Translate

Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Kedalam Neraka



👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-55 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Kedalam Neraka Bagian Pertama”

Dosa yang dilakukan oleh seorang muslim, apabila Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak mengampuninya akan menjadi sebab seseorang terjatuh ke dalam neraka.

⇒Di antara dosa tersebut adalah dosa bid’ah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan. Dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan di dalam neraka. ”

(Hadīts Shahīh Riwayat Nasā’i)

Bid’ah inilah yang sebenarnya telah memecah-belah umat Islām.

Umat yang dahulunya bersatu, satu di atas Al-Qur’an dan Al-Hadīts dengan satu pemahaman, yaitu pemahaman para shahābat Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam generasi terbaik umat Islām, menjadi berbagai aliran yang banyak.

Golongan yang selamat adalah golongan yang tetap berpegang kepada Islām yang murni yang dipahami oleh para shahābat Radhiyallāhu ‘anhum.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى

“Dan akan berpecah-belah umatku menjadi 73 golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. Mereka berkata, “Siapakah golongan tersebut ya Rasūlullāh ?” Beliau menjawab, “Golongan yang berada di atas jalanku dan jalan para sahabatku”.

(Hadīts Hasan Riwayat Tirmidzi)

Ucapan beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam umati yaitu umatku, menunjukkan bahwasanya aliran-aliran tersebut tidaklah kafir dengan bid’ah yang mereka lakukan.

Dan ucapan beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam semuanya masuk neraka, menunjukkan bahwasanya bid’ah yang mereka lakukan adalah dosa besar yang menyebabkan masuk neraka.

Kalau Allāh menghendaki, maka Allāh mengampuni tanpa diadzab dan kalau Allāh menghendaki maka Allāh akan mengadzab di neraka sampai waktu yang Allāh kehendaki.

Seorang muslim hendaknya menjauhi aliran-aliran sesat tersebut yang di antara ciri-cirinya:

⑴ Tidak kembali kepada pemahaman para shahābat di dalam memahami Al Qurān dan Al-Hadīts.
⑵ Tidak memiliki perhatian yang besar terhadap aqidah dan tauhīd
⑶ Mendahulukan akal di atas dalīl
⑷ Bersembunyi-sembunyi di dalam beragama
⑸ Dan ada di antara mereka yang memiliki bai’at khusus kepada pemimpin aliran.

Dantara cirinya:

√ Mencela dan membicarakan kejelekan penguasa.
√ Tidak berhati-hati di dalam berdalil dengan hadīts-hadīts Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
√ Mencukupkan diri dengan Al Qurān tanpa hadīts di dalam berdalīl.
√ Dan di antara cirinya mereka mudah mengkāfirkan orang yang tidak sependapat dengan mereka.

Hendaknya seorang muslim meninggalkan bid’ah meskipun dianggap baik atau hasanah oleh sebagian manusia.

Meninggalkan aliran-aliran sesat tersebut dan jangan tertipu dengan pakaian atau banyaknya jumlah mereka. Karena kebenaran tidak diukur dengan perkara-perkara tersebut, tapi diukur dengan kesesuaiannya dengan Al Qurān dan Al-Hadīts.

Menasehati para pengikut aliran sesuai dengan kemampuan supaya kembali kepada kebenaran dengan cara yang hikmah merupakan bentuk rasa cinta kita kepada saudara seislām.

Dan upaya menyatukan umat di atas kebenaran serta menyelamatkan mereka dari ancaman neraka.

Dan perlu diketahui bahwasanya meninggalkan aliran-aliran tersebut juga bukan berarti seseorang hidup jauh dari agama, menjauhi ilmu dan para ulamā.

Kemudian mengikuti syahwat dan hawa nafsunya. Karena seorang muslim di dunia ini dituntut untuk menjauhi fitnah syubhat (kerancuan berpikir) dan menjauhi fitnah syahwat.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan hidayah kepada kita semua.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-56 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang ” Beberapa Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang kedalam Neraka Bagian ke-2″

Di antara dosa yang membahayakan seseorang yang berimān dan bisa menjadi penyebab jatuhnya seseorang ke dalam neraka ketika melewati sirāth adalah berdusta atas nama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia menyiapkan tempatnya di dalam neraka.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Hendaknya seseorang berhati-hati di dalam menyampaikan hadīts dari Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, menjauhi hadīts-hadīts dhaif dan palsu, baik dalam masalah aqidah, fadhail’amal, maupun masalah yang lain.

Dan bagi yang tidak mampu menghukumi sebuah hadīts, maka hendaknya dia taqlid dengan ulamā atau ustadz yang ia anggap paling ahli di dalam hadīts.

⇒Di antara dosa tersebut adalah “dosa lisan dan kemaluan”

Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia di dalam neraka.

Maka beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الأَجْوَفَانِ : الفَمُ و الْفَرَجُ

“Mulut dan kemaluan”

(Hadīts Shahīh Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Mājah).

Dosa yang dilakukan mulut seperti:

√ Dusta
√ Membicarakan kejelekan orang lain
√ Mengadu domba
√ Berfatwa tanpa ilmu
√ Menuduh tanpa hak
√ Makan dan minum yang haram dan lain-lain.

Dosa yang dilakukan kemaluan seperti:

√ Berzina,
√ Liwath, dan lain-lain.

⇒Dan di antara dosa tersebut adalah sombong.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat dzarrahpun dari kesombongan”

Seorang laki-laki bertanya:

Sesungguhnya seseorang senang apabila bajunya bagus dan sandalnya bagus.

Maka beliau Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Sesungguhnya Allāh adalah indah dan mencintai keindahan.”

⇒ Yang dimaksud dengan kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. (Hadīts Riwayat Muslim)

Ucapan beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak akan masuk surga adalah ancaman bagi pelakunya, bahwasanya dia bukan termasuk orang-orang yang pertama-tama masuk surga. Dan balasan kesombongan dia adalah masuk neraka terlebih dahulu.

Marilah kita belajar menerima kebenaran dari manapun datangnya. Karena pada hakikatnya kebenaran adalah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla .

Dan janganlah kita meremehkan orang lain, karena ilmu, harta, jabatan atau gelar yang kita miliki, Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang telah memberikan kepada kita kenikmatan-kenikmatan tersebut, mampu untuk memberikan kepada orang lain yang semisal atau yang lebih baik kapan Allāh kehendaki.

Semakin seseorang rendah hati karena Allāh , maka Allāh akan semakin mengangkat derajatnya.

Di antara dosa tersebut adalah dosa memakan makanan yang haram.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya tidaklah tumbuh daging dari makanan yang haram, kecuali neraka lebih pantas bagi daging tersebut”

(Hadīts Shahīh Riwayat Tirmidzi)

Seorang muslim hendaknya sangat berhati-hati di dalam mencari rezeki untuk diri-sendiri dan keluarga.

Tidak memakan dan memberi makan, kecuali setelah yakin itu halal.

Hendaknya dia menjauhi riba, memakan harta orang lain tanpa hak, menjauhi uang suap, menjauhi kurang dalam menimbang dan segala jenis harta haram lainnya.

Dan di antara dosa yang dapat menjadi sebab jatuhnya seseorang ke dalam neraka adalah “tidak ikhlās di dalam menuntut ilmu” (Ilmu agama)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Barang siapa yang menuntut ilmu, yang sebenarnya digunakan untuk mencari ridhā Allāh, Dia tidak menuntut ilmu tersebut kecuali untuk mencari dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat”

(hadīts Riwayat Abū Dāwūd)

Di dalam hadīts yang lain beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Barangsiapa yang menuntut ilmu hanya untuk menyombongkan diri di hadapan para ulamā atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, maka ancamannya adalah neraka”

(Hadīts Shahīh Riwayat Ibnu Mājah)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-57 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang ” Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Kedalam Neraka Bagian ketiga”

Di antara dosa yang bisa menyebabkan seseorang terjatuh ke dalam neraka adalah:

⑴ Dosa bunuh diri

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang melempar dirinya dari gunung untuk membunuh dirinya, maka dia berada di dalam neraka jahannam. Dilempar didalamnya kekal selamanya. Dan barang siapa meneguk racun untuk membunuh dirinya, maka di dalam neraka jahannam dia akan meletakan racun di tangannya, dia meneguknya selamanya di neraka. Dan barang siapa membunuh dirinya dengan besi, maka besi tersebut di tangannya dia menusuk dengan besi tersebut perutnya di neraka jahannam kekal selamanya”.

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

⇒Bunuh diri bukanlah cara untuk lepas dari masalah, namun justru akan mendatangkan masalah yang lebih besar.

Dan barang siapa yang berimān kepada Allāh,maka Allāh akan memberikan hidayah kepada hatinya.

⑵ Membunuh tanpa hak.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَمَن يَقۡتُلۡ مُؤۡمِنً۬ا مُّتَعَمِّدً۬ا فَجَزَآؤُهُ ۥ جَهَنَّمُ خَـٰلِدً۬ا فِيہَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُ ۥ وَأَعَدَّ لَهُ ۥ عَذَابًا عَظِيمً۬ا

“Dan barang siapa yang membunuh orang yang berimān karena sengaja, maka balasannya adalah jahannam dia kekal di dalamnya. Allāh akan marah kepadanya dan melaknatnya, dan Allāh akan siapkan untuknya adzab yang besar.”

(QS An-Nissā’: 93)

Para ulamā menjelaskan bahwasanya maksud kekal di neraka bagi orang yang membunuh orang yang berimān tanpa hak atau bunuh diri yaitu pada asalnya inilah balasan bagi orang tersebut.

Namun dalīl lain menerangkan bahwasanya orang yang berimān sekecil apapun imānnya dan sebesar apapun dosanya dia akan keluar dari neraka baik dengan ampunan Allāh atau dengan Syafā’at.

⑶ Memakan riba.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡڪُلُواْ ٱلرِّبَوٰٓاْ أَضۡعَـٰفً۬ا مُّضَـٰعَفَةً۬‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ (١٣٠) وَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِىٓ أُعِدَّتۡ لِلۡكَـٰفِرِينَ (١٣١)

“Wahai orang-orang yang berimān, janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda. Dan bertakwalah kalian kepada Allāh, supaya kalian beruntung. Dan takutlah dengan api neraka yang disediakan untuk orang-orang kāfir.”

(QS Āli-‘Imrān: 130-131)

Dan betapa banyak praktek riba di zaman sekarang, seseorang yang akan melakukan sebuah transaksi hendaknya mengetahui ilmunya.

Dan janganlah dia menganggap mudah perkara riba ini.

Dan barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allāh , maka Allāh akan mengganti dengan yang lebih baik.

⑷ Menggambar mahluk yang bernyawa.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya orang yang paling keras adzabnya di sisi Allāh pada hari kiamat adalah para penggambar.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Dan maksud dari penggambar di sini adalah penggambar mahluk bernyawa, masuk di dalamnya orang yang membuat patung mahluk bernyawa dan orang yang melukis mahluk bernyawa.

Banyak para ulamā yang memasukkan gambar fotografi didalam larangan ini.

Tidak diperbolehkan kecuali dalam keadaan darurat seperti untuk surat-surat penting dan lain-lain.

Perbedaan pendapat di antara para ulamā dan banyaknya manusia yang melakukan, janganlah menjadi alasan bagi seseorang untuk bermudah-mudahan di dalam gambar fotografi ini.

⑸ Dosa wanita yang berpakaian tetapi telanjang.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Dua golongan dari penduduk neraka yang aku belum pernah melihat mereka, sebuah kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka gunakan untuk memukul manusia. Dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Berjalan lenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk ke dalam surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga bisa dicium dari jarak perjalanan sekian dan sekian”

⇒Dan makna berpakaian tapi telanjang ada yang mengatakan menutupi sebagian aurat dan membuka sebagian yang lain untuk menampakkan keindahan. Atau memakai pakaian tetapi tidak sempurna seperti memakai pakaian yang tipis atau membentuk badan.

Seorang muslimah hendaknya bersungguh-sungguh di dalam menjaga hijabnya dan ikhlās karena Allāh .

Semoga kesabaran seorang muslimah atas rasa gerah, risih dan ribet yang mungkin dirasakan oleh sebagian.

Dan juga kesabaran menghadapi gunjingan orang lain, menjadi sebab selamatnya dia dari ancaman neraka.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-58 dari Silsilah ‘IlmiyahBerimān Kepada hari Akhir adalah tentang “Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Kedalam Neraka Bagian yang keempat”

Di antara dosa yang bisa menyebabkan seseorang terjatuh ke dalam neraka adalah dosa wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Diperlihatkan kepadaku bahwa sebagian besar penduduk neraka adalah wanita. Mereka telah ingkar.

Dikatakan kepada beliau:

Apakah mereka ingkar kepada Allāh ?

Beliau bersabda: “Mereka ingkar kepada suami-suami mereka, Mengingkari kebaikan-kebaikan mereka, Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sekian lama, kemudian dia melihat darimu sesuatu yang tidak membuat dia senang, maka wanita tersebut akan berkata, “Aku tidak melihat kebaikan sedikitpun darimu”.

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Seorang wanita yang shālihah hendaklah bersyukur kepada Allāh , kemudian bersyukur kepada suaminya, karena dengan sebabnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla

√ Menjaga dia sebagai seorang istri.
√ Menutupi kekurangannya.
√ Menunaikan hajatnya dan lain-lain.

Dan secara umum, bersyukur kepada orang lain yang pernah berbuat baik kepada kita diperintahkan dalam agama Islām.

Apabila seseorang tidak bisa membalas maka hendaknya dia mendo’akan dengan kebaikan, baik di hadapan orang tersebut maupun tidak di hadapannya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang berbuat baik kepada kalian, maka balaslah. Kalau kalian tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, maka do’akanlah dengan kebaikan sampai kalian merasa bahwasanya kalian telah membalas kebaikannya”

(Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd dan An-Nasā’i)

Dan di antara dosa yang membahayakan kehidupan seorang hamba di akhirat adalah tiga dosa yang tercantum didalam sabda Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

◆ Tiga orang yang Allāh harāmkan masuk surga:
⑴ Pecandu khamr (minuman keras)
⑵ Anak yang durhaka
⑶ Dayyuts (laki-laki yang membiarkan kejelekan di dalam keluarganya)

(Hadīts Hasan Riwayat Imām Ahmad di dalam Musnadnya)

Seorang kepala keluarga yang membiarkan kemaksiatan di dalam keluarganya dan memfasilitasi, dikhawatirkan terkena ancaman ini.

Seorang kepala keluarga dituntut untuk tegas dan lembut dengan keluarganya.

Rasa sayang bukan berarti harus memberi semua yang diminta, Dan mendidik mereka untuk taat tidak identik denga kekerasan, Istri dan anak adalah ujian dan titipan Allāh.

Kewajiban kita adalah mengerahkan tenaga semaksimal mungkin untuk menjaga diri dan keluarga kita dari neraka, dan hidayah di tangan Allāh Subhānahu wa Ta’āla

⇒Dan di antara dosa yang membahayakan adalah durhaka terhadap kedua orang tua.

Dan di antara bentuk durhaka adalah menyakiti orang tua dengan lisan, dengan sikap ataupun dengan tangan.

Seorang muslim dan muslimah diperintah untuk berlemah-lembut kepada orang tua. Merendahkan diri di hadapan mereka, dan menaati perintah mereka selama tidak bertentangan dengan syariat.

Dan di antara bentuk bakti yang paling berharga kepada orang tua kita adalah mengeluarkan mereka dari kegelapan, kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan menuju cahaya Tauhīd, Sunnah dan ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla

Dan di antara dosa yang membahayakan adalah dosa seorang pejabat yang menipu bawahan atau rakyatnya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seorang hamba, Allāh berikan jabatan kemudian dia mati dalam keadaan menipu bawahan atau rakyatnya kecuali Allāh akan mengharamkan dia masuk ke dalam surga”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Di antara bentuk menipu kepada rakyat adalah tidak menasehati mereka demi keselamatan dunia dan akhirat mereka, tidak memenuhi hak-hak mereka, tidak berbuat adil di antara mereka dan lain-lain(diharamkan masuk surga di sini bahwasanya pelakunya tidak bisa masuk surga secara langsung, namun dia berhak untuk diadzab di dalam neraka terlebih dahulu apabila Allāh menghendaki)

Ini adalah beberapa contoh dosa-dosa besar dan para ulama telah mengarang buku khusus tentang dosa-dosa besar, kita pelajari supaya kita bisa menjauhi.

Keyakinan ahlusunnah bahwasanya pelaku dosa besar di bawah kehendak Allāh, Kalau Allāh menghendaki, maka Allāh akan mengampuni, dan kalau Allāh menghendaki, maka Allāh akan mengadzabnya terlebih dahulu, sebelum dimasukkan ke dalam surga.

Dan adzab neraka bagi pelaku dosa besar, meski tidak selamanya namun bukan sesuatu yang ringan.
Satu menit dibakar dengan api dunia adalah perkara yang berat. Maka bagaimana dibakar dalam waktu yang lama dengan api akhirat yang jauh lebih panas.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Api kalian adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari neraka jahanam”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Kesabaran di dalam menahan hawa nafsu di dunia, bagi seorang muslim jauh lebih ringan dan lebih mudah dari pada kesabaran di dalam menghadapi adzab neraka di akhirat.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla melindungi kita dan keluarga kita dari api neraka.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Ash-Shirat




👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke- 54 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang”As Shirath”

Termasuk berimān kepada hari akhir adalah berimān dengan adanya As Shirath
(Jembatan yang dipasang di atas neraka jahanam untuk lewat orang-orang yang berimān menuju surga)
Setelah berpisah dengan orang-orang munāfiq, maka tinggallah orang-orang yang berimān dengan berbagai tingkatan keimānan mereka.

⇒Mulai dari para Nabi ‘alayhimussalām sampai para pelaku dosa besar.

Mereka semua akan menuju surga dengan melewati sebuah jembatan yang berada di atas neraka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla ta’ala berfirman:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

“Dan tidak ada seorangpun dari kalian kecuali akan melewati Neraka,yang demikian adalah ketentuan Allāh yang sudah ditetapkan,

ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

“Kemudian kami akan selamatkan orang-orang yang bertaqwa dan kami akan biarkan orang-orang yang zhālim masuk kedalam Neraka dalam keadaan berlutut.”

(QS Maryam: 71-72)

Di dalam hadīts Abū Said Al Khudri Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwa jembatan tersebut sangat menggelincirkan.

⇒Di atasnya ada besi-besi pengait dan duri yang keras yang bentuknya seperti duri Sa’dan.

Berkata Abū Said Al Khudri, shahābat yang meriwayatkannya, di sini di dalam riwayat Muslim.

“Telah sampai kepadaku bahwasanya jembatan ini lebih lembut dari pada rambut dan lebih tajam dari pada pedang.”

Di dalam hadīts ini disebutkan bahwasanya:

√ Ada orang yang berimān yang melewati jembatan tersebut dengan sangat cepat seperti kedipan mata,
√ Ada yang seperti kilat,
√ Ada yang secepat angin,
√ Ada yang secepat burung,
√ Ada yang secepat larinya kuda,
√ Ada yang secepat larinya unta,
√ Ada yang sangat lambat sehingga dia lewat jembatan tersebut dalam keadaan menyeret dirinya, dialah orang yang terakhir melewati jembatan.”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga menyebutkan di dalam hadīts ini bahwasanya manusia akan terbagi menjadi 3 (tiga)

⑴ Orang yang benar-benar selamat melewati neraka yaitu tanpa terkena sambaran.
⑵ Orang yang selamat melewati neraka akan tetapi terkoyak tubuhnya.
⑶ Orang yang tersambar dan akhirnya terjatuh ke dalam neraka.

Di dalam hadīts Abū Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka aku dan umatku lah yang pertama kali akan melewati dan tidak berbicara saat itu kecuali para Rasūl.”

Do’a mereka saat itu, “Yā Allāh , selamatkan, selamatkan.”

Di atas jembatan tersebut ada besi besi pengait seperti duri Sa’dan, mereka menjawab, tahukah kalian duri Sa’dan? Mereka menjawab “Iya….. Yā Rasūlullāh,

Beliau berkata:

“Besi pengait tersebut seperti duri Sa’dan. Namun tidak mengetahui besarnya kecuali Allāh, Dia akan menyambar manusia sesuai dengan amalan mereka, yaitu dosanya.”

⇒Ada diantara mereka yang binasa karena amalannya dan ada diantara mereka yang terkoyak dari belakang kemudian selamat.

⇒Di antara yang selamat adalah 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisāb , Wajah-wajah mereka seperti bulan di malam bulan purnama.

⇒Menyusul setelah mereka rombongan yang wajah mereka seperti bintang yang paling terang.

(Hadīts riwayat Muslim)

Dari Jābir ibnu Abdillāh al Anshari Radhiyallāhu ‘anhummā:

“Dan akan dikirim amanah dan rahim atau kekerabatan.”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Dan akan dikirim amanah dan rahim atau kekerabatan, maka keduanya berdiri di samping kanan dan kiri jembatan. ”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Ini menunjukkan bahwasanya melaksanakan amanah dan menyambung silaturrahim atau hubungan kekerabatan perkaranya besar di dalam agama Islām, keduanya akan menuntut orang-orang yang tidak memenuhi hak keduanya.
Sebagian orang yang berimān akan jatuh ke dalam neraka karena sebab ucapan yang dia ucapkan di dunia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang membuat marah Allāh dan hamba tersebut tidak menganggap penting kalimat itu, dia jatuh dengan sebab ucapan tadi ke dalam jahanam.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri)

Sebuah batu yang dilempar ke dalam neraka akan sampai ke dasar neraka 70 tahun kemudian.
Sebagaimana di dalam hadits riwayat Muslim.

Sebuah peristiwa yang pasti akan kita alami dan sangat mendebarkan, berjalan di atas jembatan yang sangat kecil, sangat panjang di bawahnya ada neraka yang sangat dalam dan berisi azab yang sangat pedih dan di samping kanan dan kiri ada besi-besi pengait yang siap mengenai orang yang berhak.

Ketegaran kita di atas jembatan saat itu sesuai dengan ketegaran kita di dunia di dalam berpegang teguh dengan agama Islām.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla merahmati kita dan menyelamatkan kita semua. Āmīn

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Perpisahan Orang-orang Beriman dan Orang Munafik




👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-53 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān dengan tentang ” Perpisahan Orang-orang Berimān Dan Orang Munāfiq”

Setelah bangkit dari sujud, maka orang-orang yang berimān akan mengikuti Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan akan dibentangkan As-Sirath (jembatan di atas neraka) Sebagaimana di dalam hadīts Abū Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim.

Keadaan saat itu gelap gulita, Seorang Yahūdi pernah bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Di manakah manusia di hari di mana bumi dan langit diganti?”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Di tempat yang gelap sebelum jembatan. ”

(Hadīts Riwayat Muslim)

⇒Kemudian orang-orang yang berimān akan diberikan cahaya.

Di dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, di dalam Al-Mu’jamul Kabir, dari ‘Abdullāh Ibnu Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka Allāh memberikan kepada mereka cahaya sesuai dengan amalan mereka.”

√ Ada di antara mereka yang diberi cahaya sebesar gunung yang besar yang berjalan di depannya.

√ Dan ada yang diberi lebih kecil dari itu.

√ Dan ada di antara mereka yang diberi cahaya sebesar pohon kurma di sebelah kanannya.

√ Dan ada yang diberi lebih kecil dari itu.

Sehingga ada orang yang diberi cahaya di jempol kakinya, kadang menyala dan kadang padam. Apabila menyala, maka dia melangkahkan kakinya dan berjalan.

Dan apabila padam, dia berdiri.

⇒Ini menunjukkan kepada kita tentang pentingnya mengamalkan ilmu bagi seorang muslim.

Semakin banyak cahaya ilmu yang dia amalkan di dunia, maka akan semakin banyak cahaya yang akan dia dapatkan di hari kiamat.

Di dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, disebutkan bahwasanya orang-orang munāfiq juga akan diberikan cahaya dan akan mengikuti Allāh .

⇒Namun cahaya mereka padam sebelum sampai jembatan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menceritakan didalam Qs. Al-Hadīd : 12-15 yang artinya:

“Pada hari ketika kamu melihat orang-orang yang berimān, laki-laki dan wanita, cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Dikatakan kepada mereka, “Pada hari ini ada berita gembira untuk kalian. Yaitu surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kalian akan kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.”

Pada hari ketika orang-orang munāfiq, laki-laki dan wanita, berkata kepada orang-orang yang berimān, “Tunggulah kami, supaya kami dapat mengambil sebagian cahaya dari kalian.” Dikatakan kepada orang-orang munāfiq, “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah sendiri cahaya untuk kalian.” Lalu dibuatlah di antara orang-orang yang berimān dengan orang-orang munāfiq sebuah dinding yang memiliki pintu.

Di sebelah dalamnya, yaitu di sisi orang-orang yang berimān ada rahmat. Dan di sebelah luarnya, yaitu sisi orang-orang munāfiq ada siksa.

Orang-orang munāfiq memanggil orang-orang yang beriman dan berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian di dunia?” (Maksudnya bersama-sama dengan orang-orang yang berimān secara zhahir).

Orang-orang berimān menjawab: “Benar ” Akan tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri, yaitu dengan kenifāqan kalian.

Dan kalian dahulu menunggu-nunggu kehancuran kami. Dan kalian ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong. Sehingga datanglah ketetapan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan penipu yaitu syaithān, telah memperdaya kalian tentang Allāh .

Maka pada hari ini tidak akan diterima tebusan dari kalian maupun dari orang-orang kāfir.

Tempat kalian adalah neraka, itulah tempat berlindung kalian, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

Demikianlah orang-orang munāfiq kembali tertipu. Mereka mendapat cahaya di awal dan menyangka bahwasanya mereka akan selamat bersama dengan orang-orang yang berimān.

Namun ternyata persangkaan mereka salah. Orang-orang yang berimān ketika melihat cahaya orang-orang munāfiq padam mereka berdo’a kepada Allāh.

رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآ‌ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬

“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa untuk melakukan segala sesuatu.”

( QS At-Tahrim : 8)

Di dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Abū Dāwūd dan juga Tirmidzi, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda bahwasanya orang yang berjalan ke masjid di dalam kegelapan malam, yaitu untuk melakukan shalāt berjama’ah, maka dia akan mendapatkan cahaya yang sempurna di hari kiamat.

Di antara usaha seorang muslim untuk menghilangkan kenifāqan adalah dengan menjaga shalāt lima waktu secara berjama’ah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang shalāt karena Allāh selama 40 hari secara berjama’ah mendapatkan takbiratul ula (takbiratul ihram), maka dia akan terlepas dari dua perkara. Terlepas dari neraka dan terlepas dari kenifāqan. (Hadīts hasan riwayat Tirmidzi).

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Tinggalnya Orang-orang Beriman dan Orang Munafiq




🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-52 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Tinggalnya Orang-orang Berimān Dan Orang-orang Munāfiq”

Di dalam hadīts Abū Said Al-Khudri yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhāri dan Muslim disebutkan bahwasanya setelah orang-orang kāfir baik musyrikin maupun ahlul kitāb digiring ke neraka, maka tidak tersisa kecuali orang-orang yang menyembah Allāh, yang shālih maupun yang fajir.

Dikatakan kepada mereka:

“Apa yang menghalangi kalian untuk pergi, sedangkan manusia sudah pergi?

Dalam riwayat Muslim,

“Apa yang kalian tunggu?

Mereka berkata:

“Kami berbeda dengan mereka di dunia. Padahal kami dahulu butuh dengan mereka.”

⇒Maksudnya dahulu mereka bertauhīd tidak menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kāfir. Meskipun mereka membutuhkan orang-orang kāfir tersebut dalam beberapa hal.

Mereka berkata:

“Sungguh kami telah mendengar penyeru menyeru supaya setiap kaum mengikuti apa yang dia sembah. Dan kami sekarang sedang menunggu Rabb kami.

Maka datanglah Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam bentuk yang berbeda dengan bentuk yang mereka lihat pertama kali.

⇒Ini menunjukkan bahwasanya orang-orang yang berimān akan melihat Allāh di Padang Mahsyar.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka Allāh berkata, “Aku adalah Rabb kalian.” Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allāh darimu. Kami tidak menyekutukan Allāh sedikitpun.” Mereka mengatakan perkataan ini dua atau tiga kali.

⇒Maksudnya Allāh akan menguji mereka dengan memperlihatkan diri-Nya kepada mereka dalam bentuk yang lain.

Ketika mereka melihat Allāh dalam bentuk yang lain, maka mereka berlindung kepada Allāh , supaya tidak terfitnah di dalam ujian ini.

Dan ucapan mereka, “Kami tidak menyekutukan Allāh sedikitpun.” menunjukkan tentang keutamaan tauhīd.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka tidak berbicara kepada Allāh saat itu kecuali para Nabi.”

Maka Allāh berkata:

“Apakah kalian memiliki tanda sehingga kalian mengetahui bahwa Dia adalah Rabb kalian?

Mereka berkata, “Betis”

Maka disingkaplah betis Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Para ulamā mengatakan bahwasanya ini adalah termasuk hadīts yang berisi sifat Allāh, Kewajibah kita berimān bahwasanya Allāh memiliki betis sesuai dengan keagungan-Nya.

Tidak boleh kita ingkari, tidak boleh kita serupakan dengan mahluk, tidak boleh kita takwil, dan tidak boleh kita bertanya tentang bagaimananya.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka sujudlah setiap mukmin.”

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan,

“Tidak tersisa orang yang dahulu sujud untuk Allāh , ikhlās dari dirinya kecuali Allāh akan mengijinkan dia bersujud. Kemudian tidaklah tersisa orang yang dahulu sujud karena hanya ingin melindungi diri dan riya’ kecuali Allāh akan menjadikan punggungnya menjadi rata.

Setiap akan sujud dia jatuh tersungkur di atas tengkuknya.

Maksudnya dia tidak bisa sujud karena punggungnya yang semula memiliki beberapa ruas tulang yang memudahkan dia untuk membungkuk, menjadi hanya memiliki satu ruas tulang yang rata.

Demikianlah keadaan orang-orang yang dahulu menipu Allāh dan orang-orang yang berimān di dunia
Maka Allāh menipu mereka.

Mereka mengira bahwasanya mereka akan selamat dengan tinggalnya mereka saat itu bersama orang-orang yang berimān.

Namun ternyata perkiraan mereka adalah perkiraan yang salah.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Kemudian orang-orang yang berimān mengangkat kepala mereka dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah kembali kepada bentuk-Nya yang semula.

Kemudian Allāh berkata:

“Aku adalah Rabb kalian”.

Mereka pun berkata:

“Engkau adalah Rabb kami”.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلم عليكم ورحمة الّ وبركاته


Keadaan Orang-orang Kafir di Dalam Neraka



🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-51 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir
“Keadaan Orang-orang Kafir Ketika Digiring dan Dikumpulkan ke Neraka”

• Pertama | Mereka akan digiring dengan kasar.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا (١٣) هَـٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِى كُنتُم بِہَا تُكَذِّبُونَ (١٤)

“Pada hari mereka akan didorong ke neraka jahannam dengan keras
Dikatakan kepada mereka, “Inilah neraka yang dahulu kalian dustakan.”

(QS Ath-Thūr: 13-14)

• Kedua | Mereka akan digiring secara berkelompok dan akan disambut oleh para malāikat penjaga neraka, di ambang pintu neraka dengan penuh penghinaan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman yang artinya:

“Orang-orang kāfir akan digiring ke neraka jahannam secara berkelompok-kelompok, sehingga apabila mereka telah sampai ke ambang neraka dibukalah pintu-pintunya.

Dan berkatalah para penjaga neraka kepada mereka:

“Bukankah telah datang kepada kalian, Rasūl-rasūl yang berasal dari kalian yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Rabb kalian, dan mengingatkan kalian pertemuan dengan hari ini?”.

Mereka menjawab: “Benar telah datang”.

Namun telah tetap adzab bagi orang-orang kāfir.

Dikatakan kepada mereka: “Masuklah kalian melalui pintu-pintu neraka jahannam tersebut, sedangkan kalian kekal di dalamnya.

Maka neraka jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”.

(QS Az-Zumar: 71-72)

• Ketiga | Mereka akan dikumpulkan dalam keadaan berjalan di atas wajah-wajah mereka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ٱلَّذِينَ يُحۡشَرُونَ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ إِلَىٰ جَهَنَّمَ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ شَرٌّ۬ مَّكَانً۬ا وَأَضَلُّ سَبِيلاً۬

“Orang-orang yang dikumpulkan ke neraka jahanam dengan berjalan di atas wajah-wajah mereka, mereka itulah orang-orang yang paling jelek kedudukan mereka dan paling sesat jalan mereka.”

(QS Al-Furqān: 34)

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam,

“Wahai Nabi Allāh, bagaimana orang kafir dikumpulkan di atas wajahnya pada hari kiamat?”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

“Bukankah yang telah menjadikan dia berjalan di atas kedua kakinya mampu untuk menjadikan dia berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat?”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

• Keempat | Mereka akan dikumpulkan dalam keadaan buta, bisu dan tuli.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَنَحۡشُرُهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ عُمۡيً۬ا وَبُكۡمً۬ا وَصُمًّ۬ا‌ۖ

“Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat di atas wajah-wajah mereka dalam keadaan buta, bisu dan tuli.”

(QS Al-Isrā’: 97)

Ada sebagian ulamā yang mengatakan bahwasanya mereka buta, bisu dan tuli tidak dalam semua keadaan.

• Kelima | Mereka akan dikumpulkan bersama teman-teman mereka dan sesembahan-sesembahan mereka.

Dan akan saling menyalahkan di antara mereka, sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam neraka.

( Lihat QS Ash-Shāffāt: 22-32)

• Keenam | Sebelum mereka sampai ke neraka, mereka akan mendengar suara neraka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِذَا رَأَتۡهُم مِّن مَّكَانِۭ بَعِيدٍ۬ سَمِعُواْ لَهَا تَغَيُّظً۬ا وَزَفِيرً۬ا

“Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suara neraka yang bergemuruh karena marah.”

(QS Al-Furqān: 12)

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjauhkan kita dan keluarga kita dari neraka jahanam dan memasukkan kita ke dalam surganya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Dikumpulkannya Orang-orang Kafir di Dalam Neraka




🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-50 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Dikumpulkannya Orang-orang Kāfir ke dalam Neraka”

Setelah hisāb di Padang Mahsyar selesai, maka mulailah dipisah antara penduduk Surga dan penduduk Neraka secara bertahap.

Al-Imām Bukhāri dan Muslim meriwayatkan dalam shahīhnya dari Abū Said Al-Khudry Radhiyallāhu ‘anhu dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Bahwasanya kelak di hari kiamat akan ada yang memanggil dan memerintahkan setiap umat untuk mengikuti Tuhan yang dia sembah di dunia.

Maka tidaklah ada manusia yang menyembah selain Allāh seperti patung dan batu, kecuali dia akan berjatuhan ke dalam neraka.

Sehingga tidak tersisa kecuali orang-orang yang berimān baik yang shālih maupun yang fasik dan sebagian kecil atau sisa ahlul kitāb yaitu orang Yahūdi dan Nasrani.

Dikatakan kepada orang Yahūdi:

Apakah yang kalian sembah? Mereka berkata, ” Kami dahulu menyembah Uzair, anak Allāh”. Dikatakan kepada mereka, “Kalian telah berdusta. Allāh tidak memiliki istri dan anak.”

Lalu apakah yang kalian inginkan?

Mereka berkata, “Kami haus”. Maka berilah kami air minum, Karena saat itu Allāh memperlihatkan kepada mereka Jahannam yang dari jauh seperti air.

Maka ditunjukkanlah Jahannam yang dari jauh seperti air tersebut, dan dikatakan kepada mereka,

Apakah kalian tidak mau mendatanginya?

Maka mereka pun dikumpulkan ke Jahannam dan berjatuhan di dalamnya.

Kemudian dikatakan kepada orang-orang Nasrani:

Apakah yang kalian sembah? Mereka berkata, “Kami dahulu menyembah ‘Īsā anak Allāh” Dikatakan kepada mereka,” Kalian telah berdusta” Allāh tidak memiliki istri dan anak. Lalu apakah yang kalian inginkan?

Mereka berkata, “Kami haus, maka berilah kami air minum” Maka ditunjukkanlah Jahannam yang dari jauh seperti air dan dikatakan kepada mereka,

Apakah kalian tidak mendatanginya? Akhirnya mereka pun juga dikumpulkan ke Jahannam dan berjatuhan di dalamnya.

Dan di dalam hadīts Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu yang juga dikeluarkan oleh Al-Bukhāri dan Muslim disebutkan bahwasanya Allāh akan berkata kepada manusia:

“Barang siapa yang menyembah sesuatu maka hendaklah mengikutinya”.

Maka penyembah matahari akan mengikuti matahari, penyembah bulan akan mengikuti bulan, penyembah thaghut akan mengikuti thāghut.

Dan thāghut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allāh.

Kemudian tersisalah umat Islām dan bersama mereka orang-orang munāfiq.

Di dalam hadīts ‘Abdullāh Ibnu Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu disebutkan bahwasanya orang-orang yang dahulu menyembah Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām , maka akan mengikuti syaithān Nabi ‘Īsā yang diserupakan dengan beliau.

Dan yang dahulu menyembah Uzair, maka akan mengikuti syaithān Uzair yang diserupakan dengan beliau

(Hadīts Shahīh Riwayat Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jamul Kabir).

Demikianlah keadaan orang-orang yang menyembah kepada selain Allāh baik orang-orang musyrikin maupun ahlul kitāb, orang Yahūdi dan Nasrani.

Mereka akan dipisahkan dari orang-orang yang menyembah Allāh saja.

Yang mencakup orang-orang yang benar-benar menyembah Allāh , mereka lah orang-orang yang berimān maupun orang-orang yang pura-pura menyembah Allāh.

Dan mereka lah orang-orang munāfiq.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Beberapa Kejadian di Padang Mahsyar



Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-48 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Beberapa Kejadian Di Padang Mahsyar Bagian pertama”

Di antara kejadian di Padang Mahsyar adalah percekcokan antara para pembesar orang-orang kāfir dan para pengikutnya.

Allāh menyebutkan di dalam Surat Sabā’ 31-33 Bahwasanya orang-orang kāfir akan dihadapkan kepada Allāh.

Berkatalah orang-orang yang dianggap lemah kepada pembesar-pembesar mereka, “Kalau bukan karena kalian tentulah kami dahulu menjadi orang-orang yang berimān”

Pembesar-pembesar tersebut membantah dan mengatakan:

Apakah kami yang telah menghalangi kalian dari petunjuk, sesudah petunjuk itu datang kepada kalian?

Tidak!

Sebenarnya kalian sendirilah orang-orang yang berdosa (maksudnya kalian sendirilah yang menginginkan kesesatan dan kami hanya mengajak).

Orang-orang yang dianggap lemah balik membantah dan mengatakan:

Tidak! Sebenarnya tipu daya kalian malam dan siang itulah yang menghalangi kami, ketika kalian menyuruh kami untuk kāfir kepada Allāh dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.

Akhirnya semuanya menyesal tatkala melihat adzab.

Demikianlah keadaan para pembesar dan tokoh masyarakat yang mengajak kepada kesyirikan dan menghalangi manusia dari tauhīd.

Mereka berlepas diri dari para pengikut mereka dan tidak bisa menolong mereka sedikitpun.

Para pengikut akan celaka sebagaimana para tokoh tersebut dan para pembesar juga celaka.

Oleh karena itu seorang muslim hendaknya menyelamatkan dirinya dari neraka.

Jadilah seorang tokoh masyarakat yang mengajak kepada tauhīd.

Dan apabila dia orang yang lemah maka janganlah dia mengikuti kemauan para pembesar ataupun orang banyak apabila dia menghalangi manusia dari tauhīd dan mengajak kepada kesyirikan.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan hidayah kepada kita dan juga mereka.

Menghilangkan rasa cinta dunia yang berlebihan dalam diri kita dan menghilangkan kesombongan dari dalam diri kita dan menjadikan rasa takut kita hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan di antara kejadian di Padang Mahsyar bahwasanya Allāh akan bertanya kepada orang-orang musyrikin tentang sesembahan selain Allāh yang mereka sembah di dunia.

Dimanakah mereka pada hari tersebut.

Dan Allāh akan bertanya kepada mereka tentang bagaimana sikap mereka terhadap ajakan para rasūl ‘alayhissalām.

Di dalam Surat Al-Qashash 62-66

Allāh akan memanggil orang-orang musyrikin dan menghina mereka dengan bertanya, “Di manakah sekutu-sekutu Ku yang dulu kalian sangka mereka adalah sekutu-sekutu Ku?

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan berkata kepada orang-orang musyrikin:

Berdo’alah kalian kepada sekutu-sekutu kalian.

Maka merekapun berdo’a kepada sesembahan-sesembahan mereka di dunia.

Meminta pertolongan kepada mereka dalam keadaan genting tersebut sebagaimana mereka dahulu meminta di dunia.

Maka sesembahan-sesembahan tersebut tidak bisa berbuat apapun dan tidak menjawab seruan mereka.

Barulah mereka mengetahui bahwasanya sesembahan-sesembahan tersebut tidak bisa menolong mereka sedikitpun.

Allāh juga akan bertanya kepada mereka, Apakah jawaban kalian terhadap ajakan para rasūl? (Yaitu) apakah kalian membenarkan mereka? Dan mengikuti ajakan mereka untuk bertauhīd?

Demikianlah keadaan orang-orang musyrikin sesembahan-sesembahan mereka di dunia tidak bisa mengabulkan do’a mereka ketika sangat dibutuhkan.

Tidak bisa menolong mereka di hadapan Allāh, bahkan mereka berlepas diri.

Allāh berfirman:

وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُ ۥۤ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَـٰمَةِ وَهُمۡ عَن دُعَآٮِٕهِمۡ غَـٰفِلُونَ (٥)وَإِذَا حُشِرَ ٱلنَّاسُ كَانُواْ لَهُمۡ أَعۡدَآءً۬ وَكَانُواْ بِعِبَادَتِہِمۡ كَـٰفِرِينَ (٦)

“Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang-orang yang berdo’a kepada selain Allāh yang tidak bisa mengabulkan sampai hari kiamat. Dan mereka lalai dari do’a orang yang berdo’a kepada mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan, mereka akan menjadi musuh bagi orang-orang yang menyembah mereka. Dan mereka akan mengingkari ibadah yang dilakukan orang-orang musyrikin terhadap mereka.”

(QS. Al-Ahqāf : 5-6)

Adapun orang yang bertauhīd, maka Allāh akan menolong mereka di dunia maupun di akhirat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-49 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Beberapa Kejadian Di Padang Mahsyar Bagian kedua”

Di antara kejadian di Padang Mahsyar bahwasanya Allāh akan bertanya kepada para malāikat dan Nabi ‘Īsā. ‘alayhissalām.

Allāh menyebutkan di dalam Surat Sabā’ 40-42 Bahwasanya di Padang Mahsyar Allāh akan bertanya kepada para malāikat yang disembah oleh sebagian manusia.

Sebagai penghinaan terhadap orang-orang musyrikin yang dahulu menyembah mereka.

Apakah mereka ini dahulu menyembah kalian?

Para malāikat menjawab:

“Maha Suci Engkau, Engkau-lah pelindung kami, bukan mereka. Akan tetapi sebenarnya mereka dahulu telah menyembah jinn. Kebanyakan mereka berimān kepada jin tersebut”

Maksudnya bahwasanya orang-orang musyrikin ketika menyembah selain Allāh, baik orang shālih, benda mati dan lain-lain, maka pada hakikatnya mereka menyembah jinn, karena yang menyuruh mereka untuk menyekutukan Allāh adalah jinn.

⇒Apabila mereka menaati, berarti mereka telah menyembah jin tersebut.

Para malāikatpun tidak berkuasa untuk memberikan manfaat, dan tidak pula mudharat kepada orang-orang yang telah menyembah mereka.

Para penyembah malāikat itu pun akan diadzab oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di dalam Surat Al-Māidah : 116-117
Allāh menyebutkan bahwasanya Allāh akan bertanya kepada Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām sebagai penghinaan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla terhadap orang-orang nashrāni yang menjadikan beliau dan ibu-ibu beliau sebagai Tuhan.

Wahai ‘Īsā putra Maryam, Apakah engkau dahulu pernah mengatakan kepada manusia, “Jadikanlah aku dan ibuku dua Tuhan selain Allāh ?

‘Īsā ‘alayhissalām menjawab:

“Maha Suci Engkau tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku untuk mengatakannya”.

Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau mengetahuinya.

Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada dirimu.

Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib.

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku untuk mengatakannya, yaitu “Sembahlah Allāh Rabb-ku dan Rabb kalian”.

Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku hidup, maka setelah Engkau wafatkan atau angkat aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka.

Dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.

Demikianlah keadaan para malāikat dan Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām.

Mereka adalah mahluk yang taat beribadah kepada Allāh.

Senang apabila manusia hanya menyembah kepada Allāh dan mereka tidak pernah menyuruh manusia menyembah diri mereka.

Demikian pula orang-orang yang shālih dan wali-wali Allāh.

Manusia yang terlalu berlebih-lebihan terhadap mereka,

√ Mereka membuat patung mereka,
√ Mereka memajang gambar mereka,
√ Mereka membangun dan menghias kuburan mereka,
√ Mereka meyakini bahwasanya mereka mengetahui sesuatu yang ghaib,
√ Mereka berdo’a kepada mereka,
√ Mereka bepergian jauh untuk berziarah ke makam mereka,
√ Mereka beri’tikāf di kuburan mereka,
√ Mereka menyerahkan sebagian ibadah kepada mereka,
√ Mereka membangun masjid di atas kuburan mereka, atau
√ Mereka memasukkan kuburan mereka di dalam masjid,
√ Mereka bertawassul dengan do’a mereka setelah mereka meninggal dunia atau menganggap orang-orang shālih tersebut bisa mendekatkan diri mereka kepada Allāh, ini semua termasuk berlebihan.

Jangan sampai keadaan seseorang seperti keadaan kaum Nabi Nūh ”alayhissalām yang berlebihan terhadap lima orang shālih yang disebutkan dalam Surat Nūh : 23

Atau seperti keadaan sebagian orang yang mengaku mencintai Ali bin Abi Thalib, Fātimah, Hasan, Husain dan sebagian keturunan beliau Radhiyallāhu ‘anhum, kemudian berlebih-lebihan terhadap mereka.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


MAKSIAT PERUSAK SEGALANYA

Seringkali kita berbuat maksiat tanpa sadar, siapa yang kita maksiati.. Allah yang telah menciptakan kita dengan kesempurnaanNya... Allah ya...