dimensi lahir batin dari suatu syariat

Hidayah juga memiliki dimensi lahir dan batin karena segala yang mempunyai dimensi lahir pasti memiliki dimensi batin, dan begitu sebaliknya. oleh sebab itu, syariat adalah dimensi lahir dari al-haqiqah (hakikat), dan ia merupakan dimensi batin dari syariah; keduanya merupakan sesuatu yang lazim (kelaziman yang tidak terpisahkan) secara maknawi. Syariat tanpa hakikat tidak berguna dan tidak membuahkan, sedangkan hakikat tanpa syariat itu batil, sia-sia, dan tidak ada kebaikan yang dapat diharapkan darinya. Berkaitan dengan persoalan di atas, seorang penyair berkata:

بَلِ التَّصَوُّفُ أَنْ تَصْفُو بِلاَ كَدَرٍ * وَتَتْبَعَ الحَقَّ وَالقُرْآنَ وَالدِّيْنَا
وَأَنْ تَرَى خَاشِعًا لِلّٰهِ مُكْتَئِباً * عَلىَ ذُنُوْبِكَ طُوْلَ الدَّهْرِ مَحْزُوْنًا
tasawuf adalah jika engkau jernih tanpa noda dengan mengikuti kebenaran, al-Quran dan agama

dan engkau menjadi khusyuk di hadapan Sang Mahakuasa berduka dan menangis atas dosa-dosamu sepanjang masa

Roja dan Khauf


(وعليك) بالرجاء والخوف
فإنهما من أشرف ثمرات اليقين وقد وصف الله بهما عباده السابقين فقال وهو أصدق القائلين: (أولئك الذين يدعون يبتغون الى ربهم الوسيلة أيُّهم أقرب ويرجون رحمته ويخافون عذابه إن عذاب ربك كان محذوراً) وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم قال الله تعالى: "أنا عند ظن عبدي بي فلْيظنَّ بي ما يشاء" وقال عليه الصلاة والسلام، قال الله تعالى: "وعزتي وجلالي لا أجمع على عبدي أمنين ولا خوفين إن هو أمِنَني في الدنيا أخفته يوم أبعث عبادي وإن هو خافني في الدنيا أمَنته يوم أجمع عبادي".

Harap dan cemas

Hendaklah engkau memperbanyak perasaan harap dan cemas, harap di sini ialah selalu menginginkan rahmat Allah dan senantiasa cemas dan takut pada siksa Allah, karena kedua sifat ini merupakan sifat keyakinan yang termulia.


Maha benar Allah Swt. dalam firman-Nya:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا [١٧:٥٧]
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. al-Isra`: 57)


Dalam hadist qudsi, Allah berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عِبْدِيْ بِيْ فَلْيَظُنَّ بِيْ مَا شَاءَ.
“Aku tergantung pada sangkaan hamba-Ku, maka terserahlah dalam berperasangka kepada-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Dalam hadist qudsi yang lain, Allah Swt. juga berfirman:

وَعِزَّتِيْ لَا أَجْمَعُ عَلَى عَبْدِيْ أَمَنَيْنِ وَلَا خَوْفَيْنِ إِنْ هُوَ أَمَنَنِيْ فِيْ الدُّنْيَا أَخَفْتُهُ يَوْمَ أَبْعَثُ عِبَادِيْ وَإِنْ هُوَ خَافَنِيْ فِي الدُّنْيَا أَمَنْتُهُ يَوْمَ أَجْمَعُ عِبَادِيْ.
“Demi kemuliaan-Ku, Aku tidak mengumpulkan atas hamba-Ku dua kesentosaan dan dua ketakutan. Apabila hamba-Ku merasa aman dari-Ku di dalam kehidupan dunia, Aku akan memberi ketakutan kepadanya di hari bangkitnya hamba-hamba-Ku dari alam kubur. Dan apabila hamba-Ku takut dengan-Ku di dalam kehidupan dunia, Aku akan memberi kesejahteraan kepadanya di hari berkumpulnya hamba-hamba-Ku.” (HR. Abu Nu`aim)


وأصل الرجاء معرفة القلب بسعة رحمة الله وجوده وعظيم فضله وإحسانه وجميل وعده لمن عمل بطاعته فيتولد من هذه المعرفة حالة فرح تسمى الرجاء. وثمرته المقصودة منه كثرة المسارعة في الخيرات، وشدة المحافظة على الطاعات فإن الطاعة هي السبيل الموصلة إلى رضوان الله وجنته.

Raja` (harapan) ialah makrifat hati terhadap keluasan rahmat Allah, kedermawanan, keagungan, keutamaan, dan kebaikan janji-Nya bagi orang yang taat kepada-Nya.
Dari makrifat ini timbul suatu keadaan bahagia yang dinamakan raja` dan hasil-hasil yang dicapai dari sifat ini ialah berlomba-lomba menjalankan kebaikan dan benar-benar menjaga ketaatan kepada Allah, karena ia telah mengetahui bahwa taat adalah salah satu jalan yang menghubungkan dirinya dengan rida dan sesama Allah Swt.

وأما الخوف فأصله معرفة القلب بجلال الله تعالى وقهره وغناه عن جميع خلقه وشديد عقابه وأليم عذابه اللذين توعد بهما من عصاه وخالف أمره فيتولد من هذه المعرفة حالة وجَل تسمى الخوف. وثمرته المقصودة منه ترك المعاصي وشدة الاحتراز منها فإن المعصية هي الطريق الموصلة إلى سخط الله ودار عقوبته.

Khauf(cemas) ialah makrifat hati terhadap keagungan Allah, kepedehan siksa-Nya pada orang-orang yang senantiasa bergelimang dengan dosa dan kemaksiatan serta melalaikan perintah-perintah-Nya.

Hasil-hasil yang dicapai dari sifat khauf ini ialah meninggalkan segala bentuk kemaksiatan dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhinya karena ia sadar bahwa kemaksiatan itulah yang mengantarkannya pada murka dan siksa Allah Swt.


وكل رجاء وكل خوف لا يحملان على فعل الموافقات وترك المخالفات معدودان عند أرباب البصائر من الترَّهات والتهويسات التي لا حاصل لها ولا طائل تحتها فإن من رجا شيئاً طلبه ومن خاف شيئا ًهرب منه لا محالة.

Setiap harapan yang tidak mendorong seseorang untuk berbuat segala kebaikan dan rasa cemas yang tidak memacu seseorang untuk tidak menjauhi segala kemaksiatan, keduanya tidak berguna dan tak berarti dalam tata kehidupan beragama setiap orang menurut pendapat sebagian orang makrifat. Karena barangsiapa mengharap sesuatu pasti ia mencarinya, dan barangsiapa takut terhadap sesuatu, tentu ia akan lari menjauhinya.


(واعلم) أن الناس ثلاثة "عبدٌ" قد أناب إلى ربه واطمأنت نفسه به وانقشعت ظلمات شهواته بإشراق أنوار قربه فلم تبق له لذة إلاَّ في مناجاته ولا راحة إلا في معاملته فصار رجاؤه شوقاً ومحبة وخوفه تعظيماً وهيبة،

Ada tiga kelompok manusia sehubungan denga harap dan cemas: pertama, manusia yang telah bertobat kepada Allah Swt., tenang dan tentram hatinya bila selalu bersama-Nya serta hilanglah segala bisikan hawa nafsu yang ada pada dirinya dengan cahaya pendekatannya pada Allah.


Ia pun tak pernah merasakan lezatnya hidup kecuali dengan bermunajatkepada Allah dan tak akan merasa senang kecuali ketika ia sedang berhubungan dengan-Nya.

Dalam keadaan seperti ini, rasa harapnya berubah menjadi rasa rindu dan cinta kepada Allah, sedangkan rasa cemasnya menjadi rasa pengagungan dan rasa takut kepada Allah.

"وعبدٌ" لا يأمن على نفسه من التقاعد عن المأمورات والركون إلى المحظورات، والذي ينبغي لهذا العبد استواء الخوف والرجاء حتى يكونا كجناحي الطائر. وفي الحديث: "لو وزن خوف المؤمن ورجاؤه لاعتدلا" وهذا حال أكثر المؤمني .

Kedua, manusia yang tak mampu menjaga dirinya untuk selalu menjalankan perintah bahkan cenderung melakukan hal-hal yang dilarang oleh-Nya. Untuk tipe manusia seperti ini, hendaknya ia mampu menyeimbangkan harap dan cemasnya laksana dua sayap burung yang kemampuannya dalam terbang selalu seimbang.


Rasulullah saw. bersabda,

لَوْ وُزِنَ خَوْفُ الْمُؤْمِنِ وَرَجَاؤُهُ لَاعْتَدَلَا.
“Andaikan rasa cemas dan harap seorang mukmin ditumbang, maka keduanya pasti seimbang.” (al-Hadist)

Kedua, manusia yang tak mampu menjaga dirinya untuk selalu menjalankan perintah bahkan cenderung melakukan hal-hal yang dilarang oleh-Nya. Untuk tipe manusia seperti ini, hendaknya ia mampu menyeimbangkan harap dan cemasnya laksana dua sayap burung yang kemampuannya dalam terbang selalu seimbang.

Rasulullah saw. bersabda,

لَوْ وُزِنَ خَوْفُ الْمُؤْمِنِ وَرَجَاؤُهُ لَاعْتَدَلَا.
“Andaikan rasa cemas dan harap seorang mukmin ditumbang, maka keduanya pasti seimbang.” (al-Hadist)

Memang sebagian besar kaum mukminin memiliki tingkat keseimbangan yang sama antara rasa harap dan cemas.


Memang sebagian besar kaum mukminin memiliki tingkat keseimbangan yang sama antara rasa harap dan cemas.


"وعبدٌ" قد غلب عليه التخليط واستولى عليه التفريط، فاللائق به غلبة الخوف عليه لينزجر عن المعاصي إلا عند الموت فينبغي أن يكون رجاؤه غالباً على خوفه لقوله عليه الصلاة والسلام: "لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله".

Ketiga, manusia yang dirinya telah dikuasai oleh kelalaian dan tak mampu membedakan halal dan haram, maka tipe manusia seperti ini sebaiknya lebih menitikberatkan rasa cemasnya daripada harapannya agar ia dapat terhindar dari segala kemaksiatan, kecuali ketika ia akan meninggal dunia, maka rasa harap yang harus ia titikberatkan.


Sabda Rasulullah saw.:

لَا يَمُوْتُنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ حُسْنُ الظَّنِّ بِاللَّهِ.
“Sungguh, janganlah meninggal dunia salah satu di antaramu, kecuali ia berbaik sangka dengan Allah (yakni menyangka Alllah mengampuni dosanya).” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

setiap kesusahan disertai kemudahan

وَلا تَجزَعْ لِحَادِثَةِ اللَيَاليفَمَا لِحَوَادِثِ الدُّنْيَا بَقاءُ
Janganlah kamu gelisah terhadap musibah-musibah yangterjadi pada malam hari.

Sebab, tiada satu pun musibah dunia itu yang kekal abadi.

Penjelasan:


Kebanyakan dari manusia kehilangan kesabaran, bahkan merasarisau tatkala tertimpa musibah. Mereka tidak menyadari bahwakehidupan dunia itu tidaklah selalu dalam satu kondisi. Oleh karenaitu, janganlah kalian merasa risau ketika tertimpa musibah. Sebab,musibah itu tak akan terus-terusan membelit kalian. Ingatlah bahwadalam setiap kesulitan pasti terdapat kemudahan, dan dalam setiappersoalan pasti terdapat jalan keluar.

Bersama Takdir



وَمَنْ نَزَلَتْ بِسًاحَتِهِ الْمَنَايَا فَلَا أَرْضٌ تَقِيْهِ وَلَا سَمَاءُ
وَأَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ وَلٰكِنْ إِذَا نَزَلَ القَضَا ضَاقَ الْفَضَاءُدَعِ الْأَيّامَ تَغْدِرُ كُلَّ حِيْنٍ فَمَا يُغْنِيْ عَنِ الْمَوْتِ الدَّوَاءُ
Apabila ajal datang padamu,

maka tak sejengkal bumi, tidak pula sebidang langit yang dapatmelindungimu.

Bumi Allah amatlah luas, tetapi

suatu saat apabila takdir sudah datang angkasa pun menjadi

sempit.

Biarlah hari-hari itu tidak setia setiap saat.

Sebab, obat apa pun juga tak akan menangkal ajal.

(Jawahir al-Adab wa Adab al-Fugaha).

Penjelasan:


Ketika ajal datang menghampiri seseorang, maka tidak adatempat baginya untuk menghindar dan berlindung. Ya, benar,kematian bagaikan suatu penyakit yang tiada obatnya. Lalu, apakahkita semua sudah siap untuk bertemu dengan detik-detik kematianitu?

Etika Belajar


Imam Syafi'i berguru kepada Imam Malik dalam rentang waktuyang cukup lama. Ia bermulazamah bersama sang guru, hinggagurunya itu wafat. Sebelum Imam Syafi'i meninggalkan KotaMakkahuntuk berguru kepada Imam Malik, ia tinggal bersama orang-orangHudzail dari suku Badui. Ia belajar bahasa Arab kepada mereka danmemahami watak orang-orangnya. Sebab, orang Badui ini terkenalsebagai sebaik-baiknya orang Arab dalam berbahasa.

Imam Syafi'i bermulazamah dengan mereka selama tujuh belastahun. Ketika mereka berpindah dari satu daerah ke daerah lain(nomaden), ia juga mengikuti mereka, ke mana pun mereka pergi.

Pada suatu hari, seorang lelaki dari Bani Zubair yang tak lain berasal dari Bani pamannya berkata kepadanya, “Wahai Abdullah, apakah kamu tak ingin selain menguasai bahasa Arab juga menguasai fiqh sehingga kamu akan menjadi orang yang berilmu di generasimu?”

Imam Syafi’i pun menjawab, “Siapa sosok guru yang menurutmu aku bisa berguru kepadanya?”

“Imam Malik, ia gurunya kaum muslimin saat ini,” jawabnyakepada Imam Syafi’i.

Kemudian, pergilah Imam Syafi'i ke Madinah untuk bergurukepada Imam Malik. Di sana, ia diasuh langsung oleh Imam Maliksecara baik dan diajarkan kepadanya ilmu-ilmu Islam, terutamailmu fiqih.

Dari bait-bait syair Imam Syafi’i berikut ini, kita akan dapati tatacara belajar dan membangun kepribadian dalam menuntut ilmu,sebagaimana yang telah dilakukan oleh imam kita ini.

إِصْبِرْ عَلَى مُرِّ الْجَفَا مِنْ مُعَلِّمٍ فَإنَّ رُسُوْبَ الْعِلْمِ فِي نَفَرَاتِهِ
وَمَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلًّمِ سَاعَةً تَجَرَّعَ ذُلَّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتِهِ
وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابهِ فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ
وَذَاتُ الْفَتَى واللهِ بِالْعِلْمِ وَالتُّقَى إِذَا لَمْ يَكُوْنَا لَا إِعْتِبَارَ لِذَاتِهِ
Sabarlah kamu akan pahitnya seorang guru.

Sebab, mantapnya ilmu karena banyaknya guru.

Barang siapa tak sudi merasakan pahitnya belajar,

ia akan bodoh selama hidupnya.

Barang siapa ketinggalan belajar pada waktu mudanya,

takbirlah kepadanya empat kali, anggap saja ia sudah mati.

Seorang pemuda akan berarti apabila ia berilmu danbertakwa.

Apabila kedua hal itu tidak ada dalam dirinya maka pemuda

itu pun tak bermakna lagi.

Fiqh dan Tasawuf Selalu Bersama




Dalam pandangan Imam Syafi'i, ulama itu terdiri atas tiga golongan‎ yaitu seorang ahli fiqh saja (fakih), seorang ahli tasawuf saja (sufi), dan seorang ahli fiqh tetapi juga ahli tasawuf (fakih-sufi).

Oleh karena itu, dalam konteks ini, Imam Syafi'i menasihati

seorang ahli fiqh agar juga menjadi seorang yang ahli tasawuf. Hal ini sebagaimana yang ia jelaskan dalam bait-bait syair berikut:

فَقِيْهًا وَصُوْفِيًا فَكُنْ لَيْسَ وَاحِدًا فَإِنِّي وَحَقِّ اللهِ إيَّاكَ أَنْصَحُ
فَذٰلِكَ قَاسٍ لَمْ يَذُقْ قَلْبُهُ تُقَى وَهَذَا جَهُوْلٌ كَيْفَ ذُوْ الْجَهْلِ يَصْلُحُ؟
Jadilah ahli fiqh dan sufi, jangan menjadi salah satunya.

Demi Allah, aku menasihatimu

Sebab, ahli fiqh itu kejam, hatinya tidak bertakwa.

Sedangkan, sufi itu bodoh, lalu bagaimana seorang yang bodoh

itu bisa mengubah sesuatu menjadi lebih baik?

aku akan berlari menuju Tuhanku

Sesungguhnya, pintu ampunan Allah Subhanahu wa ta’ala. itu senantiasa terbuka lebar bagi orang-orang yang tengah mengalami tekanan dosa dan takut pada Hari Pembalasan. Bagaimana tidak, sebab Allah Subhanahu wa ta’ala. telah mencurahkan nikmat-Nya, baik itu kenikmatan lahir maupun batin kepada mereka?!

Sejak manusia masih berupa segumpal darah yang berada di perut ibunya, Allah Subhanahu wa ta’ala. telah menjaganya secara baik, hingga ia lahir ke dunia. Lantas, jika kenyataannya seperti ini, apakah benaria telah menelantarkanmu begitu saja, dan membiarkanmu kelakmasuk neraka?!

Apabila kelak Allah Subhanahu wa ta’ala. memang menghendaki kamu masuk neraka-Nya, tentu saja Dia tak akan mengilhamkan kebenaran tauhid kepadamu, sejak kamu masih bayi! Oleh sebab itu, bagi siapa saja yang merasa dirinya penuh dengan lumuran dosa dan senantiasa terbayang-bayang olehnya, janganlah sekali-kali putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala.

Mengenai hal ini, Imam Syafi'i berkata dalam empat syairnya

berikut

إِنْ كُنْتَ تَغْدُوْ فِي الذُّنُوْبِ جَلِيْدًا وَتَخَافُ فِي يَوْمِ الْمَعَادِ وَعِيْدًا
فَلَقَدْ أَتَاكَ مِنَ الْمُهَيْمِنِ عَفْوُهُ وَأَفَاضَ مِنْ نِعَمِ عَلَيْكَ مَزِيْدًا
Apabila kamu berjalan di atas dosa yang banyak seperti salju,

dan kamu khawatir terhadap Hari Pembalasan kelak,

maka sebenarnya kamu telah mendapat ampunan dari Allah,

dan limpahan nikmat-Nya telah dianugerahkan kepadamu.

Janganlah kamu berputus asa dalam memohon kemurahan

Tuhanmu.

Sebab, sewaktu kamu masih berada di perut ibumu, kamu

hanyalah segumpal darah.

Apabila Tuhan menghendaki kamu kekal masuk neraka,

tentunya Dia tidak akan mengilhami ketauhidan kepadamu.

Penjelasan:

Ingatlah, wahai orang yang terbebani oleh dosa, sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala. yang mengilhamkan tauhid dalam kalbumu tidak akan membiarkanmu terperosok ke dalam jurang api neraka. Oleh sebab itu, kembalilah kamu kepada-Nya, sembari menyesali dan meminta ampunan atas segala dosa-dosamu. Sebab, Dia Maha Rahim terhadap para hamba-Nya. Katakanlah pada dirimu sendiri, “Aku akan berlarimenuju Tuhanku!”

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...