ALLAH AL MUQTADIR

Secara terminologi, al-Muqtadir
memiliki asal kata yang sama dengan al-Qaadir asmaul husnaNya Allah yang keenampuluh sembilan tema muhasabah yang baru lalu, yaitu qadara dan darinya muncul qudrah. Bila alQaadir dimaknai bahwa Zat Allah lah yang memiliki qudrah atau kemampuan, maka al-Muqtadir untuk lebih menyatakan bahwa kemampuan, kekuasaan atau qudrah Allah tidak ada batasnya, tidak ada sandingan, bandingan dan tandingannya.

Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya, Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia
sebagai air hujan yang kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu (Qs. alKahfi: 45).

ALLAH AL QAADIR

Al-Qaadir dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mampu, Allah maha kuasa, Allah maha menentukan dan Allah maha segala-Nya atas makhluk ciptaan-Nya.
Dalam konteks al-Qaadir, Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya, dan mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata: “Mengapa tidak diurunkan kepadanya (Muhammad) sesuatu mukjizat dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah Kuasa menurunkan sesuatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (Qs. al-An’am: 37).

ALLAH ASH SHAMAD

As-Shamad dimaknai bahwa Allah adalah Zat tempat berlindung, Allah adalah tujuan, Allah sebagai zat yang bergantung semua makhluk. Mengapa? Karena semua makhluk diciptakan oleh Allah. Maka logikanya hanya kepada penciptaNya saja manusia berserah diri dan meminta pertolongan. Dalam surat al-Ikhlas, Allah berfirman yang artinya, Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Dzat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula
diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

ALLAH AL AHAD

Makna al-’Ahad terjalin berkelindan dengan al-Wahid sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Bila al-Wahid lebih cenderung dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Pertama, zat Yang Maha Nomor Satu; maka al-’Ahad dipahami bahwa Allah adalah yang maha satu-satunya, tidak ada duanya, tidak ada sandingan, bandingan dan tandingann-Nya.

Secara lugas Allah berfirman, qul huwallahu ahad, Katakanlah Dialah Allah yang Maha Esa” (Qs. al-Ikhlas: 1). Di tempat lain, Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya Sesungguhnya kafirlah
orang-orang yang mengatakan: ”Bahwasanya Allah salah seorang
dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Allah yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antaranya mereka
akan ditimpa siksaan yang pedih (Qs. al-Mâ`idah: 73).

ALLAH AL WAHID

Al-Wahid dipahami bahwa Allah maha pertama, esa, Allah itu Satu maka harus dinomorsatukan, dan menjadi tidak etis bila dikemudiankan meskipun dengan alasan apapun juga.

Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ”Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Allah yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antaranya mereka akan ditimpa siksaan yang pedih (Qs. alMâ`idah: 73).

ALLAH AL MAAJID

AlMaajid secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mulia, baik mulia zat-Nya, mulia sifat-Nya maupun mulia perbuatan-Nya.
Kemuliaan Allah pada zat-Nya memantul dalam kesempurnaan eksistensi-Nya, sehingga tidak ada yang menyerupai apalagi menandingi-Nya. Kemuliaan Allah pada sifatNya mewujud dalam seluruh puncak kebaikan adalah milik-Nya saja. Dan kemuliaan Allah pada af’al atau perbuatan-Nya terlihat pada curahan nikmat dan karunia kepada seluruh makhluk-Nya.

Allah berfirman yang maknanya, Para malaikat itu berkata: ”Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, Hai ahlulbait! Seseungguhnya Allah Maha terpuji lagi
Maha Pemurah” (Qs. Hûd: 73). 

Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih,
yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha Mulia, (Qs. al-Buruj: 13-15).

ALLAH AL WAJIID

Allah al-Waajid, karena dengan kekuasaan-Nya Allah yang menciptakan segala yang ada ini, Allah menemukan apapun
yang dikehendaki-Nya. Allah menciptakan segala kebaruan yang ada di alam ini, Allah menemukan dan mengetahui apapun niat, pikiran dan perbuatan yang manusia lakukan.

Allah berfirman yang artinya, Dan orang-orang yang kafir berkata: “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami”.
Katakanlah: “Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang
ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Qs. Saba: 3).

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...