Translate

Ketika Nikmat dan Musibah Sama-sama Menjadi Ujian



Selama ini kita sering mengira bahwa yang namanya ujian adalah kesulitan: sakit, kehilangan, kegagalan, atau sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Padahal Allah berfirman:

وَبَلَوْنَاهُم بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Kami menguji mereka dengan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan agar mereka kembali.”

Ternyata nikmat juga ujian. Kesehatan, ilmu, uang, keluarga, pekerjaan, kesempatan, bahkan waktu luang yang kita punya semuanya akan dipertanyakan: setelah Allah memberikan semua itu, apakah kita menjadi lebih dekat kepada-Nya atau justru semakin lalai?

Begitu juga dengan kesulitan. Sesuatu yang kita anggap sebagai musibah belum tentu menjadi keburukan bagi kita. Bisa jadi melalui kesulitan itu Allah sedang mengembalikan hati kita yang selama ini terlalu sibuk dengan dunia. Saat semua yang kita andalkan tidak bisa menolong, kita akhirnya sadar bahwa sejak awal tempat bergantung yang sebenarnya hanyalah Allah.

Dan yang paling indah, Allah menjelaskan tujuan dari semua ujian itu:

لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ — agar mereka kembali.

Jadi mungkin pertanyaan yang seharusnya lebih sering kita tanyakan bukan, “Kenapa Allah memberikan ini kepadaku?” Tetapi, “Setelah mengalami semua ini, apakah aku jadi lebih dekat kepada Allah?”

*Sebab terkadang Allah membuat kita kembali kepada-Nya melalui nikmat yang membuat kita bersyukur. Dan terkadang melalui kesulitan yang membuat kita menangis dan berdoa.*

Yang penting bukan apakah hidup sedang lapang atau sempit, tetapi apakah dalam keadaan itu kita sedang berjalan mendekat kepada Allah atau justru semakin jauh dari-Nya. 🌧️🩵

_نفحات الإيمان

kadar khauf dihati hamba

وكان فضيل بن عياض رضي الله عنه يقول : خوف العبد من الله على قدر معرفته به...  `Berkata syekh fudloil bin iyadh ra berkata :`  *Rasa takut se...