Kesedihan yang sangat

Asy-Syibli mengatakan, "Cinta adalah kenikmatan yang luar biasa dan
kesedihan yang sangat." Asy-Syibli juga mengatakan, "Kerinduan adalah api
yang dinyalakan oleh Allâh dalam hati orang-orang yang menjadi kekasih-
Nya, sehingga dengan api itulah Dia membakar semua perasaan, ungkapan
dan kehendak yang ada dalam hati mereka."
Pahamilah hal itu, niscaya engkau akan memperoleh manfaatnya. Wallahu
a'lam.

HAMBA YANG ALLAH CINTAI DAN DIRINDUKAN.

Diriwayatkan dari seorang ulama salaf, sesungguhnya Allah Ta'ala pernah mengatakan kepada seorang shiddiqin, "Aku mempunyai seorang hamba
di antara hamba-hamba-Ku yang mencintai-Ku dan Aku pun mencintainya.
la merindukan-Ku dan Aku pun merindukannya. Ia mengingat-Ku dan Aku
pun mengingatnya. Ia memandang-Ku dan Aku pun memandangnya. Jika
engkau ikuti jalannya, Aku akan mencintamu. Dan jika engkau menyimpang dari bimbingannya, Aku akan menghukummu."
Orang itu bertanya, "Wahai Rabbku, apa tanda-tanda orang yang Engkau
sebutkan tadi?" Allah berkata, "Ia menjaga bayang-bayang pada siang hari,
seperti seorang penggembala yang dengan penuh kasih sayang menjaga kawanan dombanya. Ia rindu pada terbenamnya matahari, seperti burung-burung yang rindu pada sarangnya saat matahari terbenam. Ketika gelap malam telah menyelimutinya, tikar-tikar telah digelar, tempat-tempat tidur telah dipasang dan setiap kekasih sedang berduaan dengan kekasihnya, ia menegakkan kedua kakinya, menengadahkan wajahnya kepada-Ku, tekun mendengarkan firman-
Ku dan merasa senang atas segala karunia berupa nikmat-Ku, Dan di antara
hamba-Ku itu ada yang menjerit, ada yang menangis, ada yang mengadu, ada
yang mengeluh, ada yang berdiri, duduk, serta ada yang ruku' dan sujud. Di
depan mata-Ku ia tabah demi Aku dan di dekat telinga-Ku ia tidak mengeluh
karena mencintai-Ku. Pertama-tama yang Aku berikan kepadanya ada tiga.
Pertama, aku pasang cahaya-Ku di hatinya, lalu ia menceritakan tentang Aku
sebagaimana Aku pun menceritakan tentang kondisinya. Kedua, seandainya
langit dan bumi serta seluruh isinya dalam timbangannya, niscaya Aku meng-
anggapnya sedikit baginya. Ketiga, Aku hadapkan wajah-Ku kepadanya.
Tahukah engkau, siapa hamba yang Aku hadapkan wajah-Ku kepadanya,
niscaya apa pun yang ia minta pasti Aku berikan kepadanya."

ALLAH AL MUMIIT

Al-Mumiitu dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mengambil nyawa kembali kepada-Nya, Allah yang mematikan
siapapun yang dikehendaki-Nya, baik manusia, jin, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Hidup di dunia ini ada batasnya. Makanya ketika batas itu sudah diliwati, kita menyebutnya
yang bersangkutan telah meninggal (kan) dunia atau yang lazim disebut mati. Tapi mesti diingat, bahwa manusia mati untuk
hidup lagi di akhirat guna mempertangungjawabkan apapun yang telah diperbuat sebelumnya...

Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya? (Qs. al-Mu’minun: 80). Di tempat lain Allah
berfirman yang maknanya, “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan (Qs. al-A’raf: 25).

ALLAH AL MUHYII

Al-Muhyii dipahami bahwa Allah adalah Rabb yang maha menghidupkan, yang maha meniupkan ruh kehidupan pada
makhluk-Nya, yang maha menghidupkan semangat dan yang maha menghdupkan segalanya dari kematiannya. Dalam konteks al-Muhyii, Allah berfirman yang maknanya, Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (Yang memiliki sifat-sifat) demikian
ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? (Qs. al-An’am:95).

ALLAH AL MU'IID

Bila al-Mubdi’ bermakna Allah maha memulai, maha mencipta, maka al-Mu’iid bermakna Allah maha mengembalikan. Allah berfirman yang maknanya Dan
Dialah yang (Mubdi`) menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)-nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana” (Qs. al-Rûm: 27).

ALLAH AL MUBDI'

Al-Mubdi’ dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha memulai, Allah maha kreatif, Allah maha menciptakan
segala hal yang belum pernah ada sebelumnya.

Dalam konteks al-Mubdi’, Allah berfirman yang artinya, Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah memulai
penciptaan (makhluk), kemudian Dia mengulanginya (kembali). Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah (Qs. al-’Ankabut:19).

ALLAH AL MUHSHII

Al-Muhshii merupakan salah satu asmaul husna-Nya Allah yang maknanya sangat dekat dengan al-Hasiib, dimana secara
umum dimaknai bahwa Allah adalah zat yang maha menghitung dengan cermat, Allah maha cepat hisab perhitungan-Nya atas apapun, termasuk atas amalan hamba-hamba-Nya.

Allah berfirman yang maknanya, Supaya Dia mengetahui,bahwa Sesungguhnya Rasul-rasul itu telah menyampaikan
risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu” (Qs. al-Jin: 28).

Manfaat Mempelajari Iman Kepada Hari Akhir

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى 📗 Beriman Kepada Hari Akhir السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته الحمد لله والصلاة والسلام على ر...