menciptakannya. Inilah Allah sebagai zat yang maha zahir. Allah berfirman yang artinya, Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Qs. al-Hadid: 3).
ALLAH AZH ZHAAHIR
AzZhaahir secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha nyata adanya. Karena sangat nyata, maka justru tak terlihat oleh mata lahir kita, tapi akan nampak jelas pada mata batin kita. Seperti halnya, mata lahir kita justru tidak bisa melihat apa-apa ketika kita menatap melihat matahari yang tengah menyala di waktu dhuhur tiba. Matahari ciptaan-Nya saja yang begitu besar, justru tidak sanggup terlihat, apalagi Allah zat yang
ALLAH AL AAKHIR
AlAakhir secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha
akhir tidak berkesudahan alias kekal abadi. Allah berfirman yang
artinya, Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Qs. al-Hadid: 3).
ALLAH AL AWWAL
Al-Awwal secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha awal, tidak ada sesuatupun dan sesiapapun yang
mendahului-Nya. Oleh karenanya Allah sebagai Prima Causa, bahwa segala sesuatu adanya disebabkan karena diadakan olehNya. Allah juga tidak berhajad pada apapun dan sesiapapun, dan justru sebaliknya apapun dan sesiapapun berhajad pada Allah
swt. Inilah Allah yang maha awal. Allah berfirman yang artinya, Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin,
dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Qs. al-Hadid: 3).
ALLAH AL MUAKKHIR
Al-Mu’akkhir secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang
maha mengakhirkan apa dan siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Siapa saja yang dikehendaki-Nya ini tentu merupakan respon atas keteledoran manusia yang telah menempatkan Allah di
akhir prioritas hidupnya. Karena manusia mengakhirkan Allah, maka Allah pun nengakhirkan dirinya dari rahmat-Nya. Karena manusia melupakan Allah, maka Allah pun melupakannya. Karena manusia menjauhi Allah, maka Allah pun jauh darinya dan seterusnya.
Allah mengingatkan dalam firman-Nya yang artinya, Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka
sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik” (Qs. al-Hasyr: 18-19).
ALLAH AL MUQADDIM
Al-Muqaddim dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mendahulukan atas apapun berdasarkan kemahabijakan-Nya.
Hal apapun, baik yang didahulukan maupun yang tidak adalah otoritas kemahamutlakan Allah.
Allah berfirman yang artinya, Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (Qs. al-A’râf: 34).
ALLAH AL MUQTADIR
Secara terminologi, al-Muqtadir
memiliki asal kata yang sama dengan al-Qaadir asmaul husnaNya Allah yang keenampuluh sembilan tema muhasabah yang baru lalu, yaitu qadara dan darinya muncul qudrah. Bila alQaadir dimaknai bahwa Zat Allah lah yang memiliki qudrah atau kemampuan, maka al-Muqtadir untuk lebih menyatakan bahwa kemampuan, kekuasaan atau qudrah Allah tidak ada batasnya, tidak ada sandingan, bandingan dan tandingannya.
Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya, Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia
sebagai air hujan yang kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu (Qs. alKahfi: 45).
ALLAH AL QAADIR
Al-Qaadir dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mampu, Allah maha kuasa, Allah maha menentukan dan Allah maha segala-Nya atas makhluk ciptaan-Nya.
Dalam konteks al-Qaadir, Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya, dan mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata: “Mengapa tidak diurunkan kepadanya (Muhammad) sesuatu mukjizat dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah Kuasa menurunkan sesuatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (Qs. al-An’am: 37).
Langganan:
Postingan (Atom)
Manfaat Mempelajari Iman Kepada Hari Akhir
👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى 📗 Beriman Kepada Hari Akhir السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته الحمد لله والصلاة والسلام على ر...
-
Beberapa Atsar yang Memperingatkan Perbuatan-perbuatan Maksiat: Adalah para al-Salaf al-Shaleh-dengan semangat mereka untuk menjaga apa y...
-
. . Rasulullah saw. bersabda: Tidaklah tergelincir kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, untuk apa d...
-
Sebuah aktivitas bisa di kategorikan menggunakan prinsip tawakal apabila terdapat 4 unsur, yaitu sebagai berikut : 1. Mujahadah, artinya sun...