BIOTEKNOLOGI MENURUT ISLAM

BIOTEKNOLOGI
 MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Ilmu Alamiah Dasar

Dosen Pengampu: Ibu Suci Maryam Azmi L,S.Si., M.Pd










Disusun oleh :

Iis Aisyah Yusuf (NIM 1152020092) 
Junaidi Abdullah Bahan (NIM 1152020105)
Kristin Wiranata (NIM 1152020108)
M. Zamzam (NIM 1152020124)





















JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2015/2016


KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang masih memberikan nafas kehidupan, sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini dengan judul “Bioteknologi”.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar. Dalam makalah ini membahas tentang pengertian bioteknologi, macam-macam bioteknologi, contoh bioteknologi, dampak bioteknologi dan bioteknologi dalam pandangan islam. Akhirnya kami sampaikan terima kasih atas perhatian Ibu Suci Maryam Azmi L, S.Si., M.Pd. terhadap makalah ini, dan kami sebagai penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi diri kami khususnya dan pembaca pada umumnya. Tak ada gading yang tak retak, begitulah adanya makalah ini.
Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang konstruktif sangat kami harapkan dari para pembaca guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.



Bandung, 26 Nopember 2015
        
Penyusun


DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 1
Tujuan Makalah 1
Manfaat Makalah 2
BAB II
Sejarah dan Pengertian Bioteknologi 3
Jenis-jenis Bioteknologi 3
Penerapan Bioteknologi pada Beberapa Bidang 7
Pandangan Islam mengenai bioteknologi 15
Dampak Bioteknologi 21
BAB III
Kesimpulan 23
Penutup 23
Daftar Pustaka iii






BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hobbelink (1988) menyatakan bahwa bioteknologi sebagai suatu teknologi sebenarnya bukanlah hal baru.Bioteknologi secara sederhana sudah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Sebagai contoh, di bidang teknologi pangan adalah pembuatan bir, roti, maupun keju yang sudah dikenal sejak abad ke-19. Prinsip dasar upaya pembuatan makanan tersebut pada umumnya sama, yaitu sejumlah bahan dasar didedahkan (exposure) ke jasad renik tertentu yang akan mentransformasikan bahan dasar (anggur, barley, susu atau gandum) menjadi produk yang diinginkan.
Pada masa ini, bioteknologi berkembang sangat pesat, terutama dinegara-negara maju. Kemajuan ditendai dengan ditemukannya berbagai macam teknologi, misalnya teknologi yang berkaitan dengan rekayasa genetika, kultur jaringan, rekombinan DNA, pengembang biakan sel induk dan kloning.
Agar kita dapat memanfaatkan, mengeksplor dan melestarikan kekayaan Sumber Daya Alam di Indonesia ini kita perlu belajar bioteknologi.Sebagai rangka memenuhi kebutuhan dan kepuasan manusia dan supaya tidak tertinggal oleh pesatnya perkembangan IPTEK di dunia ini.Untuk itulah makalah ini dibuat adanya.

Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, masalah-masalah yang ingin kami jelaskan dan sampaikan adalah:
Apa yang dimaksud dengan bioteknologi?
Bagaimana sejarah Bioteknologi?
Apa saja penerapan bioteknologi pada beberapa bidang?
Bagaimana pandangan Islam terhadap bioteknologi?
Dampak apa saja yang ditimbulkan dari penerapan bioteknologi ?


Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
Mengetahui apa itu bioteknologi.
Mengetahui sejarah bioteknologi.
Mengetahui penerapan bioteknologi dalam berbagai bidang.
Mengetahui pandangan islam terhadap bioteknologi.
Mengetahui dampak dari penerapan bioteknologi.

Manfaat Makalah
Manfaat yang diperoleh dari pembuatan makalah ini adalah antara lain untuk memenuhi rasa keingintahuan tentang bioteknologi yang kelak akan dijadikan acuan dalam bereksperimen.



















BAB II
PEMBAHASAN

Sejarah dan Pengertian Bioteknologi 
Dalam bukunya yang terkenal The Third Wave (Gelombang Ketiga) Alvin Toffler mengatakan bahwa menjelang akhir abad XX dan memasuki abad XXI umat manusia akan menghadapi suatu revolusi baru dibidang teknologi, yaitu revolusi informasi dan telekomunikasi. Revolusi ini merupakan revolusi ketiga setelah revolusi hijau dan revolusi industri.Revolusi ketiga ditandai dengan perubahan teknologi, terutama di bidang mikroelektronika, teknologi energy alternative, aeronautika (kedirgantaraan), dan bioteknologi.
Bioteknologi sebenarnya bukan suatu hal yang baru karena jauh sebelum perkembangan paradaban Barat telah dipraktikan oleh masyarakat Babilonia (di wilayah Irak sekarang) atau Mesir Kuno (6000 tahun SM), bahkan pada tahun 500 SM di Mesopotamia ditemukan catatan pada tanah liat, tentang pembuatan minuman anggur dan bir sebagai pekerjaan tetap sejak ribuan tahun.
Adapun pengertiannya, secara bahasa bioteknologi berasal dari dua kata, yaitu “bio” yang berarti makhuk hidup dan “teknologi” yang berarti cara untuk memproduksi barang atau jasa. Dari paduan dua kata tersebut European Federation of Biotechnology (1989) mendefinisikan bioteknologi sebagai perpaduan dari ilmu pengetahuan alam dan ilmu rekayasa yang bertujuan meningkatkan aplikasi organisme hidup, sel, bagian dari organisme hidup, dan analog molekuler untuk menghasilkan produk dan jasa.
Bioteknologi merupakan teknologi yang memanfaatkan organisme atau bagian-bagiannya untuk mendapatkan barang dan jasa. Dalam perkembangan lebih lanjut, bioteknologi didefinisikan sebagai pemanfaatan prinsip-prinsip dan rekayasa terhadap organisme, sistem atau proses biologis untuk menghasilkan atau meningkatkan potensi organisme maupun menghasilkan produk dan jasa bagi kepentingan hidup manusia.

Jenis-jenis Bioteknologi
Bioteknologi konvensional
Bioteknologi konvensional merupakan bioteknologi sederhana yang menerapkan ilmu biologi, biokimia.Rekayasa yang terjadi masih dalam tingkat yang terbatas.Bioteknologi konvensional menggunakan jasad hidup secara utuh. Proses biokimia dan proses genetik terjadi secara alami. Manipulasi yang dilakukan dalam bioteknologi ini hanya sebatas manipulasi pada lingkungan dan media tumbuh serta tidak sampai pada tahap rekayasa genetika.Seandainya ada, rekayasa yang berlangsung bersifat sederhana dan perubahan yang terjadi tidak tepat sasaran.Bioteknologi konvensional tidak dipakai untuk pembuatan produk secara mahal dan menggunakan biaya yang relatif rendah, selain itu ilmu yang digunakan pun biasanya diwariskan secara turun-temurun.
No.
Bahan Pangan
Mikroorganisme
Golongan
Produk

1
Susu


Lactobacillus bulgaricus
Streptococcus termophillus
Streptococcus lactis
Panicillium requiforti
Propioni bacterium
Lactobacillus casei
Bakteri
Bakteri
Bakteri
Jamur
Bakteri
Bakteri
Yoghurt
Yoghurt
Mentega
Keju
Keju Swiss
Susu asam

2
Kedelai
Rhizopus oligosporus
Rhizopus stoloniferus
Rhizopus oryzae
Aspergillus oryzae
Jamur
Jamur
Jamur
Jamur
Tempe
Tempe
Tempe
Kecap

3
Kacang tanah
Neurospora sitophyla
Jamur
Oncom

4
Beras
Saccharomyces cereviseae
Endomycopsis fibulegera
Jamur
Jamur
Tape Ketan

5
Singkong
Saccharomyces elipsoides
Endomycopsis fibulegera
Jamur
Jamur
Tape singkong

6
Air kelapa
Acetobacter xylinum
Bakteri
Nata de coco

7
Tepung gandum
Saccharomyces elipsoides
Jamur
Roti

8
Kubis
Enterobacter sp.
Bakteri
Asinan

9
Padi-padian atau umbi-umbian
Saccharomyces cereviseae
Saccharomyces caelsbergensis
Jamur
Minuman beralkohol

10
Mikroorganisme
Spirulina
Chlorella
Alga bersel satu
Protein sel tunggal


Bioteknologi Modern
Bioteknologi modern telah menggunakan teknik rekayasa tingkat tinggi dan terarah sehingga hasilnya dapat dikendalikan dengan baik.Teknik yang sering digunakan adalah dengan melakukan manipulasi genetik pada suatu jasad hidup secara terarah sehingga diperoleh hasil sesuai dengan yang diinginkan.
Teknik yang digunakan dalam bioteknologi modern adalah teknik manipulasi bahan genetik (DNA) secara in vitro, yaitu proses biologi yang berlangsung di luar sel atau organisme, misalnya dalam tabung percobaan. Oleh karena itu, bioteknologi modern juga dikenal dengan rekayasa genetika, yaitu proses yang ditujukan untuk menghasilkan organisme transgenik. Organisme transgenik adalah organisme yang urutan informasi genetik dalam kromosomnya telah diubah sehingga mempunyai sifat menguntungkan yang dikehendaki.   
Berbeda dengan bioteknologi konvensional,bioteknologi modern sudah memanfaatkan metode-metode mutakhir, yaitu :
Kultur Jaringan Tumbuhan
Kultur jaringan tumbuhan merupakan teknik menumbuhkembangakan bagian tanaman, baik berupa sel, jaringan, atau organ dalam kondisi aseptik secara in vitro.Kultur jaringan dapat dilakukan karena adanya sifat totipotensi, yaitu kemampuan setiap sel tanaman untuk tumbuh menjadi individu baru bila berada dalam lingkungan yang sesuai.Teori ini pertama kali dikemukakan oleh G. Haberlandt (ahli fisiologi Jerman pada tahun 1898). Teori kemudian diuji ulang oleh F.C. Steward pada tahun 1969 dengan menggunakan satu sel emplur wortel. Dalam percobaannya, Steward dapat menumbuhkan satu sel empulur tersebut menjadi satu individu wortel.
Dalam kultur jaringan, tanaman yang akan dikulturkan sebaiknya berupa jaringan muda yang sedang tumbuh, misalnya akar, daun muda, dan tunas. Bagian tumbuhan yang akan dikultur disebut sebagai eksplan.
Rekayasa Genetika
Rekayasa genetika adalah suatu proses perubahan gen-gen dalam tubuh makhluk hidup.Ini bisa di capai dengan mengawinkan (plicing) beberapa DNA dari sumber-sumber yang sama sekali berbeda, untuk kemudian membentuk molekul hybrid (baskar). Proses demikian kemudian dikenal dengan istilah rekayasa genetika (genetic engeenering). 
Dengan teknik rekayasa genetika melalui pembangunan gen (gene splicing) atau rekombinan DNA.Industri bioteknologi telah memproduksi dan memasarkan hormon insulin manusia (1982), hormon pertumbuhan manusia (HDH, 1985), interferon alfa (1985), dan vaksin rekombivac HB untuk mencegah inveksi hepatitis B. Keempat produk tersebut di butuhkan masyarakat luas.Sebagai contoh adalah bahwa virus hepatitis B dapat menyebabkan radang hati kronis, yang tidak bisa disembuhkan dan sebangian berakibat fatal dengan timbulnya kanker hati.
Melalui proses rekayasa genetika telah pula dihasilkan produk-produk di bidang pertanian/peternakan, seperti vaksin untuk penyakit virus pada penyakit ternak babi dengan vaksin omnivac – PRN. Vaksin ini mampu mencegah timbulnya pseudorabies setiap tahunnya menyerang tidak kurang dari 10% jumlah ternak babi (yang berjumlah sekitar 54 juta ekor) dan menimbulkan kerugian sampai 60 juta dolar setahun. Vaksin ini mengandung virus pseudorabies yang tidak hanya sekedar dilemahkan, tetapi diubah DNA nya (komponen kimiawi pembawa sifat dalam selnya), antara lain dengan menghilangkan bagian yang mampu membuat enzim untuk melipat gandakan diri. Seperti diketahui, vaksin ini bersipat seperti vaksin-vaksin lainnya: akan mendorong terbentuknya zat antibodi (pelindung tubuh), sehingga hewan mampu melindungi dirinya sendiri. Dengan teknik ini, juga telah dihasilkan bibit-bibit unggul ternak, seperti ayam broiler yang dalam tempo dua bulan bisa mencapai berat 2 kilogram, ayam petelur yang mampu bertelur 280 butir per tahun produksi, dan lain-lain. 
Berbagai teknik rekayasa genetika berkembang dimungkinkan karena ditemukannya :
Enzim restriksi endonuklease yang dapat memotong benang DNA.
Enzim ligase yang dapat menyambung kembali benang DNA.
Plasmid yang dapat digunakan sbagai wahana memindahkan potongan benang DNA tertentu ke dalam sel mikroorganisme.
Teknik rekayasa genetika  dapat dilakukan melalui :
Rekombinasi DNA
Rekombinasi DNA adalah proses penyambung dua DNA dari organisme yang berbeda. Hasil penggabungan DNA dari individu yang tidak sama ini disebut dengan DNA rekombinan. Gen dari satu individu yang disisipi atau digabungkan pada gen individu yang lain disebut transgen, individunya disebut transgenik. Rekombinasi DNA dapat terjadi secara alami dan buatan.Contoh rekombinasi DNA pada bakteri adalah pada pembuatan insulin oleh bakteri E. coli.
Teknik Hibridoma/Fusi Sel
Teknik hibridoma adalah penggabungan dua sel dari organisme berbeda ataupun sama (fusi sel) sehingga menghasilkan sel tunggal berupa sel hybrid (hibridoma) yang memiliki kombinasi sifat dari kedua sel tersebut. Proses penggabungan sel menggunakan tenaga listrik, sehingga prosesnya disebut elektrofusi. Teknik hibridoma dapat dimanfaatkan untuk pembuatan produk penting, misalnya antibodi monoklonal, pembentukan spesies baru, dan pemetaan kromosom.
Kloning
Kloning berasal dari bahasa inggris clonning yang berarti suatu usaha untuk menciptakan duplikat suatu organisme melalui proses aseksual. Tujuan utama kloning adalah untuk mengisolasi gen yang diinginkan dari seluruh gen yang ada (kromosom) pada organisme donor. Untuk mencapai tujuan tersebut, kloning dapat dilakukan dengan kloning embrio dan transfer inti.Kloning embrio dilakukan dengan fertilisasi in vitro, misalnya kloning pada sapi yang secara genetik identik untuk memproduksi hewan ternak.
Sedangkan kloning dengan transfer inti yaitu pemindahan inti sel yang satu ke sel lain sehingga diperoleh individu baru yang memiliki sifat baru sesuai inti yang diterimanya. Kloning dengan transfer inti dilakukan dengan menggunakan sel somatis sebagai sumber gen. Contoh kloning dengan transfer inti adalah domba Dolly.
Penerapan Bioteknologi pada Beberapa Bidang
Penerapan Bioteknologi dalam Bidang Medis dan Kesehatan
Penerapan ini disebut sebagai bioteknologi merah, diawali dengan tahap analisa atau diagnosa suatu penyakit dan pengobatan sebuah penyakit. Beberapa contoh bioteknologi di bidang medis dan kesahatan misalnya penggunaan mikroorganisme pada antibiotik atau vaksin, penggunaan mikroorganisme pada hormon pada penyakit diabetes mellitus, bayi tabung, Antibodi Monoklonal, penggunaan sel induk untuk pengibatan penyakit sroke, dan terapi gen untuk penyembuhan penyakit genetis.
Pembuatan antibodi monoclonal
Antibodi monoklonal adalah antibodi yang diperoleh dari suatu sumber tunggal. Manfaat antibodi monoklonal, antara lain:
untuk mendeteksi kandungan hormon korionik gonadotropin dalam urine wanita hamil
mengikat racun dan menonaktifkannya
mencegah penolakan tubuh terhadap hasil transplantasi jaringan lain.
Pembuatan vaksin
Vaksin digunakan untuk mencegah serangan penyakit terhadap tubuh yang berasal dari mikroorganisme. Vaksin didapat dari virus dan bakteri yang telah dilemahkan atau racun yang diambil dari mikroorganisme tersebut.
Pembuatan antibiotika
Antibiotika adalah suatu zat yang dihasilkan oleh organisme tertentu dan berfungsi untuk menghambat pertumbuhan organisme lain yang ada di sekitarnya. Antibiotika dapat diperoleh dari jamur atau bakteri yang diproses dengan cara tertentu. Zat antibiotika telah mulai diproduksi secara besar-besaran pada Perang Dunia II oleh para ahli dari Amerika Serikat dan Inggris.
Pembuatan hormon
Dengan rekayasa DNA, dewasa ini telah digunakan mikroorganisme untuk memproduksi hormon.Hormon-hormon yang telah diproduksi, misalnya insulin, hormon pertumbuhan, kortison, dan testosteron.
Tabel beberapa protein manusia yang telah disintesis dari gena yang diklon pada bakteri, sel eukariot, dan dengan pharming
Biofarmasetik
Indikasi
Tahun dikenalkan

Hormon

Insulin Follitropin
Diabetes melitus
1982

Alfa dan Beta Chariogonado
Kegagalan ovulasi
1982

Tropin alfa
Fertilitas
2000

Teriparatida
Osteoporosis
2002

Enzim

Alteplase
Infrak miokardinal akut
1987

Ebtifibatid
Sindrom koroner akut
1998

Rasburicase
Hiperurikemia
2002

Laronidase
Mukopolisakharoi dasis I
2003

Faktor pertumbuhan

Epoetin alfa
Anemia karena ginjal
1989

Filgrastin
Neurotropenia
1991

Darbepoentinj alfa
Kanker
2002

Antibodi

Muromonab-CD3
Penolakan transplantasi ginjal
1986

Trastuzumad
Kanker payudara
1998

Bevacizumab
Kanker rektal
2004

Interferon-interleukin
Interferon alfa

2a dan 2b
Leukemia
1986

IL-2
Carcinoma renal metastase
1992

IL-11
Trobositopenia
1997

PEG-Interferon 2b
Hepatitis C
2001


Penerapan Bioteknologi dalam Bidang Pertanian dan Peternakan
Bioteknologi ini disebut bioteknologi hijau, dilakukan dengan memodifikasi genetik dan rekayasa genetika untuk memperoleh varietas unggul, produksi tinggi, kandungan gizi tinggi, tahan hama, patogen, dan herbisida. Hal ini memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan ilmu pemuliaan tanaman (plant breeding) dan kehidupan manusia bahkan berdampak pada kemajuan ekonomi manusia itu sendiri.
Bioteknologi bidang pertanian
Dewasa ini perkembangan industri maju dengan pesat.Akibatnya, banyak lahan pertanian yang tergeser, lebih-lebih di daerah sekitar perkotaan. Di sisi lain kebutuhan akan hasil pertanian harus ditingkatkan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Untuk mendukung hal tersebut, dewasa ini telah dikembangkan bioteknologi di bidang pertanian.Beberapa penerapan bioteknologi pertanian sebagai berikut:
Pembuatan tumbuhan yang mampu mengikat nitrogen 
  Nitrogen () merupakan unsur esensial dari protein DNA dan RNA.Pada tumbuhan polong-polongan sering ditemukan nodul pada akarnya.Di dalam nodul tersebut terdapat bakteri Rhizobium yang dapat mengikat nitrogen bebas dari udara, sehingga tumbuhan polong-polongan dapat mencukupi kebutuhan nitrogennya sendiri.Dengan bioteknologi, para peneliti mencoba mengembangkan agar bakteri Rhizobium dapat hidup di dalam akar selain tumbuhan polong-polongan.Di samping, itu juga berupaya meningkatkan kemampuan bakteri dalam mengikat nitrogen dengan teknik rekombinasi gen.
  Kedua upaya di atas dilakukan untuk mengurangi atau meniadakan penggunaan pupuk nitrogen yang dewasa ini banyak digunakan di lahan pertanian dan menimbulkan efek samping yang merugikan.
Pembuatan tumbuhan tahan hama
Tanaman yang tahan hama dapat dibuat melalui rekayasa genetika dengan rekombinasi gen dan kultur sel. Contohnya, untuk mendapatkan tanaman kentang yang kebal penyakit maka diperlukan gen yang menentukan sifat kebal penyakit. Gen tersebut, kemudian disisipkan pada sel tanaman kentang. Sel tanaman kentang tersebut, kemudian ditumbuhkan menjadi tanaman kentang yang tahan penyakit.Selanjutnya tanaman kentang tersebut dapat diperbanyak dan disebarluaskan.
Bioteknologi bidang peternakan
Dengan bioteknologi dapat dikembangkan produk-produk peternakan.Produk tersebut, misalnya berupa hormon pertumbuhan yang dapat merangsang pertumbuhan hewan ternak.Dengan rekayasa genetika dapat diciptakan hormon pertumbuhan hewan buatan atau BST (Bovin Somatotropin Hormon). Hormon tersebut direkayasa dari bakteri yang, jika diinfeksikan pada hewan dapat mendorong pertumbuhan dan menaikkan produksi susu sampai 20%. 
Penerapan Bioteknologi dalam bidang sumber energi
Bioteknologi ini disebut dengan bioteknologi abu-abu, digunakan untuk meningkatkan kualitas produk dan pengelolaan sumber energi. Sebagai contoh adalah proses degradasi minyak maupun logam berat di dalam air limbah dengan bantuan mikroorganisme, sehingga limbah menjadi aman jika dibuang ke lautan bebas, atau pencairan sumber minyak atau mineral dengan bantuan mikroba. Alternatif bahan bakar masa depan untuk menggantikan minyak, antara lain adalah biogas dan gasohol. Biogas dibuat dalam fase anaerob dalam fermentasi limbah kotoran makhluk hidup. Pada fase anaerob akan dihasilkan gas metana yang dibakar dan digunakan untuk bahan bakar.
Di negara Cina, dan India terdapat beberapa kelompok masyarakat yang hidup di desa yang telah menerapkan teknologi fermenter gasbio untuk menghasilkan metana. Bahan baku teknologi fermenter tersebut adalah feses hewan, daun-daunan, kertas, dan lain-lain yang akan diuraikan oleh bakteri dalam fermenter. Sedangkan teknologi gasohol telah dikembangkan oleh negara Brazil sejak harga minyak meningkat sekitar tahun 1970. Gasohol dihasilkan dari fermentasi kapang terhadap gula tebu yang melimpah. Gasohol bersifat murah, dapat diperbarui dan tidak menimbulkan polusi.
Penerapan Bioteknologi dalam bidang pangan
Beberapa contoh Bioteknologi tradisional di bidang pangan misalnya, tempe dibuat dari kedelai menggunakan jamur Rhizopus, tape dibuat dari ketela pohon atau pisang dengan menggunakan Khamir Saccharomyces cereviceae, keju dan yoghurt dibuat dari susu sapi dengan menggunakan bakteri Lactobacillus.
Aplikasi Bioteknologi pada Yoghurt
Yoghurt merupakan minuman hasil fermentasi susu menggunakan bakteri Lactobacillus substilis atau Lactobacillus bulgaricus. Bakteri yang di manfaatkan mampu mendegradasi protein dalam susu menjadi asam laktat. Proses degradasi ini disebut fermentasi asam laktat dan hasil akhirnya dinamakan yoghurt.
Aplikasi Bioteknologi pada Keju
Keju merupakan contoh produk bioteknologi yang cukup terkenal. Keju dibuat dengan bantuan bakteri pada susu. Bakteri tersebut dikenal sebagai bakteri asam laktat atau Lactobacillus. Bakteri Lactobacillus mengubah laktosa menjadi asam laktat dan menyebabkan susu menggumpal. Pada pembuatan keju, kondisi pH harus rendah. Kondisi pH yang rendah membuat susu mengental. Akibatnya protein pada susu berubah menjadi semi solid yang disebut curd. Proses ini dibantu dengan menambahkan enzim renin. Enzim renin dapat diekstrak dari perut anak sapi.Namun, saat ini enzim renin dapat diproduksi dalam skala besar dengan menggunakan teknik rekayasa genetika.
Setelah susu berubah menjadi curd, garam ditambahkan. Garam ini selain untuk menambahkan rasa, berfungsi juga sebagai bahan pengawet. Bakteri kemudian ditambahkan sesuai dengan tipe keju yang akan dibuat. Bakteri yang ditambahkan ini disebut bakteri pematang.Bakteri pematang berguna memecah protein dan lemak yang terdapat dalam keju. Beberapa jenis keju mempunyai karakteristik tertentu dengan ditambahkan mikroba lain, seperti jamur. Contohnya terdapat pada keju biru, yang mempunyai karakteristik berwarna biru karena ditambahkan jamur pada curd kejunya.Untuk mempercepat produksi keju, dapat ditambahkan enzim bakteri selain bakteri pematang itu sendiri.
Aplikasi Bioteknologi pada Tempe
Tempe adalah makanan khas Indonesia.Tempe merupakan makanan yang terkenal di Asia Tenggara dan juga merupakan salah satu contoh produk hasil bioteknologi.Tempe terbuat dari kacang kedelai. Karena terbuat dari kacang kedelai yang merupakan sumber protein tinggi, tempe juga merupakan makanan yang mempunyai nilai gizi tinggi.
Tempe dibuat dari kacang kedelai dengan dibantu oleh aktivitas jamur Rhizopus oryzae. Proses pembuatan tempe cukup sederhana dan mudah dilakukan. Kacang kedelai dicuci bersih, lalu direbus hingga setengah matang. Kemudian, kacang kedelai setengah matang direndam dalam air selama kurang lebih 12 jam (semalaman). Dengan direndamnya kacang kedelai, dapat menciptakan kondisi asam sehingga mikroba yang biasanya membusukkan makanan dapat dicegah.Setelah direndam, kacang kedelai kembali dicuci bersih dan direbus kembali hingga matang.
Kacang kedelai yang telah matang tersebut lalu didinginkan dan setelah dingin ditambahkan ragi tempe. Ragi tempe adalah jamur Rhizopus oryzae. Kacang kedelai yang telah dicampur dengan ragi tempe, lalu dibungkus oleh daun pisang atau plastik yang dilubangi. Setelah dibungkus, lalu diperam (difermentasi) selama satu malam. Akhirnya diperoleh tempe sebagai produk bioteknologi.
Aplikasi Bioteknologi pada Tahu
Tahu juga merupakan salah satu contoh produk bioteknologi.Tahu, seperti juga tempe, terbuat dari kacang kedelai. Tahu dibuat dengan cara mencuci kacang kedelai hingga bersih dan merendamnya selama satu malam. Setelah lunak, kacang kedelai digiling menjadi seperti bubur, lalu dididihkan. Setelah dididihkan, bubur kedelai disaring dan ditambahkan kultur bakteri yang dapat menciptakan kondisi asam. Beberapa jenis bakteri yang sering digunakan dalam pembuatan tahu ini adalah bakteri asam laktat. Bubur tahu yang telah ditambahkan bakteri asam laktat ini lalu dicetak, dibumbui, dan diberi garam agar tahan lama.
Aplikasi Bioteknologi Modern pada Makanan
Penerapan bioteknologi pada makanan secara modern, diawali pada 1992. Saat itu sebuah perusahaan Amerika, Calgene, mendapatkan izin untuk memasarkan OHMG yang disebut Flavrsavr. OHMG ini adalah tomat yang dibuat lebih tahan hama dan tidak dapat membusuk. Secara umum, penerapan bioteknologi modern pada makanan tidak dapat dipisahkan dengan bioteknologi modern pada bidang pertanian.Produk-produk makanan yang dihasilkan dari OHMG, seperti tanaman pertanian, hewan, atau mikroorganisme, disebut makanan hasil modifikasi genetik.
OHMG lebih banyak dilakukan pada tanaman pertanian.Contohnya, jagung tahan lama, kedelai tahan herbisida, kentang tahan virus, padi dengan zat dan vitamin yang ditingkatkan (golden rice), gandum dengan protein yang tinggi bagi ternak, dan banyak hasil pertanian lainnya.Perkembangan selanjutnya dari penerapan bioteknologi modern semakin beraneka ragam.Sekarang, para ilmuwan dapat membuat makanan yang mengandung obat, pisang yang menghasilkan vaksin hepatitis B, ikan yang lebih cepat dewasa, dan tanaman buah yang berbuah lebih cepat.

Penerapan Bioteknologi dalam bidang pengolahan limbah (Biromediasi)
Kaleng, kertas bekas, dan sisa makanan, sisa aktivitas pertanian atau industri merupakan bahan yang biasanya sudah tak dikehendaki oleh manusia.Bahan-bahan tersebut dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar. Kelebihan bahan bakar hasil proses ini adalah rendahnya kandungan sulfur, sehingga cukup mengurangi tingkat pencemaran. Bahan hasil perombakan zat-zat makroorganik (dari hewan, tumbuhan, manusia ataupun gabungannya) secara biologiskimiawi dengan bantuan mikroorganisme (misalnya bakteri, jamur) serta oleh hewan-hewan kecil disebut kompos. Adapun contoh pengolahan limbah antara lain:
Pengolahan Limbah Cair
Limbah cair organik dapat diuraikan oleh bakteri anaerob menghasilkan bahan bakar alternatif (biogas).Limbah cair yang mengandung protein, lemak, dan karbohidrat difermentasikan oleh metanobakterium secara anaerob sehingga mampu menghasilkan biogas.
Pengolahan Sampah/Limbah padat
Pengolahan sampah dengan bantuan mikroba adalah dengan cara pengomposan sampah-sampah organik. Pengomposan dapat dilakukan dengan aerobik maupun anaerobik.
Plastik Biodegradable
Salah satu usaha untuk mengurangi limbah plastik yang menimbulkan pencemaran adalah dengan cara memproduksi plastik yang mudah terurai (biodegradable) melalui bioteknologi. Mikroba yang mampu membuat plastik biodegradable antara lain Alxaligenes eutrophus. Plastik biodegradable lainnya adalah pululan yang diproduksi oleh Aureobasidium pullulans.
Pengolahan Limbah Minyak
Mikroorganisme yang berperan dalam mengatasi limbah minyak, yaitu :
Pseudomonas hasil rekayasa genetika oleh Dr. Chakrabartymampu membersihkan senyawa hodrokarbon dalam tumpahan minyak bumi dengan cara memecah ikatan hidrokarbon minyak.
Acinetobacter calcoacetinius mampu memproduksi emulsan yang menyebabkan minyak bercampur dengan air sehinggga dapat dipecah oleh mikroba.
Zhantomonas campestris dapat mengumpulkan tumpahan minyak setelah sebelumnya minyak diberi gum xanthan untuk mengentalkan.
Penerapan Bioteknologi dalam bidang pertambangan (biometalurgi)
Di bidang pertambangan berkembang bioteknologi untuk memisahkan logam dari bijihnya yaitu dengan pemanfaatan bakteri Thiobacillus ferroxidans.Bakteri ini merupakan bakteri kemolitotrof yang mampu memisahkan logam dari bijihnya.Energi yang digunakan Thiobacillus ferroxidans dalam memisahkan logam dari bijihnya berasal dari hasil oksidasi senyawa anorganik khususnya senyawa besi dan belerang.Asam sulfat dari besi sulfat melarutkan logam dari bijihnya.
Pandangan Islam mengenai bioteknologi
Allah SWT telah  mengutus Nabi Muhammad SAW kepada seluruh umat manusia dengan membawa risalah  islam yang sempurna dan mampu menjawab setiap masalah yang muncul dalam  kehidupan manusia hingga hari kiamat. Sebagaimana firman-Nya: 
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينً
 “…pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu….” (QS. Al-Maidah: 3). 
Dan firman-Nya :
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ (٨٩)
“…dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. (QS. An-Nahl: 89)
Penemuan-penemuan ilmiah meskipun merupakan hasil  eksperimen ilmiah yang bersifat universal tidak didasarkan pada pandangan hidup  (aqidah) tertentu, tetapi penggunaan dan pengambilannya  tetap akan didasarkan pada pandangan hidup  tertentu. Para ilmuwan sekuler yang  berazaskan manfaat semata tidak akan memperhitungkan aspek apapun kecuali bahwa  penemuan itu akan mendatangkan nilai materi yaitu kemanfaatan. Mereka tidak akan mempertimbangkan lagi  apakah penemuan itu sesuai atau tidak dengan nilai-nilai rohani, akhlaq, dan  kemanusiaan, sebab nilai-nilai tersebut memang bukan standar perbuatan  mereka.  Sebaliknya ilmuwan muslim yang  menjadikan standar hidupnya halal dan haram, hanya akan melakukan penelitian  pada apa-apa yang dihalalkan oleh Allah SWT, dan tidak akan melakukan  penelitian pada apa-apa yang telah Alloh haramkan meskipun ada unsur manfaat,  karena justru manfaat itu ada pada pelaksanaan hukum syara. 
Hukum syara terhadap aplikasi bioteknologi pada  tanaman  dan hewan
Aplikasi  bioteknologi yang diterapkan pada tanaman dan hewan dengan tujuan untuk  meningkatkan kuantitas, kualitas, produktifitasnya atau usaha untuk mencari  obat alami bagi banyak penyakit manusia untuk menggantikan obat-obat kimia yang  sering menimbulkan efek samping pada kesehatan, hukumnya boleh (ja’iz) selama tidak ada dalil yang mengharamkannya,  sesuai dengan kaidah:
Al-ashlu  fil asyyaai al-ibaahah maa lam yarid daliilut tahriim
“Hukum asal dari sesuatu itu halal (mubah) sebelum ada dalil yang  mengharamkannya“
Jika pengembangan teknologi tersebut dalam upaya mencari obat-obatan untuk  mengobati penyakit manusia hukumnya sunnah,  mengikuti hukum berobat, Rosulullah SAW bersabda : 
إِنَّ اللَّهَ حَيْثُ خَلَقَ الدَّاءَ ، خَلَقَ الدَّوَاءَ ، فَتَدَاوَوْا 
“Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla setiap kali menciptakan penyakit, Dia menciptakan pula obatnya. Maka berobatlah kalian.” (Hadis Riwayat Imam Ahmad dari Anas bin Malik)
Bahkan pada kondisi umat  manusia sangat memerlukan teknologi tersebut yang tidak bisa ditangani secara  konvensional dan menyangkut kelangsungan hidup manusia hukumnya dapat menjadi fardlu kifayah.
Adapun bioteknologi dalam al-Quran sendiri pun sudah tercantum, sebagaimana proses kloning dengan memotong telinga hewan ternak.:
 وَلأضِلَّنَّهُمْ وَلأمَنِّيَنَّهُمْ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الأنْعَامِ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا (١١٩)
“setan berkata: Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, Maka Sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS. An-Nisa: 119)
Contoh kloning dengan memotong telinga ternak salah satunya menurut laporan Reuters pada tanggal 1 Mei 2002, Jose Visintin, seorang dokter hewan melakukan penelitian di University of Sao Paolo di Brasil, menghasilkan embrio kloning untuk pertama kalinya di negara itu dengan menggunakan sel-sel yang diambil dari telinga seekor sapi dewasa.
Berbagai aplikasi bioteknologi pada tanaman dan  hewan disamping mendatangkan manfaat yang besar, diduga membawa pula konsekuensi yang merugikan/membahayakan. Bahaya atau kerugian yang terjadi  dapat berupa ancaman terhadap eksistensi tanaman atau hewan tersebut,  lingkungan meliputi manusia, alam dan ekosistem hewani di sekitarnya. Sebagai  contoh HEMATECH LLC, perusahaan bioteknologi dari Sioux Falls, South Dakota,  Iowa, Amerika Serikat, berkerjasama dengan Kirin Brewery dari Jepang berupaya  memproduksi antibodi manusia lewat sapi. Mereka mengkloning sapi dengan cara  menyintesis rangkaian gen yang bisa memproduksi antibodi manusia di  laboratorium dan menyambungkannya ke sel kulit sapi. Sel kulit sapi itu kemudian  digabungkan ke sel telur sapi yang telah diambil intinya. Hasil penggabungan  dirangsang untuk tumbuh sebagai embrio, lantas diimplantasikan ke rahim induk  sapi. Diharapkan, gen manusia akan aktif di tubuh sapi kloning dan memproduksi  antibodi yang diperlukan saat sapi diinfeksi dengan sejumlah virus dan bakteri.
Kenyataannya, produksi antibodi sangat minim karena tidak banyak gen manusia  yang aktif dalam sel sapi. Upaya Hematech dianggap sebagai suatu terobosan.  Tahap selanjutnya, mereka mengupayakan agar gen manusia menjadi aktif dengan  menekan sistem kekebalan tubuh sapi. Upaya ini perlu waktu tiga sampai empat tahun sebelum dilakukan uji klinis.  Meski bertujuan mulia, upaya itu tak lepas dari tantangan. Utamanya dari para  aktivis penyayang binatang. Menurut mereka, kloning tidak berperikemanusiaan.  Kegagalan kloning pada binatang cukup tinggi. Dari 672 embrio yang dibuat,  hanya enam anak sapi yang lahir hidup. Dari jumlah itupun, dua ekor mati dalam  tempo 48 jam setelah lahir. Kekhawatiran lainnya adalah, bisa saja antibodi  yang diproduksi lewat sapi tercemar penyakit sapi gila. Selain itu, ada juga  masalah etika yaitu adanya pencampuran gen manusia ke sapi dinilai mengaburkan  batasan antar spesies makhluk hidup, khususnya antara manusia dengan binatang. 
Oleh karena alasan adanya bahaya negatif seperti  tersebut, pengembangan bioteknologi harus selalu diawasi dan diuji secara  seksama sebelum dilepas ke masyarakat luas.   Jika terbukti akan mendatangkan bahaya kepada manusia atau lingkungan  maka hukumnya menjadi haram berdasarkan kaidah ushul. Demikian pula pengembangan bioteknologi pada tanaman  dan hewan hukumnya haram jika materi  yang digunakan adalah materi yang diharamkan oleh Allah, seperti babi dan anjing. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa Nabi SAW bersabda:
“Allah telah melaknat orang  Yahudi, telah diharamkan kepada mereka lemak (syuhum), tetapi mereka menjualnya  dan memakan hasil penjualannya.Sesungguhnya Allah jika telah mengharamkan atas  suatu kaum untuk memakan sesuatu maka diharamkan pula bagi mereka harganya”.
Hukum syara pada proses dan produk bioteknologi pada  manusia
Kloning pada manusia dilihat dari bentuknya ada  dua, yaitu : 
Kloning embrio (perbanyakan embrio identik)
Kloning  manusia (dalam pengertian kloning yang berasal dari sel somatik manusia)  
Hukum syara dari kedua jenis kloning  tersebut adalah sebagai berikut:
Kloning embrio
Kloning embrio adalah proses penggandaan pada fase  sel zigot (sel telur yang telah dibuahi) untuk mendapatkan anak kembar  identik.   Dr. Martin Nijs, ketua team  peneliti kedokteran Belgia, tanggal 9 Maret 1997 telah mengumumkan bahwa  teamnya telah mengklon anak kembar pada empat tahun sebelumya dan klon tersebut  tumbuh baik sampai saat dilaporkan. Kloning embrio ini dibolehkan oleh syara’, apabila sel sperma yang membuahi berasal  dari suami yang sah dan masih hidup, dan sel telur yang dibuahi juga berasal  dari isteri yang sah, dan klon yang dihasilkan harus ditanam kembali untuk  ditumbuhkan ke dalam rahim isteri pemilik sel telur tersebut.  Tetapi jika klon embrio yang dihasilkan  tersebut ditanamkan pada rahim wanita lain (ibu pengganti), atau sperma dan sel  telurnya bukan dari pasangan suami isteri yang sah, atau klon embrio di  tanamkan pada rahim isteri setelah suaminya meninggal, maka semuanya itu  hukumnya haram, karena telah  mencampur adukan dan menghilangkan nasab, dan gugurnya pernikahan atas orang  yang sudah meninggal. Diriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwa dia telah mendengar  Rasululloh SAW bersabda ketika turun ayat li’an:
“Siapa  saja perempuan yang memasukkan nasab (seseorang) kepada suatu kaum yang bukan  dari mereka, maka dia tidak akan mendapatkan apa pun dari Alloh dan Alloh tidak  akan pernah memasukkannya ke dalam surga.   Dan siapa saja laki-laki yang mengingkari anaknya padahal dia melihat  (kemiripannya), maka Alloh akan tertutup darinya dan Alloh akan membeberkan perbuatannya  itu dihadapan orang-orang terdahulu dan kemudian (pada hari kiamat nanti).” (HR. Ad-Darimi).
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., dia mengatakan  bahwa Rosululloh SAW bersabda:
 “Siapa saja yang menghubungkan nasab kepada  orang yang bukan ayahnya, atau seorang budak bertuan kepada selain tuannya,  maka dia akan mendapat laknat dari Alloh, para malaikat dan seluruh umat  manusia” (HR. Ibnu  Majah).
Kloning sel somatik
Kloning manusia adalah upaya membuat keturunan dengan  kode genetik yang sama dengan tetuanya.   Hal ini dilakukan dengan cara mengambil sel somatik dari tubuh tetua,  kemudian diambil inti selnya (nukleusnya), dan selanjutnya digabungkan pada sel  telur (ovum) wanita yang telah dihilangkan intinya dengan bantuan cairan kimia  dan kejutan listrik.  Setelah proses  penggabungan (fusi) ini terjadi, sel telur yang telah berisi inti sel tetua  ditransfer ke dalam rahim seorang perempuan agar sel tersebut membelah secara  mitosis, berkembang, berdiferensiasi dan berubah menjadi janin sempurna.  Janin tersebut akan dilahirkan secara alami  dan memiliki kode genetik yang sama persis dengan tetuanya. Kloning manusia apapun  tujuannya akan menjadi bencana dan sumber kerusakan bagi dunia.  Kloning manusia menurut hukum islam haram dilakukan, dan dalil-dalil  keharamannya menurut Abdul Qodim Zallum, adalah sebagai berikut: Anak-anak produk  kloning dihasilkan melalui cara yang tidak alami sesuai fitrah manusia.  Padahal Alloh telah menetapkan cara pembuahan  yang alami yaitu melalui pembuahan sel sperma suami pada sel telur istri yang  sah.   Alloh berfirman:
وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالأنْثَى (٤٥) مِنْ نُطْفَةٍ إِذَا تُمْنَى (٤٦)
“dan bahwasanya  Dialah  yang menciptakan  berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari air mani apabila dipancarkan  …”(QS. An-Najm: 45-46).
Anak-anak produk  kloning dari tetua perempuan tidak akan mempunyai ayah.  Dan jika inti sel dari tetua perempuan  kemudian ditransfer ke dalam rahim perempuan lainnya juga tidak akan punya  ibu.  Ini merupakan tindakan  menyia-nyiakan manusia, sebab dalam kondisi seperti ini tidak terdapat ayah dan  ibu.  
Kloning yang  bertujuan memproduksi manusia unggul dalam hal kecerdasan, kekuatan fisik,  kesehatan, kecantikan, dsb..jelas mengharuskan adanya seleksi terhadap  orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut, tanpa mempertimbangkan apakah  suami-istri atau bukan, sudah menikah atau belum.  Inti sel somatik yang akan diklon diambil  dari orang yang memiliki sifat-sifat yang diinginkan, dan sel telur akan  diambil dari perempuan yang terpilih, dan diletakkan pada rahim perempuan yang  terpilih juga.  Semua ini jelas akan  mengakibatkan hilangnya nasab dan bercampur aduknya nasab.
Menjadikan manusia  sebagai bahan penelitian merupakan pelecehan terhadap nilai kemuliaan manusia.  Seperti telah diuraikan diatas teknologi kloning memiliki tingkat keberhasilan  sangat rendah, seperti percobaan pada sapi, dari 672 embrio yang dibuat hanya  empat anak sapi yang lahir hidup. Dapat dibayangkan ratusan, ribuan atau jutaan  embrio/janin atau bahkan sudah berupa bayi manusia dibuang sebagai sampah sisa  percobaan. Naudzubillahi min dzalik.
Adapun salah satu contoh kebijaksanaan pemerintah dalam penyusunan kode etik bioteknologi modern, seperti di Malaysia yang membatasi ilmuwan dalam melakukan bioteknologi harus mempertimbangkan dan merujuk konsensus seperti:
Hal ini diperbolehkan oleh syariah untuk menggunakan kloning teknik dan rekayasa genetika di bidang mikrobiologi , botani dan zoologi dalam batas-batas yang ditentukan oleh syariat , agar untuk melayani kepentingan umum.
Barang , makanan dan minuman yang diproses bioteknologi dan mengandung babi (apapun zat yang haram), ini sangat bertentangan dengan syara yang dilarang . Menggunakan DNA babi dalam bioteknologi untuk memproduksi barang , makanan dan minuman (industri) hukumnya haram karena belum mencapai tingkat darurat disebabkan masih banyak banyak alternatif lain.
Dampak Bioteknologi
Dampak positif bioteknologi.
Beberapa dampak positif dari adanya bioteknologi, adalah :
Meningkatnya sifat resistensi tanaman terhadap hama dan penyakit tanaman, misalnya tanaman transgenik kebal hama.
Meningkatnya produk-produk (baik kualitas maupun kuantitas) pertanian, perkebunan, peternakan maupun perikanan. Dengan temuan bibit unggul.
Meningkatnya nilai tambah bahan makanan. Pengolahan bahan makanan tertentu, seperti air susu menjadi yoghurt, mentega, keju.
Membantu proses pemurnian logam dari bijihnya pada pertambangan logam (biohidrometalurgi)
Membantu manusia mengatasi masalah-masalah pencemaran lingkungan, Seperti : bacteri pemakan plastik dan parafin, bacteri penghasil bahan plastik biodegradable,
Membantu manusia mengatasi masalah sumber daya energi. Misalnya : bioethanol, biogas
Membantu dunia kedokteran dan medis mengatasi penyakit-penyakit tertentu. Misalnya : penyakit kelainan genetis dengan terapi gen, hormon insulin, antibiotik, antibodi monoklonal, vaksin.
Mengatasi masalah pelestarian species langka dan hampir punah. Dengan teknologi transplantasi nukleus, hewan / tumbuhan langka bisa dilestarikan dan lain sebagainya.
Dampak negatif bioteknologi.
Beberapa dampak negatif akibat timbulnya bioteknologi, adalah :
Munculnya pencemaran biologis, berupa penyebaran organisme transgenik yang tak terkendali.
Gangguan keseimbangan ekosistem akibat perubahan dinamika populasi.
Kerusakan tatanan sosial masyarakat , ketika kloning pada manusia tidak terkendali.
Tersingkirnya berbagai plasma nutfah alami / lokal. Flora dan fauna lokal "terdesak" oleh kehadiran flora dan fauna transgenik.
Menimbulkan pertentangan berkepanjangan antara tokoh ilmuwan bioteknologi dengan tokoh-tokoh kemanusiaan dan agama.
Timbulnya reaksi alergi pada manusia yang mengkonsumsi tanaman / hewan transgenik
Munculnya penyakit-penyakit baru dan kerentanan terhadap penyakit akibat pemanfaatan tanaman / hewan transgenik.
 Berpotensi digunakan sebagai alat perang. Beberapa orang mungkin dengan sengaja menciptakan kombinasi gen-gen baru untuk kepentingan perang (semacam senjata kimia dan senjata biologi).













BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa, Bioteknologi adalah usaha terpadu dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seperti Mikrobiologi, Genetika, Biokimia, Sitologi, dan Biologi Molekuler untuk mengolah bahan baku dengan bantuan mikroorganisme, sel, atau komponen selulernya yang diproleh dari tumbuhan atau hewan sehingga menghasilkan barang dan jasa.
Bioteknologi dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu : bioteknologi konvensional (tradisional) dan bioteknologi modern. Bioteknologi dipakai dalam berbagai bidang, antara lain dalam bidang pangan, dalam bidang pertanian dan perkebunan, dalam bidang peternakan, dalam bidang kedokteran dan farmasi, dalam bidang lingkungan (bioremediasi), dan dalam bidang pertambangan (biometalurgi). Pengembangan bioteknologi harus selalu diawasi dan diuji secara  seksama sebelum dilepas ke masyarakat luas. Ilmuwan muslim yang  menjadikan standar hidupnya halal dan haram, hanya akan melakukan penelitian  pada apa-apa yang dihalalkan oleh Allah SWT, dan tidak akan melakukan  penelitian pada apa-apa yang telah Allah haramkan meskipun ada unsur manfaat,  karena justru manfaat itu ada pada pelaksanaan hukum syara. 
Penutup
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai Bioteknologi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.  Semoga makalah ini berguna bagi kami selaku penyusun pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Hariwijaya Soewandi. Estu Sinduningrum. 2011. Ilmu kealamiahan Dasar. Bogor: Ghalia Indonesia
Prof. Drs. Sudjadi, Apt., MS., Ph.D. 2008. Bioteknologi Kesehatan. Yogyakarta: Kasinus
pdf Islamic Ethics in Governing Modern Biotechnology in Malaysia
http://dyahrahayusetyaningsih.blogspot.com/2014/07/materi-ipa-kelas-12-bab-bioteknologi.html
http://www.academia.edu/7374529/Bioteknologi_dalam_perspektif_islam#signup/sentFb
http://www.eramuslim.com/peradaban/quran-sunnah/kloning-makhluk-hidup.htm#.VlldztKqqko
http://ardjaka.blogspot.co.id/2012/11/sejarah-dan-perkembangan-bioteknologi.html
http://apprillio.blogspot.co.id/2014/10/makalah-bioteknologi.html
http://badaruddincls.blogspot.co.id/2014/12/makalah-ilmu-alamiah-dasar.html
http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/kontroversi-tentang-kloning-manusia/

PEMIKIRAN AL GHAZALI TENTANG FILSAFAT ISLAM

DIALOG PEMIKIRAN AL-GHAZALI DENGAN FILOSOF ISLAM TERHADAP KEBERADAAN FILSAFAT ISLAM

MAKALAH

Untuk memenuhi tugas struktur mata kuliah Filsafat Islam

Dosen Pengampu:
Dr. Koko Abdul Kodir, M.Ag









Makalah Diskusi Kelompok 7:

Imam Ubaidillah 1152020096
Indah Syarofa Taqwana 1152020098
Kristin Wiranata 1152020108







JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah subhanahu wata’ala yang telah memberikan kami beribu kenikmatan. Nikmat sehat, nikmat beribadah dan nikmat mencari ilmu pengetahuan. Sholawat serta salam tak lupa tercurah limpahkan kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam kepada para sahabatnya, kepada keluarganya serta kepada kita semua selaku umatnya hingga akhir zaman.  Beliaulah yang telah mengantarkan kita semua dari zaman kegelapan hingga zaman terang benderang. 
Penulis mengucapkan ungkapan terimakasih kepada Dr. Koko Abdul Kodir. M.Ag. selaku dosen pengampu mata kuliah Filsafat Islam yang telah mengarahkan kami dalam pembuatan makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Semoga makalah ini menjadi sumber belajar khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca dalam memperluas khazanah kelimuannya mengenai Filsafat Islam. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa berfilsafat sangatlah penting dalam kehidupan. 
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh



Bandung, 8 November 2017

     Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i 
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan Makalah 2
BAB II PEMBAHASAN
Mengenal Imam Al-Ghazali 3
Biografi Singkat Imam Al-Ghazali 3
Perjalanan Imam Al-Ghazali Di Dalam Mencari Kebenaran 4
Keadaan Sosial-Kultural Masa Hidup Imam Al-Ghazali 6
Batas Iman dan Kufur Menurut Imam Al-Ghazali 7
Dialog Pemikiran Al-Ghazali 9
Qadimnya Alam 10
Ilmu Allah Terhadap hal-hal/peristiwa kecil 13
Kebangkitan Jasmani 15
BAB III PENUTUP 19
DAFTAR PUSTAKA 20












BAB II
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah 
Manusia adalah makhluk yang istimewa, ia di anugerahi akal oleh Allah, akal digunakan manusia untuk mengetahui mana yang baik dan buruk dalam hidupnya. Jika akal tidak digunakan maka tidak ada bedanya manusia dengan hewan. Manusia pun memiliki fitrah untuk selalu mencari kebenaran. Menurut Al-Ghazali golongan-golongan pencari kebenaran dibatasi menjadi empat golongan yakni para mutakallimin, para penganut kebatinan, kelompok filosof, dan golongan sufi. 
Salah satu tokoh yang menempuh jalan para pencari kebenaran ialah Al-Ghazali. Sejak remaja ia dianugerahi rasa keingintahuan yang besar atas kebenaran yang hakiki. Diawali dari rasa ketidakpercayaannya terhadap indera, sebab pengamatan melalui indera seringkali bias dan kebenarannya pun demikian. Kemudian ia meletakkan kepercayaannya kepada akal, tetapi akal pun memiliki keterbatasan, salah satunya ialah tidak mampu menembus batas supra-rasional, ia tidak mampu menjangkau wujud Allah dan mustahil dapat menjangkau hal tersebut. Dari sinilah banyak pula filosof-filosof atau manusia yang menyimpang setelah berfilsafat, dikarenakan rapuhnya pondasi iman yang menjadi pengikat akal. Memang wajar-wajar saja berfilsafat terhadap eksistensi alam, manusia dan lainnya, namun apabila ranah kajian filsafat ini menyentuh pada ranah ketuhanan, maka akal selaku alat dalam berfilsafat tidak bisa lari dan liar begitu saja tanpa dikendalikan oleh wahyu. Sebab jika akal dibiarkan liar dalam memikirkan Tuhan tanpa diiringi iman, bisa jadi hal tersebut dapat membuatnya berpaling dan kafir terhadap kebenaran yang hakiki (iman). Al-Ghazali sendiri mengkritik beberapa pemikiran para filosof yang tertuang di dalam karyanya Tahafut Al-Falasifah. Ada tiga hal penting mengenai metafisika yang Al-Ghazali sanggah terhadap para filosof yakni: mengenai ke-qadim-an alam, Allah tidak mengetahui partikularia-partikularia dan pengingkaran para filosof akan kebangkitan jasmani di hari akhir. Sedangkan 17 persoalan sisa adalah persoalan-persoalan yang dibantah logikanya tapi belum tentu substansinya. 
Untuk dapat memahami berbagai persoalan tersebut penulis membuat makalah mengenai Dialog Pemikiran Al-Ghazali Dengan Filosof Islam Terhadap Keberadaan Filsafat Islam. Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi  penulis dan umumnya bagi pembaca. 

Rumusan Masalah 
Dari latar belakang masalah diatas, penulis menarik rumusan masalah sebagai berikut: 
Siapakah Imam Al-Ghazali?
Bagaimana isi dari dialog pemikiran Imam Al-Ghazali terhadap pemikiran para filosof Islam?
Tujuan 
Dari rumusan masalah diatas, penulis menarik tujuan penulisan makalah sebagai berikut:
Mengetahui biografi Imam Al-Ghazali.
Mengetahui dan memahami isi dari dialog pemikiran Imam Al-Ghazali terhadap pemikiran para filosof Islam.














BAB II
PEMBAHASAN

Mengenal Imam Al-Ghazali
Biografi Singkat Imam Al-Ghazali
Ia adalah Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali, gelar hujjatul islam, lahir tahun 450 H di Thus, suatu kota kecil di Khurrasan (Iran). Kata-kata al-Ghazali kadang-kadang diucapkan al-Ghazzali (dengan dua “z”). Dengan menduakalikan z, kata-kata al-Ghazali diambil dari kata-kata ghazzal, artinya tukang pemintal benang, karena pekerjaan ayah al-Ghazali ialah memintal benang wol, sedang al-Ghazali dengan satu z, diambil dari kata-kata Ghazala, nama kampung kelahiran al-Ghazali. Sebutan terakhir ini banyak di pakai. Ayah al-Ghazali, adalah seorang tasawuf yang saleh dan meninggal dunia ketika al-Ghazali beserta saudaranya masih kecil. Akan tetapi sebelum wafatnya ia telah menitipkan kedua anaknya tersebut kepada seorang tasawuf pula untuk mendapat bimbingan dan pemeliharaan dalam hidupnya.
Al-Ghazali  pertama-tama belajar agama di kota Thus, kemudian meneruskan di Jurjan, dan akhirnya, dan akhirnya di Naisaburi pada imam al-Juwaini, sampai yang terakhir ini wafat tahun 478 H/1085 M. Kemudian ia berkunjung kepada Nizam al-Mulk di kota Mu’askar, dan dari padanya ia mendapat kehormatan dan penghargaan yang besar, sehingga ia tinggal di kota itu enam tahun lamanya. Pada tahun 483 H/1090 M, ia diangkat menjadi guru disekolah Nidzamah Baghdad, dan pekerjaanya itu dilaksanakan dengan sangat berhasil. Selama di Baghdad, selain mengajar, juga mengadakan bantahan-bantahan terhadap pikiran-pikiran golongan-golongan Bathiniyyah, Ismailiyyah, golongan filsafat, dan lain-lain.
Selama waktu itu ia tertimpa keragu-raguan Tentang keguanaan pekerjaanya, sehingga akhirnya ia menderita penyakit yang tidak bisa diobati dengan obat lahiriyah (fisio-terapi). Pekerjaanya itu kemudian ditinggalkannya pada tahun 484 H, untuk menuju Damsyik, dan di kota ini ia merenung, membaca dan menulis, selama kurang lebih dua tahun, dengan tasawuf sebagai jalan hidupnya. 
Kemudian ia pindah ke Palestina dan disini pun ia tetap merenung, membaca dan menulis dengan mengambil tempat di Masjid Baitil-Maqdis. Sesudah itu tergeraklah hatinya untuk menjalankan ibadah haji, dan setelah selesai ia pulang ke negri kelahirannya sendiri, yaitu kota Thus dan disana ia tetap seperti biasanya, berkhalwat dan beribadah. Keadaan tersebut berlangsung sepuluh tahun lamanya, sejak kepindahanya ke Damsyik dan masa ini ia menuliskan buku-bukunya yang terkenal, antara lain Ihya’ ‘Ulumuddin. 
Karena desakan penguasa pada masanya, yaitu Muhammad saudara Berdijaruk, al-Ghazali mau kembali mengajar di sekolah Nidzamiyah di Naisabur pada tahun 499 H. Aakan tetapi pekerjaanya ini hanya berlangsung dua tahun, untuk akhirnya kembali ke kota Thus lagi, dimana ia kemudian mendirikan sebuah sekolah untuk para fuqaha dan sebuah pondok (khangak) untuk para mutasawwifin. Di kota itu pula ia meninggal dunia pada tahun 505 H/ 1111 M, dalam usia lima puluh empat tahun.
Perjalanan Imam Al-Ghazali dalam Mencari Kebenaran
Setelah empat atau lima tahun (1090-1095 M) memangku jabatan sebagai guru besar madrasah Nidzamiyah di Baghdad, Al-Ghazali mulai diserang kegoncangan dalam dirinya. Ia bertanya apakah jalan yang ditempuhnya sudah benar atau belum, atau salah?  Perasaan ragu ini timbul setelah mempelajari ilmu kalam (teologi) dari al-Juwaini (gurunya), karena teologi membahas berbagai aliran yang antara satu dan lainnya memperhatikan kontradiksi. Al-Ghazali ragu, mana di antara aliran-aliran itu yang betul-betul benar. Dalam bukunya yang berjudul al-Munqidz min al-Dhalal menjelaskan tentang keadaan ini. Dalam bukunya itu tergambar keinginan Al-Ghazali untuk mencari kebenaran yang sebenarnya-benarnya. Al-Ghazali mulai tidak percaya kepada pengetahuan yang diperolehnya melalui panca indera sebab panca indera sering kali salah atau berdusta. Ia kemudian meletakkan kepercayaan pada akal, tetapi ternyata akal juga tidak memuaskan hatinya. Tasawuflah yang kemudian menghilangkan rasa syak (ragu) dalam dirinya. Pengetahuan tentang tasawuf yang diperolehnya melalui kalbu membuat Al-Ghazali merasa yakin mendapat pengetahuan yang benar. Dalam mempelajari filsafat Al-Ghazali menggunakan argumen-argumen filosofi yang dipandang sesuai dengan ajaran islam. Karena itu ia menyerang kaum filosofi sebagaimana diungkap dalam bukunya. Tahafut al-Falasifah. Pendapat dan kritikan Al-Ghazali  terhadap persoalan filsafat dikecam keras dan di kritik oleh Ibn Rusyd (1126-1198 M) dalam bukunya Tahafut Al-Tahafut (kekacauan dari kekacauan). Buku ini pada intinya berisi pembelaan Ibn Rusyd terhadap filsafat dan filosof. Selanjutnya pada tahun 1095  Al-Ghazali meninggalksn profesinya sebagai guru besar pada madrasan Nidzamiyah. Ia mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Keluarganya pun ditinggalkan setelah terlebih dahulu disediakan bekal secukupnya. Selama sepuluh tahun ia menjalani kehidupan menjadi seorang sufi. Banyak orang yang tidak mengenal lagi. Kemudian ia mengurung diri dimesjid Damaskus. Dalam hubungan ini Dr. Abd. Al-Halim Mahmud menjelaskan bahwa Al-Ghazali meninggalkan profesinya pada bulan Dzulqaidah tahun 488 H dan menempuh kehidupan sebagai zahid dan meninggalkan kehidupan duniawi. Ia semula bermaksud mengerjakan ibadah haji sedangkan tugasnya diserahkan kepada saudaranya Ahmad. Ketika ia pulang ia mampir ke Syams, bermukim di kota Damaskus beberapa lama sambil mengingat-ingat pelajarannya di masjid Damaskus. Kemudian pindah ke Baitul Muqaddas (Maqdis), tenggelam dalam ibadah, menziarahi makam para syuhada’ dan tempat-tempat lain yang bersejarah lainya. Kemudian terus berangkat ke Mesir dan bermukim di Iskandariyyah.
Berikutnya kita bisa membagi kehidupan Al-Ghazali menjadi tiga fase. 
Fase Pra-Keraguan: Fase yang bisa dikesampingkan. Karena pada fase ini, Al-Ghazali masih seorang pelajar yang belum mencapai kematangan intelektual, yang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang yang memiliki pendapat independen. Terlebih lagi Al-Ghazali telah menceritakan bahwa keraguan telah menghantuinya sejak awal, pada sekitar usia muda.
Fase terjadinya keraguan: Di fase ini kita lihat Al-Ghazali menulis karya-karyanya dalam ilmu kalam, kritik terhadap filsafat dan aliran bathiniyyah. Pada saat itu ia mengajar di dua sekolah: Naisabur dan Baghdad.
Fase mendapat petunjuk dan ketenangan: Fase dimana Al-Ghazali mendapatkan hidayah Allah dan memasuki dunia tasawuf. 
Kondisi Sosial-Kultural Masa Hidup Imam Al-Ghazali
Al-Ghazali merupakan salah satu dari sekian banyak tokoh yang telah mewarnai khazanah pemikiran Islam yang mengadopsi dari berbagai model pemikiran, mulai dari yang rasinal dan irrasional. Ketokohan dan kebesaran al-Ghazali sebenarnya tidak diragukan lagi di kalangan umat Islam, khususnya golongan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dan para orientalis Barat umumnya. 
Kota kelahiran al-Ghazali Thus adalah bagian wilayah Khurasan yang merupakan wilayah pergerakan tasawuf dan pusat gerakan anti kebangsaan Arab. Pada masa al-Ghazali di kota tersebut terjadi interaksi budaya yang sangat intens. Filsafat Yunani telah digunakan sebagai pendukung agama dan kebudayaan asing dengan ide-ide yang mendominasi literatur dan pengajaran. Kontroversi keagamaan, setelah interpretasi sufi berkembang ke arah kebatinan yang lepas dari syari’ah, serta terjadinya kompetisi antara Kristen dan Yahudi yang selanjutnya menimbulkan insiden Awlia dan gerakan sufi.
Sementara itu pergolakan dalam bidang politik juga cukup tajam dan meningkat. Kekuasaan Abbasiyyah yang semula di tangan kekuasaan Arab dan Persia mulai digeser oleh kekuatan Bani Saljuk berkebangsaan Turki yang dari segi syari’at dinilai kurang taat beragama, yakni mereka secara lahiriyah menyatakan beragama Islam, tetapi pada praktiknya jauh dari tuntunan Islam yang sebenarnya.
Dengan demikian pada masa kehidupan al-Ghazali daerah Khurasan termasuk Thus ketika itu selain merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia Islam, juga merupakan salah satu pusat pergerakan tasawuf. Diantara gerakan tasawuf tersebut ada yang dinilai menyimpang dari syari’at Islam. Demikian juga pertentangan antara kaum Sunni dan kaum Syi’ah semakin menajam, sehingga Nidzam al-Mulk menggunakan lembaga Madrasah Nidzamiyah sebagai tempat pelestarian paham Sunni. Pergolakan politik juga menajam dan mengarah kepada kehancuran dunia Islam, dan umat Islam sudah mulai meninggalkan ilmu pengetahuan umum. Demikian pula nasib umat Islam di Spanyol dalam keadaan menyedihkan, sementara Inggris dan Sicilia tengah menggalang kekuatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. 
Al-Ghazali hidup di suatu zaman dimana ilmu pengetahuan sangat diperhatikan oleh penguasa, yakni pada masa pemerintahan bani Abbasiyah, sebuah zaman dimana terjadi pertautan pemikiran Islam dan Yunani. Periode al-Ghazali juga dapat dikatakan sebagai masa tampilnya berbagai aliran keagamaan, dan tren-tren pemikiran yang saling berlawanan. Ada ulama ilmu kalam, ada pengikut aliran kebatinan yang menganggap hanya dirinya yang berhak menerima dari imam yang suci, ada filosof dan ada pula sufi.
Al-Ghazali pada masa kecemerlangan intelektualnya merasa prihatin dan resah terhadap kondisi umat Islam waktu itu. Keresahannya terutama disebabkan oleh merajalelanya pemikiran yang berorientasi kuat pada Hellenisme, yaitu suatu paham yang dipengaruhi filsafat Yunani, seperti Mu’tazilah. Kelompok yang suka mengembangkan rasio ini juga dilapisi beberapa filosof muslim, seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi.
Al-Ghazali datang tepat pada zamannya. Sebelumnya al-Asy’ari (wafat 300H/913M) dengan cemerlang telah men-TKO Mu’tazilah dalam ilmu kalam. Sementara itu, Al-Ghazali dalam filsafat memberikan tadzkirah atau warning terhadap pakar-pakar pemikir Islam tersebut.
Batas Iman dan Kufur Menurut Imam Al-Ghazali
Menurut al-Ghazali, argumen-argumen pikiran tidak diperlukan untuk memperkuat iman orang-orang biasa, dan ia sangat menyayangkan adanya pertentangan pendapat dalam beberapa persoalan dan tuduhan telah menjadi kafir yang dikeluarkan oleh pengikut beberapa aliran terhadap orang lain yang tidak sependapat dengan mereka. Karena itu ia merasa perlu untuk memberikan batas pemisahan antara kufur dengan iman dan antara Islam dengan bukan Islam.
Pengikut aliran Asy’ariah menentang seorang Mu’tazilah, karena ia (Mu’tazilah) dianggap telah mengingkari perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang penetapan ru’yat (menyaksikan Tuhan), dan tentang penetapan sifat ilmu, qudrat dan sifat iradatnya. Sebaliknya orang Mu’tazilah mengkafirkan pengikut aliran Asy’ariyah, karena yang terakhir ini ketika menetapkan sifat-sifat untuk Tuhan, berarti dalam peng-Esa-an. Menurut Al-ghazali sikap mereka semuanya itu salah, telah mengkafirkan orang-orang terdahulu dan mendustakan Rasul, karena kebenaran tidak hanya dimiliki oleh sesuatu aliran saja. Dalam membuat garis pemisah antara kufur dengan iman, Al-ghazali mengatakan sebagai berikut.
“Kufur ialah mendustakan Rasul tentang apa yang dibawanya, sedang iman ialah mempercayai semua yang dibawanya. Orang Yahudi dan Nasrani adalah orang kafir, karena kedua-duanya mendustakan Rasul. Orang-orang agama Brahmana lebih-lebih lagi, karena mengingkari semua Rasul-rasul, termasuk rasul Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Orang yang mentakwilkan tidak boleh dikafirkan, selama mereka berjalan di atas aturan takwil. Bagaimana karena penakwilan semata-mata sudah menjadi kafir, sedang semua pihak dalam Islam mesti memakai takwil.
Menurut Al-Ghazali, segi-segi mana yang bisa membawa kufur dan mana yang tidak, memerlukan keterangan yang panjang. Namun ia meringkasnya dalam dua hal yang diungkapnya dalam bentuk wasiat dan satu aturan pokok. Wasiat tersebut ialah.
Tutup mulutmu terhadap ahli kiblat (orang Islam) sedapat –dapatnya selama mereka berkata tidak ada Tuhan selain Allah, dari Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Rasulullah. Satu aturan pokok ialah bahwa ilmu tentang kepercayaan ada dua bagian, yaitu bagian yang bertalian dengan dasar-dasar pokok dan bagian lain yang bertalian dengan soal-soal cabang. Dasar –dasar iman dan tiga, yaitu iman kepada Tuhan, kepada Rasul-Nya dan kepada hari akhir (akhirat). Selain ketiga soal ini, termasuk soal-soal cabang. Dalam soal cabang, tidak ada pengkafiran sama sekali, kecuali dalam satu hal saja, yaitu mengingkari dasar agama yang telah diketahui dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan jalan yang pasti (mutawatir).
Seorang tidak boleh mengkafirkan lawannya, karena hanya anggapan bahwa lawan tersebut salah memakai alasan pikiran (burhan). Paling banyak hanya dapat dikatakan bahwa ia telah sesat dan telah bid’ah, dengan pengertian sesat dari jalan yang ditempuh olehnya (seseorang tersebut), dan dengan pengertian bahwa ia telah mengadakan suatu pendapat yang tidak pernah dijelaskan oleh ulama-ulama salaf.
Memang Al-Ghazali tidak mengingkari kemungkinan tercapainya pengetahuan akal. Apa yang di ingkarinya ialah anggapan mereka bahwa ilmu kalam dan penyelidikan pikiran bisa menghantarkan kepada keyakinan, dan bisa menyalakan api iman pada hati orang bukan muslim. Jadi iman yang benar bukan soal keputusan rasio (pikiran), melainkan soal perasaan dan hati. Karena itu Al-ghazali bermaksud mengembalikan Islam kepada tradisi ulama salaf, dan menganjurkan setiap muslim untuk mencari kebenaran di dalam al-Qur’an sendiri, sebagai sumber imannya, bukan dari proses pemikiran dan alasan-alasan pikiran.

Dialog Pemikiran Imam Al-Ghazali dengan Para Filosof Islam
Tiga persoalan metafisika yang berlawanan dengan Islam
Al-Ghazali mengkritik beberapa pemikiran para filosof yang tertuang di dalam karyanya Tahafut Al-Falasifah. Didalam karyanya tersebut terdapat 20 sanggahan Al-Ghazali terhadap pemikiran para filosof islam, 17 persoalan diantaranya adalah persoalan-persoalan yang dibantah logikanya tapi belum tentu substansinya. Adapun tiga  persoalan / pikiran filsafat metafisika yang menurut Al-Ghazali sangat berlawanan dengan Islam, dan yang oleh karenanya para filosof harus dinyatakan sebagai orang ateis ialah:



Qadim-nya Alam
Filosof-filosof mengatakan bahwa alam ini qadim. Qadimnya Tuhan atas alam sama dengan qadim-nya illat atas ma’lul-nya (sebab-akibat), yaitu dari segi zat dan tingkatan, bukan dari segi zaman.
Alasan pertama dan jawaban Al-Ghazali. Tidak mungkin wujud yang hadis (baru), yaitu alam, keluar dari Qadim (Tuhan), karena dengan demikian berarti kita bisa membayangkan bahwa yang Qadim tersebut sudah ada, sedang alam belum lagi ada.
Tentang mengapa alam belum wujud, maka hal ini disebabkan pada waktu itu hal-hal (faktor murajjih/penentu) yang menyebabkan wujudnya belum lagi ada. Jadi pada waktu tersebut alam ini baru merupakan suatu kemungkinan murni (artinya bisa wujud dan bisa tidak wujud).
Sesudah waktu tersebut datang, maka alam ini menjadi wujud, dan wujud ini disebabkan karena faktor-faktor yang  menyebabkan wujudnya. Tetapi timbul pertanyaan, mengapa faktor-faktor tersebut baru timbul pada waktu ini, dan tidak timbul sebelumnya. Kalau dikatakan bahwa Tuhan mula-mula tidak berkuasa mengadakan alam, kemudian menjadi berkuasa untuk mengadakannya, maka timbul pula pertanyaan mengapa kekuasaan itu baru timbul pada masa tersebut, bukan pada masa sebelumnya. Atau kalau dikatakan, Tuhan sebelumnya tidak mempunyai tujuan (maksud) bagi wujudnya alam, kemudian maksud ini timbul, maka pertanyaan yang muncul juga sama, yaitu mengapa tujuan itu timbul,
Atau kalau dikatakan, bahwa Tuhan mula-mula tidak menghendaki adanya, maka timbul pertanyaan, mengapa kehendak tersebut timbul dan dimana pula timbulnya. Apakah pada zat-Nya ataukah pada selain zat-Nya. Kalau pada zat-Nya, tidak mungkin, karena zat Tuhan tidak menjadi tempat perkara yang baru. Timbulnya kehendak Tuhan pada selain zat-Nya juga tidak mungkin, karena kalau demikian, berarti bukan Dia yang mempunyai kehendak, melainkan zat lain itu.
Jawaban al-Ghazali:  Apa keberatannya kalau dikatakan bahwa iradah (kehendak Tuhan) yang Qadim itu menghendaki wujud alam pada waktu di wujudkannya. Boleh jadi timbul pertanyaan, kalau yang dimaksud dengan iradat yang qadim itu seperti niat kita untuk mengadakan sesuatu perbuatan, maka perbuatan tersebut tidak mungkin telambat, kecuali karena ada halangan. Sedangkan bagi Tuhan sebagai zat yang mengadakan pembuatan, sudah lengkap syarat-syaratnya dan tidak ada hal-hal yang perlu dinantikan lagi, tetapi perbuatannya terlambat juga. Jawab Al-Ghazali: bahwa perkataan tersebut tidak lebih kuat daripada perkataan mereka yang mempercayai kebaharuan alam karena kehendak yang qadim. 
Timbul pula pertanyaan lain, bahwa nilai semua waktu dalam pertaliannya dengan kehendak adalah sama, tetapi mengapa satu waktu dipilih untuk mewujudkan alam, dan waktu yang sebelumnya atau sesudahnya tidak dipilih?
Jawab Al-Ghazali: ialah bahwa arti kehendak (iradah) ialah yang memungkinkan untuk membedakan sesuatu dari lainnya. Kehendak Tuhan adalah mutlak, artinya bisa memilih suatu waktu tertentu, bukan waktu lainnya, tanpa ditanyakan sebabnya, karena sebab tersebut merupakan kehendak-Nya itu sendiri. kalu masih ditanyakan sebabnya, maka artinya kehendak Tuhan itu terbatas tidak lagi bebas, sedang kehendak itu bersifat bebas mutlak.
Alasan kedua dan jawaban Al-Ghazali Tuhan lebih dahulu dari pada alam, bukan dari segi zaman, melainkan dari segi pribadi (tingkatan, zat) seperti terlebih-dahulunya bilangan satu atas dua; atau dari  segi kausalitasnya (ke-‘illat-an), seperti dahulunya gerakan seseorang atas gerakan bayangannya, sedang kedua gerakan tersebut sebenarnya sama-sama mulai atau sama-sama berhentinya, artinya sama dari segi zaman.
Kalau yang dimasud dengan terlebih dahulunya Tuhan atas alam ini ialah dari segi zaman, maka kelanjutannya ialah: Tuhan dan alam baharu kedua-duanya atau Tuhan dan alam qadim kedua-duanya, dan mustahil salah satunya qadim, sedang yang lain baru.
Jawaban Al-Ghazali: Dengan perkataan Tuhan lebih dahulu adanya daripada alam dan zaman, ialah bahwa Tuhan sudah ada sendirian, sedang alam belum lagi ada, kemudian Tuhan ada bersama-sama alam. Dalam keadaan pertama, kita membayangkan adanya Zat yang sendirian, yaitu yaitu Zat Tuhan, dan dalam keadaan kedua, kita membayangkan dua zat, yaitu zat Tuhan dan zat alam. Kita tidak perlu membayangkan ada zat (wujud) yang ketiga, yaitu zaman, apalagi kalau diingat bahwa apa yang dimaksud dengan zaman ialah gerakan benda (alam), yang berarti sebelum ada benda (alam), sudah barang tentu belum ada zaman.
Alasan ketiga dan jawaban al-Ghazali Tiap-tiap yang baru didahului oleh bendanya, untuk dapat dikatakan bahwa benda itu baru. Jadi yang baru tidak bisa terlepas dari benda dan benda itu sendiri tidak baru. Yang baru hanyalah shurah (form), aradl (sifat-sifat) dan cara-cara yang mendatangkan kepada benda. Pikiran ini masih perlu dijelaskan.
Tiap-tiap yang baru, sebelum terjadinya, tidak terlepas dari tiga sifat: (1) mungkin (bisa) wujud; (2) tidak mungkin bisa wujud; dan (3) wajib (mesti) wujudnya. Sifat yang kedua tidak bisa dibenarkan, karena yang tidak mungkin wujud tidak akan terdapat selamanya, sebab alam ini telah menjadi wujud yang nyata. Sifat ketiga juga tidak dibenarkan, karena yang wajib wujud tidak akan pernah lenyap, sedangkan alam ini dan peristiwa yang terjadi didalamnya, asalnya ada, kemudian tidak ada, dan sebaliknya. Jadi kedua sifat tersebut diatas tidak mungkin terdapat pada alam, dan oleh karena itu satu-satunya sifat alam ialah bahwa alam itu mungkin wujudnya yang sudah terdapat pada alam sebelum wujudnya.
Jawaban Al-Ghazali: Sifat mungkin yang disebutkan di atas, merupakan pekerjaan pikiran. Sesuatu yang dikirakan oleh akal dapat wujud, dan perkiraan ini tidak mustahil, maka sesuatu tersebut disebut sebagai perkara mungkin. Kalau perkiraan itu mustahil maka perkara tersebut dinamai perkara yang mustahil. Kalau tidak dapat diperkirakan tidak adanya, maka disebut perkara yang wajib (yang mesti dan selamanya ada). Untuk menguatkan ini Al-Ghazali mengemukakan dua alasan:
Kalau sifat-sifat mungkin memerlukan sesuatu wujud, untuk menjadi tempatnya (disifatinya). Maka sifat tidak mungkin wujud juga memerlukan sesuatu perkara untuk dapat dikatakan bahwa perkara ini tidak mungkin wujud, sedang perkara yang tidak mungkin wujud tidak perlu ada wujudnya, atau bendanya yang ditempati sifat tersebut.
Akal pikiran memutuskan tentang warna hitam dan putih sebelum wujudnya, bahwa kedua warna ini adalah mungkin (bisa terjadi). Kalau sifat mungkin ini dipertalikan kepada benda yang ditempati kedua warna tersebut sehingga kita dapat mengatakan benda ini dapat diputihkan atau dihitamkan, maka artinya putih atau hitam itu sendiri tidak mungkin adalah bendanya dan sifat mungkin menjadi sifatnya.
Jawaban Al-Ghazali tersebut mengingatkan kita kepada aliran nominalisme yang mengatakan bahwa soal universalitas (abstrak) hanya terdapat di dalam akal pikiran, sedang diluar akal pikiran tidak ada kenyataannya, sedang pemikiran filosof-filosof yang ditentang al-Ghazali mengingatkan kita kepada aliran realisme. Bahwa apa yang terdapat di alam pikiran juga terdapat benar-benar di luar pikiran.
Tidak mengetahuinya Allah terhadap soal-soal peristiwa yang kecil
Golongan filosof berpendirian bahwa Tuhan tidak mengetahui hal-hal/peristiwa kecil, kecuali dengan cara yang umum. Alasan mereka ialah bahwa yang baru ini dengan segala peristiwanya selalu berubah, sedangkan ilmu selalu mengikuti (tergantung) kepada apa yang diketahui atau dengan perkataan lain, perubahan perkara yang diketahui menyebabkan perubahan ilmu. Kalau ilmu ini berubah yaitu dari tahu menjadi tidak tahu, atau sebaliknya, berarti Tuhan mengalami perubahan, sedangkan perubahan pada zat Tuhan tidak mungkin terjadi (mustahil).
Untuk memperjelas pendirian filosof-filosof, al-Ghazali memberikan contoh tentang gerhana matahari (umpamanya). Matahari mengalami gerhana, sedang sebelumnya tidak pernah gerhana, dan gerhana akan hilang. Jadi pada matahari ada tiga keadaan:
Keadaan di mana gerhana tidak ada, tetapi dinantikan terjadinya, artinya gerhana ittu akan datang.
Keadaan di mana terdapat gerhana  artinya gerhana sedang berjalan.
Keadaan di mana gerhana tidak ada, tetapi sebelumnya sudah terjadi.
Terhadap ketiga keadaa  tersebut, terdapat pula tiga ilmu (pengetahuan) yang berbeda-beda:
Kita mengetahui bahwa gerhana itu tidak ada, dan baru kemudian akan terjadi.
Kita mengetahui bahwa gerhana itu sedang terjadi.
Bahwa gerhana sudah terjadi, dan sekarang tidak ada lagi.
Ketiga ilmu (pengetahuan) tersebut berbilang dan berbeda-beda, dan pergantiannya (iring-iringannya) pada sesuatu tempat, menimbulkan perubahan pada zat (diri) orang yang mengetahui, sebab kalau sekiranya ia mengatakan bahwa gerhana terdapat sekarang, seperti juga terdapat sebelumnya, tentunya dikatakan kebodohan, bukan pengetahuan (ilmu). Kalau mengetahui pada waktu terjadinya gerhana, bahwa gerhana itu tidak ada, tentunya dikatakan kebodohan pula, sebab pengetahuan yang satu tidak bisa menggantikan pengetahuan yang lain.
Filosof-filosof beranggapan, bahwa keadaan Tuhan pada peristiwa (keadaan) tersebut tidak berbeda-beda karena perbedaan keadaan menimbulkan perubahan/ bagi zat yang tidak berubah keadannya tidak akan terbayang bahwa ia mengetahui ketiga peristiwa tersebut, karena pengetahuan mengikuti obyeknya (obyek pengetahuannya). Kalau obyek-obyek berubah, maka berubahlan pengetahuan (ilmu) juga berubah, sedang perubahan pada zat Tuhan mustahil terjadi.
Meskipun demikian, filosof-filosof menganggap bahwa Tuhan mengetahui adanya gerhana dengan segala sifat-sifatnya, tetapi dengan pengetahuan yang azali, abadi yang tidak berubah-ubah, seperti hukum alam yang menguasai terjadinya gerhana. Demikian pula ilmu Tuhan terhadap peristiwa-peristiwa kecil, yang terjadi karena sebab-sebab, dan sebab-sebab ini mempunyai sebab-sebab yang lain sebelumnya, sampai kepada gerakan benda angkasa.
Pendapat al-Ghazali: ilmu adalah suatu tambahan atau pertalian dengan Zat, artinya lain daripada zat. Pendapat ini berbeda dengan pendapat para filosof yang mengatakan bahwa sifat-sifat Tuhan adalah juga zat-Nya, yang berarti tidak ada pemisahan antara keduanya, atau mereka tidak mengenal istilah tambahan seperti yang dikenal oleh al-Ghazali.
Menurut al-Ghazali, kalau terjadi perubahan pada tambahan tersebut, maka zat Tuhan tetap dalam keadaannya yang biasa, sebagaimana hanlnya kalau ada orang yang berdiri disebelah kanan kita, kemudia ia berpindah ke sebelah kiri kita, maka yang berubah sebenarnya dia, bukan kita.
Lagi pula kalau perubahan ilmu bisa menimbulkan sesuatu perubahan pada zat (diri) yang mengetahui, sebagaimana yang dipegangi oleh golongan filosof, maka apakah mereka akan mengatakan bahwa berbilangnya ilmu juga menimbulkan bilangan pada zat Tuhan? Sebab obyek ilmu itu banyak, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, sifat yang tidak ada batas hitungannya, yang berarti juga ilmu itu banyak. Tetapi bagaimana ilmu-ilmu yang banyak tertampung dalam ilmu yang satu, kemudian ilmu ini juga adalah zatnya yang mengetahui sendiri, bukan sebagai tambahan pada-Nya?
Lagi pula, golongan filosof-filosof mengatakan bahwa alam ini qadim dan mengakui adanya perubahan pada yang qadim. Akan tetapi mengapa mereka tidak membolehkan perubahan pada zat Tuhan yang qadim pula?
Pengingkaran terhadap kebangkitan jasmani
Menurut tinjauan filosof-filosof dari segi pikiran, alam akhirat adalah alam kerohanian, bukan alam materiil (alam kebendaan), karena perkara kerohanian itu lebih tinggi nilainya. Karena itu menurut mereka, pikiran tidak mengharuskan adanya kebangkitan jasmani, kelezatan atau siksaan jasmani, surga atau neraka serta segala isinya. Kesemuanya ini memang disebutkan dalam al-Quran, tetapi dengan maksud untuk memudahkan pemahaman terhadap alam kerohanian bagi orang-orang biasa. Keunggulan alam kerohanian sebenarnya juga berlaku dalam dunia ini, yang didasarkan pada kekuatan berpikir, dan kelezatan mendapatkan obyek-obyek pikiran. Tetapi hal ini tidak bisa dicapai, disebabkan karena kesibukan-kesibukan benda, dan baru dicapai diakhirat nanti, dimana kesibukan-kesibukan benda ini tidak lagi menjadi penghalangnya.
Orang yang tidak merasakan kelezatan berpikir dalam dunia ini tidak akan merasakan keadaan tersebut sebagai penderitaan, karena kesibukan-kesibukan materinya itu, sebagaimana halnya dengan orang yang sedang takut, tidak akan merasakan kepedihan penyakit yang dideritanya.
Agar sesuai dengan suasana kerohanian, maka kebangkitan di akhirat ananti bersifat rohaniah pula. Jadi kebangkitan jasmani, yang berarti badan kita akan dikembalikan lagi tidak perlu terjadi. Dalam mengemukakan alasan-alasan, mereka menyatakan, bahwa pengembalian badan tidak lebih daripada tiga kemungkinan.
Manusia itu tediri dari badan dan kehidupan. Pengertian mati ialah terputusnya hidup, yakni Tuhan tidak menciptakan hidup, oleh karena itu hidup ini tidak ada, dan badan juga tidak ada. Jadi arti kebangkitan ialah bahwa Tuhan mengembalikan badan yang sudah tidak ada. Dengan perkataan lain, badan manusia setelah menjadi tanah dikumpulkan dan disusun kembali, menurut bentuk manusia dan diberikan hidup kepadanya.
Kemungkinan pertama tersebut tidak dapat dibenarkan karena pengertian menjadikan kembali, ialah membuat seperti apa yang sudah ada, bukan membuat apa yang sudah ada  itu sendiri, sebab apa yang sudah tidak ada, tidak mungkin menjadi wujud kembali.
Manusia bukan menjadi manusia karena badannya sebab dalam keadaan badan (tubuh) sapi menjadi makanan manusia, kemudian daripadanya (manusia) keluarlah sperma yang kemudian menjadi manusia lain, maka kita tidak akan mengatakan bahwa sapi menjadi manusia, sebab sapi dikatakan sapi karena shurah/form-nya, bukan karena maddah /substansinya.
Atau dikatakan bahwa jika manusia tetap wujud sesudah mati, tetapi badan yang pertama (yang terjadi di dunia ini), nantinya dikembalikan lagi dengan anggota-anggota badannya itu sendri dengan lengkap.
Kemungkinan yang kedua ini juga tidak dapat dibenarkan, karena anggota badan sesudah mati (terpisah-pisah) atau dimakan ulat-ulat atau burung-burung atau menjadi darah, uap dan sebagainyam yang berarti sukar untuk dapat mengumpulkannya kembali semua bagian-bagiannya tersebut. Kalau kita mengatakan bahwa pengumpulan bagian-bagian tersebut bisa terjadi, karena kekuasaan Tuhan tidak tebatas, maka timbul pertanyaan, bagaimana halnya dengan orang yang makan daging orang lain, yang berarti (benda)nya satu, tetapi manusianya dua. Dalam keadaan ini, maka tidak mungkin mengembalikan dua jiwa kepada satu benda. 
Lagi pula, benda yang satu bisa menjadi tanam-tanaman, kemudian tanam-tanaman ini dimakan binatang dan menjadi badannya, kemudian kita makan binatang tersebut dan binatang ini menjadi bagian dari badan kita, kemudian dengan silih berganti kembali menjadi tanah, tanam-tanaman, hewan dan manusia. Jadi benada yang satu sesudah berada pafa kita menjadi badan (benda)nya orang banyak.
Atau dikatakan. Jiwa manusia dikembalikan kepada badan, baik badan dengan anggota-anggotanya yang semula, atau dengan badan lain sama sekali. Jadi yang kembali ialah manusianya, sebab badan (benda) nya tidak penting, sedang manusia disebut manusia karena jiwanya, bukan karena benda (badan)nya.
Kemungkinan ini juga tidak dapat dibenarkan, karena benda-benda itu terbatas banyaknya sedang jiwa yang berpisah dengan badan tidak terbatas, dan oleh karena itu tidak mencukupinya. Lagi pula apabila kita menerima pikiran ini, berarti kira mengakui adanya transmigrasi jiwa (tanasukh= reinkarnasi), yaitu bahwa jiwa manusia sesudah lepas dari sesuatu badan akan kembali kepada badan lain, dan dari sini ke badan lain, dan begitu pula seterusnya, sedangkan transmigrasi jiwa ini ditentang oleh Ibnu Sina.
Jawaban al-Ghazali : Lebih banyak ditujukan kepada kemungkinan ketiga yang dikemukakan oleh filosof-filosof, dan lebih banyak didasarkan kepada alasan-alasana Syara’, daripada alasan-alasan argumentasi pikiran.
Dia mengatakan bahwa jiwa manusia tetap wujud sesudah mati (berpisah dengan badan), karena ia merupakan substansi yang berdiri sendiri. pendirian tersebut tidak berlawanan dengan Syara’. Bahkan ditunjukkannya seperti yang disebutkan di dalam QS. Ali-Imran/3: 169: “Jangan engkau kira bahwa mereka yang terbunuh pada jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhan-nya, mendapat rizqi dan gembira.”
Dan juga disebuutkan dalam hadits-hadits, antara lain yang menyatakan bahwa roh-roh itu merasakan adanya kebaikan dan pemberian sedekah, pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, siksa kubur, dan hadits-hadits lain yang kesemuanya ini menunjukkan keabadian. 
Kemudian ada nas-nas lain yang menyatakan adanya kebangkitan, yaitu kebangkitan badan. Kebangkitan ini adalah suatu hal yang mungkin, yaitu dengan jalan mengembalikan jiwa kepada badan. 
Yang penting ialah kembalinya sesuatu alat kepada manusia, yang memungkinkan dia merasakan kelezatan atau kepedihan jasmani. Kalau alat itu sudah dikembalikan seperti semula, yaitu badan, bagaimanapun juga macamnya alat itu maka yang sedemikian itu artinya kembali benar-benar (kebangkitan).
Tentang terbatasnya benda dan tidak terbatasnya jiwa maka tidak dapat dibenarkan, sebab menurut golongan  filosof, alam itu qadim, sedang jiwa manusia baru, jadi jiwa tidak mungkin lebih banyak dari pada benda-benda itu sendiri. Kalau sekiranya jiwa itu lebih banyak, apakah mustahil bagi Tuhan untuk membuat lagi benda yang baru untuk menjadi tempat jiwa?
Tentang perpindahan jiwa dari satu badan ke badan lain, memang tidak dibenarkan oleh al-Ghazali. Tetapi tentang kebangkitan jasmani di akhirat, yang berarti bahwa jiwa bertempat pada badan yang lain, maka dipercayainya, baik disebut transmigrasi-jiwa (tanasukh) atau tidak, selama hal itu sudah disebut oleh agama.
Tuhan telah membuat dari sperma yang ada di rahim wanita, anggota-anggota badan yang bermacam-macam, berupa daging, urat, syaraf, tulang-tulang, lemak dan sebagainya, kemudian mata, lidah, gigi, yang semuanya ini bereda keadaan sifat dan fungsinya, meskipun saling berdekatan dan berhubungan satu sama lain. Apakah Tuhan yang demikian kekuasan-Nya tidak sanggup membuat manusia yang sempurna dari tulang-belulangnya yang sudah rusak?









BAB III
PENUTUP

Al-Ghazali pada masa kecemerlangan intelektualnya merasa prihatin dan resah terhadap kondisi umat Islam waktu itu. Keresahannya terutama disebabkan oleh merajalelanya pemikiran yang berorientasi kuat pada Hellenisme, yaitu suatu paham yang dipengaruhi filsafat Yunani, seperti Mu’tazilah. Kelompok yang suka mengembangkan rasio ini juga dilapisi beberapa filosof muslim, seperti Ibnu sina dan Al-Farabi.
Dapat dikatakan bahwa Al-Ghazali datang tepat pada zamannya. Sebelumnya al-Asy’ari (wafat 300H/913M) dengan cemerlang telah men-TKO Mu’tazilah dalam ilmu kalam. Sementara itu, Al-Ghazali dalam filsafat memberikan tadzkirah atau warning terhadap pakar-pakar pemikir Islam tersebut.
Al-Ghazali mengkritik beberapa pemikiran para filosof yang tertuang di dalam karyanya Tahafut Al-Falasifah. Didalam karyanya tersebut terdapat 20 sanggahan Al-Ghazali terhadap pemikiran para filosof Islam, 17 persoalan diantaranya adalah persoalan-persoalan yang dibantah logikanya tapi belum tentu substansinya. Adapun tiga  persoalan / pikiran filsafat metafisika yang menurut Al-Ghazali sangat berlawanan dengan Islam, dan yang oleh karenanya para filosof harus dinyatakan sebagai orang ateis ialah: qadim-nya alam, tidak mengetahuinya Allah terhadap soal-soal peristiwa yang kecil, dan pengingkaran terhadap kebangkitan jasmani.










DAFTAR PUSTAKA

Imam Al-Ghazali. 2012. Tahafut al-Falasifah. Diterjemahkan oleh Ahmad Maimun. Bandung: Penerbit Marja
Abu Muhammad Iqbal. 2013. Konsep Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan. Madiun: Jaya Star Nine
Ahmad Hanafi. 1996. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: PT Bulan Bintang

LAPORAN KKN JURUSAN PENDIDIKAN

LAPORAN INDIVIDUAL

KKN TAHUN 2018





MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PAI DI DESA SUKAMANTRI






Oleh:
Kristin Wiranata
NIM. 1152020108








PUSAT PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
LEMBAR PENGESAHAN


Laporan Individu Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan basis pengabdian kepada masyarakat di Desa Sukamantri Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung dengan judul “Meningkatkan Motivasi Belajar PAI di Desa Sukamantri” telah diperiksa dan disahkan pada tanggal 15 September 2018







Dosen Pembimbing Lapangan Kepala Pusat pengabdian kepada
     Masyarakat-LP2M UIN SGD Bandung







Dr. Dian, M.Ag Dr. H. Ramdani Wahyu Sururie, M.Ag., M.Si
Nip.197607062007101004 Nip. 197210302001121002

















KATA PENGANTAR


Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penulis mampu menyusun tugas laporan individul yang berjudul ”Meningkatkan Motivasi Belajar PAI di Desa Sukamantri”
Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa tanpa bimbingan dan dorongan dari pihak-pihak yang terkait tidak mungkin selesai dengan baik. Maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
Orang tua saya yang telah memberikan dukungan baik moral maupun spiritual.
Bapak Dr. Dian, M.Ag selaku Dosen Pembimbing Lapangan.
Bapak Drs. Jaja Surjana Kades Sukamantri beserta seluruh perangkat desa yang telah membantu memperlancar program-program saya.
Tokoh-tokoh masyarakat dan warga masyarakat kampung Mantricina Desa Sukamantri yang telah bersedia menerima dan membantu saya selama melaksanakan KKN Sisdamas.
Rekan-rekan seperjuangan khususnya kelompok 456 KKN UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang telah membantu saya selama kegiatan berlangsung.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan individual ini masih jauh sekali dari kesempurnaan, untuk itu penulis mohon kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan dimasa yang akan datang.
Akhir kata semoga laporan individual ini dapat berguna bagi penulis khususnya dan bagi pembaca yang berminat pada umumnya.

Bandung, September 2018


Penulis









DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
DAFTAR TABEL iv
DAFTAR GAMBAR v
RINGKASAN EKSEKUTIF vi
PROLOG vii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Analisis Permasalahan 1
B. Identifikasi Masalah 5
C. Tujuan dan Manfaat 5
D. Metode Pengabdian 6
E. Kerangka Pemecahan Masalah 8
BAB II GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN 10
A. Monografi Desa 10
B. Kondisi Komunitas Sasaran 16
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN PENGABDIAN 17
A. Tahapan Pengabdian kepada Masyarakat 17
B. Hasil Pengabdian kepada Masyarakat 18
C. Faktor Pendukung dan Penghambat 23
BAB IV PENUTUP 24
A. Simpulan 24
B. Rekomendasi 24
DAFTAR PUSTAKA 25
BIODATA 26
LAMPIRAN 27

DAFTAR TABEL

Table 2 1 Jumlah Penduduk berdasarkan jenis kelamin 10
Table 2 2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Usia 10
Table 2 3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Tingkat Pendidikan 12
Table 2 4 Jumlah Penduduk Cacat Fisik 12
Table 2 5 Jumlah Penduduk Cacat Mental 12
Table 2 6 Jumlah Penduduk Berdasarkan Tenaga Kerja 13
Table 2 7 Jumlah Penduduk Berdasarkan Angkatan Kerja 13
Table 2 8 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan 14
Table 2 9 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Agama 14
Table 2 10 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kewarganegaraan 15
Table 2 11 Jumlah Penduduk Berdasarkan Etnis 15
Table 2 12 Sarana dan Prasaran Desa sukamantri 15

Table 3 1 Program Pengabdian Individu 20

















DAFTAR GAMBAR

gambar 3 1 Proses Kegiatan Belajar Mengajar PAI 21
gambar 3 2 Proses Belajar Mengajar PAI 21
gambar 3 3 Proses belajar Mengajar di Madrasah Diniyyah 22
gambar 3 4 Diskusi Dengan Staff Pengajar 22



















RINGKASAN EKSEKUTIF

Salah satu fenomena yang cukup memprihatinkan pada zaman kita saat ini adalah rendahnya semangat dan motivasi untuk menuntut ilmu agama. Ilmu agama seakan menjadi suatu hal yang remeh dan terpinggirkan bagi mayoritas kaum muslimin. Berbeda halnya dengan semangat untuk mencari ilmu dunia. Seseorang bisa jadi mengorbankan apa saja untuk meraihnya. 
Motivasi diri untuk terus belajar merupakan hal yang sangat penting bagi setiap individu, karena motivasi tersebut dapat menggugah diri untuk tetap bersemangat dalam belajar. Demikian pula dalam menuntut ilmu agama, diperlukan adanya motivasi yang berupa niat dan tekad yang kuat dalam upaya memperolehnya. Jika niat menuntut ilmu agama lemah dan rapuh maka ilmu agama yang dimiliki tidak akan bertambah dan tidak memiliki keberkahan.
Faktanya, lemahnya motivasi diri untuk belajar pada siswa ternyata menjadi masalah yang begitu membingungkan bagi guru, juga orangtua siswa. Misalnya banyak siswa yang menghabiskan tidur selama jam pelajaran berlangsung, siswa mengabaikan penjelasan guru, siswa lebih asyik dengan gawai ketimbang membaca buku, dan lain-lain. 
Berdasarkan permasalahan itu penulis memberikan salah satu solusi untuk mengatasi rendahnya motivasi belajar anak terhadap PAI, maka dari itu penulis menerapkan metode pembelajaran berbasis masalah agar terjadi pola interaksi multi-arah sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar anak. Selain menerapkan metode pembelajaran ini penulis juga menerapkan berbagai langkah lainnya untuk dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, seperti pemberian reward dan punishment, menyelikan humor di dalam pembelajaran dan lain sebagainya. 
Hasil yang di dapat dari penerapan beberapa hal di atas yaitu: meningkatnya motivasi belajar anak terhadap mata pelajaran PAI, timbulnya interaksi multi-arah di dalam pembelajaran, pembelajaran lebih terfokus kepada pendekatan pembelajaran yang terpusat pada siswa, siswa belajar dengan aktif dan siswa mampu mengungkapkan pemikirannya secara bebas namun tetap terarah.








PROLOG


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr.Wb

 Segala puji bagi allah SWT., atas rahmat dan inayah-Nya kita dapat melaksanakan program KKN sisdamas 2018 sesuai dengan apa yang direncanakan. shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW., keluarga dan sahabatnya serta para pengikutnya.
 Pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian integral dari tri darma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian. Sintesis dari pendidikan dan penelitian akan bermuara pada pengabdian yang mana dalam prakteknya dibutuhkan berbagai disiplin ilmu guna menghadapi kompleksitas permasalahan di masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat, sejatinya merupakan wahana bagi mahasiswa untuk menguji hasil pendidikan dan penelitian yang telah dilakukan selama proses perkuliahan. Pengabdian dalam arti luas dapat meliputi pengajaran, pelatihan, pendampingan dan advokasi, loka karya, ataupun pelatihan.
 Pengabdian yang diprogramkan di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung dinamakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). KKN yang diselenggarakan oleh Lembaga Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) pada tahun ini menggunakan sistem pemberdayaan masyarakat (sisdamas). KKN Sisdamas 2018 berfokus pada pemberdayaan masyarakat yang menempatkan mahasiswa sebagai pendamping, dengan diawali tahapan transect, sosialisasi awal, pemetaan sosial, perencanaan partisipatif, sampai pelaksanaan program.
 Kami, Dosen Pembimbing Lapangan, menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya seluruh program dengan baik, semoga dapat menjadi bekal berharga di masa yang akan datang. Ucapan terima kasih disampaikan pula kepada semua pihak yang telah membantu suksesnya kegiatan KKN Sisdamas 2018, jazakumullah ahsa al-jaza











BAB I
PENDAHULUAN

Analisis Permasalahan
Sebagian orang tua sangat senang jika anaknya bisa belajar sampai jenjang lebih tinggi. Tapi sedikit yang peduli akan pendidikan agama pada anak. Jika anak tidak bisa baca Al Qur’an tidaklah masalah, yang penting bisa menguasai bahasa asing terutama bahasa Inggris. Jika anak tidak paham agama tidak apa-apa, yang penting anak bisa komputer. Jadilah anak-anak muda saat ini jauh dari Islam, tidak bisa baca Qur’an, ujung-ujungnya gemar maksiat ditambah dengan pergaulan bebas yang tidak karuan. 
Salah satu fenomena yang cukup memprihatinkan pada zaman kita saat ini adalah rendahnya semangat dan motivasi untuk menuntut ilmu agama. Ilmu agama seakan menjadi suatu hal yang remeh dan terpinggirkan bagi mayoritas kaum muslimin. Berbeda halnya dengan semangat untuk mencari ilmu dunia. Seseorang bisa jadi mengorbankan apa saja untuk meraihnya. 
Sebagian di antara kita mungkin menganggap bahwa hukum menuntut ilmu agama sekedar sunnah saja, yang diberi pahala bagi yang melakukannya dan tidak berdosa bagi siapa saja yang meninggalkannya. Padahal, terdapat beberapa kondisi di mana hukum menuntut ilmu agama adalah wajib atas setiap muslim (fardhu ‘ain) sehingga berdosalah setiap orang yang meninggalkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)
Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas menyatakan bahwa menuntut ilmu itu hukumnya wajib atas setiap muslim, bukan bagi sebagian orang muslim saja. Lalu, “ilmu” apakah yang dimaksud dalam hadits ini? Penting untuk diketahui bahwa ketika Allah Ta’ala atau Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kata “ilmu” saja dalam Al Qur’an atau As-

Sunnah, maka ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i (ilmu agama), termasuk kata “ilmu” yang terdapat dalam hadits di atas.
Motivasi diri untuk terus belajar merupakan hal yang sangat penting bagi setiap individu, karena motivasi tersebut dapat menggugah diri untuk tetap bersemangat dalam belajar. Demikian pula dalam menuntut ilmu agama, diperlukan adanya motivasi yang berupa niat dan tekad yang kuat dalam upaya memperolehnya. Jika niat menuntut ilmu agama lemah dan rapuh maka ilmu agama yang dimiliki tidak akan bertambah dan tidak memiliki keberkahan.
Faktanya, lemahnya motivasi diri untuk belajar pada siswa ternyata menjadi masalah yang begitu membingungkan bagi guru, juga orangtua siswa. Misalnya banyak siswa yang menghabiskan tidur selama jam pelajaran berlangsung, siswa mengabaikan penjelasan guru, siswa lebih asyik dengan gawai ketimbang membaca buku, dan lain-lain. 
Sampai saat ini, tentu kita menemukan banyak siswa memiliki motivasi yang lemah dalam belajar, apalagi jika kita seorang pendidik. Untuk itu, kita perlu mengetahui apa penyebab kurangnya motivasi diri bagi siswa untuk tetap aktif dalam kegiatan belajar.
Ada beberapa faktor yang menjadikan lemahnya motivasi siswa dalam belajar seperti kurangnya perhatian guru terhadap siswanya. Hal utama yang perlu dilakukan sebagai seorang guru ialah mengevaluasi diri sendiri. Guru di sekolah bukan hanya berfungsi sebagai pendidik, tetapi juga sebagai motivator bagi siswanya. Peran guru dalam memotivasi siswa sangatlah penting, khususnya bagi siswa yang malas untuk belajar, dan siswa yang bermasalah. Sedikit banyaknya motivasi yang diberikan pasti akan tersirat di dalam hati para siswa. Bahkan fakta membuktikan bahwa guru yang lebih dekat dengan siswanya, sering berinteraksi dengan siswanya, dan sering memberikan motivasi, akan lebih disukai oleh siswanya.
Hal selanjutnya yang menjadi faktor lemahnya motivasi siswa dalam belajar adalah disebabkan karena gaya dan cara penyampaian materi oleh guru. Siswa pastinya akan merasa bosan dengan metode pengajaran yang monoton, penyampaian materi yang sulit dipahami, kurangnya pelibatan media belajar, guru yang asyik sendiri, dan lain-lain. Jika demikian, motivasi siswa untuk tetap memperhatikan materi akan semakin melemah jika guru tidak memberikan pemahaman yang baik bagi siswanya.
Lemahnya motivasi untuk belajar dalam diri siswa itu sendiri merupakan faktor utama yang dialami oleh kebanyakan siswa, sehingga hal ini menyebabkan siswa kurang berminat untuk belajar dan menghabiskan waktu beberapa tahun di sekolah dengan sia-sia. Siswa yang tidak memiliki impian dan cita-cita yang jelas, siswa yang tidak percaya diri dan merasa dirinya tidak pintar, siswa yang memiliki idealisme yang menganggap tujuan akhir pendidikan adalah hanya untuk mendapatkan pekerjaan saja yang pada akhirnya siswa tidak serius dalam hal pembelajaran, akan membuat siswa menjadikan pendidikan sebagai formalitas semata.
Faktor selanjutnya adalah masalah dalam kehidupan siswa yang menjadikan lemahnya motivasi diri untuk belajar seperti masalah keluarga, putus cinta, masalah dengan teman sebayanya, bolos sekolah, dan lain sebagainya. Siswa tidak berani menceritakan permasalahannya kepada orangtua, guru, bahkan teman dekatnya sekalipun, karena malu atau karena mereka beranggapan itu adalah hal privasi, yang pada akhirnya semua permasalahan yang dialaminya ia tanggung dan pendam sendiri, yang menyebabkan siswa tidak hanya bermasalah dalam hal akademik saja, tetapi psikologisnya pun ikut bermasalah.
Kurangnya perhatian orangtua juga dapat menjadi faktor lemahnya motivasi belajar pada anaknya. Orangtua menempati peran yang sangat penting sebagai motivator bagi pendidikan anak, karena secara tidak sadar apapun yang berasal dari orangtua baik sifat maupun sikap akan menjadi panutan anak begitu pula dalam masalah pendidikan anak. Saat ini, banyak orangtua yang kerap menyalahkan kenakalan anaknya kepada pihak sekolah. Padahal letak kesalahannya adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Kebanyakan orangtua tidak menyadari hal tersebut dikarenakan mereka sibuk bekerja dan beranggapan bahwa semua proses pembelajaran ditanggung oleh pihak sekolah.
Hal selanjutnya yang menjadi faktor lemahnya motivasi siswa dalam belajar di sekolah adalah pergaulan yang bebas. Mereka melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh pelajar, seperti pelecehan anak di bawah umur, mencuri, berjudi, merokok dan sebagainya. Mereka beranggapan bahwa begitulah seharusnya menikmati masa remaja. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar pun terbuang sia-sia, sehingga siswa tidak sadar keinginan untuk belajar semakin menurun. 
Walaupun tidak semua siswa yang bergaul dengan lingkungan yang kurang baik akan terbentuk menjadi anak yang tidak baik, tetapi mayoritas siswa yang sudah terjerumus dalam lingkungan yang bebas, maka perilaku dan pemikirannya bisa saja terpengaruhi oleh lingkungan luar yang saat ini semakin mengkhawatirkan. Sebagai guru dan orangtua, sebaiknya mereka memberi pemahaman yang lebih terkait dengan lingkungan yang hendak mereka masuki. Pengawasan yang baik dari kedua orangtua tentunya sangat penting agar anak merasa dirinya diperhatikan.
Selanjutnya adalah faktor kemajuan teknologi yang tidak bisa dipungkiri memang membawa kemudahan pada setiap aktivitas manusia. Meski demikian, kemajuan teknologi juga membawa dampak buruk terutama dalam hal pendidikan. Budaya-budaya luar yang terselip dalam fasilitas internet, program-program kurang mendidik, dan masih banyak hal lainnya dapat menghipnotis siswa untuk asyik bermain daripada belajar. Semua itu memperbanyak aktivitas siswa sehari-hari sampai melupakan belajar dan secara perlahan kemajuan hebat peradaban manusia melemahkan motivasi belajar dalam diri siswa. Kita bisa berasumsi bahwa siswa mampu bertahan lebih dari lima jam bermain games daripada satu jam belajar di sekolah. Jika siswa tersebut terus terbuai dan tidak bisa membatasi diri dari fasilitas teknologi yang kian menarik, maka permasalahan yang timbul tidak hanya melemahnya keinginan untuk belajar saja, tetapi siswa tersebut akan kecanduan yang dapat membahayakan pemikiran juga kesehatannya.
Ketika siswa mulai berpikir kritis, tentunya siswa harus tetap dapat pengawasan yang baik dari orang-orang terdekatnya, agar dapat membedakan mana yang baik untuk dijadikan patokan dan mana yang tidak baik untuk dijadikan patokan. Siswa pasti akan semakin penasaran dengan dunianya yang kian hari semakin berkembang. Oleh karena itu, sepatutnya orangtua di rumah dan guru di sekolah, lebih memperhatikan aktivitas siswanya agar siswa tetap menyadari bahwa pendidikan merupakan hal yang penting untuk masa depannya, dan tidak mengorbankan masa mudanya hanya untuk hal yang tidak ada maknanya.
Hadirnya peserta KKN (Kuliah Kerja Nyata) di lingkungan desa Sukamantri ini semoga dapat membawa perubahan baik pada anak-anak agar meningkatkan minat dan motivasi belajar ilmu agama. Anak-anak merupakan bibit generasi penerus peradaban yang harus benar-benar dipersiapkan untuk mewujudkan peradaban yang lebih baik, yang bisa membanggakan baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Identifikasi Masalah
Berdasarkan hal di atas akhirnya dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut :
Rendahnya motivasi belajar agama pada diri siswa
Guru PAI kurang variatif di dalam memilih metode pembelajaran
Pembelajaran PAI cenderung monoton

Tujuan dan Manfaat
Tujuan Pengabdian
Tujuan program kegiatan pengabdian PkM adalah untuk mendeskripsikan upaya peningkatan motivasi belajar pendidikan agama Islam baik dalam ruang lingkup pembelajaran formal dan non formal dalam lingkungan masyarakat Kampung Mantricina Desa Sukamantri.
Manfaat Pengabdian
Setelah program kegiatan PkM dilaksanakan, diharapkan dapat memberikan kegunaan atau manfaat sebagai berikut:
Bagi siswa:
Untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IV, V dan VI SDN Sukamantri Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung.
Untuk meningkatkan motivasi belajar siswa madrasah diniyah Bani Qosim kampung Mantricina desa Sukamantri kecamatan Paseh Kabupaten Bandung
Bagi pengabdi:
Program pengabdian ini merupakan salah satu usaha untuk memperdalam dan memperluas ilmu pengetahuan penulis. 
Meningkatkan keterampilan penulis untuk mengaplikasikan ilmu yang dimiliki penulis dalam praktik secara nyata.
Bagi prodi
Memperoleh umpan balik sebagai hasil pengintegrasian mahasiswanya dengan proses pembangunan di tengah –tengah masyarakat sehingga kurikulum, materi perkuliahan dan pembangunan ilmu pengetahuan yang diasuh di perguruan tinggi dapat lebih disesuaikan dengan tuntutan nyata dari pembangunan.
Memperoleh hasil kegiatan mahasiswa, dapat menelaah dan merumuskan keadaan/ kondisi masyarakat yang berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta dapat mendiagnosa secara tepat kebutuhan masyarakat sehingga ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang diamalkan dapat sesuai dengan tuntutan nyata.

Metode Pengabdian
Di dalam melakukan program kegiatan pengabdian berupa mengajar, penulis menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah. Melalui metode pembelajaran ini anak dituntut untuk dapat berpikir secara kritis untuk dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang di ajukan oleh guru.
Barrow mendefinisikan Pembelajaran berbasis masalah (Problem-based Learning/PBL) sebagai “pembelajaran yang diperoleh melalui proses menuju pemahaman akan resolusi suatu masalah. Masalah tersebut dipertemukan pertama-tama dalam proses pembelajaran”. PBL merupakan salah satu bentuk peralihan dari paradigma pengajaran menuju paradigma pembelajaran. Jadi, fokusnya adalah pada pembelajaran siswa dan bukan pada pengajaran guru.
Sementara itu, Loyd-Jones, Margeston, dan Bligh menjelaskan fitur-fitur penting dalam PBL. Mereka menyatakan bahwa ada tiga elemen dasar yang seharusnya muncul dalam pelaksanaan PBL: menginisiasi pemicu/masalah awal (initiating trigger), meneliti isu-isu yang diidentifikasi sebelumnya, dan memanfaatkan pengetahuan dalam memahami lebih jauh situasi masalah. PBL tidak hanya bisa diterapkan oleh guru dalam ruang kelas, akan tetapi juga oleh pihak sekolah untuk pengembangan kurikulum. Ini sesuai dengan definisi PBL yang disajikan oleh Maricopa Community Colleges, Centre for learning and instruction. Menurut mereka, PBL merupakan kurikulum sekaligus proses. Kurikulumnya meliputi masalah-masalah yang dipilih dan dirancang dengan cermat yang menuntut upaya kritis siswa untuk memperoleh pengetahuan, menyelesaikan masalah, belajar secara mandiri, dan memiliki skill partisipasi yang baik. Sementara itu, proses PBL mereplikasi pendekatan sistemik yang sudah banyak digunakan dalam menyelesaikan masalah atau memenuhi tuntutan-tuntutan dalam dunia kehidupan dan karier.
Sintak operasional PBL bisa mencakup antara lain sebagai berikut:
Siswa disajikan suatu masalah
Siswa mendiskusikan masalah dalam tutorial PBL dalam sebuah kelompok kecil. Mereka mengklarifikasi fakta-fakta suatu kasus kemudian mendefinisikan sebuah masalah. Mereka membainstroming gagasan-gagasannya dengan berpijak pada pengetahuan sebelumnya. Kemudian, mereka mengidentifikasi apa yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan masalah serta apa yang mereka tidak ketahui. Mereka menelaah masalah tersebut. Mereka juga mendesain suatu rencana tindakan untuk menggarap masalah.
Siswa terlibat dalam studi independen untuk menyelesaikan masalah di luar bimbingan guru. Hal ini bisa mencakup: perpustakaan, database, website, masyarakat, dan observasi.
Siswa kembali pada tutorial PBL, lalu saling sharing informasi, melalui peer teaching atau cooperative learning atas masalah tertentu.
Siswa menyajikan solusi atas masalah.
Siswa mereview apa yang mereka pelajari selama proses pengerjaan selama ini. Semua yang berpartisipasi dalam proses tersebut terlibat dalam review pribadi, review berpasangan, dan review berdasarkan bimbingan guru, sekaligus melakukan refleksi atas kontribusinya terhadap proses tersebut.
Adapun alasan penulis menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah adalah:
Terjadinya interaksi yang dinamis diantara guru dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan siswa.
Siswa memiliki keterampilan mengatasi masalah.
Siswa memiliki kemampuan mempelajari peran orang dewasa.
Siswa dapat menjadi pembelajar yang mandiri dan independent
Siswa memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi

Kerangka Pemecahan Masalah
Metode pembelajaran berbasis masalah adalah suatu metode pembelajaran yang dirancang pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah agar siswa mendapat pengetahuan penting. Dengan demikian diharapkan siswa mahir dalam memecahkan masalah, memiliki model belajar sendiri dan memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Dengan terjalinnya multi-interaksi di dalam metode pembelajaran ini sehingga dengan metode ini dapat menghasilkan pembelajaran yang menyenangkan dan dapat membangun motivasi untuk semangat dalam belajar.
Selain menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah, penulis juga menerapkan berbagai kiat lainnya untuk dapat meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama islam bagi siswa, diantaranya:
Menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa
Bangkitkan semangat belajar dan berikan perhatian kepada siswa.
Menggunakan model pembelajaran dan metode pembelajaran yang variatif
Menyiapkan media yang tepat dengan materi 
Memunculkan kompetisi atau saingan yang positif
Membantu kesulitan belajar siswa
Memberikan pujian terhadap siswa yang berprestasi
Memberikan sangsi atau hukuman terhadap siswa yang membuat kesalahan
Memberikan reward atau hadiah kepada siswa yang terbaik
Menyelipkan humor di dalam pembelajaran






























BAB II
GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN


Monografi Desa
Jumlah Penduduk berdasarkan jenis kelamin
Jumlah laki-laki
8.239 orang

Jumlah perempuan
8.175 orang

Jumlah total
16.414 orang

Jumlah kepala keluarga
4.472 KK

Kepadatan penduduk
0,5 per Km

Table 2 1 Jumlah Penduduk berdasarkan jenis kelamin
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Usia
Usia
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

0-4 tahun
682
696

5-9 tahun
890
902

10-14 tahun
947
965

15-19 tahun
648
626

20-24 tahun
846
800

25-29 tahun
752
738

30-34 tahun
606
722

35-38 tahun
425
365

39-43 tahun
487
457

44-49 tahun
581
525

50-52 tahun
259
247

53-55 tahun
252
234

56-59 tahun
252
283

60-64 tahun
280
266

65-69 tahun
152
152

70-75 tahun
143
144

Lebih dari 75 tahun
37
53

Total
8.239
8.175

Table 2 2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Usia

Dari data jumlah penduduk berdasarkan usia tersebut, dapat kita lihat bahwa, jumlah angkatan kerja yang tergolong usia produktif atau usia angkatan kerja 15-64 tahun berjumlah 10.651 orang, sedangkan jumlah penduduk yang bukan angkatan kerja memiliki jumlah 5.763 orang, sehingga angka tanggungan usia angkatan kerja terhadap usia non- angkatan kerja berjumlah 1,8 hal tersebut menunjukkan setiap orang yang tergolong angkatan kerja menanggung 2 orang usia yang non-produktif.

Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Tingkat Pendidikan
Tingkatan Pendidikan
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Usia 3-6 tahun yang belum masuk TK
29
33

Usia 3-6 tahun yang sedang TK/Play group
79
91

Usia 7-18 tahun yang tidak pernah sekolah
123
102

Usia 7-18 tahun yang sedang sekolah
834
789

Usia 18-56 tahun tidak pernah sekolah
15
25

Usia 18-56 tahun tidak tamat SD
98
91

Usia 18-56 tahun tidak tamat SLTP
1.808
1.542

Usia 18-56 tahun tidak tamat SLTA
242
253

Tamat SD/sederajat
84
96

Tamat SMP/Sederajat
1.445
1.329

Tamat SMA/Sederajat
1.542
1.851

Tamat D-1/Sederajat
23
23

Tamat D-2/Sederajat
142
143

Tamat D-3/Sederajat
41
41

Tamat S-1/Sederajat
206
200

Tamat S-2/Sederajat
5
-

Tamat S-3/Sederajat
1
-

Tamat SLB A
-
-

Tamat SLB B
-
-

Tamat SLB C
-
-

Jumlah
6.717
6.609

Jumlah Total
13.326

Table 2 3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Tingkat Pendidikan
Jumlah Penduduk Cacat Mental dan Fisik
Jenis Cacat Fisik
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Tuna rungu
41
18

Tuna wicara
17
4

Tuna netra
6
-

Lumpuh
12
8

Sumbing
3
1

Cacat kulit
4
1

Cacat fisik/tuna daksa lainnya
3
1

Jumlah
86
33

Table 2 4 Jumlah Penduduk Cacat Fisik
Jenis Cacat Mental
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Idiot
1
2

Gila
2
1

Stress
-
-

Autis
-
-

Jumlah
3
3

Table 2 5 Jumlah Penduduk Cacat Mental
Jumlah Penduduk Berdasarkan Tenaga Kerja dan angkatan kerja
Tenaga Kerja
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Penduduk usia 18-56 tahun
4.508
4.376

Penduduk usia 18-56 tahun yang bekerja
1.985
2.432

Penduduk usia 18-56 tahun yang belum/tidak bekerja
2.523
1.944

Penduduk usia 56 tahun ke atas



Angkatan kerja



Jumlah
4.508
4.376

Jumlah total (laki-laki+perempuan)
8.884


Table 2 6 Jumlah Penduduk Berdasarkan Tenaga Kerja
Jumlah tenaga kerja penduduk yang berusia 18-56 tahun sebanyak 8.884 orang, yang bekerja sebanyak 4.417 orang dan yang belum atau tidak bekerja sebanyak 4.467 orang. Berikut adalah rincian penduduk berdasarkan kualitas angkatan kerja.
Angkatan Kerja
Laki-laki 
(orang)
Perempuan 
(orang)

Penduduk usia 18-56 tahun yang buta aksara dan huruf/angka latin



Penduduk usia 18-56 tahun yang tidak tamat SD
95
89

Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat SD
1.407
1.416

Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat SLTP
252
265

Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat SLTA
1.524
1.862

Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat Perguruan Tinggi
43
34

Jumlah
3.321
3.666

Table 2 7 Jumlah Penduduk Berdasarkan Angkatan Kerja
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Jenis Pekerjaan
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Petani
71
46

Buruh tani
85
52

Buruh migran
-
-

Pegawai Negeri Sipil
151
141

Pengrajin industri rumah tangga
71
96

Pedagang keliling
158
76

Peternak
2
-

Dokter swasta
-
-

Bidan swasta
-
-

Pensiunan TNI/POLRI
482
421

TNI
52
-

POLRI
135
173

Pengusaha kecil
1.242
9

Montir
2
-

Notaris
-
4

Dukun Kampung Terlatih
-
3

Jasa Pengobatan Terlatih
1
-

Dosen Swasta
3
-

Arsitektur
1
-

Seniman/Artis
2
2

Karyawan Perusahaan Swasta
5.882
3.437

Karyawan Perusahaan Pemerintah
7
2

Perawat Swasta
-
71

Jumlah
8.347
4.533

Jumlah Total Penduduk
12.880

Table 2 8 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Agama
Agama
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Islam
8.150
8.079

Kristen
48
53

Kathotik
41
43

Dan Lain-lain
0
0

Jumlah
8.239
8.175

Table 2 9 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Agama
Jumlah Penduduk Berdasarkan Kewarganegaraan
Kewarganegaraan
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Warga Negara Indonesia
8.239
8.175

Warga Negara Asing



Dwi Kewarganegaraan



Jumlah
8.239
8.175

Table 2 10 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kewarganegaraan
Jumlah Penduduk Berdasarkan Etnis
Etnis
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Aceh
5


Batak
92
98

Sunda
7.866
7.836

Jawa
276
241

Jumlah
8.239
8.175

Table 2 11 Jumlah Penduduk Berdasarkan Etnis
Sarana dan Prasarana
No
Sarana 
Jumlah

1
kantor kepala Desa
1

2
Posyandu
16

3
Masjid
15

4
Tk 
3

5
Gedung tempat bermain anak
6

6
SD
7

7
SMP
2

8
SMA
2

9
Perpustakaan desa
1

10
Puskesmas pembantu
1

11
Lapangan bulu tangkis
1

12
Toko obat
2

13
Rumah bersalin
1

14
Balai kesehatan ibu dan anak
1

Table 2 12 Sarana dan Prasaran Desa sukamantri
Kondisi Komunitas Sasaran
Berdasarkan hasil pengamatan data-data lengkap yang diperoleh mengenai monografi, topografi serta analisis geografis wilayah. Desa Sukamantri memiliki banyak keunikan dan potensi yang menarik untuk dicermati.
Secara khusus di wilayah kampung Mantricina Desa Sukamantri, masyarakatnya sudah tergolong masyarakat semi-modern (tradisional modernis) tidak terlalu tradisional dan juga modern. Daerah ini dahulunya terdapat banyak kebun-kebun, namun seiring perkembangan zaman banyak bangunan-bangunan yang mulai didirikan seperti banyaknya rumah-rumah, toko, ataupun bangunan lainnya. Mata pencaharian utama di desa ini ialah menjadi buruh pabrik.
Jalan menuju kampung mantricina desa Sukamantri ini pun sudah mulai bagus namun masih ada sebagian kecil yang belum di aspal, akses menuju desa ini bisa menggunakan motor dan juga mobil. 
Tidak sedikit pemuda di wilayah ini mengalami putus sekolah, padahal wajib sekolah 9 tahun yang disahkan oleh pemerintah. Selain itu, banyak juga warga yang acuh terhadap pembelajaran anaknya di sekolah. Dalam pendidikan, tidak sedikit orang tua siswa yang memiliki latarbelakang pendidikan yang rendah. Sehingga penulis mengamati ada beberapa orang tua yang belum paham tentang perkembangan pendidikan dari sisi pola asuh. Sehingga apa yang di ajarkan guru di sekolah ataupun dilembaga pendidikan non-formal lainnya tidak di terapkan di rumah karena perspektif pola asuh yang dikatakan masih awam. Sehingga orangtua sukar untuk menerima ilmu baru dalam pola asuh. 









BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN PENGABDIAN


Tahapan Pengabdian kepada Masyarakat
Tahapan pengabdian kepada masyarakat terkait dengan pendidikan dan minat mempelajari ilmu agama Islam khususnya pada anak SD, penulis memilih mengadakan bimbingan belajar rutin untuk membantu anak-anak belajar PAI. Bagi siswa madrasah diniyah penulis membantu mengajarkan PAI pula di madrasah, seperti tahfidz, baca tulis al-Qur’an, pembelajaran tajwid, dan lain sebagainya. Selain di sekolah dan di madrasah diniyyah penulis juga membantu mengajar mengaji di salah satu kediaman masyarakat setempat. Berikut adalah tahap-tahap pelaksanaan bimbingan belajar khususnya PAI:  
Identifikasi
Identifikasi adalah suatu kegiatan yang berupaya untuk menemukan siswa yang mengalami kesulitan belajar PAI khususnya dalam baca tulis al-Qur’an dengan mencari informasi tentang siswa melalui: 
Melakukan wawancara dengan siswa untuk mengetahui kesulitan  
Bertanya kepada guru mapel PAI mengenai data siswa yang mengalami kesulitan 
Diagnosis 
Diagnosis adalah keputusan atau penentuan mengenai hasil dari pengolahan data. Diagnosis ini dapat berupa hal-hal sebagai berikut:
Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar PAI siswa
Keputusan mengenai faktor-faktor yang menjadi sumber kesulitan belajar PAI
Prognosis 
Prognosis merupakan aktifitas penyusunan rencana atau program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar anak didik terhadap mata pelajaran PAI. Prognosis dapat diartikan rencana apa yang telah diterapkan dalam tahap 

diagnosis yang akan menjadi dasar utama dalam menyusun dan menetapkan ramalan mengenai bantuan apa yang harus diberikan kepada siswa untuk membantu mengatasi masalahnya. Prognosis tersebut berupa:  
Bentuk treatment yang harus diberikan
Bahan atau materi yang diperlukan
Metode yang akan digunakan
Alat bantu belajar mengajar yang diperlukan
Waktu kegiatan dilaksanakan 
Terapi atau pemberian bantuan
Terapi ini berupa pemberian bantuan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk terapi yang akan diberikan antara lain:  
Bimbingan belajar kelompok
Bimbingan belajar individual
Pemberian bimbingan pribadi 
Tindak lanjut atau follow up
Tindak lanjut atau follow up adalah suatu usaha untuk mengetahui keberhasilan bantuan yang telah diberikan kepada siswa dan tindak lanjutnya. Dalam kegiatan tindak lanjut mendasarkan hasil evaluasi dan analisisnya.

Hasil Pengabdian kepada Masyarakat
Kegiatan pembelajaran PAI dalam ruang lingkup lembaga pendidikan formal dan non-formal adalah sebagai berikut:
No
Waktu
Tempat
Kegiatan dan Pembahasan Materi
Evaluasi

1
9-08-2018
SDN Sukamantri
Memahami Asmaul Husna
Siswa sangat tertarik dengan pembahasan yang disampaikan oleh guru bahkan siswa pun dapat menjawab post test yang diberikan guru diakhir pembelajaran

2
10-08-2018
SDN Sukamantri
Hablumminal ‘alam (mencintai lingkungan)
Siswa dapat memberikan berbagai solusi sebagai upaya memperbaiki alam

3
24-08-2018
SDN Sukamantri
Mensyukuri anugerah yang Allah berikan dengan berpikir kritis
Siswa mampu memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan yang guru berikan bahkan siswa mengkritisi materi yang disampaikan oleh guru

4
6-08-2018
Rumah Warga
Mempelajari Ilmu Tajwid
Masih terdapat beberapa murid yang belum memahami ilmu tajwid dengan benar

5
13-08-2018
Rumah warga
Mempelajari Rukun Iman
Siswa sangat antusias mempelajari rukun iman

6
8-08-2018
Madrasah Diniyyah Bani Qosim
BTQ
Masih terdapat beberapa siswa yang belum lancar dalam membaca al-Qur’an dan memerlukan bimbingan dan pengajaran lebih lanjut

7
20-08-2018
Madrasah Diniyyah Bani Qosim
Tahfidz
Siswa dapat menghafal surat pilihan dengan baik

8
25-08-2018
Posko KKN kelompok 456
Belajar bahasa arab dengan bernyanyi
Siswa mampu menyanyikan lagu berbahasa arab akan tetapi di dalam pelafalan perlu diperbaiki dan dilatih lagi

9
13-08-2018
PAUD Bani Qosim
Belajar doa-doa pendek
Siswa mampu mengikuti KBM dengan baik

10
1-09-2018
Madrasah Diniyyah Bani Qosim
Mendirikan rumah baca yang agamis, inovatif, dan inspiratif
Masyarakat menyambut dengan positif

Table 3 1 Program Pengabdian Individu
Dokumentasi kegiatan diarsipkan dalam bentuk gambar, sebagai berikut: 

gambar 3 1 Proses Kegiatan Belajar Mengajar PAI

gambar 3 2 Proses Belajar Mengajar PAI



gambar 3 3 Proses belajar Mengajar di Madrasah Diniyyah

gambar 3 4 Diskusi Dengan Staff Pengajar


Faktor Pendukung dan Penghambat
Selama proses bimbingan belajar faktor pendukungnya adalah anak-anak di desa Sukamantri antusias dan semangat dalam proses belajar mengajar mata pelajaran PAI sehingga memudahkan pengajar untuk menjalankan program yang sudah direncanakan. Selain itu, para orang tua mendukung anak-anaknya untuk mengikuti program belajar bahasa arab yang diadakan di posko kelompok 456. Masyarakat pun antusias untuk mendorong anak-anaknya agar mengikuti program pengajaran baik di madrasah diniyyah dan program pengajaran agama yang dilakukan di rumah warga.  
Faktor penghambat dari proses bimbingan belajar diantaranya masih ada anak-anak yang tidak mau belajar karena alasan malu. Dan ada juga beberapa orang tua yang menganggap cukup jika anaknya sudah mendapatkan pendidikan agama di sekolah sedangkan di rumah anak tersebut dirasa tidak perlu mendapatkan pendidikan agama lebih lanjut. Padahal waktu belajar PAI di sekolah sangatlah singkat dan tidak memungkinkan bagi guru untuk mampu menanamkan nilai-nilai spiritual secara optimal ke dalam karakter anak didik. Selain itu penulis mendapati ada murid yang memiliki kesulitan dalam belajar seperti tidak bisa calistung padahal siswa tersebut sudah menduduki kelas 4,5 dan 6 SD. Tentu penulis harus memberikan perhatian lebih ekstra terhadap beberapa anak tersebut.














BAB IV
PENUTUP

Simpulan
Pembelajaran PAI dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah cukup efektif karena anak lebih antusias dengan memberikan respon positif untuk mengikuti kegiatan bimbingan belajar PAI baik di sekolah maupun di luar sekolah sehingga dengan demikian motivasi anak dalam belajar PAI pun meningkat. Metode pembelajaran ini sangat membantu anak di dalam meningkatkan daya pikir kritis pada anak. Dengan menerapkan metode tersebut anak-anak lebih terdorong untuk belajar secara aktif dan menggunakan daya berpikirnya untuk menyelesaikan dan memberi solusi terhadap masalah yang disajikan. Sehingga terjadilah pola interaksi yang multi-arah di dalam pembelajaran PAI sehingga anak termotivasi untuk belajar PAI bersama teman-temannya.
Mengenai faktor hambatan, tidak terlalu banyak hambatan dan kesulitan sehingga kegiatan belajar mengajar dari awak sampai akhir berjalan dengan cukup baik.

Rekomendasi
Pelaksana KKN diharapkan tetap menggunakan sistem pemberdayaan masyarakat untuk mengoptimalkan masa pengabdian mahasiswa pada masyarakat. Selain itu, penambahan masa KKN dengan lebih dari sebulan akan lebih baik agar masa pengabdian mahasiswa kepada masyarakat bisa lebih maksimal.











DAFTAR PUSTAKA

Arsip monografi Desa Sukamantri Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung
Miftahul Huda. 2014. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-Isu Metodis dan Pradigmatis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Pedoman Buku Panduan KKN SISDAMAS (Kuliah Kerja Nyata Berbasis Pemberdayaan Masyarakat) Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung Tahun 2018




























BIODATA





Nama : Kristin Wiranata
TTL: Tangerang, 13-10-1997
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Fakultas: Tarbiyah dan Keguruan
No. HP: 088218652494
Alamat: komplek Pindad No. 13 RT.3 RW.21 Desa Margasari Kec. Buah batu Kota Bandung
























LAMPIRAN



Foto Upacara dengan Para Siswa dan Para Tenaga Pendidik

Foto bersama para siswa SDN Sukamantri



Foto Perpisahan Mahasiswa KKN kelompok 456 dengan Para Siswa

Foto Peresmian Rumah Baca Insan Cita Di Desa Sukamantri

pantaskah aku untuk belajar

*قال المنصور بن المهدي للمأمون* :  "*أيحسن بمثلي أن يتعلم*؟" فقال : "*والله لأن تموت طالباِ للعلم خير من أن تموت قانعاً بالجه...