ZUHUD

Zuhud adalah benci akan dunia, maka berada pada martabat yang tinggi, yang terlebih lagi hampir kepada kedekatan yang lebih dekat Allah taala, karena benci akan dunia yang membuat kedekatannya dengan Allah taala. Diriwayatkan dari Sahal ibn Sa’ad as-Saidi r.a bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah s.a.w dan berkata: “Wahai Rasulullah, tunjukanlah kepadaku suatu pekerjaan yang apabila aku mengerjakanya, maka
Allah dan manusia akan mencintaiku.” Rasulullah s.a.w bersabda
kepadanya : “Berzuhudlah engkau terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan berzuhudlah engkau terhadap apa-apa yang ada di manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.”
(HR.Ibnu Majah)

Hakikat Zuhud
Berkata Imam Ghazali, “Ketahuilah olehmu bahwasanya zuhud di dalam dunia itu merupakan salah satu maqam yang mulia
daripada beberapa maqam orang yang salik.”

Di antara doa kaum sufi yang mulia adalah doa: “Ya Allah letakkan dunia ditangan kami, dan jangan kau letakkan di hati
kami.” Inilah yang dimaksud dengan zuhud, yang kosongnya hati dari ikatan pada dunia atau cinta dunia, hingga sekalipun tangan penuh dengan dunia.

TAUBAT

Makna taubat itu kembali/meninggalkan daripada perbuatan maksiat kepada perbuatan taat dan taubat itu merupakan
awal dari perjalan bagi salik yang berjalan kepada haq dan ketentuan Allah swt, karna taubat itu membawa kepada perbuatan
ibadah yang mengarah kepada kasih sayang Allah taala, dan dengan kasih sayang Allah taala, membawa kita kepada dekat kepadaNya. Dengan dekat kepadaNya niscaya dapat membawa
kepada segala kebajikan dunia dan jadi mulia pada pandanganNya.Firman Allah taala dalam Surah An-Nisa’ ayat 17
yang berbunyi:
Artinya: “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran
kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, Maka
mereka Itulah yang diterima Allah taubatnya dan Allah Maha
mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Syarat-syarat Taubat
Adalah taubat itu sahlah dengan tiga syarat:
1) Meninggalkan maksiat yang telah diperbuat
2) Menyesali atas maksiat yang telah diperbuat
3) Berkeinginan besar untuk tidak kembali kepada melakukan kemaksiatan.
Maka jika tidak ada satu pun syarat dari ketiga syarat diatas, maka tidak sahlah taubatnya.

Faedah Taubat
Dalam taubat itu ada dua faedahnya:
Pertama: mengkifaratkan (menghapuskan) dosanya sepertimana
sabda Nabi Saw.:
التائب من الذنب كمن الذنب له
Artinya: Orang yang bertaubat dari dosanya adalah seperti orang yang tidak ada dosa baginya.
Kedua: mendapat derajat yang mulia dan tinggi apabila ia jadi kekasih Allah Taala, sebagaimana firman-Nya:
Artinya: “sesungguhnya Allah mengasihani akan orang yang bertaubat dan mengasih akan orang-orang yang sentiasa
mensucikan dirinya daripada segala ‘aib dan najis”

GAMBAR QUOTES PENGHAFAL ALQURAN

ALLAH ASY SYAKUUR

As-Syakuur sebagai salah satu asma-Nya Allah secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha berterima kasih,
zat yang sangat apresiatif terhadap amalan baik hamba-hambaNya sekecil apapun itu, untuk kemudian segera mengaruniakan balasan yang berlipat-lipat ganda kepadanya...

Allah berfirman yang artinya Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka
dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (Qs. Fathir: 30). 
Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang Telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi
Maha Mensyukuri (Qs. Fathir: 34).

Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (Qs. Asy-Syura: 23)

 Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. dan Allah Maha pembalas Jasa lagi Maha Penyantun (Qs.
At-Taghabun: 17).

Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri
kebaikan lagi Maha Mengetahui (Qs. al-Baqarah: 158).

 Dan, mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman dan
Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui (Qs. anNisa’: 147).

ALLAH AL GHAFUUR

Asma al-Ghaffaar, dan al-Ghafuur, serta istilah maghfirah untuk menyatakan bahwa Allah maha mengampuni dosa namun dosa itu masih ada. Mengapa? Karena dosa tersebut hanya ditutupi
oleh Allah di dunia dan di akhirat nanti juga ditutupi sehingga tidak kelihatan dari pandangan makhluk. Dengan kemurahanNya, Allah tidak menyiksa seseorang karena dosa tersebut, tapi
dosa itu masih ada. Nah dosa akan diampuni dan dihapus sehingga
tidak ada dosa lagi diperuntukkan bagi Allah al-’Afuww. Karena dosa sudah dihapus maka dosa yang dilakukan sudah tidak ada; seolah-olah, ia tidak pernah melakukan kesalahan. Karena dosa
itu telah dihilangkan dan dihapuskan sehingga bekasnya tidak lagi terlihat. Dengan demikian pemberian maaf dengan melebur dosanya lebih istimewa ketimbang mengampuni dengan sekedar
menutupi dosa dalam kesalahannya saja.
Dalam konteks Allah al-Ghaffaar dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mengampuni segala dosa dari segi kuantitasnya, Sedangkan al-Ghafuur adalah mengampuni dosa dari segi
kualitasnya. Oleh karenanya bagi sesiapa yang sering melakukan kesalahan diharapkan sering-sering menyebut al-Ghaffaar agar Allah mengampuni segala dosanya, sedangkan yang melakukan
kesalahan berat atau dosa-dosa berat diharapkan segera banyakbanyak menyebut Allah al-Ghafuur agar mendapat pengampunanNya...

Namun demikian ada juga ulama yang berpendapat bahwa alGhaffaar berorientasi preventif pada kepengampunan dosa masa
kini dan datang. Adapun al-Ghafuur lebih lengkap yaitu Allah mengampuni dosa dari masa lalu, kini hingga masa mendatang.
Allah berfirman yang maknanya, katakanlah: “Jika kamu (benarbenar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu“. Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang (Qs. Ali Imran: 31).

KUPUJI ALLAH KARENA EMPAT PERKARA



Dari Asy Sya’bi bahwa Syuraih, rohimahumallah, berkata,

“Sesungguhnya aku pernah ditimpa musibah..
Maka aku memuji Allah karena EMPAT perkara..

– Kupuji Allah karena tidak diberikan musibah yang lebih berat dari itu..

– Kupuji Allah karena aku diberikan kesabaran..

– Kupuji Allah karena telah memberikanku taufiq untuk istirja’.. sehingga aku dapat berharap pahala..

– Kupuji Allah karena musibah itu tidak menimpa agamaku..”

Siyar A’laam An Nubalaa 4/105, Diterjemahkan oleh, Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Ketika mendapat musibah maka lihatlah ke bawah, banyak yang lebih menderita daripada kita, sehingga kita bersyukur dan ridho menerima takdir Allah... Tak ada satupun manusia yang terlepas dari musibah, bahkan semakin taat dan takwa kepada Allah maka ujiannya lebih berat namun disamping itu ada ganjaran dari Allah yang tak ternilai.... Bersyukurlah jika musibah hanya menimpa pada duniawi, karena segala sesuatu yang bersifat duniawi itu akan hancur dan fana... Jika musibah menimpa ukhrawi maka hal ini amat sangat berat, karena dengan demikian akan menjauhkan kita dari naungan Rahmat Allah, dan mengikis bekal kita untuk perjalanan akhirat.... Ya Allah kami berlindung dariMu dari fitnah dunia dan kami berlindung kepadaMu dari fitnah di akhirat...

PENTINGNYA TAWAKAL

Anda kalau nggak punya kepasrahan, stres.. karena selalu memikirkan apa yang mau dikerjakan dan selalu orientasi pada hasil, kita punya tawakal.

Sekarang siapa yang paling mampu menguasai? siapa yang paling hebat menyelesaikan segala hal? siapa yang punya segalanya? Bukankah Allah? Orang-orang yang punya tingkat tawakal yang tinggi.. maka satu, dia akan lebih stabil keadaan mentalnya dan tidak akan pernah gelisah dengan kekecewaan. Karena tawakal itu kalau sudah kepasrahan pasti menerima hasil, kalau sudah tawakal terserah Allah tetapkan apa saja...

> Saluran Ust Adi Hidayat

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...