ALLAH ASH SHAMAD

As-Shamad dimaknai bahwa Allah adalah Zat tempat berlindung, Allah adalah tujuan, Allah sebagai zat yang bergantung semua makhluk. Mengapa? Karena semua makhluk diciptakan oleh Allah. Maka logikanya hanya kepada penciptaNya saja manusia berserah diri dan meminta pertolongan. Dalam surat al-Ikhlas, Allah berfirman yang artinya, Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Dzat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula
diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

ALLAH AL AHAD

Makna al-’Ahad terjalin berkelindan dengan al-Wahid sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Bila al-Wahid lebih cenderung dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Pertama, zat Yang Maha Nomor Satu; maka al-’Ahad dipahami bahwa Allah adalah yang maha satu-satunya, tidak ada duanya, tidak ada sandingan, bandingan dan tandingann-Nya.

Secara lugas Allah berfirman, qul huwallahu ahad, Katakanlah Dialah Allah yang Maha Esa” (Qs. al-Ikhlas: 1). Di tempat lain, Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya Sesungguhnya kafirlah
orang-orang yang mengatakan: ”Bahwasanya Allah salah seorang
dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Allah yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antaranya mereka
akan ditimpa siksaan yang pedih (Qs. al-Mâ`idah: 73).

ALLAH AL WAHID

Al-Wahid dipahami bahwa Allah maha pertama, esa, Allah itu Satu maka harus dinomorsatukan, dan menjadi tidak etis bila dikemudiankan meskipun dengan alasan apapun juga.

Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ”Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Allah yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antaranya mereka akan ditimpa siksaan yang pedih (Qs. alMâ`idah: 73).

ALLAH AL MAAJID

AlMaajid secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mulia, baik mulia zat-Nya, mulia sifat-Nya maupun mulia perbuatan-Nya.
Kemuliaan Allah pada zat-Nya memantul dalam kesempurnaan eksistensi-Nya, sehingga tidak ada yang menyerupai apalagi menandingi-Nya. Kemuliaan Allah pada sifatNya mewujud dalam seluruh puncak kebaikan adalah milik-Nya saja. Dan kemuliaan Allah pada af’al atau perbuatan-Nya terlihat pada curahan nikmat dan karunia kepada seluruh makhluk-Nya.

Allah berfirman yang maknanya, Para malaikat itu berkata: ”Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, Hai ahlulbait! Seseungguhnya Allah Maha terpuji lagi
Maha Pemurah” (Qs. Hûd: 73). 

Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih,
yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha Mulia, (Qs. al-Buruj: 13-15).

ALLAH AL WAJIID

Allah al-Waajid, karena dengan kekuasaan-Nya Allah yang menciptakan segala yang ada ini, Allah menemukan apapun
yang dikehendaki-Nya. Allah menciptakan segala kebaruan yang ada di alam ini, Allah menemukan dan mengetahui apapun niat, pikiran dan perbuatan yang manusia lakukan.

Allah berfirman yang artinya, Dan orang-orang yang kafir berkata: “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami”.
Katakanlah: “Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang
ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Qs. Saba: 3).

ALLAH AL QAYYUM

Al-Qayyum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mandiri. Allah mandiri dengan sendirinya, baik zat-Nya, sifatNya maupun af’al atau perbuatan-Nya. Allah tidak tergantung kepada apapun dan siapapun, justru tempat bergantung apapun dan siapapun.

Para ulama memberi penegasan bahwa al-Qayyum dapat dimaknai dengan dua makna. Pertama, Allah adalah zat yang
maha mandiri, Allah berdiri sendiri tidak membutuhkan bantuan justru malah membantu, tidak memerlukan sesuatu justru malah diperlukan oleh hamba-hamba-Nya. Kedua, Allah adalah zat yang
maha mengatur dan memenuhi hajat makhluk-Nya. Seluruh yang ada di alam ini teratur karena diatur oleh Allah. Semua
manusia membutuhkan Allah, dari sejak penciptaannya hingga kapanpun jua.

Allah berfirman yang artinya katakanlah, “Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?” Sebenarnya mereka adalah orangorang yang berpaling dari mengingati Rabb mereka (Qs. al-Anbiyâ: 42). 

ALLAH AL HAYYU

Al-Hayyu dipahami bahwa Allah adalah Rabb yang maha hidup, sumber kehidupan, dan maha menghidupkan seluruh makhlukNya. Allah berfirman yang maknanya, adalah Allah, tidak ada
Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)” (Qs. al-Baqarah: 255).

Manfaat Mempelajari Iman Kepada Hari Akhir

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى 📗 Beriman Kepada Hari Akhir السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته الحمد لله والصلاة والسلام على ر...