Kata-kata Mutiara Bijak


  


”Siapa yang menghendaki kehidupan dunia, maka harus disertai dengan ilmu. Dan siapa yang menghendaki kehidupan akhirat, juga harus dengan ilmu.“
(Imam Syafi’i)

“Kaji dan dalamilah sebelum engkau menduduki jabatan, karena kalau
engkau telah mendudukinya, maka tidak ada kesempatan bagimu untuk
mengkaji dan mendalaminya.”
(Imam Syafi’i)

”Pekerjaan terberat itu ada tiga: Sikap dermawan di saat dalam keadaan
sempit, Menjauhi dosa di kala sendiri, Berkata benar di hadapan orang
yang ditakuti.“
(Imam Syafi’i)

“Kebaikan itu ada di lima perkara: kekayaan hati, bersabar atas
kejelekan orang lain, mengais rezeki yang halal, taqwa, dan yakin akan
janji Allah Swt.”
(Imam Syafi’i)

”Pilar kepemimpinan itu ada lima : perkataan yang benar, menyimpan
rahasia, menepati janji, senantiasa memberi nasehat dan menunaikan amanah.“
(Imam Syafi’i)

“Orang yang mengkaji ilmu faraid, dan sampai pada puncaknya, maka akan
tampil sebagai sosok orang yang ahli berhitung. Adapun ilmu hadits, itu
akan tampak nilai keberkahan dan kebaikannya pada saat tutup usia.
Adapun ilmu fiqih, itu merupakan ilmu yang berlaku untuk semua kalangan
baik muda maupun yang tua, karena fiqih merupakan dasar dari segala ilmu.”
(Imam Syafi’i)

”Andaikan aku ditakdirkan mampu menyuapkan ilmu kepadamu, pasti kusuapi
engkau dengan ilmu.“
(Imam Syafi’i)

“Barangsiapa mengaku dapat menggabungkan dua cinta dalam hatinya, cinta
kepada dunia dan sekaligus cinta kepada Allah, maka dia telah berdusta.”
(Imam Syafi’i)

“Jika ada seorang yang ingin menjual dunia ini kepadaku dengan nilai
harga sekeping roti, niscaya aku tidak akan membelinya.”
(Imam Syafi’i)

“Kulupakan dadaku dan kubelenggu penyakit tamakku, karena aku sadar
bahwa sifat tamak bisa melahirkan kehinaan.”
(Imam Syafi’i)

“Orang-orang yang sehari-harinya hanya sibuk mencari uang untuk
kesejahteraan keluarganya, maka mustahil ia mendapat ilmu pengetahuan.”
(Imam Syafi’í)

“Jika kamu tidak tahan terhadap penatnya belajar, maka kamu akan
menanggung -bahayanya- kebodohan.”
(Imam Syafi’i)

“Berapa banyak manusia yang masih hidup dalam kelalaian?, sedangkan kain
kafannya sedang di tenun.”
(Imam Syafi’i)

“Orang yang berilmu dan beradab, tidak akan diam di kampung halaman,
tinggalkan negerimu, merantaulah ke negeri orang.”
(Imam Syafi’i)

“Betapa aku senang, jika semua ilmu yang aku ketahui dimengerti oleh
semua orang, maka dengannya aku mendapat pahala, meskipun mereka tidak
memujiku.”
(Imam Syafi’i)

“Jangan mencintai orang yang tidak mencintai Allah. Kalau dia berani
meninggalkan Allah, apalagi meninggalkan kamu.”
(Imam Syafi’i)

“Banyak orang yang mengatakan: mencintai wanita itu sangat menyiksa.
Tapi, sebenarnya yang sangat menyiksa itu adalah mencintai orang yang
tidak mencintaimu.”
(Imam Syafi’i)

“Faqih itu adalah orang yang faqih dengan perbuatannya, bukan faqih
dengan kata-kata dan ucapannya.”
(Imam Syafi’i)

“Engkau takkan mampu menyenangkan semua orang. Karena itu, cukup
bagimu memperbaiki hubunganmu dengan Allah, dan jangan terlalu peduli
dengan penilaian manusia.”
(Imam Syafi’i)

“Sebagaimana Tuhanmu telah mencukupkan rezekimu di hari kemarin, maka
jangan khawatirkan rezekimu untuk esok hari.”
(Imam Syafi’i)

“Jika semua orang menjauh ketika engkau mendapat kesulitan, maka
ketahuilah bahwa Allah Swt ingin membuatmu kuat dan Ia akan menjadi
penolongmu.”
(Imam Syafi’i)

“Biarlah mereka bersikap bodoh dan menghina, dan tetaplah kita bersikap
santun. Gaharu akan semakin wangi ketika disulut api.”
(Imam Syafi’i)

“Silahkan hina diriku sepuas kalian, aku akan tetap diam saja.
Bukannya aku tidak punya jawaban, tapi singa selalu tidak akan membalas
gonggongan anjing.”
(Imam Syafi’i)

“Banyak orang yang telah meninggal, tapi nama baik mereka tetap kekal.
Dan banyak orang yang masih hidup, tapi seakan mereka orang mati yang
tak berguna.”
(Imam Syafi’i)

“Kemuliaan diri (marwah) itu rukunnya ada 4: Akhlak yang baik, dermawan,
rendah hati dan taat beribadah.”
(Imam Syafi’i)

“Do’a di saat tahajud adalah umpama busur panah yang melesat tepat
mengenai sasaran.”
(Imam Syafi’i)

“Kamu seorang manusia yang dijadikan dari tanah dan kamu juga akan
disakiti (dihimpit) dengan tanah.”
(Imam Syafi’i)

“Perbanyakkan menyebut Allah daripada menyebut makhluk . Perbanyakkan
menyebut akhirat daripada menyebut dunia.”
(Imam Syafi’i)

”Ilmu itu bukan yang dihafal tetapi yang memberi manfa’at.“
(Imam Syafi’i)

“Barangsiapa yang menasehatimu dengan cara sembunyi-sembunyi maka ia
benar-benar menasehatimu. Kemudian barangsiapa yang menasehatimu
dihadapan orang banyak, ia sebenarnya menghinamu.”
(Imam Syafi’i)

“Dosa-dosa-ku kelihatan terlalu besar buatku, tapi setelah kubandingkan
dengan keampunan-Mu, ternyata keampunan-Mu jauh lebih besar.”
(Imam Syafi’i)

“Bumi Allah amatlah luas namun suatu saat apabila takdir sudah datang
angkasapun serasa sempit.”
(Imam Syafi’i)

“Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk
matamu.”
(Imam Syafi’i)

“Sebesar-besar aib (keburukan) adalah kamu mengira keburukan orang lain
sedangkan keburukan itu terdapat dalam diri kamu sendiri.”
(Imam Syafi’i)

“Aku mampu berhujah dengan 10 orang berilmu, tapi aku akan kalah pada 1
orang yang jahil karena ia tidak tahu akan landasan ilmu.”
(Imam Syafi’i)

“Ilmu itu seperti air. Jika ia tidak bergerak: maka ia akan menjadi
keruh lalu membusuk.”
(Imam Syafi’i)

“Menghindarkan telinga dari mendengar hal-hal yang tidak baik merupakan
suatu keharusan, sebagaimana seseorang mensucikan tutur katanya dari
ungkapan buruk.”
(Imam Syafi’i)

“Kesabaran adalah akhlak mulia, yang dengannya setiap orang dapat
menghalau segala rintangan.”
(Imam Syafi’i)

“Menganggap benar dengan hanya satu pandangan merupakan suatu bentuk
ketertipuan. Berpegangan dengan suatu pendapat itu lebih selamat
daripada berkelebihan dan penyesalan. Melihat dan berpikir, keduanya
akan menyingkap keteguhan hati dan kecerdasan. Bermusyawarah dengan
orang bijak merupakan bentuk kemantapan jiwa dan kekuatan mata hati.
Maka, berpikirlah sebelum menentukan suatu ketetapan, atur strategi
sebelum menyerang, dan musyawarahkan terlebih dahulu sebelum melangkah
maju ke depan.”
(Imam Syafi’i)

“Barangsiapa mengadu domba untuk kepentinganmu, maka dia akan mengadu
domba dirimu; dan barangsiapa menyampaikan fitnah kepadamu, maka ia akan
memfitnahmu.”
(Imam Syafi’i)

“Barangsiapa jika engkau menyenangkannya, dia berkata : pada dirimu ada
yang bukan milikmu. Begitu juga ketika kau membuatnya marah, dia berkata
: pada dirimu ada yang bukan milikmu.”
(Imam Syafi’i)

“Tak akan sempurna (akal) seorang laki-laki, kecuali dengan empat hal;
beragama, amanah, pemeliharaan dan penjagaan diri, serta ketenangan dan
ketabahan.”
(Imam Syafi’i)

“Sebaik-baik harta simpanan adalah taqwa, dan sejelek-jeleknya adalah
sikap permusuhan.”
(Imam Syafi’i)

“Siasat manusia jauh lebih dahsyat dari siasat binatang.”
(Imam Syafi’i)

“Keluarga manapun yang wanita-wanitanya tidak pernah bertemu dengan
laki-laki yang bukan anggota keluarga, dan laki-lakinya tidak pernah
bertemu dengan wanita-wanita yang bukan dari keluarganya, niscaya akan
ada dari anak-anak mereka yang bodoh (karena-kuper).”
(Imam Syafi’i)

“Keridhaan semua manusia adalah satu hal yang mustahil untuk dicapai,
dan tidak ada jalan untuk terselamatkan dari lidah mereka, maka
lakukanlah apa yang bermanfaat untuk dirimu dan berpegang teguhlah
dengannya.”
(Imam Syafi’i)

“Kedermawanan dan kemuliaan adalah dua hal yang dapat menutupi aib.”

“Manusia yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak
melihat kedudukan dirinya, dan manusia yang paling banyak memiliki
kelebihan adalah mereka yang tidak melihat kelebihan dirinya.”
(Imam Syafi’i)

“Tidak ada seorangpun yang hidup dengan tanpa adanya orang yang
dicintai dan orang yang dibenci, kalau memang demikian realitasnya, maka
hendaknya ia senantiasa bersama orang-orang yang taat kepada Allah Swt.”
(Imam Syafi’i)

“Karakter umum manusia adalah pelit, termasuk hal yang menjadi
kebiasaannya adalah apabila ada orang yang mendekatinya, maka ia akan
menjauhinya, dan apabila ada orang yang menjauh darinya, iapun akan
mendekati orang itu.”
(Imam Syafi’i)

“Janganlah kamu berkonsultasi kepada orang yang di rumahnya tidak
terdapat makanan, karena hal tersebut menandakan tidak berfungsinya akal
mereka.”
(Imam Syafi’i)

“Bukanlah orang yang berakal itu manakala dihadapkan kepadanya perkara
yang baik dan perkara yang buruk, lantas ia memilih yang baik, akan
tetapi dikatakan orang berakal apabila dihadapkan kepadanya dua hal yang
buruk lantas ia memilih yang paling ringan keburukannya di antara
keduanya.”
(Imam Syafi’i)

“Perdebatan dalam agama akan mengeraskan hati dan menimbulkan rasa
dendam.“
(Imam Syafi’i)

“Jika engkau mendengar sesuatu yang engkau benci tentang sahabatmu,
maka jangan tergesa-gesa untuk memusuhinya, memutus tali persahabatan,
dan kamu menjadi orang yang telah menghilangkan suatu keyakinan dengan
keraguan. Tetapi temuilah dia! Dan katakan kepadanya, “Aku mendengar
kamu melakukan ini dan itu….?” Tentunya dengan tanpa memberitahukan
kepadanya siapa yang memberi informasi kepadamu. Jika ia mengingkarinya,
maka katakan kepadanya, “Kamu lebih jujur dan lebih baik”, cukup kalimat
itu saja dan jangan menambahi kalimat apapun. Namun jika ia mengakui hal
itu, dan ia mengemukakan argumentasinya akan hal itu, maka terimalah.”
(Imam Syafi’i)

“Orang yang pandai akan bertanya tentang apa yang ia ketahui dan tidak
ia ketahui. Dengan menanyakan apa yang ia ketahui, maka ia akan semakin
mantap, dan dengan menanyakan apa yang belum ia ketahui, maka ia akan
menjadi tahu. Sementara orang bodoh itu meluapkan kemarahannya karena
-sulitnya- ia belajar, dan ia tidak menyukai pelajaran.”
(Imam Syafi’i)

“Sejelek-jelek bekal menuju ke alam akhirat adalah permusuhan dengan
sesamanya.”
(Imam Syafi’i)

“Terlalu keras dan menutup diri terhadap orang lain akan mendatangkan
musuh, dan terlalu terbuka juga akan mendatangkan kawan yang tidak baik,
maka posisikan dirimu di antara keduanya.”
(Imam Syafi’i)

“Jadikanlah diam sebagai sarana atas pembicaraanmu, dan tentukan sikap
dengan berfikir.”
(Imam Syafi’i)

“Manusia yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak
melihat kedudukan dirinya, dan manusia yang paling banyak memiliki
kelebihan adalah mereka yang tidak melihat kelebihan dirinya.”
(Imam Syafi’i)

“Sesungguhnya Hasad itu terlahir dari suatu kehinaan, lekatnya tabiat,
perubahan struktur tubuhnya, runtuhnya temperatur tubuh dan lemahnya
daya nalarnya.”
(Imam Syafi’i)

“Orang yang paling Zhalim adalah mereka yang melakukan kezhaliman itu
pada dirinya sendiri. Bentuk kezhaliman itu adalah :
• orang yang bersikap tawadhu’ ( rendah hati ) di depan orang yang
tidak menghargainya.
• menumpahkan kasih sayangnya kepada orang yang tidak ada nilai manfaat.
• mendapat pujian dari orang yang tidak dikenalnya.
(Imam Syafi’i)

“Siapa yang menginginkan khusnul khotimah dipenghujung umurnya,
hendaknya ia berprasangka baik kepada manusia.”
(Imam Syafi’i)

“Bersihkan pendengaran kalian dari hal-hal yang tidak baik, sebagaimana
kalian membersihkan mulut kalian dari kata-kata kotor, sesungguhnya
orang yang mendengar itu tidak jauh berbeda dengan yang berucap.
Sesungguhnya orang bodoh itu melihat sesuatu yang paling jelek dalam
dirinya, kemudian ia berkeinginan untuk menumpahkannya dalam diri
kalian, andaikan kalimat yang terlontarkan dari orang bodoh itu
dikembalikan kepadanya, niscaya orang yang mengembalikan itu akan merasa
bahagia, begitu juga dengan kehinaan bagi orang yang melontarkannya.”
(Imam Syafi’i)

“Tidak termasuk saudaramu orang yang senang mencari muka di hadapanmu.”
(Imam Syafi’i)

“Barangsiapa benar dalam berukhuwah dengan saudaranya, maka
kekurangannya akan diterima, kelemahannya akan ditutupi dan
kesalahan-kesalahannya dima’afkan.”
(Imam Syafi’i)

“Orang yang berakal adalah mereka yang dapat menjaga dirinya dari
segala perbuatan tercela.”
(Imam Syafi’i)

“Tiada kebahagiaan yang menyamai persahabatan dengan saudara yang satu
keyakinan, dan tiada kesedihan yang menyamai perpisahan dengan mereka.”
(Imam Syafi’i)

“Berapa banyak orang yang telah berbuat kebajikan kepadamu yang
membuatmu terbelenggu dengannya, dan berapa banyak orang yang
memperlakukanmu dengan kasar dan ia memberi kebebasan kepadamu.”
(Imam Syafi’i)

“Barangsiapa yang ditertawakan karena suatu masalah, maka ia tidak akan
pernah melupakan masalah tersebut.”
(Imam Syafi’i)

“Jika terdapat banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, maka mulailah dari
yang terpenting dan mendesak.”
(Imam Syafi’i)

“Barangsiapa menyimpan rahasianya, maka kebaikan ada di tangannya.”
(Imam Syafi’i)

Tak ubahnya “emas” semuanya berwarna kuning….
namun tidak semua emas punya nilai yang sama….

Kayu-kayu cendana bila tidak semerbak baunya….orang tak dapat
membedakan mana “cendana” dan mana “kayu bakar”.

Bisa jadi Singa yang buas “mati kelaparan” di rimbanya…
sebab daging-daging domba dimakan oleh sang anjing….

Hamba sahaya yang hina, terkadang tidur di atas sutera…sedang bangsawan
mulia tidur di atas gundukan debu…

Kenapa engkau meremehkan nilai doa kepada Allah…
apakah engkau tahu apa yang dihasilkan oleh doa..?.

Ibarat panah di malam hari, ia tidak akan meleset…namun ia punya batas
dan setiap batas ada saatnya selesai..

Banyak orang berbicara tentang hal ihwal wanita,….
konon mencintai wanita terlalu dalam adalah ujian hidup yang pedih….

Aku terlambat datang diantara orang-orang yang dungu…..yang mereka
tidak mengetahui hak-hak sastrawan…sampai kepala ditukarnya dengan ekor….

Manusia dapat disatukan….
namun akalnya tetap berbeda….
baik dalam masalah “sastra” maupun dalam masalah “hitungan”

/“Dunia hanyalah bangkai yang berbau yang dimakan anjing-anjing.
Anjing-anjing itu hanya ingin menarik-narik dan merobeknya.
Apabila engkau menghindarinya maka dirimu akan selamat apabila engkau
ikut menariknya berarti engkau berebutan dengan anjing.”/
/(Imam Syafi’i)/

“Kenyang itu akan membuat badan jadi berat, mengeraskan hati,
menghilangkan kecerdasan, mengajak tidur dan melemahkan ibadah.”
(Imam Syafi’i)

“Sebuah keterlambatan tak akan mengurangi rizkimu. Dan rizkimu pun tak
akan bertambah dengan kepayahan badanmu.”
(Imam Syafi’i)

”Tiada kesusahan yang kekal, tiada kegembiraan yang abadi, tiada
kefakiran yang lama, tiada kemakmuran yang lestari.“
(Imam Syafi’i)

“Apabila sikap hatimu selalu rela dengan apa yang ada maka tak ada
perbedaan bagimu antara dirimu sendiri dan para hartawan.”
(Imam Syafi’i)

”Jika engkau melihat seseorang berjalan di atas air dan bisa terbang di
udara, maka janganlah kehebatan itu menjadikan engkau lengah dan
terheran-heran kepadanya, sampai engkau mengetahui secara persis atas
apa yang di kerjakannya itu berlandaskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.“
(Imam Syafi’i)

“Kepandaian itu ada dalam masalah agama, bukan dalam masalah keturunan,
kalau saja kepandaian diukur dalam masalah keturunan, maka tak ada satu
orang pun yang cakap seperti Fatimah putri Rasulullah Saw dan
putri-putri beliau yang lain.”
(Imam Syafi’i)

“Barangsiapa mempelajari Al-Qur’an, maka mulia nilainya. Barangsiapa
berbicara tentang fiqih, maka akan berkembang kemampuannya. Barangsiapa
menulis Hadits, maka akan kuat hujjahnya. Barangsiapa mengkaji bahasa,
maka akan lembut tabiatnya. Barangsiapa mengkaji ilmu hitung, maka akan
sehat pikirannya. Barangsiapa tidak menjaga jiwanya, maka ilmunya tidak
akan berguna baginya.”
(Imam Syafi’i)

“Barangsiapa yang dipancing untuk marah, namun ia tidak marah, maka dia
tak ubahnya keledai, dan barangsiapa yang diminta keridhaannya namun
tidak ridha, maka dia adalah syetan.”
(Imam Syafi’i)

“Besarnya rasa takut itu sesuai dengan kapasitas ilmunya. Tiada seorang
alim pun yang ia takuti kecuali kepada Allah Swt. Yang merasa aman akan
marah Allah Swt, dialah si-jahil. Yang merasa takut akan marah Allah
Swt, dialah si-arif.”
(Imam Syafi’i)


<[Riwayat Hidup Imam Syafi’i
<https://id.m.wikipedia.org/wiki/ImamAsy-Syafi%27i>]>

image
<https://karangsemi.files.wordpress.com/2016/11/img20161107001614-picsay.jpg>

image
<https://karangsemi.files.wordpress.com/2016/11/picsay-1478966751504.jpg>

“Kita tidak akan sanggup mengekang amarah dan hawa nafsu secara
keseluruhan hingga tidak meninggalkan bekas apapun dalam diri kita.
Namun jika mencoba untuk mengendalikan keduanya dengan cara latihan dan
kesungguhan yang kuat, tentu kita akan bisa.”
(Imam Al Ghazali)

“Sifat utama pemimpin ialah beradab dan mulia hati.”
(Imam Al Ghazali)

“Belum pernah saya berurusan dengan sesuatu yang lebih sulit daripada
jiwa saya sendiri, yang kadang-kadang membantu saya dan kadang-kadang
menentang saya.”
(Imam Al Ghazali)

“Barangsiapa yang memilih harta dan anak-anaknya daripada apa yang ada
di sisi Allah, niscaya ia rugi dan tertipu dengan kerugian yang amat
besar.”
(Imam Al Ghazali)

“Barangsiapa yang menghabiskan waktu berjam-jam lamanya untuk
mengumpulkan harta karena takut miskin, maka dialah sebenarnya orang
yang miskin.”
(Imam Al Ghazali)

“Teman yang sesungguhnya itu adalah ketika kamu memintanya untuk
mengikuti kamu, dia tidak bertanya kemana atau dimana, namun segera
beranjak dan pergi.”
(Imam Al Ghazali)

“Barangsiapa yang meyombongkan diri kepada salah seorang daripada
hamba-hamba Allah, sesungguhnya ia telah bertengkar dengan Allah pada
haknya.”
(Imam Al Ghazali)

“Berani (karena baik dan benar) adalah sifat orang mulia karena ia
berada di antara orang-orang pengecut dan membuta tuli.”
(Imam Al Ghazali)

“Kebahagiaan terletak pada kemenangan memerangi hawa nafsu dan menahan
kehendak yang berlebih-lebihan.”
(Imam Al Ghazali)

“Kalau besar yang dituntut dan mulia yang dicari, maka payah melaluinya,
panjang jalannya dan banyak rintangannya.”
(Imam Al Ghazali)

“Jadikan kematian itu hanya pada badan karena tempat tinggalmu ialah
liang kubur dan penghuni kubur senantiasa menanti kedatanganmu setiap saat.”
(Imam Al Ghazali)

“Pelajari ilmu syariat untuk menunaikan segala perintah Allah SWT dan
juga ilmu akhirat yang dapat menjamin keselamatanmu di akhirat nanti.”
(Imam Al Ghazali)

“Menuntut ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah.
Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad.”
(Imam Al Ghazali)

“Kecintaan kepada Allah melingkupi hati, kecintaan ini membimbing hati
dan bahkan merambah ke segala hal.”
(Imam Al Ghazali)

“Ibadah dan pengetahuan sambil memakan makanan haram adalah seperti
konstruksi pada kotoran.”
(Imam Al Ghazali)

“Pemurah (dermawan) itu adalah suatu kemuliaan karena ia berada di
antara orang-orang bakhil (rakus-pelit) dan boros.”
(Imam Al Ghazali)

“Bersungguh-sungguhlah engkau dalam menuntut ilmu, jauhilah kemalasan
dan kebosanan karena jika tidak demikian engkau akan berada dalam bahaya
kesesatan.”
(Imam Al Ghazali)

“Cinta merupakan sumber kebahagiaan dan cinta terhadap Allah harus
dipelihara dan dipupuk, suburkan dengan sholat serta ibadah yang lainnya.”
(Imam Al Ghazali)

“Ciri yang membedakan manusia dan hewan adalah ilmu. Manusia adalah
makhluk mulia yang mana ia menjadi mulia karena ilmu, tanpa ilmu
mustahil ada kekuatan.”
(Imam Al Ghazali)

“Sebisa-bisanyalah jangan bertengkar dengan seseorang dalam keadaan
apapun juga masalahnya, karena pertengkaran itu mengandung berbagai
penyakit dan dosanya jauh lebih besar daripada faedahnya, riak, takabur,
hasad dan dengki.”
(Imam Al Ghazali)

“Hadapi kawan atau musuhmu itu dengan wajah yang menunjukkan
kegembiraan, kerelaan, penuh kesopanan dan ketenangan. Jangan
menampakkan sikap angkuh dan sombong.”
(Imam Al Ghazali)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAFALAN QUR'AN HILANG KARENA MAKSIAT

PERTANYAAN DI PADANG MAHSYAR

EMPAT UNSUR TAWAKKAL