ALLAH AL HAKIIM

Bila al-Hakam menunjukkan perbuatan Allah dalam memutuskan segala sesuatu atas makhluk-Nya dan Allah yang 
maha menetapkan, maka al-Hakiim selain dipahami bahwa  Allah sebagai Subyek yakni sebagai Hakim, juga dipahami 
bahwa Allah adalah zat yang maha bijaksana. Dengan demikian, Allah adalah hakim yang bijaksana; seluruh keputusan-Nya merupakan putusan yang bijaksana; seluruh ketetapan Allah merupakan ketetapan yang bijaksana. Kebijaksanaan ini karena Allah maha luas ilmu-Nya, maha luas kekuasaan-Nya, maha luas kedermawanan-Nya dan maha luas sifat-sifat kebaikan-Nya.

Allah sebagai al-Hakiim dapat ditemukan di dalam al-Qur’an. Di antaranya al-Hakiim disebut bergandengan dengan al-’Aziiz
(Allah Maha Perkasa). Allah berfirman yang artinya, Dan Allah adalah ‘Azîz (Maha Perkasa) lagi Hakîm (Maha Bijaksana) (Qs. alBaqarah: 228, Fathir: 2, al-Hadîd: 1, al-Hasyr: 1 dan 24, al-Jumu’ah: 3).

Dari normativitas di atas, Allah ingin menunjukkan bahwa meskipun maha kuat dan perkasa dalam segala hal atas seluruh
makhluk-Nya, Allah tetap maha bijaksana dalam suluruh ketetapan atas makhluk-Nya, jauh dari sikap semena-mena,
terhindar dari perilaku dzalim dan bersih dari ketidakadilan.

Asma al-Hakiim juga disebut beriringan dengan al-Khabiir dan al-’Alim (Allah maha mengetahui), Allah berfirman yang maknanya, dan Dia-lah Allah Yang Hakîm (Maha Bijaksana) lagi Khabîr (Maha
Mengetahui). [Qs. Saba`: 1].

ALLAH AL WAASI'

skope kehidupan ini juga luas tanpa batas.
Untuk memperoleh rasa bahagia juga dianugerahi keleluasan usaha dan jangkauannya. Mengapa? Karena semua ini diciptakan dan kita sengaja dihadirkan oleh Allah al-Waasi’ bahwa Allah Luas; luas kekayaanNya, luas kedermawanan-Nya, luas pengetahuan-Nya, luas
kekuasaan-Nya, luas kasih kasih sayang-Nya, luas ampunan-Nya dan luas sifat-sifat kemuliaan-Nya.

Term al-Waasi’ disebut dalam al-Qur’an, di antaranya berkaitan dengan keluasan pemberian-Nya, Allah berfirman yang maknanya: Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah
akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui (Qs. alMâ`idah: 54).
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hambahamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan
mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui (Qs. an-Nur: 32).
Adapun keluasan ampunan-Nya, Allah berfirman yang maknanya (yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar
dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu
dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang
paling mengetahui tentang orang yang bertakwa (Qs. al-Najm: 32)

ALLAH AL MUJIIB

Saudaraku, argumen mengapa manusia butuh terhadap agama di antaranya karena tuntutan fitrahnya, karena tantangan yang dihadapinya dan karena kedhaifan dirinya selaku makhluk.
Oleh karenanya dalam iman Islam, kita dituntun untuk berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Untuk menghadapi tantangan kita dituntun berdoa memohon perlindungan juga petunjukNya dan untuk mengatasi kedhaifan diri kita dituntun untuk memohon pertolongan juga kekuatan dari Allah, sehingga dapat
mengemban tugas menjalani misi kekhilafan di muka bumi ini dengan baik.

Dalam konteks doa, Allah menuntun kita di beberapa tempat dalam firman-Nya. Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang melampaui batas (Qs. al-A’raaf: 55). Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, di waktu pagi dan petang, dan dengan tidak
mengeraskan suara, dan jangalah kamu termasuk orang-orang yang lalai (Qs. al-A’raf: 205). Katakanlah: “Serulah (berdoalah kepadaku) Allah atau serulah Al-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai asmaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu, dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah diantara kedua itu” (Qs. al-Isra’: 110).

ALLAH AR RAQIIB

Saudaraku, dalam iman Islam dinyatakan bahwa Allah selalu bersama hamba-hamba-Nya. Karena selalu bersama, maka
kedekatan Allah terhadap hamba-Nya sudah dapat dipastikan kecuali si hamba itu sendiri yang justru menjauhi-Nya. Bagi
orang beriman, meyakini bahwa karena kedekatannya dengan Rabbnya, maka tidak ada satu aktivitas pun yang luput dari kepengawasan-Nya. 

Ar-Raqiib secara umum dapat dimaknai bahwa Allah adalah zat Yang Maha Mengawasi atas makhluk-Nya, baik aktivitasnya, keadaannya, kebutuhannya maupun segala urusannya. Oleh
karenanya mestinya kita merasa aman tentram, karena pengawasan Allah menjangkau semuanya sampai memenuhi
kebutuhan kita.

Allah berfirman yang artinya, Hai sekalian manusia,bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu (Qs.an-Nisa’: 1).

ALLAH AL KARIIM

AlKariim secara umum dapat dimaknai bahwa Allah adalah zat Yang Maha Mulia lagi Pemurah. Allah dengan kemurahan-Nya selalu menganugerahkan ragam karunia kepada semua hambaNya, baik diminta maupun tidak, baik melimpah ruah maupun ketercukupannya, baik keberkahannya maupun kesesuaiannya
dengan keadaan hamba-Nya. Allah berfirman yang artinya, berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: “Aku akan membawa singgasana
itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku
apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia” (Qs. al-Naml: 40).

ALLAH AL JALIIL

Al-Jaliil secara umum dapat
dimaknai bahwa Allah adalah zat yang besar lagi mulia. Asmaul husna-Nya Allah yang relatif dekat pemaknaannya dengan alJaliil adalah al-Kabiir dan al-’Azhiim. Para ulama menjelaskannya, bahwa al-Kabiir dimaknai bahwa Allah adalah zat yang kebesaranNya sempurna dari segi zat-Nya; al-Jaliil dimaksudkan untuk
kebesaran Allah sempurna di dalam sifat-Nya; dan al-’Azhiim digunakan untuk merujuk makna bahwa kebesaran Allah
sempurna di dalam keduanya, baik dalam zat maupun sifat-Nya”.

Dalam konteks al-Jaliil, kebesaran dan kemulian Allah mewujud dalam kesempurnaan sifat-Nya, seperti kepengasihanNya, kepenyayangan-Nya, kepemurahan-Nya, kelembutan-Nya,
kesantunan-Nya, ketinggian-Nya, kebijakan-Nya, keadilan-Nya,
kekekalan-Nya dan seterusnya. Allah berfirman yang maknanya, Dan tetap kekal Zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (Qs. Ar Rahman:27)

Kehidupan Sehari-Hari Yang Islami

Syaikh Abdullah bin Jaarullah

Saudaraku….
Dengan penuh pengharapan bahwa kebahagian dunia dan akhirat yang akan kita dapatkan, maka kami sampaikan risalah yang berisikan pertanyaan-pertanyaan ini kehadapan anda untuk direnungkan dan di jawab dengan perbuatan.

Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja kami angkat kehadapan anda dengan harapan yang tulus dan cinta karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, supaya kita bisa mengambil mannfaat dan faedah yang banyak darinya, disamping itu sebagai bahan kajian untuk melihat diri kita, sudah sejauh mana dan ada dimana posisinya selama ini.

1. Apakah anda selalu shalat shubuh berjama’ah di masjid setiap hari.?
2. Apakah anda selalu menjaga shalat yang lima waktu di masjid.?
3. Apakah anda hari ini membaca al-Qur’an.?
4. Apakah anda rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan shalat wajib.?
5. Apakah anda selalu menjaga shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat wajib.?
6. Apakah anda (hari ini) khusyu dalam shalat, menghayati apa yang anda baca.?
7. Apakah anda (hari ini) mengingat mati dan kubur.?
8. Apakah anda (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya.?
9. Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak tiga kali, agar memasukkan anda ke dalam Surga .? Maka sesungguhnya barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata :"Wahai Allah Subhanahu wa Ta’ala masukkanlah ia ke dalam Surga".
10. Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali .? Maka sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata :"Wahai Allah peliharalah dia dari api neraka".

Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

"Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata :"Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata :"Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka"[1]

11. Apakah anda (hari ini) membaca hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.?
12. Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik.?
13. Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau.?
14. Apakah anda (hari ini) menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.?
15. Apakah anda selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari.?
16. Apakah anda (hari ini) telah memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas dosa-dosa (yang engkau perbuat -pen).?
17. Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati Syahid.?

Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

"Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur".[2]

18. Apakah anda telah berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia menetapkan hati anda atas agama-Nya.?
19. Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di waktu-waktu yang mustajab.?
20. Apakah anda telah membeli buku-buku agama Islam untuk memahami agama.?[3]
21. Apakah anda telah memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah.? Karena setiap mendo’akan mereka anda akan mendapat kebajikan pula.
22. Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala (dan bersyukur kepada-Nya, pent) atas nikmat Islam.?
23. Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya.?
24. Apakah anda hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya.?
25. Apakah anda dapat menahan marah yang disebabkan urusan pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.?
26. Apakah anda telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri sendiri.?
27. Apakah anda telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala?
28. Apakah anda telah menda’wahi keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri anda.?
29. Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua.?
30. Apakah anda mengucapkan "Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raji'uun" jika mendapatkan musibah.?
31. Apakah anda hari ini mengucapkan do'a ini :

"Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui".[4]

Barangsiapa yang mengucapkan yang demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghilangkan darinya syirik besar dan syirik kecil.

32. Apakah anda berbuat baik kepada tetangga.?
33. Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad, dan dengki.?
34. Apakah anda telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada manfaatnya.?
35. Apakah anda takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian.?
36. Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan.?

Saudaraku ..
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan, agar kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, inysa Allah.

[Risalah ini dinukilkan dari buku saku Zaad Al-Muslim Al-Yaumi (Bekalan Muslim Sehari-hari) hal. 51 – 55, bab Hayatu Yaumi Islami yang diambil dari kitab Al-Wabil Ash-Shoyyib oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, Penerjemah Fariq Gasim Anuz]


Footnote
[1]. Hadits Riwayat Tirmidzi dishahihkan oleh syaikh Al Albani dalam shahih Al Jami’ no. 911
[2]. Hadits Riwayat Muslim 3532, Abu Daud 1299, al-Tirmizi 1577, al-Nasa’i 3111; Ibn Majah 2787 al-Darimi 2300
[3]. Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang dipahami oleh para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar, pent
[4]. Lihat Shahih Al-Jami’ No. 3625


Sumber: almanhaj.or.id

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...