PEMIKIRAN AL GHAZALI TENTANG FILSAFAT ISLAM

DIALOG PEMIKIRAN AL-GHAZALI DENGAN FILOSOF ISLAM TERHADAP KEBERADAAN FILSAFAT ISLAM

MAKALAH

Untuk memenuhi tugas struktur mata kuliah Filsafat Islam

Dosen Pengampu:
Dr. Koko Abdul Kodir, M.Ag









Makalah Diskusi Kelompok 7:

Imam Ubaidillah 1152020096
Indah Syarofa Taqwana 1152020098
Kristin Wiranata 1152020108







JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah subhanahu wata’ala yang telah memberikan kami beribu kenikmatan. Nikmat sehat, nikmat beribadah dan nikmat mencari ilmu pengetahuan. Sholawat serta salam tak lupa tercurah limpahkan kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam kepada para sahabatnya, kepada keluarganya serta kepada kita semua selaku umatnya hingga akhir zaman.  Beliaulah yang telah mengantarkan kita semua dari zaman kegelapan hingga zaman terang benderang. 
Penulis mengucapkan ungkapan terimakasih kepada Dr. Koko Abdul Kodir. M.Ag. selaku dosen pengampu mata kuliah Filsafat Islam yang telah mengarahkan kami dalam pembuatan makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Semoga makalah ini menjadi sumber belajar khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca dalam memperluas khazanah kelimuannya mengenai Filsafat Islam. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa berfilsafat sangatlah penting dalam kehidupan. 
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh



Bandung, 8 November 2017

     Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i 
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan Makalah 2
BAB II PEMBAHASAN
Mengenal Imam Al-Ghazali 3
Biografi Singkat Imam Al-Ghazali 3
Perjalanan Imam Al-Ghazali Di Dalam Mencari Kebenaran 4
Keadaan Sosial-Kultural Masa Hidup Imam Al-Ghazali 6
Batas Iman dan Kufur Menurut Imam Al-Ghazali 7
Dialog Pemikiran Al-Ghazali 9
Qadimnya Alam 10
Ilmu Allah Terhadap hal-hal/peristiwa kecil 13
Kebangkitan Jasmani 15
BAB III PENUTUP 19
DAFTAR PUSTAKA 20












BAB II
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah 
Manusia adalah makhluk yang istimewa, ia di anugerahi akal oleh Allah, akal digunakan manusia untuk mengetahui mana yang baik dan buruk dalam hidupnya. Jika akal tidak digunakan maka tidak ada bedanya manusia dengan hewan. Manusia pun memiliki fitrah untuk selalu mencari kebenaran. Menurut Al-Ghazali golongan-golongan pencari kebenaran dibatasi menjadi empat golongan yakni para mutakallimin, para penganut kebatinan, kelompok filosof, dan golongan sufi. 
Salah satu tokoh yang menempuh jalan para pencari kebenaran ialah Al-Ghazali. Sejak remaja ia dianugerahi rasa keingintahuan yang besar atas kebenaran yang hakiki. Diawali dari rasa ketidakpercayaannya terhadap indera, sebab pengamatan melalui indera seringkali bias dan kebenarannya pun demikian. Kemudian ia meletakkan kepercayaannya kepada akal, tetapi akal pun memiliki keterbatasan, salah satunya ialah tidak mampu menembus batas supra-rasional, ia tidak mampu menjangkau wujud Allah dan mustahil dapat menjangkau hal tersebut. Dari sinilah banyak pula filosof-filosof atau manusia yang menyimpang setelah berfilsafat, dikarenakan rapuhnya pondasi iman yang menjadi pengikat akal. Memang wajar-wajar saja berfilsafat terhadap eksistensi alam, manusia dan lainnya, namun apabila ranah kajian filsafat ini menyentuh pada ranah ketuhanan, maka akal selaku alat dalam berfilsafat tidak bisa lari dan liar begitu saja tanpa dikendalikan oleh wahyu. Sebab jika akal dibiarkan liar dalam memikirkan Tuhan tanpa diiringi iman, bisa jadi hal tersebut dapat membuatnya berpaling dan kafir terhadap kebenaran yang hakiki (iman). Al-Ghazali sendiri mengkritik beberapa pemikiran para filosof yang tertuang di dalam karyanya Tahafut Al-Falasifah. Ada tiga hal penting mengenai metafisika yang Al-Ghazali sanggah terhadap para filosof yakni: mengenai ke-qadim-an alam, Allah tidak mengetahui partikularia-partikularia dan pengingkaran para filosof akan kebangkitan jasmani di hari akhir. Sedangkan 17 persoalan sisa adalah persoalan-persoalan yang dibantah logikanya tapi belum tentu substansinya. 
Untuk dapat memahami berbagai persoalan tersebut penulis membuat makalah mengenai Dialog Pemikiran Al-Ghazali Dengan Filosof Islam Terhadap Keberadaan Filsafat Islam. Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi  penulis dan umumnya bagi pembaca. 

Rumusan Masalah 
Dari latar belakang masalah diatas, penulis menarik rumusan masalah sebagai berikut: 
Siapakah Imam Al-Ghazali?
Bagaimana isi dari dialog pemikiran Imam Al-Ghazali terhadap pemikiran para filosof Islam?
Tujuan 
Dari rumusan masalah diatas, penulis menarik tujuan penulisan makalah sebagai berikut:
Mengetahui biografi Imam Al-Ghazali.
Mengetahui dan memahami isi dari dialog pemikiran Imam Al-Ghazali terhadap pemikiran para filosof Islam.














BAB II
PEMBAHASAN

Mengenal Imam Al-Ghazali
Biografi Singkat Imam Al-Ghazali
Ia adalah Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali, gelar hujjatul islam, lahir tahun 450 H di Thus, suatu kota kecil di Khurrasan (Iran). Kata-kata al-Ghazali kadang-kadang diucapkan al-Ghazzali (dengan dua “z”). Dengan menduakalikan z, kata-kata al-Ghazali diambil dari kata-kata ghazzal, artinya tukang pemintal benang, karena pekerjaan ayah al-Ghazali ialah memintal benang wol, sedang al-Ghazali dengan satu z, diambil dari kata-kata Ghazala, nama kampung kelahiran al-Ghazali. Sebutan terakhir ini banyak di pakai. Ayah al-Ghazali, adalah seorang tasawuf yang saleh dan meninggal dunia ketika al-Ghazali beserta saudaranya masih kecil. Akan tetapi sebelum wafatnya ia telah menitipkan kedua anaknya tersebut kepada seorang tasawuf pula untuk mendapat bimbingan dan pemeliharaan dalam hidupnya.
Al-Ghazali  pertama-tama belajar agama di kota Thus, kemudian meneruskan di Jurjan, dan akhirnya, dan akhirnya di Naisaburi pada imam al-Juwaini, sampai yang terakhir ini wafat tahun 478 H/1085 M. Kemudian ia berkunjung kepada Nizam al-Mulk di kota Mu’askar, dan dari padanya ia mendapat kehormatan dan penghargaan yang besar, sehingga ia tinggal di kota itu enam tahun lamanya. Pada tahun 483 H/1090 M, ia diangkat menjadi guru disekolah Nidzamah Baghdad, dan pekerjaanya itu dilaksanakan dengan sangat berhasil. Selama di Baghdad, selain mengajar, juga mengadakan bantahan-bantahan terhadap pikiran-pikiran golongan-golongan Bathiniyyah, Ismailiyyah, golongan filsafat, dan lain-lain.
Selama waktu itu ia tertimpa keragu-raguan Tentang keguanaan pekerjaanya, sehingga akhirnya ia menderita penyakit yang tidak bisa diobati dengan obat lahiriyah (fisio-terapi). Pekerjaanya itu kemudian ditinggalkannya pada tahun 484 H, untuk menuju Damsyik, dan di kota ini ia merenung, membaca dan menulis, selama kurang lebih dua tahun, dengan tasawuf sebagai jalan hidupnya. 
Kemudian ia pindah ke Palestina dan disini pun ia tetap merenung, membaca dan menulis dengan mengambil tempat di Masjid Baitil-Maqdis. Sesudah itu tergeraklah hatinya untuk menjalankan ibadah haji, dan setelah selesai ia pulang ke negri kelahirannya sendiri, yaitu kota Thus dan disana ia tetap seperti biasanya, berkhalwat dan beribadah. Keadaan tersebut berlangsung sepuluh tahun lamanya, sejak kepindahanya ke Damsyik dan masa ini ia menuliskan buku-bukunya yang terkenal, antara lain Ihya’ ‘Ulumuddin. 
Karena desakan penguasa pada masanya, yaitu Muhammad saudara Berdijaruk, al-Ghazali mau kembali mengajar di sekolah Nidzamiyah di Naisabur pada tahun 499 H. Aakan tetapi pekerjaanya ini hanya berlangsung dua tahun, untuk akhirnya kembali ke kota Thus lagi, dimana ia kemudian mendirikan sebuah sekolah untuk para fuqaha dan sebuah pondok (khangak) untuk para mutasawwifin. Di kota itu pula ia meninggal dunia pada tahun 505 H/ 1111 M, dalam usia lima puluh empat tahun.
Perjalanan Imam Al-Ghazali dalam Mencari Kebenaran
Setelah empat atau lima tahun (1090-1095 M) memangku jabatan sebagai guru besar madrasah Nidzamiyah di Baghdad, Al-Ghazali mulai diserang kegoncangan dalam dirinya. Ia bertanya apakah jalan yang ditempuhnya sudah benar atau belum, atau salah?  Perasaan ragu ini timbul setelah mempelajari ilmu kalam (teologi) dari al-Juwaini (gurunya), karena teologi membahas berbagai aliran yang antara satu dan lainnya memperhatikan kontradiksi. Al-Ghazali ragu, mana di antara aliran-aliran itu yang betul-betul benar. Dalam bukunya yang berjudul al-Munqidz min al-Dhalal menjelaskan tentang keadaan ini. Dalam bukunya itu tergambar keinginan Al-Ghazali untuk mencari kebenaran yang sebenarnya-benarnya. Al-Ghazali mulai tidak percaya kepada pengetahuan yang diperolehnya melalui panca indera sebab panca indera sering kali salah atau berdusta. Ia kemudian meletakkan kepercayaan pada akal, tetapi ternyata akal juga tidak memuaskan hatinya. Tasawuflah yang kemudian menghilangkan rasa syak (ragu) dalam dirinya. Pengetahuan tentang tasawuf yang diperolehnya melalui kalbu membuat Al-Ghazali merasa yakin mendapat pengetahuan yang benar. Dalam mempelajari filsafat Al-Ghazali menggunakan argumen-argumen filosofi yang dipandang sesuai dengan ajaran islam. Karena itu ia menyerang kaum filosofi sebagaimana diungkap dalam bukunya. Tahafut al-Falasifah. Pendapat dan kritikan Al-Ghazali  terhadap persoalan filsafat dikecam keras dan di kritik oleh Ibn Rusyd (1126-1198 M) dalam bukunya Tahafut Al-Tahafut (kekacauan dari kekacauan). Buku ini pada intinya berisi pembelaan Ibn Rusyd terhadap filsafat dan filosof. Selanjutnya pada tahun 1095  Al-Ghazali meninggalksn profesinya sebagai guru besar pada madrasan Nidzamiyah. Ia mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Keluarganya pun ditinggalkan setelah terlebih dahulu disediakan bekal secukupnya. Selama sepuluh tahun ia menjalani kehidupan menjadi seorang sufi. Banyak orang yang tidak mengenal lagi. Kemudian ia mengurung diri dimesjid Damaskus. Dalam hubungan ini Dr. Abd. Al-Halim Mahmud menjelaskan bahwa Al-Ghazali meninggalkan profesinya pada bulan Dzulqaidah tahun 488 H dan menempuh kehidupan sebagai zahid dan meninggalkan kehidupan duniawi. Ia semula bermaksud mengerjakan ibadah haji sedangkan tugasnya diserahkan kepada saudaranya Ahmad. Ketika ia pulang ia mampir ke Syams, bermukim di kota Damaskus beberapa lama sambil mengingat-ingat pelajarannya di masjid Damaskus. Kemudian pindah ke Baitul Muqaddas (Maqdis), tenggelam dalam ibadah, menziarahi makam para syuhada’ dan tempat-tempat lain yang bersejarah lainya. Kemudian terus berangkat ke Mesir dan bermukim di Iskandariyyah.
Berikutnya kita bisa membagi kehidupan Al-Ghazali menjadi tiga fase. 
Fase Pra-Keraguan: Fase yang bisa dikesampingkan. Karena pada fase ini, Al-Ghazali masih seorang pelajar yang belum mencapai kematangan intelektual, yang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang yang memiliki pendapat independen. Terlebih lagi Al-Ghazali telah menceritakan bahwa keraguan telah menghantuinya sejak awal, pada sekitar usia muda.
Fase terjadinya keraguan: Di fase ini kita lihat Al-Ghazali menulis karya-karyanya dalam ilmu kalam, kritik terhadap filsafat dan aliran bathiniyyah. Pada saat itu ia mengajar di dua sekolah: Naisabur dan Baghdad.
Fase mendapat petunjuk dan ketenangan: Fase dimana Al-Ghazali mendapatkan hidayah Allah dan memasuki dunia tasawuf. 
Kondisi Sosial-Kultural Masa Hidup Imam Al-Ghazali
Al-Ghazali merupakan salah satu dari sekian banyak tokoh yang telah mewarnai khazanah pemikiran Islam yang mengadopsi dari berbagai model pemikiran, mulai dari yang rasinal dan irrasional. Ketokohan dan kebesaran al-Ghazali sebenarnya tidak diragukan lagi di kalangan umat Islam, khususnya golongan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dan para orientalis Barat umumnya. 
Kota kelahiran al-Ghazali Thus adalah bagian wilayah Khurasan yang merupakan wilayah pergerakan tasawuf dan pusat gerakan anti kebangsaan Arab. Pada masa al-Ghazali di kota tersebut terjadi interaksi budaya yang sangat intens. Filsafat Yunani telah digunakan sebagai pendukung agama dan kebudayaan asing dengan ide-ide yang mendominasi literatur dan pengajaran. Kontroversi keagamaan, setelah interpretasi sufi berkembang ke arah kebatinan yang lepas dari syari’ah, serta terjadinya kompetisi antara Kristen dan Yahudi yang selanjutnya menimbulkan insiden Awlia dan gerakan sufi.
Sementara itu pergolakan dalam bidang politik juga cukup tajam dan meningkat. Kekuasaan Abbasiyyah yang semula di tangan kekuasaan Arab dan Persia mulai digeser oleh kekuatan Bani Saljuk berkebangsaan Turki yang dari segi syari’at dinilai kurang taat beragama, yakni mereka secara lahiriyah menyatakan beragama Islam, tetapi pada praktiknya jauh dari tuntunan Islam yang sebenarnya.
Dengan demikian pada masa kehidupan al-Ghazali daerah Khurasan termasuk Thus ketika itu selain merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia Islam, juga merupakan salah satu pusat pergerakan tasawuf. Diantara gerakan tasawuf tersebut ada yang dinilai menyimpang dari syari’at Islam. Demikian juga pertentangan antara kaum Sunni dan kaum Syi’ah semakin menajam, sehingga Nidzam al-Mulk menggunakan lembaga Madrasah Nidzamiyah sebagai tempat pelestarian paham Sunni. Pergolakan politik juga menajam dan mengarah kepada kehancuran dunia Islam, dan umat Islam sudah mulai meninggalkan ilmu pengetahuan umum. Demikian pula nasib umat Islam di Spanyol dalam keadaan menyedihkan, sementara Inggris dan Sicilia tengah menggalang kekuatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. 
Al-Ghazali hidup di suatu zaman dimana ilmu pengetahuan sangat diperhatikan oleh penguasa, yakni pada masa pemerintahan bani Abbasiyah, sebuah zaman dimana terjadi pertautan pemikiran Islam dan Yunani. Periode al-Ghazali juga dapat dikatakan sebagai masa tampilnya berbagai aliran keagamaan, dan tren-tren pemikiran yang saling berlawanan. Ada ulama ilmu kalam, ada pengikut aliran kebatinan yang menganggap hanya dirinya yang berhak menerima dari imam yang suci, ada filosof dan ada pula sufi.
Al-Ghazali pada masa kecemerlangan intelektualnya merasa prihatin dan resah terhadap kondisi umat Islam waktu itu. Keresahannya terutama disebabkan oleh merajalelanya pemikiran yang berorientasi kuat pada Hellenisme, yaitu suatu paham yang dipengaruhi filsafat Yunani, seperti Mu’tazilah. Kelompok yang suka mengembangkan rasio ini juga dilapisi beberapa filosof muslim, seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi.
Al-Ghazali datang tepat pada zamannya. Sebelumnya al-Asy’ari (wafat 300H/913M) dengan cemerlang telah men-TKO Mu’tazilah dalam ilmu kalam. Sementara itu, Al-Ghazali dalam filsafat memberikan tadzkirah atau warning terhadap pakar-pakar pemikir Islam tersebut.
Batas Iman dan Kufur Menurut Imam Al-Ghazali
Menurut al-Ghazali, argumen-argumen pikiran tidak diperlukan untuk memperkuat iman orang-orang biasa, dan ia sangat menyayangkan adanya pertentangan pendapat dalam beberapa persoalan dan tuduhan telah menjadi kafir yang dikeluarkan oleh pengikut beberapa aliran terhadap orang lain yang tidak sependapat dengan mereka. Karena itu ia merasa perlu untuk memberikan batas pemisahan antara kufur dengan iman dan antara Islam dengan bukan Islam.
Pengikut aliran Asy’ariah menentang seorang Mu’tazilah, karena ia (Mu’tazilah) dianggap telah mengingkari perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang penetapan ru’yat (menyaksikan Tuhan), dan tentang penetapan sifat ilmu, qudrat dan sifat iradatnya. Sebaliknya orang Mu’tazilah mengkafirkan pengikut aliran Asy’ariyah, karena yang terakhir ini ketika menetapkan sifat-sifat untuk Tuhan, berarti dalam peng-Esa-an. Menurut Al-ghazali sikap mereka semuanya itu salah, telah mengkafirkan orang-orang terdahulu dan mendustakan Rasul, karena kebenaran tidak hanya dimiliki oleh sesuatu aliran saja. Dalam membuat garis pemisah antara kufur dengan iman, Al-ghazali mengatakan sebagai berikut.
“Kufur ialah mendustakan Rasul tentang apa yang dibawanya, sedang iman ialah mempercayai semua yang dibawanya. Orang Yahudi dan Nasrani adalah orang kafir, karena kedua-duanya mendustakan Rasul. Orang-orang agama Brahmana lebih-lebih lagi, karena mengingkari semua Rasul-rasul, termasuk rasul Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Orang yang mentakwilkan tidak boleh dikafirkan, selama mereka berjalan di atas aturan takwil. Bagaimana karena penakwilan semata-mata sudah menjadi kafir, sedang semua pihak dalam Islam mesti memakai takwil.
Menurut Al-Ghazali, segi-segi mana yang bisa membawa kufur dan mana yang tidak, memerlukan keterangan yang panjang. Namun ia meringkasnya dalam dua hal yang diungkapnya dalam bentuk wasiat dan satu aturan pokok. Wasiat tersebut ialah.
Tutup mulutmu terhadap ahli kiblat (orang Islam) sedapat –dapatnya selama mereka berkata tidak ada Tuhan selain Allah, dari Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Rasulullah. Satu aturan pokok ialah bahwa ilmu tentang kepercayaan ada dua bagian, yaitu bagian yang bertalian dengan dasar-dasar pokok dan bagian lain yang bertalian dengan soal-soal cabang. Dasar –dasar iman dan tiga, yaitu iman kepada Tuhan, kepada Rasul-Nya dan kepada hari akhir (akhirat). Selain ketiga soal ini, termasuk soal-soal cabang. Dalam soal cabang, tidak ada pengkafiran sama sekali, kecuali dalam satu hal saja, yaitu mengingkari dasar agama yang telah diketahui dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan jalan yang pasti (mutawatir).
Seorang tidak boleh mengkafirkan lawannya, karena hanya anggapan bahwa lawan tersebut salah memakai alasan pikiran (burhan). Paling banyak hanya dapat dikatakan bahwa ia telah sesat dan telah bid’ah, dengan pengertian sesat dari jalan yang ditempuh olehnya (seseorang tersebut), dan dengan pengertian bahwa ia telah mengadakan suatu pendapat yang tidak pernah dijelaskan oleh ulama-ulama salaf.
Memang Al-Ghazali tidak mengingkari kemungkinan tercapainya pengetahuan akal. Apa yang di ingkarinya ialah anggapan mereka bahwa ilmu kalam dan penyelidikan pikiran bisa menghantarkan kepada keyakinan, dan bisa menyalakan api iman pada hati orang bukan muslim. Jadi iman yang benar bukan soal keputusan rasio (pikiran), melainkan soal perasaan dan hati. Karena itu Al-ghazali bermaksud mengembalikan Islam kepada tradisi ulama salaf, dan menganjurkan setiap muslim untuk mencari kebenaran di dalam al-Qur’an sendiri, sebagai sumber imannya, bukan dari proses pemikiran dan alasan-alasan pikiran.

Dialog Pemikiran Imam Al-Ghazali dengan Para Filosof Islam
Tiga persoalan metafisika yang berlawanan dengan Islam
Al-Ghazali mengkritik beberapa pemikiran para filosof yang tertuang di dalam karyanya Tahafut Al-Falasifah. Didalam karyanya tersebut terdapat 20 sanggahan Al-Ghazali terhadap pemikiran para filosof islam, 17 persoalan diantaranya adalah persoalan-persoalan yang dibantah logikanya tapi belum tentu substansinya. Adapun tiga  persoalan / pikiran filsafat metafisika yang menurut Al-Ghazali sangat berlawanan dengan Islam, dan yang oleh karenanya para filosof harus dinyatakan sebagai orang ateis ialah:



Qadim-nya Alam
Filosof-filosof mengatakan bahwa alam ini qadim. Qadimnya Tuhan atas alam sama dengan qadim-nya illat atas ma’lul-nya (sebab-akibat), yaitu dari segi zat dan tingkatan, bukan dari segi zaman.
Alasan pertama dan jawaban Al-Ghazali. Tidak mungkin wujud yang hadis (baru), yaitu alam, keluar dari Qadim (Tuhan), karena dengan demikian berarti kita bisa membayangkan bahwa yang Qadim tersebut sudah ada, sedang alam belum lagi ada.
Tentang mengapa alam belum wujud, maka hal ini disebabkan pada waktu itu hal-hal (faktor murajjih/penentu) yang menyebabkan wujudnya belum lagi ada. Jadi pada waktu tersebut alam ini baru merupakan suatu kemungkinan murni (artinya bisa wujud dan bisa tidak wujud).
Sesudah waktu tersebut datang, maka alam ini menjadi wujud, dan wujud ini disebabkan karena faktor-faktor yang  menyebabkan wujudnya. Tetapi timbul pertanyaan, mengapa faktor-faktor tersebut baru timbul pada waktu ini, dan tidak timbul sebelumnya. Kalau dikatakan bahwa Tuhan mula-mula tidak berkuasa mengadakan alam, kemudian menjadi berkuasa untuk mengadakannya, maka timbul pula pertanyaan mengapa kekuasaan itu baru timbul pada masa tersebut, bukan pada masa sebelumnya. Atau kalau dikatakan, Tuhan sebelumnya tidak mempunyai tujuan (maksud) bagi wujudnya alam, kemudian maksud ini timbul, maka pertanyaan yang muncul juga sama, yaitu mengapa tujuan itu timbul,
Atau kalau dikatakan, bahwa Tuhan mula-mula tidak menghendaki adanya, maka timbul pertanyaan, mengapa kehendak tersebut timbul dan dimana pula timbulnya. Apakah pada zat-Nya ataukah pada selain zat-Nya. Kalau pada zat-Nya, tidak mungkin, karena zat Tuhan tidak menjadi tempat perkara yang baru. Timbulnya kehendak Tuhan pada selain zat-Nya juga tidak mungkin, karena kalau demikian, berarti bukan Dia yang mempunyai kehendak, melainkan zat lain itu.
Jawaban al-Ghazali:  Apa keberatannya kalau dikatakan bahwa iradah (kehendak Tuhan) yang Qadim itu menghendaki wujud alam pada waktu di wujudkannya. Boleh jadi timbul pertanyaan, kalau yang dimaksud dengan iradat yang qadim itu seperti niat kita untuk mengadakan sesuatu perbuatan, maka perbuatan tersebut tidak mungkin telambat, kecuali karena ada halangan. Sedangkan bagi Tuhan sebagai zat yang mengadakan pembuatan, sudah lengkap syarat-syaratnya dan tidak ada hal-hal yang perlu dinantikan lagi, tetapi perbuatannya terlambat juga. Jawab Al-Ghazali: bahwa perkataan tersebut tidak lebih kuat daripada perkataan mereka yang mempercayai kebaharuan alam karena kehendak yang qadim. 
Timbul pula pertanyaan lain, bahwa nilai semua waktu dalam pertaliannya dengan kehendak adalah sama, tetapi mengapa satu waktu dipilih untuk mewujudkan alam, dan waktu yang sebelumnya atau sesudahnya tidak dipilih?
Jawab Al-Ghazali: ialah bahwa arti kehendak (iradah) ialah yang memungkinkan untuk membedakan sesuatu dari lainnya. Kehendak Tuhan adalah mutlak, artinya bisa memilih suatu waktu tertentu, bukan waktu lainnya, tanpa ditanyakan sebabnya, karena sebab tersebut merupakan kehendak-Nya itu sendiri. kalu masih ditanyakan sebabnya, maka artinya kehendak Tuhan itu terbatas tidak lagi bebas, sedang kehendak itu bersifat bebas mutlak.
Alasan kedua dan jawaban Al-Ghazali Tuhan lebih dahulu dari pada alam, bukan dari segi zaman, melainkan dari segi pribadi (tingkatan, zat) seperti terlebih-dahulunya bilangan satu atas dua; atau dari  segi kausalitasnya (ke-‘illat-an), seperti dahulunya gerakan seseorang atas gerakan bayangannya, sedang kedua gerakan tersebut sebenarnya sama-sama mulai atau sama-sama berhentinya, artinya sama dari segi zaman.
Kalau yang dimasud dengan terlebih dahulunya Tuhan atas alam ini ialah dari segi zaman, maka kelanjutannya ialah: Tuhan dan alam baharu kedua-duanya atau Tuhan dan alam qadim kedua-duanya, dan mustahil salah satunya qadim, sedang yang lain baru.
Jawaban Al-Ghazali: Dengan perkataan Tuhan lebih dahulu adanya daripada alam dan zaman, ialah bahwa Tuhan sudah ada sendirian, sedang alam belum lagi ada, kemudian Tuhan ada bersama-sama alam. Dalam keadaan pertama, kita membayangkan adanya Zat yang sendirian, yaitu yaitu Zat Tuhan, dan dalam keadaan kedua, kita membayangkan dua zat, yaitu zat Tuhan dan zat alam. Kita tidak perlu membayangkan ada zat (wujud) yang ketiga, yaitu zaman, apalagi kalau diingat bahwa apa yang dimaksud dengan zaman ialah gerakan benda (alam), yang berarti sebelum ada benda (alam), sudah barang tentu belum ada zaman.
Alasan ketiga dan jawaban al-Ghazali Tiap-tiap yang baru didahului oleh bendanya, untuk dapat dikatakan bahwa benda itu baru. Jadi yang baru tidak bisa terlepas dari benda dan benda itu sendiri tidak baru. Yang baru hanyalah shurah (form), aradl (sifat-sifat) dan cara-cara yang mendatangkan kepada benda. Pikiran ini masih perlu dijelaskan.
Tiap-tiap yang baru, sebelum terjadinya, tidak terlepas dari tiga sifat: (1) mungkin (bisa) wujud; (2) tidak mungkin bisa wujud; dan (3) wajib (mesti) wujudnya. Sifat yang kedua tidak bisa dibenarkan, karena yang tidak mungkin wujud tidak akan terdapat selamanya, sebab alam ini telah menjadi wujud yang nyata. Sifat ketiga juga tidak dibenarkan, karena yang wajib wujud tidak akan pernah lenyap, sedangkan alam ini dan peristiwa yang terjadi didalamnya, asalnya ada, kemudian tidak ada, dan sebaliknya. Jadi kedua sifat tersebut diatas tidak mungkin terdapat pada alam, dan oleh karena itu satu-satunya sifat alam ialah bahwa alam itu mungkin wujudnya yang sudah terdapat pada alam sebelum wujudnya.
Jawaban Al-Ghazali: Sifat mungkin yang disebutkan di atas, merupakan pekerjaan pikiran. Sesuatu yang dikirakan oleh akal dapat wujud, dan perkiraan ini tidak mustahil, maka sesuatu tersebut disebut sebagai perkara mungkin. Kalau perkiraan itu mustahil maka perkara tersebut dinamai perkara yang mustahil. Kalau tidak dapat diperkirakan tidak adanya, maka disebut perkara yang wajib (yang mesti dan selamanya ada). Untuk menguatkan ini Al-Ghazali mengemukakan dua alasan:
Kalau sifat-sifat mungkin memerlukan sesuatu wujud, untuk menjadi tempatnya (disifatinya). Maka sifat tidak mungkin wujud juga memerlukan sesuatu perkara untuk dapat dikatakan bahwa perkara ini tidak mungkin wujud, sedang perkara yang tidak mungkin wujud tidak perlu ada wujudnya, atau bendanya yang ditempati sifat tersebut.
Akal pikiran memutuskan tentang warna hitam dan putih sebelum wujudnya, bahwa kedua warna ini adalah mungkin (bisa terjadi). Kalau sifat mungkin ini dipertalikan kepada benda yang ditempati kedua warna tersebut sehingga kita dapat mengatakan benda ini dapat diputihkan atau dihitamkan, maka artinya putih atau hitam itu sendiri tidak mungkin adalah bendanya dan sifat mungkin menjadi sifatnya.
Jawaban Al-Ghazali tersebut mengingatkan kita kepada aliran nominalisme yang mengatakan bahwa soal universalitas (abstrak) hanya terdapat di dalam akal pikiran, sedang diluar akal pikiran tidak ada kenyataannya, sedang pemikiran filosof-filosof yang ditentang al-Ghazali mengingatkan kita kepada aliran realisme. Bahwa apa yang terdapat di alam pikiran juga terdapat benar-benar di luar pikiran.
Tidak mengetahuinya Allah terhadap soal-soal peristiwa yang kecil
Golongan filosof berpendirian bahwa Tuhan tidak mengetahui hal-hal/peristiwa kecil, kecuali dengan cara yang umum. Alasan mereka ialah bahwa yang baru ini dengan segala peristiwanya selalu berubah, sedangkan ilmu selalu mengikuti (tergantung) kepada apa yang diketahui atau dengan perkataan lain, perubahan perkara yang diketahui menyebabkan perubahan ilmu. Kalau ilmu ini berubah yaitu dari tahu menjadi tidak tahu, atau sebaliknya, berarti Tuhan mengalami perubahan, sedangkan perubahan pada zat Tuhan tidak mungkin terjadi (mustahil).
Untuk memperjelas pendirian filosof-filosof, al-Ghazali memberikan contoh tentang gerhana matahari (umpamanya). Matahari mengalami gerhana, sedang sebelumnya tidak pernah gerhana, dan gerhana akan hilang. Jadi pada matahari ada tiga keadaan:
Keadaan di mana gerhana tidak ada, tetapi dinantikan terjadinya, artinya gerhana ittu akan datang.
Keadaan di mana terdapat gerhana  artinya gerhana sedang berjalan.
Keadaan di mana gerhana tidak ada, tetapi sebelumnya sudah terjadi.
Terhadap ketiga keadaa  tersebut, terdapat pula tiga ilmu (pengetahuan) yang berbeda-beda:
Kita mengetahui bahwa gerhana itu tidak ada, dan baru kemudian akan terjadi.
Kita mengetahui bahwa gerhana itu sedang terjadi.
Bahwa gerhana sudah terjadi, dan sekarang tidak ada lagi.
Ketiga ilmu (pengetahuan) tersebut berbilang dan berbeda-beda, dan pergantiannya (iring-iringannya) pada sesuatu tempat, menimbulkan perubahan pada zat (diri) orang yang mengetahui, sebab kalau sekiranya ia mengatakan bahwa gerhana terdapat sekarang, seperti juga terdapat sebelumnya, tentunya dikatakan kebodohan, bukan pengetahuan (ilmu). Kalau mengetahui pada waktu terjadinya gerhana, bahwa gerhana itu tidak ada, tentunya dikatakan kebodohan pula, sebab pengetahuan yang satu tidak bisa menggantikan pengetahuan yang lain.
Filosof-filosof beranggapan, bahwa keadaan Tuhan pada peristiwa (keadaan) tersebut tidak berbeda-beda karena perbedaan keadaan menimbulkan perubahan/ bagi zat yang tidak berubah keadannya tidak akan terbayang bahwa ia mengetahui ketiga peristiwa tersebut, karena pengetahuan mengikuti obyeknya (obyek pengetahuannya). Kalau obyek-obyek berubah, maka berubahlan pengetahuan (ilmu) juga berubah, sedang perubahan pada zat Tuhan mustahil terjadi.
Meskipun demikian, filosof-filosof menganggap bahwa Tuhan mengetahui adanya gerhana dengan segala sifat-sifatnya, tetapi dengan pengetahuan yang azali, abadi yang tidak berubah-ubah, seperti hukum alam yang menguasai terjadinya gerhana. Demikian pula ilmu Tuhan terhadap peristiwa-peristiwa kecil, yang terjadi karena sebab-sebab, dan sebab-sebab ini mempunyai sebab-sebab yang lain sebelumnya, sampai kepada gerakan benda angkasa.
Pendapat al-Ghazali: ilmu adalah suatu tambahan atau pertalian dengan Zat, artinya lain daripada zat. Pendapat ini berbeda dengan pendapat para filosof yang mengatakan bahwa sifat-sifat Tuhan adalah juga zat-Nya, yang berarti tidak ada pemisahan antara keduanya, atau mereka tidak mengenal istilah tambahan seperti yang dikenal oleh al-Ghazali.
Menurut al-Ghazali, kalau terjadi perubahan pada tambahan tersebut, maka zat Tuhan tetap dalam keadaannya yang biasa, sebagaimana hanlnya kalau ada orang yang berdiri disebelah kanan kita, kemudia ia berpindah ke sebelah kiri kita, maka yang berubah sebenarnya dia, bukan kita.
Lagi pula kalau perubahan ilmu bisa menimbulkan sesuatu perubahan pada zat (diri) yang mengetahui, sebagaimana yang dipegangi oleh golongan filosof, maka apakah mereka akan mengatakan bahwa berbilangnya ilmu juga menimbulkan bilangan pada zat Tuhan? Sebab obyek ilmu itu banyak, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, sifat yang tidak ada batas hitungannya, yang berarti juga ilmu itu banyak. Tetapi bagaimana ilmu-ilmu yang banyak tertampung dalam ilmu yang satu, kemudian ilmu ini juga adalah zatnya yang mengetahui sendiri, bukan sebagai tambahan pada-Nya?
Lagi pula, golongan filosof-filosof mengatakan bahwa alam ini qadim dan mengakui adanya perubahan pada yang qadim. Akan tetapi mengapa mereka tidak membolehkan perubahan pada zat Tuhan yang qadim pula?
Pengingkaran terhadap kebangkitan jasmani
Menurut tinjauan filosof-filosof dari segi pikiran, alam akhirat adalah alam kerohanian, bukan alam materiil (alam kebendaan), karena perkara kerohanian itu lebih tinggi nilainya. Karena itu menurut mereka, pikiran tidak mengharuskan adanya kebangkitan jasmani, kelezatan atau siksaan jasmani, surga atau neraka serta segala isinya. Kesemuanya ini memang disebutkan dalam al-Quran, tetapi dengan maksud untuk memudahkan pemahaman terhadap alam kerohanian bagi orang-orang biasa. Keunggulan alam kerohanian sebenarnya juga berlaku dalam dunia ini, yang didasarkan pada kekuatan berpikir, dan kelezatan mendapatkan obyek-obyek pikiran. Tetapi hal ini tidak bisa dicapai, disebabkan karena kesibukan-kesibukan benda, dan baru dicapai diakhirat nanti, dimana kesibukan-kesibukan benda ini tidak lagi menjadi penghalangnya.
Orang yang tidak merasakan kelezatan berpikir dalam dunia ini tidak akan merasakan keadaan tersebut sebagai penderitaan, karena kesibukan-kesibukan materinya itu, sebagaimana halnya dengan orang yang sedang takut, tidak akan merasakan kepedihan penyakit yang dideritanya.
Agar sesuai dengan suasana kerohanian, maka kebangkitan di akhirat ananti bersifat rohaniah pula. Jadi kebangkitan jasmani, yang berarti badan kita akan dikembalikan lagi tidak perlu terjadi. Dalam mengemukakan alasan-alasan, mereka menyatakan, bahwa pengembalian badan tidak lebih daripada tiga kemungkinan.
Manusia itu tediri dari badan dan kehidupan. Pengertian mati ialah terputusnya hidup, yakni Tuhan tidak menciptakan hidup, oleh karena itu hidup ini tidak ada, dan badan juga tidak ada. Jadi arti kebangkitan ialah bahwa Tuhan mengembalikan badan yang sudah tidak ada. Dengan perkataan lain, badan manusia setelah menjadi tanah dikumpulkan dan disusun kembali, menurut bentuk manusia dan diberikan hidup kepadanya.
Kemungkinan pertama tersebut tidak dapat dibenarkan karena pengertian menjadikan kembali, ialah membuat seperti apa yang sudah ada, bukan membuat apa yang sudah ada  itu sendiri, sebab apa yang sudah tidak ada, tidak mungkin menjadi wujud kembali.
Manusia bukan menjadi manusia karena badannya sebab dalam keadaan badan (tubuh) sapi menjadi makanan manusia, kemudian daripadanya (manusia) keluarlah sperma yang kemudian menjadi manusia lain, maka kita tidak akan mengatakan bahwa sapi menjadi manusia, sebab sapi dikatakan sapi karena shurah/form-nya, bukan karena maddah /substansinya.
Atau dikatakan bahwa jika manusia tetap wujud sesudah mati, tetapi badan yang pertama (yang terjadi di dunia ini), nantinya dikembalikan lagi dengan anggota-anggota badannya itu sendri dengan lengkap.
Kemungkinan yang kedua ini juga tidak dapat dibenarkan, karena anggota badan sesudah mati (terpisah-pisah) atau dimakan ulat-ulat atau burung-burung atau menjadi darah, uap dan sebagainyam yang berarti sukar untuk dapat mengumpulkannya kembali semua bagian-bagiannya tersebut. Kalau kita mengatakan bahwa pengumpulan bagian-bagian tersebut bisa terjadi, karena kekuasaan Tuhan tidak tebatas, maka timbul pertanyaan, bagaimana halnya dengan orang yang makan daging orang lain, yang berarti (benda)nya satu, tetapi manusianya dua. Dalam keadaan ini, maka tidak mungkin mengembalikan dua jiwa kepada satu benda. 
Lagi pula, benda yang satu bisa menjadi tanam-tanaman, kemudian tanam-tanaman ini dimakan binatang dan menjadi badannya, kemudian kita makan binatang tersebut dan binatang ini menjadi bagian dari badan kita, kemudian dengan silih berganti kembali menjadi tanah, tanam-tanaman, hewan dan manusia. Jadi benada yang satu sesudah berada pafa kita menjadi badan (benda)nya orang banyak.
Atau dikatakan. Jiwa manusia dikembalikan kepada badan, baik badan dengan anggota-anggotanya yang semula, atau dengan badan lain sama sekali. Jadi yang kembali ialah manusianya, sebab badan (benda) nya tidak penting, sedang manusia disebut manusia karena jiwanya, bukan karena benda (badan)nya.
Kemungkinan ini juga tidak dapat dibenarkan, karena benda-benda itu terbatas banyaknya sedang jiwa yang berpisah dengan badan tidak terbatas, dan oleh karena itu tidak mencukupinya. Lagi pula apabila kita menerima pikiran ini, berarti kira mengakui adanya transmigrasi jiwa (tanasukh= reinkarnasi), yaitu bahwa jiwa manusia sesudah lepas dari sesuatu badan akan kembali kepada badan lain, dan dari sini ke badan lain, dan begitu pula seterusnya, sedangkan transmigrasi jiwa ini ditentang oleh Ibnu Sina.
Jawaban al-Ghazali : Lebih banyak ditujukan kepada kemungkinan ketiga yang dikemukakan oleh filosof-filosof, dan lebih banyak didasarkan kepada alasan-alasana Syara’, daripada alasan-alasan argumentasi pikiran.
Dia mengatakan bahwa jiwa manusia tetap wujud sesudah mati (berpisah dengan badan), karena ia merupakan substansi yang berdiri sendiri. pendirian tersebut tidak berlawanan dengan Syara’. Bahkan ditunjukkannya seperti yang disebutkan di dalam QS. Ali-Imran/3: 169: “Jangan engkau kira bahwa mereka yang terbunuh pada jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhan-nya, mendapat rizqi dan gembira.”
Dan juga disebuutkan dalam hadits-hadits, antara lain yang menyatakan bahwa roh-roh itu merasakan adanya kebaikan dan pemberian sedekah, pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, siksa kubur, dan hadits-hadits lain yang kesemuanya ini menunjukkan keabadian. 
Kemudian ada nas-nas lain yang menyatakan adanya kebangkitan, yaitu kebangkitan badan. Kebangkitan ini adalah suatu hal yang mungkin, yaitu dengan jalan mengembalikan jiwa kepada badan. 
Yang penting ialah kembalinya sesuatu alat kepada manusia, yang memungkinkan dia merasakan kelezatan atau kepedihan jasmani. Kalau alat itu sudah dikembalikan seperti semula, yaitu badan, bagaimanapun juga macamnya alat itu maka yang sedemikian itu artinya kembali benar-benar (kebangkitan).
Tentang terbatasnya benda dan tidak terbatasnya jiwa maka tidak dapat dibenarkan, sebab menurut golongan  filosof, alam itu qadim, sedang jiwa manusia baru, jadi jiwa tidak mungkin lebih banyak dari pada benda-benda itu sendiri. Kalau sekiranya jiwa itu lebih banyak, apakah mustahil bagi Tuhan untuk membuat lagi benda yang baru untuk menjadi tempat jiwa?
Tentang perpindahan jiwa dari satu badan ke badan lain, memang tidak dibenarkan oleh al-Ghazali. Tetapi tentang kebangkitan jasmani di akhirat, yang berarti bahwa jiwa bertempat pada badan yang lain, maka dipercayainya, baik disebut transmigrasi-jiwa (tanasukh) atau tidak, selama hal itu sudah disebut oleh agama.
Tuhan telah membuat dari sperma yang ada di rahim wanita, anggota-anggota badan yang bermacam-macam, berupa daging, urat, syaraf, tulang-tulang, lemak dan sebagainya, kemudian mata, lidah, gigi, yang semuanya ini bereda keadaan sifat dan fungsinya, meskipun saling berdekatan dan berhubungan satu sama lain. Apakah Tuhan yang demikian kekuasan-Nya tidak sanggup membuat manusia yang sempurna dari tulang-belulangnya yang sudah rusak?









BAB III
PENUTUP

Al-Ghazali pada masa kecemerlangan intelektualnya merasa prihatin dan resah terhadap kondisi umat Islam waktu itu. Keresahannya terutama disebabkan oleh merajalelanya pemikiran yang berorientasi kuat pada Hellenisme, yaitu suatu paham yang dipengaruhi filsafat Yunani, seperti Mu’tazilah. Kelompok yang suka mengembangkan rasio ini juga dilapisi beberapa filosof muslim, seperti Ibnu sina dan Al-Farabi.
Dapat dikatakan bahwa Al-Ghazali datang tepat pada zamannya. Sebelumnya al-Asy’ari (wafat 300H/913M) dengan cemerlang telah men-TKO Mu’tazilah dalam ilmu kalam. Sementara itu, Al-Ghazali dalam filsafat memberikan tadzkirah atau warning terhadap pakar-pakar pemikir Islam tersebut.
Al-Ghazali mengkritik beberapa pemikiran para filosof yang tertuang di dalam karyanya Tahafut Al-Falasifah. Didalam karyanya tersebut terdapat 20 sanggahan Al-Ghazali terhadap pemikiran para filosof Islam, 17 persoalan diantaranya adalah persoalan-persoalan yang dibantah logikanya tapi belum tentu substansinya. Adapun tiga  persoalan / pikiran filsafat metafisika yang menurut Al-Ghazali sangat berlawanan dengan Islam, dan yang oleh karenanya para filosof harus dinyatakan sebagai orang ateis ialah: qadim-nya alam, tidak mengetahuinya Allah terhadap soal-soal peristiwa yang kecil, dan pengingkaran terhadap kebangkitan jasmani.










DAFTAR PUSTAKA

Imam Al-Ghazali. 2012. Tahafut al-Falasifah. Diterjemahkan oleh Ahmad Maimun. Bandung: Penerbit Marja
Abu Muhammad Iqbal. 2013. Konsep Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan. Madiun: Jaya Star Nine
Ahmad Hanafi. 1996. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: PT Bulan Bintang

LAPORAN KKN JURUSAN PENDIDIKAN

LAPORAN INDIVIDUAL

KKN TAHUN 2018





MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PAI DI DESA SUKAMANTRI






Oleh:
Kristin Wiranata
NIM. 1152020108








PUSAT PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
LEMBAR PENGESAHAN


Laporan Individu Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan basis pengabdian kepada masyarakat di Desa Sukamantri Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung dengan judul “Meningkatkan Motivasi Belajar PAI di Desa Sukamantri” telah diperiksa dan disahkan pada tanggal 15 September 2018







Dosen Pembimbing Lapangan Kepala Pusat pengabdian kepada
     Masyarakat-LP2M UIN SGD Bandung







Dr. Dian, M.Ag Dr. H. Ramdani Wahyu Sururie, M.Ag., M.Si
Nip.197607062007101004 Nip. 197210302001121002

















KATA PENGANTAR


Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penulis mampu menyusun tugas laporan individul yang berjudul ”Meningkatkan Motivasi Belajar PAI di Desa Sukamantri”
Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa tanpa bimbingan dan dorongan dari pihak-pihak yang terkait tidak mungkin selesai dengan baik. Maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
Orang tua saya yang telah memberikan dukungan baik moral maupun spiritual.
Bapak Dr. Dian, M.Ag selaku Dosen Pembimbing Lapangan.
Bapak Drs. Jaja Surjana Kades Sukamantri beserta seluruh perangkat desa yang telah membantu memperlancar program-program saya.
Tokoh-tokoh masyarakat dan warga masyarakat kampung Mantricina Desa Sukamantri yang telah bersedia menerima dan membantu saya selama melaksanakan KKN Sisdamas.
Rekan-rekan seperjuangan khususnya kelompok 456 KKN UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang telah membantu saya selama kegiatan berlangsung.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan individual ini masih jauh sekali dari kesempurnaan, untuk itu penulis mohon kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan dimasa yang akan datang.
Akhir kata semoga laporan individual ini dapat berguna bagi penulis khususnya dan bagi pembaca yang berminat pada umumnya.

Bandung, September 2018


Penulis









DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
DAFTAR TABEL iv
DAFTAR GAMBAR v
RINGKASAN EKSEKUTIF vi
PROLOG vii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Analisis Permasalahan 1
B. Identifikasi Masalah 5
C. Tujuan dan Manfaat 5
D. Metode Pengabdian 6
E. Kerangka Pemecahan Masalah 8
BAB II GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN 10
A. Monografi Desa 10
B. Kondisi Komunitas Sasaran 16
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN PENGABDIAN 17
A. Tahapan Pengabdian kepada Masyarakat 17
B. Hasil Pengabdian kepada Masyarakat 18
C. Faktor Pendukung dan Penghambat 23
BAB IV PENUTUP 24
A. Simpulan 24
B. Rekomendasi 24
DAFTAR PUSTAKA 25
BIODATA 26
LAMPIRAN 27

DAFTAR TABEL

Table 2 1 Jumlah Penduduk berdasarkan jenis kelamin 10
Table 2 2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Usia 10
Table 2 3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Tingkat Pendidikan 12
Table 2 4 Jumlah Penduduk Cacat Fisik 12
Table 2 5 Jumlah Penduduk Cacat Mental 12
Table 2 6 Jumlah Penduduk Berdasarkan Tenaga Kerja 13
Table 2 7 Jumlah Penduduk Berdasarkan Angkatan Kerja 13
Table 2 8 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan 14
Table 2 9 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Agama 14
Table 2 10 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kewarganegaraan 15
Table 2 11 Jumlah Penduduk Berdasarkan Etnis 15
Table 2 12 Sarana dan Prasaran Desa sukamantri 15

Table 3 1 Program Pengabdian Individu 20

















DAFTAR GAMBAR

gambar 3 1 Proses Kegiatan Belajar Mengajar PAI 21
gambar 3 2 Proses Belajar Mengajar PAI 21
gambar 3 3 Proses belajar Mengajar di Madrasah Diniyyah 22
gambar 3 4 Diskusi Dengan Staff Pengajar 22



















RINGKASAN EKSEKUTIF

Salah satu fenomena yang cukup memprihatinkan pada zaman kita saat ini adalah rendahnya semangat dan motivasi untuk menuntut ilmu agama. Ilmu agama seakan menjadi suatu hal yang remeh dan terpinggirkan bagi mayoritas kaum muslimin. Berbeda halnya dengan semangat untuk mencari ilmu dunia. Seseorang bisa jadi mengorbankan apa saja untuk meraihnya. 
Motivasi diri untuk terus belajar merupakan hal yang sangat penting bagi setiap individu, karena motivasi tersebut dapat menggugah diri untuk tetap bersemangat dalam belajar. Demikian pula dalam menuntut ilmu agama, diperlukan adanya motivasi yang berupa niat dan tekad yang kuat dalam upaya memperolehnya. Jika niat menuntut ilmu agama lemah dan rapuh maka ilmu agama yang dimiliki tidak akan bertambah dan tidak memiliki keberkahan.
Faktanya, lemahnya motivasi diri untuk belajar pada siswa ternyata menjadi masalah yang begitu membingungkan bagi guru, juga orangtua siswa. Misalnya banyak siswa yang menghabiskan tidur selama jam pelajaran berlangsung, siswa mengabaikan penjelasan guru, siswa lebih asyik dengan gawai ketimbang membaca buku, dan lain-lain. 
Berdasarkan permasalahan itu penulis memberikan salah satu solusi untuk mengatasi rendahnya motivasi belajar anak terhadap PAI, maka dari itu penulis menerapkan metode pembelajaran berbasis masalah agar terjadi pola interaksi multi-arah sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar anak. Selain menerapkan metode pembelajaran ini penulis juga menerapkan berbagai langkah lainnya untuk dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, seperti pemberian reward dan punishment, menyelikan humor di dalam pembelajaran dan lain sebagainya. 
Hasil yang di dapat dari penerapan beberapa hal di atas yaitu: meningkatnya motivasi belajar anak terhadap mata pelajaran PAI, timbulnya interaksi multi-arah di dalam pembelajaran, pembelajaran lebih terfokus kepada pendekatan pembelajaran yang terpusat pada siswa, siswa belajar dengan aktif dan siswa mampu mengungkapkan pemikirannya secara bebas namun tetap terarah.








PROLOG


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr.Wb

 Segala puji bagi allah SWT., atas rahmat dan inayah-Nya kita dapat melaksanakan program KKN sisdamas 2018 sesuai dengan apa yang direncanakan. shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW., keluarga dan sahabatnya serta para pengikutnya.
 Pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian integral dari tri darma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian. Sintesis dari pendidikan dan penelitian akan bermuara pada pengabdian yang mana dalam prakteknya dibutuhkan berbagai disiplin ilmu guna menghadapi kompleksitas permasalahan di masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat, sejatinya merupakan wahana bagi mahasiswa untuk menguji hasil pendidikan dan penelitian yang telah dilakukan selama proses perkuliahan. Pengabdian dalam arti luas dapat meliputi pengajaran, pelatihan, pendampingan dan advokasi, loka karya, ataupun pelatihan.
 Pengabdian yang diprogramkan di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung dinamakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). KKN yang diselenggarakan oleh Lembaga Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) pada tahun ini menggunakan sistem pemberdayaan masyarakat (sisdamas). KKN Sisdamas 2018 berfokus pada pemberdayaan masyarakat yang menempatkan mahasiswa sebagai pendamping, dengan diawali tahapan transect, sosialisasi awal, pemetaan sosial, perencanaan partisipatif, sampai pelaksanaan program.
 Kami, Dosen Pembimbing Lapangan, menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya seluruh program dengan baik, semoga dapat menjadi bekal berharga di masa yang akan datang. Ucapan terima kasih disampaikan pula kepada semua pihak yang telah membantu suksesnya kegiatan KKN Sisdamas 2018, jazakumullah ahsa al-jaza











BAB I
PENDAHULUAN

Analisis Permasalahan
Sebagian orang tua sangat senang jika anaknya bisa belajar sampai jenjang lebih tinggi. Tapi sedikit yang peduli akan pendidikan agama pada anak. Jika anak tidak bisa baca Al Qur’an tidaklah masalah, yang penting bisa menguasai bahasa asing terutama bahasa Inggris. Jika anak tidak paham agama tidak apa-apa, yang penting anak bisa komputer. Jadilah anak-anak muda saat ini jauh dari Islam, tidak bisa baca Qur’an, ujung-ujungnya gemar maksiat ditambah dengan pergaulan bebas yang tidak karuan. 
Salah satu fenomena yang cukup memprihatinkan pada zaman kita saat ini adalah rendahnya semangat dan motivasi untuk menuntut ilmu agama. Ilmu agama seakan menjadi suatu hal yang remeh dan terpinggirkan bagi mayoritas kaum muslimin. Berbeda halnya dengan semangat untuk mencari ilmu dunia. Seseorang bisa jadi mengorbankan apa saja untuk meraihnya. 
Sebagian di antara kita mungkin menganggap bahwa hukum menuntut ilmu agama sekedar sunnah saja, yang diberi pahala bagi yang melakukannya dan tidak berdosa bagi siapa saja yang meninggalkannya. Padahal, terdapat beberapa kondisi di mana hukum menuntut ilmu agama adalah wajib atas setiap muslim (fardhu ‘ain) sehingga berdosalah setiap orang yang meninggalkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)
Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas menyatakan bahwa menuntut ilmu itu hukumnya wajib atas setiap muslim, bukan bagi sebagian orang muslim saja. Lalu, “ilmu” apakah yang dimaksud dalam hadits ini? Penting untuk diketahui bahwa ketika Allah Ta’ala atau Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kata “ilmu” saja dalam Al Qur’an atau As-

Sunnah, maka ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i (ilmu agama), termasuk kata “ilmu” yang terdapat dalam hadits di atas.
Motivasi diri untuk terus belajar merupakan hal yang sangat penting bagi setiap individu, karena motivasi tersebut dapat menggugah diri untuk tetap bersemangat dalam belajar. Demikian pula dalam menuntut ilmu agama, diperlukan adanya motivasi yang berupa niat dan tekad yang kuat dalam upaya memperolehnya. Jika niat menuntut ilmu agama lemah dan rapuh maka ilmu agama yang dimiliki tidak akan bertambah dan tidak memiliki keberkahan.
Faktanya, lemahnya motivasi diri untuk belajar pada siswa ternyata menjadi masalah yang begitu membingungkan bagi guru, juga orangtua siswa. Misalnya banyak siswa yang menghabiskan tidur selama jam pelajaran berlangsung, siswa mengabaikan penjelasan guru, siswa lebih asyik dengan gawai ketimbang membaca buku, dan lain-lain. 
Sampai saat ini, tentu kita menemukan banyak siswa memiliki motivasi yang lemah dalam belajar, apalagi jika kita seorang pendidik. Untuk itu, kita perlu mengetahui apa penyebab kurangnya motivasi diri bagi siswa untuk tetap aktif dalam kegiatan belajar.
Ada beberapa faktor yang menjadikan lemahnya motivasi siswa dalam belajar seperti kurangnya perhatian guru terhadap siswanya. Hal utama yang perlu dilakukan sebagai seorang guru ialah mengevaluasi diri sendiri. Guru di sekolah bukan hanya berfungsi sebagai pendidik, tetapi juga sebagai motivator bagi siswanya. Peran guru dalam memotivasi siswa sangatlah penting, khususnya bagi siswa yang malas untuk belajar, dan siswa yang bermasalah. Sedikit banyaknya motivasi yang diberikan pasti akan tersirat di dalam hati para siswa. Bahkan fakta membuktikan bahwa guru yang lebih dekat dengan siswanya, sering berinteraksi dengan siswanya, dan sering memberikan motivasi, akan lebih disukai oleh siswanya.
Hal selanjutnya yang menjadi faktor lemahnya motivasi siswa dalam belajar adalah disebabkan karena gaya dan cara penyampaian materi oleh guru. Siswa pastinya akan merasa bosan dengan metode pengajaran yang monoton, penyampaian materi yang sulit dipahami, kurangnya pelibatan media belajar, guru yang asyik sendiri, dan lain-lain. Jika demikian, motivasi siswa untuk tetap memperhatikan materi akan semakin melemah jika guru tidak memberikan pemahaman yang baik bagi siswanya.
Lemahnya motivasi untuk belajar dalam diri siswa itu sendiri merupakan faktor utama yang dialami oleh kebanyakan siswa, sehingga hal ini menyebabkan siswa kurang berminat untuk belajar dan menghabiskan waktu beberapa tahun di sekolah dengan sia-sia. Siswa yang tidak memiliki impian dan cita-cita yang jelas, siswa yang tidak percaya diri dan merasa dirinya tidak pintar, siswa yang memiliki idealisme yang menganggap tujuan akhir pendidikan adalah hanya untuk mendapatkan pekerjaan saja yang pada akhirnya siswa tidak serius dalam hal pembelajaran, akan membuat siswa menjadikan pendidikan sebagai formalitas semata.
Faktor selanjutnya adalah masalah dalam kehidupan siswa yang menjadikan lemahnya motivasi diri untuk belajar seperti masalah keluarga, putus cinta, masalah dengan teman sebayanya, bolos sekolah, dan lain sebagainya. Siswa tidak berani menceritakan permasalahannya kepada orangtua, guru, bahkan teman dekatnya sekalipun, karena malu atau karena mereka beranggapan itu adalah hal privasi, yang pada akhirnya semua permasalahan yang dialaminya ia tanggung dan pendam sendiri, yang menyebabkan siswa tidak hanya bermasalah dalam hal akademik saja, tetapi psikologisnya pun ikut bermasalah.
Kurangnya perhatian orangtua juga dapat menjadi faktor lemahnya motivasi belajar pada anaknya. Orangtua menempati peran yang sangat penting sebagai motivator bagi pendidikan anak, karena secara tidak sadar apapun yang berasal dari orangtua baik sifat maupun sikap akan menjadi panutan anak begitu pula dalam masalah pendidikan anak. Saat ini, banyak orangtua yang kerap menyalahkan kenakalan anaknya kepada pihak sekolah. Padahal letak kesalahannya adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Kebanyakan orangtua tidak menyadari hal tersebut dikarenakan mereka sibuk bekerja dan beranggapan bahwa semua proses pembelajaran ditanggung oleh pihak sekolah.
Hal selanjutnya yang menjadi faktor lemahnya motivasi siswa dalam belajar di sekolah adalah pergaulan yang bebas. Mereka melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh pelajar, seperti pelecehan anak di bawah umur, mencuri, berjudi, merokok dan sebagainya. Mereka beranggapan bahwa begitulah seharusnya menikmati masa remaja. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar pun terbuang sia-sia, sehingga siswa tidak sadar keinginan untuk belajar semakin menurun. 
Walaupun tidak semua siswa yang bergaul dengan lingkungan yang kurang baik akan terbentuk menjadi anak yang tidak baik, tetapi mayoritas siswa yang sudah terjerumus dalam lingkungan yang bebas, maka perilaku dan pemikirannya bisa saja terpengaruhi oleh lingkungan luar yang saat ini semakin mengkhawatirkan. Sebagai guru dan orangtua, sebaiknya mereka memberi pemahaman yang lebih terkait dengan lingkungan yang hendak mereka masuki. Pengawasan yang baik dari kedua orangtua tentunya sangat penting agar anak merasa dirinya diperhatikan.
Selanjutnya adalah faktor kemajuan teknologi yang tidak bisa dipungkiri memang membawa kemudahan pada setiap aktivitas manusia. Meski demikian, kemajuan teknologi juga membawa dampak buruk terutama dalam hal pendidikan. Budaya-budaya luar yang terselip dalam fasilitas internet, program-program kurang mendidik, dan masih banyak hal lainnya dapat menghipnotis siswa untuk asyik bermain daripada belajar. Semua itu memperbanyak aktivitas siswa sehari-hari sampai melupakan belajar dan secara perlahan kemajuan hebat peradaban manusia melemahkan motivasi belajar dalam diri siswa. Kita bisa berasumsi bahwa siswa mampu bertahan lebih dari lima jam bermain games daripada satu jam belajar di sekolah. Jika siswa tersebut terus terbuai dan tidak bisa membatasi diri dari fasilitas teknologi yang kian menarik, maka permasalahan yang timbul tidak hanya melemahnya keinginan untuk belajar saja, tetapi siswa tersebut akan kecanduan yang dapat membahayakan pemikiran juga kesehatannya.
Ketika siswa mulai berpikir kritis, tentunya siswa harus tetap dapat pengawasan yang baik dari orang-orang terdekatnya, agar dapat membedakan mana yang baik untuk dijadikan patokan dan mana yang tidak baik untuk dijadikan patokan. Siswa pasti akan semakin penasaran dengan dunianya yang kian hari semakin berkembang. Oleh karena itu, sepatutnya orangtua di rumah dan guru di sekolah, lebih memperhatikan aktivitas siswanya agar siswa tetap menyadari bahwa pendidikan merupakan hal yang penting untuk masa depannya, dan tidak mengorbankan masa mudanya hanya untuk hal yang tidak ada maknanya.
Hadirnya peserta KKN (Kuliah Kerja Nyata) di lingkungan desa Sukamantri ini semoga dapat membawa perubahan baik pada anak-anak agar meningkatkan minat dan motivasi belajar ilmu agama. Anak-anak merupakan bibit generasi penerus peradaban yang harus benar-benar dipersiapkan untuk mewujudkan peradaban yang lebih baik, yang bisa membanggakan baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Identifikasi Masalah
Berdasarkan hal di atas akhirnya dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut :
Rendahnya motivasi belajar agama pada diri siswa
Guru PAI kurang variatif di dalam memilih metode pembelajaran
Pembelajaran PAI cenderung monoton

Tujuan dan Manfaat
Tujuan Pengabdian
Tujuan program kegiatan pengabdian PkM adalah untuk mendeskripsikan upaya peningkatan motivasi belajar pendidikan agama Islam baik dalam ruang lingkup pembelajaran formal dan non formal dalam lingkungan masyarakat Kampung Mantricina Desa Sukamantri.
Manfaat Pengabdian
Setelah program kegiatan PkM dilaksanakan, diharapkan dapat memberikan kegunaan atau manfaat sebagai berikut:
Bagi siswa:
Untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IV, V dan VI SDN Sukamantri Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung.
Untuk meningkatkan motivasi belajar siswa madrasah diniyah Bani Qosim kampung Mantricina desa Sukamantri kecamatan Paseh Kabupaten Bandung
Bagi pengabdi:
Program pengabdian ini merupakan salah satu usaha untuk memperdalam dan memperluas ilmu pengetahuan penulis. 
Meningkatkan keterampilan penulis untuk mengaplikasikan ilmu yang dimiliki penulis dalam praktik secara nyata.
Bagi prodi
Memperoleh umpan balik sebagai hasil pengintegrasian mahasiswanya dengan proses pembangunan di tengah –tengah masyarakat sehingga kurikulum, materi perkuliahan dan pembangunan ilmu pengetahuan yang diasuh di perguruan tinggi dapat lebih disesuaikan dengan tuntutan nyata dari pembangunan.
Memperoleh hasil kegiatan mahasiswa, dapat menelaah dan merumuskan keadaan/ kondisi masyarakat yang berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta dapat mendiagnosa secara tepat kebutuhan masyarakat sehingga ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang diamalkan dapat sesuai dengan tuntutan nyata.

Metode Pengabdian
Di dalam melakukan program kegiatan pengabdian berupa mengajar, penulis menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah. Melalui metode pembelajaran ini anak dituntut untuk dapat berpikir secara kritis untuk dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang di ajukan oleh guru.
Barrow mendefinisikan Pembelajaran berbasis masalah (Problem-based Learning/PBL) sebagai “pembelajaran yang diperoleh melalui proses menuju pemahaman akan resolusi suatu masalah. Masalah tersebut dipertemukan pertama-tama dalam proses pembelajaran”. PBL merupakan salah satu bentuk peralihan dari paradigma pengajaran menuju paradigma pembelajaran. Jadi, fokusnya adalah pada pembelajaran siswa dan bukan pada pengajaran guru.
Sementara itu, Loyd-Jones, Margeston, dan Bligh menjelaskan fitur-fitur penting dalam PBL. Mereka menyatakan bahwa ada tiga elemen dasar yang seharusnya muncul dalam pelaksanaan PBL: menginisiasi pemicu/masalah awal (initiating trigger), meneliti isu-isu yang diidentifikasi sebelumnya, dan memanfaatkan pengetahuan dalam memahami lebih jauh situasi masalah. PBL tidak hanya bisa diterapkan oleh guru dalam ruang kelas, akan tetapi juga oleh pihak sekolah untuk pengembangan kurikulum. Ini sesuai dengan definisi PBL yang disajikan oleh Maricopa Community Colleges, Centre for learning and instruction. Menurut mereka, PBL merupakan kurikulum sekaligus proses. Kurikulumnya meliputi masalah-masalah yang dipilih dan dirancang dengan cermat yang menuntut upaya kritis siswa untuk memperoleh pengetahuan, menyelesaikan masalah, belajar secara mandiri, dan memiliki skill partisipasi yang baik. Sementara itu, proses PBL mereplikasi pendekatan sistemik yang sudah banyak digunakan dalam menyelesaikan masalah atau memenuhi tuntutan-tuntutan dalam dunia kehidupan dan karier.
Sintak operasional PBL bisa mencakup antara lain sebagai berikut:
Siswa disajikan suatu masalah
Siswa mendiskusikan masalah dalam tutorial PBL dalam sebuah kelompok kecil. Mereka mengklarifikasi fakta-fakta suatu kasus kemudian mendefinisikan sebuah masalah. Mereka membainstroming gagasan-gagasannya dengan berpijak pada pengetahuan sebelumnya. Kemudian, mereka mengidentifikasi apa yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan masalah serta apa yang mereka tidak ketahui. Mereka menelaah masalah tersebut. Mereka juga mendesain suatu rencana tindakan untuk menggarap masalah.
Siswa terlibat dalam studi independen untuk menyelesaikan masalah di luar bimbingan guru. Hal ini bisa mencakup: perpustakaan, database, website, masyarakat, dan observasi.
Siswa kembali pada tutorial PBL, lalu saling sharing informasi, melalui peer teaching atau cooperative learning atas masalah tertentu.
Siswa menyajikan solusi atas masalah.
Siswa mereview apa yang mereka pelajari selama proses pengerjaan selama ini. Semua yang berpartisipasi dalam proses tersebut terlibat dalam review pribadi, review berpasangan, dan review berdasarkan bimbingan guru, sekaligus melakukan refleksi atas kontribusinya terhadap proses tersebut.
Adapun alasan penulis menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah adalah:
Terjadinya interaksi yang dinamis diantara guru dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan siswa.
Siswa memiliki keterampilan mengatasi masalah.
Siswa memiliki kemampuan mempelajari peran orang dewasa.
Siswa dapat menjadi pembelajar yang mandiri dan independent
Siswa memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi

Kerangka Pemecahan Masalah
Metode pembelajaran berbasis masalah adalah suatu metode pembelajaran yang dirancang pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah agar siswa mendapat pengetahuan penting. Dengan demikian diharapkan siswa mahir dalam memecahkan masalah, memiliki model belajar sendiri dan memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Dengan terjalinnya multi-interaksi di dalam metode pembelajaran ini sehingga dengan metode ini dapat menghasilkan pembelajaran yang menyenangkan dan dapat membangun motivasi untuk semangat dalam belajar.
Selain menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah, penulis juga menerapkan berbagai kiat lainnya untuk dapat meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama islam bagi siswa, diantaranya:
Menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa
Bangkitkan semangat belajar dan berikan perhatian kepada siswa.
Menggunakan model pembelajaran dan metode pembelajaran yang variatif
Menyiapkan media yang tepat dengan materi 
Memunculkan kompetisi atau saingan yang positif
Membantu kesulitan belajar siswa
Memberikan pujian terhadap siswa yang berprestasi
Memberikan sangsi atau hukuman terhadap siswa yang membuat kesalahan
Memberikan reward atau hadiah kepada siswa yang terbaik
Menyelipkan humor di dalam pembelajaran






























BAB II
GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN


Monografi Desa
Jumlah Penduduk berdasarkan jenis kelamin
Jumlah laki-laki
8.239 orang

Jumlah perempuan
8.175 orang

Jumlah total
16.414 orang

Jumlah kepala keluarga
4.472 KK

Kepadatan penduduk
0,5 per Km

Table 2 1 Jumlah Penduduk berdasarkan jenis kelamin
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Usia
Usia
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

0-4 tahun
682
696

5-9 tahun
890
902

10-14 tahun
947
965

15-19 tahun
648
626

20-24 tahun
846
800

25-29 tahun
752
738

30-34 tahun
606
722

35-38 tahun
425
365

39-43 tahun
487
457

44-49 tahun
581
525

50-52 tahun
259
247

53-55 tahun
252
234

56-59 tahun
252
283

60-64 tahun
280
266

65-69 tahun
152
152

70-75 tahun
143
144

Lebih dari 75 tahun
37
53

Total
8.239
8.175

Table 2 2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Usia

Dari data jumlah penduduk berdasarkan usia tersebut, dapat kita lihat bahwa, jumlah angkatan kerja yang tergolong usia produktif atau usia angkatan kerja 15-64 tahun berjumlah 10.651 orang, sedangkan jumlah penduduk yang bukan angkatan kerja memiliki jumlah 5.763 orang, sehingga angka tanggungan usia angkatan kerja terhadap usia non- angkatan kerja berjumlah 1,8 hal tersebut menunjukkan setiap orang yang tergolong angkatan kerja menanggung 2 orang usia yang non-produktif.

Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Tingkat Pendidikan
Tingkatan Pendidikan
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Usia 3-6 tahun yang belum masuk TK
29
33

Usia 3-6 tahun yang sedang TK/Play group
79
91

Usia 7-18 tahun yang tidak pernah sekolah
123
102

Usia 7-18 tahun yang sedang sekolah
834
789

Usia 18-56 tahun tidak pernah sekolah
15
25

Usia 18-56 tahun tidak tamat SD
98
91

Usia 18-56 tahun tidak tamat SLTP
1.808
1.542

Usia 18-56 tahun tidak tamat SLTA
242
253

Tamat SD/sederajat
84
96

Tamat SMP/Sederajat
1.445
1.329

Tamat SMA/Sederajat
1.542
1.851

Tamat D-1/Sederajat
23
23

Tamat D-2/Sederajat
142
143

Tamat D-3/Sederajat
41
41

Tamat S-1/Sederajat
206
200

Tamat S-2/Sederajat
5
-

Tamat S-3/Sederajat
1
-

Tamat SLB A
-
-

Tamat SLB B
-
-

Tamat SLB C
-
-

Jumlah
6.717
6.609

Jumlah Total
13.326

Table 2 3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Tingkat Pendidikan
Jumlah Penduduk Cacat Mental dan Fisik
Jenis Cacat Fisik
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Tuna rungu
41
18

Tuna wicara
17
4

Tuna netra
6
-

Lumpuh
12
8

Sumbing
3
1

Cacat kulit
4
1

Cacat fisik/tuna daksa lainnya
3
1

Jumlah
86
33

Table 2 4 Jumlah Penduduk Cacat Fisik
Jenis Cacat Mental
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Idiot
1
2

Gila
2
1

Stress
-
-

Autis
-
-

Jumlah
3
3

Table 2 5 Jumlah Penduduk Cacat Mental
Jumlah Penduduk Berdasarkan Tenaga Kerja dan angkatan kerja
Tenaga Kerja
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Penduduk usia 18-56 tahun
4.508
4.376

Penduduk usia 18-56 tahun yang bekerja
1.985
2.432

Penduduk usia 18-56 tahun yang belum/tidak bekerja
2.523
1.944

Penduduk usia 56 tahun ke atas



Angkatan kerja



Jumlah
4.508
4.376

Jumlah total (laki-laki+perempuan)
8.884


Table 2 6 Jumlah Penduduk Berdasarkan Tenaga Kerja
Jumlah tenaga kerja penduduk yang berusia 18-56 tahun sebanyak 8.884 orang, yang bekerja sebanyak 4.417 orang dan yang belum atau tidak bekerja sebanyak 4.467 orang. Berikut adalah rincian penduduk berdasarkan kualitas angkatan kerja.
Angkatan Kerja
Laki-laki 
(orang)
Perempuan 
(orang)

Penduduk usia 18-56 tahun yang buta aksara dan huruf/angka latin



Penduduk usia 18-56 tahun yang tidak tamat SD
95
89

Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat SD
1.407
1.416

Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat SLTP
252
265

Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat SLTA
1.524
1.862

Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat Perguruan Tinggi
43
34

Jumlah
3.321
3.666

Table 2 7 Jumlah Penduduk Berdasarkan Angkatan Kerja
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Jenis Pekerjaan
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Petani
71
46

Buruh tani
85
52

Buruh migran
-
-

Pegawai Negeri Sipil
151
141

Pengrajin industri rumah tangga
71
96

Pedagang keliling
158
76

Peternak
2
-

Dokter swasta
-
-

Bidan swasta
-
-

Pensiunan TNI/POLRI
482
421

TNI
52
-

POLRI
135
173

Pengusaha kecil
1.242
9

Montir
2
-

Notaris
-
4

Dukun Kampung Terlatih
-
3

Jasa Pengobatan Terlatih
1
-

Dosen Swasta
3
-

Arsitektur
1
-

Seniman/Artis
2
2

Karyawan Perusahaan Swasta
5.882
3.437

Karyawan Perusahaan Pemerintah
7
2

Perawat Swasta
-
71

Jumlah
8.347
4.533

Jumlah Total Penduduk
12.880

Table 2 8 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Agama
Agama
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Islam
8.150
8.079

Kristen
48
53

Kathotik
41
43

Dan Lain-lain
0
0

Jumlah
8.239
8.175

Table 2 9 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Agama
Jumlah Penduduk Berdasarkan Kewarganegaraan
Kewarganegaraan
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Warga Negara Indonesia
8.239
8.175

Warga Negara Asing



Dwi Kewarganegaraan



Jumlah
8.239
8.175

Table 2 10 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kewarganegaraan
Jumlah Penduduk Berdasarkan Etnis
Etnis
Laki-laki (orang)
Perempuan (orang)

Aceh
5


Batak
92
98

Sunda
7.866
7.836

Jawa
276
241

Jumlah
8.239
8.175

Table 2 11 Jumlah Penduduk Berdasarkan Etnis
Sarana dan Prasarana
No
Sarana 
Jumlah

1
kantor kepala Desa
1

2
Posyandu
16

3
Masjid
15

4
Tk 
3

5
Gedung tempat bermain anak
6

6
SD
7

7
SMP
2

8
SMA
2

9
Perpustakaan desa
1

10
Puskesmas pembantu
1

11
Lapangan bulu tangkis
1

12
Toko obat
2

13
Rumah bersalin
1

14
Balai kesehatan ibu dan anak
1

Table 2 12 Sarana dan Prasaran Desa sukamantri
Kondisi Komunitas Sasaran
Berdasarkan hasil pengamatan data-data lengkap yang diperoleh mengenai monografi, topografi serta analisis geografis wilayah. Desa Sukamantri memiliki banyak keunikan dan potensi yang menarik untuk dicermati.
Secara khusus di wilayah kampung Mantricina Desa Sukamantri, masyarakatnya sudah tergolong masyarakat semi-modern (tradisional modernis) tidak terlalu tradisional dan juga modern. Daerah ini dahulunya terdapat banyak kebun-kebun, namun seiring perkembangan zaman banyak bangunan-bangunan yang mulai didirikan seperti banyaknya rumah-rumah, toko, ataupun bangunan lainnya. Mata pencaharian utama di desa ini ialah menjadi buruh pabrik.
Jalan menuju kampung mantricina desa Sukamantri ini pun sudah mulai bagus namun masih ada sebagian kecil yang belum di aspal, akses menuju desa ini bisa menggunakan motor dan juga mobil. 
Tidak sedikit pemuda di wilayah ini mengalami putus sekolah, padahal wajib sekolah 9 tahun yang disahkan oleh pemerintah. Selain itu, banyak juga warga yang acuh terhadap pembelajaran anaknya di sekolah. Dalam pendidikan, tidak sedikit orang tua siswa yang memiliki latarbelakang pendidikan yang rendah. Sehingga penulis mengamati ada beberapa orang tua yang belum paham tentang perkembangan pendidikan dari sisi pola asuh. Sehingga apa yang di ajarkan guru di sekolah ataupun dilembaga pendidikan non-formal lainnya tidak di terapkan di rumah karena perspektif pola asuh yang dikatakan masih awam. Sehingga orangtua sukar untuk menerima ilmu baru dalam pola asuh. 









BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN PENGABDIAN


Tahapan Pengabdian kepada Masyarakat
Tahapan pengabdian kepada masyarakat terkait dengan pendidikan dan minat mempelajari ilmu agama Islam khususnya pada anak SD, penulis memilih mengadakan bimbingan belajar rutin untuk membantu anak-anak belajar PAI. Bagi siswa madrasah diniyah penulis membantu mengajarkan PAI pula di madrasah, seperti tahfidz, baca tulis al-Qur’an, pembelajaran tajwid, dan lain sebagainya. Selain di sekolah dan di madrasah diniyyah penulis juga membantu mengajar mengaji di salah satu kediaman masyarakat setempat. Berikut adalah tahap-tahap pelaksanaan bimbingan belajar khususnya PAI:  
Identifikasi
Identifikasi adalah suatu kegiatan yang berupaya untuk menemukan siswa yang mengalami kesulitan belajar PAI khususnya dalam baca tulis al-Qur’an dengan mencari informasi tentang siswa melalui: 
Melakukan wawancara dengan siswa untuk mengetahui kesulitan  
Bertanya kepada guru mapel PAI mengenai data siswa yang mengalami kesulitan 
Diagnosis 
Diagnosis adalah keputusan atau penentuan mengenai hasil dari pengolahan data. Diagnosis ini dapat berupa hal-hal sebagai berikut:
Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar PAI siswa
Keputusan mengenai faktor-faktor yang menjadi sumber kesulitan belajar PAI
Prognosis 
Prognosis merupakan aktifitas penyusunan rencana atau program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar anak didik terhadap mata pelajaran PAI. Prognosis dapat diartikan rencana apa yang telah diterapkan dalam tahap 

diagnosis yang akan menjadi dasar utama dalam menyusun dan menetapkan ramalan mengenai bantuan apa yang harus diberikan kepada siswa untuk membantu mengatasi masalahnya. Prognosis tersebut berupa:  
Bentuk treatment yang harus diberikan
Bahan atau materi yang diperlukan
Metode yang akan digunakan
Alat bantu belajar mengajar yang diperlukan
Waktu kegiatan dilaksanakan 
Terapi atau pemberian bantuan
Terapi ini berupa pemberian bantuan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk terapi yang akan diberikan antara lain:  
Bimbingan belajar kelompok
Bimbingan belajar individual
Pemberian bimbingan pribadi 
Tindak lanjut atau follow up
Tindak lanjut atau follow up adalah suatu usaha untuk mengetahui keberhasilan bantuan yang telah diberikan kepada siswa dan tindak lanjutnya. Dalam kegiatan tindak lanjut mendasarkan hasil evaluasi dan analisisnya.

Hasil Pengabdian kepada Masyarakat
Kegiatan pembelajaran PAI dalam ruang lingkup lembaga pendidikan formal dan non-formal adalah sebagai berikut:
No
Waktu
Tempat
Kegiatan dan Pembahasan Materi
Evaluasi

1
9-08-2018
SDN Sukamantri
Memahami Asmaul Husna
Siswa sangat tertarik dengan pembahasan yang disampaikan oleh guru bahkan siswa pun dapat menjawab post test yang diberikan guru diakhir pembelajaran

2
10-08-2018
SDN Sukamantri
Hablumminal ‘alam (mencintai lingkungan)
Siswa dapat memberikan berbagai solusi sebagai upaya memperbaiki alam

3
24-08-2018
SDN Sukamantri
Mensyukuri anugerah yang Allah berikan dengan berpikir kritis
Siswa mampu memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan yang guru berikan bahkan siswa mengkritisi materi yang disampaikan oleh guru

4
6-08-2018
Rumah Warga
Mempelajari Ilmu Tajwid
Masih terdapat beberapa murid yang belum memahami ilmu tajwid dengan benar

5
13-08-2018
Rumah warga
Mempelajari Rukun Iman
Siswa sangat antusias mempelajari rukun iman

6
8-08-2018
Madrasah Diniyyah Bani Qosim
BTQ
Masih terdapat beberapa siswa yang belum lancar dalam membaca al-Qur’an dan memerlukan bimbingan dan pengajaran lebih lanjut

7
20-08-2018
Madrasah Diniyyah Bani Qosim
Tahfidz
Siswa dapat menghafal surat pilihan dengan baik

8
25-08-2018
Posko KKN kelompok 456
Belajar bahasa arab dengan bernyanyi
Siswa mampu menyanyikan lagu berbahasa arab akan tetapi di dalam pelafalan perlu diperbaiki dan dilatih lagi

9
13-08-2018
PAUD Bani Qosim
Belajar doa-doa pendek
Siswa mampu mengikuti KBM dengan baik

10
1-09-2018
Madrasah Diniyyah Bani Qosim
Mendirikan rumah baca yang agamis, inovatif, dan inspiratif
Masyarakat menyambut dengan positif

Table 3 1 Program Pengabdian Individu
Dokumentasi kegiatan diarsipkan dalam bentuk gambar, sebagai berikut: 

gambar 3 1 Proses Kegiatan Belajar Mengajar PAI

gambar 3 2 Proses Belajar Mengajar PAI



gambar 3 3 Proses belajar Mengajar di Madrasah Diniyyah

gambar 3 4 Diskusi Dengan Staff Pengajar


Faktor Pendukung dan Penghambat
Selama proses bimbingan belajar faktor pendukungnya adalah anak-anak di desa Sukamantri antusias dan semangat dalam proses belajar mengajar mata pelajaran PAI sehingga memudahkan pengajar untuk menjalankan program yang sudah direncanakan. Selain itu, para orang tua mendukung anak-anaknya untuk mengikuti program belajar bahasa arab yang diadakan di posko kelompok 456. Masyarakat pun antusias untuk mendorong anak-anaknya agar mengikuti program pengajaran baik di madrasah diniyyah dan program pengajaran agama yang dilakukan di rumah warga.  
Faktor penghambat dari proses bimbingan belajar diantaranya masih ada anak-anak yang tidak mau belajar karena alasan malu. Dan ada juga beberapa orang tua yang menganggap cukup jika anaknya sudah mendapatkan pendidikan agama di sekolah sedangkan di rumah anak tersebut dirasa tidak perlu mendapatkan pendidikan agama lebih lanjut. Padahal waktu belajar PAI di sekolah sangatlah singkat dan tidak memungkinkan bagi guru untuk mampu menanamkan nilai-nilai spiritual secara optimal ke dalam karakter anak didik. Selain itu penulis mendapati ada murid yang memiliki kesulitan dalam belajar seperti tidak bisa calistung padahal siswa tersebut sudah menduduki kelas 4,5 dan 6 SD. Tentu penulis harus memberikan perhatian lebih ekstra terhadap beberapa anak tersebut.














BAB IV
PENUTUP

Simpulan
Pembelajaran PAI dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah cukup efektif karena anak lebih antusias dengan memberikan respon positif untuk mengikuti kegiatan bimbingan belajar PAI baik di sekolah maupun di luar sekolah sehingga dengan demikian motivasi anak dalam belajar PAI pun meningkat. Metode pembelajaran ini sangat membantu anak di dalam meningkatkan daya pikir kritis pada anak. Dengan menerapkan metode tersebut anak-anak lebih terdorong untuk belajar secara aktif dan menggunakan daya berpikirnya untuk menyelesaikan dan memberi solusi terhadap masalah yang disajikan. Sehingga terjadilah pola interaksi yang multi-arah di dalam pembelajaran PAI sehingga anak termotivasi untuk belajar PAI bersama teman-temannya.
Mengenai faktor hambatan, tidak terlalu banyak hambatan dan kesulitan sehingga kegiatan belajar mengajar dari awak sampai akhir berjalan dengan cukup baik.

Rekomendasi
Pelaksana KKN diharapkan tetap menggunakan sistem pemberdayaan masyarakat untuk mengoptimalkan masa pengabdian mahasiswa pada masyarakat. Selain itu, penambahan masa KKN dengan lebih dari sebulan akan lebih baik agar masa pengabdian mahasiswa kepada masyarakat bisa lebih maksimal.











DAFTAR PUSTAKA

Arsip monografi Desa Sukamantri Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung
Miftahul Huda. 2014. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-Isu Metodis dan Pradigmatis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Pedoman Buku Panduan KKN SISDAMAS (Kuliah Kerja Nyata Berbasis Pemberdayaan Masyarakat) Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung Tahun 2018




























BIODATA





Nama : Kristin Wiranata
TTL: Tangerang, 13-10-1997
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Fakultas: Tarbiyah dan Keguruan
No. HP: 088218652494
Alamat: komplek Pindad No. 13 RT.3 RW.21 Desa Margasari Kec. Buah batu Kota Bandung
























LAMPIRAN



Foto Upacara dengan Para Siswa dan Para Tenaga Pendidik

Foto bersama para siswa SDN Sukamantri



Foto Perpisahan Mahasiswa KKN kelompok 456 dengan Para Siswa

Foto Peresmian Rumah Baca Insan Cita Di Desa Sukamantri

PROSES BELAJAR DAN PEMBELAJARAN SEBAGAI SUATU SISTEM

PROSES BELAJAR DAN PEMBELAJARAN SEBAGAI SUATU SISTEM

Dalam rangka melengkapi tugas perkuliahan mata kuliah Belajar dan Pembelajaran PAI I

Dosen Pengampu
Drs. H. Jamaluddin, M.Pd.









Makalah Bahan Diskusi Kelompok 4

1152020094 Ikhsanul Fauzi
1152020104 Joni Iskandar
1152020108 Kristin Wiranata








JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji hanya milik Allah subhanahu wata’ala yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dan hanya kepada-Nyalah kita berhak bersyukur dan tiada yang lain selain Allah, karena sesungguhnya Allah-lah yang mampu memberikan kita kekuatan untuk mengerjakan segala sesuatu yang kita lakukan.
Shalawat serta salam semoga tercurahlimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang telah menuntun kita kepada jalan yang benar. Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran PAI I. Kami berharap makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang mengarahkan kepada hal yang baik, dan mampu menjadi petunjuk untuk pembahasan yang kami bahas. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

   Bandung, 28 September 2017












DAFTAR ISI


Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 2
BAB II PEMBAHASAN 3
Konsep tentang Sistem 3
Pengertian Belajar dan Proses Belajar 7
Pengertian Pembelajaran dan Proses Pembelajaran 9
Hubungan antara Fase Belajar dan Acara Pembelajaran 14
Belajar Mengajar sebagai Suatu Sistem 15
BAB III PENUTUP 19
Daftar Pustaka 20
















BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Belajar merupakan proses yang berlangsung sepanjang hayat, dimulai dari sejak manusia itu dilahirkan dan berakhir sampai manusia itu meninggal. Belajar merupakan suatu proses yang kompleks, dimana didalamnya terjadi interaksi antara manusia dengan lingkungannya, dengan proses interaksi tersebut menimbulkan perubahan tingkah laku manusia. Lingkungan belajar sendiri menurut Ki Hajar Dewantara mencakup tiga ruang lingkup, yakni keluarga, sekolah dan lingkungan. Adapun makna belajar dan pembelajaran dalam ruang lingkup yang sempit ialah pembelajaran yang dilaksanakan di lingkungan sekolah. 
Seringkali kita dapati suatu proses pembelajaran yang tidak membuahkan hasil yang sesuai dengan tujuan pembelajaran itu sendiri. Mengapa hal ini dapat terjadi? Diduga kuat didalam proses tersebut terdapat salah satu komponen belajar dan pembelajaran yang tidak berfungsi secara baik, sehingga sistemnya pun terganggu, yang mana secara tidak langsung akan berimbas kepada tidak tercapainya tujuan belajar dan pembelajaran yang diharapkan.
Idealnya, proses di dalam belajar dan pembelajaran itu haruslah mengasyikkan. Dengan terciptanya lingkungan belajar (pembelajaran) yang baik dan kondusif maka dapat memengaruhi psikis anak didik, yang mana hal tersebut dapat menunjang keberhasilan PMB. Alhasil, ilmu yang diajarkan lebih mudah untuk diserap anak didik dan berbuah kepada perubahan tingkah laku anak didik yang positif. Namun direalita yang nampak, sering dijumpai suatu proses PMB yang kurang mengasyikkan, yang mana di dalamnya dijumpai enam mitos tentang belajar yang menjadi momok bagi anak didik, yakni: “Bahwa belajar itu membosankan, belajar hanya terkait dengan materi dan keterampilan yang diberikan di sekolah, pembelajar harus pasif, si pembelajar berada di bawah perintah dan aturan guru, belajar harus sistematis, logis dan terencana, belajar harus mengikuti seluruh program yang telah ditentukan dan sebagainya. ” Memang benar adanya jika mitos tersebut muncul karena dilandasi berbagai fakta. Tidak jarang kita jumpai praktik pembelajaran di sekolah yang menunjukkan pelaksanaan hal-hal tersebut. Oleh sebab itu, haruslah diciptakan suatu sistem belajar dan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Sehingga, jika sistem belajar dan pembelajaran sudah saling terintegrasi dengan baik, maka semua komponen yang berada di dalamnya akan berfungsi dengan optimal dan tujuan belajar dan pembelajaran pun akan terpenuhi.
Berangkat dari permasalahan inilah kami merasa tergugah untuk menyusun suatu makalah dengan judul “Proses Belajar dan Pembelajaran sebagai Suatu Sistem”. Kami harap makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami, dan umumnya bagi pembaca.

 Rumusan Masalah
Setelah kami melakukan penelusuran terhadap berbagai sumber yang terkait dengan pembahasan makalah ini, kami menyimpulkan rumusan masalah sebagai berikut.
Apa yang dimaksud dengan sistem?
Apa pengertian dari belajar dan pembelajaran?
Bagaimana proses belajar dan pembelajaran berlangsung?
Bagaimana hubungan antara fase belajar dan acara pembelajaran?
Apa yang dimaksud dengan belajar dan mengajar sebagai suatu sistem?







BAB II
PEMBAHASAN

Konsep tentang Sistem
Pengertian Sistem
Kata sistem berasal dari bahasa Yunani yaitu systema yang berarti “cara, strategi”. Dalam bahasa Inggris system berarti “sistim, susunan, jaringan, cara”. Sistem juga diartikan “sebagai suatu strategi, cara berpikir atau model berpikir.”
Banyak definisi yang digunakan untuk menjelaskan arti kata “sistem”, diantaranya sebagai berikut:
Sistem adalah suatu kebulatan keseluruhan yang kompleks atau teroganisir; suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau utuh. 
Sistem merupakan himpunan komponen yang saling berkaitan yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan.
Sistem merupakan sehimpunan komponen atau subsistem yang terorganisasikan dan berkaitan sesuai dengan rencana untuk mencapai tujuan tertentu.
Definisi-definisi tersebut, yang pertama (a) menekankan soal wujud sistem, yang kedua (b) menaruh perhatian pada fungsi komponen yang saling berkaitan dengan tujuan sistem, dan yang ketiga (c) menampilkan unsur rencana di samping saling kaitan antar komponen dan tujuan dari sistem. Sekalipun demikian definisi yang berbeda-beda itu mengandung unsur persamaan yang dapat dipandang sebagai ciri umum dari sistem yaitu yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
Sistem merupakan suatu kesatuan yang berstruktur
Kesatuan tersebut terdiri dari sejumlah komponen yang saling berpengaruh
Masing-masing komponen mempunyai fungsi tertentu dan secara bersama-sama melaksanakan fungsi struktur, yaitu mencapai tujuan sistem.
Dengan demikian sistem dapat diartikan sebagai suatu kesatuan integral dari sejumlah komponen. Komponen tersebut satu sama lain saling berpengaruh dengan fungsinya masing-masing, tetapi secara fungsi komponen-komponen itu terarah pada pencapaian satu tujuan (yaitu tujuan dari sistem).
Ciri-Ciri Suatu Sistem Dan Komponennya
J.W. getzel dan E.G. Guba menyatakan bahwa pada umumnya sistem sosial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
Terdiri atas unsur-unsur yang saling berkaitan antara satu sama lain.
Berorientasi kepada tujuan yang ditetapkan.
Didalamnya terdapat peraturan-peraturan dan tata tertib berbagai kegiatan dan sebagainya.
Bila diaplikasikan dalam sistem pendidikan maka komponen-komponennya pendidikan seperti yang dikemukakan para pakar sebagai berikut:
Noeng Muhadjir membagi sistem kepada tiga kategori yaitu
Bertolak dari lima unsur dasar pendidikan, meliputi: yang memberi, yang menerima, tujuan, cara/jalan, dan konteks positif.
Bertolak dari empat komponen pokok pendidikan, yaitu kurikulum, subjek didik, personifikasi pendidik, dan konteks belajar mengajar.
Bertolak dari tiga fungsi pendidikan, iatu pendidikan kreativitas, pendidikan moralitas, dan pendidikan produktivitas.
Selanjutnya Ramayulis membagi sistem pendidikan tersebut atas empat unsur yaitu:
Kegiatan pendidikan yang meliputi: pendidikan diri sendiri, pendidikan oleh lingkungan, pendidikan oleh seseorang terhadap orang lain.
Binaan pendidikan, mencakup: jasmani, akal dan qalbu
Tempat pendidikan, mencakup: rumah tangga, sekolah, dan masyarakat
Komponen pendidikan, mencakup: dasar, tujuan, materi, metode, media, evaluasi, administrasi, dana dan sebagainya.
Klasifikasi Sistem
Sistem dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut pandang, di antaranya adalah sebagai berikut.
Sistem Abstrak dan Sistem Fisik. Sistem abstrak adalah sistem yang berupa pemikiran atau ide-ide yang tidak nampak secara fisik, sedangkan sistem fisik adalah sistem yang ada secara fisik.
Sistem Alamiah dan Sistem Buatan Manusia. Sistem alamiah adalah sistem yang terjadi melalui proses alam, tidak dibuat manusia, sedangkan sistem buatan manusia adalah sistem yang dirancang oleh manusia.
Sistem Tertentu dan Sistem Tak Tentu. Sistem tertentu adalah sistem yang terjadi dengan tingkah laku yang sudah dapat diprediksi. Interaksi antara bagian-bagiannya dapat dideteksi dengan pasti, sehingga keluaran dari sistem dapat diramalkan. Sistem tak tentu adalah sistem kondisi masa depannya tidak dapat diprediksi karena mengandung unsur probabilitas.
Sistem Tertutup dan Sistem Terbuka. Sistem tertutup merupakan sistem yang tidak terhubung dan tidak berpengaruh dengan lingkungan luarnya. Sistem terbuka adalah sistem yang berhubungan dan berpengaruh dengan lingkungan luarnya.
Dasar-Dasar Pemilihan Sistem
Sebuah sistem dipilih berdasarkan studi kelayakan, studi kelayakan adalah proses mempelajari dan menganalisa masalah yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan akhir yang dicapai. Ada lima aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam menilai suatu studi kelayakan, di antaranya adalah sebagai berikut.
Kelayakan teknis. Sebuah masalah mempunyai kelayakan teknis, jika dirancang bangun sistem dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan menggunakan hardware dan software yang tersedia, yaitu yang ada/yang dapat dimiliki. Dengan kata lain sistem yang nanti akan diterapkan menggunakan teknologi lama atau teknologi baru.
Kelayakan Operasi. Sebuah masalah mempunyai kelayakan operasi jika rancang bangun sistem dapat menyelesaikan masalah personil atau prosedur yang disediakan, yaitu yang ada atau dimiliki, dengan kata lain apakah sistem yang dirancang akan mengubah cara kerja dan struktur organisasi yang telah ada dan telah berjalan saat ini, sehingga dalam memeriksa aspek kelayakan operasi, sistem analisan semestinya memperhitungkan reaksi atau perubahan sistem.
Kelayakan Ekonomis. Sebuah masalah mempunyai kelayakan ekonomis jika rancang bangun sistem dapat menyelesaikan masalah tersebut dalam waktu dan anggaran biaya yang masuk akal, misalnya keuntungan sistem melebihi biaya penyusunan sistem, dengan kata lain apakah sistem yang dirancang lebih menguntungkan dari segi ekonomis. Dalam menghitung kelayakan ekonomis jauh lebih kompleks dibanding dengan menghitung kelayakan teknis dan operasi.
Kelayakan Jadwal Waktu. Pertanyaan mengenai kelayakan dari segi jadwal waktu ini timbul apabila suatu usulan rancang bangun sistem disertai dengan batas waktu tertentu. Perhatian atas batas waktu, sekali lagi tergantung pada pengetahuan dan pengalaman sistem analisa tertentu tentang masalah-masalah di dalam pengembangan software khususnya dalam bidang progamming dan kegiatan lain yang berhubungan dengan komputer.
Kelayakan Personil. Sistem database baru maupun hasil modifikasi adalah sarana untuk suatu perubahan. Manusia secara naluriah -pada umumnya- akan menentang adanya perubahan-perubahan. Jadi akan selalu timbul konflik dalam membangun dan mengimplementasikan suatu sistem database. Oleh sebab itu, suatu studi kelayakan haruslah mempertimbangkan faktor manusia tersebut.


Pengertian Belajar dan Proses Belajar
Pengertian Belajar
Hampir semua ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang “belajar”. Seringkali pula perumusan dan tafsiran itu berbeda satu sama lain. Dalam uraian ini kita akan berkenalan dengan beberapa perumusan saja, guna melengkapi dan memperluas pandangan kita tentang mengajar.
Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthtening of behaviour through experiencing). Menurut pengertian ini, belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.
Sejalan dengan perumusan di atas, ada pula tafsiran lain tentang belajar yang menyatakan, bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. 
Sistem Belajar yang Efektif Dipengaruhi oleh Faktor Berikut
Faktor kegiatan, penggunaan dan ulangan; siswa yang belajar melakukan banyak kegiatan baik kegiatan neural system, seperti melihat, mendengar, merasakan, berpikir, kegiatan motoris, dan sebagainya maupun kegiatan-kegiatan lainnya yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan, sikap, kebiasaan, dan minat. Apa yang telah dipelajari perlu digunakan secara praktis dan diadakan ulangan secara kontinu di bawah kondisi yang serasi, sehingga penguasaan hasil belajar menjadi lebih mantap.
Belajar memerlukan latihan, dengan jalan: relearning, recalling, dan reviewing agar pelajaran yang terlupakan dapat dikuasai kembali dan pelajaran yang belum dikuasai akan dapat lebih mudah dipahami.
Belajar siswa lebih berhasil, belajar akan lebih berhasil jika siswa merasa berhasil dan mendapatkan kepuasannya. Belajar hendaknya dilakukan dalam suasana yang menyenangkan.
Siswa yang belajar perlu mengetahui apakah ia berhasil atau gagal dalam belajarnya. Keberhasilan akan menimbulkan kepuasan dan mendorong belajar lebih baik, sedangkan kegagalan akan menimbulkan frustasi.
Faktor asosiasi besar manfaatnya dalam belajar, karena semua pengalaman belajar antara yang lama dengan yang baru, secara berurutan diasosiasikan, sehingga menjadi satu kesatuan pengalaman.
Pengalaman masa lampau (bahan apersepsi) dan pengertian-pengertian yang telah dimiliki oleh siswa, besar peranannya dalam proses belajar. Pengalaman dan pengertian itu menjadi dasar untuk menerima pengalaman-pengalaman baru dan pengertian-pengertian baru.
Faktor kesiapan belajar. Murid yang telah siap belajar akan dapat melakukan kegiatan belajar lebih mudah dan lebih berhasil. Faktor keinginan ini erat hubungannya dengan masalah kematangan, minat, kebutuhan dan tugas-tugas perkembangan.
Faktor minat dan usaha. Belajar dengan minat akan mendorong siswa belajar lebih baik daripada belajar tanpa minta. Minat itu timbul apabila murid tertarik akan sesuatu karena sesuai dengan kebutuhannya atau merasa bahwa sesuatu yang akan dipelajari kebutuhannya bermakna bagi dirinya. Namun demikian, minat tanpa adanya usaha yang baik maka belajar juga sulit untuk berhasil.
Faktor-faktor fisiologis. Kondisi badan siswa yang belajar sangat berpengaruh dalam proses belajar. Badan yang lemah, lelah akan menyebabkan perhatian tak mungkin akan melakukan kegiatan belajar yang sempurna. Karena itu faktor fisiologis sangat menentukan berhasul atau tidaknya murid yang belajar.
Faktor intelegensi. Murid yang cerdas akan lebih berhasil dalam kegiatan belajar, karena ia lebih mudah menangkap dan memahami pelajaran dan lebih mudah mengingat-ingatnya. Anak yang cerdas akan lebih mudah berpikir kreatif dan lebih cepat mengambil keputusan. Hal ini berbeda dengan siswa yang kurang cerdas, para siswa yang lamban.
Proses Belajar
Menurut Wittig, proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yaitu sebagai berikut.
Acquistion (tahap perolehan informasi). Pada tahap ini, pembelajar mulai menerima informasi sebagai stimulus dan memberikan respons, sehingga ia memiliki pemahaman atau perilaku baru. Tahap acquisition merupakan tahapan yang paling mendasar, bila pada tahap ini kesulitan siswa tidak dibantu, maka ia akan mengalami kesulitan untuk menghadapi tahap selanjutnya.
Storage (penyimpanan informasi). Pemahaman dan perilaku baru yang diterima siswa secara otomatis akan disimpan dalam memorinya yang disebut short term atau long term memori.
Retrieval (mendapatkan kembali informasi). Apabila seorang siswa mendapat pertanyaan mengenai materi yang telah diperolehnya maka ia akan mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem memorinya untuk menjawab pertanyaan atau masalah yang dihadapinya. Tahap retrieval merupakan peristiwa mental dalam rangka mengungkapkan kembali informasi, pemahaman, pengalaman yang telah diperolehnya.

Pengertian Pembelajaran dan Proses Pembelajaran
Pengertian Pembelajaran
Beberapa ahli merumuskan pengertian pembelajaran sebagai berikut.
Menurut Syaiful Sagala, pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan azaz pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah. 
Menurut Oemar Hamalik, pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.
Proses Pembelajaran
Proses Pembelajaran
Syarafuddin dan Nasution mengemukakan bahwa: “Proses suatu sistem dimulai dari input (masukan) kemudian diproses dengan berbagai aktivitas dengan menggunakan teknik dan prosedur, dan selanjutnya menghasilkan output (keluaran), yang akan dipakai oleh masyarakat lingkungannya.” Aktivitas suatu sistem tersebut dapat dilihat pada gambar berikut.






Proses pembelajaran yang baik adalah proses pembelajaran yang memungkinkan para pembelajar aktif melibatkan diri dalam keseluruhan proses baik secara mental maupun secara fisik. Model proses ini dikenal sebagai pembelajaran aktif atau pembelajaran interaktif dengan karakteristiknya sebagai berikut.
Adanya variasi kegiatan klasikal, kelompok, dan perorangan.
Dosen berperan sebagai fasilitator belajar, narasumber, dan manajer kelas yang demokratis.
Keterlibatan mental (pikiran, perasaan) siswa tinggi.
Menerapkan pola komunikasi yang banyak.
Suasana kelas yang fleksibel, demokratis, menantang, dan tetap terkendali oleh tujuan.
Potensial dapat menghasilkan dampak intruksional dan dampak penggiring lebih efektif.
Dapat digunakan di dalam atau di luar kelas/ruangan.
Adapun strategi menilai proses pembelajaran meliputi hal-hal sebagai berikut.
Penilaian pengetahuan awal, ingatan dan pemahaman.
Penilaian kecakapan dalam berpikir analisis kritis.
Penilaian kecakapan dalam berpikir sintesis kreatif.
Penilaian dalam memecahkan masalah.
Penilaian kecakapan dalam aplikasi dan performansi.
Adapun di dalam proses pembelajaran ada tiga bentuk proses pembelajaran yaitu: (1) transfer pengetahuan (transfer of knowledge), (2) transformasi pengetahuan (transformation of knowledge), (3) pengembangan keterampilan (development of skill), dan (4) penanaman nilai (Internalization of value).
Ruang Lingkup Proses Pembelajaran
Mengacu pada PP No. 19 tahun 2005, standar proses pembelajaran yang sedang dikembangkan, maka lingkup kegiatan untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efesien meliputi “(1) perencanaan proses pembelajaran”, (2) pelaksanaan proses pembelajaran, (3) penilaian hasil pembelajaran, dan (4) pengawasan proses pembelajaran.”
Keempat lingkup kegiatan dalam standar proses pembelajaran di atas dijelaskan oleh Pudji Muljono sebagai berikut.
Standar perencanaan proses pembelajaran didasarkan pada prinsip sistematis dan sistemik. Sistematik berarti secara runtut, terarah dan terukur dari jenjang kemampuan rendah hingga tinggi secara berkesinambungan. Sistemik berarti mempertimbangkan berbagai faktor yang berkaitan, yaitu tujuan yang mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan, karakteristik peserta didik, karakteristik materi ajar yang mencakup fakta, konsep, prosedur, dan prinsip, kondisi lingkungan dan hal-hal lain yang menghambat atau mendukung terlaksananya proses pembelajaran. Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran.
Standar pelaksanaan proses pembelajaran didasarkan pada prinsip intensitas interaksi antara peserta didik dengan pendidik, anar peserta didik dan antara peserta didik dengan aneka sumber belajar. Untuk itu perlu diperhatikan jumlah maksimal peserta didik dalam setiap kelas, beban pembelajaran maksimal pendidik, dan ketersediaan buku teks pelajaran bagi peserta didik. Di samping itu, perlu dipertimbangkan bahwa proses pembelajaran bukan sekedar menyampaikan ajaran, melainkan juga pembentukan pribadi peserta didik yang memerlukan perhatian penuh dari pendidik, maka perlu juga ditentukan tentang rassio maksimal jumlah peserta didik per pendidik. Perihal kemampuan pengelolaan kegiatan belajar dan pembelajaran pendidik, juga sesuatu yang harus menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
Standar penilaian hasil pembelajaran ditentukan dengan menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik. Teknik yang dimaksud dapat berupa tes tertulis, observasi, uji praktik, dan penugasan perseorangan atau kelompok. Untuk memantau proses dan kemajuan belajar serta memperbaiki hasil belajar peserta didik dapat digunakan teknik penilaian portofolio atau kolokium. Secara umum penilaian dilakukan untuk mengukur semua aspek perkembangan peserta didik yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan mengacu dan sesuai dengan standar penilaian.
Standar pengawasan proses pembelajaran adalah upaya penjaminan mutu pembelajaran bagi terwujudnya proses pembelajaran efektif dan efesien ke arah tercapainya kompetensi yang ditetapkan. Pengawasan perlu didasarkln pada prinsip-prinsip tanggung jawab dan kewenangan, dilakukan secara periodik, demokratis, terbuka, berkelanjutan. Pengawasan meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan pengambilan langkah tindak lanjut. Upaya pengawasan terhadap proses pembelajaran pada hakikatnya adalah tanggung jawab bersama antara kepala sekolah, pengawas, dan sejawat atau pihak lain yang ditugasi untuk melaksanakan pengawasan secara internal.
Ciri-Ciri Sistem Pembelajaran yang Baik
Adapun ciri-ciri atau karakteristik agar terbentuk sistem pembelajaran yang baik yaitu sebagai berikut.
Pengembangan kreativitas anak melalui pembelajaran kelompok bermain. Anggapan bahwa pendidikan baru bisa dimulai setelah usia sekolah dasar yaitu usia tujuh tahun ternyata tidaklah benar. Bahkan pendidikan dimulai pada usia TK (4-6 tahun) pun sebenarnya sudah terlambat.
Ciri-ciri masa awal kanak-kanak. Dalam setiap tahap perkembangan ada ciri-ciri khusus yang ada pada setiap perkembangan, begitu juga pada masa kanak-kanak awal ditandai dengan ciri-ciri tertentu.
Psikologi behaviorisme. Psikologi behaviorisme merupakan transisi dari sistem sebelumnya. Psikologi behaviorisme memaknai psikologi sebagai studi tentang perilaku.
Psikologi pendidikan dan guru.
 Manajemen peserta didik dalam menghadapi kreativitas anak.
Ada tiga ciri-ciri khas dalam sistem pembelajaran, seperti yang ditemukan oleh Oemar Hamalik dalam bukunya, kurikulum dan pembelajaran, yaitu sebagai berikut.
Rencana ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran dalam suatu rencana khusus.
Kesalingtergantungan (interdefendence) antara unsur “sistem pembelajaran yang serasi dalam suatu keseluruhan”. Tiap unsur bersifat esnsial, dan masing-masing memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran.
Tujuan. Sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai. Seperti sistem transportasi, sistem komunikasi, sistem pemerintahan, semuanya memiliki tujuan.
Hubungan Antara Fase Belajar dan Acara Pembelajaran









Hubungan Antara Fase Belajar Dengan Acara Pembelajaran


Fase belajar
Acara pembelajaran

Persiapan untuk belajar
Mengarahkan perhatian
Menarik perhatian siswa dengan kejadian yang tidak seperti biasanya, pertanyaan atau perubahan stimulus.


Ekspektansi
Memberitahu siswa mengenai tujuan belajar


Retrival
Merangsang siswa agar mengingat kembali apa yang telah dipelajari sebelumnya

Pemerolehan dan unjuk perbuatan
Persepsi selektif atas sifat stimulus
Menyajikan stimulus yang jelas sifatnya


Sandi semantik
Memberikan bimbingan belajar


Retrival dan respons
Memunculkan perbuatan siswa


Penguatan
Memberikan balikan informatif

Retrival dan alih belajar
pengisyaratan
Menilai perbuatan siswa


Pemberlakuan secara umum
Meningkatkan retensi dan alih belajar

Belajar Mengajar Sebagai Suatu Sistem
Belajar mengajar sebagai suatu sistem instruksional mengacu kepada pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. Agar tujuan itu tercapai, semua komponen yang harus ada harus diorganisasikan secara sinergis dan sistematik. Karena itu, guru tidak hanya boleh memerhatikan komponen-komponen pengajaran secara parsial. Misalnya metode terpisah dari bahan, bahkan tidak mendukung sistem evaluasi dan seterusnya.
Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri atas komponen-komponen yang terpadu dan berproses untuk mencapai tujuan. Proses belajar mengajar sebagai suatu sistem, komponen-komponennya terdiri atas: (1) siswa, (2) guru, (3) tujuan, (4) materi, (5) metode, (6) evaluasi, (7) lingkungan.
Masing-masing komponen itu sebagai bagian yang berdiri sendiri-sendiri namun dalam berproses di kesatuan sistem, mereka saling bergantung dan bersama-sama untuk mencapai tujuan. Masing-masing komponen sistem proses belajar mengajar itu sedikit diulas seperti paparan berikut ini.
Siswa
Teori didaktik telah bergeser dalam menempatkan siswa sebagai komponen Proses belajar Mengajar (PBM), siswa yang semula dipandang sebagai objek pendidikan, bergeser menjadi subjek pendidikan. Tiada pendidikan tanpa anak didik. Untuk itu, siswa harus dipahami dan dilayani sesuai dengan hak-hak dan tanggung jawabnya sebagai siswa. Siswa adalah individu yang unik. Mereka merupakan kesatuan psiko-fisis yang secara sosiologis berinteraksi dengan teman sebaya, guru, pengelola sekolah, pegawai administrasi, dan masyarakat pada umumnya. Mereka datang ke sekolah telah membawa potensi psikologis dan latar belakang kehidupan sosial. Masing-masing memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda. Potensi dan kemampuan inilah yang harus dikembangkan oleh guru di sekolah.
Guru
Guru adalah sebuah profesi. Oleh sebab itu, pelaksanaan tugas guru harus profesional. Walaupun seorang guru sebagai individu memiliki kebutuhan pribadi dan memiliki keunikan tersendiri sebagai pribadi, namun guru mengemban tugas mengantarkan anak didiknya mencapai tujuan. Untuk itu, guru harus menguasai seperangkat kemampuan yang disebut dengan kompetensi guru. Kompetensi guru itu mencakup menguasai siswa, menguasai tujuan, menguasai metode pembelajaran, menguasai materi, menguasai cara mengevaluasi, menguasai alat pembelajaran, dan menguasai lingkungan belajar.
Tujuan
Setiap kegiatan belajar-pembelajaran, apapun materinya selalu memiliki sasaran (target). Sasaran, yang juga lazim disebut tujuan itu pada umumna tertulis. Walaupun ada juga sasaran tidak tertulis yang dikenal dengan objective in mind. Sasaran yang dituju PMB bersifat bertahap dan meliputi beberapa jenjang dari jenjang yang konkret dan langsung dapat dilihat dan dirasakan sampai yang bersifat nasional dan universal. Ditinjau dari sudut waktu pencapaiannya, sasaran PMB dapat dikategorikan tiga macam, yakni:
Sasaran-sasaran jangka pendek, seperti TPK (Tujuan Pembelajaran Khusus)
Sasaran jangka menengah, seperti tujuan pendidikan dasar, yakni untuk mempersiapkan siswa mengikuti pendidikan menengah.
Sasaran jangka panjang, seperti tujuan pendidikan nasional.
Untuk memperjelas uraian keterkaitan antarpelbagai tujuan belajar dan pembelajaran, berikut disajikan sebuah model











Tujuan Pendidikan Universal (dokumen UNESCO)

 Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan Institusional (sekolah)

Tujuan Kurikuler (bidang studi)

Tujuan Instruksional (bahan dan kegiatan)

Materi
Materi pembelajaran dalam arti luas tidak hanya yang tertuang dalam buku paket yang diwajibkan, akan tetapi mencakup keseluruhan materi pembelajaran. Setiap aktivitas belajar mengajar pasti harus ada materinya. Anak yang sedang field-trip di kebun raya menggunakan materi jenis tumbuhan dan klasifikasinya. Anak yang praktikum di laboratorium menggunakan materi simbiosis katak. Semua materi pembelajaran harus diorganisasikan secara sistematis agar mudah dipahami oleh anak. Materi disusun berdasarkan tujuan dan karakteristik siswa.
Metode
Metode mengajar adalah cara atau teknik penyampaian materi pembelajaran yang harus dikuasai oleh guru. Metode mengajar ditetapkan berdasarkan tujuan dan materi pembelajaran, serta karakteristik anak.
Sarana atau Alat
Agar materi pembelajaran lebih mudah dipahami oleh siswa, maka dalam proses belajar mengajar digunakan alat pembelajaran. Alat pembelajaran dapat berupa benda yang sesungguhnya, imitasi atau tiruan, gambar, bagan, grafik, tabulasi dan sebagainya yang dituangkandalam media. Media itu dapat berupa alat elektronik, alat cetak, dan tiruan. Menggunakan sarana atau alat pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan, anak, materi, dan metode pembelajaran.
Evaluasi
Evaluasi dapat digunakan untuk menyusun gradasi kemampuan anak didik, sehingga ada penanda simbolis yang dilaporkan kepada semua pihak. Evaluasi dilaksanakan secara komprehensif, objektif, kooperatif, dan efektif. Evaluasi dilaksanakan berpedoman pada tujuan dan materi pembelajaran.
Lingkungan
Lingkungan pembelajaran merupakan komponen PBM yang sangat penting demi suksesnya belajar siswa. Lingkungan ini mencakup lingkungan fisik, lingkungan sosial, lingkungan alam, dan lingkungan psikologis pada waktu PBM berlagsung.
Semua komponen PBM itu harus dikelola sedemikian rupa, sehingga belajar anak dapat maksimal untuk mencapai hasil yang maksimal pula.

















BAB III
PENUTUP

Idealnya, proses di dalam belajar dan pembelajaran itu haruslah mengasyikkan. Dengan terciptanya lingkungan belajar (pembelajaran) yang baik dan kondusif maka dapat memengaruhi psikis anak didik, yang mana hal tersebut dapat menunjang keberhasilan PMB. Alhasil, ilmu yang diajarkan lebih mudah untuk diserap anak didik dan berbuah kepada perubahan tingkah laku anak didik yang positif. 
Maka demi terwujudnya tujuan dari pembelajaran haruslah diciptakan suatu sistem belajar dan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Sehingga, jika sistem belajar dan pembelajaran sudah saling terintegrasi dengan baik, maka semua komponen yang berada di dalamnya akan berfungsi dengan optimal dan tujuan belajar dan pembelajaran pun akan terpenuhi.

















DAFTAR PUSTAKA

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Jamaluddin, dkk. 2015. Pembelajaran Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Muhibbin Syah. 2013. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: Rosdakarya
Oemar Hamalik. 2010. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara
Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia
Suyono dan Hariyanto. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Umar Tirtarahardja dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta










melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...