ALLAH AL JALIIL

Al-Jaliil secara umum dapat
dimaknai bahwa Allah adalah zat yang besar lagi mulia. Asmaul husna-Nya Allah yang relatif dekat pemaknaannya dengan alJaliil adalah al-Kabiir dan al-’Azhiim. Para ulama menjelaskannya, bahwa al-Kabiir dimaknai bahwa Allah adalah zat yang kebesaranNya sempurna dari segi zat-Nya; al-Jaliil dimaksudkan untuk
kebesaran Allah sempurna di dalam sifat-Nya; dan al-’Azhiim digunakan untuk merujuk makna bahwa kebesaran Allah
sempurna di dalam keduanya, baik dalam zat maupun sifat-Nya”.

Dalam konteks al-Jaliil, kebesaran dan kemulian Allah mewujud dalam kesempurnaan sifat-Nya, seperti kepengasihanNya, kepenyayangan-Nya, kepemurahan-Nya, kelembutan-Nya,
kesantunan-Nya, ketinggian-Nya, kebijakan-Nya, keadilan-Nya,
kekekalan-Nya dan seterusnya. Allah berfirman yang maknanya, Dan tetap kekal Zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (Qs. Ar Rahman:27)

Kehidupan Sehari-Hari Yang Islami

Syaikh Abdullah bin Jaarullah

Saudaraku….
Dengan penuh pengharapan bahwa kebahagian dunia dan akhirat yang akan kita dapatkan, maka kami sampaikan risalah yang berisikan pertanyaan-pertanyaan ini kehadapan anda untuk direnungkan dan di jawab dengan perbuatan.

Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja kami angkat kehadapan anda dengan harapan yang tulus dan cinta karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, supaya kita bisa mengambil mannfaat dan faedah yang banyak darinya, disamping itu sebagai bahan kajian untuk melihat diri kita, sudah sejauh mana dan ada dimana posisinya selama ini.

1. Apakah anda selalu shalat shubuh berjama’ah di masjid setiap hari.?
2. Apakah anda selalu menjaga shalat yang lima waktu di masjid.?
3. Apakah anda hari ini membaca al-Qur’an.?
4. Apakah anda rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan shalat wajib.?
5. Apakah anda selalu menjaga shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat wajib.?
6. Apakah anda (hari ini) khusyu dalam shalat, menghayati apa yang anda baca.?
7. Apakah anda (hari ini) mengingat mati dan kubur.?
8. Apakah anda (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya.?
9. Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak tiga kali, agar memasukkan anda ke dalam Surga .? Maka sesungguhnya barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata :"Wahai Allah Subhanahu wa Ta’ala masukkanlah ia ke dalam Surga".
10. Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali .? Maka sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata :"Wahai Allah peliharalah dia dari api neraka".

Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

"Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata :"Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata :"Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka"[1]

11. Apakah anda (hari ini) membaca hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.?
12. Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik.?
13. Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau.?
14. Apakah anda (hari ini) menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.?
15. Apakah anda selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari.?
16. Apakah anda (hari ini) telah memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas dosa-dosa (yang engkau perbuat -pen).?
17. Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati Syahid.?

Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

"Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur".[2]

18. Apakah anda telah berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia menetapkan hati anda atas agama-Nya.?
19. Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di waktu-waktu yang mustajab.?
20. Apakah anda telah membeli buku-buku agama Islam untuk memahami agama.?[3]
21. Apakah anda telah memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah.? Karena setiap mendo’akan mereka anda akan mendapat kebajikan pula.
22. Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala (dan bersyukur kepada-Nya, pent) atas nikmat Islam.?
23. Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya.?
24. Apakah anda hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya.?
25. Apakah anda dapat menahan marah yang disebabkan urusan pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.?
26. Apakah anda telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri sendiri.?
27. Apakah anda telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala?
28. Apakah anda telah menda’wahi keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri anda.?
29. Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua.?
30. Apakah anda mengucapkan "Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raji'uun" jika mendapatkan musibah.?
31. Apakah anda hari ini mengucapkan do'a ini :

"Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui".[4]

Barangsiapa yang mengucapkan yang demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghilangkan darinya syirik besar dan syirik kecil.

32. Apakah anda berbuat baik kepada tetangga.?
33. Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad, dan dengki.?
34. Apakah anda telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada manfaatnya.?
35. Apakah anda takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian.?
36. Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan.?

Saudaraku ..
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan, agar kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, inysa Allah.

[Risalah ini dinukilkan dari buku saku Zaad Al-Muslim Al-Yaumi (Bekalan Muslim Sehari-hari) hal. 51 – 55, bab Hayatu Yaumi Islami yang diambil dari kitab Al-Wabil Ash-Shoyyib oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, Penerjemah Fariq Gasim Anuz]


Footnote
[1]. Hadits Riwayat Tirmidzi dishahihkan oleh syaikh Al Albani dalam shahih Al Jami’ no. 911
[2]. Hadits Riwayat Muslim 3532, Abu Daud 1299, al-Tirmizi 1577, al-Nasa’i 3111; Ibn Majah 2787 al-Darimi 2300
[3]. Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang dipahami oleh para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar, pent
[4]. Lihat Shahih Al-Jami’ No. 3625


Sumber: almanhaj.or.id

Engkau Akan Dikumpulkan Bersama Orang Yang Kau Cintai


FB_IMG_15161725061154911Siapakah orang yang kita idolakan? artis? penyanyi? pemain bola? orang kafir? yang perlu diingat baik-baik adalah, mereka semua itu tidak kenal siapa kita! jika kenal saja tidak, maka apa yang bisa mereka lakukan untuk kita di akhirat nanti? padahal…Rasulullah berkata :

(أنت مع من احببت)
diakhirat engkau akan dikumpulkan bersama dengan orang yang engkau cintai/idolai.
Sedangkan rasulullah diakhir hayatnya berkata sambil menahan perihnya sakaratul maut : umatku…umatku…umatku, tanda begitu besar cintanya kepada umatnya, disaat seperti itu beliau tidak memikirkan kondisi dirinya sendiri tapi malah teringat kondisi umatnya, beliau itulah yang mengenal kita, tau siapa kita sebenarnya, sungguh amat rugi jika kita malah mengidolai selainnya, tidak mencintainya & tidak menempuh jalan hidup sesuai sunnahnya dan para pengikutnya yang setia.
Rasulullah berkata :
“Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan. Mereka (para sahabat) bertanya : “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan masuk surga itu?” beliau menjawab: “Siapa yang mentaatiku ia akan masuk surga dan siapa yang mendurhakaiku sugguh ia telah enggan masuk surga.” (H.R. Al-Bukhari)
 Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah. berkata :
“Orang yang tidak bersedia mengikuti jalan hidup Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan tidak mau mentaatinya serta tidak mau tunduk kepada ajaran yang beliau bawa maka orang ini telah menolak masuk surga”
Wallahua’lam [elwafii]

Menyelami Samudera Cinta Yang Tak Bertepi Mendeteksi Kadar Cinta Kepada Allah

Cinta adalah kata yang tidak asing lagi bagi kita semua, khususnya bagi kalangan pemuda-pemudi. Dalam masalah cinta ini terdapat banyak sekali definisi. Dalam bahasa arab cinta disebut dengan menggunakan dua huruf yaitu hubb, Ha dan Ba, Ha yang berarti adalah keluarnya jiwa dan mengarahkannya kepada sesuatu yang dicintai dan Ba yang berarti adalah keluarnya badan dan mengarahkannya untuk ketaatan kepada sesuatu yang dicintai.

Adapula yang mengatakan bahwa cinta adalah kecenderungan hati kepada sesuatu yang dicintainya, merasa ketentraman, ketenangan, hatinya pun terhubung dengan yang dicintainya. Masih banyak lagi definisi mengenai cinta. Masing-masing sulit untuk mendefinisikan cinta secara jelas dan mudah difahami, karena memang cinta tidak dapat terlihat hanya dari kata-kata yang keluar dari mulut saja, sesungguhnya cinta hanya

dapat tampak dari tabiat dan perilaku seorang pecinta. Banyak dari orang-orang yang mencintai hati mereka dipenuhi dengan cinta, yang jika ditanya mengenai definisnya, ketentuan dan hakikatnya dia tidak mampu mengungkapkan dan menjelaskannya. Kebanyakan ahli ilmu kalam didalam masalah cinta hanya berbicara mengenainya secara lisan ilmu dan bukan lisan kenyataan.

Abu Umar Az-Zujaji mengatakan, “Hakikat cinta adalah mencintai apa yang dicintai Allah dalam hamba-hamba-Nya dan membenci apa yang dibenci Allah dalam hamba-hamba-Nya”. Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Hakikat cinta adalah pengesaan terhadap Allah Dzat yang dicintai, dan tidak mempersekutukan-Nya, kalaupun mencintai selain-Nya maka hal itu didasari cinta karena-Nya dan merupakan sarana untuk menggapai cinta-Nya”.

Maka siapa saja yang tidak menjadikan Allah (ilah) sesembahan (rabb) sebagai penguasa dan pemelihara yang menjadi cinta terbesarnya niscaya hawa nafsulah yang akan menjadi ilah nya (sesembahannya). Allah berfirman dalam Q.S Al-Jatsiyah ayat 23 :

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

 

Dilain ayat Allah Ta’ala berfirman :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”(Q.S. Al-Baqarah : 165).
Allah mengabarkan bahwa ada manusia yang membuat tandingan selain Allah, dan mereka mencintainya sebagiamana mereka mencintai Allah. Perlu diketahui bahwa jika mencintai sesuatu dan amat merendahkan diri kepadanya (menyamai bahkan melebihi Allah) itu bisa menjadi bentuk ibadah dengan hatinya. Karena ibadah merupakan tingkatan terakhir atau puncak dari cinta. Hal ini disebut dengan Tatayyum.

Tingkatan cinta yang pertama adalah ‘alaqah (hubungan). Dinamakan hubungan karena terdapat keterkaitan antara hati orang yang mencintai kepada sesuatu yang dicintai.

Tingkatan cinta berikutnya adalah shababah (kerinduan). Dinamakan kerinduan karena tertuangnya hati orang yang mencintai kepada sesuatu yang dicintainya.

Tingkatan cinta selanjutnya adalah gharam (cinta yang membara). Maksudnya adalah rasa cinta yang senantiasa menetap dan telah masuk ke hati yang paling dalam dan tidak terpisahkan darinya.

Tingkatan cinta berikutnya adalah ‘isyq (mabuk asmara), yaitu cinta yang berlebihan dan rasa amat ingin memiliki, serta senantiasa membayangkan sesuatu yang dicintainya. Ini bisa menjadi penyakit bagi hati jika tidak ditangani dengan serius.

Tingkatan cinta diatasnya adalah syauq (sangat rindu), yakni berkelananya hati menuju yang dicintainya, perasaan yang menggebu-gebu, membuat hati tidak karuan ingin bertemu dengan yang  dicintainya, dan tak akan pernah berhenti sampai dia berhasil mendapatkan tujuannya.

Tingkatan cinta yang paling tinggi adalah tatayyum, yang dimaksud dengan tatayyum adalah penghambaan pecinta terhadap apa yang dicintainya. Jika telah sampai pada tingkatan ini maka akan menjadi ta’abud yang bermakna peribadahan, maksudnya dia akan menjadi hamba yang menyembah bagi sesuatu yang dicintainya.

Setiap manusia memiliki tingkatan yang berbeda-beda dalam tingkat kecintaannya kepada sesuatu yang dicintainya, baik cintanya kepada hal duniawi ataupun cinta kepada hal ukhrowi. Akan tetapi sebagai hamba Allah maka wajib bagi kita untuk menempatkan cinta kita kepada Allah adalah yang pertama dan yang tertinggi dari sesuatu apapun, karena Allah-lah satu-satunya Dzat yang berhak untuk diibadahi dan tidak boleh dipersekutukan. Akan tetapi bagaimana caranya untuk mengetahui kadar (tingkat) cinta kita kepada Allah Ta’ala, maka yang pertama dapat dilihat dari kecintaan kita kepada Kalamullahu Ta’ala Al-Qur’an Al-Karim, perhatian kita dengan mendengar seruan firman-firman-Nya. Dikatakan oleh seorang penyair :

Jika kau menyatakan cinta kepada-Ku , lalu mengapa kau jauhi Kitab-Ku

Tidaklah kau perhatikan apa yang ada didalamnya, yang merupakan kelezatan seruan-Ku.

Utsman bin Affan berkata : Sekiranya hati kita bersih, tentu ia tidak akan pernah merasa kenyang dengan firman Allah.

Hasan Al-Bashri berkata : “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menganggap Al Quran sebagai kumpulan surat cinta dari Rabb mereka”.

Para pecinta Al-Qur’an mampu merasakan kenikmatan dan ketentraman dari firman-firman Allah daripada mendengarkan nyanyian-nyanyian yang melalaikan mereka, karena mereka tau bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk dari sang Maha Penyayang, yang dengannya mereka dapat menggapai cintanya Allah Ta’ala. Seperti sebagiaman yang dikatakan dalam syair :

Dibacakan kepadamu Al-Qur’an, namaun hatimu keras seperti batu.

Tapi tatkala satu bait syair disenandungkan, engkau pun goyah seperti orang yang mabuk kepayang.

Yang kedua adalah mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian“.(Q.S.Ali-Imron : 31).

Yang ketiga adalah beramal shalih, senantiasa mengerjakan ibadah yang fardhu dan sunnah disebutkan dalam hadits qudsi berikut ini:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman :

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“Siapa yang memusuhi wali-Ku maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang terhadapnya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan Sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai  tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepada-Ku pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku pasti Aku akan melindunginya.” (H.R.Bukhari)

Hadits ini menjelaskan, bahwa di antara sebab yang mendatangkan cinta dan kecintaan Allah adalah mengerjakan amalan wajib dan amalan sunnah sesudahnya secara istiqomah. Dan jika Allah sudah mencintai hamba, maka Allah akan memberi petunjuk pada anggota tubuhnya. Sehingga ia akan berkata dan berbuat sesuai keridhaan-Nya. Buah manis lain yang akan hamba tersebut dapatkan adalah doanya akan didengar dan dikabulkan. Ia berada pada perlindungan Allah Ta’ala  dari segala yang mengancam dirinya.

Dari pernyatan-pernyatan yang telah dijelaskan diatas kita mampu mengukur seberapa dalam dan besarkah kadar cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimanakah hubungan kita dengan Al-Qur’an? Sudahkah kita menikmati bacaannya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari kita? Sudahkah kita hidup dengan mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam? Apakah kita telah melaksankan ibadah fardhu dengan baik dan menyempurnakannya dengan ibadah yang sunnah dengan istiqomah? Mari kita hisab terlebih dahulu diri kita sendiri didunia sebelum dihisab diakhirat kelak, agar kita bisa terus memperbaiki hubungan cinta kita dengan Allah Ta’ala dan tidak menyesal di hari akhir nanti.  Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus, yaitu diatas jalan Al-Qur’an dan As-Sunnah hingga kematian menjemput kita. aamiin

Wallahua’lam

Akhukum, Ibnu Setya

@ChannelEl-Wafii

SUMBER :

Al-Jauziyyah, Imam Ibnul Qayyim. 2009. Ad-Daa’ Wa Ad-Dawaa’ Macam-Macam Penyakit Hati yang Membahayakan dan Resep Pengobatannya. Jakarta : Pustaka Imam Syafi’i

Al-Jauziyyah, Imam Ibnul Qayyim. 2015. Thariq Al-Hijrataini wa Bab As-Sa’adataini Jalan Orang Shalih Menuju Surga : Menuju Terminal Kebahagiaan Terakhir. Jakarta : Akbarmedia

JANGAN NYERAH

Ada hamba Allah yang diuji kekurangan harta, setiap hari dia memikirkan bagaimana caranya agar rasa laparnya dapat diatasi, belum lagi tidak punya tempat berteduh, dikala hujan tidak ada naungan tempatnya untuk berlindung....

Ada hamba Allah yang diuji dengan sakit menahun, kesakitan yang selama ini menyerangnya membuatnya sedih berkepanjangan....

Ada hamba Allah yang diuji kehilangan orang orang yang dicintainya.... Tidak ada tempat untuk bersandar dan tidak ada yang mengertinya ketika ia meluapkan keluh kesahnya.....

Ada hamba Allah yang diuji memiliki keterbatasan untuk menuntut ilmu, sehingga ia tidak mengetahui hukum hukum yang Allah perintahkan..

Ada hamba Allah yang diuji tentang rasa amannya, seperti saudara kita di Palestina.. mereka tidak bisa tenang dikala siang dan malam... Teror selalu menghantui mereka...anak anak sanak saudara kerabat orangtua mereka menjadi korban atas kejahatan zionis...

Ada hamba Allah yang diuji kehilangan anggota tubuhnya dan mendapatinya tidak lengkap... Sehingga ia memiliki kesusahan dalam beraktivitas layaknya manusia normal...

Ada hamba Allah yang terlilit hutang, dimana dia senantiasa memikirkan bagaimana caranya untuk melunasinya... 

Ada hamba Allah yang sudah memasuki usia senja, sedangkan ajalnya sudah didepan matanya, ia tidak mempunyai kesempatan untuk beramal Soleh dan bertaubat kepada Allah....

Semua hamba Allah memiliki ujiannya masing masing

Sungguh manusia itu senantiasa dalam keadaan susah payah... Hanya di Surga lah ketenangan itu dapat melingkupi...

Detik demi detik, kita berjuang untuk menaati perintah Allah...walaupun berat... Walaupun sudah payah....

Apa mau jika kita kembali kepada Allah kelak dalam keadaan merugi, menjadi penghuni neraka yang siksaannya sungguh dahsyat...

Masa iya kita sudah susah di dunia, dan kemudian kita juga susah diakhirat kelak??... Oleh karena itu Jadikan surga sebagai garis akhir dari semua perjuangan kita...

Allahu yahdii....

ALLAH AL HASIIB


Al-Hasiib secara umum 
dapat dimaknai bahwa Allah adalah zat yang mengawasi dengan 
cermat, Allah maha cepat hisab perhitungan-Nya atas apapun, termasuk atas amalan hamba-hamba-Nya.
Allah berfirman yang maknanya, Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut 
pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), 
maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah 
kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan 
(janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum 
mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, 
maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim 
itu) dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta 
itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan 
harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-
 saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah 
sebagai Pengawas (atas persaksian itu) (Qs. an-Nisa’: 6).
Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu 
penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang 
lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan 
yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala 
sesuatu (Qs. an-Nisa’: 86) (Yaitu) orang-orang yang menyampaikan 
risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada 
merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan (QS. Al ahzab 39)

ALLAH AL MUQIIT


Para ulama menyebutkan beberapa makna al-Muqiit.
 Pertama al-Muqiit dipahami bahwa Allah adalah zat yang 
maha mampu, yang memiliki kudrah, sebagai al-Muqtadir. Allah 
mampu menciptakan, melindungi, memelihara, dan memenuhi 
kebutuhan semua makhluk-Nya.
Kedua al-Muqiit dimaknai bahwa Allah adalah zat yang maha 
menjaga dan memelihara, yakni yang memberikan penjagaan 
terhadap segala sesuatu sesuai dengan kebutuhannya. Dan hal 
ini Allah sebagai al-Hafizh.
 Ketiga, al-Muqiit dipahami bahwa Allah 
adalah zat yang maha menyaksikan, sebagai As-Syahiid. Allah 
juga melihat apapun yang ada pada makhluk-Nya.
Kempat al-Muqiit diartikan bahwa Allah adalah zat Yang 
Maha Mencukupi. Allahlah yang menyediakan segala kebutuhan 
makhluk-makhluk-Nya. 
Kelima, al-Muqiit dipahami bahwa Allah 
adalah zat yang Maha Mengawasi. Allah senantiasa menyaksikan apapun yang terjadi dan dilakukan oleh makhluk-Nya. 
Keenam, 
al-Muqit dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha kekal. Allah 
adalah zat yang kekal abadi, tidak berawal dan mengenal kata 
akhir.
Ketujuh, al-Muqiit dipahami bahwa Allah adalah zat yang 
maha memberi makanan pokok. Allah menyediakan fasilitas dan 
kemampuan bagi manusia untuk berusaha memenuhi kebutuhan 
hidupnya. Allah berfirman yang maknanya Dan tiadalah 
sesuatupun daripada makhluk-makhluk yang melata (bergerak) 
di bumi melainkan Allah jualah yang menanggung rezekinya 
dan mengetahui tempat kediamannya dan tempat dia disimpan. 
Semuanya itu tersurat di dalam Kitab (Lauhul Mahfuz) yang nyata 
(kepada malaikat-malaikat yang berkenaan)” (Qs. Hûd: 6)

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...