KONDISI BELAJAR

 KONDISI BELAJAR (KONSEP DASAR, PERANAN FAKTOR KOGNITIF DAN AFEKTIF DALAM BELAJAR)
MAKALAH

Dalam rangka melengkapi tugas perkuliahan mata kuliah 
Psikologi Pendidikan
Dosen
H. Tarsono, M.PD.I.
Kelompok III 

Heriana 1152020090
Indah Faridiawati 1152020097
Jejen Jaenul M 1152020103
M. Faris Rasyadan 1152020120
Maisaroh Ritonga 1152020125
Maspupah Zakiah 1152020130







JURUSAN/PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016

KATA PENGANTAR


Segala Puji dan Syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT. yang mana karena limpahan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepda semua pihak yang telah membantu baik dari segi apapun, sehingga makalah ini berjalan dengan baik. Makalah ini bertujuan untuk memenuhi syarat nilai mata kuliah Psikologi Pendidikan dan untuk mengetahui kondisi belajar. Penulis menyadari bahwa apa yang disajikan dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, baik menyangkut isi maupun penulisan. Kekurangan-kekurangan tersebut terutama disebabkan karenakan keterbatasan pengetahuan serta kemampuan penulis. Hanya dengan bantuan dari berbagai pihak untuk memberikan kritik dan saran yang membangun maka kekurangan-kekurangan tersebut dapat menjadi lebih baik. Dengan tersusunnya makalah ini penulis berharap ilmu yang telah di sajikan dapat bermanfaat bagi kehidupan kita semua.


Bandung, 04 Oktober 2016
Penulis






DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN  
Latar Belakang Masalah 
Rumusan Masalah 
Tujuan  
BAB II PEMBAHASAN 
Pengertian Kondisi Belajar 
Faktor Kondisi Belajar 
Faktor Internal 
Faktor Eksternal 
Faktor Kognitif 
Faktor Afektif 
BAB III PENUTUP 
KESIMPULAN 
DAFTAR PUSTAKA 






BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang masalah
Menurut C.T. Morgan dalam buku Introduction To Psychology, Belajar adalah suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat/hasil dari pengalaman yang lalu. Ringkasnya ia mengatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman siswa mengalami suatu proses belajar.
Menurut Syai’ful Bahri Djamarah dalam bukunya “Psikologi Belajar” pengertian belajar adalah serangkai kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotorik.
Secara umum faktor-faktor yag mempengaruhi proses hasil belajar dibedakan atas dua kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebut saling memengaruhi dalam proses individu sehingga menentukan kualitas hasil belajar. Tugas utama seorang Guru adalah membelajarkan siswa. Ini berarti bahwa bila Guru bertindak mengajar, maka diharapkan siswa untuk mampu belajar. Hal-hal seperti berikut, diantaranya Guru telah mengajar dengan baik, ada siswa yang belajar dengan giat, siswa yang berpura-pura belajar, siswa yang belajar dengan setengah hati, bahkan adapula siswa yang sesungguhnya tidak belajar. Maka dari itu, sebagai Guru yang professional harus berusaha mendorong siswa agar belajar dengan baik. 
Ada beberapa aspek yang menentukan keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar, menurut Lukmanul Hakim “Tiga aspek yang mempengaruhi keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar yaitu: kepribadian, pandangan terhadap anak didik dan latar belakang guru”.
Terdapat bermacam-macam hal yang menyebabkan siswa tidak belajar seperti siswa yang enggan belajar karena latar belakang keluarga, lingkungan, maupun situasi dan kondisi di kelas. Maka sebagai calon guru kita harus dapat memahami faktor-faktor dari kondisi belajar yang akan penulis paparkan dalam makalah ini.



















Pengertian Kondisi Belajar
Kondisi belajar merupakan suatu keadaan yang mempengaruhi proses dan hasil belajar. Kondisi belajar yang baik akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang baik, begitu pula sebaliknya.
Menurut Gagne dalam bukunya “Condition of learning” (1977) menyatakan bahwa “Kondisi belajar adalah suatu situasi belajar (learning situation) yang dapat menghasilkan perubahan perilaku (performance) pada seseorang setelah ia ditempatkan pada situasi tersebut”.
Gagne membagi kondisi belajar atas dua, yaitu:
1. Kondisi internal (internal condition) adalah kemampuan yang telah ada pada diri individu sebelum ia mempelajari sesuatu yang baru yang dihasilkan oleh seperangkat proses transformasi.
2. Kondisi Eksternal (eksternal condition) adalah situasi perangsang di luar diri si belajar.
Kondisi belajar yang diperlukan untuk belajar berbeda-beda untuk setiap kasus. Begitu pula dengan jenis kemampuan belajar yang berbeda akan membutuhkan kemampuan belajar sebelumnya yang berbeda dan kondisi eksternal yang berbeda pula.
Gagne (dalam Richey, 2000) menyatakan bahwa dibutuhkan belajar yang efektif untuk berbagai jenis/ kategori kemampuan belajar. Kondisi belajar dibagi atas lima kategori belajar sebagai berikut:
1. Keterampilan intelektual (Intellectual Skill): kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali keterampilan keterampilan bawahan (yang sebelumnya), pembimbing dengan kata-kata atau alat lainnya, pendemonstrasian penerapan oleh siswa dengan diberikan balikan, pemberian review.
2. Informasi verbal (Verbal Information): kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali konteks dari informasi yang bermakna, kinerja (performance) dari pengetahuan baru yang konstruktsi, balikan
3. Stategi kognitif (Cognitive Strategy/problem solving): kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali aturan-aturan dan konsep-konsep yang relevan, penyajian situasi masalah baru yang berhasil, pendemonstrasian solusi oleh siswa.
4. Sikap (Attitude): kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali informasi dan keterampilan intelektual yang relevan dengan tindakan pribadi yang diharapkan. Pembentukan atau pengingatan kembali model manusia yang dihormati, penguatan tindakan pribadi dengan pengalaman langsung yang berhasil maupun yang dialami oleh orang lain dengan mengamati orang yang dihormati.
5. Keterampilan motorik (Motor Skill): kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali rangkaian unsur motorik, pembentukan atau pengingatan kembali kebiasaan-kebiasaan yang dilaksanakan, pelatiahn keterampilan-keterampilan.

Faktor Kondisi Belajar
secara gelobal, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi tiga macam, yakni:
faktor intertaal(faktor dari dala siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa
faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa 
faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa ang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari mater-materi pelajaran. 
Faktor Internal (Faktor Individual)
aspek fisiologis
kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi jikadi sertai sakit kepala misalnya, dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang di pelajarinyapun kurang atau tidak berbekas. Untuk mempertahankan tonus jasmani agar tetap bugar, siswa sangat di anjurkan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi. Selain itu, kondisi organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indra pendengar dan indra pengliht, juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan, khususnya yang di sajikan di kelas. Daya pendengaran dalam penglihatan siswa yang rendah, umpamanya, akan menyulitkan sensori register dalam menyerap item-item informasi yang bersifat echoic dan econic (gema dan citra.) akibat negatif selanjutnya adalah terhambatnya proses informasi yang dilakukan oleh sistem memori siswa tersebut. Untuk mengatasi kemungkinan timbulnya masalah mata dan telinga di atas, anda selaku guru yang profesional seyogianya bekerjasama dengan pihak sekolah untuk memeroleh bantuan pemeriksaan rutin (periodik) dari dinas-dinas kesehatan setempat.
Aspek Psikologis
Banyak faktor yang termasuk aspek pikologis yang dapat mempengaruhi uantitas dan kualitas dan perolehan belajar siswa. namun, diantara faktor-fator rohaniyah siswa yang pada umumnya di pandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut: 
intelegensi siswa 
Kecerdasan ini di artikan sebagai kemampuan psiko-fisik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Kecerdasan merupakan faktor sangat penting dalam proses belajar siswa dan menentukan kualitas belajar siswa.
intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemempuan psikopisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat( reber, 1998). jadi, intelegensi sebenarnya bukan persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organ-organ tubuh lainnya. akan tetapi, memang harus duakui bahwa peran otak dalam hubungannya dengan intelegensui manusia lebih menonjol daripada peran organ-organ tubuh lainnya. 
tingkat kecerdasan atau intelegensi (iq) siswa tak dapat diragukan lagi sangat menentukan tingkat keberhasilan siswa ini bermakna, semakin tinggi kemampun intelegensi siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, makin rendah kemmpuan integensi sesorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh sukses. 
Sikap Siswa
Sikap adalah gejala internal yang berupa kecenderungan untuk merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap obyek, orang , peristiwa, dan lain-lain, baik secara positif maupun negatif. Sikap (attitude) siswa yang positif, terutama kepada anda dan mata pelajaran yang anda sajikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa tersebut. Sebaliknya, sikap negatif siswa terhadap anda dan mata pelajaran anda, apalagi jika diiringi kenbencian kepada anda atau mata pelajaran anda, anda dapat menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut. Untuk mengantisipasi kemungkinan muncul sikap negatif siswa seperti di atas, guru di tuntun untuk terlebih dahuu menunjukan sikap positif terhadap dirinya sendiri dan terhadap mata pelajaran yang menjadi haknya. Dalam hal bersikap positif terhadap mata pelajarannya, seorang guru sangat di anjurkan untuk senantiasa mengahargai dan mencintai profesinya.
Bakat Siswa 
Bakat adalah kemampuan seseorang yang menjadi salah satu komponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Secara umum, bakat (attitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Chaplin,1972:Riber,1988). 
Dengan demikian, sebetulnya setiap orang pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi unyuk mencapai prestasi sampe ketingkat tertentu sesuai kapasitas masing-masing. Dalam perkembangan selanjutnya, bakat kemudian di artikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tana banyak bergantung pada upaya pendidikan dan pelatihan. 
Minat Siswa
Minat adalah kecenderunagan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber (1988), minata tidak termasuk istilah populer dalam psikologi karena kebergantuingannya yang banyak pada faktor-faktor internal lainnya seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi dan kebutuhan.
Motivasi Siswa
Motivasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah dan menjaga perilaku. Sedangkan pengertian dasar motivasi adalah keadaan internal organisme baik manusia ataupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (enegizer) untuk bertingkah laku secara terarah (Geleitman,1986.,Raber, 1988).
Dalam perkembangan selanjutnya,motivasi dapat di bedakan menjadi dua macam, yaitu:
Motivasi intrinsik 
Yaitu hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. 
Motivasi ekstrinsik 
Yaitu hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. 
Faktor Eksternal (Faktor Sosial)
Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar diri individu yang dapat mempengaruhi proses belajar. Faktor eksternal dibagi menjadi menjadi 2, yaitu:
Lingkungan Sosial 
Yaitu lingkunagan sekolah seperti para guru, para tenaga kependidikan, (kepala sekolah dan wakil-wakilnya) dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi semangat belajar seorang siswa. Selanjutnya, yaang termasuk lingkungan sosial siswa adalah masyarakat dan tetangga juga teman-teman sepermainan disekitar perkamupungan siswa tersebut. Lingkungan sosial yang lebih banyak memengaruhi kegiatan belajar ialah orangtua dan keluarga siswa itu sendiri.
Lingkungan non sosial 
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan non sosial oalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. 
Menurut J. Biggers (1980) berpendapat bahwa belajar pada pagi hari lebih efektif daripada belajar pada waktu-waktu lainnya. Namun, menurut penelitian beberapa ahli learning style (gaya belajar), hasil belajar itu tidak bergantung pada waktu secara mutlak, tetapi bergantung pada pilihan waktu yang cocok dengan kesiapsiagaan siswa (Dunn et al, 1986). 
Dengan demikian, waktu yang digunakan siswa untuk belajar yang selama ini sering dipercaya berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa tak perlu dihiraukan. Sebab, bukan waktu yang penting dalam belajar melainkan kesiapan sistem memori siswa dalam menyerap, mengelola, dan menyimpan item-item informasi dan pengetahuan yang dipelajari siswa tersebut.
Faktor Pendekatan Belajar
Pendekatan belajar, seperti yang telah diuraikan secara penjang lebar pada sub bab sebelumnya, dapat dipahami keefektifan segala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang efektifitas dan efisiensi proses belajar materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu.
Di samping faktor-faktor internal dan eksternal siswa sebagaimana yang telah dipaparkan di muka, faktor pendekatan belajar juga berpengaruh terhadap keberhasilan proses belajar siswa tersebut. Seorang sisw yang terbiasa mengaplikasikan pendekatan belajar deep misalnya, mungkin sekali berpeluang untuk meraih prestasi belajar yang bermutu daripada siswa yang menggunakan pendekatan belajar surface atau reproduktif. 
Untuk memperjelas uraian faktor-faktor yang mempengaruhi belajar tersebut diatas, berikut ini penyusun sajikan sebuah tabel
Ragam Faktor dan Elemennya

Internal Siswa
Eksternal Siswa
Pendekatan Belajar Siswa

Aspek Fisiologis
Tonus Jasmani
Mata dan Telinga
Aspek Psikologis
Intelegensi
Sikap
Minat
Bakat
Motivasi
Lingkungan Sosial
Keluarga
Guru dan Staf
Masyarakat
Teman
Lingkungan Nonsosial
Rumah
Sekolah
Peralatan
Alam
Pendekatan Tinggi
Speculative
Achieving
Pendekatan Sedang
Analictcal
Deep
Pendekatan Rendah
Reproductive
Surface
















PENUTUPAN
Kesimpulan yang dapat di ambil dari pemaparan dalam makalh ini yaitu, bahwa ada dua faktor yang di sebabkan dari kondisi belajar yaitu faktor internal dan faktor eksternal yang mana keduanya adalah hal penting yang harus di ketahui oleh calon guru. Sekian yang dapat penulis paparkan. Penulis sangat berharap kritik dan saran pembaca untuk kelangsungan makalah selanjutnya agar lebih baik lagi.
























DAFTAR PUSTAKA
Muhibin Syah. 2011. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA
Mohammad Asrori. 2009. Psikologi Pembelajaran. Bandung: CV WACANA PRIMA
Muhibin Syah. 2012. Psikologi Belajar. Jakarta: PT RAJA GRAFINDO PERSADA
Mahmud. 2006. Psikologi Pendidikan Mutakhir. Bandung: SAHIFA

LAPORAN KUNJUNGAN PTA (BAB WARIS)

LAPORAN KUNJUNGAN
PENGADILAN TINGGI AGAMA
(WARIS)

Dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Fiqh I dan Pembelajarannya

Dosen

Dr. H. Hasbiyallah, M.Ag

Narasumber

Drs. H. M. Zaenal Hasan
NIP 19541105199003.1.003


Disusun oleh kelompok 4

1152020092 Iis Aisyah Yusuf
1152020096 Imam Ubaidillah
1152020101 Irfi Nur Syamsiah
1152020108 Kristin Wiranata
1152020116 Lucky Pratama Haldi
1152020127 Margo Mulyono Saryanto
1152020130 Maspupah Zakiah
1152020132 Mila Zakiyah




JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN 
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT. yang mana karena limpahan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan laporan kunjungan ini dengan baik. Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu baik dari segi apapun, sehingga laporan kunjungan ini tersusun dengan baik. Laporan kunjungan ini bertujuan untuk memenuhi syarat nilai mata kuliah Fiqh I dan Pembelajarannya. 
Laporan kunjungan ini merupakan hasil dari kunjungan penulis yang dilakukan di Pengadilan Tinggi Agama Bandung dengan pokok pembahasan mengenai permasalahan seputar “waris”. Penulis menyadari bahwa apa yang disajikan dalam laporan ini masih terdapat banyak kekurangan, baik menyangkut isi maupun penulisan. Kekurangan-kekurangan tersebut terutama disebabkan karenakan keterbatasan pengetahuan serta kemampuan penulis. Hanya dengan bantuan dari berbagai pihak untuk memberikan kritik dan saran yang membangun maka kekurangan-kekurangan tersebut dapat berubah menjadi lebih baik. 
Bandung, 19 April 2016
         Penulis











PENDAHULUAN

Latar belakang Masalah
       Allah ialah sang khalik (pencipta). Banyak sekali ciptaan yang Allah ciptakan. Diantaranya Allah menciptakan semua makhluk di dunia, baik yang bernyawa ataupun tidak bernyawa. Manusia adalah salah satu makhluk yang Allah ciptakan yang diberi nyawa. Dalam kehidupan di dunia setiap orang yang bernyawa pasti akan bertemu dengan kematian. Manusia tidak dapat membawa hartanya ke dalam kubur, karena harta sekali-kali tidak akan dapat mengekalkan manusia dan mampu menolongnya di akhirat, terkecuali harta yang digunakan di Jalan Allah. 
       Harta seseorang yang sudah meninggal tidak dapat dibawa ke dalam kubur (akhirat), namun terdapat ketentuan syari’at yang mengatur mengenai harta sepeninggalannya tersebut yakni biasa disebut dengan “waris”. 
       Dalam waris, terdapat beberapa sistem dan unsur pewarisan yang mengatur permasalahan dalam waris. Diantara unsur waris salah satunya ialah adanya ahli waris. Ahli Waris adalah orang-orang yang karena sebab (keturunan, perkawinan/perbudakan) berhak mendapatkan bagian dari harta pusaka orang yang meningal dunia. 
       Manusia identik dengan rasa ketidakpuasan yang berasal dari hawa nafsunnya, hal ini pula terjadi pada pembagian ahli waris. Antara ahli waris satu dengan yang lainnya, terkadang saling memperebutkan harta warisannya. Dan ini menimbulkan permasalahan yang kompleks.
       Dari sinilah penulis tersadar akan beberapa permasalahan waris yang terjadi di masyarakat, sehingga penulis tergugah untuk mengadakan kunjungan kepada lembaga ahli dibidang waris. Yakni, penulis melakukan kunjungan ke Pengadilan Tinggi Agama di Bandung. Sehingga penulis mendapatkan beberapa informasi atas permasalahan-permasalahan waris yang terjadi di masyarakat. Dan penulis memaparkan hasil kunjungan ke Pengadilan Tinggi Agama dalam laporan ini.

Tujuan Kunjungan
       Agar mendapatkan informasi seputar permasalahan waris berserta solusinya langgung dari ahlinya yakni di pengdilan agama dan dapat memperluas wawasan mengenai waris.

HASIL LAPORAN KUNJUNGAN

Lokasi : Bandung
Lembaga : Pengadilan Tinggi Agama
Alamat : Jl. Soekarno Hatta No.714 Gedebage Bandung
Data Narasumber
Nama : Drs. M. Zaenal Hasan
NIP : 19544105199003.1.003
Jabatan : PANITRA Muda Hukum
Alamat : Cigonewa

Pertanyaan seputar waris:
Bagaimana cara mengatasi ahli waris yang menginginkan pembagian harta waris secara rata?
Jawab:
       Yang pertama, pastikan dia (ahli waris) itu agamanya apa, jika agamanya islam maka urusan warisnya diserahkan hukum agama islam. Dan perlu diketahui bahwa prinsip keadilan itu bukan berarti harus sama rata, melainkan membagi waris sesuai dengan hak dan ketentuannya. Lebih jauhnya masalah ketentuan pembagian waris sudah ditetapkan oleh Allah SWT. di dalam al-Quran. Kita wajib mengimaninya. Dan permasalahan ini dikembalikan kepada diri masing-masing, jika pribadi menolak maka ada yang salah dengan pribadi tersebut, dan pertanda imannya tidak kuat. 
       Kalau ingin barokah dalam harta waris kita, tentu kita harus memperhatikan hukum-hukum syara yang mengatur pembagian harta waris tersebut. Karena percuma kalau harta banyak tapi tidak barokah.
 




Apakah anak hasil zina dapat menjadi ahli waris?
Jawab:
       Termasuk, namun hanya mendapatkan harta waris dari pihak ibunya. Tetapi ia tidak menjadi ahli waris dari bapaknya. Karena anak hasil zina merupakan anak dari ibunya dan bukan dari bapaknya. 

Bolehkah ahli waris mengundurkan diri?
Jawab:
      Boleh, karena itu adalah haknya, dan merupakan hak bagi ahli waris untuk menerimanya atau menolaknya. Adapun bagian warisnya itu dapat dihibahkan atau disedekahkan kepada orang lain.

Apakah janin termasuk ahli waris?
Jawab:
       Termasuk, karena yang hidup di dalam kandungan juga termasuk ahli waris. Walaupun janin itu sendiri belum berusia 4 bulan (belum ditiupkan ruh). Adapun pembagian harta warisnya ditangguhkan sampai janin itu lahir, dan dapatlah ditentukan apakah janin itu perempuan ataupun laki-laki.
       Bahkan, menurut beberapa ahli fiqh, ada sebagian ulama yang menunggu janin (ahli waris) berkembang sampai menjadi manusia dewasa sehingga dapat menentukan hak pilihnya sendiri. Karena jika ahli waris belum dewasa maka dia belum bisa menentukan pilihannya, dan bisa digantikan oleh walinya supaya tidak dirugikan. 

Bagaimana ketentuan waris di indonesia?
       Di Indonesia dalam permasalahan waris diatur oleh hukum agama, hukum perdata dan hukum adat. Kalau menurut pandangan agama islam maka setiap urusan waris muslim harus mengikuti syariat islam. Dan diatur oleh pengadilan agama. Namun, jika ingin mengikuti ketentuan perdata maka waris diatur oleh Undang-Undang. Waris diatur oleh Pengadilan Negeri.

Apakah istri yang berada dalam masa iddah setelah ditalak oleh suaminya, sedangkan suaminya meninggal. Apakah ia masih berhak menjadi ahli waris?
Jawab: 
       Masih berhak, karena masih berada dalam masa iddah dalam artian masih menjadi istrinya.

Apakah berhak saudara yang muslim saling mewarisi dengan saudaranya yang non muslim?
Jawab:
       Tidak. Karena saudara muslim dan non muslim tidak bisa saling mewarisi. Bahkan orang kafir (non-muslim) bukan termasuk ahli waris dalam islam. Namun jika saudara muslim diberi oleh saudaranya yang non-muslim maka ia boleh menerimanya asal yang memberinya ridho. 

Bagaimana cara mengatasi ahli waris yang tidak puas dengan pembagian harta warisannya?
Jawab:
       Dengan cara naik banding, jadi kalau tidak puas pada pengadilan di tingkat pertama. Maka dapat naik banding ke tingkat kasasi, jika masih belum puas maka naik banding untuk menjalani hukum istimewa dan langkah terakhirnya naik banding di tingkat Mahakamah Agung.

Bagaimana pembagian waris khansa?
Jawab: 
       Dilihat dari sifat dominannya. Namun menurut hukum agama adalah Fahkum bi dzowahir (dilihat dari sifat yang nampak). Namun terkadang ada ahli waris (khansa) yang mengambil situasi yang menguntungkannya. Seperti khansa yang memiliki sifat dominan wanita, namun dalam jatah ahli warisnya menginginkan jatah waris laki-laki.


Bagaimana dengan harta ahli waris yang tidak diketahui keberadaannya?
Jawab:
       Langkah pertama dihitung dahulu berapa bagian yang didapatkan oleh ahli waris tersebut. Lalu hartanya ditangguhkan sampai ahli waris tersebut ada (dzohir). Namun, jika keberadaannya masih belum diketahui, maka harta bagiannya diperhitungkan kembali, lalu dibagikan kepada ahli waris lainnya. 

PENUTUP

       Permasalahan seputar waris masih banyak dan tidak semuanya disebutkan di dalam laporan di atas. Penulis menyadari banyak kekurangan yang terdapat di dalam laporan, baik dari segi pemaparan terhadap permasalahan waris di masyarakat dan gaya bahasa yang penulis gunakan di dalam penulisan laporan. Penulis mohon maaf jika terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca. Semoga pemaparan di dalam laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca. 


“Harta yang besar jika tidak berkah maka tidak membawa kebahagiaan kepada pemiliknya. Harta yang barakah adalah harta yang membuat pemiliknya menjadi semakin dekat dengan Allah SWT”. 
-Zaenal Hasan-
  

MANAJEMEN KURIKULUM

MANAJEMEN KURIKULUM

MAKALAH

Dalam rangka memenuhi tugas perkuliahan mata kuliah Administrasi Pendidikan

Dosen Pengampu
Koko Khoerudin, M.Pd.I






Makalah Bahan Diskusi Kelompok 8

1152020108 Kristin Wiranata
1152020114 Lasri Zakiah
1152020122 M. Luthfi Iman Muqoddas
1152020126 Ma’la Yu’labi







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji hanya milik Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dan hanya kepada-Nyalah kita berhak bersyukur dan tiada yang lain selain Allah, karena sesungguhnya Allah-lah yang mampu memberikan kita kekuatan untuk mengerjakan segala sesuatu yang kita lakukan.
Shalawat serta salam semoga tercurahlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa kita kepada jalan yang benar. Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Administrasi Pendidikan. Kami berharap makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang mengarahkan kepada hal yang baik, dan mampu menjadi petunjuk untuk pembahasan yang kami bahas. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh




Bandung, 16 April 2017

       
 Penyusun










DAFTAR ISI

Kata pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan Makalah 2
BAB II PEMBAHASAN 3
Pengertian Manajemen Kurikulum 3
Pengertian Kurikulum 3
Pengertian Manajemen 6
Pengertian Manajemen Kurikulum 7
Tujuan Kurikulum dan Tujuan Manajemen Kurikulum 7
Tujuan Kurikulum 7
Tujuan Manajemen Kurikulum 9
Fungsi Kurikulum dan Fungsi Manajemen Kurikulum 10
Fungsi Kurikulum 10
Fungsi Manajemen Kurikulum 13
Proses Manajemen Kurikulum 15
Perencanaan Kurikulum 15
Pengorganisasian Kurikulum 19
Pelaksanaan Kurikulum 20
Pemantauan Kurikulum 22
Evaluasi Kurikulum 22
BAB III PENUTUP 26
DAFTAR PUSTAKA 27





BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Lembaga-lembaga pendidikan melalui program-programnya tentu perlu menyadari pengertian kurikulum yang amat menantang akan kemajuan, agar lewat program-program yang ditawarkan kepada siswa di lembaga pendidikan tersebut diupayakan untuk dapat membantu kesuksesan peserta didik dalam menjalankan aktivitas-aktivitas yang berguna untuk kehidupan di tengah-tengah masyarakat. 
Dari sisi ini berarti dapat dijelaskan bahwa menempatkan kurikulum dalam arti aktivitas kehidupan dapat mendorong komitmen dan akuntabilitas sekolah dan peserta didik untuk mengembangkan program dan kegiatan pembelajaran guna mewujudkan keterampilan hidup (life skill) hal ini dengan sendirinya dinilai menjadi salah satu ukuran yang amat penting di dalam menunjukkan keberhasilan kurikulum. Secara umum itulah yang menjadi tagihan dari setiap kurikulum yakni bagaimana peserta didik dapat menjadi setiap orang yang berguna ditengah-tengah masyarakatnya. Dalam pesan Rasulullah SAW yang sudah terkenal juga disebutkan bahwa “sebaik-baik manusia adalah orang yang lebih banyak memberikan manfaat kepada orang lain.” Untuk itu kurikulum harus diberi pemaknaan yang besar kepada kemanfaatan ummat manusia. Namun di dalam pelaksanaan kurikulum, dirasa masih kurang adanya manajemen yang baik. Dan tidak dapat dipungkiri, bahwa salah satu hal yang vital dalam meningkatkan suatu mutu pendidikan adalah dengan adanya manajemen kurikulum yang baik. Sehingga dengan adanya manajemen kurikulum yang baik dipandang dapat menjawab berbagai kebutuhan siswa dan dapat mewujudkan SDM yang berkualitas.
Berangkat dari permasalahan ini, kami merasa tergugah untuk membuat makalah dengan mengangkat tema “Manajemen Kurikulum”. Adapun pembahasan lebih lanjut mengenai apa pengertian manajemen kurikulum? Bagaimana proses manajemen kurikulum? Dan sebagainya akan dibahas lebih lanjut dalam bab selanjutnya.

Rumusan Masalah
Setelah kami menelusuri berbagai sumber dan artikel terkait berkenaan dengan tema makalah yang kami angkat, kami menyimpulkan rumusan masalah sebagai berikut.
Apa yang dimaksud dengan manajemen kurikulum?
Apa fungsi manajemen kurikulum?
Apa fungsi kurikulum?
Apa tujuan manajemen kurikulum?
Apa tujuan kurikulum?
Bagaimana proses manajemen kurikulum?

Tujuan Makalah
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Administrasi Pendidikan dan untuk dijadikan bahan acuan dalam diskusi “Manajemen Kurikulum”. 
















BAB II
PEMBAHASAN

PENGERTIAN PENGELOLAAN/MANAJEMEN KURIKULUM
Pengertian Kurikulum
Secara etimologis, kurikulum berasal dari kata dalam Bahasa Latin ”curir” yang artinya pelari, dan ”curere” yang artinya ”tempat berlari”. Pengertian awal kurikulum adalah suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari mulai dari garis start sampai dengan finish. Dengan demikian, istilah kurikulum pada awalnya berasal dari dunia olahraga pada zaman Romawi kuno di Yunani, dan kemudian diadopsi ke dalam dunia pendidikan.
Istilah kurikulum baru masuk khazanah pembendaharaan kata dalam dunia pendidikan di Indonesia pada sekitar tahun 1968, sejak kelahiran kurikulum sebelumnya, yaitu Rencana Pelajaran 1950. Ketika itu, istilah yang digunakan dalam dunia pendidikan adalah rencana pelajaran, bukan kurikulum. Pengertian kurikulum menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bab 1 disebutkan tentang pengertian kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.
Dilihat dari sudut terminologi, pengertian kurikulum menurut pandangan tradisional, kurikulum didefinisikan sebagai “sejumlah mata pelajaran atau bahan ajar yang harus dikuasai oleh murid atau diajarkan oleh guru untuk mencapai suatu tingkatan atau ijazah.” Inti pengertian ini menunjukkan bahwa kurikulum adalah mata pelajaran. Yang dimaksud dengan mata pelajaran di sini adalah pengetahuan yang dipelajari atau dibelajarkan kepada siswa oleh guru. Menurut S. Nasution disebutkan bahwa pemaknaan pendidikan dalam pengertian ini adalah sempit, karena ruang lingkup kurikulum yang sangat terbatas pada kegiatan-kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan di ruang kelas (intra kurikuler). 
Jika pada zaman dahulu pengertian tradisional cenderung membatasi aktivitas kurikulum terbatas pada kegiatan di ruangan kelas dapat dimaklumi, karena kegiatan yang dilaksanakan di ruangan kelas masih sejalan dengan setting kebutuhan masyarakat tradisional yang masih sederhana. Karena itu program pembelajaran masih dinilai memadai untuk memberikan jawaban-jawaban terhadap kebutuhan-kebutuhan individu atau masyarakat yang ada pada masa itu. Lain halnya untuk masa sekarang pelaksanaan kurikulum tradisional sudah dinilai sangat sempit, sehingga tidak memadai lagi untuk diperhatikan. Karena itu pakar-pakar kurikulum mengkritisi pengertian kurikulum tradisional, dan menyesuaikan pengertian tersebut sesuai dengan tuntutan zaman dan perkembangan masyarakat.
 Menurut pandangan modern, kurikulum diartikan sebagai “segala upaya sekolah untuk merangsang anak belajar apakah di ruangan kelas, di halaman dan di luar sekolah. Pengertian seperti ini antara lain dapat dilihat dari pengertian Harold B. Alberty dan Elsie J. Alberty yang menyebutkan: “All of the activities that are provided for students by the school..” (semua aktivitas yang disediakan untuk siswa oleh sekolah…). Demikian juga definisi kurikulum yang dikemukakan oleh Tyler sebagaimana dikutip oleh Daniel Tanner, Laurel N. Tanner yang berbunyi: “All of the learning of students which is planned by and directed by the school to attain its educational goals.” (semua kegiatan pembelajaran siswa yang direncanakan dan diarahkan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan).
Dengan bertolak dari pengertian-pengertian seperti di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah “sesuatu” yang sangat dominan dan penting dalam kegiatan sekolah karena kurikulum sebagai “rencana sekolah” dalam arti luas berarti mencakup makna manajemen meskipun dalam arti biasa dibatasi pada makna “what to teach” apapun kegiatan sekolah. Segalanya harus direncanakan dan diciptakan untuk kepentingan kemajuan sekolah dan peserta didik. Dan bahwasannya inti kegiatan pendidikan adalah terletak pada kurikulum.
Selain dari pengertian-pengertian di atas, ada lagi pengertian kurikulum yang lebih luas, di mana makna kurikulum dihubungkan dengan kehidupan masyarakat, misalnya melihat program pendidikan di sekolah dengan kebutuhan-kebutuhan hidup peserta didik di masyarakat (what shoukd the school program be like in that community). Dengan demikian pengertian kurikulum ini dipandang sangat ideal dan menantang karena pihak manajemen sekolah mengelola kurikulum untuk menjawab kebutuhan siswa seperti yang diperankan oleh lembaga-lembaga pendidikan yang berorientasi bisnis (pendidikan bisnis). Kurikulum sekolah-sekolah yang seperti ini sangat inovatif, reformatif dan dinamis sehingga di dalam pengelolaannya amat menantang dalam mewujudkan SDM yang berkualitas. Meskipun di lain pihak menghadapi kesulitan-kesulitan dalam pengukuran-pengukuran mutu input proses dan output (out come).
Sementara kurikulum di satu pihak memerlukan pengukuran yang jelas, dilain pihak diperlukan pula dukungan SDM untuk mengembangkan aktivitas kurikulum misalnya mendorong aktivitas-aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa sepanjang siswa tersebut terkait dengan program-program pendidikan yang diikutinya dari suatu lembaga pendidikan. Apakah kegiatan dimaksud dilakukan oleh siswa di ruangan kelas, di halaman atau di luar sekolah. 
Sekalipun harus diakui bahwa untuk membuat anak sukses dalam kehidupan ditengah-tengah masyarakat, bukanlah hal yang muda, tetapi justru memerlukan waktu yang relatif lebih lama. Namun, dengan pengertian seperti ini, setiap anak akan dapat menanamkan pada dirinya sendiri prinsip untuk berkerja keras di dalam mencari pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan yang belum bisa diperolehnya dari sekolah, karena dia mengaggap bahwa hal-hal tersebut berguna untuk kehidupannya di tengah-tengah masyarakat. Dengan konstruksi pemahaman seperti ini anak akan termotivasi untuk berusaha menjadikan dirinya menjadi “kahirul bariyah” dengan landasan iman, amal saleh dan ilmu yang bermanfaat.
Demikian pula lembaga-lembaga pendidikan dipihak lain, melalui program-programnya tentu perlu menyadari pengertian kurikulum yang amat menantang akan kemajuan, agar lewat program-program yang ditawarkan kepada siswa di lembaga pendidikan tersebut diupayakan untuk dapat membantu kesuksesan peserta didik dalam menjalankan aktivitas-aktivitas yang berguna untuk kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Dari sisi ini berarti dapat dijelaskan bahwa menempatkan kurikulum dalam arti aktivitas kehidupan dapat mendorong komitmen dan akuntabilitas sekolah dan peserta didik untuk mengembangkan program dan kegiatan pembelajaran guna mewujudkan keterampilan hidup (life skill) hal ini dengan sendirinya dinilai menjadi salah satu ukuran yang amat penting di dalam menunjukkan keberhasilan kurikulum. Secara umum itulah yang menjadi tagihan dari setiap kurikulum yakni bagaimana peserta didik dapat menjadi setiap orang yang berguna ditengah-tengah masyarakatnya. Dalam pesan Rasulullah SAW yang sudah terkenal juga disebutkan bahwa “sebaik-baik manusia adalah orang yang lebih banyak memberikan manfaat kepada orang lain.” Untuk itu kurikulum harus diberi pemaknaan yang besar kepada kemanfaatan ummat manusia.
Pengertian Pengelolaan/Manajemen
Pengelolaan merupakan istilah Indonesia yang sama pengertian dan maknanya dengan manajemen. Berikut beberapa definisi pengelolaan yang dikemukakan oleh para ahli, di antaranya:
Stoner (1981), Pengelolaan sebagai serangkaian kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, mengendalikan, dan mengembangkan segala upaya didalam mengatur dan mendayangunakan sumber daya manusia, sarana dan prasarana untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.
Nanang Fatah (2004), Pengelolaan sebagai proses merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan upaya organisasi dnegan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien. Dalam asumsi ini pengelolaan atau manajemen adalah kemampuan dan keterampilan untuk melakukan suatu kegiatan bersama orang lain atau melalui orang lain dalam mencapai tujuan organisasi.
Harold & Cyril O’Dannel (1972), Pengelolaan ialah usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain. Dalam melaksanakan pengkoordinasian sejumlah kelompok aktivitas, selaku manajer atau pimpinan harus melaksanakan perencanaan, pengorganisasian, penempatan, penggerakkan (pengarahan) dan pengendalian,
Dari beberapa pengertian di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa pengelolaan adalah serangkaian kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, memotivasi, mengendalikan, dan mengembangkan segala upaya dalam mengatur dan mendayangunakan sumber daya manusia, sarana dan prasarana untuk mencapai tujuan organisasi. Pengelolaan juga merupakan kegiatan engineering yaitu kegiatan to produce, to implement and to appraise the effectiveness of the curriculum. Dan pengelolaan dapat pula diartikan sebagai upaya menata sumber daya agar organisasi terwujud secara produktif.
Pengertian Manajemen Kurikulum
Manajemen kurikulum adalah suatu sistem pengelolaan kurikulum yang kooperatif, komprehensif, sistemik, dan sistematik dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum.

TUJUAN KURIKULUM DAN TUJUAN MANAJEMEN KURIKULUM
Tujuan Kurikulum
Dalam kurikulum atau pembelajaran, tujuan memegang peranan penting, karena tujuan akan mengarahkan semua kegiatan pembelajaran dan memberi warna setiap komponen kurikulum lainnya. Tujuan kurikulum dirumuskan berdasarkan dua hal, yaitu; (1) Perkembangan tuntutan, kebutuhan dan kondisi masyarakat, (2) didasari oleh pemikiran-pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai-nilai filosofis, terutama falsafah negara. Tujuan pendidikan terbagi dalam beberapa kategori yaitu tujuan pendidikan umum dan khusus, tujuan jangka panjang, menengah dan jangka pendek.
Komponen tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Dalam skala makro rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut suatu bangsa. Bahkan, rumusan tujuan menggambarkan suatu masyarakat yang dicita-citakan.
Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah 1975/1976 tujuan pendidikan memiliki klasifikasi, dari mulai tujuan yang sangat umum sampai tujuan khusus yang bersifat spesifik dan dapat diukur, yang kemudian dinamakan kompetensi. Tujuan pendidikan diklasifikasikan menjadi empat yaitu:
Tujuan Pendidikan Nasional adalah tujuan yang bersifat paling umum dan merupakan sasaran yang harus dijadikan pedoman oleh setiap usaha pendidikan. Tujuan pendidikan umum dirumuskan dalam bentuk perilaku yang ideal sesuai dengan pandangan hidup dan filsafat suatu bangsa yang dirumuskan oleh pemerintah dalam bentuk undang-undang. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 dinyatakan dengan jelas tujuan pendidikan nasional bersumber dari sistem nilai Pancasila berfungsi mengembangkan kemampuan dan bentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan jangka panjang yang menjadi dasar dari segala tujuan pendidikan nasional baik pendidikan formal, informal maupun pendidikan nonformal.
Tujuan Institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan. Tujuan institusional merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan umum yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan, misalnya standar kompetensi pendidikan dasar, menengah, kejuruan, dan jenjang pendidikan tinggi.
Tujuan Kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran. Tujuan kurikuler juga pada dasarnya merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan. Dengan demikian, setiap tujuan kurikuler harus dapat mendukung dan diarahkan untuk mencapai tujuan institusional.
Tujuan Pembelajaran yang merupakan bagian dari tujuan kurikuler, dapat didefenisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah mereka mempelajari materi pelajaran tertentu dalam mata pelajaran tertentu dalam satu kali pertemuan. Karena hanya guru yang memahami kondisi lapangan, termasuk memahami karakteristik peserta didik yang akan melakukan pembelajaran di suatu sekolah atau madrasah, maka menjabarkan tujuan pembelajaran adalah tugas guru.
Tujuan pembelajaran dibedakan atas beberapa kategori, sesuai dengan perilaku yang menjadi sasarannya. Gagne mengemukakan lima kategori tujuan atau hasil belajar berupa kapabilitas yaitu (1) informasi verbal, (2) keterampilan intelektual, (3) strategi kognitif, (4) strategi afektif, (5) keterampilan gerak.
Tujuan Manajemen Kurikulum
Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa tujuan dasar kurikulum dapat ditinjau dalam empat dimensi, yaitu:
Kurikulum sebagai suatu ide adalah kurikulum yang dihasilkan melalui teori-teori dan penelitian, khususnya dalam bidang kurikulum dan pendidikan.
Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, adalah sebagai perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide yang diwujudkan dalam bentuk dokumen, yang di dalamnya memuat tentang tujuan, bahan, kegiatan, alat-alat, dan waktu.
Kurikulum sebagai suatu kegiatan, merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, dan dilakukan dalam bentuk praktek pembelajaran.
Kurikulum sebagai suatu hasil, merupakan konsekuensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan, dalam bentuk ketercapaian tujuan kurikulum yakni tercapainya perubahan perilaku atau kemampuan tertentu dari para peserta didik.
Berdasarkan uraian di atas bisa disimpulkan bahwa kurikulum merupakan dokumen perencanaan yang mencakup:
Tujuan yang harus diraih
Isi dan pengalaman belajar yang harus diperoleh siswa
Strategi dan cara yang dapat dikembangkan
Evaluasi yang dirancang untuk mengumpulkan informasi mengenai pencapaian tujuan
Penerapan dari isi dokumen yang dirancang dalam bentuk nyata.

FUNGSI KURIKULUM DAN FUNGSI MANAJEMEN KURIKULUM
Fungsi Kurikulum
Dilihat dari cakupan dan tujuannya menurut McNell (1990) isi kurikulum memiliki empat fungsi, yaitu:
Fungsi Pendidikan umum (common and general education)
Fungsi pendidikan umum, yaitu fungsi kurikulum untuk mempersiapkan peserta didik agar mereka menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab. Kurikulum harus memberikan pengalaman belajar kepada setiap peserta didik agar mampu menginternalisasi nilai-nilai dalam kehidupan, memahami setiap hak dan kewajiban sebagai anggota masyarakat dan makhluk sosial. Dengan demikian fungsi kurikulum ini harus diikuti oleh setiap siswa pada jenjang dan level atau jenis pendidikan mana pun.
Suplementasi (Suplementation)
Setiap peserta didik memiliki perbedaan baik dilihat dari perbedaan kemampuan, perbedaan minat, maupun perbedaan bakat. Kurikulum sebagai alat pendidikan seharusnya dapat memberikan pelayanan kepada setiap siswa sesuai dengan perbedaan tersebut. Dengan demikian, setiap anak memiliki kesempatan untuk menambah kemampuan dan wawassan yang lebih baik sesuai dengan minat dan bakatnya. 
Eksplorasi (exploration)
Fungsi eksplorasi memiliki makna bahwa kurikulum harus dapat menemukan dan mengembangkan minat dan bakat masing-masing siswa. Melalui fungsi ini siswa diharapkan dapat belajar sesuai dengan minat dan bakatnya, sehingga memungkinkan mereka akan belajar tanpa adanya paksaan. Namun demikian, proses eksplorasi terhadap minat dan bakat siswa bukan pada pekerjaan yang mudah. Adakalanya terjadi pemaksaan dari pihak luar, misalnya para orang tua, yang sebenarnya anak tidak memiliki minat dan bakat terhadap bidang tertentu, mereka dipaksa untuk memilihnya hanya karena alasan-alasan tertentu yang sebenarnya tidak rasional. Oleh sebab itu para pengembang kurikulum mesti dapat mengenali rahasia bakat anak yang terpendam.
Keahlian (spesialization)
Kurikulum berfungsi untuk mengembangkan kemampuan anak sesuai dengan keahliannya yang didasarkan atas minat dan bakat siswa. Dengan demikian, kurikulum harus memberikan pilihan berbagai bidang keahlian, misalnya perdagangan, pertanian, industri, atau disiplin akademik. Untuk itu pengembangan kurikulum harus melibatkan para spesialis untuk menentukan kemampuan apa yang harus dimiliki setiap siswa sesuai dengan bidang keahliannya.
Memerhatikan fungsi-fungsi di atas, maka jelas kurikulum berfungsi untuk setiap orang atau lembaga yang berhubungan baik langsung maupun tidak langsung dengan penyelenggaraan pendidikan. Adapun bagi guru, kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang tidak berpedoman kepada kurikulum, maka tidak akan berjalan dengan efektif, sebab pembelajaran adalah proses yang bertujuan, sehingga segala sesuatu yang dilakukan guru dan siswa diarahkan untuk mencapai tujuan; sedangkan arah dan tujuan pembelajaran beserta bagaimana cara dan strategi yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan itu merupakan komponen penting dalam sistem kurikulum.
Bagi kepala sekolah, kurikulum berfungsi untuk menyusun perencanaan dan program sekolah. Dengan demikian, penyusunan kalender sekolah, pengajuan sarana dan prasarana sekolah kepada dewan sekolah, penyusunan berbagai kegiatan sekolah baik yang menyangkut kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan-kegiatan lainnya, harus didasarkan pada kurikulum.
Bagi Pengawas, kurikulum akan berfungsi sebagai panduan dalam melaksanakan supervisi. Dengan demikian, dalam proses pengawasan para pengawas akan dapat menentukan apakah program sekolah termasuk pelaksanaan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru sudah sesuai dengan tuntutan kurikulum atau belum, sehingga berdasarkan kurikulum itu juga pengawas dapat memberikan saran pendidikan.
Bagi orang tua, sebagai pedoman untuk memberikan bantuan baik bagi penyelenggaraan program sekolah, maupun membantu putra/putri mereka belajar di rumah sesuai dengan program sekolah. Melalui kurikulum orang tua akan mengetahui tujuan yang harus dicapai serta ruang lingkup materi pelajaran.
Bagi siswa, kurikulum berfungsi sebagai pedoman belajar. Melalui kurikulum siswa akan memahami apa yang harus dicapai, isi atau bahan pelajaran apa yang harus dikuasai, dan pengalaman belajar apa yang harus dilakukan untuk mecapai tujuan. berkaitan dengan fungsi kurikulum, Alexander Inglis (dalam Hamalik, 1990) mengemukakan enam fungsi kurikulum untuk siswa:
Fungsi Penyesuaian
Kurikulum harus dapat mengantar sisa agar mampu menyesuaikan diri dalam kehidupan sosial masyarakat. Sebab kehidupan masyarakat tidak bersifat statis, akan tetapi dinamis, artinya kehidupan masyarakat selalu berubah dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Oleh sebab itu, siswa harus dapat beradaptasi dalam kehidupan masyarakat yang cepat berubah tersebut. Dalam rangka inilah fungsi penyesuaian kurikulum diperlukan.
Fungsi Integrasi
Kurikulum harus dapat mengembangkan pribadi siswa secara utuh. Kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor harus berkembang secara terintegrasi. Mengapa demikian? Sebab, kurikulum bukan hanya diharapkan dapat mengembangkan kemampuan intelektual atau kecerdasan saja, akan tetapi juga harus dapat membentuk sikap sesuai dengan sistem nilai yang berlaku di masyarakat serta dapat memberikan keterampilan untuk dapat hidup di lingkungan masyarakatnya.
Fungsi Diferensiasi
Kurikulum harus dapat melayani setiap siswa dengan segala keunikannya. Sebab, siswa adalah organisme yang unik, yakni memiliki perbedaan-perbedaan, baik perbedaan minat, bakat, maupun perbedaan kemampuan. 
Fungsi Persiapan
Kurikulum harus dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, maupun untuk kehidupan di masyarakat. Namun bukan itu saja, kurikulum juga harus membekali mereka agar dapat belajar di masyarakat, bagi mereka yang tidak memiliki potensi untuk melanjutkan pendidikannya.
Fungsi Pemilihan
Fungsi kurikulum yang dapat memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk belajar sesuai dengan bakat dan minatnya. Kurikulum harus bersifat fleksibel, artinya menyediakan berbagai pilihan program pendidikan yang dapat dipelajari.
Fungsi Diagnostik
Fungsi untuk mengenal berbagai kelemahan dan kekuatan siswa. Melalui fungsi ini kurikulum berperan untuk menemukan kesulitan-kesulitan dan kelemahan yang dimiliki siswa, di samping mengksplorasi berbagai kekuatan-kekuatan sehingga melalui pengenalan itu siswa dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Fungsi Manajemen Kurikulum
Fungsi dari manajemen kurikulum antara lain sebagai berikut.
Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum, pemberdayaan sumber maupun komponen kurikulum dapat ditingkatkan melalui pengelolaan yang terencana dan efektif.
Meningkatkan keadilan (equality) dan kesempatan pada siswa untuk mencapai hasil yang maksimal, kemampuan yang maksimal dapat dicapai peserta didik tidak hanya melalui kegiatan intrakurikuler, tetapi juga perlu melalui kegiatan ekstra dan kokurikuler yang dikelola secara integritas dalam mencapai tujuan kurikulum.
Meningkatkan relevansi dan efektivitas pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan, kurikulum yang dikelola secara efektif dapat memberikan kesempatan dan hasil yang relevan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitar.
Meningkatkan efektivitas kinerja guru maupun aktivitas siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, pengelolaan kurikulum yang professional, efektif, dan terpadu dapat memberikan motivasi pada kinerja guru maupun aktivitas siswa dalam belajar.
Meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses belajar mengajar, proses pembelajaran selalu dipantau dalam rangka melihat konsistensi antara desain yang telah direncanakan dengan pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian, ketidaksesuaian antara desain dengan implementasi dapat dihindarkan. Disamping itu, guru maupun siswa selalu termotivasi untuk melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efisien karena adanya dukungan kondisi positif yang diciptakan dalam kegiatan pengelolaan kurikulum.
Meningkatkan partisipasi masyarakat untuk membantu pengembangan kurikulum, kurikulum yang dikelola secara professional akan melibatkan masyarakat, khususnya dalam mengisi bahan ajar atau sumber belajar perlu disesuaikan dengan ciri khas dengan kebutuhan pembangunan daerah setempat.


PROSES MANAJEMEN KURIKULUM
Manajemen Perencanaan Kurikulum
Maksud dari manajemen dalam perencanaan kurikulum adalah keahlian “managing” dalam arti kemampuan merencanakan dan mengorganisasikan kurikulum. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses perencanaan kurikulum adalah siapa yang bertanggung jawab dalam perencanaan kurikulum, dan bagaimana perencanaan kurikulum itu direncanakan secara professional.
Hal yang pertama dikemukakan berkenaan dengan kenyataan adanya gap atau jurang antara ide-ide strategi dan pendekatan yang dikandung oleh suatu kurikulum dengan usaha-usaha implementasinya. Gap ini disebabkan oleh masalah keterlibatan personal dalam perencanaan kurikulum. Keterlibatan personal ini banyak bergantung pada pendekatan perencanaan kurikulum yang dianut.
Pada pendekatan yang bersifat “administrative approach” kurikulum direncanakan oleh pihak atasan kemudian diturunkan kepada instansi-instansi bawahan sampai kepada guru-guru. Jadi form the top down, dari atas ke bawah atas inisiatif administrator. Dalam kondisi ini guru-guru tidak dilibatkan. Mereka lebih bersifat pasif yaitu sebagai penerima dan pelaksana di lapangan.semua ide, gagasan dan inisiatif berasal dari pihak atasan.
Sebaliknya pada pendekatan yang bersifat “grass roots approach” yaitu yang dimulai dari bawah, yakni dari pihak guru-guru atau sekolah-sekolah secara individual dengan harapan bisa meluas ke sekolah-sekolah lain. Kepala sekolah serta guru-guru dapat merencanakan kurikulum atau perubahan kurikulum karena melihat kekurangan dalam kurikulum yang berlaku. Mereka tertarik oleh ide-ide baru mengenai kurikulum dan bersedia menerapkannya di sekolah mereka untuk meningkatkan mutu pelajaran.
Dengan bertindak dari pandangan bahwa guru adalah manajer (the teacher as manager) J.G Owen sangat menekankan perlunya keterlibatan guru dalam perencanaan kurikulum. Guru harus ikut bertanggung jawab dalam perencanaan kurikulum Karena dalam praktek mereka adalah pelaksana-pelaksana kurikulum yang sudah disusun bersama.
Masalah yang kedua, bagaimana kurikulum direncanakan secara professional, J.G Owen lebih menekankan pada masalah bagaimana menganalisis kondisi-kondisi yang perlu diperhatikan sebagai faktor yang berpengaruh dalam perencanaan kurikulum.
Terdapat dua kondisi yang perlu dianalisis setiap perencanaan kurikulum:
Kondisi sosiokultural
Kemampuan professional manajerial menuntut kemampuan untuk dapat mengolah atau memanfaatkan berbagai sumber yang ada di masyarakat, untuk dijadikan narasumber. J.G Owen menyebutkan peranan para ahli behavior science, karena kegiatan pendidikan merupakan kegiatan behavioral dimana di dalamnya terjadi berbagai interaksi social antara guru dengan murid, murid dengan murid, dan atau guru dengan murid dengan lingkungannya.
Ketersediaan fasilitas
Salah satu penyebab gap antara perencana kurikulum dengan guru-guru sebagai praktisi adalah jika kurikulum itu disusun tanpa melibatkan guru-guru, dan terlebih para perencana kurang atau bahkan tidak memperhatikan kesipan guru-guru di lapangan. Itulah sebabnya J.G Owen menyebutkan perlunya pendekatan “from the bottom up”, yaitu pengembangan kurikulum yang berasal dari bawah ke atas.
Karakteristik Perencanaan Kurikulum
Perencanaan kurikulum adalah perencanaan kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membina siswa/ peserta didik ke arah perubahan tingkah laku yang diinginkan dan menilai hingga mana perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa/ peserta didik. Kurikulum adalah semua pengalaman yang mencakup yang diperoleh baik dari dalam maupun dari luar lembaga pendidikan, yang telah direncanakan secara sistematis dan terpadu, yang bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik mencapai tujuan pendidikan. Tujuan perencanaan kurikulum dikembangkan dalam bentuk kerangka teori dan penelitian terhadap kekuatan social, pengembangan masyarakat, kebutuhan, dan gaya belajar siswa. Beberapa keputusan harus dibuat ketika merencanakan kurikulum dan keputusan tersebut harus mengarah pada spesifikasi berdasarkan kriteria. Merencanakan pembelajaran merupakan bagian yang sangat penting dalam perencanaan kurikulum karena karena pembelajaran mempunyai pengaruh terhadap siswa daripada kurikulum itu sendiri.
Pimpinan perlu menyusun perencanaan secara cermat, teliti, menyeluruh dan rinci, karena memiliki multi fungsi sebagai berikut :
Perencanaan kurikulum berfungsi sebagai pedoman atau alat manajemen, yang berisi petunjuk tentang jenis dan sumber peserta yang diperlukan, media penyampaiannya, tindakan yang perlu dilakukan, sumber biaya, tenaga, sarana yang diperlukan, system control dan evaluasi, peran unsur-unsur ketenagaan untuk mencapai tujuan manajemen organisasi.
Berfungsi sebagai penggerak roda organisasi dan tata laksana untuk menciptakan perubahan dalam masyarakat sesuai dengan tujuan organisasi. Perencanaan kurikulum yang matang besar sumbangannya terhadap pembuatan keputusan oleh pimpinan, dan oleh karenanya perlu memuat informasi kebijakan yang relevan, disamping seni kepemimpinan dan pengetahuan yang telah dimilikinya.
Sebagai motivasi untuk melaksanakan system pendidikan sehingga mencapai hasil optimal.
Model Perencanaan Kurikulum
Perencanaan kurikulum adalah suatu proses sosial yang kompleks yang menuntut berbagai jenis dan tingkat pembuatan keputusan kebutuhan mendiskusikan dan mengkoordinasikan proses menghendaki penggunaan model-model untuk menyajikan aspek-aspek kunci kendatipun penyajian tersebut pada gilirannya harus menyederhanakan banyak aspek dan mungkin mengabaikan beberapa aspek lainnya. Sebagaimana dengan model-model pembuatan keputusan umumnya, maka rumusan suatu model perencanaan berdasarkan asumsi-asumsi rasionalitas yakni asumsi tentang pemrosesan secara cermat informasi misalnya tentang mata ajaran, siswa, lingkungan, dan hasil belajar.
Beberapa model perencanaan, yaitu :
Model perencanaan rasional deduktif atau rasional Tyler, menitik beratkan logika dalam merancang program kurikulum dan bertitik tolak dari spesifikasi tujuan (goals and objectives) tetapi cenderung mengabaikan problematika dalam lingkungan tugas. Model itu dapat diterapkan pada semua tingkat pembuatan keputusan, misalnya rasionalisasi proyek pengembangan guru, atau menentukan kebijakan suatu planning by objectives di lingkungan departemen. Model ini cocok untuk sistem perencanaan pendidikan yang sentralistik yang menitikberatkan pada system perencanaan pusat, dimana kurikulum dianggap sebagai suatu alat untuk mengembangkan/mencapai maksud-maksud di bidang sosial ekonomi.
Model interaktif rasional (the rational interactive model), memandang rasionalitas sebagai tuntutan kesepakatan antara pendapat-pendapat yang berbeda, yang tidak mengikuti urutan logis. Perencanaan kurikulum dipandang suatu masalah lebih “perencanaan dengan” (planning with) daripada perencanaan bagi (planning for). Seringkali model ini dinamakan model situasional, asumsi rasionalitasnya menekankan pada respon fleksibel kurikulum yang tidak memuaskan dan inisiatif pada tingkat sekolah atau tingkat lokal. Hal ini mungkin merupakan suatu refleksi suatu keyakinan ideologis masyarakat demokrasi atau pengembangan kurikulum berbasis sekolah. Implementasi rencana merupakan fase krusial dalam pengembangan kurikulum, dimana diperlukan saling beradaptasi antara perencana dan pengguna kurikulum.
The Diciplines Model, perencanaan ini menitikberatkan pada guru-guru, mereka sendiri yang merencanakan kurikulum berdasarkan pertimbangan sistematik tentang relevansi pengetahuan filosofis, (isu-isu pengetahuan yang bermakna), sosiologi (argument-argumen kecenderungan sosial), psikologi (untuk memberitahukan tentang urutan-urutan materi pelajaran)
Model tanpa perencanaan (non planning model), adalah suatu model berdasarkan pertimbangan-pertimbangan intuitif guru-guru di dalam ruangan kelas sebagai bentuk pembuatan keputusan, hanya sedikit upaya kecuali merumuskan tujuan khusus, formalitas pendapat, dan analisis intelektual.
Keempat model perencanaan kurikulum yang dikemukakan di atas sesungguhnya merupakan tipe-tipe yang ideal (ideal types) dan bukan model-model perencanaan kurikulum aktual. Umumnya perencanaan kurikulum mengandung keempat aspek model tersebut. Namun untuk membedakannya antara satu dengan yang lainnya, diperlukan analisis variabel kebermaknaan bagi praktek perencanaan. Asumsi-asumsi rasionalitas tersebut perlu disadari dalam kaitannya dengan cara memproses informasi sebagai refleksi posisi-posisi sosial dan ideologis yang mengatur perencanaan kurikulum.
Organisasi Kurikulum
Adanya berbagai pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum memunculkan terjadinya keragaman dalam mengorganisasikan kurikulum. Sekurang-kurangnya terdapat enam ragam pengorganisasian kurikulum, yaitu:
Mata pelajaran terpisah (separated subject); kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang diajarkan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dengan mata pelajaran lainnya. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, semua materi diberikan sama.
Mata pelajaran berkolerasi; korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran. Prosedur yang ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok materi pelajaran yang saling berhubungan untuk memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu.
Bidang studi (broad field); yaitu organisasi kurikulum yang berupa peleburan beberapa mata pelajaran yang sejenis dan memiliki ciri-ciri yang sama serta difungsikan dalam satu bidang pengajaran atau bidang studi. Salah satu mata pelajaran lainnya dapat dijadikan “core subject” dan mata pelajaran lainnya dikorelasikan dengan core tersebut.
Program yang berpusat pada anak (child centered), yaitu program kurikulum yang menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik, bukan pada mata pelajaran.
Inti masalah (core program), yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah, masalah-masalah diambil dari suatu pelajaran tertentu, dan mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalahnya. Mata pelajaran-mata pelajaran yang menjadi pisau analisisnya diberikan secara integritasi.
Ecletyc program, yaitu suatu program yang mencari keseimbangan anatara organisasi kurikulum yang terpusat pada matapelajaran dan peserta didik.
Berkaitan dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan, tampaknya lebih cenderung menggunakan pengorganisasian yang bersifat eklektik, yang terbagi dalam lima kelompok mata pelajaran, yaitu; (1). Kelompok mata pelajaran dan akhlak mulia. (2). Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. (3). Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. (4). Kelompok mata pelajaran estetika. (5) kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.
Kelompok-kelompok mata pelajaran tersebut selanjutnya diajabarkan lagi kedalam sejumlah mata pelajaran tertentu yang disesuaikan dengan jenjang dan jenis sekolah dan madrasah. Disamping itu, untuk memenuhi kebutuhan lokal disediakan mata pelajaran muatan lokal serta untuk kepentingan penyaluran bakat dan minat peserta didik disediakan kegiatan pengembangan diri.
Pelaksanaan Kurikulum        
Pembinaan kurikulum pada dasarnya adalah usaha pelaksanaan kurikulum di sekolah, sedangkan pelaksanaan kurikulum itu sendiri direalisasikan dalam proses belajar mengajar sesuai dengan prinsip-prinsip dan tuntutan kurikulum yang telah dikembangkan sebelumnya bagi suatu jenjang pendidikan atau sekolah-sekolah tertentu. Pokok-pokok kegiatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi 9 pokok kegiatan, yaitu :
Kegiatan yang berhubungan dengan tugas kepala sekolah
Kegiatan yang berhubungan dengan tugas guru
Kegiatan yang berhubungan dengan murid
Kegiatan yang berhubungan dengan proses belajar mengajar
Kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler
Kegiatan pelaksanaan evaluasi
Kegiatan pelaksanaan pengaturan alat
Kegiatan dalam bimbingan dan penyuluhan
Kegiatan yang berkenaan dengan usaha peningkatan mutu professional guru.
Pelaksanaan kurikulum dibagi menjadi dua tingkatan yaitu pelaksanaan kurikulum tingkat sekolah dan tingkat kelas. Dalam tingkat sekolah yang berperan adalah kepala sekolah, dan pada tingkatan kelas yang berperan adalah guru. Walaupun dibedakan antara tugas kepala sekolah dan tugas guru dalam pelaksanaan kurikulum serta diadakan perbedaan dalam tingkat pelaksanaan administrasi, yaitu tingkat kelas dan tingkat sekolah, namun antara kedua tingkat dalam pelaksanaan administrasi kurikulum tersebut senantiasa bergandengan dan bersama-sama bertanggungjawab melaksanakan proses administrasi kurikulum.
Pelaksanaan kurikulum tingkat sekolah
Pada tingkatan sekolah, kepala sekolah bertanggung jawab melaksanakan kurikulum di lingkungan sekolah yang dipimpinnya. Kepala sekolah berkewajiban melakukan kegiatan-kegiatan yakni menyusun rencana tahunan, menyusun jadwal pelaksanaan kegiatan, memimpin rapat dan membuat notula rapat, membuat statistik dan menyusun laporan.
Pelaksanaan kurikulum tingkat kelas
Pembagian tugas guru harus diatur secara administrasi untuk menjamin kelancaran pelaksanaan kurikulum lingkungan kelas. Pembagian tugas-tugas tersebut meliputi tiga jenis kegiatan administrasi, yaitu :
Pembagian tugas mengajar
Pembagian tugas pembinaan ekstra kurikuler
Pembagian tugas bimbingan belajar.
Pengembangan Kurikulum
Monitoring Pelaksanaan Kurikulum
Kegiatan monitoring terhadap pelaksanaan kurikulum pada dasarnya dimaksudkan untuk mengetahui sampai dimana kurikulum baru itu telah dilaksanakan di sekolah-sekolah dan persoalan-persoalan apa yang dirasakan di dalam pelaksanaan kurikulum tersebut. 
Adapun cara pelaksanaan monitoring terbagi menjadi kepada dua cara, yakni pamantauan langsung dan pemantauan tidak langsung. Pemantauan langsung adalah pemantauan yang dilakukan dengan cara mengunjungi lokasi proyek. Dengan cara demikian petugas monitoring dapat secara bebas mengumpulkan informasi yang diperlukan. Pemantauan tidak langsung adalah cara pemantauan yang menghendaki petugas monitoring tidak perlu terjun langsung ke lokasi, tetapi penggalian data dilakukan dengan cara mengirim seperangkat daftar isisan untuk diisi oleh orang lain di lokasi penelitian. Cara tidak langsung ini juga dapat dilakukan dengan mengumpulkan data melalui laporan-laporan yang dibuat pimpinan pemantau.
Evaluasi Kurikulum
Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Kurikulum juga dirancang dari tahap perencanaan, organisasi kemudian pelaksanaan dan akhirnya monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan mengetahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya.
Sasaran utama pelaksanaan ditujukan untuk mengetahui sampai sejauh mana siswa dapat mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Tujuan merupakan acuan dari seluruh komponen dalam kurikulum. Baik komponen bahan, metode maupun evaluasi. Apa yang dipelajari siswa agar memperoleh pengalaman belajar sesuai dengan tujuan tercermin dari isi kurikulum. Jadi luas dan dalamnya isi kurikulum tergantung kepada banyak ditentukan oleh tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian bila ingin diketahui apakah tujuan itu tercapai seluruhnya atau tidak, maka seluruh bahan menjadi dasar melakukan evaluasi.
Dalam pelaksanaan evaluasi kadang-kadang dipengaruhi oleh faktor subyektif guru. Bila ini terjadi maka hasil evaluasi tidak dapat menggambarkan keadaan sebenarnya dari hasil yang di capai. Dengan demikian, bila diinginkan agar hasil evauasi dapat menggambarkan keadaan sebenarnya dari hasil belajar atau hasil kurikulum, maka evaluasi perlu dilakukan secara obyektif.
Berdasarkan penjelasan diatas, dalam melalukan evaluasi kurikulum perlu dipegang prinsip-prinsip sebagai berikut:
evaluasi mengacu kepada tujuan
evaluasi bersifat komprehensif dan menyeluruh
evaluasi dilakukan secara obyektif
Tujuan sebagai acuan dalam evaluasi
Agar evaluasi sesuai dan dapat mencapai sasaran, maka evaluasi harus mengacu kepada tujuan sebagai acuan ini harus dirumuskan terlebih dahulu dengan jelas menggambarkan apa yang berhak dicapai. Bila tujuan itu ditetapkan dengan menggunakan taksonomi Bloom, dapatlah dilakukan kajian tentang pengetahuan apa telah dimiliki siswa sebagai hasil belajar. Keterampilan apa yang diperoleh, serta sikap bagaimana dimiliki. Untuk menetapkan alat menilai atau mengukurnya tentu memerlukan rincian lebih jauh dalam bidang pengetahuan dapat pula, dilakukan kajian tentang bentuk bentuk tujuan sesuai taksonomi, demikin pula dengan hal keterampilan dan sikap. Disini diperlukan kajian lebih mendalam tentang bentuk-bentuk atau perjenjangan segi kognitif, afektif dan psikomotorik dari taksonomi sebagaimana diuraikan pada penjealasan di point sebelumnya.
Prinsip lain dari penggunaan tujuan sebagai acuan dalam evaluasi adalah rumusan itu harus dapat menggambarkan bentuk perilaku yang dapat diukur. Jelas di sini penggunaan tujuan khusus diperlukan. Namun demikian kita bertanya, apakah dengan melalukan evaluasi terhadap hal-hal khusus dapat dapat dicapai seluruh bagian yang menggambarkan seluruh hasil pengcapaian tujuan. Bila itu memungkinkan, harus berupa banyak butir-butir soal evaluasi.utntuk itu teknik yang hari hati perlu di gunakan.
Tekanan utama dalam menentukan bobot sasaran dalam evaluasi banyak ditentukan oleh bentuk kurikulum yang dtetapkan. Tentu saja paca subject centered, berbeda dengan activity ataupun life curriculum. Hal ini juga merupakan salah satu kajian dasar dalam evaluasi.
Seluruh bahan harus dicakup dalam evaluasi
Luas dan dalamnya bahan disesuaikan dengan tujuan. Bila tujuan itu menentukan luas dan banyak bahan, akibatnya akan banyak sekali bahan yang dinilai dengan rangka pencapaian tujuan. Mungkinkah ini dilakukan, kemungkinannya ada dua macam, pertama kita harus dilakukan evaluasi dengan butir soal sebanyak-banyaknya sesuai dengan banyaknya tujuan atau bahan kuantitatif. Tentu ini membutuhkan waktu lama. Kedua, dapat diambil sample (cuplikan-contoh) yang mewakili bentuk-bentuk tujuan, sehingga didapat butir-butir soal tidak terlalu banyak dan dapat dilakukan dalam waktu tidak terlalu lama.
Bila kita menggunakan sample sebagai dasar untuk melakukan evaluasi yang bersifat komprehensif, diperlukan teknik tertentu. Tekhik merumuskan ini dapat dilakukan dengan terlebih dahulu membuat kisi-kisi evaluasi. Berdasarkan kisi-kisi itu barulah dibuat alat evaluasi.
Hasil sebenarnya merupakan dasar kajian
Maksud utama yang terkandung pelaksanaan evaluasi kurikulum adalah sebagai dasar untuk memberikan balikan atau feedback. Oleh karena itu evaluasi harus dilakukan secara terus menerus. Tujuannya pun bukan sekedar menemukan indeks kemampuan atau angka (biji) kepada siswa.
Hasil evaluasi harus dapat menggambarkan keadaan sebenarnya hasil yang dicapai. Dengan mengetahui hasil sebenarnya ini dapat diketahui pula segi-segi kelemahan dan kekuatan dari kurikulum yang dilaksanakan, di samping kemampuan siswa itu sendiri. Agar hasil evaluasi dapat berarti untuk maksud di atas, keobyektifan perlu diperhatikan dan dipegang.
Keobyektifan ini dimaksudkan, bahwa evaluasi harus dilaksanakan dengan sebaik-sebaiknya, tanpa ada pengaruh luar dari faktor guru maupun siswa itu sendiri. Pelaksanaan evaluasi dimana siswa menunjukkan kemampuan tidak sebagaimana adanya (mencontek), atau guru memberikan data penilaian yang tidak sebenarnya (subyektif), tidak mempunyai arti bagi perbaikan kurikulum.
Berdasarkan kepada ketiga prinsip di atas, ternyata pelaksanaan evaluasi merupakan kegiatan yang sangat besar artinya dalam pengembangan kurikulum. Agar data yang yang diperoleh itu dapat dijadikan dasar feedback dalam kurikulum, maka alat yang digunakan dalam evaluasi harus memenuhi kriteria:
Alat evaluasi harus sesuai dengan sasaran yang hendak dicapai
Alat yang digunakan harus terpercaya (valid)
Alat yang digunakan harus terandalkan (reliable)
Alat evaluasi harus signifikan atau dapat dipercaya
Keempat kriteria di atas dapat dicapai apabila alat yang digunakan bersifat baku (standardized). 

















BAB III
PENUTUP

Pengertian kurikulum menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bab 1 disebutkan tentang pengertian kurikulum sebagai seperangkat rencana daan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.
Manajemen kurikulum berkaitan dengan manajemen pengalaman belajar yang membutuhkan strategi tertentu sehingga menghasilkan produktifitas belajar bagi siswa. Manajemen kurikulum harus diarahkan agar proses pembelajaran berjalan dengan baik, dengan tolok ukur pencapaian tujuan oleh siswa agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Kesimpulannya manajemen kurikulum adalah suatu sistem pengelolaan kurikulum yang kooperatif, komprehensif, sistemik, dan sistematik dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum.
Sekian pemaparan mengenai manajemen kurikulum dalam makalah ini. Kami mohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat di dalam makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat.














DAFTAR PUSTAKA

Afifuddin dan Sobry Sutikno. 2008. Pengelolaan Pendidikan “Teori dan Praktek”. Bandung: Prospect 
Lias Hasibuan. 2010. Kurikulum dan Pemikiran Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada
Muhammad Ali. 2009. Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Sinar Baru Algasindo
Sholeh Hidayat. 2013. Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Wina Sanjaya. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan KTSP. Jakarta: Prenada Media Group

Internet
Abdul Muiz, Pemantauan (Monitoring) dan Evaluasi Kurikulum https://amcreative.wordpress.com/pemantauan-kurikulum/ diakses pada tanggal 16 April 2017 pukul 20.44 WIB
Galih Prismasari Shillahaque, Makalah Menajemen Kurikulum, Diakses dari http://galihprismasarishillahaque.blogspot.com/2013/06/makalah-manajemen-kurikulum.html?m=1 pada tanggal 16 April 2017 pukul 21.33 WIB
Syamsuddin, Manajemen Kurikulum, diakses dari http://syamsuddincoy.blogspot.co.id/2012/02/manjemen-kurikulum.html?m=1 pada tanggal 16 April 2017 pukul 20.49 WIB

KRITERIA PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN

KRITERIA PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN
Disusun Oleh Kelompok: 6 (Enam)
Jejen Jaenul Millah : 1152020103
Laras Puji Astuti : 1152020113
M. Ra’is Umam Bishri : 1152020123

Pendahuluan
Media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tjuan pendididkan pada umumnya dan tujuan pembelajaran di sekolah pada khususnya. 
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang dapat disedikan oleh sekolah, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Guru sekurang-kurangnya dapat menggunakan alat yang murah dan efisien yang meskipun sederhana dan bersahaja, tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan. Disamping mampu menggunakan alat-alat yang tersedia, guru juga di tuntut untuk dapat mengembangkan keterampilan membuat media pembelajaran yang akan digunakan apabila media tersebut belum tersedia.
Pembelajaran yang efektif memerlukan perencanaan yang baik. Media yang kan digunakan dalam proses pembelajaran itu juga memerlukan perencanaan yang baik. Meskipun demikian, kenyataan di lapangan menunjukan bahwa seorang guru memilih salah satu media dalam kegiatannya di kelas atas dasar pertimbangan, antara lain: (a) ia merasa sudah akrab dengan media itu – papan tulis atau proyektor transparansi, (b) ia merasa bahwa media yang dipilihnya dapat menggambarkan dengan lebih baik daripada dirinya sendiri – misalnya diagram flip chart, atau (c) media yang dipilihnya dapat menarik minat dan perhatian siswa, serta menuntunnya pada penyajian yang lebih terstruktur. Pertimbangan ini diharapkan oleh guru dapat memenuhi kebutuhannya dalam mencapai tujuan yang telah ia tetapkan.
Pemilihan media yang tepat sangat berpengaruh dengan proses belajar-mengajar, juga bagaimana materi yang disampaikan dapat tersampaikan dengan baik. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis akan sedikit membahas tentang kriteria pemilihan media pembelajaran.

Pembahasan
Jenis-Jenis Media Pembelajaran
Perlu kita ketahui bahwa media pembelajaraan sangat beraneka ragam. Berdasarkan hasil penelitian para ahli, ternyata media yang beraneka ragam itu hampir semua bermanfaat. Cukup banyak jenis media yang telah dikenal dewasa ini, dari yang sederhana sampai yang berteknologi tinggi, dari yang mudah dan sudah ada secara natural sampai kepada media yang harus dirancang sendiri oleh guru.
Dilihat dari jenisnya, media dibagi ke dalam media audio, visual dan audiovisual. Media audio adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassete recorder, piringan hitam. Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar atau symbol yang bergerak seperti film bisu, film kartun. Sedangkan media audio visual merupakan media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan yang kedua. Media audio visual terdiri atas audio visual diam, yaitu media yang menampilkan unsur suara dan gambar bergerak seperti film suara dan video cassete. Dilihat dari segi keadaaanya, media audio visual dibagi menjadi audiovisual murni yaitu unsur suara maupun unsur gambar berasal dari suatu sumber seperti film audio-cassete. Sedangkan audio visual tidak murni yaitu unsur suara dan gambarnya berasal dari sumber yang berbeda, misalnya film bingkai suara yang unsur gambarnya bersumber dari slide proyektor dan unsur suaranya bersumber dari tape recorder. 
Dilihat dari daya liputnya, media dibagi menjadi, pertama, media dengan daya liput yang luas dan serentak. Penggunaan media ini tidak terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah siswa yang banyak dalam waktu yang sama. Kedua, media dengan daya liput yang terbatas oleh ruang dan tempat. Media ini dalam penggunaanya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus seperti film, sound slide, film rangkai, yang harus menggunakan tempat tertutup dan gelap. 
Sedangkan jika dilihat dari bahan pembuatannya, media dibagi atas, pertama, media sederhana, yakni media yang bahan dasarnya mudah diperoleh dengan harga murah, cara pembuatannya mudah, dan penggunaanya tidak sulit. Kedua, media kompleks, yakni media dengan bahan yang sulit didapat, alat tidak mudah dibuat dan harga relatif mahal. 
Penggunaan media diatas tidak dilihat atau dinilai dari segi kecanggihan medianya, tetapi yang lebih penting adalah fungsinya dalam membantu mempertinggi proses pembelajaran. Dari beberapa jenis media sebagaimana diuraikan di atas, kiranya patut menjadi perhatian dan pertimbangan agar dapat memilih media yang dianggap tepat untuk menunjang pencapaian tujuan pembelajaran.
Prinsip-Prinsip Pemilihan Media Pembelajaran
Setiap media pembelajaran memiliki keunggulan masing-masing, maka dari itulah guru diharapkan dapat memilih media yang sesuai dengan kebutuhan atau tujuan pembelajaran. Ketepatan dalam penggunaan media berkaitan dengan pertanyaan, apakah dalam penggunaan media tersebut materi pelajaran dapat diserap oleh siswa secara optimal dengan memperhitungkan resiko biaya dan tenaga seefisien mungkin. Boleh jadi ada media yang dipandang sangat efektif untuk mencapai suatu tujuan, namun proses pencapaiannya tidak efisien, baik dalam pengadaannya maupun dengan penggunaannya atau sebaliknya.
Saat memilih dan menggunakan media pembelajaran, hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip-prinsip tertentu agar penggunaan media dapat mencapai hasil yang baik. Prinsip-prinsip dimaksud sebagaimana yang dikemukakan oleh Nana Sujana (1991), berikut ini :
Menentukan jenis media yang tepat. Artinya, sebaiknya guru memilih terlebih dahulu media manakah yang sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran yang akan diajarkan.
Menetapkan atau mempertimbangan subjek dengan tepat. Artinya, perlu diperhitungkan apakah penggunaan media itu sesuai dengan tingkat kematangan/kemampuan siswa.
Menyajikan media dengan tepat. Artinya, teknik dan metode penggunaan media dalam pengajaran harus disesuaikan dengan tujuan, bahan, metode waktu dan sarana.
Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat dan situasi yang tepat. Artinya, kapan dan dalam situasi mana pada waktu media digunakan. Tentu tidak setiap saat menggunakan media pengajaran, tanpa kepentingan yang jelas.
Dari segi teori belajar, berbagai kondisi dan prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapat pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah sebagai berikut:
Motivasi. Harus ada kebutuhan, minat, atau keinginan untuk belajar dari siswa sebelum meminta perhatiannya untuk mengerjaka tugas dan latihan. 
Perbedaan individual. Siswa belajar dengan cara dan tingkat kecepatan yang berbeda-beda. Tingkat penyajian informasi melalui media harus berdasarkan kepada tingkat pemahaman.
Tujuan pembelajaran. Kesempatan untuk berhasil dalam pembelajaran akan semakin besar jika siswa diberitahu apa yang diharapkan untuk mereka pelajari melalui media pembelajaran. 
Organisasi isi. Pembelajaran akan lebih mudah jika isi dan prosedur atau keterampilan fisik yang akan dipelajari diorganisasikan ke dalam urutan-urutan yang bermakna.
Persiapan sebelum belajar. Siswa sebaiknya telah menguasai secara baik pelajaran dasar atau memiliki pengalaman yang memadai yang mungkin merupakan prasyarat dalam menggunakan media.
Emosi. Media pembelajaran adalah cara yang sangat baik untuk menghasilkan respon emosional seperti takut, cemas, empati, cinta kasih dan kesenangan.
Partisipasi. Belajar memerlukan kegiatan. Partisipasi aktif oleh siswa jauh lebih baik daripada mendengarkan dan menonton secara pasif. Partisipasi artinya kegiatan mental atau fisik yang terjadi di sela-sela penyajian materi.
Umpan balik. Hasil belajar dapat meningkat apabila secara berkala siswa diinformasikan kemajuan belajarnya. Pengetahuan tentang hasil belajar, pekerjaan yang baik, atau kebutuhan untuk perbaikan pada sisi-sisi tertentu akan memberikan sumbangan terhadap motivasi belajar yang berkelanjutan.
Penguatan (Reinfocement). Pembelajaran yang didorong oleh keberhasilan amat bermanfaat, dapat membangun kepercayaan diri, dan secara positif mempengaruhi perilaku di masa-masa yang akan datang.
Latihan dan pengulangan. Agar suatu pengetahuan atau keterampilan dapat menjadi bagian kompetensi atau kecakapan intelektual seseorang, haruslah sering diulang dan dilatih dalam berbagai konteks. Dengan demikian, ia dapat tinggal dalam ingatan jangka panjang.
Penerapan. Hasil belajar yang diinginkan adalah meningkatkan kemampuan seseorang untuk menerapkan atau mentransfer hasil belajar pada masalah atau situasi baru.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi dalam Pemilihan Media Pembelajaran
Penggunaan media pembelajaran sangat diperlukan dalam kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan. Pekerjaan guru adalah pekerjaan professional. Karena itu diperlukan kemampuan. Kemampuan itu dapat dilihat dari kesanggupan dan kemampuannya dalam menjadikan perannya sebagai guru. Salah satu kemampuannya itu adalah penguasaan materi pelajaran dan ilmu mendidik. Penguasaan ilmu mendidik, diantaranya adalah kemampuan/penguasaan tentang media pembelajaran. Agar media pembelajaran yang dipilih itu tepat dan sesuai prinsip-prinsip pemilihan, perlu juga memperhatikan faktor-faktor, berikut ini :
Objektifitas. Metode dipilih bukan atas kesenangan atau kebutuhan guru, melainkan keperluan sistem belajar. Karena itu perlu masukan dari siswa.
Program pembelajaran. Program pembelajaran harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku baik isi, struktur maupun kedalamannya.
Sasaran program. Media yang akan digunakan harus dilihat kesesuaiannya dengan tingkat perkembangan siswa, baik dari segi bahasa, symbol-simbol yang digunakan, cara dan kecepatan penyajian maupun waktu penggunaanya.
Sutuasi dan kondisi. Yakni situasi dan kondisi sekolah atau tempat dan ruangan yang akan digunakan baik ukuran, perlengkapan maupun ventilasinya.
Kualitas teknik. Barangkali ada rekaman suara atau gambar-gambar dan alat-alat lainnya yang perlu penyempurnaan sebelum digunakan. Misalnya suara atau gambar yang kurang jelas, keadaan yang telah rusak, ketidaksesuaian dengan yang lainnya.
Menurut Prof. Drs. Hartono Kasmadi, M.Sc., bahwa didalam memilih media pendidikan perlu di pertimbangkan adanya 4 hal yaitu produksi, peserta didik, isi dan guru. 
Proses Pemilihan Media
Teori umum yang mendukung proses pemilihan media ini memang belum ada. Harapan kami semoga proses pemilihan media sebagaimana yang dijelaskan oleh parapakar berikut ini bisa membantu anda khususnya dalam proses pemilihan media untuk memperoleh hasil yang mendekati pada kesempurnaan.
Kemp (1975) mengajukan tiga pertanyaan dalam hal proses pemilihan media, yaitu:
Pola belajar-mengajar mana yang dipakai: belajar mandiri atau interaksi kelompok kecil yang dipilih dan paling tepat untuk mencapai tujuan belajar tersebut?
Kategori pengalaman belajar apa yang diberikan: pengalaman riel yang langsung, abstraksi kata-kata lisan atau tulisan, atau pengalaman dan pengganti, yang paling tepat tujuan-tujuan belajar tadi dan pola belajar mengajar yang dipilih.
Apabila pengalaman telah ditetapkan, atribut media apa yang tepat untuk itu?
Ericson dan Cruel (1972) mengembangkan proses pemilihan media dalam bentk cecklist, sebagai berikut:
Apakah materinya penting dan berguna bagi siswa?
Apakah dapat menarik minat siswa dalam belajar?
Apakah ada kaitan yang mengena dan langsung dengan tujuan khusus yang hendak dicapai?
Bagaimana format penyajiannya diatur memenuhi sekuens atau tata urut belajar?
Apakah materi yang disajikan mutakhir atau otentik?
Apakah konsep dan faktanya terjamin kecermatannya?
Apakah isi dan presentasinya memenuhi standar selera?
Bila tidak, apakah ada keseimbangan kontroversial?
Apakah pandangannya obyektif dan tidak mengandung unsur propaganda dan sebagaimana?
Apakah memenuhi standar kualitas teknis?
Apakah struktur materinya direncanakan dengan baik oleh produsennya?
Apakah sudah dimantapkan melalui proses uji-coba atau validasi? Oleh siapa, kondisinya, karakteristik sasarannya, dan sejauh mana hal tersebut berhasil?
Anderson (1976) memandang media sebagai media integral dari proses pengembangan pembelajaran. Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan flowcart. Dalam proses tersebut dikemukakan 6 langkah penentuan media, yaitu:
Menentukan apakah pesan yang disampaikan itu untuk tujuan pembelajaran atau hanya sekedar informasi/hiburan.
Menetapkan apakah media itu dirancang untuk keperluan pembelajaran atau alat bantu mengajar.
Menentukan apakah dalam usaha mendorong kegiatan belajar tersebut akan digunakan strategi afektif, kognitif dan psikomotorik.
Menentukan media yang sesuai dari kelompok media yang cocok untuk strategi yang dipilih dengan mempertimbangkan ketentuan (kriteria) kebijakan, fasilitas yang ada, kemampuan produksi dan biaya.
Mereview kembali kelemahan dan kelebihan media yang dipilih bila perlu mengkaji kembali dengan alternative dari bagian (d) sebelum mulai dengan proses selanjutnya.
Perencanaan pengembangan produksi media tersebut.
Kriteria-kriteria Pemilihan Media yang Baik
Penggunaan media dalam proses pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat baru, yaitu membangkitkan motivasi belajar. Nana Sudjana dan Ahmad Rifai (1991) mengemukakan rumusan pemilihan media dengan kriteria-kriteria sebagai berikut:
Ketepatannya dangan tujuan pengajaran, artinya, media pengajaran dipilih atas dasar tujuan-tukuan instruksional yang telah ditetapkan. Tujuan-tujuan instruksional yang berisikan unsur-unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, biasanya lebih mungkin menggunakan media pengajaran.
Dukungan terhadap isi materi pelajaran, artinya materi pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa.
Kemudahan memperoleh media, artinya media yang diperlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. Media grafis umumnya mudah dibuat oleh guru tanpa biaya yang mahal, disamping sederhana dan praktis penggunaannya. 
Keterampilan guru dalam menggunakan apapun jenis media yang diperlukan syarat utama adalah guru dapat menggunakannya dalam proses pengajaran. Nilai dan manfaat yang diharapkan bukan pada medianya, tetapi dampak dari penggunaannya dalam interaksi bagi siswa selama pengajaran berlangsung.
Sesuai dengan taraf berfikir siswa, memilih media untuk pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan taraf berfikir siswa. Menyajikan grafik yang berisi data dan angka atau proporsi dalam bentuk gambar atau poster. Demikian juga diagram yang menjelaskan alur hubungan suatu konsep atau prinsip hanya bisa dilakukan bagi siswa yang telah memiliki kadar berfikir yang tinngi.
Senada dengan pendapat Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, menurut Wilkinson juga menjelaskan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih media pembelajaran, yakni:
Tujuan. Media yang dipilih hendaknya menunjang tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Tujuan yang dirumuskan ini adalah kriteria yang paling cocok, sedangkan tujuan pembelajaran yang lain merupakan kelengkapan dari keriteria utama.
Ketepatgunaan. Jika materi yang akan dipelajari adalah bagian-bagian yang penting dari benda, maka gambar seperti bagan dan slide dapaat digunakan. Wilkinson menyatakan bahwa penggunaan bahan-bahan yang bervariasi menghasilkan dan meningkatkan pencapaian akademik.
Keadaan siswa. Media akan efektif digunakan apabila tidak tergantung dari beda interindividual antara siswa. 
Ketersediaan. Walaupun suatu media dinilai sangat tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran, media tersebut tidak dapat digunakan jika tidak tersedia. Menurut Wilkinson media merupakan alat mengajar dan belajar, peralatan tersebut harus tersedia ketika dibutuhkan untuk memenuhi keperluan siswa dan guru.
Biaya. Biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dan menggunakan media, hendaknya benar-benar seimbang dengan hasil-hasil yang akan dicapai.
Dari dua pendapat diatas, maka dapat disimpulkaan bahwa kriteria-kriteria pemilihan media yang baik adalah :
Media yang akan dipakai harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Sesuai dengan materi.
Kemudahan memperoleh.
Penguasaan dan kemampuan guru dalam menggunakan media.
Ketersediaan biaya.
Sesuai dengan keadaan siswa.
Dengan kriteria pemilihan media tersebut, guru dapat lebih mudah menggunakan media mana yang dianggap tepat untuk membantu mempermudah tugas-tugasnya sebagai pendidik dan siswa lebih gampang dalam menerima serta memahami materi pembelajaran yang disampaikan guru.
Pemilihan media menurut sifat tugas pembelajaran
         
                  MEDIA

TUJUAN/
TUGAS/
ISI
GURU INSTRUKTUR
CETAK
TRANSPARANSI
SLIDE
GAMBAR ILUSTRASI
AUDIO-TAPE
VIDEO KASET
RADIO
FILM
KOMPUTER
SIMULASI
VIDEODISC
PERMAINAN
TELEVISI

SIFAT TUGAS

*Menghafal
v
v


v


v

v
v

v


*menentukan prosedur fisik
v
v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
V
v

*memerlukan penerapan prinsip-prinsip
v
v
v
v
v

v

v
v
v
v

v

*pemahaman konsep-konsep dan hubungan-hubungan
v
v
v
v
v

v

v
v
v
v
V


*memerlukan pemikiran tingkat lebih tinggi
v
v
v
v


v

v
v
v
v



SIFAT RESPONS

*Memerlukan respon lisan
v




v

v
v

v

V
v

*Memerlukan peralatan teknis
v
v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
V
v

*suara penting untuk mempelajari/ menguasai tugas
v




v
v
v
v
v
v
v
V


KONTEKS PEMBELAJARAN

*Memerlukan revisi dan update
v
v
v
v
v
v
v








*Kelompok besar ( > 50)
v
v
v
v
v
v

v
v




v

*Kelompok Sedang (10-50)
v
v
v
v
v
v
v
v
v




v

*kelompok kecil (2-10)
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v


*Latihan/tutor perorangan

v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v



SIFAT RESPONS

*Fakta-fakta
S
S
S
S
S
S
T
S
T
R
T
S
S
S

*pengenalan Visual
S
R
T
T
T
R
T
R
T
T
S
T
R
S

*prinsip konsep
S
S
S
S
S
R
T
R
T
T
S
T
R
S

*prosedur
S
S
S
S
S
R
T
R
T
T
T
S
S
T

*keterampilan
S
R
S
S
S
R
S
R
S
S
T
S
S
S

*sikap
T
S
S
S
S
R
S
S
S
S
S
S
S
S

Catatan: T = tinggi
  S = sedang
  R = rendah

Simpulan
Jenis-jenis media pembelajaraan sangat beraneka ragam. Dilihat dari jenisnya, media dibagi ke dalam media audio, visual dan audiovisual. Dilihat dari daya liputnya, media dibagi menjadi, pertama, media dengan daya liput yang luas dan serentak. Kedua, media dengan daya liput yang terbatas oleh ruang dan tempat. Sedangkan jika dilihat dari bahan pembuatannya, media dibagi atas, pertama, media sederhana, kedua, media kompleks,
Dalam pemilihan media hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip agar penggunaan media dapat berjalan dengan baik, diantaranya menentukan jenis media yang tepat, menetapkan atau mempertimbangan subjek dengan tepat, menyajikan media dengan tepat, menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat dan situasi yang tepat. 
Agar media pembelajaran yang dipilih itu tepat dan sesuai prinsip-prinsip pemilihan, perlu juga memperhatikan faktor-faktor diantaranya objektifitas, program pembelajaran, sasaran program, situasi dan kondisi juga kualitas teknik. 
Dari dua pendapat yakni Nana Sudjana dan Ahmad Rifai (1991) dan Wilkinson, maka dapat disimpulkaan bahwa kriteria-kriteria pemilihan media yang baik adalah media yang akan dipakai harus sesuai dengan tujuan pembelajaran, sesuai dengan materi, kemudahan memperoleh, penguasaan dan kemampuan guru dalam menggunakan media, ketersediaan biaya, dan sesuai dengan keadaan siswa.

Referensi
Azhar Arsyad. 2013. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Harjanto. 1997. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
M. Sobry Sutikno dan Ida Rosyidah. 2009. Media Pembelajaran. Bandung: Prospect.






























Soal mengenai Kriteria Media Pembelajaran
Dilihat dari jenisnya, media dibagi ke dalam beberapa media, kecuali…
Audio b. Visual c. Proyektor
Saat memilih dan menggunakan media pembelajaran, hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip-prinsip tertentu agar penggunaan media dapat mencapai hasil yang baik. Prinsip-prinsip dimaksud sebagaimana yang dikemukakan oleh Nana Sujana (1991), diantaranya…
Ketepatannya dangan tujuan pengajaran
Motivasi
Ketepatan penyampaian materi
Dari segi teori belajar, berbagai kondisi dan prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapat pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media. Kecuali…
Tujuan pembelajaran
Persiapan sebelum belajar
Kesiapan guru menyampaikan materi
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan media pembelajaran diantaranya…
Situasi dan kondisi
Kesiapan guru
Pemilihan media yang tepat
Media pengajaran dipilih atas dasar tujuan-tukuan instruksional yang telah ditetapkan. Tujuan-tujuan instruksional yang berisikan unsur-unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, biasanya lebih mungkin menggunakan media pengajaran. Adalah maksud dari…
Ketepatannya dangan tujuan pengajaran
Menentukan jenis media yang tepat
Menyajikan media dengan tepat
Kriteria pemilihan media yang baik diantaranya…
Ketersediaan biaya
Pengolahan media
Sumber materi yang di dapat
Menurut Wilkinson juga menjelaskan ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam memilih media pembelajaran, kecuali…
Ketepatgunaan
Keadaan siswa
Keadaan tempat
Dalam sebuah seminar, media yang biasanya sering digunakan adalah…
Proyektor
Televisi
Videodisc
Dalam kriteria pemilihan media pembelajaran, guru harus memperhatikan setiap perbedaan individual setiap siswa. Hal tersebut adalah salah satu kriteria pemilihan media pembelajaran menurut Wilkinson, yaitu…
Taraf berfikir siswa
Keadaaan siswa
Ketepatgunaan
Dilihat dari segi keadaaanya, media audio visual dibagi menjadi dua, yaitu…
audiovisual murni dan audio visual tidak murni
audiovisual putih dan audiovisual hitam
audio visual berwarna dan tidak berwarna
Essay
Sebutkan kriteria pemilihan media menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai!
Sebutkan jenis-jenis media jika dilihat dari daya liputnya!
Sebutkan beberapa media yang cocok digunakan untuk diskusi kelompok sedang (10-50)!
Dalam proses pemilihan media, Anderson memandang media sebagai media integral dari proses pengembangan pembelajaran. Dalam proses tersebut dikemukakan 6 langkah penentuan media. Sebutkan apa saja 6 langkah tersebut!
Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan media pembelajaran menurut Prof. Drs. Hartono Kasmadi, M.Sc!



Jawaban
C 6. A
A 7. C
C 8. A
A 9. B
A 10. A

Essay
Ketepatannya dangan tujuan pengajaran, dukungan terhadap isi materi pelajaran, kemudahan memperoleh media, keterampilan guru dalam menggunakan apapun jenis media yang diperlukan dan sesuai dengan taraf berfikir siswa.
Media dengan daya liput yang luas dan serentak dan media dengan daya liput yang terbatas oleh ruang dan tempat
Guru instruktur, cetak, transparansi, slide, gambar ilustrasi, audio-tape, video kaset, radio, film dan televise.
(a) Menentukan apakah pesan yang disampaikan itu untuk tujuan pembelajaran atau hanya sekedar informasi/hiburan. (b) Menetapkan apakah media itu dirancang untuk keperluan pembelajaran atau alat bantu mengajar. (c) Menentukan apakah dalam usaha mendorong kegiatan belajar tersebut akan digunakan strategi afektif, kognitif dan psikomotorik. (d) Menentukan media yang sesuai dari kelompok media yang cocok untuk strategi yang dipilih dengan mempertimbangkan ketentuan (kriteria) kebijakan, fasilitas yang ada, kemampuan produksi dan biaya. (e) Mereview kembali kelemahan dan kelebihan media yang dipilih bila perlu mengkaji kembali dengan alternative dari bagian -d- sebelum mulai dengan proses selanjutnya. (f) Perencanaan pengembangan produksi media tersebut.
Produksi, peserta didik, isi dan guru. 

PENGGUNAAN METODE ROLEPLAYING

NAMA : KRISTIN WIRANATA
NIM : 1152020108
JURUSAN : PAI
KELAS : VI C
MATA KULIAH : METODOLOGI PENELITIAN

PENGGUNAAN METODE ROLE PLAYING DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN AKIDAH-AKHLAK KELAS VII MADRASAH TSANAWIYAH ULUL ALBAB

Ungkapkan permasalahan yang dibuktikan melalui fakta dan fenomena
Pembelajaran akidah-akhlak jika dilakukan dengan metode yang tepat dapat menjadi sarana pembelajaran yang efektif dalam pembentukan akhlakul karimah siswa. Namun, dalam kenyataannya seringkali dijumpai aktivitas belajar akidah-akhlak yang dilakukan oleh siswa cenderung monoton dan kurang variatif misalnya siswa belajar dengan menggunakan metode pembelajaran klasik yakni ceramah, dimana aktivitas belajar siswa hanya menjadi pendengar yang pasif interaksi di dalam pembelajaran pun hanya satu arah. Jika aktivitas belajar akidah-akhlak tidak memberikan kesan terhadap siswa dan hanya menyentuh ranah kognitif siswa saja dikhawatirkan siswa hanya akan pintar secara kognitif namun tidak cerdas dalam bersikap. 
Aktivitas belajar yang monoton dan tidak menyenangkan dapat menghambat proses pembelajaran. Hal ini tentu dapat menghambat tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Padahal siswa hanya dapat belajar secara optimal manakala siswa merasa nyaman dengan lingkungan belajarnya. Metode pembelajaran yang kaku hanya membuat siswa menjadi pembelajar yang pasif, dikhawatirkan tidak mampu mencapai beberapa kompetensi dasar yang harus dicapainya di dalam suatu pembelajaran. Bagaimana mungkin pembelajaran akidah-akhlak dapat merubah sikap siswa jika pembelajarannya tidak inovatif?



Solusi yang ditawarkan dan alasan akademik yang membingkai solusi tersebut?
Keaktifan siswa di dalam pembelajaran dipengaruhi oleh motivasi belajarnya yakni sejauh mana rasa ketertarikan dan keingintahuan siswa terhadap materi pelajaran. Oleh karena itu, agar pembelajaran menarik haruslah dikemas dengan metode pembelajaran yang aktif dan menyenangkan serta menggunakan media pembelajaran yang menarik dan mendorong siswa untuk dapat mengaplikasikan akidah-akhlak secara aplikatif di dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu metode pembelajaran yang menarik dan aplikatif sehingga mudah di praktikkan oleh siswa ialah metode pembelajaran role playing. Dimana siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran dan adanya interaksi pembelajaran yang multi-arah sehingga aktivitas belajar siswa dapat meningkat.
Pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran. (Wibowo, 2016) Role playing pada prinsipya merupakan metode untuk menghadirkan peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu pertunjukan peran di dalam kelas yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta didik memberikan penilaian. Metode ini biasa digunakan untuk menggariahkan diskusi, menyemarakkan suasana, mempraktikkan keterampilan. Pada metode role playing tidak hanya membutuhkan keterlibatan fisik akan tetapi juka membutuhkan keterlibatan emosional dan pengamatan indra ke dalam situasi permasalahan yang secara nyata dihadapi. Dengan demikian, aktivitas pembelajaran secara fisik dan psikis akan meningkat melalui metode pembelajaran role playing.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut:
Apakah dengan menggunakan metode role playing dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak kelas VII Mts. Ulul Albab?

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
Meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam materi asmaul husna mata pelajaran akidah akhlak di kelas VII Mts. Ulul Albab.

Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat untuk mengembangkan proses pembelajaran dari segi teoritis maupun segi praktis.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi atau bahan kajian dalam pengembangan penelitian selanjutnya.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:
Bagi penulis, dapat memberikan pengalaman untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapat di bangku kuliah ke dalam suatu karya atau penelitian.
Bagi guru pengajar, penelitian ini dapat memberikan masukan dalam menunjang pembelajaran siswa, khususnya meningkatkan mutu pendidikan melalui penerapan metode pembelajaran role playing di Mts. Ulul Albab.
Bagi siswa, penelitian ini dapat meningkatkan keaktifan siswa pada saat proses pembelajaran dalam hal ini melatih kreatifitas, mengungkapkan pendapat, menghargai kelebihan dan kekurangan siswa lain, serta dapat memberdayakan potensi siswa terkait dengan jalinan interaksi antar siswa dalam proses pembelajaran.
Bagi sekolah khususnya penyelenggara pendidikan, dapat memberikan masukan dan merumuskan kebijakan penyelenggaraan pendidikan dan diperoleh gambaran yang nyata tentang adanya peningkatan aktivitas dalam pembelajaran akidah akhlak melalui metode role playing.

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...