PENGOLAHAN HASIL EVALUASI PEMBELAJARAN

PENGOLAHAN HASIL EVALUASI PEMBELAJARAN

MAKALAH

Untuk memenuhi tugas struktur mata kuliah Evaluasi Pembelajaran PAI I

Dosen Pengampu:
Dra. Hj. Tuti Hayati, M.Pd.
Drs. Nasihudin, M.Pd.






Makalah Diskusi Kelompok 1:


Hifni Mannan Nuzula 1152020091
Khabibatus Shirotun Nabawiyah 1152020106
Kristin Wiranata 1152020108
Luvi Rina Pirdayati 1152020118
M. Zamzam 1152020124
Maspupah Zakiah 1152020130





JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah subhanahu wata’ala yang telah memberikan kita beribu kenikmatan. Nikmat sehat, nikmat beribadah dan nikmat mencari ilmu pengetahuan. Sholawat serta salam tak lupa tercurah limpahkan kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya, kepada keluarganya serta kepada kita semua selaku umatnya hingga akhir zaman. Beliaulah yang telah mengantarkan kita semua dari zaman kegelapan hingga zaman terang benderang.
Penulis mengucapkan ungkapan terimakasih kepada selaku dosen pengampu mata kuliah Evaluasi Pembelajaran PAI I yakni Dra. Hj. Tuti Hayati, M.Pd. dan Drs. Nasihudin, M.Pd.yang telah mengarahkan penulis dalam pembuatan makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Semoga makalah ini menjadi sumber belajar khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca dalam menggali pemahamannya mengenai pengolahan evaluasi pembelajaran PAI.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh



  
       Bandung, 16 Nopember 2017

         Penulis





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan Makalah 2
BAB II PEMBAHASAN 3
Teknik Pengolahan Hasil Tes 3
Skor Total 12
Konversi Skor 12
Cara Memberi Skor Untuk Skala Sikap 13
Cara Memberi Skor Untuk Domain Psikomotor 14
Pengolahan Data Hasil Tes (PAP dan PAN) 15
BAB III PENUTUP 27
DAFTAR PUSTAKA 28















BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Banyak guru yang sudah mengumpullkan data hasil tes dari peserta didiknya, tetapi tidak atau belum tahu bagaimana mengolahnya sehingga data tersebut menjadi mubazir, data tanpa makna. Sebaliknya, jika hanya ada data yang relatif sedikit, tetapi sudah mengetahui cara pengolahannya, maka data tersebut akan mempunyai makna. Misalnya, seorang peserta didik memperoleh skor 60 ddari ulangan hariannya. Jika hanya skor ini saja yang diperhatikan, tanpa melihat lebih jauh sikap dan keterampilannya, maka skor itu kurang bermakna. Jika ada faktor-faktor lain di samping skor itu, baik tentang sikap maupun tentang keterampilannya, maka skor tersebut akan memberikan makna sehingga guru dapat membuat keputusan dan mempertanggungjawabkan hasil belajar peserta didik tersebut dengan sebaik-baiknya. Oleh sebab itu, seorang evaluator harus betul-betul menguasai bagaimana cara memberikan skor yang baik dan benar serta adil sehingga tidak merugikan berbagai pihak.
Berangkat dari permasalahan ini, kami merasa tergugah untuk menyusun makalah dengan judul “Pengolahan Hasil Evaluasi Pembelajaran”. Diharapkan kita sebagai calon pendidik memiliki kesiapan untuk menjadi guru yang profesional dan kompeten. Semoga makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.

Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, penulis menarik rumusan masalah sebagai berikut: 
Bagaimana teknis pengolahan hasil tes hasil pembelajaran?
Apa saja macam-macam teknis di dalam pengolahan tes hasil pembelajaran?


Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah diatas, penulis menarik tujuan penulisan makalah sebagai berikut:
Mengetahui teknis pengolahan hasil tes hasil pembelajaran
Mengetahui macam-macam teknis di dalam pengolahan tes hasil pembelajaran

























BAB II
PEMBAHASAN

Teknis Pengolahan Hasil Tes
Pada umumnya, pengolahan data hasil tes menggunakan bantuan statistic. Analisis statistic digunakan jika ada data kuantitatif, yaitu data-data yang berbentuk angk, sedangkan untuk data kualitatif, yaitu data yang berbentuk kata-kata, tidak dapat diolah dengan dengan statistic. Jika data kualitatif akan di olah dengan statistik, maka data tersebut harus dirubah dahulu menjadi data kuantitatif (kuantifikasi data). Meskipun demikian, tidak semua data kualitatif dapat di ubah menjadi data kuantitatif sehingga tidak mungkin diolah dengan statistic.
Menurut Zainal (2006) dalam mengolah data hasil test ada empat langkah pokok yang harus di tempuh. Pertama, menskor, yaitu memberi skor pada hasil tes yang dapat di capai oleh peserta didik. Untuk memperoleh skor mentah di perlukan tiga jenis alat bantu, yaitu kunci jawaban, kunci scoring, dan pedoman konversi. Kedua, mengubah skor mentah menjadi skor standar sesuai dengan norma tertentu. Ketiga, mengkonversikan skor standar pada nilai, baik berupa huruf atau angka. Keempat melakukan analisis soal (jika diperlukan) untuk mengetahui derajat validitas dan reliabilitas soal, tingkat kesukaran soal (difficulty index), dan daya pembeda.
Jika data sudah diolah dengan aturan-aturan tertentu, langkah selanjutnya adalah menafsirkan data sehingga dapat memberikan makna. Interpertrasi terhadap suatu hasil evaluasi di dasarkan atas kriteria tertentu yang di sebut norma. Norma dapat di tetapkan terlebih dahulu secara rasional dan sistematis sebelum kegiatan evaluasi dilaksanakan, tetapi dapat pula dibuat berdasrkan hasil-hasil yang di peroleh dalam melaksanakan evaluasi. Kenaikan kelas itu kadang-kadang kriteria-kriteria yang di sepakati, tapi hanya berdasarkan pertimbangan pribadi dan kemanusiaan, maka keputusan itu ini termasuk keputudan yang tidak objektif dan merugikan semua pihak.
Dalam kegiatan penilaian hasil belajar, guru dapat menggunakan kriteria yang bersumber kepada tujuan setiap mata pelajaran (standar kompensi, kompetensi dasar). Jika kriteria ini sudah di rumuskan dengan jelas, maka baru menafsirkan angka-angka yang sudah diolah itu menjadi kata-kata atu pernyataan.
Untuk menafsirkan data, dapat di gunakan dua jenis data, yaitu penafsiran kelompok dan menafsiran individual. Penafsiran kelompok adalah penafsiran yang di lakukan untuk mengetahui karakteristik kelompok berdasarkan data hasil evaluasi, seperti prestasi kelompok, rata-rata kelompok sikap kelompok terhadap guru dan materi pelajaran yang di berikan, dan distribusi nilai kelompok. Tujuan utamanya adalah sebagai persiapan untuk penafsiran kelompok, untuk mengetahui sifat-sifat tertentu pada kelompok, dan untuk mengadakan perbandingan antar kelompok. Penafsiran individual adalah penafsiran yang tertuju pada individu saja. Misalnya, dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan atau situasi klinis lainya. Tujuan uamanya adalah untuk melihat kesiapan peserta didik (readi-ness), pertumbuhan fisik, kemajuan belajar, dan kesulitan-kesulitan yang di hadapinya.
Dalam melakukan penafsiran data, baik secara kelompok atau individual, guru harus menggunakan norma-norma yang standar sehingga data yang di peroleh dapat dibandingkan dengan norma-norma tersebut. Berdasarkan penafsiran ini, guru dapat memutuskan bahwa peserta didik mencapai pada taraf kesiapanya atau tidak, ada kemajuan yang berate atau tidak, ada ksulitan atau tidak.
Setelah melakukan tes dan lembar jawaban peserta didik di periksa kebenaran, kesalahan, dan kelengkapannya, selanjutnya menghitung skor mentah untuk setiap peserta didik berdasarkan rumus-rumus tertentu dan bobot setiap soal. Kegiatan ini harus di lakukan dengan ekstra hati-hati karena menjadi dasar bagi kegiatan pengolahan hasil tes sampai menjadi nilai prestasi. Sebelum melakukan tes, guru harus menyusun pedoman hasil skor, bahkan sebaiknya guru sudah berpikir tentang strategi pemberian skor sejak merumuskan kalimat pada setiap butir soal, hal ini dimaksudkan untuk meminimalisasi subjektivitas penilai. Rumus penskoran yang di gunakan bergantung pada bentuk soalnya, sedangkan bobot bergantung pada tingkat kesukaran soal.
Cara Memberi Skor Mentah untuk Tes Uraian
Dalam bentuk uraian biasanya skor mentah di cari dengan menggunakan system bobot. System bobot ada dua cara, yaitu :
Pertama, bobot dinyatakan dalam skor maksimum sesuai dengan tingkat kesukaranya. Misalnya, untuk soal yang mudah skor maksimumnya adalah 6, untuk soal sedang skor maksimumnya adalah 7, dan untuk soal sukar skor maksimumnya adalah 10.
Contoh 1 :
Seorang peserta didik diberi 3 soal dalam bentuk uraian. Setiap soal di beri skor (x) maksimum dalam rentang 1-10 sesuai dengan kualitas jawaban peserta didik.
Perhitungan skor dengan system bobot pertama
No. soal
Tingkat kesukaran
jawaban
Skor (x)

1
mudah
Betul
6

2
sedang
Betul
7

3
sukar
Betul
10


jumlah

23

Rumus skor = 
Keterangan 
 = jumlah skor
S = jumlah soal
Jadi, skor peserta didik A = 
Contoh 2 :
Seorang peserta didik di tes dengan tiga soal dalam bentuk uraian. Masing-masing soal diberi bobot sesuai dengan tingkat kesukaranya, yaitu bobot 5 unruk soal yang sukar, 4 untuk soal sedang, dan 3 untuk bobot soal yang mudah. Tiap-tiap soal di berikan skor (x) yang di capai oleh setiap peserta didik dikalikan dengan bobot setiap soal. Hasil perhitungannya adalah sebagai berikut :
Perhitungan skor dengan system bobot kedua
No. soal
Tingkat kesukaran
Jawaban
Skor(x)
Bobot (B)
XB

1
Mudah
Betul
10
3
30

2
Sedang
Betul
10
4
40

3
Sukar
Betul
10
5
50

Jumlah
12
120

 Rumus : skor = 
Keterangan :
TK : tingkat kesukaran
X : bobot sesuai dengan tingkat kesukaran soal
XB : jumlah hasil perkalian X dengan B
Jadi, skor peserta didik: = 
Untuk memudahkan pemberian skor, ada baiknya di gunakan system yang kedua. System bobot di berikan kepada soal bentuk uraian dengan maksud untuk memberikan penilaian secara adil kepada peserta didik berdasarkan tingkat kesukarannya. Agaknya kurang adil ketika peserta didik yang sanggup menjawab soal yang sukar itu di beri skor yang sama dengan peserta didik yang hanya sanggup menjawab soal yang mudah saja.
Pedoman penskoran di atas hanya dapat di gunakan untuk bentuk uraian biasa, yaitu uraian bebas dan uraian terbatas. Untuk bentuk uraian objektif (BUO) dan bentuk uraian Non-Objektif (BUNO) harus menggunakan pedoman seperti berikut ini:
Contoh 3 :
Indikator : dapat menyebutkan lima menu dalam excel
Soal : sebutkan lima menu dalam excel
Pedoman penskoran BUO (a)
No
Kunci jawaban
Skor

01
File
1

02
Edit
1

03
View
1

04
Insert
1

05
Format
1


Skor maksimum
5










Pedoman Penskoran BUNO
Langkah
Kunci Jawaban
Skor 

1









2






3
4
TEMA dan ALASAN-ALASANNYA
Tema: Keberanian seorang pahlawan dalam perjuangan melawan penjajah...................................................................
Alasan:....................................................................................
Dalam puisi DIPONEGORO terdapat kalimat: 
Tak gentar, lawan banyaknya seratus kali 
pedang di kanan, keris dan kiri
Bersambung semangat yang tak bisa mati
Sekali berarti, sudah itu mati
Maju 
Bagimu negeri
Maju
Serbu 
Serang 
Terjang 
LATAR PUISI dan ALASAN-ALASANNYA
Latar:.......................................................................................
Zaman revolusi kemerdekaan
Tahun 1945
Masa mengusir penjajahan Belanda
Alasan:....................................................................................
Puisi Diponegoro dikarang oleh Chairil Anwar yang hidup pada tahun 1922-1949. 
Semasa Chairil Anwar masih hidup, bangsa Indonesia sedang mengusir penjajahan Belanda. 
EJAAN PENULISAN.............................................................
STRUKTUR BAHASA................................................................................


0-5
0-5






0-5


0-5


0-5

0-5

Skor maksimum
30


Cara Memberi Skor Mentah untuk Tes Objektif
Tanpa Rumus Tebakan (Non Guessing Formula)
Biasanya digunakan apabila soal belum diketahui tingkat kebaikannya. Caranya adalah menghitung jumlah jawaban yang betul saja. setoap jawaban yang betul diberi skor 1, dan jawaban yang salah diberi skor 0. Jadi, skor = jumlah jawaban yang betul.


Menggunakan Rumus Tebakan (Guessing Formula)
Biasanya rumus ini digunakan apabila soal-soal tes itu sudah pernah di uji cobakan dan dilaksanakan sehingga dapat diketahui tingkat kebenarannya. Penggunaan rumus tebakan ini bukan karena guru sudah mengetahui peserta didik itu menebak, tetapi tes bentuk objektif ini memang sangat memungkinkan peserta didik untuk menebak. Adapaun rumus tebakan tersebut adalah sebagai berikut. 
Untuk item bentuk benar salah (true-false)
rumus : S= ∑B-∑S
Keterangan: 
S = skor yang dicari
∑B= jumlah jawaban yang benar 
∑S= jumlah jawaban yang salah 
Contoh: 
Seorang peserta didik dites dengan soal bentuk B–S sebanyak 30 soal. Ternyata, peserta didik tersebut dapat menjawab soal dengan betul 25 butir soal. Berarti jumlah jawaban yang salah ada 5 soal. Dengan demikian, skor peserta didik yang bersangkutan adalah:
Skor = 25-5= 20 
Untuk bentuk pilihan ganda (multiple choice)
Rumus: S = 
Keterangan:
S = skor yang dicari 
∑B= jumlah jawaban yang benar 
∑S= jumlah jawaban yang salah 
n = jumlah alternatif jawaban yang disediakan 
1 = bilangan tetap 
Contoh:
Seorang peserta didik A dites dengan soal bentuk pilihan ganda sebanyak 10 soal. Ternyata, peserta didik A dapat menjawab soal dengan betul sebanyak 7 butir soal, berarti jumlah jawaban yang salah adalah 3 soal. Jumlah alternatif jawaban (option) = 4. Dengan demikian, skor peserta didik adalah: 
Skor =7-
 Di samping rumus diatas, ada juga rumus lain. Menurut Ainur Rofieq (2008) cara penskoran tes bentuk pilihan ganda ada tiga macam, yaitu “penskoran tanpa adan koreksi jawaban, penskoran ada koreksi jawaban, dan penskoran dengan butir beda bobot”. 
Penskoran tanpa koreksi, yaitu penskoran dengan cara setiap butir soal yang dijawab benar mendapat nilai satu (bergantung pada bobot butir soal). Skor peserta didikk diperoleh dengan cara menghitung banyaknya butir soal yang dijawab benar. 
Rumus : S= (skala 0-100)
Keterangan: 
B = jumlah jawaban benar 
N = jumlah soal
Contoh:
Berdasarkan contoh soal diatas, jumlah soal ada 10, jumlah jawaban benar ada 7, maka skor yang diperoleh peserta didik A adalah: 
Skor = (skala 0-100)
Penskoran ada koreksi jawaban, yaitu pemberian skor dengan memberikan pertimbangan pada butir soal yang dijawab salah dan tidak dijawab. Adapun rumusnya adalah: 
Skor = 
Keterangan:
B = jumlah soal yang dijawab benar 
S = jumlah soal yang dijawab salah 
P = jumlah pilihan jawaban tiap soal 
1 = bilangan tetap 
N = jumlah soal 
Catatan: soal yang tidak dijawab diberi skor nilai 0 


Contoh: 
Berdasarkan contoh soal diatas, jumlah soal ada 10, jumlah jawaban benar ada 7, jumlah salah = 3, dan jumlah pilihan jawaban = 4 maka skor yang diperoleh peserta didik adalah:
Skor = 
Penskoran dengan butir beda bobot, yaitu pemberian skor dengan memberikan bobot berbeda untuk sejumlah soal. Biasanya bobot butir soal menyesuaikan dengan tingkatan kognitif (pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi) yang telah ditetapkan guru. 
Skor = 
Keterangan: 
B = jumlah soal yang dijawab benar 
b = bobot setiap soal 
Si = skor ideal (skor yang mungkin dicapai jika semua soal dapat dijawab dengan benar) 
Contoh:
Ardi mengikuti ujian akhir semester mata pelajaran Matematika. Jumlah soal 50, terdiri atas enam jenjang domain kognitif yang diberi bobot sebagai berikut: pengetahuan dengan bobot 1, pemahaman dengan bobot 2, aplikasi dengan bobot 3, analisis dengan bobot 4, sintesis dengan boobt 5, dan evaluasi degan bobot 6. Ardi dapat menjawab benar 10 soal dari 10 soal pada jenjang pengetahuan, 8 soal dari 10 soal, pada jenjang pemahaman, 10 soal dari dari 15 soal pada jenjang aplikasi, 4 soal dari 6 soal pada jenjang analisis, 5 soal dari 7 soal pada jenjang sintesis, dan 1 soal dari 2 soal pada jenjang evaluasi. Pertanyaan: berapa skor yang diperoleh Ardi? 
Untuk mempermudah perhitungan skor, guru perlu menyusun tabel seperti berikut:




Perhitungan Skor pada Soal Berbeda Bobot
Jenjang Domain
Kogntif
Jumlah soal
Bobot (b)
Jumlah soal x
Bobot (b)
B

Pengetahuan 
10
1
10
10

Pemahaman 
10
2
20
8

Aplikasi
15
3
45
10

Analisis 
6
4
24
4

Sintesis
7
5
35
5

Evaluasi 
2
6
12
1

Jumlah 
50

146
38

Skor = 
 = 70,55%
Artinya, Ardi dapat menguasai materi Matematika sebesar 70,55%
Untuk soal bentuk menjodohkan (matching)
Rumus: S = ∑B
Keterangan: 
S = skor yang dicari
∑B= jumlah jawaban yang benar 
Contoh: 
Soal Kunci Jawaban Jawaban Testi
A ......................... .......B........ 1. A
B ......................... .......A........ 2. B
C ......................... .......C......... 3. C
         4. X
A ......................... .......A........ 1. A
B ......................... .......C........ 2. C
C ......................... .......B........ 3. B
D ......................... .......D........ 4. D
        5. X
Dari contoh diatas ternyata, pada soal nomor (1) peserta didik hanya dapat menjawab benar (1), sedangkan nomor (2) yang benar ada 4. Jadi jumlah yang benar adalah 5. Dengan demikian, skor peserta didik yang bersangkutan adalah 5. 
Untuk soal bentuk jawaban singkat (short answer) dan melengkapi (completion). 
Rumus: S = ∑B
Keterangan:
S = skor yang dicari
∑B= jumlah jawaban yang benar 
Contoh: 
Seorang peserta didik dites dengan soal bentuk jawaban singkat sebanyak 10 soal. Ternyata, peserta didik tersebut dapat menjawab dengan betul 7 soal. Dengan demikian, skor peserta didik yang bersangkutan adalah 7. 
Catatan: perhitungan jumlah jawaban yang betul harus dilihat berdasarkan jumlah titik-titik jawaban yang diberikan, dan bukan berdasarkan jumlah soal, sebab pada setiap soal mungkin ada yang lebih dari satu titik-titik kosong. 
Skor Total
Skor total adalah jumlah skor yang diperoleh dari seluruh bentuk soal setelah diolah dengan rumus tebakan, (guessing formula). Jika kita mengambil contoh-contoh di atas, maka skor total siswa adalah 20+6+5+7= 38. Skor ini selanjutnya disebut skor mentah (raw score). Setelah dihitung skor mentah setiap peserta didik, langkah selanjutnya adalah mengolah skor mentah tersebut menjadi nilai-nilai jadi.
Pengolahan skor dimaksudkan untuk menetapkan batas lulus (passing grade) dan untuk mengubah skor mentah menjadi skor terhabar atau skor standar. Untuk menentukan batas lulus, terlebih dahulu harus dihitung rata-rata (means) dan simpangan baku (standard deviation), kemudian mengubah skor mentah menjadi skor terjabar atau skor standar berdasarkan kriteria atau norma tertentu.    
Konversi Skor
Konversi skor adalah proses transformasi skor mentah yang dicapai peserta didik ke dalam skor terjabar atau skor standar untuk menetapkan nilai hasil belajar yang diperoleh. Secara tradisional, dalam menentukan nilai peserta didik pada setiap mata pelajaran, guru menggunakan rumus sebagai berikut:
Nilai = 
Keterangan: ∑X= Jumlah skor mentah
∑S= Jumlah Soal
Contoh:
Seorang peserta didik dites dengan menggunakan bentuk soal B-5 (Benar-Salah). Dari jumlah soal 30, peserta didik tersebut memperoleh jawaban betul 25, dan jawaban salah 5. Dengan demikian, skor mentahnya adalah 25-5= 20.
Nilai= 
Di samping cara tersebut di atas, ada juga guru yang langsung menentukan nilai berdasarkan jumlah yang betul, tanpa mencari skor mentah terlebih dahulu. Sesuai dengan contoh soal di atas, maka nilai peserta didik dapat ditemukan seperti berikut ini.
Nilai= 
Kedua pola konversi seperti ini mengandung banyak kelemahan, antara lain guru belum mengantisipasi item-item yang tidak seimbang dilihat dari tingkat kesukaran dan banyaknya item yang disajikan dalam naskah soal. Padahal, setelah menentukan nilai, guru perlu meninjau kembali tentang seberapa besar peserta didik memperoleh nilai di bawah batas lulus (passing grade). Untuk itu, sudah saatnya guru meninggalkan pola konversi yang tradisional tersebut. guru hendaknya menggunakan pola konversi yang tradisional tersebut. Guru hendaknya menggunakan pola konversi sebagai berikut:
Membandingkan skor yang diperoleh peserta didik dengan suatu standar atau norma absolut. Pendekatan ini disebut juga Penilaian Acuan Patokan (PAP).
Membandingkan skor yang diperoleh peserta didik dengan standar atau norma relative atau disebut juga Penilaian Acuan Norma (PAN).
Membandingkan skor yang diperoleh peserta didik dengan norma gabungan (kombinasi) antara norma absolut (PAP) dengan norma relative (PAN).

Cara Memberi Skor untuk Skala Sikap
Salah satu prinsip umum evaluasi adalah prinsip komprehenshif, artinya objek evaluasi tidak hanya domain kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotor. Tidak hanya dimensi hasil, tetapi juga dimensi proses. Dalam domain afektif, paling tidak ada dua komponen penting untuk diukur, yaitu sikap dan minat peserta didik terhadap suatu pelajaran. Sikap peserta didik terhadap suatu pelajaran bisa positif, negative, atau netral. Harapan kita terhadap sikap peserta didik tentu yang positif sehingga dapat menimbulkan minat belajar. Baik sikap maupun minat belajar dapat mempengaruhi presentasi belajar. Oleh sebab itu, tugas guru adalah mengembangkan sikap positif dan meningkatkan minat belajar peserta didik terhadap suatu pelajaran.
Untuk mengukur sikap dan minat belajar, guru dapat menggunakan alat penilaian model skala , yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS), skala yang digunakan adala 5, 4, 3, 2, da 1 (untuk pernyataan positif) dan 1, 2, 3, 4, dan 5 (untuk pernyataan negatif). Begitu juga untuk skala minat, guru dapat menggunakan lima skala, seperti Sangat Berminat (SB), Berminat (B), Sama Saja (SS), Kurang Berminat (KB), dan Tidak Berminat (TB). Bagaimana langkah-langkah mengembangkan instrument skala sikap dan skala minat, sudah dibahas pada bab seblumnya. Disini hanya dikemukakan bagaimana cara memberi skor skala sikap dan minat. Contoh :
Pak Ari adalah seorang guru mata pelajaran akuntansi. Dia ingin mengukur minat peserta didik terhadap pelajaran akuntansi. Dia menyusun skala minat dengan 10 pernyataan. Jika rentangan skala yang digunakan adalah 1-5, maka skor terendah seorang peserta didik adalah 10 ( 10 x 1 = 10 ) dan skor tertinggi adalah 50 ( 10 x 5= 50 ). Dengan demikian medianya adalah (10+50)/2 = 30. Jika dibagi empat kategori maka akan diperoleh tingkatan minat sebagai berikut:
Skor 10 - 20 termasuk tidak berminat
Skor 21- 30 termasuk kurang berminat
Skor 31 – 40 termasuk berminat
Skor 41 – 50 termasuk sangat berminat

Cara Memberi Skor untuk Domain Psikomotor
Dalam domain psikomotor, pada umumnya yang diukur adalah penampilan atau kinerja. Untuk mengukurnya guru dapat menggunakan tes tindakan melalui simulasi, unjuk kerja atau tes identifikasi. Salah satu instrument yang dapat digunakan adalah skala penilaian yang terentang darai sangat baik (5), baik (4), cukup baik (3), kurang baik (2), sampai dengan tidak baik (1).
Contoh: 
Pak Bambang seorang guru agama ingin mengetahui bagaimana seorang peserta didik melaksanakan shalat dengan baik ban benar. Untuk itu, pak Bambang meminta seorang peserta didik A untuk menunjukan gerakan-gerakan shalat. Alat ukur yang digunaka adalah skala penilaian sebagai berikut :
Tabel pemberian skor untuk praktik gerakan shalat
No
Aspek-aspek penilaian
Skala Penilaian

01
Gerakan takbiratul ihram
5
4
3
2
1

02
Gerakan rukuk
5
4
3
2
1

03
Gerakan sujud
5
4
3
2
1

04
Gerakan tahiyat awal
5
4
3
2
1

05
Gerakan tahiyat akhir
5
4
3
2
1

06
Salam
5
4
3
2
1

Skor


`Jika peserta didik A memperoleh skor 6 (6x1) berarti peserta didik tersebut gagal (tidak baik), dan bila memperoleh skor 30 (6x5) berarti peserta didik tersebut berhasil (sangat baik). Dengan demikian, mediannya adalah (30 + 6)/2 = 1. Jika dibagi menjadi empat kategori. Maka akan diperoleh tingkatan nilai sebagai berikut:
Skor 06 – 12 berarti tidak/ kurang baik (gagal)
Skor 13 – 18 berarti cukup baik (cukup berhasil)
Skor 19 – 24 berarti baik (berhasil)
Skor 25 – 30 berarti sangat baik (sempurna)

Pengolahan Data Hasil Tes: PAP dan PAN
Setelah diperoleh skor setiap peserta didik, guru hendaknya tidak tergesa-gesa menemtukan prestasi belajar (nilai) peserta didik yang didasarkan pada angka yang diperoleh setelah membagi skor dengan jumlah soal, karena cara tersebut dianggap kurang proporsional. Misalnya, seorang peserta didik memperoleh skor 60, sementara skala nilai yang digunakan untuk mengisi rapor adalah skala 0 – 10 atau 0 – 5, maka skor tersebut harus dikonversikan terlebih dahulu menjadi skor standar sebelum ditetapkan sebagai nilai akhir. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa ada dua pendekatan penafsiran hasil tes, yaitu pendekatan penilaian acuan patokan (PAP) dan pendekatan penilaian acuan norma (PAN).
Pendekatan penilaian acuan patokan (PAP) pada umumnya digunakan untuk menafsirkan hasil tes formatif , sedangkan penilaian acuan norma (PAN) digunakan untuk menafsirkan hasiltes sumatif. Namun, dalam kurikulum berbasis kompetensi dengan model penilaian berbasis kelas (classroom-based assessment) pendekatan yang digunakan adaalah PAP. Mengapa hal itu bisa terjadi?
Penilaian Acuan Patokan (PAP)
Pendekatan ini lebih menitikberatkan pada apa yang dapat dilakukan oleh peserta didik. Dengan kata lain, kemampuan-kemapuan apa yan telah dicapai pesrta didik sesudah menyelesaikan satu bagian kecil dari suatu keseluruhan program. Jadi, penilaian acuan patokan meneliti apa yang dapat dikerjakan oleh peserta didik dan bukan membandingkan seorang peserta didik dengan teman sekelasnya, melainkan dengan suatu kriteria atau patokan yang spesifik. Kriteria yang dimaksud adalah suatu tingkat pengalaman belajar yang diharapkan tercapai sesudah selesai kegiatan belajar atau sejumalah kompetensi dasar yang telah ditetapkan terlebih dahulu sebelum kegiatan belajar berlangsung. Misalnya, kriteria yang digunakan 75% atau 80%. Bagi peserta didik yang kemampuannya dibawah kriteria yang telah ditetapkan dinyatakan tidak berhasil dan harus mendapatkan remedial.
Tujuan penilaian acuan patokan adalah untuk mengatur secara pasti tujuan atau kompetensi yang ditetapkan sebagai kriteria keberhasilannya. Penilaian acuan patokan sangat bermanfaat dalam upaya meningkatkan kualitas hasil belajar sebab peserta didik diusahakan untuk mencapai standar yang telah ditentukan, dan hasil belajar pserta didik dapat diketahui derajat pencapaiannya. Untuk menentukan batas lulus (passing grade) dengan pendekatan ini, setiap skor peserta didik dibandingkan dengan skor ideal yang mungkin dicapai oleh peserta didik. Misalnya, dalam suatu tes ditetapkan skor idealnya adalah 100, maka peserta didik yang memperoleh skor 85 sama dengan memperoleh nilai 8,5 dalam skala 0 -10. Demikian seterusnya.
Contoh:
Diketahui skor 52 orang peserta didik sebagai berikut:
32 20 35 24 17 30 36 27 37 50
36 35 50 43 31 25 44 36 30 40
27 36 37 32 21 22 42 39 47 28
50 27 43 17 42 34 38 37 31 32
22 31 38 46 50 38 50 21 29 33
34 29 
Pedoman konversi yang digunakan dalam mengubah skor mentah menjadi skor standar pada norma absolut skala lima adalah:
Tingkat penugasan
Skor standar

90% - 100%
A

80% - 89%
B

70% - 79%
C

60% - 69%
D

>59%
E

Jika skor maksimum ditetapkan berdasarkan kunci jawaban = 60 maka penguasaan 90% = 0,90 x 60 = 55, penguasaan 80% = 0,80 x 60 =48, penguasaan 70% = 0,70 x 60= 42, penguasaan 60% = 0,60 x 60 =36, dengan demikian diperoleh table konversi sebagai berikut:
Skor mentah
Skor standar

54 – 60
A

48 – 53
B

42 – 47
C

36 – 41
D

>35
E

Jadi peserta didik yang memperoleh skor 50 berarti nilainya B, skor 35 nilainya E (tidak lulus), skor 44 nilainya C, dan seterusnya. Jika dikehendaki standar sepuluh, maka skor peserta didik dapat di konversi dengan pedoman sebagai berikut:
Tingkat penguasaan
Skor standar

95% - 100%
10

85% - 94%
9

75% - 84%
8

65% - 74%
7

55% - 64%
6

45% - 54%
5

35% - 44%
4

25% - 34 %
3

15% - 24%
2

05% - 14%
1

Selanjutnya, presentase tingkat penguasaan terlebih dahulu diubah dalam bentuk table konversi. Caranya sama dengan skala lima diatas. Setiap batas bawah tingkat penguasaan dikalikan dengan skor maksimum. Contoh penguasaan 95 % = 0,95 x 60 = 57, penguasaan 85 % = 0,85 x 60 = 51, penguasaan 75 % = 0,75 x 60 = 45 dan seterusnya. Adapun table konversinya adalah :
Skor Mentah
Skor Standar

57 – 60
10

51 – 56
9

45 – 50
8

39 – 44
7

33 – 38
6

27 – 32
5

21 – 26
4

15 – 20
3

09 – 14
2

03 – 08
1


Berdasarkan table diatas, maka peserta didik yang memperoleh skor 47 nilainya 8, skor 35 nilainya 6, skor 24 nilainya 4 dan seterusnya.
Disamping itu penafsiran dengan pendekatan PAP dapat juga menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :
Mencari skor ideal, yaitu skor yang mungkin dicapai oleh peserta didik, jika semua soal dapat dijawab dengan betul.
Mencari rata-rata ( ) ideal dengan rumus :
s ideal = x skor ideal
Mencari simpangan baku (s) ideal dengan rumus : 
s ideal = x ideal
Menyusun pedoman konversi sesuai dengan kebutuhan.
Berdasarkan langkah-langkah diatas, maka pengolahannya adalah : 
Mencari skor ideal yaitu 60
Mencari rata-rata ideal, yaitu x 60 = 30
Mencari simapangan baku ideal, yaitu x 30 = 10
Menyusun pedoman konversi : 
Skala lima: 
    A
 + 1,5 (s) = 30 + 1,5 (10) = 45
    B
 + 0,5 (s) = 30 + 0,5 (10) = 35
    C
 - 0,5 (s) = 30 - 0,5 (10) = 25
    D
 - 1,5 (s) = 30 - 1,5 (10) = 15
    E
Dengan demikian, skor 32 nilainya C, skor 20 nilainya D, skor 35 nilainya C, skor 24 nilainya D dan skor 17 nilainya D.
Skala Sepuluh
    10
 + 2,25 (s) = 30 + 2,25 (10) = 52,5
    9
 + 1,75 (s) = 30 + 1,75 (10) = 47,5
    8
 + 1,25 (s) = 30 + 1,25 (10) = 42,5
    7
 + 0,75 (s) = 30 + 0,75 (10) = 37,5
    6
 + 0,25 (s) = 30 + 0,25 (10) = 32,5
    5
 - 0,25 (s) = 30 - 0,25 (10) = 27,5
    4
 - 0,75 (s) = 30 - 0,75 (10) = 22,5
    3
 – 1,25 (s) = 30 – 1,25 (10) = 17,5
    2
 - 1,75 (s) = 30 – 1,75 (10) = 12,5
    1
 - 2,25 (s) = 30 – 2,25 (10) = 7,5 
    0
Dengan demikian, skor 32 nilainya 5, skor 20 nilainya 3, skor 35 nilainya 6, skor 24 nilainya 4 dan skor 17 nilainya 2.
Skala 0 – 100 (T – Skor)
Rumus T-Skor = 50 + () 10
Keterangan :
50 dan 10 = bilangan tetap
X = skor mentah yang diperoleh setiap peserta didik.
  = rata- rata
s = simpangan baku
Contoh :
Peserta didik A memperoleh skor mentah 35, rata-rata = 60 dan simpangan baku = 20, Dengan demikian, nilai yang diperoleh peserta didik A dalam skala nilai 0 – 100 adalah :
50 + ( 10 = 37,5
Konversi dengan Z – Score :
Z–Score adalah suatu ukuran yang menunjukan berapa besarnya simpangan baku seseorang berada di bawah atau di atas rata-rata dalam kelompok tersebut.
Rumus: Z = 
Contoh :
Diketahui Skor (X) = 35, rata-rata () = 60, simpangan baku = 20. 
Jadi, Z – Skor = = -1,25
Peringkat (Ranking)
Menafsirkan skor mentah dapat pula dilakukan dengan cara menyusun peringkat. Caranya adalah dengan mengurutkan skor, mulai dari skor terbesar sampai dengan skor terkecil. Skor terbesar diberi peringkat 1, begitu seterusnya samapi dengan skor terkecil. Skor-skor yang sama harus diberi peringkat yang sama pula.
Contoh :
Diketahui : 5 (lima) orang peserta didik memperoleh skor dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai berikut : 20, 35, 25, 25 dan 30 untuk memberi peringkat terhadap skor-skor tersebut dapat diikuti langkah-langkah berikut :
Pertama, mengurutkan skor-skor tersebut dari yang terbesar sampai dengan yang terkecil dengan diberi nomor urut sesuai dengan jumlah data.
35
30
25
25
20
Kedua, memberi peringkat berdasarkan nomor urut, tetapi untuk skor yang sama harus diberi peringkat yang sama.
Skor
Peringkat

35
1

30
2

25
3,5

25
3,5

20
5


Peringkat untuk skor 25 adalah 3,5 yang diperoleh dari (3 + 4) : 2 = 3,5. Skor selanjutnya diberi peringkat sesuai dengan nomor urut selanjutnya.
Dalam Kurikulum berbasis kompetensi, presentasi belajar peserta didik ditentukan oleh perbandingan antara pencapaian sebelum dan sesudah pembelajaran serta kriteria penguasaan kompetensi yang ditentukan.
Penilaian Acuan Norma (PAN)
Dalam penilaian acuan norma, makna angka (skor) seorang peserta didik ditemukan dengan cara membandingkan hasil belajarnya dengan hasil belajar peserta didik lainya dalam satu kelompok/kelas. Peserta didik dikelompokan berdasarkan jenjang hasil belajar sehingga dapat diketahui kedudukan relative seorang peserta didik dibandingkan dengan teman sekelasnya. Tujuan penilaian Acuan Norma adalah untuk membedakan peserta didik atas kelompok-kelompok tingkat kemampuan. Mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi. Secara ideal, pendistribusian tingkat kemampuan dalam satu kelompok menggambarkan suatu kurva normal.
Peringkat dan klasifikasi anak yang didasarkan pada penilaian acuan norma lebih banyak mendorong kompetisi dari pada membangun semangat kerja sama. Bahwa keberhasilan peserta didik hanya ditentukan oleh kelompoknya. penilaian acuan norma biasanya digunakan pada akhir unit pembelajaran untuk menentukan tingkat hasil belajar peserta didik. Pedoman konversi yang digunakan dalam pendekatan PAN sama dengan pendekatan PAP. Perbedaanya hanya terletak dalam menghitung rata-rata dan simpangan baku. Dalam pendekatan PAN rata-rata dan simpangan baku dihitung dengan rumus statistic sesuai dengan skor mentah yang diperoleh peserta didik.
Langkah-langkah pengolahan data dengan pendekatan PAN adalah sebagai berikut:
Mencari skor mentah setiap peserta didik.
Menghitung rata-rata () actual dengan rumus.

Keterangan:
Md = mean duga
F = frekuensi
D = deviasi
Fd = frekuensi kali deviasi
N = jumlah sampel
I = interval
Menghitung simpangan baku (s) aktual dengan rumus:

Menyusun pedoman konversi
Contoh:
Diketahui: 52 orang peserta didik mengikuti Ujian Akhir Semester mata pelajaran Bahasa Inggris dan memperoleh skor mentah sebagai berikut:
32 20 35 24 17 30 36 27 37 50
36 35 50 43 31 25 44 36 30 40
27 36 37 32 21 22 42 39 47 28
50 27 43 17 42 34 38 37 31 32
22 31 38 46 50 38 50 21 29 33
34 29 
Pertanyaan: tentukan nilai peserta didik dengan pendekatan PAN!
Langkah-langkah penyelesaian:
Menyusun skor terkecil sampai dengan skor terbesar seperti berikut:
17 25 30 34 37 42 50
17 27 31 34 37 42 50
20 27 31 35 37 43 50
21 27 31 35 37 43 50
21 28 32 36 38 44
22 29 32 36 38 46
22 29 32 36 39 47
24 30 33 36 40 50
Selanjutnya data ini ditabulasikan dalam daftar distribusi frekuensi, yaitu mengelompokkan data sesuai dengan kelas interval. Untuk membuat kelas interval dapat digunakan rumus Struges. Adapun langkah-langkah perhitungannya adalah sebagai berikut:
Mencari rentang (range), yaitu skor terbesar dikurangi skor terkecil.
Skor terbesar = 50
Skor terkecil = 17
Rentang = 33
Mencari banyak kelas interval:
Banyak kelas= 
 = 
 = 
 = 
 = 6,6628
 = 7 (dibulatkan)
Mencari interval kelas:







Menyusun daftar distribusi frekuensi:
Distribusi frekuensi skor tes bahasa inggris
Kelas Interval
Tally
Frekuensi

47-51
42-46
37-41
32-36
27-31
22-26
17-21
IIIII I
IIIII I
IIIII III
IIIII IIIII II
IIIII IIIII I
IIIII
IIIII
6
6
7
12
11
4
5

Jumlah
52


Menghitung rata-rata aktual.
Menghitung rata-rata dan simpangan baku aktual
Kelas Interval
F
d
Fd


47-51
42-46
37-41
32-36
27-31
22-26
17-21
6
6
8
12
11
4
5
+3
+2
+1
0
-1
-2
-3
18
12
8
0
-11
-8
-15
54
24
8
0
11
16
45

Jumlah
52

4
158


Menghitung simpangan baku aktual:

Menyusun pedoman konverensi
Skala lima (0-5): 
      A
 + 1,5 (s) = 34,38 + 1,5 (8,79) = 47,57
      B
 + 0,5 (s) = 34,38 + 0,5 (8,79) = 38,78
      C
 - 0,5 (s) = 34,38 - 0,5 (8,79) = 29,99
      D
 - 1,5 (s) = 34,38 - 1,5 (8,79) = 21,20
      E
Dengan demikian, skor 32 nilainya C, skor 20 nilainya E, skor 35 nilainya C, skor 24 nilainya D dan skor 17 nilainya E.
Skala Sepuluh (0-10):
      10
 + 2,25 (s) = 34,38 + 2,25 (8,79) = 54,16
      9
 + 1,75 (s) = 34,38 + 1,75 (8,79) = 49,76
      8
 + 1,25 (s) = 34,38 + 1,25 (8,79) = 45,37
      7
 + 0,75 (s) = 34,38 + 0,75 (8,79) = 40,97
      6
 + 0,25 (s) = 34,38 + 0,25 (8,79) = 36,58
      5
 - 0,25 (s) = 34,38 - 0,25 (8,79) = 32,18
      4
 - 0,75 (s) = 34,38 - 0,75 (8,79) = 27,79
      3
 – 1,25 (s) = 34,38 – 1,25 (8,79) = 23,39
      2
 - 1,75 (s) = 34,38 – 1,75 (8,79) = 19,00
      1
 - 2,25 (s) = 34,38 – 2,25 (8,79) = 14,60
      0
Dengan demikian, skor 32 nilainya= 4, skor 20 nilainya=2, skor 35 nilainya=5, skor 24 nilainya=3, dan skor 17 nilainya=1
Skala seratus (0-100) atau T-Skor
Rumus: 
Keterangan:
50 dan 10 = bilangan tetap
 X = skor mentah yang diperoleh setiap peserta didik
  rata-rata
 S = simpangan baku
Contoh:
Diketahui: Peserta didik A memperoleh skor mentah 35. Rata-rata = 34,38 dan simpangan baku= 8,79. Dengan demikian, nilai yang diperoleh peserta didik A dalam skala 0-100 adalah:

Konversi dengan Z-Skor
Z–Score adalah suatu ukuran yang menunjukan berapa besarnya simpangan baku seseorang berada di bawah atau di atas rata-rata dalam kelompok tersebut.
Rumus: Z = (X-)/s  
Contoh :
Diketahui Skor (X) = 35, rata-rata () = 34,38, simpangan baku (s) = 8,79. 
Jadi, Z – Skor = 
Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa interpretasi dengan menggunakan acuan norma cenderung banyak menggunakan teknik analisa data, anatar lain mean dan strandar deviasi. Sedangkan interpretasi dengan acuan patokan, menggunakan persentase atau batas kelulusan. Kadang-kadang penggunaan salah satu dati kedua pendekatan tersebut belum bisa memenuhi kebutuhan, misalnya distribusi skor hasil tes tidak memenuhi asumsi tertentu sebagai syarat penggunaan salah satu pendekatan yang ada. Bila terjadi demikian, bisa menggunakan pendekatan kombinasi acuan patokan dan acuan norma, sehingga tujuan evaluasi pembelajaran tercapai secara optimal.










BAB III
PENUTUP

Menurut Zainal (2006) dalam mengolah data hasil test ada empat langkah pokok yang harus di tempuh. Pertama, menskor, yaitu memberi skor pada hasil tes yang dapat di capai oleh peserta didik. Untuk memperoleh skor mentah di perlukan tiga jenis alat bantu, yaitu kunci jawaban, kunci scoring, dan pedoman konversi. Kedua, mengubah skor mentah menjadi skor standar sesuai dengan norma tertentu. Ketiga, mengkonversikan skor standar pada nilai, baik berupa huruf atau angka. Keempat melakukan analisis soal (jika diperlukan) untuk mengetahuia derajat validitas dan reliabilitas soal, tingkat kesukaran soal (difficulty index), dan daya pembeda.



















DAFTAR PUSTAKA

Tuti Hayati. 2013. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: CV. Insan Mandiri 
Zainal Arifin. 2011. Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik, Prosedur. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

PEMBELAJARAN AKHLAQUL KARIMAH



PEMBELAJARAN AKHLAQUL KARIMAH DALAM PEMBENTUKAN SIFAT-SIFAT MULIA

MAKALAH
Dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Belajar dan 
Pembelajaran PAI II
Dosen
 Dra. Ida Rosyidah, M.Ag

Bahan diskusi kelompok 9
Hifni Mannan Nuzula 1152020091
Irfi Nur Syamsiah 1152020101
Kristin Wiranata 1152020108
Laela Nur Saleha 1152020109

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI 
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2018


KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kepada Allah subhanahu wata’ala karena berkat ridho-Nya kami dapat menyusun makalah yang berjudul “Pembelajaran Akhlaqul Karimah Dalam Pembentukan Sifat-Sifat Mulia” untuk memenuhi salah satu tugas kelompok pada mata kuliah Belajar dan Pembelajaran PAI II. Shalawat dan salam semoga senantiasa sampai kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang membawa kita selaku umatnya kepada jalan kebenaran.
Penyusun meyampaikan terima kasih kepada dosen mata kuliah Belajar dan Pembelajaran PAI II Dra. Ida Rosyidah, M.Ag. yang telah memberikan arahannya kepada kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan. 
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kami menerima kritik dan saran dari pembaca, sehingga dapat menjadi sebuah pembelajaran dan perbaikan untuk kami agar menjadi lebih baik lagi kedepannya.


Bandung, 24 Mei 2018


Penyusun 









DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 1
BAB II PEMBAHASAN 3
A. Nabi Muhammad 3
B. Khadijah 4
C. Utsman bin Affan 6
D. Nabi Nuh 7
E. Luqman 9
F. Ali bin Abi Thalib 11
G. Abu Bakar Ash-Shiddiq 13
H. Umar bin Khattab 15
I. Fatimah Az-Zahra 16
J. Imam Hanafi 17
K. Imam Maliki 19
L. Imam Syafi’i 20
M. Imam Hanbali 21
BAB III PENUTUP 23
A. Simpulan 23
DAFTAR PUSTAKA 25









BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Allah swt. sangat mencintai hambanya yang memiliki akhlakul karimah. Hamba tersebut mampu menjalin hubungan yang baik dengan penciptanya, sesama manusia, dengan alam dan dengan dirinya sendiri. Orang yang memiliki akhlak yang baik akan mudah diterima dimanapun ia berada. Kehadirannya senantiasa menjadi angin penyejuk bagi lingkungannya. Rasulullah saw. sangat menekankan umatnya untuk berakhlakul karimah, sebagaimana misi diutusnya Rasulullah saw. ialah untuk memperbaiki akhlak. Derajat manusia akan meningkat dan menurun sebanding dengan kadar akhlaknya.
Perilaku yang baik dapat kita teladani dari para salafush shalih. Mereka memiliki masa lalu yang mempunyai pesona unik bagi para pemerhati kemanusiaan. Peninggalan masa lalu mereka dapat menggugah dan menumbuhkan hasrat dalam benak kita untuk meningkatkan kualitas diri. Kisah-kisah orang shalih akan memberi kepuasan kepada rasa keingintahuan dengan memungkinkan kita untuk meneladani kehidupan figur-figur sejarah yang mahsyur melalui perilaku mereka. Para pemuda muslim bisa menggali inspirasi yang luas dari berbagai perilaku teladan dari para pendahulu mereka.
Beranjak dari pentingnya mengetahui kisah para salafus shalih kami merasa tergugah untuk membuat makalah dengan tema “Pembelajaran Akhlakul Karimah Dalam Pembentukan Sifat-Sifat Mulia”. Semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas kami menyimpulkan rumusan masalah sebagai berikut:
Bagaimana biografi Nabi Muhammad saw. dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
Bagaimana biografi Khadijah dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
Bagaimana biografi Utsman. dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
Bagaimana biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
Bagaimana biografi Umar bin Khattab dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
Bagaimana biografi Ali bin Abi Thalib dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
Bagaimana biografi Fatimah dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
Bagaimana biografi Imam 4 Madzhab dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
Bagaimana biografi Luqman dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
Bagaimana biografi Nabi Nuh dan akhlakul karimah yang dapat diteladani dari beliau?
















BAB II
PEMBAHASAN

Nabi Muhammad
Riwayat Hidup Nabi Muhammad
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Manaf dilahirkan di kota Makkah. Abdullah ayah beliau meninggal dunia sewaktu beliau dalam kandungan, ibu beliau juga meninggal dunia sewaktu beliau berumur enam tahun. Akhirnya beliau dibesarkan oleh kakeknya yang bernama Abdul Muthalib, sampai ia berumur delapan tahun, setelah kakeknya meninggal dunia ia tinggal dengan pamannya Abu Thalib, selama beliau tinggal dengan pamannya, perilakunya mendapat perhatian penduduk sekitar dan tidak lama berselang ia telah mendapat di hati mereka.
Pada usia tiga belas tahun, ia menemani Abu Thalib ke Syam (Syiria sekarang). Dalam perjalanan inilah keagungan jiwa dan sifat amanahnya teruji, Oleh karena itu di kalangan masyarakat Makkah pada saat itu memanggilnya Muhammad Al-Amin (yang terpercaya). Pada usia dua puluh lima tahun beliau menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, dan pada usia itu pula beliau menempatkan Hajarul Aswad di tempatnya semula dan mencegah terjadinya perang antar kabilah Makkah, ia telah membuktikan keahliannya dalam manajemen, dan dengan ikut serta dalam perjanjian Hilful Fudhul ia telah membuktikan kecintaanya terhadap persatuan insani.
Pada usia empat puluh tahun ia diangkat menjadi nabi, selama tiga tahun ia berdakwah secara diam-diam di kota Makkah. Setelah masa tiga tahun turunlah ayat yang berbunyi “berilah peringatan kepada keluarga dekat mu” dan dia mulai melakukan dakwah secara terang terangan dan dia mulai dari keluarga dekat dia sendiri, setelah itu ia mendakwahkan untuk bertauhid dan meninggalkan syirik dan menyembah berhala. Semenjak dakwah rasul terang terangan kaum quraisy menyatakan peperangan dengan beliau, menentang dakwah beliau, dan menganggu segala aktivitas beliau. Selama tiga belas tahun Rasulullah SAW menghadapi segala gangguan dan ejekan dari pembesar pembesar quraisy. Dengan tegar ia tidak mundur walaupun selangkah dari misi nya. Setelah tiga tahun berdakwah di Makkah dia terpaksa harus hijrah ke Madinah, pasca hijrah di Madinah lahan untuk dakwah Islam tersedia dengan baik meskipun pada priode sepuluh tahun ini kaum musyrikin, munafikin dan kabilah – kabilah yahudi selalu mengganggu.
Akhlaqul Karimah Nabi Muhammad
Keteladanan sifat- sifat yang harus kita teladani adalah Empat sifat Rasul yang sangat mulia, yang harus ditiru dalam berkepemimpinan baik pada diri sendiri maupun kepada orang lain:
Shiddiq (Berkata Benar)
Fathonah (cerdass)
Tabligh (Menyampaikan Wahyu
Amanah (Dapat dipercaya)
Khadijah
Riwayat Hidup Khadijah
Siti Khadijah adalah putri Khuwailid bin As’ad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Siti Khadijah dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat, pada tahun 68 sebelum hijrah. Khadijah tumbuh dalam lingkungan yang keluarga yang mulia, sehingga akhirnya setelah dewasa ia menjadi wanita yang cerdas, teguh, dan berperangai luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya yang menaruh simpati padanya. Syaikh Muhammad Husain Salamah menjelaskan bahwa Siti Khadijah, nasab dari jalur ayahnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada kakeknya yang bernama Qushay. Dia menempati urutan kakek keempat bagi dirinya.
Pada tahun 575 Masehi, Siti Khadijah ditinggalkan ibunya. Sepuluh tahun kemudian ayahnya, Khuwailid, menyusul. Sepeninggal kedua orang tuanya, Khadijah dan saudara-saudaranya mewarisi kekayaannya. Kekayaan warisan menyimpan bahaya. Ia bisa menjadikan seseorang lebih senang tinggal di rumah dan hidup berfoya-foya. Bahaya ini sangat disadari Khadijah. Ia pun memutuskan untuk tidak menjadikan dirinya pengangguran. Kecerdasan dan kekuatan sikap yang dimiliki Khadijah mampu mengatasi godaan harta. Karenanya, Khadijah mengambil alih bisnis keluarga.
Pertama kali dalam sejarah bangsa Arab, seorang wanita diberi panggilan Ratu Mekkah dan juga dijuluki at-Thahirah. Orang-orang memanggil Khadijah dengan Ratu Mekkah karena kekayaannya dan menyebut Khadijah dengan at-Thahirah karena reputasinya yang tanpa cacat.
Suatu ketika, Muhammad berkerja mengelola barang dagangan milik Siti Khadijah untuk dijual ke Syam bersama Maisyarah. Setibanya dari berdagang Maysarah menceritakan mengenai perjalanannya, mengenai keuntungan-keuntungannya, dan juga mengenai watak dan kepribadian Muhammad. Setelah mendengar dan melihat perangai manis, pekerti yang luhur, kejujuran, dan kemampuan yang dimiliki Muhammad, kian hari Khadijah semakin mengagumi sosok Muhammad. Selain kekaguman, muncul juga perasaan-perasaan cinta Khadijah kepada Muhammad.
Tibalah hari suci itu. Maka dengan maskawin 20 ekor unta muda, Muhammad menikah dengan Siti Khadijah pada tahun 595 Masehi. Pernikahan itu berlangsung diwakili oleh paman Khadijah, ‘Amr bin Asad. Sedangkan dari pihak keluarga Muhammad diwakili oleh Abu Thalib dan Hamzah. Ketika Menikah, Muhammad berusia 25 tahun, sedangkan Siti Khadijah berusia 40 tahun. Bagi keduanya, perbedaan usia yang terpaut cukup jauh dan harta kekayaan yang tidak sepadan di antara mereka, tidaklah menjadi masalah, karena mereka menikah dilandasi oleh cinta yang tulus, serta pengabdian kepada Allah. Dan, melalui pernikahan itu pula Allah telah memberikan keberkahan dan kemuliaan kepada mereka.
Dari pernikahan itu, Allah menganugerahi mereka dengan beberapa orang anak, maka dari rahim Siti Khadijah lahirlah enam orang anak keturunan Muhammad. Anak-anak itu terdiri dari dua orang laki-laki dan empat orang perempuan. Anak laki-laki mereka, al-Qasim dan dan Abdullah at-Tahir at-Tayyib meninggal saat bayi. Kemudian, empat anak perempuannya adalah Zainab, Ruqayyah, Ummi Kulsum, dan Fatimah az-Zahra. Siti Khadijah mengasuh dan membimbing anak-anaknya dengan bijaksana, lembut, dan penuh kasih sayang, sehingga mereka pun setia dan hormat sekali kepada ibunya.
Setelah berakhirnya pemboikotan kaum Quraisy terhadap kaum muslim, Siti Khadijah sakit keras akibat beberapa tahun menderita kelaparan dan kehausan. Semakin hari kondisi kesehatan badannya semakin memburuk. Dalam sakit yang tidak terlalu lama, dalam usia 60 tahun, wafatlah seorang mujahidah suci yang sabar dan teguh imannya, Sayyidah Siti Khadijah al-Kubra binti Khuwailid.
Siti Khadijah wafat dalam usia 65 tahun pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-10 kenabian, atau tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah atau 619 Masehi. Ketia itu, usia Rasulullah sekitar 50 tahun. Beliau dimakamkan di dataran tinggi Mekkah, yang dikenal dengan sebutan al-Hajun.
Akhlaqul Karimah Khadijah
Wanita yang Cerdas
Wanita yang Ulet dan Mandiri
Wanita yang Sangat Setia
Wanita yang Salihah dan Teguh
Utsman bin Affan
Riwayat Hidup Utsman bin Affan
Ustman bin Affan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Utsman bin Affan lahir pada tahun 574 – 656 M atau  12 Dzulhijjah 35 H. beliau diperkirakan berumur 81–82 tahun. Ustman bin affan adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang termasuk Khulafaur Rasyidin yang ke-3 yang sangat pemalu. Beliau juga merupakan seorang yang saudagar kaya dan dermawan. Selain itu beliau juga berjasa dalam hal membukukan kitab suci Al-Qur'an.
Utsman bin Affan adalah khalifah Khulafaur Rasyidin yang ketiga dan memerintah dari tahun 644 hingga 656. Saat beliau berumur 69–70 tahun dan memerintah selama 11–12 tahun. Ia banyak memberikan bantuan ekonomi kepada umat Islam di awal dakwah Islam. Ia menikahi puteri kedua dan ketiga dari Rasullah yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum sehingga mendapat julukan sebagai Dzunnurain yang artinya memiliki dua cahaya.
Di mata Rasulullah SAW Utsman bin Affan sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati. Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Abu Bakar masuk tapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa?’ Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?”
Khalifah Utsman wafat karena dibunuh oleh para pemberontak. Saat itu beliau dikepung oleh pemberontak selama 40 hari dimulai dari bulan Ramadhan hingga Dzulhijah. Beliau diberi 2 ultimatum oleh pemberontak (Ghafiki dan Sudan), yaitu mengundurkan diri atau dibunuh. Meski Utsman mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan pemberontak, namun ia berprinsip untuk tidak menumpahkan darah umat Islam. Utsman akhirnya wafat sebagai syahid pada bulan Dzulhijah 35 H ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat sedang membaca Al-Quran. 
Hal ini persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah SAW perihal kematian Utsman yang syahid nantinya, peristiwa pembunuhan usman berawal dari pengepungan rumah Utsman oleh para pemberontak selama 40 hari. Utsman wafat pada hari Jumat 18 Dzulhijjah 35 H.
Akhlaqul Karimah Utsman bin Affan
Dermawan
Adil
Sederhana
Diplomat ulung
Ramah dan sabar

Nabi Nuh
Riwayat Hidup Nabi Nuh
Nuh adalah putra Lamik bin Matta Syalih bin Idris. Menurut Al-Quran usia Nabi Nuh ialah 950 tahun (QS. Al-'Ankabuut:14). Setelah Nabi Idris meninggal dunia, perilaku masyarakat semakin menyimpang. Begitu juga kaum Nuh, yang ketika itu menyembah berhala. Al-Quran menyebutkan hal ini dalam Surah Nuuh ayat 23. "Mereka berkata, "Jangan kamu tinggalkan tuhan-tuhan kamu dan jangan kamu tinggalkan Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr."
Ternyata, dakwah Nabi Nuh tidak mendapat sambutan yang baik. Mereka malah mencemooh dan menghina Nabi Nuh. Mereka juga meremehkan Nabi Nuh dan pengikutnya yang miskin. "Maka, berkatalah pemimpin-peminpin yang kafir dari kaumnya, 'Kami tidak melihat kamu melainkan (sebagai) seorang manusia seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina diantara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang berdusta." (QS. Huud : 27).
Nabi Nuh kesal terhadap sikap kaumnya. Ia pun berlindung kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya. Ia berdoa kepada Allah, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku untuk beriman kepada-Mu. Aku juga mengajak mereka agar meninggalkan penyembahan berhala. Aku sangat berharap mereka mau beriman. Tidak ku lewatkan setiap kesempatan, melainkan kuajak mereka siang dan malam. Ternyata, harapanku sia-sia. Mereka malah makin membangkang dan durhaka. Setiap kali kuajak mereka untuk menyembah-Mu, supaya Engkau bisa memaafkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka pun menutup telinganya dengan ujung jarinya. Mereka tidak suka mendengar ajakanku. Mereka sangat berlebih-lebihan dalam pembangkangan. Sampai-sampai, mereka menutup wajahnya dengan baju supaya tidak melihatku dan tidak mendengar dakwah yang kuberikan. Wahai Tuhanku, aku telah mengajak mereka untuk menyembah-Mu berulang-ulang dengan berbagai cara. Kadang-kadang, aku mengajak secara terang-terangan dalam kelompok-kelompok mereka. Kadang-kadang, secara sendirian terhadap seseorang diantara mereka. Aku berkata kepada mereka, 'Mintalah ampun kepada Tuhanmu. Bertobatlah dari kekafiran dan kemaksiatan. Sesungguhnya Dia menerima tobat hamba-hamba-Nya. Dia memaafkan kesalahan-kesalahan serta memberi ganjaran atas tobat dan istigfarmu. Maka, Dia akan menurunkan hujan yang deras bagi kamu. Hujan yang akan menyuburkan tanahmu sesudah kekeringan. Dia memberi rezeki kepadamu berupa harta benda untuk kamu nikmati dan mengaruniai anak-anak yang akan membantu kamu. Kebun-kebun yang lebat akan membuat hidupmu sejahtera. Dan sungai-sungai akan menjamin pengairan bagi tanahmu." (QS. Nuuh : 5-12)
Sudah tidak ada harapan lagi kaum Nuh akan beriman, kecuali sedikit. Akhirnya, Nabi Nuh berdoa agar Allah menimpakan azab kepada kaumnya. Allah pun mengabulkan doa Nabi Nuh. Sebelum membinasakan kaum kafir itu. Allah memerintahkan Nabi Nuh dan kaum Muslim menyiapkan alat untuk menyelamatkan diri. Allah menyuruh mereka untuk membuat kapal. Nabi Nuh dan pengikutnya segera menjalankan perintah Allah itu. Mereka mulai membuat kapal. Namun, pembuatan kapal diejek oleh orang-orang kafir. Untuk menghadapi ejekan orang-orang kafir itu, Nabi Nuh berkata, "Jika kamu mengejek Kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalin, mengejek (kami). Kelak, kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya, dan yang akan ditimpa azab yang kekal." (QS. Huud : 38-39).
Akhlaqul Karimah Nabi Nuh
Penyayang 
Penyabar 

Luqman
Riwayat Hidup Luqman
Nama lengkapnya adalah Luqman bin `Anqo’ bin Sadun, anaknya bernama Tsaron. Ia seorang hamba yang shalih, bukan seorang nabi. Karena keshalihannya dan untaian nasihatnya bagaikan mutiara, namanya diabadikan dalam al-Qur’an, yaitu dalam surat Luqman, surat ke-31. la telah mendapatkan ilmu hikmah sehingga dijuluki al-Hakim (ahli hikmah). Bahkan dalam banyak riwayat shahih dikatakan, ia seorang budak belian, berkulit hitam, berparas pas-pasan, hidung pesek, kulit hitam legam. Namun demikian, namanya diabadikan oleh Allah menjadi nama salah satu surat dalam al-Qur’an, surat Luqman. Penyebutan ini tentu bukan tanpa maksud. Luqman diabadikan namanya oleh Allah, karena memang orang shaleh yang patut diteladani. Allah tidak menilai seseorang dari gagah tidaknya, juga tidak dari statusnya, jabatannya, warna kulitnya dan lainnya. Akan tetapi Allah menilai dari ketakwaaan dan kesalehannnya.
Pendapat sejarawan tentang lukman hakim
Dalam Tarikhnya, Ibnu Ishak menuturkan, bahwa Luqman bernama Luqman bin Bau’raa bin Nahur bin Tareh, dan Tareh bin Nahur merupakan nama dari Azar, ayah Nabi Ibrahim as.
Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa Luqman adalah putra dari saudari kandung Nabi Ayyub as. Muqatil menuturkan, Luqman adalah putra dari bibinya Nabi Ayyub as.Imam Zamakhsyari menguatkan dengan mengatakan: Dia adalah Luqman bin Bau’raa putra saudari perempuan Nabi Ayyub atau putra bibinya.
Riwayat lain mengatakan, Luqman adalah cicit Azar, ayahnya Nabi Ibrahim as. Luqman hidup selama 1000 tahun, ia sezaman bahkan gurunya Nabi Daud. Sebelum Nabi Daud diangkat menjadi Nabi, Luqman sudah menjadi mufti saat itu, tempat konsultasi dan bertanya Nabi Daud as.
Luqmanul Hakim dalam sebuah riwayat dikatakan seorang yang bermuka biasa, tidak ganteng. Qatadah pernah menuturkan dari Abdullah bin Zubair bahwasannya ia pernah bertanya kepada Jabir bin Abdullah tentang Luqman. Jabir menjawab: “Dia berbadan pendek dan berhidung pesek, orang Nubi, Mesir”.
Sa’id bin al-Musayyib juga menuturkan bahwa Luqman termasuk orang berkulit hitam dari Mesir, akan tetapi sangat mulia, dan Allah memberikan hikmah kepadanya, juga Luqman menolak untuk diangkat sebagai Nabi. Seorang laki-laki berkulit hitam datang mengadu kepada Said bin al-Musayyib. Sa’id kemudian berkata: “Janganlah bersedih lantaran kulit kamu hitam, karena di antara manusia pilihan itu, ada tiga orang semuanya berkulit hitam: Bilal, Mihja’ budak Umar bin Khatab dan Luqmanul Hakim”.
Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang profesinya. Sebagian mengatakan, profesinya adalah tukang jahit. Sebagian lainnya mengatakan, tukang kayu, yang lainnya menuturkan tukang kayu bakar, dan terakhir mengatakan sebagai penggembala.
Riwayat lain menuturkan bahwa Luqman adalah qadhi pada masa Bani Israil, sekaligus konsultannya Nabi Daud as. Bahkan riwayat lain menuturkan Luqman adalah seorang budak belian dari Habasyi yang berprofesi sebagai tukang kayu. Khalid ar-Rib’i menuturkan: “Luqman adalah seorang budak belian dari Habasyi yang berprofesi sebagai tukang kayu. Suatu hari majikannya berkata: “Wahai Luqman sembelih kambing ini lalu keluarkan dua dagingnya yang paling enak. Luqman lalu menyembelih dan mengeluarkan lidah dengan hati.
Keesokan harinya, majikannya kembali berkata: “Luqman, sembelih domba ini, dan keluarkan dua daging yang paling tidak enak”. Luqman kembali mengeluarkan lidah dengan hati. Majikannya lalu bertanya, wahai Luqman, saya meminta kamu mengeluarkan daging yang paling enak dan paling tidak enak, kamu mengeluarkan yang sama, lidah dengan hati. Kenapa demikian?. Luqman menjawab: “Tidak ada yang seenak keduanya, apabila dipakai dengan sebaik mungkin, dan tidak ada yang sejelek dari keduanya, manakala dipakai tidak pada tempatnya”. SubhanAllah sungguh bijak sekali Luqman ini, karena itulah Allah memberikan nama Luqmanul Hakim (Luqman yang sangat bijak). Dalam sejarahnya Luqman menikah dan dikaruniai banyak anak, akan tetapi semuanya meninggal dunia ketika masih kecil, tidak ada yang sampai dewasa, namun Luqman tidak menangis, karena hidupnya yang sudah yakin dengan Allah.
Akhlaqul Karimah Luqman

Menahan (menjaga) pandangan
Menjaga lisan
Memperhatikan makanan
Memelihara (menjaga) kemaluan
Berkata jujur
Menunaikan janji
Menghormati tamu
Memedulikan tetangga
Meninggalkan semua yang tidak bermanfaat bagi dirinya
Seorang yang tangguh
Pendiam
Pemikir
Berpandangan mendalam

Tidak pernah terlihat oleh orang lain tidur siang, meludah, berdahak, kencing, buang air besar, menganggur ataupun tertawa seenaknya.
Tidak pernah mengulang kata-katanya, kecuali ucapan hikmah yang diminta penyebutannya kembali oleh orang lain.

Ali bin Abi Thalib
Riwayat Hidup Ali bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang terkemuka di kalangan umat Islam sekaligus sepupu Nabi Muhammad yang menjadi khalifah ke-4 (khulafaur rosyidin) setelah kekhalifhan Utsman bin Affan.
Ali adalah sosok yang cerdas dan tampan. Tumbuh berkembang dalam didikan rumah tangga kenabian, dialah orang pertama yang masuk Islam dari golongan anak kecil. Sejak kecil Ali telah berada dalam didikan Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wassalam, sebagaimana dikatakannya sendiri: "Nabi membesarkan aku dengan suapannya sendiri. Aku menyertai beliau kemanapun beliau pergi, seperti anak unta yang mengikuti induknya. Tiap hari aku dapatkan suatu hal baru dari karakternya yang mulia dan aku menerima serta mengikutinya sebagai suatu perintah".
Ali dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian Muhammad, sekitar tahun 599 Masehi atau 600(perkiraan) dan ada juga yang menyebutkan tahun ke dua puluh sebelum kenabian. Usia Ali terhadap Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wassalam masih diperselisihkan hingga kini, sebagian riwayat menyebut berbeda 25 tahun, ada yang berbeda 27 tahun, ada yang 30 tahun bahkan 32 tahun.
Ali bernama asli Haydar bin Abu Thalib, paman Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wassalam. Haydar yang berarti "Singa" adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani diantara kalangan Quraisy Mekkah. Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar, Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wassalam memanggil dengan Ali yang berarti "Tinggi (derajat di sisi Allah)."
Ayahnya adalah: Abu Thalib, paman Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wassalam, bin Abdul Muththalib, bin Hasyim, bin Abdi Manaf, bin Qushayy. Ibunya adalah: Fathimah binti Asad, bin Hasyim, bin Abdi Manaf. Saudara-saudara kandungnya adalah: Thalib, 'Uqail, Ja'far dan Ummu Hani. Ali adalah berdarah Hasyimi dari kedua ibu-bapaknya. Keluarga Hasyim memiliki sejarah yang cemerlang dalam masyarakat Mekkah. Sebelum datangnya Islam, keluarga Hasyim terkenal sebagai keluarga yang mulia, penuh kasih sayang, dan pemegang kepemimpinan masyarakat. Ibunya adalah Fathimah binti Asad, yang kemudian menamakannya Haidarah. Haidarah adalah salah satu nama singa, sesuai dengan nama ayahnya: Asad (singa). Fathimah adalah termasuk salah seorang wanita yang terdahulu beriman dengan Risalah Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wassalam. Dia pula-lah yang telah mendidik Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wassalam, dan menanggung hidupnya, setelah meninggalnya bapak-ibu beliau, Abdullah dan Aminah. Beliau kemudian membalas jasanya, dengan menanggung kehidupan Ali, untuk meringankan beban pamannya, Abu Thalib, pada saat mengalami kesulitan ekonomi. Saat Fathimah meninggal dunia, Rasulullah  Shalallaahu 'Alaihi Wassalam yang mulai mengkafaninya dengan baju qamisnya, meletakkannya dalam kuburnya, dan menangisinya, sebagai tangisan seorang anak atas ibunya.
Ali adalah anak bungsu dari kedua orang tuanya, selain Ja'far, Uqail dan Thalib. Saat Abu Thalib mengalamai krisis ekonomi karena kekeringan yang melanda, seperti yang dialami oleh orang-orang Quraisy, Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wassalam menyarankan kepada kedua pamannya: Hamzah dan Abbas untuk turut membantu meringankan beban saudaranya, Abu Thalib, dengan menanggung biaya hidup anaknya. Maka keduanya pun memenuhi permintaan tersebut. Mengetahui hal itu, Abu Thalib berkata kepada kedua saudaranya tersebut,: "Ambillah siapa yang kalian ingini, namun tinggalkanlah Uqail, untuk tetap aku didik." Uqail adalah anak yang paling disayangi oleh Abu Thalib. Maka Abbas mengambil Thalib, Hamzah mengambil Ja'far dan Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wassalam mengambil Ali.
Akhlaqul Karimah Ali bin Abi Thalib
Tegas 
Pemberani 
Kuat mental 
Tekad yang kuat 

Abu Bakar Ash-Shiddiq
Riwayat Hidup Abu Bakar Ash-Shiddiq
Abu Bakar r.a. (nama lengkapnya Abu Bakar Abdullah bin Abi Quhafah bin Utsman bin Amr bin Masud bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr At-Taimi Al-Quraisy. Berarti silsilahnya dengan Nabi bertemu pada Murrah bin Ka’ab). Dilahirkan pada tahun 573 M. Dia dilahirkan di lingkungan suku yang sangat berpengaruh dan suku yang banyak melahirkan tokoh-tokoh besar. Ayahnya bernama Utsman (Abu Quhafah) bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Saad bin Laym bin Mu’ah bin Ka’ab bin Lu’ay, berasal dari suku Quraisy, sedangkan ibunya bernama Ummu Al-Khair Salmah binti Sahr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taym bin Murrah. Garis keturunannya bertemu dengan neneknya, yaitu Ka’ab bin Sa’ad
Abu Bakar r.a. dilahirkan dua tahun lebih enam bulan setelah peristiwa penyerangan Ka’bah oleh tentara gajah. Dari Aisyah r.a. dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki yang berkata kepadanya, “Sebutkan kepadaku ciri-ciri fisik Abu Bakar itu!” Aisyah segera menjawab, “Ia adalah seorang laki-laki yang berkulit putih, kurus, dan kedua pipinya tipis, serta tulang pipinya agak menonjol. Ia tidak pernah mengikat kainnya dan dibiarkan menggantung di pinggangnya. Wajahnya selalu berkeringat, kedua martanya agak cekung, keningnya lonjong, jari-jarinya selalu terbuka” itulah ciri-ciri fisik Abu Bakar r.a.
Masa muda Abu Bakar r.a. tidak ternodai oleh keburukan dan perilaku negatif kaum Jahiliyah, karena dia memegang teguh sifat-sifat luhur bangsa Arab. Abu Bakar r.a. dikenal sebagai pribadi yang berakhlak mulia, sosok yang menyenangkan, mudah membantu sesama, jujur dalam setiap perkataannya, baik pergaulannya, bahkan mengharamkan atas dirinya khamar sejak masa Jahiliah. Lebih dari itu dia juga merupakan seorang pedagang berpengalaman dan terlatih. Semua itu membuat Abu Bakar r.a. disukai dan sangat dipercaya oleh kaumnya serta menempati posisi yang terhormat. Maka tidak heran jika kemudian Abu Bakar r.a. menjelma sebagai salah satu pemuka kaumnya pada masa Jahiliah dan menjadi salah satu elemen penting dalm permusyawaratan mereka.
Akhlaqul Karimah Abu-Bakar Ash-Shiddiq
Berikut adalah beberapa akhlaqul karimah yang dapat diteladani dari Abu Bakar Ash-Shiddiq:
Kasih sayang, suka menolong dan dermawan
Jujur
Rendah hati
Berjiwa tenang
Suka bermusyawarah
Setia
Umar bin Khattab
Riwayat Hidup Umar Ibn Khattab
Nama lengkapnya adalah Umar Ibn Khattab Ibn Nufail Ibn ‘Abdul ‘Uzza Ibn Riyah Ibn ‘Abdullah Ibn Qurth Ibn ‘Abdi Ibn Ka’ab dari Bani Addiy. Ibunya bernama Hantamah binti Hasyim. Badi Addiy terkenal sebagai suku yang terpandang mulia, megah, dan berkedudukan tinggi. Nasab Umar Ibn Khattab dan Nabi Muhammad saw. bertemu pada nenek merka yang bernama Ka’ab bin Luai al-Quraisyin al-Kadawi. Umar tiga belas tahun lebih muda dari Nabi Muhammad saw. Umar ibn Khattab lahir di kota Mekah pada tahun 581 M. Beliau berasal dari lingkungan keluarga yang tidak beragama Islam. 
Umar adalah laki-laki berkulit coklat, kedua tangannya aktif sehingga dapat melakukan pekerjaan dengan kedua tangannya, memiliki sosok yang kuat, ukuran tubuh yang tinggi besar. Tinggi badannya jauh di atas rata-rata. Umar berkumis lebat, jalannya cepat, suaranya besar, dan pukulannya amatlah keras. Kekuatan fisik dan kesatriannya amatlah prima, sampai-sampai dia sanggup naik ke atas kuda hanya dengan berpegang pada telinga kuda.
Umar merupakan salah satu orang terpandang dan pemuka kaum Quraisy. Dia sering dipercaya sebagai juru damai apabila terjadi peperangan antar sesama kaum Quraisy atau antara suku Quraisy dengan yang lain. Telah menjadi kebiasaan bangsa Arab, pada saat hendak berdamai masing-masing pihak yang bertikai mengutus seseorang sebagai juru damai.
Akhlaqul Karimah Umar ibn Khattab
Berikut adalah beberapa akhlaqul karimah yang dapat diteladani dari Umar ibn Khattab:
Pemberani
Adil
Sederhana
Tegas
Loyalitas tinggi 
Bertanggung jawab
Fatimah Az-Zahra
Riwayat Hidup Fatimah AZ-Zahra
Pemimpin wanita pada masanya ini adalah putri ke 4 dari anak anak Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, dan ibunya adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwalid. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala menghendaki kelahiran Fatimah yang mendekati tahun ke 5 sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, bertepatan dengan peristiwa besar yaitu ditunjuknya Rasulullah sebagai penengah ketika terjadi perselisihan antara suku Quraisy tentang siapa yang berhak meletakan kembali Hajar Aswad setelah Ka’bah diperbaharui. Dengan kecerdasan akalnya dia mampu memecahkan persoalan yang hampir menjadikan peperangan di antara kabilah-kabilah yang ada di Makkah.
Kelahiran Fatimah disambut gembira oleh Rasulallah alaihi wassalam dengan memberikan nama Fatimah dan julukannya Az-Zahra, sedangkan kunyahnya adalah Ummu Abiha (Ibu dari bapaknya).
Ia putri yang mirip dengan ayahnya, Ia tumbuh dewasa dan ketika menginjak usia 5 tahun terjadi peristiwa besar terhadap ayahnya yaitu turunnya wahyu dan tugas berat yang diemban oleh ayahnya. Dan ia juga menyaksikan kaum kafir melancarkan gangguan kepada ayahnya. sampai cobaan yang berat dengan meninggal ibunya Khadijah. Ia sangat pun sedih dengan kematian ibunya.
Rasulullah sangat menyayangi Fatimah, setelah Rasulullah bepergian ia lebih dulu menemui Fatimah sebelum menemui istri istrinya. Aisyah berkata ,” Aku tidak melihat seseorang yang perkataannya dan pembicaraannya yang menyerupai Rasulullah selain Fatimah, jika ia datang mengunjungi Rasulullah, Rasulullah berdiri lalu menciumnya dan menyambut dengan hangat, begitu juga sebaliknya yang diperbuat Fatimah bila Rasulullah datang mengunjunginya.”.
Rasulullah mengungkapkan rasa cintanya kepada putrinya takala diatas mimbar:” Sungguh Fatimah bagian dariku , Siapa yang membuatnya marah berarti membuat aku marah”. Dan dalam riwayat lain disebutkan,” Fatimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti.”.
Tatkala 6 bulan sejak wafatnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, Fatimah jatuh sakit, namun ia merasa gembira karena kabar gembira yang diterima dari ayahnya. Tak lama kemudian iapun beralih ke sisi Tuhannya pada malam Selasa tanggal 13 Ramadhan tahun 11 H dalam usia 27 tahun.
Akhlaqul Karimah Fatimah Az-Zahra
Tidak manja
Sederhana
Penyayang
Rajin beribadah
Pemurah
Sanggup berkorban

Imam Hanafi
Riwayat Hidup Imam Hanafi
Imam Abu Hanifah dilahirkan di Kufah pada tahun 699 M. Ayahnya, Tsabit, adalah seorang pebisnis yang sukses di Kota Kufah, tidak heran kita mengenal Imam Abu Hanifah sebagai seorang pebisnis yang sukses pula mengikuti jejak sang ayah. Jadi, beliau tumbuh di dalam keluarga yang shaleh dan kaya. Di tengah tekanan peraturan yang represif yang diterapkan gubernur Irak Hajjaj bin Yusuf, Imam Abu Hanifah tetap menjalankan bisnisnya menjual sutra dan pakaian-pakaian lainnya sambil mempelajari ilmu agama.
Sebagaimana kebiasaan orang-orang shaleh lainnya, Abu Hanifah juga telah menghafal Alquran sedari kecil. Di masa remaja, Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit mulai menekuni belajar agama dari ulama-ulama terkemuka di Kota Kufah. Ia sempat berjumpa dengan sembilan atau sepuluh orang sahabat Nabi semisal Anas bin Malik, Sahl bin Sa’d, Jabir bin Abdullah, dll.
Saat berusia 16 tahun, Abu Hanifah pergi dari Kufah menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Madinah al-Munawwaroh. Dalam perjalanan ini, ia berguru kepada tokoh tabi’in, Atha bin Abi Rabah, yang merupakan ulama terbaik di kota Mekah.
Jumlah guru Imam Abu Hanifah adalah sebanyak 4000 orang guru. Di antaranya 7 orang dari sahabat Nabi, 93 orang dari kalangan tabi’in, dan sisanya dari kalangan tabi’ at-tabi’in. Jumlah guru yang demikian banyak tidaklah membuat kita heran karena beliau banyak menempuh perjalanan dan berkunjung ke berbagai kota demi memperoleh ilmu agama. Beliau menunaikan haji sebanyak 55 kali, pada musim haji para ulama berkumpul di Masjidil Haram menunaikan haji atau untuk berdakwah kepada kaum muslimin yang datang dari berbagai penjuru negeri.
Imam Abu Hanifah wafat di Kota Baghdad pada tahun 150 H/767 M. Imam Ibnu Katsir mengatakan, “6 kelompok besar Penduduk Baghdad menyolatkan jenazah beliau secara bergantian. Hal itu dikarenakan banyaknya orang yang hendak menyolatkan jenazah beliau.” Di masa Turki Utsmani, sebuah masjid di Baghdad yang dirancang oleh Mimar Sinan didedikasikan untuk beliau. Masjid tersebut dinamai Masjid Imam Abu Hanifah.
Sepeninggal beliau, madzhab fikihnya tidak redup dan terus dipakai oleh umat Islam, bahkan menjadi madzhab resmi beberapa kerajaan Islam seperti Daulah Abbasiyah, Mughal, dan Turki Utsmani. Saat ini madzhab beliau banyak dipakai di daerah Turki, Suriah, Irak, Balkan, Mesir, dan India.

Akhlaqul Karimah Imam Hanafi
Semangat dalam mencari ilmu hingga mempunyai banyak guru
Cerdas dan produktif
Imam Maliki
Riwayat Hidup Imam Maliki
Beliau adalah Abu Abdullah, Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin al-Harits bin Ghuyman bin Khutsail bin Amr bin Harits. Ibunya adalah Aliyah bin Syarik al-Azdiyah. Keluarganya berasal dari Yaman, lalu pada masa Umar bin Khattab, sang kakek pindah ke Kota Madinah dan menimba ilmu dengan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga menjadi salah seorang pembesar tabi’in.
Imam Malik dilahirkan di Kota Madinah 79 tahun setelah wafatnya Nabi kita Muhammad, tepatnya tahun 93 H. Tahun kelahirannya bersamaan dengan tahun wafatnya salah seorang sahabat Nabi yang paling panjang umurnya, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Malik kecil tumbuh di lingkungan yang religius, kedua orang tuanya adalah murid dari sahabat-sahabat yang mulia. Pamannya adalah Nafi’, seorang periwayat hadis yang terpercaya, yang meriwayatkan hadis dari Aisyah, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, dan sahabat-sahabat besar lainnya, radhiallahu ‘anhum. Dengan lingkungan keluarga yang utama seperti ini, Imam Malik dibesarkan.
Dari segi fisik, Imam Malik dikarunia fisik yang istimewa; berwajah tampan dengan perawakan tinggi besar. Mush’ab bin Zubair mengatakan, “Malik termasuk seorang laki-laki yang berparas rupawan, matanya bagus (salah seorang muridnya mengisahkan bahwa bola mata beliau berwarna biru), kulitnya putih, dan badannya tinggi.” Abu Ashim mengatakan, “Aku tidak pernah melihat ahli hadits  setampan Malik.”
Imam Syafii mengatakan,
إذا جاء الحديث، فمالك النجم الثاقب 
“Apabila disebutkan sebuah hadits, Malik adalah seorang bintang yang cerdas (menghafalnya pen.).
Imam Malik sangat tidak suka dengan orang-orang yang meremehkan ilmu. Apabila ada suatu permasalahan ditanyakan kepadanya, lalu ada yang mengatakan, ‘Itu permasalahan yang ringan.” Maka Imam Malik pun marah kepada orang tersebut, lalu mengatakan, “Tidak ada dalam pembahasan ilmu itu sesuatu yang ringan,.
Imam Malik rahimahullah wafat di Kota Madinah pada tahun 179 H/795 M dengan usia 85 tahun. Beliau dikuburkan di Baqi’. Semoga Allah merahmati Imam Malik dan menempatkannya di surganya yang penuh dengan kenikmatan.
Akhlaqul Karimah Imam Maliki
Wara dalam menyikapi ilmu
Menjaga kesehatan 
Imam Syafi’i
Riwayat Hidup Imam Syafi’i
Beliau dilahirkan di desa Gaza, masuk kota ‘Asqolan pada tahun 150 H. Saat beliau dilahirkan ke dunia oleh ibunya yang tercinta, bapaknya tidak sempat membuainya, karena ajal Allah telah mendahuluinya dalam usia yang masih muda. Lalu setelah berumur dua tahun, paman dan ibunya membawa pindah ke kota kelahiran nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, Makkah Al Mukaramah.
Beliau tumbuh dan berkembang di kota Makkah, di kota tersebut beliau ikut bergabung bersama teman-teman sebaya belajar memanah dengan tekun dan penuh semangat, sehingga kemampuannya mengungguli teman-teman lainnya. Beliau mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam bidang ini, hingga sepuluh anak panah yang dilemparkan, sembilan di antaranya tepat mengenai sasaran dan hanya satu yang meleset.
Setelah itu beliau mempelajari tata bahasa arab dan sya’ir sampai beliau memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan dan menjadi orang yang terdepan dalam cabang ilmu tersebut. Kemudian tumbuhlah di dalam hatinya rasa cinta terhadap ilmu agama, maka beliaupun mempelajari dan menekuni serta mendalami ilmu yang agung tersebut, sehingga beliau menjadi pemimpin dan Imam atas orang-orang
Akhlaqul Karimah Imam Syafi’i
Kecerdasan adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada hambanya sebagai nikmat yang sangat besar. Di antara hal-hal yang menunjukkan kecerdasannya:
Kemampuannya menghafal Al-Qur’an di luar kepala pada usianya yang masih belia, tujuh tahun.
Cepatnya menghafal kitab Hadits Al Muwathta’ karya Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas pada usia sepuluh tahun.
Rekomendasi para ulama sezamannya atas kecerdasannya, hingga ada yang mengatakan bahwa ia belum pernah melihat manusia yang lebih cerdas dari Imam Asy-Syafi`i.
Beliau diberi wewenang berfatawa pada umur 15 tahun.

Imam Hanbali
Riwayat Hidup Imam Hanbali
Nama lengkap beliau adalah “Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad Asy-Syaibani”. Kun-yah beliau adalah “Abu Abdillah”, karena salah satu anak laki-laki beliau bernama Abdullah. Beliau berasal dari Bani Dzuhli bin Syaiban, suatu keturunan yang menisbahkan dirinya kepada Kabilah Bakr bin Wail. Beliau dilahirkan di Baghdad pada tahun 164 H. Di usia kecilnya, beliau menjalani hari-hari dalam keadaan yatim karena bapak beliau telah meninggal di usia muda, ketika beliau masih kecil. Bapak beliau termasuk salah satu aktivis di dunia dakwah. Dengan penuh kesabaran, ibunya mendidik beliau dan mengarahkan beliau untuk senantiasa menuntut ilmu agama. Peran ibunya telah mengantarkan beliau pada kedudukan yang tinggi disebabkan ilmu.
Jika kita mengumpulkan pujian ulama untuk Imam Ahmad maka pujian-pujian itu bisa dijadikan sebagai satu buku tersendiri. Saking banyaknya keutamaan dan keistimewaan Imam Ahmad, sampai-sampai Imam Adz-Dzahabi membawakan biografi beliau dalam kitabnya, Siyar A`lam An-Nubala’, dari halaman 177 sampai halaman 358. Selain itu, banyak ulama telah menulis biografi Imam Ahmad dalam buku tersendiri, seperti: Imam Al-Baihaqi dan Ibnul Jauzi menulis biografi beliau dalam satu jilid tebal buku khusus, sementara Syekhul Islam Al-Anshari menulis biografi beliau dalam buku yang berjilid agak tipis.
Di masa Khalifah Al-Makmun, kaum muslimin diuji dengan pemikiran Mu’tazilah. Mereka dipaksa untuk mengatakan bahwa “Alquran adalah makhluk”. Siapa saja di antara tokoh masyarakat yang tidak mau mengatakan bahwa “Alquran adalah makhluk” maka dia dibunuh atau dipenjara. Saleh, putra Imam Ahmad, mengatakan, “Semua ulama mengakui bahwa Alquran adalah makhluk kecuali empat orang: bapakku, Muhammad bin Nuh, Al-Qawariry, dan Al-Hasan bin Hammad. Akhirnya, Al-Qawariry dan Al-Hasan bin Hammad bersedia mengakui bahwa Alquran adalah makhluk. Tinggallah bapakku dan Muhammad bin Nuh di penjara selama beberapa hari.” 
Imam Ahmad selalu tegar untuk mempertahankan akidah ahlus sunnah wal jamaah, bahwa Alquran adalah firman Allah dan bukan makhluk. Setelah Al-Mutawakkil menjadi khalifah, Imam Ahmad dimuliakan oleh kerajaan. Sampai-sampai, tidak ada seorang pun hakim dan pejabat negara yang akan diangkat, kecuali telah dikonsultasikan terlebih dahulu kepada Imam Ahmad.
Beliau meninggal di hari Jumat, tanggal 12 Rabi`ul Awwal, tahun 241 H, di usia beliau yang ke-77 tahun. Ketika beliau meninggal, banyak orang yang menyalati jenazah beliau. Diceritakan oleh Adz-Dzahabi dari Bunan bin Ahmad Al-Qashbani bahwa beliau menghadiri salat jenazah untuk Imam Ahmad, sementara yang ikut menyalati jenazah Imam Ahmad adalah sekitar 800.000 orang dari kalangan lelaki dan sekitar 60.000 orang dari kalangan wanita. Dalam riwayat yang lain dari Abu Zur`ah, beliau mendapat kabar bahwa Khalifah Al-Mutawakil memerintahkan seseorang untuk menghitung jejak kaki manusia yang menyalati jenazah Imam Ahmad. Dikabarkan bahwa dari jumlah telapak kaki tersebut diketahui bahwa ada lebih dari 2.500.000 orang yang menyalati jenazah Imam Ahmad. Semoga Allah merahmati Imam Ahmad bin Hanbal.










BAB III
PENUTUP

Simpulan
Sifat-sifat yang dapat diteladani dari para salafush shalih di dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
Sifat yang dapat diteladani dari Nabi Muhammad saw. sangatlah banyak, diantaranya adalah: siddiq, amanah, tabligh, Fathonah
Sifat yang dapat diteladani dari Khadijah adalah: cerdas, ulet dan mandiri, setia, salihah dan teguh.
Sifat yang dapat diteladani dari Utsman adalah: dermawan, adil, sederhana, diplomat ulung, ramah dan sabar
Sifat yang dapat diteladani dari Nabi Nuh as. adalah penyayang dan penyabar
Sifat yang dapat diteladani dari Luqman adalah: menahan (menjaga) pandangan, menjaga lisan, memperhatikan makanan, menjaga kemaluan, berkata jujur dan menunaikan janji
Sifat yang dapat diteladani dari Ali bin Abi Thalib adalah: tegas, pemberani, kuat mental, dan tekad yang kuat.
Sifat yang dapat diteladani dari Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah: penyayang, suka menolong, dermawan, jujur, rendah hati, berjiwa tenang, suka bermusyawarah dan setia
Sifat yang dapat diteladani dari Umar bin Khattab adalah: pemberani, adil, sederhana, tegas, loyalitas tinggi dan bertanggung jawab
Sifat yang dapat diteladani dari Fatimah adalah: tidak manja, sederhana, penyayang, rajin beribadah, pemurah, dan rela berkorban
Sifat yang dapat diteladani dari Imam Hanafi adalah semangat mencari ilmu, cerdas dan produktif
Sifat yang dapat diteladani dari Imam Maliki adalah wara dalam menyikapi ilmu dan pandai menjaga kesehatan
Sifat yang dapat diteladani dari Imam Syafi’i adalah kecerdasannya yang luar biasa
Sifat yang dapat diteladani dari Imam Hanbali adalah tegar di atas kebenaran



























DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Abdul ath-Thahtawi. 2009. 150 Qishshah Min Hayaat Abi Bakar As Shiddiq wa Umar bin Al Khattab wa Utsman bin Affan wa Ali bin Abi Thalib r.a. Diterjemahkan oleh: Muhammad Mukhlisin. Jakarta: Gema Insani
Dedi Supriyadi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia
Ratu Suntiah dan Maslani. 2012. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: CV. Insan Mandiri

Aplikasi (Android)
Kisah Shahih Sahabat Nabi Abu Bakar r.a. Ash-Shiddiq Radhiallahu’anhu yang bersumber dari buku 10 Sahabat Nabi yang di jamin masuk Surga oleh Abdus Sattar Asy-Syaikh Terbitan: Darus Sunnah Press
Kisah Nyata Sahabat Nabi Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu yang bersumber dari buku 10 Sahabat Nabi yang di jamin masuk Surga oleh Abdus Sattar Asy-Syaikh Terbitan: Darus Sunnah Press

Internet
http://buletinmitsal.com/biografi-singkat-rasulullah-saw/ di akses pukul 20.24 tanggal 17/5/2018
http://kota-islam.blogspot.co.id/2014/11/biografi-singkat-kisah-utsman-bin-affan.html di unggah pukul 21.27 tanggal 17/5/2018
https://www.sejarah-negara.com/2014/11/5-kepribadian-usman-bin-affan-yang.html di unggah pukul 21.33 tanggal 17/5/2018
http://info-biografi.blogspot.co.id/2010/04/kisah-nabi-nuh-as.html akses Kamis, 17 Mei 2018 pukul 06.59
http://nambahiman.blogspot.com/2015/03/yang-perlu-dicontoh-dari-luqman-al-hakim.html diakses pada tanggal 24 Mei 2018 pukul 9.59
http://viosixwey.blogspot.com/2013/04/sejarah-kisahbiografi-ali-bin-abi.html diakses pada tanggal 24 Mei 2018 pada pukul 10.03
http://kisahmuslim.com/4365-biografi-imam-abu-hanifah.html pada tanggal 24 Mei 2018 pukul 7.10
http://kisahmuslim.com/4351-biografi-imam-malik.html pada tanggal 24 Mei 2018 pada pukul 7.23
https://yufidia.com/imam-ahmad-bin-hanbal/ pada tanggal 24 Mei 2018 pada pukul 8.15

SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER PAI

Perhatikan kata yang digaris bawahi
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ 
Hukum dari kata yang digaris bawahi beserta cara membacanya adalah...
Ghunnah cara membacanya dipantulkan
Idgham cara membacanya dimasukkan ke huruf selanjutnya
Idzhar cara membacanya ialah nun dibaca jelas
Idzhar cara membacanya ialah dipanjangkan dua harakat
Ghunnah cara membacanya ialah berdengung dan ditahan 3 harakat

Perhatikan ayat berikut!
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ١٠ 
Perintah yang terkandung dalam ayat di atas adalah...
Tidak menghina orang lain 
Memberi hadiah kepada saudara
Tersenyum kepada orang lain
Mendamaikan orang yang berselisih
Tidak memanggil orang lain dengan panggilan yang buruk

Persaudaraan ukhuwah islamiyah adalah persaudaraan yang diikat oleh...
Persamaan keinginan untuk hidup bahagia
Persamaan keturunan nabi Adam alaihissalam dan Hawa
Persamaan derajat hak asasi manusia
Persamaan akidah keimanan kepada Allah ta’ala
Kebangsaaan dan nasionalisme yang sangat kuat

Bencana Banjir menimpa New Delhi, India pada tanggal 13 Agustus 2019. 147 orang dilaporkan tewas dan 165.000 jiwa sedang berada di kamp-kamp bantuan. Mendengar berita tersebut Aisyah merasa terdorong hatinya untuk memberikan bantuan donasi kemanusiaan. Perilaku baik tersebut merupakan salah satu contoh upaya mempererat jalinan....
Ukhuwah diniyah d. Ukhuwah Islamiyah
Ukhuwah wasathaniyah e. Ukhuwah Nasabiyah
Ukhuwah insyaniyah

Gaza menjadi kisah penderitaam yang tiada henti. Warganya hidup dalam ketidakpastian, dan ancaman rudal yang setiap saat bisa berjatuhan ke tempat tinggal mereka. Israel kapan saja bisa mengirimkan rudal, baik karena alasan serangan sebagai balasan atau karena tanpa alasan. Hal yang sepatutnya dilakukan oleh kaum muslim ada membantu Palestina dan mendoakannya selalu, hal ini merupakan salah satu contoh upaya dalam mempererat jalinan....
Ukhuwah islamiyah d. Ukhuwah insaniyah
Ukhuwah sababiyah e. Ukhuwah wathaniyah
Ukhuwah nasabiyah

Contoh perilaku yang mencerminkan husnuzan kepada diri sendiri adalah...
Menjauhi sikap mencari kesalahan orang lain
Berpikir positif bahwa semua keputusan Allah adalah yang terbaik
Menutupi aib dan kesalahan orang lain
Selalu mencari kesalahan diri sendiri
Memiliki sikap optimis dalam berusaha

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada umat Islam agar tidak mencari kesalahan atau aib orang lain. Perintah tersebut tertuang di dalam potongan ayat...
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ
وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ
وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ
وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ
لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا

Menjaga kehormatan diri agar menjadi orang yang bertakwa di sisi Allah jauh lebih penting daripada menjadi orang yang terhornat di pandangan manusia namun nyatanya ia tidak bisa menjaga kehormatannya. Pernyataan tersebut lebih tepat untuk hal-hal yang berkaitan dengan....
Berpakaian rapi karena orang akan menilai cara kita berpakaian
Berbuat baik agar dilihat dan dinilai manusia
Menjaga diri dari pergaulan bebas dan maksiat
Belajar ilmu agar mendapatkan penghargaan
Menyembunyikan dosa dari manusia

HIV/AIDS merupakan penyakit yang sangat berbahaya dan sangat sulit disembuhkan. Cara untuk menanggulangi penularan penyakit ini secara masif adalah....
Menghindari rokok, minuman keras meskipun sulit menghindari pergaulan bebas
Memakan makanan yang berkualitas tinggi, mengkonsumsi obat penangkal
Menjaga kehormatan diri dengan cara tidak mengikuti pergaulan bebas dan menikah
Jika sudah terlanjur memiliki gaya hidup yang salah, maka cukup menghindari narkoba
Tidak melakukan komunikasi dengan orang yang menderita penyakit HIV/AIDS

Hukuman bagi pelaku zina muhsan adalah...

Didera 80 kali
Diasingkan 5 tahun
Diarak keliling desa
Dicambuk 100 kali
Dirajam sampai meninggal


Aisyah radhiyallahu ‘anhu merupakan salah satu pemimpin muslimah yang patut diteladani akhlak dan perilakunya. Beliau selalu menjaga kehormatan dirinya dengan cara taat kepada Allah ta’ala. Namun, suatu saat ujian dan fitnah datang kepadanya berupa tuduhan bahwa beliau berzina dengan lelaki lain yakni shafwan. Padahal dalam kenyataannya Aisyah adalah wanita yang setia kepada Rasulullah dan tidak pernah berzina. Kemudian Allah ta’ala memberikan kabar kepada manusia bahwa tuduhan palsu tersebut tidak benar. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik sebagaiman Aisyah dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Disebut apakah tuduhan zina yang ditunjukkan terhadap wanita yang suci...

Fitnah
Zalim
Qishash
Qazaf
Rajam 


Allah adalah sumber rasa aman dan keamanan dengan menjelaskan sebab-sebabnya. Dengan memberi rasa aman ini, maka Allah akan menutup jalan-jalan yang menakutkan bagi orang yang beriman kepada-Nya. Hal ini mengandung asmaul husna...

Al Karim
Al Mu’min
Al Jamii’
Al Matiin
Al akhir


Allah swt. Adalah Zat yang paling kekal. Tidak ada sesuatu pun setelah-Nya. Tatkala semua makhluk, bumi seisinya hancur lebur, Allah swt. Tetap ada dan kekal. Hal ini mengandung asmaul husna....

Al Matiin
Al Kariim
Al Adl
Al Akhir
Al Mu’min


Orang yang ingin mempercayakan segala urusan atau berserah diri (bertawakal) kepada Allah, akan memiliki kepastian bahwa semua akan diselesaikan dengan sebaik-baiknya oleh Allah. Hal ini berarti orang tersebut meneladani asmaul husna...

Al wakiil
Al matiin
Al adl
Al akhir
Al jamii’

Orang beriman pasti akan mengetahui bahwa semua yang mereka miliki adalah amanat dari Allah karena memang merupakan milik-Nya dan kelak akan kembali kepada-Nya. Jika ia menyadari bahwa kelak ia akan kembali kepada-Nya dan akan mempertanggung jawabkan segala sesuatu yang pernah dititipkan kepadanya. Hal ini berarti orang tersebut meneladani asmaul husna....

Al matiin
Al kariim
Al adl
Al akhir
Al mu’min

Perhatikan ayat berikut!
وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِيٓ أَسۡمَٰٓئِهِۦۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٨٠ 
Berdasarkan QS. Al A’raf: 180 di atas kita dianjurkan untuk....

Menghafal 99 asmaul husna
Mengingat asmaul husna
Belajar asmaul husna
Berdoa dengan asmaul husna
Memahami asmaul husna

Perhatikan ayat berikut!
هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَكَبِّرُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٢٣ 
Berdasarkan QS. Al Hasyr: 23 di atas, makna dari salah satu asmaul husna yang terkandung di dalamnya adalah...

Allah Maha Pemberi Rizki
Allah Maha Pemberi Keamanan
Allah Maha Menghidupkan
Allah Maha Penyayang
Allah Maha Bijaksana

Manusia yang bertawakal kepada selain Allah, termasuk manusia yang....

Kafir
Musyrik
Munafik
Zalim
Zindiq

Perhatikan pernyataan berikut!
Bersabar apabila usaha belum berhasil, dan menerima taqdir
Bangga kepada diri apabila sukses, karena usaha diri maksimal
Berbaik sangka kepada Allah, bahwa ketentuan Allah yang terbaik
Memberitahukan kepada orang lain atas prestasi yang diraihnya
Berusaha dan berdoa sebagai ikhtiar meraih impian
Berdasarkan pernyataan di atas, manakah yang termasuk contoh perilaku orang yang bertawakal .....
i,ii,iv d. iii,iv,v
ii,iii,iv e. i,ii,ii
i,iii,v
Perhatikan rangkaian ibadah haji berikut!
Hadir di padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah
Berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan bukit Marwah sebanyak 7 kali
Mencukur rambut
Berputar mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali
Berniat mengerjakan ibadah haji dengan mengenakan pakaian khusus yang berwarna putih
Pasangkanlah poin diatas sesuai dengan istilah yang tepat…
i-wukuf, ii-sa’I, iii-tahalul, iv-thawaf, v-ihram
i-sa’i, ii-tahalul, iii-thawaf, iv-ihram, v-wukuf
i-wukuf, ii-ihram, iii-tahalul, iv-thawaf, v-sa’i
i-sa’i, ii-thawaf, iii-tahalul, iv-ihram, v-wukuf
i-wukuf, ii-jumrah, iii-miqat, iv-tahalul, v-sa’i

Melaksanakan ibadah umrah terlebih dahulu baru kemudian melaksanakan ibadah haji. disebut haji….

Mabrur     
Tamattu    
Mardud 
Qiran 
Ifrad

Berikut ini yang tidak termasuk ke dalam rukun haji adalah…

Sa’i    
Thawaf 
Tamattu
Ihram 
Tahalul

Perhatikan pernyataan berikut!
Memakai pakaian berjahit bagi laki-laki
Memakai pakaian berjahit bagi perempuan
Memakai perhiasan
Memakai wewangian
Memakai kaos kaki bagi wanita
Menikah dan melakukan hubungan pasutri
Membunuh kalajengking
Membunuh hewan buruan
Berdasarkan pernyataan di atas, manakah yang termasuk hal-hal yang dilarang ketika berihram…
1, 2, 3, dan 4
5, 6, 7, dan 8
1, 4, 6, dan 8
1, 3, 6 dan 8
2, 4, 6, dan 7 

Pak Ardi memiliki satu istri dan 4 orang anak. Sehingga Pak Ardi harus menunaikan zakat sebesar …KG Beras
10 kg d. 15 kg
12,5 kg e. 17,5 kg
7,5 kg

Waktu yang utama untuk mengeluarkan zakat fitrah adalah…
Pada awal bulan Ramadhan
Pada akhir bulan Ramadhan
Setelah melaksanakan shalat Idul Fitri
Setelah solat subuh hingga dilaksanakannya salat Idul Fitri
Pada pertengahan bulan Ramadhan

Batas minimal jumlah harta yang dimiliki oleh seseorang sehingga harta itu wajib dikeluarkan zakatnya disebut…
Kadar d. Rasyid
Haul e. Muflis
Nisab 

Wakaf menurut bahasa memiliki arti Al-Habs dan Al-Man’u. yang dimaksud dari Al- Habs adalah…
Menyerahkan d. Membagi
Mencegah e. Membantu
Menahan 

Wakaf diartikan sebagai menyerahkan hartanya untuk diambil manfaatnya bagi semua orang. wakaf dilakukan oleh orang tertentu yang mampu mewakafkan hartanya. Oleh karena itu, wakaf hukumnya….
Jaiz d. Wajib
Sunnah e. Jaiz
Mubah 

Perhatikan daftar jenis harta berikut ini!
Tanah 
Sembako
Pesantren
Irigasi 
Pakaian
Jenis harta yang dapat diwakafkan adalah…
1, 2, dan 4
2, 4, dan 5
1, 3, dan 4
2, 3 dan 4
1, 4 dan 5

Predikat yang disandang masyarakat Arab sebelum ada Islam adalah..
Shidqiyah d. su’ubiyah
Khairiyah e. islamiyah
Jahiliyah 

 Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw adalah al-Qur’an surat.. yang disampaikan oleh malaikat... bertepatan pada tanggal.. dan bertempat di..
Al-alaq 1-5, Jibril, 9 Ramadhan, Gunung Sinai
Al- Fatihah 1-7, Jibril, 17 Ramadhan, Gunung Sinai
Al-alaq 1-5, Jibril, 17 Ramadhan, Gua Hiro
All-Fatihah 1-7, Jibril, 9 Ramadhan, Gua Hiro
Al-alaq 6-10, Jibril, 9 ramadhan, Gunung Sinai

Nabi Muhammad saw berdakwah di Mekkah selama…
3 tahun d. 23 tahun
10 tahun e. 33 tahun
13 tahun 

Di bawah ini adalah yang menjadi substansi dakwah Nabi Muhammad shallalhu alaihi wa sallam di Mekah, kecuali..
Memperbaiki ahklak masyarakat
Melatih masyarakat agar mahir bersyair
Memperbaiki tauhid masyarakat
Menyampaikan persamaan hak dan derajat
Mengubah kebiasaan bertaklid masyarakat 

Salah seorang paman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang dengan keras mencegah dakwah islamiyah. yaitu bernama..
Abu Ubaidah d. Abu Lahab
Abu Salamah e. Abu Thalib
Abu Jalal

Pertama-tama Rasulullah saw berdakwah menggunakan cara..
Terang-terangan 
Sembunyi-sembunyi
Berpidato di depan masyarakat Mekkah
Mendekati pemimpin kaum Quraisy
Berdakwah di pasar

Perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw, untuk menyiarkan agama secara terang-terangan terdapat dalam surah..
Al-Hijr: 92
Al-Hijr: 94
Al-Hijr: 96
Al-Hijr: 98
Al-Hijr: 100

As sabiqunal awwalun artinya orang-orang yang terdahulu ...
Masuk islam d. Bersadaqah
Berhijrah e. Sumpah setia  
Berhaji

Rasulullah shallalhu alaihi wa sallam, ketika memulai dakwahnya berawal dari keluarga dan sahabatnya. Berikut yang bukan nama mula-mula beriman kepada rasul, yaitu..
Siti khadijah d. Zaid bin Harisah
Ali bin Abi Tholib e. Abu Bakar Siddiq
Usman bin Mahmud

Perhatikan pernyataan berikut!
Kesombongan dan keangkuhan
Kaum muslim jumlahnya sedikit
Khawatir tersainginya kekuasaan 
Mengikuti ajaran nenek moyang
Kaum muslim terdiri dari orang-orang yang lemah
Berdasarkan pernyataan diatas manakah yang termasuk ke dalam alasan- alasan yang tepat mengapa masyarakat kafir Quraisy di Mekah memusuhi dakwah Islam yang dilakukan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam
1, 2, dan 3 d. 2, 3 dan 4 
3, 4 dan 5 e. 2, 3, dan 5
1, 3, dan 4
Cara yang pertama kali ditempuh nabi muhammad shallallahu alaihi wa sallam ketika melakukan dakwahdi Mekah secara terang-terangan adalah....
Melakukan seruan kepada penduduk di luar Mekah
Mengumpulkan penduduk di Kota Mekah
Mengundang kerabat Bani Hasyim
Melakukan dakwah kepada penduduk Madinah
Melakukan dakwah di Thaif


ESSAI
Apa yang dimaksud dengan tahannuts? Hal apa yang mendorong Nabi Muhammad untuk bertahannuts?
Pa Budi memiliki uang sebesar Rp. 100.000.000, kemudian di tabung selama satu tahun. Maka harta yang dimilikinya wajib untuk di zakati, berapa banyak jumlah uang yang harus dikeluarkan oleh pak Budi ?
Perhatikan QS. Al Hujurat: 12 berikut!
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ ١٢ 
Sebutkan tiga perintah yang termaktub dalam ayat di atas!
Sebutkan 5 dampak kerusakan yang ditimbulkan dari perbuatan zina!
Sebutkan arti dan contoh peneladanan terhadap asmaul husna: Al Karim, Al Mu’min, Al Wakil, Al Matin, Al Jami’, Al ‘Adl, dan Al Akhir!

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...