📮‘Ubaidullah bin Syumaith bin ‘Ajlan berkata, “Aku mendengar ayahku berkata:
🍃Sesungguhnya seorang mukmin berkata kepada dirinya sendiri: Hidup ini hanyalah tentang tiga hari.
🌤️Kemarin telah berlalu bersama segala yang ada di dalamnya.
Adapun esok hanyalah harapan, barangkali engkau tidak sempat mencapainya.
🌱Jika engkau memang termasuk orang yang masih diberi hidup sampai esok, maka *esok akan datang bersama rezeki untuk hari esok*.
*🍂Sebelum esok tiba*, masih ada *satu hari dan satu malam*, yang *di dalamnya banyak jiwa dicabut*. Barangkali engkaulah salah satu yang dicabut pada waktu itu.
🌙Cukuplah setiap hari memiliki bebannya sendiri.
🥀Namun engkau telah membebani hatimu yang lemah dengan kegelisahan bertahun-tahun dan berbagai masa; *kegelisahan tentang mahal dan murahnya harga*, *kegelisahan* tentang musim dingin sebelum musim dingin datang, dan *kegelisahan* tentang musim panas sebelum musim panas tiba.
🍂Lalu, apa yang masih engkau sisakan dari hatimu yang lemah itu untuk akhiratnya?
🌤️Setiap hari umurmu berkurang, tetapi engkau tidak bersedih. Setiap hari rezekimu telah engkau terima dengan sempurna, tetapi engkau tetap tidak merasa cukup.
🍃Engkau telah diberi sesuatu yang mencukupimu, namun engkau masih mencari sesuatu yang dapat membuatmu melampaui batas.
🍂Dengan yang sedikit engkau tidak merasa cukup, dan dengan yang banyak pun engkau tidak pernah kenyang.
🍃Bagaimana mungkin kebodohan seseorang yang berilmu tidak tampak jelas, sementara ia saja tidak mampu mensyukuri nikmat yang sedang ia miliki, tetapi masih tertipu dalam mengejar tambahan?
🍂Atau bagaimana mungkin seseorang dapat beramal untuk akhirat, sementara syahwatnya terhadap dunia tidak pernah terputus dan kerakusannya terhadap dunia tidak pernah selesai?
🌤️Maka sungguh mengherankan, sangat mengherankan, orang yang membenarkan adanya negeri kehidupan yang sebenarnya, tetapi ia justru bersungguh-sungguh mengejar negeri yang menipu.”
📚Qisharul Amal, Ibn Abī ad-Dunyā, hlm. 56
📂https://t.me/rihlahthalabah