Fiqh dan Tasawuf Selalu Bersama




Dalam pandangan Imam Syafi'i, ulama itu terdiri atas tiga golongan‎ yaitu seorang ahli fiqh saja (fakih), seorang ahli tasawuf saja (sufi), dan seorang ahli fiqh tetapi juga ahli tasawuf (fakih-sufi).

Oleh karena itu, dalam konteks ini, Imam Syafi'i menasihati

seorang ahli fiqh agar juga menjadi seorang yang ahli tasawuf. Hal ini sebagaimana yang ia jelaskan dalam bait-bait syair berikut:

فَقِيْهًا وَصُوْفِيًا فَكُنْ لَيْسَ وَاحِدًا فَإِنِّي وَحَقِّ اللهِ إيَّاكَ أَنْصَحُ
فَذٰلِكَ قَاسٍ لَمْ يَذُقْ قَلْبُهُ تُقَى وَهَذَا جَهُوْلٌ كَيْفَ ذُوْ الْجَهْلِ يَصْلُحُ؟
Jadilah ahli fiqh dan sufi, jangan menjadi salah satunya.

Demi Allah, aku menasihatimu

Sebab, ahli fiqh itu kejam, hatinya tidak bertakwa.

Sedangkan, sufi itu bodoh, lalu bagaimana seorang yang bodoh

itu bisa mengubah sesuatu menjadi lebih baik?

aku akan berlari menuju Tuhanku

Sesungguhnya, pintu ampunan Allah Subhanahu wa ta’ala. itu senantiasa terbuka lebar bagi orang-orang yang tengah mengalami tekanan dosa dan takut pada Hari Pembalasan. Bagaimana tidak, sebab Allah Subhanahu wa ta’ala. telah mencurahkan nikmat-Nya, baik itu kenikmatan lahir maupun batin kepada mereka?!

Sejak manusia masih berupa segumpal darah yang berada di perut ibunya, Allah Subhanahu wa ta’ala. telah menjaganya secara baik, hingga ia lahir ke dunia. Lantas, jika kenyataannya seperti ini, apakah benaria telah menelantarkanmu begitu saja, dan membiarkanmu kelakmasuk neraka?!

Apabila kelak Allah Subhanahu wa ta’ala. memang menghendaki kamu masuk neraka-Nya, tentu saja Dia tak akan mengilhamkan kebenaran tauhid kepadamu, sejak kamu masih bayi! Oleh sebab itu, bagi siapa saja yang merasa dirinya penuh dengan lumuran dosa dan senantiasa terbayang-bayang olehnya, janganlah sekali-kali putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala.

Mengenai hal ini, Imam Syafi'i berkata dalam empat syairnya

berikut

إِنْ كُنْتَ تَغْدُوْ فِي الذُّنُوْبِ جَلِيْدًا وَتَخَافُ فِي يَوْمِ الْمَعَادِ وَعِيْدًا
فَلَقَدْ أَتَاكَ مِنَ الْمُهَيْمِنِ عَفْوُهُ وَأَفَاضَ مِنْ نِعَمِ عَلَيْكَ مَزِيْدًا
Apabila kamu berjalan di atas dosa yang banyak seperti salju,

dan kamu khawatir terhadap Hari Pembalasan kelak,

maka sebenarnya kamu telah mendapat ampunan dari Allah,

dan limpahan nikmat-Nya telah dianugerahkan kepadamu.

Janganlah kamu berputus asa dalam memohon kemurahan

Tuhanmu.

Sebab, sewaktu kamu masih berada di perut ibumu, kamu

hanyalah segumpal darah.

Apabila Tuhan menghendaki kamu kekal masuk neraka,

tentunya Dia tidak akan mengilhami ketauhidan kepadamu.

Penjelasan:

Ingatlah, wahai orang yang terbebani oleh dosa, sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala. yang mengilhamkan tauhid dalam kalbumu tidak akan membiarkanmu terperosok ke dalam jurang api neraka. Oleh sebab itu, kembalilah kamu kepada-Nya, sembari menyesali dan meminta ampunan atas segala dosa-dosamu. Sebab, Dia Maha Rahim terhadap para hamba-Nya. Katakanlah pada dirimu sendiri, “Aku akan berlarimenuju Tuhanku!”

Mempelajari Ilmu Akhirat



Imam Syafi'i berkata dalam dua bait syairnya:

مَنْ تَعَلَّمَ لِلْمَعَدِ فَازَ بِفَضْلٍ مِنَ الرَّشَادِ
وَ نَالَ حُسْنًا لِطَالِبِيْهِ وَ فَضْلَ نَيْلٍ مِنَ الْعِبَادِ
‎Barang siapa mempelajari ilmu akhirat,‏maka ia akan mendapatkan petunjuk (dari Allah Subhanahu wa ta’ala.).‏

Apabila ia mendapatkan ilmu tersebut dengan cara yang baik,‏

maka ia akan mendapatkan keutamaan dari orang-orang shalih.

Penjelasan:

Mempelajari ilmu akhirat itu memiliki beberapa faedah.Barang siapa mempelajarinya dengan tujuan untuk mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa ta’ala. maka ia akan mendapatkan keberuntungan, berupa hidayah dan petunjuk-Nya. Dan, apabila dalam mencarinya itudilakukan dengan cara yang baik, maka orang-orang shalih akanmemberinya sesuatu yang ia butuhkan (ilmu).

Mencintai Orang Shalih



Andai kamu ditanya: siapa saja di antara segolongan manusiayang kamu cintai, dan siapa saja di antara mereka yang kamubenci? Kira-kira jawaban apa yang dapat kamu berikan?!

Padahal, seyogianya cinta itu hanya karena Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan,bencipun seharusnya juga karena-Nya. Sebab, yang demikian itu adalahciri-ciri orang-orang mukmin yang bertakwa.

Apabila kita lihat jawaban Imam Syafi'i atas pertanyaan tersebut,kita dapati jawaban yang mengagumkan darinya. Dengan sangatrendah hati (tawadhu), ia menjawab, "Aku adalah orang yang sangatmencintai orang-orang shalih, meskipun aku sendiri bukanlahtermasuk golongan mereka!”

Dari jawaban tersebut sebenarnya Imam Syafi'i ingin agar cintanya kepada orang-orang shalih tersebut kelak akan menjadi syafaatnya di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebab, barang siapa mencintai segolongan manusia, maka di akhirat nanti ia akan dikumpulkanbersama mereka.

Selain mencintai orang-orang shalih, Imam Syafi'i juga sangatmembenci mereka yang kerjanya hanya berbuat kebatilan dankemaksiatan. Meskipun ia sendiri mengakui bahwa dirinya jugasama-sama masih suka melakukan maksiat.

Ya, benar, apabila seorang mukmin itu menyukai kebenaran (haq), maka ia akan menerima kebenaran itu dari mana pun berasal, baik itu dari anak kecil, orang dewasa, maupun dari orang yang jauh sekalipun orang yang tak dikenal. Sebaliknya, ia akanmenolak danberusaha mengubah kebatilan, tanpa gentar sedikit pun, meskipunhalitu berasal dari anak kecil, orang dewasa, maupun orang terdekatsekalipun.

Mengenai hal ini, Imam Syafi'i bersenandung:

أُحِبُّ الصَّالِحِيْنَ وَلَسْتُ مِنْهُمْ لَعَلِّي أَنْ أَنَالَ بِهِمْ شَفَاعَةِ
وَأَكْرَهُ مَنْ تِجَارَتُهُ الْمَعَاصِي وَلَوْ كُنَّا سَوَاءً فِي الْبِضَاعَةِ
Aku mencintai orang-orang shalih, meskipun diriku bukan

orang shalih.

Aku berharap semoga diriku akan memperoleh syafaat dari

mereka.

Aku tidak suka kepada orang yang kerjanya selalu maksiat,

meski diriku sama dengannya, suka berbuat maksiat

Mendekat Kepada Allah



📆 Ahad, 15 Rajab 1447 H / 04 Januari 2026
📚 *Tazkiyatun Nafs*
📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi M.A.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹       

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

إذا استغنى الناسُ بالدُّنيا فاستغنِ أنت بالله

Ketika orang-orang merasa cukup dengan dunia, hendaknya engkau merasa cukup dengan Allah.

وإذا فرحوا بالدُّنيا فافرح أنت بالله

Ketika mereka bergembira dengan dunia, hendaknya engkau bergembira dengan Allah.

وإذا أَنِسُوا بأحبابهم فاجعلْ أنسَك بالله

Ketika mereka merasa tenteram dengan orang-orang yang mereka cintai, hendaknya engkau jadikan ketenteramanmu bersama Allah.

وإذا تعرَّفوا إلى ملوكهم وكبرائهم وتقربوا إليهم لينالوا بهم العزَّ والرفعة؛ فتعرَّفْ أنت إلى الله وتودَّدْ إليه؛ تنالُ بذلك غاية العز والرفعة

Ketika mereka berusaha mendekat kepada para raja dan pembesar mereka agar mendapat kedudukan dan kemuliaan, hendaknya engkau berusaha mengenal dan mendekat kepada Allah, niscaya engkau akan mendapat puncak kedudukan dan kemuliaan.

Siapa yang merasa cukup dengan pertolongan Allah , maka dia tidak akan membutuhkan pertolongan dari selain Nya , sebagaimana nabi Ibrahim ketika ia dilempar ke api ,lalu datang malaikat menawarkan bantuan ,lalu ia menjawab “ adapun terhadapmu aku tidak membutuhkan pertolongan , aku hanya membutuhkan pertolongan Allah .

Siapa yang merasa bahagia ketika dekat dengan Allah ,maka yang lain tidak bisa membuatnya bahagia ,karena ia sudah mendekat dengan zat yang dengan menyebut namanya saja hati menjadi tenang.
 
Siapa yang tentram dalam dekapan Allah ,maka ia akan putus asa dari apa yang ada ditangan manusia dan ia hanya punya harapan kepadaNya yang menguasai langit dan bumi 

Orang yang kenal dengan Allah ,maka ia tidak sibuk cari muka untuk mencari kedudukan dihadapan manusia , baginya sebaik-baik kedudukan adalah mencari keridhaan Nya dan disanalah puncak kebahagiaan .

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Subscribe Youtube MANIS: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

Follow IG MANIS : 
https://instagram.com/majelis_manis?igshid=YmMyMTA2M2Y=

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSI : 5512 212 725
Konfirmasi:
wa.me/62852-7977-6222
wa.me/6287782223130

JANGAN BERSEDIH DENGAN SEDIKITNYA PENGANUT KEBENARAN

وَامْتَثَلَ مَا رَوَى الْحَاكِمُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ بِإِاسْنَادِهِ عَنِ السَّيِّدِ الْجَلِيلِ الْفُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَا تَسْتَوْحِشْ طُرُقُ الْهُدَى لِقِلَّةِ أَهْلِهَا وَلَا تَغْتَرَّنَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ وَلَا يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِينَ
Ikutilah pendapat yang diriwayatkan oleh Al-Hakim Abu Abdillah dengan isnadnya dari As-Sayyid yang mulai Al-Fudhail bin “Iyadh Radhiyallahu 'anhu berkata: “Janganlah merasa kesepian di jalan kebenaran karena sedikit pengikutnya dan jangan terpedaya dengan banyaknya orang yang rusak dan janganlah mengganggumu karena kurangnya orang-orang yang menempuhnya.”

Sadar Akan Kekurangan dan Kelemahan Dirinya

 

: (قيل: الْمُقِرُّ بِالتَّقْصِيرِ) أي بالعجز عن الطاعة (أَبَدًا مَحْمُودٌ، وَالْإِقْرَارُ بِالتَّقْصِيرِ عَلَامَةُ الْقَبُولِ). لأنه إشارة إلى عدم العجب والكبر.

وَقِيلَ: الْمُقِرُّ بِالتَّقْصِيرِ أَبَدًا مَحْمُودُ وَالْإِقْرَارُ بِالتَّقْصِيرِ عَلَامَةُ الْقَبُوْلِ.

"Dalam sebuah pernyataan telah dijelaskan, orang yang mau menyadari akan kelemahan yang ada pada dirinya akan terpuji selamanya dan mau mengakui kekurangannya itu merupakan bukti diterimanya amal perbuatannya (oleh Allah)."

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...