Translate

Tangisan Abu Hurairah

Abu hurairah menangis ketika ia sakit yang membawa kepada kematiannya, ia ditanya apa yang membuat engkau menangis? Ia menjawab aku tidak menangisi dunia kamu ini, akan tetapi aku menangisi jauhnya perjalananku sedikitnya bekalku, aku mendaki, tempat kembali ku surga atau neraka? aku tidak tahu mana di antara keduanya akan mengambil ku.

ADAB BERDOA DALAM ALQURAN DAN SUNNAH

Pertama yakin dan percaya bahwa Allah akan mengabulkan doa tersebut. Jika salah seorang diantara kamu berdoa, hendaklah ia sungguh sungguh dalam memintanya . Janganlah ia mengatakan Ya Allah jika Engkau menghendaki berikanlah kepadaku, karena sesungguhnya Allah tidak terpaksa untuk mengabulkan doa. (HR. Bukhari)

Kedua, terus menerus berdoa
Ketiga, merendahkan dan melembutkan suara
Keempat, berdoa kepada Allah  dengan sifat sifat Nya Yang Agung
Kelima, berdoa dengan amal salih
Keenam, bershawalat kepada Nabi Muhammad Saw.

Pentingnya Menyebarkan Faedah dan Menyampaikannya kepada Orang Lain



Syekh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله berkata:

“Yang disyariatkan bagi seorang muslim apabila mendengar suatu faedah ilmu adalah menyampaikannya kepada orang lain.

Demikian pula seorang muslimah, hendaknya ia menyampaikan kepada selainnya ilmu yang telah didengarnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

> “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR. Bukhari)



Dan dahulu Nabi ﷺ apabila berkhutbah kepada manusia, beliau bersabda:

> “Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Bisa jadi orang yang menerima penyampaian itu lebih memahami daripada yang mendengarnya secara langsung.” (HR. Bukhari & Muslim)



Kemudian Syekh Muhammad ibn Utsaimin رحمه الله berkata:

“Ketahuilah —semoga Allah merahmati kalian— bahwa siapa saja di antara kalian yang menghadiri satu majelis ilmu, lalu ia memperoleh satu masalah atau satu faedah, kemudian ia mengamalkannya dan mengajarkannya kepada saudara-saudaranya, maka sungguh ia telah meraih kebaikan yang sangat banyak. Akan terus mengalir baginya pahala amalan tersebut dan pahala orang-orang yang mengamalkannya hingga Hari Kiamat.

Janganlah kalian menyangka bahwa keutamaan ilmu hanya diperoleh oleh orang yang mendalami ilmu dalam jumlah yang banyak. Sesungguhnya Allah Ta‘ala akan memberi balasan kepada setiap orang sesuai amalnya, meskipun amal itu sedikit.

Allah ﷻ berfirman:

> “Dan mereka tidak akan dizalimi sedikit pun.” (QS. An-Nisa’: 124)



Nabi ﷺ juga bersabda:

> “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR. Bukhari)



🌷 Betapa besar karunia Allah. Satu faedah yang dipelajari, lalu diamalkan dan disampaikan kepada orang lain, bisa menjadi sebab mengalirnya pahala yang tidak terputus hingga Hari Kiamat. Maka jangan meremehkan ilmu yang sedikit, dan jangan menunda untuk menyebarkan kebaikan yang telah kita ketahui.

📚 Adh-Dhiyā’ Al-Lāmi‘ min Al-Khuṭab Al-Jawāmi‘.
مثابة.

Esok Datang Bersama Rezekinya



📮‘Ubaidullah bin Syumaith bin ‘Ajlan berkata, “Aku mendengar ayahku berkata:

🍃Sesungguhnya seorang mukmin berkata kepada dirinya sendiri: Hidup ini hanyalah tentang tiga hari.

🌤️Kemarin telah berlalu bersama segala yang ada di dalamnya.
Adapun esok hanyalah harapan, barangkali engkau tidak sempat mencapainya.

🌱Jika engkau memang termasuk orang yang masih diberi hidup sampai esok, maka *esok akan datang bersama rezeki untuk hari esok*.

*🍂Sebelum esok tiba*, masih ada *satu hari dan satu malam*, yang *di dalamnya banyak jiwa dicabut*. Barangkali engkaulah salah satu yang dicabut pada waktu itu.

🌙Cukuplah setiap hari memiliki bebannya sendiri.

🥀Namun engkau telah membebani hatimu yang lemah dengan kegelisahan bertahun-tahun dan berbagai masa; *kegelisahan tentang mahal dan murahnya harga*, *kegelisahan* tentang musim dingin sebelum musim dingin datang, dan *kegelisahan* tentang musim panas sebelum musim panas tiba.

🍂Lalu, apa yang masih engkau sisakan dari hatimu yang lemah itu untuk akhiratnya?

🌤️Setiap hari umurmu berkurang, tetapi engkau tidak bersedih. Setiap hari rezekimu telah engkau terima dengan sempurna, tetapi engkau tetap tidak merasa cukup.

🍃Engkau telah diberi sesuatu yang mencukupimu, namun engkau masih mencari sesuatu yang dapat membuatmu melampaui batas.

🍂Dengan yang sedikit engkau tidak merasa cukup, dan dengan yang banyak pun engkau tidak pernah kenyang.

🍃Bagaimana mungkin kebodohan seseorang yang berilmu tidak tampak jelas, sementara ia saja tidak mampu mensyukuri nikmat yang sedang ia miliki, tetapi masih tertipu dalam mengejar tambahan?

🍂Atau bagaimana mungkin seseorang dapat beramal untuk akhirat, sementara syahwatnya terhadap dunia tidak pernah terputus dan kerakusannya terhadap dunia tidak pernah selesai?

🌤️Maka sungguh mengherankan, sangat mengherankan, orang yang membenarkan adanya negeri kehidupan yang sebenarnya, tetapi ia justru bersungguh-sungguh mengejar negeri yang menipu.”

📚Qisharul Amal, Ibn Abī ad-Dunyā, hlm. 56
📂https://t.me/rihlahthalabah

KEBAHAGIAAN HAKIKI

Kebahagiaan yang sesungguhnya ialah kebahagiaan yang lahir dari hati.. karena hati adalah pusat kendali dari jiwa raga kita... Manakala hati itu baik, maka yang lainnya akan baik... Maka sebaik baik kekayaan mukminin ialah kekayaan hati, bukan kekayaan harta...

Hati yang kaya, penuh dengan isyarat kebahagiaan didalamnya dan ketentraman. Ini lah yang dinamakan qolbun Muthmainnah, jiwa yang tenang, yang selalu menyeru kepada kebaikan dan melarang kemungkaran.. ini menandakan qolbun Salim, yakni hati yang selamat. Selamat dari hasrat, dengki, prasangka buruk, syirik, dan berbagai karat dosa yang membuat hati keras..

Maka bersyukurlah orang yang memiliki kekayaan hati... Adapun kekayaan harta jadikanlah ia hanya digenggaman tangan, jangan masukkan kedalam hati, karena ia adalah fitnah kehidupan dunia.. jika tidak dibuat dalam perkara kebaikan yang menjadikan amal jariyah, maka keberadaan harta itu hanya menimbulkan kemudharatan jika dibelanjakan lebih dari kebutuhan kehidupan mendasar..

Seseorang bisa menempuh berbagai perkara haram demi mendapatkan harta yang melimpah.. ini barang tentu mengundang murka Allah... Naudzubillahimindzalik... Maka daripada kita sibuk memikirkan harta yang belum tentu milik kita, lebih baik memikirkan kebersihan dan memupuk kekayaan hati kita, agar merasa cukup qonaah dengan segala pemberian Allah. Sehingga hiduppun menjadi nikmat dan bahagia..

TABIAT MANUSIA

۞ وَإِذَا مَسَّ ٱلْإِنسَٰنَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُۥ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُۥ نِعْمَةً مِّنْهُ نَسِىَ مَا كَانَ يَدْعُوٓا۟ إِلَيْهِ مِن قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَندَادًا لِّيُضِلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا ۖ إِنَّكَ مِنْ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ ﴿٨﴾

"Dan apabila manusia ditimpa bencana, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali (taat) kepada-Nya; tetapi apabila Dia memberikan nikmat kepadanya dia lupa (akan bencana) yang pernah dia berdoa kepada Allah sebelum itu, dan diadakannya sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah, "Bersenang-senanglah kamu dengan kekafiranmu itu untuk sementara waktu. Sungguh, kamu termasuk penghuni neraka.""

(Q.S.39:8)

Ketika manusia dilanda musibah, ia memohon dan mendekat kepada Allah.. namun ketika telah Allah hilangkan darinya musibah tersebut, ia menjadi ingkar kepada Allah... Begitulah tabiat manusia, kecuali hamba hamba Allah yang diberikan petunjuk oleh Allah...
Maka ujian nikmat itu patut diperhatikan dan janganlah kita jauh dari Allah saat diberikan ujian berupa kenikmatan.. kembalikanlah semuanya kepada Allah ta'ala....

AISYAH ATQIYA AZZAHRA 

diperlihatkannya tempat disurga atau neraka atas mayat

Rasulullah Saw bersabda:
Jika seorang dari kalian meninggal dunia, akan ditampakkan kepadanya tempat duduk (tinggal)nya setiap pagi dan petang hari. Jika dia termasuk penduduk surga, akan melihat kedudukannya sebagai penghuni surga. Sebaliknya, jika dia termasuk penduduk neraka, akan melihat kedudukannya sebagai penduduk neraka. Lalu dikatakan kepadanya, inilah tempat tinggalmu hingga nanti Allah SWT. Membangkitkan mu pada hari kiamat (HR. Bukhari, 23)

JAGALAH MASA MUDA

أَلْزِمْ نَفْسَكَ بِالْعِبَادَةِ فِي شَبَابِكَ، وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ شَاقًّا وَكَثِيرَ الْفِتَنِ، فَإِنَّكَ إِذَا كَبِرْتَ قَدْ تَمْلِكُ الْه...