelolaan pendidikan merupakan aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, penempatan, pengarahan, pemotivasian, komunikasi, dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh setiap organisasi dengan tujuan untuk mengkoordinasikan sebagai sumber daya yang di miliki organisasi sehingga akan dihasilkan suatu produk atau jasa secara efektif dan efisien.
Djam’an Satori. Pengelolaan pendidikan merupakan sebuah upaya untuk menerapkan kaidah-kaidah administrasi dalam bidang pendidikan.
Harold & Cyril O’Dannel. Pengelolaan pendidikan adalah usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain .
Hestrop. Pengelolaan pendidikan merupakan upaya seseorang untuk mengarahkan dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk melaksanakan pekerjaan secara efektif, dan mampu menerima pertanggungjawaban pribadi.
Kalau kita cermati beberapa definisi yang diungkapkan oleh para ahli di atas, pengelolaan pendidikan dapat didefinisikan sebagai sebuah proses tata kelola yang dilakukan secara efektif dan efisien terhadap potensi dan sumber daya yang dimiliki oleh lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan.
Definisi Profesionalisme dalam Pengelolaan Institusi Pendidikan
Merujuk kepada definisi profesionalisme dan pengelolaan pendidikan sebagaimana yang telah dibahas dipoin sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan profesionalisme dalam pengelolaan institusi pendidikan adalah:
Suatu pemahaman bahwa di dalam proses pengelolaan institusi pendidikan haruslah dilakukan oleh orang yang profesional. Pengelolaan institusi pendidikan tersebut meliputi proses tata kelola yang dilakukan secara efektif dan efisien terhadap potensi dan sumber daya yang dimiliki oleh lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Dan untuk dapat mewujudkan hal tersebut tentulah diperlukan peranan tenaga ahli yang profesional di bidangnya.

Profesionalisme dalam Pandangan Islam
Bila kita perhatikan kriteria profesi seperti yang telah diuraikan di sub materi sebelumnya, maka benang merahnya terdapat dua kriteria pokok mengenai profesionalisme, yaitu (1) merupakan panggilan hidup dan (2) keahlian. Jika demikian maka “dedikasi” dan “keahlian” itulah ciri utama suatu bidang disebut suatu profesi, dan jika demikian, maka jelas Islam mementingkan profesi.
Pekerjaan (profesi) menurut Islam harus dilakukan karena Allah. “Karena Allah” maksudnya ialah karena diperintahkan Allah. Jadi, profesi dalam Islam haruslah dijalani karena merasa bahwa itu adalah perintah Allah. Dalam kenyataannya pekerjaan itu harus dijalani untuk memberikan pelayanan kepada orang lain, tetapi niat yang mendasarinya adalah perintah Allah, sebagaimana yang tercantum dalam hadits berikut:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan. (HR. Bukhari, No 1)
Dari sini kita mengetahui bahwa pekerjaan profesi di dalam Islam dilakukan sebagai pengabdian kepada Allah dan sebagai dedikasi kepada orang lain sebagai objek pengabdian itu. Pengabdian di dalam Islam, selain demi kemanusiaan, juga dikerjakan demi Allah, jadi ada unsur transenden dalam pelaksanaan profesi, unsur transenden ini dapat menjadikan pengamalan profesi dalam Islam lebih tinggi nilai pengabdiannya dibandingkan dengan pengamalan profesi yang tidak didasari oleh keyakinan iman kepada Allah.
Dalam Islam, setiap pekerjaan harus dilakukan secara profesional, dalam artian harus dilakukan secara benar. Dan hal ini hanya mungkin dilakukan oleh orang yang ahli. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berikut:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi." Ada seorang sahabat bertanya; 'bagaimana maksud amanat disia-siakan?' Nabi menjawab; "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu." (HR. Bukhari, No. 6015)

Cara Menerapkan Profesionalisme dalam Pengelolaan Institusi Pendidikan
Untuk dapat menerapkan profesionalisme dalam pengelolaan institusi pendidikan agaknya dapat diikuti ‘sekurang-kurangnya dipertimbangkan’ beberapa pemikiran berikut ini.
Pertama, adanya profesionalisme dalam pada tingkat yayasan, jika institusi pendidikan tersebut berada di bawah naungan yayasan. Yakni hendaknya menugaskan seseorang yang profesional untuk setiap bidang garapan. Dan sebaiknya pengurus yayasan tidak menjadi kepala sekolah, karena hal ini akan menambah beban amanahnya dan dikhawatirkan akan menyebabkan buyarnya kefokusan dalam mengurus sekolah, dengan begitu ia akan mudah lelah fisik dan mental sehingga dikhawatirkan terbengkalailah berbagai amanah yang diembannya. 
Kedua, menerapkan profesionalisme pada tingkat pimpinan sekolah, dengan memilih kepala sekolah yang benar-benar profesional. Dengan keahlian kepala sekolah yang profesional ia dapat meningkatkan mutu institusi pendidikan.
Ketiga, penerapan profesionalisme pada tingkat tenaga pengajar. Dimulai dalam penerimaan tenaga guru, dengan melakukan seleksi yang selektif sesuai dengan persyaratan dan kualifikasi guru yang dibutuhkan. Dan juga adanya berbagai bentuk program peningkatan mutu guru, berbagai pelatihan, seminar, dan lain sebagainya.
Keempat, profesionalisasi tenaga tata usaha sekolah. Banyaknya pegawai tata usaha tidak menjamin beresnya tata usaha sekolah, yang menjamin adalah tingkat profesionalisme yang tinggi. Apalagi pada zaman dewasa ini peralatan bantu (komputer, semisalnya) sudah semakin canggih dan praktis. Perencanaan ketatausahaan sekolah seluruhnya adalah tugas kepala sekolah, mencakup jumlah dan penempatannya. Tata usaha hendaknya dapat memberikan pelayanan maksimal terhadap (1) kepala sekolah, (2) guru, (3) murid, dan (4) orang tua murid. Jika disingkat maka tugas tata usaha sekolah ialah melakukan semua tugas yang diperintahkan oleh kepala sekolah. Kembali di sini, kepala sekolah harus orang yang profesional.

Kendala-kendala yang Menghambat Profesionalisme di dalam Pengelolaan Institusi Pendidikan Beserta Tips Sukses Pengelolaan Intitusi Pendidikan
Kendala-kendala yang menghambat profesionalisme pengelolaan institusi pendidikan
Hambatan utama untuk menerapkan profesionalisme dalam pengelolaan sekolah ialah kekurangan biaya, demikian pendapat umum di kalangan pengelola sekolah Islam. Barangkali pendapat ini ada benarnya. Namun, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad Tafsir bahwa tidak jarang ditemukan sekolah Islam yang sebenarnya tidak kekurangan dana, tetapi tetap saja mutunya rendah. Sebenarnya yang menyebabkan mutu institusi pendidikan rendah itu adalah kurangnya pengetahuan dan kemauan untuk mengelola dana secara lebih baik, dan juga kurang profesionalnya staf ahli.
Dan terdapat beberapa kendala lainnya yang sering dijumpai menuju profesionalisasi pengelolaan institusi sekolah yakni sebagai berikut:
Kepemimpinan yang lemah. Pemimpin yang kuat dan berwibawa sangat diperlukan dalam mengelola suatu organisasi, sebab dengannya seorang pemimpin uang kuat dan berwibawa ia dapat berperan sebagai lokomotif perubahan menuju cita-cita yang disepakati bersama. Menutur Arvan Pradiansyah, ada lima level kepemimpinan, yakni: (1) Memimpin dengan permintaan. Pegawai akan melakukan apa yang diintruksikan kepadanya tanpa banyak bertanya, hal ini bisa terjadi karena adanya tingkat kepercayaan yang tinggi, dan pegawai sudah mengetahui manfaat dari intruksi yang diembannya; (2) Memimpin dengan alasan rasional. Yakni berusaha untuk menjelaskan alasan kepada orang lain bila pegawai menolak melaksanakan intruksinya; (3) Memimpin dengan imbalan; (4) Memimpin dengan ancaman; (5) Memimpin dengan paksaan. Pada dasarnya tipe kepemimpinan yang pertama ialah tipe kepemimpinan yang paling ideal.
Terbatasnya skill para staf ahli.
Adanya konflik, baik internal ataupun eksternal. Ada empat bidang struktural dalam organisasi klasik yang sering terjadi konflik. Pertama, konflik hierarkis, yaitu konflik antarberbagai tingkatan organisasi. Misalnya staf TU berkonflik dengan staf guru. Kedua, konflik fungsional, yaitu konflik antar beragam fungsional organisasi. Contohnya, konflik antara guru mata pelajaran dengan wali kelas yang menyebabkan adanya jarak antara mereka, sehingga salah satu pihak/keduanya menemui hambatan didalam melaksanakan amanah yang diemban. Ketiga, konflik lini staf, yakni konflik antar lini dan staf. Hal ini seringkali merupakan hasil adanya perbedaan-perbedaan yang melekat pada personalia lini dan staf. Keempat, konflik formal-informal, yaitu konflik antara organisasi formal dan informal. Berbagai konflik dalam organisasi muncul dikarenakan: komunikasi yang buruk, struktur organisasi yang tidak tepat, dan adanya variabel pribadi. Dalam menghadapi konflik, pendekatan invertigasi, persuasi, win-win solution, dan peranan orang ketiga (mediator) harus dikedepankan. Kedepannya komunikasi yang baik, silaturrahim, koordinasi, dan kerjasama perlu ditingkatkan untuk memupuk persatuan dan menepis perpecahan. Namun, ada juga yang memanfaatkan konflik sebagai wahana untuk meningkatkan kualitas yakni timbulnya kompetisi yang ketat, sehingga masing-masing pihak dapat meningkatkan kemampuannya secara massif. Menurut Prof. Dr. Sudarwan Danim, kepala sekolah pun haruslah merupakan sosok yang mampu membina integrasi. Integrasi mesti ditanamkan dan dibina sejak dini oleh semua pihak tanpa perlu menunggu terjadinya krisis.
Kurangnya pengawasan. Untuk mengetahui suatu program sudah dilakukan atau tidak maka perlu diadakannya monitoring. Pengawasan sangat diperlukan untuk membangkitkan semangat kerja bawahan dan mengejar target yang dicanangkan. Di dalam pengawasan, pengawas memiliki pengetahuan mendalam terhadap objek yang diawasi, sehingga ia bisa memberikan pengarahan, pengetahuan dan tips mengerjakannya secara maksimal, efektif dan efisien. Pengawasan yang efektif mampu mendorong pimpinan untuk aktif melakukan komunikasi dan interaksi egaliter, sehingga tidak ada efek negatif bagi hubungan personel dan organisasi, seperti tertekan dan terancam, namun justru akan muncul kesadaran untuk memperbaiki diri dan mencurahkan segala kemampuan untuk memajukan organisasi sekolah.
Anggaran tidak memadai. Maka dibutuhkan adanya totalitas untuk meraih kesuksesan dalam bidang ekonomi. Kesuksesan otonomi akan memperlancar proses administrasi sekolah, sehingga kinerja dan prestasi akan meningkat tajam.
Tips Sukses Pengelolaan Intitusi Pendidikan
Berbagai tips sukses pengelolaan institusi pendidikan adalah sebagai berikut:
Tersedianya Sumber Daya Manusia yang dinamis, kreatif dan akuntabel
Menyediakan perangkat yang lengkap
Mengedepankan transparansi
Aktif melakukan supervisi
Manajemen Profesional
Responsif terhadap perubahan
Menjadikan akreditasi sebagai parameter
Pelaporan yang bertanggung jawab
Melakukan pelatihan intensif
Menyusun arsip dengan baik
Mengadakan studi banding

Kepala Sekolah yang Profesional sebagai Core Pengelola Institusi Pendidikan
Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Pengelola atau Manajer Institusi Pendidikan
Peran kepala sekolah adalah sangat penting dalam menentukan operasional kerja harian, mingguan, bulanan, semesteran, dan tahunan yang dapat memecahkan berbagai problamatika ini sebagai komitmen dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui kegiatan supervisi pengajaran, konsultasi, dan perbaikan-perbaikan penting guna meningkatkan kualitas pembelajaran. Kepala sekolah berusaha menghubungkan tujuan sekolah dengan sekolah dan memaksimalkan kreativitas. Setiap kepala sekolah membawa pengaruh besar terhadap pengajaran untuk kebaikan atau keburukan. Kepala sekolah memerlukan instrumen yang mampu menjelaskan berbagai aspek lingkungan sekolah dan kinerjanya dalam memantau perjalanan ke arah masa depan yang menjanjikan.
Pidarta (1988) mengemukakan tiga macam keterampilan yang harus dimiliki oleh kepala sekolah untuk menyukseskan peranannya sebagai pengelola pendidikan. Ketiga keterampilan tersebut adalah keterampilan konseptual, yaitu keterampilan untuk memahami dan mengeporasikan organisasi; keterampilan manusiawi, yaitu keterampilan untuk bekerja sama, memotivasi dan memimpin. Keterampilan teknik ialah keterampilan dalam menggunakan pengetahuan, metode, teknik, serta perlengkapan untuk menyelesaikan tugas tertentu.
Dari beberapa penjelasan diatas, untuk mewujudkan fungsinya sebagai pengelola pendidikan, kepala sekolah hendaknya mampu mengaplikasikan fungsi-fungsi ke dalam pengelolaan sekolah yang dipimpinnya. Di antara fungsi-fungsi adalah :
Merencanakan 
 Kepala sekolah harus mampu merencanakan/membuat perencanaan yang baik. Merencanakan dapat dirumuskan sebagai keseluruhan proses memikirkan dan menentukan secara matang terhadap hal-hal yang akan datang dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan. Kepala sekolah dapat merencanakan tugas-tugas menyusun rencana kegiatan kedepan dari suatu organisasi, yang meliputi rencana jangka panjang, menengah, pendek, rencana kegiatan serta menetapkan target-target yang hendak dicapai.
Dalam membuat sebuah perencanaan, kepala sekolah dapat menempuh beberapa tahap, yaitu (1) identifikasi masalah, (2) perumusan masalah, (3) penetapan tujuan, (4) identifikasi alternatif, (5) pemilihan alternatif, dan (6) elaborasi alternatif.
Mengorganisasikan 
  Dengan pembagian kerja yang baik, perlimpahan wewenang dan tanggung jawab yang tepat serta mengingat prinsip-prinsip pengorganisasian, memungkinkan kegiatan sekolah berjalan lancar dan mencapai tujuan yang diinginkan Kegiatan mengorganisasikan meliputi tugas-tugas apa yang harus dilakukan, siapa yang melakukan, bagaimana tugas-tugas itu dikelompokkan, siapa melapor kepada siapa, dimana keputusan harus diambil. 
       Untuk menyusun organisasi sekolah, Ngalim Purwanto (2004) menyebutkan beberapa prinsip yang perlu diperhatikan sebagai berikut: 
Mempunyai tugas yang jelas
Para anggota menerima dan memahami tujuan tersebut
Adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab seseorang dalam organisasi itu;
Adanya pembagian tugas pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, atau bakat masing-masing
Pola organisasi hendaknya relatif permanen
Adanya jaminan keamanan dalam bekerja
Garis-garis kekuasaan dan tanggung jawab serta hirarki tata kerjanya jelas tergambar di dalam struktur atau bahan organisasi.
Memotivasi
       Karena para pemimpin tidak mencapai visi mereka sendiri, maka mereka harus memotivasi orang-orang lain juga untuk meraih visi itu. Para pengawal dari sebuah organisasi merupakan aset yang paling berharga agar organisasi itu meraih sasaran-sasarannya. Para pemimpin harus terus memotivasi para karyawan mereka untuk terus maju. Para pemimpin yang efektif memotivasi para karyawan dengan menggunakan otoritas, peran keteladanan, membangun rasa percaya diri, menciptakan tantangan lewat penetapan sasaran, mendelegasikan, dan memberi imbalan serta hukuman.

Mengarahkan 
       Mengarahkan adalah kegiatan membimbing karyawan dengan jalan memberi perintah (komando) memberi petunjuk, mendorong semangat kerja, menegakkan disiplin, memberikan berbagai usaha lainnya agar mereka dapat melakukan pekerjaan mengikuti arah yang telah ditetapkan dalam petunjuk peraturan atau pedoman yang telah ditetapkan. Tindakan pengarahan dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan ; (1) melaksanakan orientasi tentang pekerjaan yang akan dilakukan, (2) memberikan petunjuk umum dari petunjuk khusus baik secara lisan laupun tertulis secara langsung maupun tidak langsung.
Mengoordinasikan 
 Pengkoordinasian adalah kegiatan kegiatan menghubungkan orang-orang dan tugas-tugas sehingga terjalin kesatuan atau keselaraan keputusan, kebijaksanaan, tindakan, langkah, sikap serta tercegah dari timbulnnya pertentangan, kekacauan, kekembaran (duplikasi), dan kekosongan tindakan. Tindakan mengkoordinasikan dapat dilakukan oleh kepala sekolah melalui berbagai cara, seperti; (1) melaksanakan penjelasan singkat, (2) mengadakan rapat kerja, (3) memberikan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis, (4)memberikan balikan tentang hasil suatu kegiatan.
Mengelola Informasi
 Mengelola informasi berkaitan dengan berbagai aspek dari tanggung jawab dan aktivitas pemimpin, seperti pengkajian dan pemantauan umpan balik, perencanaan dan pengambilan keputusan. Seorang pemimpin harus menyediakan banyak waktunya untuk menghimpun dan memproses informasi. Seorang pemimpin harus ahli dalam mengmpulkan informasi yang dibutuhkan dan mengolahnya untuk mengambil keputusan. Para pemimpin dalam tingkat apapun semestinya secara sadar berusaha untuk mengintegrasikan dan bertindak informasi yang telah mereka terima. 
Mengawasi 
Kepala sekolah harus mampu mengawasi pelaksanaan pekerjaan serta hasil kerja bawahan sesuai dengan rencana, perintah, petunjuk atau ketentuan-ketentuan lainnya yang telah ditetapkan. Kegiatan mengawasi dapat berbentuk memaksa, mengecek serta usaha mencegah terhadap kesalahan yang mungkin terjadi, sehingga bila terjadi penyelenggaraan atau penyimpangan dapat ditempuh usaha-usaha perbaikan. 
       Kepala sekolah akan mampu berbuat banyak tanpa partisipan dari personel sekolah lainnya seperti guru, konselor, supervisor, perwakilan orang tua siswa, dan sebagainnya. Sebaliknya personel sekolah lainnya maupun bawahan tidak akan dapat menjalankan tugas dan kewajiban dengan elektif tanpa pengendalian, pengarahan dan kerjasama dengan kepala sekolah. Faktor partisipan sangat kuat pengaruhnya dalam mencapai kesuksesan tugas seorang pemimpin, semakin banyak partisipasi bawahan dalam suatu kegiatan semakin besar dinamis kehidupan kondisi organisasi tersebut.
Dampak Kepala Sekolah yang Profesional
Kepala sekolah profesional dalam paradigma baru manajemen pendidikan akan memberikan dampak positif dan perubahan yang cukup mendasar dalam pembaruan sistem pendidikan di sekolah. Dampak tersebut antara lain:
Efektifitas proses pendidikan
Peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan memiliki efektivitas pendidikan yang tinggi, yang tampak dari sifat pendidikan yang menekankan pada pemberdayaan peserta didik. Pembelajaran bukan hanya sekedar menghapal ilmu, bukan hanya sekedar penekanan aspek kognitif, akan tetapi lebih menekankan pada internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan kehidupan oleh peserta didik.
Tumbuhnya kepemimpinan sekolah yang kuat
Kepala sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan, menggerakan dan menyerasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia di sekolah. Kepemimpina kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolahnya melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Oleh karena itu, kepala sekolah dituntut mempunyai kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang memadai agar mampu mengambil inisiatif dan prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah.
Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif
Tenaga kependidikan, terutama guru, merupakan jiwa dari sekolah. Oleh karena itu, peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan mulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, pengembangan, evaluasi kinerja, hubungan kerja, sampai pada imbal jasa, merupakan garapan penting bagi kepala sekolah/ peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan ini harus dilakukan secara terus-menerus mengikuti arus perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian pesat.
Budaya mutu
Budaya mutu tertanam di sanubari semua warga sekolah sehingga setiap perilaku selalu didasari oleh profesionalisme. Budaya mutu memiliki elemen-elemen, antara lain: informasi kualitas harus digunakan untuk perbaikan, bukan untuk mengadili atau mengontrol orang; kewenangan harus sebatas tanggung jawab; hasil harus diikuti rewards dan punishment; kolaborasi, sinergi, bukan kompetisi, harus merupakan basis untuk kerja sama; warga sekolah merasa aman terhadap pekerjaannya/aktivitasnya; atmosfer keadilan harus ditanamkan; imbal jasa harus sepadan dengan nilai pekerjaannya; dan warga sekolah merasa memiliki sekolah.
Teamwork yang kompak, cerdas dan dinamis
Kebersamaan merupakan karakteristik yang dituntung oleh profesionalisme kepala sekolah, karena output pendidikan merupakan hasil kolektif warga sekolah, bukan hasil individual. Maka perlulah adanya sinergitas antar warga sekolah dalam mencapai tujuan bersama.
Kemandirian
Kepala sekolah memiliki kemandirian untuk melakukan yang terbaik bagi sekolahnya, sehingga dituntut untuk memiliki kemampuan dan kesanggupan kerja yang tidak selalu menggantungkan pada atasan.
Partisipasi warga sekolah dan masyarakat
Peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolah memiliki karakteristik bahwa partisipasi warga sekolah dan masyarakat merupakan bagian kehidupannya. Hal ini dilandasi oleh self determinat theory, yang meyakini bahwa makin besar tingkat partisipasi, makin besar rasa memiliki; makin besar rasa memiliki, makin besar pula rasa tanggungjawab; makin besar rasa tanggung jawab, makin besar pula tingkat dedikasinya.
Transparasi manajemen
Transparansi ini harus ditunjukkan dalam pengambilan keputusan, penggunaan uang, pelayanan, dan pertanggungjawaban, yang selalu melibatkan pihak-pihak terkait sebagai alat kontrol.
Kemauan untuk berubah
Perubahan harus menjadi kenikmatan bagi semua warga sekolah menuju peningkatan ke arah yang lebih baik. Dalam hal ini, setiap perubahan harus menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya, demikian halnya mutu pendidikan di sekolah.
Evaluasi dan perbaikan berkelanjutan
Evaluasi terhadap profesionalisme tenaga kependidikan harus dilakukan secara teratur bukan hanya ditujukan untuk mengetahui tingkat kemampuan setiap tenaga kependidikan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan tenaga kependidikan tersebut untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses pendidikan di sekolah.
Tanggap terhadap kebutuhan
Sekolah tanggap terhadap berbagai aspirasi yang muncul bagi peningkatan mutu, karena selalu membaca lingkungan dan menanggapinya secara cepat, dan tepat, bahkan sekolah tidak hanya mampu menyesuaikan terhadap perubahan dan tuntutan, tetapi juga ikut menciptakan perubahan, dan mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi.
Akuntabilitas
Sekolah dituntut melakukan pertanggungjawaban terhadap semua pelaksanaan pendidikan (akuntabilitas). Akuntabilitas ini berbentuk laporan prestasi yang dicapai baik kepada pemerintah maupun kepada orang tua peserta didik dan masyarakat. Berdasarkan hasil laporan program ini, pemerintah dapat menilai apakah peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan yang dilakukan oleh kepala sekolah telah mencapai tujuan yang dikehendaki atau tidak.

Manajemen yang Profesional, Fleksibel, Efektif dan Efisien
Manajemen yang professional menekankan pada kompetensi, job description yang jelas, evaluasi, dan dinamisasi. Semua pihak terlibat dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi bersama. Dalam hal ini kepala sekolah sebagai manajer sekolah harus mempunyai visi dan misi jauh kedepan, membaca potensi besar para stafnya, menempatkan mereka secara tepat dan proposional, membimbing dan mengarahkan sesuai perencanaan, memberikan motivasi kepada mereka secara terus menerus, serta melakukan terobosan pemikiran dan gerakan yang cemerlang sekaligus spektakuler.
Kaderisasi dilakukan secara kontinu, bahkan dengan percepatan, mengingat kader – kader muda merupakan sumber vitalitas organisasi. Generasi muda yang diharapkan mampu melakukan perubahan besar dengan kecerdasan intelegensi, keluasan jaringan, dan kecepatan bergerak. Kegagalan dalam melakukan kaderisasi akan berdampak buruk bagi masa depan organisasi. Stagnasi, bahkan “gulung tikar” pun mungkin terjadi.
Oleh sebab itu, kepala sekolah sebagai pemegang kebijakan harus mengedepankan kaderisasi dalam kepemimpinannya. Manajemen diatur untuk membuka ruang gerak yang dinamis dan kompetitif bagi kader – kader muda dalam melakukan aktualisasi. Manajemen mesti dikelola dengan asa aktualisasi, akuntabilitas, dan partisipasi. Dengan itulah kebersamaan, integritas, dan dinamisasi dapat dilakukan secara simultan demi kemajuan sekolah.
Adapun menajemen yang dapat menyesuaikan diri dengan berbagai situasi dan kondisi disebut manajemen yang fleksibel. Manajemen ini tidak kaku, ia dapat berlangsung dalam kondisi dan situasi yang berbeda-beda. Kebijakan-kebijakan pemerintahan baru, tuntutan-tuntutan masyarakat, dan sebagainya tidak akan menghentikan aktivitas manajer ini. Menejemen akan berjalan dterus dengan revisi di sana sini. Hal ini menjamin kelangsungan organisasi. Oleh sebab itu para manajer perlu mengusahakan manajemennya agar bersifat fleksibel.
Bila semua pihak sudah merasa puas akan hasil pekerjaan manajer, berarti manajemen itu sudah efektif dan efisien. Inilah yang harus dituju manajemen/pengelolaan intitusi pendidikan. Reddin menunjukkan perbedaan manajemen yang efektif dan manajemen yang efisien sebagai berikut: 
Perbedaan manajemen yang efektif dengan efisien
Manajemen efektifitas
Manajemen efisien

Membuat yang benar
Mengkreasi alternatif-alternatif
Mengoptimalkan sumber-sumber pendidikan
Memperoleh hasil pendidikan
Meningkatkan keuntungan pendidikan
Mengerjakan dengan benar
Menyelesaikan masalah-masalah
Mengamankan sumber-sumber pendidikan
Mengikuti tugas-tugas pekerjaan
Merendahkan biaya pendidikan

Tabel tersebut bermaksud agar para manajer mengusahakan ada kesejajaran antara efektif dan efisiensi dalam menajemennya. Manajemen yang efektif saja sangat mungkin merupakan suatu pemborosan. Sebaliknya manajemen yang efisiensi saja tidak memenuhi tujuan organisasi.
Pekerjaan yang efektif adalah pekerjaan yang dapat memberikan hasil seperti rencana semula. Sedangkan pekerjaan yang efisien ialah pekerjaan yang menghabiskan biaya sesuai dengan rencana semula atau lebih rendah.
Manajemen yang efektif di dalam tabel diatas dapat dijelaskan sebagai berikut. Membuat yang benar berarti membuat sesuatu sesuai dengan tujuan organisasi, sedangkan mengkreasikan alternatif ialah bermaksud memberikan pertimbangan-pertimbangan yang memadai sebelum bertindak untuk meminimalisir efek negatif yang mungkin akan terjadi. Sementara itu mengoptimalkan sumber-sumber ialah memanfaatkan setiap sumber yang tersedia (yang umumnya belum memadai) untuk mendapatkan hasil yang optimal. Dengan demikian hasil pendidikan diharapkan diperoleh dan bila mungkin lebih baik daripada target atau rencana semula.
Manajemen yang efisien dapat diperoleh dengan cara: Pertama, mengerjakan segala sesuatu dengan benar. Artinya prosedur yang ditempuh, sarana, media, material yang dipakai, dan metode yang diterapkan harus cocok dengan apa yang dikerjakan. Kedua, kalau terjadi permasalahan dalam organisasi hendaklah segera diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Masalah yang tidak terselesaikan dalam waktu lama akan merugikan organisasi. Ini berarti tidak efisien. Ketiga, mengamankan sumber-sumber pendidikan dengan cara mengoordinasi sumber-sumber itu dengan sebaik-baiknya. Keempat, setiap staf ahli diharuskan melaksanakan amanah tugas-tugas pekerjaannya dan tugas-tugas individual haruslah dideskripsikan supaya jelas. Deskripsi tugas-tugas itulah yang harus diikuti oleh setiap pegawai, agar tidak terjadi penyimpangan atau pemborosan. Kelima, setiap manajer diharapkan dapat menekan biaya pendidikan dengan tidak mengorbankan produksi. Melaksanakan metode keterampilan proses, misalnya di suatu sekolah tidak perlu segala peralatan belajar para siswa harus dibeli. Peralatan ini dapat diperoleh dengan bekerja sama secara lebih erat dengan pihak-pihak lainnya, baik dari tokoh masyarakat, orang tua siswa, dan pihak lainnya.






BAB III
PENUTUP

Simpulan 
Profesionalisme dalam pengelolaan institusi pendidikan adalah Suatu pemahaman bahwa di dalam proses pengelolaan institusi pendidikan haruslah dilakukan oleh orang yang profesional. Pengelolaan institusi pendidikan tersebut meliputi proses tata kelola yang dilakukan secara efektif dan efisien terhadap potensi dan sumber daya yang dimiliki oleh lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Dan untuk dapat mewujudkan hal tersebut tentulah diperlukan peranan tenaga ahli yang profesional di bidangnya.
Kriteria pokok mengenai profesionalisme menurut Islam, yaitu (1) Profesi merupakan panggilan hidup, yakni harus dilakukan karena Allah. Jadi, profesi dalam Islam haruslah dijalani karena merasa bahwa itu adalah perintah Allah. (2) Profesi haruslah didasarkan keahlian. Sebab suatu pekerjaan haruslah dikerjakan dengan benar, dan hal tersebut hanya dapat dikerjakan oleh ahlinya.
Adapun cara menerapkan profesionalisme dalam pengelolaan institusi pendidikan dapat ditempuh dengan cara: Pertama, adanya profesionalisme dalam pada tingkat yayasan. Kedua, menerapkan profesionalisme pada tingkat pimpinan sekolah. Ketiga, penerapan profesionalisme pada tingkat tenaga pengajar. Keempat, profesionalisasi tenaga tata usaha sekolah.
Berbagai kendala yang seringkali ditemui dalam menerapkan profesionalisme dalam pengelolaan institusi pendidikan adalah: Kepemimpinan yang lemah; Terbatasnya skill para staf ahli; Adanya konflik internal ataupun eksternal; Kurangnya pengawasan; dan Anggaran yang tidak memadai.
Berbagai tips sukses pengelolaan institusi pendidikan adalah sebagai berikut: Tersedianya Sumber Daya Manusia yang dinamis, kreatif dan akuntabel; Menyediakan perangkat yang lengkap; Mengedepankan transparansi; Aktif melakukan supervisi; Manajemen Profesional; Responsif terhadap perubahan; Menjadikan akreditasi sebagai parameter; Pelaporan yang bertanggung jawab; Melakukan pelatihan intensif; Menyusun arsip dengan baik; dan Mengadakan studi banding.
Setiap kepala sekolah membawa pengaruh besar terhadap kebaikan atau keburukan pengelolaan institusi pendidikan. Untuk dapat menerapkan profesionalisme dalam pengelolaan institusi pendidikan, maka diperlukan peranan kepala sekolah profesional yang mampu memberikan dampak positif dan perubahan yang cukup mendasar dalam pembaruan sistem pendidikan di sekolah.


















DAFTAR PUSTAKA

Afifuddin & Sobry Sutikno. 2008. Pengelolaan Pendidikan “Teori dan Praktek”. Bandung: Prospect
Ahmad Tafsir. 2014. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
E. Mulyasa. 2007. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
E. Mulyasa. 2011. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Jaja Jahari. 2014. Pengelolaan Pendidikan. Bandung: Fajar Media
Jamal Ma’mur Asmani. 2011. Tips Praktis Membangun dan Mengolah Administrasi Sekolah. Yogyakarta: DIVA Press
Made Pidarta. 2011. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta
Syaiful Sagala. 2012. Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta
Internet:
Reski Wahyudi, Konsep Dasar Profesi Keguruan (Pengertian dan Syarat-Syarat), diakses dari: http://udin-reskiwahyudi.blogspot.com/2011/08/konsep-dasar-profesi-keguruan.html?m=1 (12 Desember 2017, pukul 11:10 WIB)

Aplikasi: 
Kutubuttis’ah Lidwa Pustaka

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...