PERKARA YANG MERUSAK AMAL


 


1. Kufur, Syirik, Murtad, dan Nifaq.

Wahai orang Muslim, wahai hamba Allah! Ketahuilah, siapa yang mati dalam
keadaan kafir atau musyrik atau murtad, maka segala amal yang baik tidak ada manfaatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti shadaqah, silaturrahim, berbuat baik kepada tetangga dan lain-lainnya. Sebab di antara syarat taqarrub adalah mengetahui siapa yang didekati.
Sementara itu orang kafir tidak begitu. Maka secara spontan amalnya menjadi rusak dan sia-sia.

Allah berfirman: "Barangsiapa yang murtad diantara kamu dari agamanya, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya" [Al-Baqarah:
217].

"Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam), maka hapuslah amalannya dan ia pada akhirat termasuk orang-orang yang merugi."[Al-Maidah: 5].

"Dan sesunggunya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang
sebelummu: ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi’." [Az-Zumar: 65].

Allah juga berfirman, mengabarkan tentang keadaan semua rasul:
"Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya leyaplah dari mereka
amalan yang telah mereka kerjakan." [Al-An’am: 88].

Dan juga sabda Rasulullah saw: "Apabila orang-orang mengumpulan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian untuk satu hari dan tiada keraguan di dalamnya, maka ada penyeru yang berseru: ‘Barangsiapa telah menyekutukan seseorang dalam suatu amalan yang
mestinya dikerjakan karena Allah, lalu dia minta pahala di sisi-Nya,maka sesungguhnya Allah adalah yang paling tidak membutuhkan untuk dipersekutukan’." [HR. At-Tirmidzi 3154, Ibnu Majah 4203, Ahmad 4215,
Ibnu Hibban 7301, hasan].

2. Riya’.

Celaan terhadap riya’ telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Firman Allah: "... seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’
kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Maka perumpamaan orang itu sperti batu yang licin dan diatasnya ada tanah, kemudian batu itu mejadilah bersih (tidak bertanah). Mereka itu tidak menguasai sesuatu sesuatu apapun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir." [
Al-Baqarah: 264].

Rasullullah saw bersabda: "Sesungguhnya yang aku paling takutkan atas kamu sekalian ialah syirik kecil, yaitu riya’. Allah berfirman pada hari kiamat, tatkala memberikan balasan terhadap amal-amal manusia, ‘Pergilah kepada orang-orang yang dulu kamu berbuat riya’ di dunia, lalu lihatlah apakah kamu mendapatkan balasan bagi mereka?" [HR. Ahmad 5428, 429,
shahih].

Maka dari itu jauhilah riya’, karena ia merupakan bencana amat jahat,
yang bisa menggugurkan amal dan menjadikannya sia-sia. Ketahuilah, bahwa
orang-orang yang riya’ adalah pertama kali menjadi santapan neraka, karena mereka telah menikmati hasil perbuatannya di dunia, sehingga tidak ada yang menyisa di akhirat.

Ya Allah, sucikanlah hati kami dari nifaq dan amal kami yang riya’ teguhkanlah kami pada jalan-Mu yang lurus, agar datang keyakinan kepada kami.

3. Menyebut-Nyebut Shadaqah dan Menyakiti Orang Yang Diberi.

Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman jangalah kamu menghilangkan (pahala) shadaqahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)." [Al-Baqarah: 264].

Ketahuilah wahai hamba Allah! Jika engkau menshadaqahkan harta karena
mengharap balasan dari orang yang engkau beri, maka engkau tidak akan mendapatkan keridhaan Allah. Begitu pula jika engkau menshadaqahkannya karena terpaksa dan menyebut-nyebut pemberianmu kepada orang lain.

Rasulullah saw bersabda: "Tiga orang, Allah tidak menerima ibadah yang wajib dan yang sunat dari mereka, yaitu orang yang durhaka kepada orang tua, menyebut-nyebut shadaqah dan mendustakan takdir." [HR. Ibnu Abi Ashim 323, Ath-Thabrany 7547, hasan].

Abu Bakar Al-Warraq berkata, "Kebaikan yang paling baik, pada setiap waktu adalah perbuatan yang tidak dilanjuti dengan menyebut-nyebutnya."

Allah berfirman: "Perkataan baik dan pemberian maaf lebih baik dari shadaqah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun." [Al-Baqarah: 263].

4. Mendustakan Takdir.

Ketahuilah wahai orang Mukmin, iman seorang hamba tidak dianggap sah
kecuali dia beriman kepada takdir Allah, baik maupun buruk. Dia juga harus tahu bahwa bencana yang menimpanya bukan unutk menyalahkannya, dan apa yang membuatnya salah bukan untuk menimpakan bencana kepadanya. Semua ketentuan sudah ditetapkan dan ditulis di Mushhaf yang hanya dikethaui Allah semata, sebelum suatu peristiwa benar-benar terjadi dan sebelum Dia menciptakan alam.

Rasulullah saw bersabda: "Tiga orang, Allah tidak menerima ibadah yang wajib dan yang sunat dari mereka, yaitu orang yang durhaka kepada orang tua, menyebut-nyebut shadaqah dan mendustakan takdir."

Dan sabda beliau yang lain: "Andaikata Allah mengadzab semua penhuni langit dan bumi-Nya, maka Dia tidak zhalim terhadap mereka. Dan, andaikata Allah merahmati mereka, maka rahmat-Nya itu lebih baik bagi
mereka dari amal-amal mereka. Andaikata engkau membelanjakan emas seperti gunung Uhud di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerima amalmu sehingga engkau beriman kepada takdir, dan engkau tahu bahwa
bencana yang menimpamu, dan apa yang membuatmu salah bukan untuk menimpakan bencana kepadamu. Andaikata engkau mati tidak seperti ini,maka engkau akan masuk neraka." [HR. Abu Daud 4699, Ibnu Majah 77,Ahmad 5183, 185, 189, shahih].

5. Meninggalkan Shalat Ashar.

Allah memperingatkan manusia agar tidak meninggalkan shalatul-wustha
(shalat ashar) karena dilalaikan harta, keluarga atau keduniaan. Allah mengkhususkan bagi pelakunya dengan ancaman keras, khususnya shalat
ashar. Firman-Nya: "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang yang lalai dari shalatnya."[Al-Ma’un: 4-5].

Rasulullah saw bersabda: "Orang tidak mengerjakan shalat ashar, seakan-akan dia ditinggalkan sendirian oleh keluarga dan hartanya." [HR. Al-Bukhari 230, Muslim 626]

Dari Abu Al-Malih, atau Amir bin Usamah bin Umair Al-Hadzaly, dia berkata, "Kami bersama Buraidah dalam suatu perperangan pada suatu hari yang mendung. Lalu ia berkata, ‘Segeralah melaksanakan shalat ashar, karena Nabi saw pernah berkata: "Barangsiapa meninggalkan shalat ashar,
maka amalnya telah lenyap." [HR. Al-Bukhari 231, 66].

6. Bersumpah Bahwa Allah Tidak Mengampuni Seseorang

Dari Jundab ra sesungguhnya Rasulullah saw mengisahkan tentang seorang laki-laki yang berkata, "Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni Fulan.

Padahal Allah telah berfirman, ‘Siapa yang bersumpah kepada-Ku, bahwa aku tidak mengampuni Fulan, maka aku mengampuni Fulan itu dan menyia-nyiakan amalnya (orang yang bersumpah)." [HR. Muslim 16174].

Ketahuilah, bahwa memutuskan manusia dari rahmat Allah merupakan sebab
bertambahnya kedurhakaan orang yang durhaka. Karena dia merasa yakin,
pintu rahmat Ilahi sudah ditutup di hadapannya, sehingga dia semakin
menyimpang jauh dan durhaka, hanya karena dia hendak memuaskan nafsunya.
Allah akan mengadzabnya dengan adzab yang tidak diberikan kepada orang lain.

Bukanlah sudah selayaknya jika Allah menghapus pahala amal orang yang
menutup pintu kebaikan dan membuka pintu keburukan, sebagai balasan yang setimpal baginya?

7. Mempersulit Rasulullah, dengan Perkataan maupun Perbuatan.

Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lainm supaya tidak menghapus (pahala) amalanmu,
sedang kamu tidak menyadarinya." [Al-Hujurat: 2].

Dari Anas bin Malik ra, tatkala ayat ini turun maka Tsabit bin Qais di rumahnya, seraya berkata, "Pahala amalku telah terhapus, dan aku termasuk penghuni neraka." Dia juga menghidari Nabi saw. Lalu beliau bertanya kepada Sa’d bin Mu’adz, "Wahai Abu Amr, mengapa Tsabit mengeluh?"

Sa’d menjawab, "Dia sedang menyendiri dan saya tidak tahu kalau dia sedang mengeluh."

Lalu Sa’d mendatangi Tsabit dan mengabarkan apa yang dikatakan
Rasulullah. Maka Tsabit berkata, "Ayat ini telah turun, sedang engkau sekalian tahu bahwa aku adalah orang yang paling keras suaranya di hadapan Rasulullah. Berarti aku termasuk penghuni neraka."

Sa’d menyampaikan hal ini kepada beliau, lalu beliau berkata, "Bahwa dia termasuk penghuni surga." [HR. Al-Bukhari 6260, Muslim 2133-134].

Dengan hadits ini jelaslah bahwa mengeraskan suara yang dapat menghapus
pahala amal adalah suara yang menggangu Rasulullah, menentang perintah beliau, tidak taat dan tidak mengikuti beliau, baik perkataan maupun perbuatan.

Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah dan Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu." [Muhammad: 33].

8. Melakukan Bid’ah Dholalah Dalam Agama.

Melakukan bid’ah akan mengugurkan amal dan menghapus pahala. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang menciptakan sesuatu yang baru dalam agama kami ini yang tidak termasuk bagian darinya, maka ia tertolak."

Dalam riwayat lain disebutkan: "Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak termasuk agama kami, maka ia tertolak." [HR. Al-Bukhari 5301, Muslim 1216].

9. Melanggar Hal-Hal Yang Diharamkan Allah Secara Sembunyi-Sembunyi.

Dari Tsauban ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: "Benar-benar akan kuberitahukan tentang orang-orang dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa beberapa kebaikan seperti gunung Tihamah yang berwarna putih, lalu Allah menjadikan kebaikan-kebaikan itu sebagai debu
yang berhamburan". Tsauban berkata, "Wahai Rasulullah, sebutkan sifat-sifat mereka kepada kami dan jelaskan kepada kami, agar kami tidak termasuk diantara mereka, sedang kami tidak mengetahuiny".

 Beliau bersabda: "Sesungguhnya mereka itu juga saudara dan dari jenismu. Mereka
shalat malam seperti yang kamu kerjakan. Hanya saja mereka adalah orang-orang yang apabila berada sendirian dengan hal-hal yang diharamkan Allah maka, mereka melanggarnya."
 [HR. Ibnu Majah 4245, shahih].

10. Merasa Gembira Jika Ada Orang Mukmin Terbunuh.

Darah orang Muslim itu dilindungi. Maka seseorang tidak boleh menumpahkan darahnya menurut hak Islam.

Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa membunuh seorang Mukmin lalu ia
merasa senag terhadap pembunuhannya itu, maka Allah tidak akan menerima ibadah yang wajib dan yang sunat darinya." [HR. Abu Daud 4270, shahih].

11. Menetap Bersama Orang-Orang Musyrik Di Wilayah Perperangan.

Dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, dia berkata: "Aku berkata, ‘wahai Nabi Allah, aku tidak pernah mendatangimu sehingga aku menjalin persahabatan lebih banyak dari jumlah jari-jari tangan? Apakah
sekarang aku tidak boleh mendatangimu dan mendatangi agamamu? Sesungguhnya aku dulu adalah orang yang tidak pernah melalaikan sesuatu pun kecuali apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya kepadaku, dan sesungguhnya aku ingin bertanya atas ridha Allah, dengan apa Rabb-mu mengutusmu kepada kami?"

Beliau menjawab, "Dengan Islam."

"Apakah tanda-tanda Islam itu?", Dia bertanya.

Beliau menjawab, "Hendaklah engkau mengucapkan: ‘Aku berserah diri
kepada Allah’, hendaklah engkau bergantung kepada-Nya, mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. Setiap orang Muslim atas orang Muslim lainnya adalah haram (menyakiti), keduanya adalah saudara dan saling menolong.

Allah tidak akan menerima suatu amalan dari orang Muslim setelah dia masuk Islam, sehingga dia meninggalkan orang-orang kafir untuk bergabung dengan orang-orang Muslim." [HR. An-Nasa’i 582-83, Ibnu Majah 2536, Ahmad 54-5, hasan].

12. Mendatangi Dukun dan Peramal.

Beliau saw mengancam orang-orang yang mendatangi dukun dan sejenisnya,
lalu meminta sesuatu kepadanya, bahwa shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari. Beliau bersabda: "Barangsiapa mendatangi peramal lalu bertanya tentang sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak
akan diterima selama empat puluh hari." [HR. Muslim 14227].

Ancaman ini diperuntukkan bagi orang yang mendatangi dukun dan menanyakan sesuatu kepadanya. Sedangkan orang yang membenarkannya, maka dia dianggap sebagai orang yang mengingkari apa yang diturunkan kepada Rasulullah saw. Beliau bersabda: "Barangsiapa mendatangi peramal atau dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur
terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad saw." [HR. Muslim 135,
Abu Daud 3904, Ahmad 2408-476].

13. Durhaka Kepada Kedua Orang Tua.

Allah telah memerintahkan agar berbuat baik kepada ibu bapak dan berbakti kepada keduanya. Dia memperingatkan, mendurhakai keduanya dan mengingkari kelebihan keduanya dalam pendidikan merupakan dosa besar dan melenyapkan pahala amal. Rasulullah saw bersabda: "Tiga orang, Allah tidak menerima ibadah yang wajib dan yang sunat dari mereka, yaitu orang yang durhaka kepada orang tua, menyebut-nyebut shadaqah dan mendustakan takdir."

14. Meminum Khamr.

Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa meminum khamr, maka shalatnya
tidak diterima selama empat puluh pagi (hari). Jika dia bertaubat, maka Allah mengampuninya. Jika dia mengulanginya lagi, maka shalatnya tidak diterima (lagi) selama empat puluh pagi (hari). Jika dia bertaubat, maka Allah mengampuninya. Jika dia mengulanginya lagi, maka shalatnya tidak diterima (lagi) selama empat puluh pagi (hari). Jika dia bertaubat, maka
Allah mengampuninya.

Jika dia mengulanginya lagi, maka shalatnya tidak diterima (lagi) selama empat puluh pagi (hari). Dan, jika mengulanginya
keempat kalinya, maka shalatnya tidak diterima (lagi) selama empat puluh
pagi (hari). Jika dia bertaubat maka Allah tidak mengampuninya dan Dia
mengguyurnya dengan air sungai al-khabal." Ada yang bertanya, "Wahai Abu
Abdurrahman (Nabi), apakah sungai al-khabal itu?" Beliau menjawab, "Air
sungai dari nanah para penghuni neraka." [HR. At-Tirmidzi 1862, shahih].

15. Perkataan Dusta dan Palsu.

Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan palsu dan pelaksaannya, maka Allah tidak mempunyai kebutuhan untuk meninggalkan makanan dan minumannya." [HR. Al-Bukhari 416, 10473].

Di dalam hadits ini terkandung dalil perkataan palsu dan pengamalannya
dapat meleyapkan pahala puasa.

16. Memelihara Anjing, Kecuali Anjing Pelacak, Penunggu Tanaman atau
Berburu.

Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa memelihara seekor anjing, maka pahala amalnya dikurangi setiap hari satu qirath (dalam riwayat lain: dua qirath) kecuali anjang untuk menjaga tanaman atau pun anjing pelacak." [HR. Al-Bukhari 6360, Muslim 10, 240].

17. Wanita Yang Nusyuz, Hingga Kembali Menaati Suaminya.

Rasulullah saw bersabda: "Dua orang yang shalatnya tidak melebihi kepalanya, yaitu hamba sahaya yang lari dari tuannya hingga kembali lagi kepadanya dan wanita yang mendurhakai suaminya hingga kembali lagi."

18. Orang Yang Menjadi Imam Suatu Kaum dan Mereka Benci Kepadanya.

Rasulullah saw bersabda: "Tiga orang yang shalatnya tidak melebihi telinga mereka, yaitu hamba sahaya yang lari dari tuannya sehingga dia kembali yaitu hamba sahaya yang lari dari tuannya sehingga dia kembali,
wanita yang semalaman suaminya dalam keadaan marah kepadanya, dan imam
suatu kaum, sedang mereka benci kepadanya." [HR. At-Tirmidzi 360,shahih].

Ada kisah yang dinukil dari Manshur, dia berkata: "Kami pernah bertanya tentang masalah imam. Maka ada yang menjawab, "Yang dimaksud hadits ini adalah imam yang zhalim. Sedangkan imam yang menegakkan Sunnah, maka dosanya kembali kepada orang-orang yang membencinya."

19. Orang Muslim Mejauhi Saudaranya Sesama Muslim Tanpa Alasan Yang
Dibenarkan Syariat.

Dari Abu Hurairah ra, seungguhnya Rasulullah saw bersabda: "Pintu-pintu
surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, lalu setiap hamba yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah akan diampuni, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan. Lalu dikatakan:
‘Lihatlah dua orang ini hingga keduanya berdamai. Lihatlah dua orang ini
hingga keduanya berdamai. Lihatlah dua orang ini hingga keduanya berdamai. Lihatlah dua orang ini hingga keduanya berdamai." [HR. Muslim 16122, 123].

(Salim Al-Hilaly).

Kumpulan Nasehat Imam Al-Ghazali


  

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali mengajukan 6 pertanyaan.

      Nasehat Imam Al-Ghazali

Pertanyaan Pertama,"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia
ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman,dan
kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. tetapi
yang paling dekat dengan kita adalah "MATI". Sebab itu sudah janji Allah
SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)

Pertanyaan kedua, "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia
ini?".. Murid-muridnya ada yang menjawab bulan, matahari, dan
bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang
mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah MASA LALU.
Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali
ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari
yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Pertanyaan yang ke tiga, "Apa yang paling besar di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, lautan dan matahari.
Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari
yang ada di dunia ini adalah "NAFSU" (Al A'Raf 179). Maka kita harus
hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan ke empat, "Apa yang paling berat di dunia ini?". Ada yang
menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban itu benar, kata Imam
Ghozali. Tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (Al Ahzab 72).
Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika
Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia
ini.Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah
SWT,sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa
memegang amanahnya.

Pertanyaan yang ke lima, "Apa yang paling ringan di dunia ini?".
Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar
kata Imam Ghozali. Tapi yang paling ringan di dunia ini adalah
MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat,
gara-gara meeting kita tinggalkan sholat.

Lantas pertanyaan ke enam, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?"
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang... Benar kata Imam
Ghozali. Tapi yang paling tajam adalah "LIDAH MANUSIA". Karena melalui
lidah, Manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan
saudaranya sendiri.

nah itulah enam pertanyaan dari murid Imam Al-Ghazali.

      Kata Bijak Imam Al-Ghazali

 Nah jika diatas adalah 6 nasehat dari Imam Al-Ghazali, berikut ini adalah kata bijak dari beliau yang sangat memotivasikan kita semua untuk beribadah kepada allah, berikut ini :

   Terimalah alasan yang benar, sekalipun dari pihak lawan

   Jangan segan segan kembali kepada yang benar, manakala terlanjur
    salah dalam memberikan keterangan

   Berikan contoh dan teladan yang baik kepada murid dengan
    melaksanakan perintah agama dan meninggalkan larangan agama, agar
    demikian apa yang engkau katakana mudah diterima dan diamalkan oleh
    murid.

   Dengarkan dan perhatikan segala yang dikatakan oleh ibu bapakmu,
    selama masih dalam batas batas agama.

   Selalulah berusaha mencari keredhaan orang tuamu.

   Bersikaplah sopan santun, ramah tamah dan merendah diri terhadap
    orang tuamu.

   Bila mencari teman untuk mencapai kebahagian akhirat, perhatikanlah
    benar benar urusan agamanya. Dan bila mencari teman untuk keperluan
    duniawi, maka perhatikanlah ia tentang kebaikan budi pekertinya.

   Sabar dan tabahlah dalaml menghadpi segala persoalan.

   Besikaplah lemah lembut dan sopan santun dengan menundukan kepala.

   Janganlah sombong terhadap sesama mahluk, kecuali terhadap mereka
    yang zalim.

   Bersikap tawadduklah dalam segala bidang pergaulan.

   Janganlah suka bergurau dan bercanda

   Bersikap lemah lembut terhadap murid dan hendaklah dapat
    menyesuaikan diri atau mengukur kemampuan murid.

   Hendaklah sabar dan teliti dalam mendidik muridnya yang kurang cerdas.

   Jangan berkeberatan menjawab, /“aku kurang mengerti,”/ jika memeang
    belum mampu menjawab sesuatu masalah.

   Pusatkanlah perhatian kepada murid yang sedang bertanya, dan
    memahami benar isi pertanyaanya.

   Cepat cepatlah memenuhi panggilan agama.

   Jauhilah larangan larangan agama.

   Janganlah menentang terhadap takdir Allah SWT.

   Berpikirlah selalu tentang nikmat nikmat dan keagunga-Nya.

   Menangkanlah yang hak dan gugurkanlah yang batil.

   Rendahkanlah hatimu kepada Allah SWT.

   Sesalilah segala perbuatan yang tercela dan merasa malulah dihadapan
    Allah SWT.

   Hindarilah segala tipu daya yang tidak terpuji dalam mencari nafkah,
    dengan penuh keyakinan bahwa Allah SWT selalu melimpahkan segala
    usaha kebaikan apapun sertailah dengan tawakkal kepadanya.

   Hendaklah seseorang menerima masalah masalah yang dikemukakan oleh
    muridnya.

Belum pernah saya berurusan dengan sesuatu yang lebih sulit daripada
jiwa saya sendiri, yang kadang-kadang membantu saya dan kadang-kadang
menentang
saya. (Imam Al Ghazali)

Barangsiapa yang memilih harta dan anak – anaknya daripada apa yang ada
di sisi Allah, niscaya ia rugi dan tertipu dengan kerugian yang amat
besar. (Imam Al Ghazali)

Barangsiapa yang menghabiskan waktu berjam – jam lamanya untuk
mengumpulkan harta kerana ditakutkan miskin, maka dialah sebenarnya
orang yang miskin. (Imam Al Ghazali)

Barangsiapa yang meyombongkan diri kepada salah seorang daripada hamba –
hamba Allah, sesungguhnya ia telah bertengkar dengan Allah pada haknya.
(Imam Al Ghazali)

Berani adalah sifat mulia kerana berada di antara pengecut dan membuta
tuli. (Imam Al Ghazali)

Pemurah itu juga suatu kemuliaan kerana berada di antara bakhil dan
boros. (Imam Al Ghazali)

Bersungguh – sungguhlah engkau dalam menuntut ilmu, jauhilah kemalasan
dan kebosanan kerana jika tidak demikian engkau akan berada dalam bahaya
kesesatan. (Imam Al Ghazali)

Cinta merupakan sumber kebahagiaan dan cinta terhadap Allah harus
dipelihara dan dipupuk, suburkan dengan shalat serta ibadah yang
lainnya.(Imam Al Ghazali)

Ciri yang membedakan manusia dan hewan adalah ilmu. Manusia adalah
manusia mulia yang mana ia menjadi mulia kerana ilmu, tanpa ilmu
mustahil ada kekuatan. (Imam Al Ghazali)

Hadapi kawan atau musuhmu itu dengan wajah yang menunjukkan kegembiraan,
kerelaan penuh kesopanan dan ketenangan. Jangan menampakkan sikap angkuh
dan sombong. (Imam Al Ghazali)

Ilmu itu kehidupan hati daripada kebutaan, sinar penglihatan daripada
kezaliman dan tenaga badan daripada kelemahan. (Imam Al Ghazali)

Yang paling besar di bumi ini bukan gunung dan lautan, melainkan hawa
nafsu yang jika gagal dikendalikan maka kita akan menjadi penghuni
neraka. (Imam Al Ghazali)

Kita tidak akan sanggup mengekang amarah dan hawa nafsu secara
keseluruhan hingga tidak meninggalkan bekas apapun dalam diri kita.
Namun jika mencoba untuk mengendalikan keduanya dengan cara latihan dan
kesungguhan yang kuat, tentu kita akan bisa. (Imam Al Ghazali)
Sifat utama pemimpin ialah beradab dan mulia hati.
(Imam Al Ghazali)

Kebahagiaan terletak pada kemenangan memerangi hawa nafsu dan menahan
kehendak yang berlebih-lebihan. (Imam Al Ghazali)

Kalau besar yang dituntut dan mulia yang dicari,maka payah melaluinya,
panjang jalannya dan banyak rintangannya. (Imam Al Ghazali)

Jadikan kematian itu hanya pada badan kerana tempat tinggalmu ialah
liang kubur dan penghuni kubur sentiasa menanti kedatanganmu setiap
masa. (Imam Al Ghazali)

Pelajari ilmu syariat untuk menunaikan segala perintah Allah SWT dan
juga ilmu akhirat yang dapat menjamin keselamatanmu di akhirat
nanti.(Imam Al Ghazali)

Menuntut ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah.
Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad. (Imam Al
Ghazali)

Kecintaan kepada Allah melingkupi hati, kecintaan ini membimbing hati
dan bahkan merambah ke segala hal.
(Imam Al Ghazali)

Ilmu adalah cahaya. Demikian kata imam syafi’I dalam syairnya. Karena
ilmu begitu penting, Rasulullah saw memerintahkan, “Tuntutlah ilmu sejak
dari buaian sampai liang lahad.” Namun, ilmu saja tidak cukup. Ilmu
harus dimanfaatkan, dengan mengajarkan dan –yang terpenting-
mengamalkannya. Imam Al-Ghazali, penulis kitab Ihya Ulumuddin, pernah
mengirim surat kepada salah seorang muridnya. Melalui surat itu,
Al-Ghazali ingin menyampaikan tentang pentingnya memadukan antara ilmu
dan amal. Berikut petikannya.

Anakku…
Nasihat itu mudah. Yang sulit adalah menerimanya. Karena, ia keluar dari
mulut yang tidak biasa merasakan pahitnya nasihat. Sesunggunya siapa
yang menerima ilmu tetapi tidak mengamalkannya, maka pertanggungjawabann
ya akan lebih besar. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Orang yang
paling berat azabnya pada hari kiamat kelak adalah orang berilmu (‘alim;
ulama) yang tidak memanfaatkan ilmunya.”

Anakku…
Janganlah engkau termasuk orang yang bangkrut dalam beramal, dan kosong
dari ketaatan yang sungguh-sungguh. Yakinlah, ilmu semata tak akan
bermanfaat-tanpa mengamalkannya. Sebagaimana halnya orang yang memiliki
sepuluh pedang Hindi; saat ia berada di padang pasir tiba-tiba seekor
macan besar nan menakutkan menyerangnya, apakah pedang-pedang tersebut
dapat membelanya dari serangan macan jika ia tidak menggunakannya? !
Begitulah perumpamaan ilmu dan amal. Ilmu tak ada guna tanpa amal.

Anakku…
Sekalipun engkau belajar selama 100 tahun dan mengumpulkan 1000 kitab,
kamu tidak akan mendapatkan rahmat Allah tanpa beramal.
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah
diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: 39)

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun
dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 110)

Anakku…
Selama tidak beramal, engkau pun tidak akan mendapatkan pahala. Ali
Karramallahu wajhahu berkata, “Siapa yang mengira dirinya akan sampai
pada tujuan tanpa sungguh-sungguh, ia hanyalah berangan-angan.
Angan-angan adalah barang dagangan milik orang-orang bodoh.

Al-Hasan Al-Basri rahimahullah berkata, “Meminta surga tanpa berbuat
amal termasuk perbuatan dosa.”
Dalam sebuah khabar, Allah SWT berfirman, “Sungguh tak punya malu orang
yang meminta surga tanpa berbuat amal.”

Rasulullah saw bersabda, “Orang cerdas ialah orang yang dapat
mengendalikan dirinya dan berbuat untuk setelah kematian. Dan orang
bodoh ialah siapa yang memperturut hawa nafsunya dan selalu
berangan-angan akan mendapatkan ampunan Allah.”

Begadang mata untuk kepentingan selain Wajah-Mu adalah sia-sia Dan
tangis mereka utk sesuatu yg hilang selain-Mu adalah kebatilan, dan
hiduplah sesukamu karna toh kamu akan mati juga.

Cintailah orang sesukamu sebab kamu toh akan berpisah dgnnya, dan
berbuatlah sesukamu karna sesungguhnya kamu akan menuai ganjarannya.

Anakku, apa pun yang kamu peroleh dari mengkaji ilmu kalam, debat,
kedokteran, administrasi, syair, astrologi, arud, nahwu & sharf, jgn
sampai kau sia-siakan umur untuk selain Sang Pemilik Keagungan.


Nak, ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah
kesia-siaan. -Imam Al-Ghazali dalam Ayyuhal-Walad

------------------------------

Kata-kata Mutiara Bijak


  


”Siapa yang menghendaki kehidupan dunia, maka harus disertai dengan ilmu. Dan siapa yang menghendaki kehidupan akhirat, juga harus dengan ilmu.“
(Imam Syafi’i)

“Kaji dan dalamilah sebelum engkau menduduki jabatan, karena kalau
engkau telah mendudukinya, maka tidak ada kesempatan bagimu untuk
mengkaji dan mendalaminya.”
(Imam Syafi’i)

”Pekerjaan terberat itu ada tiga: Sikap dermawan di saat dalam keadaan
sempit, Menjauhi dosa di kala sendiri, Berkata benar di hadapan orang
yang ditakuti.“
(Imam Syafi’i)

“Kebaikan itu ada di lima perkara: kekayaan hati, bersabar atas
kejelekan orang lain, mengais rezeki yang halal, taqwa, dan yakin akan
janji Allah Swt.”
(Imam Syafi’i)

”Pilar kepemimpinan itu ada lima : perkataan yang benar, menyimpan
rahasia, menepati janji, senantiasa memberi nasehat dan menunaikan amanah.“
(Imam Syafi’i)

“Orang yang mengkaji ilmu faraid, dan sampai pada puncaknya, maka akan
tampil sebagai sosok orang yang ahli berhitung. Adapun ilmu hadits, itu
akan tampak nilai keberkahan dan kebaikannya pada saat tutup usia.
Adapun ilmu fiqih, itu merupakan ilmu yang berlaku untuk semua kalangan
baik muda maupun yang tua, karena fiqih merupakan dasar dari segala ilmu.”
(Imam Syafi’i)

”Andaikan aku ditakdirkan mampu menyuapkan ilmu kepadamu, pasti kusuapi
engkau dengan ilmu.“
(Imam Syafi’i)

“Barangsiapa mengaku dapat menggabungkan dua cinta dalam hatinya, cinta
kepada dunia dan sekaligus cinta kepada Allah, maka dia telah berdusta.”
(Imam Syafi’i)

“Jika ada seorang yang ingin menjual dunia ini kepadaku dengan nilai
harga sekeping roti, niscaya aku tidak akan membelinya.”
(Imam Syafi’i)

“Kulupakan dadaku dan kubelenggu penyakit tamakku, karena aku sadar
bahwa sifat tamak bisa melahirkan kehinaan.”
(Imam Syafi’i)

“Orang-orang yang sehari-harinya hanya sibuk mencari uang untuk
kesejahteraan keluarganya, maka mustahil ia mendapat ilmu pengetahuan.”
(Imam Syafi’í)

“Jika kamu tidak tahan terhadap penatnya belajar, maka kamu akan
menanggung -bahayanya- kebodohan.”
(Imam Syafi’i)

“Berapa banyak manusia yang masih hidup dalam kelalaian?, sedangkan kain
kafannya sedang di tenun.”
(Imam Syafi’i)

“Orang yang berilmu dan beradab, tidak akan diam di kampung halaman,
tinggalkan negerimu, merantaulah ke negeri orang.”
(Imam Syafi’i)

“Betapa aku senang, jika semua ilmu yang aku ketahui dimengerti oleh
semua orang, maka dengannya aku mendapat pahala, meskipun mereka tidak
memujiku.”
(Imam Syafi’i)

“Jangan mencintai orang yang tidak mencintai Allah. Kalau dia berani
meninggalkan Allah, apalagi meninggalkan kamu.”
(Imam Syafi’i)

“Banyak orang yang mengatakan: mencintai wanita itu sangat menyiksa.
Tapi, sebenarnya yang sangat menyiksa itu adalah mencintai orang yang
tidak mencintaimu.”
(Imam Syafi’i)

“Faqih itu adalah orang yang faqih dengan perbuatannya, bukan faqih
dengan kata-kata dan ucapannya.”
(Imam Syafi’i)

“Engkau takkan mampu menyenangkan semua orang. Karena itu, cukup
bagimu memperbaiki hubunganmu dengan Allah, dan jangan terlalu peduli
dengan penilaian manusia.”
(Imam Syafi’i)

“Sebagaimana Tuhanmu telah mencukupkan rezekimu di hari kemarin, maka
jangan khawatirkan rezekimu untuk esok hari.”
(Imam Syafi’i)

“Jika semua orang menjauh ketika engkau mendapat kesulitan, maka
ketahuilah bahwa Allah Swt ingin membuatmu kuat dan Ia akan menjadi
penolongmu.”
(Imam Syafi’i)

“Biarlah mereka bersikap bodoh dan menghina, dan tetaplah kita bersikap
santun. Gaharu akan semakin wangi ketika disulut api.”
(Imam Syafi’i)

“Silahkan hina diriku sepuas kalian, aku akan tetap diam saja.
Bukannya aku tidak punya jawaban, tapi singa selalu tidak akan membalas
gonggongan anjing.”
(Imam Syafi’i)

“Banyak orang yang telah meninggal, tapi nama baik mereka tetap kekal.
Dan banyak orang yang masih hidup, tapi seakan mereka orang mati yang
tak berguna.”
(Imam Syafi’i)

“Kemuliaan diri (marwah) itu rukunnya ada 4: Akhlak yang baik, dermawan,
rendah hati dan taat beribadah.”
(Imam Syafi’i)

“Do’a di saat tahajud adalah umpama busur panah yang melesat tepat
mengenai sasaran.”
(Imam Syafi’i)

“Kamu seorang manusia yang dijadikan dari tanah dan kamu juga akan
disakiti (dihimpit) dengan tanah.”
(Imam Syafi’i)

“Perbanyakkan menyebut Allah daripada menyebut makhluk . Perbanyakkan
menyebut akhirat daripada menyebut dunia.”
(Imam Syafi’i)

”Ilmu itu bukan yang dihafal tetapi yang memberi manfa’at.“
(Imam Syafi’i)

“Barangsiapa yang menasehatimu dengan cara sembunyi-sembunyi maka ia
benar-benar menasehatimu. Kemudian barangsiapa yang menasehatimu
dihadapan orang banyak, ia sebenarnya menghinamu.”
(Imam Syafi’i)

“Dosa-dosa-ku kelihatan terlalu besar buatku, tapi setelah kubandingkan
dengan keampunan-Mu, ternyata keampunan-Mu jauh lebih besar.”
(Imam Syafi’i)

“Bumi Allah amatlah luas namun suatu saat apabila takdir sudah datang
angkasapun serasa sempit.”
(Imam Syafi’i)

“Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk
matamu.”
(Imam Syafi’i)

“Sebesar-besar aib (keburukan) adalah kamu mengira keburukan orang lain
sedangkan keburukan itu terdapat dalam diri kamu sendiri.”
(Imam Syafi’i)

“Aku mampu berhujah dengan 10 orang berilmu, tapi aku akan kalah pada 1
orang yang jahil karena ia tidak tahu akan landasan ilmu.”
(Imam Syafi’i)

“Ilmu itu seperti air. Jika ia tidak bergerak: maka ia akan menjadi
keruh lalu membusuk.”
(Imam Syafi’i)

“Menghindarkan telinga dari mendengar hal-hal yang tidak baik merupakan
suatu keharusan, sebagaimana seseorang mensucikan tutur katanya dari
ungkapan buruk.”
(Imam Syafi’i)

“Kesabaran adalah akhlak mulia, yang dengannya setiap orang dapat
menghalau segala rintangan.”
(Imam Syafi’i)

“Menganggap benar dengan hanya satu pandangan merupakan suatu bentuk
ketertipuan. Berpegangan dengan suatu pendapat itu lebih selamat
daripada berkelebihan dan penyesalan. Melihat dan berpikir, keduanya
akan menyingkap keteguhan hati dan kecerdasan. Bermusyawarah dengan
orang bijak merupakan bentuk kemantapan jiwa dan kekuatan mata hati.
Maka, berpikirlah sebelum menentukan suatu ketetapan, atur strategi
sebelum menyerang, dan musyawarahkan terlebih dahulu sebelum melangkah
maju ke depan.”
(Imam Syafi’i)

“Barangsiapa mengadu domba untuk kepentinganmu, maka dia akan mengadu
domba dirimu; dan barangsiapa menyampaikan fitnah kepadamu, maka ia akan
memfitnahmu.”
(Imam Syafi’i)

“Barangsiapa jika engkau menyenangkannya, dia berkata : pada dirimu ada
yang bukan milikmu. Begitu juga ketika kau membuatnya marah, dia berkata
: pada dirimu ada yang bukan milikmu.”
(Imam Syafi’i)

“Tak akan sempurna (akal) seorang laki-laki, kecuali dengan empat hal;
beragama, amanah, pemeliharaan dan penjagaan diri, serta ketenangan dan
ketabahan.”
(Imam Syafi’i)

“Sebaik-baik harta simpanan adalah taqwa, dan sejelek-jeleknya adalah
sikap permusuhan.”
(Imam Syafi’i)

“Siasat manusia jauh lebih dahsyat dari siasat binatang.”
(Imam Syafi’i)

“Keluarga manapun yang wanita-wanitanya tidak pernah bertemu dengan
laki-laki yang bukan anggota keluarga, dan laki-lakinya tidak pernah
bertemu dengan wanita-wanita yang bukan dari keluarganya, niscaya akan
ada dari anak-anak mereka yang bodoh (karena-kuper).”
(Imam Syafi’i)

“Keridhaan semua manusia adalah satu hal yang mustahil untuk dicapai,
dan tidak ada jalan untuk terselamatkan dari lidah mereka, maka
lakukanlah apa yang bermanfaat untuk dirimu dan berpegang teguhlah
dengannya.”
(Imam Syafi’i)

“Kedermawanan dan kemuliaan adalah dua hal yang dapat menutupi aib.”

“Manusia yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak
melihat kedudukan dirinya, dan manusia yang paling banyak memiliki
kelebihan adalah mereka yang tidak melihat kelebihan dirinya.”
(Imam Syafi’i)

“Tidak ada seorangpun yang hidup dengan tanpa adanya orang yang
dicintai dan orang yang dibenci, kalau memang demikian realitasnya, maka
hendaknya ia senantiasa bersama orang-orang yang taat kepada Allah Swt.”
(Imam Syafi’i)

“Karakter umum manusia adalah pelit, termasuk hal yang menjadi
kebiasaannya adalah apabila ada orang yang mendekatinya, maka ia akan
menjauhinya, dan apabila ada orang yang menjauh darinya, iapun akan
mendekati orang itu.”
(Imam Syafi’i)

“Janganlah kamu berkonsultasi kepada orang yang di rumahnya tidak
terdapat makanan, karena hal tersebut menandakan tidak berfungsinya akal
mereka.”
(Imam Syafi’i)

“Bukanlah orang yang berakal itu manakala dihadapkan kepadanya perkara
yang baik dan perkara yang buruk, lantas ia memilih yang baik, akan
tetapi dikatakan orang berakal apabila dihadapkan kepadanya dua hal yang
buruk lantas ia memilih yang paling ringan keburukannya di antara
keduanya.”
(Imam Syafi’i)

“Perdebatan dalam agama akan mengeraskan hati dan menimbulkan rasa
dendam.“
(Imam Syafi’i)

“Jika engkau mendengar sesuatu yang engkau benci tentang sahabatmu,
maka jangan tergesa-gesa untuk memusuhinya, memutus tali persahabatan,
dan kamu menjadi orang yang telah menghilangkan suatu keyakinan dengan
keraguan. Tetapi temuilah dia! Dan katakan kepadanya, “Aku mendengar
kamu melakukan ini dan itu….?” Tentunya dengan tanpa memberitahukan
kepadanya siapa yang memberi informasi kepadamu. Jika ia mengingkarinya,
maka katakan kepadanya, “Kamu lebih jujur dan lebih baik”, cukup kalimat
itu saja dan jangan menambahi kalimat apapun. Namun jika ia mengakui hal
itu, dan ia mengemukakan argumentasinya akan hal itu, maka terimalah.”
(Imam Syafi’i)

“Orang yang pandai akan bertanya tentang apa yang ia ketahui dan tidak
ia ketahui. Dengan menanyakan apa yang ia ketahui, maka ia akan semakin
mantap, dan dengan menanyakan apa yang belum ia ketahui, maka ia akan
menjadi tahu. Sementara orang bodoh itu meluapkan kemarahannya karena
-sulitnya- ia belajar, dan ia tidak menyukai pelajaran.”
(Imam Syafi’i)

“Sejelek-jelek bekal menuju ke alam akhirat adalah permusuhan dengan
sesamanya.”
(Imam Syafi’i)

“Terlalu keras dan menutup diri terhadap orang lain akan mendatangkan
musuh, dan terlalu terbuka juga akan mendatangkan kawan yang tidak baik,
maka posisikan dirimu di antara keduanya.”
(Imam Syafi’i)

“Jadikanlah diam sebagai sarana atas pembicaraanmu, dan tentukan sikap
dengan berfikir.”
(Imam Syafi’i)

“Manusia yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak
melihat kedudukan dirinya, dan manusia yang paling banyak memiliki
kelebihan adalah mereka yang tidak melihat kelebihan dirinya.”
(Imam Syafi’i)

“Sesungguhnya Hasad itu terlahir dari suatu kehinaan, lekatnya tabiat,
perubahan struktur tubuhnya, runtuhnya temperatur tubuh dan lemahnya
daya nalarnya.”
(Imam Syafi’i)

“Orang yang paling Zhalim adalah mereka yang melakukan kezhaliman itu
pada dirinya sendiri. Bentuk kezhaliman itu adalah :
• orang yang bersikap tawadhu’ ( rendah hati ) di depan orang yang
tidak menghargainya.
• menumpahkan kasih sayangnya kepada orang yang tidak ada nilai manfaat.
• mendapat pujian dari orang yang tidak dikenalnya.
(Imam Syafi’i)

“Siapa yang menginginkan khusnul khotimah dipenghujung umurnya,
hendaknya ia berprasangka baik kepada manusia.”
(Imam Syafi’i)

“Bersihkan pendengaran kalian dari hal-hal yang tidak baik, sebagaimana
kalian membersihkan mulut kalian dari kata-kata kotor, sesungguhnya
orang yang mendengar itu tidak jauh berbeda dengan yang berucap.
Sesungguhnya orang bodoh itu melihat sesuatu yang paling jelek dalam
dirinya, kemudian ia berkeinginan untuk menumpahkannya dalam diri
kalian, andaikan kalimat yang terlontarkan dari orang bodoh itu
dikembalikan kepadanya, niscaya orang yang mengembalikan itu akan merasa
bahagia, begitu juga dengan kehinaan bagi orang yang melontarkannya.”
(Imam Syafi’i)

“Tidak termasuk saudaramu orang yang senang mencari muka di hadapanmu.”
(Imam Syafi’i)

“Barangsiapa benar dalam berukhuwah dengan saudaranya, maka
kekurangannya akan diterima, kelemahannya akan ditutupi dan
kesalahan-kesalahannya dima’afkan.”
(Imam Syafi’i)

“Orang yang berakal adalah mereka yang dapat menjaga dirinya dari
segala perbuatan tercela.”
(Imam Syafi’i)

“Tiada kebahagiaan yang menyamai persahabatan dengan saudara yang satu
keyakinan, dan tiada kesedihan yang menyamai perpisahan dengan mereka.”
(Imam Syafi’i)

“Berapa banyak orang yang telah berbuat kebajikan kepadamu yang
membuatmu terbelenggu dengannya, dan berapa banyak orang yang
memperlakukanmu dengan kasar dan ia memberi kebebasan kepadamu.”
(Imam Syafi’i)

“Barangsiapa yang ditertawakan karena suatu masalah, maka ia tidak akan
pernah melupakan masalah tersebut.”
(Imam Syafi’i)

“Jika terdapat banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, maka mulailah dari
yang terpenting dan mendesak.”
(Imam Syafi’i)

“Barangsiapa menyimpan rahasianya, maka kebaikan ada di tangannya.”
(Imam Syafi’i)

Tak ubahnya “emas” semuanya berwarna kuning….
namun tidak semua emas punya nilai yang sama….

Kayu-kayu cendana bila tidak semerbak baunya….orang tak dapat
membedakan mana “cendana” dan mana “kayu bakar”.

Bisa jadi Singa yang buas “mati kelaparan” di rimbanya…
sebab daging-daging domba dimakan oleh sang anjing….

Hamba sahaya yang hina, terkadang tidur di atas sutera…sedang bangsawan
mulia tidur di atas gundukan debu…

Kenapa engkau meremehkan nilai doa kepada Allah…
apakah engkau tahu apa yang dihasilkan oleh doa..?.

Ibarat panah di malam hari, ia tidak akan meleset…namun ia punya batas
dan setiap batas ada saatnya selesai..

Banyak orang berbicara tentang hal ihwal wanita,….
konon mencintai wanita terlalu dalam adalah ujian hidup yang pedih….

Aku terlambat datang diantara orang-orang yang dungu…..yang mereka
tidak mengetahui hak-hak sastrawan…sampai kepala ditukarnya dengan ekor….

Manusia dapat disatukan….
namun akalnya tetap berbeda….
baik dalam masalah “sastra” maupun dalam masalah “hitungan”

/“Dunia hanyalah bangkai yang berbau yang dimakan anjing-anjing.
Anjing-anjing itu hanya ingin menarik-narik dan merobeknya.
Apabila engkau menghindarinya maka dirimu akan selamat apabila engkau
ikut menariknya berarti engkau berebutan dengan anjing.”/
/(Imam Syafi’i)/

“Kenyang itu akan membuat badan jadi berat, mengeraskan hati,
menghilangkan kecerdasan, mengajak tidur dan melemahkan ibadah.”
(Imam Syafi’i)

“Sebuah keterlambatan tak akan mengurangi rizkimu. Dan rizkimu pun tak
akan bertambah dengan kepayahan badanmu.”
(Imam Syafi’i)

”Tiada kesusahan yang kekal, tiada kegembiraan yang abadi, tiada
kefakiran yang lama, tiada kemakmuran yang lestari.“
(Imam Syafi’i)

“Apabila sikap hatimu selalu rela dengan apa yang ada maka tak ada
perbedaan bagimu antara dirimu sendiri dan para hartawan.”
(Imam Syafi’i)

”Jika engkau melihat seseorang berjalan di atas air dan bisa terbang di
udara, maka janganlah kehebatan itu menjadikan engkau lengah dan
terheran-heran kepadanya, sampai engkau mengetahui secara persis atas
apa yang di kerjakannya itu berlandaskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.“
(Imam Syafi’i)

“Kepandaian itu ada dalam masalah agama, bukan dalam masalah keturunan,
kalau saja kepandaian diukur dalam masalah keturunan, maka tak ada satu
orang pun yang cakap seperti Fatimah putri Rasulullah Saw dan
putri-putri beliau yang lain.”
(Imam Syafi’i)

“Barangsiapa mempelajari Al-Qur’an, maka mulia nilainya. Barangsiapa
berbicara tentang fiqih, maka akan berkembang kemampuannya. Barangsiapa
menulis Hadits, maka akan kuat hujjahnya. Barangsiapa mengkaji bahasa,
maka akan lembut tabiatnya. Barangsiapa mengkaji ilmu hitung, maka akan
sehat pikirannya. Barangsiapa tidak menjaga jiwanya, maka ilmunya tidak
akan berguna baginya.”
(Imam Syafi’i)

“Barangsiapa yang dipancing untuk marah, namun ia tidak marah, maka dia
tak ubahnya keledai, dan barangsiapa yang diminta keridhaannya namun
tidak ridha, maka dia adalah syetan.”
(Imam Syafi’i)

“Besarnya rasa takut itu sesuai dengan kapasitas ilmunya. Tiada seorang
alim pun yang ia takuti kecuali kepada Allah Swt. Yang merasa aman akan
marah Allah Swt, dialah si-jahil. Yang merasa takut akan marah Allah
Swt, dialah si-arif.”
(Imam Syafi’i)


<[Riwayat Hidup Imam Syafi’i
<https://id.m.wikipedia.org/wiki/ImamAsy-Syafi%27i>]>

image
<https://karangsemi.files.wordpress.com/2016/11/img20161107001614-picsay.jpg>

image
<https://karangsemi.files.wordpress.com/2016/11/picsay-1478966751504.jpg>

“Kita tidak akan sanggup mengekang amarah dan hawa nafsu secara
keseluruhan hingga tidak meninggalkan bekas apapun dalam diri kita.
Namun jika mencoba untuk mengendalikan keduanya dengan cara latihan dan
kesungguhan yang kuat, tentu kita akan bisa.”
(Imam Al Ghazali)

“Sifat utama pemimpin ialah beradab dan mulia hati.”
(Imam Al Ghazali)

“Belum pernah saya berurusan dengan sesuatu yang lebih sulit daripada
jiwa saya sendiri, yang kadang-kadang membantu saya dan kadang-kadang
menentang saya.”
(Imam Al Ghazali)

“Barangsiapa yang memilih harta dan anak-anaknya daripada apa yang ada
di sisi Allah, niscaya ia rugi dan tertipu dengan kerugian yang amat
besar.”
(Imam Al Ghazali)

“Barangsiapa yang menghabiskan waktu berjam-jam lamanya untuk
mengumpulkan harta karena takut miskin, maka dialah sebenarnya orang
yang miskin.”
(Imam Al Ghazali)

“Teman yang sesungguhnya itu adalah ketika kamu memintanya untuk
mengikuti kamu, dia tidak bertanya kemana atau dimana, namun segera
beranjak dan pergi.”
(Imam Al Ghazali)

“Barangsiapa yang meyombongkan diri kepada salah seorang daripada
hamba-hamba Allah, sesungguhnya ia telah bertengkar dengan Allah pada
haknya.”
(Imam Al Ghazali)

“Berani (karena baik dan benar) adalah sifat orang mulia karena ia
berada di antara orang-orang pengecut dan membuta tuli.”
(Imam Al Ghazali)

“Kebahagiaan terletak pada kemenangan memerangi hawa nafsu dan menahan
kehendak yang berlebih-lebihan.”
(Imam Al Ghazali)

“Kalau besar yang dituntut dan mulia yang dicari, maka payah melaluinya,
panjang jalannya dan banyak rintangannya.”
(Imam Al Ghazali)

“Jadikan kematian itu hanya pada badan karena tempat tinggalmu ialah
liang kubur dan penghuni kubur senantiasa menanti kedatanganmu setiap saat.”
(Imam Al Ghazali)

“Pelajari ilmu syariat untuk menunaikan segala perintah Allah SWT dan
juga ilmu akhirat yang dapat menjamin keselamatanmu di akhirat nanti.”
(Imam Al Ghazali)

“Menuntut ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah.
Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad.”
(Imam Al Ghazali)

“Kecintaan kepada Allah melingkupi hati, kecintaan ini membimbing hati
dan bahkan merambah ke segala hal.”
(Imam Al Ghazali)

“Ibadah dan pengetahuan sambil memakan makanan haram adalah seperti
konstruksi pada kotoran.”
(Imam Al Ghazali)

“Pemurah (dermawan) itu adalah suatu kemuliaan karena ia berada di
antara orang-orang bakhil (rakus-pelit) dan boros.”
(Imam Al Ghazali)

“Bersungguh-sungguhlah engkau dalam menuntut ilmu, jauhilah kemalasan
dan kebosanan karena jika tidak demikian engkau akan berada dalam bahaya
kesesatan.”
(Imam Al Ghazali)

“Cinta merupakan sumber kebahagiaan dan cinta terhadap Allah harus
dipelihara dan dipupuk, suburkan dengan sholat serta ibadah yang lainnya.”
(Imam Al Ghazali)

“Ciri yang membedakan manusia dan hewan adalah ilmu. Manusia adalah
makhluk mulia yang mana ia menjadi mulia karena ilmu, tanpa ilmu
mustahil ada kekuatan.”
(Imam Al Ghazali)

“Sebisa-bisanyalah jangan bertengkar dengan seseorang dalam keadaan
apapun juga masalahnya, karena pertengkaran itu mengandung berbagai
penyakit dan dosanya jauh lebih besar daripada faedahnya, riak, takabur,
hasad dan dengki.”
(Imam Al Ghazali)

“Hadapi kawan atau musuhmu itu dengan wajah yang menunjukkan
kegembiraan, kerelaan, penuh kesopanan dan ketenangan. Jangan
menampakkan sikap angkuh dan sombong.”
(Imam Al Ghazali)


Tidakkah Cukup Bagimu Janji Allah?



📆 Ahad, 07 Rabiul Awwal 1447 H / 31 Agustus  2025
📚 Tazkiyatun Nafs
📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi M.A.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹       

أَلَا تَكْفِيكَ .. "إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ"

أَلَا تَكْفِيكَ .. "هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ"

أَلَا تَكْفِيكَ .. "وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى"

أَلَا تَكْفِيكَ .. "وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ"

أَلَا تَكْفِيكَ .. "إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا"

أَلَا تَكْفِيكَ .. "أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ"

أَلَا تَكْفِيكَ .. "يُدَبِّرُ الْأَمْرَ"

ثِقْ بِاللَّهِ وَسَتَرَى مَا يُدْهِشُكَ..

Tidakkah cukup bagimu…
“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.”

Tidakkah cukup bagimu…
“Itu adalah mudah bagi-Ku.”

Tidakkah cukup bagimu…
“Dan sungguh, Tuhanmu akan memberimu, sehingga engkau menjadi ridha.”

Tidakkah cukup bagimu…
“Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Tidakkah cukup bagimu…
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Tidakkah cukup bagimu…
“Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya?”

Tidakkah cukup bagimu…
“Dia mengatur urusan (segala sesuatu).”

Percayalah kepada Allah, dan engkau akan melihat sesuatu yang menakjubkan...

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Subscribe Youtube MANIS: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

Follow IG MANIS : 
https://instagram.com/majelis_manis?igshid=YmMyMTA2M2Y=

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSI : 5512 212 725
Konfirmasi:
wa.me/62852-7977-6222
wa.me/6287782223130

UNGKAPAN RASA SYUKUR

وشكر نعبد على الحقيقة، إنما هو: نطق اللسن، وإقرار القلب بإنعام الرب، والشكر ينقسم إلى:
Syukur terbagi menjadi tiga. Pertama, syukur dengan lisan, yakni mengakui kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. dengan sikap merendahkan diri. Kedua, syukur dengan badan, yakni bersifat selalu sepakat dan melayani (mengabdi) kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Ketiga, syukur dengan hati, yakni mengasingkan diri di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala. dengan konsisten menjaga keagungan-Nya.

شكر باللسان: وهو اعترافه بالنعم بنعت الاستكانة.
Syukur dengan lisan adalah syukurnya orang yang berilmu. Ini dapat direalisasikan dengan bentuk ucapan.

وشكر بالبدن والأركان: وهو اتصاف بالوفاء والخدمة.
Syukur dengan badan adalah syukurnya orang yang beribadah. Ini dapat direalisasikan dengan bentuk perbuatan.

وشكر بالقلب وهو اعتكاف على بساط الشهود بإدامة حفظ الحرمة. ويقال: شكر هو شكر العالمين، يكون من جملة أقوالهم. وشكر: هو شكر العارفين، يكون باستقامتهم له في عموم أحوالهم.
Syukur dengan hati adalah syukurnya orang yang ahli ma'rifat. Ini dapat direalisasikan dengan semua hal ihwal secara konsisten.

AJARI AKU AGAR MAMPU BERSABAR DAN BERSYUKUR

وقيل: التزم الحسن بن علي الركن وقال: إلهي. نعمتني فلم تجدني شاكرًا. وابتليتني فلم تجدني صابرًا، فلا أنت سلبت النعمة بتركي الشكر ولا أدمت الشدة بتركي الصبر. إلهي ما يكون من الكريم إلا الكرم.

Menurut satu pendapat, Hasan bin Ali pernah menetapkan syukur sebagai rukun. Dia juga pernah mengatakan, "Ya Tuhan, Engkau telah memberikan kenikmatan kepadaku, tapi Engkau tidak menemukan diriku orang yang bersyukur. Engkau telah memberikan cobaan kepadaku, tapi Engkau tidak menemukan diriku orang yang sabar. Engkau tidak pernah menghilangkan kenikmatan disebabkan tiadanya syukur dan Engkau tidak pernah menimpakan kesusahan disebabkan tiadanya sabarı Ya Tuhan, tiada Dzat Yang Maha Mulia kecuali Kemuliaan-Mu."

KELUAR DARI DUNIA (KEMATIAN)


باب أحوالهم عند الخروج من الدنيا قال الله تعالى:
Allah berfirman:

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُوْنَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْلَمُوْنَ (النمل: ٣٢)
"Orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka), 'Salaamun 'alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan oleh apa yang telah kamu kerjakan'." (QS. An-Nahl: 32)

يعنى: طيبة نفوسهم، ببذلهم مُهجهم لا يثقل عليهم رجوعهم إلى مولاهم.
Maksudnya keadaan baik jiwa mereka adalah lantaran kesungguhannya dalam melaksanakan ibadah sehingga tidak memberatkannya di saat kembali kepada Tuhan mereka.

أخبرنا عبد الله بن يوسف الأصبهاني قال: أخبرنا أبو الحسن علي بن محمد ابن عقبة الشيباني بالكوفة قال: حدثنا الخضر بن أيان الهاشمي قال: حدثنا أبو هدبة، عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيُعَالِجُ كَرْبَ الْمَوْتِ، وَسَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَإِنَّ مَفَاصِلَهُ لَيُسَلِّمُ بَعْضُهَا عَلَى بَعْضٍ، تَقُوْلُ: عَلَيْكَ السَّلَامُ تُفَارِقُنِي وَأُفَارِقُكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
"Sesungguhnya seorang hamba hendaknya mengobati kesusahan kematian dan sekarat maut. Setiap anggota badan saling mengucapkan salam perpisahan satu sama lain dengan mengatakan, 'Alaikas Salaam, kamu akan berpisah denganku dan saya akan berpisah denganmu sampai hari kiamat.!"[1]

أخبرنا الشيخ أبو عبد الرحمن السلمي قال: حدثنا أبو العباس الأصم قال: حدثنا الخضر بن أبان الهاشمي قال: حدثنا سوار قال: حدثنا جعفر. عن ثابت، عن أنس: " أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل على شاب وهو في الموت، فقال كيف تجدك؟ فقال: أرجو الله تعالى وأخاف ذنوبي، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم شيئان لا يجتمعان في قلب عبد مؤمن في هذا الموطن إلا أعطاه الله ما يرجو، وأمنه مما يخاف.
Anas bin Malik menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Pernah datang kepada seorang pemuda yang akan mati, lalu bersabda, "Bagaimanakah kamu dapatkan dirimu?" "Saya berharap kepada Allah dan saya takut dengan dosa- dosa saya," jawab pemuda. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. juga bersabda, "Keduanya tidaklah berkumpul di hati seorang hamba di tempat ini kecuali Allah akan memberikan apa yang ia harapkan dan memberikan keamanan dari apa yang ia takuti."

واعلم أن أحوالهم في حال النزع مختلفة؛ فبعضهم الغالب عليه الهيبة، وبعضهم الغالب عليه الرجاء، ومنهم من كشف له في تلك الحالة ما أوجب له السكون، وجميل الثقة.
Ustaz Abul Qasim Al-Qusyairi berkata, "Ketahuilah bahwa keadaan mereka di saat naza' berbeda-beda. Sebagian mereka ada yang tenggelam dalam rasa takut terhadap dosanya, sebagian ada yang tenggelam dalam harapannya kepada Allah, dan sebagian lagi ada yang dibukakan keadaannya sehingga ia merasa tenang dan penuh percaya diri."

حكى أبو محمد الجريري قال: كنت عند الجنيد في حال نزعه، وكان يوم الجمعة، ويوم نيروز، وهو يقرأ القرآن، فختمه، فقلت: في هذه الحالة يا أبا القاسم؟ فقال: ومن أولى بذلك منى وهو ذا تطوى صحيفتي.
Ahmad Al-Jariri berkata, "Saya pernah berada di sisi Al-Junaid ketika ia dalam keadaan naza'. Hari itu adalah hari Jumat, hari pertama tahun syamsiah. Semua orang dalam keadaan senang, sementara dia asyik membaca Al-Quran hingga hatam. Saya menggeser duduk saya agak mendekat. 'Wahai Abul Qasim,' sapa saya. Namun, dia sudah menyahut, 'Siapakah yang lebih utama dariku dengan hal itu. Inilah lembaranku dilipat."

سمعت أبا حاتم السجستاني يقول: سمعت أبا نصر السراج يقول بلغني عن أبي محمد الهروي أنه قال: مكثت عند الشبلي الليلة التي مات فيها فكان يقول طول ليلته هذين البيتين:
Abu muhammad Abdullah Al-Ibrahimi Al-Harawi berkata, "Ketika Dalf Asy-Syibli mendekati ajal, saya menunggunya semalam. Sepanjang malam ia mengucapkan dua bait berikut ini:

كلُّ بيت أنت ساكنه ... غير محتاج إلى السرُج
setiap rumah Engkau ada di dalamnya tanpa membutuhkan lampu-lampu

وجهك المأمول حجتنا ... يوم يأتي الناس بالحجج
wajah-Mu selalu kuharapkan yang akan menjadi hujjah kami di hari orang-orang berdatangan dengan hujjah mereka

وحكى عن عبد الله بن منازل أنه قال: إن حمدون القصار أوصى إلى أصحابه أن لا يتركوه في حال الموت بين النسوان.
وقيل لبشر الحافي، وقد احتضر كأنك يا أبا نصر تحبّ الحياة؟ فقال: القدوم علي الله، عزَّ وجلَّ، شديد.
Ketika Bisyr Al-Hafi menjelang wafat, seseorang menyapanya dengan sapaan ketuhanan, "Wahai Abu Nashr, sepertinya kamu menyukai kehidupan?" Dia menjawab, "Telah datang kepada Allah dengan sangat mengerikan."

وقيل: كان سفيان الثوري إذا قال له بعض أصحابه إذا سافر: أتأمر بشغل؟؟..يقول: إن وجدتَ الموتَ فاشتره لي! فلما قربت وفاته كان يقول: كنا نتمناه.. فإذا هو شديد!! وقيل: لما حضرت الحسن بن علي بن أبي طالب الوفاة بكى فقيل له: ما يبكيك؟ فقال: أقدم على سيد لم أره.
Alkisah, ketika Hasan bin Ali bin Abu Thalib[2] akan wafat, ia menangis. Para sahabatnya duduk di sekitarnya heran. "Apa yang membuatmu menangis?" tanya mereka. "Saya akan datang kepada Tuhan Yang saya belum pernah melihat-Nya," jawabnya.

ولما حضرت بلالاً الوفاة قالت امرأته: واحزناه!! فقال: بل واطرباه.. غداً نلقي الأحبة محمداً وحزبه.
Ketika Bilal Radhiyallahu ‘anhu akan wafat, isterinya berkata, "Sedih sekali!" Bilal Radhiyallahu ‘anhu menimpalinya, "Senang sekali! Besok saya bertemu para kekasih, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. dan sahabat-sahabat beliau."

وقيل: فتح عبد الله بن المبارك عينيه عند الوفاة وضحك. وقال:
Diceritakan bahwa Abdullah bin Al-Mubarak membuka matanya ketika menjelang wafat. Dia tersenyum lalu berkata:

لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلِينَ (الصافات: ٦١)
"Untuk kemenangan serupa ini hendaknya berusaha orang-orang yang bekerja." (QS. Ash-Shaffat: 61)

وقيل: كان مكحول الشامي الغالب عليه الحزن، فدخلوا عليه في مرض موته وهو يضحك، فقيل له في ذلك، فقال: ولام لا أضحك وقد دنا فراق ما كنت أحذره، وسرعة القدوم على ما كنت أرجوه وآمله.
Diceritakan juga bahwa Makhul Al-Huzn ketika sakit dalam kematiannya, orang-orang berdatangan kepadanya, sementara ia sendiri tertawa. Para pengunjung ini heran melihatnya, maka mereka menanyakannya. "Mengapa saya tidak tertawa?" jawabnya, "sedangkan perpisahanku dengan Dzat Yang saya takuti telah dekat. Saya akan segera datang kepada Dzat Yang sangat saya harapkan."

وقال رويم: حضرتُ وفاة أبي سعيد الخراز، وهو يقول في آخر نفسه:
Ruwaim bin Ahmad berkata, "Telah datang kematian Ahmad bin Isa Al-Kharraz. Di akhir hembusan napasnya ia berkata:

حنينُ قلوب العارفين إلى الذكر ... وتذكارهم وقت المناجاة للسرِّ
أديرت كؤوس للمنايا عليهم ... فأغفوا عن الدنيا كإغفاء ذي السكر
هُمُوهم جوالة بمعسكرٍ ... به أهل ودّ الله كالأنجم الزهر
فأجسامهم في الأرض قتلى بحبه ... وأرواحهم في الحجب نحو العلا تسري
فما عرسوا إلا بقرب حبيبهم ... وما عرَّجوا عن مسر بؤس ولا ضر
hati orang-orang arif selalu rindu untuk berzikir kenangan mereka untuk bersenang-senang adalah di waktu munajat

mereka mengelilingi gelas-gelas minuman kematian sehingga mereka tidak teringat dunia

sebagaimana orang-orang yang mabuk keinginan mereka berkeliling di perkemahan orang-orang yang cinta Allah

seperti bintang-bintang yang bersinar tubuh mereka di bumi terbunuh oleh cintanya dan ruh

mereka dalam tabir berjalan menuju atas tidaklah mereka melamun kecuali untuk dekat dengan kekasih-Nya

mereka tidak menghindar dari bahaya apapun yang menghadangnya

وقيل للجنيد: إن أبا سعيد الخراز كان كثير التواجد عند الموت. فقال: لم يكن بعجيب أن تظير روحه اشتياقاً.
Dikatakan kepada Al-Junaid bahwa Abu Sa'id dan Ahmad Al-Kharraj adalah orang yang sangat bercinta dengan Allah ketika mati. Oleh karena itu, tidaklah heran jika ruhnya terbang dengan penuh kerinduan kepada Allah.

وقال بعضهم وقد قربت وفاته: يا غلام اشدد كتافي وعفر خدي، ثم قال: دنا الرحيل ولا براءة لي من ذنب، ولا عذر أعتذر به، ولا قوة أنتصر بها.. أنت لي، أنت لي. ثم صاح صيحة ومات، فسمعوا صوتاً: " استكان العبدُ لمولاه، فقبله.
Sekelompok orang menceritakan tentang Ahmad Al-Kharraj saat kewafatannya telah dekat. Ketika maut benar-benar hendak menjemputnya, Ahmad mengatakan, "Wahai Anak muda, tariklah bahu saya dan lumurilah pipi saya dengan debu." Sufi agung ini menatap sejenak orang yang dimaksud, kemudian bibirnya kembali bersuara, "Keberangkatan (kematian) telah dekat, namun tidak ada pembebasan dosa saya, tidak juga alasan untuk beralasan, dan tidak pula ada kekuatan untuk menang. Engkau adalah Penolongku ... Engkau adalah Penolongku." Kemudian dia berteriak membawa terbang ruhnya ke langit. Orang-orang yang sedang menungguinya mendengar suara gaib yang mengatakan, "Hamba itu merendahkan dirinya di hadapan Tuhannya sehingga ia diterima di sisi-Nya."

وقيل لذي النون المصري عند موته: ما تشتهي؟ قال أن أعرفه قبل موتي بلحظة.
Ditanyakan kepada Dzun Nun Al-Mishri ketika maut menjelangnya, "Apa yang kamu inginkan?"

"Saya ingin mengetahui tempat saya sekejap saja sebelum kematian saya," jawabnya.

وقيل لبعضهم وهو في النزع: قل الله، فقال: إلى متى تقولون: قل الله، وأنا محترق بالله؟!! وقال بعضهم: كنت عند ممشاد الدينوري، فقدم فقير وقال السلام عليكم، فردوا عليه السلام، فقال: هل هنا موضع نظيف يمكن الإنسان أن يموت فيه؟ فأشاروا عليه بمكان، وكان ثمَّ عين ماء.. فجدد الفقير الوضوء وركع ما شاء الله تعالى، ومضى إلى المكان الذي أشاروا إليه.. ومد رجليه، ومات.
Salah seorang dari kelompok sufi bercerita: "Saya pernah berada di tempat Mimsyad Ad-Dinawari, lalu datanglah seorang miskin dengan mengucapkan salam dan orang-orang di situ pun menjawabnya. Laki-laki miskin itu kemudian berkata kepada mereka, 'Apakan di sini ada tempat yang bersih yang memungkinkan seseorang bisa mati di tempat itu?' Lalu ia ditunjukkan pada sebuah tempat yang ada mata airnya. Dia kemudian berjalan memperbaruhi wudunya dan salat. Masya Allah. Dia benar-benar mendatangi tempat itu, lalu berbaring seraya menjulurkan kedua kakinya dan akhirnya meninggal."

سمعت الشيخ أبا عبد الرحمن السلمي يقول: كان أبو العباس الدينوري يتكلم يوماً في مجلسه.. فصاحت امرأة تواجداً، فقال لها: موتي.. فقامت المرأة فلما بلغت باب الدار التفتت إليه وقالت: قدُمتُّ. ووقعت ميتة.
Abul Abbas dan Ahmad Ad-Dinawari pernah di suatu hari memberi nasihat di majelisnya. Tiba-tiba seorang wanita berteriak karena rindu kepada Allah. Ahmad Ad-Dinawari menyahutinya dengan mengatakan, "Matilah kamu!" Wanita itu lantas berdiri dan berjalan. Ketika sampai di pintu rumah, ia menoleh kepada Ahmad seraya berkata, "Saya telah mati." Habis berkata demikian, ia terjatuh dan meninggal.

وقال بعضهم: كنت عند ممشاد الدينوري عند وفاته، فقيل له: كيف تجد العلة؟! فقال سلوا العلة عني كيف تجدني، فقيل له. قل لا إله إلا الله، فحول وجهه إلى الجدار وقال: أفنيت كُلي بكلك هذا جزاء من يحبك.
Seseorang berkata, "Saya pernah berada di sisi Mimsyad Ad- Dinawari ketika akan wafat. Seseorang mendekat dan bertanya kepadanya, 'Bagaimanakah penyakitmu?' Dia menjawab, "Tanyakan sendiri pada penyakit yang mengeram dalam tubuh saya, bagaimana ia melihat saya?' Kemudian dikatakan lagi kepadanya, 'Kalau begitu ucapkan Laa Ilaaha Illaallaah. Namun, Mimsyad memalingkan mukanya menghadap ke arah dinding dan mengatakan, 'Saya telah lama binasa seluruhnya bersama-Mu. Ini adalah balasan orang yang mencintai-Mu."

وقيل لأبي محمد الدبيلي، وقد حضرته الوفاة، قل: لا إله إلا الله. فقال هذا شيء قد عرفناه، وبه نفنى، ثم أنشأ يقول:
Begitu juga pada Abu Muhammad Ad-Dubaili. Ketika maut menjelangnya, dikatakan kepadanya, "Ucapkanlah Laa Ilaaha Illallaah!" Dia menjawab, "Hal ini telah kita ketahui bersama. Dengan kalimat inilah saya beribadah sampai binasa." Kemudian beliau bersyair:

تسربل ثوبُ النية لما هويته ... وَصدَّ ولم يرض بأن أكُ عبده
engkau memakai pakaian linglung ketika terpesona dengan-Nya

Dia menolak dan tak rela tak sudi dirimu adalah hamba-Nya

وقيل للشبلي عند وفاته: قل لا إله إلى الله. فقال:
Dikatakan kepada Asy-Syibli ketika ia menjelang wafatnya, "Ucapkanlah laa ilaaha illallaah," lalu Asy-Syibli bersyair:

قال سلطان حبه ... أنا لا أقبل الرِّشا فسلوه بحقه ... لِم بقتلي تحرَّشا
berkatalah penguasa cintanya Aku tak menerima yang lain bertanyalah dengan sebenarnya mengapa kematianku ia berurusan?

سمعت محمد بن أحمد الصوفي يقول: سمعت عبد الله بن علي التميمي يقول: سمعت أحمد بن عطاء يقول: سمعت بعض الفقراء يقول: لما مات يحيى الاصطخري جلسنا حوله، فقال له رجل منا: قل أشهد أن لا إله إله الله، فجلس مستوياً.. ثم أخذ بيد واحد منا، وقال له: قل أشهد أن لا إله إلا الله.. ثم أخذ بيد آخر.. حتى عرض الشهادة على جميع الحاضرين، ثم مات.
Ahmad bin Atha' pernah mendengar salah seorang miskin bercerita: "Ketika Yahya Al-Ashthakhri akan wafat, kami duduk di sekelilingnya. Tiba-tiba seseorang di antara kami berkata kepadanya, 'Katakan: Asyhadu an Laa Ilaaha Illallaah.[3] la tetap duduk dengan lurus, kemudian memegang tangan salah seorang di antara kami seraya berkata, 'Katakanlah Asyhadu an Laa Ilaaha Illallaah. Kemudian ia memegang tangan yang lain dengan menyuruh mengucapkan kalimat syahadat tersebut. Ketika setiap tangan telah dipegangnya dan disuruh mengucapkan kalimat syahadat, ia wafat."

ويحكى عن فاطمة أخت أبي علي الروذباري، أنها قالت: لما قرب أجل أخي أبي الروذباري، وكان رأسه في حجري، فتح عينيه، وقال: هذه أبواب السماء قد فتحت.. وهذه الجنان قد زُينت، وهذا قائل يقول لي: يا أبا علي قد بلغناك الرتبة القصوى وإن لم تردها.. ثم أنشأ يقول:
Diriwayatkan dari Fatimah, saudara perempuan Muhammad Ar-Rudzabari, berkata, "Ketika ajal saudaraku telah dekat (Abu Ali Ahmad Ar-Rudzabari), ketika itu kepalanya berada di pangkuanku, ia membuka kedua matanya seraya berkata, 'Pintu-pintu langit ini telah terbuka, surga-surga telah dihiasi, dan ini ada yang berkata kepadaku: Telah kami sampaikan kepadamu kedudukan yang tinggi, walaupun kamu tidak menginginkannya." Lalu Abu Ali membacakan syair:

وحقّك لا نظرتُ إلى سواكاً ... بعين مودةّ حتى أراكا أراك معذِّبي بفتورِ لحظر ... وبالخد المورد من جناكا
demi Hak-Mu sungguh tak kupandang selain diri-Mu

dengan mata cinta hingga aku melihat-Mu aku melihatmu ketika hilang sejenak menjadi siksaan

dan dengan pipi bertulip mawar merah petikan-Mu

ثم قال: يا فاطمة، الأول ظاهر،والثاني فيه إشكال.
سمعت بعض الفقراء يقول: لما قربت وفاة أحمد بن نصر، رحمه الله تعالى، قال له واحد: قل أشهد أن لا إله إلا الله فنظر إليه وقال له: لا تترك الحرمة بالفراسية بي حرمتي مكن.
وقال بعضهم: رأيت فقيراً يجود بنفسه غريباً.. والذباب على وجهه، فجلست أذبّ الذباب عن وجهه.. ففتح عينيه، وقال: من هذا؟ أنا منذ كذا سنة في طلب وقت يصفو لي فلم يتفق إلا الآن.. جئت أنتّ توقع نفسك فيه، مرّ؛ عافاك الله.
Salah seorang dari sekelompok sufi berkata, "Saya melihat seorang miskin yang asing akan wafat. Di mukanya ada seekor lalat, lalu saya duduk mengibas lalat itu, maka ia membuka kedua matanya seraya berkata, 'Siapakah ini? Sejak sekian tahun saya mencari waktu untuk membersihkan jiwaku, maka waktuku tinggal sekarang, kemudian kamu datang melibatkan dirimu dalam waktu ini. Pergilah, semoga Allah melindungimu."

وقال أبو عمران الاصطخري: رأيت أبا تراب في البادية قائماً ميتاً لا يمسكه شيء.
سمعت أبا حاتم السجستاني يقول: سمعت أبا نصر السراج يقول: كان سبب وفاة أبي الحسين النوري أنه سمع هذا البيت.
Saya mendengar Abu Hatim As-Sajastani berkata, "Saya mendengar Abu Nashr As-Sarraj berkata, 'Sebab wafatnya Abul Husin Ahmad An-Nuri adalah karena mendengar bait berikut:

لا زلت أنزل في ودادك منزلاً ... تتحير الألبابُ عند نزوله
aku selalu mendatangi suatu tempat

karena cintaku kepada-Mu

sehingga setiap hati manusia merasa bingung

ketika datang ke tempat itu

فتواجد النودي وهام في الصحراء ... فوقع في أجمه قصب قد قطعت وبقي أصولها مثلُ السيوف، فكان يمشي عليها ويعيد عليها ويعيد هذا البيت إلى الغداة والدم يسيل من رجليه. ثم وقع مثل السكران، فتورمت قدماه. ومات.
Maka, Ahmad An-Nuri pergi mendatangi tempat itu, lalu ia kehausan di tengah padang sahara, kemudian ia terjatuh di ujung kayu yang tajam mencap di tanah, kemudian ia pulang dan sampai di rumah di pagi harinya dengan darah mengalir di kedua kakinya, kemudian ia jatuh lagi seperti orang yang mabuk, sehingga kedua kakinya membengkak dan akhirnya meninggal."

وحكي أنه قيل له عند النزع: قل لا إله إلا الله، فقال أليس إليه أعود.
Diriwayatkan pula bahwa ketika dalam keadaan naza', dikatakan kepadanya, "Ucapkanlah Laa Ilaaha Illallaah." Dia pun menjawab, "Bukankah kepada-Nya saya akan kembali."

وقيل: مرض إبراهيم الخواص في المسجد الجامع: بالري وكنت به علة بالإسهال، فكان إذا قام مجلساً يدخل الماء.. ويتوضأ، فدخل الماء مرة فخرجت روحه.
سمعت منصوراً المغربي يقول دخل عليه يوسف بن الحسين عائداً له بعد ما أتى عليه أيامٌ لم يعده، ولم يتعهده، فلما رآه، قال للخواص: أتشتهي شيئاً؟ قال: نعم، قطعت كبد مشوي.
Saya mendengar Manshur Al-Maghribi berkata, "Yusuf bin Al-Husin pernah datang kepada Ibrahim Al-Khawwash untuk menengoknya setelah beberapa hari ia tidak menengok dan melihatnya. Ketika menengoknya, ia berkata kepada Ibrahim, 'Apakah kamu menikmati sesuatu?' Jawabnya, 'Ya, sepotong daging hati panggang.

قال الأستاذ أبو القاسم: لعل الإشارة فيه أنه أراد: أشتهى قلباً يرقى لفقير، وكبداً تشتوي وتحترق لغريب؛ لأنه كالمستجفى ليوسف بن الحسين؛ حيث لم يتعهده.
Ustaz Abul Qasim Al-Qusyairi berkata, "Barangkali isyarat ini maksudnya adalah saya menikmati hati yang berbelas kasih kepada seorang miskin, dan sepotong daging hati tersebut dipanggang dan dibakar untuk orang asing."

وقيل: كان سبب موت بن عطاء أنه أدخل مرة على الوزير، فكلمه الوزير بكلام غليظ. فقال له ابن عطاء: أهدأ يا رجل!! فأمر.. فضُرب بخفه على رأسه فمات منه.
Diceritakan bahwa sebab kematian Ahmad bin Atha' adalah ia pernah datang kepada seorang menteri. Pejabat tinggi itu berkata kepadanya dengan kata-kata kasar, dan Ibnu Atha' menimpalinya dengan lembut, "Tenanglah, wahai Bapak Menteri." Akan tetapi, Menteri justru memerintahkan salah seorang pengawalnya untuk memukulnya dengan sepatu ke arah kepalanya, sehingga ia mati."

سمعت محمد بن أحمد بن محمد الصوفي يقول: سمعت عبدالله بن علي التميمي يقول: سمت أبا بكر الدقي يقول: كنا عند أبي بكر الزقاق بالغداة، فقال: إلهي: كم تبقيني ها هنا فما بلغ الغداة الأولى حتى مات.
وحكي عن أبي علي الروذباري أنه قال: رأيت في البادية حّدَثاً، فلما رآني. قال: أما يكفيه أ، شغفني بحبه حتى علني، ثم رأيته يجود بروحه، فقلت له: قل لا إله إلا الله، فأنشأ يقول:
Diriwayatkan dari Abu Ali Ar-Rudzabari berkata, Saya pernah melihat seorang anak muda. Ketika melihatku, ia berkata, 'Tidakkah cukup kerinduan dan cintaku kepada-Nya sehingga membuatku sakit.' Kemudian saya melihatnya akan menghembuskan napas terakhirnya, maka saya katakan kepadanya, 'Ucapkanlah Laa llaaha Illallaah. Ia menjawabnya dengan syair:

أيا من ليس لي عنه ... وإن عذبني بد
ويا من نال من قلبي ... منالاً ما له حد
“wahai Tuhan Yang tidak jauh dariku walaupun kelelahan ini telah menyiksaku wahai orang yang telah memperoleh contoh dari hatiku yang tidak dapat diukur."

وقيل للجنيد: قل لا إله إلا الله، فقال: ما نسيتُه فأذكره!! وقال:
Dikatakan kepada Al-Junaid, "Ucapkanlah Laa llaaha Illallaah." Dia menjawab, "Apakah aku lupa!? Aku selalu mengingat-Nya." Lalu Junaid bersyair:

حاضر في القلب يعمره ... لست أنساه فأذكره
فهو مولاي ومعتمدي ... ونصيبي منه أوفرط
Dia selalu hadir di hati lalu menetap di dalam-Nya saya tidaklah lupa sehingga harus mengingat-Nya Dia adalah Tuhan saya dan tempat yang bisa dipercaya bagianku dari-Nya sangatlah melimpah

سمعت محمد بن أحمد بن محمد الصوفي يقول: سمعت عبد الله بن علي التميمي يقول: سألت جعفر بن نصير بكران الدينوري، وكان يخدم الشبلي، ما الذي رأيت منه؟ فقال: قال لي عليَّ درهم مظلمة، وقد تصدَّقت عن صاحبه بألوف، فما على قلبي شغل أعظم منه، ثم قال: وضئني للصلاة، ففعلت، فنسيت تخليل لحيته، وقد أمسك علي لسانه، فقبض على يدي وأدخلها في لحيته، ثم مات،
Ja'far bin Nashr pernah bertanya kepada Bakran Ad-Dinawari yang pernah mengabdi kepada Asy-Syibli, "Apa yang pernah kamu lihat darinya (Asy-Syibli)?" Ia menjawab, "la pernah berkata, 'Saya mempunyai uang satu dirham gelap yang menyiksaku. Saya telah mensedekahkan beberapa ribu lainnya, maka tidak ada yang paling menyibukkanku selain satu dirham ini.' Kemudian ia berkata, 'Wudukanlah saya untuk salat.' Lalu saya melakukannnya tetapi lupa menyela-nyelai jenggotnya. Ia menahan lidahnya (tidak mau bicara), lalu memegang tanganku dan dimasukkan ke dalam jenggotnya, kemudian ia mati."

فبكى جعفر وقال: ما تقولون في رجل لم يفته حتى في آخر عمره أدب من آداب الشريعة.
Ja'far menangis dan berkata, "Apa yang akan kamu katakan tentang seorang laki-laki yang tidak pernah mengabaikan adab (ajaran) syariat sampai akhir hayatnya."


melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...