ASMAUL HUSNA MTS


Pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah pada semester genap diawali dengan materi Asmaul Husna. Allah Swt. telah menciptakan media dan cara untuk menunaikan segala kewajiban. Dan, keimanan merupakan kewajiban terbesar dan terpenting. Allah Swt. telah menyediakan media yang dapat menumbuhkan dan menguatkan keimanan, seperti halnya Dia telah menciptakan media yang melemahkannya. Di antara media yang dapat menguatkan dan menumbuhkan keimanan adalah mengetahui Amaul Husna yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, seraya berusaha memahami maknanya, dan mengamalkannya. 
Uraian Isi Bahan Ajar 
Untuk tujuan tersebut di atas, dalam Bahan Ajar ini Anda akan menemukan pembahasan tentang:
1. Gambaran umum materi Asmaul Husna sebagaimana terdapat dalam buku-buku akidah akhlak.
2. Gambaran umum materi Asmaul Husna yang harus Anda ajarkan kepada siswa MTs.
3. Gambaran tentang standar kompetensi dan kompetensi dasar pembelajaran Asmaul Husna bagi siswa MTs.
4. Penjelasan tentang berbagai metode/teknik/media yang dapat digunakan untuk menyampaikan materi Asmaul Husna bagi siswa MTs.
5. Beberapa soal latihan untuk menguji kemampuan Anda sendiri dalam memahami isi Bahan Ajar ini.
6. Rangkuman keseluruhan materi yang dibahas dalam Bahan Ajar ini.
7. Metode pengukuran kemampuan Anda dalam mempelajari materi dalam Bahan Ajar ini.
8. Kamus istilah (glosarium).
9. Daftar bacaan yang dapat Anda gunakan untuk pengembangan dan pengayaan materi.
Petunjuk Belajar
Untuk membantu Anda dalam mempelajari Bahan Ajar ini, Anda sebaiknya memperhatikan petunjuk-petunjuk belajar di bawah ini:
1. Bacalah bagian pendahuluan ini dengan cermat sampai Anda dapat memahami dengan baik tentang materinya, tujuannya, dan cara mempelajari Bahan Ajar ini.
2. Bacalah bagian demi bagian dengan seksama.
3. Temukan kata-kata kunci dan kata-kata yang dianggap baru. Carilah dan baca

pengertian kata-kata kunci tersebut dengan menggunakan kamus.
4. Pahamilah pengertian demi pengertian dari Bahan Ajar ini melalui pemahaman sendiri dan tukar pikiran dengan mahasiswa lain atau dengan tutor Anda.
5. Jika pembahasan dalam Bahan Ajar ini masih dianggap kurang, upayakan untuk dapat membaca dan mempelajari sumber-sumber lainnya yang relevan untuk menambah wawasan Anda dan mengadakan perbandingan-perbandingan.
6. Mantapkan pemahaman Anda dengan mengerjakan latihan dalam Bahan Ajar ini dan melalui kegiatan diskusi dalam kegiatan tutorial dengan mahasiswa lain atau teman sejawat sesama guru.
7. Jangan lewatkan untuk mencoba menjawab soal-soal yang dituliskan pada akhir Bahan Ajar ini. Hal ini berguna untuk mengetahui apakah Anda sudah memahami dengan benar kandungan Bahan Ajar.



SELAMAT BELAJAR!
من جدّ وجد!
















DAFTAR ISI

Mukadimah i
Daftar Isi iii
MATERI PEMBELAJARAN ASMAUL HUSNA 1
Definisi Asmaul Husna 1
Memahami Kebesaran Allah Melalui Asmaul Husna 2
Al-Aziiz 2
Al-Adl 5
Al-Qoyyum 7
Al-Ghaffaar 9
Al-Baasith 13
An-Naafi’ 15
Ar-Ra’uuf 18
Al-Barr 19
Al-Fattaah 22
METODE DAN MEDIA PEMBELAJARAN 26
Metode Pembelajaran 26
Metode Ceramah 27
Metode Resitasi 29
Metode Kerja Kelompok 30
Metode Sosiodrama 31
Media Pembelajaran 32
EVALUASI PEMBELAJARAN 33
Penilaian Kelompok Diskusi 33
Penilaian Individu 36
Lampiran 39
Daftar Pustaka 42




PEMBELAJARAN ASMAUL HUSNA

MATERI PEMBELAJARAN ASMAUL HUSNA
Materi yang harus Anda ajarkan kepada anak didik di Madrasah Tsanawiyah kelas VII pada semester II berkaitan dengan Asmaul Husna. Adapun Asmaul Husna yang harus Anda ajarkan adalah:
al-‘Aziiz
al-Ghaffaar
al-Baasith
an-Naafi’
ar-Ra’uuf
al-Barr
al-Fattaah
al-‘Adl
al-Qayyuum
Definisi Asmaul Husna 
Secara bahasa arti dari asma’ adalah nama-nama, sedangkan alhusna adalah terbaik. Asmaul Husna adalah nama-nama Terbaik yang mencerminkan kebesaran Allah dan keagunganNya yang mesti menyatu dalam diriNya.
Allah berfirman dalam Q.S Thaha: 8
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ ٨ 
 “Allah, tiada tuhan selain Dia, baginya nama-nama Terbaik.”
Dalam haditsnya Rasulullah bersabda:  
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُوْنَ إِسْمًا, مِائَة إِلاَّوَاحِدًا, مَنْ اَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ (رواه بخاري ومسلم)
“Sungguh Allah mempunyai 99 nama, 100 kurang satu, barang siapa menghafalnya, maka ia akan masuk surga”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Jadi, Asmaul Husna adalah nama-nama terbaik dan agung yang dimiliki oleh Allah SWT. Kita harus meyakini bahwa Allah mempunyai nama-nama Terbaik ini. 

Allah sendiri menyatakan dalam AlQur’an bahwasannya Dia memang mempunyai nama-nama Terbaik yaitu Asmaul Husna. Beberapa ayat yang menunjukkan keberadaan asmaul husna diantaranya adalah:  
هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٢٤ 
Dialah Allah, yang Maha Mencipta, Memulai, Membentuk rupa. bagiNya adanama-nama Terbaik, bertasbihlah padaNya segala yang ada di beberapa langit dan bumi, dan Dialah yang maha Perkasa dan Bijaksana. (Q.S Al-Hasyr: 24)
Allah juga memerintah hambaNya untuk berdoa menggunakan media nama-namaNya al-asmaul husna, Allah berfirman dalam surat al-A’raaf: 180: 
وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِيٓ أَسۡمَٰٓئِهِۦۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٨٠ 
 “Dan milik Allahlah nama-nama Terbaik, maka berdoalah kalian dengan nama-namaNya, dan tinggalkanlah orang-orang yang mengingkari nama-namaNya, mereka akan di beri balasan terhadap apa yang mereka kerjakan (al-A’raaf: 180)”.

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna
AL’AZIIZ: MAHA PERKASA 
Uraian sifat Al-Aziiz
Al-Aziz adalah nama Allah yang menunjuk pada pengertian kekuatan, hegemoni, ketinggian, dan mengendalikan. Adapun Makna nama Allah al-‘Aziz adalah yang memiliki sifat ‘izzah. Menurut para ulama, Al-Izzah memiliki tiga makna, yakni:
Izzatul-quwwah, menunjukkan bahwa di antara nama-nama Allah adalah yang Mahakuat dan Maha Perkasa. Ini merupakan sifat mulia yang tidak dapat dinisbatkan kepada stau makhluk sekalipun dia amat agung. 
Izzatul Imtinaa’, Allah Mahakaya yang identik dengan Dzat-Nya. Dia tidak membutuhkan apa pun dan tidak ada bahaya yang dapat menimpa-Nya. Makhluk tidak dapat memberikan bahaya dan manfaat kepada Allah, justru Dialah yang memberi bahaya dan manfaat; yang memberi dan yang mencegah.
Izzatul qadr, Allah mempunyai kekuatan untuk memaksa dan mengalahkan seluruh semesta, sehingga semuanya dipaksa di bawah kekuasaan Allah, tunduk pada keagungan-Nya serta menuruti keinginan-Nya.

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna Al-Aziiz
KeperkasaanNya tidaklah mampu diukur oleh manusia ataupun makhluk lainnya. Allah berfirman dalam Q.S Yasin ayat 1 s.d 5 yang menunjukkan bahwa diriNya yang memiliki Keperkasaan dan kasih sayang. Yaitu: 
يسٓ ١ وَٱلۡقُرۡءَانِ ٱلۡحَكِيمِ ٢ إِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ٣ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ٤ تَنزِيلَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ٥ 
Yaa siin; Demi Al Quran yang penuh hikmah; Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul; (yang berada) diatas jalan yang lurus; (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (QS. Yaasiin [36]: 1-5)
Dalam ayat ini, Allah memaklumatkan bahwa diriNyalah yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana, tiada yang bisa mengungguli keperkasaan Allah SWT. Misalnya dalam menggerakkan matahari di atas kita, Allah Maha Perkasa untuk menjaganya sampai nanti hari Qiyamat. Dalam AlQur’an penyebutan kata al-Aziz sering kali diiringi dengan kata al-Hakim atau kata al-Rahim. Misalnya dalam surat al-Maidah: 118:
إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ١١٨ 
 “Jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah AlAziz dan alHakim (yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana)”.
Hal ini menunjukkan bahwa sifat keperkasaan, kekuatan-Nya, sifat Maha MengendalikanNya senantiasa diiringi dengan Kebijaksanaan Allah dan kasih sayang Allah SWT.


Perilaku Orang yang Mengamalkan Al-Aziiz
Adapun sifat aziz dapat diteladani dengan cara memiliki sifat tegar dalam menghadapi berbagai masalah. Tegar dalam menuntut ilmu, menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tegar dalam menghadapi musibah yang datang. Suatu sikap yang patut dimiliki dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap aziz (mulia) dapat menjadikan pemiliknya menjadi orang yang dibutuhkan oleh hamba Allah yang lain terkait menunaikan urusan-urusan mereka yang terpenting. Jika kita ingin menjadi aziz maka jadilah tempat solusi bagi saudara mukmin lainnya dan janganlah menjadi biang masalah bagi mereka. Apa yang dimaksud dengan perkara yang sangat penting bagi manusia yaitu bagaimana mereka dapat hidup sejahtera di dunia dan di akhirat, yakni dengan cara memberikan ilmu dan pemahaman yang dapat menyelamatkan mereka dunia dan akhirat. Orang yang hidupnya berorientasi kepada akhirat, ia cenderung menjadi pribadi yang tidak hanya shalih pribadi namun ia juga shahih secara sosial. Maksudnya shalih secara sosial adalah ia bertanggung jawab pula terhadap keadaan lingkungan sekitarnya, sehingga ia mengajak keluarganya, dan masyarakat untuk menjadi pribadi yang shalih. Berikut contoh perilaku orang yang mengamalkan Al-Aziiz:
Perilaku cinta Ilmu
Perilaku Rendah Hati
Perilaku Mandiri

Meneladani sifat Allah yang terkandung dalam sifat Al-Aziiz 
Untuk dapat meneladani sifat Allah Al-Aziiz, hendaknya kamu perhatikan beberapa langkah berikut:
Tanamkan keyakinan bahwa Allah SWT. MahaPerkasa tidak ada satupun yang dapat menandingi-Nya.
Perbanyak membaca buku-buku ilmu pengetahuan, baik agama maupun umum, sehingga dapat menambah wawasan tentang kebenaran kebesaran Allah SWT. dan Keperkasaan-Nya.
Biasakan membaca dan memahami Asma’ul Husna beserta maknanya, sehingga dapat meresap ke dalam hati dan tertarik untuk mengamalkannya.
Mulailah dari sekarang membiasakan diri meneladani sifat Allah SWT. Al-Aziiz dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan untuk anak didik: “Anakku tercinta, jika engkau telah mampu memelihara apapun yang dianugerahkan Allah kepadamu, maka engkau akan menjadi orang yang gagah. Kegagahanmu bukan sekedar penampilanmu, namun juga kepribadianmu. Ingatlah selalu bahwa kegagahanmu itu bukan dari dirimu sendiri, namun pancaran dari Al-Aziz Sang Mahagagah. Betapa gagahnya Al-Aziz hingga tak ada satu pun yang mengalahkan dan melawan-Nya. Meskipun dikaruniai percikan Al-Aziz, namun engkau harus tetap berendah hati. Jadilah orang gagah namun penuh kasih sayang, karena kau diciptakan oleh Al-Aziz.”

AL-‘ADL: MAHAADIL 
Uraian sifat Al-Adl
Al-‘Adl berarti “Yang Maha Adil”. Kata ‘adlu adalah bentuk mashdar dari kata kerja ‘adala-ya’dilu-‘adlan-‘udulan-‘adalatan. Kata kerja ini berakar pada huruf-huruf ‘ain, dal, dan lam, yang makna pokoknya adalah al-istiwa’ (keadaan lurus) dan al-i’wijaj’ (keadaan menyimpang). Jadi rangkaian huruf-huruf tersebut mengandung makna yang bertolak belakang, yakni lurus, sama, bengkok atau berbeda. Allah senantiasa berbuat adil dalam membuat keputusan. Mustahil Allah Swt. berbuat tidak adil karena sifat demikian terdapat pada makhluk. 

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna Al-Adl
Allah berbuat adil dalam pelaksanaan hukum-hukumNya, baik yang ada di dunia ini, terlebih lagi nanti di Akhirat. Saking adilnya Allah, Allah kelak akan mengadili hewan yang didzalimi oleh hewan lain saat ada di dunia ini. Nabi menyebutkan bahwasannya apabila ada kambing bertanduk menyeruduk kambing yang tidak bertanduk, maka Allah nanti menghidupkan keduanya, lalu kambing yang tidak bertanduk diberi tanduk oleh Allah SWT lalu ia menyeruduk kambing yang menyeruduknya sewaktu di dunia. 
Setelah pembalasan Allah diberlakukan dengan sangat adil, lalu Allah berfirman: jadilah kalian menjadi debu, lalu hewan-hewan tersebut menjadi debu. Dan pada saat itulah orang-orang kafir yang melihatnya ingin jikalau mereka dijadikan Allah sebagai debu juga yang tidak akan mengalami siksaan di neraka, lalu Allah menolak permintaan dari orang-orang kafir. Naudzu billah min dzalik.

Keadilan Allah Swt. mutlak dan sempurna. Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dalam menentukan hukum, dia menghukum dengan tidak berat sebelah, tetapi sesuai dengan kemampuan. Keadilan Allah Swt. berbeda dengan keadilan manusia. Keadilan manusia bersifat relatif, semu, dan cenderung berubah-ubah karena dipengaruhi lingkungannya. Allahu Akbar!

Perilaku Orang yang Mengamalkan Al-Adl
Supaya sifat keadilan tetap dapat ditegakkan, manusia hendaknya manusia berusaha mengikuti tuntunan hukum yang tercantum dalam Al-Qur’an maupun hadis. Allah Swt. Bahkan menyuruh manusia untuk dapat berlaku adil, sebagaimana dalam firmanNya di dalam QS. An-Nahl: 90
۞إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ٩٠ 
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran
Seorang yang mempunyai sifat adil adalah orang yang berjalan lurus dan sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama, bukan ukuran ganda. Dan pada dasarnya pula, seorang yang adil adalah berpihak kepada yang benar. Dengan demikian, ia melakukan sesuatu secara patut dan tidak sewenang-wenang. ”Adil adalah kemuliaan dan pertanda kebaikan seorang muslim”. Adapun contoh perilaku orang yang mengamalkan sifat Al-Adl adalah:
Bersikap Istiqamah
Bersikap Musawah (memandang harkat dan martabat semua orang itu sama di hadapan Allah)
Bersikap amanah
Meneladani sifat Allah yang terkandung dalam sifat Al-Adl
Berikut langkah-langkah dalam meneladani sifat Allah Al-Adl:
Tanamkan keyakinan bahwa beriman kepada sifat-sifat Allah SWT. Merupakan kewajiban setiap mukmin
Perbanyak membaca buku-buku ilmu pengetahuan, baik agama maupun umum, sehingga dapat menambah wawasan tentang kebenaran kebesaran Allah SWT. dan Keperkasaan-Nya.
Biasakan membaca dan memahami Asma’ul Husna beserta maknanya, sehingga dapat meresap ke dalam hati dan tertarik untuk mengamalkannya.
Mulailah dari sekarang membiasakan diri meneladani sifat Allah SWT. Al-Adl dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan untuk anak didik: “Anakku, jangan pernah ragu dengan ketetapan-Nya, maka engkau akan menjadi orang yang adil. Berjalanlah dan bersikaplah dengan lurus. janganlah berpihak pada salah satu. Jika engkau mengikuti Al Adl Yang Mahaadil maka engkau akan menjauhi penindasan dan perbuatan zalim. Anakku, begitu banyak manusia di muka bumi ini yang merindukan keadilan. Hal itu sesungguhnya merupakan bukti bahwa di dalam dirinya terdapat percikan Al Adl. Ikutilah Al Adl yang selalu memberi seseorang sesuai haknya, menempatkan selalu pada tempatnya. Tegakkan keadilan pada siapapun walaupun terhadap keluargamu, temanmu, bahkan pada dirimu sendiri.”

ALQAYYUM: MAHA BERDIRI MENGURUSI MAKHLUK. 
Uraian sifat Al-Qayyum
Alqayyum adalah salah satu dari Asmaul Husna. AlQayyum artinya Maha (cermat) Berdiri dalam Mengurusi hamba-hambaNya. Allah berfirman dalam ayat Kursi (alBaqarah: 255), bahwa Allah tak tersentuh oleh rasa kantuk sedikitpun, tidak juga tersentuh oleh tidur. Hal ini disebabkan karena Allah-lah yang Maha Suci dari sifat-sifat kekurangan yang hanya dialami oleh makhlukNya. 
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ وَلَا نَوۡمٞۚ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ 
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.
Adapun Al-qoyyum juga berarti kesempurnaan berdiri sendiri. Al-Qoyyum mempunyai dua pengertian:
Allah berdiri sendiri, seluruh sifat-Nya Agung, dan tidak membutuhkan makhluk.
Allah mengurus langit dan bumi berikut isinya seperti para makhluk. Dia mewujudkan makhluk, menguatkan, dan menyiapkan segala yang dibutuhkan mereka agar bisa bertahan hidup. Dia tidak membutuhkan makhluk dari segi apapun. Justru merekalah yang membutuhkan Allah. 

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna Al-Qayyum
Allahlah yang mengurusi dan memperbaiki alam semesta setelah di lakukan perusakan oleh manusia, tiada yang lebih baik daripada perbuatan Allah dalam mengurusi dan memperbaikinya. Misalnya ada manusia yang mengotori tanah dengan limbah-limbah, nanti Allah akan memperbaiki juga walau jika kita melihatnya akan memerlukan waktu yang lama. 
Allah tidaklah tersentuh oleh rasa lelah, kantuk dan tidur. Suatu ketika nabi Musa A.S bertanya kepada Allah: ya Allah, tidakkah Engkau merasa lelah dalam menjaga makhluk-makhlukMu, juga alam semesta ini. Maka, Allah memerintah Musa A.S untuk mengambil sebuah cermin. Allah berfirman: ambillah sebuah cermin wahai Musa, lalu peganglah ia, satu malam saja dengan berdiri, jangan sampai cermin tersebut jatuh.
Lalu nabi Musa mengambil dan memegang cermin itu, dan berusaha berdiri semalam untuk menjaga cermin tersebut supaya tidak jatuh. Dan sampailah pertengahan malam, dan saking lelah dan berat rasa kantuk nabi Musa, maka terjatuhlah cermin itu dari tangan nabi Musa. Setelah terjatuh, maka cermin itu jatuh berkeping-keping. Lalu nabi Musa mengambil pecahan-pecahan cermin, kemudian Allah berfirman: wahai Musa, begitulah keadaanKu, andai kata Aku seperti makhluk yang mengalami rasa lelah, kantuk dan tidur, maka akan hancur berkeping-kepinglah alam semesta ini.

Perilaku Orang yang Mengamalkan Al-Qayyum 
Jika merujuk pada tabel penyelarasan karakter CEO dengan Asmaul Husna sifat Qayyum diartikan sebagai sifat mandiri dan berkomitmen. Sikap mandiri dan mempunyai komitmen harus diteladani di dalam kehidupan. Caranya dengan merintis agar dapat hidup mandiri. Pergunakanlah kesempatan belajar dengan sebaik-baiknya. Persaingan hidup yang semakin ketat menuntut kita untuk dapat hidup mandiri yakni dengan tidak bergantung dan menggantungkan harapan kepada orang lain.
Contoh perilaku orang yang mengamalkan sifat Al-Qoyyum
Tidak bergantung kepada orang lain
Tidak mudah putus asa

Meneladani sifat Allah yang terkandung dalam sifat Al-Qayyum
Adapun cara untuk meneladani sifat Allah Al-Qoyyum adalah sebagai berikut:
Tanamkan keyakinan di dalam diri bahwa beriman kepada sifat-sifat Allah SWT. merupakan kewajiban bagi setiap mukmin.
Banyak membuka wawasan dengan membaca buku dan merenungi keadaan sekitar yang dapat menambah keimanan kita terhadap sifat-sifat Allah
Mulailah memahami makna sifat Allah dan mencoba untuk mengamalkannya secara perlahan dan berkesinambungan.
Pesan untuk anak didik: Anakku, kelak ibu dan bapak guru akan pergi meninggalkanmu. Engkau akan hidup sendiri. engkau harus mandiri anakku tercinta. Ingatlah selalu al-Qoyyuum Dia Mahamandiri. Tegaklah dengan kakimu sendiri. tataplah masa depan berama Allah al Qoyyum yang akan membuatmu mandiri. Janganlah engkau bergantung kepada apapun di muka bumi. Janganlah engkau bergantung kepada berhala dunia di muka bumi. Tapi bergantunglah kepada Dia Al Qoyyum Yang Mahamandiri.

AL-GHAFFAR: MAHA PENGAMPUN
Uraian sifat Al-Ghaffar
Asal kata Al-Ghaffar adalah sitr dan taghthiyah, yang artinya “merahasiakan” atau “menutupi”. Jadi, maghfirah dari Allah Swt. itu maknanya adalah dirahasiakan dan diampuninya dosa-dosa dengan karunia dan rahmat-Nya, bukan karena taubat atau taatnya seorang hamba. Adapun taubat dan taatnya seorang hamba hanyalah sebagai media untuk mendapatkan ampunan Allah Swt. Al-Ghaffar artinya adalah Dzat yang menampakkan kebaikan dan menutupi kejelekan di dunia, dan memaafkan hukumannya di akhirat. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, makna ghafara adalah (merahasiakan), maka ada beberapa hal yang Allah Swt. rahasiakan dari hamba-hamba-Nya. Pertama, dijadikan-Nya keburukan-keburukan batin dengan ditutupi oleh kebagusan lahir mereka. kedua, pikiran jahat dan keinginan buruk mereka ditempatkan-Nya di dalam kalbu, sehingga tidak ada orang yang dapat melihatnya. Ketiga, dengan maghfirah-Nya itu pula, Allah swt. telah merahasiakan dosa-dosa manusia yang sebenarnya pantas dipermalukan di hadapan orang banyak.
Al-Ghaffar artinya maha Pengampun atau Maha Pemaaf sesuai dengan sifat-Nya, karena Dia senantiasa mengampuni hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dia Maha Pemurah lagi Maha Pengasih, terhadap hamba-hamba-Nya. Lafaz Al-Ghaffar tercantum dalam QS. Shaad: 66
رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفَّٰرُ ٦٦ 
Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Setiap manusia membutuhkan maaf dan ampunan Allah Swt. seperti mereka membutuhkan rahmat dan karunia-Nya. Allah Swt. sendiri telah berjanji untuk memberikan maaf dan ampunan bagi orang yang melakukan perbuatan yang mengundang ampunan allah seperti bertaubat, beriman, beramal shaleh dan tetap dalam petunjuk-Nya sebagaimana di dalam QS. Thaha: 82
وَإِنِّي لَغَفَّارٞ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ثُمَّ ٱهۡتَدَىٰ ٨٢ 
Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.
Diantara kesempurnaan ampunan Allah adalah meskipun seorang hamba telah melampaui batas, lalu dia bertobat dan kembali pada Allah, maka Allah akan mengampuni segala kesalahannya, baik kecil maupun besar. Hal ini diisyaratkan di dalam QS. Az-Zumar: 53
۞قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ٥٣ 
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan dalam hadis qudsi:
 رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Allah tabaraka wa ta'ala berfirman: "Wahai anak Adam, tidaklah engkau berdoa kepadaKu dan berharap kepadaKu melainkan Aku ampuni dosa yang ada padamu dan Aku tidak perduli, wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit kemudian engkau meminta ampun kepadaKu niscaya aku akan mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaKu dengan membawa kesalahan kepenuh bumi kemudian engkau menemuiKu dengan tidak mensekutukan sesuatu denganKu niscaya aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi." (HR. Tirmidzi No. 3463 Abu Isa berkata hadits ini hasan gharib)
Allah Swt. telah mengungkapkan kunci maaf dan ampunan-Nya dengan taubat, istighfar, iman, beramal shaleh, berbuat baik kepada sesama, memaafkan mereka, berusaha keras meraih karunia Allah, berbaik sangka kepada Allah, dan amalan lainnya yang dijadikan sebagai media untuk mendapatkan ampunan-Nya.

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna Al-Ghaffar
Al-Ghaffar adalah nama Allah yang menunjukkan sifatNya bahwa Allah Maha Pengampun yang akan memberikan ampunan pada hambaNya yang mu’min. Allah amat senang dalam memberikan ampunan (maghfirah) kepada hambaNya jikalau hamba tersebut mau memohon ampunan padaNya. Allah memerintah hambaNya untuk meminta ampunan padaNya, karena tiada hamba yang selalu berada di atas kebenaran 100 %. Beberapa Nabi juga mengalami hal yang sama, mereka ada yang melakukan kekhilafan, lalu Allah memberitahu cara mereka memohon ampunan, lalu mereka memohon ampunan dan bertaubat pada Allah SWT. Allah berfirman dalam QS. Nuh: 10-12.
 فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارٗا ١٠ يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا ١١ وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٰلٖ وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّٰتٖ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَٰرٗا ١٢ 
Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun; niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat; dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

Perilaku Orang yang Mengamalkan Al-Ghaffar 
Sebagai hamba Allah, kita hendaknya berusha memiliki sifat pemaaf, lapang dada, dan berjiwa besar, sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan kita sebagai manusia. Apabila perilaku demikian telah dibiasakan. Maka akan tercipta suasana aman, tertib, dan tentram di lingkungan kita. Sebagai hamba-Nya yang mengimani Allah Maha Pengampun, hendaklah terus-menerus memohon ampun kepada Allah Swt. Agar kita senantiasa bersih dari murka Allah. Apalagi pernah melakukan dosa besar, harus lebih banyak beristighfar kepada Allah Swt.
Contoh Perilaku orang mengamalkan makna sifat Al-Ghaffar:
Pemaaf
Tidak menaruh dendam
Tegas

Meneladani sifat Allah yang terkandung dalam sifat Al-Ghaffar
Adapun cara untuk meneladani sifat Allah Al-Ghaffar adalah sebagai berikut:
Tanamkan keyakinan di dalam diri bahwa beriman kepada sifat-sifat Allah SWT. merupakan kewajiban bagi setiap mukmin.
Banyak membuka wawasan dengan membaca buku dan merenungi keadaan sekitar yang dapat menambah keimanan kita terhadap sifat-sifat Allah
Mulailah memahami makna sifat Allah dan mencoba untuk mengamalkannya secara perlahan dan berkesinambungan.
Pesan untuk anak didik: “Betapa mulia semua nasihat ini, anaku, namun berat untuk dilaksanakan. Kita ingin senantiasa suci, namun begitu banyak kesalahan yang kita lakukan. Kadang-kadang kita lupa dan berbuat kesalahan, ingatlah Al Ghaffar Sang Maha Pengampun. Anakku, Dia-lah Al Ghaffar yang menutupi dosa-dosa hamba-Nya karena keurahan dan anugerah-Nya. Al-Ghaffar-lah telah menutupi dorongan dan kehendak-kehendakmu yang sulit terkendali. Dia-lah yang menutupi lintasan pikiran yang buruk dan apa yang terbesit dalam hati seperti prasangka dan iri dengki. Dia pula anakku, yang menutupi sekian banyak pengalaman dan masa lalumu, kesedihan maupun keinginan yang membuat hatimu susah. Dia-lah yang meenutupi segala dosamu. 

AL-BAASITH: MAHA MELAPANGKAN
Uraian sifat Al-Baasith
Al-Basith adalah nama Allah yang artinya Maha Melapangkan. Kata Al-Basith sendiri berasal dari ba-sa-tha yang berarti keterhamparan, kemudian dikembangkan menjadi “memperluas” atau ”melapangkan”.
۞وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٖ مَّا يَشَآءُۚ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرُۢ بَصِيرٞ ٢٧ 
Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat (QS. Asy-Syura [42] : 27)
Ayat di atas mengandung pesan yang tegas, bahwa terhadap distribusi rizki yang tidak merata itu jangan disikapi dengan su’uzzan, berburuk sangka seolah-olah Allah tidak adil kepada hamba-hamba-Nya. Pesan itu menjadi semakin terang setelah Allah menutup ayat di atas dengan menyatakan bahwa Dia Maha Mengetahui dan Maha Melihat.

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna Al-Baasith
Arti al-Basith adalah Maha Meluaskan rizki bagi siapa saja yang dikehendakiNya. Karena Allahlah yang melapangkan rizki dan juga menyempitkannya, yang membentangkan rizki itu dengan rahmatNya dan menahannya dengan kebijakanNya terhadap hambaNya yang bersangkutan.
إِنَّ رَبَّكَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ إِنَّهُۥ كَانَ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرَۢا بَصِيرٗا ٣٠ 
Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. Al-Isra: 30)
Firman-Nya “sesungguhnya Rabbmu melapangkan rizki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya.” Hal itu sebagai pemberitahuan bahwa Dia adalah sang Pemberi Rizki, Pengambil rizki, Penyalur rizki, serta pengendali segala urusan makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, dan akan menjadikan miskin siapa saja yang dikehendaki-Nya. Karena yang demikian itu terdapat hikmah. Oleh karena itu, Dia berfirman “Sesungguhnya Dia Mahamengetahui lagi Mahamelihat akan hamba-hamba-Nya.” Yakni, Maha Melihat siapa orang yang berhak memperoleh kekayaan dan siapa juga orang-orang yang layak hidup miskin.

Dalam kehidupan ini, makhluk Allah mengalami pasang surut kehidupan. Ada kalanya miskin, lalu Allah menjadikan dan juga termasuk manusia akan mengalami roda kehidupan. Allah sudah mengatur rizki makhlukNya, bahkan Allah sudah mengatur rizkinya semut, bakteri dan lain-lain sebagainya, Allah itu Maha Melapangkan rizki, sehingga kita sebagai hambaNya dilarang takut akan mengalami kesempitan rizki selagi kita melaksanakan perintah Allah SWT. 
Allah Swt. senantiasa membentangkan rahmat-Nya dan kasihNya untuk menerima taubat hamba yang terlanjur berbuat dosa. Dia membentangkan rezeki (memperbanyak rezeki) yang dibutuhkan hamba-Nya, dan Dia pula mempersempit rezeki kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Firman Allah Swt:
ٱللَّهُ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ 
Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. (QS. Ar Ra’d: 26)
Perilaku Orang yang Mengamalkan Al-Baasith
Dengan memahami dan menghayati makna Asmaul Husna Al-Baasith maka kita seharusnya bersyukur kepada Allah karena Alah Swt. telah melapangkan rezeki kepada kita dengan berbagai nikmat yang kita tidak akan sanggup menghitungnya. Disamping itu seharusnya memiliki sikap kerja keras di dalam mencari anugerah Allah serta bersabar jika suatu saat mengalami sedikit hambatan di dalam mencari rezeki.
Berikut contoh orang yang mengamalkan makna sifat Al-Baasith:
Pekerja keras
Ikhlas dalam melakukan suatu perbuatan
Percaya diri

Meneladani sifat Allah yang terkandung dalam sifat Al-Baasith
Adapun cara untuk meneladani sifat Allah Al-Baasith adalah sebagai berikut:
Tanamkan keyakinan di dalam diri bahwa beriman kepada sifat-sifat Allah SWT. merupakan kewajiban bagi setiap mukmin.
Banyak membuka wawasan dengan membaca buku dan merenungi keadaan sekitar yang dapat menambah keimanan kita terhadap sifat-sifat Allah
Mulailah memahami makna sifat Allah dan mencoba untuk mengamalkannya secara perlahan dan berkesinambungan.
Pesan untuk anak didik: “Anakku, banyak yang hatinya sempit, dunianya sempit, maka luaskanlah. Ingat di dalam dirimu ada cahaya dari Allah Al Baasith Yang Senantiasa Melapangkan. Anakku, kepada orang yang sempit pikirannya, maka bantullah ia, berilah ia penjelasan sehingga wawasannya menjadi luas. Kepada yang sempit dadanya, maka lapangkanlah sehingga sirna keresahannya. Kepada yang sempit rezekinya maka bantulah ia hingga terpenuhi kebutuhannya. Apabila engkau mampu melaksanakan semua itu, sesungguhnya engkau telah menjalankan amanahmu sebagai makhluk al-Basith. Bukan hanya mereka yang engkau tolong akan merasakan kelapangan, namun juga dirimu sendiri”. 

AN-NAAFI’: MAHA PEMBERI MANFAAT
Uraian sifat An-Naafi’
An-Nafii’ berarti Pemberi Manfaat Allah Swt. telah menciptakan manusia sebagai makhluk-Nya yang paling baik dan sempurna serta telah memberikan karunia yang membuat manusia menjadi makhluk yang unggul di antara makhluk yang lain. Karunia tertinggi yang diberikan Allah yaitu akal, kalbu, fitrah, dan iman. Kasih sayang Allah Swt. Tidak henti-hentinya diberikan kepada manusia, seperti kebaikan yang telah diciptakan-Nya. Jika seorang mengamati alam semesta ciptaan Allah Swt. maka semua ada manfaatnya bagi manusia. Tidak ada yang sia-sia dalam ciptaan Allah Swt.
قُل لَّآ أَمۡلِكُ لِنَفۡسِي ضَرّٗا وَلَا نَفۡعًا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُۗ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌۚ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَلَا يَسۡتَ‍ٔۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ ٤٩ 
Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah". Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya) (QS. Yunus [10] : 49)

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna An-Naafi’
Allah Swt. dalam menciptakan segala yang ada di alam ini tiada yang sia-sia. Allah mempunyai tujuan dan manfaat, sehingga ciptaan Allah mesti akan bermanfaat pada makhlukNya yang lain. Allah menciptakan bakteri umpamanya, ada sebagian besar bakteri yang juga mempunyai manfaat bagi tubuh manusia. Allah menciptakan buah manggis misalnya, maka buah ini dapat dikonsumsi sebagai buah-buahan yang segar untuk dikonsumsi, bahkan sekarang ini, kulit dari buah manggispun dijadikan sebagai obat untuk berbagai jenis penyakit yang dialami oleh manusia seperti obat penyakit kanker, jantung, kolesterol jahat (LDL) dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwasannya Allah tidak menyia-nyiakan hal-hal kecil-pun dari ciptaanNya. Allah maha Cermat dalam memberikan aspek manfaat ciptaanNya. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191: 
إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١ 
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal; (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Perilaku Orang yang Mengamalkan An-Naafi’
Dengan memahami dan menghayati makna asmaul husna An-Naafi’ maka kita bersyukur kepada Allah Swt. yang telah memberi banyak nikmat yang membawa banyak manfaat bagi kita dan orang-orang sekitar kita. Di samping itu kita berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi diri, agama, keluarga, umat, masyarakat bangsa dan negara. Dan juga orang yang mengamalkan sifat Naafi’ ia tidak tamak terhadap keduniaan karena sadar bahwa sesuatu yang dinilai baik belum tentu membawa berkah dan manfaat bagi dirinya, mau membantu tetangga atau orang lain, berupaya untuk mengerjakan hal-hal yang positif dan tidak meremehkan segala ciptaan Allah swt. Adapun ciri insan Ulil Albab adalah bisa membuktikan dan menyimpulkan bahwa ciptaan Allah itu tiada yang sia-sia.
Berikut contoh perilaku orang yang mengamalkan makna sifat an-Naafi’:
Dermawan
Sering menolong orang lain
Memiliki sikap bertanggung jawab

Meneladani sifat Allah yang terkandung dalam sifat An-Naafi’
Adapun cara untuk meneladani sifat Allah Al-Naafi’ adalah sebagai berikut:
Tanamkan keyakinan di dalam diri bahwa beriman kepada sifat-sifat Allah SWT. merupakan kewajiban bagi setiap mukmin.
Banyak membuka wawasan dengan membaca buku dan merenungi keadaan sekitar yang dapat menambah keimanan kita terhadap sifat-sifat Allah
Mulailah memahami makna sifat Allah dan mencoba untuk mengamalkannya secara perlahan dan berkesinambungan.
Pesan untuk anak didik: “Anakku, kelak di mana pun engkau berada, di posisi apapun, jadilah orang yang bermanfaat. Engkau diciptakan oleh Allah An Naafi’ Yang Maha Pemberi Manfaat. Dan engkau pun harus bisa memberi manfaat atas apapun yang kau miliki, sesedikit apapun berilah manfaat, Nak, karena Allah senantiasa memberi manfaat. Jika dirimu bermanfaat, hidupmu memberikan manfaat, sesungguhnya engkau tengah mengabdi dengan setia pada An Naafi’.”

AR-RA’UUF: MAHA BELAS KASIH
Uraian sifat Ar-Ra’uuf
Ar-Ra’uuf adalah salah satu dari Asmaul Husna. Allah mempunyai nama arRauuf yang artinya Maha belas Kasih dan Maha Memberi kepada hamba-hambaNya. Allah sudah amat termasyhur akan kedermawanannya, sehingga makna Ar-Ra’uuf bisa dimaknai dengan Maha Dermawan juga.

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna Ar-Ra’uuf
Allah Maha Memberi dan selalu memberi walaupun tidak diminta, walau hamba tidak mau beribadah dan berdoa kepadaNya, maka Allah tetap akan memberi di dunia ini. Inilah wujud cinta Allah kepada hambaNya di dunia.Ya, bukti cinta adalah memberi. Dan Allahlah yang paling banyak memberi karunia pada hambaNya. Tetapi di akhirat, Allah hanya memberikan rahmatnya pada orang-orang mu’min saja.

Perilaku Orang yang Mengamalkan Ar-Ra’uuf
Sifat kasih sayang Allah ini yaitu arRauf, sudah diamalkan dengan sempurna oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam Al-Qur’an, saking baiknya pelaksanaan amal Nabi Muhammad SAW, sampai pada akhirnya Allah menyebutkan dan memuji Nabi, lalu juga menulis perilaku Nabi sama dengan yang diinginkan oleh Allah SWT. Allah berfirman dalam Q.S at-Taubah: 28
لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨ 
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.
Orang yang mengamalkan sikap Ra’uuf, ia selalu menjalani hubungan silaturrahim dengan keluarga, mencurahkan kasih sayang kepada sesama hamba Allah bahkan terhadap hewan sekalipun, dan Tidak saling iri hati serta pandai mensyukuri nikmat dan karunia Allah Swt.

Meneladani sifat Allah yang terkandung dalam sifat Ar-Ra’uuf
Adapun cara untuk meneladani sifat Allah Ar-Ra’uuf adalah sebagai berikut:
Tanamkan keyakinan di dalam diri bahwa beriman kepada sifat-sifat Allah SWT. merupakan kewajiban bagi setiap mukmin.
Banyak membuka wawasan dengan membaca buku dan merenungi keadaan sekitar yang dapat menambah keimanan kita terhadap sifat-sifat Allah
Mulailah memahami makna sifat Allah dan mencoba untuk mengamalkannya secara perlahan dan berkesinambungan.
Pesan untuk anak didik: “Anakku, Allah memancarkan kasih sayang tanpa lelah dan tanpa bosa. Karena itu, anakku, apa yang engkau terima dari-Nya, limpahkanlah ke sekelilingmu yang mebutuhkan. Semuanya itu adalah wuwuj limpahan kasih sayang-Nya, karena Dia adalah Ar Ra’uuf Yang Maha Pelimpah Kasih sayang. Ikuti dan teladanilah Ar-Ra’uuf, anakku, niscaya engkau pun akan senantiasa mendapatkan limpahan kasih sayang.”

AL-BARR: MAHA DERMAWAN
Uraian sifat Al-Barr
Allah Swt. yang mengaruniai seluruh yang ada dengan kebaikan, pemberian, dan kemuliaan. Allah adalah Tuhan Mahaindah yang selalu berbuat kebaikan dan senantiasa memberi. Sifat Allah Maha Melimpahkan kebaikan, dan bukti ini adalah seluruh nikmat, lahir maupun batin. Makhluk tidak akan pernah kebaikan Allah walupun sekejap mata.
Kebaikan Allah ada yang umum dan khusus:
Kebaikan yang bersifat umum tersebut dalam ayat, “Tuhan kami Rahmat dan ilmu meliputi segala sesuatu” (QS. Al-A’raf [7]: 156); dan ayat “Segala nikmat yang ada pada kalian (datangnya) dari Allah” (QS. An-Nahl [16]: 53). Jadi, kebaikan Allah itu dirasakan oleh orang yang baik, jahat, penduduk langit, penghuni bumi, mukallaf, maupun bukan.
Kebaikan yang khusus, yaitu rahmat dan nikmat Allah yang diperuntukkan bagi orang yang bertakwa, seperti firman-Nya, “Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa serta menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis).” (QS. Al-A’raaf [7]: 157)

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna Al-Barr
Dialah Allah, Tuhan Yang Maha Dermawan, Yang Maha melimpahkan kebaikan. Dan Dialah Allah menganugerahkan aneka anugerah untuk kemaslahatan makhluk-Nya, anugerah yang sangat luas dan tidak terhingga. Walaupun terhadap manusia yang durhaka kepada-Nya, namun Dia tetap melimpahkan kebaikan-Nya kepada mereka. Firman Allah Swt :
إِنَّا كُنَّا مِن قَبۡلُ نَدۡعُوهُۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡبَرُّ ٱلرَّحِيمُ ٢٨ 
Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dialah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang (Q.S. Ath Thuur: 28)
Penggunaan sifat al-Barru dengan ar-Rahim untuk mengisyaratkan bahwa aneka kebaikan itu diberikan Allah atas kasih sayangNya yang melimpah. Dan Dia tak mengharapkan imbalan apapun dari kebaikan pada makhlukNya.  
Allah adalah Maha Baik, dalam memperlakukan hambaNya selalu baik. Bahkan dalam kemaslahatan suatu penyakit umpamanya, Allah maha Baik dalam hal memberikan yang baik terhadap hamba tersebut. Orang yang mengalami sakit apapun bentuknya, manakala dia ikhlas dalam menjalaninya, maka penyakit inipun akan menjadi kaffarahnya atau penghapus dosanya bagi mereka yang mengalaminya.
Sakit dalam pandangan Allah adalah merupakan cara untuk membersihkan hamba dari dosa-dosa. Nabi Bersabda bahwasannya semua yang menimpa manusia tiada lain bertujuan untuk menyempurnakan manusia sehingga sewaktu mereka akan menghadap Allah nanti dalam keadaan suci bersih. Nabi bersabda bahwasannya termasuk duri yang terinjak oleh manusia, bilamana hamba tersebut merasa ikhlas maka ia akan menjadi penghapus akan dosa-dosa hamba tersebut. Allah berfirman dalam berbagai ayat dalam AlQur’an bahwa Dia tidak akan berbuat dzalim atau menganiaya hambaNya. Artinya apabila seorang hamba berbuat baik, pasti Allah memberikan pahala. Bahkan Allah akan memberikan pahala satu kebaikan dengan melipatkannya menjadi minimal 10 kali lipat, 70 kali lipat, seratus kali lipat,dan tujuh ratus kali lipat. Dan bahkan ada amal-amal yang diberi pahala oleh Allah SWT seribu kali lipat bahkan tidak terhingga (bighairi hisaab) misalnya adalah pahala berbuat sabar.

Perilaku Orang yang Mengamalkan Al-Barr
Orang yang beriman terhadap sifat Allah Al Barr, tentu ia akan menunjukkan sikap perilaku terpuji, di antaranya sebagai berikut:
Perilaku Menghargai Orang Lain
Kebanyakan orang hanya ingin dihargai oleh orang lain, sedangkan dirinya tidak peduli terhadap orang lain. Perilaku demikian itu tidak terpuji dan harus dihindari. Namun demikian, seorang yang beriman itu tidak terpuji dan harus dihindari. Namun demikian, seorang yang beriman terhadap sifat Allah Al Barr, tentu memiliki perilaku menghargai orang lain, baik terhadap pendapatnya maupun karya-karyanya. Orang lain adalah orang selain kita, siapa pun dia, baik saudara, orang tua, anak, istri, suami, mertua, teman sebaya, dan sebagainya. Mereka ialah orang yang sangat kita butuhkan kehadirannya dalam hidup kita, tanpa mereka hidup kita akan terasa hampa dan bahkan terasa berat. Oleh sebab itu, kita harus meghargai mereka.
Perilaku Peduli terhadap Sesama 
Perilaku peduli terhadap sesama merupakan perwujudan dari keimanan terhadap sifat Allah Al Barr. Peduli terhadap sesama manusia mengandung arti bahwa kita tidak bersikap acuh tak acuh atau masa bodoh dengan orang lain, melainkan selalu menaruh perhatian yang besar terhadap orang lain, di mana pun dan kapan pun. Di sekolah peduli terhadap guru dan teman, di rumah peduli terhadap orang tua dan saudara, di masyarakat peduli terhadap semua orang yang ada di sekeliling kita. Sehingga pada akhirnya kita akan menjadi orang yang berakhlak terpuji.

Meneladani sifat Allah yang terkandung dalam sifat Al-Barr
Adapun cara untuk meneladani sifat Allah Al-Barr adalah sebagai berikut:
Tanamkan keyakinan di dalam diri bahwa beriman kepada sifat-sifat Allah SWT. merupakan kewajiban bagi setiap mukmin.
Banyak membuka wawasan dengan membaca buku dan merenungi keadaan sekitar yang dapat menambah keimanan kita terhadap sifat-sifat Allah
Mulailah memahami makna sifat Allah dan mencoba untuk mengamalkannya secara perlahan dan berkesinambungan.
Pesan untuk anak didik: “Anakku, Allah Swt. senantiasa membawa kebaikan, dia-lah Al-Barr Yang Mahadermawan yang harus engkau teladani. Bukankah engkau pun menyukai orang yang dermawan. Ketika engkau bederma maka kekayaanmu tidak akan berkurang karena Al-Barr akan segera membalasnya. Karena itu, dermakan sebagian dari apa yang kau miliki bukan hanya harta bendamu. Senyummu yang manis ketika engkau bertatap muka, sapaanmu yang lembut ketika engkau mengucapkan salam, itu semua adalah sifat kedermawanan yang diberikan oleh Allah Al Barr.”




AL-FATTAAH: MAHA MEMBUKA, MAHA PEMBERI KEMENANGAN
Uraian sifat Al-Fattaah
Al-Fattaah memiliki arti Yang Maha Pembuka. Al-Fattaah berasal dari kata fataha. Dari arti kalimat Al-Fattah, dapat disimpulkan bahwa hanya Allah Swt. yang bisa melakukannya, dan merupakan salah satu sifat-Nya. Problematika kehidupan manusia beraneka ragam, dari yang kecil sampai yang besar. Berbagai problematika tersebut tentu ingin diselesaikan. Selain berusaha/berikhtiar untuk menyelesaikan beragam masalah tersebut, henaknya kita juga berdoa. Doa merupakan permintaan kepada Al-Fattaah agar problematika yang kita inginkan dapat selesai. 

Menurut Said bin Ali bin wahf al-Qahthani artinya Maha Memutuskan hukum. Al-Fatiih berarti hakim; dan Al-Fattaah adalah bentuk mubalaghah. Keputusan Allah Swt. ada dua macam:
Keputusan dengan hukum agama dan hukum pidana
Keputusan dengan hukum takdir
Keputusan hukum agama itu berbentuk syariat yang diemban para rasul yang dibutuhkan orang mukallaf agar mereka selalu berada pada jalan yang lurus. Adapun keputusan hukum pidana adalah keputusan Allah terhadap para Nabi yang berperkara dengan para penentang, dan para wali-Nya vs musuh Allah, dengan memuliakan dan menyelamatkan para wali serta pengikut mereka; dan merendahkan dan mengadzab musuh mereka. termasuk dalam hukum pidana adalah pengadilan dan keputusan Allah pada hari kiamat terhadap para hamba, ketika Dia membalas amalan mereka.
Adapun keputusan hukum Allah yang bersifat takdir adalah setiap ketetapan Allah terhadap hamba-Nya yang meliputi kebaikan, keburukan, manfaat, bahaya, pemberian, atau pencegahan. Allah Swt. Maha Memutuskan hukum dan Maha Mengetahui yang melimpahkan khazanah kebaikan dan kemuliaan-Nya kepada hamba yang taat. Begitu sebaliknya, dia menghukum musuh atas dasar karunia dan keadilan.

Memahami Kebesaran Allah SWT melalui Asmaul Husna Al-Fattaah
Al-Fattaah (Maha Membuka) yakni Allah Maha Membuka akan pintu rahmatNya. Allah membuka jalan bagi manusia supaya mereka dapat menggali karunia Allah yang menyebar di alam semesta raya ini. Al-Fattaah (Maha Pemberi Kemenangan) Allah juga akan membukakan pintu-pintu kemenangan bagi hamba yang menjalankan perintahNya.
Adapun Al-Fattaah (Maha Memutuskan hukum) diisyaratkan dala QS. Saba ayat 26
قُلۡ يَجۡمَعُ بَيۡنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفۡتَحُ بَيۡنَنَا بِٱلۡحَقِّ وَهُوَ ٱلۡفَتَّاحُ ٱلۡعَلِيمُ ٢٦ 
Katakanlah: "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui" (QS. Saba: 26)
Ayat ini mengacu pada dikumpulkannya kita pada hari Qiyamat. Untuk diberi keputusan dengan benar dan adil. Dikatakan alFattah alAlim adalah Allah Maha Memutuskan dengan ilmu dan PengetahuanNya yang mencakup segala sesuatu, karena Dia Maha mengetahui hakikat atas segala sesuatu. Makna AlFattah lainnya adalah Allah Maha Memutuskan antara orang-orang mu’min dan kafir.
Dalam surat al-A’raf: 89, Allah berfirman: 
قَدِ ٱفۡتَرَيۡنَا عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا إِنۡ عُدۡنَا فِي مِلَّتِكُم بَعۡدَ إِذۡ نَجَّىٰنَا ٱللَّهُ مِنۡهَاۚ وَمَا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّعُودَ فِيهَآ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّنَاۚ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَاۚ رَبَّنَا ٱفۡتَحۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ قَوۡمِنَا بِٱلۡحَقِّ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰتِحِينَ ٨٩ 
Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang benar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki(nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya
Adapun bukti Al-Fattaah (Maha Pemberi Kemenangan) yakni ketika Nabi Muhammad s.a.w diberi janji oleh Allah berupa isyarat kemenangan bahwasannya Allah akan memberikan pada mereka kemenangan yang dekat, Allah berfirman: 
۞لَّقَدۡ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ يُبَايِعُونَكَ تَحۡتَ ٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمۡ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيۡهِمۡ وَأَثَٰبَهُمۡ فَتۡحٗا قَرِيبٗا ١٨ وَمَغَانِمَ كَثِيرَةٗ يَأۡخُذُونَهَاۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمٗا ١٩ 
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya); Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. AlFath: 18-19)

Perilaku Orang yang Mengamalkan Al-Fattaah
Orang yang mengamalkan Al-Fattaah ia selalu terbuka dalam bersikap (Open Minded), senang menerima nasihat dari orang lain, ikhlas dan senang menolong orang yang membutuhkan pertolongan, menjalin hubungan baik antara sesama hamba Allah dan berlomba-lomba dalam hal kebaikan. Adapun cerminan sikap lainnya adalah ia senantiasa cinta akan kebenaran dan berperilaku tegas serta pemberani.

Meneladani sifat Allah yang terkandung dalam sifat Al-Fattaah
Adapun cara untuk meneladani sifat Allah Al-Fattaah adalah sebagai berikut:
Tanamkan keyakinan di dalam diri bahwa beriman kepada sifat-sifat Allah SWT. merupakan kewajiban bagi setiap mukmin.
Banyak membuka wawasan dengan membaca buku dan merenungi keadaan sekitar yang dapat menambah keimanan kita terhadap sifat-sifat Allah
Mulailah memahami makna sifat Allah dan mencoba untuk mengamalkannya secara perlahan dan berkesinambungan.
Pesan untuk anak didik: “Anakku, bagaimana hatimu? Hatimu harus terbuka dalam menerima kebenaran. Jangan sekali-kali kau tutup hatimu, anakku, karena engkau hamba Al-Fattaah Sang Maha Pembuka. Dia-lah yang yang membuka penutup rezeki hambanya hingga ia berkecukupan. Dia membuka hatimu yang tertutup hingga menerima kebenaran. Dia yang membuka pikiranmu yang tertutup, hingga engkau dapat menyelesaikan persoalan dan mengatasi kesulitan hidup. Karena itu, anakku, mohonlah kepada Allah agar senantiasa dibukakan semua pintu hati, dan menyiraminya dengan cahaya kebenaran dan kebajikan.



















Metode dan Media Pembelajaran 
      Setelah mempelajari materi asmaul husna, siswa MTs Kelas VII diharapkan memenuhi kompetensi berikut ini:
KELAS VII SEMESTER GENAP MTs

STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR

Akidah
Memahami al-asma' al-husna 



1.1

Menguraikan 9 al-asma' al-husna (al-‘Aziiz, , al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum)



1.2
Menunjukkan bukti kebenaran tanda-tanda kebesaran Allah melalui pemahaman terhadap 9 al-asma' al-husna (al-‘Aziiz, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum)



1.3
Menunjukkan perilaku orang yang mengamalkan 9 al-asma' al-husna (al-‘Aziiz, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum)



1.4
Meneladani sifat-sifat Allah yang terkandung dalam 9 al-asma' al-husna (al-‘Aziiz, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum) dalam kehidupan sehari-hari



Untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar dari materi Asmaul Husna diperlukan metode, teknik, dan media pembelajaran yang relevan dan menyenangkan. Pemilihan metode, teknik dan media pembelajaran harus memperhatikan:
Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran
Kesesuaian dengan materi pembelajaran
Kesesuaian dengan karakter siswa
Kesesuaian dengan fasilitas yang tersedia
Kesesuaian dengan gaya belajar
Kesesuaian dengan teori pembelajaran

Beberapa metode dan teknik pembelajaran dapat dilakukan untuk menyampaikan materi Asmaul Husna, seperti metode ceramah, sosio drama, metode kerja kelompok, resitasi, dan sebagainya.

Metode Pembelajaran
Metode Ceramah
Metode ceramah adalah suatu metode pembelajaran dimana guru memberikan uraian atau penjelasan kepada sejumlah murid pada waktu tertentu (waktunya terbatas) dan tempat tertentu pula. Dilaksanakan dengan bahasa lisan untuk memberikan pengertian terhadap suatu masalah. Dalam metode ceramah ini murid duduk, melihat dan mendengarkan serta percaya bahwa apa yang diceramahkan guru itu adalah benar, murid mengutip ikhtisar ceramah semampu murid itu sendiri dan menghafalnya tanpa ada penyelidikan lebih lanjut oleh guru yang bersangkutan. 

Setelah dicermati, metode ceramah merupakan metode pembelajaran yang klasik dan umum digunakan dan metode ini pun tidak luput dari beberapa kelemahan yakni sebagai berikut:
Menggiring penggunaan verbalisme
Bila selalu digunakan dan terlalu lama akan membosankan
Guru menganggap bahwa siswa mengerti dan tertarik pada ceramahnya
Menyebabkan siswa menjadi pasif.

Metode ceramah sesuai untuk dijadikan sebagai salah satu metode di dalam pembelajaran Asmaul Husna, karena materi yang diajarkan berkenaan dengan ketauhidan. Adapun dalam menyikapi berbagai kelemahan metode ceramah ini, dapat diatasi dengan mengombinasikannya dengan berbagai metode lainnya, seperti metode tanya jawab, metode resitasi, metode kerja kelompok, dan sebagainya. Adapun contoh sistematika dalam penyampaian pembelajaran Asmaul Husna dengan menggunakan metode ceramah adalah sebagai berikut
Sistematika Metode Ceramah dalam Pembelajaran Asmaul Husna
Kemukakan tujuan pembelajaran Asmaul Husna, yakni anak didik mengenal, meyakini dan menghayati, menguraikan, menyajikan fakta dan fenomena kebenaran, serta meneladani sfat-sifat Allah yang terkandung dalam Asmaul Husna.
Kemukakan arti dari kata "asma ". Kata asma dalam bahasa Arab artinya adalah nama-nama. Berikan pemahaman bahwa asma atau nama-nama disini adalah khusus dan mutlak milik Allah Swt.
Kemukakan arti dari kata “alhusna” adalah terbaik. Berikan pemahaman bahwa alhusna disini dalam artian Yang Paling dan Yang Maha.
Padukan kedua kata tersebut, yakni kata “asma” dan kata “husna”, menjadi kata majemuk Asmaul Husna. Berikan arti atas kata majemuk tersebut, yakni amaul husna artinya adalah nama-nama Terbaik yang mencerminkan kebesaran Allah dan keagunganNya yang mesti menyatu dalam diriNya.
Bacakan ayat al-Qur’an terkait dengan definisi Asmaul Husna, seperti QS. Thaha ayat 8.
Berikan contoh ayat al-Qur’an yang mengandung asmaul husna, seperti pada QS. Al Hasyr ayat 24.
Berikan pemahaman mengenai anjuran untuk memohon dan berdoa kepada Allah dengan menggunakan dan menyebut asma-Nya, seperti dalam QS. Al-A’raaf 180.
Berikan motivasi kepada anak didik untuk menghafal asmaul husna, sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits riwayat Bukhari Muslim “Sungguh Allah mempunyai 99 nama, 100 kurang satu, barang siapa menghafalnya, maka ia akan masuk surga”. 
Sebutkan rincian Asmaul Husna yang menjadi inti materi pembelajaran.
Uraikan Asmaul Husna tersebut beserta menunjukkan fenomena-fenomena yang menunjukkan bukti kebenaran Asmaul Husna tersebut.
Berikan perenungan terhadap Asmaul Husna tersebut dan lakukan penghayatan, tujuannya agar anak didik dapat meyakini Asmaul Husna tersebut.
Berikan contoh-contoh sikap dalam meneladani sifat-sifat Allah Swt. yang tertuang dalam Asmaul Husna tersebut.
Berikan kesempatan agar anak didik untuk menanyakan hal yang belum dipahaminya atau untuk mengembangkan wawasannya.
Berikan pertanyaan terkait materi yang telah dibahas sebagai bentuk evaluasi.
Guru memberikan kesimpulan dan menyuruh anak didik untuk senantiasa mengamalkan sifat-sifat dalam meneladani asmaul husna tersebut.
Guru menutup ceramah dengan kata-kata yang memikat dan memotivasi.
Agar siswa dapat memahami pembelajaran, jangan lupa sertakan contoh konkret disetiap uraian asmaul husna, dikarenakan siswa masih berada dalam tahap perkembangan di awal jenjang peralihan dari anak-anak menuju dewasa, sehingga cara berpikir anak-anak masih membekas dalam diri siswa, sebagaimana telah kita pahami bahwa anak-anak berpikir secara konkret. 

Metode Resitasi
Metode penugasan (resitasi) merupakan metode penyajian bahan yang dilakukan guru untuk memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Tugas yang diberikan guru dapat dilaksanakan di kelas, halaman sekolah, laboratorium, perpustakaan, rumah siswa, atau di mana saja asal sesuai dengan bentuk dan jenis tugasnya.

Metode resitasi ini dipilih dengan tujuan agar siswa dapat menunjukkan fenomena-fenomena alam yang merupakan bukti atas wujud kebesaran Allah dalam 9 Asmaul Husna yang sudah dipaparkan, melalui pemberian tugas “Mencari Asmaul Husna dalam Kisah Inspiratif”. Berikut contoh sistematika metode resitasi “Mencari Asmaul Husna dalam Kisah Inspiratif”
SISTEMATIKA METODE RESITASI PEMBELAJARAN ASMAUL HUSNA
Fase pemberian tugas. Guru memberikan beberapa kisah dalam bentuk lembaran kertas kepada siswa. Guru menginstruksikan siswa untuk mencari beberapa Asmaul Husna yang nampak atau muncul di dalam kisah tersebut dan menuliskannya di kolom jawaban yang telah disediakan.
Langkah pelaksanaan tugas. Guru memberikan bimbingan dan pengawasan agar siswa dapat secara mandiri mengerjakan tugas yang diberikan.
Fase mempertanggungjawabkan tugas. Guru menginstruksikan siswa untuk mengumpulkan lembar jawaban. dan guru mengadakan sesi tanya jawab dan diskusi kelas. 

Metode Kerja Kelompok
Guru membagi siswa atas beberapa kelompok untuk menyelesaikan suatu tugas. Pengelompokkan dapat dilakukan oleh anak didik sendiri berdasarkan pemilihan teman yang menurutnya lebih dekat. Dan pengelompokkan dapat pula dilakukan oleh guru atas pertimbangan-pertimbangan pedagogis, di antaranya untuk membedakan anak didik yang cerdas, normal, dan yang lemah. 

Metode kerja kelompok ini cocok dijadikan sebagai suatu metode pembelajaran dikarenakan dapat membuat siswa lebih aktif dan membuat siswa bebas dalam mengungkapkan gagasannya. Dalam pembelajaran Asmaul Husna, dengan metode kerja kelompok diharapkan siswa dapat memahami, meneladani dan dapat memberikan contoh orang yang mengamalkan sikap teladan dari 9 Asmaul Husna.
Berikut contoh sistematika metode kerja kelompok dalam pembelajaran asmaul husna.
Sistematika Metode Kerja Kelompok dalam Pembelajaran 
Asmaul Husna
Berikan uraian singkat mengenai 9 Asmaul Husna yang menjadi inti materi dalam pembelajaran, yakni mengenai uraian asmaul husna beserta artinya, agar siswa memiliki pemahaman yang mendasar mengenai inti materi yang dibahas sehingga diharapkan ia dapat menjawab tugas kelompok yang diberikan oleh guru.
Bagi siswa menjadi beberapa kelompok dan dalam satu kelompok terdiri atas 9 siswa
Tampilkan 9 gambar melalui slide di dalam power point
Berikan tugas kepada setiap kelompok, untuk menganalisis ke-9 gambar tersebut dan temukan keterkaitan gambar tersebut dengan 9 asmaul husna yang menjadi materi pembelajaran
Setiap kelompok, menuliskan jawabannya dikertas selembar.
Pilihlah seorang siswa dari masing-masing kelompok, secara acak. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa atas tugas yang diberikan.
Suruhlah, masing-masing siswa tersebut untuk mempresentasikan gagasannya atau jawaban kelompoknya.
Berikanlah aspresiasi terhadap keaktifan siswa, dengan memberikan reward dan pujian.
Berikanlah jawaban yang tepat atas tugas tersebut, dan berikanlah simpulan dan penegasan atas inti materi dalam pembelajaran asmaul husna.
Berikan resitasi (PR) kepada masing-masing kelompok untuk menganalisis suatu kisah dan menemukan asmaul husna yang terdapat dalam kisah tersebut, lalu jawabannya ditulis di kertas. 

Metode Sosiodrama
Metode sosiodrama adalah metode pembelajaran melalui drama atau sandiwara, akan tetapi tidak disiapkan naskahnya terlebih dahulu. Tidak pula diadakan pembagian tugas yang harus mengalami latihan lebih dahulu, tapi dilaksanaan seperti sandiwara di panggung dengan tujuan:
Agar anak didik mendapatkan keterampilan sosial sehingga diharapkan nantinya tidak canggung menghadapi situasi sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Menghilangkan perasaan-perasaan malu dan rendah diri yang tidak pada tempatnya, maka ia dilatih melalui temannya sendiri untuk berani berperan dalam sesuatu hal. Hal ini disebabkan karena memang ada anak didik yang disuruh ke depan kelas saja tidak berani apalagi berbuat sesuatu seperti bicara di depan orang dan sebagainya.
Mendidik dan mengembangkan kemampuan untuk mengemukakan pendapat di depan teman sendiri atau orang lain
Membiasakan diri untuk sanggup menerima dan menghargai pendapat orang lain.

Metode sosiodrama ini dilakukan setelah guru menjelaskan ke-9 asmaul husna. Metode Sosiodrama ini digunakan sebagai suatu metode pembelajaran yang dapat memberikan kesan tersendiri bagi siswa, mengenai bagaimana contoh perilaku yang menggambarkan sikap teladan atas suatu makna dari sifat Asmaul Husna. Sehingga diharapkan siswa dapat lebih mudah dalam meneladani sikap terpuji tersebut di dalam kehidupan sehari-hari. Adapun contoh sistematika metode sosiodrama di dalam pembelajaran asmaul husna, sebagai berikut.
Sistematika Metode Sosiodrama dalam Pembelajaran Asmaul Husna
Pilihlah 9 pasang siswa.
Tugaskanlah para siswa tersebut untuk mencontohkan sifat-sifat/sikap yang menggambarkan keteladanan terhadap ke-9 asmaul husna dengan cara mengekspresikannya melalui drama atau sandiwara.
Tugaskanlah siswa yang lainnya (yang tidak terpilih) untuk mengamati dan menganalisis drama tersebut dengan cara menghubungkan ke-9 drama tersebut dan mencocokkannya dengan ke-9 asmaul husna yang tengah dibahas.
Perintahkanlah mereka untuk menulis jawaban dan gagasannya di dalam kertas selembar.
Setelah siswa selesai menjawab, kumpulkanlah tugas.
Berilah kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
Komentarilah kegiatan pembelajaran (sosiodrama).
Berikanlah kesimpulan atas kegiatan pembelajaran.

Media Pembelajaran
Adapun media pembelajaran yang dapat digunakan di dalam pembelajaran Asmaul Husna adalah: Media Audio (Speaker), Media Visual (Gambar) serta Media Audio Visual (Video)




Evaluasi Pembelajaran
PENILAIAN KELOMPOK DISKUSI
Penilaian kelompok yang maju/presentasi
KELOMPOK: …
No
Nama Siswa
Aspek yang dinilai
Skor Maks
Nilai
Ketuntasan
Tindak Lanjut



a
B
c


T
BT
R
P

1











2











3











Dst











Keterangan: 
T : Tuntas mencapai nilai ....( disesuaikan dengan nilai KKM ) 
BT : Belum Tuntas jika nilai yang diperoleh kurang dari nilai KKM 
R : Remedial 
P : Pengayaan
Aspek dan rubrik penilaian:
a. Kejelasan dan kedalaman informasi
1) Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan kedalaman
informasi lengkap dan sempurna, skor 30.
2) Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan kedalaman
informasi lengkap dan kurang sempurna, skor 20.

3) Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan kedalaman
informasi kurang lengkap, skor 10.
b. Keaktifan dalam diskusi
1) Jika kelompok tersebut berperan sangat aktif dalam diskusi, skor 30.
2) Jika kelompok tersebut berperan aktif dalam diskusi, skor 20.
3) Jika kelompok tersebut kurang aktif dalam diskusi, skor 10.
c. Kejelasan dan kerapian presentasi 
Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan sangat jelas dan rapi, skor 40. 
Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan jelas dan rapi, skor 30. 
Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan jelas dan kurang rapi, skor 20. 
Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan kurang jelas dan tidak rapi, skor 10. 

  
Penilaian individu peserta didik dalam diskusi  
Guru diharapkan untuk memiliki catatan sikap atau nilai-nilai karakter yang dimiliki peserta didik selama dalam proses pembelajaran. Catatan terkait dengan sikap atau nilai-nilai karakter yang dimiliki boleh peserta didik dapat dilakukan dengan tabel berikut ini: 
No
Nama
Aktifitas
Jumlah Skor
Tingkat Penguasaan nilai (MK, MP, MT BT)
Keterangan



Keaktifan
Kerja
sama
Disiplin






1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4




1

















2

















Dst


















Rubrik penilaian: 
Apabila peserta didik belum memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator. 
Apabila sudah memperlihatkan perilaku tetapi belum konsisten yang dinyatakan dalam indikator. 
Apabila sudah memperlihatkan perilaku dan sudah kosisten yang dinyatakan dalam indikator. 
Apabila sudah memperlihatkan perilaku kebiasaan yang dinyatakan dalam indikator. 
Catatan: 
Penguasaan nilai disesuaikan dengan karakter yang diinginkan.
MK = 4 – 12
MB = 1- 11
MT = 8 - 10 
BT = 4-7 
Keterangan: 
BT : Belum Terlihat (apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator). 
MT : Mulai Terlihat (apabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum konsisten). 
MB : Mulai Berkembang (apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten). 
MK : Membudaya/kebiasaan (apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan








PENILAIAN INDIVIDU
Aspek Religi 
Nama: ......
No.
PERNYATAAN
PILIHAN JAWABAN
SKOR



Yakin
Ragu-Ragu
Tidak Yakin


1.
Allah adalah Sang Pemilik Asmaul Husna





2.
Keperkasaan Allah tidaklah mampu diukur oleh manusia ataupun makhluk lainnya.





3.
Segala jenis dosa apapun akan diampuni Allah, kecuali dosa syirik





4.
Allah Maha Melapangkan rezeki atas makhluk yang dikehendaki-Nya





5.
Allah Maha Pemberi Manfaat, dan Allah tidaklah menciptakan segala sesuatu secara sia-sia





6.
Kedermawanan Allah dapat dirasakan oleh semua makhluk-Nya tanpa terkecuali. 





7.
Allah Maha Pembuka Dan Pemberi Kemenangan, contohnya seperti saat fathul Makkah





8.
Allah tidak pernah mendzalimi makhluk-Nya, Allah senantiasa berlaku Adil





9.
Allah Maha Cermat Dalam Mengurus Makhluk-Nya, tidak ada satupun yang luput dari pengawasanNya





10.
Allah memiliki nama-nama terbaik







Aspek Afektif
Nama: .......
No.
PERNYATAAN
PILIHAN JAWABAN
SKOR



A
B
C
D


1
Senang menolong orang yang kesusahan. 






2
Bersikap adil dan mandiri, Bisa berlaku adil pada diri sendiri dan juga orang yang dicintai.






3
Memiliki rasa percaya akan kebesaran Allah






4
Berusaha meraih prestasi terbaik 






5
Cermat dalam belajar dan bekerja 






6
Bersikap hormat pada manusia yang lebih tua. 






7
Belajar dan berilmu






8
Ingin berbagi “ilmu/pengalaman/rizki” pada orang lain.  






9
Menyayangi makhluk Allah termasuk pada hewan, tumbuhan dan lain-lain. 






10
Senang menolong orang lain. 






JUMLAH SKOR






KETERANGAN






A (Selalu) = Skor 4
B (Sering) = Skor 3
C (Kadang-kadang) = Skor 2
D (Tidak Pernah) = Skor 1
Nilai 23-25 = A (Sangat Baik)
Nilai 15- 23 = B (Baik)
Nilai 08-15 = C (Cukup)
Nilai 00-07 = D (Kurang)

CATATAN :
...................................................................................................................................................................



Aspek Kognitif dan Psikomotor
Soal Essay:
Jelaskan secara singkat ke-9 Asmaul Husna yang telah dipelajari!
Tuliskanlah satu ayat yang mengandung Asmaul Husna!
Sebutkan contoh perilaku dalam meneladani Asmaul Husna ”Al-’Adl”!
Sebutkan bukti kebenaran atas sifat Allah dalam Asmaul Husna ”Al-Qoyyum” di dalam fenomena alam yang nampak!
Mengapa kita harus mengenal Asmaul Husna?

















LAMPIRAN

9 Gambar yang Digunakan dalam Metode Kerja Kelompok (tujuan: Dapat memberikan contoh orang yang mengamalkan sikap dari 9 Asmaul Husna)







KISAH INSPIRATIF (METODE RESITASI)
Menemukan Asmaul Husna dalam penggalam kisah, dengan tujuan: siswa dapat menunjukkan fenomena-fenomena alam yang merupakan bukti atas wujud kebesaran Allah dalam 9 Asmaul Husna yang sudah dipaparkan.

Carilah Asmaul Husna yang terkandung dalam penggalan kisah berikut!
Di zaman Nabi Musa ada seorang fasik yang suka melakukan kejahatan. Penduduk negeri tersebut tidak mampu lagi mencegah perbuatannya, lalu mereka berdoa kepada Allah.Maka Allah telah mewahyukan kepada Nabi Musa supaya mengusir pemuda itu dari negerinya agar penduduknya tidak ditimpa bencana. Lalu keluarlah pemuda tersebut dari kampunganya dan sampai di suatu kawasan terpencil. 
Selang beberapa hari pemuda itu jatuh sakit. Merintihlah ia seorang diri, lalu berkata: "Wahai Tuhanku, kalaulah ibuku, ayahku dan isteriku berada di sisiku sudah tentu mereka akan menangis melihat waktu akan memisahkan aku dengan mereka (mati). Andai kata anak-anakku ada di sisi pasti mereka berkata: "Ya Allah, ampunilah ayah kami yang telah banyak melakukan kejahatan sehingga ia diusir dari kampungnya ke tanah lapang yang tidak berpenghuni dan keluar dari dunia menuju akhirat dalam keadaan putus asa dari segala sesuatu kecuali rahmat-Mu ya Allah."
Akhir sekali pemuda itu berkata: Ya Allah, janganlah Kau putuskan aku dari rahmat-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa terhadap sesuatu. Ya Allah hanya Engkau saja harapanku", Setelah berkata maka matilah pemuda itu.
Kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Musa, firmannya: "Pergilah kamu ke tanah lapang di sana ada seorang wali-Ku telah meninggal. Mandikan, bungkus dengan kafan dan shalatkanlah dia."
Setiba di sana Nabi Musa mendapati yang mati itu adalah pemuda yang diusirnya dahulu. Lalu Nabi Musa berkata: "Ya Allah, bukankah dia ini pemuda fasik yang Engkau suruh aku usir dahulu." Allah berfirman: "Benar. Aku kasihan kepadanya disebabkan rintihan sakitnya dan berjauhan dari keluarganya, lalu ia hanya berharap utuh kepadaKu. Apabila seseorang mu’min yang tidak mempunyai saudara mati, maka semua penghuni langit dan bumi akan sama menangis kerana kasihan kepadanya. Oleh karena itu bagaimana Aku tidak mengasihaninya sedangkan Aku adalah zat Yang Maha Penyayang di antara penyayang."
Sebutkan sikap Rasulullah (dalam meneladani sikap dari Asmaul Husna) yang dapat diteladani dalam penggalan kisah berikut!
Dalam suatu khutbahnya Rasulullah s.a.w. telah menyeru supaya manusia berbuat baik antara satu sama lain terutama terhadap anak-anak yatim, janda-janda bahkan juga terhadap binatang.  
Pada suatu hari ketika baginda Rasul berjalan pulang ke rumahnya, lalu dilihat seekor kucing sedang tidur dengan anak-anaknya di atas jubah yang hendak dipakainya. Sikap baginda yang mengasihi binatang membuat baginda menggunting sebagian jubah yang selebihnya untuk di pakai. Dengan itu kucing-kucing tersebut tidak terganggu.
Suatu ketika yang lain pula sedang baginda berjalan-jalan disuatu lorong di bandar, tiba-tiba baginda memandang seekor unta sedang berlari dengan kencangnya. Orang ramai berlarian untuk mengelakkan diri khawatir akan tertabrak oleh unta itu. Tetapi anehnya ketika unta itu sampai kepada Rasulullah ia menjadi jinak, lalu ia dipeluk oleh baginda. Sejurus kemudian pemilik unta itu datang dengan dengan tergesa-gesa sambil mengucapkan terima kasih kepada Rasul.
Rasulullah amat tahu apa yang menyebabkan unta itu lari dari pemiliknya. Baginda berkata: "Kenapa engkau tidak memberikan makanan yang cukup untuk unta ini? Ia mengadu lapar kepadaku. Kalau engkau dapat menjaganya dengan baik, ia tidak akan lari." 
Orang itu sangat terkejut mendengar kata-kata Rasulullah, dia tidak menyangka bahwa unta itu bisa mengadu kepada Rasulullah dan baginda memahami bahasa binatang itu. Lantas ia mengakui kesalahannya. Sejak saat itulah ia sadar bahwa unta itu merupakan hamba Allah juga yang harus dijaga dengan baik dan tidak boleh membebani dengan beban-beban berat di luar kesanggupannya.


DAFTAR PUSTAKA

A. Wahid. 2009. Akidah Akhlak MTs. Kelas VII Semester 1 dan 2 Berdasarkan Standar Isi 2008. Bandung: CV Armico
Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Al-Sheikh. 2003. Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsiir. Diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar dan Abdurrahim Mu’thi. Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’i 
Ahmad Taufik Nasution. 2009. Melejitkan SQ dengan Prinsip 99 Asmaul Husna Merengkuh Puncak Kebahagian dan Kesuksesan Hidup. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Ary Ginanjar Agustian. 2011. Nasihat Asmaul Husna. Jakarta: PT. Arga Publishing
Ida Rosyidah. 2009. Perencanaan Pengajaran dalam Dimensi Kekinian. Bandung
Kementrian Agama. 2014. Akidah Akhlak/Buku Guru untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas VII edisi pertama. Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia
Kementrian Agama. 2014. Akidah Akhlak/Buku Siswa untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas VII edisi pertama. Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia
Kementrian Agama Republik Indonesia. 2014. Akidah Akhlak untuk MA/IPA, IPS, Bahasa Kelas X. Jakarta: Kementrian Agama 
Rizem Aizid. 2012. Asmaul Husna untuk Nutrisi Otak Kanan dan Kiri. Yogyakarta: Diva Press
Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani. 2010. Syarah Asma’ Allah al-Husna fii Dhau’ al-Kitab wa as-Sunnah. Diterjemahkan oleh: Sharih al-Khalid. Jakarta: Embun Publishing Group 
Udin wahyudin. 2012. Advanced Learning Islamic Education 1. Bandung: Grafindo Media Pratama
Zakiah Daradjat, dkk. 2011. Metodik Khusus pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara 
Aplikasi kutubuttis’ah
Anonim. 2015. Peneladanan Sepuluh Asmaul Husna. http://kisahmuslim.blogspot.co.id/2015/09/peneladanan-sepuluh-asmaul-husna.html?m=1 ,18 Maret 2017 pukul 13.43 WIB

KEPEMIMPINAN MENURUT ISLAM


KEPEMIMPINAN DAN JABATAN
MAKALAH

Untuk memenuhi tugas perkuliahan mata kuliah Hadits III dan Pembelajarannya

Dosen
Dr. H. Maslani, M.Ag





Oleh
Iis Istiqomah 1152020093
Imam Ubaidilah 1152020096
M. Luthfi Iman Muqodas 1152020122
M. Zam Zam 1152020124





JURUSAN/PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017



KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. karena atas rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad Saw. yang atas ridho-Nya mampu membawa umat manusia dari jurang kegelapan pada jalan kebenaran.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya, maka dari itu kami harapkan segala kritik dan saran yang bersifat membangun untuk memperbaiki makalah ini.
Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang kepemimpinan dan jabatan..
Terimakasih kepada dosen mata kuliah Hadits III dan Pembelajarannya, orangtua, dan kawan-kawan yang memberikan dorongannya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Penulis berharap, semoga makalah ini dapat memberikan suguhan ilmu pengetahuan yang menambah wawasan kepada pembaca.

       Bandung, April 2017

        Penulis











DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 1
BAB II PEMBAHASAN 3
Hadits Mengenai Tanggung Jawab Pemimpin 3
Hadits Mengenai Tugas dan Fungsi Pemimpin 16
Hadits Mengenai Batasan Ketaatan Kepada Pemimpin 26
BAB III PENUTUP 42
DAFTAR PUSTAKA 43



















BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Allah SWT menciptakan manusia dengan berbagai sifat dan karakteristik yang berbeda dengan makhluk lainnya. Ketika manusia –sebagai makhluk sosial- hidup di dalam satu wilayah tertentu, mereka memerlukan seseorang yang di pandang mampu mengatur dan mewujudkan kemaslahatan. Seseorang yang mereka butuhkan itu hasrus memiliki kelebihan0kelebihan tertentu yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang yang hidup di wilayah itu. Fenomena itulah yang mendorong lahirnya seorang pemimpin dengan sejumlah hak dan kewajiban kepemimpinannya.
Saat ini banyak sekali pemimpin yang tidak menyadari mengenai tanggung jawab dan perannya sebagai pemimpin. Kebanyakan dari mereka terlalu sibuk dengan kekuasaan yang ingin di capai. Dan tanpa mereka sadari hal itu berdampak buruk pada kemslahatan rakyatnya.
Perkembangan kehidupan manusia terutama pada zaman modern ini tidak bisa lepas dari keberadaan seorang pemimpin dengan pola kepemimpinan yang dijalankannya. Kehadiran mereka mampu menciptakan tatanan dan keteraturan sosial. Selain dalam konteks yang lebih luas kepemimpinan dalam sebuah negara misalnya, diharapkan mampu mewujudkan keadilan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti keadilan ekonomi, politik, hukum, sosial, budaya dan sebagainya. Pemimpin sebagai panutan masyarakat. Untuk mewujudkan kepemimpinan seperti itu maka perlu adanya tuntunan yang diyakini kebenarannya dan implementasinya dapat memenuhi ketentuan agama dan harapan masyarakat.
Maka dari itu, dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai kepemimpinan dan jabatan.
Rumusan Masalah
Setelah latar belakang masalah diketahui, penulis merumuskannya dalam pertanyaan berikut ini:
Apa yang dimaksud dengan pemimpin?
Mengapa pentingnya mengetahui tugas dan fungsi kepemimpinan?
Bagaimana aplikasi kepemimpinan yang baik dalam kehidupan?




























BAB II
PEMBAHASAN

Hadits mengenai Tanggung Jawab Pemimpin
Teks hadits 
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ فِي مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ قَالَ فَسَمِعْتُ هَؤُلَاءِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَحْسِبُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالرَّجُلُ فِي مَالِ أَبِيهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Takhrij hadits 
Jenis Hadits
Hadits diatas termasuk hadits marfu’ karena periwayatannya sampai kepada Rasulullah Saw. Jalur periwayatan hadits bisa dilihat dalam pembahasann tashih dan I’tibar selanjutnya.
Kualitas Hadits
Kualitas hadits diatas termasuk ke dalam hadits shahih. Sumber : Bukhari Kitab : Mencari pinjaman dan melunasi hutang Bab : Budak bertanggungjawab dengan harta tuannya, ia tidak boleh menggunakannya kecuali seizin tuannya No. Hadist : 2232.
Tashih dan I’tibar
Tashih 
Hadits ini shah menurut sanad. Sebagaimana jalur periwayatannya yaitu: Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail -> Salim bin 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab -> Muhammad bin Muslim bin 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin Syihab ->Syu'aib bin Abi Hamzah Dinar ->Al Hakam bin Nafi'
Adapun biografi musnidnya yaitu: 
Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail
Nama Lengkap : Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail
Kalangan : Shahabat
Kuniyah : Abu 'Abdur Rahman
Negeri semasa hidup : Madinah
Wafat : 73 H
ULAMA
KOMENTAR

Ibnu Hajar Al Atsqalani
Shahabat

Adz Dzahabi
Shahabat

Salim bin 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab

Nama Lengkap : Salim bin 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab
Kalangan : Tabi'in kalangan pertengahan
Kuniyah : Abu 'Umar
Negeri semasa hidup : Madinah
Wafat : 106 H
ULAMA
KOMENTAR

Ibnu Hibban
disebutkan dalam 'ats tsiqaat

Muhammad bin Sa'd
Tsiqah

Al 'Ajli
Tsiqah

Ibnu Hajar al 'Asqalani
Tsabat 'Abid Fadil

Ibnu Hajar al 'Asqalani
salah Satu Ahli fikih yg tujuh


Muhammad bin Muslim bin 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin Syihab
Nama Lengkap : Muhammad bin Muslim bin 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin Syihab
Kalangan : Tabi'ut Tabi'in kalangan pertengahan
Kuniyah : Abu Bakar
Negeri semasa hidup : Madinah
Wafat : 124 H
ULAMA
KOMENTAR

Ibnu Hajar al 'Asqalani
faqih hafidz mutqin

Adz Dzahabi
seorang tokoh

Syu'aib bin Abi Hamzah Dinar
Nama Lengkap : Muhammad bin Muslim bin 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin Syihab
Kalangan : Tabi'ut Tabi'in kalangan pertengahan
Kuniyah : Abu Bakar
Negeri semasa hidup : Madinah
Wafat : 124 H
ULAMA
KOMENTAR

Ibnu Hajar al 'Asqalani
faqih hafidz mutqin

Adz Dzahabi
seorang tokoh

Al Hakam bin Nafi'
Nama Lengkap : Al Hakam bin Nafi'
Kalangan : Tabi'ul Atba' kalangan tua
Kuniyah : Abu Al Yaman
Negeri semasa hidup : Syam
Wafat : 222 H
ULAMA
KOMENTAR

Yahya bin Ma'in
Tsiqah

Abu Hatim Ar Rozy
Tsiqah Shaduuq

Al 'Ajli
la ba`sa bih

Ibnu Hibban
disebutkan dalam 'ats tsiqaat

Dari segi matan hadits ini baik dan tidak ada pertentangan dengan yang lain.
Dari rawi hadits ini diriwayatkan oleh perawi yang shahih periwayatannya.
I’tibar
Terdapat dalam Shahih Bukhari Kitab : Mencari pinjaman dan melunasi hutang Bab : Budak bertanggungjawab dengan harta tuannya, ia tidak boleh menggunakannya kecuali seizin tuannya No. Hadist : 2232.
Terjemah hadits dan keynote point
Terjemah hadits 
(BUKHARI - 2232) : Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib berkata, dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepadaku Salim bin 'Abdullah dari 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhuma bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam (kepala Negara) adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami dalam keluarganya adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya dan akan diminta pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya dan akan diminta pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut". Dia ('Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhuma) berkata: "Aku mendengar semua itu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan aku munduga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda"; "Dan seorang laki-laki pemimpin atas harta bapaknya dan akan diminta pertanggung jawaban atasnya dan setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.
Keynote point : kepemimpinan melekat kepada masing-masing individu, sesuai dengan tingkat kepemimpinannya.
Menjadi pemimpin adalah amanah yang harus dilaksanakan dan dijalankan dengan baik oleh pemimpin tersebut, karena kelak Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu.
Kata kunci dari hadits diatas menurut perspektif penulis adalah kepemimpinan melekat kepada masing-masing individu, sesuai dengan tingkat kepemimpinannya. Setiap orang adalah pemimpin, minimal untuk dirinya sendiri. Memimpin diri sendiri adalah dengan cara menghindari segala aktifitas yang negatif, baik jasmani maupun rohani. Makan dan minum didapat dengan cara yang halal, meninggalkan makanan dan minuman yang makruh, apalagi yang haram. Di sini, kehalalan dan kesehatan dari makanan dan minuman menjadi perhatian utama.
Bila ditinjau dari perannya, masing-masing punya panggung dan tanggungjawabnya sendiri. Siapapun mereka, baik seorang kepala rumah tangga, ibu rumah tangga, maupun para pembantu yang bekerja di rumah. Panggung dan peran tidak boleh ditukar. Semuanya harus proporsional. Seorang suami bertanggungjawab penuh kepada keluarganya, temasuk mencari nafkah secara optimal di sektor publik. Sementara istri, bertanggungjawab atas sektor domestik, di lingkungan rumah. Sedangkan para pembantu, bertanggungjawab atas pekerjaan yang diembankan kepadanya.
Panggung dan peran dalam kepemimpinan ini bila benar-benar dilaksanakan secara benar dan proporsional akan memunculkan harmonisasi. Tetapi bila panggung dan peran tertukar akibatnya juga akan terbalik-balik. 
Menyikapi hal tang demikian maka sikap kita sebaiknya adalah berusaha menjadi pemimpin yang bijak.


Analisis 
Menurut paradigma penulis, kepemimpinan merupakan sesuatau yang sangat vital dan mesti dimiliki oleh setiap orang. Maka dari itu pentinglah kita mengetahui urgensi dari kepemimpinan itu sendiri. Maka diri itu penulis akan memaparkan mengenai pengertian, uslhub serta pengaplikasian hadits mengenai tanggung jawab seorang pemimpin.
Pengertian tanggung jawab seorang pemimpin
Disebutkan dalam kamus lisanul arab, kata al qaudu “memimpin atau menuntun” lawan kata dari as-sauqu “mengiring”, seperti perkataan menuntun binatang dari depan dan mengiring binatang dari belakang. Dalam makna bahasa ini terdapat isyarat yang menarik. Intinya, posisi pemimpin adalah di depan agar menjadi petunjuk bagi anggota-anggotanya dalam kebaikan dan menjadi pembimbing bagi mereka kepada kebenaran. Tanggung jawab manusia terhadap dirinya akan lebih kuat intensitasnya apabila ia mentiliki kesadaran yang mendalam. Tanggung jawab manusia terhadap dirinya juga muncul sebagai akibat keyakinannya terhadap suatu nilai .
Pengertian pemimpin secara umum adalah orang yang mampu membimbing, mengontrol dan mempengaruhi pikiran, perasaan dan tingkah laku seseorang. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa pemimpin merupakan seseorang yang menyebabkan seseorang atau kelompok lain untuk bergerak menuju kearah tujuan-tujuan tertentu sehingga ia memiliki tanggung jawab agar orang yang dipimpinnya dapat meraih tujuan yang akan dicapainya.
Sedangkan pengertian dari kepemimpinan adalah suatu proses yang membutuhkan tanggung jawab dalam membimbing, mengontrol dan mempengaruhi pikiran, perasaan dan tingkah laku seseorang ataupun kelompok sehingga dapat mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan akan membawa seseorang atau kelompok tersebut menuju kearah yang lebih baik dan selalu berada dalam jalan kebenaran 
Tanggung jawab juga berkaitan dengan kewajiban. Kewajiban adalah sesuatu yang dibebankan terhadap seseorang. Kewajiban merupakan bandingan terhadap hak dan dapat juga tidak mengacu kepada hak. Maka tanggung jawab dalam hal ini adalah tanggung jawab terhadap kewajibannya. Kewajiban dibagi menjadi 2 macam, yaitu:
Kewajiban Terbatas
Kewajiban ini tanggung jawab diberlakukan kepada setiap orang. Contohnya undang-undang larangan membunuh, mencuri yang disampingnya dapat diadakan hukuman-hukuman. Kewajiban ini tanggung jawab diberlakukan kepada setiap orang. Contohnya undang-undang larangan membunuh, mencuri yang disampingnya dapat diadakan hukuman-hukuman. Kewajiban ini tanggung jawab diberlakukan kepada setiap orang. Contohnya undang-undang larangan membunuh, mencuri yang disampingnya dapat diadakan hukuman-hukuman. 
Kewajiban tidak Terbatas
Kewajiban ini tanggung jawabnya diberlakukan kepada semua orang. Tanggung  jawab terhadap kewajiban ini nilainya lebih tinggi, sebab dijalankan oleh suara hati, seperti keadilan dan kebajikan.
Ushlub mengenai urgensi menjadi seorang pemimpin
Pentingnya pemimpin dan kepemimpinan ini perlu dipahami dan dihayati oleh setiap umat Islam di negeri yang mayoritas warganya beragama Islam ini, meskipun Indonesia bukanlah negara Islam.
Allah SWT telah memberi tahu kepada manusia, tentang pentingnya kepemimpinan dalam islam, sebagaimana dalam Al-Quran kita menemukan banyak ayat yang berkaitan dengan masalah kepemimpinan.
(((((( ((((( (((((( (((((((((((((((( (((((( ((((((( ((( (((((((( ((((((((( ( ((((((((( (((((((((( (((((( ((( (((((((( (((((( (((((((((( (((((((((((( (((((((( ((((((((( (((((((((( ((((((((((( (((( ( ((((( ((((((( (((((((( ((( (( ((((((((((( ((((   

 Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al Baqarah: 30)
Ayat ini mengisyaratkan bahwa khalifah (pemimpin) adalah pemegang mandat Allah SWT untuk mengemban amanah dan kepemimpinana langit di muka bumi. Ingat komunitas malaikat pernah memprotes terhadap kekhalifahan manusia dimuka bumi.
Kemudian dijelaskan dalam QS. Al-Anbiya ayat 73:
( ((((((((((((((( (((((((( ((((((((( ((((((((((( (((((((((((((( (((((((((( (((((( ((((((((((((( ((((((((( ((((((((((( ((((((((((( ((((((((((( ( (((((((((( ((((( (((((((((( ((((   
Artinya: Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah.
Ayat selanjutnya dalam QS. Sajdah ayat 24
((((((((((( (((((((( (((((((( ((((((((( ((((((((((( ((((( ((((((((( ( (((((((((( ((((((((((((( (((((((((( ((((   
Artinya: dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.
Dari beberapa ayat alquran diatas telah jelaslah bahwa pemimpin dan kepemimpinannya mendapat sorotan penting dalam al-quran. Hal ini tidak diragukan lagi bahwa kita diperintah menjadi seorang pemimpin minimal untuk dirinya sendiri.
Aplikasi
Gelar pemimpin umat layak diberikan kepada mereka yang mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi umat itu dan mengantarkannya dengan selamat sampai kepada tujuan yang dicita-citakan. Orang yang menghantarkan tidak selalu berjalan didepan, terkadang disamping, di tengah, dimana saja menurut jalan keadaan jalannya, diperlukan guna keselamatan orang yang diantarkannya.
Tidak hanya sekedar mengantar para anggotanya agar sampai pada tujuan yang diharapkannya. Seorang pemimpin juga harus memiliki suatu komitmen yang didukung oleh kemampuan, integritas, kepekaan terhadap perubahan dan perkembangan yang terjadi di sekelilingnya dan juga memiliki keberanian untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.
Namun dewasa ini, jika kita melihat realita yang ada sulit sekali kita mendapati pemimpin yang memiliki kriteria yang telah disebutkan di atas. Banyak pemimpin yang hanya mementingkan ego pribadi demi mementingkan kesejahteraan bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Mereka bersikap sedemikian rupa seolah-olah kepemimpinan mereka tidak akan dipertanggungjawabkan suatu saat nanti. Hal ini bisa jadi disebabkan karena kurangnya tingkat keimanan yang dimiliki oleh seorang pemimpin, sehingga ia terpengaruh oleh hal-hal yang negatif dan menyalahi aturan agama, bahkan aturan yang berlaku di tempat tersebut.
Lalu yang menjadi persoalan adalah selain dari realita sosial permasalahn mengenai kepemimpinan yang telah dipaparkan diatas penulis ingin pula memaparkan mengenai kiprah kepemimpinan seorang perempuan dalam jabatan politik menurut perspektif ulama kontemporer.
Politik dalam Islam dikenal dengan as-siyasah yang artinya segala aktivitas manusia yang berkaitan dengan penyelesaian berbagai konflik dan menciptakan keamanan bagi masyarakat.  Sedangkan pemimpin adalah seorang yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.
Dikalangan fuqoha atau ahli fiqih menyatakan bahwa peran wanita dalam politik masih menjadi perdebatan dan perbedaan pendapat. Namun pendapat banyak ulama terutama para fuqoha salaf sepakat bahwa wanita dilarang menjadi pemimpin. Kesepakatan ini didasari oleh firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 34 yang berbunyi:
Artinya: ”Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka) wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya. Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.”
Hal yang senada juga dapat ditemui dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari “Tidak akan beruntung  suatu kaum yang meyerahkan kepemimpinannya kepada seorang perempuan”. Inilah yang menjadi dasar kesepakatan para ulama terhadap kepemimpinan perempuan.
Pernyataan dan kesepakatan ulama ini menjadi pertanyaan dan pernyataan bahwa Islam mendeskriditkan atau mengenyampingkan dan menganggap wanita itu lebih rendah kedudukannya dalam Islam. Berdasarkan pandangan inilah mulai bermunculan adanya berbagai faham yang menyatakan diri sebagai kaum feminisme yang bercita-cita memajukan Islam.
Pandangan Ulama Kontemporer tentang kepemimpinan wanita dalam berpolitik
Ulama kontemporer ternama Yusuf Al-Qordhawi memiliki pandangan dan pendapat yang berbeda terhadap kepemimpinan wanita dalam berpolitik. Beliau menjelaskankan bahwa penafsiran terhadap surat an-nisa ayat 34 bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita dalam lingkup keluarga atau rumah tangga. Jika ditinjau tafsir surat An-Nisa ayat 34 bahwa laki-laki adalah pemimpin wanita, bertindak sebagai orang dewasa terhadapnya, yang menguasainya, dan pendidiknya tatkala dia melakukan penyimpangan. “Karena Allah telah mengunggulkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Yakni, karena kaum laki-laki itu lebih unggul dan lebih baik daripada wanita. Oleh karena itu kenabian hanya diberikan kepada kaum laki-laki.
Laki-laki menjadi pemimpin wanita yang dimaksud ayat ini adalah kepemimpinan dirumah tangga, karena laki-laki telah menginfakkan hartanya, berupa mahar, belanja dan tugas yang dibebankan Allah kepadanya untuk mengurus mereka. Tafsir ibnu katsir ini menjelaskan bahwa wanita tidak dilarang dalam kepemimpinan politik, yang dilarang adalah kepemimpinan wanita dalam puncak tertinggi atau top leader tunggal yang mengambil keputusan tanpa bermusyawarah, dan juga wanita dilarang menjadi hakim. Hal inilah yang mendasari Qardhawi memperbolehkan wanita berpolitik.
Qordhawi juga menambahkan bahwa wanita boleh berpolitikdikarenakan pria dan wanita dalam hal mu’amalah memiliki kedudukan yang sama hal ini dikarenakan keduanya sebagai manusia mukallaf yang diberi tanggung jawab penuh untuk beribadah, menegakkan agama, menjalankan kewajiban, dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Pria dan wanita memiliki hak yang sama untuk memilih dan dipilih, sehingga tidak ada dalil yang kuat atas larangan wanita untuk berpolitik. Namun yang menjadi larangan bagi wanita adalah menjadi imam atau khilafah (pemimpin negara).
Quraish Shihab juga menambahkan bahwa dalam Al-Qur’an banyak menceritakan persamaan kedudukan wanita dan pria, yang membedakannya adalah ketaqwaanya kepada Allah. Tidak ada yang membedakan berdasarkan jenis kelamin, ras, warna kulit dan suku. Kedudukan wanita dan pria adalah sama dan diminta untuk saling bekerjasama untuk mengisi kekurangan satu dengan yang lainnya, sebagai mana di jelaskan dalam surat At-Taubah ayat 71 yang berbunyi:
Artinya: ”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Islam sebenarnya tidak menempatkan wanita berada didapur terus menerus, namun jika ini dilakukan maka ini adalah sesuatu yang baik, hal ini di nyatakan oleh imam Al-Ghazali bahwa pada dasarnya istri tidak berkewajiban melayani suami dalam hal memasak, mengurus rumah, menyapu, menjahid, dan sebagainya. Akan tetapi jika itu dilakukan oleh istri maka itu merupakan hal yang baik. Sebenarnya suamilah yang berkewajiban untuk memberinya/menyiapkan pakaian yang telah dijahid dengan sempurna, makanan yang telah dimasak secara sempurna. Artinya kedudukan wanita dan pria adalah saling mengisi satu dengan yang lain, tidak ada yang superior. Hanya saja laki-laki bertanggung jawab untuk mendidik istri menjadi lebih baik di hadapan Allah SWT.
Sebenarnya hanyalah permainan kaum feminis saja yang menyatakan bahwa laki-laki superior dibandingkan dengan wanita, agar mereka dapat melakukan hal-hal yang melampaui batas, dengan dalih bahwa wanita dapat hidup tanpa laki-laki, termasuk dalam hal seks, sehingga muncullah fenomena lesbian percintaan sesama jenis, banyaknya fenomena kawin cerai karena sang istri menjadi durhaka terhadap suami, padahal dalam rumah tangga pemimpin keluarga adalah laki-laki, sedangkan dalam hal berpolitik tidak ada larangan dalam islam untuk berpolitik dan berkarier.
Taqiyuddin al-Nabhani menjelaskan ada tujuh syarat seorang kepala negara atau (Khalifah) dapat di bai’at yaitu muslim, laki-laki, baligh, berakal, adil, merdeka dan mampu. Syarat muslim m erupakan syarat mutlak untuk mengangkat pemimpin dalam sebuah negara yang mayaritas penduduk islam, dan dilarangkan mengangkat pimpinan dari kalangan kafir. Hal ini termaktub dalam surat An-Nisa ayat 144 yang berbunyi:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?
Kedua laki-laki, wanita dalam hal ini dilarang menjadi khalifah, imam, ulil amri, atau kepala negara dalam hal ini kepala negara tidak dimaksud Presiden, yang dimaksud disini adalah kepemimpinan yang dapat mengambil keputusan tanpa dimusyawarahkan terlebih dahulu, sedangkan presiden dalam membuat keputusan harus dilakukan dengan bermusyawarah terlebih dahulu terhadap pembantu-pembantunya baik menteri, staff ahli, maupun dengan penasihat pribadinya.
Ketiga baligh, dengan syarat baligh maka pemimpin dibebani oleh hukum, sehingga apa yang di pikulnya atau diamanahi kepada mereka maka akan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum, baik hukum dunia, maupun hukum dihadapan Allah.
Keempat berakal, orang yang hilang akalnya dilarang menjadi pemimpin karena akan mengambil keputusan yang tidak tepat, dan kehilangan akal akan membebaskan seseorang dari hukum, sehingga tidak dapat dimintai pertanggung jawabannya. Kelima adil,  yaitu pemimpin yang konsisten dalam menjalani agamanya hal ini termaktub dalam surah An-Nahl ayat 90.
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”
Keenam, merdeka terbebas dari perbudakan sehingga dapat mengambil keputusan tanpa interfensi dari tuannya. Dan seorang hamba sahaya dilarang diangkat menjadi pemimpin karena dia tidak memiliki wewenang untuk mengatur orang lain dan bahkan terhadap dirinyapun tidak memiliki wewenang.
Ketujuh, mampu melaksanakan amanat khilafah, jika tidak mampu menjalankan amanat maka tunggulah hasilnya. Sebagaimana di jelaskan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari ” Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah Kiamat” (HR Bukhari).
Qardhawi dalam hal ini kembali mempertegas bahwa kepemimpinan kepala negara dimasa sekarang ini kekuasaannya tidak sama dengan seorang ratu atau khalifah di sama lalu yang identik dengan seorang imam dalam shalat. Sehingga kedudukan wanita dan pria dalam hal perpolitikan adalah sejajar karena sama-sama memiliki hak memilih dan hak dipilih. Dengan alasan bahwa wanita dewasa adalah manusia mukallaf (diberi tanggung jawab) secara utuh, yang dituntut untuk beribadah kepada Allah, menegakan agama, dan berdakwah.
Menurut Abu Hanifah seorang perempuan dibolehkan menjadi hakim, tetapi tidak boleh menjadi hakim dalam perkara pidana. Sementara Imam Ath-Thabari dan aliran Dhahiriyah membolehkan seseorang perempuan menjadi hakim dalam semua perkara, sebagaimana mereka membolehkan kaum perempuan untuk menduduki semua jabatan selain puncak kepemimpinan Negara.
Dari pemaparan diaatas dakat kita tarik kesimpulan bahwa para ulama memiliki pandangan yang beragam mengenai kepemimpinan seorang wanita.

Hadits Mengenai Tugas dan Fungsi pemimpin
Teks Hadits
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ الْحَكَمِ حَدَّثَنِي أَبُو الْحَسَنِ قَالَ قَالَ عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ لِمُعَاوِيَةَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ إِمَامٍ يُغْلِقُ بَابَهُ دُونَ ذَوِي الْحَاجَةِ وَالْخَلَّةِ وَالْمَسْكَنَةِ إِلَّا أَغْلَقَ اللَّهُ أَبْوَابَ السَّمَاءِ دُونَ خَلَّتِهِ وَحَاجَتِهِ وَمَسْكَنَتِهِ فَجَعَلَ مُعَاوِيَةُ رَجُلًا عَلَى حَوَائِجِ النَّاسِ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ حَدِيثٌ غَرِيبٌ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ وَعَمْرُو بْنُ مُرَّةَ الْجُهَنِيُّ يُكْنَى أَبَا مَرْيَمَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمْزَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُخَيْمِرَةَ عَنْ أَبِي مَرْيَمَ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ هَذَا الْحَدِيثِ بِمَعْنَاهُ وَيَزِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ شَامِيٌّ وَبُرَيْدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ كُوفِيٌّ وَأَبُو مَرْيَمَ هُوَ عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ الْجُهَنِيُّ
Takhrij Hadits
Kualitas Hadits
Hadits di atas termasuk kepada hadits gharib. Dikatakan hadits gharib karena kebanyakan dhaif secara sanad. 
Tashih dan I’tibar
Tashih
Dari segi sanad hadits di atas termasuk gharib, karena kebanyakan sanadnya dhaif.
Jalur sanad 1: Amru bin Murrah > Abu Al Hasan > Ali bin Al Hakam > Isma'il bin Ibrahim bin Muqsim > Ahmad bin Mani' bin 'Abdur Rahman.
Biografi sanad di atas adalah sebagai berikut:
Nama Lengkap : Amru bin Murrah
Kalangan : Shahabat
Kuniyah : Abu Thalhah
Negeri semasa hidup : Maru
Wafat : 
ULAMA
KOMENTAR

Ibnu Hajar al 'Asqalani
Shahabat

Adz Dzahabi
Shahabat


Nama Lengkap : Abu Al Hasan
Kalangan : Tabi'in (tdk jumpa Shahabat)
Kuniyah : Abu Al Hasan
Negeri semasa hidup : Syam
Wafat : 
ULAMA
KOMENTAR

Ibnul Madini
majhul

Al Hakim
tsiqah ma`mun

Ibnu Hajar al 'Asqalani
majhul


Nama Lengkap : Ali bin Al Hakam
Kalangan : Tabi'in kalangan biasa
Kuniyah : Abu Al Hakam
Negeri semasa hidup : Bashrah
Wafat : 131 H
ULAMA
KOMENTAR

Ibnu Hibban
disebutkan dalam 'Ats Tsiqat'

Ahmad bin Hambal
laisa bihi ba`s

Abu Hatim
la ba`sa bih

Ad Daruquthni
Tsiqah

Adz Dzahabi
Shaduuq

Ibnu Hajar
Tsiqah


Nama Lengkap : Isma'il bin Ibrahim bin Muqsim
Kalangan : Tabi'ut Tabi'in kalangan pertengahan
Kuniyah : Abu Bisyir
Negeri semasa hidup : Bashrah
Wafat : 193 H
ULAMA
KOMENTAR

Syu'bah
Sayyidul Muhadditsin

Yahya bin Ma'in
tsiqah ma`mun

Muhammad bin Sa'd
Tsiqah tsabat hujjah

Abdurrahman bin Mahdi
dia lebih kuat dari Husyaim

Yahya bin Ma'in
tsiqah ma`mun

Abu Daud
"tidak ada seorang muhaddits kecuali melakukan kesalahan, kecuali Ibnu 'Ulaiyah dan Bisyr bin al Mufadldlal"

Yahya bin Said
Lebih kuat daripada Wuhaib

As Saji
Perlu dikoreksi ulang

An Nasa'i
Tsiqah tsabat

Ibnu Hajar al 'Asqalani
Dlaif

Adz Dzahabi
Dlaif


Nama Lengkap : Ahmad bin Mani' bin 'Abdur Rahman
Kalangan : Tabi'ul Atba' kalangan tua
Kuniyah : Abu Ja'far
Negeri semasa hidup : Baghdad
Wafat : 244 H
ULAMA
KOMENTAR

An Nasa'i
Tsiqah

Maslamah bin Qasim
Tsiqah

Ad Daruquthni
la ba`sa bih

Ibnu Hibban
disebutkan dalam 'ats tsiqaat

Ibnu Hajar al 'Asqalani
Tsiqah Hafidz


Jalur sanad 2: Amru bin Murrah > Al Qasim bin Mukhaimarah > Yazid bin Abi Maryam > Yahya bin Hamzah bin Waqid > Ali bin Hajar bin Iyas.
Biografi sanad di atas adalah sebagai berikut:
Nama Lengkap : Al Qasim bin Mukhaimarah
Kalangan : Tabi'in kalangan pertengahan
Kuniyah : Abu 'Urwah
Negeri semasa hidup : Syam
Wafat : 100 H
ULAMA
KOMENTAR

Muhammad bin Sa'd
Tsiqah

Yahya bin Ma'in
Tsiqah

Abu Hatim
Tsiqah

Al 'Ajli
Tsiqah

Ibnu Kharasy
Tsiqah

Ibnu Hajar al 'Asqalani
Tsiqah

Ibnu Hibban
disebutkan dalam 'ats tsiqaat


Nama Lengkap : Yazid bin Abi Maryam
Kalangan : Tabi'in (tdk jumpa Shahabat)
Kuniyah : Abu 'Abdullah 
Negeri semasa hidup : Syam
Wafat : 144 H
ULAMA
KOMENTAR

Yahya bin Ma'in
Tsiqah

Dahim
Tsiqah

Abu Zur'ah
la ba`sa bih

Ad Daruquthni
laisa bi dzaka

Ibnu Hibban
disebutkan dalam 'ats tsiqaat

Ibnu Hajar al 'Asqalani
la ba`sa bih

Adz Dzahabi
Tsiqah


Nama Lengkap : Yahya bin Hamzah bin Waqid
Kalangan : Tabi'ut Tabi'in kalangan pertengahan
Kuniyah : Abu 'Abdur Rahman
Negeri semasa hidup : Syam
Wafat : 183 H
ULAMA
KOMENTAR

Ahmad bin Hambal
laisa bihi ba`s

Yahya bin Ma'in
Tsiqah

Abu Hatim
Shaduuq

An Nasa'i
Tsiqah

Ibnu Hibban
disebutkan dalam 'ats tsiqaat

Ya'kub bin Sufyan
Tsiqah

Al 'Ajli
Tsiqah

Ya'kub bin Syaibah
tsiqah masyhur

Adz Dzahabi
tsiqah imam

Ibnu Hajar al 'Asqalani
"tsiqah, terkena tuduhan beraliran qadariyah"


Nama Lengkap : Ali bin Hajar bin Iyas
Kalangan : Tabi'ut Tabi'in kalangan biasa
Kuniyah : Abu Al Hasan
Negeri semasa hidup : Baghdad
Wafat : 244 H
ULAMA
KOMENTAR

An Nasa'i
tsiqah ma'mun hafid

Ibnu Hajar
tsiqah hafid

Adz Dzahabi
Hafizh

Al Hakim
Syaikh


Dari segi matan hadits di atas tidak bertentangan dengan hadits yang lainnya.
Dari segi rawi hadits di atas di riwayatkan oleh Abu Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurah ibn Musa ibn Dhahar al-Sulami al-Bughi al-Tirmidzi.
I’tibar
Terdapat dalam kitab Sunan Tirmidzi, Kitab: Hukum-hukum Bab Imam Rakyat No. 1253.
Terjemah
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani', telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ibrahim telah menceritakan kepadaku Ali bin Al Hakam telah menceritakan kepadaku Abu Al Hasan ia berkata; Amr bin Murrah berkata kepada Mu'awiyah; Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang pemimpin yang menutup pintu rumahnya karena tidak mau melayani orang yang memerlukan, fakir miskin, dan sangat membutuhkan, kecuali Allah akan menutup pintu langit karena kefakiran, kesulitan dan kemiskinannya." Lalu Mu'awiyah menjadi seorang yang memperhatikan kebutuhan manusia. Ia mengatakan; Dalam hal ini ada hadits serupa dari Ibnu Umar. Abu Isa berkata; Hadits Amr bin Murrah adalah hadits gharib dan hadits ini telah diriwayatkan selain dari jalur ini. Amr bin Murrah Al Juhani dijuluki dengan Abu Maryam. Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamzah dari Yazid bin Abu Maryam dari Al Qasim bin Mukhaimirah dari Abu Maryam seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seperti hadits ini dengan maknanya. Yazid bin Abu Maryam Syami, Buraid bin Abu Maryam Kufi dan Abu Maryam, ia sebenarnya adalah Amr bin Murrah Al Juhani (H.R Timidzi, Kitab: Hukum-hukum Bab Imam Rakyat No. 1253)
Keypoint: 
Pemimpin sebagai pelayan masyarakat
Akibat seorang pemimpin yang membiarkan rakyatnya
Analisis
Pengertian
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tugas adalah yang wajib di kerjakan atau yang di tentukan untuk di lakukan; pekerjaan yang menajdi tanggung jawab seseorang; pekerjaan yang di bebankan.
Tugas merupakan sesuatu yang wajib di kerjakan atau sesuatu perintah yang telah di tentukan untuk di lakukan, pekerjaan yang menjadi tanggung jawab seseorang, pekerjaan yang di bebankan, dan hendaklah dijalankan sesuai dengan fungsi masing-masing.
Sedangkan fungsi adalah jabatan (pekerjaan) yang di lakukan. Dalam pengertian lain fungsi diartikan sebagai sekelompok aktivitas yang tergolong pada jenis yang sama berdasarkan sifat atau pelaksanaanya.
Dalil penguat
 Sebagai seorang pemimpin henaklah berudaha memposisikan dirinya sebagai pelayan dan pengayom masyarakat sebagai firman Allah SWT:
  وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya: dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. (Q.S As-Syuara ayat 215)
Dalam sebuah hadits yang diterima oleh Siti Aisyah dan diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW pernah berdo’a, “Ya Allah, siapa yang menguasai sesuatu dari urusan umatku lalu mempersulit mereka, maka persulitlah baginya. Dan siapa yang mengurusi umatku dan berlemah lembut pada mereka, maka permudahlah baginya.”
Hal tersebut menunjukkan bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya sangat perduli terhadap hambanya agar terjaga dari kedzaliman para pemimpin yang kejam dan tidak bertanggungjawab. Perintah yang kejam dikategorikan sebagai sejahat-jahatnya perintah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, sebagai berikut:
Artinya : “A’idz bin Amru r.a ketika memasuki rumah Ubaidilah bin Ziyad, ia berkata, ‘Hai anakku saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya sejahat-jahatnya pemerintahan yaitu yang kejam, maka janganlah kau tergolong dari mereka.” (H.R Bukhari dan Muslim)
Dalam penjelasan al-quran dan hadits di atas jelaslah bahwa sebagai seorang pemimpin kita harus melayani dan mengayomi rakyatnya, karena tugas utama seorang pemimpin adalah menjadi seorang yang dibutuhkan oleh rakyatnya dalam arti lain bahwa rakyat adalah sebagai tuannya. 
Karena begitu pentingnya tugas seorang pemimpin, maka Allah menjanjikan surga bagi yang mampu memikulnya dengan seadil-adilnya, dan sebuah hukuman bagi orang-orang yang menyalahgunakan kekuasaanya.
Aplikasi
       Dalam pandangan Islam, seorang pemimpin adalah seorang yang diberi amanat oleh Allah swt. sebagaimana yan telah disinggung diatas. Dengan demikian, meskipun seorang pemimpin dapat meoloskan diri dari rakyatnya karena sikap tercelanya (korupsi misalnya), ia tidak akan mampu meloloskan diri dari tuhan Allah swt.
       Oleh karena itu, seorang pemimpin hendaknya jangan menganggap dirinya sebagai manusia super yang bebas berbuat dan memerintah apasaja kepada rakyatnya. Akan tetapi, masyarakat seperti Hadits dibawah ini:
حديث معقل بن يسارعن الحسن عن عبيدالله بن زياد عاد معقل بن يسار في مرضح الذي مات فيه فقال له معقل : ان محمد ءك هديءا سمعته منرسول الله عليه وسلّم يقول : ما من عبد استرعاه الله وعية فلم يحطلها بنصيحة الا لم يجد راءحة الجنة ( اخرجه البخري) 
       Artinya:
       “Hadits ma’qil bin Yasar, dari hasan bahwasanya Ubaidillah bin Yazid mengunjungi ma’qil bertanya kepadanya: bahwasanya saya akan ceritakan kepadamu suatu hadits yang saya dengar dari Rasulullah saw bersabda: “tidak ada seorang hamba yang diberi tugas oleh Allah untuk memelihara segolongan rakyat, lalu ia tidak melakukan sesuai denga petunjuk, melainkan ia tidak memperoleh bau saya” (HR. Bukhari dan Muslim)
       Dalam syarah Riyadlussalihin yang dijelaskan oleh Muhammad bin Shalih al-Ustaimin, wajib bagi seseorang yang memegang tonggak kepemimpinan untuk bersukap lemah lembut kepada rakyatnya, berbuat baik dan selalu memperhatikan kemaslahatan mereka dengan mempekerjakan orang-orang yang ahli dalam bidangnya. Menolak bahaya yang menimpa mereka. Karena seorang pemimpin akan mempertanggung jawabkan kepemimpinannya deihadapan Allah swt.
Sebagaimana firman Allah ta’ala:
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ﴿٢١٥﴾
Artinya:
“dan rendahkanlah dirimu terhadap orang yang mengikuti. Yaitu oang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara:215)
Yakni janganlah bersikap tinggi terhadap mereka, jangan merasa tinggi akan tetapi rndahkanlah walaupun kamu orang yang berkedudukan tinggi dibanding mereka, maka hendaklah tetap merendahkan diri.
Asbabun nuzul ayat tersebut adalah, dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun ayat sebelum ayat 215. Rasulullah saw memulai dakwahnya kepada keluarga terdekatnya. Hal ini menyinggung perasaan kaum muslimin (merasa terabaikan) sehingga Allah menurunkan ayat selanjutnya ayat 215 sebagai perintah untuk juga memperhatikan kaum mukminin lainnya (diriwayatkan oleh Ibnu Jabir yang bersumber dari Ibnu Juaid).
Maka dari itu, siapa saja yang berkuasa mengendalikan urusan umat Islam, baik dalam kedudukannya sebagai amir (gubernur), khalifah, kepala negara/pemimpin rakyat dalam biang tugas tertentu, lalu dia dibebankan rakyatnya dan menjalankan perintahnya itu dengan hal-hal yang menimbulkan kesulitan bagi rakyatnya. Maka nabi mendo’akan supaya sang pemimpin itu ditimpakan siksaan Tuhan.
Sebaliknya barang siapa yang menjadi pemimpin dan bertindak dengan lemahlembut maka Nabi mudah-mudahan tuhan juga lemah lembut terhadap dirinya.
Kesimpulannya dengan setiap pemimpin harus menjalani pelayanan masyarakat sehingga hal inibisa membawanya ke surga dengan nasib yang akan dialami olehpara pemimpin yang tidak bertanggung jawab: mereka tidak akan diterima shalatnya oleh Allah. Mereka tidak akan masuk syurga, bahkan tidak akan mencium bau surga itu. Pemimpin yang tidak bertanggung jawab itu diamcam 2 kali lipat siksaan rakyat yang mereka pimpin.

Hadits Mengenai Batasan Ketaatan Pada Pemimpin
Teks hadits
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي نَافِعٌ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ صَبَّاحٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِالْمَعْصِيَةِ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ
Takhrij Hadits
Jenis Hadits
Hadits ini merupakan hadits shahih karena terdapat dalam Shahih Bukhari, Kitab : Jihad dan penjelajahan Bab : Siap mendengar dan taat kepada imam No. Hadist : 2735.
Kualitas hadits
Hadits ini merupakan hadits shahih yang bisa diterima oleh kalangan ulama hadits, karena haditsnya tergolong hadits maqbul. Adapun hadits yang digolongkan maqbul adalah jenis hadits shahih dan hasan.
Tashih dan I’tibar
Tashih
Dari segi sanad hadits di atas sampai (muttasil) kepada Rasulullah Saw.
Jalur Periwayatan 1: Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail > Nafi', maula Ibnu 'Umar > Ubaidullah bin 'Umar bin Hafsh bin 'Ashim bin 'Umar bin Al Khaththab > Yahya bin Sa'id bin Farrukh > Musaddad bin Musrihad bin Musribal bin Mustawrid.
Biografi dari periwayat di atas adalah sebagai berikut:
Nama Lengkap : Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail
Kalangan : Shahabat
Kuniyah : Abu 'Abdur Rahman
Negeri semasa hidup : Madinah
Wafat : 73 H
ULAMA
KOMENTAR

Ibnu Hajar Al Atsqalani
Shahabat

Adz Dzahabi
Shahabat


Nama Lengkap : "Nafi', maula Ibnu 'Umar "
Kalangan : Tabi'in kalangan biasa
Kuniyah : Abu 'Abdullah 
Negeri semasa hidup : Madinah
Wafat : 117 H
ULAMA
KOMENTAR

Yahya bin Ma'in
Tsiqah

Al 'Ajli
Tsiqah

An Nasa'i
Tsiqah

Ibnu Kharasy
Tsiqah


Nama Lengkap : Ubaidullah bin 'Umar bin Hafsh bin 'Ashim bin 'Umar bin Al Khaththab
Kalangan : Tabi'in kalangan biasa
Kuniyah : Abu 'Utsman
Negeri semasa hidup : Madinah
Wafat : 147 H
ULAMA
KOMENTAR

Ibnu Hajar
tsiqah tsabat

Adz Dzahabi
Tsiqah

Yahya bin Ma'in
Tsiqah

Abu Hatim
Tsiqah

Abu Zur'ah
Tsiqah

An Nasa'i
tsiqah tsabat


Nama Lengkap : Yahya bin Sa'id bin Farrukh
Kalangan : Tabi'ut Tabi'in kalangan biasa
Kuniyah : Abu Sa'id
Negeri semasa hidup : Bashrah
Wafat : 198 H
ULAMA
KOMENTAR

An Nasa'i
tsiqah tsabat

Abu Zur'ah
tsiqoh hafidz

Abu Hatim
tsiqoh hafidz

Al 'Ajli
Tsiqah

Ibnu Sa'd
tsiqah ma`mun

Ibnu Hajar al 'Asqalani
tsiqah mutqin

Adz Dzahabi
hafidz kabir


Nama Lengkap : Musaddad bin Musrihad bin Musribal bin Mustawrid
Kalangan : Tabi'in kalangan biasa
Kuniyah : Abu Al Hasan
Negeri semasa hidup : Bashrah
Wafat : 228 H
ULAMA
KOMENTAR

Yahya bin Ma'in
Shaduuq

Ahmad bin Hambal
Shaduuq

An Nasa'i
Tsiqah

Al 'Ajli
Tsiqah

Abu Hatim
Tsiqah

Ibnu Hibban
disebutkan dalam 'ats tsiqaat

Ibnu Hajar al 'Asqalani
tsiqoh hafidz

Adz Dzahabi
Hafizh


Jalur Periwayatan 2: Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail > Nafi', maula Ibnu 'Umar > Ubaidullah bin 'Umar bin Hafsh bin 'Ashim bin 'Umar bin Al Khaththab > Isma'il bin Zakariya bin Murrah > Muhammad bin Ash Shabbah.
Biografi dari periwayat di atas adalah sebagai berikut:
Nama Lengkap : Isma'il bin Zakariya bin Murrah
Kalangan : Tabi'ut Tabi'in kalangan pertengahan
Kuniyah : Abu Ziyad
Negeri semasa hidup : Kufah
Wafat : 174 H
ULAMA
KOMENTAR

Ahmad bin Hambal
Tsiqah

Yahya bin Ma'in
laisa bihi ba`s

Ibnu Kharasy
Shaduuq

Ibnu Hibban
disebutkan dalam 'ats tsiqaat

Ibnu 'Adi
"Haditsnya hasan, haditsnya tertulis"

Abu Daud
Tsiqah

Yahya
Tsiqah

An Nasa'i
Tidak masalah

Abu Hatim
hadisnya ada penguat


Nama Lengkap : Muhammad bin Ash Shabbah
Kalangan : Tabi'ul Atba' kalangan tua
Kuniyah : Abu Ja'far
Negeri semasa hidup : Baghdad
Wafat : 227 H
ULAMA
KOMENTAR

Ahmad bin Hambal
Tsiqah

Al 'Ajli
Tsiqah

Ya'kub Ibnu Syaibah
Tsiqah

Maslamah bin Qasim
tsiqah masyhur

Ibnu Hajar al 'Asqalani
Tsiqah Hafidz

Adz Dzahabi
Tsiqah Hafidz


Dari segi matan hadits di atas tidak bertentangan dengan hadits yang lain.
Dalam segi rawi, hadits di atas di riwayatkan oleh Dari segi rawi hadits diatas di riwayatkan oleh Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn Mughirah al-Ja’fi ibn Bardizbah al-Bukhari atau Imam Al-Bukhori.
I’tibar
Terdapat dalam Shahih Bukhari, Kitab : Jihad dan penjelajahan Bab : Siap mendengar dan taat kepada imam No. Hadist : 2735.
Terjemah
Telah bercerita kepada kami Musaddad telah bercerita kepada kami Yahya dari 'Ubaidullah berkata telah bercerita kepadaku Nafi' dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan diriwayatkan pula, telah bercerita kepadaku Muhammad bin Shobbah telah bercerita kepada kami Isma'il bin Zakariya' dari 'Ubaidullah dari Nafi' dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Mendengar dan taat adalah haq (kewajiban) selama tidak diperintah berbuat maksiat. Apabila diperintah berbuat maksiat maka tidak ada (kewajiban) untuk mendengar dan taat". (H.R Bukhari, Kitab : Jihad dan penjelajahan Bab : Siap mendengar dan taat kepada imam No. Hadist : 2735)
Keypoint: Batasan Ketaatan Kepada Pemimpin.
Analisis
Pengertian 
Kata taat berasal dari bahasa arab taat yang memiliki makna menuruti atau mengikuti dan menuruti keinginan atau perintah dari luar diri kita. Dengan kata lain, taat artinya tunduk, patuh saat kita mendapat perintah larangan untuk dihindari.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, taat yaitu senantiasa tunduk (kepada tuhan pemerintah, dan sebagainya) patuh menaati, mematuhi; menurut (perintah, aturan dan sebagainya) kita sebagai warga negara yang baik harus menaati pelaturan yang ada.
Sedangkan batas berarti garis (sisi) yang menjadi perhinggaan suatu bidang (ruang, daerah); ketentuan yang tidak boleh dilampaui. 


Dalil penguat
Penjelasan mengenai batasan taat kepada pemimpin telah dijelaskan dalam al-Quran surat An-Nisa ayat 59, yakni:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Lewat ayat ini Allah memerintahkan kepada hamba-hambanya  untuk menaatiNya, RasulNya dan ulil amri, yang berarti tidak ada perintah untuk taat kepada sesama makhluk yang berlaku durhaka kepada sang khaliq. Karena bila perintah untuk mentaati kemaksiatan itu dilaksanakan akan mengurangi bobot ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Ayat ini menjadi bukti penguat apa yang di sabdakan Rasulullah bahwa tidak ada keharusan untuk taat kepada ulil amri yang mengingkari Allah dan RasulNya.
Ulil amri adalah orang-orang yang diserahi kewenangan untuk mengemban kepentingan masyarakat banyak dan mashlahat-mashlahat penting. Maka yang nasuk dalam kategori ini; raja, menteri, kepala departemen, direktur, lurah, pejabat sipil, hakim, wakilnya, polisi maupun tentara. Rasulullah telah memerintahkan kepada setiap muslim mendengarkan perintah mereka ini dan untuk menindaklanjutinya baik perintah itu ia senangi atau tidak. “ boleh jadi kamu membenci sesuatu , padahal ia amat baik bagimu”. Yakni ketika ulil amri itu menyeru kita untuk berperang dan mengorbankan harta benda kita dijalan Allah, kita harus menyanggupinya, ketika mereka meminta kita untuk mengeluarkan pajak yang disyariatkan itu kita harus memberikannya: ketika mereka menganjurkan kita untuk membantu orang-orang yang tertimpa bencana maka kita harus memenuhi anjuran mereka itu. Semua itu merupakan sesuatu keharusan ntuk didengarkan dan dilaksanakan tanpa kita pedulikan apakah itu setuju dengan keinginan kita atau tidak. Dan satu lagi kita juga tidak bisa memperhitungkan apakah itu menyulitkan kita atau tidak, selama seruan itu untuk kemashlahatan orang banyak dan halal secara hukum syariat, maka harus kita lakukan.
Berbeda halnya dengan mereka memerintahkan kita untuk melakukan maksiat, misalnya memerinthkan kita untuk menuduh dan menyekap orang yang tidak bersalah apa-apa serta menyakitinya dan menyita haratnya dengan unsure menzhalimi atau permusuhan di dalam hatinya. Menganjurkan membawa perkara ke pengadilan untuk dimanipulasi dan di hukumi secara curang. Bila ulil amri memerintahkan kita untuk mengerjakan perintah yang seperti itu maka kita wajib taat kepada allah dan mengingkari mereka. Menerima keputusan Allah dan menolak perintah mereka, karena taat kepda mereka berarti sebuah keharamn yang harus dijauhi.
Dalam hadist lain tentang batas ketaatan kepada pemimpin yaitu dalam hadist:
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرِيَّةً وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يُطِيعُوهُ فَغَضِبَ عَلَيْهِمْ وَقَالَ أَلَيْسَ قَدْ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُطِيعُونِي قَالُوا بَلَى قَالَ قَدْ عَزَمْتُ عَلَيْكُمْ لَمَا جَمَعْتُمْ حَطَبًا وَأَوْقَدْتُمْ نَارًا ثُمَّ دَخَلْتُمْ فِيهَا فَجَمَعُوا حَطَبًا فَأَوْقَدُوا نَارًا فَلَمَّا هَمُّوا بِالدُّخُولِ فَقَامَ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّمَا تَبِعْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِرَارًا مِنْ النَّارِ أَفَنَدْخُلُهَا فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ خَمَدَتْ النَّارُ وَسَكَنَ غَضَبُهُ فَذُكِرَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَوْ دَخَلُوهَا مَا خَرَجُوا مِنْهَا أَبَدًا إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
Artinya : Dari Ali r.a dia berkata : Nabi mengutus pasukan (300-400 pasukan) dan menjadikan pemimpin atas mereka kepada seorang laki-laki (Abdullah ibn huzaifah) dari anshar dan beliau memerintahkan mereka supaya mematuhinya. Lalu ia (abdullah bin hudzaifah) marah kepada mereka lalu berkata ‘tidakkah nabi benar-benar memerintahkan supaya kalian mematuhi aku?” mereka menjawab ya!, dia berkata “aku bermaksud terhadap kalian, kalian harus mengumpulkan kayu bakar dan kalian menyalakan api kemudian kalian masuk kedalamny”a, maka mereka mengumpulkan kayu bakar lalu menyalakan. Ketika mereka bemaksud memasukinya maka sebagian dari mereka berdiri lalu memandangi sebagian (yang lain), lalu sebagian dari mereka berkata : “sesunggguhnya kami mengikuti nabi saw tidak lain untuk lari dari api (neraka), maka apakah kami masuk api?”. Maka disaat mereka demikian tiba-tiba api itu meredam dan kemarahannya Abdullah tenang, lalu demikian itu dituturkan kepada nabi saw, maka beliau bersabda: “seandainya mereka masuk pada api itu niscaya mereka tidak keluar darinya selama-lamanya(yakni meninggal) sesungguhnya kepatuhan itu (wajib) hanyalah dalam kebaikan. (HR Bukhari)
Ketaatan kepada pemimpin bukanlah ketaatan yang bersifat mutlak tanpa ada batasan. Ketaatan harus diberikan kepada pemimpin, selama dirinya taat kepada Allah SWT dan RasulNya. Jika pemimpin tidak lagi mentaati Allah dan RasulNya, maka tidak ada ketaan bagi dirinya. Al-Qur’an telah memberikan batasan yang sangat jelas dan tegas dalam memberikan ketaatan. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami.” (Qs. al-Kahfi [18]: 28).
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir.” (Qs. Fâthir [35]: 52).
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah.” (Qs. al-Qalam [68]: 8).
“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina.” (Qs. al-Qalam [68]: 10).
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.” (Qs. al-Insân [76]: 24).
Meskipun ayat ini dari sisi khithab (seruan) ditujukan kepada Rasulullah Saw, akan tetapi khithab untuk Rasul juga merupakan khithab bagi umatnya. Atas dasar itu, kaum muslim dilarang mengikuti atau mentaati pemimpin-pemimpin yang kafir, mendustakan ayat-ayat Allah SWT, serta banyak melakukan maksiyat di sisi Allah SWT.
Dalam hadist nabi adapun taat kepada mereka dalam kemaksiatan, maka tidak boleh; sebagai perwujudan dari Sunnah yang telah melarang hal tersebut. Nabi saw bersabda, “Bagi setiap orang muslim harus mendengar (ucapan) dan taat (perintah pimpinannya) baik yang dia sukai maupun dia benci; selama dia diperintah dengan maksiat. Jika diperintah (berbuat) kemaksiatan, maka tidak boleh mendengarkan maupun mentaatinya.” (HR. Al-Bukhari).
Dan juga beliau bersabda, “Tiada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah; sesungguhnya ketaatan itu dalam kebaikan.” (Muttafaq ‘alaihi)
Kemutlakkan hukum untuk mendengarkan dan taat ini harus diikat dengan ayat dan hadist di atas, atau dengan hadist muadz yang diriwayatkan oleh ahmad: tidak ada keharusan untuk di taati orang yang tidak menaati Allah.
Aplikasi
Meskipun Islam menjadikan taat kepada pemimpin wajib bagi rakyat, akan tetapi ketaatan ini tidak bersifat mutlak dan bebas dari ikatan, sebab ketaatan mutlak menyebabkan lahirnya pemerintahan individu yang otoriter dan dictator. dari sana, akibatnya jati diri umat Islam menghilang. Oleh sebab itu, ketaatan rakyat kepada Ulil Amri disini dibatasi oleh persyaratan-persyaratan tertentu dan cangkupan cangkupan tertentu pula, persyaratan - persyaratan dan cangkupan itu antara lain:
Pemimpin yang dimaksud mempunyai komitmen pada syariat Islam dengan menerapkannya dalam kehidupan, apabila pemimpin tidak menerapkan Syariah maka tidak wajib ditaati sesuai dengan ayat Al Quran dalam surat an-nisa ayat 59, tentang ketaatan kepada pemimpin atau dalam sebuah hadits. Abu Ubaidah Al qasim Bin Salam meriwayatkan dalam dalam kitab Al amwal dari dari Ali Bin Abi Thalib Ra (wajib bagi Imam pemimpin) menghukum (memerintah dengan hukum yang diturunkan oleh Allah dan menyampaikan amanat. mentaatinya). kekuasaan pemimpin itu senantiasa dibatasi dengan ketaatan kepada Dzat yang maha kuasa.
Ketaatan juga dibatasi dengan pertimbangan keadilan dan kebenaran.
Apabila pemimpin menegakkan keadilan, maka rakyat wajib mentaati. akan akan tetapi apabila berlaku zalim dan menindas serta jahat maka tidak wajib mentaatinya. dalam hadis dikatakan bahwa: “Tidak ada keharusan untuk mematuhi perbuatan dosa. Ingatlah ketaatan hanya wajib bagi perilaku yang benar” (HR. Al-bukhari)
Dan Allah SWt. Berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
 Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan Adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah maha mendengar lagi Maha Melihat. (QS An Nisa : 58)
 Tidak menyuruh manusia melakukan maksiat.
Pemimpin ditaati karena ia mentaati Allah dan rasulnya, barangsiapa diantara pemimpin itu menyuruh dengan apa yang sesuai dengan yang diturunkan Allah dan rasulnya, jumlah umat menta’atinya. tetapi barang siapa yang menyuruh dengan menyalahi apa yang dibawa Rasul (menyuruh kepada maksiat) pemerintah itu tidak boleh ditaati dan diikuti.
Pada prinsipnya penguasa muslim berkewajiban melaksanakan Amar ma'ruf nahi munkar dan menyebarluaskan perbuatan terpuji serta memerangi perbuatan tercela. jika demikian yang dilakukan maka ia wajib ditaati dan tidak dibenarkan di tentang. sedangkan apabila penguasa mengajak, membiarkan kemaksiatan yang nyata seperti riba, zina, minuman keras, dan korupsi maka tidak dibenarkan ditaati. Sebab tidak ada kewajiban taat kepada mahluk dalam hala maksiat kepada sang khalik. Seandainya dibolehkan taat dalam hal kemaksiatan, maka berarti terdapat kontradiksi. Sebab tidak mungkin Allah mengharamkan sesuatu kemudian mewajibkan.
Dalam hadits dari Abdullah bin Umar Ra dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, Beliau bersabda: “seorang muslim perlu mendengarkan dan mematuhi perintah, yang disukainya dan yang tidak disukainya, selama tidak disuruh mengerjakan maksiat (kejahatan) tetapi apabila dia disuruh mengerjakan kejahatan, tidak boleh didengar dan tidak boleh dipatuhi.” (HR al-Bukhari dan muslim).
Taat, sebagaimana yang sudah diketahui, tidak boleh pada hal-hal kemaksiatan dan apa yang ditetapkan oleh Ahlul Hilli Wal Aqdi itu harus berdasarkan musyawarah. Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah sepakat bahwa ketaatan kepada penguasa dalam perkara yang Bukan maksiat merupakan kewajiban. ini merupakan salah satu yang membedakan mereka dengan ahli Bid'ah dan hawa nafsu.
Syekh Abdurrahman al- Sa’adi berkata: Allah memerintahkan umat untuk mentaati ulil amri yakni para penguasa dari kalangan pemimpin, hakim, ahli fatwa, Urusan Agama dan dunia mereka tidak akan terbina dengan sempurna kecuali dengan ketaatan kepadanya yang berarti juga taat kepada Allah, cinta kepada kepada-nya.
Hadis-hadis yang menunjukkan kewajiban taat kepada pemimpin yang tidak dalam kategori kemaksiatan antara lain pertama hadits Abdullah bin Umar ra. “Seorang muslim perlu mendengarkan dan mematuhi perintah yang disukainya dan yang tidak disukainya, selama tidak disuruh mengerjakan maksiat (kejahatan). tetapi apabila dia disuruh mengerjakan kejahatan, tidak boleh didengar dan tidak boleh dipatuhi.” (HR Al-bukhari dan Muslim). 
Perkataan hal yang ia sukai atau benci Maksudnya yang sesuai dengan kehendaknya atau menyelisih dari kehendaknya. Al-Mubarak Furi dalam bukunya Sarah Tirmizi mengatakan: sekiranya pemimpin memerintahkan hal yang sunnah dan mubah, maka wajib ditaati. Al Mutahir mengomentari hadis ini: “mendengar ucapan Hakim dalam dan mentaati hukumnya wajib bagi setiap muslim, Apakah perintah itu sesuai dengan kehendaknya atau tidak dengan syarat tidak memerintahkan dalam hal kemaksiatan, maka tidak ada ketaatan, namun ia tidak boleh memerangi pemimpin.
Perkataan tidak ada ketaatan dimaksudkan dalam hal-hal kemaksiatan semisal diperintahkan memakan riba atau membunuh sesama muslim, tanpa hak dan sejenisnya. maka perintah itu justru wajib dihindari dan diingkari. bukan dipahami apabila penguasa memerintahkan maksiat, maka seluruh perintahnya tidak wajib ditaati. yang tidak wajib ditaati hanyalah pada lingkup perintah kemaksiatan saja.
Kedua hadits Abu Hurairah radhiallahu an tentang loyalitas dan ketaatan bukan pada hal yang kamu senangi saja, bila kamu membencinya kamu tidak taat lagi, akan tetapi loyal dan taat kepada semua hal yang kamu senangi maupun yang kamu benci. dua orang yang mendengar dan taat tidak ada jalan baginya koma sedangkan orang yang mendengar dan maksiat tidak memiliki ke Puncak baginya.
Imam nawawi mengatakan “wajib taat kepada para penguasa saat hati tidak pas dan saat lainnya, selagi bukan dalam masalah kemacetan. Apabila dalam lingkup kesehatan maka tidak ada ketaatan. perkataan Atsar Atun, berarti kerakusan urusan dunia dan tidak memberikan hak kamu yang ada pada mereka.
Yang ketiga hadits Imam muslim dari cari wakil bin juhri ra: “Salamah bin Yazid bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam wahai Nabi Muhammad Bagaimana pendapat Tuan sekiranya ada penguasa yang menuntut haknya dari kami namun mereka menghalangi hak kami detik Apa perintah tuhan kepada kami tanda tanya Nabi menghindar. ia bertanya lagi, dan nabi menghindar lagi. ketika sampai yang kedua atau ketiga kalinya, dan dia ditarik tangannya oleh alat bin Qais, maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda taatilah sesungguhnya bagi mereka aduh sayang mereka pikulan bagi kalian kewajiban yang terbeban. dalam riwayat dalam meriwaya lain: taatilah, bagi mereka dosa yang mereka pikul, dan bagi kalian kewajiban yang terbebani.’’(Hadits Riwayat Muslim).
Islam telah menetapkan bahwa that adalah suatu kewajiban muslim dalam hal yang disukai maupun yang tidak disukai selamat tidak diperintahkan untuk melakukan maksiat. Selain hadis di atas, Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Ali Bin Abi Thalib radhiallahu berkata bahwa: “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengirim pasukan perang dan mengatakan mengangkat seorang Anshar menjadi komandan. beliau memerintahkan agar beliau ditaati komandan marah terhadap mereka dan berkata: Tidakkah Rasulullah Shallallahu alaihi sallam telah memerintahkan agar kalian tentang hatiku? mereka menjawab Benar. ia berkata lagi: Aku ingin anda sekalian mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api Kemudian Anda masuk ke dalamnya. mereka semua bingung, sebab sangat macam apa yang sebenarnya dikehendaki komandan semacam itu mereka tidak menuruti Apa yang diperintahkan lalu mengadukan masalah ini kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam Kemudian beliau bersabda seandainya mereka benar-benar masuk ke dalam api koma mereka tidak akan dapat keluar lagi selamanya. kepatuhan hanya berlaku pada hal yang makruh.” (HR. Al-Bukhari)
Maksud kata kata Nabi Shallallahu Alaihi Salam tersebut adalah bahwa seandainya mereka masuk ke dalam api yang mereka Nyalakan dengan anggap bahwa mereka melakukan demikian karena menentang arti Amir mereka Maka mereka tidak akan keluar lagi yakni, meninggal dunia dan tidak keluar selamanya titik Dengan demikian. Rasulullah Shalallahu Wassalam mengarahkan agar mereka tidak melakukan perintah seperti ini, sebab saat itu hanya wajib dalam hal yang baik, bukan hal yang buruk. Sebagian ulama memandang bahwa kata-kata Rasulullah Saw tersebut merupakan pengungkapan Zajr (nada menegur dan keras) tarhib (mendorong agar meninggalkan) dan Takwif (menakut-nakuti). Sedangkan Zamhsyari dan Baidawi berpendapat bahwa batasan taat kepada pemimpin yang memerintah hendaknya berasal dari kalangan mereka, yaitu kaum muslimin. bahkan sebagian ahli tafsir berpendapat ‘’diantara’’(minkum) maksudnya para pemimpin kebenaran. adapun ketaatan seorang muslim yang berdiam di negara non muslim adalah suatu permasalahan lain yang diputuskan dan ditetapkan pertimbangan-pertimbangan lain, seperti menempati janji dan tuntutan politik syariah, atau pertimbangan-pertimbangan selain ini tentang keberadaan seorang individu atau kelompok umat Islam yang berada dalam naungan negara bukan Islam baik para penguasa maupun mayoritas rakyatnya.
Dengan demikian, Al-quran dan Sunnah telah memastikan bahwa taat kepada Ulil Amri menjadi wajib selama berada dalam ketaatan kepada Allah. siapa pun tidak boleh ditaati selama bertentangan dengan kitabullah dan Sunnah rasulnya.
Ruang lingkup ketaatan kepada pemimpin dan penguasa
Berdasarkan pada teks-teks agama (nusus) terdahulu dapat dipahami bahwa rakyat kewajiban mentaati Penguasa dan pemimpin mereka hanya apabila sari’ah Allah diterapkan dan keadilan ditegakkan dalam kehidupan masyarakat, dalam menentang Allah dan tidak pula mengajak rakyat melakukan maksiat terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dengan demikian jelas bagi kita bahwa hanya boleh Bagi penguasa memerintahkan rakyat atau individu masyarakat hal-hal yang wajib, mustahab (yang disukai menurut menurut syara'a) hal-hal yang mubah (boleh dilakukan menurut syarat) serta masalah masalah ijtihadiah ketika tidak diketemukan nashnya dari Alquran maupun sunnah Nabi saw atau pemahaman
Nash yang kemungkinan adanya peletak pentakwilan. seperti kasus mengenai para personil pasukan yang dikemukakan terdahulu yakni mereka mentaati komandan mereka mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api dan ini adalah urusan yang hukumnya ketika akan tetapi pemeran tetapi perintah mencampakkan diri dalam Api tidak ada mereka patuhi sebab yang demikian haram hukumnya bila ditaati.
Jika dicermati kata-kata Ibnu Hajar dalam keterangan mengenai hadits ubadah bin shamit, “kecuali apabila kalian melihat ke kupuranya yang nyata yang terdapat keterangannya dari Allah,” yakni nas ayat Alquran atau berita Shahih yang tidak dimungkinkan ke terdapat di takwil. maka konsekuensi hukumnya adalah bahwa tidak boleh menentang penguasa selama perbuatannya mengandung kemungkinan dapat kita takwil. Dengan demikian maka haram bagi rakyat atau individu masyarakat menentang pemerintah pemimpin muslim apabila masalah ini bersifat ijtihadiah meskipun bertentangan dengan pendapatnya. dan tidak sepatutnya memberi peluang bagi godaan godaan setan agar tidak mempengaruhi kebenaran pendapatnya, dan kesalahan pendapat Imam serta wajib atau boleh menentang perintahnya, lalu keluar dari Jamaah umat Islam dan dengan demikian menempatkan diri pada posisi yang rawan kemurkaan Allah SWT.
Rasulullah bersabda: “Barang siapa menemukan pemimpinnya sesuatu yang tidak disukai maka hendaklah ia bersabar sebab barangsiapa yang meninggalkan jamaah satu jengkal saja Kemudian meninggalkan dunia, maka matinya mati jahiliyah.” (muttafaq ‘alaih).
Apabila setiap orang membiarkan untuk dirinya hak meremehkan komitmen kepada pendapat imam dan penentang fanatik pada pendapatnya serta berusaha menghimpun masa di sekelilingnya maka yang demikian adalah benih benih yang menimbulkan keretakan dalam kesatuan umat Islam serta konflik individu masyarakat dengan demikian kekuatan menjadi pudar dan wibawanya di hadapan musuh menyusut Allah Swt berfirman dalam surat Al Anfal ayat 6:
يُجَادِلُونَكَ فِي الْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى الْمَوْتِ وَهُمْ يَنْظُرُونَ
Artinya: Dan janganlah saling bantah bantah yang menyebabkan Kamu gentar dan hilang kekuatan ( QS. Al Anfal : 6)
Islam dengan sungguh-sungguh melakukan terapi terhadap masalah-masalah penting seperti ini dimana tindakan keras diambil terhadap siapapun yang mencoba menghancurkan loyalitas pada pemimpin dan memecah belah jamaah. imam muslim meriwayatkan dari arah Java bahwa (“sungguh akan ada keburukan dan keburukan Titik maka Barang siapa hendak membaca kepala urusan umat ini dalam keadaan menyatu maka penggal dengan pedang siapa pun orangnya”)
Secara singkat Islam memandang bahwa loyalitas dari rakyat kepada pemimpin adalah suatu kewajiban dan prinsip pemerintahan dalam Islam yang mana kehidupan politik tidak dapat tegak kecuali dengannya. akan tetapi kewajiban taat kepada para pemimpin tidak bersifat mutlak melainkan terkait dengan penerapan syariat Islam dan menegakkan keadilan di tengah kehidupan manusia dan tidak mengajak rakyat mereka melakukan kemaksiatan.  






BAB III
PENUTUP

Simpulan dari makalah di atas adalah sebagai berikut:
Pengertian pemimpin secara umum adalah orang yang mampu membimbing, mengontrol dan mempengaruhi pikiran, perasaan dan tingkah laku seseorang. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa pemimpin merupakan seseorang yang menyebabkan seseorang atau kelompok lain untuk bergerak menuju kearah tujuan-tujuan tertentu sehingga ia memiliki tanggung jawab agar orang yang dipimpinnya dapat meraih tujuan yang akan dicapainya.
Al-Quran dan hadits banyak sekali menjelaskan mengenai masalah tanggung jawab seorang pemimpin, tugas dan fungsinya, maupun mengenai bagaimana batasan seseorang untuk mentaati pemimpinnya.
Pemimpin atau penguasa adalah pemelihara umat yang harus dengan jujur melaksanakan amanah dan tuntutan rakyatnya untuk menciptakan kesejahteraan di segala bidang. Ia akan mempertanggung jawabkan semua kebijakan yang di ambilnya sewaktu di dunia menyangkut persoalan umat. Apabila adil, jujur, dan benar, maka Allah kan merahmatinya, tetapi bila dzalim dan menyelewengkan kekuasaannya, maka Allah akan melaknatnya.










DAFTAR PUSTAKA

Abdul Qodir Ahmad Atha’. 1999. Adabun Nabi Meneladani Akhlak Rasulullah SAW, Cet I. Jakarta: Pustaka Azzam.
Abul A’la Al-Maududi. 2007. Khalifah dan Kerajaan. Bandung: Karisma.
Al-Imam an-Nawawi dan Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali. E-book Hadits Arba’in Nawawiyyah Plus.
Endang Soetari Ad. 2005. Ilmu Hadits Kajian Riwayah dan Dirayah. Bandung: CV Mimbar Pustaka.
Herry Mohammad. 2008. 44 Teladan Kepemimpinan Muhammad SAW. Jakarta: Gema Insani.
Muhammad Nasib Ar-Rifa’I. 2007. Kemudahan Dari Allah Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1. Depok: Gema Insani Press.
Qonita Alya. 2009. Kamus Besar Bahasa Indonesia Unruk Pendidikan Dasar. Bandung: PT Indahjaya Adipratama.
Rifko Handayani. 2011. Skripsi Loyalitas Rakyat Terhadap Pemimpin Menurut Al-Mawardi dan Hasan Al-Banna. Jakarta.
Thariq Muhammad As-Suwaidan dan Faishal Umar Basyarahil. 2005. Melahirkan Pemimpin Masa Depan. Jakarta: Gema Insani Press.
Veithzal Rivai. 2013. Pemimpin dan Kepemimpinan dalam Organisasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Widyo Nugroho dan Achmad Muchji. 1996.  Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Yusuf Qaradhawi. 2008.  Meluruskan Dikotomi Agama & Politik “Bantahan Tuntas Terhadap Sekularisme dan Liberalisme”. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
http://www.kumpulanmakalah.com/2016/11/kepemimpinan-wanita-dalam-perspektif.html diunggah pada tanggal 17 April 2017 pada jam 23.49
https://zu7v1ck4r.wordpress.com/2012/09/20/batas-ketaatan-kepada-pemimpin/ diakses pada tanggal 19 April 2017 pukul 20:17.
https://dherina.wordpress.com/2014/09/07/tanggung-jawab-pemimpin/ diakses pada tanggal 21 April 2017 pukul 01:27.

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...