Translate

Perpisahan Orang-orang Beriman dan Orang Munafik




👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-53 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān dengan tentang ” Perpisahan Orang-orang Berimān Dan Orang Munāfiq”

Setelah bangkit dari sujud, maka orang-orang yang berimān akan mengikuti Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan akan dibentangkan As-Sirath (jembatan di atas neraka) Sebagaimana di dalam hadīts Abū Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim.

Keadaan saat itu gelap gulita, Seorang Yahūdi pernah bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Di manakah manusia di hari di mana bumi dan langit diganti?”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Di tempat yang gelap sebelum jembatan. ”

(Hadīts Riwayat Muslim)

⇒Kemudian orang-orang yang berimān akan diberikan cahaya.

Di dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, di dalam Al-Mu’jamul Kabir, dari ‘Abdullāh Ibnu Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka Allāh memberikan kepada mereka cahaya sesuai dengan amalan mereka.”

√ Ada di antara mereka yang diberi cahaya sebesar gunung yang besar yang berjalan di depannya.

√ Dan ada yang diberi lebih kecil dari itu.

√ Dan ada di antara mereka yang diberi cahaya sebesar pohon kurma di sebelah kanannya.

√ Dan ada yang diberi lebih kecil dari itu.

Sehingga ada orang yang diberi cahaya di jempol kakinya, kadang menyala dan kadang padam. Apabila menyala, maka dia melangkahkan kakinya dan berjalan.

Dan apabila padam, dia berdiri.

⇒Ini menunjukkan kepada kita tentang pentingnya mengamalkan ilmu bagi seorang muslim.

Semakin banyak cahaya ilmu yang dia amalkan di dunia, maka akan semakin banyak cahaya yang akan dia dapatkan di hari kiamat.

Di dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, disebutkan bahwasanya orang-orang munāfiq juga akan diberikan cahaya dan akan mengikuti Allāh .

⇒Namun cahaya mereka padam sebelum sampai jembatan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menceritakan didalam Qs. Al-Hadīd : 12-15 yang artinya:

“Pada hari ketika kamu melihat orang-orang yang berimān, laki-laki dan wanita, cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Dikatakan kepada mereka, “Pada hari ini ada berita gembira untuk kalian. Yaitu surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kalian akan kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.”

Pada hari ketika orang-orang munāfiq, laki-laki dan wanita, berkata kepada orang-orang yang berimān, “Tunggulah kami, supaya kami dapat mengambil sebagian cahaya dari kalian.” Dikatakan kepada orang-orang munāfiq, “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah sendiri cahaya untuk kalian.” Lalu dibuatlah di antara orang-orang yang berimān dengan orang-orang munāfiq sebuah dinding yang memiliki pintu.

Di sebelah dalamnya, yaitu di sisi orang-orang yang berimān ada rahmat. Dan di sebelah luarnya, yaitu sisi orang-orang munāfiq ada siksa.

Orang-orang munāfiq memanggil orang-orang yang beriman dan berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian di dunia?” (Maksudnya bersama-sama dengan orang-orang yang berimān secara zhahir).

Orang-orang berimān menjawab: “Benar ” Akan tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri, yaitu dengan kenifāqan kalian.

Dan kalian dahulu menunggu-nunggu kehancuran kami. Dan kalian ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong. Sehingga datanglah ketetapan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan penipu yaitu syaithān, telah memperdaya kalian tentang Allāh .

Maka pada hari ini tidak akan diterima tebusan dari kalian maupun dari orang-orang kāfir.

Tempat kalian adalah neraka, itulah tempat berlindung kalian, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

Demikianlah orang-orang munāfiq kembali tertipu. Mereka mendapat cahaya di awal dan menyangka bahwasanya mereka akan selamat bersama dengan orang-orang yang berimān.

Namun ternyata persangkaan mereka salah. Orang-orang yang berimān ketika melihat cahaya orang-orang munāfiq padam mereka berdo’a kepada Allāh.

رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآ‌ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬

“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa untuk melakukan segala sesuatu.”

( QS At-Tahrim : 8)

Di dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Abū Dāwūd dan juga Tirmidzi, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda bahwasanya orang yang berjalan ke masjid di dalam kegelapan malam, yaitu untuk melakukan shalāt berjama’ah, maka dia akan mendapatkan cahaya yang sempurna di hari kiamat.

Di antara usaha seorang muslim untuk menghilangkan kenifāqan adalah dengan menjaga shalāt lima waktu secara berjama’ah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang shalāt karena Allāh selama 40 hari secara berjama’ah mendapatkan takbiratul ula (takbiratul ihram), maka dia akan terlepas dari dua perkara. Terlepas dari neraka dan terlepas dari kenifāqan. (Hadīts hasan riwayat Tirmidzi).

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Tinggalnya Orang-orang Beriman dan Orang Munafiq




🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-52 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Tinggalnya Orang-orang Berimān Dan Orang-orang Munāfiq”

Di dalam hadīts Abū Said Al-Khudri yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhāri dan Muslim disebutkan bahwasanya setelah orang-orang kāfir baik musyrikin maupun ahlul kitāb digiring ke neraka, maka tidak tersisa kecuali orang-orang yang menyembah Allāh, yang shālih maupun yang fajir.

Dikatakan kepada mereka:

“Apa yang menghalangi kalian untuk pergi, sedangkan manusia sudah pergi?

Dalam riwayat Muslim,

“Apa yang kalian tunggu?

Mereka berkata:

“Kami berbeda dengan mereka di dunia. Padahal kami dahulu butuh dengan mereka.”

⇒Maksudnya dahulu mereka bertauhīd tidak menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kāfir. Meskipun mereka membutuhkan orang-orang kāfir tersebut dalam beberapa hal.

Mereka berkata:

“Sungguh kami telah mendengar penyeru menyeru supaya setiap kaum mengikuti apa yang dia sembah. Dan kami sekarang sedang menunggu Rabb kami.

Maka datanglah Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam bentuk yang berbeda dengan bentuk yang mereka lihat pertama kali.

⇒Ini menunjukkan bahwasanya orang-orang yang berimān akan melihat Allāh di Padang Mahsyar.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka Allāh berkata, “Aku adalah Rabb kalian.” Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allāh darimu. Kami tidak menyekutukan Allāh sedikitpun.” Mereka mengatakan perkataan ini dua atau tiga kali.

⇒Maksudnya Allāh akan menguji mereka dengan memperlihatkan diri-Nya kepada mereka dalam bentuk yang lain.

Ketika mereka melihat Allāh dalam bentuk yang lain, maka mereka berlindung kepada Allāh , supaya tidak terfitnah di dalam ujian ini.

Dan ucapan mereka, “Kami tidak menyekutukan Allāh sedikitpun.” menunjukkan tentang keutamaan tauhīd.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka tidak berbicara kepada Allāh saat itu kecuali para Nabi.”

Maka Allāh berkata:

“Apakah kalian memiliki tanda sehingga kalian mengetahui bahwa Dia adalah Rabb kalian?

Mereka berkata, “Betis”

Maka disingkaplah betis Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Para ulamā mengatakan bahwasanya ini adalah termasuk hadīts yang berisi sifat Allāh, Kewajibah kita berimān bahwasanya Allāh memiliki betis sesuai dengan keagungan-Nya.

Tidak boleh kita ingkari, tidak boleh kita serupakan dengan mahluk, tidak boleh kita takwil, dan tidak boleh kita bertanya tentang bagaimananya.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka sujudlah setiap mukmin.”

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan,

“Tidak tersisa orang yang dahulu sujud untuk Allāh , ikhlās dari dirinya kecuali Allāh akan mengijinkan dia bersujud. Kemudian tidaklah tersisa orang yang dahulu sujud karena hanya ingin melindungi diri dan riya’ kecuali Allāh akan menjadikan punggungnya menjadi rata.

Setiap akan sujud dia jatuh tersungkur di atas tengkuknya.

Maksudnya dia tidak bisa sujud karena punggungnya yang semula memiliki beberapa ruas tulang yang memudahkan dia untuk membungkuk, menjadi hanya memiliki satu ruas tulang yang rata.

Demikianlah keadaan orang-orang yang dahulu menipu Allāh dan orang-orang yang berimān di dunia
Maka Allāh menipu mereka.

Mereka mengira bahwasanya mereka akan selamat dengan tinggalnya mereka saat itu bersama orang-orang yang berimān.

Namun ternyata perkiraan mereka adalah perkiraan yang salah.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Kemudian orang-orang yang berimān mengangkat kepala mereka dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah kembali kepada bentuk-Nya yang semula.

Kemudian Allāh berkata:

“Aku adalah Rabb kalian”.

Mereka pun berkata:

“Engkau adalah Rabb kami”.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلم عليكم ورحمة الّ وبركاته


Keadaan Orang-orang Kafir di Dalam Neraka



🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-51 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir
“Keadaan Orang-orang Kafir Ketika Digiring dan Dikumpulkan ke Neraka”

• Pertama | Mereka akan digiring dengan kasar.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا (١٣) هَـٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِى كُنتُم بِہَا تُكَذِّبُونَ (١٤)

“Pada hari mereka akan didorong ke neraka jahannam dengan keras
Dikatakan kepada mereka, “Inilah neraka yang dahulu kalian dustakan.”

(QS Ath-Thūr: 13-14)

• Kedua | Mereka akan digiring secara berkelompok dan akan disambut oleh para malāikat penjaga neraka, di ambang pintu neraka dengan penuh penghinaan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman yang artinya:

“Orang-orang kāfir akan digiring ke neraka jahannam secara berkelompok-kelompok, sehingga apabila mereka telah sampai ke ambang neraka dibukalah pintu-pintunya.

Dan berkatalah para penjaga neraka kepada mereka:

“Bukankah telah datang kepada kalian, Rasūl-rasūl yang berasal dari kalian yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Rabb kalian, dan mengingatkan kalian pertemuan dengan hari ini?”.

Mereka menjawab: “Benar telah datang”.

Namun telah tetap adzab bagi orang-orang kāfir.

Dikatakan kepada mereka: “Masuklah kalian melalui pintu-pintu neraka jahannam tersebut, sedangkan kalian kekal di dalamnya.

Maka neraka jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”.

(QS Az-Zumar: 71-72)

• Ketiga | Mereka akan dikumpulkan dalam keadaan berjalan di atas wajah-wajah mereka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ٱلَّذِينَ يُحۡشَرُونَ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ إِلَىٰ جَهَنَّمَ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ شَرٌّ۬ مَّكَانً۬ا وَأَضَلُّ سَبِيلاً۬

“Orang-orang yang dikumpulkan ke neraka jahanam dengan berjalan di atas wajah-wajah mereka, mereka itulah orang-orang yang paling jelek kedudukan mereka dan paling sesat jalan mereka.”

(QS Al-Furqān: 34)

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam,

“Wahai Nabi Allāh, bagaimana orang kafir dikumpulkan di atas wajahnya pada hari kiamat?”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

“Bukankah yang telah menjadikan dia berjalan di atas kedua kakinya mampu untuk menjadikan dia berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat?”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

• Keempat | Mereka akan dikumpulkan dalam keadaan buta, bisu dan tuli.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَنَحۡشُرُهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ عُمۡيً۬ا وَبُكۡمً۬ا وَصُمًّ۬ا‌ۖ

“Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat di atas wajah-wajah mereka dalam keadaan buta, bisu dan tuli.”

(QS Al-Isrā’: 97)

Ada sebagian ulamā yang mengatakan bahwasanya mereka buta, bisu dan tuli tidak dalam semua keadaan.

• Kelima | Mereka akan dikumpulkan bersama teman-teman mereka dan sesembahan-sesembahan mereka.

Dan akan saling menyalahkan di antara mereka, sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam neraka.

( Lihat QS Ash-Shāffāt: 22-32)

• Keenam | Sebelum mereka sampai ke neraka, mereka akan mendengar suara neraka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِذَا رَأَتۡهُم مِّن مَّكَانِۭ بَعِيدٍ۬ سَمِعُواْ لَهَا تَغَيُّظً۬ا وَزَفِيرً۬ا

“Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suara neraka yang bergemuruh karena marah.”

(QS Al-Furqān: 12)

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjauhkan kita dan keluarga kita dari neraka jahanam dan memasukkan kita ke dalam surganya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Dikumpulkannya Orang-orang Kafir di Dalam Neraka




🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-50 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Dikumpulkannya Orang-orang Kāfir ke dalam Neraka”

Setelah hisāb di Padang Mahsyar selesai, maka mulailah dipisah antara penduduk Surga dan penduduk Neraka secara bertahap.

Al-Imām Bukhāri dan Muslim meriwayatkan dalam shahīhnya dari Abū Said Al-Khudry Radhiyallāhu ‘anhu dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Bahwasanya kelak di hari kiamat akan ada yang memanggil dan memerintahkan setiap umat untuk mengikuti Tuhan yang dia sembah di dunia.

Maka tidaklah ada manusia yang menyembah selain Allāh seperti patung dan batu, kecuali dia akan berjatuhan ke dalam neraka.

Sehingga tidak tersisa kecuali orang-orang yang berimān baik yang shālih maupun yang fasik dan sebagian kecil atau sisa ahlul kitāb yaitu orang Yahūdi dan Nasrani.

Dikatakan kepada orang Yahūdi:

Apakah yang kalian sembah? Mereka berkata, ” Kami dahulu menyembah Uzair, anak Allāh”. Dikatakan kepada mereka, “Kalian telah berdusta. Allāh tidak memiliki istri dan anak.”

Lalu apakah yang kalian inginkan?

Mereka berkata, “Kami haus”. Maka berilah kami air minum, Karena saat itu Allāh memperlihatkan kepada mereka Jahannam yang dari jauh seperti air.

Maka ditunjukkanlah Jahannam yang dari jauh seperti air tersebut, dan dikatakan kepada mereka,

Apakah kalian tidak mau mendatanginya?

Maka mereka pun dikumpulkan ke Jahannam dan berjatuhan di dalamnya.

Kemudian dikatakan kepada orang-orang Nasrani:

Apakah yang kalian sembah? Mereka berkata, “Kami dahulu menyembah ‘Īsā anak Allāh” Dikatakan kepada mereka,” Kalian telah berdusta” Allāh tidak memiliki istri dan anak. Lalu apakah yang kalian inginkan?

Mereka berkata, “Kami haus, maka berilah kami air minum” Maka ditunjukkanlah Jahannam yang dari jauh seperti air dan dikatakan kepada mereka,

Apakah kalian tidak mendatanginya? Akhirnya mereka pun juga dikumpulkan ke Jahannam dan berjatuhan di dalamnya.

Dan di dalam hadīts Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu yang juga dikeluarkan oleh Al-Bukhāri dan Muslim disebutkan bahwasanya Allāh akan berkata kepada manusia:

“Barang siapa yang menyembah sesuatu maka hendaklah mengikutinya”.

Maka penyembah matahari akan mengikuti matahari, penyembah bulan akan mengikuti bulan, penyembah thaghut akan mengikuti thāghut.

Dan thāghut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allāh.

Kemudian tersisalah umat Islām dan bersama mereka orang-orang munāfiq.

Di dalam hadīts ‘Abdullāh Ibnu Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu disebutkan bahwasanya orang-orang yang dahulu menyembah Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām , maka akan mengikuti syaithān Nabi ‘Īsā yang diserupakan dengan beliau.

Dan yang dahulu menyembah Uzair, maka akan mengikuti syaithān Uzair yang diserupakan dengan beliau

(Hadīts Shahīh Riwayat Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jamul Kabir).

Demikianlah keadaan orang-orang yang menyembah kepada selain Allāh baik orang-orang musyrikin maupun ahlul kitāb, orang Yahūdi dan Nasrani.

Mereka akan dipisahkan dari orang-orang yang menyembah Allāh saja.

Yang mencakup orang-orang yang benar-benar menyembah Allāh , mereka lah orang-orang yang berimān maupun orang-orang yang pura-pura menyembah Allāh.

Dan mereka lah orang-orang munāfiq.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Beberapa Kejadian di Padang Mahsyar



Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-48 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Beberapa Kejadian Di Padang Mahsyar Bagian pertama”

Di antara kejadian di Padang Mahsyar adalah percekcokan antara para pembesar orang-orang kāfir dan para pengikutnya.

Allāh menyebutkan di dalam Surat Sabā’ 31-33 Bahwasanya orang-orang kāfir akan dihadapkan kepada Allāh.

Berkatalah orang-orang yang dianggap lemah kepada pembesar-pembesar mereka, “Kalau bukan karena kalian tentulah kami dahulu menjadi orang-orang yang berimān”

Pembesar-pembesar tersebut membantah dan mengatakan:

Apakah kami yang telah menghalangi kalian dari petunjuk, sesudah petunjuk itu datang kepada kalian?

Tidak!

Sebenarnya kalian sendirilah orang-orang yang berdosa (maksudnya kalian sendirilah yang menginginkan kesesatan dan kami hanya mengajak).

Orang-orang yang dianggap lemah balik membantah dan mengatakan:

Tidak! Sebenarnya tipu daya kalian malam dan siang itulah yang menghalangi kami, ketika kalian menyuruh kami untuk kāfir kepada Allāh dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.

Akhirnya semuanya menyesal tatkala melihat adzab.

Demikianlah keadaan para pembesar dan tokoh masyarakat yang mengajak kepada kesyirikan dan menghalangi manusia dari tauhīd.

Mereka berlepas diri dari para pengikut mereka dan tidak bisa menolong mereka sedikitpun.

Para pengikut akan celaka sebagaimana para tokoh tersebut dan para pembesar juga celaka.

Oleh karena itu seorang muslim hendaknya menyelamatkan dirinya dari neraka.

Jadilah seorang tokoh masyarakat yang mengajak kepada tauhīd.

Dan apabila dia orang yang lemah maka janganlah dia mengikuti kemauan para pembesar ataupun orang banyak apabila dia menghalangi manusia dari tauhīd dan mengajak kepada kesyirikan.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan hidayah kepada kita dan juga mereka.

Menghilangkan rasa cinta dunia yang berlebihan dalam diri kita dan menghilangkan kesombongan dari dalam diri kita dan menjadikan rasa takut kita hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan di antara kejadian di Padang Mahsyar bahwasanya Allāh akan bertanya kepada orang-orang musyrikin tentang sesembahan selain Allāh yang mereka sembah di dunia.

Dimanakah mereka pada hari tersebut.

Dan Allāh akan bertanya kepada mereka tentang bagaimana sikap mereka terhadap ajakan para rasūl ‘alayhissalām.

Di dalam Surat Al-Qashash 62-66

Allāh akan memanggil orang-orang musyrikin dan menghina mereka dengan bertanya, “Di manakah sekutu-sekutu Ku yang dulu kalian sangka mereka adalah sekutu-sekutu Ku?

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan berkata kepada orang-orang musyrikin:

Berdo’alah kalian kepada sekutu-sekutu kalian.

Maka merekapun berdo’a kepada sesembahan-sesembahan mereka di dunia.

Meminta pertolongan kepada mereka dalam keadaan genting tersebut sebagaimana mereka dahulu meminta di dunia.

Maka sesembahan-sesembahan tersebut tidak bisa berbuat apapun dan tidak menjawab seruan mereka.

Barulah mereka mengetahui bahwasanya sesembahan-sesembahan tersebut tidak bisa menolong mereka sedikitpun.

Allāh juga akan bertanya kepada mereka, Apakah jawaban kalian terhadap ajakan para rasūl? (Yaitu) apakah kalian membenarkan mereka? Dan mengikuti ajakan mereka untuk bertauhīd?

Demikianlah keadaan orang-orang musyrikin sesembahan-sesembahan mereka di dunia tidak bisa mengabulkan do’a mereka ketika sangat dibutuhkan.

Tidak bisa menolong mereka di hadapan Allāh, bahkan mereka berlepas diri.

Allāh berfirman:

وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُ ۥۤ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَـٰمَةِ وَهُمۡ عَن دُعَآٮِٕهِمۡ غَـٰفِلُونَ (٥)وَإِذَا حُشِرَ ٱلنَّاسُ كَانُواْ لَهُمۡ أَعۡدَآءً۬ وَكَانُواْ بِعِبَادَتِہِمۡ كَـٰفِرِينَ (٦)

“Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang-orang yang berdo’a kepada selain Allāh yang tidak bisa mengabulkan sampai hari kiamat. Dan mereka lalai dari do’a orang yang berdo’a kepada mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan, mereka akan menjadi musuh bagi orang-orang yang menyembah mereka. Dan mereka akan mengingkari ibadah yang dilakukan orang-orang musyrikin terhadap mereka.”

(QS. Al-Ahqāf : 5-6)

Adapun orang yang bertauhīd, maka Allāh akan menolong mereka di dunia maupun di akhirat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-49 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Beberapa Kejadian Di Padang Mahsyar Bagian kedua”

Di antara kejadian di Padang Mahsyar bahwasanya Allāh akan bertanya kepada para malāikat dan Nabi ‘Īsā. ‘alayhissalām.

Allāh menyebutkan di dalam Surat Sabā’ 40-42 Bahwasanya di Padang Mahsyar Allāh akan bertanya kepada para malāikat yang disembah oleh sebagian manusia.

Sebagai penghinaan terhadap orang-orang musyrikin yang dahulu menyembah mereka.

Apakah mereka ini dahulu menyembah kalian?

Para malāikat menjawab:

“Maha Suci Engkau, Engkau-lah pelindung kami, bukan mereka. Akan tetapi sebenarnya mereka dahulu telah menyembah jinn. Kebanyakan mereka berimān kepada jin tersebut”

Maksudnya bahwasanya orang-orang musyrikin ketika menyembah selain Allāh, baik orang shālih, benda mati dan lain-lain, maka pada hakikatnya mereka menyembah jinn, karena yang menyuruh mereka untuk menyekutukan Allāh adalah jinn.

⇒Apabila mereka menaati, berarti mereka telah menyembah jin tersebut.

Para malāikatpun tidak berkuasa untuk memberikan manfaat, dan tidak pula mudharat kepada orang-orang yang telah menyembah mereka.

Para penyembah malāikat itu pun akan diadzab oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di dalam Surat Al-Māidah : 116-117
Allāh menyebutkan bahwasanya Allāh akan bertanya kepada Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām sebagai penghinaan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla terhadap orang-orang nashrāni yang menjadikan beliau dan ibu-ibu beliau sebagai Tuhan.

Wahai ‘Īsā putra Maryam, Apakah engkau dahulu pernah mengatakan kepada manusia, “Jadikanlah aku dan ibuku dua Tuhan selain Allāh ?

‘Īsā ‘alayhissalām menjawab:

“Maha Suci Engkau tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku untuk mengatakannya”.

Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau mengetahuinya.

Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada dirimu.

Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib.

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku untuk mengatakannya, yaitu “Sembahlah Allāh Rabb-ku dan Rabb kalian”.

Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku hidup, maka setelah Engkau wafatkan atau angkat aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka.

Dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.

Demikianlah keadaan para malāikat dan Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām.

Mereka adalah mahluk yang taat beribadah kepada Allāh.

Senang apabila manusia hanya menyembah kepada Allāh dan mereka tidak pernah menyuruh manusia menyembah diri mereka.

Demikian pula orang-orang yang shālih dan wali-wali Allāh.

Manusia yang terlalu berlebih-lebihan terhadap mereka,

√ Mereka membuat patung mereka,
√ Mereka memajang gambar mereka,
√ Mereka membangun dan menghias kuburan mereka,
√ Mereka meyakini bahwasanya mereka mengetahui sesuatu yang ghaib,
√ Mereka berdo’a kepada mereka,
√ Mereka bepergian jauh untuk berziarah ke makam mereka,
√ Mereka beri’tikāf di kuburan mereka,
√ Mereka menyerahkan sebagian ibadah kepada mereka,
√ Mereka membangun masjid di atas kuburan mereka, atau
√ Mereka memasukkan kuburan mereka di dalam masjid,
√ Mereka bertawassul dengan do’a mereka setelah mereka meninggal dunia atau menganggap orang-orang shālih tersebut bisa mendekatkan diri mereka kepada Allāh, ini semua termasuk berlebihan.

Jangan sampai keadaan seseorang seperti keadaan kaum Nabi Nūh ”alayhissalām yang berlebihan terhadap lima orang shālih yang disebutkan dalam Surat Nūh : 23

Atau seperti keadaan sebagian orang yang mengaku mencintai Ali bin Abi Thalib, Fātimah, Hasan, Husain dan sebagian keturunan beliau Radhiyallāhu ‘anhum, kemudian berlebih-lebihan terhadap mereka.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Telaga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam




Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-47 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang ” Telaga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam”

Diantara berimān kepada hari akhir adalah Berimān tentang Adanya Telaga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada Hari Kiamat.

Hadīts -hadīts yang datang di dalam masalah ini mencapai derajat mutawwatir.

Diantaranya adalah sabda beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً وَإِنِّي أَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً

“Sesungguhnya setiap Nabi memiliki telaga dan sesungguhnya mereka akan saling berbangga siapa di antara mereka yang telaganya paling banyak didatangi. Dan aku berharap akulah yang telaganya akan paling banyak didatangi.”

(Hadīts ini dishahīhkan oleh Tirmidzi)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

حَوْضِيْ مَسِيْرَةُ شَهْرٍ، مَا ؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيْحُهُ أَطْيَبُ مِنَ اْلمِسْكِ وَكِيْزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ مَنْ شَرِبَ مِنْهَ فَلاَ يَظْمَأُ أَبَدًا

“Telagaku sepanjang 1 bulan perjalanan, airnya lebih putih dari pada susu dan baunya lebih wangi dari minyak kesturi dan kiizān-nya yaitu sejenis teko sebanyak bintang di langit. Barangsiapa meminum darinya maka dia tidak akan haus selama-lamanya.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Sebagian ulamā mengatakan bahwasanya seandainya dia masuk ke dalam neraka setelah itu karena dosa yang dia lakukan maka dia tidak akan diazab dengan rasa haus.

Umat beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan mendatangi telaga beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan meminum darinya.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan yang artinya:

• Dan aku akan menolak manusia dari telagaku sebagaimana seseorang menolak unta orang lain dari telaganya

Maka para shahābat bertanya kepada beliau:

“Wahai Rasūlullāh , apakah engkau mengenal kami pada hari tersebut?”

Beliau menjawab:

“Iya….Kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki umat-umat yang lain. Kalian akan mendatangi telagaku dalam keadaan putih wajah, tangan dan kaki kalian dari bekas berwudhu”.

(Hadīts Riwayat Muslim)

Orang yang berimān ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam masih hidup kemudian dia murtad sepeninggal beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka akan dijauhkan dari telaga beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dalam sebuah hadīts, beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan yang artinya:

“Aku akan mendahului kalian diatas telaga dan akan dinampakkan beberapa orang diantara kalian kemudian tiba-tiba dijauhkan dariku.

Akupun bertanya, “Wahai Rabb-ku, Bukankah mereka adalah para sahabatku?” Maka dikatakan kepada beliau, Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan setelah dirimu.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim, dari ‘Abdullāh bin Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu)

Di dalam hadīts yang lain dikatakan kepada beliau:

“Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka rubah setelahmu.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Sebagian ulamā mengatakan bahwasanya membuat bid’ah di dalam agama termasuk merubah yang dimaksud di dalam hadīts ini.

Dikhawatirkan dia tidak bisa meminum dari telaga Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam Namun, bukan berarti apabila dia masuk ke dalam neraka dia kekal di dalamnya.

Karena yang kekal di neraka hanyalah orang-orang kāfir.

Dua hadīts terakhir menunjukkan bahwa setelah meninggal dunia, beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak mengetahui apa yang dilakukan umatnya.

Semoga Allāh menjadikan kita termasuk orang-orang yang bisa meminum dari telaga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada hari dimana kita sangat membutuhkannya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Mizan (Timbangan) dan Penimbangan Amal




🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-46 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Mizān (timbangan) dan penimbangan amal

Di antara berimān kepada hari akhir adalah berimān dengan adanya mizān dan penimbangan amal.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئ

“Dan Kami akan meletakkan timbangan-timbangan yang adil pada hari kiamat, maka tidak ada seorangpun yang akan dizhālimi sedikitpun.”

(QS Al Anbiyā: 47)

Sebagian ulamā berpendapat bahwasanya penimbangan amal dilakukan setelah hisāb.

Karena:

√ Hisāb adalah untuk menghitung amalan.

√ Penimbangan adalah untuk menampakkan hasil dari perhitungan tersebut dan menunjukkan keadilan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Akan ditimbang hasanah dan sayyiah dengan timbangan yang hakiki.

Memiliki dua kiffah yaitu piringan timbangan.

Memiliki sifat berat dan ringan dan bisa miring karena amalan.

Allāhu a’lam tentang tentang hakikatnya dan bagaimananya.

Allāh berfirman:

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون.
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُون.

“Dan barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri, di dalam Jahannam mereka akan kekal.”

(QS Al Mu’minun: 102-103)

Dalam hadīts shahīh yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Mājah disebutkan bahwasanya catatan dosa-dosa akan ditaruh di kiffah dan bitaqah (kartu yang bertuliskan ‘Lā ilāha illallāh) akan ditaruh di kiffah yang lain.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

يُوْضَعُ الْمِيْزَانُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَلَوْ وُزِنَ فِيْهِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ لَوَسِعَتْ، فَتَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ: يَا رَبِّ! لِمَنْ يَزِنُ هَذَا؟ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: لِمَنْ شِئْتُ مِنْ خَلْقِيْ،

“Akan diletakkan mizān pada hari kiamat, seandainya langit dan bumi di timbang didalamnya niscaya akan cukup,

Bertanyalah para Malāikat wahai Rabb untuk siapakah timbangan ini?

Maka Allāh berfirman, “untuk orang yang aku kehendaki dari para makhluk ku.”

(Hadīts shahīh diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam Al mustadrak)

Para ulamā berbeda pendapat tentang berapakah jumlah mizān di hari kiamat.

Apakah satu timbangan atau banyak, karena masing-masing manusia memiliki timbangan atau masing-masing amalan ada timbangan khusus. Allāhu a’lam.

Amalan yang paling berat di dalam timbangan pada hari kiamat adalah dua kalimat syahadah.

Dari Abdullāh ibnu ‘Amr ibnul Ash Radhiyallāhu ‘anhuma, beliau berkata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allāh akan memilih seseorang dari umatku di hadapan makhluk-makhluk yang lain pada hari kiamat.”

Maka dibukalah di hadapannya 99 sijil.

⇒Makna sijil adalah kitāb besar

Dan maksud beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah kitāb yang berisi dosa-dosa hamba tersebut.

Kemudian beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Setiap sijil besarnya sejauh mata memandang.”

Kemudian Allāh bertanya kepada hamba tersebut, “Apakah ada di antara isi kitāb tersebut yang engkau ingkari?”

Apakah para malāikat penulis telah menzhālimimu ?

Hamba tersebut menjawab, “Tidak wahai Rabb-ku”

Allāh bertanya, Apakah kamu memiliki alasan? Dia kembali menjawab, “Tidak wahai Rabb-ku”

Maka Allāh pun berkata, “Sesungguhnya engkau memiliki hasanah di sisi kami”

Dan sesungguhnya engkau tidak akan dizhālimi pada hari ini.

Maka dikeluarkanlah sebuah kartu bertuliskan “Asyhaduallā ilā ha illallāh wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasūluh”.

Allāh pun berkata, Lihatlah timbanganmu,

Hamba tersebut mengatakan,
Wahai Rabb-ku apa arti sebuah kartu ini dibandingkan dengan sijjil yang begitu banyak?

Maka Allāh berkata, “Sesungguhnya engkau tidak akan dizhālimi.

Diletakkanlah sijjil yang banyak tersebut, di satu piringan timbangan dan diletakan kartu di satu piringan timbangan yang lain.

Maka ringanlah sijjil yang banyak dan beratlah kartu tersebut.

Kemudian beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

Tidak ada sesuatu yang mengalahkan beratnya nama Allāh

(Hadīts Shahīh Riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Mājah).



Di antara amalan yang sangat memberatkan timbangan pada hari kiamat adalah akhlak yang baik.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat di dalam timbangan dari pada akhlak yang baik.”

(Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd dan Tirmidzi).

Di antara akhlak yang baik adalah

• Menyambung orang yang memutus kita
• Memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepada kita
• Memaafkan orang yang menzhālimi kita.

Di antara amalan yang berat adalah ucapan “Subhanallāhi wa bihamdih subhanallāhil ‘azhīm”.

Sebagaimana didalam hadīts yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim.

Di antara amalan yang memenuhi timbangan adalah ucapan “Alhamdulillah”

Sebagaimana dalam sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim.

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim senantiasa memperbaiki dua kalimat syahadat yang dia ucapkan.

Berusaha untuk memahami maknanya dan mengamalkan isinya dan istiqamah di atas keduanya sampai meninggal dunia.
Di samping itu hendaknya dia memperbaiki ibadahnya kepada Allāh dan akhlaknya kepada manusia.

Melakukan itu semua karena Allāh dan untuk memperberat timbangannya di hari kiamat.

Orang yang berbahagia adalah orang yang lebih berat timbangan kebaikannya dari pada kejelekannya.

Dan orang yang celaka adalah orang yang lebih ringan timbangan kebaikannya dari pada kejelekannya.

Sebagaimana disebutkan oleh Allāh di dalam Surat Al-Qariah.

Orang kāfir tidak memiliki sesuatu yang memberatkan timbangan mereka, Karena amalan mereka batal dengan kesyirikan dan kekufuran

(Lihat Surat Al-Kāhfi : 103-106)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya akan datang seseorang yang besar lagi gemuk pada hari kiamat akan tetapi beratnya di sisi Allāh tidak lebih berat dari satu sayap dari seekor nyamuk.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Dalīl-dalīl di atas menunjukkan bahwasanya nya ada tiga perkara yang akan ditimbang pada hari kiamat.

⑴ Amalan
⑵ Orang yang mengamalkan
⑶ Kitāb catatan amalan

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Allah menjaga kita

Andai Allah memperlihatkan semua cara-Nya menjagamu, mungkin hari ini engkau akan lebih banyak menangis karena syukur daripada mengeluh kare...