Menghadapi Musibah



Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,

“Barangsiapa yang memahami keadaan lautan kehidupan dunia dan mengetahui bagaimana gelombang itu kadang bisa pasang dan juga surut, maka tahulah ia bagaimana harus bersabar menghadapi keganasan hari-hari kehidupan, dan ia tidak akan pernah merisaukan turunnya bala’, dan tidak akan pula pernah begitu kaget dengan kegembiraan yang terkadang datang begitu tiba-tiba..”

Shoidul Khothir – 210

Ahli bala' yakni orang yang ditimpa musibah kelak akan bersyukur ketika melihat ganjaran kebaikan atas kesabaran mereka selama di dunia ditimbang saat Yaumil Mizan... Karena besarnya ganjaran tersebut sehingga orang-orang iri kepadanya dan berharap ditimpa musibah yang sama ketika di dunia...

Janganlah terlalu sedih dengan musibah yang menimpa sehingga menimbulkan keputus asaan dan berprasangka buruk kepada Allah.. jangan pula terlalu gembira kepada kenikmatan dan kebaikan yang datang kepada kita.. sebab keduanya sudah Allah takdirkan dalam garis kehidupan hambaNya... Adapun yang perlu dilakukan ada dua hal.. yakni bersabar dan bersyukur...

Bermuhasabah dirilah ketika musibah itu datang, musibah diundang karena maksiat yang kita lakukan... Karena segala keburukan datangnya dari dalam diri kita.... 

Adapun jika mendapat kebaikan, maka kembalikanlah sanjungan dan pujilah Allah atas kenikmatan tersebut...

Apakah Perkara Sunnah Boleh Ditinggalkan..?



disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah-:

وقد كان صدر الصحابة ومن تبعهم؛
– يواظبون على السنن مواظبتهم على الفرائض،
– ولا يفرقون بينهما في اغتنام ثوابهما

“Dahulu para pemuka sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka:
– merutinkan amalan-amalan sunnah, sebagaimana mereka merutinkan amalan-amalan wajib.
– dan mereka tidak membedakan antara keduanya dalam mengambil manfaat pahalanya..”

Fathul Bari 3/265

Definisi Sunnah zaman kini agaknya kurang tepat jika dibandingkan pengamalan Sunnah dizaman salaf...
Definisi Sunnah zaman kini ialah perbuatan yang apabila dilakukan mendatangkan pahala dan ditinggalkan tidak mendapat dosa... Makna ini memanglah benar... Namun ada yang lebih tepat dan baik yakni: Sunnah adalah apabila ditinggalkan membuat pelakunya merugi dan apabila dikerjakan membuat pelakunya beruntung dan meraih cinta Allah ta'ala... Maka tidak heran generasi salaf seperti sahabat, tabiin mereka berlomba lomba dalam mengerjakan Sunnah...

Ya Allah berikan kemudahan kepada kami untuk melaksanakan kewajiban kami sebagai hambaMu dan menunaikan hak Engkau sebagai Tuhan Kami...

Hukuman Dosa Yang Tidak Disadari Mayoritas Manusia


Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

‏والله سبحانه جعل مما يعاقب به الناس على الذنوب سلب الهدى والعلم النافع.

“Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan diantara hukuman yang Dia timpakan kepada manusia akibat dosa-dosa, adalah dicabutnya petunjuk dan ilmu yang bermanfaat.”

Majmu’ul Fatawa, jilid 14 hlm. 152, Diterjemahkan oleh, Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى

Manakala hidayah dan Taufik Allah cabut, maka seseorang hamba tidak dapat melakukan ibadah.... Ibarat cahaya yang terang menjadi redup dan padam.... Ia akan tersesat dan melakukan hal-hal yang Allah tidak ridhoi... Nauzubillahimindzalik..

Adapun jika ilmu yang dimiliki ditarik kemanfaatannya... Maka ilmu tersebut tidak dapat mengantarkan pemiliknya kepada jalan yang Allah ridhoi... Ilmu tersebut tidak memberikan kesan yang baik kepada akhlaknya.. banyak orang yang berilmu namun melakukan dan mengajak untuk menjauhi Allah, maka ilmu ini tidaklah bermanfaat...

RIDHA

Ridha itu bisa digambarkan dengan sesuatu yang Bertentangan dengan nafsu. Jelasnya, yaitu jika ada suatu  penderitaan yang menimpa seseorang, dia merasakan dan mengalami penderitaan itu, namun dia ridha , sekalipun dia 
membencinya dengan tabiatnya, karena dia akan mendapatkan Pahalanya.

 Dalam surah Al-Bayyinah ayat 8:
Artinya: “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.”

Ibnu Khafif berkata, “ridha adalah tenangnya hati dengan ketetapan Allah swt dan keserasian hati dengan apa yang
menjadikan Allah swt ridha dan dengan apa yang dipilih-Nya.”

Ketika Rabi’ah al-Adawiyah ditanya, “bilakah seorang hamba dipandang ridha?” ia menjawab, “apabila baginya
penderitaan itu sama menggembirakannya dengan di anugerah nikmat.”

Abu Ali Ad-Diqaqi r.a, berkata, “bukanlah sesuatu keridhaan jika engkau tidak merasakan cobaan, tetapi keridhaan itu
adalah tidak mempertanyakan hukum dan ketetapan (Allah swt).”

MAHABBAH

Ketahuilah bahwa mahabbah (cinta) kepada Allah adalah puncak tujuan dari berbagai macam kedudukan. Setelah
mengetahui perasaan cinta ini, maka tidak ada lagi kedudukan lain kecuali rasa yang muncul itu diiringi dengan rasa yang penuh kerinduan, kesenangan dan ridha. Maqam cinta itu muncul setelah
ianya dihiasi oleh taubat, sabar, zuhud dan lain-lainnya.

Kondisi spiritual mahabbah ini memerlukan syarat, sebagaimana yang pernah ditanyakan kepada Samnun
rahimahullah. Kemudian dia mengatakan, “mahabbah adalah jernihnya cinta dengan disertai mengingat-Nya yang terus-menerus. Karena orang yang mencintai sesuatu ia akan banyak
menyebutnya.”
Firman Allah dalam surah Al-Maidah ayat 54: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang
kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas
(pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.”

TAWAKAL

Ibrahim bin Khawwas berkomentar, “barang siapa benarbenar bertawakal kepada Allah di dalam urusan dirinya sendiri, pasti juga akan bertawakal kepada Allah dalam urusan dengan
orang lain.” Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 12:
Artinya: “mengapa Kami tidak akan bertawakal kepada
Allah Padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada Kami, dan
Kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguangangguan yang kamu lakukan kepada kami. dan hanya kepada
Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri.”

Imam al-Ghazali, menyatakan bahwa tawakal itu terdiri atas
tiga tingkatan: 
pertama, menyerah diri kepada Allah swt, seperti seseorang yang menyerahkan segala kekuasaan dalam sesuatu
urusan kepada wakilnya, setelah ia menyakini dan percaya diatas kebenaran, kejujuran, dan kesungguhan wakilnya dalam hal urusan itu. Tingkat ini masih dapat memperlihatkan adanya harapan dan keinginan dalam dirinya, meskipun segala hal telah diwakilkannya kepada Allah. 
Kedua, menyerahkan diri kepada Allah, seperti seorang anak kecil yang menyerahkan segala persoalan
kehidupannya kepada ibunya. Pada tingkatan ini, harapan dan keinginan masih terlihat, namun sudah semakin berkurang.
 Ketiga, menyerahkan diri kepada Allah seumpama mayat yang berada di
tangan orang yang memandikannya. Pada tingkatan ini, tawakal adalah kepasrahan total kepada Allah.

FAQIR

Faqr berarti senantiasa merasa butuh kepada Allah. Seseorang hamba yang menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki
apa-apa, bebas dari segala sesuatu yang ada di atas dunia ini, merasakan kebutuhan dan ketidak mampuan di hadapan Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Fathir: 15,
Artinya: Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan
sesuatu) lagi Maha Terpuji.

Jadi, faqr disini bukanlah orang yang tidak punya harta benda yang berupa material, tetapi faqr disini membawa maksud
orang yang punya hati yang bersih atau kosong dari keinginan hawa nafsu terhadap duniawi. Faqr itu juga bermakna orang yang memperkaya rohani atau batinnya dengan Allah. Abu Bakar alSyibli menyebut bahwa orang faqr adalah orang yang kaya dengan Allah semata. Sementara Yahya al-Razi mengatakan bahwa barang siapa yang meletakkan kekayaannya di dalam usahanya, maka ia
senantiasa faqr , dan barang siapa yang meletakkan kekayaannya di dalam hatinya, maka ia senantiasa kaya, dan barang siapa yang memanjangkan hajatnya kepada makhluk (manusia), maka ia
senantiasa tidak memperoleh apa-apa (mahrum).

Ciri-ciri para sufi yang telah mencapai tahap merasakan Faqir. 
Pertama, bebas dari perasaan memiliki dan menginginkan sesuatu. 
Kedua, bebas dari diri. 
Ketiga, kedermawanan. 
Keempat, berada di dunia tapi bebas dari dunia.
Kelima, memiliki jiwa yang tenang (nafs-al-muthmaina).

melatih diri dari perkara mubah menjadi sunnah

Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. " (HR. Bukhari dan Mu...