PENGELOLAAN KESISWAAN DAN KEUANGAN

PENGELOLAAN KESISWAAN DAN KEUANGAN
MAKALAH

Dalam rangka memenuhi tugas perkuliahan mata kuliah Pengelolaan Pendidikan

Dosen Pengampu
Asep Andi Rahman, M.Ag.







Diskusi Makalah Kelompok 5

1152020091 Hifni Mannan Nuzula
1152020099 Indah Tria Amalia  
1152020108 Kristin Wiranata
1152020115 Lina Marlina
1152020124 M. Zam zam




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji hanya milik Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dan hanya kepada-Nyalah kita berhak bersyukur dan tiada yang lain selain Allah, karena sesungguhnya Allah-lah yang mampu memberikan kita kekuatan untuk mengerjakan segala sesuatu yang kita lakukan.
Shalawat serta salam semoga tercurahlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa kita kepada jalan yang benar. Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengelolaan Pendidikan. Kami berharap makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang mengarahkan kepada hal yang baik, dan mampu menjadi petunjuk untuk pembahasan yang kami bahas. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh




Bandung, 08 Maret 2017

       
 Penyusun





DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 1
Tujuan Makalah 2
BAB II PEMBAHASAN 3
Pengelolaan Kesiswaan 3
Pengertian Pengelolaan Kesiswaan 3
Tujuan Pengelolaan Kesiswaan 3
Fungsi Pengelolaan Kesiswaan 4
Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kesiswaan 5
Kegiatan Pengelolaan Kesiswaan 6
Pengelolaan Keuangan 14
Pengertian Pengelolaan Keuangan 14
Tujuan Pengelolaan Keuangan 14
Fungsi Pengelolaan Keuangan 18
Prinsip-Prinsip Pengelolaan Keuangan 20
Kegiatan Pengelolaan Keuangan 21
BAB III PENUTUP 26
Daftar Pustaka 28







BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Setiap program menghendaki adanya proses manajemen/pengelolaan guna mencapai tujuannya. Begitu pun dengan pendidikan. Pendidikan menghendaki adanya perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi yang dapat diwujudkan dengan pengelolaan pendidikan. Salah satu upaya dalam meningkatkan mutu pendidikan ialah dengan memperhatikan pengelolaan pendidikan itu sendiri. 
Pengelolaan pendidikan tidak terlepas dengan berbagai hambatan. Salah satunya ialah hambatan yang berkaitan dengan kesiswaan dan keuangan. Contohnya seperti pengalokasian dana yang tidak tepat sasaran dan pendataan peserta didik yang tidak efisien. Berbagai hambatan tersebut dapat diatasi dengan adanya suatu pengelolaan kesiswaan dan keuangan yang dikelola dengan baik dan benar. Beranjak dari kesadaran kami, bahwa perlunya memahami suatu pengelolaan pendidikan yang benar khususnya dalam bidang kesiswaan dan keuangan. Karena itulah kami membuat makalah dengan judul “Pengelolaan Kesiswaan dan Keuangan”.
 
Rumusan Masalah
Setelah menelusuri beberapa sumber buku dan artikel yang terkait dengan pengelolaan kesiswaan dan keuangan, kami menarik beberapa rumusan masalah, sebagai berikut.
Apa pengertian pengelolaan kesiswaan dan keuangan?
Apa tujuan dari pengelolaan kesiswaan dan keuangan?
Apa fungsi pengelolaan kesiswaan dan keuangan?
Bagaimana kegiatan pengelolaan kesiswaan dan keuangan?




Tujuan Makalah
Adapun tujuan dibuatnya makalah ini adalah:
Mengetahui pengertian pengelolaan kesiswaan dan keuangan;
Mengetahui tujuan dan fungsi pengelolaan kesiswaan dan keuangan; dan
Mengetahui kegiatan pengelolaan kesiswaan dan keuangan.

























BAB II
PEMBAHASAN

Pengelolaan Kesiswaan
Pengertian Pengelolaan Kesiswaan
Pengelolaan kesiswaan merupakan kegiatan pencatatan siswa mulai dari proses penerimaan hingga siswa tersebut keluar dari sekolah disebabkan telah tamat/lulus. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua pengetahuan yang berhubungan dengan siswa digarap oleh pengelolaan kesiswaan. Penggarapan kesiswaan adakalanya termasuk ke dalam pengelolaan kurikulum, seperti membagi-bagi kelas menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil, yaitu kelompok belajar termasuk garapan pengelolaan kurikulum dan pemberian SPP untuk diatur penarikan dananya, termasuk kedalam pengelolaan keuangan.
Fungsi Pengelolaan Kesiswaan
Fungsi pengelolaan kesiswaan adalah sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya, segi sosial, kebutuhan, dan segi potensi peserta didik lainnya.
Prinsip-prinsip manajemen peserta didik
Dalam mengembangkan program manajemen kepesertaan didikan, penyelenggara harus harus mengacu pada peraturan yang berlaku pada saat program dilaksanakan.
Manajemen peserta didik dipandang sebagai bagian keseluruhan manajemen sekolah. oleh karena itu ia harus mempunyai tujuan yang sama dan atau mendukung terhadap tujuan manajemen sekolah secara keseluruhan.
Segala bentuk kegiatan manajemen peserta didik haruslah mengemban misi pendidikan dalam rangka mendidik peserta didik.

Kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik harus diupayakan untuk mempersatukan peserta didik yang mempunyai keragaman, latar belakang dan punya banyak perbedaan.
Kegiatan manajemen peserta didik haruslah dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbingan peserta didik.
Kegiatan manajemen peserta didik harus mendorong dan memacu kemandirian peserta didik, prinsip kemandirian akan bermanfaat tidak hanya di sekolah, melainkan juga ketika sudah terjun ke masyarakat. 
Adapun menurut sumber lain, fungsi manajemen peserta didik atau kesiswaan ialah sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya, segi sosial, aspirasi, kebutuhan dan segi-segi potensi peserta didik lainnya. Manajemen kesiswaan bertugas mengatur berbagai kegiatan dalam bidang  kesiswaan agar proses pembelajaran di sekolah islam berjalan dengan tertib, teratur, dan lancar. Untuk mewujudkan tujuan tersebut terdapat sejumlah prinsip yang harus diperhatikan. 
Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kesiswaan
Prinsip-prinsip pengelolaan kesiswaan menurut Depdikbud adalah sebagai berikut:
Siswa harus diperlakukan sebagai subyek dan bukan obyek, sehingga harus didorong untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengembilan keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka;
Kondisi siswa sangat beragam ditinjau dari kondisi fisik, kemampuan intelektual, sosial ekonomi, minat dan seterusnya. Oleh karena itu diperlukan wahana kegiatan yang beragam sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara optimal; dan
Pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif tetapi juga ranah afektif dan psikomotorik. 
Tujuan Pengelolaan Kesiswaan
Pengelolaan kesiswaan bertujuan untuk mengatur berbagai kesiswaan agar kegiatan pembelajaran disekolah dapat berjalan lancar, tertib dan teratur, serta mencapai tujuan pendidikan sekolah. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, bidang pengelolaan kesiswaan sedikitnya memiliki empat tugas utama yang harus diperlihatkan, yaitu penerimaan murid baru, pencatatan murid dalam buku induk, kegiatan kemajuan belajar, serta bimbingan dan pembinaan disiplin.
      Adapun menurut E. Mulyasa untuk mewujudkan tujuan tersebut sedikitnya memiliki tiga tugas utama yang harus diperhatikan, yaitu penerimaan, murid baru, kegiatan kemajuan belajar, serta bimbingan dan pembinaan disiplin. Berdasarkan tugas-tugas utama tersebut Sutisna (1985) menjabarkan tanggung jawab kepala sekolah dalam mengelola bidang kesiswaan berkaitan dengan hal-hal berikut:
Kehadiran murid di sekolah dan masalah-masalah yang berhubungan dengan itu;
Penerimaan, orientasi, klasifikasi, dan penunjukkan murid ke kelas dan program studi;
Evaluasi dan pelaporan kemajuan belajar;
Program supervisi bagi murid yang mempunyai kelainan, seperti pengajaran, perbaikan, dan pengajaran luar biasa;
Pengendalian disiplin murid;
Program bimbingan dan penyuluhan;
Program kesehatan dan keamanan;
Penyesuaian pribadi, sosial, dan emosional.

Kegiatan Pengelolaan Kesiswaan
Beberapa kegiatan pengelolaan kesiswaan yang penting ialah sebagai berikut;
Penerimaan Siswa Baru
Penerimaan siswa baru merupakan salah satu kegiatan yang pertama di sekolah, baik di tingkat sekolah dasar maupun di tingkat perguruan tinggi. Pengelolaan penerimaan siswa baru ini hendaknya dilakukan sedemikian rupa, sehingga kegiatan mengajar-belajar sudah dapat dimulai pada hari pertama setiap tahun ajaran baru. “Secara keseluruhan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan penerimaan siswa baru meliputi masalah kepanitiaan, persyaratan calon siswa baru, pendaftaran testing, seleksi, dan pengumuman hasil seleksi.
Langkah-langkah penerimaan siswa baru menurut Ismed Syarief pada garis besarnya adalah sebagai berikut.
Membentuk Panitia
Panitia penerimaan siswa baru terdiri dari kepala sekolah dan beberapa guru yang ditunjuk untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan yakni:
syarat-syarat pendaftaran;
Formulir pendaftaran;
Pengumuman;
Buku pendaftaran
Waktu pendaftaran
Jumlah calon yang diterima.
Menentukan syarat pendaftaran calon siswa
Syarat pendaftaran calon siswa baru biasanya sudah ditentukan dan diatur oleh dinas Pendidikan Propinsi dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan yang berasal dari Departemen Pendidikan Nasional. Pada dasarnya tidak ada penolakan dalam penerimaan siswa di sekolah negeri maupun swasta, kecuali fasilitas sekolah-sekolah yang bersangkutan tidak mampu menampung. Bila tidak semua anak dapat ditampung, sekolah dapat mengadakan seleksi.
Setiap tahun diadakan pendaftaran siswa baru. Persyaratan yang bersifat formal dalam pendaftaran siswa baru diantaranya: umur tertentu, latar belakang pendidikan, keadaan fisik/jasmani, status tertentu (sosial, kewargaan, perkawinan), persyaratan administratif (keuangan). Calon siswa yang memenuhi persyaratan formal dapat mengikuti seleksi tes masuk.
Menyediakan formulir pendaftaran
Formulir pendaftaran dimaksud untuk mengetahui identitas calon siswa dan untuk kepentingan pengisian buku induk sekolah.
Pengumuman pendaftaran calon
Menyediakan buku pendaftaran
Menentukan waktu pendaftaran
Melaksanakan seleksi
Seleksi merupakan kegiatan pemilihan calon siswa untuk menentukan diterima atau tidaknya calon berdasarkan ketentuan yang berlaku. Seleksi dapat dilakukan melalui pengamatan terhadap persyaratan pendaftaran, Nilai UN, US, dsb., hasil tes dalam bidang studi tertentu yang relevan dan atau hasil tes dalam bentuk lain.
Penentuan calon yang diterima
Penentuan calon yang diterima pada sekolah dasar selain memenuhi persyaratan, lebih banyak terikat lagi kepada daya tampung kelas. Penentuan (perhitungan) daya tampung ini dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
DT= B X M – TK
Keterangan:
DT = Daya Tampung
B = Banyak bangku di kelas itu
M = Muatan bangku (kapasitas)
TK = Jumlah siswa yang tinggal kelas pada kelas I
Yang sudah lulus seleksi belum menjadi siswa jika belum memenuhi persyaratan selanjutnya yang meliputi: melaporkan/mendaftarkan diri sampai batas waktu yang ditentukan dengan memenuhi beberapa persyaratan lagi (administrasi/keuangan). Setelah kegiatan tersebut dilakukan, barulah menjadi siswa dengan mendapat nomor penerimaan (nomor induk) dan surat keterangan lainnya.
Ketatausahaan Siswa
Setelah proses penerimaan siswa baru, kegiatan kesiswaan selanjutnya yang perlu dilaksanakan adalah memproses siswa-siswa tersebut dalam catatan-catatan sekolah. Catatan sekolah dibedakan atas dua jenis, yaitu catatan untuk seluruh sekolah dan catatan untuk satu kelas. Jenis-jenis catatan ini bukan saja untuk sesuatu tingkat sekolah saja, tetapi berlaku untuk semua tingkat dan jenis.
Catatan untuk seluruh sekolah meliputi
Buku Induk
Yaitu buku yang digunakan untuk mencatat data semua anak yang pernah dan sedang mengikuti pelajaran di sekolah tersebut. Catatan dalam buku induk harus lengkap meliputi data dan identitas siswa dalam hal ini sebagian data dapat diambil dari formulir pendaftaran. Disamping identitas siswa buku induk berisi tentang prestasi belajar siswa dari tahun ke tahun selama ia belajar di sekolah tersebut.
Buku Klapper
Yaitu buku pelengkap buku induk yang dituliskan menurut abjad nama siswa, dan berfungsi untuk memudahkan mencari data siswa pada buku induk. Apabila ada alumni siswa yang sudah lama meninggalkan sekolah tersebut pada suatu ketika datang ke sekolah untuk meminta surat keterangan sedangkan ia lupa berapa nomor induknya, siswa tersebut cukup menyebutkan nama. Dari huruf pertama namanya dapat diketahui pada halaman abjad apa nama tersebut dicari berapa nomor induknya, untuk kemudian data selengkapnya ditelusuri secara lengkap dari buku induk.
Catatan Tata Tertib Sekolah
Yaitu catatan atau kumpulan peraturan yang sebenarnya bukan hanya diperuntukkan bagi siswa saja tetapi juga bagi guru dan personal lain. Menurut instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 1 Mei No. 14/U/1974, tata tertib sekolah ialah ketentuan-ketentuan yang mengatur kehidupan sekolah sehari-hari dan mengandung sanksi terhadap pelanggarnya. Dalam praktiknya aturan tata tertib yang bersumber dari instruksi Menteri P dan K tersebut perlu dijabarkan atau diperinci sejelas-jelasnya dan disesuaikan dengan kondisi sekolah agar biasanya termuat dakan peraturan tata tertib antara lain berupa
Aturan yang menyangkut lahiriah misalnya pakaian, peralatan, kendaraan, dan sebagainya.
Aturan tingkah laku misalnya sikap siswa terhadap kepala sekolah, guru, sesama siswa, dan karyawan.
Aturan-aturan ketertiban misalnya tentang keharusan ikut gerak jalan, mengikuti upacara bendera dan sebagainya.
Catatan-catatan untuk masing-masing kelas
Disamping catatan-catatan untuk siswa seluruh sekolah, ada lagi catatan-catatan yang khusus untuk siswa-siswa di kelas, yaitu:
Buku kelas, yaitu buku yang merupakan cuplikan dari buku induk.
Buku presensi kelas, yaitu buku yang dimaksudkan untuk mengetahui frekusensi kehadiran siswa di sekolah sekaligus untuk mengontrol kerajinan belajar mereka. buku presensi kelas ini diisi tiap hari guna mencatat keadaan siswa yang masuk dan tidak masuk sekolah. Menurut petunjuk administrasi kesiswaan di tingkat Sekolah Dasar yang dikeluarkan oleh Departemen P & K tahun 1983 dijelaskan bahwa ada empat jenis format untuk mencatat ketidakhadiran siswa secara perorangan yaitu:
Papan absensi harian siswa (kelas), papan ini ditempel pada dinding ruang belajar diisi nama siswa yang tidak hadir hari itu.
Papan absensi harian siswa (sekolah). Papan ini ditempelkan pada dinding di ruang kantor kepala sekolah. Papan absensi tersebut merupakan rekapitulasi papan absensi siswa tiap kelas.
Buku absensi harian siswa yang dipegang oleh setiap guru.
Rekapitulasi absensi siswa.
Buku catatan bimbingan dan konseling
Buku catatan prestasi belajar siswa, yang meliputi:
Buku daftar nilai yang merupakan buku pertama yang digunakan guru untuk mencatat nilai mentah yang diperoleh langsung dari ulangan harian atau ulangan umum, serta nilai-nilai tugas dan aktivitas.
Buku Leger, yaitu buku kumpulan nilai yang memuat semua nilai untuk semua bidang pelajaran yang diikuti dalam periode tertentu. Buku ini biasanya diisi oleh wali kelas yang menampung nilai-nilai dari guru-guru yang memegang pelajaran di kelas tersebut.
Buku raport
Yaitu sebuah buku yang didalamnya memuat prestasi siswa yang bersangkutan selama mengikuti pendidikan di sekolah itu. Laporan hasil belajar ini tidak hanya berguna bagi siswa itu sendiri, tetapi juga bagi orang tua dan masyarakat luas.
Buku Mutasi
Yaitu buku yang digunakan untuk mencatat siswa yang pindah, baik pindah ke sekolah lain maupun masih dalam lingkungan sekolah tersebut.
Secara umum alat bantu atau buku-buku yang diperlukan dalam pengadministrasian kesiswaan pada umumnya mencakup: buku induk, buku tabelaris (buku kas), buku leger (daftar nilai dan gabungan nilai), absensi dan mutasi, daftar pungutan dan setoran uang, buku inventaris, agenda dan ekspedisi, buku tamu dan arsip, serta daftar pribadi.
Daftar pribadi diperlukan dengan maksud: Untuk mengetahui maju mundurnya murid dalam tiap bulan yaitu absensi dan mutasi; Jika ada murid/siswa yang masuk, dicatat dalam daftar mutasi, buku uang sekolah, absensi dan stambook, serta laporan bulanan; dan jika ada murid/siswa yang keluar baik karena tamat maupun pindah dicatat juga dalam buku tersebut.
Pengelompokan Siswa
      Selain memproses siswa dalam catatan-catatam sekolah setelah proses penerimaan siswa baru, selanjutnya yang perlu dilaksanakan adalah pengelompokkan siswa. Ada beberapa jenis pengelompokkan siswa, diantaranya yang dilaksanakan adalah:
Pengelompokkan dalam kelas-kelas
Agar proses belajar-mengajar bisa berjalan dengan baik, siswa yang berjumlah besar perlu dibagi-bagi menjadi kelompok-kelompok yang disebut kelas.
Pengelompokkan berdasarkan bidang studi
Pengelompokkan berdasarkan bidang studi yang lazim disebut juga dengan istilah penjurusan, yaitu pengelompokkan, siswa yang disesuaikan dengan minat dan bakatnya.
Pengelompokkan berdasarkan spesialisasi
Pengelompokkan berdasarkan spesialisasi (pengkhususan) biasanya terdapat pada sekolah-sekolah menengah kejuruan. Misalnya di STM/SMK, siswa dikelompokkan kedalam jurusan mesin, jurusan bangunan. Jurusan maritim, dan sebagainya.
Pengelompokkan dalam sitem kredit
Pengelompokkan dalam sistem ini lazimnya berlaku di perguruan tinggi, mahasiswa dikelompokkan berdasarkan mata kuliah.
Pengelompokkan berdasarkan kemampuan
Pengelompokkan berdasarkan minat
Pengelompokkan berdasarkan minat banyak dilaksanakan dalam kegiatan ekstra kulikuler.
Pengelolaan Bimbingan Konseling
Program bimbingan konseling di sekolah diberikan dengan maksud membantu siswa memcahkan masalahnya agar perkembangan pribadinya dapat berlangsung secara optimal, seuai dengan ciri pribadinya masing-masing.
Istilah lain yang sering digunakan yaitu kepenasihatan. Kepenasihatan ini sangat perlu supaya siswa dapat menyelesaikan studinya secara efektif dan efisien sesuai dengan minat dan kemampuan siswa. Kegiatan kepenasihatan dalam memberikan bimbingan kepada siswa memerlukan data-data dalam proses pengadministrasiannya. Karena itu, kegiatan yang dilakukan oleh penasihat memerlukan pencatatan dalam buku yang tersedia.
Proses bimbingan diarahkan juga kepada bimbingan belajar. Bimbingan belajar merupakan bagian integral dari pelaksanaan/penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Dalam hal ini perlu mempunyai dasar yang kuat sebagai titik tolak pelaksanaannya.
Pengelolaan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah)
      Pembahasan administrasi kesiswaan tampaknya kurang lengkap apabila tidak membahas organisasi kesiswaan (OSIS). Maksud-maksud umum yang hendak dicapai sekolah melalui organisasi siswa adalah:
Untuk mengijinkan siswa ikut serta dalam perencanaan dan pengelolaan kegiatan-kegiatan ekstra kulikuler,
Untuk mengembangkan tanggung jawab, inisiatif, kepemimpinan, dan kebanggaan terhadap sekolah di pihak siswa;
Untuk memajukan kesejahteraan sekolah melalui hubungan staf sekolah-siswa yang harmonis;
Untuk memajukan kesejahteraan umum; dan
Untuk membantu kepala sekolah dan stafnya dalam administrasi intra sekolah.
      Dalam buku Pedoman Umum Penyelenggaraan Administrasi Sekolah Menengah yang dikeluarkan oleh Direktorat jenderal Pendidikan dasar dan Menengah dijelaskan bahwa tujuan OSIS adalah;
Mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang memiliki jiwa pancasila. Berkepribadian luhur, moral dan mental yang tinggi, berkecakapan, serta memiliki pengetahuan yang siap untuk diamalkan;
Mempersiapkan siswa agar menjadi warga negara yang mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, tanah air, dan bangsanya;
Menggalang persatuan dan kesatuan siswa yang kokoh dan akrab di sekolah dalam wadah OSIS;
Menghindarkan sisiwa dari pengaruh-pengaruh yang tidak sehat dan mencegah siswa dijadikan sasaran perebutan pengaruh serta kepentingan sesuatu golongan (dalam rangka usaha peningkatan ketahanan sekolah). 
      Ada dua hal yang harus mendapat perhatian guru dalam membina dan membimbing OSIS, yaitu aspek organisasinya dan aspek kegiatannya. Dalam aspek organisasi guru dapat memberikan pengarahan dalam hal-hal sebagai berikut:
Struktur kelembagaan OSIS;
Unsur-unsur personalia yang harus ada;
Distribusi fungsi, kewenangan dan macam kegiatan yang ditangani oleh masing-masing tingkat;
Cara menyusun kepengurusan;
Cara menyusun kerja OSIS; dan
Cara melaksanakan kegiatan OSIS sebagai kegiatan organisasi.
      Sedangkan dalam aspek kegiatan OSIS, guru mengarahkan dan membimbing dalam hal-hal sebagai berikut;
Kegiatan pengembangan pengetahuan dan kemampuan penalaran, misalnya diskusi, penulisan karangan, dan karya wisata.
Kegiatan pengembangan keterampilan berdasarkan hobi dan minatnya, misalnya latihan kepemimpinan, palang merah remaja, dan pramuka.
Kegiatan-kegiatan pengembangan sikap, misalnya pengumpulan dana nasional, peringatan hari-hari besar nasional, dan ikut gotong royong dengan masyarakat sekitar.
      Mengingat pentingnya kegiatan OSIS di sekolah, agar tidak mengganggu jalannya kegiatan kurikuler, perlu lebih dahulu merencanakan kegiatan apa yang akan dilaksanakan oleh OSIS. Rencana kegiatan itu akan meliputi unsur-unsur tujuan kegiatan, jadwal, macam kegiatan, siswa yang terlibat, pembina dan pembiayaannya.




Pengelolaan Keuangan
Pengertian Pengelolaan Keuangan
Setiap kegiatan perlu diatur agar berjalan tertib, lancar, efektif, dan efesien. Kegiatan di sekolah yang sangat kompleks membutuhkan pengaturan yang baik. Keuangan di sekolah merupakan bagian yang amat penting karena setiap keiatan butuh uang. Keuangan juga perlu di diatur sebaik-baiknya. Untuk itu, perlu manajemen/pengelolaan keuangan yang baik. Sebagaimana yang terjadi di substansi manajemen pada umumnya, kegiatan manajemen keuangan dilakukan melalui proses perencanaan, pengordinasian, pengawasan atau pengadilan.
Kegiatan manajemen keuangan antara lain memperoleh dan menetapkan sumber-sumber pendanaan, pemanfaatan dana [Lipham, 1985; Keith, 1991], pelaporan, pemeriksaan, dan pertanggungjawaban. Di dalam manajemen keuangan sekolah terdapat rangkaian aktivitas terdiri dari perencanaa program sekolah, perkiraan anggaran, dan pendapat yang diperlukan dalam pelaksanaan program, pengesahan dan penggunaan anggaran sekolah.
Manajemen keuangan dapat diartikan sebagai tindakan pengurusan/ ketatausahaan keuangan yang meliputi pencatatan, perencanaan, pelaksanaan, pertanggung jawaban dan pelaporan (Depdiknas ditjen Dikdasmen, 2000). Dengan demikian, manajemen keuangan sekolah merupakan rangkaian aktivitas yang mengatur keuangan sekolah mulai dari perencaan, pembukuan, pembelanjaan, pengawasan dan pertanggung jawaban keuangan sekolah.
Fungsi Pengelolaan Keuangan
Fokus manajemen/pengelolaan keuangan sekolah memungsikan dan mengoptimalkan kemampuan menyusun rencana anggaran sekolah, mengelola sekolah berdasarkan rencana dan anggaran tersebut dan memungsikan masyarakat untuk berpartisipasi mengelola sekolah.
Jadi fungsi manajemen keuangan pada prinsipnya dimulai dari proses sebagai berikut:
Perencanaan Anggaran Sekolah
Kepala sekolah diharuskan mampu menyusun Rencana Anggaran dan Pendapatan Belanja Sekolah (RAPBS). Untuk itu kepala sekolah mengetahui sumber-sumber dana yang merupakan sumber daya sekolah. Sumber dana tersebut antara lain meliputi anggaran rutin, Dana Penunjang Pendidikan (DPD), Subsidi Bantuan Penyelenggaraan Pendidikan (SBPP), Bantuan Operasional dan Perawatan (BOP), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), (BP3), donatur, badan usaha, serta sumbangan lain-lain. Untuk sekolah-sekolah swasta sumber dana berasal dari SPP, subsidi pemerintah, donatur, yayasan, dan masyarakat secara luas.
Pelaksanaan Anggaran Belanja Sekolah
Dalam mempergunakan anggaran, ada azas yang lazim dijadikan pedoman, yaitu azas umum pengeluaran negara, bahwa manfaat penggunaan uang negara minimal harus sama apabila uang tersebut dipergunakan sendiri oleh masyarakat. Azas ini tercermin dalam prinsip-prinsip yang dianut dalam pelaksanaan APBN seperti prinsip efisiensi, pola hidup sederhana, hemat, dan sebagainya. 
Tugas manajemen keuangan dibagi tiga fase, yaitu financial planning, implementation, and evaluation. Menurut Jones (1985) yang dikutip oleh Sulistyorini dalam bukunya, ia mengemukakan bahwa perencanaan finansial disebut budgeting, merupakan kegiatan mengkoordinasi semua sumber daya yang tersedia untuk mencapai sasaran yang diinginkan secara sistematis tanpa menyebabkan efek samping yang merugikan. Implementation accounting (pelaksanaan anggaran) ialah kegiatan berdasarkan rencana yang telah dibuat dan kemungkinan terjadi penyesuaian bila diperlukan. Evaluation involves merupakan proses evaluasi terhadap pencapaian sasaran. 
Komponen utama manajemen keuangan meliputi:
Prosedur anggaran.
Prosedur akuntansi keuangan.
Pembelajaran, pergudangan, dan prosedur pendistribusian.
Prosedur investasi.
Prosedur pemeriksaan.
Dalam pelaksanaannya, manajemen keuangan ini menganut asas pemisahan tugas antara fungsi otorisator, ordonator, dan bendaharawan. Diatas telah kami sebutkan bahwa otorisator adalah diberi wewenang untuk mengambil tindakan yang berkaitan dengan penerimaan atau pengeluaran anggaran. Sedangkan ordonator yaitu pejabat yang berwenang melakukan pengujian dan memerintahkan pembayaran atas segala tindakan berdasarkan otorisasi yang telah ditetapkan. Adapun bendaharawan adalah pejabat yang berwenang melakukan penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran uang atau surat-surat berharga lainnya yang dapat dinilai dengan uang serta diwajibkan membuat perhitungan dan pertanggungjawaban. 
Kepala sekolah sebagai manajer, berfungsi sebagai otorisator dan ordonator, dibenarkan melaksanakan fungsi bendaharawan karena berkewajiban melaksanakan pengawasan. Bendaharawan disamping mempunyai fungsi-fungsi bendaharawan, juga dilimpahi fungsi ordonator untuk menguji hak atas pembayaran. Bendaharawan sekolah dalam mengelola keuangan sekolah hendaknya memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
Hemat dan sesuai dengan  kebutuhan.
Terarah dan terkendali sesuai dengan rencana.
Tidak diperkenankan untuk kebutuhan yang tidak menunjang proses belajar mengajar, seperti ucapan selamat, hadiah, pesta.
Berkaitan dengan hal tersebut, dapat diterapkan panca tertib, yaitu :
Tertib program.
Tertib anggaran.
Tertib administrasi.
Tertib pelaksanaan.
Tertib pengendalian atau pengawasan.
Penyelenggaraan Pembukaan dan Penyampaian Laporan
Pembukuan anggaran, baik penerimaan maupun pengeluaran harus dilakukan secara tertib, teratur, dan benar. Hal ini dilakukan supaya dapat membuat suatu laporan keungan dan penggunaannya yang jujur dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. Adapun untuk menunjang pengelolaan keuangan yang baik, kepala sekolah hendaknya memperhatikan :
Perlengkapan administrasi keuangan, yaitu sekolah memiliki tempat khusus untuk menyimpan perlengkapan administrasi keuangan, memiliki alat hitung, dan memiliki buku-buku yang dibutuhkan.
Sekolah memiliki RAPBS (Rencana Anggaran dan Pendapatan Belanja Sekolah) yang telah disyahkan oleh yang berwenang, serta memiliki program penjabarannya.
Pengadministrasian keuangan, yaitu sekolah memiliki logistik (uang dan barang) sesuai dengan mata anggaran dan sumber dananya masing-masing, sekolah memiliki buku setoran ke Bank / yayasan, memiliki daftar penerimaan gaji / honor guru dan tenaga lainnya, dan sekolah juga memiliki laporan keuangan triwulan dan tahunan. 
Pengawasan Pelaksanaan Anggaran Sekolah
Pengawasan juga bisa disebut dengan kontrol manajerial merupakan salah atu fungsi manajemen dalam organisasi. Fungsi tersebut mutlak harus dilakukan dalam setiap organisasi karena ketidakmampuan atau kelalaian untuk melakukan fungsi tersebut akan sangat mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.
Pelaksanaan anggaran sekolah harus dikontrol oleh kepala sekolah sebagai manajer sekolah. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi penyelewengan dalam penggunaan anggaran sekolah, sehingga bisa mencapai tujuan dan bisa dipertanggungjawabkan. Agar pengawasan bisa berjalan secara efektif ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan, yaitu :
Berkaitan erat dengan hasil yang diinginkan.
Objektif
Lengkap
Tepat pada waktunya
Dapat diterima
Sedangkan menurut Likert yang dikutip oleh Sulistyorini dalam bukunya, suatu pengawasan akan berfungsi  secara efektif, jika:
Pengawasan harus memungkinkan manajer dan para pegawainya merencanakan dan mengukur prestasi kerjanya, sehingga keputusannya dapat dijadikan sebagai dasar pengetahuan dan perkiraan yang dapat diinformasikan.
Suatu pengawasan harus memungkinkan para manajer mendeteksi deviasi dari standar yang ada pada waktu mengerjakan kontrol tersebut.
Pengawasan harus memungkinkan sebagai alat untuk menetapkan penghargaan, penyeleksian, dan kompensasi berdasarkan suatu prestasi kerja yang sebenarnya, daripada berdasarkan perkiraan.
Pengawasan harus dapat menjadi motivasi yang merangsang untuk mencapai prestasi yang baik. Pengawasan mampu sebagai media komunikasi yang mencakup konsep-konsep umum untuk membicarakan kemajuan organisasi.
Prinsip-Prinsip Pengelolaan Keuangan
Manajemen keuangan sekolah perlu memperhatikan sejumlah prinsip. Undang-Undang No.20 tahun 2003 pasal 48 menyatakan bahwa pengelolaan dana pendidikan berdasarkan pada prinsip keadilan efesiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik. Disamping itu, prinsip efektivitas juga perlu mendapat penekanan. Berikut ini di bahas masing-masing prinsip tersebut, yaitu transparansi, akuntabilitas, efektivitas, dan efesiensi.
Transparansi
Transparansi berarti adanya keterbukaan. Transparansi di bidang manajemen berarti adanya keterbukaan dalam mengelola suatu kegiatan. Di lembaga pendidikan, bidang manajemen keuangan yang transparan berarti adanya keterbukaan dalam manajemen keuangan lembaga pendidikan, yaitu keterbukaan sumber keuangan dan jumlahnya, rincian pengguanaa, dan pertanggungjawabanya harus jelas sehingga bisa meudahkan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengetahuinya.
Transparansi keuangan sangat di perlukan dalam rangka meningkatkan dukungan orang tua, masyarakat-masyarakat dan pemerintah dalam rangka penyelenggaraan seluruh program pendidikan di sekolah. Di samping itu, transparansi dapat menciptakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah, masyarakat, orang tua siswa, dan warga sekolah melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasiyang akurat dan memadai.
Beberapa informasi yang bebas diketahui oleh semua warga sekolah dan orang tua siswa, misalnya rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS) bisa di tempel di papan pengumuman di depan ruang guru atau di depan ruang tata usaha sehingga bagi siapa saja yang membutuhkan informasi itu dapat dengan mudah mendapatkanya. Orang tua siswa dapat mengetahui berapa jumlah uang yang di terima sekolah dari oarang tua siswa dan di gunakan untuk apa saja uang itu. Perolehan informasi ini menambah kepercayaan orang tua siswa terhadap sekolah.
Akuntabilitas 
Akuntabilitas adalah kondisi seseorang yang di nilai oleh orang lain karena kualitas performanisnya dalam menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan yang menjadi tanggung jawabnya. Akuntabilitas di dalam manajemen keuangan berarti penggunaan uang sekolah dapat di pertanggung jawabkan sesuai dengan perencanaan yang telah di tetapkan. Berdasarkan perencanaan yang telah di tetapkan dan peraturan yang berlaku, maka pihak sekolah membelanjakan uang secara bertanggung jawab.
Ada tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunya akuntabilitas, yaitu (1) adanya transparansi para penyelenggara sekolah dengan penerima masukan dan mengikutsertakan berbagai komponen dalam mengelola sekolah, (2) adanya standar kinerja di setiap instansi yang dapat di ukur dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan wewenangnya, (3) adanya partisipasi untuk saling menciptakan suasana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah, biaya yang murah dan pelayanan yang cepat.
Efektivitas
Efektif seringkali diartikan sebagai pencapaian tujuan yang telah di tetapkan. Garner (2004) mendefinisakn efektif lebih dalam lagi, karena efektivitas tidak hanya sampai tujuan itu sampai pada hasil kualitatif yang di kaitkan dengan pencapaian visi lembaga. Efektifvitas lebih menekankan pada kualitatif outcomes. Manajemen keuangan di katakan memenuhi prinsip efektivitas dalam rangka mencapai tujuan lembaga yang bersagkutan dan kualitatif outcomes sesuai dengan rencana yang telah di tetapkan.
Efesiensi
Efesiensi berkaitan dengan kuantitas hasil suatu kegiatan. Efesiensi adalah perbandingan yang terbaik secara masukan (input) dan keluaran (output) atau antara daya dan hasil. Daya yang di maksud meliputi tenaga, pikiran, waktu, dan biaya.
Tujuan Pengelolaan Keuangan
Melalui kegiatan manajemen keuangan, kebutuhan pendanaan kegiatan sekolah dapat di rencanakan, diupayakan pengadaannya, dibukukan secara transparan, dan di gunakan untuk membiayai pelaksanaan program sekolah secara efektif dan secara efesien. Untuk itu, tujuan manajemen keuangan adalah :
Meningkatkan efektivitas dan efesiensi penggunaan keungan sekolah
Meningkatkan akuntabilitas dan transparansi keuangan sekolah
Meminimalkan penyalahgunaan
Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan kreatifitas kepala sekolah dalam menggali sumber-sumber dana, menempatkan bendaharawan yang menguasai dalam pembukuan dan pertanggungjawaban keuangan serta memanfaatkannya secara benar sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
Kegiatan Pengelolaan Keuangan
Proses Perencanaan Keuangan Sekolah 
Secara umum, proses manajemen keuangan sekolah meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban. Perencanaan merupakan langkah awal dalam proses manajemen keuangan. Perencanaan merupakan langkah awal dalam proses manajemen keungan. Perencanaan adalah suatu proses yang rasional dan sistematis dalam menetapkan langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pengertian tersebut mengandung unsur-unsur bahwa di dalam perencanaan ada proses, ada kegiatan yang rasional dan sitematis serta adanya tujuan yang akan dicapai.
Perencanaan sebagai proses berarti suatu kejadian membutuhkan waktu, tidak dapat terjadi secara mendadak. Perencanaan sebagai kegiatan rasional berartti melalui proses pemikiran yang didasarkan pada data yang riil dan analisis yang logis, yang dapat dipertanggungjawabkan, dan tidak didasarkan pada ramalan yang intuitif. Perencanaan sebagai kegiatan yang sistematis berarti perencanaan meliputi tahap-tahap kegiatan. Kegiatan yang satu menjadi landasan tahap berikutnya. Tahap kegiatan tersebut dapat dijadikan panduan sehingga penyimpanan dapat segera diketahui dan diatasi. 
Sedangkan tujuan perencanaan itu sendiri arahnya agar kegiatan yang dilaksanakan tidak menyimpang dari arah yang ditentukan. Yang perlu diperhatikan didalam perencanaan keuangan sekolah, antara lain menganalisis program kegiatan dan prioritasnya, menganalisis dana yang ada dan yang mungkin diadakan dari berbgai sumber pendapatan dan dari berbagai kegiatan. 
Perencanaan keuangan sekolah disesuaikan dengan rencana pengembangan sekolah secara keseluruhan, baik pengembangan jangka pendek maupun jangka panjang. Pengembangan jangka pendek berupa pengembangan pengembangan satu tahunan. Pengembangan jangka panjang berupa pengembangan lima tahunan, sepuluh tahunan, bahkan duapuluh lima tahunan. Berdasarkan rencana pengembanngan sekolah, baik jangka pendek maupun jangka panjang, maka dibuatlah perencanaan keuangan sekolah baik perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang. 
Garner (2004) merumuskan sequence perencanaan keuangan yang stategis sebagai berikut:
Misi (mission)
Tujuan jangka panjang (goals)
Tujuan jangka pendek (objectivies)
Program, layanan, aktivitas (program, services, activites), tujuan jangka panjang, tujuan jangka pendek berdasarkan kondisi riil unit sekolah (site-based unit goals dan objectivies), 
Target: baik outcomes maupun outputs, 
Anggaran (budget) 
Perencanaan keuangan yang stategis (strategic financial plan)
Siklus tersebut menunjukan bahwa pembuatan rencana startegis memerlukan langkah-langkah sebagai berikut:
Misi, tujuan tujuan jangka panjang dan tujuan jangkan pendek perlu dirumuskan pimpinan sekolah.
Tujuan jangka panjang, tujuan jangka pendek, dan target yang ingin dicapai berdasarkan kondisi riil sekolah perlu dipahami oleh seluruh warga sekolah 
Berdasarkan kondisi riil sekolah. Maka dirumuskan perencanaan keuangan yang stategis 
Perencanaan keuangan stategis sudah dirumuskan, menjadi bahan masukan pada pengembangan misi dan tujuan sekolah pada periode berikutnya. 

Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS)
 Setiap sekolah wajib menyusun RAPBS sebagaimana diamanatkan di dalam pasal 53 peraturan pemerintah No.19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan, yaitu rencana kerja tahunan hendaknya memuat rencana anggaran pendapatan dan belanja satuan pendidikan untuk masa kerja satu tahun. RAPBS merupakan rencana perolehan pembiayaan pendidikan dari berbagai sumber pendapatan serta susunan program kerja tahunan yang terdiri dari sejumlah kegiatan rutin serta beberapa kegiatan ainnya disertai rincian rencana pembiayaan dalam satu tahun anggaran. Dengan demikian, RAPBS berisi tentang ragam sumber pendapatan dan jumlah nominalnya, baik rutin maupun pembangunan, ragam pembelanjaan dan jumlah nominalnya dalam satu tahun anggaran. 
Penyusunan RAPBS perlu memperhatikan asas anggaran berikut ini. 
Asas kecermatan 
Anggaran harus diperkirakan secara cermat, baik dalam hal penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian sehingga dapat efektif dan terhindar dari kekeliruan dan perhitungan. 
Asas terinci 
Penyusunan anggaran dirinci secara baik sehingga dapat dilihat rencana kerja yang jelas serta dapat membantu unsur pengawasan 
Asas keseluruhan 
Anggaran yang disusun mencakup semua aktivitas keuangan dari suatu organisasi secara menyeluruh dari awal tahun sampai akhir tahun anggaran. 
Asas keterbukaan 
Semua pihak yang telah ditentukan oleh peraturan atau pihak yang terkait dengan sumber pembiayaan sekolah dapat memonitor aktivitas yang tertuang dalam penyusunan anggaran maupun dalam pelaksanaannya.
Asas periodik
Pelaksanaan anggaran mempunyai batas waktu yang jelas.

Asas pembebanan 
Dasar pembukaan terhadap pengeluaraan dan penerimaan anggaran perlu diperhatikan. Kapan suatu anggaran pengeluaran dibebankan kepada anggaran ataupun suatu penerimaan menguntungkan anggaran perlu diperhitungkan secara baik. 
Dalam menetapkan jumlah anggaran, dua hal yang perlu diperhatikan adalah unit cost (satuan biaya) dan volume kegiatan. Setiap program dan penganggarannya perlu memperhatikan kedua hal tersebut. Misalnya untuk anggaran rutin, SBP (bantuan khusus murid) jenis kegiatan dan satuan biayanya sudah diitentukan. Kepala sekolah brsama guru dan pihak lain yang terlibat langsung, misalnya komite sekolah, diharapkan menyusun prioritas penggunaan dana per mata anggaran secara cermat. 
Sumber-Sumber Pendapatan Sekolah 
Kebutuhan dana untuk kegiatan operasional secara rutun dan pengembangan program sekolah secara berkelanjutan sangat dirasakan setiap pengelola lembaga pendidikan. Semakin banyak kegiatan yang dilakukan sekolah semakin banyak dana yang dibutuhkan. Untuk itu, kreatifitas setiap pengelola sekolah dalam menggali dana dari berbagai sumber akan sangat membantu kelancaran pelaksanaan program sekolah baik rutin maupun pengembangan di lembaga yang bersangkutan. 
Sumber-sumber pendapatan sekoah bisa berasal dari pemerintah, usaha mandiri sekolah, orang tua siswa, dunia usaha dan industri, sumber lain seperti hibah yang tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku, yayasan penyelenggara pendidikan bagi lembaga pendidikan swasta, serta masyarakat luas. Berikut ini disajikan rincian masing-masing sumber pendapatan sekolah. 
Sumber keuangan dari pemerintah bisa berasal dari pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/kota. Sumber keuangan pendidikan yang berasal dari pemerintah pusat dialokasikan melalui anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBN), sedangkan yang berasal dari pemerintah kabupaten dan kota dialokasikan melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Selanjutnya, melalui kebijakan pemerintah yang ada, ditahun 2007 didalam pengelolaan keuangan dikenal sumber anggaran yang disebut Dana Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). DIPA meiputi administrasi umum, yaitu alokasi dari pemerintah yang bersumber APBN penerimaan dari pajak, dan penerimaan Negara bukan pajak (PNBP) Yang bersumber dari dana masyarakat. 
Beberapa kegiatan yang merupakan usaha mandiri sekolah yang bisa menghasilakan pendapan sekolah anatara lain 1). Pengelolaan kantin sekolah; 2) pengelolaan kantin sekolah; 3) pengelolaan jasa antar jemput siswa; 4) panen kebun sekolah; 5) kegiatan yang menarik sehingga ada sponsor yang memberi dana; 6) kegiatan seminar/pelatihan/lokakarya dengan dana dari peserta yang bisa disisihkan sisa anggarannya untuk sekolah; 7) penyelenggaraan lomba kesenian dengan biaya dari peserta atau perusahaan yang sebagian dana bisa disisihkan untuk sekolah, 
Sumber dana yang berasal dari orangtua siswa dapat berupa sumbangan fasilitas belajar siswa, sumbangan pembangunan gedung, iuran BP3, dan SPP. Selain itu, bisa juga sekolah mengembangkan penggalian dana dalam bentuk: amal jariah, zakat mal, uang tasyakuran, amal Jumat.
Sumber dana dari dunia usaha industri dilakukan melalui kerjasama dalam berbagai kegiatan, baik bantuan berupa uang maupun berupa bantuan fasilitas sekolah. Sumber dana dari masyarakat demikian juga bisa berupa uang maupun berupa bantuan fasilitas sekolah.
Untuk memperoleh dana dari berbagai pihak utamanya dari dana hibah atau block grant kepala sekolah perlu menyusun proposal yang menggambarkan kebutuhan pengembangan program sekolah. Komponen proposal dapat disusun sebagai berikut: rumusan visi, misi, dan tujuan sekolah, identifikasi tantangan nyata yang dihadapi sekolah, sasaran, identifikasi fungsi-fungsi sasaran, analisis SWOT, alternative langkah-langkah pemecahan persoalan, rencana dan program peningkatan mutu, anggaran dan rincian penggunannya.



BAB III
PENUTUP

Pengelolaan kesiswaan merupakan kegiatan pencatatan siswa mulai dari proses penerimaan hingga siswa tersebut keluar dari sekolah disebabkan telah tamat/lulus. Fungsi pengelolaan kesiswaan adalah sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya, segi sosial, kebutuhan, dan segi potensi peserta didik lainnya. Pengelolaan kesiswaan bertujuan untuk mengatur berbagai kesiswaan agar kegiatan pembelajaran disekolah dapat berjalan lancar, tertib dan teratur, serta mencapai tujuan pendidikan sekolah. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, bidang pengelolaan kesiswaan sedikitnya memiliki empat tugas utama yang harus diperlihatkan, yaitu penerimaan murid baru, pencatatan murid dalam buku induk, kegiatan kemajuan belajar, serta bimbingan dan pembinaan disiplin.
Adapun pengelolaan keuangan dapat diartikan sebagai tindakan pengurusan/ ketatausahaan keuangan yang meliputi pencatatan, perencanaan, pelaksanaan, pertanggung jawaban dan pelaporan (Depdiknas ditjen Dikdasmen, 2000). Fokus manajemen/pengelolaan keuangan sekolah memungsikan dan mengoptimalkan kemampuan menyusun rencana anggaran sekolah, mengelola sekolah berdasarkan rencana dan anggaran tersebut dan memungsikan masyarakat untuk berpartisipasi mengelola sekolah. Prinsip-prinsip pengelolaan keuangan yaitu transparansi, akuntabilitas, efektivitas, dan efesiensi. Tujuan manajemen keuangan adalah: Meningkatkan efektivitas dan efesiensi penggunaan keungan sekolah; Meningkatkan akuntabilitas dan transparansi keuangan sekolah; Meminimalkan penyalahgunaan. Kegiatan pengelolaan keuangan terdiri dari rangkaian aktivitas yang mengatur keuangan sekolah mulai dari perencaan, pembukuan, pembelanjaan, pengawasan dan pertanggung jawaban keuangan sekolah.

Sekian pemaparan materi mengenai pengelolaan kesiswaan dan keuangan dalam makalah ini. Kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan khususnya bagi kami.



























DAFTAR PUSTAKA

Afifuddin, dkk. 2004. Administrasi Pendidikan. Bandung: Insan Mandiri
E. Mulyasa. 2005. Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, Implementasi, Bandung: Remaja Rosdakarya
E. Mulyasa. 2012. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Jamal Ma’mur Amani. 2012. Tips Aplikasi Manajemen Sekolah. Jogjakarta: DIVA Press
M. Sobry Sutikno. 2010. Pengelolaan Pendidikan. Bandung: Prospect
Sulistyorini. 2006. Manajemen Pendidikan Islam. Surabaya: Elkaf
Sulistiyorini. 2009. Manajemen Pendidikan Islam: Konsep, strategi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Teras
Syaiful Sagala. 2010. Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Internet
https://yulissuwandi80.wordpress.com/2014/08/18/makalah-manajemen-kesiswaan/ diunggah pada tanggal 07 Maret 2017 pada jam 15.40
http://gemblcnp.blogspot.co.id/2014/07/makalah-manajemen-kesiswaan.html diunggah pada tanggal 07 Maret 2017 pada jam 15.45

METODE DAN STRATEGI BIMBINGAN KONSELING

METODE DAN STRATEGI 
BIMBINGAN KONSELING

MAKALAH

Dalam rangka memenuhi tugas perkuliahan mata kuliah Bimbingan dan Konseling

Dosen Pengampu
Eko Setiawan, S. Pd. I., M. Pd.




Makalah Bahan Diskusi Kelompok 3

1152020089 Hayi Fauzih
1152020090 Heriana
1152020093 Iis Istiqomah
1152020108 Kristin Wiranata




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017




KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji hanya milik Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dan hanya kepada-Nyalah kita berhak bersyukur dan tiada yang lain selain Allah, karena sesungguhnya Allah-lah yang mampu memberikan kita kekuatan untuk mengerjakan segala sesuatu yang kita lakukan.
Shalawat serta salam semoga tercurahlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa kita kepada jalan yang benar. Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling. Kami berharap makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang mengarahkan kepada hal yang baik, dan mampu menjadi petunjuk untuk pembahasan yang kami bahas. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh




Bandung, 27 Mei 2017

       
 Penyusun








DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 1
Tujuan Makalah 2
BAB II PEMBAHASAN 3
Strategi Bimbingan dan Konseling 3
Layanan Dasar Bimbingan 4
Layanan Responsif 9
Layanan Perencanaan Individual 10
Layanan Preventif dan Mikro Konselingnya 11
Metode Bimbingan dan Konseling 14
Metode Bimbingan Individual 14
Metode Bimbingan Kelompok 16
BAB III PENUTUP 19
DAFTAR PUSTAKA 20













BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Kondisi pendidikan formal saat ini, tidak mampu menjadi solusi atas bobroknya moral di Indonesia. Tawuran antar pelajar, pergaulan bebas, kurangnya kesantunan dalam diri siswa, dan hal-hal lainnya, menunjukkan bahwa pendidikan yang ada saat ini tidaklah mampu menciptakan generasi emas yang memiliki moral yang baik serta berkepribadian kuat. 
Melihat kondisi di atas, maka guru hendaknya memiliki pengetahuan tentang pencegahan-pencegahan atas berbagai kegiatan yang dilakukan siswa yang kelak mengakibatkan kerugian bagi dirinya dan lingkungannya di masa kini dan masa mendatang serta solusi jitu dalam mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi siswa. Hal ini dapat ditempuh dengan memberikan bimbingan (preventif) dan konseling (kuratif). Dalam pemberian bimbingan dan konseling, diperlukan suatu strategi dan metode yang tepat. Adapun strategi dalam penyampaian bimbingan dan konseling dapat ditempuh dengan adanya layanan dasar bimbingan, layanan reponsif, layanan perencanaan individual, dan layanan preventif. 
Berangkat dari dasar permasalahan inilah, kami merasa tergugah untuk mengangkat suatu tema mengenai “Metode dan Strategi Bimbingan dan Konseling” yang akan dibahas lebih lanjut di dalam makalah ini.

Rumusan Masalah
Setelah kami menelusuri berbagai sumber dan artikel berkenaan dengan tema makalah yang kami angkat, kami menyimpulkan rumusan masalah sebagai berikut.
Apa yang dimaksud dengan strategi bimbingan dan konseling?
Apa yang dimaksud dengan metode bimbingan dan konseling?
Bagaimaimana strategi dan metode dalam memberikan suatu pelayanan bimbingan dan konseling?


Tujuan Makalah
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling dan untuk dijadikan bahan acuan dalam diskusi “Strategi dan Metode Bimbingan Konseling”. 



























BAB II
PEMBAHASAN

Strategi Bimbingan dan Konseling
Secara etimologi kata ‘strategi’ berasal dari bahasa Yunani “strategos” yang berarti jenderal atau panglima. Adapun secara terminologi pengertian definisi menurut para ahli adalah sebagai berikut:
Hamzah B. Uno mendefinisikan strategi pembelajaran merupakan hal yang perlu diperhatikan guru dalam proses pembelajaran.
Dick dan Carey mendefinisikan strategi pembelajaran adalah komponen-komponen dari suatu set materi termasuk aktivitas sebelum pembelajaran, dan partisipasi peserta didik yang merupakan prosedur pembelajaran yang digunakan kegiatan sebelumnya.
Gerlach dan Ely mendefinisikan strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan metode pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu.
Maka dapat disimpulkan strategi adalah suatu pola yang direncanakan dan diterapkan dan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan kegiatan atau tindakan. Strategi mencakup tujuan kegiatan, siapa yang terlibat dalam kegiatan, dan sarana penunjang kegiatan. Strategi dalam layanan bimbingan dan konseling disebut strategi layanan bimbingan dan konseling.
Berdasarkan pada fungsi dan prinsip bimbingan, maka kerangka kerja layanan bimbingan dan konseling itu dikembangkan dalam suatu program bimbingan dan konseling yang dijabarkan dalam empat kegiatan utama yaitu : 1) layanan dasar bimbingan; 2) layanan responsif; 3) layanan perencanaan individual dan; 4) dukungan sistem. Adapun yang akan dibahas dalam makalah ini hanya meliputi point 1-3 dan ditambah dengan layanan preventif dan mikro konselingnya.

Layanan Dasar Bimbingan 
Layanan dasar bimbingan adalah layanan bimbingan yang bertujuan untuk membantu seluruh peserta didik mengembangkan perilaku efektif dan keterampilan-keterampilan hidupnya yang mengacu pada tugas-tugas perkembangan peserta didik. Tugas-tugas perkembangan peserta didik itu sebagai berikut :
Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat.
Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita.
Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas.
Mengenal kemampuan, bakat, minat, serta arah kecenderungan karir dan apresiasi seni.
Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan mempersiapkan karir serta berperan dalam kehidupan masyarakat.
Mengenal gambaran dan mengembangkan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi.
Mengenal sistem etika dan nilai-nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan minat manusia.
Layanan dasar bimbingan ini juga berisi layanan bimbingan belajar, bimbingan sosial, bimbingan pribadi dan bimbingan karir. Layanan ini ditunjukan untuk seluruh peserta didik, disajikan atau diluncurkan dengan menggunakan strategi klasikal dan dinamika kelompok.

Layanan dasar Bimbingan Bidang Pribadi-Sosial
Isi layanan dasar bimbingan bidang pribadi-sosial sebagai berikut :
Macam-macam kaidah ajaran islam.
Pokok-pokok keyakinan ajaran agama yang dianutnya.
Praktik menjalankan ajaran agama
Contoh-contoh hubungan menurut ajaran agama.
Praktik hubungan berdasarkan ajaran agama.
Fakta perubahan fisik dan psikis remaja.
Contoh-contoh sikap penerimaan terhadap perubahan fisik dan psikis.
Konsep pola hidup sehat.
Contoh-contoh pola hidup sehat.
Cara-cara upaya mengembangkan kondisi hidup sehat.
Praktik cara-cara mengupayakan pengembangan kondisi hidup sehat.
Contoh-contoh pengaruh perubahan fisik dan psikis terhadap hubungan sosial.
Pengembangan pengaruh positif dan menghindari pengaruh negatif perubahan fisik dan psikis terhadap hubungan sosial.
Konsep empati, contoh-contoh empati terhadap orang yang sedang mengalami perubahan fisik dan psikis, praktik bersikap empati terhadap orang yang sedang mengalami perubahan fisik dan psikis.
 Contoh-contoh peran pribadi dalam kelompok sebaya sebagai pria atau wanita, contoh-contoh penerimaan peran pribadi sebagai pria atau wanita dalam kelompok sebaya tanpa membedakan teman pria atau wanita pada posisi tertentu, praktik menjalankan peran dalam dan kelompok sebaya tanpa membedakan peran pria atau wanita pada posisi tertentu.
Contoh-contoh pola hubungan sosial dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita, contoh-contoh pola hubungan sosial dengan teman sebaya tanpa membedakan peran pria atau wanita pada posisi tertentu, praktik menjalankan pola hubungan sosial dengan teman sebaya tanpa membedakan peran pria atau wanita pada posisi tertentu.
Contoh-contoh nilai dan cara berperilaku pribadi dalam kehidupan sosial yang lebih luas, praktik menerapkan nilai dan cara berperilaku pribadi dalam kehidupan sosial yang lebih luas.
Contoh-contoh nilai dan cara berperilaku sosial dalam kehidupan di luar kelompok sebaya, praktik menerapkan nilai dan cara berperilaku sosial dalam kehidupan diluar kelompok sebaya.
Konsep kemampuan, bakat, minat karir, dan apresiasi seni; identifikasi kemampuan, bakat, dan minat diri sendiri; identifikasi kecenderungan arah karir sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat; identifikasi arah apresiasi seni (seni rupa, seni lukis, seni sastra, seni suara, dan lain-lain) tanpa terlalu terikat pada kemampuan, bakat, dan minat sendiri.
Contoh-contoh aspek sosial Pada tingkat yang lebih tinggi, motivasi dan semangat untuk mempersiapkan arah karir yang cocok bagi dirinya, motivasi dan semangat untuk berperan aktif dalam kehidupan masyarakat.
Contoh-contoh aspek sosial bebagai materi yang dipelajari di SMP, mewujudkan pengembangan penguasaan aspek sosial berbagai materi yang dipelajari di SMP, contoh-contoh aspek sosial dari upaya melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, mewujudkan pengembangan pemanfaatan aspek-aspek sosial untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, contoh-contoh aspek sosial dalam mempersiapkan karir, mewujudkan pengembangan aspek-aspek sosial dalam mempersiapkan karir, contoh-contoh aspek sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Konsep dan contoh-contoh kehidupan mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi; contoh-contoh tentang sikap yang harus diambil dalam kehidupan mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi; motivasi untuk melaksanakan sikap dasar dalam kehidupan mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi.
Contoh-contoh aspek sosial dari gambaran kehidupan mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi; cara-cara bersikap dalam hubungan sosial berkenaan dengan kehidupan mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi; praktik cara bersikap dalam hubungan sosial berkenaan dengan kehidupan mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi.
Konsep dan contoh-contoh sistem etika dan nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi dan anggota masyarakat, motivasi untuk berpenilaian sesuai dengan sistem etika dan nilai bagi pedoman hidup sebagai peribadi dan anggota masyarakat.
Contoh-contoh aspek sosial dalam sistem etika dan nilai-nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan warga negara; cara-cara mewujudkan aspek sosial dalam sistem etika dan nilai-nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyakat dan warga negara, serta penerapannya.
Layanan Dasar Bimbingan Bidang Belajar
Adapun isi layanan dasar bimbingan bidang belajar sebagai berikut.
Contoh –contoh kegiatan belajar menurut ajaran agama, praktik kegiatan belajar menurut ajaran agama. 
Contoh-contoh pengaruh perubahan fisik dan psikis terhadap kegiatan belajar, cara-cara mengatasi kesulitan yang terjadi akibat perubahan fisik dan fsikis dalam kegiatan belajar, praktik cara-cara mengatasi kesulitan belajar yang terjadi akibat perubahan fisik dan psikis dalam kegiatan belajar.
Contoh-contoh pengaruh hubungan teman sebaya terhadap kegiatan belajar baik pengaruh positif maupun negatif, cara-cara dan praktik pengembangan pengaruh positif hubungan teman sebaya terhadap kegiatan bekajar, cara-cara dan praktik menghindari dan mengatasi pengaruh negatif hubungan teman sebaya terhadap kegiatan kegiatan belajar. 
Contoh-contoh pengaruh nilai dan cara berperilaku pribadi dan sosial dalam kehidupan yang lebih luas terhadap kegiatan belajar, praktik mengembangkan pengaruh yang positif dan menghindari yang negatif perilaku peibadi dan sosial dalam kehidupan yang lebih luas terhadap kegiatan belajar.
Contoh-contoh pengaruh positif kemampuan, bakat, dan minat sendiri terhadap kegiatan belajar; cara-cara dan penerapan pengembangan pengaruh positif kemampuan, bakat, dan minat sendiri terhadap kegiatan belajar; contoh-contoh pengaruh positif kecenderungan karir terhadap kegiatan belajar; cara-cara dan penerapan pengembangan pengaruh positif kecenderungan karir terhadap kegiatan belajar; contoh-contoh pengaruh positif apresiasi seni terhadap kegiatan belajar; cara-cara dan peneraoan apresiasi seni terhadap kegiatan belajar. 
Motivasi, sikap, kebiasaan dan keterampilan belajar di dalam dan di luar kelas, membaca cepat dan tepat, menyiapkan tugas, karya tulis, ulangan/ujian, belajar mandiri dan kelompok, menggunakan alat bantu dan sumber belajar (termasuk buku, kamus, ensiklopedi, jurnal, komputer untuk semua mata pelajaran); sikap, kebiasaan dan keterampilan belajar secara optimal untuk menguasai program di SMP; praktik pengembangan sikap, kebiasaan, dan keterampilan belajar secara optimal; sikap, kebiasaan dan keterampilan belajar secara optimal untuk menguasi bekal bagi program pelajaran lebih lanjut; praktik pengembangan sikap. Kebiasan dan keterampilan belajar secara optimal untuk menguasai bekal program pelajaran lebih lanjut.
Contoh-contoh pengaruh positif dari gambaran kehidupan mandiri secara emisional, sosial, dan ekonomi dalam kegiatan belajar; cara-cara mewujudkan pengaruh positif dari gambaran kehidupan mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi dalam kegiatan belajar serta penerapannya.
Contoh-contoh pengaruh sistem etika dan nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan warga negara dalam kegiatan belajar; cara-cara mewujudkan pengaruh sistem etika dan nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan warga negara dalam kegiatan belajar serta penerapannya.
Layanan Dasar Bimbingan Bidang Karir
Isi layanan dasar bimbingan bidang karir sebagai berikut.
Contoh-contoh pengembangan karir menurut ajaran agama, praktik kegiatan kerja yang mengarah pengembangan karir menurut ajaran agama.
Contoh-contoh pengaruh perubahan-perubahan fisik dan psikis terhadap pengembangan persiapan karir, cara-cara mengembangkan kondisi fisik dan psikis yang sehat untuk mengembangkan karir, praktik cara-cara mengembangkan kondisi fisik dan psikis yang sehat untuk pengembangan karir.
Contoh-contoh kemanfaatan hubungan teman sebaya dalam upaya pengembangkan persiapan karir, praktik kemanfaatan hubungan teman sebaya dalam upaya pengembangan persiapan karir, konsep persamaan gender dalam pilihan dan pengembangan karir.
Contoh-contoh keterkaitan antara nilai dan cara-cara bertingkah laku dalam kehidupan sosial yang lebih luas terhadap kondisi bekerja dan pengembangan karir, praktik mewujudkan hubungan yang baik antara berkaitan dengan kemampuan bakat dan minat, contoh-contoh aspek sosial berkaitan dengan mengembangkan karir, contoh-contoh aspek sosial berkaitan dengan apresiasi seni.
Motivasi dan semangat untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan yang menjadi program sekolah, motivasi dan semangat untuk pelajaran.
Layanan Responsif
Layanan Responsif adalah layanan bimbingan yang bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh peserta didik saat ini. Layanan ini bersifat preventif atau mungkin kuratif. Strategi yang digunakan adalah konseling individual, konseling kelompok, dan konsultasi. Isi layanan responsif ini adalah :
Bidang pendidikan
Bidang belajar
Bidang sosial
Bidang pribadi
Bidang karir
Bidang tata tertib sekolah
Bidang narkotika dan perjudian
Bidang perilaku sosial
Bidang kehidupan lainnya.
Layanan Perencanaan Individual
Layanan perencanaan individual adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu seluruh peserta didik membuat dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karir, dan sosial pribadinya. Tujuan utama dari layanan ini adalah membantu peserta didik memantau dan memahami pertumbuhan dan perkembangannya sendiri, kemudian merencanakan dan mengimplementasikan rencana-rencana itu atas dasar hasil pemantauan dan pemahamannya itu. Strategi peluncurannya adalah konsultasi dan konseling.
Isi layanan perencanaan individual sebagai berikut.
Bidang pendidikan dengan topik-topiknya belajar yang efektif, belajar memantapkan program keahlian yang sesuai dengan bakat, minat, dan karakteristik kepribadian lainnya.
Bidang karir dengan topik-topiknya mengidentifikasi kesempatan karir yang ada di lingkungan masyarakat, mengembangkan sikap yang positif terhadap dunia kerja, dan merencanakan kehidupan karirnya.
Bidang sosial-pribadi dengan topik-topiknya adalah mengembangkan konsep diri yang positif, mengembangkan keterampilan-keterampilan social yang tepat, belajar menghindari konflik dengan teman, dan belajar memahami perasaan orang lain.

Layanan Preventif dan Mikro Konselingnya
Layanan yang bersifat preventif (pencegahan) adalah pemberian bantuan kepada siswa sebelum menghadapi kesulitan atau persoalan yang serius. Cara yang ditempuh bermacam-macam, antara lain: memelihara situasi yang baik dan menjaga situasi itu agar tetap baik. Dalam hal ini hubungan siswa dengan guru dan staf yang lain harus dijaga sebaik mungkin. Saling mengerti kedudukannya sehingga satu dengan yang lainnya tidak saling membenci. Demikian juga guru dalam menyampaikan materi harus disesuaikan dengan keadaan anak. Minat anak dan guru berusaha semaksimal mungkin menimbulkan semangat anak agar tidak merasa bosan terhadap guru dan materi yang diberikan.
Sehubungan dengan hal tersebut, Dewa Ketut Sukardi menjelaskan: “Bimbingan berfungsi preventif, pencegahan terjadinya atau timbulnya masalah dari anak didik dan berfungsi preservation. Memelihara situasi dan menjaga supaya situasi itu tetap baik.” 
Selanjutnya bimbingan preventif ini bisa dengan cara penggunaan waktu senggang. Jenis bimbingan ini untuk membantu siswa dalam menggunakan waktu senggang dengan cara mengisi kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain atau lingkungan.
Dengan bimbingan jenis ini diharapkan siswa mampu memanfaatkan waktu senggang dengan mengisi kegiatan-kegiatan belajar, bekerja atau rekreasi yang membawa manfaat.
Kegiatan bimbingan menggunakan waktu senggang antara lain membantu siswa dalam hal:
Menggunakan waktu-waktu senggang untuk kegiatan produktif.
Menyusun dan membagi waktu belajar dengan sebaik-baiknya.
Mengisi dan menggunakan waktu pada jam-jam bebas, hari libur dan sebagainya.
Merencanakan suatu kegiatan. 
Mengenai penggunaan waktu yang sebaik-baiknya telah diperintahkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Ashr ayat 1-3 yaitu :
وَٱلۡعَصۡرِ ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣ 
Artinya : Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kesabaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kebenaran. 
Dari nash tersebut di atas dapat dipahami bahwa Islam sangat menghargai akan perlunya memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya yaitu mengisi waktu dengan perbuatan yang bermanfaat baik bagi dirinya maupun bagi diri lingkungan.
Adapun bimbingan yang bersifat pencegahan adalah tata tertib, menanamkan kedisiplinan, memberikan motivasi, dan memberikan nasehat. 
Tata Tertib
Tata tertib adalah beberapa peraturan yang harus ditaati dalam situasi atau dalam suatu tata kehidupan tertentu. Peraturan tersebut dalam hal ini dapat berbentuk tulisan atau tidak tertulis. Yang tertulis misalnya tata tertib antara guru dengan murid, tata tertib pergaulan dan sebagainya.
Menanamkan kedisiplinan
Dengan Pembiasaan
Anak dibiasakan untuk melakukan sesuatu dengan baik, tata tertib dan teratur, misalnya berpakaian yang rapi, masuk dan keluar kelas harus dengan ijin guru, harus memberi salam dan sebagainya.
Dengan contoh dan teladan
Suri tauladan yang baik perlu mendapatkan perhatian yang sesungguhnya dari guru. Untuk itulah guru harus lebih dahulu memberikan contoh dengan perbuata yang baik, sebab kalau tidak maka dikalagan murid akan timbul semacam protes tentang keadaan tersebut sehingga akan menimbulkan rasa tidak senang, iri hati dan tidak ikhlas. Perbuatan baik itu dikerjakan oleh murid hanya karena keterpaksaan.

Dengan penyadaran
Disamping adanya pembiasaan, contoh dan teladan, maka anak semakin kritis ingin mengerti tentang arti peraturan atau larangan yang ada. Maka kewajiban para guru untuk memberikan penjelasan, alasan yang dapat diterima dengan baik oleh pikiran anak. Sehingga dengan demikian timbul kesadaran anak tentang adanya perintah yang harus dikerjakan dan larangan-larangan yang harus ditinggalkan.
Dengan pengawasan atau kontrol
Bahwa kepatuhan anak terhadap peraturan atau tata tertib mengenal juga adanya situasi tertentu yang mempengaruhi terhadap anak. Adanya kemungkinan anak nyeleweng atau tidak mematuhi tata tertib maka perlu diadakan pengawasan yang intensif terhadap situasi yang tidak diinginkan yang akibatnya akan merugikan keseluruhan.
Memberi motivasi
Memberikan motivasi disini lebih ditekankan pada pembetukan akhlak yang baik, yang mana akhlak merupakan keseluruhan dari gerak hidup manusia. 
Dalam hal ini Sardiman A.M. mengemukakan pendapatnya: Istilah motivasi banyak digunakan diberbagai bidang dan situasi dalam hal ini tidak akan dikemukakan motivasi dalam bidang dan motivasi dalam pembentukan akhlak siswa. 
Memberikan Nasehat
Pemberian nasehat dapat dilakukan dengan memberikan jalan untuk kebahagiaan hidup didunia dan kebahagiaan akherat. Mengingat mereka dengan yang halus dan yang lembut serta memberikan peringatan mengenai kelalaian mereka terhadap kewajiban sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial.





Metode Bimbingan dan Konseling
Secara etimologi kata ‘metode’ berasal dari bahasa Yunani “methodos” yang berarti jalan yang ditempuh. Adapun secara terminologi pengertian definisi menurut para ahli adalah sebagai berikut:
Menurut Nana Sudjana metode pembelajaran adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran.
Menurut M. sobri Sutikno menyatakan metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan.
Menurut Gerlach dan Elly metode pembelajaran dapat diartikan sebagai rencana yang sistematis untuk menyampaikan informasi.
Dalam bimbingan dan konseling bisa metode dikatakan sebagai suatu cara tertentu yang digunakan dalam proses bimbingan dan konseling. Secara umum ada dua metode dalam pelayanan bimbingan dan konseling, yaitu pertama, metode bimbingan individual, dan kedua metode bimbingan kelompok. Metode bimbingan kelompok di kenal juga dengan bimbingan (group guidance) sedangkan metode bimbingan individual dikenal dengan individual konseling.
Metode Bimbingan Individual
Melalui metode ini upaya pemberian bantuan diberikan secara individual dan langsung bertatap muka (berkomunikasi) antara pembimbing (konselor) dengan siswa (klien). Dengan perkataan lain pemberian bantuan diberikan dilakukan melalui hubungan yang bersifat face to face relationship (hubungan empat mata), yang dilaksanakan dengan wawancara antara (pembimbing) konselor dengan siswa (klien). Masalah-masalah yang dipecahkan melalui teknik konseling, adalah masalah-masalah yang bersifat pribadi.
Dalam konseling individual, konselor dituntut untuk mampu bersikap penuh simpati dan empati. Simpati ditunjukan oleh konselor melalui sikap turut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh klien (siswa). Sedangkan empati adalah usaha konselor menempatkan diri dalam situasi diri klien dengan segala masalah-masalah yang dihadapinya. Keberhasilan konselor bersimpati dan berempati akan memberikan kepercayaan yang sepenuhnya kepada konselor. Keberhasilan bersimpati dan berempati dari konselor juga akan sangat membantu keberhasilan proses konseling.
Apabila merajuk kepada teori-teori konseling, setidaknya ada tiga cara konseling yaitu: 
Konseling direktif (directive counseling)
Konseling yang menggunakan metode ini, dalam prosesnya yang aktif atau paling berperan adalah konselor. Dalam praktiknya konselor berusaha mengarahkan klien sesuai dengan masalahnya. Selain itu, konselor juga memberikan saran, anjuran dan nasihat kepada klien. Praktik konseling yang dilakukan oleh para penganut teori behavioral counseling umumnya menerapkan cara – cara di atas dalam konselingnya. Karena praktik yang demikian, konseling ini juga dikenal dengan konseling yang berpusat pada konselor.
Konseling nondirektif (non – directive counseling )
Seperti telah di sebutkan diatas, konseling nondirektif atau konseling yang berpusat pada siswa muncul akibat kritik terhadap konseling direktif (konseling berpusat pada konselor). Konselor nondirektif di kembangkan berdasarkan teori client centered (konseling yang berpusat pada klien atau siswa). Dalam praktik konseling nondirektif, konselor hanya menampung pembicaraan, yang berperan adalah konselor. Klien atau konseli bebas berbicara sedangkan konselor menampung dan mengarahkan. Metode ini tertentu sulit di terapkan kepada kepribadian tertutup (introvert), karena klien (siswa) dengan kepribadian tertutup biasanya pendiam dan sulit diajak bicara. Cara ini juga belum bisa diterapkan secara efektif untuk murid sekolah dasar dan dalam keadaan siswa SMP. Metode ini bisa diterapkansecara efektif untuk siswa SMA dan mahasiswa di perguruan tinggi.
Konseling Eklektif (Eclective counseling)
Kenyataan bahwa tidak semua teori cocok untuk semua individu, semua masalah siswa, dan semua situasi konseling. Siswa disekolah atau di madrasah memiliki tipe-tipe kepribadian yang tidak sama. Oleh sebab itu, tidak mungkin di terapkan metode konseling direktif saja atau non direktif saja. Agar konseling berhasil secara efektif dan efesien, tertentu harus melihat siapa siswa (klien) yang akan di bantu dan melihat masalah yang dihadapi siswa dan melihat situasi konseling. Apabila terhadap siswa tertentu tidak bisa di terapkan metode direktif, maka mungkin bisa diterapkan metode nondirektif begitu juga sebaliknya. Atau apabila mungkin adalah dengan cara menggabungkan kedua metode di atas. Penggabungan kedua metode konseling di atas disebut metode eklektif (eclective counseling). Penerapan metode dalam konseling adalah dalam keadaan tertentu konselor menasihati dan mengarahkan konseli (siswa) sesuai dengan masalahnya, dan dalam keadaan yang lain konselor memberikan kebebasan kepada konseli (siswa) untuk berbicara sedangkan konselor mengarahkan saja.
Metode Bimbingan Kelompok
Cara ini dilakukan untuk membantu siswa (klien) memecahkan masalah melalui kegiatan kelompok. Masalah yang dipecahkan bersifat kelompok, yaitu yang disarankan bersama oleh kelompok (beberapa orang siswa) atau bersifat individual atau perorangan, yaitu masalah yang disarankan oleh individu (seorang siswa) sebagai anggota kelompok.
Penyelenggaraan bimbingan kelompok antara lain dimaksudkan untuk mengatasi masalah bersama atau individu yang menghadapi masalah dengan menempatkanya dalam kehidupan kelompok. Beberapa jenis metode bimbingan kelompok adalah:
Program Home Room
Program ini dilakukan dilakukan di luar jam pelajaran dengan menciptakan kondisi sekolah atau kelas seperti di rumah sehingga tercipta kondisi yang bebas dan menyenangkan. Dengan kondisi tersebut siswa dapat mengutarakan perasaannya seperti di rumah sehingga timbul suasana keakraban. Tujuan utama program ini adalah agar guru dapat mengenal siswanya secara lebih dekat sehingga dapat membantunya secara efisien. 
Karyawisata
Karyawisata dilaksanakan dengan mengunjungi dan mengadakan peninjauan pada objek-objek yang menarik yang berkaitan dengan pelajaran tertentu. Mereka mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Hal ini akan mendorong aktivitas penyesuaian diri, kerjasama, tanggung jawab, kepercayaan diri serta mengembangkan bakat dan cita-cita.
Diskusi kelompok
Diskusi kelompok merupakan suatu cara di mana siswa memperoleh kesempatan untuk memecahkan masalah secara bersama-sama. Setiap siswa memperoleh kesempatan untuk mengemukakan pikirannya masing-masing dalam memecahkan suatu masalah. Dalam memlakukan diskusi siswa diberi peran-peran tertentu seperti pemimpin diskusi dan notulis dan siswa lain menjadi peserta atau anggota. Dengan demikian akan timbul rasa tanggung jawab dan harga diri.
Kegiatan Kelompok
Kegiatan kelompok dapat menjadi suatu teknik yang baik dalam bimbingan, karena kelompok dapat memberikan kesempatan pada individu (para siswa) untuk berpartisipasi secara baik. Banyak kegiatan tertentu yang lebih berhasil apabila dilakukan secara kelompok. Melalui kegiatan kelompok dapat mengembangkan bakat dan menyalurkan dorongan-dorongan tertentu dan siswa dapat menyumbangkan pemikirannya. Dengan demikian muncul tanggung jawab dan rasa percaya diri.
Organisasi Siswa
Organisasi siswa khususnya di lingkungan sekolah dan madrasah dapat menjadi salah satu teknik dalam bimbingan kelompok. melalui organisasi siswa banyak masalah-masalah siswa yang baik sifatnya individual maupun kelompok dapat dipecahkan. Melalui organisasi siswa, para siswa memperoleh kesempatan mengenal berbagai aspek kehidupan sosial. Mengaktifkan siswa dalam organisasi siswa dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan memupuk rasa tanggung jawab serta harga diri siswa.
Sosiodrama
Sosiodrama merupakan suatu cara membantu memecahkan masalah siswa melalui drama. Masalah yang didramakan adalah masalah-masalah sosial. Metode ini dilakukan melalui kegiatan bermain peran. Dalam sosiodrama, individu akan memerankan suatu peran tertentu dari situasi masalah sosial.
Pemecahan masalah individu diperoleh melalui penghayatan peran tentang situasi masalah yang dihadapinya. Dari pementasan peran tersebut kemudian diadakan diskusi mengenai cara-cara pemecahan masalah.
Psikodrama
Hampir sama dengan sosiodrama. Psikodrama adalah upaya pemecahan masalah melalui drama. Bedanya adalah masalah yang didramakan. Dalam sosiodrama masalah yang diangkat adalah masalah sosial, akan tetapi pada psikodrama yang didramakan adalah masalah psikis yang dialami individu.
Pengajaran Remedial
Pengajaran remedial (remedial teaching) merupakan suatu bentuk pembelajaran yang diberikan kepada seorang atau beberapa orang siswa untuk membantu kesulitan belajar yang dihadapinya. Pengajaran remedial merupakan salah satu teknik pemberian bimbingan yang dapat dilakukan secara individu maupun kelompok tergantung kesulitan belajar yang dihadapi oleh siswa.













BAB III
PENUTUP

Strategi adalah suatu rancangan yang direncanakan dan diterapkan dan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan kegiatan atau tindakan. Strategi mencakup tujuan kegiatan, siapa yang terlibat dalam kegiatan, dan sarana penunjang kegiatan. Jika strategi yang diterapkan dalam memberikan pelayanan bimbingan dan konseling itu tepat maka ia akan mampu memberikan hasil yang optimal terhadap konseli.
Adapun dalam menetapkan suatu pola rancangan bimbingan konseling perlu juga memerhatikan metode penyampaian yang tepat. Sehingga tujuan dan maksud dari suatu pelayanan bimbingan dan konseling dapat tersampaikan dengan baik kepada konseli.
Sekian pembahasan mengenai strategi dan metode bimbingan dan konseling di dalam makalah yang kami susun ini. Kami mohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat di dalam makalah ini. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat.















DAFTAR PUSTAKA

Achmad Juntika Nurihsan. 2012. Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT Refika Aditama

http://ayuapsari8.blogspot.com/2015/04/pengertian-kurikulumstrategi.html?m=1 diakses pada tanggal 28 Mei 2017 pada pukul 11.26 WIB
http://belardobk.blogspot.co.id/2013/07/metode-bimbingan-dan-konseling.html?m=1 diakses pada tanggal 05 April 2017 pada pukul 20:28 WIB
http://hadipranotostraz.blogspot.com/2013/02strategi-layanan-bimbingan-dan-konseling.html?m=1 diakses pada tanggal 05 April 2017 pada pukul 20.41 WIB
http://mtk2012unindra.blogspot.com/2012/10/definisi-metode-pembelajaran-menurut.html?m=1 diakses pada tanggal 28 Mei 2017 pada pukul 14.08 WIB
http://perahujagad.blogspot.com/2012/12/bimbingan-preventif-dan-bimbingan.html?m=1 diakses pada tanggal 5 April 2017 pada pukul 21.51 WIB

TOKOH FILOSOF ALAM DAN FILOSOF BESAR

TOKOH FILOSOF ALAM DAN FILOSOF BESAR

MAKALAH

Untuk memenuhi tugas struktur mata kuliah Filsafat Ilmu

Dosen Pengampu:
Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd









Makalah diskusi kelompok 1:

Indah Tria Amalia 1152020099
Kristin Wiranata 1152020108
M. Jhovi Sofyan 1152020121










JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah subhanahu wata’ala yang telah memberikan kita beribu kenikmatan. Nikmat sehat, nikmat beribadah dan nikmat mencari ilmu pengetahuan. Sholawat serta salam tak lupa tercurah limpahkan kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam kepada para sahabatnya, kepada keluarganya serta kepada kita semua selaku umatnya ingga akhir zaman.  Beliaulah yang telah mengantarkan kita semua dari zaman kegelapan hingga zaman terang benderang. 
Penulis mengucapkan ungkapan terimakasih kepada Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Filsafat Ilmu yang telah mengarahkan penulis dalam pembuatan makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Semoga makalah ini menjadi sumber belajar khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca dalam menggali pemahamannya mengenai Filsafat. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa berfilsafat sangatlah penting dalam kehidupan.  
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh



Bandung, 4 Oktober 2017

Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i 
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN
Filosof Alam 3
Filosof Besar 12
Filosof Muslim 16
BAB III PENUTUP 22
DAFTAR PUSTAKA 23


















BAB II
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah 
Manusia adalah makhluk yang istimewa ia di anugerahi akal oleh Tuhan, akal digunakan manusia untuk mengetahui mana yang baik dan buruk dalam hidupnya. Jika akalnya tidak digunakan maka tidak ada bedanya manusia dengan hewan. Berfikir secara mendalam untuk menemukan kebenaran adalah pengertian dari berfilsafat. Filsafat adalah suatu aktifitas yang dilakukan oleh akal. Dengan pengertian lainnya filsafat adalah pengetahuan yang menyelidiki sesuatu dengan mendalam mengenai keTuhanan, alam dan manusia. 
Filsafat muncul pertama kali di Yunani yang diawali oleh Thales bahwa alam semesta tercipta dari air. Air yang cair itu adalah pangkal, pokok dan dasar segala-galanya. Semua barang terjadi daripada air dan semuanya kembali kepada air pula. setelah Thales, muncul-lah filosof-filosof lainnya filosof alam, filosof besar hingga filosof muslim. Filosof-filosof tersebut memberikan kontribusinya berbentuk buah pikiran dalam menemukan kebenaran. 
Dewasa ini, banyak manusia yang tidak mempergunakan potensi akalnya secara maksimal. Mereka cenderung berfikir dangkal, malas, tidak mau berusaha. Allah subhanahu wata’ala sendiri telah mencipatakan alam semesta berupa isinya untuk memfasilitasi manusia dalam mencapai tujuannya. Dan hal itu dapat dipahami manusia jika manusianya mampu berpikir terhadap ayat-ayat Allah. Tetapi perlu kita ketahui bahwa akal manusia terbatas ia tidak bisa menjangkau wujud atau bentuk Allah. Dari sinilah banyak pula filosof-filosof besar atau manusia yang menyimpang setelah berfilsafat. 
Berangkat dari permasalahan tersebut penulis membuat makalah mengenai filosof-filosof alam, filosof besar dan juga filosof muslim. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi  penulis dan umumnya bagi pembaca agar mampu membedakan cara atau aliran berfikir para filosof untuk menjadi tambahan pengetahuan dan pelajaran dalam berfilsafat. Sehingga kita mampu berfilsafat dengan baik.   
Rumusan Masalah 
Dari latar belakang masalah diatas, penulis menarik rumusan masalah sebagai berikut: 
Apa biografi filosof-filosof alam, filosof besar, dan filosof muslim?
Bagaimana para filosof mencari kebenaran?
Apa hasil pikiran para filosof?

Tujuan 
Dari rumusan masalah diatas, penulis menarik tujuan penulisan makalah sebagai berikut:
Mengetahui biografi para filosof untuk dijadikan acuan dalam belajar,
Mengetahui dan memahami bagaimana cara filosof-filosof menggunakan akalnya untuk mencari kebenaran, 
Mengetahui dan memahami hasil pikiran filosof-filosof untuk dijadikan referensi dalam belajar berfilsafat. 
















BAB II
PEMBAHASAN

Filosof Alam
Thales (Asas Air)
Filosof alam pertama adalah Thales, yang hidup pada abad ke-6 sebelum Masehi. Seperti para pujangga-pujangga Greek yang lain, tanggal lahirnya tidak diketahui dengan pasti. Banyak orang yang menyebut Thales hidup pada masa 625-545 sebelum masehi. Di kalangan orang Yunani pada waktu itu, ia dikenal sebagai seorang hoi liepta soplioi, yaitu tujuh orang yang bijaksana, atau The Seven Wise Men atau al-Hukamia’ as-Sab’ah. Thales adalah seorang saudagar yang sering berlayar ke negeri Mesir. Ia menemukan ilmu ukur dari Mesir dan membawanya ke Yunani. Diceritakan pula bahwa ia memiliki ilmu tentang cara mengukur tinggi piramid-piramid dari bayangannya; cara mengukur jauhnya kapal laut dari sebuah pantai; ia juga mempunyai teori tentang banjir tahunan Sungai Nil di Mesir. Bahkan, ia juga berhasil meramal terjadinya gerhana matahari pada tanggal 28 Mei tahun 585 SM. Oleh karena itu, ia dikenal sebagai ahli astronomi dan metafisika. Berbagai penemuan Thales mengiring cara berpikir manusia dari mitos-mitos kepada alam nyata yang empirik.
Menurut keterangan Aristoteles, kesimpulan ajaran Thales ialah “semuanya itu air”. Air yang cair itu adalah pangkal, pokok dan dasar segala-galanya. Semua barang terjadi daripada air dan semuanya kembali kepada air pula.
Dengan jalan berpikir Thales mendapat keputusan tentang soal besar yang senantiasa mengikat perhatian: Apa asal alam ini? Apa yang menjadi sebab penghabisan daripada segala yang ada?
Untuk mencari sebab yang penghabisan itu, ia tidak mempergunakan takhayul atau kepercayaan umum pada waktu itu, melainkan mempergunakan akal. Pengalaman yang dilihatnya sehari-hari dijadikan pikirannya untuk menyusun bangun alam. Sebagai orang pesisir, dia dapat melihat setiap hari, betapa air laut menjadi sumber hidup. Di Mesir, ia melihat dengan mata kepalanya, betapa nasib rakyat di sana bergantung kepada air sungai Nil. Air Sungai Nil itulah yang menyuburkan tanah sepanjang alirannya, sehingga dapat didiami oleh manusia. Jika tidak ada Sungai Nil yang melimpahkan airnya sewaktu-waktu ke darat, negeri Mesir kembali menjadi padang pasir. Sebagai seorang saudagar pelayar, Thales melihat pula kemegahan air laut, yang menimbulkan rasa takjub. Sewaktu-waktu air laut itu menggulung dan menghanyutkan, memusnahkan serta menghidupkan. Di sini dihapuskannya segala yang hidup. Akan tetapi, bibit dan buah kayu-kayuan yang ditumbangkannya itu dihanyutkannya dan dihantarkannya ke pantai tanah lain. Bibit dan buah itu tumbuh di sana dan menjadi tanaman hidup.
Demikianlah, laut menyebarkan bibit seluruh dunia, yang menjadi dasar penghidupan. Semua itu terpikir oleh Thales. Air yang tidak berkeputusan itu dilihatnya dalam pelayaran, berpengaruh besar atas pikiran dan pandangannya tentang alam. “semuanya itu air”, katanya. Dalam perkataan itu tersimpul, dengan disengaja atau tidak, suatu pandangan yang dalam, bahwa “semuanya itu satu”.
Kepercayaan bathin Thales masih animisme. Animisme ialah kepercayaan bahwa bukan saja barang yang hidup yang mempunyai jiwa, tetapi juga benda mati. 
Anaximandros (Asas “yang tak terbatas”)
Anaximandros adalah murid Thales. Masa hidupnya disebut orang dari tahun 610-547 sebelum Masehi. Ia lima belas lebih muda dari Thales, tetapi meninggal dua tahun lebih dahulu. Sebagai filosof ia lebih besar daripada gurunya. Ia juga ahli astronomi dan ahli ilmu bumi.
Sama halnya dengan gurunya, Anaximandros juga ingin mencari asal dari segalanya. Ia tidak menerima saja apa yang diajarkan oleh gurunya. Yang dapat diterima oleh akalnya adalah bahwa yang asal itu satu, tidak banyak. Akan tetapi, yang satu itu bukan air, dan bukan suatu anasir yang dapat diamati oleh pancaindra. Menurut Anaximandros, segala sesuatu itu berasal dari to apeiron, yaitu yang tak terbatas, sesuatu yang tidak terhingga.
Anaximandros menerangkan bagaimana Apeiron timbul dari alam semesta. Bermula dari Apeiron, keluarlah yang panas dan yang dingin. Yang panas membalut yang dingin sehingga yang dingin itu terkandung di dalamnya. Dari yang dingin itu terjadilah yang cair dan yang beku. Yang beku inilah yang kemudian menjadi bumi. Api yang membalut yang dingin itu kemudian terpecah-pecah, dan pecahan-pecahan itu berputar-putar, dan kemudian terpisah-pisah, maka terjadilah matahari, bulan, dan bintang-bintang.
Adapun bumi pada awalnya dibalut oleh uap yang basah. Karena beputar terus-menerus, yang basah itu secara berangsur-angsur menjadi kering, akhirnya tinggallah sisa uap yang basah itu sebagai laut pada bumi.
Mengenai terjadinya makhluk di bumi, Anaximandros menerangkan bahwa atas pengaruh yang panas tersebut, dari uap yang basah di bumi itu terjadilah makhluk-makhluk hidup, yang kemudian secara bertingkat-tingkat mengalami kemajuan dalam hidupnya. Pada mulanya, bumi ini diliputi oleh air semata-mata. Oleh sebab itu, makhluk yang pertama di atas bumi ialah hewan yang hidup di dalam air, seperti ikan. Akan tetapi, setelah tanah semakin kering, timbullah daratan maka makhluk yang lain mulai berkembang di atas daratan.
Mengenai manusia, Anaximandros mengatakan bahwa dari binatang yang berupa ikan itulah terjadi manusia yang pertama. Manusia bermula tidak bisa serupu dengan manusia sekarang, sebab orang yang dilahirkan dalam bentuk bayi sekarang memerlukan asuhan orang lain. Makhluk seperti itu tidak bisa hidup pada permulaan penghidupan di atas dunia ini. Satu-satunya yang bisa menolong dirinya sendiri sejak lahir hanyalah binatang berupa ikan.
Dilihat dari kacamata ilmu modern sekarang, tampak adanya kejanggalan-kejanggalan pada keterangan Anaximandros tentang kejadian alami. Akan tetapi, dititik masanya, di mana segala keterangan berdasar kepada takhayul dan cerita yang ganjil-ganjil, pendapatnya itu merupakan buah pikiran yang maju, sehingga cukup untuk menilai Anaximandros sebagai pemikir yang serius.
Menurut Anaximandos semua makhluk hidup berasal dari proses penguapan air samudra oleh matahari. Manusia, sebagaimana binatang, berasal dari ikan. Anaximandros sangat terpesona oleh pemandangan ikan, anjing laut, dan dia mengaggap bahwa merea mata rantai yang berada antara jenis ikan dan jenis binatang. Manusia tentu berasal dari binatang lain, karena waktu perawatannya, pada waktu kanak-kanak, memakan waktu yang begitu panjang, sedangkan jenis binatang lainnya begitu dilahirkan telah dapat memperoleh makanannya sendiri, maka dia telah tidak dapat bertahan hidup sebagaimana manusia yang ada kini.
Anaximenes (Asas Udara)
Anaximenes adalah murid Anaximandros. Sebab itu tak heran, kalau pandangannya tentang kejadian alam ini sama dasarnya dengan pandangan gurunya. Juga ia mengajarkan, bahwa barang yang asal itu satu dan tidak terhingga. Cuma ia tidak dapat menerima ajaran Anaximandros, bahwa barang yang asal itu tidak ada persamaannya dengan barang yang lahir dan tidak dapat dirupakan. Baginya yang aslah itu mestilah satu daripada yang ada dan yang nampak. Barang yang asal itu adalah udara.
Pandangan Anaximenes tersebut didasarkan atas alasan-alasan sebagai berikut:
Suatu kenyataan bahwa udara itu terdapat dimana-mana. Dunia ini diliputi oleh udara, tidak ada satu ruangan pun yang tidak terdapat udara di dalamnya. Oleh karena itu, udara tidak habis-habisnya, tidak berkesudahan dan tidak berkeputusan.
Suatu keistimewaan dari udara ialah ia senantiasa bergerak. Oleh karena itu, udara memegang peranan yang penting dalam berbagai rencana kejadian dan perubahan dalam alam ini.
Udara adalah unsur kehidupan. Udara adalah dasar hidup. Tidak ada sesuatu pun yang hidup tanpa udara. Oleh karena itu, ia dapat menerima ajaran gurunya, bahwa “jiwa itu serupa dengan udara”.  Sebagai kesimpulan atas ajarannya ia mengatakan, “ sebagaimana jiwa kita, yang lain dari udara, menyatukan tubuh kita, demikian juga udara mengikat alam ini menjadi satu. Maksudnya, jiwalah yang menyusun tubuh manusia menjadi satu, dan menjaga agar tubuh tidak bercerai-berai. Kalau jiwa keluar dari badan, badan menjadi mati, hancur dan bercerai-berai bagian-bagiannya. Juga alam besar ini ada karena udara, udaralah yang menjadi dasar hidupnya, jika tak ada udara hancurlah alam ini. Dengan demikian, alam (makro kosmos) dan manusia (mikro kosmos) itu pada dasarnya satu rupa.”
Mengenai terjadinya alam ini, ia mengatakan, “semuanya terjadi dari udara. Karena gerak udaralah yang menjadi sebab terjadinya. Udara bisa jarang dan bisa rapat. Kalau udara menjadi jarang terjadilah api, kalau udara terkumpul menjadi rapat, terjadilah angin dan awan, kalau udara bertambah padat lagi, turunlah hujan dari awan itu. Dari air terjadi tanah, dan tanah yang sangat padat menajadi batu.
Terlihat di sini cara Anaximenes dalam mengupas persoalan ini menunjukkan derajat pemikirannya yang lebih tinggi daripada gurunya. Tetapi didalam pemahamannya tentang bangun alam ia terlihat lebih terbelakang dari Anaximandros. Menurut pendapatnya dunia ini datar seperti meja bundar, dan dibawahnya ditopang oleh udara. Udara yang mengangkatnya itu tidak punya ruang buat bergerak dan bersebar, sebab itu tetap duduknya. Dan oleh karena itu bumi ini tetap pada tempatnya.
Pythagoras (kuantitatif bangun Alam)
Filosofi Pythagoras mempunyai kedudukan tersendiri dalam alam pikiran Yunani. Filosofinya berdasar pada pandangan agama dan paham keagamaan. Yakni yang berdasarkan kepada aliran mistik. Pythagoras berasal dari Samos. Ia dilahirkan kira-kira dalam tahun 580 sebelum Masehi. Menurut umurnya ia sepangkat dengan Xenophanes. Di kota tersebut didirikan sebuah perkumpulan agama, yang disebut-sebut orang kaum Pythagoras. Perkumpulan itu menjadi sebuah tarikat. Mereka itu diam dengan menyisihkan diri dari masyarakat, dan hidup selalu dengan amal ibadah. Menurut berbagai keterangan, Pythagoras terpengaruh oleh aliran mistik yang betkembang di waktu itu dalam alam Yunani, yang bernama Orfisisme. Ujung tarikat Pythagoras ialah mendidik kebatinan dengan menyucikan ruh. Pythagoras percaya akan  kepindahan jiwa dari makhluk yang sekarang kepada makhluk yang akan ada. Apabila seseorang meninggal, jiwanya kembali ke langit dunia, dan masuk dalam badan salah suatu hewan. Selain dari ahli mistis Pythagoras tersebut juga sebagai ahli pikir, terutama dalam ilmu matematik dan ilmu berhitung dan tersohorlah namanya.
Menurut Pythagoras, alam ini tersusun sebagai angka-angka. Dimana ada matematik, ada susunan, ada kesejahteraan. Bintang yang banyak di langit menyatakan kedudukan yang teratur, kesejahteraan yang sebesar-besarnya. Badan-badan di langit itu mempunyai gerak yang tertentu dan mempunyai edaran yang pasti, menurut irama yang tetap. Sebab itu Pythagoras suka berkata tentang “kesejahteraan di langit.” 
Angka itu adalah asal dari segalanya. Segala perhubungan dapat ditentukan dengan angka-angka. Demikianlah lagi: angka 1 ialah titik, angka 2 baris, angka 3 daratan, angka 4 badan. Selanjutnya angja 1 juga dasar laki-laki, angka 2 dasar perempuan. juga keadilan, jiwa dan pikiran tidak lain daripada angka-angka. 
Herakleitos (Asas Api)
Herakleitos lahir di kota Ephesos di Asia Minor. Sebab itu ia sering disebut Herakleitos orang Ephesos. Masa hidupnya kira-kira dari tahun 540-480 sebelum Masehi.
Ia mempunyai watak yang tidak mengenal kompromi dan sangat ekstrim dalam menentang demokrasi. Dia sangat bebas mengemukakan pendapatnya, terutama dalam hal mencela orang lain. Bahkan tidak segan-segan, ia menghina orang-orang terkemuka yang dijunjung tinggi oleh banyak orang, seperti: Humeros, Arkhilokhes, Hesiodos, Pythagoras, Xenophauses, Hekataios, dan lain-lain.
Kalau filosof-filosof sebelumnya tertarik pada substansi yang menjadi asal atau sebab dari alam, maka Herakleitos tertarik pada masalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam alam (Problem of changing or becoming). Herakleitos sangat terpengaruh oleh kenyataan bahwa alam ini mengalami perubahan terus-menerus, sehingga terjadilah pluralitas dalam alam ini.
Sungguhpun ia mempunyai pandangan tersendiri yang berlainan dengan pendirian para filosof sebelumnya, ia juga terpengaruh oleh alam pikir filosof alam dari Miletos. Ia juga menyatakan bahwa asal dari segala sesuatu hanyalah satu anasir, yakni api. Api itu lebih daripada air dan udara, dan setiap orang dapat melihat sifatnya yang mudah bergerak dan mudah bertukar rupa. Api membakar semuanya, menjadikan semuanya api dan akhirnya menukarnya lagi jadi abu. Semuanya bertukar menjadi api dan api bertukar menjadi semuanya. Yang kemudian ini dapat dilihat pada panas matahari yang menjadi syarat hidup bagi manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Herakleitos memandang api sebagai anasir yang asal. Pandangannya itu semata-mata tidak terikat pada alam eksternal, alam besar seperti pandangan filosof-filosof Miletos. Anasir yang asal itu dipandanganya pula sebagai kiasan dari segala kejadian. Api yang selalu bergerak dan berubah rupa itu menyatakan, bahwa tidak ada yang tenang dan tetap. Yang ada hanya senantiasa terjadi pergerakan. Tidak boleh disebut ada, melainkan menjadi. Semuanya itu dalam kejadian.
Parmenides 
Parmenides lahir di Elia pada tahun 540 sebelum Masehi. Waktu meninggalnya tidak diketahui orang secara tepat. Di dalam kota kelahirannya itu ia terkenal sebagai orang besar. Ia ahli politik dan pernah memangku jabatan pemerintah. Tetapi bukan karena itu kesohor namanya. Ia kesohor sebagai ahli pikir, yang melebihi siapa juga pada masa itu. Ia mengemukakan apa yang kemudian dikenal dengan nama “metafisika”, yaitu bagian filsafat yang mempersoalkan “ada” (being), kemudian berkembang menjadi “yang ada, sejauh ada” (being as being, being as such). Ia berpendapat bahwa pluralitas itu tidak ada.
Filsafatnya: yang realitas dalam alam ini hanya satu, tidak bergerak, tidak berubah dasar pemikirannya; yang ada itu ada, mustahil tidak ada. Perubahan itu berpindah dari ada menjadi tidak ada, itu mustahil, sebagaimana mustahilnya yang tidak ada menjadi ada. Konsekuensi dari pandangan demikian adalah: 
Bahwa “yang ada” adalah satu dan tidak terbagi, karena itu pluralitas tidak mungkin ada.
Bahwa “yang ada” itu tidak dijadikan, dan tidak akan dimusnahkan (dihilangkan). Dengan kata lain, “yang ada” itu bersifat kekal dan tidak terubahkan.
Bahwa “yang ada” itu sempurna, tidak ada sesuatu yang dapat ditambahkan lagi padanya, dan tidak ada sesuatu yang dapat diambil darinya.
Bahwa “yang ada” itu mengisi segala tempat, sehingga tidak ada ruang yang kosong, sebab kalau ada ruang kosong, “yang ada” akan ada dalam pergerakan, dan pergerakan berarti perubahan. Hal serupa ini tidak mungkin.
Leukippos (Asas Atom)
Leukippos (±540 SM) berasal dari Miletos. Ia murid Parmenides, dan guru Demokritos. Sejarah hidupnya hampir tidak diketahui orang. Leukippos tersebut sebagai pujangga yang pertama kali mengajarkan tentang atom. Atom asalnya dari perkataan Greek: a: tidak, dan toom: terbagi. Jadi, atom artinya tidak dapat dibagi lagi.
Dasar teori tentang atom ialah rumus tentang “yang penuh yang kosong”. Atom dinamainya yang penuh sebagai benda betapa pun kecilnya dan bertubuh. Setiap yang bertubuh mengisi lapangan yang kosong. Jadi, di sebelah yang penuh dan yang kosong itulah kejadian alam ini. Keduanya yang penuh dan yang kosong mesti ada sebab kalau tak ada yang kosong atom itu tidak bergerak. Paham Leukippos bahwa atom itulah yang ada, tetap dan tidak berubah, dipengatuhi oleh teori gurunya Parmenides, sedangkan pahmnya bahwa atom itu banyak dan bergerak dipengaruhi oleh Herakleitos. Rupanya Leukippos akan melakukan kompromi dari dua teori yang bertentangan tersebut.
Pandangan ontologis dari Leukippos tidak berbeda jauh dengan gurunya. Semua pada hakikatnya adalah hakikat, dan semua yang ada adalah hakikat. Hakikat itu ada yang ada dan yang  tiada. Oleh karena itu, tidak akan ada jika tidak ada yang tidak ada, karena ada dan tidak ada sebagai hukum alam yang sebenarnya.
Demokritos (Asas Atom)
Demokritos lahir di Abdera, sebuah kota di pantai Trasia, bagian Balkan. Ia hidup kira-kira dari tahun 460-360 sebelum Masehi. Ia tersebut sebagai seorang ahli ilmu alam yang berpengetahuan luas.
Demokritos menyatakan bahwa mengapa kita dapat memotong apel dengan pisau adalah karena ada ruang-ruang kosong diantara atom-atom, teorinya merupakan gabungan antara pemikiran praktis dan tradisi pemikiran abstrak mengenai unsur-unsur fundamental.
Jika apel tersebut tidak mengandung kekosongan, ia tentu sangat keras dan tidak dapat sevara fisik dibelah. Adapun bagian yang penuh dari segala sesuatu dapat dibagi-bagi menjadi titik-titik yang tak terbatas jumlahnya, dan karena kecilnya, ia tidak dapat ditangkap oleh pancaindra. Again kecil-kecil itu tidak dapat dibagi dan tidak mengandung kekosongan. Atomos ini tidak lahir dan tidak hilang, ia sangat homogen, satu dari ruang lain tidak berbeda, kecuali hanya dalam letaknya, lahir dan hilangnya suatu benda bergantung kepada bersatu atau terpisah-pisahnya atom-atom itu. Letak, bentuk dan besar-kecilnya atom menentukan sifat-sifat benda. Atom-atom itu dalam keadaan bergerak selamanya, sebagaimana geraknya titik-titik debu yang dapat dilihat dalam berkas sinar matahari di udara. Gerak itu terjadi tidak karena akal, ia terjadi secara mekanis.

Filosof Besar
Socrates
Biografi Socrates
Dalam sejarah filsafat Yunani kita bisa menemukan lahirnya banyak pemikir-pemikir yang sangat berguna bagi perkembangan dunia, dan juga kita bisa menemukan bagaimana para pemikir itu berusaha untuk mengubah keadaan dan cara berfikir yang ada didaerah kelahirannya. Tentunya dalam perkembangan yang diusahakan itu para filsuf Yunani menemukan berbagai protes dari masyarakat saat itu, contohnya seperti Socrates yang berusaha untuk mengubah pemikiran didaerahnya akan tetapi selalu mendapatkan perlawanan dari para lawannya. Socrates adalah sosok yang dianggap sebagai seorang nabi bagi para pengikut ajaranya sebab salah satu pemikiran yang berusaha dia ubah adalah proses ibadah saat itu yang terlau mensakralkan benda-benda gaib. Athena adalah daerah dimana dia memulai mengajarkan konsep-konsep pemikiranya sebab daerah Athena ini adalah tempat kelahiran Socrates. Pemikir ini lahir pada tahun 470 SM dan menurut sejarahnya bahwa Socrates memiliki seorang ayah yang berprofesi sebagai pemahat patung bernama Sophroniskos sedangkan ibunya bernama Phainarete adalah seorang bidan di Athena. 
    Sewaktu muda Socrates pernah menjadi seorang anggota tentara karena pada waktu itu Athena khususnya selalu mendapatkan serangan dari berbagai wilayah yang ada didekatnya. Socrates tidak pernah sedikitpun meninggalkan kampung halamanya jika hanya untuk masalah yang kecil dan tidak penting selain untuk berperang, sebab dia sangat mencintai tanah kelahiranya itu. Pada masa tuanya setelah dia keluar dari keanggotaan militer Socrates ingin mengubah pemikiran masyarakatnya dengan konsep pemikiranya sendiri sebab dia mulai resah dengan perilaku kehidupan umum yang ada di Athena. Akhirnya Socrates memulai mengajarkan ajaranya yang dimulai dari para pemuda-pemuda yang ada di Athena, hal ini dikarenakan menurutnya para pemuda masih memiliki pemikiran yang kritis mengenai kehidupan ini, mereka juga sering menanyakan bagaimana sesuatu terjadi dan bagaimanakah sesuatu itu hilang. Inilah beberapa faktor yang menyebabkan Socrates memulai ajaranya dari para pemuda Athena. Akan tetapi Socrates dalam sejarahnya saat menjalankan ajarannya itu selalu dipenuhi banyak kedukaan dan yang paling ironis adalah dia dihukum mati oleh rezim saat itu karena pemikiranya.
Pemikiran Socrates
Socrates adalah filsuf Athena pertama yang mengajarkan cara berfikir dengan konsep pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pada lawan bicara. Hal ini bias kita anggap sebagai metode dialektika, sebab setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang kita lontarkan pada lawan bicara maka kita pula akan mencari jawaban kedua, ketiga, dan seterusnya sehingga kita bisa mengambil kesimpulan dari jawaban-jawaban tadi. Hal ini mungkin bisa kita katakan juga sebagai metode induksi sebab jika di telaah secara mendalam maka kesimpulan yang kita ambil tadi adalah merupakan kesimpulan yang umum dari berbagai jawaban yang bersifat khusus. Metode berfilsafat yang ditawarkanya ini adalah sebuah metode berfikir yang nantinya akan dikembangkan oleh para murid maupun sahabat-sahabatnya seperti Xenhopon, Aristoteles, Plato, dan Aristophanes. Inilah yang mungkin menurut kita semua menjadi proses awal terbentuknya metode berfikir induksi seperti apa yang dijalankan oleh Aristoteles pada zaman Yunani kuno dan Francis Bacon pada zaman Renaisains, kemudian di Jerman seorang filsuf yang bernama Hegel yang mencoba menawarkan metode berfikir seperti ini.
Plato
Biografi Plato
Plato lahir di Athena tahun 427 SM dan hidup satu zaman dengan Socrates. Ia adalah seorang murid dan teman Socrates. Dalam beberapa pemikirannya ia memperkuat pendapat gurunya dalam menghadapi kaum sofisme dan ia meninggal di athena pada tahun 347 SM.

Pemikiran Plato
Menurut Plato, kebenaran umum (definisi) itu dibuat bukan dengan cara dialog yang induktif seperti menurut Socrates melainkan pengertian umum itu sudah tersedia di alam ide. Definisi menurut Socrates dapat diartikan tidak memiliki realitas. Namun menurut Plato esensi itu memiliki realitas, dan realitasnya ada pada alam ide itu sendiri. Dengan demikian jelaslah bahwa kebenaran umum itu memang ada, bukan dibuat melainkan sudah ada pada alam ide. Plato memperkuat Socrates dalam menghadapi kaum sofis. Plato juga berpendapat bahwa selain kebenaran umum akan ada kebenaran khusus yaitu kongkretisasi ide di alam ini.
Aristoteles
Biografi Aristoteles
Aristoteles Lahir pada tahun 384 SM, di Stagira pada sebuah kota Thrace. Keluarganya adalah orang yang tertarik kepada ilmu kedokteran dan ia banyak mempelajari filsafat, matematika, astronomi, dan ilmu-ilmu lainnya. Dengan kecerdasannya ia hampir menguasai berbagai ilmu yang berkembang pada masanya. Ayahnya meninggal ketika ia masih muda, kemudian Aristoteles diasuh oleh Proxenus dan memberikan pendidikan yang istimewa kepadanya. Ketika Aristoteles berumur 18 tahun ia dikirim ke Athena dan dimasukan ke Akademia Plato. Selama 20 tahun ia menjadi murid Plato dan ia pun pernah menjadi guru Alexander, putra Phllip dari Masedonia seorang diplomat ulung dan jendral yang terkenal. Sebagai guru Alexander, Aristoteles mempunyai pengaruh yang besar terhadap sejarah dunia. Alexander tidak hanya menerima seluruh ide dan rencananya, lebih dari itu juga pola pikirnya.Antara tahun 304-335 SM beliau menekuni riset di Stagira yang dibantu oleh Theophrastus yang juga alumnus Athena. Riset yang intensif itu dibiayai oleh Alexander dan menghasilkan kemajuan dibidang sains dan filsafat. Ketika Alexander berperang di Asia pada tahun 334 SM, Aristoteles pergi lagi ke Athena, bukan lagi sebagai murid namun ia mendirikan sekolahan yang bernama Lyceum. Setelah Aristoteles mendirikan sekolah terjadilah persaingan hebat antara Lyceum dan Akademi. Persaingan tersebut mendorong Aristoteles untuk meningkatkan penelitiannya. Hasilnya sangat memuaskan ia tidak hanya dapat menjelaskan prinsip-prinsip sains, tetapi ia juga mengajarkan politik, retorika dan dialektika. Tapi lama kelamaan ia meninggalkan Athena dan pergi ke Chalcis dan meninggal disana pada tahun 322 SM. Dalam dunia filsafat Aristoteles dikenal dengan bapak logika.
Pemikiran Aristoteles
Filsafat Aristoteles berkembang dalam tiga tahapan yang pertama ketika ia masih belajar di Akademi Plato ketika gagasannya masih dekat dengan gurunya, kemudian pada saat ia mengungsi, dan yang terakhir pada saat ia memimpin Lyceum yang menghasilkan enam karya tulis mengenai bahasan logika yang dianggap paling penting selain kontribusinya dibidang Metafisika, Fisika, Etika, Ontologi, Politik, Kedokteran, Ilmu Alam, dan Karya Seni.Apabila kebanyakan orang-orang sofisme beranggapan bahwa manusia tidak akan mampu memperoleh kebenaran, tetapi lain halnya dengan Aristoteles. Dalam Metaphysics ia menyatakan bbahwa manusia mampu mencapai kebenaran. Salah satu teori metafisika Aristoteles yang penting ialah bahwa matter dan form itu bersatu, matter memberikan subtansi sesuatu sedangkan form memberikan pembungkusnya. Setiap obyek terdiri atas metter dan form. Aristoteles percaya pada Tuhan. Menurutnya bukti adanya Tuhan adalah sebagai penyebab gerak (a first cause of motion). Menurut Aristoteles Tuhan berhubungan dengan dirinya sendiri, Ia tidak persona, dan juga tidak memperhatikan doa dan keinginan manusia. Dalam mencintai Tuhan, kita tidak usah mengharap ia mencintai kita. Ia adalah kesempurnaan tertinggi dan kita mencontoh kesana untuk perbuatan dan pikiran kita. Berdasarkan Aristoteles kita menyaksikan bahwa pemikiran filsafatnya lebih maju karena didamnya terdapat pemikiran sains pula. Tuhan di capai dengan akal, tetapi ia percaya pada Tuhan. Sampai disini selesailah ronde pertarungan antara akal dan hati (iman). Kemenangan sementara berada pada kedua belah pihak, akal dan hati keduanya menang. Kuasa akal mulai dibatasi  adanya kebenaran yang umum, jadi tidak semua kebenaran relatif. Sains dapat dipegang dan dapat diperselisihkan sebagian. Filsafat Yunani yang rasional itu boleh dikatakan berakhir stelah Aristoteles selesai menggelarkan pemikirannya, akan tetapi sifat rasional itu masih digunakan beberapa abad setelah Aristoteles sebelum filsafat benar-benar memasuki dan tenggelam dalam abad pertengahan. Namun jelas setelah periode SPA (Socrates, Plato, Aristoteles) mutu filsafat semakin merosot. Kemunduran filsafat itu sejalan dengan kemunduran politik ketika itu, yaitu sejalan dengan terpecahnya imperium besar yang dibangun Alexander menjadi pecahan-pecahan kecil.

Filosof Muslim
Al-Kindi 
Bernama lengkap Abu ya’kub al-Kindi (801-866M) Ia dapat dianggap sebagai peletak dasar pemikiran fisafat Islam. Filsafat al-Kindi menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar pemikirannya, tetapi kandungan Al-Qur’an dipahami dengan rasionalitas yang dibangun dari pemikiran Plato dan terutama Aristoteles yang dipelajarinya dari filsafat Yunani kuno. Oleh karena itu, al-Kindi sering disebut sebagai seorang yang menghubungkan antara filsafat dan teologi Islam. Al-Kindi berpendapat bahwa keyakinan atau kebenaran tentang sesuatu seharusnya didasari oleh akal. Menggunakan akal adalah kewajiban manusia, dan dia menggunakan pemikiran tentang adanya penyebab. Menurut Aristoteles hal-hal yang digunakan Al-Kindi adalah 1).Penyebab material, 2).penyebab formal, 3).penyebab efisien dan 4).penyebab final. Selain itu dari pemikiran Aristoteles, Al-Kindi menggunakan konsep penggerak utama, atau penyebab pertama sebagai kesatuan dari penyebab efisien dan penyebab final. Penyebab pertama, prima causa, Tuhan atau Allah. Oleh karena itu, Allah adalah yang Maha Esa, wujud abadi, dan menjadi awal dan asal dari segala hal. 
Dengan demikian, al-Kindi menggunakan prinsip teologis, bertujuan teologis berasal dari bahasa Yunani  telos yang berari tujuan dan tele yang berarti jauh dan logos yang berarti pikiran atau aturan. Penjelasan-penjelasan tersebut menggambarkan digunakan kandungan Al-Qur’an dalam pemikiran filsafati.
Al-Kindi adalah filosof Islam yang mula-mula secara sadar berupaya mempertemukan ajaran-ajaran Islam dengan filsafat Yunani. Sebagai seorang filosof Al-Kindi amat percaya terhadap kemampuan akal untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang realitas. Tetapi dalam waktu yang sama diakuinya pula keterbatasan akal untuk mencapai pengetahuan metafisis. Oleh karenanya menurut al-Kindi diperlukan adanya nabi untuk mengajarkan ha-hal diluar jangkauan akal manusia yang diperoleh dari wahyu Tuhan. Dengan demikian al-Kindi tidak sependapat dengan filsuf Yunani dengan hal-hal yang dirasakan bertentangan dengan ajaran Islam yang diyakininya. Misalnya mengenai kejadian alam berasal dari ciptan Tuhan yang semula tiada, berbeda dengan filsafat Aristoteles yang mengatakan bahwa alam tidak diciptakan dan bersifat abadi. 
Al-Kindi mempunyai semangat menakjubkan bukan hanya dalam menunjukan bahwa kebenaran agama dan filsafat senada, tetapi juga ia ingin menghargai para filsuf dari kalangan luar muslim untuk memetik hikmah dari mereka. Bagi al-Kindi kebenaran agama tidak berlawanan dengan kebenaran filosofis hanya saja kebenran agama kadang-kadang tidak cukup didasarkan pada zhahir teks sehingga mengharuskan dilakukan penafsiran metaforis-alegoris (ta’wil).
Mengenai kebenaran dari luar, al-Kindi menegaskan bahwa kaum muslim tidak perlu malu mengakui sebuah kebaikan dan mengambilnya dari manapun datangnya, sekalipun datang dari orang jauh dan berbeda dengan keyakinannya dengan kaum muslim. Sebab, tidak ada yang lebih utama dalam mencari kebenaran kecuali kebenaran itu sendiri. Bahkan terhadap mereka yang menolak filsafat. Al-Kindi menjuluki sebagai “orang-orang asing dengan kebenaran dan memakai mahkota kebenaran yang tidak berhak mereka pakai” 
Al-Farabi  
Nama lengkapnya adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzalagh al-farabi. Al-Farabi lahir di Wasij, sebuah dusun kecil dekat Farab Transoxiana, pada tahun 870 M dari ayah seorang jendral keturunan Turki. Sejak kecil ia mempunyai kecakapan luar biasa dalam bidang bahasa. Setelah besar, al-Farabi meninggalkan negerinya untuk menuju Baghdad, yang menjadi pusat pemerintahan dan ilmu pengetahuan saat itu. Di Baghdad ia belajar logika kepada Abi Bisyr bin Mattius dan ilmu Nahwu kepada Abu Bakar as-Sarraj
Al-Farabi meneruskan pemikiran al-Kindi yang menggunakan pola pikir plato dan Aristoteles. Kemudian ia mengembangkan pemikiran filsafatnya secara komprehensif. Meskipun pada awalnnya ia lebih mengenalkan pemikiran Plato dan Aristoteles namun akhirnya ia mengembangkan isi filsafat yang diyakininya, yaitu emanasi. Emanasi adalah bagan filsafat yang memandang Tuhan atau Allah sebagai asal segala hal. Filsafat al-Farabi sebagian besar memang banyak membahas tentang Tuhan dan keTuhanan. 
Al-Farabi mengembangkan kehidupan spiritual dan mempraktikan sufisme sejak remaja. Tidak mengherankan ia sering disebut sebagai bapak sufisme dalam lingkungan Islam. Jika Aristoteles dikenal sebagai “guru pertama” maka al-Farabi dikenal sebagai “guru kedua” pemikiran yang lain dari al-Farabi diluar masalah keTuhanan adalah masalah ilmu pengetahuan yang nantinya menjadikan al-Farabi juga dikenal seagai “ilmuwan” (the scientist). Nama lain untuk al-Farabi adalah al-Nashr atau al-Naser.
Menurut Al-Farabi akal itu berisi satu pikiran saja, yakni senantisa memikirkan dirinya sendiri. Jadi Tuhan itu adalah akal yang aqil (berpikir) dan ma’qul (dipikirkan), dengan ta’aqqul ini dimulailah ciptaan Tuhan. Tatkala Tuhan memikkrkan itu, timbulah suatu wujud baru atau terciptalah suatu akal baru yang oleh farabi dinamakan al-aqlu ats-stani dan seterusnya.
 3. Ibnu sina 
Orang barat mengenal dengan sebutan Aviccena dan bernama lengkap Abu Ali al-Hussein bin Abdallah Ibn Sina. pada tahun 370 H atau 980 M meninggal pada 426 H atau 1036 M. Ia mempelajari ilmu-ilmu agama , astronomi dan sudah hafal Al-Qur’an saat berusia sepuluh tahun. Pada usia 16 tahun, ia sudah mampu belajar filsafat dan kedokteran secara autodidak, bahkan mencapai kedudukan istimewa sehingga banyak orang yang belajar kepadanya. Menurut sejarah hidup yang ditulis oleh muridnya yakni Jurjani, sejak kecil Ibn Sina telah  banyak mempelajari imu-ilmu yang sudah ada pada zaman itu, seperti fisika, matematika, (berguru kepada Al-Khawarizme), kedokteran (berguru kepada Isa Ibnu Yahya), hukum, dan lain-lain. Ketika masih betumur 17 tahun ia terkenal sebagai seorang dokter dan pernah mengobati pangeran Nih Ibnu Mansur atas panggilan istana.
Pada usia 21 tahun, Ibn Sina mulai menuangkan gagasan-gagasannya secara tertulis. Berbagai karyanya, menurut versi modern berjumlah 276 buah yang mencakup sekuruh kajian filosofis, saintifik, kedokteran,  dan juga kebahasaan. Karya-karya ibn sina boleh dikata paling  bernas dan sistematik diantara semua karya berbahasa Arab, dan dalam skala yang lebih kecil , berbahasa Persia, hampir semua karya itu masih ada sampai sekarang. 
Kehebatan Ibn Sina tidak terlepas dari perjalanan intelektualnya semasa hidup. Pada usia yang masih sangat belia, beliau sudah berkenalan dengan berbagai ajaran religius, filsafat dan ilmiah. Misalnya ia sudah diperkenalkan dengan Rasa’il (jamak atau risalah) ikhwan Ash-Shafa’ dan Isma’iliyah oleh ayahnya yang merupakan sekte tersebut. Ia juga sudah diperkenalkan dengan doktrin sunni karena guru fiqihnya yaitu Isma’il Al-zahid adalah seorang sunni dan tentu saja doktrin syi’ah dua belas imam. Disamping itu juga telah ditanamkan kepadanya dasar-dasar logika, geometri, dasar astronomi. Akan tetapi ibnu sina cepat-cepat memerdekakan pemikiran dengan beberapa cara: pertama,ia berpisah dengan gurunya dan memutuskan untuk belajar sendiri. Kedua, ia tidak terikat atau takllid buta terhadap suatu doktrin yang telah dikemukakan kepadanya. Sebaliknya ia mengambil dari berbagai sumber lain dan memilih apa yang dinilainya meyakinkan. Sistemnya sangat unik dan tidak memilik salah satu mahzab. 
Menurut Ibnu Sina pembagian filsafat dan ilmu, ada dua tipe yatu fisafat yaitu teoretis dan praktis. Teoritis adalah untuk menyempurnakan jiwa melalui pengetahuan semata-mata. Sedangkan praktis adalah untuk menyempurnakan jiwa melalui pengetauan tentang apa yang seharusnya dilakukan sehingga jiwa bertindak  sesuai dengan pengetahuan ini.
Menurut Ibn Sina metafisika merupakan ilmu yang memberikan pengetahuan tentang prinsip-prinsip filsafat teoretis yang berhubungan dengan maujud (eksisten atau yang ada) sepanjang ia ada. Menurut Ibnu Sina wujud dari Tuhanlah kemajuan yang mesti, mengalir intelegensi pertama, karena hanya Allah lah yang tunggal yang mutlak, sesuatu dapat mewujud. Ibnu Sina berpendapat bahwa jiwa adalah wujud ruhani (imateri) yang berada dalam tubuh. Wujud imateri yang tidak berada dalam tubuh atau tidak langsung mengendalikan tubuh disebut akal. 
Ibn Rusyd
Nama lengkapnya, Abu Walid Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Rusyd dilahirkan di Cordova sebuah kota di Andalus. Ia terlahir pada tahun 510 H/126 M, Ia lebih populer dengan sebutan  Ibnu Rusyd. Orang barat menyebutnya dengan sebuah nama Averrois. Sebutan ini sebenarnya di ambil dari nama kakeknya. Keturunannya berasal dari keluarga yang alim dan terhormat, bahkan terkenal dengan keluarga yang memiliki banyak keilmuan. Kakek dan ayahnya mantan hakim di Andalus dan ia sendiri pada tahun 565 H/1169 M diangkat pula menjadi hakim di Seville dan Cordova. Karena prestasinya yang luar biasa dalam ilmu hukum, pada tahun 1173 M ia dipromosikan menjadi ketua Mahkamah Agung, Qadhi al-Qudhat di Cordova.
Aliran filsafat Ibnu Rusyd adalah rasional. Ia menjunjung tinggi akal fikiran dan menghargai peranan akal. Karena dengan akal fikiran itulah manusia dapat menafsirkan alam wujud. Iya berkeyakinan bahwa segala sesuatu tidak mungkin terlepas dari sebab-musabab. Keyakinan pada sebab-musabab adalah asas ilmu alam dan asas filsafat rasional.
Dalam kitabnya Fash al Maqal ini, ibn Rusyd berpandangan bahwa mempelajari filsafat bisa dihukumi wajib. Dengan dasar argumentasi bahwa filsafat tak ubahnya mempelajari hal-hal yang wujud yang lantas orang berusaha menarik pelajaran/hikmah/’ibrah darinya, sebagai sarana pembuktian akan adanya Tuhan Sang Maha Pencipta. Semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang maujud atau tentang ciptaan Tuhan, maka semakin sempurnalah ia bisa mendekati pengetahuan tentang adanya Tuhan. Bahkan dalam banyak ayat-ayat-Nya Tuhan mendorong manusia untuk senantiasa menggunakan daya nalarnya dalam merenungi ciptaan-ciptaan-Nya.
Jika kemudian seseorang dalam pemikirannya semakin menjauh dengan dasar-dasar Syar’iy maka ada beberapa kemungkinan, pertama, ia tidak memiliki kemampuan / kapasitas yang memadai berkecimpung dalam dunia filsafat, kedua, ketidakmampuan dirinya mengendalikan diri untuk untuk tidak terseret pada hal-hal yang dilarang oleh agama dan yang ketiga adalah ketiadaan pendamping /guru yang handal yang bisa membimbingnya memahami dengan benar tentang suatu obyek pemikiran tertentu.
Oleh karena itu tidak mungkin filsuf akan berubah menjadi mujtahid, tidak mempercayai eksistensi Tuhan/ meragukan keberadaaan Tuhan, Kalaupun ia berada dalam kondisi semacam itu bisa dipastikan ia mengalami salah satu dari 3 faktor di atas, atau terdapat dalam dirinya gabungan 2 atau 3 faktor-faktor tersebut. Sebab kemmapuan manusia dalam menenrima kebenaran dan bertindak dalam mencari pengetahuan berbeda-beda.
Sebagai filosof pemikirannya yang sangat rasional sering dianggap “bertentangan” dengan cara agama (Islam) dalam menangani sesuatu. Tetapi sebagai pemikir Islam, ia lebih dahulu mengenal Islam sehingga ia sekaligus menjadi penyebar kebenaran agama Islam. 








BAB III
PENUTUP

Filsafat pertama kali muncul di zaman Yunani Kuno, dimana para filosof alam menggagas berbagai pendapat/filsafatnya mengenai bangun alam. Para filosof alam tersebut adalah: Thales (asas air, Anaximandros (asas tak terbatas), Anaximenes (asas udara), Heraklios (asas api), Pythagoras (asas kuantitatif), Parmenides (asas yang “ada”), serta Demokritos dan Leucippus (Asas Atom).
Selanjutnya, setelah masa awal zaman Yunani Kuno berakhir, muncullah zaman keemasan Yunani Kuno yang dipelopori oleh tiga filosof besar yakni: Socrates (dialetika), Plato (Idealisme) dan Aristoteles (realisme).
Umat Islam juga tidak mau kalah saing dalam berfilsafat, umat Islam pun memiliki para filosof yang ulung. Mereka berperan sebagai penyambung yang menjembatani antara filsafat Yunani dengan filsafat Barat. Yang tentunya jika tidak ada peran mereka di dalam sejarah filsafat, maka sudah reduplah filsafat itu di zaman kegelapan. Para filosof muslim yang tersohor diantaranya: Al-Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Al-Farabi.














DAFTAR PUSTAKA

Al-Ahwani A. Fuad. 1993. Filsafat Islam. Pustaka Firdaus. 
Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani. 2008. Filsafat Umum dari Mitolologi sampai Teofilosofi. Bandung: Pustaka Setia
Mohammad Hatta. 1986. Alam Pemikiran Yunani cetakan ke-3. Jakarta: UI-Press
Richard Osborne. 2001. Filsafat untuk Pemula. Diterjemahkan oleh: P. Hardono Hadi. Yogyakarta: Kanisius
Sulaiman Asep. 2016. Mengenal Filsafat Islam. Bandung: Fadillah Press
Sutardjo A. Wiramihardja. 2009. Pengantar Filsafat: Sistematika dan Sejarah Filsafat, Logika dan Filsafat Ilmu (Epistemologi), Metafisika dan Fisafat Manusia, Aksiologi. Bandung: PT Refika Aditama
Tafsir Ahmad. 2013. Filsafat Umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Zaprulkan. 2014. Filsafat Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...